• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga PAUD bukan sekadar tempat ’belajar’, namun juga menjadi tempat bermain untuk memacu Kreativitas anak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Lembaga PAUD bukan sekadar tempat ’belajar’, namun juga menjadi tempat bermain untuk memacu Kreativitas anak "

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih. Usaha ini dilakukan supaya anak lebih siap mengikuti pendidikan selanjutnya. Adapun yang menjadi tujuan program kegiatan belajar anak di taman kanak-kanak adalah untuk membatu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.

Lembaga PAUD bukan sekadar tempat ’belajar’, namun juga menjadi tempat bermain untuk memacu Kreativitas anak . Pendidikan anak usia dini ini dilaksanakan oleh beberapa lembaga pendidikan antara lain pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan anak usia dini jalur formal berbentuk taman kanak-kanak (TK) dan Raudatul Athfal (RA) dan bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini jalur nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), sedangkan PAUD pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan lingkungan seperti bina keluarga balita dan posyandu yang terintegrasi PAUD atau yang kita

1

(2)

kenal dengan Satuan Paud Sejenis (SPS). Anak usia dini merupakan masa yang sering disebut dengan Golden Age, masa setiap aspek pengembangan seperti sosial emosional, kognitif, bahasa, motorik halus, motorik kasar, dan Kreativitas yang ada dalam diri anak dapat berkembang dengan pesat dimana pada dasarnya kreativitas sudah ada sejak anak lahir. Namun perlu distimulus kembali lewat lingkungannya sehingga perkembangan kreativitas dapat meningkat.

Pada dasarnya Kreativitas sudah ada sejak anak lahir. Namun perlu distimulus kembali lewat lingkungannya sehingga perkembangan Kreativitas dapat meningkat. Anak usia 5-6 tahun, berada pada tahap perkembangan awal masa kanak-kanak, yang memiliki karakteristik berpikir konkrit, realisme, sederhana, animisme, sentrasi, dan memiliki daya imajinasi yang kaya. Oleh karena karakteristik anak usia dini tersebut perlu diketahui bahwa anak juga cenderung menunjukkan kreativitasnya lewat bermain kreatif.

Dalam UUD No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 3 mengatakan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Hal tersebut menyatakan bahwa pendidikan nasional juga terlibat atau berperan serta dalam mengembangkan Kreativitas (daya cipta) yang hendaknya dimulai pada usia dini. Kreativitas perlu dipupuk, dikembangkan dan ditingkatkan, disamping mengembangkan kecerdasan dan ciri-ciri lain yang

(3)

menunjang pembangunan.Potensi kreatif yang sangat penting tersebut pada dasarnya dimiliki oleh setiap anak, bahwa anak-anak memiliki ciri-ciri oleh para ahli sering digolongkansebagai ciri individu kreatif, misalnya: rasa ingin tahu yang besar, senang bertanya, imajinasi yang tinggi, berani menghadapi resiko, senang akan hal-hal yang baru, dan lain sebaginya. Meskipun demikian faktor orang tua, guru di sekolah, dan lingkungan merupakan faktor penting yang sangat mempengaruhi perkembangan Kreativitas tersebut.

Mengembangkan kreativitas anak memerlukan peran penting pendidik hal ini secaraumum sudah banyak dipahami. Anak kreatif memuaskan rasa keingintahuannya melalui berbagai cara seperti berekplorasi, bereksperimen dan banyak mengajukan pertanyaan pada orang lain. Anak kreatif dan cerdas tidak terbentuk dengan sendirinya melainkan perlu pengarahan salah satunya dengan memberi kegiatan yang dapat mengembangkan kreativitas anak. Fenomena yang ada selama ini kreativitas yang dimiliki oleh masyarakat pada umumnya masih rendah. Hal ini dapat diketahui dengan masih banyaknya orang–orang yang belum mampu menghasilkan karyanya sendiri, mereka masih meniru karya milik orang lain. Keadaan tersebut disebabkan kurangnya pengembangan anak usia dini. Anak usia dini pada khususnya di Raudhatul Athfal DDI Al-Furqan juga masih memiliki daya kreativitas yang rendah. Hal ini dapat di lihat dari kegiatan anak sehari-hari dimana masih menunggu pendidik, tidak mempunyai ide sendiri, belum bisa mengungkapkan idenya sendiri kalau tidak dibantu oleh guru, anak- anak masih tergantung dengan pendidik

(4)

Kreativitas merupakan suatu aktivitas dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang berarti dan bermanfaat. Kreativitas dapat terwujud di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja tanpa memandang usia maupun tingkat pendidikan tertentu. Anak merupakan generasi penerus bangsa yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat alami. Dari generasi ke generasi masyarakat suatu bangsa akan mengalami pertumbuhan yang berbeda dimana kualitas masyarakatnya akan ditentukan oleh pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh dan dimilikinya baik secara formal non formal maupun informal.

Masyarakat yang memperoleh pengalaman dan pembelajaran yang berkualitas tentu saja akan menjadikan generasi yang berkualitas pula, begitu juga sebaliknya.

