PERAN TAMAN BACAAN MASYARAKAT ANGGREK MELALUI KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MINAT DAN
BUDAYA BACA DI DESA BANGUN SARI KECAMATAN TANJUNG MORAWA DELI SERDANG
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam bidang Studi Perpustakaan dan
Informasi
TUTI GUNAWATI HUTASOIT
NIM: 140723013
DEPARTEMEN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018
PERNYATAAN ORISINAL
Karya ini adalah karya orisinal dan belum pernah di sajikan sebagai satu tulisan untuk memperoleh suatu klarifikasi tertentu atau dimuat pada media publikasi lain.
Penulis membedakan dengan jelas antara pendapat atau gagasan penulis dengan pendapat atau gagasan yang bukan berasal dari penulis dengan mencantumkan tanda kutip.
Medan, Agustus 2018 Penulis
TUTI G HUTASOIT
140723013
ABSTRAK
Hutasoit, Tuti Gunawati. 2018. Peran Taman Bacaan Masyarakat Anggrek Melalui Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Minat Dan Budaya Baca Di Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa Deli Serdang Medan: Departemen Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini dilakukan di Taman Bacaan Masyarakat Anggrek di desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa Deli Serdang Medan. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemberdayaan masyarakat melalui Taman Bacaan Masyarakat. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Adapun subjek penelitian sebanyak empat informan. Penelitian ini menggunakan dua sumber data, yakni data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumentasi yang dikumpulkan dari tempat penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bentuk pemberdayaan masyarakat melalui taman bacaan masyarakat di Taman Bacaan Anggrek di Desa Bangun Sari Kecamatan Tnjung Morawa meliputi TBM berperan sebagai tempat informasi, TBM berperan sebagai tempat untuk memperluas wawasan dan pengetahuan, TBM berperan sebagai tempat hiburan edukatif, TBM berperan sebagai pembinaan watak dan moral, TBM berperan sebagai tempat keterampilan.
Kata kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Peran Taman Bacaan Masyarakat
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat, anugerah dan kasih setia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi ini.
Skripsi ini berjudul “Peran taman bacaan masyarakat Anggrek melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam minat dan budaya baca di Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa Deli Serdang”.
Skripsi ini di susun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Selama penulisan skripsi ini, Penulis menyadari bahwa banyak terdapat kesalahan- kesalahan yang terjadi, baik dari segi teknik penulisan, ataupun dari segi tata bahasa. Oleh karena itu Penulis bersedia menerima kritik dan saran dari Pembaca dalam upaya perbaikan skripsi ini.
Skripsi ini juga kupersembahkan Teristimewa buat kedua Orang Tua penulis, Almahrum Ayahanda S. Hutasoit, Ibunda R. Lumbantoruan atas doa restunya dan kasih sayangnya yang tiada habisnya diberikan kepada penulis serta dukungan moril maupun material, yang tanpa jasanya tidak mungkin penulis sampai pada saat sekarang ini.
Dalam penulisan skripsi ini penulis mendapat banyak bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu sebagai rasa syukur, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S, sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Ishak, SS. M.Hum sebagai Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya.
3. Ibu Dr. Irawaty A. Kahar, M.Pd, sebagai dosen pembimbing penulis yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Drs. Belling Siregar, SS. M. Lib sebagai Penguji I
5. Ibu Laila Hadri Nasution, S.Sos., M.P sebagai Penguji II.
6. Seluruh Staf Pengajar beserta administrasi Program S-1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, yang telah mendidik penulis selama masa perkuliahan serta mambantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. Seluruh Staf dan karyawan Perpustakaan Universitas Sumatera Utara.
8. Ibu Murniaty, S.Sos., yang telah memberikan saran serta meminjamkan buku kepada penulis sebagai bahan referensi untuk mengembangkan isi dari skripsi ini.
9. Ibu Jumiaty Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Anggrek Tanjung Morawa Medan.
10. Kepada Bapak Samuel Tarihoran, S.Sos sebagai pimpinan perpustakaan Cinta Baca Medan
11. Saudaraku tersayang Abang Parlinggoman Hutasoit, Abang Dapot Rony Hutasoit, Kakak Rimpa Hutasoit S.pd, Kakak Masco Hutasoit S.pd, Abang Suparjo Hutasoit A.Md, Abang drg. Muktar Hutasoit dan Abang Sudarsono Hutasoit SP, yang senantiasa mencurahkan kasing sayang, doa, dan dukungannya kepada penulis.
12. Sahabat terdekatku Elfrida Sihite, Ade Ike Maria Sinaga, Lina Meliana Napitupulu, Kevi Arsepta Silalahi, Tuty Maria Simamora, Bang Hasoloan Silaban, Perjuangan Munthe, Billy LM Sebayang, Risnawati, Joko Telaumbanua, Gurnala Clinton P terimakasih atas semangat, doa, suka- duka, yang telah kalian berikan selama tiga tahun di jurusan ini, semoga hari-hari indah bersama kalian menjadi kenangan yang berharga. Bagiku Sahabat ibarat “surat tanpa prangko” .
13. Seluruh teman-teman stambuk 2014 ekstensi Program studi Ilmu Perpustakaan yang telah banyak memberikan dorongan, pengertian dan inspirasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Selama ini kita bersama-sama menimbah ilmu di FIB dan banyak hal yang kita kerjakan untuk studi kita masing-masing semoga sukses semuanya.
14. UKM KMK USU sebagai wadah yang mendidik penulis secara rohani, penulis ucapkan terimakasih kepada Kordinator UKM tersebut dan orang- orang yang ambil bagian disana.
15. Kepada Abang Samuel Tarihoran, S.Sos sebagai pemimpin rohani penulis yang terus mendukung penulis lewat doa, dan dukungan moril lainnya serta kepada teman satu tim Marlina S Pane, Sinta Nauli S, Sulastri Situmorang, Juli Tarigan.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi yang jauh dari kata sempurna ini dapat berguna dan bermanfaat bagi yang membutuhkannya.
Medan, Agustus 2018 Penulis
TUTI G HUTASOIT
NIM : 140723013
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 3
BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi ... 4
2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi ... 4
2.1.2 Tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi ... 5
2.1.3 Fungsi Pperpustakaan Perguruan Tinggi ... 6
2.2 Evaluasi Koleksi ... 8
2.2.1 Pengertian Evaluasi Koleksi ... 8
2.2.2 Tujuan Evaluasi Koleksi ... 8
2.2.3 Metode Evaluasi ... 10
2.2.4 Alat Penilaian Evaluasi ... 13
2.3 Koleksi Perpustakaan ... 14
2.3.1 Pengertiian Koleksi Perpustakaan ... 14
2.3.2 Jenis Koleksi Perpustakaan ... 15
2.3.3 Pemanfaatan Koleksi ... 17
BAB IIIMETODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 19
3.2 Lokasi Penelitian ... 19
3.3 Unit Analisis ... 19
3.4 Populasi dan Sampel ... 20
3.4.1 Populasi ... 20
3.4.2 Sampel ... 21
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 21
3.6 Instrumen Penelitian ... 21
3.7 Alat Bantu Penelitian ... 22
BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Pemanfaatan Koleksi Buku Bidang Kesehatan Berdasarkan Tahun Terbit ... 23
4.1.1 Pemanfaatan koleksi Buku bidang kesehatan Tahun Terbit Terendah ... 23
4.2.2 Koleksi Buku bidang Kesehatan Tahun Terbit Tertinggi ... 25
4.2 Pemanfaatan Koleksi Buku Bidang Kesehatan Peminjaman Tertinggi ... 26
4.4 Hasil Peminjaman Koleksi Buku Bidang Kesehatan ... 28 4.6Grafik Peminjaman Koleksi Buku Bidang Kesehatan ... 33 4.5 Ringkasan Hasil Penelitian ... 38 BAB VKESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 40 5.2 Saran ... 40 DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Upaya pemberdayaan masyarakat telah mendapat perhatian dari berbagai pihak yang meliputi aspek pemberdayaan ekonomi, sosial dan politik.
Pemberdayaan masyarakat dalam hal ini memberikan akses kepada masyarakat dengan memanfaatkan hak masyarakat bagi peningkatan kualitas kehidupannya, karena penyebab ketidakberdayaan masyarakat disebabkan oleh keterbatasan akses informasi.
