• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA PROGRAM. Lokasi : Kab. Kuningan, Kab. Indramayu, Kab. Ciamis. Periode Waktu :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KERANGKA PROGRAM. Lokasi : Kab. Kuningan, Kab. Indramayu, Kab. Ciamis. Periode Waktu :"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Lokasi :

Kab. Kuningan, Kab. Indramayu, Kab. Ciamis Periode Waktu :

2014 - 2016 Program Kerjasama :

KANOPI | LEMBAGA EKOLABEL INDONESIA | UNI EROPA

KERANGKA PROGRAM

Peningkatan Hutan Rakyat dan Industri Kayu Kecil dan Menengah yang Terverifikasi Legal dalam Meningkatkan

Pasokan Kayu dan Produk Kayu Sesuai Lisensi FLEGT

(di Wilayah Provinsi Jawa Barat)

(2)

Latar Belakang Kegiatan

• Usaha kecil dan menengah di sektor kehutanan memainkan

peranan penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi baik di tingkat lokal maupun nasional.

• Hutan rakyat memegang peranan penting dalam mencukupi

pasokan bahan baku kayu bagi industri kehutanan skala kecil dan menengah (IKM).

• Pebisnis lokal seperti IKM dan petani hutan kurang mendapatkan informasi yang cukup dan aktual mengenai kebijakan pemerintah terbaru dan cepatnya perubahan situasi pasar.

• Rantai kayu dari industri ke hutan dan sebaliknya perlu diperjelas dan dibuat transparan, melalui penguatan kapasitas dari middle man (pengepul, bakul) di aspek legalitas kayu dan lacak balak.

(3)

• Umumnya kayu dari hutan rakyat sedikit sulit untuk dilacak sampai ke tonggak, yang di antaranya disebabkan di pihak middle man

(pengepul, bakul) tidak mendokumentasikan asal usul kayu yang dipanen dan diikuti dengan tidak lengkapnya administrasi kayu yang bersangkutan.

• Adanya kebutuhan untuk meningkatkan pasokan kayu bersertifikat melalui penambahan jumlah dan luas hutan rakyat bersertifikat ekolabel.

• Perlunya peningkatan akses pasar dari kayu rakyat dan IKM kehutanan bersertifikat ekolabel.

lanjutan…

(4)

Tujuan Umum & Khusus Kegiatan

Tujuan Umum :

Meningkatnya implementasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) di hutan rakyat dan industri skala kecil dan menengah kehutanan, sesuai dengan

skema lisensi FLEGT (Forest Law Enforcement and Governance Trade / Penegakan Hukum dan Tata Kelola Perdagangan Bidang Kehutanan) Uni Eropa.

Tujuan Khusus :

- Meningkatnya kapasitas petani hutan rakyat dan industri skala kecil menengah kehutanan dalam implementasi SVLK.

- Terbangunnya sistem pelacakan kayu dari hutan rakyat ke industri.

- Penguatan pemasaran untuk kayu legal dari hutan rakyat ke pasar internasional.

- Terbangunnya proses belajar bersama dan jaringan antar pengelola hutan rakyat dan juga industri skala kecil dan menengah kehutanan.

(5)

Hasil yang Diharapkan

1. Jumlah organisasi masyarakat sipil dan industri skala kecil menengah kehutanan dalam pemahaman isu kebijakan global (dengan penekanan pada verifikasi dan legalitas kayu) berkembang dan meningkat.

Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil 1 :

– Workshop FLEGT-VPA dan SVLK di kabupaten lokasi kegiatan dan di tingkat provinsi, identifikasi UMHR dan industri potensial.

– Pelatihan fasilitator penyiapan Sertifikasi PHBML dan SVLK di hutan rakyat.

– Pelatihan fasilitator penyiapan Sertifikasi Lacak Balak (CoC) dan SVLK di industri kehutanan skala kecil dan menengah.

– Pelatihan pendokumentasian dan administrasi kayu.

– Pelatihan penerbit SKAU.

– Pelatihan pemetaan dan penginderaan jauh.

– Kampanye melalui berbagai media, forum fasilitator online.

(6)

lanjutan…

2. Jumlah hutan rakyat yang didampingi dan didukung dalam implementasi SVLK meningkat.

Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil 2 :

– 3 hutan rakyat didampingi dan lulus sertifikasi/mendapatkan sertifikat PHBML.

