ANALISIS EKUITAS ANGGARAN BELANJA PENDIDIKAN DI KABUPATEN BOYOLALI Analisis Ekuitas Anggaran Belanja Pendidikan Di Kabupaten Boyolali.

Teks penuh

(1)

ANALISIS EKUITAS ANGGARAN BELANJA PENDIDIKAN DI KABUPATEN BOYOLALI

NASKAH PUBLIKASI

Disusun oleh :

RETNO WULANDARI B 200 100 195

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini telah membaca Naskah Publikasi dengan judul :

ANALISIS EKUITAS ANGGARAN BELANJA PENDIDIKAN DI KABUPATEN BOYOLALI

Yang ditulis oleh :

RETNO WULANDARI B 200 100 195

Penandatanganan berpendapat bahwa Naskah Publikasi tersebut telah memenuhi syarat untuk diterima.

Surakarta, Juni 2014

Pembimbing

(Dr. Zulfikar, SE, M.Si)

Mengetahui,

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Surakarta

(3)

ANALISIS EKUITAS ANGGARAN BELANJA PENDIDIKAN DI KABUPATEN BOYOLALI

RETNO WULANDARI (B200100195)

Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhamadiyah Surakarta

Email : huseinretno@yahoo.com

ABSTRAKSI

Penelitian ini berjudul “Analisis Ekuitas Anggaran Belanja Pendidikan Kabupaten Boyolali”. Adapun tujuannya untuk menganalisis ekuitas capaian kinerja pendidikan untuk Program Wajib Belajar Pendidikan Sembilan Tahun di Kabupaten Boyolali ditinjau dari indikator input, output, dan pencapaian, menganalisis keterkaitan indikator input kinerja pendidikan dengan pencapaian kinerja pendidikan, dan menganalisis keterkaitan indikator output kinerja pendidikan dengan anggaran pendidikan di Kabupaten Boyolali.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang tersedia di DPPKAD, Disdikpora, dan BPS Kabupaten Boyolali mulai periode 2010-2011. Data yang diperlukan yaitu data APBD dan data-data dasar pendidikan tahun 2010-2011.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa hasil analisis korelasi indikator input kinerja pendidikan (kualifikasi guru) dengan pencapaian kinerja pendidikan (angka kelulusan) secara statistik menunjukkan kualifikasi guru berhubungan secara positif dengan angka kelulusan sebesar 0,840 (r = 0,840) dan signifikan 0,000 pada taraf 0,01. Hasil deskriptif data terdapat keterkaitan indikator pencapaian kinerja pendidikan dengan anggaran pendidikan di Kabupaten Boyolali. Hasil capaian kinerja Program Wajib Belajar Pendidikan Sembilan Tahun secara keseluruhan baik ditinjau dari indikator input,output maupun pencapaian menunjukkan pencapaian diatas 80% atau kategori cukup baik.

(4)

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pemerintah Indonesia telah menjadikan anggaran pendidikan sebagai

prioritas utama dalam bidang pendidikan. Pengertian anggaran menurut

Mardiasmo (2002:61) adalah pernyataan mengenai estimasi kinerja yang

hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran

finansial.

Pendidikan di tingkat kabupaten juga menjadi prioritas sejak berlakunya

UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mengharuskan

pemerintah pusat dan daerah untuk mengalokasikan minimal 20 persen dari

anggaran mereka untuk sektor tersebut. Akan tetapi, masih terdapat perbedaan

dalam hal output dan pencapaian walaupun belanja pendidikan telah

ditingkatkan. Beberapa kabupaten masih tertinggal, sementara

kabupaten-kabupaten lainnya berhasil menunjukkan perkembangan yang signifikan

dalam mencapai sasaran-sasaran pendidikannya. Perbedaan-perbedaan dalam

distribusi guru, jumlah sekolah,mutu sarana dan prasarana, serta berbagai

sumber daya lainnya mungkin merupakan faktor-faktor yang menyebabkan

adanya perbedaan pencapaian tersebut. Kurangnya keselarasan antara

perencanaan dan penyusunan anggaran serta inefisiensi dalam alokasi

anggaran juga dapat menghambat pencapaian seperti yang diharapkan.

(5)

B. Tujuan Penelitian

Sebagaimana diuraikan dalam rumusan masalah, penelitian ini memiliki

beberapa tujuan yaitu:

a. Untuk menganalisis ekuitas capaian kinerja pendidikan untuk Program

Wajib Belajar Pendidikan Sembilan Tahun di Kabupaten Boyolali

ditinjau dari indikator input,output, dan pencapaian.

b. Untuk menganalisis keterkaitan indikator input kinerja pendidikan

dengan pencapaian kinerja pendidikan.

c. Untuk menganalisis keterkaitan indikator output kinerja pendidikan

dengan anggaran pendidikan.

TINJAUAN PUSTAKA 1. Penganggaran

Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak

dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran

finansial. (Mardiasmo, 2002)

2. Anggaran Pendidikan

Anggaran pendidikan merupakan rencana operasional keuangan pendidikan

yang dibuat berdasarkan estimasi pengeluaran dalam periode waktu tertentu.

3. Analisis Ekuitas

Analisis ekuitas merupakan analisis sumber-sumber daya yang dimiliki oleh

suatu entitas untuk melaksanakan suatu program kegiatan. (World Bank,

(6)

4. Capaian Kinerja Pendidikan

Kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu

kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan

visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi.

(Mahsun et al, 2006)

5. Pendidikan untuk Wajar Sembilan Tahun

Program Wajib Belajar Pendidikan Sembilan Tahun merupakan perwujudan

amanat pembukaan UUD 1945 dalam rangka mencerdasakan kehidupan

bangsa.

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kuantitatif.

Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa dokumen APBD dan data

olahan yang tersedia di DPPKAD, Disdikpora serta BPS di Kabupaten

Boyolali.

B. Populasi

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sekolah yang ada

di Kabupaten Boyolali.

C. Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua SD/MI dan

(7)

D. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari data sekunder

yang tersedia di Disdikpora, DPPKAD dan BPS di kabupaten Boyolali mulai

dari periode 2010-2011.

1. Anggaran pendidikan Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

2. Kualifikasi guru dan kepala sekolah SD, MI, SMP dan MTS, baik Negeri

maupun Swasta di Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

3. Angka tinggal kelas SD, MI, SMP dan MTS, baik Negeri maupun Swasta

di Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

4. Angka kelulusan dan jumlah siswa masuk SD, MI, SMP dan MTS, baik

Negeri maupun Swasta di Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

5. Angka putus sekolah SD, MI, SMP dan MTS, baik Negeri maupun

Swasta di Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

6. Rasio siswa, guru, dan rombel SD, MI, SMP dan MTS, baik Negeri

maupun Swasta di Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

7. Keadaan fisik SD, MI, SMP dan MTS, baik Negeri maupun Swasta di

Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

8. Angka partisipasi kasar Kabupaten Boyolali periode 2010-2011.

(8)

E. Metode Analisis Data

1. Analisis Korelasi Indikator Input kinerja pendidikan dengan Indikator Pencapaian Kinerja Pendidikan

Analisis ini digunakan untuk melihat hubungan antara input

(kualifikasi guru) dengan pencapaian (jumlah angka kelulusan). Alat yang

digunakan adalah pearson correlation dengan melihat tingkat signifikansi

korelasi pada taraf 0,01. Variabel yang digunakan dalam analisis ini

adalah kualifikasi guru dengan variabel jumlah angka kelulusan.

2. Analisis Deskriptif Keterkaitan Indikator Pencapaian Kinerja Pendidikan dengan Anggaran Pendidikan

Analisis ini digunakan untuk mendeskripsikan proses keterkaitan

antara pencapaian (jumlah angka kelulusan) dengan anggaran pendidikan

pertahun. Alat yang digunakan adalah deskriptif data. Variabel yang

digunakan dalam analisis ini adalah jumlah angka kelulusan dengan

variabel anggaran pendidikan.

3. Analisis Ekuitas Capaian Kinerja Pendidikan SD/MI dan SMP/MTS Analisis sumber-sumber daya pendidikan yang dibedakan atas

dasar indikator input, output, dan pencapaian pada capaian kinerja

Program Wajib Belajar Pendidikan Sembilan Tahun yang berfokus pada

sekolah negeri dan swasta.

a. Analisis Input

Analisis pada bagian ini mempertimbangkan kondisi fasilitas

(9)

kualifikasi guru, kualifikasi kepala sekolah, rasio

siswa-guru-rombel, keadaan fisik fasilitas sekolah, angka kecukupan anak.

b. Analisis Output

Analisis pada bagian ini menilai pencapaian output di sektor

pendidikan dengan menganalisis berbagai indikator output dari

waktu ke waktu dan membandingkan indikator-indikator tersebut

degan kabupaten-kabupaten lainnya atau rata-rata nasional. Seperti

angka parisipasi kasar dan murni, angka putus sekolah dan angka

tinggal kelas.

c. Analisis Pencapaian

Analisis pada bagian ini menilai pencapaian melalui

parameter prestasi akademis seperti angka kelulusan ujian. Analisis

tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan urutan waktu .

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Analisis Korelasi Indikator Input kinerja dengan Indikator Pencapaian kinerja

Hasil analisis korelasi menunjukkan koefisien korelasi variabel

angka kelulusan dan kualifikasi guru sebesar 0,840 dengan nilai positif dan

signifikan 0,000 pada taraf 0,01. Hasil ini menunjukkan bahwa kualifikasi

(10)

B. Hasil Deskripsi Keterkaitan Indikator Pencapaian kinerja dengan Anggaran Pendidikan

Hasil penelitian deskriptif menunjukkan bahwa data rincian APBD

untuk anggaran pendidikan mengalami kenaikan dari tahun 2010 sebesar Rp

488.210.279.000,00 meningkat menjadi Rp 624.190.762.000,00 pada tahun

2011. Dari anggaran tersebut dialokasikan untuk Program Wajib Belajar

Sembilan Tahun pada tahun dan pembiayaan program-program yang

mendukung penyelenggaraan pendidikan SD/MI dan SMP/MTS.

Peningkatan anggaran tersebut dianggarkan dengan baik pada

program-progam sekolah, sehingga dapat meningkatkan prosentase angka kelulusan

untuk SD/MI meningkat dari tahun 2010 sebesar 99,47%, dan mengalami

kenaikan tahun 2011 sebesar 99,53%, sedangkan untuk SMP/MTS

meningkat dari tahun 2010 sebesar 99,48% mengalami kenaikan pada tahun

2011 sebesar 99,65%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa anggaran

pendidikan memiliki keterkaitan dengan angka kelulusan.

C. Hasil Analisis Ekuitas Capaian Kinerja Pendidikan SD/MI dan SMP/MTS

1. Analisis Input Pendidikan SD/MI dan SMP/MTS

a. Pendidikan SD/MI

1) Kualifikasi Guru SD/MI

Capaian kinerja baik sekolah Negeri/Swasta tahun 2010 dan

2011 sudah memenuhi kualifikasi minimal akademik S1 sebesar

(11)

2) Kualifikasi Kepala Sekolah SD/MI

Capaian kinerja baik sekolah Negeri/Swasta tahun 2010 dan

2011 sudah memenuhi kualifikasi minimal akademik S1 sebesar

75%.

3) Rasio Siswa Guru-Rombel danKekurangan/Kelebihan Guru

SD/MI

Capaian kinerja baik Negeri maupun Swasta tidak efiesien,

dikarenakan menurut standar nasional seorang guru SD/MI

mengajar 28 siswa.

Capian kinerja baik Negeri maupun Swasta tidak efiesien

dikarenakan data menunjukkan 1 rombel kurang dari stndar

nasional yaitu 28 siswa.

Capaian kinerja baik Negeri maupun Swasta untuk 1 guru

terdapat 1 rombel.

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta terdapat kelebihan guru,

namun tidak dapat dipungkiri ada beberapa kecamatan yang

mengalami kekurangan guru, sehingga perlu diadakan transfer

guru dari kecamatan lain.

4) Keadaan Fisik

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta memiliki prosentase tinggi,

namun untuk keadaan fisik rusak pada sekolah Swasta cukup

(12)

5) Angka Kecukupan Jumlah Sekolah

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta memiliki kelebihan sekolah,

namun untuk SD/MI Negeri mendekati ideal.

b. Pendidikan SMP/MTS

1) Kualifikasi Guru SMP/MTS

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta tahun 2010 dan 2011 sudah

memenuhi kualifikasi minimal akademik S1 sebesar 40%.

2) Kualifikasi Kepala Sekolah SMP/MTS

Capaian kinerja baik sekolah Negeri/Swasta tahun 2010 dan

2011 sudah memenuhi kualifikasi minimal akademik S1 sebesar

75%.

3) Rasio Siswa-Guru-Rombel danKekurangan/Kelebihan Guru

SMP/MTS

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta tidak efisien, karena tidak

memenuhi standar nasional, yaitu 1 rombel terdapat 3 guru

mapel.

Capaian kinerja baik Negeri sudah memenuhi angka ideal,

namun untuk sekolah Swasta tidak efisien karena setiap rombel

kurang dari 32 siswa.

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta terdapat kelebihan guru,

namun ada beberapa kecamatan yang kekurangan guru,

(13)

4) Keadaan Fisik

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta memiliki prosentase tinggi ,

namun untuk keadaan fisik rusak pada sekolah Swasta cukup

tinggi.

5) Angka Kecukupan Jumlah Sekolah

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta menunjukkan angka ideal,

sedangkan untuk sekolah Swasta mengalami kelebihan sekolah.

2. Analisis Output Pendidikan SD/MI dan SMP/MTS

a. Pendidikan SD/MI

1) Angka Mengulang SD/MI

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta angka mengulang masih di

atas standar nasional yaitu di atas 1%.

2) Angka Putus Sekolah SD/MI

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta telah memenuhi standar

nasional yaitu di bawah 1%.

3) Angka Partisipasi Kasar SD/MI

APK mengalami penurunan, namun masih di atas 80%.

4) Angka Partisipasi Murni SD/MI

APM mengalami penurunan, namun masih di atas 80%.

b. Pendidikan SMP/MTS

1) Angka Mengulang SMP/MTS

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta angka mengulang telah

(14)

2) Angka Putus Sekolah SMP/MTS

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta telah memenuhi standar

nasional yaitu di bawah 1%.

3) Angka Partisipasi Kasar SMP/MTS

APK mengalami penurunan, namun masih di atas 80%.

4) Angka Partisipasi Murni SMP/MTS

APM mengalami penurunan, namun masih di atas 80%.

3. Analisis Pencapaian Pendidikan SD/MI dan SMP/MTS

a. Pendidikan SD/MI

1) Angka Kelulusan SD/MI

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta telah memenuhi standar

nasional yaitu di atas 90%.

b. Pendidikan SMP/MTS

1) Angka Kelulusan SMP/MTS

Capaian kinerja baik Negeri/Swasta telah memenuhi standar

nasional yaitu di atas 90%.

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kesimpulan berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan.

Adapun kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hasil analisis korelasi indikator input kinerja pendidikan (kualifikasi

(15)

statistik menunjukkan kualifikasi guru berhubungan secara positif

dengan angka kelulusan.

2. Terdapat keterkaitan angka kelulusan dengan anggaran pendidikan di

Kabupaten Boyolali, anggaran pendidikan tersebut dianggarkan dengan

baik pada program-program penyelenggaraan sekolah untuk memenuhi

terlaksananya aktifitas sekolah, sehingga secara tidak langsung dapat

meningkatkan angka kelulusan pendidikan SD/MI dan SMP/MTS tahun

2010-2011.

3. Capaian kinerja Program Wajib Belajar Pendidikan Sembilan Tahun

secara keseluruhan baik ditinjau dari indikator input,output maupun

pencapaian menunjukkan pencapaian diatas 80% atau kategori baik.

F. SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan yang telah

diambil, maka dapat dikemukakan saran bagi peneliti mendatang hendaknya

dapat meneliti lebih luas ke sejumlah kabupaten atau kota yang ada di

Indonesia agar bisa membandingkan antara satu dengan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Amaliana. Desi. 2012. Analisis belnja Publik Program Wajib Belajar Pendidikan

9 tahun dan Kinerja Pelayanan Pendidikan di Kanbupaten Boyolali.

Skripsi Sarjana (tidak dipublikasikan) Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS: Surakarta.

(16)

Fatah, Nanang. 1998. Studi Tentang Pembiayaan Pendidikan Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosda Karya .

Fattah, Nanang.2009. Ekonomi dan pembiayaan Pendidikan. Bandung: Rosda. Fatah, Nanang. 2012. Standar Pembiayaan Pendidikan. Bandung: Rosda.

Hadiyanto. 2004. Mencari Sosol Desentralisasi Manajemen Pendidikan di

Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Herwin, ST. 2012. Analisis Pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Pendidikan Dasar (Studi Kasus : Kecamatan Sangir Kabupaten Solok Selatan).

Mahsun, Mohamad, Firma Sulistyowati, Heribertus Andre Purwanegara 2006.

Akuntansi Sektor Publik, BPFE, Yogyakarta.

Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik, ANDI Yogyakarta.

Renstra Dikpora. 2009. Rencana Strategis Dinas Pendidikan, Pemuda dan

Olahraga Kabupaten Boyolali Revisi Tahun 2010 Indikatif 2011-2015.

Republik Indonesia, 2005, Peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang

Standar Nasional pendidikan, psal 62.

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 10 Tahun 2010 tentang APBN TA 2011. Republik Indonesia, 1945, Undang-Undang Dasar 1945, pasal 31.

Republik Indonesia, 1945, Undang-Undang Dasar 1945, pasal 28C ayat (1). Republik Indonesia, 2005, Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen, pasal 13.

Republik Indonesia, 1989, Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang

Sisdiknas pasal 1 ayat (10).

Republik Indonesia, 2003, Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem

pendidikan Nasional, pasal 1, 11, 12, 34, dan 49.

Sari et al, 2014. Kinerja dinas pendidikan dalam meningkatkan mutu pendidikan

(Studi Kasus pada Renstra Dinas Pendidikan Kota Malang Tahun 2009-2014). Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 1,.No. 5, Hal 1010-1015.

(17)

Suyanto, 2010. Kebijakan Pemerintah tentang Pelaksanaan Hak atas Pendidikan

Dasar Di Indonesia. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar

Menengah Kementrian Pendidikan Nasional.

Syamsudin, 2009. Pengaruh Biaya Pendidikan Terhadap Mutu Hasil Belajar

melalui Mutu Proses Belajar Mengajar Pada Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Asahan. Program Magister Sains – Sekolah Pasca

Sarjana Akuntansi Universitas Sumatera Utara. Tesis.

Wakhinuddin S. 2009. Angka Partisipasi dalam Pendidikan. http://wakhinuddin.wordpress.com

Wibowo, Agus. 2013. Akuntabilitas Pendidikan Untuk Meningkatkan Mutu dan

Citra Sekolah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Widiyanto, Joko. 2010 . Buku SPSS For Windows Untuk Analisis Data Statistik dan Penelitian. Universitas Muhamadiyah Surakarta.

World Bank. 2008. Investasi dalam Pendidikan pada Tingkat Kabupaten/Kota di

Indonesia. Jakarta.

World Bank. 2009. BEC-TF Pedoman Praktis: Analisis Belanja Publik

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...