KONSEP DIRI ANAK ABDI DALEM KERATON YOGYAKARTA Franciscus De Paula Bramasta M.A.
ABSTRAK
Konsep diri adalah gagasan tentang konsep diri yang mencakup keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang kepada dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana cara kita melihat konsep diri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang konsep diri, dan bagaimana kemampuan berpikir seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa konsep diri anak abdi dalem keraton. Penelitian ini mnggunakan metode pendekatann kualitatif dan metode pengumpulan data menggunakan observasi tertutup dan wawancara semi struktur. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak yang memiliki rentang usia kira-kira 5 hingga 11 tahun, masih bersekolah, dan memiliki orang tua sebagai abdi dalem keraton berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta. Verifikasi data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data dan wawancara ulang. Dari hasil analisis data diketahui bahwa secara umum, kedua subjek menggambarkan dirinya sebagai seorang anak yang prososial yaitu memiliki kepedulian kepada orang lain, mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya, bertanggung jawab, mau dan mampu bersosial dengan lingkungan sosialnya, serta taat pada aturan dan norma. Hasil lainnya menunjukkan kedua subjek memiliki memiliki penghargaan ke pada diri (self-esteem) yang tinggi, memiliki sikap nrima atau menerima apa yang mereka miliki serta mensyukurinya. Konsep diri yang dimiliki oleh kedua subjek adalah konsep diri yang positif, dimana kedua subjek dapat mengenal dirinya dengan baik.
CHILD'S SELF CONCEPT OF PALACE COURTIERS Franciscus De Paula Bramasta Meindo A.
ABSTRACT
Self concept is the idea of self concept which encompassed faith, viewpoint, and research someone to him self. Self concept consist of how we to see the self concept as personal, how we to feel the self concept, how the capability thinking of someone. This research inted to understand what the self concept of child palace courtiers. This research using qualitative approach methods and data accumulation method which use closed observation, and semi structure interview. Subjects in this research are child who have the age range about 5 until 11 years old, still study in school and have parents as a palace coutiers who they are domiciled in Daerah Istimewa Yogyakarta. Data verification in this research use data triangulation and repetitive interview. From the result of data analysis are knew that commonly both of subject figure their self as a child that is have concern to other people, accentuate importance other people rather than their importance, responsible, want and capable make the society activity with their social environment, obedient toward rule, regulation, and norm. Other results showed both of subjects have had high self-esteem, has an attitude accept what they have and be grateful. The concept of self-owned by the two subjects is a positive self-concept, where both subjects can recognize himself well.
KONSEP DIRI ANAK ABDI DALEM KERATON YOGYAKARTA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Disusun oleh:
Franciscus De Paula Bramasta M. A. 119114051
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
HALAMAN PERSEMBAHAN
Karya kecil dan sederhana ini penulis dedikasikan untuk
Tuhan Yesus yang selalu membimbing penulis dalam menjalankan
kehidupan yang penuh dengan suka dan duka. Orang tua, saudara, dan
para sahabat yang selalu mendukung penulis dalam menyelesaikan
kuliah. Semua orang terkasih yang telah memberi kesan, makna, dan
warna dalam kehidupan penulis.
HALAMAN MOTTO
“Mintalah, maka akan diberikan kepadamul; carilah, maka kamu akan
mendapatka; ketoklah maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap
orang yang meminta, menerima, dan setiap orang mencari, mendapat,
dan setiap orang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang
dari padamu yang memberi batu Adakah seorang dari padamu yang
memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti,atau memberi ular,
jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi
pemberian yang baikkepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga!
Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta
kepada-Nya
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak
memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 29 Agustus 2016
Penulis
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:
Nama : Franciscus De Paula Bramasta Meindo A.
NIM : 119114051
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan
Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
Konsep Diri Anak Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata
Dharma hal untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain,
mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu
meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap
mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Yogyakarta
Pada Tanggal : 29 Agustus 2016
Yang menyatakan,
KATA PENGANTAR
Puji syukur dan terima kasih penulis sampaikan pada Tuhan Yesus Kristus
atas berkat dan kasih-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini, penulis mendapatkan
banyak bantuan, dukungan, dan doa dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis
mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada:
1. Tuhan Yesus Kristus atas segala berkat dan bimbingan-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan baik
2. Papah dan Mamah, terimakasih atas kasih sayang dan doa yang selalu
menyertai penulis. Penulis merasa termotivasi dengan dukungan yang
selalu diberikan oleh orang tua penulis.
3. Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi dan Ibu
Ratri Sunar Astuti, M.Si. selalu Kaprodi untuk semua kesempatan
belajar yang diberikan.
4. Bapak Drs. H.Wahyudi, M.Si. selaku dosen pembimbing skripsi, yang
telah memberikan banyak inspirasi, dukungan, masukan, tenaga, waktu,
dan nasehat hidup yang tak terlupakan. Terima kasih atas kesabaran
bapak yang mau menerima penulis selama menjalankan bimbingan
skripsi.
5. Ibu Debri Pristinella, M.Si. selalu dosen pembimbing akademik, terima
kasih atas segala bimbingan dan motivasinya sehingga penulis dapat
6. Terima kasih untuk Bapak Emanuel yang telah membantu dan
membimbing saya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
7. Para subjek, terima kasih atas kesediannya meluangkan waktu dan
tenaga dalam membantu terselesaikannya skripsi ini.
8. Kepada Arum manusia terbaik sedunia yang selalu menemani,
mendukung, membantu, dan mendoakan sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan.
9. Kepada sahabatku Agni dan Dek Betha yang membantu dalam
penyelesaikan skripsi ini, saya ucapkan trima kasih.
10.Kepada orang tua saya yang selalu mendukung dalam berbagai bentuk
saya ucapkan trima kasih yang sebesar-besarnya untuk usaha mereka.
11.Teman-teman terbaik penulis yaitu Wila, Bili, Catur, Andi, Nina,
Kristian, Cuki, Edi,Made, Aldo, dan Andre yang selalu mendukung dan
membantu dalam segala bentuk.
12.Teman-teman sebimbingan Pak Wahyudi yaitu Ratna, kak Firsta, kak
Galih, Kristian, dan Veronica yang sudah menjadi teman diskusi dalam
penyelesaian skripsi.
13.Teman-teman angkatan 2011, terima kasih atas segala pengalaman dan
kebersamaannya selama berdinamika di Psikologi.
14.Untuk nama-nama yang berperan dalam penyelesaian skripsi ini
namun belum disebutkan, maaf atas keterbatasan penulis. Terima kasih
Penulis menyadari tulisan ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki
karya ini. Akhir kata, penulis berharap semoga karya ini dapat bermanfaat bagi
semua orang yang membaca. Terimakasih.
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
ABSTRAK ... xiv
ABSTRACT ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 10
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Diri... 12
B. Abdi Dalem Keraton ... 23
D. Budaya Jawa ... 29
E. Anak ... 31
F. Konsep Diri Anak... 33
G. Konsep Diri Anak Abdi Dalem Keraton ... 34
BAB III. METODE PENELITIAN A. Paradigma Penelitian Kualitatif ... 36
B. Subjek Penelitian ... 38
C. Metode Pengumpulan Data ... 40
D. Metode Analisis Data ... 42
E. Uji Kesahihan dan Keandalan Data ... 43
F. Pedoman Observasi Wawancara ... 44
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian ... 47
B. Hasil Penelitian ... 49
1. Data Demografi Subjek ... 49
2. Hasil Observsai Subjek 1 ... 50
3. Diskripsi Data Subjek 1 ... 51
4. Hasil Wawancara Subjek 1 ... 54
5. Hasil Observasi Subjek 2 ... 55
6. Diskripsi Data Subjek 2 ... 56
7. Hasil Wawancara Subjek 2 ... 58
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 67
B. Saran ... 67
DAFTAR PUSTAKA ... 69
KONSEP DIRI ANAK ABDI DALEM KERATON YOGYAKARTA Franciscus De Paula Bramasta M.A.
ABSTRAK
Konsep diri adalah gagasan tentang konsep diri yang mencakup keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang kepada dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana cara kita melihat konsep diri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang konsep diri, dan bagaimana kemampuan berpikir seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa konsep diri anak abdi dalem keraton. Penelitian ini mnggunakan metode pendekatann kualitatif dan metode pengumpulan data menggunakan observasi tertutup dan wawancara semi struktur. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak yang memiliki rentang usia kira-kira 5 hingga 11 tahun, masih bersekolah, dan memiliki orang tua sebagai abdi dalem keraton berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta. Verifikasi data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data dan wawancara ulang. Dari hasil analisis data diketahui bahwa secara umum, kedua subjek menggambarkan dirinya sebagai seorang anak yang prososial yaitu memiliki kepedulian kepada orang lain, mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya, bertanggung jawab, mau dan mampu bersosial dengan lingkungan sosialnya, serta taat pada aturan dan norma. Hasil lainnya menunjukkan kedua subjek memiliki memiliki penghargaan ke pada diri (self-esteem) yang tinggi, memiliki sikap nrima atau menerima apa yang mereka miliki serta mensyukurinya. Konsep diri yang dimiliki oleh kedua subjek adalah konsep diri yang positif, dimana kedua subjek dapat mengenal dirinya dengan baik.
CHILD'S SELF CONCEPT OF PALACE COURTIERS Franciscus De Paula Bramasta Meindo A.
ABSTRACT
Self concept is the idea of self concept which encompassed faith, viewpoint, and research someone to him self. Self concept consist of how we to see the self concept as personal, how we to feel the self concept, how the capability thinking of someone. This research inted to understand what the self concept of child palace courtiers. This research using qualitative approach methods and data accumulation method which use closed observation, and semi structure interview. Subjects in this research are child who have the age range about 5 until 11 years old, still study in school and have parents as a palace coutiers who they are domiciled in Daerah Istimewa Yogyakarta. Data verification in this research use data triangulation and repetitive interview. From the result of data analysis are knew that commonly both of subject figure their self as a child that is have concern to other people, accentuate importance other people rather than their importance, responsible, want and capable make the society activity with their social environment, obedient toward rule, regulation, and norm. Other results showed both of subjects have had high self-esteem, has an attitude accept what they have and be grateful. The concept of self-owned by the two subjects is a positive self-concept, where both subjects can recognize himself well.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat bahwa anak-anak lebih
banyak melakukan kegiatan bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya
daripada dengan orang dewasa dan orang lanjut usia, sehingga masa kanak-kanak
merupakan periode yang khas. Hal tersebut diungkapkan oleh Borstelman, 1993
dalam buku Life-Span Development (Santrock 1995). Masa awal anak-anak
memiliki rentang usia kira-kira 5 atau 6 tahun. Untuk pertengahan dan akhir
anak-anak ialah periode perkembangan yang memiliki rentang usia kira-kira 6 hingga
11 tahun, yang kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar. Periode ini
kadang-kadang disebut sebagai “tahun-tahun sekolah dasar”. Dalam periode ini,
teman sebaya penting dalam perkembangan sosial anak karena dengan bergaul
dengan teman sebaya, anak akan belajar bagaimana mereka bersosial.
Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian Anna Freud & Dann tahun 1951
dalam buku Child Development (Santrock, 2007). yang meneliti enam anak dari
keluarga yang berbeda yang disatukan setelah orang tua mereka terbunuh dalam
Perang Dunia ke II. Kedekatan teman sebaya yang intensif itu diobservasi,
anak-anak membentuk kelompok yang dirajut secara ketat, yang bergantung satu sama
lain dan jauh dari orang-orang luar. Walaupun kurang pengasuhan dari orang tua,
mereka tidak menunjukkan perilaku yang menyimpang dan tidak mengalami
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihat interaksi seorang anak
dengan teman sebaya yang akan melibatkan suatu permainan dan permainan
terkesan menjadi kebutuhan seorang anak pada masa itu. Permainan memiliki
manfaat yang beragam bagi anak-anak. Permainan memberikan manfaat dalam
peningkatan afiliasi dengan teman sebaya, mengurangi tekanan, meningkatkan
daya jelajah, dan memberi tempat berteduh yang aman bagi perilaku yang secara
potensial berbahaya. Dalam buku Santrock yang berjudul Child Development,,
Freud dan Erikson mendefinisikan permainan adalah suatu bentuk penyesuaian
diri manusia yang sangat berguna dalam menguasai kecemasan anak dan konflik.
Dalam buku yang sama, Jean Piaget dan Lev Vygotsky juga mendefinisikan
permainan bagi anak. Piaget (1962) melihat permainan sebagai media yang
meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak. Hal yang sama juga
diungkapkan oleh Vygotsky (1962) yang meyakini bahwa permainan merupakan
setting yang sangat bagus dalam perkembangan kognitif.
Masih dalam buku Child Development, Harter (1998) menyebutkan bahwa
pada masa anak-anak, anak akan memahami diri berdasarkan atas berbagai peran
dan kategori-kategori keanggotaan yang mendefinisikan siapa anak itu. Walaupun
bukan keseluruhan identitas prbadi, pemahaman diri memberi tiang pondasi
rasionalnya (Damon & Hart, 1988, 1992). Pemahaman diri ialah representasi
kognitif diri anak, bahan dan konsep diri. Konsep diri (self-concept) mengacu
pada bidang spesifik pada dirinya. Anak-anak dapat membuat evaluasi diri dalam
banyak bidang kehidupan mereka (akademis, atletik, penampilan, dan lain-lain).
seorang perempuan, berambut hitam, suka mengendarai sepedanya, mempunyai
seorang teman, dan seorang perenang.
Ada beberapa penelitian mengenai konsep diri anak yaitu konsep diri pada
anak sekolah dasar dan menengah pertama yang dilakukan oleh Andriasari
(2015). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak
mempengaruhi konsep diri positif atau negatif. Selain itu, anak yang memiliki
konsep diri negatif akan mudah menyerah sedangkan anak yang memiliki konsep
diri positif akan bersikap optimis. Pardede (2008) meneliti tentang konsep diri
anak jalanan, dari hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa anak jalan
dalam penelitian tersebut memandang diri sebagai pribadi yang negatif. Subyek
merasa tidak diterima di masyarakat dan memiliki penghargaan diri yang rendah.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Husniyati (2009) di RPSA Kota
Semarang. Dari penelitian tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa mayoritas
anak jalanan pada jangkauan RPSA di Kota Semarang mempunyai konsep diri
pada kategori tinggi (50%) serta pengetahuan tentang diri (60%) dengan kategori
tinggi, maksudnya rata-rata pengetahuan anak jalanan terhadap diri sendiri adalah
tinggi, yaitu mereka mengetahui bagaimana diri mereka sendiri. Penilaian tentang
diri pada kategori sedang (47,5%), maksudnya sebagian anak jalanan menilai
tentang diri mereka cukup. Sedangkan dalam pengharapan anak jalanan pada
kategori tinggi (57,5%), maksudnya sebagian besar anak jalanan berharap agar
mereka dapat hidup lebih baik lagi. Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep diri
terhadap pengetahuan tentang diri dan pengharapannya sendiri yang tinggi kurang
Terdapat fenomena yang ditemukan peneliti dalam masyarakat. Bersumber
darisitus berita online: merdeka.com, diberitakan bahwa seorang anak berusia 7
tahun menjadi seorang abdi dalem termuda di Keraton Yogyakarta. Anak ini
bernama Riski Kuncoro Manik, dia sudah mengikuti aktivitas sebagai abdi dalem
di Keraton Yogyakarta sejak dia berumur tiga tahun. Orang tua Riski juga adalah
seorang abdi dalem. Hal ini menarik karena Riski tergolong anak-anak yang tidak
seperti anak pada umumnya dimana pada masa ini anak-anak lebih memilih
bermain dari pada bekerja. Selain itu, ketika Riski menjalankan tugasnya sebagai
abdi dalem keraton, Riski tidak akan bergaul dengan teman sebaya melainkan
abdi dalem yang memiliki usia jauh di atas Riski sehingga pergaulan dengan
teman sebaya Riski mungkin akan berbeda dengan anak-anak pada umumnya.
Fenomena lain yang berasal dari pengalaman peneliti saat masih duduk di
bangku sekolah dasar, peneliti memiliki teman sebaya anak seorang abdi dalem
keraton. Anak ini terkesan ramah dan sopan kepada siapa saja. Hal menarik
lainnya adalah ketika pada anak seusianya lebih memilih bermain sepulang
sekolah, anak ini lebih senang untuk membantu orang tuanya. Dia membantu
ibunya dalam mengumpulkan barang bekas dan membantu ayahnya menjalankan
tugasnya sebagai abdi dalem, seperti membantu sang ayah membersihkan dan
merawat makam-makam raja keraton. Peneliti pernah menanyakan alasan
mengapa dia memilih melakukan hal demikian dari pada bermain. Bagi anak ini
membantu orang tua terlebih dalam tugas-tugas sang Ayah sebagai abdi dalem
Dalam bukunya, Soenarto (2012) mengungkapkan bahwa abdi dalem keraton
merupakan agen pelestari budaya atau salah satu perwakilan pelestari budaya
seperti yang diharapkan oleh Sultan Hamengku Buwana X sebagai pelestari
budaya sekaligus “jati diri” Bangsa Indoensia, yang juga pernah disampaikan oleh
Sultan Hamengku Buwana IX saat penobatan sebagai Raja Ngayogyakarta
Hadiningrat pada tanggal 18 Maret 1940. Disamping itu dengan diaturnya tata
cara, sopan santun tingkah laku bagi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, mengingat
bahwa abdi dalem adalah juga agen budaya keraton yang mumpuni (mengetahui
makna) dalam hal nilai-nilai keutamaan yang diyakini baik oleh manusia pada
umumnya. Sehingga melalui agen budaya ini, abdi dalem keraton dapat menjadi
suritauladan di lingkungan masyarakat yang ditempati, yang di lewati, dan yang
menyaksikan. Pengabdian seorang abdi dalem keraton ditunjukan dengan
tanggung jawab melaksanakan semua yang menjadi keseharusan dan menaati
pranata demi kejayaan budaya sebagai jati dirinya. Sehingga kesetiaan seorang
abdi dalem kepada keraton dalam arti kepada Raja, dengan segala kekayaan
budayanya disebut pengabdian yang dilandasi kebaikan, ketulusan. Matulessy dan
Abdi Keraf (2011) mengungkapkan bahwa konsep diri yang dimiliki oleh abdi
dalem keraton adalah konsep diri yang positif dan lebih banyak dipengaruhi oleh
perasaan kekaguman pada pribadi Sultan sebagai orang yang diabdi,
memungkinkan individu untuk mengadopsi perilaku tertentu dari Sultan menjadi
bentuk perilaku hidupnya setiap hari. Karena abdi dalem memiliki interaksi sosial
dengan Sultan maka terbentuk konsep diri para abdi dalem seperti diatas. Hal ini
bahwa konsep diri terbentuk melalui interaksi sosial dan konsep diri ini
mempengaruhi tingkah laku seseorang.
Menurut Papalia, Olds, dan Feldman (2004) terdapat beberapa faktor
pembentuk konsep diri, yakni (1) orang tua sebagai kontak sosial yang paling
awal yang kita alami, dan yang paling kuat, apa yang dikomunikasikan oleh orang
tua pada anak lebih menancap daripada informasi lain yang diterima anak
sepanjang hidupnya, (2) kawan sebaya yang menempati kedudukan kedua setelah
orang tuanya dalam mempengaruhi konsep diri, apalagi perihal penerimaan atau
penolakan, peran yang diukir anak dalam kelompok teman sebayanya mungkin
mempunyai pengaruh yang dalam pada pandangan tentang dirinya sendiri, (3)
masyarakat yang menganggap penting fakta-fakta kelahiran di mana akhirnya
penilaian ini sampai kepada anak dan masuk ke dalam konsep diri, dan (4) belajar
di mana muncul konsep bahwa konsep diri kita adalah hasil belajar, dan belajar
dapat didefinisikan sebagai perubahan psikologis yang relatif permanen yang
terjadi dalam diri kita sebagai akibat dari pengalaman. Penelitian tersebut
menyimpulkanbahwa peran orang tua sebagai abdi dalem dan budaya jawa
memiliki peran kuat dalam pembentukan konsep diri anaknya. Sehingga perilaku
anak abdi dalem keraton pada fenomena-fenomena yang telah diuraikan peneliti
diatas tidak lepas dari hasil interaksi sang anak dengan orang tua. Hal ini
didukung oleh Teori Rogers (dalam Burns, 1993) yang menyatakan bahwa konsep
dirimemainkan peranan yang sentral dalam tingkah laku manusia.
George Herbert Mead (1972) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan
pengalaman-pengalaman psikologis. Pengalaman-pengalaman psikologis ini
merupakan hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisiknya dan refleksi
dari dirinya yang diterima dari orang-orang penting (significant others)
disekitarnya. Mead juga mengemukakan bahwa setiap individu memiliki
pemahaman tertentu tentang penilaian orang lain terhadap dirinya, dan individu
tersebut akan bertingkah laku sesuai dengan penilaian umum. Pernyataan ini
senada dengan John Kinch (1963 dalam Fitts, 1971) yang mengemukakan bahwa
konsep diri terbentuk melalui interaksi sosial dan konsep diri ini mempengaruhi
tingkah laku seseorang. Menurutnya, konsep diri seseorang didasarkan pada
persepsi dari reaksi-reaksi orang lain terhadap dirinya. Dari beberapa pengertian
konsep diri yang telah dikemukakan, dapat dinyatakan secara gamblang bahwa
konsep diri merupakan pandangan dan sikap individu terhadap dirinya sendiri.
Pengertian ini senada dengan Burns (1993) yang mengemukakan bahwa konsep
diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri.
Cawagas (1983) dalam Pudjijogyanti (1988) juga mengemukakan hal yang
sama bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi
fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya,
kegagalannya, dan lain sebagainya. Dua orang peneliti dan penulis utama yang
mengkaji dan memberikan sumbangan besar dalam pengembangan studi konsep
diri, Rogers (1951) dan Staines (1954) dalam Burns (1993) yang menyatakan
definisi konsep diri yang sejalan. Rogers menyatakan bahwa konsep diri disusun
dari unsur-unsur seperti persepsi-persepsi dari karateristik-karateristik dan
konsep-konsep tentang diri yang ada hubungannya dengan orang-orang lain dan dengan
lingkungannya; kualitas-kualitas nilai yang dipersepsikan yang dihubungkan
dengan pengalaman-pengalaman dan obyek-obyek; dan tujuan-tujuan serta ide-ide
yang dipersepsikan sebagai mempunyai valensi positif atau negatif. Jadi menurut
Rogers, konsep diri dengan kata lain adalah gambaran yang terorganisasikan yang
berada di dalam kesadaran baik sebagai tokoh atau dasar, dari diri dan diri yang
berkaitan (self in relationship), bersama-sama dengan nilai-nilai positif dan
negatif yang dihubungkan dengan kualitas-kualitas dan hubungan-hubungan
sebagaimana mereka dipersepsikan sebagai hidup atau ada dimasa lalu, sekarang,
atau dimasa yang akan datang. Staines dalam definisinya juga menempatkan
konsep diri ke dalam bidang studi tentang sikap yang dibangun dari
pengalaman-pengalaman seorang individu. Konsep diri menurutnya adalah suatu sistem yang
sadar dari hal-hal yang dipersepsikan, konsep-konsep, dan evaluasi-evaluasi
mengenai diri individu sebagaimana dia tampak bagi dirinya sendiri. Termasuk di
dalamnya suatu kognisi respons yang evaluatif yang dibuat oleh individu itu
terhadap aspek-aspek yang dipersepsikan dan dipahami tentang dirinya sendiri;
suatu pemahaman tentang gambaran yang diduga oleh orang-orang lain mengenai
dia, dan suatu kesadaran dari suatu diri yang dievaluasikan, yang merupakan
gagasannya tentang pribadi sebagaimana yang dia inginkan dan dimana dia harus
bertingkah laku.
Adapun konsep diri didefinisikan secara berbeda oleh para ahli. Seifert dan
Hoffnung (1994), misalnya, mendefinisikan konsep diri sebagai suatu pemahaman
konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu dari konsep diri. Sementara
itu, Menurut Duffy dan Atwater (2005) konsep diri adalah suatu cara pada
individu dalam memandang dirinya, bagaimana perasaan seseorang tentang
tubuhnya dan bagaimana kepuasaan dan ketidakpuasan seseorang terhadap
dirinya. Selanjutnya, Atwater mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk.
Pertama, body image, kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang
melihat dirinya sendiri. Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan
harapan-harapan seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang
lain melihat dirinya.
Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan
keyakinan tentang diri kita sendiri. Sementara itu, Cawagas (1983 dalam
Pudjijogiyanti, 1988) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh
pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya,
kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya.
Berdasarkan pada beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa konsep
diri adalah gagasan tentang konsep diri yang mencakup keyakinan, pandangan
dan penilaian seseorang kepada dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana
cara kita melihat konsep diri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang
konsep diri, dan bagaimana kemampuan berpikir seseorang. Sehingga konsep diri
anak abdi dalem keraton adalah gagasan tentang konsep diri sang anak yang
mencakup keyakinan, pandangan, dan penilaian anakkepada dirinya sendiri yang
dan lingkungannya yaitu lingkungan budaya jawa yang akan mempengaruhi
perilaku anak.
Berdasarkan fenomena-fenomena anak abdi dalem keraton dan uraian diatas
terkait konsep diri, maka peneliti ingin meneliti apa konsep diri anak abdi dalem
keraton yang dirumuskan dalam judul “Konsep Diri Anak Abdi Dalem Keraton
Yogyakarta”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan fenomena-fenomenaa di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan peneliti sebagai berikut :
Apa konsep diri anak abdi dalem keraton?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan fenomena-fenomena di atas, maka penelitian ini memiliki tujuan
untuk mengetahui apa konsep diri anak abdi dalem keraton.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang akan dilakasanakan ini diharapkan dapat memberikan
manfaat baik secara teoretis maupun praktis sebagai berikut:
1. Manfaat teoretis
Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi
penelitian dalam bidang psikologi perkembangan dan psikologi sosial
terutama yang berkaitan dengan konsep diri anak abdi keraton kepada
anak kandungnya.
2. Manfaat praktis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi
mengenai gambaran konsep diri anak kepada orang tua yang memiliki
profesi sebagai abdi dalem keraton dan masyarakat umum. Peneliti
berharap dengan adanya penelitian ini orang tua dapat memahami konsep
diri sang anak sehingga dapat membantu anak dalam mencapai harapan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Diri
1. Pengertian Konsep Diri
George Herbert Mead (1972) mengemukakan bahwa konsep diri
merupakan produk sosial yang dibentuk melalui proses internalisasi dan
organisasi pengalaman-pengalaman psikologis. Pengalaman tersebut merupakan
hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisiknya dan refleksi dari dirinya
yang diterima dari orang-orang penting (significant others) disekitarnya. Mead
(1972) juga mengemukakan bahwa setiap individu memiliki pemahaman tertentu
tentang penilaian orang lain terhadap dirinya, dan individu tersebut akan
bertingkah laku sesuai dengan penilaian umum. Pernyataan ini senada dengan
John Kinch (1963) dalam Fitts (1971) yang mengemukakan bahwa konsep diri
terbentuk melalui interaksi sosial dan konsep diri ini mempengaruhi tingkah laku
seseorang. Menurutnya, konsep diri seseorang didasarkan pada persepsi dari
reaksi-reaksi orang lain terhadap dirinya. Dari beberapa pengertian konsep diri
yang telah dikemukakan, dapat dinyatakan dengan jelas bahwa konsep diri
merupakan pandangan dan sikap individu terhadap dirinya sendiri. Pengertian ini
senada dengan Burns (1993) yang mengemukakan bahwa konsep diri adalah
hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri.
Cawagas (1983) dalam Pudjijogyanti (1988) juga mengemukakan hal yang
sama bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan individu akan dimensi
kegagalannya, dan lain sebagainya. Dua orang peneliti dan penulis utama yang
mengkaji dan memberikan sumbangan besar dalam pengembangan studi konsep
diri, yaitu Rogers (1951) dan Staines (1954) dalam Burns (1993) menyatakan
definisi konsep diri yang juga sejalan dengan penjelasan sebelumnya. Rogers
menyatakan bahwa konsep diri disusun dari unsur-unsur seperti persepsi-persepsi
dari karateristik-karateristik dan kemampuan-kemampuan seseorang; hal-hal yang
dipersepsikan dan konsep-konsep tentang diri yang ada hubungannya dengan
orang-orang lain dan dengan lingkungannya; kualitas-kualitas nilai yang
dipersepsikan yang dihubungkan dengan pengalaman-pengalaman dan
obyek-obyek; dan tujuan-tujuan serta ide-ide yang dipersepsikan sebagai mempunyai
valensi positif atau negatif. Jadi menurut Rogers, konsep diri dengan kata lain
adalah gambaran yang terorganisasikan yang berada di dalam kesadaran baik
sebagai tokoh atau dasar, dari diri dan diri yang berkaitan (self in relationship),
bersama-sama dengan nilai-nilai positif dan negatif yang dihubungkan dengan
kualitas-kualitas dan hubungan-hubungan sebagaimana mereka dipersepsikan
sebagai hidup atau ada dimasa lalu, sekarang, atau dimasa yang akan datang.
Staines dalam definisinya juga menempatkan konsep diri ke dalam bidang studi
tentang sikap yang dibangun dari pengalaman-pengalaman seorang individu.
Konsep diri menurutnya adalah suatu sistem yang sadar dari hal-hal yang
dipersepsikan, konsep-konsep, dan evaluasi-evaluasi mengenai diri individu
sebagaimana dia tampak bagi dirinya sendiri. Termasuk di dalamnya suatu
kognisi respons yang evaluatif yang dibuat oleh individu itu terhadap aspek-aspek
tentang gambaran yang diduga oleh orang-orang lain mengenai dia; dan suatu
kesadaran dari suatu diri yang dievaluasikan, yang merupakan gagasannya tentang
pribadi sebagaimana dia inginkan dan dimana dia harus bertingkah laku.
Adapun konsep diri didefinisikan secara berbeda oleh para ahli. Seifert
dan Hoffnung (1994) mendefinisikan konsep diri sebagai suatu pemahaman
mengenai diri atau ide tentang konsep diri. Santrock (1996) menggunakan istilah
konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu dari konsep diri. Sementara
itu, Duffy dan Atwater (2005) konsep diri adalah suatu cara pada individu dalam
memandang dirinya, bagaimana perasaan seseorang tentang tubuhnya dan
bagaimana kepuasaan dan ketidakpuasan seseorang terhadap dirinya. Selanjutnya,
Atwater mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk. Pertama, body image,
kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.
Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang
mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.
Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan
keyakinan tentang diri kita sendiri, sedangkan Pemily dalam Atwater (1984),
mendefinisikan konsep diri sebagai sistem yang dinamis dan kompleks diri
keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan,
persepsi, nilai-nilai, dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut. Sementara
itu, Cawagas (1983) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup seluruh pandangan
individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya,
Berdasarkan pada beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa
konsep diri adalah gagasan tentang konsep diri yang mencakup keyakinan,
pandangan dan penilaian seseorang kepada dirinya sendiri.
a. Dimensi-dimensi Konsep Diri
Dimensi dari konsep diri dikemukakan oleh Fitts (1971), dimana Fitts
sependapat dengan Rogers yang menganggap bahwa diri sebagai suatu obyek
sekaligus juga sebagai suatu proses, yang melakukan fungsi persepsi, pengamatan
serta penilaian. Keseluruhan kesadaran mengenai diri yang diobservasi, dialami
serta dinilai ini adalah konsep diri. Berdasarkan pendapatnya itu, Fitts membagi
konsep diri ke dalam 2 (dua) dimensi pokok, yaitu :
1) Dimensi Internal, yang terdiri dari :
a) Diri sebagai obyek/identitas (identity self)
b) Diri sebagai perilaku (behavior self)
c) Diri sebagai pengamat dan penilai (judging self)
2) Dimensi Eksternal, yang terdiri dari :
a) Diri fisik (physical self)
b) Diri moral-etik (moral-ethic self)
c) Diri personal (personal self)
d) Diri keluarga (family self)
e) Diri sosial (social self)
Kesemua dimensi dan bagian-bagiannya secara dinamis menurut Fitts
lebih memahami maksud dari kedua dimensi konsep diri ini, berikut dijelaskan
satu persatu. Dimensi internal atau yang disebut juga kerangka acuan internal
(internal frame of reference) adalah ketika seorang individu melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri berdasarkan dunia batinnya sendiri atau dunia dalam
dirinya sendiri terhadap identitas dirinya, perilaku dirinya, dan penerimaan
dirinya. Kerangka acuan internal atau yang disebut juga dimensi internal ini oleh
Fitts dibedakan atas tiga bentuk, yaitu :
1) Diri identitas (identity self)
Identitas diri ini merupakan aspek konsep diri yang paling
mendasar. Konsep ini mengacu pada pertanyaan "siapakah saya?"
dimana di dalamnya tercakup label-label dan simbol-simbol yang
diberikan pada diri oleh individu yang bersangkutan untuk
menggambarkan dirinya dan membangun identitasnya. Misalnya,
"saya Iskandar" dan kemudian sejalan dengan bertambahnya usia dan
interaksi individu dengan lingkungannya, akan semakin banyak
pengetahuan individu akan dirinya sendiri, sehingga individu tersebut
akan dapat melengkapi keterangan dirinya dengan hal-hal yang lebih
kompleks, seperti: "saya Tini", "saya seorang ibu dari tiga orang anak",
“saya bekerja sebagai seorang polisi wanita", dan sebagainya.
Selanjutnya setiap elemen dari identitas diri akan mempengaruhi cara
individu mempersepsikan dunia fenomenalnya, mengobservasinya,
dan menilai dirinya sendiri sebagaimana ia berfungsi. Pada
Identitas diri sangat mempengaruhi tingkah laku seorang individu, dan
sebaliknya identitas diri juga dipengaruhi oleh diri sebagai pelaku.
Sejak kecil, individu cenderung untuk menilai atau memberikan label
pada orang lain maupun pada dirinya sendiri berdasarkan tingkah laku
atau apa yang dilakukan seseorang. Dengan kata lain, untuk dapat
menjadi sesuatu seringkali seseorang harus melakukan sesuatu, dan
dengan melakukan sesuatu, seringkali individu harus menjadi sesuatu.
2) Diri perilaku (behavioral self)
Diri perilaku merupakan persepsi seorang individu tentang tingkah
lakunya. Diri pelaku berisikan segala kesadaran mengenai "apa yang
dilakukan oleh diri". Selain itu, bagian ini sangat erat kaitannya
dengan diri sebagai identitas. Diri yang adekuat akan menunjukkan
adanya keserasian antara diri identitas dengan diri pelakunya, sehingga
ia dapat mengenali dan menerima baik diri sebagai identitas maupun
diri sebagai pelaku. Kaitan keduanya dapat dilihat pada diri sebagai
penilai.
3) Diri pengamat/penilai (judging self)
Diri penilai ini berfungsi sebagai pengamat, penentu standar serta
pengevaluasi. Kedudukannya adalah sebagai perantara (mediator)
antara diri, identitas dengan diri pelaku. Manusia cenderung untuk
senantiasa memberikan penilaian terhadap apa yang dipersepsikannya.
Oleh karena itu, label-label yang dikenakan kepada dirinya bukanlah
dengan nilai-nilai. Selanjutnya, penilaian inilah yang kemudian lebih
berperan dalam menentukan tindakan yang akan ditampilkannya. Diri
penilai menentukan kepuasan seseorang individu akan dirinya atau
seberapa jauh ia dapat menerima dirinya sendiri. Kepuasan diri yang
rendah akan menimbulkan harga diri (self-esteem) yang miskin dan
akan mengembangkan ketidakpercayaan yang mendasar kepada
dirinya, sehingga menjadi senantiasa penuh kewaspadaan. Sebaliknya,
bagi individu yang memiliki kepuasan diri yang tinggi, kesadaran
dirinya akan lebih realistis, sehingga lebih memungkinkan individu
yang bersangkutan untuk melupakan keadaan dirinya dan lebih
memfokuskan energi serta perhatiannya ke luar diri yang pada
akhirnya dapat berfungsi secara lebih konstruktif. Diri sebagai penilai
berkaitan erat dengan harga diri (self-esteem), karena sesungguhnya
kecenderungan evaluasi diri ini tidak saja hanya merupakan komponen
utama dari persepsi diri, melainkan juga merupakan komponen utama
pembentukan harga diri. Penghargaan diri pada dasarnya didapat dari 2
(dua) sumber utama, yaitu (1) dari diri sendiri dan (2) dari orang lain.
Penghargaan diperoleh ketika individu berhasil mencapai tujuan-tujuan
dan nilai-nilai tertentu. Tujuan, nilai, dan standar ini dapat bersumber
dari internal, eksternal, maupun keduanya. Umumnya, nilai-nilai dan
tujuan-tujuan pada mulanya dimasukkan oleh orang lain. Penghargaan
hanya akan didapat melalui pemenuhan tuntutan dan harapan orang
tingkah laku aktualisasi diri, maka penghargaan juga dapat berasal dari
diri individu itu sendiri. Oleh karena itu keduanya saling berhubungan.
Walaupun harga diri (self-esteem) merupakan hal yang mendasar untuk
aktualisasi diri, tetapi aktualisasi diri juga penting untuk kebutuhan
harga diri. Penjelasan mengenai ketiga bagian dari dimensi internal,
memperlihatkan bahwa masing-masing bagian mempunyai fungsi yang
berbeda namun ketiganya saling melengkapi, berinteraksi, dan
membentuk suatu diri (self) serta konsep diri (self concept) secara utuh
dan menyeluruh. Dimensi kedua dari konsep diri adalah apa yang
disebut dengan dimensi eksternal. Pada dimensi eksternal individu
menilai dirinya melalui hubungan dan aktifitas sosialnya, nilai-nilai
yang dianutnya, serta hal-hal lain yang berasal dari dunia di luar diri
individu.
Sebenarnya, dimensi eksternal merupakan suatu bagian yang sangat luas,
misalnya diri individu yang berkaitan dengan belajar. Namun, yang dikemukakan
oleh Fitts adalah bagian dimensi eksternal yang bersifat umum bagi semua orang.
Bagian-bagian dimensi eksternal ini, dibedakan Fitts atas 5 (lima) bentuk, yaitu :
1) Diri fisik (physical self)
Diri fisik menyangkut persepsi seorang individu terhadap keadaan
dirinya secara fisik. Dalam hal ini, terlihat persepsi seorang individu
mengenai kesehatan dirinya, penampilan dirinya (cantik, jelek,
menarik) dan keadaan tubuhnya (tinggi, pendek, gemuk, dan kurus).
Diri moral merupakan persepsi seseorang individu terhadap dirinya
sendiri, yang dilihat dari standar pertimbangan nilai-moral dan etika.
Hal ini menyangkut persepsi seorang individu mengenai hubungannya
dengan Tuhan, kepuasan seorang individu akan kehidupan agamanya,
dan nilai-nilai moral yang dipegang seorang individu, yang meliputi
batasan baik dan buruk.
3) Diri pribadi (personal self)
Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seorang individu
terhadap keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi
fisik atau hubungannya dengan individu lain, tetapi dipengaruhi oleh
seberapa jauh seorang individu merasa puas terhadap pribadinya atau
sejumlah mana seorang individu merasakan dirinya sebagai pribadi
yang tepat.
4) Diri keluarga (family self)
Diri keluarga menunjukkan pada perasaan dan harga diri seorang
individu dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian diri
ini menunjukkan seberapa jauh seorang individu merasa adekuat
terhadap dirinya sendiri sebagai anggota keluarga dan terhadap peran
maupun fungsi yang dijalankannya selaku anggota dari suatu
keluarga.
5) Diri sosial (social self)
Diri sosial merupakan penilaian seorang individu terhadap
Pembentukan penilaian individu terhadap bagian-bagian dirinya dalam
dimensi eksternal ini sangat dipengaruhi oleh penilaian dan
interaksinya dengan orang lain. Seorang individu tidak dapat begitu
saja menilai bahwa ia memiliki diri fisik yang baik tanpa adanya
reaksi dari individu lain yang menunjukkan bahwa secara fisik ia
memang baik dan menarik. Demikian pula halnya, seorang individu
tidak dapat mengatakan bahwa ia memiliki diri pribadi yang baik
tanpa adanya tanggapan atau reaksi dari individu lain di sekitarnya
yang menunjukkan bahwa ia memang memiliki pribadi yang baik.
Hubungan antar dimensi dalam konsep diri (dimensi internal dan
eksternal) dapat dijelaskan dengan menggunakan analogi. Misalnya, total dari diri
(self) sebagai suatu keseluruhan adalah sebuah apel. Apel tersebut dapat dibagi-bagi secara horisontal maupun secara vertikal, yang pada setiap potongan akan
mengandung bagian dari potongan bagian lainnya. Dengan demikian dapat
diartikan bahwa setiap bagian dari dimensi internal akan mengandung
bagian-bagian dari dimensi eksternal, demikian pula sebaliknya. Interaksi yang terjadi di
dalam bagian-bagian dan antar bagian pada dimensi internal, eksternal, ataupun
keduanya, berkaitan erat dengan integrasi serta efektifitas keberfungsian diri
secara keseluruhan sebagai suatu keutuhan. Seorang individu yang terintegrasi
dengan baik akan menunjukkan derajat konsistensi interaksi yang tinggi, baik di
dalam bagian dari dirinya sendiri (intrapersonal communication) maupun dengan
b. Konsep Diri Positif dan Konsep Diri Negatif
Wicklund dan Frey (1980) dalam Calhoun (1990) menyatakan
pendapatnya bahwa yang menjadikan penerimaan diri kepada bentuk konsep diri
positif adalah ketika seorang individu dengan konsep diri positif mengenal dirinya
dengan baik sekali. Tidak seperti konsep diri yang terlalu kaku atau terlalu
longgar, konsep diri yang positif lebih bersifat stabil dan bervariasi. Menurut
Chodorkoff (1954) dalam Calhoun(1990), konsep diri positif ini berisi berbagai
"kotak kepribadian", sehingga seorang individu dapat menyimpan informasi
tentang dirinya sendiri, baik itu informasi yang negatif maupun yang positif. Jadi
seorang individu dengan konsep diri positif dapat memahami dan menerima
sejumlah fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri.
Calhoum dan Acocella (1990) membagi konsep diri negatif menjadi dua
tipe, yaitu:
1) Pandangan individu tentang dirinya sendiri benar-benar tidak teratur,
tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri. Individu tersebut
benar-benar tidak tahu siapa dirinya, kekuatan dan kelemahannya atau
sesuatu yang dihargai dalam kehidupannya.
2) Pandangan tentang dirinya sendiri terlalu stabil dan teratur. Hal ini bisa
terjadi karena individu dididik dengan cara yang sangat keras sehingga
menciptakan cita diri yang tidak mengizinkan adanya penyimpangan
dari seperangkat hukum yang dalam pikirannya merupakan cara hidup
Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan konsep diri negatif adalah
keadaan dimana individu tidak tahu siapa dirinya, tidak mengetahui kekurangan,
dan kelebihannya serta individu memandang dirinya terlalu stabil dan teratur
(kaku).
B. Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
1. Pengertian Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
Abdi dalem keraton merupakan agen pelestari budaya atau salah satu
perwakilan pelestari budaya seperti yang diharapkan Sultan Hamengku Buwana
X. Pernyataan tersebut juga pernah disampaikan oleh Sultan Hamengku Buwana
IX pada saat penobatan sebagai Raja Ngayogyakarta Hadiningrat pada tanggal 18
Maret 1940. Menurut Maharkesti (2003) dalam Subarjo (2010) yang disebut
dengan abdi dalem Keraton Yogyakarta adalah semua orang, baik laki-laki
maupun perempuan, yang bekerja di dalam lingkungan Keraton Yogyakarta.
Menurutnya, pada zaman pemerintahan Hamengku Buwono VII, abdi dalem di
Keraton Yogyakarta secara umum dibagi ke dalam dua golongan, yaitu abdi
dalem perempuan yang disebut dengan abdi dalem keparak dan abdi dalem
laki-laki. Untuk abdi dalem laki-laki tidak ada sebutan khusus. Jadi ketika menyebut
kata abdi dalem secara langsung atau tidak sudah menunjuk kepada abdi dalem
laki-laki.
Menurut Joyokusumo dalam Subarjo (2010) abdi dalem adalah semua
Keraton Yogyakarta. serta ditetapkan dengan serat kekancingan dari raja untuk
bekerja di tempat yang ada hubungannya dengan Keraton Yogyakarta.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa abdi dalem keraton adalah
semua orang yang bekerja dan mengabdi di lingkungan keraton yang disertai
dengan surat pengangkatan berupa surat kekancingan dari Keraton Yogyakarta
dan juga sebagai pelestari budaya sekaligus “jati diri” Bangsa Indoensia.
2. Penggolongan Abdi Dalem
Penggolongan abdi dalem dibedakan menjadi dua, yaitu abdi dalem
punakawan dan abdi dalem kaprajan. Abdi dalem punakawan adalah abdi dalem
yang bertugas di keraton, sedangkan abdi dalem keprajan adalah seluruh pegawai
pemerintah daerah yang mendapat SK Gubernur dan meminta pangkat
(kelengahan) di keraton (Sulistyowati, 1999).
3. Sejarah dan Pengertian Abdi Dalem Punakawan dan Abdi Dalem Keprajan
Pada jaman kolonial siapa saja yang bekerja di lingkungan keraton disebut
abdi dalem. Menurut Wibawa (2005) pada saat itu sudah ada pembagian kerja.
Abdi dalem yang bekerja di dalam benteng disebut abdi dalem punakawan dan
abdi dalem yang bekerja di luar benteng disebut abdi dalem kepatihan. Setelah
kepatihan diubah menjadi abdi dalem kaprajan dan berstatus Pegawai Negeri
Sipil, dimana untuk pemberian gajinya dilakukan oleh pemerintah pusat,
sedangkan abdi dalem punakawan tetap menerima gaji dari Keraton Yogyakarta.
Menurut Wibawa (2005) gaji yang dterima abdi dalem kaprajan meningkat
mengikuti perkembangan jaman, sedangkan abdi dalem punakawan hampir
dikatakan tetap.
Wibawa juga mengatakan bahwa pada masa pemerintahan Sultan
Hamengku Buwono IX semua pegawai Pemda Propinsi DIY secara otomatis
menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta. Namun setelah Sultan Hamengku
Buwono X naik tahta, pegawai Pemda Propinsi DIY tidak secara otomatis
menjadi abdi dalem Keraton Yogyakarta, melainkan diwajibkan untuk mendaftar
terlebih dahulu. Kemudian pangkat pada abdi dalem disesuaikan dengan pangkat
atau golongannya dalam Pegawai Negeri Sipil.
4. Hak dan Kewajiban Abdi Dalem Keraton
Seorang abdi dalem keraton tidak lepas dari hak dan kewajiban. Menurut
Sudaryanto (2005) hak sebagai abdi dalem keraton meliputi kepangkatan, gelar
nama, gaji, kesejahteraan, dan uang pensiun. Hal ini juga senada dengan hasil
wawancara yang dilakukan oleh national geographic dengan abdi dalem keraton
yang bernama KRT. H. Jatingrat yang akrab disapa Romo Tirun. Humas Keraton
Yogyakarta tersebut mengatakan bahwa para abdi dalem mendapatkan gelar dari
adalah benar-benar abdi dalem Keraton Yogyakarta yang memahami segala adat
dan peraturan Keraton. Abdi Dalem yang masih memiliki hubungan darah dengan
Keraton akan mendapatkan gelar Raden. Untuk abdi dalem yang tidak memiliki
hubungan darah dengan Keraton akan mendapatkan gelar dengan sebutan Mas
Bekel, Mas Rono, dan Mas Lurah. Sudaryanto juga menyebutkan beberapa
kewajiban sebagai abdi dalem keraton yang meliputi caos, presensi, dan
mengikuti upacara adat.
5. Motivasi Menjadi Abdi dalem Keraton
Seseorang yang ingin menjadi abdi dalem keraton tentunya memiliki
motivasi atau dorongan menjadi abdi dalem keraton. Menurut Sudaryanto (2005)
motivasi seseorang menjadi abdi dalem keraton adalah berupa keinginan untuk
mendapatkan ketentraman hidup dan mencari berkah.
C. Keraton Yogyakarta 1. Keraton Yogyakarta
Yogyakarta sebagai salah satu daerah dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) mempunyai sejarah, peran, dan pengaruh yang kuat terhadap
Bangsa Indonesia. Sejarah yang dimaksud adalah Yogyakarta merupakan
satu-satunya swapraja, kerajaan zaman kolonial, yang berhasil dan konsisten
merdeka, Yogyakarta mempunyai kepemimpinan tersendiri yang dikenal dengan
kesultanan, wilayah, rakyat dan birokrasi pemerintahan, yang kemudian
dikukuhkan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta oleh perundang-undangan
Republik Indonesia (RI) pada tanggal 17 Agustus 1945. Menurut Suwarno (1994)
wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Kasultanan dan Paku Alaman serta
daerah enclave, Ngawen, Kotagede, dan Imogiri. Pasangan pemimpin pada saat
itu adalah Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai kepala dan
wakil kepala daerah. Periode jabatannya juga berbeda dengan daerah lain yang
menetapkan pergantian kepala dan wakil kepala daerah setiap lima tahun sekali.
Oleh karena itu, beberapa keunikan tersebut menjadi motivasi keberadaan
Yogyakarta yang diistimewakan.
Keraton Yogyakarta adalah pusat wilayah tempat kediaman Raja atau Sri
Sultan beserta keluarganya. Tidak hanya raja dan keluarga saja tetapi juga para
abdi dalem keraton. Para abdi dalem ini tinggal di lingkungan tempat-tempat yang
berbeda. Menurut Suwarno (1994) Keraton Yogyakarta sendiri dibagi menjadi
kediaman raja dan keluarga yaitu keraton. Kemudian menyusul lingkungan yang
disebut Kutanagara atau yang kemudian disebut dengan Nagara atau Nagari. Di
lingkungan wilayah ini, tinggal abdi dalem teras kerajaan yang menjalankan tugas
atas perintah raja. Lingkungan luarnya disebut NagaraAgung yang merupakan
tanah lungguh para abdi dalem yang tinggal di wilayah Nagari. Lingkungan paling
luar disebut Mancanagara dan pasisiran (pantai) yang diperintah oleh para bupati
Pasca kemerdekaan komunitas keraton masih tetap berusaha
mempertahankan spirit doktrin keagung binataran. Menurut Meodjanto doktrin ini
memuat ajaran kekuasaan raja yang besar sehingga rakyat sampai mengakui
bahwa raja adalah pemilik segala sesuatu, baik harta benda maupun manusia. Sri
Sultan Hamengku Buwono mengisyaratkan tahta bagi kesejahteraan kehidupan
sosial budaya rakyat, secara retoris dinyatakan “buat apa sebuah tahta dan
menjadi sultan, bila tidak memberi manfaat bagi masyarakat”. Menurut
Atmakusumah (1982) cara pandang seperti ini yang membuat para abdi dalem
memiliki loyalitas yang tinggi terhadap keraton.
2. Budaya Keraton Yogyakarta
Dalam bukunya, Soenarto (2012) mengemukakan kebudayaan keraton dapat
dilihat dari bangunan-bangunan dan tanaman-tanaman yang terdapat di dalam
keraton. Bangunan-bangunan dan tanaman-tanaman keraton tersebut adalah
symbol-simbol yang bermakna dan memiliki ciri khas Budaya Jawa. Selain itu, di
dalam Keraton terdapat peraturan yang wajib ditaati oleh semua warga Keraton,
baik Keluarga Keraton maupun para Abdi Dalem. Sebagai warga Keraton ada
kewajiban datang (sowan) ke Keraton sesuai dengan kepentingan yang dikerjakan
oleh masing-masing.
Budaya berpakaian di dalam Keraton memiliki perbedaan antara Keluarga
Keraton dengan para Abdi dalem Keraton. Para Abdi dalem mengenakan kain
batik bercorak, ikat pinggang, baju peranakan, tutup kepala atau disebut dengan
blangkon, keris, sandal, dan samir. Selain itu para abdi dalem diwajibkan
maupun di luar Keraton sesuai dengan budaya yang dianut oleh masyarakat Jawa
yaitu Budaya Jawa. Idrus (2004) mengemukakan, budaya Jawa merupakan budaya
yang menjunjung tinggi nilai-nilai atau adat istiadat dan unggah-ungguh yang sudah
diterapkan oleh masyarakat. Sehingga dapat dikatakan bahwa Budaya Keraton tidak
terlepas dari Budaya Jawa.
D. Budaya Jawa
1. Pengertian Budaya Jawa
Menurut Koentjaraningrat (1985) kebudayaan Jawa merupakan
konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari
masyarakat mengenai apa yang dianggap bernilai, berharga, dan penting dalam
hidup, sehingga dapat berfungsi sebagai suatu pedoman hidup. Menurut Idrus
(2004) budaya Jawa merupakan budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai atau adat
istiadat dan unggah-ungguh yang sudah diterapkan oleh masyarakat. Selain itu
Suseno (1985) mengungkapkan bahwa salah satu tata krama Budaya Jawa adalah
prinsip tidak boleh mengungkapkan segala sesuatu secara langsung karena dianggap
kurang sopan jika mengungkapkan sesuatu yang dikehendaki.
2. Perilaku Masyarakat Jawa
Nilai kebudayaan yang diperoleh dari proses belajar menghasilkan sikap
mengisi serta menentukan jalannya kehidupan manusia. Prinsip yang
mengarahkan perilaku ini dikenal dengan istilah value atau nilai. Rokeach dalam
Muniarti dan Beatrix (2000) mendefinisikan nilai sebagai tujuan yang diharapkan
seseorang. Nilai berfungsi sebagai prinsip yang mengarahkan perilaku, dan
memiliki derajat kepentingan yang berbeda-beda. Pandangan Moghaddam dan
Studer dalam Utama (2003) menyebutkan bahwa perilaku manusia bukan dilihat
dari hubungan sebab akibat melainkan dari keterkaitan normatif manusia dan
lingkungan sekitarnya, sehingga budaya menentukan perilaku yang dianggap tepat
tentang bagaimana seharusnya seseorang berperilaku.
Menurut Hardjowirogo (1983) orang Jawa tidak bisa melepaskan diri dari
lilitan tradisinya sehinga perilaku-perilaku orang Jawa juga tidak lepas dari
budaya Jawa. Manusia Jawa digambarkan sebagai makhluk yang tidak begitu
tertarik terhadap materi dan merasa bangga akan gambaran mengenai dirinya.
Mulder (1984) menyebutkan kaidah-kaidah moril Javanisme yang menekankan
pada sikap narima, sabar, waspada-eling (mawas diri), andap asor (rendah diri),
dan prasaja (sahaja), serta dorongan-dorongan dan emosi-emosi pribadi. Mudler
juga mengatakan bahwa sumber budaya Jawa berpusat pada pendidikan budi
pekerti, budi luhur, budi utama, sopan santun, lemah lembut, ramah tamah, sabar,
dan menerima diri apa adanya.
Interaksi masyarakat jawa dalam kehidupan memiliki berbagai macam
peraturan dengan tujuan menjaga keselarasan dalam masyrakat. Greetz dalam
Suseno (1996) menyebutkan bahwa terdapat dua kaidah yang paling menentukan
dalam segala situasi manusia hendak bersikap sedemikian rupa sehingga tidak
menimbulkan konflik. Kaidah kedua menuntut agar manusia dalam cara bicara
dan membawa diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain. Dua
kaidah ini adalah prinsip rukun dan prinsip hormat. Suseno juga mengatakan
bahwa nilai rukun dan hormat secara turun-temurun telah mendasari
pandangan-pandangan hidup orang Jawa.
E. Anak
1. Pengertian Anak
Dalam bukunya, Santrock (2003) menjelaskan beberapa fase anak. Masa
awal anak-anak memiliki rentang usia kira-kira 5 atau 6 tahun. Untuk pertengahan
dan akhir anak-anak ialah periode perkembangan yang memiliki rentang usia
kira-kira 6 hingga 11 tahun atau kira-kira-kira-kira setara dengan tahun-tahun sekolah dasar.
Sehingga dapat diartikan anak adalah seseorang yang memiliki rentang usia 5
sampai 11 tahun
2. Perkembangan Sosio Emosional Masa Anak-anak
Masa anak-anak pasti tidak terlepas oleh masa-masa bermain dengan
teman sebaya dan relasi dengan keluarga. Masa-masa ini sangat berpangaruh
dalam pembentukan sosio emotional pada anak. Dalam berinteraksi dengan teman
Relasi pertama seorang anak terjadi dalam keluarga. Hal tersebut tentu saja
berkaitan dengan pola asuh orang tua terhadap anaknya. Menurut Santrock (2003)
pola asuh adalah pola atau bentuk pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua
terhadap anak, dan termasuk dalam pengaruh mikrosistem terhadap
perkembangan. Menurut Utti (2006), Okapko (2004), dan Ofoegbu (2002) dalam
Okorodudu (2010), pola asuh adalah tindakan orang tua dalam pengasuhan anak,
pelatihan, pemeliharaan, atau pendidikan anak. Berdasarkan uraian tersebut dapat
disimpulkan bahwa pola asuh adalah bentuk pengasuhan yang dilakukan oleh
orang tua terhadap anak, pelatihan, pemeliharaan, atau pendidikan anak yang
mempengaruhi perkembangan anak.
Definisi teman sebaya dalam Santrock (2007) yaitu anak-anak yang
tingkat usia dan kematangannya kurang lebih sama. Interaksi teman sebaya yang
mengisi suatu peran yang unik dalam kebudayaan kita. Penelitian yang dilakukan
oleh Suaomi, Harlow, dan Domek (1970) dalam Santrock (2007) menjawab
pentingya peran teman sebaya bagi perkembangan anak. Penelitian ini
menggunakan subjek sekumpulan monyet dimana sekumpulan monyet sebaya
yang diasuh bersama dipisahkan, mereka menjadi depresi dan kurang berkembang
secara sosial.
Sebagian besar interaksi anak-anak dengan teman sebaya akan melibatkan
permainan. Permainan adalah suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilakukan
untuk kepentingan kegiatan itu sendiri. Menurut Freud dan Erikson dalam
Santrock (2007), permainan adalah suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang
berguna dalam membantu anak dalam perkembangan kognitif. Menurut Piaget
(1962) dalam Santrock (2007) permainan memungkinkan anak mempraktekkan
kompetensi-kompentensi dan ketrampilan-ketrampilan mereka yang diperlukan
dengan cara yang santai dan menyenangkan. Piaget yakin bahwa struktur–struktur
kognitif perlu dilatih dan permainan memberi setting yang sempurna bagi latihan
ini.
F. Konsep Diri Anak
Menurut Harter (1998) anak akan memahami diri pada masa anak-anak
berdasarkan atas berbagai peran dan kategori-kategori keanggotaan yang
mendefinisikan siapa anak itu. Damon dan Hart (1988 dan 1992) menyebutkan
bahwa meskipun bukan keseluruhan identitas pribadi, tetapi pemahaman diri
memberi tiang pondasi rasionalnya. Pemahaman diri ialah representasi kognitif
diri anak, bahan dan konsep diri. Konsep diri (self-concept) mengacu pada bidang
spesifik pada dirinya. Anak-anak dapat membuat evaluasi diri dalam banyak
bidang kehidupan mereka, seperti bidang akademis, atletik, penampilan, dan
lain-lain. Misalnya, seorang anak perempuan berusia 5 tahun memahami bahwa ia
adalah seorang perempuan, berambut hitam, suka mengendarai sepedanya,
mempunyai seorang teman, dan seorang perenang.
Menurut Keliat (2005) konsep diri anak berkembang secara bertahap
melalui pengalaman dan hubungan dengan keluarga atau orang-orang di
G. Konsep Diri Anak Abdi Dalem Keraton
Jika kita membicarakan konsep diri maka kita akan dihadapkan
pertanyaan-pertanyaan tentang diri kita, seperti “siapa saya?”, “apa peran saya
dalam kehidudpan?”, “bagaimana nilai-nilai kehidupan yang saya anut?”, “apa
cita-cita saya kelak?”, “bagaiamana pandangan orang tentang saya?”. Menurut
Aritoteles (384-322 SM) dalam Abdulkarim (2006) manusia merupakan makhluk
sosial yang artinya pada dasarnya manusia adalah makhluk yang ingin selalu
bergaul dan berkumpul dengan manusia serta bermasyarakat. Hal tersebut
mendasari konsep diri pada seseorang yang akan terbentuk melalui interaksi sosial
dan konsep diri inilah yang akan mempengaruhi perilaku manusia, dimana
pengertian tersebut sejalan dengan pengertian menurut John Kinch (1963) dalam
Fitts (1971).
Kemudian dalam konteks ini kita mempertanyakan apa yang disebut
dengan konsep diri itu. Dalam penelitian ini konsep diri dijelaskan dengan
beberapa teori yang sudah dijelaskan diatas. Oleh karena itu, peneliti mengambil
kesimpulan berdasarkan beberapa teori yang sudah dijelaskan diatas bahwa
gagasan tentang konsep diri mencakup keyakinan, pandangan, dan penilaian
seseorang kepada dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana cara kita
melihat konsep diri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang konsep diri,
dan bagaimana kemampuan berpikir seseorang. Konsep diri terbentuk melalui
Dari fenomena-fenomena yang telah diuraikan peneliti pada latar belakang
tentang anak abdi dalem keraton yang memilih mengabdi dan bekerja sebagai
abdi dalem keraton di usia anak-anak serta lebih memilih membantu pekerjaan
orang tua sebagai abdi dalem keraton daripada bermain dengan anak seusianya.
Fenomena anak abdi dalem ini berbeda dengan anak pada umum yang lebih
memilih bermain dengan teman sebaya daripada bekerja atau mengabdikan diri
kepada Keraton di usianya yang masih anak-anak atau merasa lebih senang
membantu pekerjaan orang tua sebagai abdi dalem keraton setelah pulang sekolah
daripada bermain dengan teman-teman sebaya setelah pulang sekolah. Fenomena
anak abdi dalem ini juga berbeda dengan teori-teori perkembangan sosio
emosional masa anak-anak sehingga peneliti menganggap fenomena ini
merupakan fenomena yang unik.
Penelitian ini merumuskan satu permasalahan untuk dikaji, yakni apa
konsep diri anak abdi dalem keraton. Berdasarkan teori-teori di atas mengenai
pengertian konsep diri, pembentuk konsep diri, dan dampak konsep diri, maka
dapat dirumuskan bahwa konsep diri anak abdi dalem keraton adalah gagasan
tentang konsep diri anak yang mencakup keyakinan, pandangan, dan penilaian
anak kepada dirinya sendiri yang terbentuk dari hasil interaksi sang anak dengan
orang tua yaitu abdi dalem keraton dan lingkungannya yaitu lingkungan budaya