34
BAB III PEMBAHASAN
A. Profil Lokasi Penelitian
1. Profil Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan Kota Malang
Dinas Kesehatan Kota Malang beralamat di jalan Simpang Laksada Adi Sucipto nomor 45 Pandanwangi, Blimbing. Dinas Kesehatan kota Malang merupakan instansi perpanjangan tangan dari pemerintah pusat yang menjadi perangkat daerah bertugas untuk melaksanakan urusan pemerintahan daerah di bidang Kesehatan masyarakat.Dinas Kesehatan Kota Malang menjadi salah satu unsur pelaksana dari otonomi daerah.1 Dinas Kesehatan Kota Malang diketuai oleh Kepala Dinas yang akan mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya Dinas Kesehatan Kota Malang berkoordinasi bersama Asisten Kesejahteraan Masyarakat. Tugas pokok dari Dinas Kesehatan Kota Malang yaitu melaksanakan pelayanan, pembinaan dan pengembangan urusan Kesehatan. 2Dinas Kesehatan Kota Malang juga berkewajiban untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat yang akan mengurus persyaratan izin pengajuan askes maupun sertifikasi bagi para pelaku home insdutry dan berbagai macam perizinan lainnya yang masih mempunyai korelasi dengan keamanan Kesehatan masyarakat. Namun perlu diketahui bahwa tidak seluruhnya Dinas Kesehatan ,mampumemberikanpelayanan yang maksimal bagi masyarakat di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Visi dari Dinas Kesehatan Kota Malang yaitu kesehatan masyarakat kota malang yang bermartabat. Sedangkan Misi dari Dinas Kesehatan Kota Malang terdapat beberapa point yaitu:
a. Berupaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan di bidang kesehatan yang bermutu, merata serta terjangkau khususnya untuk masyarakat miskin.
b. Melakukan pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit serta meningkatkan kesehatan lingkungan.
c. Mendorong dan mengedukasi untuk meningkatkan kemandirian masyarakat agar hidup sehat dengan promosi kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat.
1 Pasal 2 ayat 1, Peraturan Walikota Nomor 26 tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata KerjaDinas Kesehatan.
2http://www.academia.edu/11032595/Tinjauan_Pustaka_Dinas_Kesehatan, Diakses Pada Hari sabtu Juli 2018
d. Berusaha secara maksimal dalam memberikan pelayanan kefarmasian, pengawasan, pengendalian sarana obat, obat tradisional, kosmetik, alat kesehatan dan makanan minuman.
Struktur organisasi merupakan susunan antara bagian dalam sebuah organisasi.
Suatu organisasi kecil dengan jumlah pekerjaan yang sedikit dapat dijalankan dalam struktur yang sederhana. Namun organisasi yang besar lebih cenderung akan melibatkan beberapa departemen bahkan beberapa perusahaan dan anak perusahaan yang menjalankan struktur organisasi yang rumit. Organisasi yang dibangun oleh pemerintah merupakan sebuah organisasi yang dibentuk dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan yang diberikan tersebut bukan untuk memperoleh keuntungan namun merupakan komitmen dalam sebuah negara dalam memberikan pelayanan terbaik bagi warganya sebagai upaya mewujudkan tujuan dari Pancasila.
Pengertian dari jabatan itu sendiri adalah sebuah kedudukan yang mempunyai tujuan untuk menunjukan tugas, wewenang, hak, dan tanggung jawab dari seseorang yang dipercaya untuk mengemban posisi tersebut karena dilihat dari kompetensinya untuk memimpin suatu kesatuan dari sebuah organisasi termasuk pada sebuah organisasi milik negara. Jabatan structural merupakan jabatan yang wajib ada dalam sebuah struktur organisasi. Kedudukan jabatan structural mempunyai tingkatan terendah hingga tertinggi.
Apabila dilihat dari jabatan structural dari suatu organisasi milik negara jabatan terendah terdapat pada eselon V dan jabatan tertinggi terdapat pada eselon A.3
3Alviansyah. 2019. Jabatan Pegawai Negeri Sipil. Jakarta, ,https://id.wikipedia.rg/wiki/
Pegawai_negeri_Jabatan_kepemerintahan_tidak_berstatus_Pegawai_Negeri_Sipil, diakses pada 3 April 2021 pukul 12.54
Gambar 3.2.
Struktur Organisasi Dinas Kesehatan Kota Malang
Dari struktur diatas setiap bidang mempunyai tugas dan wewenang masing-masing.
Penulis disini akan membahas secara khusus pada bidang sumber daya manusia, kefarmasian, dan alat kesehatan. Hal tersebut berlandaskan dari rumusan masalah yang diambil yaitu berkaitan dengan sertifikasi produksi pangan industri rumah tangga yang bergerak dibidang pangan. Struktur organisasi ini mempunyai beberapa tugas antara lain pengumpulan dan penyusunan bahan dalam rangka penyusunan petunjuk teknis dan pelaksanaan program dan kegiatan pelayanan kefarmasian.4 untuk melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud kepala seksi kefarmasian mempunyai tugas :5
a. Melakukan perencanaan terhadap kegiatan-kegiatan dan menyusun anggaran dari devisi kefarmasian berdasarkan ketentuan peraturan dan sumber data yang telah tersedia yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan.
b. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk menyiapkan bahan perumusan dan pelaksanaan untuk kebijakan teknis devisi kefarmasian.
4Pasal 27 ayat 1, Peraturan Walikota Nomor 26 tahun 2016 Tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Serta Tata Kerja Dinas Kesehatan.
5Ibid, pasal 27 ayat 1 huruf k, l, m, n.
c. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan yang digunakan untuk pengawasan dan pengendalian peredaran dan penggunaan obat.
d. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan pembinaan dan penyuluhan yang berkaitan dengan peredaran, penggunaan, penyimpanan,dan pemusnahan obat.
e. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan yang berguna untuk pengadaan kebutuhan obat-obatan untuk sarana pelayanan kesehatan.
f. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan untuk pelaksanaan pencegahan dan upaya penanggulangan penyalahgunaan obat-obatan.
g. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan penyimpanan dan proses pendistribusian obat obatan ke unit-unit pelayanan kesehatan.
h. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan untuk pembinaan, pengawasan dan pengedalian terhadap persediaan farmasi
i. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan untuk merekomendasikan pemerian izin terhadap apotek, salon, usaha mikroobat tradisional, dan pedagang obat eceran.
j. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan terhadap pengawasan produk pangan yang beredar di masyarakat.
k. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan melakukan pengawasan, pembinaan sekaligus pengendalian
terhadap sarana dan prasarana yang digunakan di industri rumah tangga makanan dan minuman;
l. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan untuk sertifikasi dan pemberian sertifikasi terhadap produksi pangan pada IRTP.
m. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan untuk proses pengambilan dan pengujian dari sampel produk pangan yang telah beredar di masyarakat.
n. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan penyuluhan keamanan pangan kepada kalangan masyarakat, para produsen IRTP, karyawan- karyawan IRTP, dan golongan distributor maupun toko pangan hingga rumah makan;
o. Memberikan petunjuk terhadap pelaksana maupun bawahan sesuai dengan bidang dan tugasnya masing-masing untuk melakukan pengumpulan bahan dan penyusunan bahan koordinasi antara sektor, antara program dan antara instansi terkait di bidang farmasi;
p. Menyalurkan tugas pada para pelaksana yang sesuai dengan bidang dan fungsinya untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas tiap seksi;
q. Memberikan pembinaan dan bimbingan pada para pelaksana sesuai bidang tugas jabatannya untuk mewujudkan tercapainya kinerja maksimal jabatannya;
r. Melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap kinerja para pelaksana sesuai dengan bidang dan tugas jabatannya sebagai bahan untuk evaluasi;
s. Melakukan evaluasi secara rutin terhadap pelaksana sesuai dengan bidang dan fungsinya agar dapat bekerja sesuai dengan target yang telah ditentukan untuk menunjang penilaina kerja.
t. Menyampaikan saran-saran dan pertimbangan terhadap atasan sebagai bahan masukan untuk memaksimalkan pelaksanaan tugas;
u. Memberikan laporan terhadap hasil dari pelaksanaan tugas kepada atasan sesuai bidang tugasnya yang berfungsi sebagai sebagai dasar pengambilan kebijakan; dan v. Menjalankan tugas kedinasan lain yang diberikan dan ditentukan oleh atasan sesuai
dengan tugas jabatannya.