– Pendampingan dalam penguatan kelembagaan, inventarisasi kayu rakyat, pemetaan areal kelola komunitas, bisnis plan, grading, scaling.

– Kunjungan lapangan, studi banding antar UMHR.

– Penyusunan dokumen dalam pengajuan penilaian sertifikasi.

– Internal audit dalam penilaian PHBML dan SVLK.

– Perbaikan dari hasil internal audit.

– Penilaian sertifikasi UMHR untuk PHBML dan SVLK.

(7)

lanjutan…

3. Jumlah industri skala kecil dan menengah kehutanan yang didampingi dan mendapatkan sertifikat VLK meningkat.

Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil 3 :

– 2 industri skala kecil dan menengah kehutanan didampingi dan lulus sertifikasi VLK, dengan 1 di antaranya lulus sertifikasi CoC/lacak balak.

– Pelatihan untuk pendokumentasian dan administrasi kayu.

– Pelatihan dalam pemisahan kayu (certified-non certified).

– Pelatihan dalam penyiapan penilaian sertifikasi.

– Internal audit dalam penilaian SVLK/CoC.

– Perbaikan dari hasil internal audit.

– Penilaian sertifikasi (2 SVLK dan 1 CoC {50%}).

(8)

lanjutan…

4. Rantai pasokan kayu bersertifikat dari hutan rakyat untuk industri kayu difasilitasi dan diperjelas melalui penguatan kapasitas petani dan industri dalam lacak balak.

Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil 4 :

– Sistem PUHH disesuaikan melalui integrasi dengan Web Portal Kayu Rakyat, data dokumentasi kayu, pelacakan kayu dari industri ke hutan dan sebaliknya.

– Pengembangan web information system kayu rakyat, uji coba

lapangan, mempermudah pelacakan dan akses terhadap legalitas kayu, rekonsiliasi data di pemerintah.

– Pengembangan forum usaha antara pelaku hutan rakyat dengan pelaku industri kayu skala kecil dan menengah.

– Pelatihan kapasitas bisnis bagi pelaku hutan rakyat dan pelaku industri kayu skala kecil dan menengah untuk keberlanjutan pasokan kayu

rakyat bersertifikat.

(9)

lanjutan…

5. Rantai kayu rakyat dan furnitur bersertifikat dari Indonesia ke pasar Eropa didorong dan terfasilitasi.

Kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai hasil 5 :

– Tersedianya produk kayu rakyat bersertifikat dalam pameran skala international (misal : INAcraft dan IFFINA).

– Seminar kepada eksportir produk kayu dan juga pedagang kayu lokal.

– Partisipasi dalam pameran produk industri kehutanan yang diselenggarakan KBRI di negara-negara Eropa.

– Kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan.

– Advokasi kebijakan penggunaan produk kayu bersertifikat di tingkat lokal.

(10)

Tata Waktu Pelaksanaan

Aktivitas S.

1

S.

2

S.

3

S.

4

S.

5

S.

6

Meningkatnya kapasitas dari petani hutan dan IKM kehutanan dalam implementasi SVLK Training (Fasilitator PHBML & SVLK/CoC, PUHH, SKAU, GIS) x

Workshop FLEGT VPA di tingkat provinsi x

Workshop sosialisasi/audiensi SVLK di tingkat kabupaten x

Pendampingan SVLK & PHBML di hutan rakyat x x

Pendampingan SVLK di IKM x x

Penilaian sertifikasi di hutan rakyat & IKM x

Pendampingan bisnis plan di hutan rakyat & IKM x

Studi banding SVLK & PHBML ke Jawa Tengah/Jawa Timur x

Pembuatan & distribusi media kampanye x x x x x x

Terbangunnya sistem pelacakan kayu dari hutan rakyat ke industri

Pendampingan penerapan CoC di IKM x x

(11)

lanjutan…

Aktivitas S.

1

S.

2

S.

3

S.

4

S.

5

S.

