“Apa sih survei batimetri itu?” . Survei batimetri adalah survei
“Apa sih survei batimetri itu?” . Survei batimetri adalah survei yang dilakukan untuk mengetahuiyang dilakukan untuk mengetahui nilai kedalaman dari dasar laut. Lalu tujuan nya buat apa ??.. Tujuan nya macam2.. ada yang nilai kedalaman dari dasar laut. Lalu tujuan nya buat apa ??.. Tujuan nya macam2.. ada yang untuk pengerukan pelabuhan, perencanaan bangunan di laut ( pelabuhan, Platform, sumur untuk pengerukan pelabuhan, perencanaan bangunan di laut ( pelabuhan, Platform, sumur
minyak), dll. Alat yang dibutuhkan untuk pengukuran dasar laut ini ada dua macam, diantaranya minyak), dll. Alat yang dibutuhkan untuk pengukuran dasar laut ini ada dua macam, diantaranya Echosounder Single Frekwensi dan Echosounder Double Frekwensi
Echosounder Single Frekwensi dan Echosounder Double Frekwensi Julius Yahya
Julius Yahya
kw catet dk ming?
kw catet dk ming?
Agustinus Federico Agustinus Federico
tulah alat batimetri, eak tulah alat batimetri, eak Agustinus Federico Agustinus Federico
.Instalasi Alat yang dipergunakan untuk pengukuran batimetri adalah : a. GPS Antena : Untuk .Instalasi Alat yang dipergunakan untuk pengukuran batimetri adalah : a. GPS Antena : Untuk mendapatkan data posisi koordinat b. Tranducer : Alat yang memancarkan sinyal akustik ke mendapatkan data posisi koordinat b. Tranducer : Alat yang memancarkan sinyal akustik ke dasar laut untuk data kedalaman c. Echosounder : Alat yang menampilkan angka kedalaman d.
dasar laut untuk data kedalaman c. Echosounder : Alat yang menampilkan angka kedalaman d.
Laptop : Untuk pengoperasian yang mengintegrasikan GPS, tranducer, dan echosounder.
Laptop : Untuk pengoperasian yang mengintegrasikan GPS, tranducer, dan echosounder.
“Apa sih survei batimetri itu?” . Survei batimetri adalah survei
“Apa sih survei batimetri itu?” . Survei batimetri adalah survei yang dilakukan untuk mengetahuiyang dilakukan untuk mengetahui nilai kedalaman dari dasar laut. Lalu tujuan nya buat apa ??.. Tujuan nya macam2.. ada yang nilai kedalaman dari dasar laut. Lalu tujuan nya buat apa ??.. Tujuan nya macam2.. ada yang untuk pengerukan pelabuhan, perencanaan bangunan di laut ( pelabuhan, Platform, sumur untuk pengerukan pelabuhan, perencanaan bangunan di laut ( pelabuhan, Platform, sumur
minyak), dll. Alat yang dibutuhkan untuk pengukuran dasar laut ini ada dua macam, diantaranya minyak), dll. Alat yang dibutuhkan untuk pengukuran dasar laut ini ada dua macam, diantaranya Echosounder Single Frekwensi dan Echosounder Double Frekwensi
Echosounder Single Frekwensi dan Echosounder Double Frekwensi Julius Yahya
Julius Yahya
kw catet dk ming?
kw catet dk ming?
Agustinus Federico Agustinus Federico
tulah alat batimetri, eak tulah alat batimetri, eak Agustinus Federico Agustinus Federico
.Instalasi Alat yang dipergunakan untuk pengukuran batimetri adalah : a. GPS Antena : Untuk .Instalasi Alat yang dipergunakan untuk pengukuran batimetri adalah : a. GPS Antena : Untuk mendapatkan data posisi koordinat b. Tranducer : Alat yang memancarkan sinyal akustik ke mendapatkan data posisi koordinat b. Tranducer : Alat yang memancarkan sinyal akustik ke dasar laut untuk data kedalaman c. Echosounder : Alat yang menampilkan angka kedalaman d.
dasar laut untuk data kedalaman c. Echosounder : Alat yang menampilkan angka kedalaman d.