Untuk menjalakan tugas dan fungsinya Dinas Kesehatan dibantu oleh Dinas Perdagangan dalam melakukan pengawasan terhadap peredaran pangan. Dinas Perdagangan di Kota malang berlokasi di Jalan Simpang Terusan Danau Sentani Nomor 3, Madyopuro, Kecamatan Kedung kandang, Kota Malang, Jawa Timur. Sesuai PERDA Kota Malang No. 5 tahun 2019, Pasal I, Pasal 3 ayat (4) huruf l disebutkan bahwa “Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan bertipe A, menyelenggarakan urusan pemerintahan bidang koperasi, usaha kecil dan menengah, urusan pemerintahan bidang perindustrian, dan urusan pemerintahan bidang perdagangan”.
Visi dari Dinas Perdagangan Kota Malang yaitu “Terwujudnya sektor koperasi, industri dan perdagangan yang tangguh dan dapat berdaya saing sebagai sektor penggerak ekonomi yang berkeadilan” yang merupakan pengejawantan dari kondisi perekonomian Kota Malang dimana untuk beberapa tahun ini perekonomian Kota Malang didominasi terutama dari sektor koperasi, perdagangan, industri dan jasa, sehingga dengan penguatan pada sektor ini sangat diperlukan dalam rangka mendorong dan meningkatkan daya saing daerah baik pada tingkat regional, nasional hingga global.
Gambar 3.2
Struktur Organisasi Dinas Perdagangan Kabupaten Malang
A. Profil Pelaku Usaha Industri Rumah Tangga Kota Malang
Pengertian pelaku usaha dalam Peraturan Undang undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan pasal 1 angka 14 menjelaskan bahwa pelaku usaha ialah setiap orang perseorangan warga negara Indonesia atau badan usaha yang berbentuk badan hukum
atau bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan dalam wilayah hukum negara kesatuanrepublikindonesia yang melakukankegiatanusaha di bidangperdagangan.6
Para pelaku usaha adalah penggerak kegiatan ekonomi. Salah satu pelaku usaha yakni orang-orang yang membangun dan menjalankan usahanya dengan berlokasikan sesuai dengan domisilinya atau hanya mengandalkan rumah. Para pelaku rumah tangga adalah keluarga itu sendiri yang biasanya dibantu oleh orang di sekitarnya sebagai karyawan. Meskipun dalam skala kecil, namun kegiatan ekonomi ini sangat membantu pertumbuhan perekonomian negara sekaligus secara tidak langsung membuka lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat disekitarnya. Dengan begitu, perusahaan kecil ini membantu program pemerintah dalam mengurangi pengangguran, dan diharapkan jumlah penduduk yang belum mempunyai pekerjaan dan penduduk miskin pun dapat menurun.
Bertambahnya jumlah orang dalam sebuah keluarga secara otomatis akan menambah jumlah kebutuhan dan pengeluaran dalam keluarga tersebut. Kebutuhan keluarga ini akan terasa ringan terpenuhi jika terdapat usaha yang mendatangkan income atau penghasilan. Salah satu cara membentuk sebuah income yaitu dengan merintis usaha Rumah tangga. Biasanya rumah tangga cenderung berasal dari sebuah usaha yang turun menurun dan pada akhirnya berkembang ini dapat bermanfaat menjadi mata pencaharian penduduk sekitar.
Usaha kecil menurut sumodiningrat (2007), mempunyai ciri utama: (1) tidak memisahkan kedudukan pemilik dengan manajerial; (2) menggunakan tenaga kerja sendiri; (3) un-bankable mengandalkan modal sendiri, (4) sebagian tidak berbadan hukum, memiliki tingkat kewirausahaan relative rendah. Kriteria lain menurut bank indonesiaadalah: (1) kepemilikan oleh individu atau keluarga; (2) memanfaatkan teknologi sederhana dan padat karya; (3) rata-rata tingkat pendidikan dan keterampilan tergolong rendah; (4) sebagian tidak terdaftar secara resmi dan atau belum berbadan hukum; (5) tidak membayar pajak.7
Sebelum pembahasan yang lebih jauh lagi, penulis akan menunjukkan data terkait industri rumah tangga pangan yang belum dan sudah memiliki sertifikat produksi pangan industri rumah tangga pangan.
6 Peraturan Undang undang nomor 7 tahun 2014 tentang perdagangan pasal 1 angka 14
7 Saifuddin Zuhri. 2013. AnalisisPengembangan Usaha Kecil Home
IndustriSangkarAyamDalamRangkaPengentasanKemiskinan.Lamongan. JurnalManajemen dan Akutansi. Vol.2 No.3. FakultasEkonomi. Universitas Islam Darul ‘UlumLamongan. Hal 48.
Tabel 3.2
Jumlah pelaku usaha mikro di kota malang
Sumer : data dokumen dinas koperasi dan usaha mikro kecil kota malang, 2021
Total jumlah industri rumah tangga pangan di kota malang yang belum memiliki izin sertifikat produk pangan industri rumah tangga pangan (SPP-IRT) namun telah terdata sejumlah 1.682 pelaku usaha dan masih banyak pelaku usaha industri rumah tangga pangan lainnya yang belum terdata.
Tabel 3.3
Jumlah pelaku usaha IRTP yang sudah memiliki SPP-IRT
No Komoditi Jumlah
1 Madusehat 20
2 Minuman 60
3 Kuebasah 38
4 Catering 27
5 Aneka kue 98
6 Bakpia 15
7 Kue 56
8 Minumanstmj 10
9 Bakso 120
10 Sus kering 33
11 Makananringan 59
12 Kuliner 376
13 Makanan danminuman 95
14 Coklatkrepes 33
15 Makanan 578
16 Kuekering 64
Total 1.682
No Komoditi Jumlah
1 Hasil olahan daging kering 10
2 Hasil olahan ikan kering 15
3 Hasil olahan unggas kering 34
Sumber : data primer dari dinas kesehatan kota malang, 2021
B. Dasar hukum dan implementasi pengawasan dan penyuluhan terhadap industri rumah tangga pangan terhadap PIRT yang dilakukan Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan di Kota Malang
Demi mewujudkan system keamanan pangan yang menjamin mutu dan memenuhi gizi masyarakat merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan hak asasi manusia.
Dinas Kesehatan adalah salah satu instansi atau pelaksana otonomi daerah yang berperan dalam bidang Kesehatan. Tugas dan fungsinya secara garis besar adalah melaksanakan Sebagian urusan Pemerintah Daerah dalam bidang Kesehatan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat dalam bidang Kesehatan. Seluruh tugas dan fungsi dari Dinas Kesehatan tidak terlepas dari kerjasama dan saling sinergi dengan Badan Pengawan Obat dan Makanan mulai dari tingkat daerah hingga tingkat pusat. Salah satu peran Dinas Kesehatan yang terus bersinergi dengan BPOM adalah dalam peredaran produk makanan yang diolah oleh IRTP yaitu pengawasan yang meliputi aspek keamanan, keselamatan, dan Kesehatan.
Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis peraturan terbaru yang menjadi landasan dari Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan dalam pengurusan SPP-IRT malang mengacu pada Peraturan BPOM Nomor 22 tahun 2018 Tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Industri rumah tangga pangan. Peraturan ini ditetapkan
4 Sayur asin dan sayur kering 40
5 Hasil olahan kelapa 30
6 Tepung dan hasil olahannya 176
7 Minyak dan lemak 5
8 Selai, jeli dan sejenisnya 10
9 Gula, kembang gula 7 madu 35
10 Kopi, teh, coklat kering atau campurannya 127
11 Bumbu 24
12 Rempah-rempah 25
13 Minuman ringan, minuman serbuk 23
14 Hasil olahan buah 41
15 Hasil olahan biji-bijian dan umbi 22
16 Lain-lain es 15
Total 615
pada tanggal 13 Agustus 2018 dan diundangkan pada tanggal 16 Agustus 2018.Berlakunya Peraturan BPOM Nomor 22 tahun 2018 ini telah mencabut peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.03.1.23.04.12.2205 Tahun 2012 tentang Pedoman Pemberian Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Dalam Peraturan BPOM Nomor 22 tahun 2018 mengatur tentang beberapa point penting antara lain:
Kententuan Umum
Pemberian SPP-IRT
Masa berlaku SPP-IRT
Pencabutan SPP-IRT
Pelaporan, Pembinaan, dan Pengawasan
Sanksi
Ketentuan Peralihan
Ketentuan Penutup
Dalam pasal 1 ayat 1 mendefinisikan pangan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan / atau pembuatan makanan atau minuman.
Pasal 1 ayat 3 juga mendefinisikan tentang Industri rumah tangga pangan yang selanjutnya disingkat IRTP merupakan perusahaan pangan yang memiliki tempat usaha di tempat tinggal dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis.Seluruh produk pangan yang dihasilkan oleh Industri rumah tangga pangan disebut sebagai produk olahan industri rumah tangga pangan yang diedarkan dalam kemasan dan berlabel.
Pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan ada dibawah kewenangan bidang sumber daya manusia, kefarmasian, dan alat Kesehatan. Bidang ini mempunyai beberapa wewenang khususnya pada pelaksanaan pengawasan dan pembinaan kepada para pelaku usaha industri rumah tangga pangan diwilayah Kota Malang.
Pengimplementasian dari kewenangan untuk melakukan pengawasan dan pembinaan diuraikan sebagai berikut :
1. Sebelum melakukan pengawasan dan pembinaan Bidang dari Dinas Kesehatan yang berwenang melakukan proses pembuatan daftar anggaran kegiatan yang dilakukan.
2. Memberikan petunjuk kepada pelaksana sesuai dengan jabatannya agar melakukan pendataan guna mengumpulkan dan menyusun materi yang akan digunakan untuk melaksanakan pengawasan, pembinaan dan pengendalian terhadap saran dan prasaran yang digunakan oleh para pelaku usaha industri rumah tangga pangan.
Tim pelaksanaakan diarahkan oleh Kepala bidang untuk merumuskan dan materi penyuluhan pada para pengusaha industri rumah tangga pangan, distributor, reseller, toko, swalayan, warung dan rumahmakan. SasaranDinas Kesehatan juga menyentuh pada sekolah, posyandu.
3. Menjadwalkan waktu dan pembentukan tim yang bertugas untuk melaksanakan pengawasan, pembinaan dan pengendalian terhadap saran dan prasaran yang digunakan oleh para pelaku usaha industri rumah tangga pangan. Penjadwalan dan pembentukan kelompok ini merupakan tugas dari Kepala Bidang sumber daya manusia, kefarmasian, dan alat Kesehatan.
4. Setelah seluruh penjadwalan dan pengelompokan telah selesai, kepala bidang akan menentukan jadwal untuk survey sarana yang digunakan oleh pelaku usaha industri rumah tangga pangan meliputi bahan yang digunakan, alat produksi dan tempat produksi. Selain itu kepala bidang juga akan menentukan jadwal untuk melakukan penyuluhan keamanan pangan, lokasi pengadaan penyuluhan keamanan pangan dan materi penyuluhan keamanan pangan.
5. Kepala bidang akan memberikan arahan kepada para tim pelaksana dalam kegiatan pengumpulan ,penyusunan dan penyuluhan terhadap industri rumah tangga pangan sebelum Dinas Kesehatan memberikan sertifikat produksi pangan pada industri rumah tangga pangan. Pada aktifitas ini sebelum diterbikannya SPP-IRT kepala bidang dan tim akan melakukan survei sekaligus penilaian terhadap sarana dan prasaran produksi dari para pelakuusaha.
6. Kepala bidang mengarahkan pelaksana untuk mengambil sample makanan yang beredar dan dikonsumsi oleh masyarakat untuk dilakukan pengujian. Dalam hal pengawasan perdaran makanan Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan serta LP2K. Pengawasan ini dilakukan untuk memperoleh data terkait kondisi produk industri rumah tangga pangan yang telah beredar terutama yang telah mendapat izin SPP-IRT. Sehinggan Dinas Kesehatan,
dan Lembaga terkait dapat mengetahui apakah para pelaku industri rumah tangga pangan telah mengikuti ketentuan yang berlaku. Apabila ditemukan ketidak sesuaian maka Dinas Kesehatan akan melakukan Tindakan tegas terhadap para pelaku usaha yang melakukan pelanggaran tersebut. Tindakan tegas tersebut berlaku bagi seluruh bagi pelaku usaha yang telah mempunyai izin SPP-IRT maupun yang belum mempunyai izin SPP-IRT. Selain itu para pemilik swalayan, toko, dan warung akan mendapatkan himbauan dan juga penyuluhan terkait standart pangan yang diperbolehkan untuk di perjual belikan ataupun yang tidak layak untuk diperjualbelikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Materi penyuluhan tersebut sesuai buku panduan cara produksi pangan yang baik pada industri rumah tangga pangan.
7. Dalam hal ini yang mencangkup pengawasan dan pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan hanya diperuntukan untuk pelaku usaha yang telah mengajukan permohonan SPP-IRT dan pelaku usaha yang telah mempunyai izin SPP-IRT Hasil wawancara penulis yang berhadapan langsung dengan kepala Bidang Kefarmasian, terkait dengan tugas pengawasan dinas kesehatan kota malang meyatakan bahwa agenda pemeriksaan sarana produksi pangan ini dilakukan sesuai ketentuan Peraturan Badan POM RI no 22 th. 2018 Tentang pedoman pemberian sertifikat produksi pangan IRTP.
Izin SPP-IRT wajib dimiliki oleh pengusaha industri rumah tangga pangan untuk mewujudkan tujuan dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen yaitu menciptakan iklim usaha dan tumbuhnya hubungan yang sehat antara pelaku usaha dan konsumen.
Namun faktanya masih banyak terdapat produk pangan yang beredar dipasaran masih belum mempunyai izin SPP-IRT sehingga komposisi bahan pada produk tersebut masih diragukan dan berpotensi dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Kandungan produk dengan bahan yang tidak diperuntukkan bagi makanan, produk pangan yang mengandung bahan pengawet, pencantuman label yang masih tidak sesuai peraturan, dan proses produksi yang tidak sesuai standart dapat merugikan masyarakat bahkan dapat memberi dampak pada keselamatan jiwa konsumen. Maka dalam hal ini penulis melakukan observasi terhadap beberapa pelaku usaha industri rumah tangga di kota malang untuk wawancara kepada pemilik terkait dengan upaya pembinaan dan pengawasan terhadap pelaku industri rumah tangga yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Malang untuk mewujudkan perlindungan terhadap keamanan konsumen dan mendorong tumbuhnya para pengusaha yang mampu bersaing.
