• Tidak ada hasil yang ditemukan

Filsafat

N/A
N/A
ABDY BUSTHAN

Academic year: 2023

Membagikan "Filsafat"

Copied!
195
0
0

Teks penuh

(1)

i

FILSAFAT PENDIDIKAN

Sebuah Pengantar Awal

(2)

ii Sanksi Pelanggaran Pasal 72

Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling sedikit satu bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 atau pidana paling lama tujuh tahun dan/atau denda paling banyak Rp.

5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3)

iii

Abdy Busthan

Filsafat Pendidikan:

Sebuah Pengantar Awal

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Nabire

(4)

iv

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)

FILSAFAT PENDIDIKAN:

Sebuah Pengantar Awal

Abdy Busthan

Copyright © 2022 pada penulis

ISBN: 978-602-61852-4-2

Editor & Penyunting:

Syalom Gary

Desain Sampul & Tata Letak:

Ko Andi Silvia

Cetakan pertama, Oktober 2022 i-xv + 1-178 hlm; 14,5 x 21 cm Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak isi buku ini dalam bentuk

dan dengan cara apapun, tanpa ijin tertulis dari penulis dan penerbit

Diterbitkan dalam kerja sama antara:

Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Nabire Kantor Sekretariat: Jln. Sion (Lorong Samping Gereja Sion)

No.03 Karang Tumaritis Nabire Papua Tengah E-mail: [email protected]

Kontak. 081-333-343-222 dan

Yayasan Lontar (Kupang)

Jln. Bhakti Karang, RT.034/RW. 019, Oebobo, Kupang - NTT Telp. 085239188225

E-mail: [email protected]

(5)

v

Prawacana:

Ilmu pengetahuan dalam pertumbuhannya adalah ―proses belajar‖. Dimana kesalahan di hapus dan sesuatu yang

‗verisimilitude‘ (bersifat ‗sementara‘ benar) akan terus bertambah dalam fakta dan realitas seiring berjalannya waktu dalam kehidupan insan manusia. Skinner (1965) menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah rangkaian perilaku yang sangat erat hubungannya dengan fakta- fakta (nyata) ketimbang dengan apa yang sekedar diucapkan dan dikatakan (ilusi). Sebab pendidikan dalam hal ini lebih merupakan realitas-nyata sebuah kehidupan.

Pendidikan ada di dalam kehidupan—sebagaimana kehidupan dijalani dalam pendidikan. Pendidikan adalah kehidupan. Tanpa pendidikan maka kehidupan itu akan statis, pasif dan fiktif. Ada kausatif makna dalam hidup dan kehidupan yang humanis dan lebih humaniora jika pendidikan menjadi hidup dalam tujuan kehidupan yang hidup. Sebab progeni manusia adalah pendidikan yang

(6)

vi

menjadi satu dengan kebutuhan akan kehidupan itu sendiri. Karena itu pendidikan berperan menjadi pranata kemanusiaan—manusia yang ―seutuhnya‖ dan di dalam kehidupan yang sesungguhnya pendidikan menjadi hidup.

Dalam konteks ini, pendidikan adalah suatu fundamen penempaan individu untuk memahami dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan melalui lembaga pendidikan—

khususnya sekolah sebagai lembaga formal. Karena pada dasarnya pendidikan dapat menjadikan tiap individu untuk hidup dan bekerja sama dalam realita kehidupan melalui lingkup keluarga, masyarakat, maupun negara.

Namun tidak semua orang mengerti dalam arti yang sebenarnya apa itu pendidikan? Bahkan di dalam proses penyelenggaraan sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, kerapkali mendapatkan kritikan sebagai tempat karantina yang membelenggu kebebasan manusia dalam bereksperesi (deschooling society) sehingga tidak lagi memiliki kekuatan melakukan perubahan-perubahan baik itu terhadap perorangan maupun kelompok (Baedowi Ahmad, 2012:12).

Filsafat pada titik ini merupakan tempat sentral dalam mempersatukan berbagai kajian ilmu untuk dirumuskan

(7)

vii

secara terpadu dan selanjutnya mengakar menuju ilmu pendidikan dalam tiga dimensi ilmiahnya, yakni: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Sehingga ketiganya mampu menggiring ilmu pendidikan bersanding manis dengan ilmu-ilmu lainnya.

Ontologi, terkait penjelasan tentang apa yang ingin diketahui atau merupakan pengkajian teori tentang ―ada‖.

Dasar ontologi dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi obyek penelaahan ilmu, ciri-ciri esensial obyek tersebut berlaku umum. Ontologi berperan dalam perbincangan mengenai pengembangan ilmu, asumsi dasar ilmu dan konsekuensinya pada penerapan ilmu. Jadi ontologi adalah sarana ilmiah untuk dapat menemukan jalan penanganan masalah secara ilmiah. Dalam hal ini ontologi berperan dalam proses konsistensi ekstensif dan intensif dalam pengembangan ilmu pendidikan.

Epistemologi, mengkaji secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh sebuah pengetahuan. Hal ini terutama berkaitan dengan metode keilmuan dan sistematika dari isi ilmu. Metode keilmuan adalah suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis dan penataan

(8)

viii

langkah-langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau dengan mengembangkan ilmu pengetahuan yang sudah ada. Sedangkan sistimatisasi isi ilmu dalam hal ini berkaitan dengan batang tubuh ilmu dimana peta dasar dan pengembangan ilmu pokok dan cabang-cabang ilmunya bisa dikaji lebih dalam lagi.

Aksiologi, lebih membahas manfaat yang diperoleh setiap manusia dari pengetahuan yang didapatkannya.

Bila dalam hal ini persoalan value free dan value bound ilmu mendominasi fokus perhatian aksiologi pada umumnya, maka dalam hal pengembangan, seperti pendidikan ini, maka dimensi aksiologi bisa diperluas, sehingga secara inheren dapat mencakup dimensi nilai kehidupan manusia seperti: etika, estetika, religius (sisi dalam) dan interrelasi ilmu dengan aspek-aspek kehidupan insan manusia dalam sosialitasnya (sisi luar aksiologi). Keduanya merupakan aspek dari permasalahan transfer pengetahuan.

Relevansi filosofis ini pada gilirannya mensyaratkan komunikasi lintas, inter dan muiltidisipliner ilmu-ilmu terkait, dalam upaya menjawab persoalan dan tantangan yang muncul dari fenomena pendidikan. Dengan kata lain proses timbal balik yang sinergis antara khasanah

(9)

ix

keilmuan dan wilayah praksis akan secara aksiomatis menjadi tanggungjawab filsafat untuk dapat mengkritisi, memetakan, dan memadukan hal tersebut. Disamping soal ekstensifikasi dan intensifikasi yang dapat menjadi penentuan eksistensi perkembangan ilmu pendidikan, maka filsafat ilmu pendidikan dengan ketiga dimensi keilmuannya—ontologi, epistemologi, aksiologi—dapatlah mengeksplorasi ilmu pendidikan lebih luas dan sejajar dengan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.

Buku ini dipersembahkan ke hadapan publik untuk memperkenalkan konsep-konsep dasar serta item-item penting yang dapat dijadikan acuan dalam memahami kajian ―filsafat pendidikan‖ dengan tepat. Sekiranya melalui buku ini maka pemahaman dasar tentang ―filsafat pendidikan‖ mampu membekali siapa saja yang berminat untuk memasuki gelora ilmu pendidikan secara higienis, sinergis, beriintegritas dan romantis. Semoga bermanfaat untuk semua. Salam Pendidikan.

Kota Nabire, awal Maret 2022 Penulis, Abdy Busthan

(10)

x

(11)

xi

Tentang Penulis

Abdy Busthan, adalah seorang Dosen dan Teknolog Pembelajaran. Penulis merupakan pembina sekaligus peneliti pada Jurnal Ilmiah Flobamora Science. Penulis menyelesaikan pendidikan dari TK hingga SMA di kota Nabire, Papua. Pada jenjang pendidikan Strata Satu (S-1), penulis lulus dengan meraih predikat lulusan terbaik dan tercepat (cumlaude) yang menempuh pendidikan hanya dengan waktu 3 tahun di FKIP IPTH Universitas Kristen Artha Wacana - Kupang. Selanjutnya penulis melanjutkan Pendidikan Strata Dua (S-2) pada Magister Teknologi Pendidikan dengan mengambil konsentrasi ilmu Teknologi Pembelajaran, di Pascasarjana UNIPA Surabaya.

