• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2004, telah ditetapkan adanya standar kompetensi kesastraan. Standar kompetensi tersebut diperjelas lagi melalui kompetensi dasar yang perlu diraih dengan diikuti indikator-indikator pencapaianya. Salah satu standar kompetensi yang perlu diraih oleh siswa kelas VIII adalah mengungkapkan pikiran dan perasaan ke dalam puisi bebas.

Pembelajaran Bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa dan satu ketrampilan bersastra. Setiap ketrampilan itu erat sekali berhubungan dengan keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur. Mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal.

Keterampilan menulis tidak diperoleh begitu saja, tetapi diperlukan latihan, karena pembelajaran menulis merupakan suatu proses yang melalalui beberapa tahap. Keterampilan menulis diajarkan di sekolah mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas/kejuruan (SMA/K), dengan tujuan agar siswa mempunyai kemampuan dalam rangka menuangkan ide, gagasan, pikiran, pengalaman, dan pendapatnya dengan baik. Namun pada umumnya, pelaksanaan pembelajaran menulis di sekolah-sekolah masih banyak mengalami hambatan dan belum dapat terlaksana secara baik dan efektif. Keterampilan menulis dan bersastra dapat dikolaborasikan. Salah satu ketrampilan menulis yang mampu dikolaborasikan dengan kemampuan bersastra adalah kemampuan menulis puisi.

Pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu membantu ketrampilan berbahasa,

(2)

commit to user

Ϯ



meningkatkan pengetahuan budaya, pengembangan cipta dan rasa, dan menunjang pembentukan watak. Salah satu cara untuk mengembangkan apresiasi sastra pada anak didik ialah dengan pengajaran puisi. Tujuan pengajaran puisi disekolah adalah agar siswa memperoleh kesadaran yang lebih terhadap dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Memperoleh kesenangan, memperoleh pengetahuan dan pengertian dasar tentang puisi.

Pada dasarnya pembelajaran menulis puisi adalah pembelajaran menulis puisi adalah pembelajaran yang mengajarkan anak didik untuk bebas berekspresi mengungkapkan perasaan dengan bahasa yang indah dan penyampaian yang jujur.

Seharusnya hal tersebut dapat dilakukan dengan baik oleh peserta didik karena mereka hanya mengungkapkan perasaan yang ada saat itu melalui tulisan, tetapi pada kenyataannya hal tersebut sangat susah dilakukan oleh peserta didik pada umumnya tidak terkecuali untuk peserta didik jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain itu, usia SMP anak memang sudah menguasai kosakata Bahasa Indonesia yang lugas dengan cukup baik, tetapi untuk mengkonotasikan atau membuat kata lugas menjadi kata kias masih mengalami kesulitan (Sayuti, 1985 : 208).

Pembelajaran menulis puisi saat ini banyak mengalami kesulitan, menurut Sayuti (1985 : 207) bahan ajar puisi harus diseleksi, dipilih mana yang cocok dengan jenis atau tingkat sekolah. Bahan yang diajarkan di SMP jelas akan berlainan dengan apa yang diajarkan di SMA/SMK. Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa bahan ajar untuk puisi masih mengalami keterbatasan, keterbatasan bahan ajar yang tersedia tersebut adalah salah satu hambatan yang sukar ditembus oleh guru. Tidak jarang guru ingin mencoba strategi tertentu dalam pengajaran, tetapi gagal karena kesulitan menyiapkan bahan yang diperlukan

Kemampuan siswa dalam pembelajaran sastra, khususnya dalam menulis puisi belum maksimal karena masih ada nilai siswa yang hanya sebatas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang ditetapkan. Berdasarkan pengamatan selama proses pembelajaran sebelumnya, salah satu penyebabnya adalah metode pembelajaran yang digunakan kurang menantang dan kurang menarik minat

(3)

commit to user

ϯ



mereka dalam menulis puisi. Metode pembelajaran yang selama ini sering digunakan adalah dengan cara meminta siswa menuliskan sebuah puisi, membacanya di depan teman-teman sekelas, kemudian menyerahkannya kepada guru untuk dinilai. Metode ini sudah sering digunakan, bahkan sejak mereka SD.

Kegiatan menulis puisi sering tidak selesai dilaksanakan di sekolah. Berbagai alasan dikemukan oleh siswa, misalnya mereka sulit memusatkan konsentrasi dalam mengembangkan daya imajinasinya meskipun ide atau tema yang akan dikembangkannya sudah ada dan sudah terpikirkan. Siswa mengaku inspirasi dan imajinasinya jadi tumpul, konsentrasi terganggu, bosan, malas berpikir, tidak ada ide, tidak ada mood dan beberapa alasan lainnya. Beberapa siswa mengaku akan lebih nyaman bila kegiatan menulis dilaksanakan di rumah. Kemudian atas persetujuan guru, biasanya siswa dibiarkan menyelesaikan puisi itu di rumah dan diminta menyerahkan hasil karyanya pada pertemuan berikutnya atau seminggu kemudian.

Membiarkan siswa menulis puisi di rumah sangat tidak efektif. Guru sama sekali tidak melihat proses pengembangan ide yang dilakukan oleh siswa.

Kompetensi siswa dalam menulis puisi tidak dapat diketahui dengan pasti bila proses penulisannya tidak disaksikan oleh guru. Kegiatan pembelajaran seperti ini menyulitkan guru memantau hasil belajar karena terdapat kemungkinan siswa dibantu oleh orang lain atau menyalin ulang puisi yang terdapat dalam majalah, internet atau sumber lainnya.

Sehubungan dengan peningkatan minat dan kemampuan siswa dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan tersebut, dibutuhkan solusi dalam memilih metode yang tepat dan menyenangkan untuk memotivasi siswa mengembangkan imajinasinya ke dalam bentuk puisi dan dapat dilaksanakan di sekolah (di dalam kelas atau di luar kelas) atau tidak dibawa pulang. Dengan demikian, bila siswa telah berani menuangkan daya imajinasinya, dan proses pengembangannya dapat disaksikan oleh guru, kemampuan siswa dalam menulis sebuah puisi dapat tercapai dengan maksimal dan sesuai dengan harapan.

Sesuai dengan silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VIII semester 2 kompetensi dasar menulis yang harus dikuasai siswa sangat beragam,

(4)

commit to user

ϰ



salah satu Kompetensi Dasar (KD) yang harus dikuasai adalah menulis puisi baru.

Dalam silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VIII semester 2 tertulis K.D 16.1 Menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai dari pembelajaran tersebut adalah siswa mampu menuangkan ide/gagasan menjadi sebuah puisi yang indah dari segi bentuk dan isi yang terkandung di dalamnya.

Berdasarkan survei dan hasil pengamatan awal yang dilakukan peneliti pada hari Selasa tanggal 9 Januari 2013, pembelajaran menulis puisi yang dilaksanakan di SMP Negeri 2 Weru belum berjalan dengan baik, banyak hal yang masih perlu diperbaiki dalam pembelajaran menulis puisi, adapun permasalahan yang ditemui, yaitu 1) guru belum menggunakan metode dan media pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan variatif; 2) minat siswa terhadap pembelajaran menulis puisi sangat rendah; 3) kurangnya penguasaan diksi oleh siswa sehingga siswa tidak mendapat ide ataupun bayangan saat akan menulis sebuah puisi; 4) sarana dan prasarana sekolah yang belum dikelola secara maksimal; 5) banyak siswa yang tidak tuntas KKM pada hasil tes keterampilan menulis puisi yang telah ditentukan sekolah, yaitu 71. Pada tes pratindakan menulis puisi, hanya terdapat 36,36% atau 12 siswa dari jumlah keseluruhan 33 siswa yang mencapai KKM, yakni mendapatkan nilai 71 ke atas. Artinya sebagian besar yaitu 21 siswa mendapat nilai di bawah 71 atau dapat dikatakan bahwa sebanyak 63,64% siswa belum tuntas dalam pembelajaran menulis puisi. Untuk lebih jelasnya peneliti sajikan dalam bentuk tabel seperti di bawah ini.

(5)

commit to user

ϱ



Tabel 1. Nilai Pretes Keterampilan Menulis Puisi No Interval

Nilai

Frekuensi (fi)

Presentase % 1

2 3 4 5

81 – 85 76 – 80 71 – 75 66 – 70 61 – 65

0 0 12 11 10

0 0 36,36 33,34 30,30

Jumlah 33 100,0

Nilai Rata-rata = 2278 : 33 = 69,03 Ketuntasan Klasikal = 12 : 33 x 100% = 36,4%

Berdasarkan hasil tersebut di atas, secara bersama peniliti dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VIII SMP Negeri 2 Weru (Ibu Dra. Tri Indah Gayasih) berkolaborasi untuk mengidentifikasi penyebab kekurangberhasilan siswa dalam menulis puisi. Selain karena kurangnya minat dan kemampuan siswa untuk menulis puisi, masalah lain yang peneliti temukan adalah kurangnya metode yang digunakan guru dalam pembelajaran, kurang bervariatif.

Pembelajaran yang dilakukakn guru masih bersifat konvensional, yaitu dengan metode ceramah saat menyampaikan materi ajar. Kemudian setelah siswa mengerjakan tugas, guru tidak melakukan evaluasi ataupun refleksi guna mengetahui kesulitan yang dihadapi siswa ataupun siswa yang tidak mau berterus terang saat mereka mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Mereka masih tidak berani atau malu untuk mengutarakan pendapatnya. Selain itu, media yang tersedia pun tidak digunakan secara baik. Guru hanya menggunakan buku diktat ataupun Lembar Kerja Siswa saat menyampaikan materi. Hal tersebutlah yang dianggap sebagai hal yang berpengaruh terhadap minat serta kemampuan dan hail belajar yang dicapai oleh siswa.

Setelah masalah teridentifikasi, peneliti dan guru kolaborator mencari solusi untuk mengatasi permasalahan yang ada. Namun sebelumnya, secara bersama guru kolaborator dan peneliti menentukan kelas yang akan digunakan

(6)

commit to user

ϲ



sebagai subjek penelitian. Kemudian terpilihlah kelas VIIIC SMP Negeri 2 Weru.

Sekolah yang berada di tepi jalan Watukelir Cawas ini adalah sekolah favorit yang berada di lingkungan Kecamatan Weru. Menurut guru kolaborator, siswa kelas VIIIC telah mewakili keseluruhan siswa kelas VIII yang berada di SMP Negeri 2 Weru ini, karena di dalam kelas tersebut terdapat siswa yang benar-benar pandai, benar-benar bodoh, ataupun siswa yang benar-benar pendiam serta siswa yang sering mendapat teguran atau hukuman karena kenakalannya.

Subjek penelitian telah ditentukan, kemudian peneliti dan guru kolaborator mencoba untuk mencari solusi yang baik, dengan beberapa alternatif yang peneliti ajukan dengan beberapa pertimbangan pula akhirnya disepakati satu alternatif guna mengatasi masalah yang dihadapi siswa dalam pembelajaran menulis, yaitu masih rendahnya kemampuan serta minat saat menulis puisi pada siswa kelas VIIIC SMP Negeri 2 Weru. Peneliti dan guru kolaborator sepakat untuk menggunakan metode menulis berantai dan memanfaatkan media lagu, yaitu metode menulis dengan cara berantai secara berkelompok. Jadi siswa akan terbantu dengan kata-kata berantai yang telah temannya terlebih dahulu kemukakan. Mereka juga dilibatkan dalam pemilihan tema untuk media audio- visual yang guru kolaborator serta peneliti akan gunakan. Contoh media lagu yang dapat digunakan adalah media lagu audio-visual dengan menggunakan lagu-lagu yang bertemakan tentang persahabatan atau yang bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui media yang disajikan secara audio-visual tersebut, siswa akan terbantu dalam pembelajarannya. Karena ide untuk menulis puisi dapat mereka peroleh ketika memperhatikan lagu tersebut.

Materi ini sangat menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi guru maupun pihak yang terkait. Oleh karena itu, penelitian ini diberi judul “Penggunaan Metode Menulis Berantai dan Media Lagu untuk Meningkatkan Minat serta Kemampuan Menulis Puisi pada Siswa Kelas VIIIC SMP Negeri 2 Weru”.

(7)

commit to user

ϳ



B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dirumuskan di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan menjadi :

1. Apakah penggunaan metode menulis berantai dan pemanfaatan media lagu dapat meningkatkan minat menulis puisi pada siswa kelas VIIIC SMP Negeri 2 Weru?

2. Apakah penggunaan metode menulis berantai dan pemanfaatan media lagu dapat meningkatkan kemampuan menulis puisi pada siswa kelas VIIIC SMP Negeri 2 Weru?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, penelitian ini bertujuan untuk :

1. Meningkatkan minat menulis puisi melalui penggunaan metode menulis berantai dan pemanfaatan media lagu pada siswa kelas VIIIC SMP Negeri 2 Weru.

2. Meningkatkan kemampuan menulis puisi melalui penggunaan metode menulis berantai dan pemanfaatan media lagu pada siswa kelas VIIIC SMP Negeri 2 Weru.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis

Untuk menambah wawasan atau khazanah keilmuan yang terkait dengan kemampuan menulis puisi, pengaruh media lagu dan minat menulis.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa

Meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis puisi melalui proses yang menarik dan menyenangkan, yaitu melalui penggunaan media lagu audiovisual.

(8)

commit to user

ϴ



b. Bagi Guru

Memberikan masukan dalam memilih media yang sesuai dengan materi pembelajaran, sehingga proses belajar mengajar menarik dan pencapaian hasil belajar siswa meningkat.

c. Bagi Sekolah

Sebagai acuan pembelajaran yang inovatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Gambar

Tabel 1. Nilai Pretes Keterampilan Menulis Puisi  No  Interval    Nilai  Frekuensi      (fi)  Presentase        %  1  2  3  4  5  81 – 85 76 – 80 71 – 75  66 – 70  61 – 65    0   0   12  11    10     0    0  36,36 33,34 30,30  Jumlah       33      100,0  N

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini membuat peneliti menyadari kain Ulos Tumtuman memiliki potensi yang tinggi untuk kemudian dikembangkan lebih lanjut kedalam produk busana siap pakai, agar

Sumberdaya kognitif seseorang dapat diolah melalui belajar menari, yang mana tari berfungsi sebagai sarana pendidikan untuk mengembangkan potensi emosional, bahkan tari

Dari fenomena yang tejadi dapat kita pahami bahwa perusahaan yang telah go public saja masih dapat melakukan tindakan manajemen laba, padahal seharusnya

selanjutnya disebut Panitia Nasional (PANSELNAS) adalah Panitia yang dibentuk oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi untuk menyiapkan dan

Kesimpulan dari hasil pengamatan kerjasama peserta didik dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada mata pelajaran Aqidah Akhlak peserta

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI BARAT TENTANG PEMBENTUKAN KAMPUNG BALOK ASA, KAMPUNG SIMPANG RAYA, KAMPUNG MUYUT AKET, KAMPUNG TERAJUK, KAMPUNG LAKAN BILEM,

“PERANCANGAN SERTA PEMBUATAN SISTEM EXPERT ADVISOR GUNA MENGOTOMATISASIKAN PELAKSANAAN OPERASI PERDAGANGAN VALAS PADA META TRADER 4 BERDASARKANx.

Tujuan dari pembuatan tugas akhir ini adalah untuk membuat aplikasi yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran interaktif mengenal kosa kata bahasa asing dengan realitas