Seluruh produk pangan yang telah diproduksi dan akan diedarkan oleh IRTP wajib mempunyai izin SPP-IRT atau Sertifikat Produk Pangan Industri Rumah Tangga. Sesuai dengan pasal 2 ayat 1 SPP-IRT diterbitkan oleh Bupati atauW ali Kota atau Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu. SPP-IRT hanya akan diterbitkan apabila pelaku usaha memenuhi tiga kualifikasi sesuai dengan pasal 2 ayat 2 yaitu :
a. Pelaku usaha yang telah mengikuti dan mempunyai sertifikat penyuluhan keamanan pangan,
b. Pelaku usaha telah memenuhi hasil pemeriksaan sarana produksi Pangan Produksi IRTP memenuhi syarat;
c. Pelaku usaha telah memenuhi standart Label Pangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sebelum mendaftarkan hasil produksi olahan IRT, pelaku usaha harus mengetahui produk pangan yang dapat memperoleh SPP-IRT sesuai dengan lampiran ke II Peraturan Badan POM RI no 22 th. 2018 Tentang pedoman pemberian sertifikat produksi pangan IRTP yaitu :
a. Produk pangan yang telah melalui pemrosesan dengan sterilisasi komersial atau pasteurisasi
b. Produk pangan yang telah melalui pemrosesan dengan pembekuan sehingga penyimpanan produknya memerlukan penggunaan lemari pembeku
c. Produk pangan yang telah melalui proses pengolahan dari hewan yang harus disimpan dengan suhu dingin
d. Produk pangan yang diperuntukan untuk diet khusus dan pangan yang keperluannya digunakan dengan medis khusus, antara lain MP-ASI, booster ASI, pangan untuk penderita diabetes, formula lanjutan, formula bayi.
e. Produk pangan yang diproduksi oleh IRTP di wilayah Indonesia
f. Produk pangan yang mengalami pengemasan ulang atau repacking yang berasal dari produk pangan yang telah memiliki SPP-IRT.
Setelah mengetahui jenis produk yang dapat memperoleh izin SPP-IRT dan pelaku usaha telah memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku, pelaku usaha IRTP mengajukan Permohonan SPP-IRT kepada Bupati atau Walikota c.q. Unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang kemudian berkas tersebut akan dievaluasi kelengkapannya meliputi :
a. Dinas Kesehatan Kabupaten atau kota yang telah menerima berkas pengajuan dari bupati atau walikota c.q unit terpadu satu pintu akan mengevaluasi
berkas-berkas yang diperlukan, apakah berkas tersebt telah memenuhi persyaratn yang telah ditentukan
b. Berkas yang telah diperiksa dan masih mempunyai kekurangan dalam isian dokumen dan kelengkapan permohonan SPP-IRT maka pejabat yang berwenang segera mengajukan permohonan untuk segera melakukan perbaikan.
Pelaku usaha yang telah melalui proses permohonan berkas dan dinyatakan telah memenuhi syarat pemberkasan akan mengikuti proses penyuluhan keamananpangan yang dikoordinasi Bupati atau Walikota c.q. Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota.
Penyuluhan keamanan pangan sebelum diterbitkan SPP-IRT (Pre-market) akan dilaksanakan oleh Tenaga Penyuluh Keamanan Pangan yang mempunyai sertifikat kompetensi di bidang penyuluhan keamanan pangan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) terakreditasi. Materi Penyuluhan Keamanan Pangan meliputi :
a. Materi utama yaitu :Landasan hukum yang berhubungan dengan pangan, persyaratan dalam keamanan dan mutu pangan, proses pengolahan pangan, prosedur yang ditetapkan untuk sanitasi yang sesuai standart, cara produksi IRTP yang memenuhi standar keamanan dan mutu pangan, pemilihan dan penggunaan Bahan Tambahan Pangan, persyaratan stadart untuk penggumaan label dan prosedur iklan produk pangan. Persyaratan Label dan Iklan Pangan
b. Materi Pendukung yaitu mencantumkan label Halal, cara beretika dalam Bisnis dan Pengembangan Jejaring Bisnis IRTP.
Metode Penyuluhan Keamanan Pangan ini dilakukan dengan berbagai macam metode yakni ceramah, diskusi, peragaan simulasi, pemutaran video, pembelajaran jarak jauh (e-learning) dan cara-cara lain yang mendukung pemahaman keamanan pangan.
Bagi para pelaku usaha SPP-IRT yang telah dinyatakan lulus penyuluhan keamanan pangan dengan hasil evaluasi minimal memperoleh nilai cukup atau “60” maka akan memperoleh Sertifikat penyuluhan keamanan pangan dengan keterangan penomoran adalah sebagai berikut:
a. Untuk angka ke 1, 2 ,dan 3 merupakan Urutan nomor yang menunjukkan tenaga yang telah memperoleh sertifikat untuk wilayah kabupaten atau kota, dengan memberikan kode di awal tahun dengan angka 001.
b. Dilanjutkan pada angka ke-4,5,6,7, untuk kolom ke II, mengidentifikasikan Provinsi dan Kabupaten atau Kota dari penyelenggara kegiatan penyuluhan keamanan pangan
c. Terakhir pada angka ke- 8 dan 9 yakni pada Kolom III, menunjukkan tahun dari pemberian dan penerbitan sertifikat.
Proses pembinaan Pre-market setelah pelaku usaha IRTP memperoleh Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan adalah Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Industri Rumah Tangga oleh Penanggung jawab atau pemilik IRTP bersama tenaga Pengawas Pangan (DFI/District Food Inspector) Kabupaten atau Kota yang telah memperoleh surat tugas dari dengan dilengkapi surat Bupati atau Walikota c.q. Dinas Kesehatan Kabupaten atau /Kota. Pemeriksaan sarana produksi pangan IRTP tersebut dilaksakan sesuai dengan Peraturan Kepala BPOM tentang Tata Cara Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan Industri Rumah Tangga. Apabila selama pemerikasaan sarana produksi menunjukkan bahwa IRTP memperoleh hasil penilaian dan dapat dikategorikan pada level I – II maka pelaku usaha berhak memperoleh izin SPP-IRT.
Pelaku usaha yang telah memperoleh izin SPP-IRT tetap memperoleh pengawasan dari Dinas Kesehatan. Pengawasan dan pembinaan ini dilakukan untuk menekan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh pelaku usaha antara lain:
Pelaku usaha dilarang memproduksi atau memperdagangkan barang atau jasa yang tidak sesuai dengan standart yang telah dipersyaratkan, tidak sesuai dengan berat bersih, mutu, komposisi, dan kondisi sebenarnya seperti apa yang dicantumkan pada label, serta tidak mencantumkan tanggal kadarluarsa atau jangka waktu penggunaan dan pemanfaatannya. Serta dalam proses produksinya tidak sama dengan ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan “halal” yang dicantumkan dalam label;
Pelaku usaha tidak diperbolehkan untuk menjual atau memperdagangkan produk barang yang kurang layak atau barang yang rusak, cacat ataupun mempunyai bekas, dan tercemar tanpa memberikan pemberitahuan atau informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud kepada konsumen.
Pelaku usaha tidak boleh untuk menawarkan suatu barang atau jasa secara tidak benar dengan membuat pernyataan yang tidak benar mengenai harga, kegunaan, kondisi, tawaran potongan harga, dan bahaya penggunaan barang atau jasa
Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang, dilarang mengelabui konsumen. Menyatakan barang atau jasa tersebut seolah-olah telah memenuhi standar menu tertentu, seolah-olah tidak mengandung cacat, tidak menyediakan barang dalam jumlah tertentu dengan maksud menjual yang lain, tidak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu , dan mengambil cara untuk menaikkan harga sebelum melakukan obral.
Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan tariff khusus dalam waktu dan jumlah tertentu.