Laptop : Untuk pengoperasian yang mengintegrasikan GPS, tranducer, dan echosounder.
Laptop : Untuk pengoperasian yang mengintegrasikan GPS, tranducer, dan echosounder.
Survey Topografi Survey Topografi
Dipublikasi pada
Dipublikasi pada 12 Juli 201212 Juli 2012oleholeh thesurveyor thesurveyor
Survei topografi adalah suatu metode untuk menentukan posisi tanda-tanda ( features) buatan manusia maupun alamiah diatas permukaan tanah. Survei topografi juga digunakan untuk menentukan konfigurasi medan (terrain). Kegunaan survei topografi adalah untuk
mengumpulkan data yang diperlukan untuk gambar peta topografi. Gambar peta dari gabungan data akan membentuk suatu peta topografi. Sebuah topografi memperlihatkan karakter vegetasi dengan memakai tanda-tanda yang sama seperti halnya jarak horizontal diantara beberapa features dan elevasinya masing-masing diatas datum tertentu.
Metode-metode yang umum digunakan untuk pemetaan topografi antara lain adalah : 1. Metode tachymetri
2. Metode offset 3. Fotogrametri
4. Pengukuran meja lapangan
Survei topografi memiliki beberapa penyebab terjadinya kesalahan, terutama sebagai berikut : 1. Kontrol tidak diperiksa dan disesuaikan sebelum topografi diambil
2. Jarak titik kontrol terlalu besar
3. Titik-titik kontrol tidak dipilih dengan cermat
4. Pemilihan titik-titik penggambaran kontur tidak baik Kesalahan tipikal dalam survei topografi adalah sebagai berikut :
1. Pemilihan interval kontur tidak tepat
2. Peralatan untuk survei utama dan kondisi medan tidak memadai 3. Kontrol horizontal dan vertikal tidak cukup
4. Kontur yang diambil tidak cukup
5. Beberapa rincian topografi hilang, seperti misalnya batas lereng atau titik tinggi a tau titik rendah setempat.
Proses pemetaan topografi sendiri adalah proses pemetaan yang pengukurannya langsung dilakukan di permukaan bumi dengan peralatan survei teristris. Teknik pemetaan mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Dengan perkembangan
peralaatan ukur tanah secara elektronis, maka proses pengukuran menjadi semakin cepat dengan tingkat ketelitian yang tinggi, dan dengan dukungan teknologi GIS maka langkah dan proses perhitungan menjadi semakin mudah dan cepat serta penggambarannya dapat dilakukan secara
otomatis.
Demikian pula wahana pemetaan tidak hanya dapat dilakukan secara teristris, namun dapat pula secara fotogrametris radargrametris, videografis, bahkan sudah merambah pada wahana ruang angkasa dengan teknologi satelit dengan berbagai kelebihannya.
Setiap wahana mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing masing, sehingga pemilihannya sangat tergantung dari tujuan pemetaan, tingkat kerinciaan obyek yang harus disajikan, serta cakupan wilayah yang akan dipetakan.
Secara garis besar langkah-langkah pemetaan secara teristris adalah sebagai berikut : 1. Persiapan
Dalam proses pemetaan teristris, banyak hal yang harus dipersiapkan agar pemetaan dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Persiapan dalam hal ini adalah persiapan peralatan, perlengkapan dan personil.
1. Survei Pendahuluan
Survei pendahuluan maksudnya adalah peninjauan lapangan lebih dahulu untuk melihat kondisi medan secara menyeluruh, sehingga dari hasil survey ini akan dapat ditentukan:
1. Teknik pelaksanaan pengukurannya
2. Penentuan posisi titik-titik kerangka peta yang representative dalam arti distribusinya merata, intervalnya seragam, aman dari gangguan, mudah untuk mendirikan alat ukur, mempunyai kapabilitas yang baik untuk pengukuran detil, saling terlihat dengan titik sebelum dan sesudahnya, dan lain-lain.
1. Survei Pengukuran
Survei pengukuran dalam hal ini meliputi:
1. Pengukuran kerangka peta 2. Pengukuran detil
3. Pengolahan data (perhitungan)
Setelah dilakukannya pengukuran, maka langkah selanjutnya adalah pengolahan data yang sudah di dapat dari lapangan. Beberapa hal yang dilakukan dalam pengolahan data adalah:
1. Perhitungan kerangka peta (X, Y, Z)
2. Perhitungan detil (X, Y, Z) atau cukup sudut arah / azimuthnya, jarak datar, dan beda tinggi dari titik ikat.
3. Plotting atau penggambaran
Beberapa hal yang dilakukan pada proses penggambaran adalah:
1. Penggambaran Titik-titik kerangka peta 2. Penggambaran titik-titik detil
3. Penarikan garis kontur 4. Editing
5. Simbolisasi
SURVEY HIDROGRAFI
Hidrografi (atau geodesi kelautan menurut pandangan awam) adalah ilmu tentang pemetaan laut dan pesisir. Hidrografi menurut International Hydrographic Organization (IHO) adalah ilmu tentang pengukuran dan penggambaran parameter-parameter yang diperlukan untuk menjelaskan sifat-sifat dan konfigurasi dasar laut secara tepat, hubungan geografisnya dengan daratan, serta karakteristik-karakteristik dan dinamika- dinamika lautan. Secara etimologi, Hidrografi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata
“hidro” yang berarti air dan “grafi” yang berarti menulis, hidrografi artinya gambaran permukaan bumi yang digenangi air.
Survey hidrografi Menurut Sekelompok Ahli dari PBB tahun 1979
Hidrografi adalah suatu ilmu yang melakukan pengukuran, menguraikan, dan mengembangkan tentang :
1. Sifat-sifat dan Konfigurasi dasar laut yang dihasilkan oleh kegiatan survey bathimetrik, geologi dan geofisika.
2. Hubungan geografis ( antara laut, perairan) dengan daratan terdekat yang dihasilkan dengan kegiatan positioning _ Garis pantai.
3. Sifat dan dinamika air laut, yang dihasilkan lewat pengukuran/pengamatan pasang surut, arus laut, gelombang dan sifat fisik air laut.
Definisi Ilmu Hidrografi Lama (tradisional), tahun 1960:
Hanya terbatas pada pengertian survey dan pemetaan batimetrik, disertai penentuan posisi yang berkaitan dengan pemetaan batimetri itu sendiri.
Dari Definisi Tersebut ,Ahli Hidrografi,Ahli Oceanografi,Ahli Geofisika,Ahli Geologi mengelompokkan kegiatan hidrografi kedalam 3 kegiatan,yaitu:
1. Pantai (coastal)
Pengembangan Pelabuhan, masalah erosi pantai, penggunaan jasa pelabuhan, pemeliharaan keamanan lalulintas pelayaran pantai (coastal waters)
2. Lepas Pantai (offshore)
Pengadaan data dan informasi hidrografis sbg. Kelanjutan dari zone pantai (coastalzone) s/d kedalaman 200m, pertambangan sumber daya alam mineral termasuk hidrokarbon (crude oil) dan pengadaan data dan informasi utk. Manajemen perikanan
3. Lautan Bebas (oceanic)
Pengadaan data dan informasi di daerah lautan bebas (oceanic) mencakup
pengadaan data dan informasi di daerah lautan dalam untuk menggambarkan geomorfologi dasar laut.
· survey batimetri
Survei batimetrik dimaksudkan untuk mendapatkan data kedalaman dan konfigurasi/
topografi dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan.
Survei Batimetri dilaksanakan mencakup sepanjang koridor survey dengan lebar bervariasi. Lajur utama harus dijalankan dengan interval 100 meter dan lajur silang (cross line)
dengan interval 1.000 meter. Kemudian setelah rencana jalur kabel ditetapkan, koridor baru akan ditetapkan selebar 1.000 meter. Lajur utama dijalankan dengan interval 50 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 500 meter. Peralatan echosounder digunakan untuk mendapatkan data kedalaman optimum mencakup seluruh kedalaman dalam area survei. Agar tujuan ini tercapai, alat echosounder dioperasikan sesuai dengan spesifikasi pabrik. Prosedur standar kalibrasi dilaksanakan dengan melakukan barcheck atau koreksi Sound Velocity Profile (SVP) untuk menentukan transmisi dan kecepatan rambat gelombang suara dalam air laut, dan juga untuk menentukan index error correction.
Kalibrasi dilaksanakan minimal sebelum dan setelah dilaksanakan survei pada hari yang sama. Kalibrasi juga selalu dilaksanakan setelah adanya perbaikan apabila terjadi kerusakan alat selama periode survei. Pekerjaan survei Batimetri tidak boleh dilaksanakan pada keadaan ombak dengan ketinggian lebih dari 1,5m bila tanpa heave compensator, atau hingga 2,5m bila
menggunakan heave compensator.
KEGUNAAN SURVEY HIDROGRAFI
SURVEY HIDROGRAFI UNTUK MONITORING ALUR PELAYARAN
Alur pelayaran dan rambu rambunya yang ada sekarang ini perlu dilakukan pemantauan dan pemeliharaan secara rutin untuk menjaga keselamatan dan kelancaran kapal yang melakukan pelayaran tersebut.
Bahaya terjadinya kecelakaan pada pelayaran memberikan dampak yang sangat luas, bukan hanya faktor nyawa manusia di kapal yang bersangkutan namun pada kapal yang mengangkut bahan-bahan cair lainnya yang mudah dibawa arus laut, maka pengotoran/polusi laut akan menyebar luas ketempat lain yang jauh dari tempat kejadian.
Pemeliharaan alur pelayaran dapat dilakukan dengan melaksanakan survey hydrografi secara berkala, Dengan menggunakan alat GPS memakai metode differensial real time kinematik dapat membantu kegiatan survey secara cepat dan tepat di bandingkan dengan memakai peralatan yang konvensional seperti busur sextan, theodolite, dan alat bantu lainnya.
Penggunaan metoda differensial real time kinematik dapat menentukan posisi kapal secara teliti dalam waktu yang sangat singkat, sekaligus menentukan arah dan kecepatan kapal untuk melakukan survey. Metode tersebut diantaranya adalah :
1. Busur sextan
Pengukuran dengan metode ini memilik tingkat akurasi sekitar 4 – 7meter, pelaksanaannya dan pemrosesan data memiliki waktu yang sangat lama, untuk survey kolam pelabuhan + 200 M2 saja, membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan, hal ini disebabkan karena pelaksanaannya membutuhkan waktu dengan perbandingan 50:50 (50% untuk pelaksanaan survey dan 50% untuk pemrosesan data survey).
2. GPS Navigasi
Metode yang digunakan sudah memiliki tingkat akurasi 3-5 meter, dan pelaksanaannya dapat dibilang lebih singkat di bandingkan dengan pemakaian busur sextan tetapi untuk pemrosesan datanya memiliki waktu yang hampir sama pada pemrosesan dengan metode sextan karena pelaksanaan survey ini masih dikategorikan semi digital. Untuk survey kolam pelabuhan membutuhkan waktu kurang lebih 20 hari dengan perbandingan 30:70 (30% untuk pelaksanaan survey dan 70% untuk pemrosesan data hasil survey).
3. GPS realtime kinematik
Dengan memakai cara ini dapat mempersingkat pelaksanaan dan pemrosesan data dengan tingkat akurasi 1-3 meter, untuk pelaksanaan survey kolam pelabuhan saja dapat diselesaikan dengan waktu kurang lebih 7 hari sampai 12 hari dengan syarat tidak terjadi gangguan koneksi alat. Karena metode ini sudah memakai peralatan yang koputerisasi, sehingga pemrosesan datanya memiliki waktu yang lebih singkat dari pelaksanaan surveynya, dengan perbandingan 70:30 (70% untuk pelaksanaan survey dan 30% untuk pemrosesan data).
Seiring perkembangan jaman, metode terakhir sudah dirasa cukup cepat dan tepat dalam pelaksanaan survey hydrografi, tetapi untuk ketelitian dapat di tingkatkan dengan menggunakan metode differensial yang terdapat di GPS. Hasil yang di dapat untuk penggunaan metode ini memiliki ketelitian 3 – 50cm tergantung dari pemrosesan data akhirnya.
Alur pelayaran mempunyai fungsi untuk memberi jalan kepada kapal untuk memasuki wilayah pelabuhan dengan aman dan mudah dalam memasuki kolam pelabuhan. Fungsi lain dari alur pelayaran adalah untuk menghilangkan kesulitan yang akan timbul karena gerakan kapal kearah atas (minimum ships maneuver activity) dan gangguan alam, maka perlu bagi perencana untuk memperhatikan keadaan alur pelayaran (ship channel) dan mulut pelabuhan (port entrance). Alur pelayaran harus memperhatikan besar kapal yang akan dilayani (panjang, lebar, berat, dan kecepatan kapal), jumlah jalur lalu lintas, bentuk lengkung alur yang berkaitan dengan besar jari – jari alur tersebut. Karena perbedaan antara perkiraan dan realisasi sering terjadi, maka penyediaan alur perlu dilakukan untuk mengantisipasi kehadiran kapal-kapal besar. Suatu penelitian tentang karakteristik alur perlu di evaluasi terhadap pergerakan trafik yang ada, pengaruh cuaca, operasi dari kapal nelayan, dan karakteristik alur tersebut. Dengan semakin meningkatnya perekonomian dunia maka penggunaan transportasi laut semakin padat, khususnya pada daerah sempit, seperti selat dan kanal, ataupun daerah yang terkonsentrasi seperti palabuhan dan persilangan lintasan lalu lintas pelayaran. Sehingga beresiko tinggi untuk terjadinya kecelakaan pelayaran, baik berupa tabrakan sesama kapal
ataupun bahaya pelayaran lainnya seperti bangkai kapal atau kandas di kedalaman dangkal.
Untuk pemeliharaan alur pelayaran biasanya dilakukan pengerukan secara berkala, perencanaan pengerukan tersebut memerlukan data-data keadaan permukaan dasar laut untuk dapat diketahui berapa volume rencana pengerukan. Survey hydrografi sangat penting peranannya untuk perencanaan pengerukan tersebut, karena hasil survey tersebut berupa data- data keadaan permukaan dasar laut yang disajikan berupa peta. Adapun tahap-tahap pelaksanaan survey hydrografi ini adalah:
PERALATAN SURVEY HIDROGRAFI
· echosounder
Untuk pemetaan dasar laut, Sistem Echosounder berkas banyak akan lebih sering
digunakan di masa mendatang, sebagai pelengkap dari Singlebeam Echosounder yang
telah banyak digunakan pada beberapa akademik. Multibeam sonar/Echosounder
memberikan kerapatan titik-titik kedalaman yang lebih tinggi dibanding Singlebeam
Echosounder, jangkauan spasi lajur pemeruman yang lebih jauh ,dimana semua faktor tersebut tentunya dapat menunuikan waktu dan biaya survei.
· sidescanesonar(sss)
Side Scan Sonar mempunyai kemampuan menggandakan (menduplikasikan) beam yang diarahkan pada satu sisi ke sisi lainnya. Sehingga kita bias melihat ke kedua sisi,
memetakan semua area penelitian secara efektif dan menghemat waktu penelitian. SSS menggunakan Narrow beam pada bidang horizontal untuk mendapatkan resolusi tinggi di sepanjang lintasan dasar laut (Klien Associates Inc, 1985).
Side Scan Sonar (SSS) dapat dipasang pada lunas kapal atau ditarik di belakang kapal.
Ilustrasi pemasangan SSS menggunakan towed body dapat dilihat pada gambar . Pada gambar tersebut terlihat bahwa SSS mentransmisikan pulsa akustik secara menyamping terhadap arah perambatan. Dasar laut dan objek merefleksikan kembali (backscatter) gelombang suara pada system sonar. Instrumen SSS mendekati objek tiga dimensi dan menampilkan objek tersebut dalam bentuk citra dua dimensi. Oleh karena itu, SSS tidak hanya menampilkan objek, melainkan juga bayangan objek tersebut. Pembentukan objek bayangan SSS di ilusrasikan pada gambar.Keterangan pada gambar adalah sebagai berikut. (1) nilai kedalaman dari lintasan akustik, (2) sudut beam vertikal, (3) jarak akustik maksimum, (4) lebar sapuan lintasan dasar laut, (5) jarak SSS dengan permukaan air, (6) jarak pemisah antara port channel dan starboard channel, (7) lebar beam horizontal, (8) panjang bayangan akustik yang disesuaikan dengan tinggi target,
(A) area sebelum pengambilan first bottom (pada daerah ini tidak ada suara yang dihamburkan dan ditandai dengan warna hitam), (B) dan (F) tekstur dasar laut, (C) sudut objek yang bersifat sangat memantulkan dengan intensitas yang paling terang, (D) objek yang memantulkan dan (E) bayangan dari target akustik (tidak ada pantulan disini).
SURVEY HIDRO-OSEANOGRAFI
Survey hidro-oseanografi atau sering disebut site-survey merupakan salah satu kegiatan survey kelautan yang bertujuan untuk mengetahui topografi dasar laut, kenampakan bawah dasar laut dan mengetahui
ada tidaknya objek-objek yang berbahaya di dasar laut.
Tujuan survey hidro-oseanografi diantaranya untuk mendukung pekerj aan : - Rencana penentuan dan pemasangan jalur kabel dan pipa bawah laut - Pencarian pesawat dan kapal-kapal yang tenggelam
- Penentuan pengeboran sumur minyak (well rig)
- Operasi pencarian ranjau dan bahan peledak di bawah laut - Investigasi pipa dan kabel bawah laut, dll.
Adapun kegiatan survey hidro-oseanografi meliputi :
1. Survey Titik Kontrol Geodetik
Referensi titik kontrol geodesi yang merupakan bagian dari Jaringan Kerangka Kontrol Horizontal Nasional yang terletak di dekat atau di lokasi survei diperlukan untuk penentuan posisi DGPS
menggunakan Shorebase Station (Reference Point) dan untuk verifikasi alat DGPS yang akan digunakan untuk survey.
Point of Origin untuk kerangka kontrol horisontal tersebut diperoleh dari instansi resmi, sepert i Bakosurtanal. Jika diperlukan, penentuan point of origin dapat dilaksanakan sendiri, dengan referensi salah satu titik yang sudah ada, baik dengan mengadakan pengamatan GPS secara re latif maupun secara konvensional dengan melakukan pengukuran traverse. Jika titik referensi tambahan dibutuhkan, maka titik tersebut harus dibangun semi-permanen yang dapat mewakili daerah survei yang telah ditentukan.
Semua ketinggian (elevasi) dan kedalaman air, akan dihubungkan dengan suatu datum yang direferensikan ke Mean Sea Level (MSL) atau Chart Datum (Low Water Spring: LWS ), atau datum tertentu yang sudah mendapatkan persetujuan. Semua elevasi dan ke dalaman harus dihubungkan dengan benchmark tertentu yang terlet ak di darat, atau direferensikan kepada elipsoid tertentu yang ditentukan dengan GPS.
2. Sistem Navigasi Survey
Penentuan posisi kapal survei dilaksanakan menggunakan GPS receiver dengan metode Real Time
Differential (DGPS) dengan mengikuti prinsip survei yang baik dan menjamin tidak adanya keraguan atas posisi yang dihasilkan. Lintasan kapal survei dipantau setiap saat melalui layar monitor atau diplot pada kertas dari atas anjungan.
Sistim komputer navigasi memberikan informasi satelit GPS seperti: nomer satelit yang digunakan, PDOP dan HDOP. Elevation mask setiap satelit diset pada ketinggian minimum 10 derajat.
Bila DGPS yang digunakan menggunakan shore base station, satu GPS receiver dipasang di atas kapal survei dan satu lagi di atas titik berkoordinat di darat (shore base station). Selama akuisisi data, koreksi differential dimonitor dari atas kapal pada sistim navigasi.
Sistim komputer navigasi menentukan posisi setiap detik, dan jika perlu, logging data ke hardisk komputer dapat ditentukan setiap 1, 5 atau 1 0 detik sebagai pilihan.
3. Pengamatan Pasang Surut Laut
Pengamatan pasang surut dilaksanakan dengan tujuan untuk menentukan Muka Surutan Peta (Chart
Datum), memberikan koreksi untuk reduksi hasil survei Batimetri, juga untuk mendapatkan korelasi data dengan hasil pengamatan arus.
Stasiun pasang surut dipasang di dekat/dalam kedua ujung koridor rencana jalur survey dan masing- masing diamati selama minimal 15 hari terus-menerus dan pengamatan pasang surut dilaksanakan selama pekerjaan survei berlangsung. Secepatnya setelah pemasangan, tide gauge/staff dilakukan pengikatan secara vertikal dengan metode levelling (sipat datar) ke titik kontrol di darat yang terdekat, sebelum pekerjaan survei dilaksanakan dan pada akhir pekerjaan survey dilakukan.
4. Survey Batimetri
Survei batimetrik dimaksudkan untuk mendapatkan data kedalaman dan konfigurasi/ topografi dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan.
Survei Batimetri dilaksanakan mencakup sepanjang koridor survey dengan lebar bervariasi. Lajur utama harus dijalankan dengan interval 100 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 1.000 meter.
Kemudian setelah rencana jalur kabel ditetapkan, koridor baru akan ditetapkan selebar 1.000 meter.
Lajur utama dijalankan dengan interval 50 meter dan lajur silang (cross line) dengan interval 500 meter.
Peralatan echosounder digunakan untuk mendapatkan data kedalaman optimum mencakup seluruh kedalaman dalam area survei. Agar tujuan ini tercapai, alat echosounder dioperasikan sesuai dengan spesifikasi pabrik.
Prosedur standar kalibrasi dilaksanakan dengan melakukan barcheck atau koreksi Sound Velocity Profile (SVP) untuk menentukan transmisi dan kecepatan rambat gelombang suara dalam air laut, dan juga untuk menentukan index error correction. Kalibrasi dilaksanakan minimal sebelum dan setelah
dilaksanakan survei pada hari yang sama. Kalibrasi juga selalu dilaksanakan setelah adanya perbaikan apabila terjadi kerusakan alat selama periode survei.
Pekerjaan survei Batimetri tidak boleh dilaksanakan pada keadaan ombak dengan ketinggian lebih dari 1,5m bila tanpa heave compensator, atau hingga 2,5m bila menggunakan heave compensator.
5. Survey Topometri
Pada bagian koridor survey yang tidak dapat dicakup oleh survei menggunakan kapal, pengukuran profil dasar perairan dilaksanakan dengan metode topometrik untuk menjamin tidak terdapat kekosongan atas data yang diperlukan.
Detail topometri diukur menggunakan sistem DGPS Real Time atau dengan alat Total Station yang didirikan di atas titik kontrol yang telah dibangun sebelumnya. Hasil survei topometrik direferensikan pada datum vertikal yang sama dengan hasil survei Batimetri.
6. Survey Side Scan Sonar
Survei investigasi bawah air (side scan sonar) dimaksudkan untuk mendapatkan kenampakan dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek yang mungkin membahayakan. Dual-channel Side Scan Sonar System dengan kemampuan cakupan jarak minimal hingga 75m digunakan untuk mendapatkan data kenampakan dasar-laut (seabed features) di sepanjang koridor yang sama dengan survei Batimetri. Skala penyapuan yang digunakan diatur sedemikian rupa sehingga terjadi overlap minimal 50% untuk area survei yang direncanakan.
Lajur-lajur survei side scan sonar dapat dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan survei Batimetri