PERBANDINGAN METODE LATIHAN ZIG-ZAG RUN DAN ENVELOPE RUN TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA.

28  40  Download (3)

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN METODE LATIHAN ZIG-ZAG RUN DAN ENVELOPE RUN TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN DALAM

PERMAINAN SEPAKBOLA

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi sebagian dari syarat memperoleh gelar sarjana strata 1 Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga

Oleh :

ALAN AMANDA 0906613

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS PENDIDIKAN OLAHRAGA DAN KESEHATAN

(2)

ALAN AMANDA

PERBANDINGAN METODE LATIHAN ZIG-ZAG RUN DAN ENVELOPE

RUN TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN DALAM

PERMAINAN SEPAKBOLA

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH:

Pembimbing I

Drs. Dudung Hasanudin Ch. NIP.196003151987031002

Pembimbing II

Drs. Satriya

NIP.196002101987031004

Ketua Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga,

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Perbandingan Metode Latihan zig-zag run dan envelope run Terhadap Peningkatan Kelincahan Pemain Dalam Permainan Sepakbola” ini beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya sendiri, dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.

Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Bandung, Mei 2014 Yang membuat pernyataan,

ALAN AMANDA

(4)

ABSTRAK

PERBANDINGAN METODE LATIHAN ZIG-ZAG RUN DAN ENVELOPE RUN TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN DALAM

PERMAINAN SEPAKBOLA

Dosen Pembimbing : Drs. Dudung hasanudin Ch.

Drs. Satriya

Alan Amanda* 2014

Penelitian mengangkat permasalahan perbandingan metode latihan zig-zag run dan envelope run terhadap peningkatan kelincahan pemain dalam permainan sepakbola. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh latihan zig-zag run terhadap peningkatan kelincahan dalam permainan sepakbola, 2) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh envelope run terhadap peningkatan kelincahan dalam permainan sepakbola, 3)untuk mengetahui metode latihan mana yang memberikan pengaruh lebih besar dalam meningkatkan kelincahan pemain dalam permainan sepakbola. Kegunaan dari hasil penelitian ini secara teoritis dapat digunakan sebagai sarana untuk memperkaya dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan kelincahan, serta dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi keilmuan olahraga sepakbola. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen, dengan variabel bebas (XΌ) latihan zig-zag run, (X΍) latihan envelope run dan variabel terikatnya (Y) adalah kelincahan. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 24 orang yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sepakbola di SMKN 2 Kota Bandung. Berdasarkan pengolahan data dan analisis data yang diperoleh, maka hasil penelitian adalah rata-rata tes awal untuk kelompok latihan zig-zag run dan kelompok latihan envelope run masing-masing sebesar 15,65 dan 15,69, rata-rata tes akhir untuk kelompok latihan Zig-zag run dan kelompok latihan Envelope run masing-masing sebesar 14,51 dan 14,04, rata-rata gain untuk kelompok latihan zig-zag run dan kelompok latihan envelope run masing-masing sebesar 1,15 dan 1,65. Jika dilihat dari perbedaan gain dari kedua kelompok latihan tersebut, maka penulis mengambil kesimpulan secara garis besar bahwa latihan envelope run memberi pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan dengan latihan zig-zag run terhadap peningkatan kelincahan dalam permainan sepakbola.

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Olahraga sepakbola di Indonesia mulai memperlihatkan perkembangan yang baik, ditandai dengan berjalannya liga yang berkualitas dengan tim-tim yang di kelola oleh swasta. Hal ini menunjukan bahwa sepakbola di Indonesia telah berorientasi industri dan tidak bergantung pada pemerintah daerah. Dengan demikian, hal tersebut memberikan keuntungan bagi para pemain secara finansial. Namun perkembangan sepakbola di Indonesia tersebut tidak sebanding dengan prestasi Indonesia di event internasional.

Pembinaan atlet merupakan pekerjaan yang sangat berat maka oleh sebab itu harus dilakukan secara intensif dan teliti. Pengetahuan dan kemampuan pelatih sangat di tuntut dalam hal ini. Selain peningkatan kemampuan teknik, peningkatan kemampuan fisik merupakan hal yang harus dilakukan secara tepat dan intensif. Kemampuan kondisi fisik merupakan aspek yang paling besar untuk ditingkatkan dalam olahraga.

