1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia bisnis saat ini semakin berkembang di Indonesia, karena timbulnya persaingan yang cukup ketat untuk menciptakan produk yang berkualitas. Dengan adanya persaingan yang cukup ketat membuat para pemasar menciptakan keunggulan suatu produk yang akan dipasarkan. Hal ini tidak hanya cukup dengan menciptakan produk unggulan saja, namun juga harus disertai strategi pemasaran yang tepat, sehingga dapat menjangkau pasar yang luas.
Oleh karena itu para pemasar harus mampu menggunakan strategi pemasaran yang tepat serta inovatif. Dengan adanya strategi pemasaran yang tepat, maka akan dapat menciptakan nilai bagi konsumen dan dapat mencapai hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan yang nantinya akan berdampak baik terhadap peningkatan penjualan suatu produk (Kotler dan Armstrong, 2018).
Bisnis fashion menjadi bisnis yang sedang digemari saat ini misalnya seperti pakaian, Karena pakaian sebagai kebutuhan dasar yg wajib dipenuhi.
Perkembangan zaman menciptakan perubahan dalam cara berpakaian. Penting bagi setiap orang untuk memperhatikan cara berpakaiannya dan cara orang memilih berpakaianpun memiliki nilai tersendiri (McNeill, L. dan McKay, 2016). Akhirnya, konsumen dapat menentukan pilihan dengan menetapkan suatu yang diinginkan dalam pengambilan keputusan pembelian, Untuk itu pelaku bisnis harus memikirkan strategi yang dapat menarik perhatian konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian.
Proses keputusan pembelian merupakan proses dimana konsumen melewati lima tahap, yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif,
keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian, yang dimulai jauh sebelum pembelian aktual dilakukan dan memiliki dampak yang lama setelah itu (Kotler dan Keller, 2016). Dalam keputusan membeli barang, konsumen sering kali ada lebih dari dua pihak yang terlibat dalam proses pertukaran atau pembeliannya.
Seluruh produsen pasti menjalankan berbagai strategi agar konsumen memutuskan untuk membeli produknya. Keputusan pembelian merupakan tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk (Koesoemaningsih, 2013).
Namun ketika seorang calon pembeli dihadapkan dengan banyaknya pilihan produk, ada dua kemungkinan mengapa akhirnya membeli produk yang dijual.
Yang pertama, konsumen datang tanpa rencana mau membeli apa. Kemudian melihat produk dengan promosi yang menarik misalnya harga diskon, pemberian hadiah untuk setiap pembelian. Yang kedua karena sudah merencanakan, mencari informasi mengenai kebutuhan yang di perlukan dari internet, teman atau dari keluarga .
Keputusan pembelian merupakan keputusan konsumen mengenai preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan (Kotler dan Keller, 2012).
Keputusan pembelian diawali pada saat konsumen mempunyai sebuah kebutuhan, lalu konsumen tertarik pada sebuah produk untuk di beli. Namun sebelum melakukan pembelian, konsumen mencari informasi yang berhubungan dengan produk yang akan dibeli dan konsumen mulai mempunyai minat untuk membeli produk tersebut. Pengambilan keputusan untuk membeli suatu produk fashion lokal konsumen dapat melakukan evaluasi untuk melakukan pemilihan produknya.
Evaluasi dan pemilihan yang digunakan akan menghasilkan suatu keputusan.
Permasalahan yang timbul pada keputusan pembelian terhadap produk fashion lokal yaitu karena kualitas produk,lokasi,promosi, dan harga. Dari segi produk, fashion lokal memiliki kualitas yang tinggi dan disejajarkan dengan harga, sedangkan dari segi harga ternyata produk yang ditawarkan dari produk fashion lokal bervariasi daripada produk brand lainnya, dari segi promosi produk fashion lokal menggunakan berbagai media digital marketing seperti di marketplace maupun media paltform digital lainnya. Dengan berbagai pilihan produk, harga
yang ditetapkan oleh perusahaan, serta informasi yang jelas melalui media promosi, maka akan memberikan dampak kemudahan bagi konsumen atau pelanggan dalam memutuskan atau mengambil keputusan membeli suatu produk (Ristiyanti dan Murdo, 2021).
Konsumen dalam membuat keputusan pembelian barang dan jasa didapati beberapa faktor karakteristik konsumen, rangsangan perusahaan yang mencakup produk, harga, tempat dan promosi serta kondisi rangsangan lainnya seperti budaya, sosial, pribadi dan psikologis (Kotler dan Armstrong, 2018). Respon dari konsumen terhadap rangsangan tersebut akan mengarah kepada keputusan pembelian produk, keputusan akan sebuah merek, waktu dan jumlah pembelian. Bauran pemasaran meliputi produk, harga, tempat, dan promosi yang perlu dilakukan dan dipahami dengan baik oleh perusahaan agar tetap bisa berkembang didalam persaingan yang sangat ketat.
Marketing mix memberikan manfaat meningkatkan penjualan dan dapat menarik konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan oleh produsen (Poluan, Mandey dan Imelda, 2019). Strategi suatu perusahaan harus selalu diperbarui seiring berkembangnya jaman, melihat keadaan pasar dan melihat keinginan konsumen serta perubahan selera atau tuntutan konsumen. Salah satu cara agar dapat mengetahuinya dengan mencari faktor mana yang paling dominan pada perusahaan tersebut dan nantinya dapat dikembangkan menjadi lebih baik dengan tetap memperhatikan faktor-faktor lainnya. Faktor pertama dalam bauran pemasaran yaitu produk, Produk dapat digunakan dalam mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan pengembangan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan dengan mengubah produk atau jasa yang ada dengan menambah dan mengambil tindakan yang lain yang mempengaruhi bermacam-macam produk atau jasa (Kotler dan Keller, 2016).
Faktor kedua yaitu harga, harga dapat digunakan sebagai sistem manajemen perusahaan yang akan menentukan harga dasar yang tepat bagi produk atau jasa dan harus menentukan strategi yang menyangkut potongan harga, pembayaran ongkos angkut dan berbagai variabel yang bersangkutan (Kotler dan Keller, 2016). Faktor ketiga yaitu lokasi, lokasi sebagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk
yang dihasilkan atau dijual, dalam hal ini berhubungan dengan bagaimana cara penyampaian produk atau jasa kepada para konsumen dan dimana lokasi yang strategis (Kotler dan Armstrong, 2018). Faktor keempat yaitu faktor promosi, promosi merupakan suatu unsur yang digunakan untuk memberitahukan dan membujuk pasar tentang produk atau jasa yang baru pada perusahaan melalui iklan, penjualan pribadi, promosi penjualan, maupun publikasi (Kotler dan Keller, 2016).
Kontribusi penelitian ini melihat dari Research Gap penelitian sebelumnya, Research Gap hubungan marketing mix terhadap keputusan pembelian. Beberapa hasil penelitian telah membuktikan bahwa hasil dari penelitian (Evan dan Christian, 2021), Menunjukkan bahwa marketing mix berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Sedangkan hasil dari penelitian (Andika dan Susanti, 2018) Menunjukkan bahwa marketing mix pada bagian produk, harga, dan promosi tidak memiliki pengaruh pada keputusan pembelian. Dan juga Research Gap hubungan marketing mix terhadap minat beli dari penelitian (Cahya et al.,2021), Menunjukkan bahwa marketing mix berpengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen. Sedangkan dari penelitian (Silaningsih dan Utami, 2018), Menunjukkan bahwa marketing mix pada bagian promosi dan tempat tidak memiliki pengaruh pada minat beli konsumen.
Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini dimulai dari adanya masalah perbedaan hasil temuan penelitian, belum ada kesamaan hasil penelitian. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu penulis memasukkan variabel intervening yang menjadikan hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen menjadi hubungan yang tidak langsung, maka dari itu peneliti menambahkan variabel intervening yaitu minat beli.
Alasan dipilihnya variabel minat beli, dikarenakan minat beli merupakan sikap yang muncul sebagai tanggapan tehadap objek yang menandakan ketertarikan atau keinginan konsumen membeli suatu produk (Silaningsih dan Utami, 2018). Dalam minat beli ini terdapat empat dimensi minat beli konsumen yaitu kesadaran akan kebutuhan, minat, keinginan, dan tindakan (Kotler dan Keller, 2016). Maka, minat beli sebagai suatu keadaan dimana adanya keinginan serta minat konsumen terhadap produk fashion brand lokal yang ditawarkan di pasaran.
Sumber : Kemenperin.go.id/ Kinerja Industri Tekstil dan pakaian jadi/ diakses November 2021
Gambar 1. 1 Pertumbuhan Industri Tekstil dan Pakaian jadi
Indonesia merupakan negara yang memiliki industri tekstil dengan struktur yang terintegrasi secara vertikal dari hulu ke hilir, mulai dari industri pembuatan serat sintetis (fiber making), industri pemintalan benang (spinning), industri pertenunan (weaving), industri perajutan (knitting), industri pencelupan, pencetakan dan penyempurnaan (dyeing, printing, finishing) sampai dengan industri pakaian jadi (garment), serta industri barang jadi tekstil dan permadani.
Industri manufaktur pakaian jadi (garment) termasuk proses cutting, sewing, washing, dan finishing yang menghasilkan produk siap pakai (ready to wear).
Sektor ini paling banyak menyerap tenaga kerja atau memiliki sifat industri padat karya (Kemenperin / Kinerja Industri Tekstil dan Pakaian jadi/ diakses November 2021).
Pakaian sebagai kebutuhan primer manusia yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman ketika dipakai sehari hari. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan industri fashion di Indonesia semakin meningkat dari tahun 2017 – 2019. Namun di tahun 2020 mengalami penurunan karena dampak pandemi COVID-19. Terbukti dari data BPS (Badan Pusat Statistik) yang sudah diolah oleh pusdatin Kemenperin, berikut ini data petumbuhan industri fashion di Indonesia dari tahun 2017-2020.
Dalam pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi seperti pada gambar diatas dapat dilihat bahwa Produksi Tekstil dan Pakaian Jadi sudah mengalami penurunan (kontraksi pertumbuhan) sejak triwulan I 2020, yang semakin menurun tajam pada triwulan II 2020. Sebelumnya, industri Tekstil dan Pakaian Jadi mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan, yaitu sebesar 20,71% (yoy / year on year) pada triwulan II 2019, yang kemudian melambat menjadi sebesar 15,08% (yoy / year on year) pada triwulan III 2019 dan sebesar 7,17% (yoy / year on year) pada triwulan IV 2019. Pada triwulan I 2020 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi mulai mengalami kontraksi sebesar 1,24% (yoy / year on year) yang kemudian semakin anjlok dengan kontraksi sebesar 14,23% (yoy / year on year) pada triwulan II 2020.
Kontraksi ini terus berlanjut hingga triwulan IV 2020, sehingga untuk seluruh tahun 2020 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi mencatatkan kontraksi pertumbuhan sebesar 8,88% (Kemenperin / Kinerja Industri Tekstil dan Pakaian jadi/ diakses November 2021).
Perkembangan Indonesia dalam dunia fashion semakin terlihat dengan kemunculan brand lokal yang menyuguhkan kualitas dan keunggulan yang beragam dan sangat bersaing. Kehadiran dengan tersedianya store ataupun dari platform online, aplikasi e-commerce juga sosial media ikut berpartisipasi dalam berkembangnya brand lokal untuk terus dikenal dan diminati banyak orang. Di samping itu, brand lokal menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau daripada merek-merek luar ternama. Itulah mengapa semakin banyak yang saat ini tertarik untuk menggunakan brand lokal (Indah Handayani, 2020). Brand lokal memiliki desain yang tak kalah menarik dengan produk luar negeri. Salah satu alasan brand lokal diminati oleh anak muda karena desain produk yang diciptakan tak kalah kerennya dengan produk luar negeri. Terdapat beberapa brand lokal yang terkenal yang menjadi desain favorit anak muda (Dzikrullah, 2019).
Di tahun 2020, tepatnya pada bulan April digelar hari belanja brand lokal secara online untuk pertama kalinya. Munculnya hari belanja brand lokal ini berawal karena adanya dampak dari pandemi COVID-19 mulai berdampak dan mempengaruhi penjualan produk brand lokal. Promosi besar-besaran oleh brand
lokal dilakukan dengan memberikan diskon potongan harga, voucher belanja, dan gratis ongkos kirim. Dalam acara tersebut setidaknya ada 1.152 brand lokal yang berpartisipasi dan ikut memeriahkan pada hingga festival tersebut menjadi festival belanja online terbesar di Indonesia untuk kategori produk brand lokal (Aria, 2020).
Tabel 1. 1 Rekomendasi brand fashion lokal
No. brand fashion lokal Asal
1 Erigo Depok
2 Eiger Bandung
3 3Second Bandung
4 Roughneck Depok
5 Hooligans Bandung
Sumber : Detik.com (Data diolah peneliti 2021)
Tabel diatas merupakan beberapa brand fashion lokal beserta asalnya. Erigo Menempati posisi pertama dalam daftar brand fashion lokal ternama di Indonesia, Brand ini memang bergerak dalam fashion anak muda. Berbagai produk dikeluarkan, ada celana, jaket, kaos, kemeja, sampai dengan sweater, baik itu untuk pria atau wanita. 3 Second juga terkenal dengan fashion yang memiliki desain stylish dan update. Karena itulah, berbagai produk fashion yang diluncurkannya laris manis di pasaran dan brand ini produk lokal asal dari Bandung. Eiger juga termasuk salah satu brand ternama di Indonesia. Untuk yang gemar naik gunung atau aktivitas outdoor, berbagai produk Eiger merupakan pilihan yang tepat. Memiliki bahan yang awet, warna-warna yang tidak mudah kotor, dengan pilihan model yang beragam dan tidak ketinggalan zaman (Kholisdinuka, 2021).
Roughneck merupakan brand asli indonesia, brand ini telah diekspor ke luar negeri, termasuk juga di Brasil. Jadi untuk kualitasnya sendiri tidak perlu dipertanyakan. Produk roughneck memiliki pilihan warna yang bisa dibilang berani. Ada merah, orange, hijau, bahkan ada pula yang pink. Hooligans merupakan brand lokal yang identik dengan pendukung sepak bola.,bukan hanya pecinta sepak bola namun juga berbagai kalangan. Produk yang ditawarkan juga beragam yaitu jaket, hoodie, crewneck, celana dan aksesoris (Kholisdinuka,
2021). Jadi, dapat disimpulkan bahwa masyarakat atau kalangan anak sekarang seperti Mahasiswa memliki ketertarikan terhadap minat beli yang tinggi terhadap produk fashion brand lokal.
Alasan memilih judul brand lokal karena produk atau merek yang relatif terbatas dan hanya dapat ditemukan di daerah tertentu saja. Namun tidak menutup kemungkinan brand lokal yang dikembangkan oleh UMKM suatu daerah atau wilayah tertentu dapat berkembang ke level nasional.maka dari itu belum tentu produk brand lokal bisa dikatakan nasional karena terdapat beberapa produk brand lokal yang hanya tersedia di daerah tertentu saja.
Universitas Muhammadiyah Malang merupakan universitas swasta terbaik di Jawa Timur. Melihat banyaknya mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang pasti memiliki kebutuhan yang berbeda-beda terhadap gaya berpenampilan yang dapat dimiliki oleh mahasiswa-mahasiwa Universitas Muhammadiyah Malang untuk dapat terlihat sebagai lifestyle disetiap harinya. Mahasiswa merupakan Segmen pasar dari produk fashion lokal, Karena produk fashion lokal memilik kualitas produk yang tidak kalah jauh terhadap ptoduk buatan luar Negeri, dan memiliki harga yang lebih murah, hal itu dapat dikatakan sesuai dengan kantong mahasiswa. Maka dari itu kalangan Mahasiswa memiliki ketertarikan terhadap produk fashion lokal.
Peneliti juga melakukan pra survei dengan membagikan kuesioner melalui fitur story aplikasi sosial media instagram dan whatsapp untuk mengetahui respon dari para Mahasiswa UMM yang pernah membeli produk fashion brand lokal.
Berikut data yang diperoleh peneliti :
Tabel 1. 2 Data Hasil Pra Survei 8 November 2021
Nama brand fashion lokal Jumlah Responden yang pernah beli
Erigo 37 Orang
Eiger 36 Orang
3Second 34 Orang
Roughneck 15 Orang
Geoff Max 8 Orang
Thanksinsomnia 2 Orang
Brand Fashion lokal lainnya 8 Orang
Sumber : Data Peneliti.
Data pra survei di atas diperoleh dengan membagikan kuesioner melalui aplikasi sosial media instagram dan whatsapp untuk mengajukan pertanyaan kepada para responden mengenai mahasiswa yang pernah membeli produk fashion brand lokal. Jumlah keseluruhan responden yaitu 73 orang dengan hasil Erigo menjadi produk fashion lokal yang paling banyak di minati oleh mahasiswa UMM yaitu sebanyak 37 orang.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka peneliti tertarik untuk mengambil judul “Efek marketing mix terhadap keputusan pembelian produk fashion brand lokal melalui minat beli sebagai variabel intervening”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka dalam penelitian ini dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana tanggapan konsumen terhadap marketing mix, minat beli, dan keputusan pembelian konsumen pada produk fashion brand lokal ?
2. Apakah marketing mix yang terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion brand lokal ?
3. Apakah marketing mix yang terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat berpengaruh signifikan terhadap minat beli produk fashion brand lokal ? 4. Apakah minat beli berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian
produk fashion brand lokal ?
5. Apakah marketing mix yang terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion brand lokal melalui minat beli ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1) Tujuan Penelitian
Mengacu pada permasalahan diatas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah : 1. Untuk mendeskripsikan tentang marketing mix, minat beli, dan keputusan
Pembelian konsumen pada produk fashion brand lokal
2. Untuk mengetahui marketing mix yang terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion brand lokal
3. Untuk mengetahui marketing mix yang terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat berpengaruh signifikan terhadap minat beli produk fashion brand lokal
4. Untuk mengetahui minat beli berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion brand lokal
5. Untuk mengetahui marketing mix yang terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk fashion brand lokal melalui minat beli.
2) Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan berguna sebagai kontribusi pemikiran dalam pengembangan keilmuan berkaitan dengan konsep pemasaran dan penambah khasanah penelitian bagi mahasiswa program studi manajemen pemasaran dalam mengeksploirasi mengenai bidang pemasaran yang essensial sehubungan dari efek marketing mix meliputi produk, harga, promosi, dan lokasi terhadap keputusan pembelian produk fashion lokal melalui minat beli pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi dan bahan bacaan atau pemasukan bagi manajer pemasaran pada produk fashion brand lokal dan berguna untuk pengembangan serta menentukan kebijakan strategi pemasaran pada bisnisnya yang sesuai dengan kebutuhan pasar mengenai efek marketing mix meliputi produk, harga, lokasi, dan promosi terhadap keputusan pembelian produk fashion lokal melalui minat beli pada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, baik bagi peneliti, pembaca, maupun produsen produk fashion lokal.