6

Penguatan pemasaran untuk kayu legal dari hutan rakyat ke pasar internasional

Pembentukan forum usaha pelaku hutan rakyat & IKM x

Pelatihan kapasitas bisnis bagi pelaku hutan rakyat & IKM x

Terbangunnya proses belajar bersama dan jaringan UMHR dan IKM

Advokasi kebijakan lokal untuk penggunaan kayu bersertifikat x x x x

(12)

Dampak dari Kegiatan

• Meningkatnya kapasitas pelaku di semua rantai pasokan kayu rakyat akan memberikan perbaikan bagi manajemen dan administrasi kayu di lapangan maupun kepada pemerintah sesuai dengan persyaratan di dalam SVLK.

• Meningkatnya jumlah industri kehutanan skala kecil dan menengah bersertifikat akan memancing peningkatan konsumsi kayu rakyat bersertifikat dari hutan rakyat yang dikelola secara lestari untuk jaminan keberlanjutan pasokan kayu legal.

• Menguatnya kapasitas fasilitor SVLK, PHBML, dan CoC akan

mempermudah kelompok masyarakat di sekitar sasaran kegiatan untuk mendapatkan akses lebih baik terhadap informasi mengenai SVLK, PHBML, hingga Lacak Balak/CoC.

(13)

lanjutan…

• Adanya forum komunikasi fasilitator online akan membantu anggota forum untuk bertukar informasi dan menyelesaikan persoalan terkait SVLK, PHBML maupun CoC di areal kerjanya

melalui proses belajar bersama maupun pemaparan keberhasilan.

• Adanya akses yang lebih mudah terhadap informasi kayu rakyat yang meliputi legalitas, potensi, realisasi pemanenan dan informasi terkait yang lain melalui web information system akan memberikan peluang transaksi yang lebih besar, bersinergi dengan pameran di level internasional dan kerjasama dengan KBRI.

• Adanya kebijakan lokal tentang penggunaan kayu legal akan mendorong inisiatif pengelolaan hutan secara lestari dan lebih lanjut meningkatkan masuknya produk bersertifikat di pasar.

• Penyebarluasan perkembangan dan capaian kegiatan melalui

berbagai media akan meningkatkan kepedulian dan partisipasi dari pihak yang lebih luas untuk berkontribusi terhadap capaian proyek.

(14)

SVLK dan PHBML

(15)

Apa itu SVLK ?

S = Sistem

V = Verifikasi / Penilaian L = Legalitas / Keabsahan K = Kayu

 Mekanisme / tata cara untuk menilai sah atau tidaknya kayu yang diperdagangkan / dipindahtangankan.

 Penilaian sah / tidaknya kayu yakni

berdasarkan pemenuhan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan oleh peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

(16)

Sertifikat Legalitas Kayu di Hutan Hak

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.38/Menhut-II/2009 tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada

Pemegang Izin atau pada Hutan Hak

Keterangan yang diberikan kepada pemegang izin atau pemilik hutan hak yang menyatakan bahwa pemegang izin atau pemilik hutan hak telah mengikuti standar legalitas kayu (legal

compliance) dalam memperoleh hasil hutan kayu

Akses fasilitasi pemerintah (BLU)

Bahan baku bagi industri bersertifikat VLK

Meningkatkan nilai pengelolaan hutan

(17)

Apa yang Disebut Kayu Legal / Sah (dalam kontek SVLK) ?

Kayu disebut LEGAL / SAH jika :

kebenaran asal usul kayu,

sistem dan prosedur penebangan,

administrasi dan dokumentasi angkutan,

tata cara pengolahan, dan

perdagangan atau pemindahtanganannya

dapat DIBUKTIKAN memenuhi semua persyaratan

sesuai dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

(18)

 UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

 PP No. 6 Tahun 2007 jo. No. 3 tahun 2008 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan.

 Permenhut P.38/Menhut-II/2009 jo P.68/Menhut-II/2011 jo P.45/Menhut-II/2012 tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan

Verifikasi Legalitas Kayu (VLK) pada Pemegang Izin atau pada Hutan Hak.

 PerDirjen Bina Usaha Kehutanan No. P.8/VI-BPPHH/2011 jis P.8/VI-BPPHH/2012 tentang Standard dan Pedoman

Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK), yang merupakan

pembaharuan dari PerDirjen Bina Produksi Kehutanan No.

P.6/VI-Set/2009 dan No. P.02/VI-BPPHH/2010.

Landasan Hukum SVLK ?

(19)

Sertifikasi Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Lestari

Surat pengakuan yang diberikan kepada unit

manajemen hutan dan/atau industri kehutanan yang melakukan pengelolaannya secara baik dan lestari.

Penilaian pada aspek

produksi, ekologi, dan sosial.

LEI mengembangkan sertifikasi

PHBML, diterapkan di areal-

areal hutan yang dikelola oleh

rakyat

(20)

PHBML-LEI dan SVLK di Hutan Hak

(21)

NO OBYEK JUMLAH

INDIKATOR VERIFIER VLK

1 PEMEGANG IZIN & HAK PENGELOLAAN 17 27

2 IUPHHK-HKm/HTR/HD/HTHR 11 19

3 PEMEGANG IPK 7 15

4 PEMILIK HUTAN HAK 3 5

PHBML

1 ASPEK PRODUKSI 17

2 ASPEK EKOLOGI 3

3 ASPEK SOSIAL 10

JUMLAH 30

Jumlah Indikator PHBML dan VLK di Hutan Hak

(22)

NO RAGAM OBYEK SERTIFIKASI

VERIFIKASI

DOKUMEN MASA

BERLAKU

PENILI- KAN

GROUP CERTF.

PERTAMA RE-

SERTIF.

1 HKM, HTR, HD 12 BLN 12 BLN 3 TAHUN 1 TAHUN 2 PEMILIK HUTAN

HAK

3 BULAN 12 BLN 10 THN 2 TAHUN

3 PHBML LEI -- -- 15 THN 5 TAHUN

Masa Berlaku PHBML dan VLK di Hutan Hak

(23)

Prinsip-Kriteria-Indikator VLK di Hutan Hak

P1. Kepemilikan Kayu dapat Dibuktikan Keabsahannya

K1.1. Keabsahan hak milik dalam hubungannya dengan areal, kayu dan perdagangannya

.

1.1.1. Pemilik hutan hak mampu menunjukkan keabsahan haknya.

1.1.2. Unit kelola (baik individu maupun kelompok) mampu membuktikan dokumen angkutan kayu yang sah

1.1.3. Unit Kelola menunjukan bukti pelunasan pungutan

pemerintah sektor kehutanan dalam hal pemungutan atas tegakan yang tumbuh sebelum pengalihan hak atau

penguasaan.

(24)

Prinsip-Kriteria-Indikator Sertifikasi PHBML

PRINSIP : Kelestarian Fungsi Produksi

K1. Kelestarian Sumberdaya

P.1.1. Status dan Batas Lahan Jelas (1.1.1 di VLK) P.1.2. Perubahan luas penutupan lahan

P.1.3. Managemen pemeliharaan hutan

P.1.4. Sistem silvikultur sesuai daya dukung hutan

K2. Kelestarian Hasil

P.2.1. Penataan areal pengelolaan hutan

P.2.2. Kepastian Adanya Potensi Produksi untuk Dipanen Lestari P.2.3. Pengaturan hasil

P.2.4. Efisiensi pemanfaatan hutan

P.2.5. Keabsyahan sistem lacak balak dalam hutan (1.1.2 di VLK) P.2.6. Prasarana pengelolaan hutan

P.2.7. Pengaturan manfaat hasil

(25)

K3. Kelestarian Usaha

P.3.1. Kesehatan usaha

P.3.2. Kemampuan akses pasar

P.3.3. Sistem Informasi Managemen (SIM) P.3.4. Tersedia tenaga trampil

P.3.5. Investasi dan reinvestasi untuk pengelolaan hutan P.3.6. Kontribusi terhadap peningkatan kondisi sosial dan

ekonomi setempat

lanjutan…

(26)

PRINSIP : Kelestarian Fungsi Ekologi

K1. Stabilitas Ekosistem Hutan dapat dipelihara dan gangguan

terhadap stabilitas ekosistem dapat diminimumkan dan dikelola

E.1.1. Tersedianya aturan kelola produksi yang meminimasi gangguan terhadap integritas lingkungan

E.1.2. Ketersediaan informasi dan dokumentasi dampak kegiatan kelola produksi terhadap lingkungan.

E.1.3. Adanya kegiatan Kelola Lingkungan yang Efektif

lanjutan…

(27)

PRINSIP : Kelestarian Fungsi Sosial

K1. Kejelasan Tentang Hak Penguasaan dan Pengelolaan Lahan atau Areal Hutan yang Digunakan

S.1.1. Pengelola hutan/lahan adalah warga komunitas S.1.2. Pengelola lahan/hutan adalah pemilik lahan

S.1.3. Status lahan tidak dalam sengketa dengan warga anggota komunitas lain maupun dengan pihak lain diluar komunitas

S.1.4. Kejelasan batas-batas areal tanah/hutan yang dipergunakan

S.1.5. Digunakan tata cara atau mekanisme penyelesaian yang berkeadilan terhadap sengketa klaim yg terjadi

lanjutan…

(28)

K2. Terjaminnya ketahanan dan pengembangan ekonomi komunitas

S.2.1. Sumber-sumber ekonomi komuitas terjaga dan mampu mendukung kelangsungan hidup komunitas dalam lintas generasi

S.2.2. Penerapan teknologi produksi dan sistem pengelolaan dapat

mempertahankan tingkat penyerapan tenaga kerja, laki-laki maupun perempuan

K3. Terbangun pola hubungan sosial yang setara dalam proses produksi S.3.1. Pola hubungan sosial yang terbangun antara berbagai pihak dalam

pengelolaan hutan merupakan hubungan sosial relatif sejajar S.3.2. Pembagian kewenangan jelas dan demokratis dalam organisasi

penyelenggaraan PHBM

lanjutan…

(29)

K4. Keadilan manfaat menurut kepentingan komunitas

S.2.1. Ada kompensasi atas kerugian yang diderita komunitas secara

keseluruhan akibat pengelolaan hutan oleh kelompok dan disepakati oleh warga komunitas

lanjutan…

(30)

Relasi VLK dengan PHBML

P

VLK di Hutan

Hak

PHBML-LEI

(31)

Prosedur dan Insentif PHBML

Pedoman LEI 99.43.3 tentang Pengajuan Sertifikasi PHBML mensyaratkan “Pemenuhan kewajiban terhadap peraturan

perundangan yang berlaku, termasuk kewajiban finansial (jika ada)”

 sesuai dengan 1.1.3 di VLK Hutan Rakyat

Menerbitkan SKAU bagi personil terlatih dengan self assessment

Penilikan periodik setiap 5 tahun dimungkinkan tanpa penilikan lapangan dengan syarat melaporkan kegiatan pengelolaan setiap tahun  biaya lebih bersahabat

Memungkinkan pengajuan dengan penjaminan oleh lembaga atau instansi tertentu

PROFIT – BENEFIT??

lanjutan…

(32)

SVLK - PHBML

SVLK PHBML

Mandatory (wajib) Voluntary (sukarela)

Legalitas Legalitas + kelestarian

Masa berlaku sertifikat 10 tahun Masa berlaku sertifikat 15 tahun

Penilikan setiap 2 tahun sekali Penilikan setiap 5 tahun sekali

(33)

Hatur Nuhun...

Referensi

Dokumen terkait

Langkah pertama ketika menganalisis data Talkshow Hitam Putih edisi bulan Agustus 2015 adalah menyimak video Talkshow yang didownload melalui jaringan youtube,

Makna pemimpin dalam al- Qur’an bisa berarti khalifah, yang mempunyai arti pengganti, bisa juga berarti ima > m yang mempunyai makna kepala dan bisa mempunyai

Adapun permasalahan yang akan dibahas kali ini berkenaan dengan tinggalan arkeologis berupa sisa struktur bangunan tua di situs Kota Rebah, apakah sisa struktur

[r]

 Menjelaskan pengertian Kisi-kisi Soal  Fungsi Kisi-kisi Soal.  Kisi-kisi Soal tes obyektif  Kisi-kisi Soal

Capaian Program Jumlah cakupan (jenis) layanan administrasi perkantoran yang dilaksanakan sesuai dengan standar dan ketentuan yang berlaku.

Upaya represif adalah sebuah upaya yang dilakukan BNN Kabupaten Kediri pada saat penyalahgunaan narkotika sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment)

Dalam dunia usaha banyak masyarakat untuk memulai usaha membutuhkan dana yang tidak hanya sedikit, maka dari itu koperasi merupakan lembaga keuangan yang bisa