Pembinaan atlet sepakbola di SMKN 2 Kota Bandung saat ini masih terbilang belum maksimal, terlihat dari pencapaian prestasinya dalam cabang olahraga sepakbola masih sangat jauh dari harapan. Kondisi seperti ini salah satunya diakibatkan oleh kemampuan fisik para pemain yang kurang prima sehingga diindikasikan bahwa latihan kondisi fisik di tim sepakbola SMKN 2 Kota Bandung kurang maksimal, dan hasil observasi peneliti di SMKN 2 Kota Bandung, pelatih dalam memberikan latihan hanya terpusat atau terpatok pada pola melatih kemampuan teknik itu saja, dan tidak memperhatikan unsur-unsur kondisi fisik yang mampu memberikan pengaruh terhadap kemampuan teknik tersebut.

(6)

kemampuan fungsional dari sistem tubuh yang baik juga. Seperti yang dikemukakan oleh Harsono (1988:153) adalah :

Kalau kondisi baik maka :

1. Akan ada peningkatan dalam kemampuan sistem sirkulasi dan kerja jantung.

2. Ada peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, kecepatan, dan lain-lain komponen kondisi fisik.

3. Akan ada ekonomi gerak yang baik pada saat latihan.

4. Akan ada pemulihan yang lebih cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan.

5. Akan ada respon yang cepat dari oragnisme tubuh kita apabila sewaktu-waktu respon demikian dilakukan.

Permainan sepakbola dikenal sebagai olahraga permainan yang cepat, dinamis, atraktif dan memiliki keterampilan gerak yang cukup kompleks, karena menuntut kondisi fisik yang komprehensif, maksudnya dimulai dari kondisi fisik dasar sampai kondisi fisik gabungan keterampilan teknik yang baik dan berkualitas.

Kondisi fisik merupakan komponen terpenting dalam olahraga permainan sepakbola karena di butuhkan daya tahan atau kondisi fisik yang sangat baik, komponen kondisi fisik yang dibutuhkan oleh pemain sepakbola adalah daya tahan, kekuatan, kecepatan gerak (speed, agility, quikness), dan flexibility

Tetapi dalam kenyataan di lapangan banyak atlet sepakbola yang yang kurang memiliki kondisi fisik yang baik, terutama dalama komponen kecepatan gerak merubah arah. Penguasaan terhadap keterampilan gerak bukan hal yang mudah, karena dalam permainan sepakbola menuntut atletnya menguasai keterampilan gerak yang kompleks. permainan sepakbola juga merupakan permainan gerak multi arah tidak bersifat linear, tetapi lebih membutuhkan kemampuan untuk merubah posisi ke segala arah secara cepat.

(7)

seorang pemain sepakbola harus memiliki tingkat kelincahan yang baik. Telah dilakukan penelitian oleh beberapa orang bahwa komponen gerak agility dibutuhkan dalam cabang olahraga permainan karena dalam pelaksanaannya banyak gerakan-gerakan merubah arah.

Apabila permasalahan yang telah diungkapkan di atas tidak segera ditemukan solusi yang tepat dalam penanganannya mungkin prestasi olahraga permainan sepakbola tidak akan pernah maju seperti negara-negara lain,dan pengetahuan pelatih akan kurang terhadap penyusunan program lathan yang baik dan sistematis sera tersusun dalam meningkatkan kondisi fisik sepeti kekuatan , daya tahan, fleksibilitas, dan kecepatan gerak (SAQ) khususnya kecepatan gerak agility. Secara teoritis menurut Dikdik (2012:92) adalah :

Untuk meningkatkan kecepatan gerak seorang atlet dapat ditingkatkan dengan berbagai model latihan seperti shuttle run, zig zag run, obstacle run, hexagon drill, pentagon drill, Illinois agility run, T agility run, soccer agilty run, arrowhead agility run, super shuttle run, weave in weave out agilty run, boomerang run, box drill Dik’s letters aglity.

