TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012 Tindak Tutur Ekpresif pada Interaksi Pembelajaran Guru dan Siswa Kelas 1 SD Tahun Ajaran 2011/2012.

15 

Teks penuh

(1)

TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012

NASKAH PUBLIKASI SKRIPSI

Untuk Memenuhi sebagai Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah

RATNI INDAH SURYATINI A 310080103

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

(2)

PENGESAHAN

TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012

Yang dipersiapkan dan disusun oleh: RATNI INDAH SURYATINI

A 310 080 103

Telah dipertahankan di depan dewan Penguji Pada Tanggal, 23 Juli 2012

dan dinyatakan telah memenuhi syarat.

1. Prof. Dr. Harun Joko Prayitno ( )

2. Drs. Andi Haris Prabawa, M. Hum. ( )

3. Dra. Atiqa Sabardila, M. Hum. ( )

Surakarta, Juli 2012

Universitas Muhammadiyah Surakarta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dekan,

(3)

TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA INTERAKSI PEMBELAJARAN GURU DAN SISWA KELAS 1 SD TAHUN AJARAN 2011/2012

Ratni Indah Suryatini, A 310 080 103, Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia dan Sastra Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas

Muhammadiyah Surakarta, 2012.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendeskripsikan bentuk tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri

Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012, (2) mendeskripsikan strategi tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran

guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012. Data pada penelitian ini berupa, tuturan ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD. Sumber data penelitian ini berupa interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode pembaca markah dan metode padan ekstralingual.

Hasil penelitian yang diperoleh: (1) bentuk tuturan ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012 sejumlah 21 data tuturan ekspresif dengan maksud mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan dan berbelasungkawa, (2) strategi tuturan ekspresif yang digunakan pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012 adalah strategi tuturan ekspresif langsung dan tak langsung dengan modus berita, tanya dan perintah.

Kata kunci: tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa.

1. Pendahuluan

Bahasa tidak dapat terlepas dari komunikasi manusia, karena hanya dengan bahasa manusia dapat mengkomunikasikan segala hal. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila bahasa disebut sebagai alat komunikasi terpenting manusia.

(4)

struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi (Wijana dan Rohmadi, 2009: 4).

Salah satu contoh bentuk komunikasi yang memiliki fungsi sosial adalah interaksi guru dan siswa pada sistem pembelajaran. Interaksi yang terjadi pada kegiatan pembelajaran biasanya melibatkan guru dan siswa dalam kegiatan komunikasi. Berbagai jenis tuturan yang terjadi pada interaksi pembelajaran, biasanya memiliki sebuah maksud dan tujuan. Dari tuturan tersebut diharapkan siswa dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan oleh guru, dengan demikian tujuan dari komunikasi antara penutur dan mitratutur dapat tercapai.

Dalam suatu pembelajaran, guru selalu berusaha melibatkan siswa dalam setiap interaksinya. Setiap guru pasti mempunyai cara yang berbeda-beda untuk berinteraksi dengan siswa-siswinya. Tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penuturnya disebut dengan tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ini mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan, kesukaan, kebencian, kesenangan, atau kesengsaraan (Yule, 2006: 93).

Tuturan yang termasuk dalam tindak tutur ekspresif adalah tuturan berterima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji dan berbelasungkawa. Tuturan yang digunakan oleh guru dan siswa dalam interaksi pembelajaran dapat memberikan referensi baru, yang kemungkinan dapat membuat guru dan siswa lebih mudah memahami maksud dan tujuan tuturan yang telah diucapkan.

Tuturan berikut ini adalah beberapa contoh dari tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat dan memuji.

(1.a) Selamat pagi anak-anak.

(1.b) Tepuk tangan! Pinter banget.

(5)

menunjukan adanya interaksi antara guru dan siswa ketika proses pembelajaran berlangsung. Tuturan ekspresif memuji tidak langsung di atas, digunakan oleh guru untuk memuji dan memotivasi siswa secara tidak langsung dengan cara memberikan tepuk tangan.

Penelitian ingin menjawab “Bagaimanakah bentuk-bentuk tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD tahun ajaran 2011/2012 dan bagaimanakah strategis tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD tahun ajaran 2011/2012?”

2. Landasan Teoretis

Wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa (Kushartanti, 2005: 92). Menurut Webster (dalam Sumarlam 2008: 5-6) wacana adalah pemakaian bahasa komunikasi, baik disampaikan secara lisan maupun secara tertulis.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa wacana merupakan suatu kesatuan bahasa yang padu, terikat pada konteks dan merupakan hasil dari sebuah komunikasi. Wacana dapat berupa teks, tuturan, tulisan maupun bacaan.