Pemberdayaan masyarakat juga bertujuan untuk meningkatkan potensi masyarakat agar mampu meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik bagi seluruh warga masyarakat melalui kegiatan-kegiatan swadaya. Untuk mencapai tujuan ini faktor peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia melalui pendidikan formal dan nonformal perlu mendapat prioritas. Memberdayakan masyarakat bertujuan “mendidik masyarakat agar mampu mendidik diri mereka sendiri” atau membantu masyarakat agar mampu membantu diri mereka sendiri”. Tujuan yang akan dicapai melalui usaha pemberdayaan masyarakat, adalah masyarakat yang mandiri, berswadaya, serta mampu mengadopsi inovasi.
Pelaksanaan program kegiatan pemberdayaan masyarakat yang sudah ditentukan dapat dilakukan melalui pendidikan. Melalui pendidikan, masyarakat dibekali pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan, sehingga masyarakat menjadi tahu, mengerti, dapat melakukan dan mau melakukan sesuatu untuk peningkatan kualitas hidup. Perubahan perilaku ini apabila dipadukan
dengan sumber daya alam yang tersedia, akan melahirkan perilaku baru yang disebut partisipasi. Partisipasi akan meransang masyarakat lebih aktif dan kreatif melaksanakan pembangunan yang terarah dan berencana terutama dalam meningkatkan pendapatan serta membuka lapangan kerja baru untuk perbaikan kualitas hidup masyarakat.
Sebagai penunjang dalam pemberdayaan masyarakat dibutuhkan sebuah fasilitas, fasilitas merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh pendamping masyarakat dalam upaya memberdayakan masyarakat. Istilah fasilitas banyak digunakan dikalangan aktivis pembangunan masyarakat untuk menyatakan suatu bentuk intervensi atau dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas individu, kelompok, atau kelembagaan masyarakat.
Fasilitas tersebut dapat berupa Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dimana keberadaannya berdiri di tengah- tengah masyarakat, memiliki fungsi sebagai sumber belajar bagi masyarakat melalui program pendidikan nonformal dan informal. Ditinjau dari fungsinya kedudukan TBM dapat mengembangkan potensi masyarakat dengan beberapa kegiatan yang diselenggarakan di TBM tersebut.
Perpustakaan Cinta Baca yang beralamat di Jalan Sunggal Komplek Perumahan bumi Seroja adalah salah satu perpustakaan yang melakukan pemberdayaan masyarakat secara langsung yaitu dengan mendirikan taman bacaan masyarakat di berbagai wilayah di Sumatera Utara, Perpustakaan ini termasuk bagian dari perpustakaan umum, dan satu upaya yang dilakukan oleh Perpustakaan Cinta Baca adalah dengan mendirikan Taman Baca Anggrek
Tanjung Morawa yang terletak di Jalan Siswa Sumber Jaya Lorong Sopoyono Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada pengelolah taman bacaan pada bulan Juli 2017, tujuan didirikannya taman baca tersebut untuk mengenalkan masyarakat tentang ilmu pengetahuan umum dan pendidikan agama, membantu mencerdaskan masyarakat dan membentuk masyarakat yang berbudaya. Dengan terselenggaranya program pemberdayaan masyarakat tentunya akan terjadi perubahan yang dirasakan oleh masyarakat sekitaran Taman Baca Masyarakat Anggrek yaitu sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan tersebut.
Dengan berbagai program yang sudah dilakukan Taman Baca Anggrek yaitu Program Kejar Baca, Kejar Cerdas, Kejar Sehat, Kejar Luhur, penulis tertarik untuk mengetahui sejauh mana masyarakat merasakan kehadiran TBM tersebut. Dengan berbagai macam penghargaan yang sudah diperoleh, penulis tertarik untuk mengkaji dan meneliti, bagaimanakah peran dari sebuah TBM yang merupakan sarana fasilitator, dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa serta perubahan apa yang dirasakan oleh masyarakat setelah mengikuti beberapa program kegiatan taman Baca yang sudah dilaksanakan.Dari pemaparan di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengambil judul “Peran Taman Baca Masyarakat dalam Pemberdayaan Masyarakat di Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana peran Taman Bacaan Anggrek Tanjung Morawa dalam melakukan pemberdayaan masyarakat di Desa Bangun Sari Tanjung Morawa?
2. Dampak apa yang dirasakan oleh masyarakat setelah mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat di Taman Bacaan Desa Bangun Sari Tanjung Morawa?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui peran Taman Bacaan dalam memberdayakan masyarakat. Dengan tujuan ini penelitian ini bermaksud mengelaborasi peran apa saja yang dimiliki Taman Bacaan.
2. Untuk mengetahui perubahan masyarakat setelah mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat di Taman Bacaan Anggrek Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yaitu:
a. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan teori ilmu perpustakaan melalui Taman Bacaan Masyarakat, dan juga bagi peneliti lanjutan.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi:
1. Taman Bacaan Masyarakat. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan mengenai pengembangan peranan TBM dalam pemberdayaan masyarakat.
2. Untuk pengelola Taman Bacaan Masyarakat.
3. Penulis, Untuk mengetahui dan menambah wawasan pemahaman penulis mengenai peranan taman bacaan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat.
1.5 Ruang Lingkup
Ruang Lingkup penelitian ini adalah peran taman bacaan masyarakat melalui TBM berperan sebagai tempat informasi, TBM berperab sebagai tempat untuk memperluas wawasan dan pengetahuan, TBM berperan sebagai tempat hiburan edukatif, TBM berperan sebagai pembinaan watak dan moral, TBM berperan sebagai tempat keterampilan.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Taman Bacaan Masyarakat
Salah satu program pembangunan pendidikan adalah Program pengembangan Budaya Baca dan Perpustakaan. Program ini bertujuan untuk mendorong terwujudnya masyarakat pembelajar sepanjang hayat melalui peningkatan budaya baca serta penyediaan, bahan bacaan yang berguna bagi aksarawan baru, maupun anggota masyarakat pada umumnya yang membutuhkan untuk, memperluas pengetahuan dan keterampilan demi peningkatan wawasan serta produktivitas masyarakat. TBM sebagai medium pengembangan budaya baca merupakan tempat mengakses berbagai bahan bacaan: seperti buku pelajaran, buku keterampilan praktis, buku pengetahuan, buku keagamaan, buku hiburan, karya-karya sastra serta bahan bacaan lainnya yang sesuai dengan kondisi obyektif dan kebutuhan masyarakat sekitar dan minat baca baik bagi aksarawan baru, peserta didik jalur Pendidikan Formal dan Non-Formal (warga belajar), dan masyarakat umum tanpa batas usia.
Taman bacaan masyarakat adalah untuk melayani kepentingan penduduk yang tinggal disekitarnya. Mereka terdiri atas semua lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, agama, adatistiadat, tingkat pendidikan, umur dan lain sebagainya.
Suatu perpustakaan apapun jenisnya didirikan dengan tujuan utama untuk mengumpulkan semua sumber informasi dalam berbagai bentuk , baik informasi tertulis (printed matter), terekam (recorded matter) atau dalam bentuk lain.
Kemudian semua informasi tersebut diproses, dikemas, dan disusun sedemikian rupa untuk disajikan kepada masyarakat pemakai yang diharapkan menjadi sasaran dari perpustakaan tersebut.
Pada prinsipnya pengertian Taman Bacaan Masyarakat hampir sama dengan pengertian perpustakaan pada umumnya. Karena kegiatan utama TBM juga adalah mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai macam informasi yang berguna bagi masyarakat, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TBM tersebut. Pengertian Taman Bacaan oleh beberapa ahli yaitu :
Dalam Buku Pedoman Penyelenggaraan Taman Bacaan Masyarakat (2006: 9) dinyatakan bahwa, Taman Bacaan Masyarakat adalah sebuah tempat / wadah yang didirikan dan dikelola baik masyarakat maupun pemerintah untuk memberikan akses layanan bahan bacaan bagi masyarakat sekitar sebagai sarana pembelajaran seumur hidup dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar TBM.
Sedangkan Menurut Sutarno NS (2006: 19)
Taman Bacaan Masyarakat mempunyai tanngung jawab, wewenang, dan hak masyarakat setempat dalam membangunnya, mengelola dan mengembangkannya. Dalam hal ini perlu dikembangkan rasa untuk ikut memiliki (sense of belonging), ikut bertanggung jawab (meluhangrukebi).
Pendapat lain dikemukakan oleh Amrin (2011: 04) bahwa:
Taman bacaan Masyarakat adalah sebuah lembaga atau unit layanan berbagai kebutuhan bahan bacaan yang dibutuhkan dan berguna bagi setiap orang per orang atau sekelompok masyarakat di desa atau diwilayah TBM berada dalam rangka meningkatkan minat baca dan mewujudkan masyarakat berbudaya baca.