Keterampilan gerak merubah arah agility sangat dominan dalam permainan sepakbola karena dalam permainan sepakbola banyak gerakan merubah arah baik pada saat gerakan dengan bola maupun gerakan tanpa bola. Dalam olahraga sepakbola dikenal gerakan dasar tanpa bola, gerakan dasar tanpa bola ini dimaksudkan untuk dapat melepaskan diri dari penjagaan lawan. Gerakan tanpa bola tersebut tentunya ditunjang oleh beberapa teknik agar dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan sempurna.

Di dalam permainan sepakbola, latihan agility merupakan suatu bentuk latihan yang disesuaikan agar seseorang mampu untuk bergerak dengan cepat sambil merubah arah tanpa kehilangan keseimbangan tubuh. Latihan agility umumnya berupa shuttle run, zig zag run, obstacle run, hexagon drill, pentagon drill, Illinois agility run, envelope run, T agility run, soccer agility run,

arrowhead agility run, super shuttle run, weave in weave out agility run,

(8)

Zig-zag run adalah suatu macam bentuk latihan yang dilakukan dengan

gerakan berkelok-kelok melewati rambu-rambu yang telah di siapkan, dengan tujuan untuk melatih kemampuan berubah arah dengan cepat. Latihan tersebut dilakukan sebanyak 10 kali atau disesuaikan dengan kebutuhan program latihan yang dibuat. Dengan model rintangan yang membentuk pola zig-zag latihan ini sering dipakai dalam pelatihan kelincahan cabang olahraga sepakbola, karena karakteristik pola perubahan arah yang terjadi pada model latihan ini sesuai dengan karakteristik pola perubahan arah yang terjadi dalam sepakbola.

Envelope run adalah salah satu model atau bentuk latihan kelincahan (agility), hakikat dari envelope run disini adalah bentuk latihan kelincahan dengan melewati marka (tanda) yang disusun membentuk pola seperti amplop (envelope)., dimana pada latihan ini terdapat 4 buah titik yang membentuk sebuah persegi panjang dengan jarak masing-masing 2 meter dan 3 meter. Karakteristik pola perubahan arah dan sudut perubahan arah yang terjadi pada model latihan envelope run ini variatif dan cukup ekstrim.

Kelincahan adalah kemampuan seseorang untuk mengubah posisi diarea tertentu (Sajoto, 1988: 59). Seseorang yang mampu mengubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya cukup baik (Sajoto, 1988: 77). Dengan memiliki tingkat kelincahan yang tinggi maka kecepatan kaki untuk mengubah posisi dalam menentukan arah laju bola menggiring bola juga baik, sehingga pada kaki tumpu dalam bergerak nantinya akan lebih mudah dalam melakukan tumpuan dan menentukan arah bola. Dari uraian dan penjelasan tersebut, maka dalam hal ini penulis mengemukakan bahwa latihan zig-zag run dan envelope run tidak boleh dikesampingkan, harus menjadi perhatian utama dalam membina atlet untuk mencapai prestasi yang lebih baik terutama sekali dalam cabang olahraga sepakbola, sebab apabila hal ini dibiarkan maka prestasi atlet, seperti passing, stopping, keeping dan shooting bisa menjadi menurun. Mengingat pentingnya

(9)

mengangkat judul “PERBANDINGAN METODE LATIHAN ZIG-ZAG RUN DAN ENVELOPE RUN TERHADAP PENINGKATAN KELINCAHAN PEMAIN DALAM PERMAINAN SEPAKBOLA”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apakah metode latihan zig-zag run memberi pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kelincahan pemain dalam permainan sepakbola?

2. Apakah metode latihan envelope run memberi pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kelincahan pemain dalam permainan sepakbola?

3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan zig-zag run dengan metode latihan envelope run dalam memberikan pengaruh terhadap kelincahan pemain?

C. Tujuan Penelitian

Dengan adanya tujuan yang jelas dapat dijadikan pedoman mengenai apa yang perlu dilakukan dan cara yang paling baik ditempuh untuk sampai pada tujuan yang diharapkan. Dalam kaitannya dengan penelitian ini,maka yang menjadi tujuan penelitian yaitu :

1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh latihan zig-zag run terhadap kelincahan pemain sepakbola.

