• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh: MUHAMMAD YUSRAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh: MUHAMMAD YUSRAN"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan Dan

Ilmu Pendidikan Universutas Muhammadiyah Makassar

Oleh:

MUHAMMAD YUSRAN 10538 254512

JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2017

(2)
(3)
(4)

iii Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : Muhammad Yusran

Nim : 10538 2545 12

Jurusan : Pendidikan Sosiologi

Judul Skripsi : POPULARITAS MERANTAU SEBAGAI SOLUSI MENDAPATKAN KEHIDUPAN YANG LAYAK (Studi Deskriptif Perantau Di Desa Pepandungan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang)

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang saya ajukan di depan tim Penguji adalah asli hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.

Demikianlah pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar,02 Oktober 2017 Yang membuat pernyataan

Muhammad Yusran

(5)

v

SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : MUHAMMAD YUSRAN

Nim : 10538 2545 12

Program Studi : Pendidikan Sosiologi

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut :

1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak di buatkan oleh siapa pun).

2. Dalam penyusunan skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah di tetapkan oleh pemimpin fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam menyusun skripsi.

4. Apabila saya Melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar,02 Oktober 2017 Yang Membuat Perjanjian

Muhammad Yusran

(6)

vi

 Jalur terbentuk saat kita melangkah.

 Jadilah orang yang tetap sejuk ditempat panas tetap manis ditempat yang begitu pahit tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar tetap tenang ditengah badai yang paling hebat sekalipun.

Yakinlah ada sesuatu yang akan menantimu selepas banyak kesabaran yang kau jalani yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pahitnya rasa sakit yang pernah kau alami.

(Ali bin abi thalib)

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk orang tuaku

tercinta yang tak henti-henti memberikan

dukungan moral dan materiil dan atas segala

pengorbanan, jerih payah dan doa restunya

demi keberhasilan penulis dalam menuntut

ilmu. Untuk saudara-saudaraku tercinta dan

sahabat-sahabatku tersayang serta orang-orang

yang menyayangiku. Tak ada yang lebih

membahagiakan kecuali melihat senyum dan

tawa kalian.

(7)

Pepandungan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang). Skripsi, Jurusan Pendidikan Sosiologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Hj. Syahribulan dan pembimbing II Muhammad Nawir.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Untuk mengetahui mengapa masyarakat di Desa Pepandungan lebih memilih merantau; (2) Untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat yang lebih memilih merantau di Desa Pepandungan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, sedangkan pendekatan penelitian yaitu studi kasus yakni mempelajari secara mendalam mengenai masyarakat Perantau di Desa Pepandungan Kecamatan Baraka sebagai solusi untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan hasil penelitian tersebut dapat memberikan gambaran luas serta mendalam mengenai fokus masalah tersebut.

Adapun informan penelitian ini berjumlah 10 (Sepuluh) orang dari masyarakat perantau yang ada di Desa Pepandungan yang dipilih dengan menggunakan teknik snowball sampling. Data diperoleh dari hasil wawancara mendalam terhadap informan, observasi dan dokumentasi selama kurang lebih satu bulan di lapangan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) jumlah masyarakat yang merantau di Desa Pepandungan Tahun 2016 cukup tinggi yaitu dari 1.367 jiwa penduduk di Desa Pepandungan terdapat 296 KK yang memilih merantau; (2) Rata-rata masyarakat Desa Pepandungan yang memilih merantau ke Tarakan sebagai petambak mempunyai kehidupan ekonomi yang jauh lebih baik dibandingkan saat mereka masih tinggal dikampung halaman, selain itu mereka mampu mengirimkan kiriman remitan kepada keluarga dan kerabat mereka yang masih tinggal dikampung halaman dari hasil kerja keras mereka selama di perantauan,selain itu (3) faktor-faktor pendorong masyarakat Desa Pepandungan memilih merantau yaitu faktor ekonomi dan demografi, faktor pendidikan, faktor daya tarik, faktor sosial, sekalipun banyak faktor yang mendorong masyarakat Desa Pepandungan merantau tetapi faktor ekonomilah yang menjadi faktor utama masyarakat Desa Pepandungan merantau dikarenakan lapangan kerja yang kurang serta skill yang dimiliki masyarakat kurang.

Respon keluarga perantau dalam menyiasati perkembangan perantau di Desa Pepandungan dengan cara mendukung agar masyarakat Desa Pepandungan yang merantau mampu menyesuaikan diri dan taat terhadap nilai dan norma yang berlaku didaerah baru tetapi tidak melupakan kampung halaman sebagai kampung kelahiran.

Kata Kunci:Kehidupan yang layak, masyarakat perantau

(8)

viii

Alhamdulillah, puji dan syukur atas izin dan petunjuk Allah SWT, sehingga skripsi dengan Judul : “Popularitas Merantau Sebagai Solusi Mendapatkan Kehidupan Yang Layak (Studi Deskriptif Perantau Di Desa Pepandungan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang).” dapat diselesaikan.

Pernyataan rasa syukur kepada Allah SWT atas apa yang diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan karya ini yang tidak dapat diucapkan dengan kata- kata dan dituliskan dengan kalimat apapun. Tak lupa juga penulis panjatkan shalawat dan salam atas junjungan Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang senantiasa berada dalam panutan beliau untuk mencari kemaslahatan hingga akhir zaman.

Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tuaku Hafid. dan Nurhayati yang tiada batas masa memberi selaksa harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus tak berpamrih. Seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, dukungan dan doa restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

Begitu pula penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih banyak disampaikan dengan hormat kepada :

1. Dr. H. Abdul Rahman Rahim, S.E., M.M. Sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Erwin Akib,S.Pd.,Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

(9)

ix

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Jamaluddin Arifin, S.Pd.,M.Pd., sebagai Penasehat Akademik yang telah membimbing selama perkuliahan.

6. Dra.Hj.Syahribulan K, M.Pd., sebagai Pembimbing I yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, Motivasi dan petunjuk serta koreksi dalam penyusunan skripsi, sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi ini

7. Dr. Muhammad Nawir, M.Pd.,sebagai Pembimbing II, yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan petunjuk serta koreksi dalam penyusunan skripsi, sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi ini.

8. Seluruh Bapak dan Ibu dosen di Program Studi Pendidikan Sosiologi yang telah memberikan banyak ilmu dan berbagi pengalaman selama penulis menimba ilmu di Jurusan Pendidikan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Makassar.

9. Tahir,S.Pd Sebagai Kepala Desa Pepandungan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di Desa Pepandungan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang.

(10)

x

11. Bapak/Ibu Informan yang telah bersedia menyempatkan waktunya untuk memberikan Wawancara dalam penelitian skripsi ini.

12. Sahabat terbaikku : Musriadi, Indra Sahar, Alek dan Syukur Abdullah semoga kisah persahabatan kita tak pernah berakhir.

13. Rekan seperjuangan Program Studi Pendidikan Sosiologi Angkatan 2012 terkhusus (SOSIAL) _12 Universitas Muhammadiyah Makassar, terima kasih atas solidaritas yang diberikan selama menjalani perkuliahan, semoga keakraban dan kebersamaan kita tidak berakhir sampai disini.

14. Semua pihak yang telah memberikan bantuan yang tidak sempat disebutkan satu persatu semoga menjadi ibadah dan mendapat imbalan dari-Nya.

Akhirnya, kesalahan kemarin adalah kebajikan hari esok, tak ada makhluk yang sempurna. Demikian pula dalam penulisan skripsi ini, masih terdapat kekurangan yang tentunya membutuhkan perbaikan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran, kritik, dan umpan balik yang bersifat membangun.

Tiada imbalan yang dapat diberikan oleh penulis, hanya kepada Allah SWT penulis menyerahkan segalanya dan semoga bantuan semua rekan-rekan yang diberikan selama ini bernilai ibadah disisi-Nya Amin.

Makassar, Februari 2017

Penulis

(11)

xii

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ...ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian... 3

D. Manfaat Penelitian... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 5

A. Kajian Teori... 5

1. Hasil Penelitian Yang Relevan... 5

2. Pengertian Popularitas... 6

a. Popularitas Sosiometrik...7

b. Popularitas Perceived ...8

3. Konsep Tentang Merantau ... 8

a. Pengertian Merantau...8

b. Faktor Pendorong Terjadinya Migrasi ...10

4. Tinjauan Mengenai Kehidupan Yang Layak... 13

5. Merantau Solusi Mendapatkan Kehidupan Yang Layak...19

(12)

xiii

A. Jenis Penelitian ... 26

B. Lokasi Penelitian... 26

C. Fokus Penelitian... 27

D. Sasaran Penelitian ... 27

E. Teknik Pengumpulan Data... 28

F. Jenis Data Dan Sumber Data ... 29

G. Instrumen Penelitian ... 30

H. Teknik Analisis Data ... 30

I. Teknik Pengabsahan Data...31

J. Jadwal Penelitian ...33

BAB IV DESKRIPSI UMUM DAERAH PENELITIAN DAN DESKRIPSI KHUSUS LATAR PENELITIAN ... 32

A. Deskripsi Umum Kabupaten Enrekang Sebagai Daerah Penelitian 32 1. Sejarah Singkat Kabupaten Enrekang...32

2. Kondisi Geografi Dan Iklim...36

3. Topografi, Geologi, dan Hidrologi...36

4. Kondisi Demografi...38

B. Deskripsi Khusus Desa Pepandungan Sebagai Latar Penelitian ... 39

1. Sejarah Singkat Kabupaten Enrekang...39

2. Mata Pencarian...41

3. Tingkat Pendidikan ...42

4. Kehidupan Sosial Budaya ...43

5. Kehidupan Keberagamaan ...44

BAB V MASYARAKAT DESA PEPANDUNGAN YANG MEMILIH MERANTAU... 46

BAB VI KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DESA PEPANDUNGAN YANG MEMILIH MERANTAU...52

BAB VII MERANTAU UNTUK KEHIDUPAN YANG LAYAK SEBUAH PEMBAHASAN TEORETIS...57

(13)

xiv

DAFTAR PUSTAKA ... 65 LAMPIRAN-LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(14)

xiv

3.1 Data dan sumber data... 32

3.2 Jadwal Penelitian ... 35

4.1 Jumlah Penduduk... 38

4.2 Mata Pencaharian... 40

4.3 Jumlah Sarana Pendidikan ... 42

4.4 Sarana Pendidikan ...43

4.5 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama ………...44

4.6 Sarana Dan Prasarana Di Desa Pepandungan ...44

4.7 Jumlah Keluarga Yang Merantau... 48

4.8 Daftar Informan Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia Dan Pekerjaan ...50

(15)

xvi

2.1 Bagan Kerangka Pikir ... 27

(16)

xvii 1. Pedoman Wawancara

2. Daftar Informan

3. Permohonan judul skripsi

4. Kartu kontrol bimbingan proposal 5. Persetujuan Pembimbing

6. Berita acara ujian proposal

7. Surat keterangan perbaikan ujian proposal 8. Kartu kontrol pelaksanaan penelitian 9. Berita acara ujian skripsi

10. Surat LP3M 11. Surat BKPMD

12. Surat izin penelitian BAPPEDA 13. Surat Keterangan Penelitian 14. Dokumentasi

15. Daftar riwayat hidup

(17)

1 A. Latar Belakang

Fenomena merantau adalah hal yang lazim ditemukan pada masyarakat di banyak tempat di Indonesia. Merantau umumnya dilakukan karena berbagai alasan dan harapan, harapan yang akan ditemukan hidup lebih baik di daerah rantau, keadaan yang di idam-idamkan selama berada di Negeri perantauan (Kesuma, 2004:32). Begitu pula pada masyarakat yang berada di pedesaan melakukan perantauan karena adanya keinginan untuk mencari kehidupan baru yang dapat menjamin kelangsungan hidupnya baik untuk kehidupan pribadi maupun dalam menunjang kehidupan keluarga (Musa,2003:30). Selain itu ada beberapa alasan terkait dengan pendapat tersebut terutama karena lapangan kerja yang sulit ditempat asal, upah yang rendah dan tanah tidak subur.

Merantau pada dasarnya adalah migrasi, tetapi merantau adalah tipe khusus dari migrasi yang memiliki konotasi budaya tersendiri yang tidak mudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (Zain, 1994: 1113) dikatakan bahwa merantau adalah kata kerja yang berawalan me yang berasal dari kata rantau yang artinya pergi kenegeri lain untuk mengadu nasib.

Kabupaten Enrekang sebagai daerah pegunungan secara ekonomi memiliki potensi yang cukup baik dibidang pertanian, kerajinan rakyat, kehutanan dan potensi lainnya. Kalau keseluruhan potensi ekonomi ini diolah

(18)

dengan menggunakan strategi pendekatan program, maka bukan tidak mungkin akan membawa tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi kepada masyarakatnya, sehingga akan mengurangi kecenderungan adanya migrasi kebiasaan merantau.

Namun kebiasaan masyarakat melakukan kegiatan merantau dengan tujuan sebagai solusi mendapatkan kehidupan yang lebih baik (kesejahteraan), merantau bukan saja dilakukan laki-laki tetapi juga perempuan, baik yang telah berkeluarga maupun yang belum berkeluarga. Umumnya mereka telah berkeluarga dan harus mengorbankan keluarga karena harus berpisah dengan pasangan dan anak- anaknya.

Pepandungan adalah sebuah Desa di Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang, mayoritas penduduknya sudah berkeluarga dan banyak anak yang putus sekolah karena melakukan kegiatan merantau ke Malaysia dan Kalimantan.

Kegiatan ini telah lama dilakukan masyarakat karena umumnya mereka memiliki semangat yang tinggi untuk pergi merantau. Masyarakat melakukan perantauan karena tanah di daerah ini kurang menjanjikan untuk sumber nafkah keluarga.

Popularitas merantau masyarakat Desa Pepandungan dalam melakukan perantauan juga disebabakan oleh kondisi tanah yang kurang subur dan meningkatnya kebutuhan sehari – hari, juga kurang tersedianya lapangan kerja.

Merantau umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki yang berstatus sebagai kepala keluarga dan sebagian juga istri ikut suami merantau. Merantaunya kaum laki-laki telah menyebabkan perempuaan yang berstatus sebagai istri atau ibu rumah tangga menjadi tumpuan harapan keluarga terutama anak-anaknya. Ibu bukan saja sebagai ibu rumah tangga tetapi juga sebagai ayah karena harus

(19)

melindungi anak, bertanggung jawab terhadap harta benda bahkan melaksanakan kegiatan-kegiatan publik yang semula dikerjakan oleh suami misalnya bekerja di kebun, menjual bahan kebutuhan hidup sehari-hari dan berdagang. Banyaknya peran yang dilaksanakan oleh ibu karena ditinggal oleh suami untuk merantau menyebabkan waktu untuk memberikan perhatian kepada anak menjadi kurang maksimal, akibatnya anak larut dalam kehidupan mereka sendiri. Dalam hal ini melalui pertimbangan hal di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Popularitas Merantau Sebagai Solusi Mendapatkan Kehidupan yang Layak” (Studi Deskriptif Perantau Di Desa Pepandungan Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang). untuk di teliti. Dengan memperhatikan bermacam hal mengenai kegiatan merantau.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Mengapa masyarakat di Desa Pepandungan memilih untuk merantau ?

2. Bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Pepandungan yang memilih merantau ?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan hasil penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui mengapa masyarakat di Desa Pepandungan lebih memilih

merantau.

2. Untuk mengetahui bagaimana kondisi sosial ekonomi masyarakat yang lebih memilih merantau di Desa Pepandungan.

(20)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoretis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi antara teori yang didapat dari bangku perkuliahan dengan fakta yang di lapangan.

b. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai literatur rujukan bagi penelitian yang akan datang.

2. Manfaat Praktis

a. Penelitian ini secara praktis diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan masalah yang di temukan pada penelitian.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang dianggap tepat kepada masyarakat agar lebih berkontribusi dalam meningkatkan kondisi sosial ekonominya.

c. Pada penelitian ini diharapkan pemerintah yang bersangkutan dapat memberikan solusi yang tepat agar merantau bukan menjadi pilihan utama untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

(21)

5 A. Kajian Teori.

1. Hasil Penelitian yang Relevan

a. Penelitian yang dilakukan oleh Machmud. (2009) Jurusan Sosiologi, Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar dalam skripsinya dengan judul “Merantau ke Luar Negeri: Perubahan Sosial pada Komunitas Desa di Pantai Wakatobi Sulawesi Tenggara”. Dari hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa meningkatnya fenomena merantau ke luar negeri merupakan gejala sosial baru bagi penduduk desa Wakatobi. Artinya berbeda dengan etnis lainnya, di mana merantau sudah melembaga secara sosial, perantauan orang Wakatobi justru menjadi di tengah modernisasi pembangunan nasional.

Berkenan dengan itu, fenomena merantau di komunitas Desa Pantai Wakatobi merupakan refleksi dari ketidak seimbangan pembangunan antarwilayah sehingga menimbulkan ketimpangan ekonomi antara pedesaan di Jawa dan di luar Jawa. Pada titik ini, penyebab utama merantau adalah motifasi ekonomi yang di perkuat oleh kondisi fisik ekologis daerah asal yang kurang memberi ruang hidup bagi mereka. Dalam jangka panjang aktivitas perantauan cenderung membawa perubahan dalam konteks pergeseran struktur ketenaga kerjaan, perubahan gaya hidup, peran dan status wanita, struktur keluarga. Dengan demikian secara fungsional, aktivitas

(22)

perantauan mendorong perubahan sosial pada komunitas pedesaan di Wakatobi.

b. Judul penelitian yang ditulis oleh Nuranisa dari Jurusan Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin tahun 2014 adalah “Dinamika Kelompok Masyarakat Perantau, Kasus Anggota Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Rumpun Sirappe dikota Bau-Bau”. Dari hasil penelitian peneliti menyimpulkan bahwa masyarakat sul-sel dikenal dengan budaya merantaunya banyak dari mereka yang mendomisili tetap diluar sul-sel seperti kota bau-bau, ketika mereka menetap di suatu daerah, mereka membawa sanak keluarga sehingga lambat laun akan terbentuk suatu komunitas atau kelompok sosial atas rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang telah terjalin.

Dari ke dua penelitian yang relevan di atas terdapat persamaan dan perbedaan pada variabel yang di teliti, di mana persamaan variabel yang di teliti adalah penelitian yang di lakukan melakukan penelitian tentang fenomena sosial merantau, adapun perbedaannya di mana penelitian yang relevan di atas lebih mengarah pada pembentukan komunitas di perantauan, sedangkan penelitian yang akan di lakukan ini mengarah pada kondisi sosial ekonomi masyarakat perantau.

2. Pengertian Popularitas

Popularitas berarti ketenaran (Partanto,2001:601). Popularitas berasal dari kata populer, artinya dikenal dan disukai orang banyak (Poerwadarminta, 2006:907). Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia popularitas berarti ketenaran

(23)

yang dimiliki seseorang (Poerwadarminta, 2006:769). Popularitas mempunyai arti yang sama dengan familiarity. Familiarity artinya sering terlihat atau sudah terkenal. Popularitas merupakan modal yang sangat berharga yang harus dimiliki oleh siapapun untuk terjun dalam publik.

Popularitas seseorang dapat menjadi salah satu aspek yang mendukung seseorang untuk memperoleh kekuasaan Menurut Nimmo (2008), dengan adanya modal popularitas maka akan lebih mudah bagi seseorang atau figur tersebut untuk mencuri perhatian masyarakat, melalui pemberitaan media yang diharapkan nantinya akan mempunyai nilai tambah untuk meningkatkan atau mendongkrak elektabilitas. Untuk mewujudkan semua itu, perlu dibangun pencitraan yang baik ditengah masyarakat, agar nantinya timbul simpati dan keberpihakan masyarakat kepada tokoh atau figur tersebut. Popularitas juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

a. Popularitas Sosiometrik

Popularitas sosiometrik dapat diartikan bagaimana seseorang disukai oleh seorang individu, keinginan ini berkolerasi oleh perilaku prososial. Mereka yang bertindak dalam cara prososial cenderung lebih dianggap sociometrically popular.

Mereka sering dikenal karena perilaku interpersonal yang mereka lakukan, mereka empati untuk orang lain, dan kesediaan mereka untuk bekerja sama dengan non-agresif. Seperti apa yang dikatakan Cillessen, dkk. (2010) ini adalah sebuah penilaian yang lebih pribadi, ditandai dengan likeability (kesukaan), yang pada umumnya tidak akan dibagi dalam kelompok pengaturan.

(24)

b. Popularitas Perceived

Popularitas Perceived diartikan berguna untuk menggambarkan orang- orang yang dikenal diantara rekan-rekan mereka sebagai seorang yang populer.

Tidak seperti popularitas sosiometrik, popularitas ini sering dikaitkan dengan sikap agresif dan didominasi tidak bergantung pada prososial behaviors. Seperti yang dikatakan Cillessen, dkk. (2005) di dalam penelitiannya yang berjudul

"Understanding popularity in the peer system" ,individu merasakan popularitas sering terlihat sangat sosial dan sering ditiru tetapi jarang disukai.

Dari beberapa pendapat diatas tentang popularitas maka yang dimaksud popularitas dalam penelitian ini adalah ketenaran yang banyak diminati oleh seseorang.

3. Konsep Tentang Merantau a. Pengertian Merantau

Menurut Echols dan Shadily (dalam Kato,2005:5), mengungkapkan bahwa kata kerja rantau adalah merantau, berarti pergi ke negeri lain, meninggalkan kampung halaman, berlayar melalui sungai, dan sebagainya. Dari sudut sosiologi (Naim, 2013:3). Merantau sering dikenal dengan migrasi, sebagaimana dalam kamus Sosiologi dan Kependudukan (Hartini dan G. Kartasapoetra, 1992:236) mengemukakan bahwa migrasi diartikan sebagai suatu perpindahan atau gerak penduduk secara permanen dengan melewati perbatasan Negara atau suatu perpindahan penduduk secara permanen dengan menempuh jarak tertentu. Sejalan dengan itu, (Lucas, dkk 1995:95) mengemukakan bahwa migrasi sebgai perpindahan yang relatif permanen dari suatu kelompok yang disebut kaum

(25)

migrant, dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan untuk migrasi ke suatu wilayah tertentu itu berkaitan dengan pandangan dan image suatu masyarakat tentang ranah budaya (Cultural Domain). Ranah budaya itu adalah wilayah yang secara kultural dipandang sebagai milik dari masyarakat pendukung kebudayaan itu, sedangkan wilayah yang berada di luar ranah budaya dipandang sebagai wilayah luar.

Lucas merupakan salah satu ahli yang mengatakan bahwa factor-faktor atau alasan yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi adalah karena perbedaan upah. Lucas (1995), berpendapat bahwa di Negara-negara yang sedang berkembang terdapat dualisme kegiatan perekonomian, yaitu di sektor ekonomi subsisten (pertanian) di pedesaan, dan sektor ekonomi modern dengan tingkat prodiktivitas yang tinggi diperkotaan. Proses pembangunan di Negara-negara sedang berkembang dimulai dari sektor subsisten dan dalam waktu yang hamper bersamaan dilakukan pembangunan besar-besaran di sektor industri modern.

Produktivitas yang tinggi di sektor industri modern, telah menghasilkan sector ini memberikan kontribusi yang besar dalam mendorong laju pembangunan ekonomi.

Sedangkan pada sektor pertanian dengan produktivitas yang relative rendah, telah menyebabkan terjadinya kelebihan tenaga kerja di sector ini. Sering dengan kondisi tersebut, pertambahan penduduk yang relative besar di pedesaan, menyebabkan luas lahan di sector pertanian semakin sempit. Akibatnya tenaga kerja di sektor pertanian akan pindah ke sektor industri perkotaan.

(26)

b. Faktor pendorong tejadinya Merantau (migrasi)

Naim, (2013: 266) dalam penelitannya tentang migrasi suku-suku besar di Indonesia, menjelaskan alasan terjadinya migrasi. Faktor yang berhasil diidentifikasi adalah sebagai berikut:

1) Tekanan Ekologis dan Intensitas Migrasi

Faktor fisik, berupa ekologi dan lokasi. Faktor fisik berupa ekologi berkaitan dengan bentuk fisik daerah, apakah itu berupa pegunungan, daratan rendah, pesisir pantai, termasuk di dalamnya sungai – sungai dan hutan yang meliputi daerah tersebut. Ekologi ini sangat berkaitan dengan kesuburan suatu tanah. Kecenderungan yang terjadi adalah suku – suku bermigrasi menuju daerah yang subur. Sedangkan faktor fisik berupa lokasi adalah jauh-dekatnya kepada pusat-pusat kegiatan politik atau kegiatan ekonomi.

2) Faktor ekonomi dan demografi (kependudukan)

Pada saat pertanian sawah tidak dapat lagi menjadi sandaran hidup, orang-orang mulai meninggalkan daerah asal menuju ke tempat migran yang dirasakan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini migrasi disebabkan oleh dorongan ekonomi untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik. Pada faktor demografi, memberi arti bahwa tekanan penduduk yang tinggi cenderung mendorong orang untuk bermigrasi. Tidak semua suku faktor demografi mendorong orang secara kuat untuk bermigrasi. Contoh nyata adalah pada suku jawa dan sunda.

Sebelum dikenalnya transmigrasi tekanan demografi tidak cukup kuat

(27)

untuk mendorong suku jawa dan sunda untuk bermigrasi. Setelah tahun 1980-an dengan program transmigrasi migrasi suku Jawa keluar Jawa meningkat tajam.

3) Faktor pendidikan

Faktor lainnya mendorong untuk bermgrasi adalah pendidikan.

Pada beberapa suku motivasi untuk mendapatkan pendididikan yang lebih tinggi mendorong mereka untuk bermigrasi. Hal ini disebabkan pendidikan tinggi yang diharapkan tidak tersedia ditempat asal.

4) Tekanan Politik dan intensitas migrasi

Keresahan politik seperti pemberontakan, kekisruhan kerajaan pada masa lalu, juga menyebabkan sebagian suku bermigrasi. Orang bugis, orang banjar, orang aceh dan sunda melakukan migrasi karena kisruh dan memberontak kepada kerajaan.

5) Daya Tarik Kota

Faktor daya tarik kota menjadi faktor kuat bagi orang untuk melakukan migrasi. Sukusuku yang termasuk dalam tipologi inovatif dengan tidak lagi mengandalkan keahlian bertani di tempat tujuan menjadi sangat relevan untuk menjelaskan mengapa mereka bermigrasi. Misalnya suku minangkabau dan batak yang umumnya bermigrasi ke daerah perkotaan, sebagai pedagang dan penyedia jasa.

6) Faktor-faktor sosial

Aspek sosial yang diperhatikan disini adalah hubungan sosial.

Misalnya seorang kepala rumah tangga yang sukses ditempat migrasi,

(28)

cenderung untuk mengajak keluarga dan tetangga untuk bermigrasi.

Sehingga migrasi suku banyak terjadi secara berkelompok. Suku bugis konon menerapkan faktor ini untuk mempengaruhi terumata sanak famili untuk bermigrasi. Kasus ini banyak ditemukan di kalimantan, bahkan hingga sekarang. Selain bugis, orang jawa melakukan hal yang sama dengan mengajak keluarga bahkan teman untuk bermigrasi terlebih lagi ketika sang pengajak dinilai sukses di tempat tujuan migrasi, misalnya kota Jakarta.

Sekalipun banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas penduduk, pada umumnya faktor ekonomi dianggap sebagai alasan paling utama dalam berbagai studi mobilitas penduduk, kegiatan semacam ini digolongkan pada jenis mobilitas penduduk dengan dorongan ekonomi.

La Hamid (2001:38) dalam mengenai sejarah perantau orang Siompu ke Ambon bahwa penyebab utamanya adalah didorong oleh adanya dan faktor pendorong dan faktor penarik baik dari daerah asal maupun daerah tujuan.

Dimana kedua faktor tersebut bersumber dari faktor ekonomi, faktor sosial budaya dan politik. Dengan demikian faktor - faktor yang mendorong seseorang merantau untuk meninggalkan daerah asalnya yaitu untuk menambah pendapatan guna menjamin kelangsungan hidup baik untuk kehidupan pribadi maupun dalam keluarga, disamping motif ekonomi kondisi fisik dan ekologis daerah siompu serta struktur susial dan kepemilikan tanah menjadi pemicu utama seseorang melakukan perantauan.

(29)

Pada dasarnya motifasi seseorang merantau lebih bayak karena dipaksa kondisi ekonomi keluarga dan keterbatasan lapangan kerja yang ada di daerah asalnya. Oleh karena itu apa yang diperoleh dirantau lebih banyak dimanfaatkan untuk menghidupi keluarga yang memang sangat memerlukan. Kiriman remitan dari para perantau mempunyai dampak positif bagi rumah tangga pedesaan dan ekonomi pedesaan.

Dari beberapa penjelasan para ahli diatas tentang merantau maka merantau dapat disimpulkan sebagai sebuah strategi yang dilakukan oleh masyarakat dimanapun untuk meningkatkan penghidupan mereka yang kerap terjadi bilamana sumber pendapatan mereka kian terbatas dan salah satu faktor yang mendasar seseorang pergi merantau yaitu untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

4. Tinjauan Mengenai Kehidupan yang Layak

Kata kesejahteraan mempunyai arti yang berbeda-beda namun pada prinsipnya adalah sama. Pengertian kesejahteraan menurut tim kamus besar Bahasa Indonesia berasal dari kata sejahtera yang bearti aman, sentosa, makmur, selamat, tidak kurang dari suatu apapun (terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran dan lain-lain).

Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial, baik kita suka atau tidak, hampir semua yang kita lakukan dalam kehidupan kita berkaitan dengan orang lain (Jones,2009). Kondisi sejahtera biasanya menunjuk pada istilah kesejahteraan sosial sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material dan non material. Menurut Midgley (2000:21) mendefinisiskan kesejahteraan sosial sebagai “a condition or state of human well-being” Kondisi sejahtera terjadi manakala kehidupan manusia

(30)

aman dan bahagia karena kebutuhan dasar akan gizi, kesehatan, pendidikan, tempat tinggal, dan pendapatan dapat terpenuhi, serta manakala manusia memperoleh perlindungan dari resiko-resiko utama yang mengancam kehidupannya. Agar dapat memahami lebih dalam apa yang dimaksud dengan kesejahteraan sosial berikut definisi kesejahteraan sosial menurut para ahli Menurut definisinya kesejahteraan sosial dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :

a. Kesejahteraan sosial sebagai suatu keadaan,

b. kesejahteraan sosial sebagai suatu kegiatan atau pelayanan c. kesejahteraan sosial sebagai ilmu

Menurut Suharto (2006:3) kesejahteraan sosial juga termasuk sebagai suatu proses atau usaha terencana yang dilakukan oleh perorangan, lembaga- lembaga sosial, masyarakat maupun badan-badan pemerintah untuk meningkatkan kualitas kehidupan melalui pemberian pelayanan sosial dan tunjangan sosial.

Menurut Suparlan dalam Suud (2006:5), kesejahteraan sosial, menandakan keadaan sejahterah pada umumnya, yang meliputi keadaan jasmaniah, rohaniah, dan sosial dan bukan hanya perbaikan dan pemberantasan keburukan sosial tertentu saja, akan tetapi merupakan suatu keadaan dan kegiatan.

Kesejahteraan sosial menurut Friedlander dalam Suud (2006:8) Kesejahteraan sosial merupakan sistem yang terorganisasi dari pelayanan- pelayanan dan lembaga-lembaga sosial, yang dimaksudkan untuk membantu individu-individu dan kelompok-kelompok agar mencapai tingkat hidup dan kesehatan yang memuaskan, dan hubungan-hubungan personal dan sosial yang memberi kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan seluruh

(31)

kemampuannya untuk meningkatkan kesejahteraannya sesuai dengan kebutuhan keluarga dan masyarakatnya.

Kesejahteraan sosial menurut (Segal dan Brzuzy) yang dikutip dalam Suud (2006:5) Kesejahteraan sosial adalah kondisi sejahtera dari suatu masyarakat.

Kesejahteraan sosial meliputi kesehatan, keadaan ekonomi, kebahagiaan, dan kualitas hidup Masyarakat. Sedangkan kesejahteraan sosial menurut Midgley dalam Suud (2006:5) menjelaskan bahwa suatu keadaan sejahtera secara sosial tersusun dari tiga unsur sebagai berikut. (1) Setinggi apa masalah-masalah sosial dikendalikan, (2) Seluas apa kebutuhan-kebutuhan dipenuhi dan (3) Setinggi apa kesempatan-kesempatan untuk maju tersedia. Tiga unsur ini berlaku bagi individu-individu, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas dan bahkan seluruh masyarakat. Definisi-definisi di atas menekankan pengertian kesejahteraan sosial sebagai suatu keadaan. Setiap kelompok mempunyai definisi yang berbeda dari berbagai ahli. Berikut definisi-definisi kesejahteraan sosial sebagai suatu kegiatan menurut beberapa ahli:

Menurut Durham dalam Suud (2006:7), kesejahteraan sosial dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan yang terorganisasi bagi peningkatan kesejahteraan sosial melalui menolong orang untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan dalam beberapa bidang seperti kehidupan keluarga dan anak, kesehatan, penyesuaian sosial, waktu senggang, standar-standar kehidupan, dan hubungan-hubungan sosial. Pelayanan-pelayanan kesejahteraan sosial memberi perhatian terhadap individu-individu, kelompok-kelompok, komunitas-komunitas, dan kesatua-kesatuan penduduk yang lebih luas. Pelayanan-pelayanan ini meliputi

(32)

perawatan, penyembuhan, dan pencegahan. Hal ini merupakan salah satu kegiatan yang mencerminkan bahwa manusia adalah mahluk sosial dan harus saling membantu, agar kehidupan ini berjalan selaras dan harmonis menciptakan suasana yang sejahtera.

Selanjutnya Wilensky dan Lebeaux dalam Suud (2006:7) merumuskan kesejahteraan sosial sebagai sistem yang terorganisasi dari pelayanan-pelayanan dan lembaga-lembaga sosial, yang dirancang untuk membantu individu-individu dan kelompok-kelompok agar mencapai tingkat hidup dan kesehatan yang memuaskan. Maksudnya agar tercipta hubungan-hubungan personal dan sosial yang memberi kesempatan kepada individu-individu pengembangan kemampuan- kemampuan mereka seluas-luasnya dan meningkatkan kesejahteraan mereka sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat.

Menurut Wickeden dalam Suud (2006:8) mengemukakan bahwa, Kesejahteraan sosial adalah suatu sistem peraturan, program-program, kebaikan- kebaikan, pelayanan-pelayanan yang memperkuat atau menjamin penyediaan pertolongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial yang diakui sebagai dasar bagi penduduk dan keteraturan sosial. Arti kesejahteraan yang terakhir adalah kesejahteraan sosial sebagi suatu ilmu, orang-orang yang mempunyai berbagai macam kebutuhan akan pelayanan-pelayanan tersebut di atas, khususnya yang tidak dapat memenuhinya berdasarkan kriteria pasar, maka mereka menjadi sasaran atau perhatian kesejahteraan sosial (Suhartono,1993:6). Aksi sosial sebagai metode bantu dalam usaha mewujudkan kesejahteraan sosial dapat melalui jalan perundang-undangan. Menurut Segal dan Brzuzy dalam Suud

(33)

(2006:90), Kebijakan sosial juga merupakan bagian dari sistem kesejahteraan sosial. Sistem kesejahteraan sosial terdiri dari usaha-usaha dan struktur-struktur yang terorganisasi untuk menyediakan kesejahteraan masyarakat. Dalam bentuk sederhana, sistem kesejahteraan sosial dapat dikonseptualisasikan sebagai empat bagian yang saling berhubungan sebagai berikut:

a) isu-isu sosial,

b) tujuan-tujuan kebijakan, c) perundangan/peraturan,

d) program-program kesejahteraan sosial.

Sistem kesejahteraan sosial dimulai dengan mengenali isu sosial. Sekali isu tersebut diakui sebagai perhatian sosial, langkah selanjutnya adalah mengartikulasikan tujuan-tujuan kebijakan. Tujuan-tujuan ini dapat menghasilkan suatu posisi publik yang diciptakan melalui perundangan atau peraturan.

Akhirnya, perundangan diterjemahkan ke dalam tindakan melalui penerapan suatu program kesejahteraan sosial. Kesejahteraan sosial sebagai suatu keadaan adalah sebagai berikut di bawah ini. Kesejahteraan sosial dapat diukur dari ukuran- ukuran seperti tingkat kehidupan (levels of living), pemenuhan kebutuhan pokok (basic needs fulfillment), kualitas hidup (quality of life) dan pembangunan manusia (human development).

Adapun pengertian mengenai kesejahteraan keluarga di Indonesia oleh pemerintah selama ini dikelompokkan ke dalam dua tipe (Suyoto, 2004), yaitu : 1. Tipe Keluarga Pra-sejahtera adalah keluarga yang masih mengalami kesulitan

untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya berupa sandang, pangan, dan

(34)

papan. Keluarga pra-sejahtera identik dengan keluarga yang anaknya banyak, tidak dapat menempuh pendidikan secara layak, tidak memiliki penghasilan tetap, belum memperhatikan masalah kesehatan lingkungan, rentan terhadap penyakit, mempunyai masalah tempat tinggal dan masih perlu mendapat bantuan sandang dan pangan.

2. Tipe Keluarga Sejahtera. Keluarga sejahtera identik dengan keluarga yang anaknya dua atau tiga, mampu menempuh pendidikan secara layak, memiliki penghasilan tetap, sudah menaruh perhatian terhadap masalah kesehatan lingkungan, tidak rentan terhadap penyakit, mempunyai tempat tinggal dan tidak perlu mendapat bantuan sandang dan pangan.

Kemiskinan muncul ketika seseorang atau kelompok orang tidak mampu mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu.Sedangkan kehidupan yang layak yaitu ketika seseorang atau kelompok sudah mampu mencukupi tingkat kemakmuran ekonomi yang dianggap sebagai kebutuhan minimal dari standar hidup tertentu yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Suatu keluarga dikatakan telah memenuhi kehidupan yang layak apabila keluarga tersebut sudah masuk dalam kategori keluarga sejahtera

Secara harfiah kesejahteraan keluarga merupakan gabungan antara dua kata yaitu kesejahteraan dan keluarga, dimana memiliki arti bahwa kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan hidup dan keluarga adalah satuan unit sosial terkecil didalam masyarakat yang terdiri dari orang tua dan anak. Bicara mengenai kesejahteraan keluarga tidak bisa berhenti sampai disitu saja, sebab selain

(35)

diartikan secara harfiah melainkan didalamnya mengandung unsur-unsur yang nantinya akan membentuk makna dari gabungan dua kata tersebut yaitu kesejahteraan keluarga.

Keluarga bisa dikatakan sejahtera apabila segala kebutuhan keluarga sudah tercukupi dan untuk mencukupi kebutuhan tersebut perlu adanya suatu usaha dari seseorang untuk menghasilkan sesuatu, yang dinamakan bekerja. Bekerja adalah melakukan kegiatan dengan maksud untuk memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam satu minggu yang lalu. Waktu bekerja tersebut harus berurutan dan tidak terputus (Konsep “ Labour Force” dalam Barthos, 2009 : 17).

Dari penjelasan diatas tentang kehidupan yang layak maka yang dimaksud kehidupan yang layak dalam suatu keluarga adalah apabila keluarga-keluarga tersebut telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara maksimal baik kebutuhan social dan psikologis.

5. Merantau sebagai solusi untuk mendapatkan kehidupan yang layak Merantau adalah sebuah strategi yang dilakukan oleh masyarakat dimanapun untuk meningkatkan penghidupan mereka yang kerap terjadi bilamana sumber pendapatan mereka kian terbatas. Haas, dkk. ( 2008 ). Pada masyarakat agraris, merantau merupakan strategi yang mereka lakukan untuk meningkatkan kehidupan mereka dan sebagian lainnya untuk bertahan bilamana lahan tempat mereka bergantung sudah semakin terbatas. tujuan merantau yang terkait dengan berdagang atau pun bekerja memang cocok dilakukan. Karena merantau untuk berdagang atau pun bekerja memang memiliki harapan utama untuk perbaikan

(36)

ekonomi. Dengan perbaikan ekonomi, seeorang dapat membangun negara dengan materi yang mereka punya. Untuk itu, tujuan merantau yang terkait dengan berdagang ataupun bekerja memang cocok untuk dilakukan.

Aktivitas migrasi (merantau) untuk memperoleh pendapatan uang tunai menjadi pilihan masyarakat di beberapa kecamatan di Kabupaten Enrekang misalnya, penduduk yang kebanyakan bermata pencarian pada sector pertanian dan perkebunan. Sebagian besar dari mereka memilih melakukan aktivitas migrasi (Merantau) ke sejumlah kota yang berada di Indonesia seperti salah satunya Kalimantan timur ( Tarakan) tempat ini menjadi tempat yang banyak diminati oleh sebagian besar penduduk di kabupaten enrekang khususnya desa pepandungan karena tempat ini menurut mereka lebih menjanjikan. Di tarakan mereka tidak lagi berpropesi sebagai petani akan tetapi mereka membuka usaha menjadi pemelihara udang dan ikan. Setelah merantau kehidupan mereka pun menjadi berubah terutama dari segi ekonomi, hal ini disebabkan karena penghasilan mereka meningkat setelah melakukan migrasi ke tarakan ketimbang saat mereka masih dikampung halaman dan berpropesi sebagai petani.

Para penduduk di kabupaten Enrekang khususnya desa Pepandungan yang memiliki saudara serta kerabat di Kalimantan tak jarang dari mereka yang mengikuti jejak untuk menjadi perantau di provinsi Kalimantan timur tersebut, atas dasar kemauan sendiri dan dorongan dari kerabat serta saudara yang telah mapan setelah melakukan perantau maka dengan tekad yang kuat mereka berbondong-bondong merantau dengan anggapan akan mendapatkan kehidupan yang layak nantinya.

(37)

Kebanyakan dari penduduk desa Pepandungan melakukan perantau karena disebabkan lahan untuk bertani dan berkebun semakin sempit, ada juga yang ingin mencari tempat yang datar karena seperti yang diketahui bersama bahwa enrekang adalah daerah pengunungan.

Bukan hanya Tarakan yang menjadi tujuan tempat mereka merantau ada juga sebagian besar keluarga yang memilih merantau ke kota Balik Papan, Kolaka dan Makassar. Dengan satu tujuan untuk mendapatkan kehidupan yang layak atau memperbaiki kebutuhan ekonomi mereka.

6. Landasan Teori Sosiologi

Setiap kehidupan masyarakat manusia senantiasa mengalami perubahan- perubahan. Hal ini terjadi karena manusia mempunyai kepentingan-kepentingan yang berbeda, salah satu perubahan ini adalah perubahan sosial dalam aspek ekonomi. Perubahan ini merupakan fenomena sosial yang wajar, Menurut Suwarsono (1991), bahwa kenyataan sosial selalu berada terus-menerus dalam proses perubahan. Demikian pula yang diungkapkan oleh Soekanto (2000), bahwa setiap masyarakat pasti pernah mengalami perubahan, ini disebabkan tidak adanya masyarakat yang hidup secara terisolasi mutlak.

Perubahan sosial dari aspek ekonomi, merupakan proses berubahnya sistem di masyarakat yang meliputi perubahan kehidupan perekonomian masyarakat tersebut. Hal tersebut meliputi perubahan mata pencaharian, perubahan penghasilan, bahkan sampai peningkatan taraf kehidupan yang lebih baik lagi.

(38)

Para ahli sosiologi mempercayai bahwa, masyarakat manapun pasti mengalami perubahan berlangsung puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu perbedaannya dengan yang terjadi di masa yang lalu adalah dalam hal kecepatannya, intensitasnya, dan sumber-sumbernya. Perubahan sosial sekarang ini berlangsung lebih cepat dan lebih intensif, sementara itu sumber-sumber perubahan dan unsur-unsur yang mengalami perubahan juga lebih banyak.

Perubahan-perubahan yang terjadi bisa merupakan kemajuan atau mungkin justru suatu kemunduran. Unsur-unsur yang mengalami perubahan biasanya adalah mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perikelakuan, organisasi sosial, lembaga-lembaga kemasyarakatan, stratifikasi sosial, kekuasaan, tanggung jawab, kepemimpinan dan sebagainya. Dalam masyarakat maju atau pada masyarakat berkembang, perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan selalu berkaitan erat dengan ciri dan bentuk perekonomiannya.

Sikap tertentu juga merintangi perubahan. Pembangunan ekonomi akan terhambat kecuali jika mau mempelajari sikap bekerjasama, mengkehendaki kemajuan, menghargai pekerjaan. Bahkan perubahan menjanjikan pemenuhan kebutuhan dasar seperti pemeliharaan kesehatan sekalipun, mungkin menghadapi rintangan karena sikap tradisional.

1. Kesejahteraan, berbicara tentang ekonomi maka erat kaitannya dengan semua aktivitas perekonomian manusia guna menunjang kebutuhan hidup sehari-hari untuk kesejahteraan masyarakat, dalam ekonomi sejahtera dihubungkan dengan keuntungan benda.

(39)

2. Mata pencaharian Menurut kamus bahasa Indonesia mata pencaharian adalah pekerjaan atau pencaharian utama (yang dikerjakan untuk kebutuhan sehari-hari). Mata pencaharian merupakan aktifitas manusia untuk memperoleh taraf hidup yang layak dimana antara daerah satu dengan daerah yang lainnya berbeda sesuai dengan taraf kemampuan penduduk dan keadaan demografinya.

Pada dasarnya motifasi seseorang merantau lebih bayak karena dipaksa kondisi ekonomi keluarga dan keterbatasan lapangan kerja yang ada di daerah asalnya. Oleh karena itu apa yang diperoleh dirantau lebih banyak dimanfaatkan untuk menghidupi keluarga yang memang sangat memerlukan. Kiriman remitan dari para perantau mempunyai dampak positif bagi rumah tangga pedesaan dan ekonomi pedesaan.

Dari beberapa penjelasan para ahli diatas tentang merantau maka merantau dapat disimpulkan bahwa sebuah strategi yang dilakukan oleh masyarakat dimanapun untuk meningkatkan penghidupan mereka yang kerap terjadi bilamana sumber pendapatan mereka kian terbatas dan salah satu faktor yang mendasar seseorang pergi merantau yaitu untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

B. Kerangka Pikir

Merantau adalah sebuah strategi yang dilakukan oleh masyarakat dimanapun untuk meningkatkan penghidupan mereka yang kerap terjadi bilamana sumber pendapatan mereka kian terbatas (Haas.dkk, 2008). Pada masyarakat agraris, merantau merupakan strategi yang mereka lakukan untuk meningkatkan kehidupan mereka dan sebagian lainnya untuk bertahan bilamana lahan tempat

(40)

mereka bergantung sudah semakin terbatas. tujuan merantau yang terkait dengan berdagang atau pun bekerja memang cocok dilakukan. Karena merantau untuk berdagang atau pun bekerja memang memiliki harapan utama untuk perbaikan ekonomi.

Sekalipun banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas penduduk, pada umumnya faktor ekonomi dianggap sebagai alasan paling utama dalam berbagai studi mobilitas penduduk, kegiatan semacam ini digolongkan pada jenis mobilitas penduduk dengan dorongan ekonomi. Hasil penelitian Sukarso (dalam Suharto, 1985:18) menyatakan bahwa sebagian besar penduduk yang meninggalkan desa melakukan bentuk mobilitas migrasi karena tidak memiliki tanah dan pekerjaan yang tetap.

Penyebab utamanya adalah didorong oleh adanya dan faktor pendorong dan faktor penarik baik dari daerah asal maupun daerah tujuan. Dimana kedua faktor tersebut bersumber dari faktor ekonomi, faktor sosial budaya dan politik.

Dengan demikian faktor – faktor yang mendorong seseorang merantau untuk meninggalkan daerah asalnya yaitu untuk menambah pendapatan guna menjamin kelangsungan hidup baik untuk kehidupan pribadi maupun dalam keluarga, disamping motif ekonomi kondisi fisik dan ekologis daerah siompu serta struktur susial dan kepemilikan tanah menjadi pemicu utama seseorang melakukan perantauan.

Salah satu pilihan bagi mereka yang mengalami kondisi ekonomi yang kurang yaitu dengan merantau dengan anggapan bahwa dengan merantau akan mendapatkan kehidupan yang layak dan bias memperbaiki kehidupan. Khususnya

(41)

penduduk Kabupaten Enrekang Desa Pepandungan kebanyakan dari penduduknya melakukan migrasi atau merantau ke provinsi Kalimantan timur dan beralih propesi dari bertani menjadi pemelihara ikan dan udang atau bertambak, dengan tujuan mendapatkan kehidupan yang layak. Dari penjelasan diatas kita dapat melihat bagan kerangka konseptual dibawah ini.

A.

Gambar 2.1 Skema Kerangka Pikir Fenomena sosial

(Popularitas merantau)

Budaya Pendapatan terbatas

Kehidupan ekonomi yang

buruk

Cocok Ekonomi Membaik

atau meningkat sesuai

Kesejahteraan Sosial

(42)

26 A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian sosial budaya dengan jenis Kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Suatu penelitian yang bermaksud memberikan gambaran secara terperinci mengenai popularitas merantau sebagai solusi mendapatkan kehidupan yang layak di Desa Pepandungan. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan fakta di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian.

Dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas terhadap permasalahan-permasalahan yang ada dalam penelitian.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Enrekang dengan menfokuskan penelitian pada satu lokasi yakni di Desa Pepandungan didasarkan atas pertimbanagan bahwa di lokasi tersebut masyarakatnya lebih banyak melakukan perantauan karena keadaan geografisnya sehingga hasil bertani sangat minim, selain itu juga kurang tersedianya lapangan kerja, sebagian besar masyarakat memutuskan merantau. Para perantau pada umumnya laki- laki dan berstatus

(43)

sebagai kepala keluarga. Namun demikian ada pula sebagian istri ikut merantau, yang rata – rata telah mempunyai anak. Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan di Kabupaten Enrekang Desa Pepandungan.

C. Fokus Penelitian

Yang menjadi fokus di dalam penelitian yang di laksanakan ini adalah : 1. Popularitas merantau di kalangan masyarakat Desa Pepandungan, Kecamatan

Baraka, Kabupaten Enrekang.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga masyarakat di Desa Pepandungan lebih memilih merantau.

3. Kondisi ekonomi masyarakat perantau di Desa Pepandungan.

D. Sasaran Penelitian

Adapun yang dijadikan sasaran penelitian adalah sejumlah informan yang dianggap mengetahui persoalan yang ingin dijawab oleh peneliti. Sasaran atau informan ini ditentukan dengan cara :

Snowball Sampling yaitu prosedur pemilihan bola salju ini dilakukan secara bertahap. Pertama-tama, diidentifikasi orang yang dianggap dapat memberi informasi untuk diwawancarai. Kemudian orang ini dijadikan sebagai informan untuk mengidentifikasikan orang lain sebagai sumber yang dapat memberi informasi, demikian proses ini berlangsung hingga terpenuhi data yang di butuhkan dalam menjawab masalah penelitian.

(44)

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan cara sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yaitu pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap subjek yang akan diteliti dan informasi dari teman dekat subjek yang akan diteliti. Subjek penilitiannya adalah para perantau dan keluarga perantau itu sendiri yang di anggap dapat memberikan informasi.

2. Wawancara atau Interview

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti. Wawancara ini dapat dipakai untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi (Mardalis, 2007:64). Teknik wawancara ini dilakukan dengan cara bertatap muka langsung dengan informan dengan berpedoman pada interview guide yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk mendapatkan data yang konkrit yang lebih rinci dan mendalam. Perlengkapan yang digunakan pada saat wawancara adalah catatan tertulis untuk mencatat bagian-bagian yang penting dari hasil wawancara. Selain itu, tape recorder juga digunakan untuk merekam proses wawancara dalam rangka antisipasi terhadap keabsahan data yang diperoleh pada saat melakukan wawancara.

Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan para perantau dan kerabat perantau itu sendiri di Desa Pepandungan yang dianggap dapat

(45)

memberikan informasi atau data yang jelas sesuai dengan permasalahan pada penelitian.

3. Dokumentasi

Dokumentasi yang dimaksud adalah berupa foto-foto pada saat observasi dan wawancara berlangsung di lapangan bersama para masyarakat perantau di Desa Pepandungan.

F. Jenis Data dan Sumber Data 1. Jenis data.

Jenis data pada penelitian ini berdasarkan jenis penelitian yaitu penelitian kualitatif. Jadi jenis data yang digunakan adalah data kualitatif, yaitu data yang di sajikan dalam bentuk kata verbal bukan dalam bentuk angka, data kualitatif di peroleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya, wawancara, observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan, dan diskusi dengan informan mengenai masalah yang diteliti.

a. Data primer

Data yang diambil dari narasumber langsung. Data primer dalam penelitian adalah para perantau di Desa Pepandungan. Informan diambil dari sepuluh (10) orang yang dianggap dapat memberikan informasi.

b. Data Sekunder

yang diperoleh dengan mengadakan penelusuran terhadap beberapa bahan pustaka dan literatur yang relevan dengan masalah yang diteliti (teori-teori, konsep, majalah, film, dan lain-lain).

(46)

2. Data dan sumber data

Tabel 3.1

Data dan Sumber Data

Data Sumber data

T1

 Untuk mengetahui mengapa masyarakat pepandungan memilih merantau.

- Faktor ekonomi - Faktor keluarga - Faktor kebiasaan - Faktor pekerjaan

 Masyarakat desa pepandungan yang merantau dan yang tidak merantau

 Pemerintah desa

T2

 Kondisi sosial ekonomi

masyarakat pepandungan yang memilih merantau.

- Hubungan sosial dengan orang- orang di sekitarnya

- Kondisi ekonomi keluarga - Faktor pendorong untuk

merantau

- Faktor penarik untuk merantau.

 Masyarakat desa pepandungan yang merantau dan yang tidak merantau.

 Pemerintah desa

G. Instrumen Penelitian

Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini, Instrumen utama adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat seperti :

1. Bentuk instrumen pedoman ( observasi dan wawancara ) 2. Bentuk instrumen alat tulis dan menulis

3. Bentuk instrumen alat perekam seperti HP, Tape recorder, dan lain-lain.

H. Teknik Analisis Data

Bahwasanya dalam penelitian ini penulis berusaha untuk bersikap objektif terhadap data yang diperoleh di lapangan. Data ini diperlakukan

(47)

sebagaimana adanya, tanpa dikurangi, ditambahi, ataupun diubah, sehingga tidak akan mempengaruhi keaslian data-data tersebut. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Analisis data dimulai dengan mengumpulkan seluruh data yang diperoleh ketika melakukan pengamatan dan wawancara beserta dari sumber-sumber lainnya. Kemudian data yang terkumpul dibaca dan dipelajari untuk mengetahui apakah data yang terkumpul sudah sesuai dengan yang diharapkan ataupun kalau masih ada data yang kurang dapat dilakukan wawancara selanjutnya. Langkah berikutnya adalah menyusun data-data dalam satuan-satuan untuk kemudian dikategorisasikan.

Berbagai kategori tersebut dilihat kaitannya satu dengan yang lain dan harus saling berhubungan.

I. Teknik Pengabsahan Data

Teknik keabsahan data adalah merupakan teknik yang di gunakan untuk meyakinkan publik mengenai data yang di dapatkan dapat di percaya. Hal ini merupakan salah satu pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu (Mardalis, 2007:330).

Keabsahan data dimaksud untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian, mengungkapkan dan memperjelas data dengan fakta-fakta aktual di lapangan. Dalam penelitian kualitatif keabsahan data lebih bersifat sejalan seiring dengan proses penelitian itu berlangsung. Keabsahan data kualitatif harus dilakukan sejak awal pengambilan

(48)

data, yaitu sejak melakukan reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.

1. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber adalah untuk menguji kredibilitas infomasi yang diperoleh dari para perantau. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasi wawancara. Membandingkan apa yang dikatakan informan pada pagi hari, siang hari dan sore hari. Apakah hasilnya berbeda atau sama.

2. Tringulasi teknik

Tringulasi teknik adalah untuk menguji kredibilitas informasi yang diperoleh dari sumber yang sama dengan teknik yang berbeda yaitu data yang diperoleh dengan wawancara lalu dicek dengan observasi. Bila kedua teknik pengujian kredibilitas data tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan 3. Tringulasi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpullkn dengan teknik wawancara dipagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, sehingga akan memberikan data yang lebih valid.

Selanjutnya dilakukan wawancara pada siang hari dengan narasumber yang sama dan data yang diperoleh berbeda pada saat pagi hari mungkin karena narasumber ada masalah.`pengecekan pada sore hari apakah data yang diperoleh hasilnya sama pada siang hari atau pagi hari. Bila hasil uji pada pagi hari, siang hari dan sore hari, menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.

(49)

33

A. Deskripsi Umum Kabupaten Enrekang Sebagai Daerah Penelitian 1. Sejarah Singkat Kabupaten Enrekang

Sejak abad XIV, daerah ini disebut MASSENREMPULU yang artinya daerah pinggiran gunung atau menyusur gunung, sedang sebutan Enrekang berasal dari endeg yang artinya, (naik dari atau panjat) merupakan asal mulanya sebutan Endekan. Kabupaten Enrekang merupakan salah satu daerah dari 22 Dati II di Propinsi Sulawesi Selatan, yang memiliki kondisi geografis yang bergunung- gunung, sebelum Enrekang menjadi Daerah Tingkat II, berturut-turut mengalami perubahan bentuk pemerintahan. Pada abad XIV Daerah Tingkat II Enrekang adalah salah satu kerajaan besar yang kemudian kerajaan ini bersifat Manurung yang terdiri 7 kawasan yang lebih dikenal dengan “Pitu Massenrempulu”. Daerah tersebut yaitu Endekan, Kassa, Batu Lappa, Duri, Maiwa, Letta dan Barigin.

(Mannan, 2006:4).

Setelah memasuki tahun 1685, Letta ditaklukkan oleh Bone yang saat itu berada dibawah seorang raja yang sangat besar kekuasaannya bernama Aru Palakka Petta Malempe’e Gemme’na. Letta ketika itu bertindak gegabah dan kurang perhitungan membunuh utusan dari Bone. Tindakan ini ditanggapi Bone sebagai suatu penghinaan yang harus diberikan ganjaran, ketika itu Bone, Soppeng, Wajo, dan Sidenreng mengangkat senjata memerangi Letta. Setelah

(50)

dihancurkan maka kerajaan Letta dinyatakan sebagai status Lili (Daerah Bahagian) dari kerajaan Sawitto.

Dengan adanya peristiwa itu, maka Massenrempulu mengalami pengurangan wilayah. Federasi Massenrempulu yang tadinya dikenal dengan Pitu Massenrempulu menjadi Lima Massenrempulu. Wilayah-wilayah tersebut antara lain, kerajaan Maiwa, kerajaan Kassa, kerajaan BatuLappa, kerajaan Enrekang, dan Kerajaan Duri.

Memasuki abad XX yaitu pada tanggal 15 Oktober 1905, karena adanya politik Belanda Devide Et Impera atau politik adu domba maka Belanda memecah belah daerah Massenrempulu, dengan adanya Surat Keputusan dari Pemerintah kerajaan Belanda Korte Veklaring atau perjanjian pendek yang disahkan pada tanggal 19 Juli 1906. Inti dari isi perjanjian pendek adalah pernyataan dari Pemerintah daerah Swapraja, bahwa mengakui adanya keberadaan Pemerintah Belanda di atas kekuasaan Pemerintah Swapraja.

Dengan keluarnya Perjanjian Pendek tersebut, maka pihak Kerajaan/federasi Massenrempulu mengalami kerugian besar ditandai dengan masuknya Kassa dan Batu Lappa ke kerajaan Sawito, sehingga luas wilayah federasi Massenrempulu semakin sempit. Untuk tetap dalam lima Massenrempulu tersebut, maka kerajaan-kerajaan yang yang ada di dalamnya dipecah menjadi Kerajaan Endekan, Maiwa dan Federasi Duri Tallu Batu Papan yaitu Kerajaan Alla, Bonto batu dan Maluwa (Mannan, 2006: 5).

Pada tahun 1912 hingga tahun 1941 daerah Enrekang berbentuk Pemerintahan Onder Afdelling yang dikepalai oleh seorang Kontroleur (Tuan

(51)

Petoro). Onder afdeeling adalah suatu bentuk pemerintahan pada masa Pemerintahan Belanda yang sederajat dengan Daerah Tingkat III atau Kecamatan.

Pada zaman Pendudukan Jepang (1942-1945), Onder Afdelling berubah nama pemerintah menjadi Kanrikan, pemerintahannya di kepalai oleh seorang Bunken Kanrikan. Pada masa pemerintahan Belanda/NICA tahun 1946-1950 yang ditandai dengan pembentukan Negara federal Yaitu NIT (Negara Indonesia Timur), maka kawasan Massenrempulu berubah menjadi Onder Afdeeling Enrekang.

Ditetapkannya undang-undang NIT No. 44 tahun 1950, undang-undang tersebut mengadakan perbedaan antara 3 (Tiga) tingkat persekutuan yang berpemerintahaan sendiri atau Daerah Swatantra (Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat 1, 1991). Daerah Swatantra tersebut terdiri atas; a. Daerah, bagi daerah yang tertinggi tingkatannya di bawah Negara, b. Daerah Bagian, bagi Daerah Tingkat II, c. Daerah Anak Bagian, atau Daerah Tingkat III (terbawah). Dengan keluarnya UU tersebut, maka Sulawesi terpecah dan salah satu pecahannya adalah Afdeeling Pare-Pare, dalam Afdeeling Pare-Pare terbentuk Kewedanan Barru, Kewedanan Sidenreng Rappang, Kewedanan Enrekang dan Kewedanan Pinrang.

Pada tahun 1959 keluarlah Undang-Undang tentang pembentukan Daerah Tingkat II di Sulawesi, yaitu di atur dalam Undang-Undang No. 29 tahun 1959.

Selanjutnya disusul dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri dalam Negeri dan Otonomi Daerah tanggal 16 April 1960 No. PEM/20/2/44, yang menetapkan Propinsi Sulawesi Selatan di bagi menjadi 2 (dua) bagian yang dipimpin

(52)

oleh Residen Koordinator. Dua daerah tersebut dibagi ke dalam; a. Daerah Residen Koordinator Sulawesi Selatan, b. Daerah Residen Koordinator Sulawesi Tenggara. Daerah Koordinator Sulawesi Selatan terdiri atas 23 Daerah Tingkat II, Yang mana Daerah Tingkat II Enrekang masuk ke dalam Daerah Residen tersebut. Adapun pusat pemerintahan dari Residen Koordinator Sulawesi Selatan adalah Kota Makassar (Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I, 1991: 339).

Daerah Tingkat II Enrekang, merupakan pecahan dari kabupaten Pare- Pare. Perlu diketahui bahwa pecahan kabupaten Pare-Pare selain dari Daerah Tingkat II Enrekang, juga terbentuk Kabupaten Sidenreng Rappang, Daerah Tingkat II Barru, Daerah Tingkat II Pinrang dan Daerah Tingkat II Pare-Pare.

Oleh karena itu sebelum terbentuk menjadi 5 (Lima) kabupaten, pada tangggal 5 Desember 1951 bertempat di ruangan gedung DPRD Pare-Pare dilangsungkan suatu rapat yang membahas tentang Iktisar pemecahan kabupaten Pare-Pare menjadi lebih dari satu kabupaten. Hasil dari rapat tersebut menetapkan dan meminta kepada Pemerintah Pusat agar kabupaten Pare-Pare dibagi ke dalam 3 (Tiga) kabupaten yaitu; Kabupaten Pare-Pare, Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Sidenreng Rappang.

Dari hasil penetapan rapat tersebut maka pada tanggal 13 Desember 1956, Pemerintah Swapraja-swapraja Massenrempulu mengadakan pertemuan dengan partai-partai dan organisasi-organisasi di Kalosi, yang isinya membahas tentang penuntutan kewedanaan Enrekang menjadi Kabupaten atau Daerah Tingkat II Massenrempulu (Badan Arsip Nasional, Pemda Tk II Enrekang No Reg. 88).

(53)

Dengan keluarnya Undang-Undang No. 29 tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tingkat II maka terbentuklah Daerah Tingkat II Enrekang, terbentuknya Daerah Tingkat II Enrekang secara resmi pada tanggal 19 Februari 1960, yang ditandai dengan dilantiknya Andi Babba Mangopo sebagai Bupati Enrekang yang pertama, tanggal ini juga dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Enrekang, yang mana tiap tahunnya diadakan suatu kegiatan dalam menyambut hari jadi kabupaten tersebut.

2. Kondisi Geografis dan Iklim

Letak Geografis, Kabupaten Enrekang dengan ibukota Enrekang terletak ± 235 Km sebelah utara Makassar. Secara administratif terdiri dari sepuluh Kecamatan, 12 Kelurahan dan 96 Desa, dengan luas wilayah sebesar 1.786,01 Km². Terletak pada koordinat antara 3o 14’ 36” sampai 03o 50’ 00” Lintang Selatan dan 119o 40’ 53” sampai 120o 06’ 33” Bujur Timur. Batas wilayah kabupaten ini adalah sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah timur dengan Kabupaten Luwu dan Sidrap, sebelah selatan dengan Kabupaten Sidrap dan sebelah barat dengan Kabupaten Pinrang.

Iklim, Musim yang terjadi di Kabupaten ini hampir sama dengan musim yang ada di daerah lain yang ada di Propinsi Sulawesi Selatan yaitu musim hujan dan musim kemarau dimana musim hujan terjadi pada bulan November – Juli sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan Agustus – Oktober.

3. Topografi, Geologi, dan Hidrologi

Wilayah Kabupaten Enrekang, topografinya didominasi oleh perbukitan sampai pegunungan seluas ± 164.528 ha (92,12%), dan sekitar 14.073 ha (7,88%)

(54)

merupakan dataran landai sampai datar. Pada tingkat kemiringan lereng antara 0-2

%, hanya 14.073 ha (7,88%) yang tersebar di Kecamatan Enrekang dan Maiwa.

Kemiringan lereng antara 2-15% seluas 12.788 ha (7,16%), untuk kemiringan lereng 15-40% seluas 75.810 ha (42,45%), sedangkan kemiringan lereng > 40%

seluas 75.930 ha (42,51%).

Struktur Geologi Kabupaten Enrekang memiliki karasteristik yang kompleks di tandai dengan morfologi wilayah yang bervariasi. Berdasarkan morfologinya, maka wilayah Kabupaten Enrekang dapat di bagi menjadi 9 (sembilan) yaitu : brown Farest Soil yang banyak terdapat di Kecamatan Cendana, Mediterian Coklat yang terdapat di Kecamatan Alla, Anggeraja,dan Baraka, Podsolik Coklat banyak terdapat di Kecamatan Enrekang, dan Kecamatan Baraka, Podsolik Kekuningan banyak terdapat di kecamatan Maiwa, kemudian Podsolik Violet terdapat di kecamatan Alla dan Kecamatan Baraka.

Secara umum kondisi Hidrologi Kabupaten Enrekang adalah dengan air permukaan, meskipun ada beberapa beberapa daerah mempunyai potensi dengan memakai mata air bawah tanah, khusus untuk Kecamatan Curio dan Kecamatan Maiwa sebagian besar masih menggunakan sistem pemboran dengan memakai mesin bor.

Daerah aliran sungai yang ada di Kabupaten Enrekang adalah DAS Saddang dan DAS bila di tambah dengan sungai-sungai yang mengalir dari daerah perbukitan/pegunungan yang tersusun dari berbagai formasi geologi antara lain batuan Sedimen, batuan beku, batuan volkan, dan batuan malihan. Sungai-sungai

Gambar

Gambar 2.1 Skema Kerangka PikirFenomena sosial(Popularitas merantau) BudayaPendapatan terbatasKehidupanekonomi yangburukCocokEkonomi Membaik
Tabel 4.2 Mata Pencaharian Pekerjaan Jumlah Petani 986 orang Pedagang 21 orang PNS 34 orang Buruh 30 orang Perantau 296 orang Jumlah 1.367 Jiwa
Tabel 4.4 Tingkat Pendidikan Jenis

Referensi

Dokumen terkait

Desa Bintang Mersada adalah salah satu desa dari 11 desa di Kecamatan Sidikalang dengan luas wilayah 339 ha, dengan jumlah penduduk 447 kk (jumlah penduduk 2.079 jiwa) dan

Berbeda dengan itu, di daerah perkotaan jumlah penduduk miskin hanya berjumlah 10,62 juta jiwa (BPS, 2016). Data ini menegaskan bahwa, pendelagasian peran otonomi desa

Secara kualitatif, kriteria itu adalah (1) mobilitas penduduk tergolong rendah, (2) jumlah penduduk maksimal 6.000 jiwa, dan (3) usia desa paling rendah 30 tahun. Secara

Kondisi Jumlah Penduduk di Kabupateb Bintan Tahun 2012 cukup bervariasi dengan jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Bintan Timur dengan Jumlah Penduduk 41.530 Jiwa

Penduduk terbesar ada di Desa Sendangkulon dengan jumlah penduduk 5.966 jiwa atau 12,44 persen dari total penduduk yang ada di Kecamatan Kangkung. Sedangkan desa

Jumlah penduduk yang cukup tinggi (mencapai sekitar 2,5 juta jiwa) dapat menjadi beban pembangunan apabila memiliki kualitas yang rendah (tidak produktif). Oleh

Dengan jumlah penduduk beragama muslim sebanyak 304.656 jiwa (termasuk golongan masyarakat miskin) dari jumlah keseluruhan penduduk sebesar 330.691 jiwa pada tahun 2020

- Golongan masyarakat berpenghasilan tinggi dengan jumlah penduduk sebanyak 104.149 jiwa (6,02%) Sesuai dengan pembahasan ini bahwa perencanaan penghuni rumah susun di Kotamadya