BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur‟an sebagai mukjizat terakhir dan teragung, mempunyai peranan terpenting dalam melakukan ‘amaliyah keseharian. Ada tiga versi dalam menetapkan asal usul penamaan Al-Qur‟an, versi pertama menyatakan bahwa Al-Qur‟an berasal dari قَ قَ قَ yang berarti “menghimpun” atau dari قَ ئِ قَر قَ
yang berarti mirip. Pendapat pertama didukung oleh al-Asy‟ari1 dan yang kedua oleh al-Farrā.2 Versi yang kedua menyatakan, kata itu berasal dari ةٌ قَارقَ ئِ
yang berarti “bacaan” seperti disebut dalam QS. Al-Qiyāmah /75:17-18.3
“Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacannya itu”.
Pendapat ini didukung oleh al-Zamakhsyari.4 Versi ketiga menyatakan bahwa Al-Qur‟an merupakan sebutan bagi nama kitab Allah, sehingga tidak diperlukan pembahasan mengenai asal-usul nama tersebut (ghayr musytaq); sama seperti kitab suci yang lainnya seperti al-Taurat dan al-Injil. Pendapat ini dipaparkan oleh imam Syāfi‟i kemudian dikutip oleh al- Zarkasyi dan di ikuti oleh Ibnu Katsir.5
Meninjau ketiga versi di atas, versi pertama dan ketiga menegaskan bahwa huruf nun yang berada di akhir kata Al-Qur‟an itu adalah asli;
sementara versi kedua mengisyaratkan bahwa huruf nun tersebut merupakan tambahan, bukan asli. Secara seksama, versi kedua terlihat lebih mendekati
1 Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Ismail bin Abi Basyar Ishak bin Salim bin Abdullah bin Musa Abdillah bin Abi Burdah Amir bin Abi Musa Abdillah bin Qais al-Asy‟ari.
Ia lahir di Basyrah tahun 260H/873 M dan wafat di Baghdad tahun 935 M. Aliran teologi yang dibawanya dikenal dengan nama al-Asy‟ariyah, salah satu sekte dalam aliran Suni (Ahl al sunni sunnah wa al-jama’ah).
2 Al-Suyūthi, Al-Itqān Fī ‘Ulūm Al-Qur’an, (Bairut: Dār al-Fikr, I, t.t.), h. 52
3 Disalin dari Al-Qur‟an terjemah perkata. Diterbitkan oleh Depag tahun 2010.
4 Ia menolak paham antropomorfisme, Tuhan benar-benar lepas dari sifat makhluknya.
5 Al-Zarkasyī, Al-Burhān Fī ‘Ulūm Al-Qur’an, (Mesir: Isā al-bāb al-halabī, I, t.t.), h. 278.
pemahaman dan pemakaian sehari-hari karena Al-Qur‟an memang berisi ayat-ayat untuk dibaca dan dipahami guna diambil pelajarannya.
Berbagai definisi Al-Qur‟an telah disampaikan oleh para ulama dengan latar belakang keahlian mereka masing-masing. Kaum teolog, misalnya, cenderung mendefinisikan dari sudut teologis seperti Khulābiyyah, Asy‟ariyyah6, Karāmiyyah, Māturidiyyah7 dan penganut sifatiyyah lainnya, berkata: “Al-Qur‟an ialah kalam Allah yang qadim tidak makhluk”.8 Sebaliknya kaum Jahmiyyah9, Muktazilah10 dan lain-lain yang menganut paham bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat, menyatakan bahwa Al-Qur‟an ialah “makhluk (tidak qadim)”. Sedangkan kaum filosof dan al-Shābi‟ah, melihat Al-Qur‟an dari sudut pandang filosofis dan berpendapat bahwa Al- Qur‟an ialah “makna yang melimpah kepada jiwa”. Oleh sebab itu ahli gramatikal bahasa Arab, ulama ahli fikih, pakar-pakar ushul fikih, dan para mufasir, lebih condong mengartikan Al-Qur‟an sebagai teks atau lafal yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. mulai dari surat al- Fātihah sampai dengan surat al-Nās sebagaimana dinyatakan oleh Subhī al- Shālih, Muhammad „Ali al-Shabūnī, dan lain-lain: Al-Qur‟an ialah kalam Allah yang mu’jiz, yang diturunkan kepada Nabi SAW. dengan perantaraan Jibril, yang tertulis dalam mushaf mulai dari surat al-Fātihah sampai dengan surat al-Nās, yang disampaikan oleh Rasul Allah secara Mutawatir, dan membacanya bernilai ibadah.11
6 Aliran yang dinisbatkan kepada pendirinya, al-Asy‟ari. Ia berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat dan menganggap Al-Qur‟an adalah qadim.