Pelaku usaha dilarang menawarkan barang atau jasa dengan menjanjikan hadiah berupa barang atau jasa lain secara cuma cuma dengan maksud tidak memberikan tidak sebagaimana yang dijanjikannya.
Pelaku usaha dalam menawarkan barang atau jasa dilarang melakukan pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun psikis terhadap konsumen.
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa melalui pesanan dilarang untuk Tidak menepati pesanan sesuai kesepakatan dan. Tidak menepati janji atas suatu pelayanan.
Dalam hal ini Dinas Kesehatan mempunyai tugas yang sama dengan Dinas Perdagangan yaitu mengawasi dan melakukan pembinaan para pengusaha industri rumah tangga pangan. Namun Dinas perdagangan mempunyai batasannya dalam melakukan tugasnya untuk lingkup SPP-IRT yakni Dinas Perdagangan hanya turut membantu pelaksana dari Dinas Kesehatan yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu seperti pada hari besar maupun hari libur. Lingkup pengawasan yang dilakukan oleh Dinas perdagangan hanya sebantas di tempat penjualan produk pangan tanpa ikut serta untuk lingkup produksi. Hal tersebut dikarenakan pengawasan yang dilakukan di tempat produksi hanya diperbolehkan bagi Anggota Dinas Kesehatan yang telah memiliki sertifikat DFI (Distric Food Inspector). Kemudian penulis akan menguraikan hasil wawancara yang dilakukan terhadap 10 pemilik usaha industri rumah tangga pangan.
Wawancara pertama dilakukan kepada ibu Rani 8 (33 tahun), beliau pengusaha industri rumah tangga pangan yang membuat produk berupa donat aneka rasa yang beralamat di perumahan vila bukit tidar, sukun, malang. Usaha ini telah dirintis selama empat tahun bersama bersama suami dan kakak kandungnya. Selama menjalankan usahanya ibu Rani
8Wawancaradengan Rani, pelakuusahaindustri rumah tangga panganprodukdonat, Kamis 1 April 2021
belum pernah memperoleh complain dari konsumen setelah menkonsumsi donat buatannya. Dalam wawancara ini Bu Rani mengaku belum mengetahui terkait perizinan yang harus dimiliki oleh pengusaha industri rumah tangga pangan. Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizipangan pada pasal 43 ayat (2) dan ayat (3). Beliau menjelaskan dan menjamin produknya aman dengan cara memberikan informasi kepada konsumen bahwa produknya menggunakan bahan yang aman untuk dikonsumsi. (wawancara dengan Ibu Rani, pada hari kamis tanggal 1 April 2021)
Wawancara kedua ditujukan kepada iskandar9 (36 tahun). Hasil produksi industri rumah tangga beliau adalah “kerupuk tahu” yang berdomisili di jalan simbar menjangan 37, lowok waru, kota malang. Usahanya ini telah dirintis selama 3 tahun bersama isteri serta dua anaknya. Bapak Iskandar menjelaskan bahwa dirinya belum mengetahui terkait perizinan yang harus dimiliki oleh pengusaha industri rumah tangga pangan. Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan. Sampai saat ini beliau belum mengetahui bagaimana prosedur pendaftaran SPP-IRT dan belum memperoleh pembinaan dan pengawasan dari Dinas Kesehatan Kota Malang. Beliau juga menjelaskan beberapa kendala-kendala karena tidak memiliki ijin tersebut. Kendala yang pertama yaitu minimnya pengetahuan terhadap prosedur pengurusan, yang kedua minimnya dana yang akan digunakan untuk pengurusan SPP-IRT. Dampak yang paling dirasakan oleh Bapak Iskandar selama membangun usahanya yaitu pemasaran produk yang terbatas di kalangan toko kelontongan saja. Beliau berharap memperoleh arahan dari Dinas Kesehatan terkait Prosedur perizinan SPP-IRT agar produk olahannya dapat berkembang (wawancara dengan bapak iskandar, pada hari kamis tanggal 1 April 2021)
Wawancara keempat ditujukan kepada Ibu Nurbaeti10 (29 tahun). Beliau memproduksi
“keripik tempe” dan dikerjakan beliau dan dua karyawannya. Produk tersebut dipasarkan ketoko kelontong, pasar, dan warung. Selama menjalankan usahanya Ibu nurbaeti pernah mendapat complain dari konsumennya karena produknya sudah berjamur namun oleh pemilik warung tetap diperjualbelikan sehingga, ibu nurbaeti bertanggung jawab dengan segera menukarnya dengan produk yang masih layak konsumsi. Ibu nurbaeti menerangkan bahwa dirinya belum mengetahui terkait perizinan yang harusdimiliki oleh pengusaha industri rumah tangga pangan. Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah
9WawancaradenganIskandar pelakuusahaindustri rumah tangga panganprodukkerupuktahu, Kamis 1 April 2021
10WawancaradenganNurbaeti, pelakuusahaindustri rumah tangga panganprodukkeripiktempe,Jumat 2 April 2021
nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan. Sampai saat ini beliau belum mengetahui bagaimana prosedur pendaftaran SPP-IRT dan belum memperoleh pembinaan dan pengawasan dari Dinas Kesehatan Kota Malang. Dari pengalaman yang pernah beliau alami tersebut, Ibu nurbaeti merasa tertarik untuk segera mendaftarkan produknya agar memperoleh izin SPP-IRT dengan harapan dapat mengikuti pembinaan dari Dinas Kesehatan Kota Malang, dan produk olahannya dapat diawasi sehingga kualitas dan mutu produk dapat dipertahankan dengan stabil. (wawancara dengan Ibu Nurbaeti, pada hari Jumat tanggal 2 April 2021)
Wawancara kelima ditujukan kepada Bapak surahmi 11 (49 tahun). Produk pangan industri rumah tangga yang dihasilkan adalah“ kerupuk kulit” yang beralamat di jalanbendungan sigura-gura barat 37, sumber sari, kota malang. Usahanya ini telah berjalan selama 15 tahun. Bapak Surahmi mengatakan jika dirinya belum mengetahui terkait perizinan yang harus dimiliki oleh pengusaha industri rumah tangga pangan.
Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan. Beliau berharap dapat memperoleh informasi lebih lanjut terkait pengurusan izin SPP-IRT. (wawancara dengan Bapak Surahmi, pada hari Jumat tanggal 2 April 2021).
Wawancara keenam ditujukan kepada Ibu Satiroh12 (48 tahun). Beliau memproduksi “keripik pisang” yang dikerjakan oleh tiga orang yakni Ibu Satiroh bersama dua anaknya. Produk produksi industri rumah tangga pangan tersebut diedarkan ke pasar, warung, dan tokopusat oleh-oleh. Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan.