Salah satu indikator yang menentukan kualitas suatu generasi masyarakat ditentukan oleh pendidikan yang diperoleh semasa hidupnya. Kreativitas juga sering dikaitkan dengan bagaimana cara seseorang memecahkan suatu permasalahan dengan cara berpikirnya sendiri dan dapat menghasilkan solusi yang baik. Pola berpikir kreatif ini juga dimiliki anak usia dini. Pola berpikir kreatif dapat diasah melalui kegiatan kegiatan serta aktivitas yang disuguhkan dan diberikan oleh lingkungan sekitar. Dalam hal ini yang berperan cukup besar bagi perkembangan Kreativitas anak usia dini adalah guru.

Untuk mengembangkan Kreativitas anak, guru sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk berekpresi dan mengeksplorasi kegiatan yang mereka inginkan. Dengan demikian pula guru perlu menyiapkan berbagai pendekatan dan media pembelajaran yang akan membuat anak bebas

(5)

mengeksplorasi dan mengekspresikan dirinya, salah satunya dengan melipat kertas atau biasa disebut dengan “origami” . Dengan melipat anak dapat mengembangkan kreativitas, melipat kertas 1-5 atau 1-6 lipatan adalah sebuah seni melipat, artinya dengan bahan dasar kertas lipat ini kreativitas seni ini dilakukan dan dikembangkan. Namun pada kenyataannya kreativitas anak masih kurang, terlihat saat kegiatan belajar mengajar di kelas, misalnya saja anak kurang bisa mengemukakan pendapat atau perasaannya melalui melipat kertas atau

“origami” anak sering kali terlihat mencontoh teman yang ada disebelahnya saat melipat menggunakan kertas, anak masih banyak bertanya pada guru dalam mengerjakan tugas, anak kurang mempunyai gagasan saat melipat kertas, dalam mencocok anak mengerjakannya tidak sesuai perintah.

Berdasarkan observasi awal fenomena yang terjadi di Raudhatul Athfal DDI AL-Furqan Kecamatan Ujung Kota Parepare, menemukan kreativitas anak belum berkembang dengan baik itu terlihat apabila kegiatan menggunakan media kertas anak hanya dapat melipat dan membuat bola yang mana lainnya sering dilakukan sebelumnyaketika anak diajak untuk membuat sesuatu yang baru anak tidak mampu itu dan kebanyakan mereka kebingungan atau duduk diam tanpa melakukan apapun sebab mereka tidak tahu apa yang mereka harus lakukan. Hal ini menjadi fenomena yang harus dicari jalan keluarnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui permasalahan sebenarnya secara tepat dan akurat diperlukan suatu kajian empirik (Penelitian sebagai upaya pelaksanaan perbaikan pendidikan di Raudhatul Athfal DDI AL-Furqan Kecamatan Ujung Kota Parepare), diharapkan

(6)

guru dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik sehingga dapat menjadi dasar yang kuat.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merasa perlu melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan materi peningkatan Kreativitas yang berjudul

“Meningkatkan Kreativitas Anak Melalui Melipat Kertas Di Raudhatul Athfall DDI Al-Furqan Kecamatan Ujung Kota Parepare”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah bagaimana meningkatkan kreativitas anak melalui melipat kertas di Raudhatul Athfall DDI Al-Furqan Kecamatan Ujung Kota Parepare.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui dalam hal meningkatkan kreativitas anak melalui melipat kertas di Raudhatul Athfall DDI Al-Furqan Kecamatan Ujung Kota Parepare.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:

1. Manfaat Teoritis

a. Bagi Akademik/Lembaga pendidikan , menjadi bahan informasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang peningkatan Kreativitas pada anak usia dini.

(7)

b. Bagi Peneliti: Menjadi masukan dalam meneliti dan meningkatkan kreativitas yang berkaitan dengan meningkatkan kreativitas anak melalui melipat kertas.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Lembaga atau Sekolah

Memberi sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah yang tercermin dari peningkatan kreativitas anak sehingga memperbaiki proses dari hasil belajar anak.

b. Bagi Guru/Pendidik

Agar dapat dijadikan pedoman dalam membuat rancangan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar guru khususnya dalam meningkatkan kreativitas anak melalui melipat kertas.

c. Orang tua

Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan peranaannya dalam memberikan dan menyediakan media pembelajaran agar kreativitas anak dapat berkembang melalui melipat kertas.

d. Bagi Anak didik

Agar dapat meningkat kreativitas dan minat belajar anak.

(8)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA FIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka

1. Kreativitas Anak Usia Dini a. Pengertian Kreativitas

Ditinjau dari berbagai aspek kehidupan, pengembangan kreativitas sangatlah penting. Banyak permasalahan serta tantangan hidup menuntut kemampuan adaptasi secara kreatif dan kepiawaian dalam mencari pemecahan masalah yang imajinatif. Kreativitas yang berkembang dengan baik akan melahirkan pola pikir yang solutif yaitu ketrampilan dalam mengenali permasalahan yang ada, serta kemampuan membuat perencanaan-perencanaan dalam mencari pemecahan masalah. Banyak definisi tentang kreativitas yang dikemukakan oleh para ahli, yang biasanya diartikan sebagai daya cipta, sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal baru.

Menurut Munandar (1999: 6) kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Menurut Suratno (2005: 24) kreativitas merupakan bentuk aktivitas imajinatif yang mampu menghasilkan sesuatu yang bersifat asli/ original. Menurut Nursisto (1999: 37) kreativitas adalah kemampuan untuk berhayal. Misalkan anak berhayal merayakan hari ulang tahunnya , maka dengan sendirinya pikiran yang terbayang adalah roti ulang tahun yang cantik. Dari beberapa sumber di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang baru

8

(9)

sesuai imajinasi atau khayalannya yang merupakan suatu proses mental individu yang melahirkan gagasan, proses, metode ataupun produk baru yang efektif yang bersifat imajinatif, estesis, fleksibel, integrasi, suksesi, diskontinuitas, dan diferensiasi yang bedaya guna dalam berbagai bidang untuk pemecahan sesuatu masalah.

b. Ciri-Ciri Kreativitas

Anak kreatif mempunyai ciri-ciri tersendiri, biasanya anak yang kreatif memiliki sifat-sifat seperti, selalu ingin tahu, memiliki minat yang sangat luas dan suka melakukan aktifitas yang kreatif. Anak dan remaja kreatif biasanya cukup mandiri dan lebih pede. Bila dibandingkan dengan kebanyakan anak pada umumnya dengan perhitungan yang cukup, anak kreatif lebih berani mengemukakan pendapatnya dan tidak takut melakukan kesalahan, meskipun tidak disetujui ataupun bertentangan dengan pendapat orang lai. Untuk melakukan sesuatu yang disukainya, berdasarkan perhitungan dan pertimbangannya, mereka juga lebih berani dalam mengambil resiko bahkan tidak terlalu menghiraukan kritik dan ejekan dari orang lain.

Menurut Utami Munandar (Ngalimun, Fadillah, & Ariani, 2013 :54) ciri-ciri kreativitas, antara lain :

a) Senang mencari pengalaman baru, b) memiliki keasyikan dalam mengerjakan tugas-tugas yang sulit, c) memiliki inisiatif, d) memiliki ketekunan yang tinggi, e) cenderung kritis terhadap orang lain, f) berani meyatakan pendapat dan keyakinannya, g) selalu ingin tahu, h) peka atau perasa, i) enerjik dan ulet, j) menyukai tugas-tugas yang majemuk, k) percaya diri sendiri, l) mempunyai rasa humor, m) memiliki rasa homor, n) berwawasan masa depan dan penuh imajinasi.

Menurut para ahli (Pamilu, 2007:16 ) bahwa :

(10)

Anak yang kreatif memiliki apontanitas dan energi yang luar biasa.

Mereka memiliki sifat sebagai petualangan. Pribadi yang kreatif biasanya memiliki rasa humor yang tinggi, dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut serta memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu ide yang baru konsep-konsep ataupun keinginan yang diimajinasikan yang dituangkan menjadi berbagai penemuan, karya sastra ataupun seni.

Adapun proses kreatif akan terjadi jika dibangkitkan melalui masalah yang mengacu pada lima macam perilaku kreatif sebagaimana dipaparkan oleh Parnes (Rachmawati, 2010 :14) sebagai berikut :

1. Fluency (kelancaran), yaitu kemampuan mengemukakan ide yang serupa untuk memecahkan suatu masalah, 2) Fleksibility (keluwesan) yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai macam ide guna memecahkan suatu masalah diluar kategori yang biasa, 3) Originality (keaslian), yaitu kemampuan memberikan respon yang unik atau luar biasa, 4) Elaboration (keterperincian) yaitu kemampuan menyampikan pengarahan ide secara terperinci untuk mewujudkan ide menjadi kenyataan, 4) Sensitivity (kepekaan), yaitu kepekaan menangkap dan menghasilkan masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi.

Jadi, dikatakan kreatif jika peka (Sensitivity) dalam mengemukakan sesuatu gagasan (Fluency) untuk menghasilkan metode atau produk baru (Fleksibility) dan terperinci (Elaboration) yang berguna dalam berbagai bidang.

c. Tujuan Pengembangan Kreativitas

Menurut Munandar (1999: 31) menekankan perlunya kreativitas dipupuk sejak dini, disebabkan beberapa faktor di bawah ini :

1) Dengan berkreasi orang dapat mewujudkan dirinya. Perwujudan diri merupakan kebutuhan pokok pada tingkat tertinggi dalam hidup manusia, 2) Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya, 3) Kreativitas atau berfikir kreatif sebagai suatu kemampuan untuk melihat bermacam – macam kemungkinan penyelesaian suatu masalah. Hal inilah yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan. Di sekolah yang masih menjadi fokus perhatian adalah penerimaan pengetahuan, ingatan dan penalaran, 4) Bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat bagi diri pribadi dan lingkungannya, tetapi juga memberikan kepuasan

(11)

kepada individu, 5) Kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kwalitas hidupnya secara individu serta kwalitas hidup seluruh umat manusia.

Selanjutnya menurut Nursisto (1999: 109) mengemukakan bahwa : berkembangnya kemampuan siswa untuk menggali kreativitas akan menjadikan anak akan percaya diri, mengurangi rasa takut salah, serta rendah diri. Apabila sudah timbul rasa percaya diri dan hilangnya rasa rendah diri maka siswa akan jadi optimis. Dengan begitu siswa lebih semangat mengikuti semua pelajaran di sekolah. Dengan tujuan dan fungsi pengembangan kreativitas sebagaimana yang telah dipaparkan di atas maka ruang lingkup dalam pengembangan kreativitas harus ada pada pendidikan taman kanak-kanak.

Menurut Menurut Montolalu, dkk (2009: 3.5) mengemukakan tujuan pengembangan kreativitas ada 5 yaitu :

1)Mengenalkan cara mengekspresikan diri melalui hasil karya dengan menggunakan teknik-teknik yang dikuasainya, 2) Mengenalkan cara dalam menemukan alternative pemecahan masalah, 3) Membuat anak memiliki sikap keterbukaan terhadap berbagai pengalaman dengan tingkat kelenturan dan toleransi yang tinggi terhadap ketidakpastian, 4) Membuat anak memiliki kepuasaan diri terhadap apa yang dilakukannya dan sikap menghargai hasil karya orang lain, 5) Membuat anak kreatif, yaitu anak yang memiliki : a.kelancaran untuk mengemukakan gagasan, b.kelenturan untuk mengemukakan berbagai alternative pemecahan masalah, c.orisinalitas dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran, d.elaborasi dalam gagasan, e.keuletan dan kesabaran atau kegigihan dalam menghadapi rintangan dan situasi yang tidak menentu.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kreativitas

Hasil penelitian beberapa ahli di atas menunjukkan bahwa faktor – faktor dalam kreativitas meliputi : daya imajinasi, rasa ingin tahu dan orisinalitas (kemampuan menciptakan sesuatu yang baru dan tidak biasa) dapat mengimbangi kekurangan dalam daya ingat, daya tangkap, penalaran, pemahaman terhadap tugas dan factor lain dalam intelegensi. Jadi, pendidikan yang berorientasi pada

(12)

pengembangan kreativitas sangatlah penting. Kreativitas perlu dicari / dilatih oleh pendidik dan orang tua, setiap anak pada dasarnya memiliki potensi akan kreativitasnya. Oleh karena itu pendidik atau orang tua harus bisa meningkatkan kreativitas dengan melakukan pengamatan dan penilaian secara terus menerus dan berkesinambungan sebagai alat pemantau keefektifan kemampuan berkreativitas.

Menurut Montolalu,dkk (2009: 3.8) ada beberapa faktor lingkungan

yang dapat menunjang dan menghambat kreativitas, yang dapat dilihat pada tabel 2.1 faktor lingkungan yang menunjang dan menghambat kreativitas, sebagai berikut :

Tabel 2.1 Lingkungan yg mempengaruhi kreativitas Jenis Lingkungan yang

Terlibat

Lingkungan yang Menunjang

Lingkungan yang Menghambat Sarana prasarana Suasana kelas (pengaturan

fisik di kelas) bersifat fleksibel

Suasana kelas kaku

Orang dewasa (Guru, Kepala Sekolah)

Sering mengajukan pertanyaan terbuka (mengapa, bagaimana, kira-kira, pendapat kamu

tentang...

Selalu mengajukan pertanyaan tertutup

Program pembelajaran

Kegiatan-kegiatan yg disajikan penuh tantangan

sesuai dg usia dan karakteristik anak

Kegiatan yg disajikan sulit, membuat anak

frustasi Orang dewasa

Berperan sebagai model, fasilisator, mediator,

inspirator

Berperan sebagai instruksi Orang dewasa Mendorong anak untuk

belajar mandiri

Cenderung membantu dan

melayani Program pembelajaran Anak ikut ambil bagian pada

pembelajaran

Tidak melibatkan anak secara aktif Program pembelajaran Menekankan pada proses

belajar

Lebih mementingkan produk/ hasil belajar Orang dewasa Menghindari memberikan Cenderung

(13)

contoh

dan mengarahkan pemikiran anak

memberikan contoh dan berada di depan

anak untuk mengarahkan Orang dewasa Sebagai mitra belajar

Sebagai sumber belajar dan penyampai informasi

satusatunya Sumber : Montolalu,dkk (2009: 3.8)

e. Indikator Kreativitas

Indikator yang digunakan dalam meningkatkan kreativitas anak sebagaimana dipaparkan oleh parnes (Rahmawati, 2010) yaitu 1) mampu berfikir lancar (fluency), 2) mampu membuat berbagai macam ide dengan cepat dan mudah (fleksibility), 3) mampu menciptakan ide yang unik dan baru (Originality), 4) mampu mewujudkan idenya menjadi kenyataan (elaboration).

2. Melipat Kertas

a. Pengertian Melipat Kertas

Melipat adalah suatu teknik berkarya seni / kerajinan tangan yang umumnya dibuat dari bahan kertas dengan tujuan untuk menghasilkan aneka bentuk mainan, hiasan, benda fungsional, alat peraga dan kreasi lainnya. Bagi anak usia Taman Kanak-Kanak, melipat merupakan salah satu bentuk kegiatan bermain kreatif yang menarik dan menyenangkan. Melalui kegiatan ini dapat mengembangkan kompetensi pikir, imajinasi, rasa seni dan ketrampilan anak. Secara khusus kegiatan melipat bertujuan untuk melatih daya ingatan, pengamatan, ketrampilan tangan, mengembangkan daya fantasi, kreasi, ketelitian, kerapian dan perasaan keindahan.

(14)

Sumanto (2005 : 99-100) mengemukakan bahwa :

Melipat dilakukan dengan cara mengubah lembaran kertas berbentuk bujursangkar, empat persegi panjang, atau segitiga menurut arah atau pola lipatan yang diinginkan. Adapun kreativitas melipat yang dimaksudkan di sini adalah kegiatan berlatih membuat sesuatu bentuk / model lipatan yang hasilnya bias ditempelkan pada kertas gambar.

Hasil dari lipatan yang ditempel ditambahkan hiasan dan guntingan dapat pula dijadikan hiasan gantung dengan ditambahkan tali / benang dan difungsikan sebagai mainan.

Selanjutnya MS. Sumantri (2005:150) mengatakan bahwa :

Melipat pada hakikatnya merupakan kegiatan ketrampilan tangan untuk menciptakan bentuk-bentuk tertentu tanpa menggunakan bahan perekat (lem). Ketrampilan ini membutuhkan ketrampilan koordinasi tangan, ketelitian dan kerapian serta kreativitas kegiatan melipat jika disajikan sesuai dengan minat anak akan memberikan keasyikan dan kegembiraan serta kepuasan bagi anak.

Melipat kertas pada anak usia dini antara meliputi:

1) Latihan dasar bentuk garis tegak, datar, dan miring. 2) Lipatan dasar bentuk kotak empat dan 16. 3) Lipatan dasar segi tiga rangkap. 4) Lipatan dengan menambah sedikit guntingan dan menempelkan kertas lain pada hasil lipatan.Dari bentuk lipatan dasar tersebut dapat menghasilkan aneka lipatan seperti burung, kapal, rumah, bunga, pigura, dan bentuk lain yang lebih bervariatif. Melipat kertas adalah salah satu media untuk membantu otot motorik halus, daya pikir, perasaan sensitif, dan keterampilan yang tingkat kesulitannya disesuaikan dengan usia anak.

b. Manfaat Melipat Kertas

Melipat kertas anak akan belajar berimajinasi dengan melalui kegiatan melipat ini. Apalagi ketika ia telah mencoba berkreasi dengan sesuatu bentuk yang baru tanpa meniru. Aktifitas melipat kertas itu sendiri ternyata juga sangat

(15)

disenangi oleh hampir semua anak-anak. Maka bagi orang tua yang sudah mengerti manfaat dan nilai positifnya bagi mereka, tentu tidak akan melewatkan aktifitas, sarana dan kesempatan ini begitu saja.

Ester (2009) mengungkapkan beberapa manfaat melipat kertas bagi Anak Usia Dini seperti :

1).Melatih kreativitas pada anak sekaligus sebagai sarana bermain yang aman, murah, menyenangkan dan kaya manfaat. 2).Lewat seni melipat anak belajar membuat mainannya sendiri, sehingga menciptakan kepuasan dibanding dengan mainan yang sudah jadi dan dibeli di toko mainan. 3).Membentuk sesuatu dari melipat perlu melewati tahapan dan proses, tahapan ini mengajari anak untuk tekun, sabar serta disiplin untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan. 4).Lewat origami anak juga diajarkan untuk menciptakan sesuatu, berkarya dan membentuk model sehingga membantu anak memperluas ladang imajinasi mereka dengan bentuk lipatan yang dihasilkan. 5).Kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi anak ketika anak berhasil menciptakan sesuatu dari tangannya sendiri. 6).Belajar membaca gambar lewat bentuk-bentuk yang dibuat melalui melipat kertas. 7).Melatih anak berkomunikasi, mengungkapkan apa yang dipikirannya. 8).Memberikan waktu bermain yang menyenangkan bersama orang tua/guru, seperti mengkomunikasikan bentuk apa yang tercipta dari selembar kertas yang dilipat. 9).Anak akan berlatih bertanya kepada orang tua/guru bila terganjal kesulitan

c. Tingkatan Melipat Kertas

Melipat kertas mempunyai 3 tingkatan dilihat dari bentuk lipatannya, yaitu dimulai dari tingkatan dasar, menengah, dan lanjutan.

1) Tingkatan Dasar

Tingkatan dasar ditujukan untuk para pemula. Dalam tingkatan dasar, bentuk lipatan masih sangat sederhana dan bentuk-bentuk dari origami pun hanya sebatas bentuk awal untuk membentuk sesuatu.

Ada beberapa contoh bentuk lipatan dasar, yaitu: a) Lipatan dasar bentuk burung, b) Lipatan dasar bentuk kodok, c) Lipatan dasar bentuk ikan

(16)

2) Tingkatan Menengah

Pada tingkat menengah, anak-anak akan dilatih tentang keutamaan dalam melipat. Dimana pada tingkat menengah ketelitian sudah mulai untuk dipergunakan karena bentuk lipatan yang sederhana namun mulai lebih kompleks lebih mendetail.

Bentuk kupu-kupu merupakan bentuk yang sangat sering di buat dalam tingkat menengah ini. Biasanya pada saat awal memulai tingkat menengah.

Beberapa bentuk origami pada tingkatan menengah adalah sebagai berikut : a) Lipatan bentuk burung ,b) Lipatan bentuk kupu-kupu, c) Lipatan bentuk kucing

3) Tingkatan Lanjutan

Pada tingkat lanjutan, jenis lipatan menjadi sangat sulit karena bentuk- bentuk yang dibuat pun tidak lagi mengacu pada bentuk-bentuk yang biasa seperti kupu-kupu yang berada pada tingkat menengah, akan tetapi bisa dalam bentuk robot, naga, ataupun bentuk yang lain sangat beragam dan mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi.

Berdasarkan tingkatan melipat kertas yang telah diuraikan maka peneliti menggunakan tingkatan dasar dan tingkatan menengah karena kemampuan kreativitas anak masih dalam bentuk lipatan yang sangat sederhana dan bentuk- bentuk dari origami pun hanya sebatas bentuk awal untuk membentuk sesuatu.

Tetapi ada pula anak yang dalam lipatannya sudah dikategorikan menengah sudah mulai untuk dipergunakan karena bentuk lipatan yang sederhana namun mulai lebih kompleks lebih mendetail.

(17)

d. Langkah-langkah Pelaksanaan Melipat Kertas

Langkah - langkah kegiatan melipat kertas Menurut Departemen Pendidikan Nasional (2006) adalah

1) Menyiapkan alat dan bahan berupa kertas, gunting, lem 2) Menggunting kertas sesuai dengan pola yang diinginkan

3) Kertas tersebut dibentuk menjadi bentuk tiruan seperti topi, amplop pesawat dan bentuk bunga menggunakan lem.

B. Kerangka Pikir

Dalam hal ini melipat kertas akan lebih menarik minat anak untuk meningkatkan kreativitas, karena anak bisa bermain tanpa rasa bosan sehingga tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan melipat kertas guru harus menentukan langkah-langkah dalam kegiatan melipat kertas, yakni menyiapkan alat dan bahan yang digunakan dalam pembelajaran, menjelaskan cara melipat yang baik dan rapi, anak melipat kertas sesuai dengan kreativitasnya masing-masing dan memberikan pujian jika anak mampu melipat kertas dengan baik. Kemudian guru melihat apakah anak sudah dapat mengembangkan kreativitasnya dalam melipat.

Berdasarkan uraian di atas maka digambarkan kerangka fikirnya Skema dari kerangka pikir adalah sebagai berikut :

(18)

Gambar 2.1 Kerangka Pikir Penelitian C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka pikir di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah “ Jika kegiatan melipat kertas diterapkan maka kreativitas anak di Raudhatul Athfal DDI Al-furqan Kota Parepare dapat meningkat.”

Indikator Kreativitas Anak:

1.Kelancaran 2.Keluwesan 3.Orisinalitas 4.Mengelaborasi Kreativitas anak Raudhatul Athfal DDI Al-

Furqan Kota Parepare rendah

Kreativitas anak Raudhatul Athfal DDI Al-Furqan Kota Parepare meningkat

Kegiatan Melipat Kertas Langkah-langkah:

1. Menyiapkan alat dan bahan berupa kertas, gunting, lem 2. Menggunting kertas sesuai

dengan pola yang diinginkan 3. Kertas tersebut dibentuk menjadi

bentuk tiruan topi, amlop, pesawat dan bentuk bunga menggunakan lem.

Indikator Kreativitas Anak

1.Kurang lancar 2.Kurang luwes 3.Kurang orisinalitas 4.Kurang

mengelaborasi

(19)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Kualitatif. Kualitatif merupakan penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan gejala secara kontekstual melalui pengumpulan data dan peneliti itu sendiri sebagai instrument kunci sehingga yang ditonjolkan adalah proses dan makna (perspektif Subjek). Peneliti ini dirangcang untuk meningkatkan kemampuan kreativitas anak masih kurang dengan menggunakan strategi pembelajaran melalui melipat kertas. Metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan deduktif.

2. Jenis Pendekatan

Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (Classroom action research) menurut Kemmis dan Mc Taggart (Arikunto, 2010:17) yaitu proses penelitian tindakan kelas yang meliputi empat tahap yaitu “perencanaan, pelaksanaan, pengamatann dan refleksi terhadap hasil yang dicapai pada siklus pembelajaran.

B. Fokus Penelitian

(20)

Adapun yang menjadi fokus penelitian meliputi dua faktor, yaitu : proses dan hasil, sebagaimana dikemukakan sebagai berikut ini :

1. Kreativitas adalah kemampuan imajinasi anak dimana Pengembangan kreativitas anak didik Raudhatul Athfal DDI Al-Furqan Kota Parepare sejak dini harus dipupuk karena Kreativitas atau berfikir kreatif sebagai suatu kemampuan untuk melihat bermacam – macam kemungkinan penyelesaian suatu masalah. Hal inilah yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan. Di sekolah yang masih menjadi fokus perhatian adalah penerimaan pengetahuan, ingatan dan penalaran.

2. Melipat adalah suatu teknik berkarya seni / kerajinan tangan yang umumnya dibuat dari bahan kertas dengan tujuan untuk menghasilkan aneka bentuk mainan, hiasan, benda fungsional, alat peraga dan kreasi lainnya. Melalui kegiatan ini anak didik Raudhatul Athfal DDI Al-Furqan Kota Parepare dapat melatih daya ingatan, pengamatan, ketrampilan tangan, mengembangkan daya fantasi, kreasi, ketelitian, kerapian dan perasaan keindahan.

C. Setting dan Subjek Penelitian 1. Setting Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Raudhatul Athfal DDI Al-furqan Kota Parepare yang terletak di Jl. Matahari No. 14 kecamatan ujung kota Parepare. Di bangun diatas tanah dengan status kepemilikan milik sendiri dan mempunyai ketua yayasan yang bernama Husni Pabbajah BA.

19

(21)

Memiliki 3 ruang kelas, 4 orang guru dan murid 34 orang. Dipilihnya Taman Kanak-kanak ini karena ditemukan adanya masalah rendahnya kreativitas anak didik.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah anak didik Kelompok B3 Raudhatul Athfal DDI Al-furqan Kota Parepare, pada semester Genap tahun pelajaran 2013/2014 dengan umur rata-rata 5-6 tahun dengan jumlah anak sebanyak 12 orang dengan rincian 5 laki-laki dan 7 perempuan dan 1 orang guru.

D. Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian mengikuti prinsip dasar penelitian tindakan kelas.

Menurut Agung (2012: 66) Model ini terdiri dari empat komponen dalam satu siklus, yaitu: “perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi”. Penelitian ini dilakukan selama 2 siklus. Adapun prosedur dalam pelaksanaan penelitian diuraikan sebagai berikut:

(22)

Rencana Tindakan

Refleksi

Pelaksanaan Tindakan Observasi

Rencana Tindakan

Refleksi

Pelaksanaan Tindakan Observasi

Gambar 3.1 Prosedur penelitian menurut Agung (2012: 66)

Berdasarkan bagan diatas, maka peneliti melakukan penelitian tindakan kelas dengan prosedur sebagai berikut:

1. Tahap Perencanaan

Berhasil Siklus 1

Siklus 2

(23)

a. Pada tahap ini peneliti dan guru kelas melaksanakan diskusi dengan guru kelas tentang meningkatkan kreativitas anak melalui melipat kertas .

b. Menyusun dan mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tindakan seperti: mengidentifikasi indikator pengembangan kreativitas anak yang belum dicapai, membuat rencana kegiatan harian (RKH) untuk setiap pertemuan, menyiapkan media yang dibutuhkan dan sesuai dengan tema yang akan dibawakan, Mengatur suasana kelas yang nyaman bagi anak, membuat lembar observasi guru dan anak.

2. Tahap Pelaksanaan

Pada pelaksanaan tindakan, guru kelas sebagai pelaksana tindakan menjelaskan pembelajaran kepada anak tentang kreativitas anak melalui melipat kertas yang berdasarkan pada langkah – langkah yang telah diskusikan pada tahap perencanaan.

Pertemuan I 1) Kegiatan awal

Pada kegiatan awal, aktivitas yang dilakukan adalah guru membimbing anak berbaris di depan kelas kemudian menyuruh anak masuk ke dalam kelas satu persatu, guru mengucapkan salam selamat pagi anak-anak, anak-anak juga serentak membalas dengan ucapan pagi ibu guru, guru membimbing anak melambungkan kantong biji.

2) Kegiatan inti

Pada kegiatan inti, aktivitas yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan berupa kertas, gunting, lem, menggunting kertas sesuai dengan pola yang

(24)

diinginkan dan kertas tersebut dibentuk menjadi bentuk tiruan seperti bentuk topi, pesawat menggunakan lem. anak diminta meniru membuat garis tegak datar miring lengkung dan menggunting gambar topi.

3) Kegiatan istrahat

Pada kegiatan istrahat aktivitas yang dilakukan adalah guru membimbing anak agar cuci tangan sesudah belajar, guru membimbing anak berdoa sebelum makan dan guru membimbing anak agar selalu makan bersama-sama dengan anak yang lain. Anak main bersama teman-teman pada jam istrahat.

4) Kegiatan akhir

Pada kegiatan akhir guru melakukan menyanyi lagu burung kutilan, guru bersama anak melakukan kegiatan diskusi kegiatan sehari dan informasi esok hari, anak bersiap untuk pulang dan anak berdoa sebelum pulang dan anak menjawab salam penutup sebagai akhir pembelajaran.

Pertemuan II 1) Kegiatan awal

Pada kegiatan awal, aktivitas yang dilakukan adalah guru membimbing anak berbaris di depan kelas kemudian menyuruh anak masuk ke dalam kelas satu persatu, guru mengucapkan salam selamat pagi anak-anak, anak-anak juga serentak membalas dengan ucapan pagi ibu guru, guru membimbing anak melakukan gerakan bebas dengan irama musik.

2) Kegiatan inti

(25)

Pada kegiatan inti, aktivitas yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan berupa kertas, gunting, lem, menggunting kertas sesuai dengan pola yang diinginkan dan kertas tersebut dibentuk menjadi bentuk tiruan amplop menggunakan lem. Anak diminta untuk melipat bentuk tiruan amplop menggunakan lem, anak diminta untuk Mewarnai berbagai macam coretan mis: Menggambar radio dan anak diminta menunjuk lambang bilangan (1-10) 3) Kegiatan istrahat

Pada kegiatan istrahat aktivitas yang dilakukan adalah guru membimbing anak agar cuci tangan sesudah belajar, guru membimbing anak berdoa sebelum makan dan guru membimbing anak agar selalu makan bersama-sama dengan anak yang lain. Anak main bersama teman-teman pada jam istrahat.

4) Kegiatan akhir

Pada kegiatan akhir aktivitas yang dilakukan membimbing anak mengucapkan syair, diskusi kegiatan sehari dan informasi esok hari, kemudian anak bersiap untuk pulang dan anak berdoa sebelum pulang dan anak menjawab salam penutup sebagai akhir pembelajaran

3. Tahap Observasi/Pengamatan

Observasi dilaksanakan pada saat guru melaksanakan proses pelaksanaan tindakan dimana peneliti mengamati aktifitas guru dan aktifitas anak. Observasi yang dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat

4. Refleksi

Selama tahap pelaksanaan berlangsung, peneliti mengamati kekurangan – kekurangan yang menjadi kendala selama proses kegiatan berlangsung dan

(26)

mengidentifikasi masalah – masalah yang dialami anak selama proses melipat kertas. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan yang dialami anak yang belum mampu mencapai indikator kreativitas maka dilakukan tindak lanjut pembelajaran dalam membenahi beberapa kekurangan – kekurangan selama melipat kertas dilaksanakan. Hasil refleksi menjadi bahan pertimbangan peneliti untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam penelitian, apakah lanjut siklus berikutnya atau berhenti.

E. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mengenai kondisi atau aktivitas anak didik selama proses belajar mengajar berlangsung. Data dalam penelitian ini diperoleh dengan cara:

1. Observasi

Data yang diperoleh dengan teknik observasi adalah data mengenai aktivitas yang dilakukan anak didik dalam hal ini data tentang kreativitas anak didik dan aktivitas yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran dalam hal ini langkah – langkah melipat kertas yang digunakan oleh guru.

2. Dokumentasi

Teknik dokumentasi dimaksudkan untuk memperoleh data tentang jumlah anak di Raudhatul Athfal DDI Al-furqan Kecamatan Ujung Kota Parepare dan data lain yang terkait dengan kreativitas anak melalui melipat kertas.

F. Teknik Analisis Data dan Standar Pencapaian

1. Teknik Analisis Data

(27)

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis data interaktif Miles & Huberman (Tholchah Hasan, dkk 2009:183) yang terdiri dari empat tahap yang dimulai dengan mengumpulkan data lapangan, mereduksi data, menyajikan data, dan akhirnya menarik kesimpulan / verifikasi.

a) Pengumpulan data

Proses mengumpulkan data yang ada di lapangan. Dalam hal ini data observasi dan data dokumentasi.

b) Mereduksi data

Mereduksi data adalah proses kegiatan menyeleksi, memfokuskan dan menyederhanakan semua data yang telah diperoleh mulai dari awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan kegiatan.

c) Menyajikan data

Menyajikan data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan hasil reduksi dengan cara menyusun secara naratif sekumpulan informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi, sehingga dapat memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

d) Menarik kesimpulan

Penarikan kesimpulan adalah memberikan kesimpulan terhadap hasil penafsiran. Kegiatan ini mencakup pencarian makna data serta memberikan penjelasan data. Data yang akan di analisis berupa hasil observasi dalam meningkatkan kreativitas anak.

2. Standar Pencapaian

(28)

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini meliputi indikator aktivitas mengajar guru dan belajar anak selama mengikuti pembelajaran.

Untuk itu peneliti dan guru kelas menentukan tingkat kriteria keberhasilan tindakan pada setiap siklus pembelajaran. Kriteria tersebut setiap anak dan guru menunjukkan kategori rata–rata baik pada aktivitas mengajar dan belajar anak.

Tabel 3.1 Standar Pencapaian

No Simbol Kategori Penilaian

1 B Baik

2 C Sedang

3 K Kurang

Keterangan:

Baik : Anak sudah mampu berkreativitas melalui melipat kertas Cukup : Anak belum sempurna berkreativitas melalui melipat kertas Kurang : Anak belum bisa berkreativitas dengan sempurna dengan

melalui melipat kertas

Referensi

Dokumen terkait

• Berita acara: surat yang berisi laporan tentang suatu kejadian atau peristiwa mengenai waktu kejadian, tempat kejadian, keterangan, dan petunjuk lain sehubungan dengan kejadian

Lengan yang tidak memegang bola direntangkan ke depan setinggi bahu mengarah ke sasaran, pelaksanaan lemparan diawali dengan ayunan lengan ke depan dan diakhiri dengan

Guru bimbingan dan konseling dalam memberikan layanan terkadang menemukan masalah yang tidak dapat diatasinya dan bukan merupakan kewenangannya. Oleh karena itu,

Dalam menuntukan kebijakan bisnis dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti menyajikan menu yang lebih bervariasi dengan memberikan pelayanan yang rama bagi para

Seluruh Dosen Pengajar Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata yang selama ini telah memberikan ilmu dan pengetahuan kepada penulis,.. Seluruh Staf Tata Usaha

Penelitian tentang peranan penyuluh yang berhubungan dengan penerapan teknologi PTT padi inhibrida, digunakan analisis hubungan antara variabel X yaitu peranan penyuluh

Dalam bangunan masyarakat madani atau masyarakat ideal yang dicita-citakan oleh Islam, kepercayaan (trust) adalah sumberdaya yang memiliki kemampuan subtitusi maupun

Dengan demikian peneliti mengemukakan keberhasilan pembelajaran ekonomi pada materi perkoperasian dalam perekonomian di indonesia dengan menggunakan model pembelajaran