(12)

xii Publikasi Buku dan Jurnal:

1. Pengaruh Multimedia Ulead Video 11 Berbasis Power Poin, Terhadap Prestasi Belajar Siswa (Jurnal Flobamora Science, ISSN 2579-8030, tahun 2017)

2. Judulnya Belum Berjudul (ISBN 978-602-74190-2-5)

3. Media & Multimedia dalam Teknologi Pembelajaran (ISBN 978-602-74190-3-2)

4. Pendidikan Berbasis Goblok (ISBN: 978-602-74103-8-1)

5. Kristus versus tuhan-tuhan Postmo (ISBN: 978-602-74103-3-6)

6. Pedagogik Yahudi (ISBN: 978-602-74103-7-4)

7. Sekolah Tuhan (ISBN: 978-602-74103-4-3)

8. Perkembangan Peserta Didik (ISBN: 978-602-74103-1-2)

9. Teori Belajar & Pembelajaran (ISBN: 978-602-74103-2-9)

10. Mesias dalam Progeni (ISBN: 978-602-74103-6-7)

11. Teori Belajar Humanistik (ISBN: 978-602-74190-1-8)

12. Model Pembelajaran Saskrim 5 is (ISBN 978-602-74103-9-8)

13. Perencanaan Pembelajaran (ISBN 978-602-74190-5-6)

14. Vygotsky versus Pavlov (ISBN 978-602-74190-0-1)

15. Pembelajaran Kognitif (ISBN 978-602-74103-5-0)

16. Analisis Kebijakan Pendidikan (ISBN 978-602-74190-4-9)

17. Pendidikan Kristen yang Membebaskan (978-602-70664-4-1)

18. Profesi Kependidikan (ISBN 978-602-74991-1-9)

19. Pendidikan Logika (ISBN 978-602-74991-2-6)

20. Sejarah dan Teori Sastra (ISBN 978-602-6487-01-8)

21. Analisis Wacana dalam Substansi

(13)

xiii (ISBN 978-602-74991-8-8)

22. Menyimak (ISBN 978-602-74991-7-1)

23. Pengantar Pendidikan (ISBN 978-602-74991-3-3)

24. Dasar-Dasar Evaluasi Hasil Belajar (ISBN 978-602-74103-0-5)

25. Bekerja Selagi Hari Siang (Ed.) (ISBN 978-602-74190-9-4 )

26. Agama bukan Negara, Negara bukan Agama (ISBN 978-602-6487-05-6)

27. Bijak dalam Kata, Hikmat dalam Kalimat: Ungkapan- Ungkapan Kritis Bermakna (978-602-61852-0-4)

28. Esai-Esai Keadilan untuk Ahok (978-602-6487-08-7)

29. Pembelajaran Dasar Bahasa Indonesia (978-602-6487-06-3)

(14)

xiv

(15)

xv

Daftar Isi

Prawacana______________________________________

Tentang Penulis________________________________

Daftar Isi______________________________________

Bagian 1:

Substansi Filsafat______________________________

A. Pengertian Filsafat_____________________________

B. Filsafat Ilmu Pengetahuan_______________________

C. Cabang Filsafat________________________________

D. Manusia dan Filsafat____________________________

Bagian 2:

Substansi Pendidikan___________________________

A. Pengertian Pendidikan_________________________

B. Ideologi Pendidikan____________________________

C. Ranah Pendidikan_____________________________

D. Asas dan Landasan Pendidikan___________________

E. Fungsi dan Tujuan Pendidikan___________________

F. Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi Pendidikan____

Bagian 3:

Filsafat & Pendidikan___________________________

A. Hubungan Filsafat dan Pendidikan________________

B. Idealisme dan Pendidikan______________________

C. Realisme dan Pendidikan_______________________

D. Pragmatisme dan Pendidikan_____________________

E. Naturalisme dan Pendidikan_____________________

F. Eksistensialisme dan Pendidikan_________________

v xi xv

1 1 9 19 34

47 48 64 76 82 99 119

135 135 137 143 150 157 163

(16)

xvi

(17)

- 1 -

Substansi Filsafat

Ada dua hal disini, pengetahuan dan kepastian. Setiap pengetahuan, dimulai dengan rasa ingin tahu. Sedangkan sebuah kepastian, akan diawali dengan keraguan. Filsafat dimulai dengan keduanya: pengetahuan dan kepastian. Filsafat mendorong siapa saja yang ingin mempelajarinya untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Dengan masuk ke dalam kondisi yang meragukan sesuatu, demi mencari sebuah kepastian.

A. Pengertian Filsafat

Apa itu filsafat? Pertanyaan ini sama persis dengan pertanyaan apa itu cinta? Kedua pertanyaan ini akan sulit di jawab apabila kita tidak mengkajinya secara lebih

1

(18)

- 2 -

―mendalam‖. Sebab kedua pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang tidak saja abstrak, tetapi konkreet.

Cinta adalah sebuah perasaan mendalam terhadap seseorang atau sesama manusia. Konteks kata mendalam disini merujuk pada konsep ‗dengan segenap‘, seperti dengan usaha yang maksimal, dengan seluruh eksistensi, dengan semampu-mampunya, dengan sekuat-kuatnya, dengan seluruhnya, dsb. Artinya bahwa pencinta sejati akan mencintai dengan segenap cintanya yang mencintai. Demikan halnya dengan filsafat. Filsafat adalah berpikir dengan mendalam. Dalam pemahaman bahwa ketika seseorang berfilsafat maka ia akan melakukannya secara mendalam, yaitu dengan segenap usaha yang maksimal, segenap eksistensi, segenap kemampuan, segenap kekuatan, dan dengan seluruh apa yang dipikirkannya. Sehingga ketika seseorang itu berfilsafat, maka ia berfilsafat dengan segenap pikiran yang berpikir. 1. Sejarah Filsafat

Para pemikir filsafati yang pertama, mereka hidup di Miletos sekitar abad ke-6 SM. Bagaimana persisnya ajaran mereka memang sulit ditetapkan. Sebab sebelum Plato,

(19)

- 3 -

tidak ada hasil karya para filsuf itu yang telah sepenuhnya dibukukan, demikian dijelaskan Hadiwijono (2012:15).

Beberapa kalangan kemudian berpendapat bahwa filsafat, khususnya filsafat barat, juga muncul di Yunani semenjak abad ke 7 S.M. Filsafat muncul ketika orang- orang mulai memikirkan dan berdiskusi tentang keadaan alam, dunia, dan lingkungan sekitar dimana mereka berada dan tidak menggantungkan dirinya kepada doktrin agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang dipikirkan oleh penalaran yang mendalam.

Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta yang sekarang daerahnya di pesisir barat Turki. Tapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato, sedangkan Aristoteles adalah murid Plato.

Banyak kalangan berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah komentar-komentar dari karya Plato semata. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku karangan Plato yang terkenal diantaranya berjudul: etika, republik, apologi, phaedo, dan krito.

(20)

- 4 -

Mungkin banyak kalangan bertanya-tanya mengapa filsafat itu muncul di negara Yunani dan tidak di daerah beradab lainnya saat itu, seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sebab di Yunani manusia saling mengkritik satu dengan yang lainnya dengan menuntut pertanggungjawaban rasional atas sebuah spekulasi- spekulasi pemikiran yang mendalam. Di samping itu, di Yunani tidak seperti di daerah lain-lainnya, bahwa di sana memang tidak ada kasta pendeta yang mempengaruhi pemikiran seseorang dengan seperangkat doktrin-doktrin keagamaannya sehingga secara intelektual orang lebih bebas untuk berpikir untuk berpikir.