Hingga saat ini Produk yang dihasilkan belum mempunyai ijin dan beliau tidak mengetahui adanya pembinaan yang dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang. Beliau juga menceritakan bahwa hasil produknya ditolak pada saat akan di masukan kedalam toko pusat oleh-oleh, hal tersebut dikarenakan hasil olahannya belum memiliki ijin SPP- IRT. Berikut pernyataan dari ibu satiroh (wawancara di rumah ibu satiroh jalan raya candi vi malang. (wawancara pada hari jumat tanggal 2 April 2021)
Wawancara ketujuh ditujukan kepada mafiroh13 (60 tahun). Beliau memproduksi snack “uniko (untir-untir)” yang dijalankan oleh tiga orang orang yaitu Ibu mafiroh sendiri yang dibantu oleh anak serta suaminya. Produk Industri rumah tangga pangan
11WawancaradenganSurahmi, pelakuusahaindustri rumah tangga panganprodukkerupukkulit,Jumat 2 April 2021
12WawancaradenganSatirohprodusenkripik Pisang di kawasanSawojajar Gg 7 Kota malang, Jumat 2 April 2021
13WawancaradenganMufirohprodusen “untir-untir” jlnAnggrek Garuda No. 7 Kota Malang, Jumat 2 April 2021)
tersebut sudah diproduksi selama lima tahun dan di edarkan ke pasar, warung dan beberapa toko. Terkait upaya pembinaan dan pengawasan bagi pelaku industri rumah tangga pangan (IRTP) yang dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang dan peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan beliau belum mengetahui sama sekali. (wawancara pada hari jumat tanggal2 April 2021)
Wawancara kedelapan ditujukan kepada rozak14 (40 tahun). Beliau memproduksi
“keripik kentang” dan dikerjakan oleh 3 (tiga) orang yakni beliau sendiri dan dibantu oleh 2 (dua) anaknya. Produk SPP-IRT tersebut dipasarkan ketoko pusat oleh oleh dan swalayan. Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan. Menurut keterangan beliau, dirinya belum pernah mendapatkan binaan dari dinas kesehatan. Oleh karena itu beliau tidak mengetahui terkait kewajiban memiliki ijin SPP-IRT untuk produknya. Bahwa produknya pernah di tolak oleh swalayan pada saat akan memasukannya. Dengan alasan produknya tidak memiliki ijin SPP-IRT dan hal tersebut bahkan sangat berpengaruh terhadap perkembangan usahanya. Oleh karena itu, baru-baru ini beliau mendaftarakan produknya untuk mendapatkan ijin SPP-IRT. (wawancara pada hari Sabtu tanggal 3 April 2021)
Wawancara kesembilan ditujukan kepada anita15 (39 tahun). Beliau memproduksi
“marning jagung” dan dikerjakan oleh 3 (tiga) orang yakni beliau sendiri dan dibantu oleh 2 (dua) anaknya. Produk SPP-IRT tersebut dipasarkan ketoko pusat oleh-oleh dan swalayan. Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan pada pasal 43 ayat (2) dan ayat (3) mengatur bahwa pangan olahan sebagaimana dimaksud pada pasal 43 ayat (1) wajib memiliki sertifikat produksi pangan industri rumah tangga (SPP-IRT) yang diterbitkan oleh bupati / walikota c.q. dinas kesehatan kabupaten / kota sebagai ijin edar produk pangan olahan yang di produksinya dan dipasarkan secara lokal.
Menurut keterangan beliau, dirinya belum pernah mendapatkan pembinaan dari dinas kesehatan kota malang, dan terkait kewajiban memiliki ijin untuk usahanya beliau tidak mengetahui. Menurut beliau produknya sangat aman untuk di konsumsi dikarena semua bahan-bahan yang dipakai tidak ada yang mengandung zat berbahaya, jadi beliau
14Wawancara dirumah Rozak produsen kripik kentang Jalan Srigading no.14 Malang, Sabtu tanggal3 April 2021
15Wawancara dengan Anita Produsen Marning Jabung Jln Mawar no.15 Malang 25 Mei 2018).
pun tidak memerlukan SPP-IRT. Namun pernah sewaktu ketika beliau akan menjual produknya di swalayan, ternyata ditolak oleh pemilik swalayan dikarenakan produknya tidak memiliki ijin. Hal tersebut begitu berpengaruh untuk perkembangan usahanya, oleh karena itu baru-baru ini beliau mencoba mengurus terkait ijin SPP-IRT bagi produk olahannya tersebut. Wawancarakesepuluhditujukankepadaali16 (50 tahun). Beliau memproduksi “berondongjagung” dan dikerjakan oleh 3 (tiga) orang yakni beliau sendiri dan dibantu oleh 2 (dua) anaknya. Produk SPP-IRT tersebut dipasarkan ketoko pusat oleh oleh dan swalayan. Bahkan beliau juga tidak mengetahui terkait peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangan (wawancara pada hari Sabtu tanggal 3 April 2021)
Menurut keterangan beliau, dirinya tidak mengetahui kewajiban memiliki ijin edar untuk produk olahannya dan beliau juga tidak pernah mendapatkan pembinaan dari dinas kesehatan kota malang. Namun baru-baru ini beliau memiliki kendala dalam mengembangkan usahanya. Ketika dia ingin merambah untuk menitipkan produknya di swalayan, ternyata produknya di tolak dengan alasan tidak memiliki ijin SPP-IRT. Beliau mengaku bahwa hal tersebut memanglah tindakan yang bagus untuk menjamin perlindungan konsumen yang mengonsumsi produknya. Namun beliau kecewa karena dirinya tidak mengetahui terkait undang-undang tersebut dan berharap agar dinas kesehatan kota malang lebih aktif lagi memberikan pembinaan kepada pelaku industri rumah tangga seperti dirinya.
Wawancara kesepuluh ditujukan kepada dinda17 (22 tahun). Hasil produksi industri rumah tangga beliau adalah bakso kering. Produk ini bernama “bakso aci” mangsa pasarnya adalah pengguna sosial media, swalayan, toko di malang. Beliau mengatakan bahwa belum pernah mengikuti penyuluhan yang dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang mengenai pangan olahan produksi industri rumah tangga, kemudian beliau tidak mendaftarkan produk makanannya kedinas kesehatan kotamalang. (wawancara pada hari Sabtu tanggal 3 April 2021)
Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh data bahwa selama tahun 2021 Dinas kesehatan telah melakukan penyuluhan dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 3.4
16 Wawancara dengan Ali Produsen brondong Jagung Jalan Semboja no. 20 Malang Sabtu tanggal 3 April 2021
17 “wawancara dengan Dinda, produsen Bakso Aci ,Tirtonadi Kota Malang Sabtu tanggal3 April 2021
Jumlah peserta penyuluhan
Sumber : data primer dari dinas kesehatan kota malang, 2021
Menurut Dinas Kesehatan Kota Malang terhadap upaya pembinaan dan pengawasan selama tahun 2021 Dinas Kesehatan telah melakukan Penyuluhan terhadap 116 orang dan telah melakukan pengawasan terhadap 132 pelaku usaha industri rumah tangga pangan. Kepada para pelaku industri rumah tangga pangan dapat dikategorikan menjadi dua yaitu pembinaan pada pelaku usaha yang belum memiliki SPP-IRT dan pembinaan pada pelaku usaha yang telah memiliki SPP-IRT. Selain itu, Dinas Kesehatan Kota Malang juga mempunyai agenda rutin untuk melakukan sosialisasi dan mengedukasi yang memasuki wilayah sekolah dan masyarakat umum dengan menyusun materi yang berhubungan dengan pentingnya menjaga keamanan pangan, serta dampak berbahaya yang dapat mengancam kesehatan konsumen.
Selain melakukan Pembinaan Dinas Kesehatan juga mempunyai agenda untuk melakukan pemeriksaan bagi para pengusaha Industri rumah tangga pangan. Dari hasil pemeriksaan tersebut para pelaku usaha yang memperoleh nilai kurang baik “se” dari Dinas Kesehatan Kota Malang dianjurkan untuk memperbaiki kualitasnya dengan melakukan pembenahan terhadap sarana dan prasarana yang dinilai masih kurang tersebut. Namun apabila pelaku Industri rumah tangga pangan mendapatkan nilai yang sangat buruk “kr” maka dalam proses pemeriksaan sarana produksi pangan Industri rumah tangga pangan mereka tidak akan di luluskan. Dinas Kesehatan akan melakukan pengawasan terhadap hasil olahan Industri rumah tangga pangan di lapangan yang sudah memiliki SPP-IRT maupun yang belum memiliki SPP-IRT.