2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh latihan envelope run terhadap kelincahan pemain sepakbola.

3. Untuk mengetahui metode latihan manakah yang memberikan pengaruh yang lebih signifikan terhadap peningkatan kelincahan pemain sepakbola.

D. Manfaat Penelitian

(10)

mengembangkan ilmu pengetahuan dan secara praktis sebagai dasar keputusan dalam upaya memecahkan masalah yang timbul dalam penelitian.

1. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis adalah manfaat bagi ilmuan. Untuk itu, manfaat teoritis penelitian ini adalah :

a. Diharapkan informasi yang digali bermanfaat bagi ilmuan dibidang olahraga untuk dapat mengembangkan konsep dasar dalam rangka meningkatkan prestasi olahraga terutama dalam cabang olahraga sepak bola.

b. Bagi peneliti lain diharapkan terangsang untuk meneliti secara mendalam tentang masalah yang berhubungan dengan cabang olahraga sepak bola khususnya yang berkaitan dengan kelincahan yang belum terjangkau dalam penelitian.

2. Manfaat praktis

Manfaat praktis adalah manfaat bagi pelaksanaan. Adapun manfaat praktis disini adalah :

a. Diharapkan informasi yang diperoleh dalam penelitian ini dapat menjadi tambahan informasi bagi pembina dan pelatih olahraga sepak bola pada umumnya.

b. Bagi para pelatih sepakbola diharapkan hasil penelitian bisa menjadi acuan pelatih dalam menyusun program latihan yang efektif dan untuk menambah perbendaharaan metode latihan kelincahan yang baru.

E. Batasan Penelitian

Batasan penelitian sangat diperlukan dalam setiap penelitian.agar penelitian ini lebih terarah.mengenai pembatasan maslah dijelaskan oleh arikunto

(1990:15) bahwa: “bagian dari proposal maupun laporan penelitian tempat

penelitian memberikan penjelasan kepada orang tentang hal-hal yang berkenaan

dengan kegiatan penelitian”.

(11)

1. Variable bebas yaitu laihan zig-zag run (Xa), latihan envelope run (Xb). 2. Variable terikat yaitu kelincahan (Y).

3. Populasi yang akan diambil dalam penelitian ini adalah siswa peserta ekstrakulikuler sepakbola SMKN 2 Kota Bandung.

4. Sampel diambil dengan menggunakan teknik total sampling,dari jumlah populasi 24 peneliti akan mengambil 24 siswa untuk dijadikan sampel penelitian.

F. Struktur Organisasi Skripsi

Untuk mempermudah dalam pembahasan dan penyusunan selanjutnya, maka berikut rencana penulis untuk membuat kerangka penulisan yang akan diuraikan berdasakan sistematis penulisan sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, dan struktur organisasi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS PENELITIAN

Dalam kajian pustaka berisi teori-teori yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan tentang hakekat permainan sepakbola, hakekat latihan, hakekat latihan kondisi fisik, hakekat kemampuan kondisi fisik, hakekat kemampuan SAQ, hakekat kemampuan agility, dalam kerangka berfikir berisi tentang perbandingan pengaruh metode latihan zig-zag run dan envelope run terhadap peningkatan kelincahan pemain dalam sepakbola, dan dalam hipotesis penelitian berisi tentang jawaban sementara tentang penelitian yang akan diteliti.

BAB III METODE PENELITIAN

(12)

BAB IV HASIL PENELITIAN

Berisi pengelolaan data atau analisis data, dan pembahasan atau analisis temuan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(13)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data penelitian. Penggunaan metode dalam pelaksanaan penelitian turut menentukan ketercapaian tujuan penelitian. Sebelum peneliti mendapatkan data dan mengetahui hasil dari permasalahan penelitian tersebut tentu kita terlebih dahulu harus mengetahui jenis metode apa yang akan digunakan nantinya.

Banyak metode yang digunakan peneliti dalam mengadakan penelitian suatu masalah, Sedangkan metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Mengenai metode eksperimen Arikunto (2002:03) mengungkapkan bahwa “Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor

yang menggangu”. Sugiyono (2007:107) mengungkapkan bahwa “Eksperimen

dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali”. Sedangkan menurut Syaiful Bahri Djamarah (1995) “metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari”.

Dari beberapa definisi di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa eksperimen adalah suatu metode yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk mencari hasil pengaruh dengan memberikan perlakuan.

(14)

1. Kelompok sampel pada awal eksperimen harus dimulai dari kondisi dan keterampilan yang sama/seimbang.

2. Perlakuan dalam masa eksperimen harus sama dari awal sampai akhir. 3. Alat ukur yang digunakan pada tes awal dan tes akhir harus sama.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka diharapkan data yang dikumpulkan memberikan gambaran yang objektif dari kelompok sampel tersebut mengenai aspek-aspek yang diukur.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:80). Sedangkan menurut Arikunto (2010:173) yaitu: "Populasi adalah keseluruhan objek penelitian". Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMK Negeri 2 Kota Bandung yang mengikuti kegiatan ekstakulikuler sepakbola dan berjumlah 24 orang.

Pembinaan atlet sepakbola di SMKN 2 Kota Bandung saat ini masih terbilang belum maksimal, terlihat dari pencapaian prestasinya dalam cabang olahraga sepakbola masih sangat jauh dari harapan. Kondisi seperti ini salah satunya diakibatkan oleh kemampuan fisik para pemain yang kurang prima sehingga diindikasikan bahwa latihan kondisi fisik di tim sepakbola SMKN 2 Kota Bandung kurang maksimal, dan hasil observasi peneliti di SMKN 2 Kota Bandung, pelatih dalam memberikan latihan hanya terpusat atau terpatok pada pola melatih kemampuan teknik itu saja, dan tidak memperhatikan unsur-unsur kondisi fisik yang mampu memberikan pengaruh terhadap kemampuan teknik tersebut.

(15)

setelah mengikuti program latihan dengan metode zig-zag run dan envelope run. Sebelum siswa mengikuti program latihan, terlebih dahulu dilakukan tes awal agar mengetahui sejauh mana kemampuan mereka. Data tes peningkatan kelincahan siswa yang mengikuti eksrakulikuler sepakbola di SMKN 2 Kota Bandung diperoleh dari hasil tes akhir, setelah perlakuan diberikan, sehingga merupakan hasil dari proses latihan.

2. Sampel

Penarikan sampel dari populasi untuk mewakili populasi disebabkan untuk ditarik kesimpulan sebagai suatu yang berlaku bagi populasi. Arikunto (2010:174) mengatakan bahwa: “Sampel adalah bagian atau wakil dari populasi yang diteliti”. Sedangkan menurut Sugiyono (2011:118) "sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi".

Teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono,2001: 56). Margono (2004: 125) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan teknik sampling yaitu : ”Cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representative”. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan.

Dari pendapat para ahli tersebut peneliti mengambil sampel dengan menggunakan teknik total sampling atau sampel jenuh. Yang dimaksud total sampling disini adalah peneliti menggunakan semua populasi sebagai sampel,

seperti yang diungkapkan Sugiyono (2001: 61) “sampling jenuh yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel”. Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

(16)

dengan pembagian kelompok secara random, masing-masing kelompok terdiri dari kelompok A = 12 siswa, kelompok B = 12 siswa. Selanjutnya kelompok A diberi perlakuan dengan metode zig-zag run dan kelompok B diberi perlakuan dengan metode envelope run.

C. Desain Penelitian

Desain penelitian memberikan prosedur untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyusun atau menyelesaikan masalah dalam penelitian. Desain penelitian merupakan dasar dalam melakukan penelitian. Oleh sebab itu, desain penelitian yang baik akan menghasilkan penelitian yang efektif dan efisien. Nasution (2004:40) mengungkapkan bahwa : "Desain penelitian merupakan suatu rencana tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan penelitian".

Untuk mempermudah langkah-langkah dalam suatu penelitian,dipilih suatu desain yang tepat untuk dijadikan suatu pegangan dalam penelitiannya. Desain yang diterapkan peneliti untuk penelitiannya adalah pre-test - post-test desain. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :

Gambar 3.1

Desain Penelitian Eksperimen (Sumber: Sugiyono, 2011:76)

Keterangan: X1 : Tes awal

O1 : Treatment dengan Zig-Zag Run O2 : Treatment dengan Envelope Run X2 : Tes akhir

Kelompok A X1 O1 X2

(17)

Adapun langkah-langkah penelitian yang digunakan penulis adalah sebagai berikut: (lihat gambar 3.3)

Gambar 3.2 Langkah-langkah Penelitian Populasi

Sampel

Pre-test

Perlakuan Latihan zig zag run

Perlakuan Latihan Envelope run

Post-test

Pengolahan dan Analisis data

(18)

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian menurut Arikunto (2010:203) “Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data”. Dengan kata lain instrument berfungsi sebagai pendukung dari metode yang sudah ada, sehingga data yang akan diperoleh menjadi valid.

Untuk memperoleh data yang akurat maka penulis melakukan tes untuk mengetahui kemampuan awal dan kemampuan akhir sampel dalam hal kemampuan kelincahan atlet. Alat ukur yang digunakan penulis disini adalah tes kelincahan Illinois Agility Run. Tes ini memiliki validitas sebesar 0,90 dan realibilitas 0,94. Untuk lebih jelas mengenai instrumen penelitian dapat dilihat pada (gambar 3.4)

Gambar 3.3. Illinois Agility Run (sumber: topendsport.com)

(19)

tanda yang diberi cones berikutnya lalu merubah arah lagi begitu seterusnya sampai cone terakhir atau garis finish. Satu orang diberikan kesempatan dua kali dan skor yang dicatat adalah waktu terbaik dari dua kali kesempatan.

E. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian menjelaskan tentang tahap dan langkah-langkah penelitian. Secara umum ada tiga tahap penelitian, yaitu: tahap persiapan, pelaksanaan dan pelaporan. Setiap tahapan terdiri atas beberapa langkah kegiatan, seperti diuraikan berikut ini:

1. Tahap persiapan, terdiri atas langkah-langkah kegiatan:

a) Pengajuan judul pada dosen pembimbing, penyusunan proposal, dan seminar penelitian

b) Pengajuan surat izin penelitian ke sekolah;

c) Melakukan studi pendahuluan ke lokasi penelitian sekolah; 2. Tahap pelaksanaan, terdiri atas langkah-langkah kegiatan:

a) Pelaksanaan pre-test untuk melihat kemampuan awal kelincahan siswa b) Pemberian treatment latihan zig-zag run dan envelope run kepada

masing-masing kelompok

c) Pelaksanaan post-test untuk melihat peningkatan kemampuan kelincahan siswa

3. Tahap pelaporan, terdiri atas langkah-langkah kegiatan:

a) Melakukan pengolahan dan analisis data yang telah terkumpul; b) Membuat kesimpulan dan rekomendasi hasil penelitian; c) Menyusun naskah skripsi secara lengkap

F. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tes

(20)

hari senin, kamis, sabtu. Waktu pelaksanaan tes awal diadakan pada jam 15.00- 17.00, hari kamis, 17 april 2014. Sedangkan tes akhir diadakan pada jam 15.00- 17.00, hari minggu, 25 mei 2014.

G. Analisis Data

Untuk mengolah data yang merupakan skor-skor mentah dari hasil test awal dan test akhir, perlu adanya pengolahan secara statistik. Dalam pengolahan data penulis menggunakan beberapa rumus statistika yaitu menggunakan rumus :

1. Menghitung Nilai rata-rata

Dengan pendekatan rumus :

Keterangan :

X : Nilai rata-rata yang dicapai x1 : Skor yang diperoleh n :Jumlah sampel

∑ : “Sigma” yang berarti jumlah

2. Mencari Simpangan Baku

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

̅

Keterangan :

S : simpangan baku yang dicari : jumlah

(21)

̅ : nilai rata-rata : banyaknya sampel

3. Mencari Varians

Pendekatan statistik yang digunakan :

S²= ( )

4. Uji Normalitas

Untuk mengetahui normalitas kedua kelompok sampel, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan. Adapun langkah-langkah pengujian yang dapatdilakukan adalah sebagai berikut:

a. Menyusun data hasil pengamatan yang dimulai dari nilai pengamatan yang paling kecil sampai nilai pengamatan yang paling besar.

b. Untuk semua nilai pengamatan dijadikan angka baku Z dengan pendekatan Z skor, yaitu :

̅

c. Untuk tiap bilangan ini, menggunakan daftar distribusi normal baku (table distribusi Z). Kemudian hitung peluang dari masing-masing nilai Z (Fzi) dengan ketentuan jika nilai Z negatif, maka dalam menentukan Fzi-nya adalah 0,5-luas daerah distribusi Z pada tabel.

d. Menentukan proporsi masing-masing nilai Z (Szi) dengan cara melihat kedudukan nilai Z pada nomor urut sampel yang kemudian dibagi dengan banyaknya sampel.

e. Hitung selisih antara F(zi) – S(zi) dan tentukan harga mutlaknya. f. Ambilah harga mutlak yang paling besar diantara harga mutlak seluruh

(22)

g. Dengan bantuan nilai nilai Kritis L untuk uji Liliefors, maka tentukanlah nilai L.

h. Bandingkanlah nilai L tersebut dengan nilai Lo untuk mengetahui diterima atau ditolak hipotesisnya dengan kriteria :

- Terima Ho jika Lo < L = Normal - Tolak Ho jika Lo > L = Tidak Normal

5. Uji Homogenitas

Dalam menguji homogen atau tidaknya data yang diperoleh dari 2 variansi, peneliti melakukan pendekatan Uji Kesamaan Dua Variansi, dengan formulasi rumus sebagai berikut :

6. Pengujian Hipotesis (Uji Signifikansi Kedua Kelompok)

Adapun langlah-langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :

a. 1) Ho : B = 0, Latihan zig zag run tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kelincahan pemain sepakbola

H1 : B ≠ 0, Latihan zig zag run memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kelincahan pemain sepakbola.

2) Ho : B = 0, latihan envelope run tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kelincahan pemain sepakbola

(23)

b. Rumus

̅

Keterangan :

t : Nilai kritis untuk uji signifikansi beda ̅ : Rata-rata beda

SB : Simpangan baku beda n : Jumlah sampel

c. Terima Ho jika :

-t(1-1₂ ) (dk=n-1)<t<(1-1₂ )(dk+n-1) =0,05.

7. Uji Signifikansi (dua rata-rata satu pihak)

a. Pasangan hipotesis yang akan diuji adalah :

Ho. µ = µ₂, tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara latihan zig-zag run dengan envelope run terhadap kelincahan pemain dalam permainan sepakbola

H1. µ ≠ µ₂, terdapat pengaruh yang signifikan antara latihan zig-zag run dengan envelope run terhadap kelincahan pemain dalam permainan sepakbola

b. Adapun pendekatan rumus yang digunakan menurut Nurhasan, dkk (2008:152) :

̅ ̅₂

(24)

Keterangan :

̅ : Nilai rata-rata kelompok 1 ̅₂ : Nilai rata-rata kelompok 2 S : Simpangan baku gabungan : Banyaknya sampel kelompok 1 ₂ : Banyaknya sampel kelompok 2 : Variansi kelompok 1

S²₂ : Variansi kelompok 2

(25)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Metode latihan zig-zag run memberi pengaruh yang signifikan dari terhadap

peningkatan kelincahan pemain dalam permainan sepakbola, ditunjukan dengan perolehan nilai t-hitung sebesar 11,829, berada diluar nilai t-tabel (-2,201 dan (-2,201).

2. Metode envelope run memberi pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kelincahan pemain dalam sepakbola, ditunjukan dengan perolehan nilai t-hitung sebesar 11,745, berada diluar nilai t-tabel (-2,201 dan 2,201).

3. Terdapat perbedaan yang signifikan antara metode latihan zig-zag run dengan metode latihan envelope run dalam memberikan pengaruh terhadap kelincahan pemain.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan, selanjutnya peneliti mengajukan beberapa yang dapat digunakan sebagai pemahaman dan acuan bagi pelaku olahraga khususnya cabang olahraga sepakbola :

1. Dari hasil penelitian ini kiranya dapat dijadikan petunjuk bagi pelatih dalam usaha membina dan melatih bibit atlit atau pemain sepak bola yang handal. 2. Untuk meningkatkan kemampuan teknik, selain melatih teknik tersebut secara

maksimal, akan lebih cepat dan efektif jika unsur kondisi fisik yang menunjang teknik tersebut lebih diperhatikan juga peningkatannya.