7 Aliran yang lahir di Samarkand, didirikan oleh Abu Mansur al-Maturidi. Nama al- Maturidiyyah dinisbatkan kepada pendirinya, al-Maturidi. Menurut pendapat Ayyub Ali, ia dilahirkan sekitar 238 H/852 M. Ini didasarkan pada perkiraan, karena ia pernah belajar dengan Muhammad bin Maqatil al-Razi yang wafat tahun 248 H/882 M.
8 Muhammad Kamil Abdushshamad, Mukjizat Ilmiah Dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Media Grafika), h. 3.
9 Aliran yang dipelopori oleh Jahm bin Shafwan. Ia masih termasuk salah satu tokoh penting dalam pemuka al-Jabariyah ekstrem. Jahm berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan untuk berbuat apa-apa. Disamping itupula, Jahm menganggap bahwa Allah SWT tidak mempunyai sifat-sifat dan menganggap Al-Qur‟an makhluk, dan menganggap Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.
10 Aliran yang dipelopori oleh Washil bin Atha. Mereka yang menjauhkan diri dari pertikaian antara golongan pendukung Ali bin Abi Thalib di satu pihak dan Muawiyah bin Abi Sufyan di pihak lain.
11 Muhammad „Ali al-Shabūni, al-Tibyān Fī ‘Ulūm Al-Qur’ān, (Maktabat al-Ghazālī, t.t.) h.6.
Sebagaimana pendapat „Abd al-Wahhāb Khallāf yang dikutip Nasiruddin Baidan merumuskannya sebagai berikut:
“Al-Qur‟an ialah firman Allah yang dibawa turun oleh al- Ruuh al-Amin (Jibril) kedalam qalbu Rasul Allah Muhammad bin „Abd Allah beserta lafal yang berbahasa Arab dan maknanya, benar-benar sebagai bukti bagi Rasul bahwa ia adalah utusan Allah dan menjadi pegangan bagi manusia agar mereka terbimbing dengan petunjuk-Nya ke jalan yang benar, serta membacanya bernilai ibadah.
Kesemua firman itu terkumpul di dalam mushaf yang diawali dengan surat al-Fātihah dan ditutup dengan surat al- Nās , diriwayatkan secara mutawatir dari satu generasi ke generasi yang lain melalui tulisan dan lisan, serta senantiasa terpelihara keorsinilannya dari segala bentuk perubahan dan penukaran atau penggantian”.12
Bercermin kepada sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi
نع يطامنلأا وى نسحلا نب ديز انثدح يفوكلا نمحرلا دبع نب رصن انثدح لاق للها دبع نب رباج نع ويبأ نع دمحم نب رفعج :
للها ىلص للها لوسر تيأر
لوقي وتعمسف بطخي ءاوصقلا وتقان ىلع وىو ةفرع موي وتجح يف ملس و ويلع يترتعو للها باتك اولضت نل وب متذخأ نإ ام مكيف تكرت دق ينإ سانلا اهيأ اي يتيب لىأ )
ىذمرتلا هاور )
“Telah menceritakan Nashir bin „Abdur Rohman al-Kūfī, telah menceritakan Zaid bin al-Hasan, dari Ja‟far bin Muhammad dari ayahnya, dari Jabir bin „Abdullah berkata: saya melihat Rasulullah SAW di dalam hujjahnya di hari „Arofah beliau berkhutbah, maka aku mendengarkannya, Rasulullah pun bersabda: Wahai manusia, sesungguhnya akan aku tinggalkan untuk kalian, jika kalian berpegang teguh padanya, maka kalian tidak akan tersesat, yaitu kitabullah (Al- Qur‟an) dan jejak perilaku ahlul baitku (sunnah/hadits)”13. (HR. al- Tirmidzi, no. 3786)
12 Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. Ke- 1, 2005,) h. 23.