Dari penjelasan beberapa ahli di atas dapat dipahami bahwa Taman Bacaan Masyarakat adalah lembaga atau unit layanan yang menyediakan bahan bacaan untuk sekelompok masyarakat di suatu wilayah dalam rangka meningkatkan minat baca masyarakat. Masyarakat menyadari dan menghayati bahwa taman bacaan sangat diperlukan oleh masyarakat. Minat masyarakat terhadap TBM harus terus dibina dan dikembangkan sehingga masyarakat memperoleh informasi yang mereka perlukan.
2.1.1 Manfaat Pendirian Taman Bacaan Masyarakat
Pendirian sebuah Taman Bacaan Masyarakat di tengah-tengah masyarakat tentunya mempunyai banyak manfaat bagi masyarakat di sekitar Taman Bacaan khususnya dan bagi seluruh masyarakat pada umumnya. Adapun manfaat-manfaat pendirian Taman Bacaan Masyarakat tersebut antara lain :
1. Menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan masyarakat.
2. Dapat meningkatkan minat, kecintaan, kegemaran dan kemampuan membaca masyarakat sekitar, menunjang pendidikan masyarakat, pekerjaan dan segala aktifitas masyarakat di sekitar TBM.
3. Dapat menggerakkan dan menumbuhkembangkan minat baca khususnya warga belajar program pendidikan keaksaraan dan Pendidikan Luar Sekolah lainnya serta masyarakat umum sekitar TBM.
4. Menumbuhkan kegiatan belajar mandiri.
5. Membantu pengembangan kecakapan mandiri.
6. Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
7. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat ( Murniaty, 2012: 4 ).
Sedangkan dalam Buku pedoman Pengelolaan Taman bacaan Masyarakat (2006: 1), dinyatakan bahwa manfaat taman bacaan masyarakat adalah :
1. Menumbuhkan minat, kecintaan dan kegemaran membaca.
2. Memperkaya pengalaman belajar bagi warga.
3. Menumbuhkan kegiatan belajar mandiri
4. Mempercepat proses penguasaan proses penguasaan teknik
5. Membantu pengembangan kecakapan membaca
6. Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
7. Melatih tanggungjawab melalui ketaatan terhadap aturan-aturan yang ditetapkan
8. Membantu kelancaran penyelesaian tugas.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa manfaat taman bacaan masyarakat adalah menumbuhkan minat baca dan kecintaan membaca untuk memperkaya pengalaman belajar bagi warga dan menambah wawasan tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain dalam memberikan kemudahan mendapatkan bahan bacaan yang dibutuhkan masyarakat, TBM juga melakukan berbagai kegiatan untuk menumbuhkembangkan minat dan kegemaran membaca.
Apabila melaksanakan fungsinya dengan baik.
2.1.2 Tujuan Pendirian Taman Bacaan Masyarakat
Pendirian Taman Bacaan Masyarakat mempunyai tujuan tertentu, dalam Buku pedoman Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (2006: 1), Tujuan Taman Bacaan Masyarakat adalah :
1. Membangkitkan dan meningkatkan minat baca masyarakat sehingga tercipta masyarakatyang cerdas dan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2. Menjadi sebuah wadah kegiatan belajar masyarakat.
3. Mendukung peningkatan kemampuan aksarawan baru.
4. Pembrantasan buta aksara sehingga tidak menjadi buta aksara.
Sedangkan menurut Murniaty (2012:4) tujuan taman bacaan masyarakat adalah sebagai berikut :
1) Menyediakan berbagai suber bahan bacaan yang sesuai dan berguna bagi warga masyarakat umum di sekitar TBM dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan minat baca masyarakat.
2) Menggerakkan dan mendorong masyarakat sekitar TBM agar mau berkunjung dan memanfaatkan TBM.
3) Memberi fasilitas bagi masyarakat di sekitar TBM untuk dapat melakukan berbagai aktivitas seperti berbagai lomba yang berbasis membaca guna meransang dan mendorong masyarakat mempunyai minat baca dan meningkatkan kemampuan membaca.
4) Menyediakan tempat hiburan segar bagi masyarakat di sekitar TBM yang sekaligus tempat menambah wawasan pengetahuan dan keterampilannya.
5) Memotivasi masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap program pemerintah dalam bidang pendidikan non formal dan peran serta masyarakat dalam pembangunan wilayahnya. (Murniaty, 2012: 4 )
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa tujuan pendirian adalah untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat untuk menambah ilmu pengetahuan.
2.1.3 Fungsi Taman Bacaan Masyarakat
Dalam memenuhi peranannya sebagai sumber belajar yang dapat memfasilitasi pembelajaran seumur hidup, TBM mempunyai fungsi sebagai tempat belajar dan mencari informasi yang dibutuhkan masyarakat, baik mengenai masalah yang langsung berhubungan dengan masalah pendidikan maupun tidak berhubungan dengan pendidikan.
Dalam Buku pedoman Pengelolaan Taman bacaan Masyarakat (2006: 2), dinyatakan bahwa fungsi taman bacaan masyarakat adalah :
1. Sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk belajar mandiri, dan sebagai penunjang kurikulum program Pendidikan Luar Sekolah, khususnya program keaksaraan.
2. Sumber informasi yang bersumber dari buku dan bahan bacaan Iainnya yang sesuai dengan kebutuhan warga belajar dan masyarakat setempat.
3. Sumber penelitian dengan menyedikan buku-buku dan bahan bacaan Iainnya dalam studi kepustakaan.
4. Sumber rujukan yang menyediakan bahan referensi bagi pembelajaran dan kegiatan akademik Iainnya.
5. Sumber hiburan (rekreatif) yang menyediakan bahan-bahan bacaan yang sifatnya rekreatif untuk memamfaatkan waktu senggang untuk
memperoleh pengetahuan/informasi baru yang menarik dan bermamfaat.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa TBM memiliki beberapa fungsi.
Fungsi tersebut terdiri dari fungsi pembelajaran, hiburan dan informasi. TBM juga melaksanakan kegiatan pelayanannya bervariasi. Ada banyak nama yang digunakan TBM, misalnya Rumah baca, pondok baca, perahu baca, Warung baca, namun pada hakikatnya kesemua lembaga atau organisasi tersebut, melakukan fungsi yang sama dengan TBM.
2.1.4 Peranan Taman Bacaan Masyarakat
Peran sebuah TBM adalah bagian dari tugas pokok yang harus dijalankan taman bacaan masyarakat. Oleh karena itu peranan yang harus dijalankan menentukan dan mempengaruhi tercapainya tujuan yang hendak dicapai. Setiap taman bacaan yang dibangun akan mempunyai makna apabila dapat melaksanakan peranannya dengan sebaik-baiknya, peranan tersebut berhubungan dengan keberadaan, tugas dan fungsinya. Agar dapat meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat.
Menurut Hamid, Muhammad (2010: 81), peran taman bacaan masyarakat adalah :
1. TBM berperan sebagai tempat informasi
Agar dapat dikunjungi masyarakat sekitar TBM harus menjadi tempat layanan informasi yang dibtuhkan oleh masyarakat sekitar melalui media bacaan yang tersedia. Sesuai dengan peran tersebut TBM harus berisi berbagai jenis media seperti buku, audio, audio visual gerak, booklet, atau bahan bacaan praktis lainnya yang dapat memberi informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar TBM. Dengan demikian di TBM perlu memprioritaskan bahan bacaan yang menjanjikan informasi umum yang sangat dibutuhkan masyarakat sekitar TBM.
2. TBM berperan sebagai tempat untuk memperluas wawasan dan pengetahuan
Sesuai dengan peran tersebut maka TBM harusnya menyediakan pengetahuan yaitu bahan bacaan baik koran, majalah, tabloid, buku otogiografi, kamus, ensiklopedia, buku tentang berbagai nusantara, dan sebagainya. Selain itu TBM juga harusnya memiliki bahan bacaan ilmu pengetahuan praktis (yang bersifat aplikatif), serta buku pelajaran untuk membantu anak-anak sekolah tetapi tidak memiliki buku.
3. TBM berperan sebagai tempat hiburan edukatif
Sesuai dengan peran tersebut maka TBM baiknya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang belajar merasa senang dan nyaman. Oleh karena itu, TBM juga menyediakan bahan bacaan yang humoris atau bahan bacaan yang bersifat cerita, novel, komik, dan sebagainya.
4. TBM berperan sebagai pembinaan watak dan moral
TBM dapat menjadi tempat pembinaan watak dan moral apabila berisi bahan bacaan yang terkait dengan ilmu dan pengetahuan tentang psikologis, agama, sejarah, otobiografi tokoh/artis dan pengalaman hidup seseorang.
