Pemahaman Nilai-Nilai Multikultural Dalam Pembelajaran Sosiologi Untuk Meningkatkan Toleransi Siswa di SMA Taruna Bakti Bandung.

25 

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Subjek Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengkaji tentang pemahaman siswa tentang

nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran sosiologi untuk meningkatkan

toleransi siswa. Untuk mendapatkan data yang akurat dan faktual maka

penelitian ini berlangsung atau berlokasi di SMA Taruna Bakti Jl. L.L.

R.E. Martadinata No. 52 Bandung. Alasan pemilihan lokasi ini, karena

siswa-siswi SMA Taruna Bakti mempunyai latar belakang etnis, agama

dan budaya yang beragam sehingga peneliti ingin melihat bagaimana

pemahaman nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran sosiologi untuk

meningkatkan sikap toleransi siswa di sekolah tersebut.

2. Subjek penelitian

Subjek penelitian merupakan pihak-pihak yang menjadi sasaran

penelitian atau sumber yang dapat memberikan informasi. Subjek dalam

penelitian ini adalah siswa-siswi beserta dewan guru yang ada di SMA

Taruna Bakti Bandung. Jaringan informasi yang diberikan oleh subjek

penelitian diberikan dengan teknik purposive sampling. Teknik ini adalah

pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Misalnya orang

tersebut yang dianggap tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin

dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi

objek atau situasi sosial yang diteliti.

Untuk penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan saat

peneliti memasuki lapangan dan selama penelitian berlangsung. “Dengan

cara, peneliti memilih orang tertentu yang dipertimbangkan akan

memberikan data yang diperlukan, selanjutnya berdasarkan data tersebut

peneliti dapat menetapkan lainnya yang dipertimbangkan akan

(2)

Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah :

a. Wakasek bidang kesiswaan ( 1 orang)

b. Guru mata pelajaran sosiologi (1 orang)

c. Siswa SMA Taruna Bakti (10 siswa)

Penelitian akan melakukan penggalian data sedikit demi sedikit

yang lama kelamaan semakin dalam. Hal ini dilakukan agar ada

perbandingan antara pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain.

Selain itu juga penulis memperoleh informasi dari informan lain yang

dapat menambah dan memperkuat data. Dengan demikian akan diperoleh

gambaran lengkap tentang pemahaman nilai-nilai multikultural dalam

meningkatkan toleransi siswa.

B. Pendekatan dan Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Perhatian penelitian adalah tentang bagaimana pemahaman

nilai-nilai multirukultural yang diajarkan di sekolah dalam materi pembelajaran

sosiologi oleh guru terhadap cara siswa bersosialisasi dan menyesuaikan

diri dalam lingkungannya, terutama dilihat pada saat mereka melakukan

interaksi dengan teman bermain yaitu cara mereka bergaul dan bagaimana

memilih teman. Pada anak usia sekolah yang cenderung memiliki rasa

ingin tahu yang sangat besar mereka akan berteman dengan orang yang

dapat mengerti dan memahami mereka sehingga mereka akan berteman

dengan orang-orang itu saja, hal ini akan melahirkan kelompok-kelompok

yang akan menjadi jurang pemisah antara mereka. Keadaan seperti ini

akan membuat mereka untuk tidak saling mengenal satu sama lain

sehingga mereka kurang peduli terhadap lingkungan dan teman sekitarnya.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif.

(3)

“penelitian kualitatif adalah metode-metode untuk mengekplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang

dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan”.

Penelitian kualitatif adalah suatu cara yang digunakan untuk

menggali dan mengekplorasi suatu keadaan atau fenomena sosial yang

terjadi di masyarakat. Penelitian yang menggunakan penelitian kualitatif

bertujuan untuk memahami objek yang diteliti secara mendalam.

Punch dalam Creswell (2010, hlm. 95-96) menyebutkan ‘dalam

penelitian kualitatif peneliti sering menggunakan teori sebagai poin akhir

penelitian dengan menjadikan teori sebagai poin akhir penelitian, berarti

peneliti menerapkan proses penelitiannya secara induktif yang berlangsung

mulai dari data, lalu ke tema umum’.

Bagan 3.1

Logika Pendekatan Induktif

Sumber : Creswell tahun 2010

Peneliti mengungkapkan generalisasi-generalisasi atau teori-teori dari literatur-literatur dan

pengalaman-pengalaman pribadinya.

Peneliti mencari pola-pola umum, generalisasi-generalisasi atau teori-teori dari tema-tema atau kategori-kategori yang

dibuat.

Peneliti menganalisis data berdasarkan tema-tema dan kategori-kategori.

Peneliti mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka pada partisipan dan merekam catatan-catatan lapangan.

(4)

Berdasarkan hal tersebut secara metodologis penelitian ini

menggunakan pendekatan kualitatif. Dipilihnya pendekatan kualitatif

dalam penelitian ini didasarkan pada dua alasan. Pertama, permasalahan

yang dikaji dalam penelitian ini mengenai pemahaman nilai-nilai

multikultural dalam pembelajaran sosiologi dilihat dari proses belajarnya

ini membutuhkan sejumlah data yang sifatnya aktual dan konseptual.

Kedua, pemilihan pendekatan ini didasarkan pada keterkaitan masalah

yang dikaji dengan sejumlah data primer dari subjek penelitian yang tidak

dapat dipisahkan dari latar alamiahnya. Disamping itu pendekatan

kualitatif mempunyai adaptabilitas yang tinggi sehingga memungkinkan

penulis senantiasa menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah-ubah

yang dihadapi dalam penelitian ini.

2. Metode Penelitian

Untuk mendapatkan data guna menjawab permasalahan seperti

yang dikemukakan di atas, peneliti menggunakan metode studi kasus.

Mulyana (2013, hlm. 201) berpendapat bahwa “studi kasus adalah uraian

dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu,

suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program, atau suatu situasi sosial”.

Selanjutnya Myers (dalam Sarosa, 2012, hlm. 117) menjelaskan bahwa ‘metode studi kasus digunakan untuk meneliti kejadian nyata dimasa kini (komtemporer) dimana peneliti tidak dapat mengendalikannya

(tidak seperti dalam eksperimen) dan mungkin saja semua kejadian yang diamati terjadi dalam waktu yang bersamaan’.

Sejalan dengan hal tersebut Lincoln dan Guba ( dalam Mulyana,

2013, hlm. 201) mengemukakan beberapa keuntungan dan keistimewaan

studi kasus meliputi hal-hal berikut :

a. Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emi, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti.

(5)

c. Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden.

d. Studi kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trust-worthness). e. Studi kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi

penilaian atas transferabilitas.

f. Studi kasus terbuka bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomena dalam konteks tersebut.

Dengan demikian, maka metode studi kasus adalah suatu metode

yang mampu menggambarkan situasi atau kejadian yang ada pada masa

sekarang. Dengan menggunakan metode ini maka akan dapat diperoleh

informasi secara lengkap berkenaan dengan masalah yang hendak diteliti

dengan menggunakan langkah-langkah yang tepat.

Data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan

angka-angka data-data tersebut dapat berasal dari naskah wawancara,

catatan lapangan, videotape, foto, dokumen pribadi, catatan atau memo dan

dokumen resmi lainnya. Untuk memberi gambaran yang lebih jelas

tentang situasi-situasi sosial.

C. Penjelasan Istilah

1. Pendidikan Multikultural

Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang

diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan

perbedaan-perbedaan kultural yang ada pada peserta didik, seperti

perbedaan etnis, agama, bahasa, gender, kelas sosial, ras, kemampuan dan

umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah.

2. Toleransi

Perwujudan sikap yang mengakui dan menghormati hak-hak asasi

manusia tanpa melihat latar belakang dan budaya yang dimiliki sehingga

tercipta kedamaian dan kerukunan.

3. Pembelajaran sosiologi

(6)

budaya dalam konteks masyarakat sebagai objek pembelajaran dan

mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami berbagai fenomena

dalam masyarakat.

D. Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono (2005, hlm. 59), menyatakan bahwa “dalam

penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah

peneliti itu sendiri”. Selanjutnya Nasution (dalam Sugiyono, 2005, hlm.

60-61), menyatakan bahwa:

Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrument penelitian utama. Alasannya ialah bahwa segala sesuatu belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya.Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya

Nasution (dalam Sugiyono, 2010, hlm. 61) peneliti sebagai

instrumen penelitian serasi untuk penelitian serupa karena memiliki

ciri-ciri sebagai berikut :

1. Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian;

2. Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus; 3. Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada suatu instrumen

berupa test atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia;

4. Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat dipahami dengan pengetahuan semata. Untuk memahaminya kita perlu sering merasakannya, menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita;

5. Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan arah pengamatan, untuk mentest hipotesis yang timbul seketika;

(7)

menggunakan segera sebagai balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan dan pelakan;

7. Dalam penelitian dengan meggunakan test atau angket yang bersifat kuantitatif yang diutamakan adalah respon yang dapat dikuantifikasi agar dapat diolah secara statistik, sedangkan yang menyimpang dari itu tidak dihiraukan. Dengan manusia sebagai instrumen, respon yang aneh, yang menyimpang justru diberi perhatian. Respon yang lain daripada yang lain, bahkan yang bertentangan dipakai untuk mempertinggi tingkat kepercayaan dan tingkat pemahaman mengenai aspek yang diteliti.

Dalam penelitian kualitatif pada awalnya dimana permasalahan

belum jelas dan pasti, maka yang menjadi instrumen adalah peneliti

sendiri. Tetapi setelah masalahnya yang akan dipelajari jelas, maka dapat

dikembangkan suatu instrumen. Dalam penelitian ini akan

mengembangkan instrumen penelitian berupa pedoman wawancara,

pedoman observasi dan pedoman dokumentasi.

1. Penggunaan wawancara dalam penelitian kualitatif yaitu untuk

menggali informasi secara mendalam dari responden. Wawancara

digunakan untuk meneliti hal-hal yang tidak nampak secara

mendasar yang dilakukakan selama observasi berlangsung. Sehingga

data yang di dapat lebih akurat dan mendukung hasil penelitian.

2. Pengunaan observasi dalam penelitian adalah untuk mengamati

kegiatan secara keseluruhan selama proses penelitian berlangsung.

Observasi yaitu mengamati setiap kegiatan yang mendukung

pelaksanaan penanaman nilai-nilai multikultural di SMA Taruna

Bakti. Observasi juga digunakan untuk mendapatkan gambaran

umum tentang kondisi sosial di SMA Taruna Bakti.

3. Penggunaan dokumentasi dalam penelitian ini yaitu untuk

mengamati dokumen-dokumen tertulis, foto-foto kegiatan dan data

lain yang mendukung proses penelitian yang berkaitan dengan

(8)

E. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Sebagai metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai

pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara

sistematik. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas

kepada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak

langsung.

Bungin (2008, hlm. 118) dalam melakukan observasi peneliti

menggunakan pancaindra untuk mengamati seluruh aktivitas penelitian.

mengatakan bahwa :

Observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindra mata serta dibantu dengan pancaindra lainnya ... seseorang yang melakukan pengamatan tidak selamanya menggunakan pancaindra mata saja, tetapi selalu mengaitkan apa yang dilihatnya dengan apa yang dihasilkan oleh pancaindra lainnya; seperti apa yang ia dengar, apa yang ia cicipi, apa yang ia cium dari penciumannya, bahkan dari apa yang ia rasakan dari sentuhan-sentuhan kulitnya.

Nasution (dalam Sugiyono, 2010, hlm. 64) menyatakan bahwa

Observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmu hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu dikumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil (proton dan elektron) maupun yang snagat jauh (benda ruang angkasa) dapat diobservasi dengan jelas.

Dalam melakukan penelitian tentang pemahaman nilai-nilai

multikultural dalam pembelajaran sosiologi untuk meningkatkan sikap

toleransi siswa di SMA Taruna Bakti peneliti melakukan observasi

terhadap keadaan di sekolah seperti lingkungan fisik, program-program

sekolah, RPP dan model pembelajaran yang digunakan serta

dokumen-dokumen sekolah, dan aktivitas yang terjadi di sekolah yang mendukung

data dalam penelitian ini.

Observasi ini dilakukan dengan teknik observasi non partisipan,

(9)

kedalam objek pengamatan, akan tetapi tetap memperoleh gambaran

mengenai objek yang dituju.

Objek penelitian dalam penelitian kualitiatif yang diobservasi menurut Spradley (dalam Sugiyono, 2010, hlm. 68) dinamakan “situasi sosial, yang terdiri atas tiga komponen yaitu place (tempat), actor (pelaku) dan

activities (aktivitas)”.

1. Place, atau tempat dimana interaksi dalam situasi sosial sedang berlangsung

2. Actor, pelaku atau orang-orang yang sedang memainkan peran tertentu

3. Activity atau kegiatan yang dilakukan oleh aktor dalam situasi sosial yang sedang berlangsung

2. Wawancara

Bungin (2001, hlm. 155) menyebutkan “wawancara adalah proses percakapan dengan maksud untuk mengonstruksi mengenai orang,

kejadian, kegiatan, organisasi, motivasi, perasaan dan sebagainya yang

dilakukan dua pihak yaitu pewancara (interviewer) yang mengajukan

pertanyaan dengan orang yang di wawancarai (interviewee)”. hal ini

senada dengan yang diungkapkan oleh Moleong (2012, hlm. 186) bahwa “wawancara adalah Percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewancara (interviewer) yang mengajukan

pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu”.

Silverman (dalam Sarosa, 2012, hlm. 45) dalam wawancara

peneliti dapat mengajukan pertanyaan mengenai :

a. Fakta ( misalnya mengenai data diri, geografis, demografis); b. Kepercayaan dan perspektif seseorang terhadap suatu fakta; c. Perasaan;

d. Perilaku saat ini dan masa lalu; e. Standar normatif;

f. Mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu.

Teknik wawancara memungkinkan meningkatnya fleksibilitas dari

pada angket, dan oleh sebab itu berguna untuk persoalan-persoalan yang

(10)

digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti

untuk melakukan studi pendahuluan terhadap permasalahan sebagai

langkah awal dalam penelitian. Wawancara juga dilakukan untuk

mengetahui hal-hal seperti ide-ide, pendapat, informasi, data, maupun

wawasan yang lebih mendalam dari responden terkait permasalahan yang

dihadapi, kita bisa mengungkap kebenaran adanya masalah dimulai dari

berkomunikasi dengan beberapa siswa dan guru yang ada di sekolah.

3. Studi Dokumentasi

“Studi dokumentasi adalah mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi sesuai dengan masalah

penelitian, seperti peta, data statistik, jumlah dan nama pegawai, data

siswa, data penduduk; grafik, gambar, surat-surat, foto, akte, dsb”. (Danial,

2009 hlm. 79).

Dalam mengumpulkan data guna keperluan penelitian peneliti

dapat melakukan studi domentasi seperti meneliti dokumen siswa yang di

dalamnya memuat data-data siswa yang dibutuhkan gunakan mendapatkan

data yang lebih akurat seperti biodata siswa yang berisikan latar belakang

siswa sehingga didapatkan informasi berkaitan dengan masalah yang

sedang diteliti.

Studi dokumentasi ini dilakukan untuk mendapatkan dokumen

sebagai berikut :

a. Profil sekolah

b. Data siswa

c. Dokumen kurikulum sekolah

d. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sosiologi

4. Catatan Lapangan (Field Note)

Peneliti melakukan penelitian dengan cara membuat catatan

singkat pengamatan tentang segala peristiwa yang dilihat dan didengar

selama penelitian berlangsung sebelum ditulis kembali kedalam catatan

(11)

J. Moleong, 2012, hlm. 209) yang mengemukakan bahwa : ‘Catatan (field

note) adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat dan dialami,

dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data

dalam penelitian kualitatif’. Catatan lapangan dapat memuat observasi,

perasaan, reaksi, penafsiran, refleksi dan penjelasan.

F. Penyusunan Alat dan Pengumpulan Data

Untuk mempermudah peneliti dalam mengumpulkan data hasil

penelitian berupa hasil observasi dan hasil wawancara maka diperlukan

penyusunan alat untuk mengumpulkan data. Penyusunan alat dan

pengumpulan data dilakukan sebelum peneliti terjun langsung ke

lapangan. Salah satu tujuan penyusunan alat dan pengumpulan data adalah

untuk membantu peneliti dalam mengumpulkan data yang benar-benar

dibutuhkan dalam penelitian ini. Penyusunan alat dan pengumpulan data

dalam penelitian ini, yaitu :

1. Penyusunan Kisi-Kisi Penelitian

Untuk mempermudah peneliti dalam mengambil data maka peneliti

menyusun kisi-kisi penelitian. Kisi-kisi penelitian ini dijabarkan dalam

bentuk pertanyaan dengan tujuan untuk mempermudah dalam alat

pengumpulan data sehingga data yang di peroleh benar-benar data yang

valid.

2. Penyusunan Alat Pengumpul Data

Dalam penelitian ini yang digunakan sebagai alat pengumpul data

adalah observasi dan wawancara yang dilakukan di SMA Taruna Bakti

Bandung.

3. Penyusunan Pedoman Wawancara

Sebelum melakukan wawancara kepada responden perlu kiranya

disusun pedoman wawancara. Penyusunan pedoman wawancara untuk

(12)

Pedoman wawancara berupa penjabaran pertanyaan yang di ajukan kepada

pihak-pihak yang dianggap dapat mewakili dalam penelitian ini.

4. Penyusunan Pedoman Observasi

Pedoman observasi perlu disusun sebelum peneliti melakukan

penelitian dan pengamatan hal ini dilakukan agar penelitian yang

dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah di tetapkan.

G. Pengolahan dan Analisis Data

Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2008, hlm. 246),

mengemukakan bahwa “aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan

secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas.

Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan

conclusion drawing/verification”.

1. Data Reduction (reduksi data)

Reduksi data adalah proses analisis yang dilakukan untuk

menajamkan, menggolongkan, mengarahkan hasil penelitian dengan

menfokuskan pada hal-hal yang dianggap penting oleh peneliti, dengan

kata lain reduksi data bertujuan untuk memperoleh

pemahaman-pemahaman terhadap data yang telah terkumpul dari hasil catatan lapangan

dengan cara merangkum mengklasifikasikan sesuai masalah dan

aspek-aspek permasalahan yang diteliti. Setelah melakukan wawancara dengan

beberapa informan, data yang diperoleh kemudian disalin kedalam bentuk

pertanyaan jawaban kemudian dilakukan reduksi data dengan

mengelompokkan data yang mendukung hasil penelitian sehingga

diperoleh gambaran tentang pemahaman nilai-nilai multikultural di SMA

Taruna Bakti Bandung.

2. Data Display (penyajian data)

Penyajian data (data display) adalah sekumpulan informasi

tersusun yang akan memberikan gambaran penelitian secara menyeluruh

(13)

mencari pola hubungannya.

Penyajian data yang disusun secara singkat, jelas dan terperinci

namun menyeluruh akan memudahkan dalam memahami

gambaran-gambaran terhadap aspek-aspek yang diteliti baik secara keseluruhan

maupun bagian demi bagian. Penyajian data selanjutnya disajikan dalam

bentuk uraian atau laporan sesuai dengan data hasil penelitian yang

diperoleh.

3. Conclusion Drawing Verification

Conclusion drawing verification merupakan upaya untuk mencari

arti, makna, penjelasan yang dilakukan terhadap data-data yang telah

dianalisis dengan mencari hal-hal penting. Kesimpulan ini disusun dalam

bentuk pernyataan singkat dan mudah dengan mengacu kepada tujuan

penelitian.

Demikian prosedur yang dilakukan peneliti dalam pelaksanaan

penelitian ini. Dengan melakukan tahapan-tahapan ini diharapkan

penelitian yang dilakukan ini dapat memperoleh data yang memenuhi

kriteria suatau penelitian yaitu derajat kepercayaan, maksudnya data yang

diperoleh dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan kebenarannya.

H. Pengujian Keabsahan Data

sugiyono (2010, hlm. 117-131) menjelaskan untuk mencari

keabsahan hasil penelitian menggunakan pengujian validitas dan reabilitas

penelitian kualitatif yang dikemukakan oleh Sugiyono. Yakni uji

credibility (validitas internal), dependability, dan confirmability

(obyektivitas). Untuk penjelasan dari masing-masing pengujian tersebut

akan dijabarkan dibawah ini :

1. Pengujian Kredibilitas

Pengujian kredibilitas penelitian ini dengan menggunakan

pendekatan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan,

(14)

pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi dan member chek

adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai

dengan apa yang diberikan oleh pemberi data. Apabila data yang

ditemukan disepakati oleh pemberi data berarti data tersebut valid.

Sehingga semakin kredibel/dipercaya, tetapi apabila data yang

ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati

oleh pemberi data, maka peneliti perlu melakukan diskusi dengan

pemberi data, dan apabila perbedaan tajam, maka peneliti harus

merubah temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang

diberikan oleh pemberi data.

a. Perpanjangan pengamatan

Data yang diperoleh selama penelitian akan dikonfirmasi

kembali dengan cara peneliti mendatangi tempat penelitian dan

melakukan wawancara dengan orang yang dulu pernah di

wawancarai atau dengan responden yang baru, hal ini

dimaksudkan agar data yang telah diperoleh dapat dipastikan

kebenarannya. Dengan perpanjangan pengamatan hubungan

yang terjalin antara peneliti dan respon sudah tidak ada jarak

sehingga apabila peneliti melakukan wawancara kembali data

yang di peroleh sudah tidak ada lagi keraguan artinya data yang

diperoleh sudah benar. Bila data yang diperoleh selama ini

setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data

lain ternyata tidak benar, maka peneliti melakukan pengamatan

lagi yang lebih luas dan mendalam sehingga memperoleh data

yang dapat dipastikan kebenarannya.

b. Meningkatkan ketekunan

Dalam penelitian kualitatif, meningkatkan ketekunan

sangatlah penting. Hal ini dikarenakan bahwa data yang

diperoleh selama penelitian harus di cek dan dicermati kembali.

(15)

tugas yang sudah selesai di kerjakan. Apakah masih ada salah

kata atau ada yang harus di evaluasi kembali.

Sebagai bekal untuk meningkatkan ketekunan adalah

dengan membaca banyak referensi buku maupun hasil penelitian

ataupun dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan

yang kita teliti. Dengan banyak membaca referensi maka,

wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam sehingga dapat

digunakan untuk mengecek kembali data yang sudah ditemukan.

c. Triangulasi

Tringualasi adalah pengecekan data dengan berbagai

sumber, berbagai cara dan berbagai teknik. Tringulasi data yaitu

menguji kredibilitas data dengan melakukan pengecekan

kembali. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan

cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik

yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan teknik

wawancara, lalu dicek kembali dengan teknik observasi dan

studi dokumentasi. Bila data yang diperoleh berbeda setelah

melakukan pengecekan kembali, peneliti harus

mendiskusikannya dengan sumber data yang bersangkutan atau

yang lain, untuk memastikan data mana yang dianggap benar.

Atau mungkin semuanya benar dengan sudut pandang yang

berbeda-beda.

d. Menggunakan member check

Member check adalah proses pengecekan data yang

diperoleh peneliti kepada pemberi data. Tujuan member check

adalah untuk mengetahui sejauh mana data yang diberikan

sesuai dengan informasi yang diberikan oleh pemberi data,

apabila data yang diberikan disepakati oleh seluruh pemberi data

maka, data yang diperoleh sudah valid atau benar. Apabila data

(16)

dilapangan selama penelitian berlangsung maka peneliti

mendiskusikan dengan pemberi data, jika ditemukan hasil yang

jauh berbeda, maka peneliti harus merubah temuannya sesuai

dengan data yang ditemukan dilapangan.

Pelaksanaan member check dapat dilakukan setelah satu

periode pengumpulan data selesai, atau setelah peneliti

mendapatkan kesimpulan. Caranya adalah peneliti datang

kembali ke pemberi data dan melakukan diskusi tentang temuan

yang berbeda, setelah melakukan diskusi makan akan disepakati

bahwa data yang diperoleh dapat ditambah, dikurangan atau

ditolak oleh pemberi data. Setelah disepakati bersama, maka

para pemberi data diminta untuk menandatangi, supaya lebih

otentik. Selain itu juga sebagai bukti bahwa peneliti telah

melakukan member check.

2. Pengujian Dependability

Pengujian depenbility dilakukan dengan melakukan audit

terhadap keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh

auditor yang independent, atau pembimbinguntuk mengaudit

keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukan penelitian. Bagaimana

peneliti mulai menentukan masalah atau fokus penelitian, memasuki

lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data,

melakukan uji keabsahan data, sampai membuat kesimpulan harus

dapat ditunjukkan oleh peneliti.

3. Pengujian Confirmability

Pengujian confirmability mirip dengan uji dependability,

sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan. Menguji

confirmability berarti menguji hasil penelitian, dikaitkan dengan

proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari

proses penelitian yang di lakukan, maka peneliti tersebut telah

(17)

I. Tahap- Tahap Penelitian

Tahap-tahap penelitian merupakan serangkaian proses yang

dilakukan oleh peneliti dari awal sampai melakukan penelitian. Tahap-

tahap tersebut sebagai berikut :

1. Tahap Pra- Penelitian

Pada tahap ini, setelah menentukan judul, menentukan fokus

masalah, merumuskan masalah dan membuat proposal, peneliti

melakukan :

a. Studi pendahuluan untuk mendapatkan gambaran mengenai

pembelajaran berbasis multikultural pada subjek penelitian.

b. Menentukan lokasi penelitian.

c. Membuat kerangka berfikir dan mulai menyusun skripsi BAB I

sampai BAB III.

d. Membuat instrumen penelitian.

e. Membuat surat izin penelitian kepada Jurusan Pendidikan

Sosiologi yang kemudian diteruskan kepada bidang akademik

FPIPS UPI. Selanjutnya mengajukan permohonan izin penelitian

kepada Direktorat Akademik UPI.

2. Tahap Penelitian

Setelah tahap pra- penelitian selesai, peneliti melanjutkan penelitian

ke proses penelitian untuk mendapatkan data dari subjek yang akan

diteliti. Langkah- langkah yang di lakukan adalah :

a. Menghubungi pihak Humas SMA Taruna Bakti Bandung untuk

meminta Izin penelitian.

b. Menghubungi guru mata pelajaran sosiologi untuk meminta izin.

c. Menghubungi dan melakukan wawancara kepada Kepala Sekolah

SMA Taruna Bakti Bandung.

d. Menghubungi dan melakukan wawancara kepada wakasek bidang

(18)

e. Menghubungi dan melakukan wawancara kepada guru mata

pelajaran sosiologi SMA Taruna Bakti Bandung.

f. Menghubungi dan melakukan wawancara kepada siswa SMA

Taruna Bakti Bandung.

g. Melakukan observasi pembelajaran sosiologi di SMA Taruna

Bakti Bandung.

h. Melakukan dan meminta dokumentasi juga membuat catatan yang

diperlukan untuk menunjang data penelitian dan meminjam

dokumen tertulis sekeolah seperti RPP pembelajaran Sosiologi

dan dokumen data siswa serta profil sekolah SMA Taruna Bakti

Bandung.

J. Isu Etik

Penelitian yang dilakukan di SMA Taruna Bakti yang berjudul “Pemahaman Nilai-Nilai Multikultural dalam Pembelajaran Sosiologi untuk Meningkatkan Toleransi Siswa di SMA Taruna Bakti Bandung”. Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman

siswa tentang nilai-nilai multikultural untuk meningkat sikap toleransi

siswa. Visi dan Misi SMA Taruna Bakti merupakan sekolah pembauran,

karena memiliki latarbelakang siswa yang berasal dari suku, agama, dan

adat istiadat yang berbeda. Pentingnya penanaman nilai-nilai multikultural

untuk meningkatkan toleransi siswa agar tidak terjadi kesalapahaman yang

dapat memicu lahirnya konflik sosial antar agama, suku dan budaya.

Penelitian ini tidak bermaksud untuk merugikan pihak manapun, baik

(19)

BAB V

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Setelah penulis menyampaikan pemaparan hasil penelitian dan

pembahasan hasil penelitian, maka skripsi yang penulis beri judul “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural dalam Pembelajaran Sosiologi untuk Meningkatkan Toleransi Siswa Di SMA Taruna Bakti Bandung”, dapat

disimpulkan sebagai berikut :

1. Muatan nilai-nilai multikultural yang terkandung dalam materi

pembelajaran sosiologi di SMA Taruna Bakti Bandung adalah sikap saling

menghargai, saling menghormati, toleransi, sikap adil dan tidak

diskriminasi. Sebelum melaksanakan proses pembelajaran guru terlebih

dahulu membuat dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

yang mencerminkan penanaman nilai-nilai multikultural. Salah satu model

pembelajaran yang mendukung penanaman nilai-nilai multikultural dalam

pembelajaran sosiologi adalah dengan menggunakan model pembelajaran

Contextual Teaching and Learning (CTL). Tujuan penanaman nilai-nilai

multikultural dalam pembelajaran sosiologi agar siswa dapat menghargai

setiap perbedaan yang ada dalam masyarakat pada umumnya, mengingat

bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang memiliki

keanekaragaman budaya yang kaya.

2. Implementasi materi mata pelajaran sosiologi terkait nilai-nilai

multikultural di SMA Taruna Bakti Bandung, dapat dilihat dari

penyampaian materi pembelajaran oleh guru yaitu dengan mengaitkannya

dengan kehidupan yang terjadi di masyarakat seperti materi permasalahan

sosial, guru mengaitkannya dengan masalah kemiskinan yang terjadi di

masyarakat dengan metode ini, tidak hanya meningkatkan pengetahuan

siswa tetapi meningkatkan kemampuan siswa dalam mengatasi

permasalahan tersebut dan mereka dapat mengimplementasikannya

(20)

sosiologi terkait nilai-nilai multikultural, dapat terlihat dari bagaimana

sikap dan tingkah laku siswa di dalam kelas maupun di luar kelas. Pada

saat proses pembelajaran berlangsung, salah satu cara yang dilakukan agar

proses pembelajaran tidak monoton adalah dengan menggunakan model

dan metode pembelajaran yang menarik, guru tidak hanya terus menerus

ceramah di depan kelas tetapi mengajak siswa untuk berpikir kritis,

sehingga metode dan media yang digunakan sudah mulai bervariasi,

diantaranya penggunaan LCD untuk menayangkan video-video, gambar

dll, dan disajikan dengan metode presentasi. Dengan presentasi siswa

dilatih untuk dapat berbicara didepan orang banyak, bagaimana mereka

dapat menerima kritikan dan menghargai setiap aspirasi yang disampaikan

oleh temannya.

3. Penanaman nilai-nilai multikultural dalam pembelajaran sosiologi dapat

meningkatkan sikap toleransi siswa, meskipun perubahan sikap yang

ditunjukkan tidak begitu berarti karena sikap dan watak yang ada dalam

diri siswa lebih besar dipengaruhi oleh interaksi yang dihadapinya dalam

kehidupan bermasyarakat. Perubahan sikap yang terjadi karena adanya

rangsangan dan stimulus yang diberikan, rangsangan ini mengandung

harapan bagi siswa, biasanya harapan ini agar mereka bisa lebih baik

kedepannya. Setelah guru memberikan rangsangan atau stimulus tentang

sikap toleransi, siswa berpikir manfaat dari sikap toleransi tersebut dan

menyadari bahwa sikap intoleransi yang mereka lakukan terhadap orang

lain dapat menyakiti dan melukai perasaan orang tersebut, bahkan sikap

intoleransi ini dapat berujung konflik. Pada saat proses pembelajaran

berlangsung suasana saling menghargai dan menghormati sudah terasa

meskipun belum terlalu kondusif, saat presentasi siswa dibagi kedalam

beberapa kelompok, guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk

memilih teman kelompoknya. Dalam menentukan teman kelompok, semua

siswa dapat berkelompok dengan siapa saja tanpa menghiraukan

latarbelakang yang mereka miliki, asalkan orang yang mereka ajak untuk

(21)

cenderung bergabung dengan orang yang sudah dekat dengan mereka,

alasanya mereka sudah saling mengenal karakter masing-masing sehingga

tidak perlu melakukan penyesuaian kembali. Interaksi yang terjalin antara

guru dengan siswa, siswa dengan siswa sudah sangat baik, pada saat jam

istirahat mereka saling berbaur, tidak hanya dengan teman sekelasnya

tetapi juga dengan teman-teman dari kelas lain sehingga tidak terlihat ada

jarak yang dilatarbelakangi oleh perbedaan agama, ras, suku dan budaya.

4. Hambatan dalam penanaman nilai-nilai multikultural adalah tidak adanya

kurikulum khusus mengenai pendidikan multikultural di sekolah, sehingga

tidak ada wadah yang menaungi penanaman nilai-nilai multikulral di

sekolah, untuk mengatasi hal ini guru berusaha menyisipkan nilai-nilai

multikultural kedalam materi belajar, meskipun tanpa disadari bahwa

mereka sedang menanamkan nilai-nilai multikultural. Hambatan lain yang

dihadapi adalah kondisi siswa dan keterbatasan ilmu pengetahuan,

seringkali menjadi perdebatan yang didasarkan oleh emosi pada saat

presentasi. Faktor pendukung penanaman nilai-nilai multikultural adalah

terjadinya keseimbangan dan kerjasama antara sarana dan prasarana,

kurikulum, kemampuan guru dan siswa, seluruh aspek ini sudah

terintegrasi dengan baik. Disamping itu ada beberapa program sekolah

yang mendukung penanaman nilai-nilai multikultural di sekolah yaitu,

dengan mengadakan acara keagamaan seperti pesantren kilat ramadhan,

Natal, kerja bakti dan memberikan bantuan sosial ke panti asuhan. Seluruh

siswa dapat bekerjasama tanpa membeda-bedakan satu sama lain.

B. Impikasi dan Rekomendasi

Dengan melihat hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian,

maka penulis memberikan saran sebagai upaya konstruktif demi penelitian

yang akan dilakukan selanjutnya. Adapun saran penulis yaitu :

(22)

Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Bandung,

diharapkan mengintruksi kepada seluruh sekolah untuk melaksanakan

pembelajaran berbasis multikultural di sekolah, dari tingkat SD, SMP dan

SMA. Dalam pelaksanaannya peran pemerintah sebagai pengawas

jalannya program pendidikan multikultural, mengingat nilai-nilai

pendidikan multikultural sangat perlu di tanamkan kepada siswa-siswi

agar mereka menghargai dan menghormati setiap perbedaan kebudayaan

yang ada di masyarakat.

2. SMA Taruna Bakti

Dalam menanamkan nilai-nilai multikultural sekolah hendaknya

dapat berperan aktif untuk membuat program-program sekolah yang

menunjang penanaman nilai-nilai multikultural, SMA Taruna Bakti adalah sekolah pelopor “Pembauran” untuk mewujukan cita-cita tersebut perlu diadakannya program pendidikan multikultural yang lebih kondusif,

teratur dan terarah sehingga diperlukan koordinasi yang baik dengan

seluruh administrasi sekolah baik pihak kurikulum, staf guru dan siswa.

Untuk mendukung penanaman nilai-nilai multikultural di sekolah, pihak

sekolah disarankan untuk membuat slogan-slogan yang berisikan

nilai-nilai multikultural disetiap ruang terbuka yang dapat dilihat oleh siswa, hal

ini akan memicu semangat siswa untuk menerapkan nilai-nilai

multikultural dalam diri mereka.

3. Pendidikan Sosiologi

Sebagai calon pendidik, guru sosiologi hendaknya dapat

mengembangkan pembelajaran berbasis multikultural kepada siswa,

dengan menggunakan metode dan model pembelajaran yang kreatif dan

inovatif sehingga suasana belajar tidak monoton dan siswa dapat

(23)

4. Peneliti Selanjutnya

Bagi peneliti selanjutnya yang berniat untuk meneliti objek yang

sama mengenai pemahaman nilai-nilai multikultural hendaknya meluaskan

objek kajian tidak hanya pada satu nilai saja yaitu toleransi tetapi lebih

diperluas mengingat tidak hanya sikap toleransi yang harus ditanamkan

kepada siswa tetapi sikap saling menghargai, saling menghormati, adil dan

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Buku :

Aloliliweri. (2011). Gatra-gatra Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.

Azwar, S. (1995). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Putaka Pelajar.

Bungin, Burhan. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Bungin, Burhan. (2008). Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana Prenada Media Grup.

Creswell, J.W. (2010). Research Design : Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed. Yogyakarta : Pustaka pelajar.

Danial, Endang.(2009). Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan.

Gerungan, W. (2009). Psikologi Sosial. Bandung : Refika Aditama.

Hasbullah. (2008). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Hayat, B. (2013). Mengelolah Kemajemukan Umat Beragama. Jakarta: PT. Saadah Pustaka Mandiri.

Mahfud, C. (2011). Pendidikan Multikultural. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mar’at.(1981). Sikap Manusia Perubahannya Serta Pengukurannya. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Masduqi, I. (2011). Berislam secara toleran.Bandung : Mizan.

Mulyana, Deddy. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Munawir, Imam. (1984). Sikap Islam terhadap Kekerasan, Damai, Toleransi dan Solidaritas. Surabaya : PT Bina Ilmu

Moleong, J.X. (2012). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Naim, Ngainun & Sauqi, Ahmad. (2011). Pendidikan Multikultural : Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta : Ar-ruzz Media.

(25)

Setiadi, Elly M & Kolip Usman. Pengantar Sosiologi. (2011). Jakarta: Kencana.

Soekanto, Soejono. (2007). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Soyonomukti, N. (2010). Teori-teori Pendidikan. Jogjakarta : Ar-ruzz Media.

Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2010). Memahami penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.

Suryana, T. (2011). Konsep dan aktualisasi kerukunan antar umat beragama. Ta’lim, 127-136.

Suwarno, W. (2006). Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.Yogyakarta: Ar-Russ Media Group.

Wahyudin, U. (2014). Islamic Education And Moral Values 2. Bandung : Facil

zubaedi. (2005. Pendidikan Berbasis Masyarakat : Upaya Menawarkan Solusi terhadap Berbagai Problem Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Tesis dan Skripsi :

Anggraini, L. (2009). Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan Berbasis Pendidikan Multikultural dalam Memupuk Nasionalisme Siswa (Studi Kasus Di SMA Aloysius Bandung). Tesis magister pada prodi PKn SPS UPI Bandung : Tidak diterbitkan.

Lestari, G. (2013). Persepsi Mahasiswa tentang Multikulturalisme Pengaruhnya Terhadap Radikalisme Atas Nama Agama (Studi Deskriptif dalam Konteks Pendidikan Kewarganegaraan di Universitas Pendidikan Indonesia. Skripsi, Sarjana Pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia.

Murtadlo, S. (2013). Implementasi Pendidikan Multikultural dalam

Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Taruna Bakti Bandung (Studi Deskriptif di SMA Taruna Bakti Bandung). Skripsi, Sarjana Pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia.

Wahyudin, I. (2014). Implementasi Pendidikan Multikultural Untuk

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...