13 Maktabah Syameelah, HR. Tirmidzi, No. 3786, Sunan at-Tirmidzi, bab Manāqib Ahlun Nabiy SAW, juz 5, h. 662.
Kemudian dalam haditsnya pula dijelaskan tentang kemuliaan orang yang selalu berpegang teguh kepada Al-Qur‟an, yaitu:
نع ناذاز نب ريثك نع ناميلس نب صفح انربخأ رجح نب يلع انثدح لاق بلاط يبأ نب يلع نع ةرمض نب مصاع :
ىلص للها لوسر لاق
ومارح مرحو وللاح لحأف هرهظتساو نآرقلا أرق نم ملس و ويلع للها رانلا ول تبجو مهلك وتيب لىأ نم ةرشع يف وعفشو ةنجلا وب للها ولخدأ
Telah menceritakan „Ali bin Hajar, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Sulaiman dari Katsīr bin zādzān dari
„Ashīm bin Dhomroh dari Sayyidin Ali ra. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Barangsiapa yang membaca Al-Qur‟an, lalu memeliharanya, kemudian menghalalkan hukum halal yang terdapat di dalamnya dan mengharamkan akan hukum haramnya, niscaya Allah akan memasukkannya bersama dengan Al-Qur‟an yang dibacanya itu ke dalam surge dan memberikan syafa‟at terhadap sepuluh anggota keluarganya yang kesemuanya diharuskan masuk neraka.” (HR. Imam Turmudzi)14.
Dalam realitas yang dijumpai di kalangan masyarakat, perwujudan daripada interaksi masyarakat dengan Al-Qur‟an dapat kita lihat dalam dua bentuk. Pertama, ada sebagian orang yang mempelajari seputar tekstualitas Al-Qur‟an. Hal ini telah lama digeluti oleh mereka para mufasir, baik mufasir klasik maupun mufasir kontemporer. Tidak heran, banyak kitab-kitab tafsir yang lahir daripada kepiawaian mereka dalam mengkaji Al-Qur‟an dilihat dari redaksi teksnya. Kedua, ada sebagian lagi yang mencoba secara langsung menerapkan, serta mendayagunakan Al-Qur‟an secara praktis dalam kehidupan sehari-harinya.
Interaksi model kedua ini dapat kita lihat misalnya dengan membaca Al-Qur‟an setiap hari dengan tujuan tertentu, seperti pengasihan, ingin dimudahkan rizkinya, bahkan sampai untuk mengusir makhluk haluspun dengan bacaan-bacaan ayat suci Al-Qur‟an. Ada juga yang menghafal Al-
14 Mujaddidul Islam Mafa dan Jalaluddin al-Akbar, Keajaiban Kitab Suci Al-Qur’an, (Delta Prima Press, 2010), h. 88. Lihat maktabah syameelah dalam kitab sunan at-Tirmidzi no.2905 bab fadhlu qāriil Qur’an, juz 5, h. 171.
Qur‟an dengan cita-cita ingin mencerdaskan pikiran, menenangkan hati, bahkan mengharapkan keturunannya kelak sama menjadi penghafal Al- Qur‟an.
Al-Qur‟an yang secara harfiah berarti “bacaan yang sempurna”, merupakan nama pilihan yang sangat tepat, karena tidak ada suatu bacaan apapun sejak manusia lima ribu tahun yang silam mengenal baca-tulis dapat menandingi keindahan Al-Qur‟an.15 Hal ini dikarenakan keotentikan Al- Qur‟an merupakan suatu jaminan yang Allah SWT janjikan kepada umat Nabi Muhammad SAW.