Program pembinaan kepada pelaku usaha yang belum mempunyai SPP-IRT meliputi 3 hal yaitu penyuluhan terhadap pentingnya kepemilikan SPP-IRT, penggunaan
No Tanggal Jumlah
1 9 – 10 Maret 2021 29 orang
2 17 – 18 Maret 2021 29 orang
3 5 – 6 April 2021 30 orang
4 7 – 8 April 28 orang
Total 116 orang
sarana dan prasarana produksi serta menjaga keamanan pangan agar mempunyai mutu dan gizi yang baik. Namun agenda ini tidak dilakukan secara periodik, melainkan disesuaikan dengan jumlah pelaku usaha yang akan mengajukan SPP-IRT. Hal ini tentunya akan menghambat capaian target pembinaan pada para pelaku usaha karena tidak menentunya jumlah pengusaha yang mengajukan permohonan izin SPP-IRT. Hal ini terlihat dengan masih banyaknya pelaku usaha industri rumah tangga pangan yang belum memiliki SPP-IRT dengan dalih belum mengetahui tentang pentingnya perizinan SPP-IRT bagi home industri pangan.
Upaya-upaya pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan setelah diterbitkannya SPP-IRT (Post Market) yaitu Pemeriksaan secara berkala kelokasi produksi industri rumah tangga pangan. Namun pengawasan yang dilakukan sangat terbatas terutama pengawasan terhadap produk pangan yang telah beredar dipasaran, proses produksi, sarana dan prasaran, sertasanitasi. Keterbatasan tersebut terjadi karena kurangnya Sumber Daya Manusia yang kompeten di bidangnya serta keterbatasan anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan pengawasan.
Lemahnya pengawasan ini berakibat pada hasil produksi industri rumah tangga pangan yang tidak lagi berstandart sesuai keamanan pangan dengan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kinerja dinas kesehatan kota malang dalam melakukan pengawasan baik kepada pelaku usaha yang sudah mempunyai izin SPP-IRT maupun yang belum mempunyai izin SPP-IRT belum terlaksana maksimal.
Dapat dikatakan hal tersebut hanya sebatas untuk mengugurkan kewajiban saja.
Namun meski demikian apabila Pelaku usaha yang telah mempunyai izin SPP-IRT namun melaksanakan kegiatan usahanya tidak sesuai dengan standart yang telah ditentukan sebelumnya yakni pada bab III pasal5 :
a. Pelaku usaha atau penanggung jawab usaha tersebut melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan standart di bidang pangan
b. Produk Pangan hasil Produksi IRTP terbukti telah menyebabkan Kejadian Luar Biasa yaitu keracunan pangan
c. Produk Pangan IRTP terbukti mengandung bahan berbahaya atau bahan kimia obat d. Produk Pangan Produksi IRTP telah mencantumkan klaim selain peruntukannya
sebagai Pangan Produksi IRTP
e. Pelaku usaha atau penanggung jawab usaha tidak melakukan aktifitas produksi dilokasi sarana produksi Pangan Produksi IRTP sesuai dengan lokasi yang
dicantumkan dalam dokumen pendaftaran pada saat mendapatkan SPP-IRT atau dokumen yang didaftarkan pada saat pemberian SPP-IRT
f. Pelaku usaha atau penanggung jawab usaha menggunakan sarana atau produk Pangan Olahan yang dihasilkan terbukti tidak sesuai dengan SPP-IRT yang telah diberikan
Pelaku usaha yang tebukti melakukan pelanggaran tersebut maka Dinas Kesehatan dapat melakukan Tindakan tegas yaitu berupa pencabutan izin SPP-IRT. Pecabutan SPP- IRT tersebut dilakukan oleh Dinas Kesehatan berdasarkan hasil survey lapangan, laporan masyarakat, maupun rekomendasi dari BPOM. Sehingga meskipun kinerja Dinas Kesehatan belum maksimal dalam hal pengawasan, setidaknya terdapat landasan hukum yang dapat digunakan agar pelaku usaha tidak melakukan Tindakan-tindakan pelanggaran.
C. Kendala dalam pengawasan dan penyuluhan terhadap industri rumah tangga pangan PIRT oleh Dinas Kesehatan dan Dinas Perdagangan Kota Malang
Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Malang untuk meningkatkan intensitas dan target pembinaan terkendala pada terbatasnya anggaran APBD untuk kegiatan tersebut. Kendala lainnya yaitu minimnya Sumber Daya Manusia baik secara Kuantitas maupun Kualitas keahlian yang dimiliki dan terbatasnya sarana dan/ alat uji sampel pangan yang tersedia di Dinas Kesehatan Kota Malang. Dalam proses pengajuan SPP-IRT diperlukan adanya pengujian alat-alat produksi, bahan, higinitas tempat, sanitasi dan proses produksi, sehingga memerlukan waktu yang relative lama untuk sampai pada tahap penerbitan SPP-IRT serta dengan biaya yang tidak sedikit yang dikeluarkan oleh pihak Dinas Kesehatan.
Secara umum pelaksanaan pembinaan yang dilakukan oleh pihak dinkes kota malang terhadap pelaku usaha yang belum memiliki SPP-IRT dan dalam proses pengajuan permohonan, secara normatif sesuai dengan perundangan yang belaku, tetapi pembinaan tersebut belum mampu mencapai target dan sasaran yang diharapkan karena beberapa faktor kendala, terutama semakin berkembangnya kuantitas para pelaku usaha baru dengan berbagai bentuk dan variasi produk usahanya. Hal ini tentunya kurang relevan dengan tujuan pemberdayaan pelaku usaha mikro sebagaimana yang ditetapkan dalam uu no. 20 tahun 2008 tentang umkm pada pasal 5 yang pada intinya menyatakan yaitu “ menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan usaha mikro, kecil dan menengah menjadi usaha tangguh dan mandiri serta meningkatkan peran usaha mikro,
kecil dan menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemertaan pendapatan, pertumbuhan ekonomi dan pengentasan rakyat dari kemiskinan”.
Sedangkan pembinaan yang dilakukan dinkes kota malang terhadap pelaku usaha yang telah memiliki SPP-IRT lebih diarahkan kearah bentuk pengawasan. Pola terhadap pengawasan yang dilakukan sangat terbatas yaitu hanya pada pengawasan terhadap produk pangan yang beredar di pasaran, proses produksi, sarana / prasara sanitasi.
Lemahnya pengawasan ini berakibat masih banyak ditemukannya produksi yang tidak lagi berstandart sesuai keaman pangan dengan ketentuan yang berlaku. Dari 615 pelaku usaha yang memegang SPP-IRT dengan lokasi yang menyebar diseluruh kelurahan di kota malang hal tersebut menjadi kendala yang serius bagi dinkes kota malang dalam melakukan upaya pengawasan secara rutin. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kinerja dinas kesehatan kota malang dalam melakukan pembinaan baik kepada pelaku usaha yang sudah memiliki SPP-IRT maupun yang belum memiliki SPP-IRT, hanya atau sebatas mengugurkan kewajiban dari amanah perundang-undang yang berlaku ( formalitas ) dalam hal ini peraturan walikota nomor 26 tahun 2016. Sedangkan terkait dengan capaian atau target belum menjadi tujuan yang utama.
Selain kendala tersebut Dinas Kesehatan sering mengalami kendala internal antara lain Terkait jumlah sumber daya manusia dari Dinas Kesehatan Kota Malang khususnya dibagian penyuluhan keamanan pangan serta pengawasan yang masih minim untuk memenuhi kuota kebutuhannya. Sehingga pihak Dinas Kesehatan Kota Malang berupaya untuk menambah jumlah sumber daya manusia sekaligus meningkatkan kompetensi keahlian bagi para pelaksana penyuluhan yang sudah ada, akan tetapi hal ini sebagai mana yang telah diakui oleh pihak dinas kesehatan kota malang pengadaan sumber daya manusia ini tergantung dari ketersediaan formasi yang telah ditetapkan oleh Kepala Daerah. Sehingga upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Malang adalah mengerjakan fungsi dan tugasnya secara maksimal.