Menurut Wijana dan Rohmadi (2009: 7) Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan di dalam komunikasi. Menurut Levinson (dalam Rahardi, 2007: 48) mendefinisikan pragmatik sebagai studi bahasa yang mempelajari relasi bahasa dengan konteksnya. Konteks yang dimaksud tergramatisasi dan terkondifikasi sehingga tidak dapat dilepaskan dari struktur bahasanya. Sedangkan menurut Kushartanti (2005: 104) menyatakan bahwa pragmatik adalah ilmu yang maknanya dipengaruhi oleh hal-hal di luar bahasa.

(6)

Jadi dapat disimpulkan bahwa pragmatik adalah ilmu yang mempelajari tentang hal-hal diluar bahasa dalam sebuah komunikasi berdasarkan konteks tuturan tersebut.

Pragmatik adalah studi kebahasaan yang terikat konteks. Leech (dalam Wijana dan Rohmadi, 2009: 12) mengungkapkan bahwa pragmatics studies meaning in relation to speech situtuation. Sehubungan dengan bermacam-macamnya makna, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam situasi tutur antara lain penutur dan lawan tutur, konteks tuturan, tujuan tuturan, tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, tuturan sebagai produk tindak verbal.

Menurut Chaer (2010: 27) tindak tutur adalah tuturan dari seseorang yang bersifat psikologis dan yang dilihat dari makna tindakan dalam tuturannya itu.

Richard dan Plat (dalam Abdurrahman, 2006: 127) mengungkapkan bahwa tindak tutur adalah suatu tuturan atau ujaran yang merupakan satuan fungsional dalam komunikasi.

Kushartanti (2005: 109) pertuturan adalah seluruh komponen bahasa dan nonbahasa yang meliputi perbuatan bahasa yang utuh, yang menyangkut peserta di dalam percakapan, bentuk penyampaian amanat, topik, dan konteks amanat itu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tindak tutur adalah ujaran atau tuturan dari seorang penutur kepada mitra tutur dalam sebuah komunikasi yang mempunyai maksud dan tujuan tertentu.

(7)

Searle (dalam Rahardi, 2010: 36) menggelompokan tindak tutur ilokusi kelima macam bentuk tuturan yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif, yaitu tuturan asertif, direktif, ekspresif, komisif dan deklarasi.

Tindak tutur asertif yakni bentuk tutur yang mengikat penutur akan kebenaran proposisi yang diungkapkan. Adapun yang termasuk ke dalam jenis tindak tutur ini adalah tuturan-tuturan menyatakan, menyarankan, membual, mengeluh, dan mengklaim.

Tindak tutur direktif yakni bentuk tutur yang dimaksudkan penuturnya untuk membuat pengaruh agar si mitra tutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam tuturan itu. Adapun yang termasuk ke dalam jenis tindak tutur ini antara lain memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan merekomendasi.

Tindak tutur ekspresif adalah bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya tuturan berterima kasih, memberi selamat, meminta maaf, menyalahkan, memuji dan berbelasungkawa.

Tindak tutur Komisif yakni bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji atau penawaran, misalnya berjanji, bersumpah, dan menawarkan sesuatu. Tindak tutur deklarasi yakni bentuk tutur yang menghubungkan isi tuturan dengan kenyataannya, misalnya berpasrah, memecat, membabtis, memberi nama, dan menghukum.

Tindak Tutur Langsung dan Tindak Tutur Tidak Langsung. Secara formal, berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperratif). Secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberikan suatu (informasi), kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan, atau permohonan. Apabila kalimat-kalimat tersebut difungsikan secara konvensional, maka tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung.

(8)

diperintah, maka akan terbentuk tindak tutur tidak langsung. Seperti tuturan berikut.

(2.a) Ada makanan di almari.

Tuturan (2.a), bila diucapkan kepada seorang teman yang membutuhkan makanan, dimaksudkan untuk memerintah lawan tuturnya mengambil makanan yang ada di almari yang dimaksud, bukan sekedar untuk menginformasikan bahwa di almari ada makanan.

3. Metode Penelitian

Tempat penelitian ini adalah SD Negeri Purworejo di Kecamatan Suruh Semarang dan SD Negeri Gemolong 1 di Gemolong. Waktu penelitian dilaksanakan bulan Desember 2011-Mei 2012.

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan dan mengungkap bentuk tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 serta strategi tindak tutur ekspresif yang digunakan pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1.

Objek penelitian ini adalah tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1.

Data dalam penelitian ini adalah tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012.

Adapun sumber data dalam penelitian ini, didapat dari interaksi pembelajaran guru dan siswa Kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012.

(9)

sehingga tidak mengganggu kewajaran proses kegiatan pertuturan yang sedang terjadi, sehingga dalam praktiknya teknik rekam dapat berjalan apa adanya (Sudaryanto, 1993: 135).

Teknik simak adalah cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Dalam arti, peneliti dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan menyadap penggunaan bahasa seseorang atau beberapa orang yang menjadi informan (Mahsun, 2007: 92). Teknik simak dilakukan dengan meyimak rekaman pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012.

Disamping perekaman, dapat pula dilakukan pencatatan pada kartu data yang segera dilanjutkan dengan klasifikasi. Selain dengan kartu data proses pencatatannya pun dapat juga memanfaatkan disket komputer (Sudaryanto, 1993: 135). Setelah merekam, peneliti kemudian mencatat dan mengklasifikasi tindak tutur ekspresif yang terdapat pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode markah baca dan metode padan. Metode baca markah menurut Sudaryanto (1993: 95) disebut juga metode membaca pemarkah, pemarkahan itu menunjukkan kejatian satuan lingual atau identitas konstituen tertentu. Kemampuan membaca pemarkah itu berarti kemampuan menentukan kejatian yang dimaksud. Penggunaan metode baca markah digunakan untuk menganalisis permasalahan pertama yaitu bentuk-bentuk tindak tutur ilokusi ekspresif pada anak SD.

Metode padan adalah metode penelitian bahasa yang alat penentunya diluar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan. Penelitian ini bertujuan mengelompokkan bunyi-bunyi bahasa sebagai misalnya (Mahsun, 2007, 117-122 ).

(10)

4. Hasil Penelitian

Tindak tutur ekspresif adalah bentuk tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau menunjukkan sikap psikologis penutur terhadap suatu keadaan, misalnya tuturan memberi selamat, meminta maaf, berterima kasih, menyalahkan, memuji dan berbelasungkawa (Rahardi, 2010: 36).

Tindak tutur ekspresif dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan dan berbelasungkawa. Bentuk tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri purworejo dan SD Negeri Gemolong ditentukan berdasarkan eksplikatur, penanda, konteks, implikatur, maksud dan status sosial.

Berdasarkan hasil penelitian bentuk tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Purworejo meliputi: (1) mengucapkan selamat, (2) memuji, (3) berterima kasih, (4) menyalahkan. Berikut hasil pemaparan penelitian ini.

4.1 Bentuk-Bentuk Tindak Tutur Ekspresif

Tuturan selamat difungsikan untuk mengucapkan selamat atau digunakan untuk menyapa seseorang. Berikut ini realisasi bentuk tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat.

1. Selamat pagi anak-anakku yang cantik-cantik sing bagus-bagus, kayak

belok kodek. Siapa yang belum pamit ibu bapak?

2. Selamat mengerjakan anak-anak! siapa yang bisa boleh maju ke

depan.

Memuji adalah perkataan yang bermaksud untuk memuji lawan bicaranya. Berdasarkan data penelitian ini, terdapat beberapa kesantunan tuturan ekspresif memuji. Adapun bentuk tuturan yang berfungsi memuji dalam kalimat ini adalah sebagai berikut.

3. Tepuk tangan pinter banget.

(11)

Menyalahkan adalah tuturan yang bertujuan untuk menyalahkan mitratutur karena telah melakukan kesalahan. Adapun bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyalahkan dalam kalimat ini adalah sebagai berikut.

5. No berapa? Yang tunggu bentar ibu lihat soalnya dulu. Betul jawabanya 68 berati kamu yang salah.

6. Gimana to bayu, kok gak mengerjakan malah rame terus. Besok jangan lupa harus mengerjakan di rumah!

Berbelasungkawa yang bertujuan untuk menyatakan rasa berbelasungkawa terhadap suatu kejadian. Adapun bentuk tuturan yang berfungsi untuk menyatakan rasa belasungkawa dalam kalimat ini adalah sebagai berikut.

7. Doakan saja ya, ibu Anik lekas sembuh. Dan untuk itu anak-anak tidak boleh nakal ditinggal Bu Anik

4.2 Strategi Tindak Tutur Ekspresif

Wijana (dalam Prayitno, 2011: 121) menyatakan strategi bertutur berdasarkan teknik penyampaiannya dikelompokkan menjadi dua, yaitu tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung. Tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang menyatakan secara langsung maksud penutur, sedangkan tindak tutur tidak langsung dinyatakan dengan mengubah fungsi jenis kalimat.

Berdasarkan perolehan data pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 tahun ajaran 2011/2012, dapat diketahui dan diperoleh pengertian bahwa strategi yang digunakan oleh siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 menggunakan strategi tindak tutur langsung dan tidak langsung.

4.2.1 Startegi Tindak Tutur Ekspresif Langsung.

Tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang menyatakan secara langsung maksud penutur. Adapun ada tiga modus dalam tindak tutur berikut yaitu, modus berita, modus tanya, modus perintah.

(12)

untuk memerintah seseorang melakukan suatu. Modus tanya difungsikan secara fungsional untuk menanyakan sesuatu. Berikut ini cuplikan realisasi bentuk strategi tindak tutur ekspresif.

8. Selamat pagi anak-anakku yang cantik-cantiik sing bagus-bagus, kayak

belok kodek. Siapa yang belum pamit ibu bapak?

Tuturan no (8) di atas, merupakan tindak tutur ekspresif langsung mengucapkan selamat dengan maksud menyapa mitratutur yang ditemuinya di pagi hari.

9. Bagus, bagus belajar apa?

Tuturan no (9) di atas, merupakan tindak tutur ekspresif langsung memuji, yang mempunyai maksud untuk memuji mitra tutur karena telah belajar di rumah dan mengerjakan PR.

10. Makane ora ngobrol terus, digatekno (jangan bicara terus,

diperhatikan)!

Tuturan (10) merupakan contoh tuturan ekspresif menyalahkan langsung dengan modus perintah.

4.2.2 Strategi Tindak Tutur Ekspresif Tidak Langsung.

Berikut ini cuplikan realisasi bentuk strategi tindak tutur ekspresif pada interaksi guru dan siswa kelas 1SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1.

11. Selamat mengerjakan anak-anak! siapa yang bisa boleh maju ke

depan.

12. Tepuk tangan hebat. Tuna netra itu apa?

Tuturan (11) merupakan contoh tuturan ekspresif mengucapkan selamat tidak langsung dengan modus perintah. Tuturan tersebut mempunyai maksud untuk memerintah mitratutur mengerjakan tugas.

(13)

5. Simpulan

Tindak tutur ekspresif dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan dan berbelasungkawa. Bentuk tindak tutur ekspresif pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri purworejo dan SD Negeri Gemolong ditentukan berdasarkan eksplikatur, penanda, konteks, implikatur, maksud dan status sosial.

Pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 ditemukan 21 tuturan ekspresif dengan 4 bentuk yaitu: mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan dan berbelasungkawa. Dari empat kali pertemuan, ditemukan 4 tuturan ekspresif mengucapkan selamat, 10 tuturan ekspresif memuji, 6 tuturan ekspresif menyalahkan dan 1 tuturan ekspresif berbelasungkawa.

Strategi tindak tutur yang sering digunakan pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1 adalah strategi tindak tutur langsung dan tindak langsung. Strategi tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang menyatakan secara langsung maksud penutur, sedangkan tindak tutur tidak langsung dinyatakan dengan mengubah fungsi jenis kalimat.

(14)

halus mempunyai maksud untuk memuji mitratutur bukan dengan kata-kata, namun dengan sebuah tindakan.

6. Saran

Berdasarkan hasil penelitian pada interaksi pembelajaran guru dan siswa kelas 1 SD Negeri Purworejo dan SD Negeri Gemolong 1, saran yang dapat penulis berikan kepada pembaca antara lain: para pengguna bahasa, agar dapat menggunakan tuturan-tuturan yang sesuai dengan situasi tutur agar maksud yang ingin disampaikan oleh penutur dapat diterima dengan baik oleh mitratutur, para peneliti bahasa, agar ada penelitian lanjutan dari peneliti ini dengan aspek yang lain guna menambah khasanah ilmu bahasa, para pendidik, dapat menggunakan tuturan-tuturan ekspresif dalam pembelajar agar pembelajaran lebih menarik dan lebih menyenangkan.

Daftar Pustaka

Abdurrahman. 2006. “Prgmatik; Konsep Dasar Memahami Konteks Tuturan”. Lingua. Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. Volume 1, Nomor 2, Desember 2007.

Chaer, Abdul dan Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: PT. Rineka Cipta. .

Kushartanti, dkk. 2005. Pesona Bahasa Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa Tahapan Strategi Metode dan Tekniknya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Parera. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Erlangga.

Prayitno, Harun Joko. 2011. Kesantunan Sosiopragmatik: Studi Pemakaian Tindak Tutur Direktif di Kalangan Anak Didik SD Berbudaya Jawa Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

(15)

Rohmadi muhammad dan Wijana I Dewa Putu. 2009. Analisis Wacana Pragmatik Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Sumarlam. 2008. Analisis Wacana. Solo: Pustaka Cakra Surakarta.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...