Pembacaan Al-Qur‟an adakalanya dibaca oleh perorangan ataupun dibaca berkelompok. Ada yang mengkhususkan membaca surat tertentu dan dalam waktu tertentu, misalnya pembacaan surat Al-Waqi‟ah setiap malam Selasa sehingga melahirkan tradisi Waqi‟ahan. Hal yang serupa dapat di jumpai di Pondok Pesantren Kebon Jambu, membaca surat-surat tertentu ataupun ayat-ayat tertentu dan pada waktu tertentu pula, misalnya dalam tradisi mujahadah pembacaan Al-Qur‟an sebagai wirid.
Kegiatan mujahadah pembacaan Al-Qur‟an sebagai wirid adalah suatu tradisi yang ada di Pondok Pesantren Kebon Jambu. Dilaksanakan setiap Senin malam setelah shalat Maghrib di mana setiap santri membaca satu juz Al-Qur‟an. Dilanjutkan dengan membaca penggalan surat Al-Baqarah ayat ke 255, membaca beberapa asma al-husna, serta bacaan yang lainnya dan ditutup dengan do‟a. Tradisi ini dilaksanakan oleh para santri yang dipimpin oleh kyai ataupun santri senior yang ditunjuk oleh kyai untuk memimpin mujahadah tatkala kyai berhalangan hadir.
Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Kebon Jambu, bermula dari Pondok Pesantren Melati sampai sekarang menjadi Kebon Jambu tidaklah lepas dari tirakat yang dilakukan baik oleh pendirinya ataupun generasi penerusnya. Sebuah rutinitas yang menjadi agenda harian Kebon Jambu adalah mujahadah. K.H. Amrin Hanan selaku pemilik tanah tersebut selalu istiqomah melakukan mujahadah setiap malamnya memohon agar suatu saat
15 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Tematik Atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 2000), h. 3.
tempat tersebut menjadi tempat yang berkah dan dapat memberikan manfaat bagi khalayak banyak.
Menurut akar katanya, mujahadah terambil dari kata ja ha da yang artinya bersungguh-sungguh, berperang melawan segala keinginan hawa nafsu, sebagai bentuk latihan taqorrub ila Allah. Mujahadah dalam bahasa Arab adalah bentuk mashdar dari kata jahada yang berarti mencurahkan segala kemampuan atau bersungguh-sungguh. Sedangkan menurut istilah ialah bersungguh-sungguh untuk memerangi hawa nafsu dengan cara berdzikir atau mengingat Allah yaitu hati ingat, lisan menyebut dan sikap selalu berbuat yang baik.
Kegiatan mujahadah di samping menjadi rutinitas dan amalan yang dilakukan baik secara harian atau mingguan di Pondok Pesantren Kebon Jambu juga merupakan amalan yang sebenarnya sudah ada dan dipraktekkan oleh para leluhur kita, para kyai dan para tokoh pahlawan sebagai bentuk riyadhah16 untuk menggembleng diri sendiri serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan sebagai sarana mujahadah yang diobservasi di antaranya dengan puasa, wirid ; baik dengan hizib17 ataupun Al-Qur‟an termasuk pula dengan bacaan shalawat.
Wirid adalah kutipan-kutipan dari Al-Qur‟an yang ditetapkan untuk dibaca atau zikir yang diucapkan sesudah sembahyang.18 Banyak ragam bacaan yang biasa dijadikan wirid, di antaranya bacaan istighfar (astaghfirullāh), tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (allāhu akbar), tahlil (lā ilāha illallāh) dan yang dijadikan bacaan wirid selain yang di atas, di Pondok Pesantren Jambu adalah membaca Al-Qur‟an satu juz.
Tidak menutup kemungkinan, tradisi semacam itupun ada di Pondok Pesantren yang lainnya, walaupun dalam praktiknya berbeda-beda. Seperti di Pondok Pesantren As-Salafiat Babakan Ciwaringin Cirebon yang setiap harinya para santri putri rutin membaca surat Al-Waqi‟ah. Pondok pesantren
16 Riyadhah adalah latihan untuk tidak menuruti apa yang diinginkan oleh hawa nafsu dan lebih di arahkan untuk beribadah kepada Allah SWT.
17 Hizib ialah kumpulan bacaan-bacaan yang berupa ayat-ayat Al-Qur‟an dan kalimat- kalimat thayyibah. Salah satu hizib yang biasa dibaca di pondok Kebon Jambu adalah hizib Ghozali.
18 Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, edisi kedua,) h. 1130).
al-Ma‟unah Kepuh, Palimanan yang melaksankan tradisi sima’an Al-Qur‟an santri putri dengan Ibu Nyai Nafisah (istri pengasuh).
Berbedanya tradisi mujahadah pembacaan Al-Qur‟an yang ada di Pondok Pesantren Kebon Jambu dengan Pondok Pesantren lainnya, membuat peneliti ingin lebih serius dan memfokuskan diri untuk meneliti lebih detail tentang tradisi pembacaan Al-Qur‟an sebagai wirid di Pondok Pesantren Kebon Jambu. Terlebih peneliti sendiri bertindak sebagai insider/ salah satu santri di dalamnya dan untuk objektifitas hasil penelitian, peneliti bertindak sebagai outsider.
Dalam penelitian ini, untuk mengungkap lebih jelas surat serta ayat- ayat yang dipakai dalam tradisi mujahadah pembacaan Al-Qur‟an sebagai wirid di Pondok Pesantren Kebon Jambu, serta prosesi tradisi ini dilaksanakan, maka peneliti menggunakan kajian Living Qur’an. Living Qur’an adalah kajian atau penelitian ilmiah tentang fenomena Al-Qur‟an yang ada di tengah kalangan masyarakat/kelompok.
Living Qur’an merupakan salah satu bentuk perkembangan kajian tentang Al-Qur‟an. Wilayah kajiannya mencakup individual ataupun mencakup ranah sosial/umum. Model studi semacam ini mencoba mengkaji pemaknaan dan pengamalan Al-Qur‟an di kalangan umat Muslim.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, agar penelitian lebih spesifik dan terarah maka di bawah ini disusun beberapa pokok rumusan masalah di antaranya:
1. Bagaimana tradisi Mujahadah Pembacaan Al-Qur‟an Sebagai Wirid di Pondok Pesantren Kebon Jambu?
2. Bagaimana pengalaman pelaku mujahadah Al-Qur‟an sebagai wirid di Pondok Pesantren Kebon Jambu?
3.
C. Tujuan Penelitian
Sebagai salah satu bentuk karya ilmiah, ada beberapa tujuan dari rumusan masalah di atas, yaitu:
1. Mengungkap tradisi mujahadah secara runtut di Pondok Pesantren Kebon Jambu
2. Mengetahui pengalaman yang dirasakan oleh orang yang mengamalkan mujahadah
D. Kegunaan Penelitian
1. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memperoleh informasi mengenai bagaimana mujahadah yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Kebon Jambu yang diinisiasikan dalam Ulum Al-Qur‟an sebagai Living Quran.
2. Sebagai bentuk sosial kemasyarakatan di mana diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran lebih mendalam mengenai kegiatan keagamaan yang beraneka ragam bagi semua masyarakat dan khususnya santri Pondok Pesantren Kebon Jambu.
E. Telaah Pustaka
Seiring perkembangan zaman serta dunia pengetahuan, penelitian dan kajian mengenai Living Quran sejauh pengamatan penulis belum banyak dilakukan. Hal ini menururt pendapat penulis disebabkan karena sedikitnya orang yang bersedia “berjibaku” dengan Al-Qur‟an dan masyarakat.
Fenomena yang terjadi di masyarakat merupakan suatu kajian yang bisa dilihat dari nilai keagamaan, sejauh mana mereka bisa merefleksikan ajaran atau pesan yang terkandung di dalam Al-Qur‟an. Oleh sebab itu, yang banyak dikaji adalah berkenaan dengan literatur atau teks-teks Al-Qur‟an dan kajian kepustakaan.
Berbagai macam bahan bacaan seperti buku, jurnal, majalah dan yang lainnya telah banyak berbicara seputar Al-Qur‟an, baik itu berupa Ulum Al- Qur’an maupun Ma’ani Al-Qur’an. Berbagai tokoh yang giat dan produktif dalam menulis bahan kajian di antaranya ada Quraish Shihab dengan salah satu karyanya yang mem-booming adalah membumikan Al-Qur‟an.
Beberapa penelitian terkait dengan mujahadah di antaranya:
Pertama, skripsi yang ditulis oleh Ahmad Anwar tahun 2014 tentang Pembacaan Ayat-Ayat Al-Qur’an Dalam Prosesi Mujahadah Di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah Umbulharjo Yogyakarta .19 Dalam skripsinya dijelaskan bahwa prosesi mujahadah dilaksanakan setelah shalat Maghrib dan seperempat malam terakhir. Bacaannya terdiri dari tawasul, dzikir, dan penggalan ayat-ayat Al-Qur‟an surat Al-Baqarah, surat Ar-Rahman, dan surat Al-Waqi‟ah. Tujuan dari pembacaan penggalan ayat pada surat-surat tertentu diharapkan para santri mendapat “berkah” Al-Qur‟an. Kemudian, memilih Al-Qur‟an dijadikan bacaan dalam mujahadah bertujuan untuk membiasakan para santri membaca dan menyukai Al-Qur‟an sebagai bacaan pokok setiap hari. Pelaksanaan mujahadah secara berjamaah (bersama-sama) juga bisa memupuk rasa solidaritas dan persatuan di antara para santri.
Kedua, skripsi yang ditulis oleh Marullah tahun 2014 tentang Jam’iyyah Ta’lim Wal Mujahadah Jumat Pon Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta Ditengah Isu Modernitas dan Pluralitas.20 Dalam fokus penelitiannya lebih kepada Islam mengajarkan untuk tidak menjadi umat yang keterbelakangan dan sebaliknya menyuruh kita untuk terus mencari ilmu sebanyak-banyaknya agar terbebas dari keterbelakangan keilmuan.
Ketiga, skripsi yang ditulis oleh Vitri Nurawalin tahun 2014 tentang Pembacaan Al-Qur’an Dalam Tradisi Mujahadah Sabihah Jumu’ah yang bertempat di Pon. Pes. Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta .21 Jenis penelitiannya adalah penelitian kualitatif (studi kasus) dengan menggunakan tiga metode dalam proses pengumpulan data, yaitu observasi, interview dan dokumentasi. Mujahadah dilaksanakan seminggu sekali pada hari jumat setelah shalat Shubuh. Salah satu bacaan yang ada pada mujahadah tersebut adalah surat Al-Kahfi dan Al-Qur‟an ayat-ayat pilihan atau disebut juga
19 Ahmad Anwar dengan skripsinya yang berjudul pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam prosesi mujahadah di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah Umbulharjo Yogyakarta. Beliau adalah mahasiswa jurusan ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
20 Marullah dengan skripsinya yang berjudul jam’iyyah ta’lim wal Mujahadah Jumat Pon Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta Ditengah Isu Modernitas dan Pluralitas.
Mahasiswa jurusan Perbandingan Agama fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga.
21 Vitri Nurawalin dengan skripsinya yang berjudul Pembacaan Al-Qur’an Dalam Tradisi Mujahadah Sabihah Jumu’ah yang bertempat di Pon. Pes. Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta. Beliau adalah mahasiswa jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga.
dengan do‟a robbanā, karena ayat-ayat tersebut di awali dengan kalimat rabbanā. Praktik tersebut merupakan salah satu tindakan sosial yang mempunyai makna, baik makna objektif, ekspresive, maupun documenter.
Makna objektif-nya karena praktik tersebut merupakan peraturan bagi setiap santri yang harus di ikuti dan jika ditinggalkan akan mendapatkan takzir/sanksi. Makna ekspresive-nya adalah sebagai sarana memohon pertolongan dan ampunan kepada Allah SWT, serta menentramkan hati.
Makna documenter-nya adalah disadari atau tidak disadari pembacaan Al- Qur‟an pada mujahadah sudah menjadi hal yang wajar dan sudah lama dipraktikkan oleh Rasul SAW.
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Didi Junaedi tahun 2014 tentang Living Qur’an Di Pesantren.22 Dari hasil penelitiannya, diketahui bahwa: Pertama, tradisi pembacaan surat Al-Waqi‟ah di Pondok Pesantren As-Siroj Al-Hasan dilatar belakangi oleh beberapa hal berikut ini: 1). Q.S.
Al-Isra: 82 dan Q.S. Fushshilat: 44. 2). Mengikuti tradisi para ulama Nahdlatul Ulama (NU); 3). Pimpinan Pondok Pesantren As-Siroj Al-Hasan mendapat ijazah surat Al-Waqi‟ah dari Syekh Muhammad Fadil Al-Jailani, salah satu keturunan dari ulama besar, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.
Kelima, fenomena pembacaan surat Waqi‟ah setiap hari di Pondok Pesantren MQHS (Madrasah Al-Qur‟an Hikamus Salafiyyah) Babakan Ciwaringin, Cirebon.23 Setiap harinya santri Pondok Pesantren tersebut yang dipimpin oleh KH. Tamam Kamali selalu men-dawam-kan membaca surah Waqi‟ah setiap selesai shalat Shubuh dengan alasan ittiba’ terhadap
‘amaliyah pengasuh. Sedangkan pengasuh sendiri mendapatkan amalan tersebut dari orang tuanya.
22 Penelitian yang dilakukan oleh Didi Junaedi (salah satu dosen Fakultas Ushuluddin IAIN Syekh Nurjati Cirebon) dengan judul Living Qur’an Di Pesantren (Studi tentang Tradisi Pembacaan Surat Al-Waqi‟ah Setiap Hari di Pondok Pesantren As-Siroj Al-Hasan Desa Kalimukti Kec. Pabedilan Kabupaten Cirebon).
23 Penelitian Praktek Pengembangan Lapangan yang dilakukan oleh peneliti di Pondok Pesantren Madrasah Al-Qur‟an Hikamus Salafiyyah Babakan Ciwaringin Cirebon.
F. Tinjauan Teoritis
Praktek mujahadah pembacaan Al-Qur‟an sebagai suatu wirid di suatu Pondok Pesantren, merupakan bentuk dari Living Qur’an. Pesantren pada awal berdirinya merupakan lembaga pendidikan islam tradisional (salafiy), yang fungsi dan tujuannya adalah sebagai tempat untuk mengembangkan syi‟ar islam.
Menurut Zamakhsyari Dhofir kata pondok berasal dari bahasa Arab,
“funduq” yang berarti hotel atau asrama.24 Sedangkan pesantren berasal berasal dari kata santri (dengan awalan pe-dan akhiran -an), kemudian dijelaskan oleh C. C Berg. Istilah santri berasal dari kata shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama.25 Sedangkan menurut Dawam Rahardjo, pondok pesantren dalam lembaga pendidikan islam dengan kyai sebagai tokoh sentralnya dan masjid sebagai pusat lembaganya.26 Sedangkan menurut pendapat lain, seperti M. Yachub, bahwa pondok pesantren bermula dari asal dua kata yaitu “pondok” dan “pesantren”.
Sedangkan pondok berasal dari istilah “funduk” berasal dari bahasa arab yang artinya hotel atau asrama. Sedangkan pesantren berasal dari kata “santri”
yang memakai awalan “pe”dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal para santri27.
Pesantren sebagai sebuah lembaga pengajaran serta pendalaman wawasan keagamaan tentang keislaman, mempunyai sederet bentuk kegiatan, di antaranya kegiatan yang menjadi sebuah tradisi di Pondok Kebon Jambu adalah mujahadah. Menurut gramatikal bahasa Arab, kata mujahadah terbentuk dari mashdar mim yang akar katanya berupa huruf jim, ha dan dal.
Secara leksikal mujahadah bermakna bersungguh-sungguh. Sedangkan menurut istilah ialah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan perbuatan yang baik dan
24Zamaksyari Dhofir, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Kyai, (Jakarta: LP3 ES, 1985,) h. 18
25Ibid h. 35
26Dawam Rahardjo, Pesantren dan Pembaharuan, (Jakarta: LP3ES, 1974,) h. 82
27M. Yacub, Pondok Pesantren dan Pembangunan Masyrakat Desa, (Bandung: Angkasa, 1993,) h. 65
menjauhkan diri dari perbuatan tercela28. Kemudian, jika huruf jim, ha dan dal nya dibaca jahida maka artinya adalah sulit29. Adapula jika dibaca panjang jim nya menjadi jāhada maka artinya mencurahkan segala kemampuannya.
Kegiatan mujahadah sebenarnya sudah ada dan dipraktekkan oleh para kaum sufi untuk bisa berkontemplasi mencapai derajat ma’rifatullah.
Selanjutnya para waliyullah serta salafush shalih juga meneruskan kegiatan tersebut dengan berbagai cara. Ada yang dengan cara ber-uzlah30 menyepikan diri dari hal yang bisa menyibukkan diri sehingga lupa mengingat Allah. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW tatkala beliau menerima wahyu pertama di gua Hira.
G. Metode Penelitian
Secara akademis, penelitian Tradisi Mujahadah Pembacaan Al-Qur‟an Sebagai Wirid di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research), karena data-data yang diperoleh dari masyarakat Pesantren. Adapun sifat penelitian yang digunakan ialah deskriptif-analitik, yaitu dengan memaparkan/mendeskripsikan realita dan menganalisis tentang kegiatan mujahadah di Pondok Pesantren tersebut.
Diperlukan juga dalam penelitian suatu metode yang nantinya untuk menyempurnakan suatu penelitian tersebut di antaranya:
1. Metode pengumpulan data
Dalam pengumpulan data ini penulis menggunakan empat cara:
Pertama, observasi yakni melakukan pengamatan dan ikut berkecimpung dalam kegiatan tersebut dalam rangka memahami, mencari jawaban, mencari bukti sebagai fenomena sosial yang dialami dalam kegiatan keagamaan yang ada di suatu lingkungan tertentu.
Kedua, pengumpulan dokumentasi yaitu pengumpulan data dari
28 Ahmad Warso Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997,) cet.ke-empat belas, h.217.
29 Ibid h. 217
30 Uzlah ialah berpindah dari tempat keramaian ke tempat yang sepi dengan harapan bisa beribadah kepada Allah SWT dengan khidmat.
sumber dokumen (kyai, nyai, ustazd, dan yang lainnya). Ketiga, dengan melakukan wawancara/interview. Keempat, adalah kepustakaan yang datanya berupa literatur-literatur terkait dengan tema kajian atau kajian dalam penelitian (Living Qur’an).
2. Metode Pengolahan Data
Pertama, metode deskriptif untuk memaparkan sebuah realitas empiris dan interpretasi yang merupakan sebuah kajian. Kedua, metode analisis yaitu metode yang dimaksud untuk pemeriksaan secara konseptual atas realitas yang terjadi kemudian diklasifikasikan sesuai dengan permasalahan yang dimaksudkan untuk memperoleh kejelasan suatu realitas.
3. Metode Penarikan Kesimpulan
Adapun analisis data yang akan digunakan dalam skripsi ini menggunakan metode induktif. Metode induktif adalah cara penarikan dari data-data yang bersifat khusus menuju pada suatu kesimpulan akhir yang bersifat umum.31 Dalam metode induktif, fakta-fakta diuraikan terlebih dahulu kemudian dirumuskan menjadi suatu kesimpulan. Pada metode induktif, data dikaji melalui proses yang berlangsung dari fakta.32
H. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan mengkaji penelitian ini, berikut adalah runtutan sistematikanya di bawah ini:
Bab pertama merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah, telaah pustaka, tinjauan teoritis, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua berisi kajian Al-Qur‟an dalam ranah Living Qur’an.
Bab ketiga menjelaskan tentang gambaran umum Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy.
31 Wiranto Surakhmad, Metode Penelitian, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1998,) h. 20.
32 http://makalah-update.blogspot.co.id/2012/12/pengertian-metode-induktif-dan metode.html?m=1. diunduh pukul 02.44 WIB, tanggal 12 Februari 2016.
Bab keempat menjelaskan tradisi mujahadah pembacaan Al-Qur‟an sebagai wirid.
Bab kelima berisi penutup yang memuat kesimpulan, saran dan merupakan jawaban dari seluruh pertanyaan.