(26)

4. Bagi mahasiswa olahraga diharapkan agar dapat melanjutkan penelitian yang lebih luas lagi populasinya dan varibel penelitiannya ditambah lagi.

(27)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta : PT.Rineka Cipta

Arikunto,Suharsimi.2010. Prosedur Penelitian. Jakarta: Trineka Cipta. Bompa, T. O. (1994). Theory and Methodology of Training. Kendal/Hunt

Publishing, Iowa

Harsono, 1988. Coaching dan Aspek-Aspek Psikologi dalam Coaching. Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

Harsono. (2004). Perencanaan Program Latihan. FPOK UPI.

Hidayat, Imam. (1998). Biomekanika. Bandung: IKIP Bandung press. Levinus, Paulus. (2000). Materi penataran pelatih fisik tingkat propinsi se

indonesia. Komisi pusdiktar koni pusat

M. Sajoto, 1995. Peningkatan dan Pembinaan Kekuatan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta : Dahara Prize

Metia-Putri. Rissa. (2014).Pengaruh Latihan Dik’s Letters Agility Terhadap Peningkatan Kelincahan Pada Siswa SMAN 2 Cianjur Dalam

Ekstrakulikuler Bola Basket. Skripsi. Universitas Pendidikan Indonesia.

Nasution. (2004). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. Nurhasan, H., Hasanudin.C.Dudung. (2007). Tes Dan Pengukuran keolahragaan.

Bandung: Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FPOK UPI Nurhasan, dan Hasanudin. (2008). Statistika. Bandung: FPOK UPI Bandung. Poerwadarminta, W.J.S. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai

Pustaka.

Rusli Lutan. 1988. Belajar Keterampilan Motorik: Pengantar Teori dan Metode. Jakarta:Dirjen Dikti

Rusli Lutan. 1997. Manusia dan olahraga. Bandung: ITB

Sajoto. (1990). Peningkatan dan Pembinaan kekuataan kondisi fisik dalam olahraga.

Sajoto M. (1988). Pembinaan Kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta,

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktur Jendral Pendidikan Tinggi. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga

(28)

Saputra, Yudha M. 2002. Pembelajaran Atletik di Sekolah Dasar Sebuah Pendekatan Pembinaan Gerak Dasar Melalui Permainan. (Cet. II). Jakarta: Dirjen Olahraga-Depdiknas.

Satriya, dkk. 2007. Metodologi kepelatihan olahraga. Bandung: Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FPOK UPI

Sugiyono.(2007). Metode Penelitian pedidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: ALFABETA

Suharno, HP.(1982). Ilmu Coaching Umum. FKIP IKIP Yogyakarta.

Sukadiyanto.(2002). Teori dan metodologi melatih fisik petenis. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY

Sukintaka. (1979). Permainan dan Metodik Buku III. Jakarta: PT. Firman Resama. Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. (1994). Strategi Belajar Mengajar.

Jakarta: Rineka Cipta.

Universitas Pendidikan Indonesia. (2007). Pedoman penulisan karya ilmiah. Bandung: UPI.

Zafar-Sidik, D. (2010/2011). Pembinaan kondisi fisik. Bandung: Jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga FPOK UPI

http://moektimaha17.wordpress.com/category/biomekanika/. Aplikasi gaya sentrifugal dalam olahraga. Tanggal akses 14 mei 2014

Figur

Gambar 3.1 Desain Penelitian Eksperimen

Gambar 3.1

Desain Penelitian Eksperimen p.16
Gambar 3.2 Langkah-langkah Penelitian

Gambar 3.2

Langkah-langkah Penelitian p.17
Gambar 3.3. Illinois Agility Run (sumber: topendsport.com)

Gambar 3.3.

Illinois Agility Run (sumber: topendsport.com) p.18

Referensi

Memperbarui...