PENGGUNAAN MODEL KURIKULUM SEKOLAH INKLUSI YANG MENYESUAIKAN KEBUTUHAN PESERTA DIDIK DI SDN 01 BATU
Windy Cahyani Kusumaningtyas Universitas Muhammadiyah Malang
Abstract
The curriculum model used by SDN Punten 01 Batu is the national curriculum, namely Curriculum 2013 for regular students, for students with special needs the curriculum adjusts to the ability of the students with special needs itself. This research method is descriptive qualitative. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The purpose of the study was to find out how the curriculum was used for students with special needs at the Inclusive School of SDN 01 Batu. The results of this study indicate that the curriculum used at SDN 01 Batu adapts to the needs of students, especially for students with special needs using the omission curriculum by eliminating part or all of the contents of the standard curriculum or in certain subjects being eliminated, and also with the presence of PPI which is used as a wish. in developing and determining appropriate learning activities for the students with special needs.
Keyword: curriculum, inclusion, omission, model.
Abstrak
Model Kurikulum yang digunakan oleh SDN Punten 01 Batu adalah kurikulum nasional yaitu Kurikulum 2013 untuk peserta didik regular, bagi peserta didik berkebutuhan khusus kurikulumnya menyesuaikan dengan kemampuan PDBK itu sendiri. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan kurikulum bagi peserta didik berkebutuhan khusus di Sekolah Inklusi SDN 01 Batu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kurikulum yang digunakan di SDN 01 Batu menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik khususnya bagi PDBK menggunakan kurikulum omisi dengan menghilangkan sebagian atau keseluruhan isi dari kurikulum standar nasional atau pada mata pelajaran tertentu ditiadakan total, dan juga dengan adanya PPI digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengembangan dan menentukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang tepat untuk PDBK tersebut.
Kata kunci : kurikulum, inklusi, omisi, model.
PENDAHULUAN
Bagian Pendidikan adalah suatu proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran atau pembelajaran, yang
merupakan usaha sadar untuk menyiapkan siswa sebagai generasi-generasi baru melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan bagi yang berguna untuk mencapai tujuan peranannya di masa yang akan datang.
Proses Pendidikan yang berlangsung di sekolah memerlukan suatu cara, pedoman, dan rencana untuk menempuhnya untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut yang disebut kurikulum.
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan di sana dijelaskan, bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
[1] (BSNP, 2008: 6).
Kurikulum merupakan seperangkat isi, bahan ajar, tujuan yang akan ditempuh sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan.
Hubungan antara pendidikan dan kurikulum adalah hubungan tujuan dan isi pendidikan. Karena terdapat tujuan, maka harus ada alat yang sama untuk mencapainya dan cara untuk menempuh tujuan tersebut menggunakan kurikulum.
Pendidikan inklusif adalah sistem manajemen pendidikan yang menciptakan kesempatan bagi semua siswa penyandang disabilitas dan yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat luar biasa mereka untuk berpartisipasi dalam pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan Pendidikan bersama-sama dengan siswa pada umumnya. Pendidikan inklusif perlu mendapatkan lebih banyak perhatian, karena bertujuan untuk tidak membeda-bedakan siswa yang berkebutuhan khusus dan siswa di kelas regular.
Pendidikan Inklusif adalah layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus (ABK) di kelas reguler bersama anak lain (non-ABK) yang seusianya di kelas biasa, bukan kelas yang hanya untuk dikhususkan untuk anak yang memiliki kebutuhan khusus saja.
SD Inklusi yang sudah menerima anak dengan kebutuhan khusus pasti tidak langsung dengan mudahnya dapat menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus itu. Kurikulum harus dapat disesuaikan dengan kelas yang heterogen dengan karakteristik anak berkebutuhan khusus dan regular. Kebanyakan guru kelas belum siap untuk menangani siswa-siswi dikelasnya dengan karakteristik yang berbeda. Akhirnya, guru-guru yang berhadapan langsung dengan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di kelas mengeluh dan sulit untuk mengajar satu metode yang sama dan dengan perlakuan yang sama sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai seperti yang diharapkan.
Untuk itu perlu adanya pengembangan ataupun modifikasi pada kurikulum, hal ini dilakukan sebagai upaya menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan tujuan pembelajaran dapat tercapai dalam pendidikan inklusi.
Modifikasi kurikulum yakni kurikulum siswa rata-rata atau regular disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan atau potensi PDBK. Modifikasi kurikulum ke bawah diberikan kepada peserta didik tuna grahita dan modifikasi kurikulum ke atas untuk peserta didik gifted and talented. Modifikasi kurikulum ini dilakukan terhadap alokasi waktu, isi atau materi kurikulum, proses belajar- mengajar, sarana prasarana, lingkungan belajar, dan pengelolaan kelas. Dalam pendidikan inklusif, kurikulum yang digunakan adalah kurikulum sekolah regular atau kurikulum nasional yang dimodifikasi sesuai dengan tahap perkembangan anak berkebutuhan khusus dengan mempertimbangkan karakteristik dan tingkat kecerdasannya. Kurikulum nasional terdiri dari 3 model yaitu model kurikulum regular, model kurikulum regular dengan modifikasi dan model kurikulum Program Pembelajaran Individual (PPI). Tujuan modifikasi atau
pengembangan kurikulum dalam Pendidikan inklusif, yaitu:
1. Membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi dan mengatasi hambatan belajar yang dialami semaksimal mungkin dalam setting sekolah inklusif,
2. Membantu guru dan orangtua dalam mengembangkan program pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus baik yang diselenggarakan di sekolah maupun di rumah.
3. Menjadi pedoman bagi sekolah, dan masyarakat dalam mengembangkan, menilai dan menyempurnakan program Pendidikan inklusif.
Dalam pembelajaran inklusif, model kurikulum bagi PDBK dapat dikelompokan menjadi lima, yakni: eskalasi kurikulum, duplikasi kurikulum, modifikasi kurikulum, substitusi kurikulum, dan omisi kurikulum.
Model eskalasi kurikulum Eskalasi (escalation) berarti kurikulum standar nasional dinaikkan tingkat kualifikasi materinya baik secara horizontal maupun vertikal sesuai dengan tuntutan potensi siswa cerdas istimewa dan/atau bakat istimewa. Penaikan tuntutan kurikulum standar nasional artinya materi kurikulum bagi siswa cerdas istimewa dan/atau bakat istimewa tingkat kesulitannya dinaikkan.
Sedangkan Penaikan tuntutan kurikulum standar nasional secara horizontal berarti materi kurikulum bagi siswa cerdas istimewa dan atau bakat istimewa diperluas.
Tujuan eskalasi kurikulum standar nasional adalah agar siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berkembang secara optimal dan perolehan hasil belajarnya lebih luas dan lebih dalam, sehingga dimensi sosial psikologisnya tetap dapat tumbuh dan berkembang secara natural. [2]
Model duplikasi artinya salinan yang serupa benar dengan aslinya. Dalam kaitannya dengan model kurikulum, duplikasi berarti mengembangkan dan atau memberlakukan kurikulum untuk peserta didik berkebuthan khusus secara sama atau
serupa dengan kurikulum yang digunakan untuk siswa pada umumnya (regular). Jadi model duplikasi adalah cara dalam pengembangan kurikulum, dimana peserta didik PDBK menggunakan kurikulum yang sama seperti yang dipakai oleh anak-anak pada umumnya. Model duplikasi dapat diterapkan pada empat komponen utama kurikulum, yaitu tujuan, isi, proses dan evaluasi.
Model modifikasi berarti merubah atau menyesuaikan. Dalam kaitan dengan model kurikulum untuk peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) maka model modifikasi berarti cara pengembangan dimana kurikulum umum yang diberlakukan bagi PDBK. Dengan demikian, PDBK menjalani kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan mereka.
Modifikasi dapat diberlakukan pada empat komponen utama kurikulum. Model substitusi berarti mengganti. Dalam kaitannya dengan model kurikulum, maka substansi berarti mengganti sesuatu yang ada dalam kurikulum umum dengan sesuatu yang lain. Pengganti dilakukan karena halt ersebut tidak mungkin dilakukan oleh PDBK, tetapi masih bisa diganti dengan hal lain yang sebobot dengan yang digantikan.
Model omisi berarti menghapus atau menghilangkan. Dalam kaitan dengan model kurikulum, omisi berarti upaya untuk menghapus atau menghilangkan sesuatu, baik sebagian atau keseluruhan dari kurikulum umum, karena hal tersebut tidak mungkin diberikan kepada PDBK. Dengan kata lain, omisi berarti sesuatu yang ada dalam kurikulum umum tetapi tidak disampaikan atau tidak diberikan kepada PDBK, karena sifatnya terlalu sulit ataut idak mampu dilakukan PDBK. Bedanya dengan substitusi adalah jika dalam substitusi ada materi pengganti yang sebobot, sedangkan dalam model omisi tidak ada materi pengganti [3] (Yusuf Munawir, 2011).
Tentunya sebagai sekolah inklusif harus memilih menggunakan kurikulum
yang tepat yang disesuaikan dengan peserta didik regular maupun peserta didik dengan kebutuhan khusus.
METODE PENELITIAN
Me Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengunaan kurikulum di sekolah inklusi SDN Punten 01 Batu terhadap siswa yang berkebutuhan khusus.
Metode pengumpulan data ini diambil dengan observasi langsung ke sekolah, wawancara dengan Guru Pembimbing Khusus (GPK) melalui zoom meeting yang pertanyaan secara terbuka dan juga dokumentasi. Pertanyaan-pertanyaan tersebut disusun berdasarkan dari aspek apa yang diperlukan dalam pengunaan kurikulum untuk anak berkebutuhan khusus di SDN Punten 01 Batu.
Data penelitian diambil dari seorang guru pendamping khusus dan seorang guru kelas yang bertugas sebagai administrasi tata usaha. Setelah data terkumpul, dilakukanlah analisis data secara lebih terperinci melalui metode kualitatif deskriptif. Menurut I Made Winartha (2006:155), metode analisis deskriptif kualitatif adalah menganalisis, menggambarkan, dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang dikumpulkan berupa hasil wawacara atau pengamatan mengnai masalah yang diteliti yang terjadi di lapangan. [4]
HASIL
Berdasarkan data yang didapat dari proses wawancara, observasi dan dokumentasi di sekolah inklusi SDN Punten 01 Batu menerapkan kurikulum nasional yaitu kurikulum 2013 tetapi terdapat perbedaan untuk kurikulum yang digunakan pada peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) di SDN Punten 01 Batu menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) itu sendiri. Sebelum menentukan kurikulum yang akan digunakan pada peserta didik
berkebutuhan khusus (PDBK), Guru Pendamping Khusus (GPK) dan guru kelas akan melakukan beberapa identifikasi sebelum pembelajaran inklusif, dengan mengajukan beberapa pertanyaan dalam wawancara kepada orang tua PDBK, yaitu sebagai berikut:
1. Asesmen kebutuhan pada PDBK 2. Keterampilan sosial pada PDBK 3. Kemampuan yang sudah dimiliki
oleh PDBK
Kegiatan wawancara ini dilakukan untuk mengetahui pembelajaran apa yang cocok bagi PDBK tersebut sekaligus menentukan kurikulum yang akan digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran pada PDBK tersebut.
Di SDN Punten 01 Batu sendiri memiliki 11 orang peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yaitu siswa kelas 1, 2, 3, 4, dan 6. Pada kelas 5 tidak ada peserta didik yang memiliki kebutuhan khusus. Dari 11 PDBK tersebut tentunya memiliki jenis kebutuhan khusus yang berbeda, mulai dari tunagrahita, hiperaktif, autis, lambat belajar (slow learner), kesulitan belajar dan juga tunaganda (grahita dan daksa). Karena berbagai jenis kebutuhan khusus pada PDBK lebih menjurus ke potensi kecerdasan di bawah rerata maka, kurilukum yang digunakan untuk PDBK di SDN Punten 1 Batu ialah model kurikulum omisi.
Omisi sendiri artinya adalah menghilangkan, sehingga Model Kurikulum Omisi ini ada Model kurikulum yang menghilangkan sebagian atau keseluruhan isi kurikulum standar nasional karena tidak mungkin diberikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan kata lain omisi berarti isi sebagian/keseluruhan kurikulum standar nasional tidak diberikan kepada peserta didik berkebutuhan khusus karena terlalu sulit untuk dilakukan atau tidak sesuai dengan kemampuan yang PDBK tersebut miliki.
Sebagai contoh pada SDN Punten 01 Batu yaitu kelas 1 ada PDBK berinisial ISB, peserta didik ini merupakan peserta didik dengan kebutuhan khusus yaitu tunagrahita, dimana setelah melakukan identifikasi dan wawancara dengan orang tua PDBK
tersebut, ternyata ditemukan bahwa ISB masih kesulitan untuk berjalan, kesulitan untuk melakukan aktifitas primer seperti mandi, berganti pakaian juga belum dapat dilakukan sendiri, ia masih belum bisa mengenal huruf abjad dan angka, dan belum dapat menyampaikan keinginannya dengan 1 kalimat.
Dari permasalahan atau kebutuhan yang dimiliki ISB ini, tentunya guru pembimbing khusus (GPK) di SDN 01 Batu ini menggunakan kurikulum omisi, karena menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik berkebetuhan khusus itu sendiri, yaitu dengan menghilangkan sebagian atau keseluruhan isi dari kurikulum standar nasional atau pada mata pelajaran tertentu ditiadakan total, karena tidak memungkinkan bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk dapat berpikir setara dengan teman-teman lainnya di kelas regular, sehingga materi yang dipelajari menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Peserta didik beerkebutuhan khusus di SDN Punten 01 Batu itu selalu naik kelas, artinya tidak ada PDBK yang tinggal kelas, dan juga tidak diadakannya remidi, tetapi jika PDBK tersebut belum memahami suatu materi, maka materi tersebut akan diulang terus oleh guru terutama GPK sampai peserta didik berkebutuhan khusus tersebut paham dengan materinya.
Karena setiap PDBK mempunyai kemampuan yang berbeda-beda maka diperlukan Program Pendidikan Individu (PPI) yang digunakan sebagai acuan dalam melakukan kegiatan pembelajaran untuk PDBK tersebut, PPI ini berisi informasi siswa, data asesmen, kelemahan dan kelebihan siswa, penyesuaian dengan mata pelajaran dan program layanan kebutuhan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa misalnya keterampilan afektif, keterampilan berkomunikasi dan keterampilan akademiknya. Sehingga dari PPI ini dapat ditentukan kegiatan-kegiatan apa saja dalam pembelajaran yang diperlukan oleh PDBK tersebut.
SIMPULAN
Kurikulum yang digunakan oleh SDN Punten 01 Batu adalah kurikulum nasional yaitu Kurikulum 2013 untuk peserta didik
regular, bagi peserta didik berkebutuhan khusus kurikulumnya menyesuaikan dengan kemampuan PDBK itu sendiri.
Dari berbagai jenis kebutuhan khusus pada PDBK di SDN Punten 01 Batu ini lebih menjurus ke potensi kecerdasan di bawah rerata maka kurilukum yang digunakan untuk PDBK ialah model kurikulum omisi, karena menyesuaikan dengan kemampuan peserta didik berkebetuhan khusus itu sendiri, yaitu dengan menghilangkan sebagian atau keseluruhan isi dari kurikulum standar nasional atau pada mata pelajaran tertentu ditiadakan total, karena tidak memungkinkan bagi peserta didik berkebutuhan khusus untuk dapat berpikir setara dengan teman-teman lainnya di kelas regular, sehingga materi yang dipelajari menyesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki peserta didik.
Karena setiap PDBK mempunyai kemampuan yang berbeda-beda maka diperlukan Program Pendidikan Individu (PPI) yang digunakan sebagai acuan dalam melakukan pengembangan dan menentukan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang tepat untuk PDBK tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
[1] BSNP. (2008). Departemen Pendidikan Nasional: Jakarta.
[2] Direktorat PPK-LK Pendidikan Dasar.
2011. Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta.
[3] Munawir Yusuf. 2011. Implementasi Pendidikan Inklusif melalui Adaptasi Kurikulum dan Pembelajaran.
[4] Winartha, I Made, 2006. Metodologi Penelitian Sosial Ekonomi. Andi Offset, Yogyakarta.
[5] Fajra, M., Jalinus, N., Jama, J., &
Dakhi, O. 2020. PENGEMBANGAN MODEL KURIKULUM SEKOLAH
INKLUSI BERDASARKAN
KEBUTUHAN