• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pemanfaatan internet dan media sosial oleh pengguna internet di seluruh dunia melahirkan bentuk pesan baru berupa internet meme. Kreativitas baru dalam penyampaian pesan, yang digunakan untuk memperbincangkan berbagai isu sehingga viral dan mengglobal. Meme dalam bentuk pesan baru yang digunakan untuk memperbincangkan isu yang dikemas secara non-serius, mengandung unsur humor, satire dan diimitasi oleh banyak orang (Mahadian & Sugandi, 2019).

Namun penggunaan meme juga berpotensi menimbulkan permasalahan baru.

Ketika kreator atau penyebar meme tidak lagi berfikir proporsional untuk menentukan mana topik yang dapat dijadikan meme, dan mana yang tidak (Juditha, 2015). Hafizhul (dalam Miski, 2017) menambahkan hal tersebut lazimnya terjadi karena meme seringkali digunakan untuk merespon dengan cepat suatu kejadian yang sedang kontroversial dan viral baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Fenomena meme merupakan fenomena yang populer di kalangan pengguna media sosial di Indonesia sejak satu dekade yang lalu, yang populer dan disebarkan di media sosial Twitter, Facebook, Path dan Instagram (Nugraha, et al., 2015). Meme sendiri adalah sekelompok materi digital yang menyebarkan konten umum dalam berbagai karakteristik, bentuk, dan sikap yang diciptakan berdasarkan kesadaran bersama, disirkulasikan, diimitasi, dan ditransformasikan melalui internet oleh banyak orang (Shifman, 2014). Sebuah replikasi ide yang dibuat dalam bentuk gambar, video, atau teks yang memiliki fungsi untuk menyampaikan pikiran, gagasan, sudut pandang dan bahkan di Indonesia meme cenderung banyak digunakan untuk menyampaikan kritikan kepada pemerintah baik dalam aspek politik dan sosial. Meme disebarkan dari satu orang ke orang yang lain dengan cepat dan ditransmisikan melalui internet.

Konsep meme telah dipelajari oleh para ilmuwan jauh sebelum era digital, namun internet telah merubah penyebaran meme menjadi tak dapat dipisahkan

(2)

2 dari ‘bahasa rakyat’ para pengguna internet. Kemunculan meme tidak terlepas dari kejadian sosial yang di transformasikan melalui komunikasi dari satu individu ke dalam dialog sosial (Kilian, et al., 2012; Mills, 2012; Taecharungroj &

Nueangjamnong 2015). Fenomena sosial yang menarik perhatian publik dan kontroversial, diperbincangkan menggunakan meme. Tidak jarang meme dijadikan sebagai media perang wacana atau perang perbedaan opini oleh pihak yang berkepentigan, kemudian diimitasi oleh banyak orang dan menyebar secara cepat dan mudah melalui internet.

Konsep meme ini sebenarnya sudah cukup lama diperkenalkan oleh ahli biologi Richard Dawkins (1976) yang menelaah meme sebagai meta-budaya dalam konteks yang serupa dengan gen, pada kajian evolusi genetika. Konsep meme terus dikembangkan oleh Limor Shifman, yang mempelajari meme digital di era internet. Shifman (2014) mengkaji konsep meme dalam budaya digital dan dimana internet telah mengubah penyebaran meme menjadi praktik budaya yang sangat terlihat. Shifman (2014) berpendapat bahwa kajian meme di era internet dapat dipelajari dalam tiga fokus kajian, yaitu: mengenai meme politik, globalisasi budaya dan viralitas meme. Merujuk pada pendapat Shifman (2014) tersebut, penelitian ini akan mempelajari bagaimana kritik publik disampaikan dalam bentuk meme di internet sehingga menjadi viral dikalangan pengguna internet di Indonesia. Fenomena kritik meme menjadi perbincangan yang menarik untuk dikritisi lebih jauh akan makna krtitik yang terbangun dan bagaimana meme merepresentasikan kritik tersebut, bersamaan dengan pemberitaan politik serius pada media konvensional. Kreatiftas pengguna internet dalam penciptaan meme yang tidak biasa, digunakan sebagai bentuk demokrasi dalam menuangkan penadapat dan berbagi pesan politik bagi para pengguna internet secara lebih luwes, sehingga dengan mudah menjelajahi pemikiran individu satu dengan lainnya (Pusanti, 2015). Dengan itu, keberadaan media sosial menjadi ujung tombak dalam keberhasilan meme, media sosial dinilai memungkinkan penggunanya untuk berbagi opini dengan berbagai bentuk komentar, satu diantaranya melalui meme. Praktik persebaran meme secara masif, menjadikan meme patut untuk dipelajari lebih dalam, dengan mempertimbangkan makna yang terkandung serta bagaimana unit budaya siber kontenporer digunakan sebagai medium dalam merepresentasikan kritik.

(3)

3 Dalam perbincangaan meme, erat kaitannya dengan viralitas meme atau konten meme viral ini sebagai suatu unit objek yang disebarkan secara masif melalui media sosial, forum online dan aplikasi pengirim pesan tanpa merubah makna dan bentuk asli serta diimitasi oleh banyak orang sehingga mencapai tingkat popularitas tertentu. (Mills, 2012) menyampaikan bahwa dalam penyebaran pesan yang berbentuk meme secara virtual dari individu kepada komunitas luas yang tumbuh secara berkala dengan setiap siklus disebut virality atau viralitas. Sementara itu, Shifman (2014) menyatakan bahwa untuk memahami sifat viralitas, perlu adanya pemahaman mengenai memetika karena dua hal tersebut memiliki hubungan sebagai suatu spektrum yang dinamis dalam penyebaran suatu konten. Pertama, viralitas tentang aktivitas yang bersinggungan dengan penyebaran konten meme oleh pengguna internet. Kedua, memetika yang dapat dilihat dari seberapa tinggi tingkat penyebaran konten meme yang kemudian diimitasi oleh pengguna internet lainnya.

Studi meme telah dilakukan oleh Seiffert-Brockmann, Diehl, & Dobusch (2018), dalam studi nya mempelajari mengenai bagaimana evolusi wacana politik online yang terkandung dalam meme poster Obama Hope membawa makna baru sesuai dengan proses imitasi oleh pencipta meme. Studi mengenai viralitas meme yang telah dilakukan sebelumnya mengenai viralitas secara luas oleh Shifman (2014), (Berger & Milkman, 2012), (Heylighen & Chieiens, 2009), (Taecharungroj & Nucangjamnong, 2015) dan (Mills, 2012). Namun, studi mengenai meme di Indonesia sendiri secara kuantitatif masih terhitung sedikit dan terbatas. Salah satu studi yang dilakukan di Indonesa untuk mempelajari mengenai representasi kritik yang disampaikaan melalui meme dilakukan oleh Rosa Redia Pusanti (2015) dengan judul penelitian Representasi Kritik dalam Meme Politik (Studi Semiotika Meme Politik dalam Masa Pemilu 2014 pada Jejaring Sosial

“Path” sebagai Media Kritik di Era Siber) dalam penelitiannya bertujuan untuk mempelajari mengenai penggambaran kritik melalui tanda ikon, indeks, dan simbol yang ditampilkan dalam meme politik yang tersebar di jejaring sosial

“Path” pada masa pemilu 2014 di era siber. Dalam penelitiannya Rosa Redia (2015) belum membahas mengenai pengkategorian berdasarkan tema dan konten yang terefleksikan dalam sebuah konten digital, meme. Sedangkan menurut Limor Shifman tema dan konten menjadi aspek penting untuk dikaji dalam kajian

(4)

4 internet meme. Dengan demikian, masih perlu dilakukan penelitian untuk dapat mempelajari dan menjawab pertanyaan mengenai tema dan konten yang temuat dalam meme, yang memperbincangkan suatu isu? Untuk dapat mempelajari dan mencari jawaban dari gap penelitian tersebut, maka akan dilakukan penelitian yang mempelajari dan mengungkapkan tema serta konten yang ditampilkan pada meme viral dalam memperbincangkan sebuah isu populer. Isu yang dipilih dalam penelitian ini adalah isu populer yang dipicu oleh sebuah pernyataan kontroversial seorang pejabat nasional, seorang Komisioner Penanggung Jawab Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) KPAI, isu tersebut berawal dari pernyataan Sitti Hikmawaty yang menyampaikan bahwa kehamilan dapat terjadi pada perempuan apabila berenang satu kolam renang dengan laki-laki. Berangkat dari isu tersebut, maka dilakukan penelitian yang mempelajari mengenai bagaimana meme yang memperbincangkan isu tentang pernyataan kehamilan di kolam renang oleh Sitti Hikmawaty ini menjadi viral, sejak tanggal 22 februari 2020 hingga 29 tefebruari 2020.