2 Filsafat secara Etimologis

Secara etimologis, kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia, merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Arab (فلسفة), yang semula diambil dari bahasa Yunani, yaitu philosophia. Kata ini diturunkan dari sebuah kata kerja, yakni filosofein. Kata philosophia adalah kata majemuk dan merupakan gabungan dari dua kata yaitu:

philia (persahabatan, cinta) dan sophia (kebijaksanaan).

Sehingga pengertian harafiahnya adalah seorang pencinta kebijaksanaan.

(21)

- 5 -

Pada masa Yunani Kuno, filsafat dan ilmu jalin menjalin dijadikan menjadi satu dan tidak terpisahkan sebagai dua hal yang berlainan sehingga keduanya termasuk dalam pengertian episteme. Kata philosophia, merupakan kata padanan dari istilah episteme ini. Filsuf besar Yunani Kuno, Aristoteles, menyatakan episteme adalah ‗an organized body of rational knowledge with its proper object‘ (suatu kumpulan yang teratur dari pengetahuan rasional dengan objeknya sendiri yang tepat). Jadi filsafat dan ilmu tergolong pengetahuan rasional yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran atau rasio manusia (The Liang Gie, 2010).

3. Konsepsi Filsafat Menurut Ahli

Menurut Suseno (2012:36) bahwa ciri khas filsafat yang muncul pada negara Yunani adalah cirinya yang argumentatif. Inilah yang membedakannya dari ajaran kebijaksanaan yang lahir di India, Cina atau di daerah Jawa. Di ketiga tempat ini, manusia juga berpikir dalam- dalam, tetapi bahwa manusia saling mengkritik, bahwa filsafat menuntut pertanggungjawaban rasional atas sebuah spekulasi, itu hanya muncul di Yunani. Karenanya, hanya filsafat argumentatif-lah yang memiliki potensialitas

(22)

- 6 -

untuk melahirkan ilmu-ilmu, karena filsafat argumentatif sanggup mendobrak mitos, sehingga memungkinkan pendekatan spesialistik hingga menjangkau sesuatu yang eksperimental.

Berkaitan dengan penjelasan diatas, orang mungkin mengatakan bahwa filsafat ‗tidak membuat roti‘. Ucapan ini sepenuhnya benar sebab filsafat tidak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, juga tidak melukiskan teknik-teknik baru untuk membuat bom atom. Demikian dikatakan Louis Kattsoff (2004:3), dalam karya fenomenalnya berjudul ―Elements of Philosophy‖.

Meskipun filsafat tidak membuat roti, lanjut Kattsoff (2004:ibid), namun filsafat dapat menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda dari tepungnya, menambah jumlah bumbunya secara layak, dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat. Secara sederhana hal ini berarti bahwa, tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, sehingga dapat menerbitkan serta mengatur semua itu di dalam bentuk sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang

(23)

- 7 -

lebih layak. Jadi, filsafat berbeda sama sekali dengan membuat roti, sebab filsafat merupakan analisis secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran tentang sesuatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandangan yang menjadi dasar suatu tindakan. Dan hendaknya diingat bahwa kegiatan yang dinamakan kegiatan kefilsafatan adalah perenungan atau pemikiran. Inilah definisi filsafat yang dikatakan Kattsoff (2004:4), bahwa kefilsafatan adalah pemikiran secara ketat. Unsur-unsur yang terkandung di dalamnya adalah:

 Meragukan segala sesuatu.

 Mengajukan pertanyaan.

 Menghubungkan gagasan yang satu dengan yang lainnya.

 Menanyakan mengapa.

 Mencari jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban sebelumnya atau yang tersedia pada pandangan pertama.

Senada dengan unsur-unsur dan pemahaman diatas, Palmquis (2007:3-13) menyatakan bahwa filsafat adalah berpikir. Filsuf (baca:pemikir) yang baik, tidak akan puas sampai mereka menggali sedalam-dalamnya persoalan

(24)

- 8 -

yang mereka ajukan sendiri. Kadang-kadang gagasan filosofis sulit dipahami bukan karena terlalu abstrak, tetapi justru karena teramat konkret.

Suriasumantri (2010:20) menegaskan, karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya.

Dia ingin mengetahui kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dengan agama, dan dia ingin meyakini apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.

Namun, filsafat berbeda dengan ideologi dan dogma yang cenderung tertutup dan menganggap kebenaran tertentu sebagai sesuatu yang tidak bisa dipersoalkan dan yang diterima begitu saja. Sebaliknya, filsafat—dan ilmu pengetahuan pada umumnya—tidak menerima kebenaran apapun sebagai sesuatu yang telah selesai.

Memang betul bahwa secara etimologis filsafat berarti cinta akan kebenaran—suatu dorongan terus- menerus, suatu dambaan untuk mencari dan mengejar kebenaran. Tetapi dalam pengertian ini, yang pertama- tama mau diungkapkan bahwa filsafat adalah upaya,

(25)

- 9 -

sebuah proses, sebuah pencarian, sebuah quest, sebuah perburuan tanpa henti akan kebenaran.

Karena itu, cinta (philo) dalam philosophia, tidak dipahami pertama-tama sebagai kata benda yang statis dan yang given, melainkan sebagai sebuah kata kerja yang menunjukkan sebuah proses. Dalam arti ini maka filsafat adalah sebuah sikap yang dihidupi, yang dihayati dalam pencarian, dalam quest, dan dalam pertanyaan terus-menerus (Keraf & Dua, 2013:14).

B. Filsafat Ilmu Pengetahuan

Berdasarkan sudut pandang yang filosofis, filsafat ilmu pengetahuan dapatlah dipahami berdasarkan empat pendekatan dengan menggunakan 4 (empat) pertanyaan ilmiah berikut ini.

1) Apakah pengetahuan itu? Pertanyaan jenis ini membutuhkan jawaban berupa ―hakikat‖ (isi arti hakiki) yaitu sebuah bentuk ―pengetahuan subtansial‖

tentang apa dan bagaimana itu ilmu pengetahuan.

2) Mengapa ilmu pengetahuan itu ada? Bahwa pertanyaan ini membutuhkan jawaban tentang sebab- akibat dari keberadaan atau ―pengetahuan kausal‖

ilmu pengetahuan.

(26)

- 10 -

3) Bagaimana ilmu pengetahuan itu bisa ada?

Pertanyaan seperti ini memerlukan jawaban mengenai

―metode‖ untuk dapat mengetahui objek yang berupa

―pengetahuan metodis‖ ilmu pengetahuan.

4) Untuk apa ilmu pengetahuan itu ada? Bahwa pertanyaan ini sangat membutuhkan jawaban berupa

―manfaat‖ ilmu pengetahuan untuk kehidupan manusia sebagai makhluk yang berpikir, yaitu berbentuk pengetahuan normatifilmu pengetahuan.

Dari keempat pertanyaan diatas, maka jika dirunut berdasarkan susunan katanya, dapat dipahami filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang objek materinya berupa ilmu pengetahuan di dalam berbagai jenis, bentuk, dan sifatnya. Dapatlah meliputi pluralitas ilmu pengetahuan (ragam ilmu pengetahuan).

Sedangkan objek formanya adalah ―hakikat‖ (intisari) ilmu pengetahuan. Menurut Suhartono (2011:23), filsafat ilmu pengetahuan adalah suatu bidang studi filsafat yang mempelajari segala macam jenis, bentuk, dan sifat dari ilmu pengetahuan.

Hal yang sama dijelaskan Keraf dan Dua (2013:23) bahwa filsafat ilmu pengetahuan adalah cabang filsafat

(27)

- 11 -

yang mempersoalkan dan mengkaji segala persoalan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Tema yang dipersoalkan adalah apa itu kebenaran? Apa metode ilmu pengetahuan? Manakah metode paling bisa diandalkan?

Apa kelemahan metode yang ada? Apa itu teori? Apa itu hipotesis? Apa itu hukum ilmiah?