5. Berperan sebagai tempat berperan keterampilan
Untuk memfasilitasi masyarakat yang akan belajar keterampilan TBM perlu menyediakan bahan bacaan baik berbagai keterampilan yang bersifat praktis baik pertukangan, pertanian, peternakan, elektronika dan sebagainya.
Sedangkan Menurut Sutarno NS (2006: 68) peranan taman bacaan masyarakat antara lain : Secara umum Taman Bacaan Masyarakat merupakan sumber informasi, pedidikan, penelitian, ptreservasi dan pelestarian khasanah budaya bangsa serta tempat rekreasi sehat, murah dan bermanfaat. Peranan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai peranan media atau jembatan yang berfungsi menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkadang di dalam koleksi yang dimiliki.
2. Mempunyai peranan sebagai sarana untuk menjalin dan mengembangkan komunikasi antarasesama pemakai, dan antara penyelenggara taman bacaan masyarakat dengan masyarakat yang dilayani.
3. Dapat berperan sebagai lembaga untuk membangun minat bac, kegemaran membaca, kebiasaan membaca, dan budaya membaca, melalui penyedia berbagai bahan bacaan yang sesuai dengan krimemanfaatkan, nginan dan kebutuhan masyarakat.
4. Berperan aktif sebagai fasiliator, mediator, motivator bagi mereka yang ingin mencari, memanfaatkan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya.
5. Merupakan agen perubahan, agen pembangunan, dan agen kebudayaan manusia.
6. Berperan sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi anggota masyarakat dan penunjang Taman Bacaan Masyarakat. Mereka dapat belajar mandiri (otodidak), melakukan penelitian, menggali, memanfaatkan dan mengembangkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan.
7. Petugas Taman Bacaan Masyarakat dapat berperan sebagai pembimbing dan memberikan konsultasi kepada pemakai atau melakukan pendidikan pemakai (user education), dan pembinaan serta menanamkan pemahaman tentang pentingnya taman bacaan masyarakat bagi orang banyak.
8. Menghimpun dan melestarikan koleksi bahan pustaka agar tetap dalam keadaan baik semua karya manusia yang tidak ternilai harganya.
2.2 Organisasi Taman Bacaan Masyarakat
Untuk menguatkan keberadaan TBM di masyarakat, maka diperlukan organisasi TBM. Menurut Murniaty ( 2012: 5) “Organisasi adalah suatu bentuk kerjasama antara sekelompok orang berdasarkan suatu keterikatan untuk mencapai suatu tujuan yang telah desepakati bersama”.
Beberapa hal yang terdapat dalam TBM sehingga disebut sebagai organisasi adalah sebagai berikut :
1. Taman Bacaan Masyarakat Sebagai Perpustakaan Milik Masyarakat
Taman Bacaan Masyarakat adalah sebuah organisasi milik masyarakat karena merupakan suatu bentuk kerjasama dari kelompok masyarakat di sekitar TBM untuk mencapai satu tujuan bersama yaitu menyediakan berbagai jenis sumber informasi yang sesuai dengan masyarakat di sekitar TBM.
Namun perlu diakui bahwa sebuah TBM keberadaannya tidak melembaga secara kuat dan sangat bergantung kepada komunitas masyarakat yang peduli mengelola dan membiayainya. Artinya, jika pengelolanya terus aktif maka TBM tersebut akan terus eksis. Sebaliknya apabila karena satu dan lain hal, perhatian dan kepedulian pengelolanya menurun, maka akan langsung berdampak kepada kelangsungan hidup TBM tersebut. Oleh
TBM harus memiliki dokumen yang membuat antara lain susunan organisasi, pengelolaan anggaran dan aset yang jelas, perencanaan program kegiatan yang jelas, sampai sistem pelaporan. Walaupun sederhana, semua dokumen ini akan diperlukan sebagai pegangan bagi pengelola TBM, pemangku kepentingan TBM, maupun pihak lainnya.
Lebih baik lagi bila keberadaan organisasi TBM disahkan oleh akte notaris secara legal.
2. Gedung/ Bangunan/ Ruangan TBM
Sebuah TBM hendaknya memiliki gedung/bangunan/ruangan yang jelas keberadaannya sebagai tempat untuk meletakkan koleksi bahan pustaka dan juga menyelenggarakan berbagai aktifitas layanan TBM.
Gedung/Bangunan/Ruangan TBM tidak harus permanen, tetapi cukup mempunyai ruang gerak yang memadai untuk beraktifitas. Juga bisa melindungi koleksi bahan pustaka dari hujan dan panas matahari.
Lokasinya juga diusahakan berada ditengah-tengah aktifitas masyarakat setempat sehingga memudahkan masyarakat dalam mengunjungi TBM tersebut.
3. Visi dan Misi TBM
Sebuah organisasi Taman Bacaan Masyarakat yang baik hendaknya memiliki visi dan misi yang jelas. Hal-hal tersebut merupakan pedoman, arah, dan tuntunan untuk mencapai tujuan akhir. Oleh karena itu visi dan misi TBM harus disesuaikan dengan kebijakan dengan kebijakan dari lembaga yang menaunginya (kalau ada) atau disesuaikandengan keinginan masyarakat di sekitar berdirinya TBM. Menurut Murniaty ( 2012: 7) pengertian visi dan misi adalah sebagai berikut :
“Visi adalah cara memandang tentang kondisi dan situasi masa depan dan merupakan gambaran keadaan yang ingin dicapai di masa depan, yang secara rasional dapat diwujudkan”.
“Misi merupakan penjabaran lebih lanjut dari visi. Misi merupakan pokok- pokok kegiatan yang harus dirimuskan agar lebih realistis untuk mencapainya”.
2.2.1 Kegiatan Taman Bacaan Masyarakat
Kegiatan yang dilakukan oleh sebuah TBM sangat bervariasi, tergantung pada besar kecilnya ruang lingkup organisasai TBM. Sebuah TBM yang sudah besar dan berkembang dapat membagi tugas dan pekerjaannya kepada beberapa pengelola dalam beberapa bidang. Sementara TBM yang relatif masih kecil dan sederhana dapat menyederhanakan pembagian tugasnya kepada pengelola yang
terbatas pula. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam operasionalisasi TBM adalah sebagai berikut :
1. Pengadaan Koleksi Taman Bacaan Masyarakat
Pengadaan koleksi bahan pustaka merupakan proses awal dalam mengisi TBM dengan berbagai sumber informasi seperti buku, majalah, surat kabar, kliping, foto-foto kegiatan masyarakat, dan lain-lain.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan kebijakan pengadaan koleksi antara lain: mempelajari peta dan kondisi masyarakat pemakai serta melakukan survei minat pemakai, sehingga pengadaan koleksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pemakai TBM.
Pengadaan koleksi dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain:
pembelian, sumbangan/hadiah, tukar-menukar, menggandakan (fotocopi), atau menerbitkan sendiri, termasuk di dalamnya membuat kliping. Pengadaan koleksi yang bersumber dari pembelian dapat dipilih berdasarkan seleksi melalui katalog penerbit, brosur, bibliografi, permintaan pemakai, perkembangan penerbitan, perkembangan informasi, dan lain-lain.
Pekerjaan di pengadaan koleksi termasuk juga pencatatan (inventarisasi) dari koleksi yang sudah dibeli atau didapatkan dari berbagai sumber tersebut ke dalam buku induk TBM atau database TBM (jika TBM-nya sudah digital). Data yang diinput/ditulis ke dalam buku induk tersebut adalah:
1. Tanggal diterima di TBM 2. Nama pengarang
3. Judul buku 4. Edisi (kalau ada) 5. Nama penerbit
6. Tempat dan tahun terbit
7. Sumber (membeli, sumbangan, hadiah, tukar-menukar)
8. Keterangan lain yang dianggap perlu (seperti harga, jumlah eksemplar, seri, dll). ( Murniaty, 2012: 10)
Koleksi yang sudah di inventarisasi kemudian distempel kepemilikan sesuai dengan nama TBM yang bersangkutan. Stempel ini untuk menandakan bahwa koleksi tersebut milik TBM.
2. Pengolahan Koleksi TBM
Pengolahan koleksi adalah pekerjaan yang diawali sejak koleksi diterima di TBM sampai koleksi tersebut dapat ditempatkan di rak buku yang dapat dilayankaan kepada pengunjung TBM. Sebelum pekerjaan pengolahan koleksi dimulai ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan berkaitan dengan rencana operasioal pengolahan koleksi, yaitu:
1. Menentukan sistem klasifikasi dan katalogisasi yang akan dipakai.
2. Menentukan kebijakan otomasi dan kebijakan komputer dalam mengolah, menyimpan dan menggunakan koleksi (kalau TBM tersebut ingin otomasi).
3. Merancang kartu-kartu, slip buku, dan formulir-formulir yang diperlukan. ( Murniaty, 2012: 11)
Adapun pekerjaan pengolahan koleksi meliputi:
1. Klasifikasi Koleksi
Mengklasifikasi koleksi adalah kegiatan mengelompokkan bahan pustaka/koleksi berdasarkan pada isi atau subyek yang sama dengan menggunakan sistem klasifikasi tertentu, contohnya dalah DDC (Dewey Decimal Classificasion). Maksud dari klasifikasi adalah agar semua bahan pustaka yang sama isi atau subyeknya akan terkumpul menjadi satu.
Selanjutnya akan memudahkan untuk mengatur, menempatkan atau menemukannya kembali bila diperlukan pemakai.
2. Katalogisasi
Menurut Murniaty ( 2012: 12) “Katalogisasi merupakan proses mengatalog koleksi bahan pustaka di TBM, seperti buku, majalah, koran, kliping, brosur, dll. Hasil pekerjaan dari katalogisasi adalah pembuatan
“kartu katalog” atau yang dimuat dalam bentuk pangkalan data komputer”.
Kartu katalog berisi keterangan-keterangan yang lengkap tentang keadaan fisik bahan pustaka, yang mencakup informasi antara lain:
1. Tajuk entri berupa nama pengarang utama.
2. Judul buku, baik judul utama maupun sub judul.
3. Keterangan tentang kota terbit, nama penerbit, dan tahun terbit koleksi.
4. Keterangan tentang jumlah halaman, ukuran buku, ilustrasi, indeks, tabel, dan bibliografi.
5. Keterangan singkat mengenai isi penerbitan, judul asli, dan pengarang asli (apabila buku tersebut hasil terjemahan).
2.3 Layanan Pengguna
Taman Bacaan Masyarakat dikatakan baik apabila dapat memberikan pelayanan yang memuaskan kepada pengunjung. Kepuasan pemakai dapat dilihat dari seberapa jauh taman bacaan masyarakat menyediakan berbagai jenis koleksi yang dibutuhkan oleh para pemakainya.keberhasilan TBM dalam melayani masyarakat penggunanya antara lain terlihat dari berapa banyak oranf yang memanfaatkan TBM setiap hari dan seberapa jauh TBM menyediakan berbagai jenis koleksi bacaan yang dibutuhkan pengguna.
Dalam Buku Pedoman Pengelolaan Taman Bacaan Masyarakat (2006: 17) dinyatakan bahwa Layanan TBM yang dibutuhkan masyarakatnya adalah :
1. Suasana TBM
Ruang TBM hendaknya dapat menyenangkan pengunjung. Oleh karena itu harus diatur agar tetap bersih, sejuk, tentram, rapi dan aman jugs termasuk pengaturan mobiler dan peralatan/perlengkapan Iainnya sehingga pengunjung merasa senang berada di ruang TBM.
2. Tenaga Pelayanan
1) Tenaga pelayanan TBM sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut:
2) Memiliki pengetahuan dasar tentang pengelolaan TBM
3) Memiliki kemauan dan kemampuan untuk melayani orang dengan ramah, sopan, teliti, tekun dan senang membaca
4) Berpenampilan menyenangkan sehingga orang tidak segan bertanya atau meminta pertolongan
5) Pandai bergaul sehingga orang merasakan dekat dan diperhartikan.
3. Sistem Layanan TBM
TBM menggunakan sistem layanan terbuka sehingga pengunjung/pengguna dapat masuk ke ruang baca untuk memilih dan mengambil bahan bacaan sendiri di rak, atau dapat pula minta bantuan dari petugas. Mereka menggunakan sarana/tempat baca dengan bebas.
Jenis kegiatan pelayanan:
1. Layanan membaca, yaitu memanfaatkan bahan bacaan seperti buku,
2. Peraturan sirkulasi (peminjaman) yaitu peminjaman buku untuk dibawa ke rumah atau di luar ruangan TBM. Pengguna yang boleh meminjam buku hanyalah anggota yang telah terdaftar.
Dari uraian di atas dapat diketahui layanan TBM harus senyaman mungkin, dan tenaga pelayanannya berpenampilan menyenangkan sehingga masyarakat pengguna TBM tidak segan untuk bertanya atau meminta bantuan serta merasakan dekat dan diperhatikan.
2.4 Pengelola Taman Bacaan Masyarakat
Pendidikan Keaksaraan sangat berhubungan dengan TBM agar warga buta aksara yang sudah melek aksara tidak buta kembali dengan adanya TBM ini sehingga diharapkan dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga sesuai dengan minat dan kebutuhan setempat. Sedangkan program Taman Bacaan Masyarakat belum dapat dikatakan berhasil apabila kemampuan, keterampilan dan kinerja pengelola belum memadai untuk mengelola Taman Bacaan Masyarakat, sehingga bagi para Pengelola TBM agar dapat mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan penyelenggaraan TBM sebelum melaksanakan tugasnya.
Dalam Buku Pedoman Pengelolahan Taman Bacaan Masyarakat (2006:
23) dinyatakan bahwa Pengelola Taman Bacaan Masyarakat harus memiliki : 1. Pengelola TBM yang diselenggarakan oleh masyarakat harus
memiliki sikap peduli tanpa pamrih (relawan) untuk membantu melayani bahan bacaan dan pembimbing masyarakat membaca, berbeda dengan TBM yang dikelola oleh pemerintah.
2. Pengelola diutamakan berlatar pendidikan bidang komunikas atau pendidikan yang memahami berbagai bahan bacaan serta responsif gender dan berkomitmen untuk mengembangkan minat baca masyarakat.
3. Pengelola TBM diutamakan memiliki usaha ekonomi ditempat TBM, misalnya warung kopi, wartel, counter HP, dll.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pengelola TBM harus memiliki sikap peduli dan tanpa pamrih untuk melayani bahan bacaan dan membimbing masyarakat dengan latar belakang pendidikan bidang komunikasi agar dapat mengembangkan minat baca masyarakat serta memiliki usaha ekonomi ditempat dimana TBM tersebut didirikan sehingga memberi kenyamanan pada pengguna TBM.
2.4.1 Tugas-tugas pengelola TBM
Untuk mewujudkan peran TBM tersebut maka pengelola mempunyai tugas untuk tercapainya masyarakat yang akan belajar keterampilan dan menumbuhkembangkan minat baca terhadap masyarakat.
Dalam buku Pedoman Pengelolahan Taman Bacaan Masyarakat (2006:
24) dinyatakan bahwa tugas-tugas pengelola TBM adalah :
1. Melakukan sosialisasi promosi bahan bacaan yang ada di TBM bagi masyarakat sekitar dan keberadaan TBM tersebut.
2. Melakukan kajian sederhana untuk mendapatkan data profil masyarakat yang akan dilayani sehingga jenis bahan bacaan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan bahan bacaan masyarakat.
3. Memberi layanan membaca, meminjam, melakukan berbagai aktifitas untuk meningkatkan kemampuan membaca, meransang minat baca dan lain-lain.
4. Mengumpulkan bahan bacaan (buku, leaflet, booklet, dll) dari para donatur taman bacaan baik masyarakat perorangan maupun lembaga dan juga dari lembaga pemerintah maupun swasta baik dari pusat maupun daerah.
5. Memberi layanan (jam buka TBM) secara optimal setiap hari sejak pagi sampai malam agar masyarakat yang tidak sempat berkunjung ke TBM pagi hari akibat kesibukan dapat dikunjungi malam hari.
6. Menata Bahan Bacaan di ruang display bahan bacaan.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa tugas pengelola TBM adalah mempromosikan bahan bacaan yang ada di TBM bagi masyarakat sekitar dan keberadaan TBM itu sendiri. Selain mempromosikan bahan bacaan , pengelola juga dapat mengumpulkan bahan bacaan yang bervariasi dari para donator agar pengguna TBM tidak merasa bosan tetapi bahan bacaan tersebut berbasis kebutuhan masyarakat.
2.4.2 Sosialisasi Dan Promosi TBM
Masyarakat tidak secara langsung merespon program TBM. Perlu adanya sosialisasi tentang TBM dan manfaatnya. Dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat maka pengelola TBM perlu kreatif untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mensosialisasikan dan mempromosikan keberadaan TBM untuk menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke TBM.
Beberapa kegiatan kreatif dan inovatif yang dapat dilakukan antara lain :
1. Membangun kemitraan dengan berbagai instansi, organisasi atau kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki tujuan yang sama, sehingga membuat gaung TBM lebih terdengar lagi.
2. Pengelola mengadakan kegiatan membaca bersama anggota dengan memilih tema bacaan yang sesuai dengan bulan yang sedang berlangsung misalnya bulan Oktober dipilih buku tentang Sumpah Pemuda, pada bulan Desember dipilih buku tentang hari Ibu, pada bulan April dipilih buku tentang RA. Kartini, pada bulan Mei dipilih buku tentang Pendidikan, dll.
3. Belajar dengan ahli; yaitu pengelola mendatangkan seorang ahli dibidangnya misalnya ahli menulis seperti Ali Murthado, ahli melukis, ahli bertutur/mendongeng, dan lain-lain. Untuk memberikan pelajaran kepada anggota TBM.
4. Olahraga rutin; misalnya setiap minggu diadakan kegiatan olahraga di sekitar TBM seperti bulutangkis, senam, dll.
5. Menonton film; dengan menonton film-film pendidikan, film perjuangan. Hal ini baik dikerjakan saat liburan anak-anak sekolah.
6. Outbond bersama buku; dapat dilakukan dengan menggunakan sepeda, berkeliling lingkungan tempat tinggal TBM itu berada, tetapi tetap membawa buku.
7. Menggelar aneka lomba; yang sifatnya seremonial seperti lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba melukis, lomba menulis, lomba membaca, dll. Aneka lomba tersebut harus dilaksanakan disekitar TBM agar masyarakat mengenal lebih dekat keberadaan TBM.
8. Publikasi, seiring dengan majunya teknologi yang semakin pesat, membuat media publikasi pun semakin beragam. Mulai dari majalah dinding, papan informasi, surat kabar, majalah, hingga pembuatan website dapat dimanfaatkan. ( Murniaty, 2012: 15)
Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa sosialisasi dan promosiTBM yang dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing-masing TBM dibarengi dengan motivasi yang kuat dari para pengelola TBM untuk melaksanakannya. Dana atau uang bukan segala-galanya untuk menjalankan berbagai kegiatan namun dibutuhkan kreatif untuk berkarya demi menumbuhkan minat baca masyarakat pada taman bacaan masyarakat.
2.5 Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan berasal dari bahasa inggris yaitu empowerment yang berarti daya atau kekuatan. Konsep pemberdayaan sebagai terjemahan dari empowerment mengandung dua pengertian yaitu to give power or authority to (memberi kekuasaan atau mendelegasikan otoritas ke pihak lain dan to give ability or to enable (usaha untuk memberi kemampuan atau keberdayaan). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2014) dinyatakan bahwa pemberdayaan merupakan proses, cara, perbuatan memberdayakan. Pemberdayaan (Azis dkk., 2005: 169) adalah” beralihnya fungsi individu yang semula objek menjadi subjek, sehingga relasi sosial yang ada nantinya hanya akan dicirikan dengan relasi antar subjek dengan subjek lain yang intinya adalah pemanusiaan”. Dari uraian di atas dapat dinyatakan bahwa, pemberdayaan (empowerment) adalah upaya untuk membantu
seseorang atau kelompok dengan menolong diri mereka sendiri melalui pengembangan kemampuan yang nantinya dapat diberdayakan dalam meningkatkan taraf kehidupannya.
2.5.1 Tahapan Pemberdayaan Masyarakat
Tahapan program pemberdayaan masyarakat merupakan suatu siklus pengubahan yang berusaha mencapai ke taraf yang lebih baik. Menurut Adi (2013: 179) tahapan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat melalui skema berikut:
1. Tahapan persiapan (Engagement)
Pada tahap ini dilakukan melalui tahap persiapan petugas dan persiapan lapangan.
a. Persiapan petugas, merupakan penyiapan tenaga pemberdaya masyarakat yang dapat dilakukan oleh bagian dari masyarakat itu sendiri.
b. Persiapan lapangan, dalam hal ini petugas pada awalnya melakukan studi kelayakan terhadap daerah yang akan dijadikan sasaran dilakukan secara formal ataupus informal.
2. Tahap Pengkajian (Assessment)
Pada tahap ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah berhubungan dengan kebutuhan yang dirasakan ataupun kebutuhan yang diekspresikan dan juga sumber daya yang dimiliki klien (masyarakat).
3. Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan (Designing)
Pada tahap ini yang perlu dilakukan agen pengubah adalah dengan mencoba melibatkan warga untuk berpikir tentang masalah yang dihadapi dan cara mengatasinya
4. Tahap Pemformulasian Rencana Aksi (Formulation)
Pada tahap ini agen pengubah membantu masyarakat untuk merumuskan dan menentukan program dan kegiatan yang akan mereka lakukan dalam mengatasi permasalahan yang ada untuk mencapai tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.
5. Tahap Pelaksanaan Program atau Kegiatan (Implementasi)
Tahap ini merupakan salah satu tahap paling penting dalam proses pemberdayaan masyarakat. Peran masyarakat sebagai pelaksana program pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat menjaga keberlangsungan program yang telah dikembangkan.
6. Tahap Evaluasi
Evaluasi sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap program pemberdayaan masyarakat yang sedang berjalan sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga.
7. Tahap Terminasi (Disengagement)
Tahap ini merupakan tahap pemutusan hubungan secara formal dengan sasaran.
2.5.2 Pemberdayaan Masyarakat sebagai Suatu Program dan Proses
Pemberdayaan masyarakat sebagai suatu proses adalah suatu proses yang berkesinambungan (on-going) sepanjang lembaga/instansi/komunitas itu masih ingin melakukan pengubahan dan perbaikan, tidak hanya terpaku pada suatu program saja. Menurut Hogan (yang dikutip oleh Adi, 2013: 212) mengemukakan bahwa “melihat proses pemberdayaan sebagai suatu proses yang relatif terus berjalan sepanjang usia manusia yang diperoleh dari pengalaman individu tersebut dan bukannya suatu proses yang berhenti pada suatu masa saja”.
Hogan yang dikutip oleh Adi (2013: 211) menggambarkan proses pemberdayaan yang berkesinambungan sebagai suatu siklus yang terdiri dari lima tahapan utama, yaitu:
1. Menghadirkan kembali pengalaman yang memberdayakan dan tidak memberdayakan (recall depowering/empowering experiences).
2. Mendiskusikan alasan terjadinya pemberdayaan dan ketidakberdayaan (discuss reasons for depowerment/empowerment)
3. Mengidentifikasikan suatu masalah ataupun proyek (identify one problem or project)
4. Mengidentifikasikan basis daya yang bermakna untuk melakukan pengubahan (identify useful power bases)
5. Mengembangkan rencana-rencana aksi dan mengimplementasikannya (develop and implement action plans)
Pemberdayaan masyarakat sebagai suatu program dan proses yang berkelanjutan sebenarnya merupakan pemikiran yang juga terkait dengan posisi agen pemberdayaan masyarakat (petugas). Bila agen pemberdayaan masyarakat merupakan pihak luar (dari luar komunitas) maka program pemberdayaan masyarakat akan diikuti dengan adanya terminasi atau desengagement. Adapun
bila agen pemberdaya masyarakat berasal dari internal komunitas, maka pemberdayaan masyarakat akan dapat diarahkan ke proses pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan (Cahyono, 2007: 333).
2.5.3 Pemberdayaan Masyarakat melalui TBM
Cara dalam meningkatkan kecerdasan bangsa dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu usaha dapat dilakukan melalui TBM, karena perpustakaan merupakan institusi yang memiliki peran dalam menyediakan informasi bagi masyarakat. Pemberdayaan merupakan suatu upaya untuk menjadikan masyarakat berdaya, memiliki kekuatan, dan tidak tertinggal.
Ketertinggalan suatu masyarakat terutama disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu ketidaktahuan, kemiskinan, dan penyakit (ignorance, poverty, and disease) (Al Hakam, 2010). Untuk mengatasi ketertinggalan ini, maka yang menjadi tujuan utama adalah dengan meningkatkan kecerdasan masyarakat agar tercipta manusia yang bersumber daya unggul. Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk mendidik masyarakat agar mampu mendidik diri mereka sendiri atau membantu masyarakat agar mampu membantu diri mereka sendiri.
Usaha meningkatkan kecerdasan masyarakat merupakan tujuan dari pendidikan nasional yaitu meningkatkan kecerdasan masyarakat berarti dapat dengan meningkatkan kualitas pendidikan. Usaha ini dapat dilakukan melalui TBM, karena perpustakaan sebuah institusi yang memiliki peran dalam menyediakan informasi bagi masyarakat.
Pemberdayaan melalui TBM ini berhubungan dengan bidang pendidikan.
TBM adalah sebuah lembaga yang menjabarkan ilmu pengetahuan dan hasil-hasil pemikiran manusia dengan tidak henti-hentinya dan merupakan tempat belajar
seumur hidup (Suharyanti, 2008: 6). Melalui TBM, masyarakat tidak hanya dapat memperoleh ilmu pengetahuan dari bahan pustaka yang dilayankan, tetapi juga mengembangkan bakat dan potensi yang mereka miliki dengan memanfaatkan fasilitas dan layanan yang ada di TBM. Maksud pembentukan TBM bagi masyarakat, yaitu: (Sutarno, 2006: 33)
1. Menjadi tempat mengumpulkan atau menghimpun informasi, dalam arti aktif, TBM terus-menerus mengumpulkan sebanyak mungkin sumber informasi untuk dikoleksi.
2. Sebagai tempat mengolah atau memroses semua bahan pustaka dengan metode atau sistem tertentu seperti registrasi, klasifikasi, katalogisasi, dan kelengkapan lain agar mudah digunakan.
3. Menjadi tempat menyimpan dan memelihara. Artinya ada kegiatan untuk mengatur, memelihara, dan merawat agar koleksi rapi, terawat serta mudah diakses.
4. Sebagai salah satu pusat informasi, sumber belajar, penelitian, rekreasi, dan lainnya. Memberi layanan kepada pemakai, seperti: membaca, meminjam, meneliti dengan cara cepat, tepat, dan mudah.
5. Membangun tempat informasi yang lengkap dan “up-to-date” bagi pengembangan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan perilaku/sikap (attitude).
6. Merupakan agen pengubahan dan agen kebudayaan dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kemajuan perpustakaan menjadi kebanggaan, dan simbol peradaban kehidupan umat manusia.
Adanya pembentukan TBM di tiap-tiap daerah, diharapkan dapat memperbaiki dan mengatasi ketertinggalan yang dialami masyarakat. Dengan meningkatkan taraf kecerdasan masyarakat maka perbaikan mutu kehidupan pun dapat dijamin. Dengan demikian pemberdayaan masyarakat pun dapat terlaksana.
Pemberdayaan masyarakat melalui TBM dapat dilakukan, yaitu dengan meningkatkan minat terhadap buku atau bacaan. Minat baca yang tinggi menjadikan seseorang dapat memperoleh informasi dari bacaan yang dibacanya dalam rangka meningkatkan pengetahuan.
Minat baca dapat ditumbuhkan dengan menanamkan kebiasaan membaca kepada seseorang yang kelamaan akan terbiasa dan menjadi budaya baca bagi dirinya. Dengan timbulnya budaya baca pada diri seseorang maka akan timbul rasa keingintahuan akan pengetahuan yang dia miliki. Bentuk kegiatan-kegiatan pemberdayaan yang dapat dilakukan di TBM banyak macamnya, tergantung dari inisiatif pengelola dalam menciptakan kegiatan-kegiatan yang berguna bagi masyarakat.
Salah satu usaha pemberdayaan masyarakat melalui TBM yaitu adalah membangun konsep melek huruf (literacy). Menurut Kassam seperti yang dikutip oleh Pranarka dan Vidhyandika (1996: 63), melek huruf memberikan akses terhadap pengetahuan tertulis yang dapat dianggap sebagai suatu kekuatan. Salah satu kemampuan literasi informasi dimulai dengan apa yang disebut dengan membaca. Untuk bisa membaca maka masyarakat harus menjadi masyarakat yang kenal/melek huruf. Dari melek huruf inilah dimulai usaha untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat dalam rangka mengatasi ketertinggalan yang dialami masyarakat. Dengan meningkatkan taraf kecerdasan masyarakat maka perbaikan mutu kehidupan masyarakat pun dapat dijamin. Dengan demikian pemberdayaan masyarakat pun dapat terlaksana.
Dalam hal inilah pemberdayaan masyarakat melalui TBM dapat dilakukan, yaitu dengan peningkatan minat masyarakat terhadap buku atau bacaan, karena membaca merupakan gerbang menuju kesuksesan. Minat baca yang tinggi menjadikan seseorang dapat memperoleh informasi dari bacaan yang dibacanya dalam rangka meningkatkan pengetahuan. Untuk itu minat baca
menjadi suatu hal yang penting dalam pemberdayaan masyarakat. Namun sayangnya sebagian besar masyarakat Indonesia masih memiliki minat baca yang rendah. Jika sedang punya waktu senggang, orang Indonesia konon lebih suka bercakap-cakap. Jika ada televisi dan radio, orang Indonesia lebih suka memirsa dan mendengar bersama sanak saudara atau rekan sepermainan. (Pendit, 2007:
29). Begitulah kenyataan yang terjadi di Indonesia.
Bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat lainnya yang mungkin dilakukan melalui TBM, diantaranya adalah:
1. Pertunjukan drama
Pertunjukan drama memerlukan pengorganisasian yang baik serta ruangan yang cukup. Pendekatan yang digunakan adalah membuat garis besar sebuah tema berdasarkan sebuah buku atau bagian buku kemudian kerjasama dengan anak-anak serta penganggungjawab, kemudian dipanggungkan. Masing-masing anak memegang peran serta diharapkan mampu mengembangkannya.
2. Pertunjukan Boneka
Aktivitas drama dan kerajinana tangan dapat diwujudkan dalam pertunjukan boneka, di dalamnya anak-anak menjadi boneka dengan kisah berdasarkan sebuah buku atau bagian buku. Bagi pemain maupun penonton, pertunjukan boneka hidup ini dapat menggugah kesadaran akan cerita serta buku yang dijadikan basis lakon pertunjukan.
3. Kerajinan tangan
Pelatihan membuat karya-karya kerajinan tangan dapat membantu dalam mengembangkan diri. Dengan adanya pelatihan, keterampilan masyarakat meningkat dan kemudian hari dapat dikembangkan untuk menghasilkan sesuatu serta peningkatan kualitas hidup.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, karena data hasil penelitian berupa data deskriptif, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini tidak menggunakan hitungan angka-angka. Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan, menguraikan dan menggambarkan suatu masalah yang terjadi.
Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai masing-masing variabel, baik satu variabel atau lebih sifatnya indenpenden tanpa membuat hubungan maupun perbandingan dengan variabel yang lain. Variabel tersebut dapat menggambarkan secara sistematik dan akurat mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu.
(V. Wiratma Sujarweni, 2014: 11)
3.2 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Taman Bacaan Anggrek yang beralamat di Jalan Siswa Sumber Jaya Lorong Sopoyono Desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang. Penduduk sekitar merupakan penduduk yang berasal dari berbagai status sosial, mulai dari kelas ekonomi kebawah hingga kelas atas. Perumahan penduduk sekitar merupakan perumahan penduduk biasa, bukan pemukiman padat penduduk dan juga bukan perumahan elit atau mewah. Di sekitar taman baca juga terdapat rumah-rumah yang dipadati pot-pot bunga atau taman bunga yang menjadi salah satu mata pencaharian warga.
3.3 Pemilihan Informan
Informan dari penelitian ini adalah pihak yang terlibat dengan program taman baca yaitu: pendiri, pengelola dan pihak-pihak yang berhubungan dengan pembinaan program taman baca. Menurut Irawan (2007), Satori (2010), Sugiyono (2009), purpose sampling merupakan teknik pemilihan informan dengan pertimbangan tertentu, secara sengaja dipilih oleh penelitisesuai dengan kebutuhannya karena dianggap memiliki ciri-ciri tertentu untuk memperkaya data penelitian. Dalam penelitian ini, informan yang dipilih merupakan informan yang dipandang paling tahu dengan keadaan taman baca dan yang paling sering terlibat dengan kegiatan taman baca.
Pendekatan yang dilakukan terhadap informan relatif cukup mudah karena informan secara terbuka bersedia untuk membantu. Pendekatan dimulai dengan perkenalan dan pengakraban diri dengan sering mengunjungi taman baca.
Informan sendiri memberikan sikap yang cukup positif dengan menyambut baik maksud dari penelitian ini. Informasi juga dengan senang hati berupaya untuk membantu memberikan data-data penelitian secara baik. Untuk menjaga identitas informan maka, dalam penelitian ini nama-nama informan disamarkan.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Sumber data utama dalam penelitian kualitatif dipastikan berbentuk kata- kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain- lain. Oleh karena itu, maka untuk mendapatkan data penelitian, metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan analisis dokumen.
1.Wawancara
Teknik pengumpulan data yang utama dalam penelitian ini adalah wawancara. Wawancara adalah percakapan tanya jawab. Menurut Moleong (2001:135) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak paitu pwawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai, yang memberikan jawaban pertanyaan itu.Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dimana terjadi komunikasi secara verbal antara pewawancara dengan subyek wawancara.
Wawancara adalah teknik pengumpulan data melalui proses Tanya jawab lisan yang berlangsung atu arah,artinya pertanyaan datang dari pihak yang mewawancarai dan jawaban diberikan oleh yang diwawancarai. Orang yang mengajukan pertanyaan dalam proses wawancara disebut pewawancara (interview) dan yang memberikan jawaban disebut interviewe (Abdurrahmat Fathoni, 2011:105).
Wawancara mendalam dilakukan dengan cara peneliti datang langsung ke subjek dan informan, mengadakan pendekatan dan berwawancara dengan bertanya tentang data dan informasi yang dibutuhkan, wawancara yang dilakukan dengan santai, akrab, secara kekeluargaan dan tidak formal. Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan kepala pengelola taman bacaan Anggrek, dan masyarakat sebagai pengguna taman bacaan masyarakat atau yang telah mengikuti program.
2.Observasi
Observasi adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara langsung lapangan. Menurut Moleong (2007:174) observasi bertujuan untuk : a) mendapatkan pemahaman data yang lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti; b) melihat hal-hal yang (oleh partisipasi atau subyek peneliti sendiri) kurang disadari; c) memperoleh data tentang hal-hal yang telah diungkapkan oleh subyek penliti secara terbuka dalam wawancara karena berbagai sebab; d) memungkinkan peneliti bergerak lebih jauh dari persepsi selektif yang ditampilkan subyek peneliti atau pihak-pihak lain.
Objek Observasi meliputi kegiatan taman baca Anggrek, kondisi taman baca, ruangan, kebersihan, kenyamanan, sarana dan prasarana, hubungan dengan masyarakat sekitar, keramaian, keamanan. Observasi dilakukan dengan peneliti melakukan pengamatan secara langsung selama penelitian berlangsung dan menulis catatan sewaktu dilapangan. Observasi ini melibatkan peneliti ikut dalam kegiatan taman bacaan masyarakat Anggrek sehingga diketahui peran taman bacaan masyarakat cerdas dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat.
3.Dokumentasi
Dokumntasi mrupakan teknik pengumpulan data untuk melengkapi wawancara dan observasi sebagai bukti penelitian. Menurut Suharsimi Arikunto (2006:231) metode dokumentai adalah salah satu cara mencari data mengenai hal- hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti dan lain sebagainya.
Dokumentasi dalam penelitian ini berupa foto-foto, video kgiatan, rekaman, wawancara, buku-buku untuk belajar yang berhubungan dengan peran taman bacaan masyarakat Anggrek dalam pemberdayaan masyarakat di desa Bangun Sari Kecamatan Tanjung Morawa.
3.5 Teknik Keabsahan Data
Menurut Lincoln dan Guba (yang dikutip oleh Moleong, 2001:173) menyatakan ada empat kriteria yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk keabsahan data, yaitu:
(1) Derajat Kepercayaan, (2) Keteralihan
(3) Kebergantungan, (4) Kepastian.
Untuk menetapkan keabsahan data perlu teknik pemeriksaan data, dalam penelitian menggunakan tringulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data tersebut untuk keperluan pngecekan/sebagai pmbanding terhadap data itu, menurut Denzin (yang dikutip oleh Moleong, 2001:178) membedakan tiga Tringulasi yaitu:
1. Tringulasi Metode, menurut Moleong (2001:178) terdapat 2 (dua) strategi, yaitu : (a) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa tiknik pengumpulan.
(b) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
2. Tringulasi Peneliti, ialah dengan jalan memanfaatkan peneliti untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamatan lainnya ialah dapat membantu mengurangi “kemencengan” data.
3. Tringulasi Teori, adalah membandingkan teori yang ditemukan berdasarkan kajian lapangan dengan teori-teori yang telah ditemukan oleh pakar- pakar ilmu sosial sebagaimana yang telah diuraikan dalam bab landasan teori yang telah dikemukakan.Untuk membuktikan keabsahan data dalam penelitian.
3.6 Teknik Analisis Data
Data yang sudah diperoleh dari hasil wawancara berupa jawaban dari informan akan disortir terlebih dahulu untuk mempermudah dalam analisis data dan dihubungkan serta dibandingkan satu dengan yang lainnya. Analisis data dalam penelitian kualitatif terdiri dari beberapa alur kegiatan antara lain:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proes pemilihan, pemusatan perhatian pada pnyederhanaan, pengabtrakan, transformasi data kasar yang miulai muncul dari catatan-catatan lapangan. Data yang direduksi antara lain seluruh data mengenai permasalahan penelitian yang berkaitan dengan peran taman bacaan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat serta kendala yang dihadapi dalam menjalankan program. Oleh karena itu reduki data dilakukan secara terus-menerus selama penelitian.
2. Penyajian Data
Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang member kemungkinan untuk penarikan kesimpulan dan pngambilan tindakan. Penyajian data akan dilakukan setelaah data yang diperoleh sudah terkumpul dan sesuai dengan fokus penelitian. Pada tahap ini penyajian data dilaksanakan dengan cara deskriptif agar diperoleh penyajian data yang lengkap dari hasil pengumpulan data yang dilakukan reduksi.
3. Verifikasi dan penarikan kesimpulan
Verifikasi yaitu suatu kegiatan konfigurasi yang utuh. Verifikasi kemungkinan sesingkat pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran penganalisis selama peneliti menulis atau suatu peninjauan ulang pada catatan lapangan dan tukar pikiran diantara teman sejawan untuk mengembangkan kesepakatan subyektif serta upaya-upaya yang lua untuk mnmpatkan alinan atau temuan dalam sperangkat data yang lain. Dalam penelitian ini pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verivikasi atau penarikan kesimpulan sebagai suatu yang berkaitan pada saat pengumulan data berlangsung.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Taman Bacaan Masyarakat Anggrek
Taman bacaan masyarakat Anggrek didirikan sejak tahun 2012 dengan tujuan untuk menjangkau masyarakat supaya dapat menikmati bahan bacaan dan juga sebagai pusat pelayanan anak dalam belajar dan bermain. Masyarakat sekitaran taman bacaan masyarakat banyak yang melakukan home industri untuk itulah orangtua dari anak-anak memiliki waktu untuk mendampingi anak-anak mereka dalam mengikuti program yang dilaksanakan di Taman Bacaan masyarakat yaitu program Kelompok Baca Keluarga, dan kegiatan ini dilakukan satu kali dalam sebulan selama sepuluh bulan, dan setiap orangtua dan anak yang mengikuti program diberikan buku pegangan sebagai bahan untuk setiap diadakannya pertemuan serta melatih ibu-ibu di rumah sebelum mengikuti program.
4.2 Karakteristik Informan
Informan dalam penelitian ini adalah kepala operator Taman Bacaan Masyarakat serta staff Perpustakaan cinta baca. Adapun karakteristik informan penelitian pada Taman Bacaan Masyarakat sebagai berikut :
Informan pertama (I1) adalah informan yang berhasil diwawancarai dengan perkenalan pendekatan terlebih dahulu, begitu juga dengan I2, I3 dan I4.
Kemudian di minta waktu dan kesediaanya untuk diwawancarai dengan menjelaskan terlebih dahulu maksud dan tujuan pada penelitian dan yang dilakukan melalui wawancara. Setelah perkenalan lalu dilakukan wawancara.
Wawancara dilakukan secara informal dan mendalam. Suasana dan kondisi wawancara yang bersifat alamiah, yang artinya apa adanya tidak dibuat- buat atau tidak di atur sedemikian rupa untuk tujuan tertentu. Begitu juga dengan bahasa yang digunakan tidak formal. Meskipun terkadang penulis menggunakan istilah ilmu perpustakaan. Wawancara dilakukan berulang jika penulis merasa ada yang perlu ditambahi atau kurang jelas dari wawancara sebelumnya.
4.3 Kategori
Berdasarkan hasil wawancara, peneliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman. Dengan pedoman ini, peneliti membaca kembali naskah wawncara dan memilih data yang relevan sesuai dengan judul peneliti sehingga menghasilkan kategori yaitu peran taman bacaan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat.