• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Industri fashion secara sederhana dapat digambarkan sebagai bisnis pembuatan dan penjualan pakaian (Encyclopedia.com, 2019). Pada kenyataannya, industri fashion merupakan industri yang mencakup banyak kalangan. Dalam proses pembuatan satu pakaian melibatkan tidak hanya kalangan desainer, merek ataupun toko, namun juga terdapat petani kapas, penjahit, pemintal, penenun, petugas kebersihan dan pekerja pabrik lainnya.

Sebagian besar produksi fashion terbuat dari tekstil.

Sektor besar industri tekstil memproduksi kain yang kemudian digunakan dalam pembuatan pakaian, baik serat alami seperti wol, sutra, katun dan linen maupun serat sintesis seperti nilon, akrilik, dan polyester yang digunakan (Steele & Major, 2019).

Munculnya globalisasi telah merubah sistem ekonomi dan mengubah lingkungan kompetitif di seluruh dunia. Tekanan kompetitif juga semakin dipercepat dengan adanya langkah-langkah reformasi ekonomi yang kemudian menciptakan tantangan dan peluang untuk sektor manufaktur. Untuk dapat bersaing di pasar internasional, banyak UKM di sektor manufaktur harus menandatangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan lain baik di dalam maupun di luar negeri (Gatawa, Aliyu, & Musa, 2013, pp. 65 - 87). Globalisasi kemudian juga memudahkan perusahaan-perusahaan internasional untuk memasukkan industri tekstil mereka ke negara-negara berkembang sebagai tujuan lokasi produksi mereka.

(2)

2 Industri tekstil sendiri memainkan peranan penting dalam industrialisasi dan pada umumnya dianggap sebagai langkah awal yang potensial bagi negara- negara berkembang untuk memulai jalur industrialisasi (Morris & Barnes, 2008).

Bagi negara-negara berkembang, industri tekstil dan garmen merupakan sektor penting dalam menciptakan lapangan kerja yang terampil dan menjadi sumber fundamental bagi berbagai dampak positif terutama ekonomi (Tybout, 2000, pp. 11-44). Tekstil dan garmen menjadi produk yang mayoritas diproduksi oleh negara-negara berkembang dan menjadi sektor penting untuk ekspor mereka. Perkembangan industri tekstil dan garmen merupakan tahap yang sangat diperlukan dalam industrialisasi di negara-negara berkembang (Koul, 2018, pp. 439-449). Sejak adanya distribusi geografis produk, lebih dari 60 persen ekspor pakaian dunia di produksi di negara-negara berkembang (International Labour Organization, 1996). Hal tersebut menjadikan industri tekstil dan garmen sebagai salah satu prioritas dalam perencanaan ekonomi negara. Dengan kata lain, industri fashion ini merupakan kelompok penting bagi perekonomian negara berkembang dan kebijakannya secara signifikan mempengaruhi lapangan kerja dan GDP negara (Fashion Revolution, nd).

Di tahun 2013, terjadi sebuah tragedi kemanusiaan dalam dunia industri fashion yang meliputi industri tekstil dan garmen. Pada tanggal 24 April 2013 terjadi peristiwa runtuhnya bangunan Rana Plaza yang terletak di Dhaka, Bangladesh. Peristiwa runtuhnya gedung Rana Plaza tersebut menewaskan sekitar 1.130 dan melukai hampir 2000 korban. Dalam gedung bertingkat delapan tersebut terdapat lima pabrik garmen yang keseluruhannya memproduksi pakaian untuk merek-merek besar global. Korban dari peristiwa

(3)

3 tersebut mayoritas merupakan buruh dari pabrik-pabrik garmen tersebut yang sebagian besar adalah perempuan muda (Welch, 2019). Tragedi Rana Plaza tidak diragukan menjadi salah satu tragedi kemanusiaan yang paling mengerikan dalam dunia industri fashion (Appelbaum & Lichtenstein, 2014, pp. 58-65).

Runtuhnya gedung Rana Plaza menjadi contoh nyata bahwa masih banyak ketidakadilan yang terjadi didalam praktik indutri fashion. Dengan memegang kepercayaan bahwa kehilangan nyawa 1.138 orang merupakan jumlah yang terlalu banyak untuk sebuah bangunan, merupakan hal yang mengerikan untuk tidak berdiri dan menuntut perubahan.

Tragedi Rana Plaza tersebut telah memun- culkan keprihatinan para aktivis yang bergerak dalam dunia fashion yang merupakan tonggak dari industri tersebut untuk bekerjasama membentuk sebuah gerakan internasional yang menuntut adanya perubahan dalam praktik industri fashion. Aktivis tersebut diantaranya adalah Orsola de Castro dan Carry Somers yang telah lama berkecimpung dalam dunia fashion.

Orsola merupakan seorang fashion designer yang telah diakui secara internasional sebagai pemimpin opini dalam sustainable fashion. Orsola meluncurkan karirnya dalam dunia eco-fashion dengan membuat labelnya sendiri dengan nama “From Somewhere”

yang memproduksi pakaiannya dari potongan daur ulang dari bahan-bahan mewah (Boscio, 2018).

Sedangkan Carry Somers merupakan seorang designer, social entrepreneur dan fashion campaigner dari Inggris. Carry membuat label “Pachacuti” yang memproduksi topi dengan keterampilan tekstil tradisional (Pachacuti, nd). Dengan latar belakang mereka dalam dunia industri fashion, kemudian mendorong mereka bekerjasama membentuk sebuah gerakan internasional dengan nama Fashion Revolution

(4)

4 yang bertujuan untuk mengubah praktik yang terjadi dalam industri fashion.

Fashion Revolution menganggap bahwa masih terdapat banyak praktik eksploitasi yang terjadi dalam proses produksi industri fashion. Fakta tersebut mendorong Fashion Revolution untuk menginginkan adanya transparansi dalam rantai pasokan dari indutri tersebut. Fashion Revolution berkampanye untuk mewujudkan industri fashion yang menghargai manusia, lingkungan, kreativitas serta pembagian keuntungan dalam ukuran yang adil. Tujuan utama gerakan ini adalah untuk menyatukan seluruh sektor industri fashion dan membangun revolusi untuk secara mendasar mengubah bagaimana cara pakaian itu dibuat, diproduksi dan dibeli sehingga apa yang dipakai dibuat dengan cara yang aman, bersih dan adil (Fashion Revolution, nd). Fashion Revolution berkampanye secara global dengan partisipasi lebih dari 100 negara dengan perwakilan yang tersebar di setiap negara.

Gerakan ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2013 di Inggris dan menjadikan peristiwa Rana Plaza sebagai peringatan pembentukan gerakan mereka (Omotosa, 2018).

Fashion Revolution didirikan sebagai bentuk keprihatinan terhadap dunia industri terutama industri fashion yang belum sepenuhnya memperhatikan etika dan keberlanjutannya. Fashion Revolution bertujuan untuk mengajak seluruh dunia untuk perduli terhadap isu-isu yang terjadi didunia mode, khususnya terhadap semua yang terlibat di dalam industri ini. Salah satu hal yang menjadi fokus dari Fashion Revolution adalah adanya eksploitasi terhadap buruh dan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari kegiatan industri.

Mereka mendesak industri untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab dan menunjukkan transparansi yang lebih besar dalam rantai pasokan mereka. Jika

(5)

5 suatu merek tidak mengetahui kondisi dari pabrik yang memasok produk mereka, maka akan menjadi sulit bagi mereka untuk dapat melakukan perubahan (Blanchard, 2018).

Dengan predikat sebagai negara eksportir tekstil dan garmen terbesar, maka negara-negara berkembang juga harus menghadapi berbagai konsekuensi yang ditimbulkan dari industri ini seperti adanya eksploitasi buruh dan kerusakan lingkungan.

Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam seluruh proses produksi tekstil dan garmen mengakibatkan pencemaran sumber air di sekitar pabrik. Selain itu, pembakaran bahan-bahan yang mengandung karbon selama proses produksi berakibat pada meningktanya jumlah gas karbon di udara. Hasil tersebut mengakibatkan industri fashion menjadi industri dengan tingkat polutan tertinggi kedua setelah industri minyak. Tingginya produksi tekstil dan garmen menjadikan lingkungan di sekitar pabrik mengalami pencemaran dan polusi tinggi baik di air maupun udara.

Selain itu, tingkat polusi yang tinggi tersebut juga berakibat pada kesehatan masyarakat yang tinggal disekitar pabrik serta para pekerja yang terlibat langsung dalam proses produksi. (Dlamini & Joubert, 1996, pp. 71-82)

Bangladesh sebagai negara pengekspor produk tekstil dan garmen terbesar kedua setelah China tentu saja memgalami berbagai permasalahan yang timbul akibat eksploitasi yang terjadi dalam rantai produksi industri fashion. Peristiwa Rana Plaza sendiri menjadi salah satu kecelakaan industri terburuk dalam sejarah yang dialami industri fashion. Selain skala korban yang diakibatkan dari tragedi tersebut, keunggulan ekspor Bangladesh di industri tekstil dan garmen global juga menjadi alasan lain yang mengakibatkan peristiwa Rana Plaza menjadi faktor penting yang melatar

(6)

6 belakangi dibentuknya Fashion Revolution untuk mengkritik industi fashion (Jacobs & Singhal, 2017, pp.

1-15). Peristiwa ini telah menunjukkan adanya pelanggaran-pelangaran yang berlansung dalam rantai produksi industri fashion.

Industri fashion menjadi pencemar terbesar kedua di dunia setelah industri minyak, dan kerusakan lingkungan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya industri yang tumbuh (Sustain Your Style, nd). Fashion Revolution yang bergerak untuk mendorong terwujudnya industri fashion yang lebih beradab dan mencegah peristiwa seperi Rana Plaza untuk terulang kembali. Fashion Revolution menyebar di berbagai negara dengan membawa tujuan global untuk menyatukan orang-orang yang bekerjasama untuk merubah perspektif tentang bagaimana pakaian bersumber, diproduksi dan dikonsumsi.

Dengan latar belakang yang telah dipaparkan diatas maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang topik bahasan dengan judul “Apa signifikansi gerakan internasional ‘Fashion Revolution’ sebagai kritik terhadap dunia industri di Negara-negara Berkembang?”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:

“Apa Signifikansi Gerakan Internasional

“Fashion Revolution” Sebagai Kritik Terhadap Dunia Industri Fashion di Negara-negara Berkembang (Studi Kasus: Bangladesh)?”

(7)

7 C. Kerangka Pemikiran

Gerakan internasional terbentuk sebagai respon terhadap isu-isu yang terjadi di dunia internasional. Fashion Revolution terbentuk sebagai respon terhadap berbagai permasalahan yang ditimbulkan dari dunia industri terutama dalam industri fashion yang merupakan fokus utama dalam gerakan tersebut. Dalam upaya untuk menjawab rumusan masalah dan penyusunan argumen penelitian, maka untuk menganalisis bagaimana signifikansi gerakan internasional Fashion Revolution sebagai sebuah kritik terhadap dunia industri di negara-negara berkembang, dapat dijelaskan menggunakan kerangka pemikiran sebagai berikut:

1. Transnational Civil Society Networks

Transnational civil society (TCS) atau masyarakat sipil transnasional mengacu pada kelompok advokasi yang terorganisir yang melakukan aksi kolektif secara suka rela lintas batas negara untuk mencapai apa yang mereka anggap sebagai kepentingan publik secara luas (Price R. , 2003, pp. 579-606). Transnational Civil Society Networks merupakan jaringan gerakan kolektif non-pemerintah nirlaba yang bergerak mencapai tujuan tertentu dalam tingkat global.

Menurut Ann Florini, definisi dari transnational civil society dapat dijelaskan dalam tiga bagian. Pertama, seperti halnya semua masyarakat sipil, transnational civil society hanya mencakup kelompok yang bukan merupakan bagian dari pemerintah atau entitas swasta yang mencari keuntungan. Kedua, bersifat transnasional, yaitu melibatkan hubungan yang melintas batas

(8)

8 negara. Ketiga, dalam transnational civil society dibutuhkan sebuah bentuk, seperti contohnya INGO dengan anggota individu atau memiliki perwakilan di beberapa negara. TCS juga dapat berupa koalisi dari berbagai organisasi atau asosiasi lintas batas yang lebih informal (Florini &

Simmons, 2000, pp. 7-8).

Transnational Civil Society juga sering disebut sebagai Global Civil Society atau masyarakat sipil global. Menurut Bennett, masyarakat sipil global merupakan jaringan organisasi dan individu yang berlokasi lintas batas dan di luar identitas nasional yang bertujuan untuk memajukan agenda yang serupa secara tematis di seluruh dunia (Bennett, 2012, pp. 799-813).

Masyarakat sipil transnasional merupakan bagian yang penting dalam pemerintahan global yang semakin berkembang (Florini & Simmons, 2000, p.

3). Dengan berbagai agenda transnasional yang semakin medesak, mendorong terbentuknya berbagai jaringan masyarakat sipil transnasional.

Dalam buku “The Third Force: The Rise of Transnational Civil Society”, Ann Florini dan P.J.

Simmons mengatakan:

‘Transnational civil society networks—the emerging third force in global politics—tend to aim for broader goals based on their conceptions of what constitutes the public good. They are bound together more by shared values than by self- interest.’ (Florini & Simmons, 2000, p. 7)

Masyarakat sipil mencoba untuk membentuk norma-norma ini dengan dua cara yaitu secara langsung dengan membujuk para pembuat kebijakan dan pelaku bisnis untuk mengubah pandangan mereka tentang apa hal yang benar untuk dilakukan yang sesuai dengan tujuan yang

(9)

9 ingin mereka capai. Atau secara tidak langsung dengan cara mengubah persepsi publik tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan pelaku bisnis. Dengan adanya tekanan publik, maka pemerintah dan pelaku bisnis akan cenderung merespon sesuai yang diinginkan oleh konstituen ataupun konsumen mereka (Florini & Simmons, 2000, p. 11).

Di era revolusi informasi, dimana integrasi pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatnya jumlah populasi dunia, aktivitas manusia tidak lagi terhalang oleh batas-batas negara. Semua integrasi lintas batas memiliki manfaat yang sangat penting seperti kebebasan memilih yang semakin besar serta peningkatan efisiensi ekonomi. Namun integrasi tersebut juga memunculkan kesadaran akan adanya masalah yang mengancam kesejahteraan manusia.

Ancaman tersebut mencakup segala sesuatu mulai dari kesulitan dalam mengatur regulasi modal internasional hingga masalah bahaya perubahan lingkungan secara global. Berbagai masalah tersebut sering kali menarik perhatian secara luas pada komunitas internasional. Dengan kata lain, dunia membutuhkan seseorang untuk bertindak mewakili kepentingan publik secara luas.

Fashion Revolution merupakan gerakan internasional sebagai salah satu bentuk dari transnational civil society networks. Fashion Revolution menyerukan berbagai aksi untuk mencapai kepentingan publik secara lebih luas.

Dalam pelaksanaannya, Fashion Revolution melibatkan seluruh masyarakat dunia yang bersedia untuk turut andil dalam menuntut adanya perubahan terhadap praktik dunia industri fashion.

(10)

10 2. Transformasionalis (Transformationalist)

Globalisasi merupakan proses interaksi dan integrasi antar manusia, perusahaan, dan pemerintahan dari berbagai negara dan merupakan proses yang didorong oleh perdagangan dan investasi internasional dan ditunjang oleh tekhnologi informasi (Globalization101, nd).

Globalisasi telah menjadi fenomena yang memiliki dimensi dalam budaya, politik, ekonomi maupun sosial. Namun, globalisasi juga telah menimbulkan berbagai konsekuensi yang secara jelas dengan berbagai cara mempengaruhi kehidupan manusia di penjuru dunia.

Held & McGrew dalam buku “The Global Transformation Readers” (Held & McGrew, 2003, pp. 1-42), membagi pandangan terhadap globalisasi kedalam tiga kelompok, yaitu hyper- globalist, skeptic-globalist dan transformationalist.

Pertama, hiper-globalis menganggap globalisasi sebagai fenomena yang nyata tidak dapat terelakkan oleh semua negara. Mereka berpendapat bahwa telah terjadi perubahan yang signifikan dalam bentuk hubungan sosial pada skala global yang mengakibatkan biasnya batar-batas suatu negara. Budaya, ekonomi dan politik suatu negara masuk kedalam arus global (Negash, 2015, pp. 86- 94). Globalisasi mengakibatkan munculnya ekonomi global, dimana dengan adanya perubahan ekonomi juga mengakibatkan adanya perubahan politik dan budaya. Hiper-globalis mengangap bahwa negara-negara telah kehilangan kekuasaan dan pengaruhnya karena negara harus menyesuaikan kebijakan mereka dengan kepentingan ekonomi global untuk menarik

(11)

11 pemilik modal masuk ke dalam negari (Martell, 2007, pp. 173-196).

Kedua, skeptis-globalis yang menganggap bahwa globalisasi cenderung menjadi wadah bagi negara-negara maju untuk melakukan dominasi terhadap negara-negara berkembang (Wirasenjaya, 2018). Mereka memandang globalisasi bukan sebagai sebuah proses yang baru namun berupa bentuk kelanjutan dari internasionalisasi. Skeptis- globalis menolak gagasan tentang pemerintahan global. Mereka beranggapan bahwa segala sesuatu yang terjadi atas nama globalisasi merupakan internasionalisme, regionalisme dan kebijakan neo- liberal yang diciptakan oleh tatanan kapitalis (Solakoglu, 2016, pp. 1-8).

Ketiga, transformasionalis yang berpendapat bahwa negara-bangsa tetap memiliki pengaruh yang kuat terutama dalam ekonomi dan militer. Namun mereka juga tidak mengelak gagasan bahwa globalisasi memberikan pengaruh yang besar dalam segi materiil, politik dan sosial (Negash, 2015, pp. 86-94).

Dalam bukunya “Make Globalization Work”, Stiglitz menerangkan tentang bagaimana dua wajah dari globalisasi;

“In short, globalization may have helped some countries—their GDP, the sum total of the goods and services produced, may have increased—

but it had not helped most of the people even in these countries. The worry was that globalization might be creating rich countries with poor people.”

(Stiglitz, 2006, pp. 7-9)

Dalam buku tersebut Stiglitz juga menjabarkan bahwa terdapat enam bidang yang perlu dikritik oleh komunitas internasional tentang

(12)

12 apa yang harus dilakukan agar globalisasi dapat bekerja, diantaranya (Stiglitz, 2006, pp. 13-19);

- Meluasnya kemiskinan (The pervasiveness of poverty)

Masalah kemiskinan telah menjadi perhatian global, maka seharusnya institusi multinasional lebih memfokuskan pekerjaannya dalam mengurangi kemiskinan. Dengan adanya pasar terbuka justru akan memperparah masalah kemiskinan. Sehingga yang dibutuhkan adalah pendampingan dalam menghadapi ekonomi global dan bentuk rezim perdagangan yang lebih adil.

- Kebutuhan terhadap bantuan asing dan keringanan hutang (The need for foreign assistance and debt relief)

Muncul kesepakatan luas bahwa dibutuhkannya lebih banyak bantuan yang diberikan dalam bentuk hibah dan sebih sedikit dalam bentuk hutang karena banyaknya masalah yang muncul dalam pembayaran hutang.

- Aspirasi untuk membuat perdagangan yang adil (The aspiration to make trade fair)

Liberasi perdagangan dimana pasar telah terbuka terhadap arus barang dan jasa yang bebas seharusnya dapat mengarahkan pada pertumbuhan. Namun pada kenyataannya banyak terjadi ketidakseimbangan antara negara dengan industri yang maju dan negara berkembang.

(13)

13 - Pembatasan liberasi (The limitations of

liberalization)

Bagi negara-negara berkembang, liberalisasi pasar modal tidak mengakibatkan banyaknya pertumbuhan di negara, justru lebih banyak menimbulkan ketidakstabilan.

- Perlindungan lingkungan (Protecting the environment)

Kegagalan dalam stabilitas lingkungan dapat mengakibatkan bahaya yang besar bagi dunia dalam jangka panjang.

Sehingga kelompok dan advokasi lingkungan menyerukan untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan menghemat penggunaan energi dan sumberdaya lainnya.

- Sistem pemerintahan global yang cacat (A flawed system of global governance) Muncul kesepakatan bahwa terdapat sesuatu yang salah dalam pembuatan keputusan dalam level global. Terdapat ancaman unilateralisme dan ‘defisit demokrasi’ di lembaga-lembaga ekonomi internasional dan negara-negara berkembang tidak memiliki perwakilan yang cukup untuk menyuarakan kepentingan mereka.

Globalisasi telah menimbulkan berbagai dampak bagi negara-negara berkembang seperti halnya kemudahan bagi para pemilik modal untuk memasukkan perusahaan industri mereka ke negara. Hal tersebut secara tidak langsung akan

(14)

14 mengakibatkan berbagai permasalahan yang akan menekan bagi negara-negara berkembang. Dengan menggunakan pandangan transformasionalis terhadap globalisasi, Fashion Revolution muncul sebagai kritik atas globalisasi. Fashion Revolution bertujuan untuk menjadikan globalisasi agar menjadi lebih manusiawi dan tidak hanya perbihak terhadap pemilik modal.

Fashion Revolution memiliki tujuan utama untuk menghentikan eksploitasi terhadap manusia dan lingkungan yang terlibat dalam rantai produksi fashion.

Gerakan tersebut bekerja untuk menyatukan masyarakat dan organisasi untuk bekerja bersama dalam perubahan terhadap bagaimana fashion itu diproduksi. Hal ini sesuai dengan pengertian Transnational civil society network yang merupakan kelompok yang melakukan aksi kolektif secara suka rela lintas batas negara untuk mencapai kepentingan publik secara luas. Kepentingan publik secara luas disini dapat diterapkan dengan kepentingan bersama akan adanya industri fashion yang lebih beradap dengan mengatasi masalah eksploitasi terhadap manusia dan lingkungan. Fashion Revolution menjadi gerakan yang menuntut norma-norma global terhadap rantai produksi fashion yang lebih transparan. Dalam praktiknya, Fashion Revolution juga berkerjasama antar country-coordinator masing-masing, maupun dengan organisasi ataupun kelompok lain yang memiliki nilai-nilai yang sama.

Tujuan dari gerakan internasional Fashion Revolution juga selaras dengan pandangan transformasionalis yang menginginkan globalisasi agar lebih demokratis dan tidak hanya berpihak pada pemilik modal. Fashion Revolution menginginkan adanya perubahan dalam dunia industi agar lebih

(15)

15 menghargai manusia, lingkungan, kreatifitas dan pembagian keuntungan yang adil.

D. Argumen Penelitian

Dengan menggunakan kerangka pemikiran yang telah diuraikan diatas, maka terdapat beberapa argument penelitian tentang signifikansi gerakan Fashion Revolution dalam kritiknya terhadap dunia industri di negara berkembang, yaitu;

1. Penelitian ini berarguman bahwa gerakan internasional Fashion Revolution sebagai salah satu bentuk dari transnasional civil society network berperan dalam menyuarakan kepentingan masyarakat global terhadap fashion dan sebagai kritik terhadap dunia industri di negara-negara berkembang.

2. Penelitian ini berargumen bahwa dengan menggunakan pandangan transformasionalis, Fashion Revolution mengkritik dunia industri fashion melalui berbagai kampanye untuk menuntut transparansi rantai pasokan dan secara signifikan mempengaruhi pandangan masyarakat dunia terhadap proses produksi industri fashion.

E. Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, untuk mengetahui tentang apa signifikansi gerakan internasional Fashion Revolution sebagai kritik terhadap dunia industri di negara-negara berkembang, penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif dimana penulis akan mencoba untuk mengeksplorasi dan klarifikasi mengenai suatu fenomena atau kenyataan sosial. Dengan cara mendeskripsikan dan menganalisis serta mengkorelasikan sejumlah variabel yang

(16)

16 berkenaan dengan masalah dan unit yang diteliti antara fenomena yang diuji. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis alasan yang mendorong munculnya Fashion Revolution sebagai kritik terhadap industri tekstil dan garmen di negara-negara berkembang.

Dalam kepenulisan riset ini menggunakan studi kepustakaan dengan menggali literature dari berbagai sumber baik melalui buku, jurnal, artikel, dokumen resmi, ataupun dari berbagi sumber online termasuk official website.

F. Tujuan Penelitian

Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui mengapa gerakan internasional Fashion Revolution dijadikan sebagai kritik terhadap industri tekstil di negara-negara berkembang. Terdapat beberapa tujuan yang ingin diteliti dalam tulisan ini, antara lain:

1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa yang mempengaruhi munculnya kritik terhadap dunia industri (tekstil dan garmen) di negara-negara berkembang.

2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana langkah yang dilakukan gerakan internasional Fashion Revolution dalam upaya mengkritik sistem yang berjalan dalam dunia industri tekstil dan garmen.

3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana signifikansi Fashion Revolution sebagai sebuah gerakan internasional dalam kritiknya terhadap dunia industri dinegara- negara berkembang serta langkah apa yang dilakukan Fashion Revolution dalam upaya

(17)

17 mengkritik industri tekstil di negara-negara berkembang.

G. Jangkauan Penulisan

Untuk membatasi pembahasan dalam penelitian ini maka penulis merasa perlu untuk membuat batasan dalam pembahasan atau batasan penelitian. Dalam melaksanakan penelitian ini, penulis memfokuskan penelitian pada signifikansi gerakan internasional Fashion Revolution yang mengkritik dunia industri yang ada di negara-negara berkembang.

Selaras dengan gerakan Fashion Revolution yang berfokus dalam industri fashion, maka penulis akan memfokuskan target penelitian dalam dunia industri fashion yang meliputi industri tekstil (barang tenun, kain, bahan pakaian) (KBBI, nd) dan garmen (pakaian jadi) (KBBI, nd). Dalam penelitian ini, penulis juga memberikan batasan dalam studi kasus yang berfokus pada industri tekstil dan garmen yang berada di Bangladesh. Penulis mengambil studi kasus di Bangladesh karena negara tersebut merupakan salah satu negara berkembang yang menjadi lokasi terbesar dari kegiatan produksi industri tekstil dan garmen.

H. Sistematika Penulisan

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari Judul, Latar Belakang, rumusan masalah, Kerangka teori/konseptual, Hipotesa, Metode penelitian, Jangkauan penelitian dan Sistematika penulisan BAB II : Menjabarkan tentang karakteristik

industri dan permasalahan yang ditimbulkan industri (tekstil dan garmen) di negara-negara berkembang terutama Bangladesh

(18)

18 BAB III : Analisis tentang latar belakang dan sejarah di bentuknya gerakan internasional Fashion Revolution BAB IV : Menjelaskan bagaimana bentuk kritik

Fashion Revolution sebagai sebuah gerakan internasional terhadap dunia industri fashion di negara-negara berkembang dan signifikansinya terhadap perubahan karakteristik industri fashion

BAB V : Bab ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan.

Referensi

Dokumen terkait

Semua yang diterangkan di atas yakni basis data, cantuman (record), data, ruas (field), dan subruas (subfield) sesungguhnya telah anda kenal dan temukan dalam pekerjaan sehari-hari

sapi perah laktasi di BBPTU-HPT Baturraden pada tingkat perawat ternak adalah pendidikan perawat ternak yang berasosiasi positif dengan besar faktor 2,130, jumlah sapi yang

Selepas sesi terapi muzik selesai, kaunselor perlulah memainkan peranan yang penting dalam memberi bimbingan kepada klien untuk membuat dan memilih jalan yang

underwear rules ini memiliki aturan sederhana dimana anak tidak boleh disentuh oleh orang lain pada bagian tubuhnya yang ditutupi pakaian dalam (underwear ) anak dan anak

Penekanan anggaran merupakan desakan dari atasan pada bawahan untuk melaksanakan anggaran yang telah dibuat dengan baik, yang berupa sangsi jika kurang dari

Aktivitas yang dilakukan menunjukkan bahwa siswa mengeksplorasi pengetahuan awal melalui kegiatan menggunakan lego untuk menentukan pecahan dengan cara membuat pecahan bagian

Menimbang, bahwa oleh karena pada waktu putusan perkara Nomor : 122/Pdt.G/2014/PN.Cbi dibacakan dipersidangan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cibinong pada

Kerjasama yang baik antara panitia pelaksana dan pihak desa Pamekaran dan Warga masyarakat desa Pamekaran telah memberikan kontribusi yang sangat besar dari keberhasilan