1. Pengertian Pengetahuan

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, pengetahuan berarti segala sesuatu yg diketahui;

kepandaian: atau segala sesuatu yg diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Keraf dan Dua (2013:22) menyatakan bahwa pengetahuan adalah keseluruhan pemikiran, gagasan, ide, konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya, termasuk manusia dan kehidupannya.

Pengetahuan mencakup penalaran, penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu. Juga mencakup praktik atau kemampuan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum dibakukan secara sistematis dan metodis. Karena itu, filsafat pengetahuan berkaitan dengan upaya mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan

(28)

- 12 -

manusia pada umumnya, terutama menyangkut gejala pengetahuan dan segala sumber pengetahuan manusia.

Sehingga timbul beberapa pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa tahu? Apakah manusia bisa sampai pada pengetahuan yang bersifat pasti? Apakah pengetahuan yang pasti itu mungkin? Apa artinya mengetahui sesuatu? Bagaimana manusia bisa tahu bahwa ia tahu? Dari mana asal dan sumber pengetahuan manusia itu? Apakah pengetahuan sama dengan keyakinan? Dimana letak perbedaannya?

Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan yang diperoleh dari persentuhan panca indera terhadap objek tertentu.

Pengetahuan pada dasarnya hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia bersikap dan bertindak. Jadi pengetahuan lebih dikaitkan dengan segala sesuatu yang diketahui oleh manusia, berkaitan dengan proses mempelajari sesuatu.

2. Pengertian Ilmu pengetahuan

Ilmu Pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam

(29)

- 13 -

manusia. Segi-segi yang dimaksudkan ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan pasti.

Ilmu dalam hal ini memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya dan kepastian ilmu- ilmu yang ditelusuri, diperoleh dari keterbatasan yang ada. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu.

Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih dalam dan lebih jauh tentang pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari istemologepi. Menurut Keraf dan Dua (2013:22-23), ilmu pengetahuan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah dibakukan secara sistematis. Ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai upaya menjelaskan hubungan antara berbagai hal dan peristiwa dalam alam semesta ini secara sistematis dan rasional (masuk akal). Misalnya, ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (materiil saja). Ilmu-ilmu alam menjawab

(30)

- 14 -

pertanyaan tentang berapa jarak matahari. Demikan halnya dengan ilmu psikologi yang hanya bisa meramalkan perilaku setiap manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.

3. Persamaan Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu Pengetahuan

Diantara tiga hal ini: filsafat, pengetahuan, dan ilmu pengetahuan, terdapat beberapa persamaan. Persamaan- persamaannya adalah sebagai berikut:

 Ketiganya mencari rumusan yang sebaik-baiknya dalam menyelidiki objek selengkap-lengkapnya

 Ketiganya dapat memberikan pengertian mengenai hubungan yang ada antara kejadian-kejadian yang kita alami, dengan menunjukkan sebab-sebabnya.

 Ketiganya hendak memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan.

 Ketiganya mempunyai metode dan sistem

 Ketiganya hendak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (objektivitas) akan pengetahuan yang lebih mendasar

(31)

- 15 -

4. Perbedaan Filsafat, Pengetahuan, dan Ilmu Pengetahuan

Untuk perbedaan filsafat, pengetahuan, dan ilmu pengetahuan, dapat dilihat dalam tabel berikut:

Filsafat Pengetahuan Ilmu Pengetahuan Mencoba merumuskan

pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum,

tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang

segala sesuatu secara umum dan keseluruhan.

Yang dipelajari terbatas, karena

hanya sekedar kemampuan yang

ada dalam diri manusia untuk mengetahui sesuatu hal.

Cenderung kepada hal yang dipelajari dari sebuah buku

panduan.

Keseluruhan yang ada Objek penelitian

terbatas Ilmu pengetahuan adalah kajian tentang dunia

material.

Menilai objek renungan dengan suatu makna.

Misalkan: religi, kesusilaan, keadilan,

dsb

Tidak menilai objek dari suatu

sistem nilai tertentu.

Ilmu pengetahuan adalah definisi eksperimental.

Bertugas mengintegrasikan ilmu-

ilmu.

Bertugas memberikan

jawaban

Ilmu pengetahuan dapat sampai pada kebenaran melalui kesimpulan logis dari pengamatan

empiris

Dari perbedaan diatas dapat disimpulkan bahwa fokus utama filsafat ilmu pengetahuan adalah masalah terkait ilmu pengetahuan. Metode ilmu pengetahuan dalam hal ini adalah metode-metode yang logis karena

(32)

- 16 -

ilmu pengetahuan mempraktekkan logika. Sedangkan temuan-temuan dalam kajian setiap ilmu pengetahuan, dimungkinkan oleh akal budi manusia yang terbuka pada realitas. Keterbukaan budi manusia terhadap realitas seperti ini disebutkan sebagai imajinasi. Sehingga logika dan imajinasi adalah dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan.

Jadi tugas ilmu pengetahuan disini adalah membuka pikiran manusia untuk mempelajari secara mendalam (serius) proses logika dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan. Tak pernah ada imajinasi tanpa logika dalam ilmu pengetahuan. Keduanya akan berjalan secara simultan (bersamaan).

5. Empat Pola pengetahuan

Berdasarkan polanya, pengetahuan dapatlah di bagi menjadi empat bagian penting, yaitu pengetahuan yang tahu bahwa (know-that); pengetahuan yang tahu bagaimana (know-how); pengetahuan yang tahu tentang (know-about); dan pengetahuan yang tahu mengapa (know-why). Berikut penjelasannya.

Know-that. Pengetahuan tahu bahwa merupakan pengetahuan tentang informasi tertentu (tahu bahwa

(33)

- 17 -

sesuatu terjadi, tahu bahwa apa yang dikatakan benar, dll). Pengetahuan ini disebut juga dengan know that (tahu bahwa). Jenis pengetahuan ini adalah pengetahuan teoritis dan ilmiah yang berkaitan dengan keberhasilan mengumpulkan informasi atau data tertentu. Jadi kekuatan pengetahuan jenis ini terletak pada data dan informasi yang diperoleh seseorang.

Know-how. Pengetahuan tahu bagaimana lebih merupakan pengetahuan yang menyangkut bagaimana melakukan sesuatu. Dikenal dengan know-how (tahu bagaimana). Pengetahuan ini juga berkaitan dengan keterampilan teknis dalam melakukan sesuatu. Seseorang yang memiliki pengetahuan ini, berarti ia tahu bagaimana melakukan sesuatu. Itu sebabnya pengetahuan jenis ini berkaitan dengan praktek, sehingga bisa dikatakan sebagai pengetahuan praktis. Tentu hal ini tidak berarti bahwa pengetahuan jenis ini hanya bersifat praktis semata. Karena pengetahuan jenis ini memiliki landasan atau asumsi teoritis yang telah diaplikasikan menjadi pengetahuan praktis. Mencakup: olahraga, teknik, komputer, manajemen, dll.

(34)

- 18 -

Know-about. Pengetahuan tahu tentang, adalah sesuatu yang sangat spesifik menyangkut pengetahuan akan sesuatu atau seseorang melalui pengalaman dan pengenalan pribadi. Unsur terpenting dari pengetahuan ini adalah pengenalan dan pengalaman pribadi secara langsung dengan objeknya. Karenanya disebut juga sebagai pengetahuan berdasarkan pengenalan. Knowing yang dimaksudkan di sini adalah ―kenal secara pribadi‖

yaitu pengetahuan langsung yang bersifat personal. Ciri khas pengetahuan ini adalah: pengetahuan didasarkan pada pengenalan pribadi yang langsung dengan objek, subjek mampu membuat penilaian tertentu atas objeknya karena pengenalan pribadi yang bersifat langsung ke objek, pengetahuan ini bersifat singular, yaitu hanya berkaitan dengan objek atau barang khusus.

