1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan pada penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Energi listrik menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat modern. Konsumsi energi listrik terus mengalami peningkatan seiring dengan laju perkembangan ekonomi dan pola hidup. Bahkan, permintaan listrik bisa lebih tinggi jika dibandingkan dengan jenis energi lainnya (Dewan Energi Nasional, 2019). Grafik listrik nasional menyebutkan tahun 2015 Indonesia mengonsumsi listrik sebesar 910 kWh per kapita dan setiap tahunnya mengalami peningkatan 14%-18%. Pada tahun 2019 konsumsi listrik menjadi 1.048 kWh per kapita. Kemudian kementrian ESDM memproyeksikan tahun 2020 dapat mengonsumsi listrik nasional hingga 1.142 kWh per kapita (Lidwina, 2020).

Pada tahun 2020, dunia dikejutkan dengan kemunculan virus baru yaitu coronavirus jenis baru (SARS-CoV-2) yang disebut Coronavirus disease 2019 (COVID-19). Bermula dari kota Wuhan, Tiongkok di akhir Desember 2019, virus ini mampu merenggut ribuan jiwa dengan penyebaran yang cepat. Pada 2 Maret 2020, WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa sudah dapat dipastikan terdapat 65 negara yang telah terjangkit virus ini. 12 Maret 2020 WHO sudah mengumumkan bahwa COVID-19 sebagai global pandemi dengan angka kematian dan kasus COVID-19 yang semakin bertambah setiap harinya. (Yuliana, 2020). Hal ini dapat berdampak pada kegiatan manusia, segala kegiatan berskala besar seperti ajang pertandingan olahraga internasional harus ditunda bahkan dapat dibatalkan. Kini, pemerintah di berbagai negara menerapkan istilah

“lockdown” yang marak terjadi di Spanyol, China, Vietnam, Malaysia, Australia dan beberapa negara lainnya. Begitu pula dengan Indonesia yang beberapa kali memberlakukan kebijakan sebagai upaya memberhentikan penyebaran virus corona. Pemerintah Indonesia mengeluarkan status darurat bencana COVID-19 pada tanggal 29 Februari 2020-29 Mei 2020 dengan jumlah waktu 91 hari.

Namun, pertumbuhan kasus COVID-19 terus meningkat sehingga, pada Maret 2020 pemerintahan mengeluarkan Surat Edaran bahwa segala kegiatan yang mengundang massa dilarang dan bentuk kegiatan belajar mengajar serta pekerjaan kantoran dilakukan di rumah.

(2)

2

Kemunculan COVID-19 akhirnya berdampak diberbagai bidang seperti ekonomi, sosial, pendidikan, teknologi termasuk dibidang energi. Negara Kwait melakukan studi analisa permintaan energi listrik nasional selama pandemi yang memperhatikan penilaian ekonomi serta dampak lingkungan. Berdasarkan infromasi yang didapatkan, pemerintahan Kwait pernah melakukan lockdown jam malam penuh dan parsial. Penelitian tersebut melihat pola permintaan energi 2019 dan 2020 yang terhitung dari bulan Maret-Mei. Data di tahun 2018 menyatakan bahwa konsumsi energi per kapita terbanyak dunia dipimpin oleh Kwait yang menggunakan 17,9 MWh setiap tahun. Hal ini mengakibatkan peningkatan proyek persediaan pembangkit listrik dengan konsekuensi dampak pada ekonomi dan lingkungan. Sedangkan, sektor rumah tangga di Kwait akan mengonsumsi tiga kali lipat lebih besar saat musim panas berlangsung. Dengan kemunculan COVID-19 mengubah pola permintaan energi listrik karena kebijakan dan aturan untuk mencegah penyebaran virus. Pada fase tinggal dirumah, permintaan menurun hingga 2,2%, fase jam malam 13,7% namun, penurunan energi listrik yang paling tertinggi pada fase lock down hingga 17,6%. Begitu pula dengan dampak lingkungan, Emisi CO2 mengalami penurunan. Emisi terendah terjadi pada bulan Mei 2020 saat fase lockdown (Hammad M. Hajari, 2020).

Di Ontario, Kanada, seluruh tempat umum seperti bar, restoran, perpustakaan umum, bioskop dan semua tempat pertemuan publik di tutup mulai 30 Maret.

Hasil pengamatan permintaan listrik dilakukan di bulan April saat puncak beban listrik terendah yang turun hingga 14%. Analisa permintaan listrik di Ontario menggunakan data penggunaan listrik setiap harinya dan membandingkan bulan April 2019 dan April 2020. Penurunan permintaan energi listrik harian terjadi pada akhir pekan sebesar 18% dan puncak penurunan tertinggi adalah 25%.

Sedangkan, emisi gas rumah kaca dari permintaan dan konsumsi energi listrik relatif rendah jika dibandingkan dengan standar internasional. Hal ini disebabkan karena jaringan listrik Ontario yang kompetitif dan hijau. Mayoritas energi listrik berasal dari tenaga air dan sumber tenaga nuklir. Maka, gas rumah kaca pada bulan April menghemat sekitar 40.000ton dari total emisi CO2 (Azzam Abu- Rayash, 2020).

(3)

3

Menurut perhitungan PT. PLN di bulan Agustus, pertumbuhan konsumsi energi di akhir tahun 2020 akan bergerak melambat. Diproyeksikan konsumsi energi listrik di Indonesia menurun hingga 6,25%. Golongan yang menyumbang angka penurunan tertinggi adalah industri yang turun hingga 7,18%, kemudian golongan bisnis turun hingga 6,68% dan sosial 1,13%. Sementara golongan rumah tangga naik hingga 9,84% (Ramli, 2020). Namun di Bulan Oktober, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan bahwa penggunaan energi listrik menurun hingga 10%. Untuk mengembalikan angka permintaan konsumsi listrik seperti sebelum pandemi COVID-19 membutuhkan waktu 2 tahun. (Faqir, 2020).

Penurunan penggunaan energi listrik juga menurunkan kadar emisi karbon yang terjadi di Indonesia. CREA (Council of Republicans for Environmental Advocacy) menyatakan bahwa penurunan gas emisi maksimum mencapai 18,2%, tingkat kadar NO2 di Jakarta turun sekitar 40% dari level gas NO2 pada tahun 2019 (Suryani, 2020).

Implikasi dampak COVID-19 terhadap sektor rumah tangga juga terjadi di kota Ningbo, China. Kota Ningbo memberlakukan fase lockdown yang terhitung dari 20 Januari-31 Maret 2020 dan fase pasca lockdown dari 1 April-20 Juni 2020.

Karena dampak COVID-19 yang relatif rendah dengan angka kasus maksimum 152. Akibatnya, sebagian besar operasi kembali normal pada pertengahan Mei 2020. Penelitian ini dilakukan dengan membagi 3 area penggunaan listrik yaitu, penggunaan transportasi, memasak dan hiburan, pendinginan pemanasan dan pencahayaan. Pada sektor penggunaan transprotasi rumah tangga terjadi peningkatan pada transportasi pribadi serta penurunan penggunaan transportasi umum yang signifikan. Di China, kegiatan memasakan dan hiburan merupakan aktivitas luar ruangan dan menjadi kebiasaan sosial. Selama fase lockdown dampak utama pada kegiatan memasak rumah tangga meningkat 40%. Pada segi penggunaan listrik untuk pemanasan, pendinginan dan pencahayaan meningkat yang signifikan. Berdasarkan data dari tagihan energi (perbandingan data 2019 dan 2020) menunjukkan rata-rata naik 67% bulan Februari 2020 (dibandingkan Februari 2019), 95% pada Maret 2020, 35% pada April, dan 22% pada Mei. Dan dapat dinyatakan bahwa energi rumah tangga telah terpengaruh secara signifikan, dan dapat berlanjut dengan pola serupa, setidaknya peningkatan 20%.

(4)

4

Peningkatan konsumsi listrik memeberikan penurunan emisi CO2 yang bersifat sementara karena penelitian tersebut memverifikasi apa yang telah dikaitkan dengan pengurangan selama periode tersebut(Cheshmehzan, 2020).

Di Gresik, pemerintah setempat juga memberlakukan PSBB dari bulan April- Juni (katadata.co.id, 2020). Dalam menganalisa dampak energi listrik yang terjadi di Gresik selama pandemi dapat dilakukan dengan penelitian serupa yang dilihat dari besaran konsumsi listrik wilayah. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak energi listrik dengan perhitungan emisi karbon CO2

selama pandemi COVID-19.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dapat dirumuskan permasalahan pada penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penggunaan energi listrik sebelum dan selama pandemi COVID-19 di Kabupaten Gresik?

2. Bagaimana pengaruh penggunaan listrik terhadap emisi CO2 selama pandemi COVID-19 di Kabupaten Gresik?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang dilakukan adalah

1. Menganalisa pola penggunaan energi listrik sebelum dan selama pandemi COVID-19 di Kabupaten Gresik

2. Menganalisa pengaruh penggunaan listrik terhadap emisi CO2 selama pandemi COVID-19 di Kabupaten Gresik

1.4 Batasan Masalah

Adapun batasan permasalahan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini dibatasi pada penggunaan listrik di wilayah Kabupaten Gresik selama 1 tahun sebelum pandemi dan selama pandemi.

2. Perhitungan beban emisi karbon (CO2) dihitung dari beban konsumsi listrik.

3. Pengunaan energi listrik ditinjau dari sektor rumah tangga, dan tempat publik yang meliputi sekolah, tempat ibadah dan pasar.

(5)

5 1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pola penggunaan energi listrik selama pandemi COVID-19.

2. Mengetahui pengaruh lingkungan dengan perhitungan kadar emisi karbon di lingkungan selama pandemi COVID-19.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :