• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 A. Latar Belakang Masalah

Masa bayi dan balita merupakan periode emas dalam kehidupan sehingga menjadi masa yang sangat penting dan perlu perhatian serius, karena pada masa ini berlangsung proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat, yaitu pertumbuhan fisik, perkembangan mental dan psikomotorik, dan perkembangan sosial (Depkes RI, 2000). Pertumbuhan dapat diartikan sebagai bertambahnya ukuran fisik dariwaktu ke waktu, seperti seorang anak tumbuh dari kecil menjadi besar atau perubahan tinggi badan dari pendek menjadi tinggi. Perkembangan diartikan sebagai bertambah matangnya fungsi tubuh, yaitu pendengaran, penglihatan, kecerdasan dan tanggung jawab, seperti seorang anak dari belum mampu bicara menjadi mampu bicara.

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) usia bermain atau toddler (1-2,5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun), pra sekolah (2,5-5 tahun), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun).

Perkembangan berarti bertambahnya kemampuan, struktur, dan fungsi yang lebih kompleks. Rentang perkembangan seorang anak dengan anak yang lain dapat berbeda mengingat perbedaan latar belakang setiap anak. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Proses perkembangan anak ditandai dengan perkembangan kognitif, konsep diri, pola koping, dan perilaku sosial (Hidayat, 2005).

Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada anak dilihat dari berbagai aspek, antara lain misalnya pada aspek fisik (motorik).

Perkembangan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinasi antara susunan saraf, otot dan spinal cord. Salah satu perkembangan yang penting adalah

(2)

motorik kasar yaitu gerakan tubuh menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri (Feiby, 2004).

Perkembangan motorik memungkinkan anak dapat melakukan segala sesuatu yang terkandung dalam jiwanya dengan sewajarnya. Perkembangan motorik anak yang baik aka makin memperkaya tingkah laku sehingga memungkinkan anak memperkaya perbendaharaan mainannya bahkan memungkinkan anak memindahkan aktivitas bermainnya, kreativitas belajar dan bekerja memungkinkan anak dapat melakukan perintah, memungkinkan anak melakukan kewajiban, tugas-tugas bahkan keinginan-keinginannya sendiri (Soejanto,2005). Perkembangan motorik sangat dipengaruhi oleh organ otak. Otaklah yang mengatur setiap gerakan yang dilakukan oleh anak, semakin matangnya perkembangan sistem saraf otak yang mengatur otot memungkinkan berkembangnya kompetensi atau kemampuan motorik anak.

Motorik kasar merupakan keterampilan menggerakkan bagian tubuh secara harmonis dan sangat berperan untuk mencapai keseimbangan yang menunjang motorik halus. Permasalahan yang sering terjadi pada anak TK adalah anak masih labil atau sulit menggerakkan bagian tubuh secara harmonis. Misalnya: berjalan, berlari, menangkap, melempar. Selain itu juga belum sempurnanya kordinasi dalam mengontrol motorik kasar, misalnya jika ditugaskan untuk berjalan tanpa menyentuh temannya (Hayati, 2010).

Makanan memegang peranan penting dalam tumbuh kembang anak, dimana kebutuhan anak berbeda dengan kebutuhan orang dewasa, status gizi yang kurang akan mempengaruhi kekuatan dan kemampuan motorik kasar anak (Soetjiningsih, 2002).

Diproyeksikan prevalensi gizi kurang di dunia akan menurun dari 26,5% pada tahun 1990 menjadi 17,6% pada tahun 2015. Anak yang menderita gizi kurang dengan asumsi akan terganggu pertumbuhannya diperkirakan akan turun dari 163,8 juta pada tahun 1990 menjadi 113,4 juta

(3)

pada tahun 2015. Kondisi ini merupakan gambaran besaran masalah gizi pada anak balita di dunia saat ini, yang secara langsung berdampak terhadap terjadinya gangguan pertumbuhan anak dimasa datang. Pada tahun 2006 ditemukan jumlah anak yang kurang gizi di dunia, lebih dari 160 juta dan lebih dari setengahnya (90 juta) berada di Asia Selatan. Prevalensi anak berstatus gizi kurang di Afrika tahun 1997 lebih dari 30%. Pada tahun 2000, ditemukan anak pendek dibawah usia 5 tahun di kawasan sub Sahara Afrika mencapai 42%, dan angka anak pendek di India dan Banglades jumlahnya lebih tinggi dari negara negara miskin di Sub Sahara (Fauzi, 2011).

Data Departemen Kesehatan (2010), menyebutkan bahwa pada tahun 2009 di Indonesia terdapat sekitar 19,24% anak balita kurang gizi dan 8,8%

anak dalam tingkat gizi buruk. Persentase angka tersebut mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Gizi buruk atau gizi kurang yang dialami oleh anak akan membawa dampak yang negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangannya (Yulia, 2009).

Menurut profil kesehatan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2008:45) menyebutkan bahwa pendataan gizi buruk di Jawa Tengah didasarkan pada 2 kategori yaitu dengan indikator membandingkan berat badan dengan umur (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badan (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan membandingkan berat badan dengan umur melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan balita yang berada di bawah garis merah (BGM) atau dua kali tidak naik (2T), maka dilakukan konfirmasi status gizi dengan menggunakan indikator berat badan menurut tinggi badan. Jika ternyata balita tersebut merupakan kasus buruk, maka segera dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di Posyandu dan Puskesmas. Jika ternyata terdapat penyakit penyerta yang berat dan tidak dapat ditangani di Puskesmas maka segera dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan hasil penimbangan pada tahun 2008 jumlah gizi buruk dengan indikator berat badan menurut tinggi badan

(4)

sebanyak 5.598 balita atau 0,28% persen, angka ini masih lebih rendah dari target nasional sebesar 3%.

Penelitian yang dilakukan oleh Sutrisno (2003) tentang Hubungan Status Gizi Dengan Tingkat Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 2 - 3 tahun pada Keluarga Sejahtera Di Wilayah Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan Jawa Tengah ditemukan hasil bahwa bahwa status gizi dalam indeks TB/U dan Tingkat Kecukupan Energi, Protein dan Zat Besi berhubungan secara bermakna terhadap perkembangan motorik kasar.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Wulandari (2010) tentang hubungan status gizi dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak usia 3-5 tahun di Play Group Traju Mas Purworejo. Hasil analisis hubungan antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar diperoleh nilai p = 0,615, sedangkan hubungan antara status gizi dengan motorik halus anak usia 3 – 5 tahun diperoleh nilai p = 0,401, sehingga kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang bermakna antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halus anak usia 3-5 tahun.

Pengetahuan dan peranan ibu sangat bermanfaat bagi proses perkembangan anak secara keseluruhan karena orang tua dapat segera mengenali kelebihan proses perkembangan anaknya dan sedini mungkin memberikan stimulasi pada tumbuh kembang anak yang menyeluruh dalam aspek fisik, mental, dan sosial. Orang tua harus memahami tahap-tahap perkembangan anak agar anak bisa tumbuh kembang secara optimal yaitu dengan memberi anak stimulasi. Orang tua juga jangan terlalu over protektif terhadap anak tetapi selalu memberi anak penghargaan berupa pujian, pelukan dan sebagainya. Perkembangan anak adalah segala perubahan yang terjadi pada anak dilihat dari berbagai aspek, antara lain misalnya pada aspek fisik (motorik).

Hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang dengan menggunakan metode observasi dan

(5)

wawancara menunjukkan bahwa terdapat 6 (4,51%) anak yang menderita gizi kurang dari jumlah keseluruhan sebanyak 133 anak. Hasil wawancara dengan 10 ibu yang menimbangkan anaknya di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang terdapat 7 anak pada usia 3 – 4 tahun belum dapat berdiri dengan 1 kaki, menangkap bola dengan baik, dan melompat dengan lebar. Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan instrument perkembangan motorik kasar ditemukan bahwa 7 dari 10 anak pada usia 3 – 4 tahun di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang belum dapat berdiri dengan 1 kaki, menangkap bola dengan baik, dan melompat dengan lebar

Berdasarkan latar belakang dan fenomena dilapangan tersebut diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan status gizi dengan perkembangan motorik kasar pada anak usia 3 – 4 tahun di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah “Bagaimanakah hubungan antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar pada anak usia 3 – 4 tahun di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar pada anak usia 3 – 4 tahun di di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan status gizi anak usia 3 – 4 tahun di di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang.

b. Mendeskripsikan perkembangan motorik kasar pada anak usia 3 – 4 tahun di di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang.

(6)

c. Menganalisis hubungan antara status gizi dengan perkembangan motorik kasar pada anak usia 3 – 4 tahun di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang.

D. Manfaat Penelitian 1. Masyarakat / responden

Penelitian ini bermanfaat untuk memberikan gambaran tentang status gizi dan perkembangan motorik kasar anak di Posyandu Mukti Asih, sehingga dapat dijadikan bahan kajian dan masukan bagi kader posyandu untuk menerapakan strategi peningkatan status gizi anak di wilayah kerjanya.

2. Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi tenaga keperawatan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang arti penting status gizi anak usia 3 – 4 tahun dalam hubungannya dengan perkembangan motorik kasar anak, baik bagi diri sendiri dan keluarga maupun dalam pelayanan kesehatan di masyarakat.

3. Peneliti

Penelitian ini bermanfaat sebagai wahana untuk mempraktekkan teori keperawataan anak yang telah di dapat selama perkuliahan, memahami dinamika kesehatan anak di lapangan dan diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran untuk penerapan strategi perkembangan status gizi anak di lokasi penelitian.

E. Bidang Ilmu

Penelitian ini termasuk dalam lingkup bidang ilmu keperawatan anak dan komunitas.

(7)

F. Keaslian Penelitian

Nama Tahun Judul Jenis Penelitian Hasil

Desi Ariyana R, Nur Setya Rini (2009)

Hubungan Pengetahuan lbu Tentang

Perkembangan Anak Dengan Perkembangan Motorik Kasar Dan Motorik Halus Anak Usia 4-5 Tahun Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 7 Semarang

Deskriptif korelasi dengan metode pendekatan cross sectional

Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang perkembangan anak dengan perkembangan motorik kasar anak usia 4-5 tahun dan ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang

perkembangan anak dengan perkembangan motorik halus anak usia 4-5 tahun.

Herwan Antoni, Toto Castro, Ira Paramastri (2011)

Hubungan Pola Makan Pendamping Asi dengan

Pertumbuhan dan Perkembangan Gerak Motorik Kasar Bayi 6 – 12 Bulan

di Kecamatan Bermani Ulu Kabupaten Rejang Lebong.

Survei

(noneksperimen) dengan rancangan kohort.

Pola MP-ASI tidak berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan gerak motorik kasar bayi usia 6-12 bula.

Asupan energi dan protein dari MP-ASI berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan gerak motorik kasar bayi usia 6- 12 bulan.

Yunita Hotmaria (2010)

Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Stimulasi

Perkembangan terhadap Perkembangan Motorik Kasar Anak Usia 3-5 Tahun di Kelurahan Kwala Bekala

Deskriptif korelasi Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu tentang stimulasi perkembangan dengan perkembangan motorik kasar anak usia 3-5 tahun

Perbedaan penelitian ini dengan keaslian penelitian pada tabel diatas adalah variabel penelitian status gizi dan perkembangan motorik kasar, lokasi penelitian di Posyandu Mukti Asih Genuksari Semarang dan penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2012.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan observasi yang telah dilakukan peneliti saat pembelajaran daring pada Era Pandemi Covid- 19 di SD Negeri 2 Karangsari ditemukan adanya permasalah terkait

Tidak ada hubungan antara durasi menyusui dengan perkembangan motorik anak usia 13 bulan sampai 5 tahun Pemberian ASI eksklusif yang lebih lama bermanfaat pada

101 Zuhri, Muslimah Al-Qur’an Terjemah Untuk Wanita, 332. 102 Monicha, “Peningkatan Kemampuan Motorik Kasar Melalui Permainan Sirkuit,” 3. 103 Model pembelajaran Seluruh

Perbedaan dengan penelitian ini terletak pada materi yaitu hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang stimulasi dengan perkembangan motorik kasar anak usia 3-5 tahun dengan

Hasil dari perkembangan motorik kasar anak dalam upaya meningkatkan perkembangan motorik kasar anak melalui kegiatan permainan tradisional Basamsaman pada

Dari berbagai hal yang telah dijelaskan di atas, peneliti melakukan penelitian perkembangan motorik kasar anak autis dengan menggunakan observasi kegiatan motorik kasar melalui

Wawancara dan observasi yang peneliti lakukan terhadap anak tersebut dapat disimpulkan, anak mengalami berbagai kesulitan dalam hal perkembangan keterampilan motorik

Fundamental Skill Development Program merupakan program pengembangan motorik kasar yang memiliki alokasi waktu terstruktur dengan jelas, sehingga intensitas gerak