Untuk menunjang program sosialisasi pangan yang aman terdapat beberapa upaya yang diambil oleh Dinas Kesehatan Kota Malang. Pertama yaitu mengadakan sosialisasi di sekolah-sekolah yang langsung dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang. Upaya kedua adalah melakukan sosialisasi di setiap desa dengan cara mengundang para kader untuk datang ke kantor dinas kesehatan kota malang yang nantinya para kaderlah yang akan melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat di desanya.Serta mengundang para anggota Kesehatan lingkungan puskesmas ke kantor dinas kesehatan kota malang untuk nantinya mengadakan sosialisasi kepada para pengunjung puskesmas.
Sedangkan kendala eksternal yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan Kota malang meliputi Alamat atau lokasi Industri rumah tangga pangan yang sulit ditemukan karena banyaknya nomer rumah yang tidak berurutan di wilayah tersebut. Sehingga para pelaksana tidak dapat memaksimalkan waktu dan kinerja mereka agar hasil yang dicapai maksimal.
Terdapat beberapa para pelaku Industri rumah tangga pangan yang sudah berhenti beroperasi atau bangkrut namun Dinas Kesehatan tidak memperoleh konfirmasi dari pemilik. Sehingga disaat pemeriksaan berkala Dinas Kesehatan seringkali mendapati hasil yang kurang memuaskan karena tidak dapat memaksimalkan penggunaan waktu dan kinerja mereka. Selain itu seringkali terdapat pelaku industri rumah tangga pangan pindah alamat dan tidak melaporkan ke dinas kesehatan kota malang. Degan kendala ini Dinas kesehatan kota malang hanya dapat melakukan pemanggilan pada para pelaku industri rumah tangga pangan tersebut untuk memberikan himbauan kepada mereka.
Namun apabila tetap melakukan pelanggaran maka Dinas Kesehatan berhak untuk mencabut izin SPP-IRT atau di batalkan sesuai peraturan yang berlaku.
Terdapat beberapa pelaku usaha yang tidak mendaftarkan produk baru yang diproduksi. Hal tersebut telah melanggar peraturan sertifikasi karena dalam ketentuan apabila produsen mempunyai produk baru maka wajib untuk didaftarkan kepihak Dinas Kesehatan. Sehingga Dinas Kesehatan dapat melakukan pengawasan terhadap kualitas dari produk tersebut.
Pada saat pembuatan SPP-IRT banyak kriteria penilaian atau syarat sesuai peraturan bpom yang tidak dipenuhi oleh para pelaku industri rumah tangga pangan (pirt), pada tahap dinas kesehatan melakukan pemeriksaan sarana produksi. Salah satu contohnya adalah tempat produksi yang terlalu sempit dan langsung berhubungan dengan kamar mandi. Maka upaya dari dinas kesehatan kota malang adalah dengan meminta para pelaku industri rumah tangga (pirt) untuk memperbaiki dan memenuhi persyaratan yang masih kurang / atau tidak terpenuhi.
Kendala Pada saat inspeksi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan maupun isnpeksi gabungan yang dilakukan Dinas Kesehatan bersama Badan POM dan Dinas Perdagangan untuk melakukan pengawasan di lapangan, banyak di temukannya hasil olahan produk industri rumah tangga pangan yang belum memiliki izin SPP-IRT. Produk-produk tersebut seringkali ditemukan di pasar-pasar dan toko kecil. Sehingga upaya yangdapat dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang adalah dengan mengadakan sosialisasi rutin yang ditujukan kepada para pelaku industri rumah tangga pangan akan pentingnya
memiliki izin edar guna menjamin kemanan pangan bagi konsumen. Selain upaya tersebut, kendala ini juga bisa diminimalisir dengan adanya peraturan undang-undang mewajibkan para pelaku industri rumah tangga untuk memiliki izin SPP-IRT apabila ingin memasukan produk usahanya ke swalayan juga toko oleh-oleh. Peraturan ini dapat mendorong antusias para pelaku usaha untuk segera mengurus izin SPP-IRT.
Terkait kendala hasil olahan kue basah pelaku industri rumah tangga (pirt) yang meminta izin SPP-IRT, hal ini tidak diatur dan melanggar ketentuan undang-undang.
Namun untuk menyikapi fenomena baru ini, upaya yang dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang adalah dengan memberikan himbauan kepada para pelaku tersebut agar memberitahu pihak swalayan bahwa makanan dan minuman yang tidak tahan kurang dari 7 hari tidak bisa /atau tidak perlu memiliki izin SPP-IRT. Namun apabila memang di perlukan, dinas kesehatan kota malang akan mengeluarkan izin SPP-IRT bagi olahan kue basah dengan syarat dan ketentuan tersendiri. Hal ini disebut sebagai diskresi atau kebijakan.
Sebaliknya dari kendala sebelumnya, roti bakery yang harusnya wajib memiliki izin SPP-IRT. Banyak di jumpai tidak memiliki izin edar tersebut. Tidak banyak upaya yang bisa dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang dalam menangani hal ini. Mereka hanya memberikan himbauan saja, apabila dengan cara tersebut masih banyak para pelaku yang tidak melaksanakannya pun dinas kesehatan kota malang tidak mampu melakukan hal apapun. Dikarenakan dalam peraturan yang ada, tidak menyebutkan secara tegas sanksi bagi para pelaku industri rumah tangga pangan (IRTP) yang tidak memilik SPP-IRT.
Terdapat permasalahan baru yang timbul, dimana produsen yang mengemas ulang makan hasil olahan industri rumah tangga pangan (IRTP). Masih banyaknya makanan yang menggunakan pemanis serta pengawet yang lebih dari takaran yang telah di tentukan. Maka upaya yang dilakukan oleh dinas kesehatan kota malang adalah melakukan uji dan jika di dapati pelanggaran tersebut maka para pelaku terlebih dahulu akan diberi himbauan. Hal tersebut juga berlaku bagi tindakan para pelaku yang komposisi bahannya diubah tidak sesuai pada saat di daftarkan. Apabila masih dilanggar maka SPP-IRT dapat di cabut atau di batalkan sesuai peraturan yang berlaku.
Dan terakhir terkait permasalahan para pelaku yang telah memiliki SPP-IRT, namun perlabelannya masih banyak yang tidak sesuai aturan /atau tidak sesuai syarat.
Salah satu contohnya di label mewajibkan mencantumkan tanggal kadaluwarsa dan kode produksi, namun banyak yang hanya menulis kalimat kadaluwarsa juga kode produksi
saja tanpa mengisinya. Upaya yang dilakukan pun sama yaitu pertama melakukan memanggil pelakunya dan memberikan himbauan. Namun apabila masih dilanggar maka SPP-IRT dapat di cabut atau di batalkan sesuai peraturan yang berlaku.
Merujuk pada identifikasi kendala internal dan ekternal serta upaya mengatasi kendala-kendala tersebut yang dilakukan oleh pihak dinas kesehatan kota malang. Secara umum langkah yang dilakukan cukup baik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pembinaan industri rumah tangga pangan. Namundemikian, solusi yang lebih kontributif menurut pendapat penulis lebih efektif dan efisien jika bersumber pada akar masalah yang di temukan di lapangan. Dalam hal ini agar persoalan yang inti sebenarnya terkait dengan rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman pelaku usaha sehingga upaya yang dilakukan adalah meningkatkan intensitas edukasi dan sosialisasi seluruh lapisan masyarakat secara terencana dan berkelanjutan. Dengan peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya standarisasi keamanan pangan maka secara langsung akan berdampak pada tumbuhnya kesadaran masyrakat pengajuan SPP-IRT. Dengan demikian problem yang dihadapi oleh pihak dinkes sebagai mana telah dijelaskan diatasakan semakin berkurang.