Pemilihan kasus didasari beberapa pertimbangan. Pertama, terdapat fenomena populer yang bisa di golongkan sebagai fenomena viral. Pemaparan tersebut sejalan dengan pernyataan kontroversi oleh Sitti Hikmawaty yang dapat di golongkan sebagai fenomena viral dengan alasan banyaknya jumlah pengguna internet yang turut berpartisipasi dalam membuat dan menyebarkan meme

“HamilDiKolamRenang” sehingga menjadikan hastag HamilDiKolamRenang oleh Sitti Hikmawaty ini menjadi trending topic di Twitter pada pekan itu tanggal 23 februari hingga 29 februari 2020, serta menuai tanggapan dan kritikan oleh publik. Topik ini semakin menjadi sorotan publik ketika pemilik akun twitter

@dondihananto menanggapi mengenai pernyataan kontroversial Sitty Hikmawati, ia menuliskan ‘cuitan’ melalui akun twitternya “Menurut ibu ini: 1.

Semua laki-laki di kolam renang pasti ejakulasi; 2. Secara tiba-tiba mereka mengeluarkan sperma; 3. Beberapa sperma itu sangat kuat bisa berenang dan masuk ke vagina perempuan yang berenang; 4. Kalau ada yang lagi subur, wanita itu lalu bisa hamil. RIP Biologial Sciences, begitulah tulisan yang dicuitkan sekitar 5 jam yang lalu setelah di-publish pada pukul 14.28 WIB pada tanggal 22 febuari 2020, telah mendapatkan komentar sebanyak 472, diretweet sebanyak 1,3ribu, dan disukai 1,7ribu kali (Nana, 2020; Ratri, 2020; Jatim News, 2020).

(5)

5 Kedua, isu mengenai Sitti Hikmawaty ini sudah diperbincangkan oleh masyarakat internasional, terlihat dari banyaknya media online internasional yang ikut menyoroti isu ini dengan menuliskan kritikan seperti yang diekspos oleh media DailyStar Inggris yang merupakan media utama inggris dimana dalam media tersebut menuliskan berita, dengan judul “women can get pregnant from swimming in a pool with men, child official claims” yang sudah dibagikan lebih dari 11.500 kali di media sosial sejak penerbitan pertama pada 24 febuari 2020.

Setelah DailyStar media-media terkemuka seperti Media The Sun “COME AGAIN? ‘Strong sperm’ could impregnate women in swimming pools, claims child protection boss” dan Media The Independent juga ikut mengeluarkan artikel berita terkait statement tersebut dengan tajuk “‘Strong sperm’ could impregnate women in swimming pools, child protection chief says”. Dari 20 berita terpopuler pekan itu pada tanggal 23 Febuari 2020 sampai 29 Febuari 2020, berita mengenai pernyataan dari Sitti Hikmawatty menduduki posisi teratas, mengalahkan kabar mengenai rapat rahasia kerajaan Inggris (Andriyanto, 2020; Berita Satu 2020)

Salah satu bentuk pesan yang digunakan untuk memperbincangkan isu tersebut adalah meme. Meme akan dikatakan berhasil apabila sudah mencapai titik viralitas (Heylighen, 1995; Shifman, 2013). Dalam waktu singkat berjuta cibiran yang di representasikan dalam bentuk meme dialamatkan kepada Sitti Hikmawatty melalui media sosial, dengan penggunaan tanda pagar

#HamilDiKolamRenang yang merajai topik terpopuler twitter pada pekan itu.

kritikan dan cibiran yang disampaikan warganet semakin berkembang, dari awalnya hanya komentar pada kolom komen dimana video pernyataan tersebut di publikasikan kemudian berkembang menjadi cibiran kata, status hingga gambar lucu atau meme.

Kemunculan meme sebagai bentuk budaya siber yang populer memberikan bentuk baru dalam memperbincangkan isu-isu populer, kontenporer dan tengah hangat di masyarakat, yang tidak terlepas dari perkembangan penggunaan internet dan media baru dilihat dari hubungannya bahwa meme menjadi bentuk respon ekspresi dari pengguna internet pasca runtuhnya masa Orde Baru. Nugroho (2011), (Sen & Hill, 2000) menyepakati bahwasannya internet memiliki posisi yang kuat dalam keberlangsungan demokrasi di Indonesia. Terlepas dari itu, pada dasarnya media baru secara kreatif memodifikasi dirinya dalam bentuk yang

(6)

6 bervariasi, secara dinamis dan fleksibel mode komunikasi ini banyak dikembangkan dan direspon secara aktif oleh pengguna internet, sehingga meme yang ditransmisikan melalui internet akan dengan cepat menyebar dan melompat dari satu pikiran individu ke pikiran individu lainnya melalui proses menyalin dan mengimitasi sebagai sebuah unit budaya (Dawkins, 1976).

Berbagai isu dikembangkan menjadi diskursus publik melalui intenet, diperbincangkan dan diproduksi pula secara masif (Wadipalapa, 2015) Fenomena yang kerap dijadikan perbincangan menyangkut tokoh politik pemerintahan maupun hanya sekedar fenomena sosial di Indonesia yang rasanya tak pernah luput dari sorot perhatian para kreator untuk diusung menjadi tema dalam perbincangan melalui meme. Berbagai fenomena sosial seperti angka kemiskinan yang kian meningkat, musibah bajir yang tak kunjung berakhir, juga berbagai kritik serta sentilan yang dialamatkan kepada elit politik. Subkultur ini muncul sebagai media kritik pada wacana politik berkedok komedi, sehingga banyak penelitian yang menyatakan bahwa humor adalah serius pada tatanan meme politik (Pusanti, 2015). Penggunaan bahasa humor bermuatan satire dalam kritik politik tak lagi menjadi gaya baru, subkultur ini telah ada sejak berkembangnya dunia karikatur dan komik dimana banyak kreator mengemas kritik dalam kedua bentuk tersebut, namn subkultur ini tampak bermutasi dalam bentuk baru, yaitu meme. Gaya humor satire dianggap menjadi bentuk penyampaiaan makna dari pesan kritik yang lebih efektif (Ayu Suciartini, 2020), sebagai upaya ketidaksepakatan dan upaya berlawanan bagi pengguna internet yang merasa tidak setuju dan mengalami tekanan namun tidak mampu melawan serta menyuarakan secara langsung, maka salah satu bentuk perlawanan muncul dalam bentuk humor dengan memanfaatkan bahasa satire.

Sejalan dengan itu, penelitian ini mempelajari sebuah kasus mengenai isu kontroversial yang disampaikan oleh salah seorang komisioner KPAI Sitti Hikmawaty. Sehingga dianggap tepat untuk dipelajari mengenai bagaimana pengguna internet dengan membawa meme sebagai medium baru dalam menyuarakan, memperbincangkan dan mengkritisi isu tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap kajian representasi makna kritik pada meme politik, yang menjadi salah satu isu penting dalam studi internet meme (Shifman, 2014). Penelitian ini menjadi penting untuk diteliti, karena studi

(7)

7 mengenai kajian meme di Indonesia masih sangat sedikit, salah satu studi di Indonesia yang mempelajari mengenai meme dilakukan oleh Rosa Redia Pusanti (2015) dalam penelitiannya mempelajari mengenai analisis semiotika tanda-tanda yang termuat pada meme politik Pemilu 2014 yang memungkinkan bermuatan makna kritik. Namun, dalam penelitian nya belum membahas mengenai pengkategorian berdasarkan tema dan konten yang terefleksikan dalam sebuah konten digital, meme. Sedangkan menurut Limor Shifman tema dan konten menjadi aspek penting untuk dikaji dalam kajian internet meme. Sehingga dengan mempelajari mengenai tema dan konten mengena kritik dan respon yang diinterpretasikan melalui meme, sekaligus mempelajari mengenai bagaimana sebuah pesan dalam proses komunikasi bermedia internet dalam bentuk meme yang menyebar melalui internet dari satu pikiran ke pikiran yang lainnya.

1.2 Fokus Penelitian

Penelitian ini berfokus pada penelitian mengenai analisis konten digital, dalam hal ini untuk mengetahui konten yang muncul dari fenomena viralnya meme “hamil dikolam renang” dengan lebih terfokuskan secara merinci terkait analisis tema dan konten yang terkandung dalam meme.

1.3 Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada fokus penelitian, sehingga mampu dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana tema digunakan dalam kritik konten meme “Hamil Di Kolam Renang”?

2. Bagaimana bentuk konten meme yang digunakan sebagai kritik dalam isu

“Hamil Di Kolam Renang”?

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana meme yang telah dikonstruksi dalam bentuk tanda yang merepresentasikan kritik di era siber serta memahami bagaimana representasi tersebut dibangun dalam bentuk meme Hamil di Kolam Renang.

Lebih rincinya, sesuai dengan fokus penelitian yang dipaparkan, maka tujuan penelitian terfokuskan pada:

1. Untuk mengetahui konten yang digunakan dalam meme “Hamil Di Kolam Renang”

(8)

8 2. Untuk mengetahui tema dalam konten meme “Hamil Di Kolam Renang”

1.5 Manfaat Penelitian

Penulis berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat untuk beberapa pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini, penulis membagi manfaat ke dalam dua aspek penting yaitu:

1.5.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap kajian studi Ilmu Komunikasi mengenai produk budaya siber (cyberculture) dalam bentuk meme sebagai subkultur. Lebih spesifik berkontribusi terhadap studi meme, sebagai salah satu penelitian yang berkembang (Shifman, 2014). Produk budaya siber yang menjadi fokus dalam penelitian ini ialah meme Hamil di Kolam Renang yang digunakan sebagai media kritik pengguna internet dalam menyuarakan kritik serta menjalankan aksi politik dalam ranah dunia maya. Penelitian ini juga diharapkan dapat berkontribusi bagi studi demokrasi Indonesia kontemporer, karena penelitian ini mempelajari sebuah kasus yang melibatkan perbincangan tentang seorang pejabat pemerintah di Indonesia.

1.5.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan mampu berkontribusi dalam menjelaskan dan menambah pemahaman kepada masyarakat pengguna aktif internet, maupun pengguna pasif secara khusus mengenai bagaimana peran meme Hamil di Kolam renang digunakan dengan membawa makna kritik sebagai media kritik dikalangan pengguna internet

(9)

9 1.6 Waktu Penelitian

Tabel 1.1 Waktu Penelitian

No

. Kegiatan

Bulan (2020-2021) Fe

b

Ma- Mei

Jun Ags- Okt

Nov -Des

Jan- Mar

Apr Mei Jun

1. Mencari topik dan menentukan tema penelitiuan 2. Pencarian data

penelitian,

penyusunan proposal skripsi (Bab I-III) 3. Pendaftaran DE

periode Juli 4. Analisis data

berdasarkan unit analisis dan

indikator lain yang telah ditentukan 5. Penyusunan Bab IV 6. Penyusunan Bab V 7. Penyelesaian Bab I-

V

Gambar

Tabel 1.1 Waktu Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahuwata’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa, atas limpahan karunia dan rahmat-Nya kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul di

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengendalian persediaan bahan baku dengan menggunakan model Economic Order Quantity (EOQ) dan dampaknya terhadap

Untuk itu guna mengantisipasi akan adanya kegagalan proses maka PT.XYZ menerapkan Quality management System ISO/TS 16949 dengan tools yang digunakan seperti FMEA (

Dari hasil analisis diperoleh grain size pelet U02 sinter Cirene sebesar 7,9 11mdan pelet PWR sebesar 6,9 11m.Sedangkan porositas pelet Cirene adalah 12,4% dan pelet PWR adalah

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan yaitu data analog gelombang otak dapat digunakan sebagai perintah untuk menghidupkan atau

dengan menggunakan Unity 3D ini tidak hanya mudah dalam menggunakan atau mengerjakan suatu pekerjaaan, tetapi aplikasi Unity 3D ini juga dapat bekerja dengan aplikasi lainnya

Variabel adversity quotient, lingkungan keluarga, dan minat berwirausaha diukur dengan skala Likert, yaitu skala dipergunakan untuk mengetahui setuju atau tidak

Puncak Keemasan Dunamis Indonesia dalam membangun awareness terhadap produk animasi beakbug telah dilakukan dengan menggunakan konsep Brand Visualization yang