Know-why. Pengetahuan tahu mengapa, adalah jenis pengetahuan yang berkaitan dengan ‗pengetahuan bahwa‘. Hanya saja, ‗tahu mengapa‘ jauh lebih mendalam daripada ‗tahu bahwa‘. Karena ‗tahu mengapa‘ berkaitan dengan penjelasan, sebab ia tidak hanya berhenti pada informasi saja tetapi menerobos masuk ke dalam data atau informasi yang ada. Pengetahuan jenis ini adalah

(35)

- 19 -

pengetahuan yang mencoba meraguka, mempertanyakan dan mengkaji sesuatu informasi yang didapatkan pada jenis pengetahuan ‗tahu bahwa‘ yang pertama. Mengapa sesuatu dapat terjadi sebagaimana adanya? Mengapa apel selalu jatuh ke tanah? Mengapa planet-planet selalu berada pada orbitnya?. Itu sebabnya pengetahuan jenis ini adalah pengetahuan paling tinggi dan mendalam yang sekaligus merupakan pengetahuan ilmiah. Artinya, bahwa manusia selalu digerakkan kecenderungan dasar dalam dirinya, yang selalu ingin mengetahui lebih dan lebih lagi (Keraf dan Dua, 2013:34-36).

C. Cabang Filsafat

Mempelajari tentang aliran-aliran filsafat, berarti merujuk pada bagaimana seseoraang mengembangkan filsafat ilmu pengetahuan. Secara universal, cabang ilmu filsafat, terdiri dari enam bagian, yaitu: epistemologi, estetika, etika, filsafat politik, logika dan metafisika.

1. Epistemologi

Epistemologi, berasal dari dua kata bahasa Yunani, yaitu kata: epistime yang artinya metode, kata dan logos yang artinya kata, pembicaraan, atau ilmu. Epistemologi

(36)

- 20 -

adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis pengetahuan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan?

bagaimana karakteristik dari pengetahuan? Bagaimana macam-macam pengetahuan? Bagaimanakah hubungan pengetahuan dengan kebenaran dan keyakinan?

Kajian tentang ilmu pengetahuan disebut dengan epistemologi. Pengetahuan dapat diperoleh melalui pengalaman data-data indra, benda-benda memori, keadaan internal, diri kita sendiri, orang lain atau benda- benda fisik. Pada titik ini, filsafat ilmu merupakan alat untuk melakukan telahaan tentang struktur ilmu

Ilmiah adalah ilmu. Jadi, berpikir ilmiah adalah proses atau aktivitas yang dilakukan manusia untuk menemukan atau mendapatkan ilmu yang bercirikan dengan adanya kausalitas, analisis, dan sintesis. Dalam epistemologi atau perkembangan untuk mendapatkan ilmu, diperlukan adanya sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah ini adalah alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Jadi, fungsi sarana berpikir ilmiah

(37)

- 21 -

adalah membantu proses metode ilmiah untuk mendapat ilmu atau teori yang lain (Daito, 2011:55).

Jadi, epistemologi adalah teori pengetahuan yang lebih banyaknya berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya, serta bagaimana pertanggungjawaban segala pernyataan- pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki manusia.

Pengetahuan tersebut diperoleh melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode seperti berikut ini:

Empirisme, adalah suatu metode dalam filsafat yang mendasarkan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan, akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi manusia dengan dunianya. Akal sebagai tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut.

Ini berarti, semua pengetahuan kita betapapun rumitnya, dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman- pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-

(38)

- 22 -

objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian, itu bukan pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.

Rasionalisme, menegaskan bahwa setiap sumber pengetahuan, terletak pada akal budi. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman setidaknya dapat dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam barang atau diri sesuatu.

Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran manusia dan hanya diperoleh dengan akal budi saja.

Fenomenalisme, Raja Fenomenalisme atau Bapak Fenomenalisme ini adalah Immanuel Kant. Kant membuat uraian tentang pengalaman. Barang sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri, merangsang alat inderawi manusia dan diterima oleh akal, dalam bentuk-bentuk pengalaman yang disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Karenanya, manusia tidak pernah mempunyai

(39)

- 23 -

pengetahuan tentang barang sesuatu seperti keadaannya sendiri, melainkan hanya tentang sesuatu seperti yang nampak kepada kita. Artinya pengetahuan adalah tentang sebuah gejala (phenomenon). Menurut Kant, penganut empirisme bisa benar bila berpendapat bahwa semua pengetahuan itu didasarkan oleh pengalaman—meskipun benarnya hanya untuk sebagian. Tetapi para penganut rasionalisme juga bisa benar, karena akal memaksakan bentuk-bentuknya sendiri, terhadap barang sesuatu serta pengalaman.

Intusionisme, yaitu merupakan sarana mengetahui secara langsung. Analisa, atau suatu pengetahuan yang diperoleh dengan pelukisan, tidak dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Salah satu di antara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme ialah, paham ini memungkinkan adanya bentuk pengalaman di samping pengalaman yang dihayati indera. Data yang dihasilkannya merupakan tambahan bagi pengetahuan, di samping pengetahuan yang dihasilkan oleh penginderaan. Kant benar dengan mengatakan bahwa pengetahuan didasarkan pada pengalaman, tetapi dengan demikian, pengalaman harus

(40)

- 24 -

meliputi baik pengalaman inderawi maupun pengalaman intuitif. Intusionisme tidak mengingkari nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya. Intusionisme—setidak-tidaknya dalam beberapa bentuk—hanya mengatakan bahwa, pengetahuan yang lengkap adalah yang di peroleh melalui intuisi, sebagai lawan pengetahuan yang nisbi—yang meliputi sebagian saja—yang diberikan oleh analisis. Apa yang diberikan oleh indera, hanyalah apa yang tampak saja, sebagai lawan dari yang diberikan oleh intuisi, yaitu kenyataan.

Barang sesuatu tidak pernah merupakan sesuatu seperti yang tampak pada manusia, karena hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan keadaannya secara nyata.

Dialektis, merupakan tahapan logika yang banyak mengajarkan kaidah-kaidah dan metode penuturan serta analisis sistematik tentang ide-ide untuk mencapai apa yang terkandung dalam pandangan. Dalam kehidupan sehari-hari, dialektika adalah kecakapan dalam melakukan perdebatan. Teori pengetahuannya lebih berbentuk pemikiran yang tidak tersusun dari satu pikiran saja, tetapi pemikiran seperti sebuah percakapan yang bertolak dari dua kutub.

(41)

- 25 - 2. Estetika

Estetika berasal dari bahasa Yunani aisthetikos, yang artinya "keindahan‖ atau sensitivitas kesadaran yang berkaitan dengan persepsi sensorik, dan merupakan turunan dari kata aisthanomai, yang berarti saya melihat, meraba, dan merasakan. Untuk pertama kali istilah ini digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada tahun 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.

Itu sebabnya estetika adalah salah satu cabang filsafat yang membahas tentang keindahan. Estetika merupakan ilmu membahas bagaimana keindahan bisa terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya.

Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.

Keindahan seharusnya sudah dinilai saat karya seni pertama kali dibuat, namun rumusan keindahan pertama kali didokumentasi oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan.

(42)

- 26 -

Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.

Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut memengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa-masa populernya de Stijl di negara Belanda, ‗keindahan‘ berarti kemampuan memadukan warna dan ruang serta kemampuan mengabstraksi benda.

Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan, dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai

(43)

- 27 -

buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.

3. Etika

Istilah etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu ethikos, yang artinya adalah timbul dari kebiasaan. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).

Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dari dalam pendapat spontannya. Kebutuhan akan refleksi itu akan dirasakan, antara lain karena pendapat etis seseorang tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia terhadap perbedaan itu.

Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika). Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Sebab itu, etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam

(44)

- 28 -

melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi, berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

4. Filsafat Politik

Filsafat Politik adalah cabang ilmu dari filsafat yang mempelajari tema-tema dalam beberapa bidang seperti:

politik, kebebasan, keadilan, hak milik, hak, hukum, pemerintahan dan penegakan hukum oleh otoritas.

Beberapa pertanyaan utama dalam ilmu filsafat politik:

apa yang melegitimasi otoritas suatu pemerintahan, hak- hak dan kebebasan apa saja yang dimiliki warga negara dan harus dilindungi oleh pemerintah, dan apa saja tugas warga negara dalam pemerintahan. Beberapa filsuf dalam bidang filsafat politik yang penting pada era modern adalah Thomas Hobbes, Machiavelli, John Locke, Jean- Jacques Rousseau, John Rawls, dan Jurgen Habermas.

5. Logika

Logika berasal dari kata Yunani kuno: logos, yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan

(45)

- 29 -

lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Karena itu, logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (bahasa Latin:

logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu mengacu pada kemampuan rasional seseorang untuk mengetahui; dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan ―masuk akal‖.

Logika merupakan ilmu pengetahuan dengan objek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan objek formal logika adalah berpikir atau suatu penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.

Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis di sini berarti logika dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika lahir bersama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk menaruh pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba membantah pikiran lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang

(46)

- 30 -

bentuk inferensi yang berlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi juga bisa dianggap sebagai cabang matematika. Logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidup mencari kebenaran. Konsep bentuk logis adalah inti dari logika.

Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.

Dasar dari penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif.

Penalaran deduktif. Kadang juga disebutkan logika deduktif, yaitu suatu penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.

Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan

(47)

- 31 -

valid jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Contoh argumen deduktif:

1. Setiap mamalia punya sebuah jantung 2. Semua kuda adalah mamalia

3. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung

Penalaran induktif. Kadang disebut dengan logika induktif, yaitu penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk dapat mencapai kesimpulan umum. Contoh argumen induktif:

1. Kuda Sumba punya sebuah jantung 2. Kuda Australia punya sebuah jantung 3. Kuda Amerika punya sebuah jantung 4. Kuda Inggris punya sebuah jantung 5. ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung

6. Metafisika

Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis terhadap hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya.

Kajian mengenai metafisika umumnya berporos pada pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan sifat- sifat, meliputi realitas yang dikaji.

(48)

- 32 -

Pemaknaan mengenai metafisika bervariasi, dan setiap masa dan filsuf, tentu memiliki pandangan yang berbeda. Secara umum topik analisis metafisika meliputi pembahasan mengenai eksistensi, keberadaan aktual dan karakteristik yang menyertai, ruang dan waktu, relasi antar keberadaan seperti pembahasan mengenai kausalitas, posibilitas, dan pembahasan metafisis lainnya (Wikipedia, 2017).

Mengingat jangkauan kajian yang dipusatkannya, metafisika menjadi disiplin ilmu yang fundamental dalam kajian filsafat. Sepanjang sejarah kefilsafatan, metafisika banyak menjangkau problem-problem klasik dalam filsafat teoretis. Umumnya, kajian metafisika menjadi "batu pijakan" atas struktur gagasan kefilsafatan dan prinsip lebih kompleks untuk menjelaskan problem lainnya.

Sehingga dalam pemahaman metafisika klasik, metafisika membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar yang jawaban-jawaban atasnya dapat digunakan menjadi dasar bagi pertanyaan yang lebih kompleks. Misalnya, adakah maksud utama dalam beradanya dunia ini?

Apakah keberadaannya sebatas hanya keberadaan yang

"mengada" atau dependen terhadap keberadaan lainnya?

(49)

- 33 -

Apakah tuhan itu? Apakah tuhan-tuhan ada? Lalu, jika ada, apa saja hal-hal yang bisa manusia tahu atau tidak tahu tentangnya? Benarkah terdapat semacam intellectus, terutama dalam hal pembahasan mengenai pembedaan antara problem pemisahan entitas jiwa–badan? Apakah jiwa sesuatu yang nyata dan apakah ia berkehendak bebas? Apakah segalanya tetap atau bisa berubah?

Apakah terdapat hal atau relasi yang selalu bersifat tetap, yang bekerja dalam berbagai fenomena? Dan pertanyaan- pertanyaan lain yang sejenis. Objek bahasan metafisika bukan semata-mata hal-hal empiris atau hal-hal yang dapat dijangkau oleh pengamatan individual, melainkan hal-hal atau aspek-aspek yang menjadi dasar atas realitas itu sendiri. Klaim-klaim atas metode dan objek kajian metafisika telah menjadi problem perenial kefilsafatan.

Itu sebabnya, pembahasan mengenai metafisika memiliki berbagai sub bahasan. Misalnya pembahasan sentral metafisika adalah ontologi, yaitu proses analitis dan klasifikasi berdasarkan prinsip-prinsip kategori keberadaan dan relasi di antaranya. Bahasan sentral lainnya seperti tentang kosmologi metafisik, yaitu kajian

(50)

- 34 -

mendalam atas prinsip keberadaan dunia, realitas, asal mula, dan makna keberadaan atasnya.

D. Manusia dan Filsafat

Filsafat manusia merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas makna untuk menjadi manusia (Leahy, 1984).

Filsafat manusia menjadikan manusia sebagai objek studinya (Salam, 1988). Pembahasan di dalam cabang ilmu filsafat manusia, adalah tentang bagaimana manusia selalu mengajukan pertanyaan mengenai dirinya sebagai manusia. Filsafat manusia terus berkembang karena manusia adalah objek yang penuh dengan misteri.

Titik tolak filsafat manusia adalah pengetahuan dan pengalaman manusia, serta dunia yang melingkupinya.

Dalam sejarah, ada beberapa istilah yang mendahului filsafat manusia, yaitu psikologi filsafat, psikologi rasional, eksperimental dan empiris.

1. Apakah Manusia Itu?

Filsafat manusia adalah filsafat yang mengupas apa arti manusia. Pertanyaan pokoknya: apakah kekhasan manusia di tengah makhluk yang lain? Inilah pertanyaan

(51)

- 35 -

yang terus-menerus terulang dalam sejarah, bahkan dalam kehidupan manusia secara pribadi.

Manusia adalah makhluk yang multidimensional, paradoksal dan dinamis. Maka tidak mengherankan jika pandangan terhadap manusia menjadi beraneka ragam.

Sehingga keanekaragaman pandangan ini tampak pula dari keanekaragaman definisi tentang manusia. Mungkin yang paling terkenal adalah definisi Aristoteles yang mengatakan: ―Manusia adalah animal rationale‖ (hewan berakal budi).

Pandangan filsafat lainnya juga merumuskan manusia merupakan animal loquens (makhluk yang berbicara).

Keunggulan manusia dalam hal bahasa, sangatlah nyata, di mana bahasa manusia berebda dengan bahasa hewan.

Manusia mampu berbicara dalam bahasa lisan dan mampu mengembangkannya dalam bahasa tulisan.

Beberapa filsuf lainnya juga merumuskan manusia sebagai a symbolic animal. Sebuah simbol yang bersifat multidimensional. Bahasa simbol sangat khusus berperan dalam bahasa cinta dan bahasa religius. Lain hal lagi dengan Karl Marx. Ia menemukan keunggulan manusia dalam pekerjaannya. Maka manusia juga disebut makhluk

(52)

- 36 -

yang bekerja. Banyak definisi-definisi lainnya yang juga muncul merumuskan kekhasan manusia di tengah makhluk lainnya di dunia. Misalnya, manusia dirumuskan sebagai an ethical being, sebagai an aesthetical being, dan a metaphysical being, serta a religious being, dsb.

Namun sesungguhnya definisi-definisi yang telah dilontarkan banyak filsuf ini masih membawa berbagai kesulitan. Misalnya Aristoteles yang mengatakan bahwa ciri khas manusia adalah sebagai animal rationale atau dikuasai oleh kekuatan rasionya dan bukan oleh nafsu atau naluri, maka sulit dimengerti untuk bisa menjelaskan terjadinya suatu keserakahan kapitalisme, peperangan dunia, terorisme yang selalu memakan banyak korban dan membunuh ibu dan anak-anak dalam peradaban sekarang. Mungkin seorang mengatakan semua terjadi justru karena penggunaan sebuah rasio yang semakin canggih, yang disalahgunakan dan diselewengkan.

a. Manusia & Kemampuan Refleksi Diri

Teilhard de Chardin dalam The Phenomenon of Man (Pattipo's, 2012) menjawab kesulitan definisi ciri khas manusia ini dengan mengatakan ―Hewan mengetahui, tetapi hanya manusia mengetahui bahwa ia mengetahui.‖

(53)

- 37 -

Manusia memiliki kemampuan refleksi diri atau kesadaran reflektif. Hewan, di sisi lain, tidak mampu untuk berefleksi tentang dirinya. Mereka tidak memiliki kemampuan refleksi mengenai tindakan berpikir itu sendiri. Kesadaran diri atau refleksi diri itu merupakan ciri khas manusia yang menentukan. Refleksi diri juga merupakan aktivitas manusia yang membedakan dirinya dengan orang lain.

Dengan menjadikan dirinya sebagai pusat refleksi, manusia menarik diri dari lingkungan dan dari orang lain yang berada dalam lingkungannya. Kemampuan refleksi diri yang menjadi kekhasan manusia ini, juga menjadi sumber dari berbagai ciri lainnya: rasionalitas, ingatan kembali, kesadaran akan kematian, kemampuan bunuh diri, aspirasi religius dan lain-lain. Refleksi-diri juga merupakan aktivitas yang membedakan diri manusia sendiri dengan orang lain.

Dengan kemampuan refleksi-nya, maka manusia memiliki keterbukaan terhadap dunia (openness to the world), dan tidak dibatasi oleh naluri dan stimulus spesifiknya. Sehingga manusia menjadi mampu untuk mengimbangi kelemahan nalurinya dengan kebebasan dan rasionalitas. Kemampuan reflektif membuat manusia

(54)

- 38 -

mampu menghadapi dirinya dan realitas lainnya sebagai objek. Manusia akan dapat mengambil atau mengatur jarak terhadap lingkungannya. Dengan demikian kemampuan refleksi diri manusia merupakan dasar dari perbedaan-perbedaan yang lain dengan binatang.

b. Manusia dalam Teori Evolusi

Disini tradisi Kristiani dan metafisik menempatkan kekhasan manusia pada jiwa yang tidak dapat mati, yang membuat martabat manusia mengatasi seluruh kosmos.

Dalam perkembangannya, filsafat modern tidak lagi mencari kekhasan manusia menurut tradisi Kristiani yaitu dalam kerangka hubungan manusia dengan kosmos atau Allah. Pada abad ke-19 diusahakan untuk mengatasi dualisme badan-jiwa dengan melihat keunikan manusia dalam kejasmaniannya. Kekhasan manusia itu dicari melalui refleksi mengenai tempat manusia di dalam alam semesta dan terutama dalam perbandingan manusia dengan binatang. Pendekatan ini seolah-olah kembali pada pendekatan kaum Stoa yang memahami manusia dalam kerangka tertib kosmik sebagai mikrokosmos.

Selaras dengan teori evolusi Darwin, antropologi mengandaikan kontinuitas hewan dan manusia, yang

(55)

- 39 -

kemudian mencoba menentukan tempat khas manusia dalam kontinuitas ini dan bukannya memasukkan prinsip asing ke dalam alam. Pendekatan ini dipelopori oleh J.G.

Herder dan Friederich Nietzsche serta pendekatan psikologi yang tidak lagi mempelajari psyche melalui introspeksi tetapi melalui observasi perilaku ekstrim. Cara pandang seperti ini disebut perspektif ―antropo-biologi‖.

Secara sederhana pendekatan ini merupakan cara pandang fenomenologis yang mencari kekhasan manusia sebagaimana terlihat dalam perilaku dan kejasmaniannya.

Pendekatan ini lebih-lebih dilakukan oleh behaviourisme Amerika di satu sisi, dan pada sisi lain oleh penelitian

‗antropologi filsafat‘ yang bertolak dari penelitian biologis atas prilaku manusia.

c. Manusia & Teori Behavioristik

Pendekatan behaviouristik yang digagas oleh ahlinya seperti: J. B. Watson, B. F. Skinner dan Ivan P. Pavlov, dalam menggambarkan perilaku sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan yang didasarkan hukum stimulus- respons, sebenarnya mereduksi kegiatan manusia hanya sebatas pada perilaku terobservasi yang dirangsang dari luar (eksternal). Pendekatan teori behavioristik Pavlov

(56)

- 40 -

misalnya, dengan melakukan pengujian terhadap seekor anjing, kemudian ia mendapatkan banyak kritik sebab menyamakan kedudukan manusia dan hewan dalam belajar. Diantaranya adalah kritik dari Jurgen Habermas yang mengatakan bahwa ―stimulus yang sama dapat menghasilkan respons yang berbeda bila diinterpretasikan secara berbeda oleh yang memberi respons.‖ Hal ini membawa pergeseran dari pendekatan yang melului empiristik kepada suatu interpretasi perilaku yang didasarkan pada adanya apriori atau skema perilaku bawaan yang disebut ‖apriori‖, karena skema itu telah ada sebelum suatu pengalaman terjadi.

Interpretasi ini berkembang dalam tradisi filsafat Jerman yang dipengaruhi oleh Imanuel Kant, di mana ia berpendapat bahwa semua pengalaman tergantung pada forma apriori. Pandangan Kant ini mempengaruhi Lorenz yang berusaha menunjukkan bahwa forma atau kategori apriori yang memungkinkan semua pengalaman manusia terkait dengan forma organ tubuh kita (internal).

d. Manusia & Humanisme

Filsuf Heidegger, memandang konsepsi manusia dalam kerangka paham humanisme. Humanisme menolak

(57)

- 41 -

suatu asumsi mengenai manusia yang naturalistik dalam artian, bahwa ―esensi manusia merupakan organisme binatang‖. Humanisme memandang manusia terutama sebagai suatu entitas yang berada di dalam dunia bersamaan dengan entitas yang lain, dan kemudian dari situ dicarikan ciri-cirinya yang khas. Humanisme mencari definisi mengenai manusia yang tidak memadai itu dengan merangkaikan ―jiwa‖ dengan ―badan‖, dan akal budi dengan jiwa. Heidegger berpendapat bahwa selama filsafat modern menjadikan kesadaran sebagai titik tolak, maka konsepsi manusia tetap didasarkan humanisme.

Dalam semua bentuk humanisme, manusia selalu ditempatkan diantara berbagai realitas dunia lainnya;

manusia sebagai animal rationale juga dipandang dalam hubungannya dengan entitas dan justru bukan di dalam hubungannya dengan ―kebenaran Ada‖. Inilah maksudnya jika dikatakan bahwa esensi manusia terletak pada eksistensinya. Tubuh manusia secara esensial berbeda dari organisme hewan. Menurut Heidegger apa yang kita anggap sebagai animalitas pada manusia tidak dapat diperbandingkan dengan hewan, tetapi harus didasarkan pada esensi dari eksistensinya.

(58)

- 42 -

Manusia tidak seperti entitas lainnya. Entitas lain hanyalah ada. Entitas itu hadir, tetapi tidak ―mencapai‖

dirinya, artinya ―tidak memiliki kesadaran-diri‖; entitas lain tidak ―hadir pada dirinya‖. Hanya atas dasar

―kehadiran-pada-dirinya-sendiri‖ dari eksistensi, maka entitas lainnya dapat hadir. Inilah yang bagi kaum eksistensialis, menjadi semacam pengalaman asasi yang menunjukkan kedudukan khas manusia di tengah-tengah makhluk yang lain.

2. Manfaat Filsafat Manusia

Filsafat manusia perlu dipelajari karena manusia mempunyai kemampuan dan kekuatan untuk menyelidiki dan menganalisis sesuatu secara mendalam. Manusia berpikir dan menganalisa banyak hal. Pada suatu titik manusia akan sampai kepada saat di mana dia akan bertanya mengenai arti keberadaannya sendiri sebagai manusia. Dengan demikian, filsafat manusia mengantar manusia untuk menyelami kehidupannya sendiri, dan sangat mungkin mendapat pencerahan mengenai menjadi manusia yang lebih utuh. Pada sisi lainnya bahwa dalam perkembangan sejarah, manusia berusaha memecahkan permasalahan pokok tentang makna dan eksistensinya

(59)

- 43 -

yang selalu sulit memperoleh jawaban. Karena itulah filsafat manusia hadir untuk mendorong manusia mencari hakikatnya masing-masing.

3. Esensi dan Eksistensi Manusia

Model esensi adalah pendekatan dalam filsafat kepada suatu objek dengan cara yang abstrak. Model ini memandang bahwa, manusia terlepas dari situasi dan perkembangannya. Model esensi hanya memperhatikan kodrat yang menentukan manusia sebagai manusia.

Sementara itu, model eksistensi adalah pendekatan dalam filsafat terahadap objek dengan memandangnya secara menyeluruh. Manusia dipandang secara konkret secara utuh dalam keberadaannya. Model eksistensi tidak percaya akan kodrat yang menentukan manusia. Orang yang memperlajari filsafat manusia dengan pendekatan eksistensialnya, akan lebih menyeluruh pandangannya dibandingkan pendekatan esensialis. Filsafat manusia sangat dekat hubungannya dengan eksistensialisme.

Nietzcsche berpandangan kebebasan manusia akan hadir jika hidup manusia tanpa Tuhan. Hidup ini merupakan

‗kehendak manusia untuk berkuasa‘. Kelemahan manusia sering muncul karena sering menyerah dengan kenyataan

(60)

- 44 -

bahwa ada kekuasaan di luar dirinya yang lebih kuat.

Salah satu yang mutlak terjadi dalam hidup manusia adalah kenyataan ‗kesepian‘.

4. Tujuan Filsafat Manusia

Filsafat manusia berawal dari pertanyaan tentang siapa itu manusia. Menurut Baharrudin Salam (1988) pertanyaan-pertanyaan dalam filsafat manusia menunjuk kepada tujuan filsafat manusia itu sendiri. Beberapa pertanyaannya adalah sebagai berikut:

 Apakah dan siapakah manusia pada hakikatnya?

 Bagaimanakah kodrat manusia itu?

 Apakah sifat-sifat manusia yang unik yang bisa membedakannya dari makhluk-mahluk yang lain?

 Bagaimanakah hubungan antara badan atau raga dengan jiwa manusia?

 Bagaimana mungkin manusia dapat bebas dan merdeka untuk melakukan segala yang dia inginkan?

 Apakah arti kepribadian seorang manusia?

(61)

- 45 - Referensi

Baharrudin, Salam (1988). Filsafat Manusia. Jakarta:

Bina Aksara.

Daito, Apollo. (2011). Pencarian Ilmu Melalui Pendekatan Ontologi, Epistemologi, Aksiologi.

Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media

Hadiwijono Harun. (2012). Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Kattsoff, O Louis. (2004). Elements of Philosophy.

Terjemahan: Penerbit Tiara Wacana Yogya.

Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana Yogya

Keraf, Sonny A. dan Dua, Mikhael. (2013). Ilmu Pengetahuan: Sebuah Tinjauan Filosofis (Seri Filsafat Atmajaya: 22). Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Leahy, Louis. (1984). Manusia sebuah Misteri. Jakarta:

Gramedia.

Pattipo's, Anthony. (2012). Filsafat Manusia.

https://pattipo.wordpress.com/2012/02/07/filsafat- manusia/diakses tanggal 13 Februari 2017, pada pukul 22.14 Wita

Palmquist, Stephen. (2007). The Tree of Philosophy: A Course of Introduction Lectures for Begining Students of Philosophy. Terjemahan: Shodiq Muhamad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Suhartono, Suparlan. (2011). Filsafat Ilmu Pengetahuan: Persoalan Eksistensi dan Hakikat Ilmu Pengetahuan. Jogjakarta: Ar-ruzz Media

Suriasumantri, S Jujun. (2010). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Popoler. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

(62)

- 46 -

Suseno, Magnis Franz. (2012). Pijar-Pijar Filsafat.

Yogyakarta: Penerbit Kanisius

The Liang Gie. (2010). Pengantar Filsafat Ilmu.

Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas (2017).

Metafisika.https://id.wikipedia.org/wiki/Metafisika.

diakses tanggal 23 Februari 2017, pada pukul 12.16 Wita

(63)

- 47 -

Substansi Pendidikan

Setiap insan manusia tidak pernah ‗tidak‘ terlibat dalam pendidikan. Sejak dalam rahim bunda hingga akhir hayat, manusia adalah makluk yang akan selalu bergaul dan bersentuhan dengan konsep-konsep, nilai-nilai, dan hakikat pendidikan. Itu sebabnya manusia tampil sebagai satu-satunya makhluk hidup di planet bumi ini yang terlibat dalam aktivitas pendidikan, baik itu yang dididik, dan yang mendidik. Secara langsung dan tidak langsung, disengaja ataupun tidak disengaja, manusia selalu hidup dalam keniscayaan dunia pendidikan.

Namun dalam kenyataannya tidak semua orang mengerti dalam arti yang sebenarnya apa itu pendidikan.

Bahkan tidak semua manusia mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya. Padahal pendidikan merupakan

2

(64)

- 48 -

sesuatu yang selalu berpetualang dalam batasan ruang dan waktu dari kehidupan insan manusia.

A. Pengertian Pendidikan

Dalam kehidupan ini, pendidikan adalah bagian terpenting dari pengalaman hidup manusia. Itu sebabnya pendidikan memiliki makna yang sangat luas. Sehingga setiap orang bisa mendefinisikan pendidikan sesuai dengan latar dan konteks pengalaman hidup masing-masing. Namun dalam makna dan kajian yang lebih umum, pendidikan adalah pembelajaran, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang atau seseorang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian, dan lain-lain.

1. Pengertian Pendidikan

Secara etimologis, kata pendidikan berasal dari kata dasar ‗didik‘, yang kemudian ditambahkan imbuhan pada awal kalimatnya yaitu (pe) dan imbuhan pada akhir kalimatnya yaitu (an) sehingga membentuk kata ‗pen- didik-an=pendidikan‘. Sementara kata kerja ‗mendidik‘, mengandung pengertian ‗membantu‘ anak untuk bisa menguasai pengetahuan, keterampilan, perilaku, sifat dan

Referensi

Dokumen terkait

Aliran Filsafat Pendidikan Modern ditinjau dari Ontologi, Epistemologi danAksiologi AC. Aliran Filsafat

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini membahas tentang konsep dasar filsafat dan filsafat pendidikan, tiga landasan utama filsafat pendidikan, landasan filsafati

Deskripsi Mata Kuliah : Mata kuliah ini membahas tentang konsep dasar filsafat dan filsafat pendidikan, tiga landasan utama filsafat pendidikan, landasan filsafati

Sumber Normative ialah konsep filsafat pendidikan islam yang berlandaskan dari Al-Quran dan Sunnah, Al- Quran sebagai sumber Normative filsafat pendidikan islam

Upaya memanusiakan manusia melalui pendidikan memerlukan paradigma yang jelas, guna dijadikan dasar dalam penetapan tujuan yang ingin dicapai. Banyak aliran filsafat

Melalui Bait Al-Hikmah yang diselenggarakan khalifah Al-Makmun, maka banyak dari buku-buku filsafat Yunani yang diterjemahkan kedalam literasi Arab. Pelajar-pelajar Muslim mulai belajar dan mengkaji filsafat tersebut dengan mudah. Dalam perkembangannya, filsafat Yunani telah mempengaruhi filsafat Islam pada setiap sisi, termasuk faham tentang

HAKIKAT FILSAFAT PENDIDIKAN Jadi dapat disimpulkan bahwa Filsafat Pendidikan adalah adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan yang merupakan

Makalah ini membahas mengenai filsafat pendidikan Islam dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan