• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS. Oleh : PATAR L.H. LUMBANRAJA /IKM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS. Oleh : PATAR L.H. LUMBANRAJA /IKM"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KEJADIAN KETULIAN AKIBAT BISING (NOISE INDUCED HEARING LOSS) PADA PEKERJA BENGKEL

(WORKSHOP) BALAI YASA PULUBRAYAN SUMATERA UTARA PT. KERETA API INDONESIA

TESIS

Oleh :

PATAR L.H. LUMBANRAJA 107032115/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(2)

THE INFLUENCE OF NOISE ON THE LEVEL NOISE INDUCED HEARING LOSS WORKERS WORKSHOP BALAI YASA PULUBRAYAN NORTH

SUMATRA PT. KERETA API INDONESIA

THESIS

By

PATAR L.H. LUMBANRAJA 107032115/IKM

MAGISTER OF PUBLIC HEALTH STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH

UNIVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(3)

PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KEJADIAN KETULIAN AKIBAT BISING (NOISE INDUCED HEARING LOSS)PADA PEKERJA BENGKEL

(WORKSHOP) BALAI YASA PULUBRAYAN SUMATERA UTARA PT. KERETA API INDONESIA

TESIS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Kerja pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

PATAR L.H. LUMBANRAJA 107032115/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2012

(4)

Judul Tesis : PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KEJADIAN KETULIAN AKIBAT BISING (NOISE INDUCED HEARING LOSS) PADA PEKERJA BENGKEL (WORKSHOP) BALAI YASA PULUBRAYAN SUMATERA UTARA PT.

KERETA API INDONESIA Nama Mahasiswa : Patar L.H. Lumbanraja Nomor Induk Mahasiswa : 107032115

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Kesehatan Kerja

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. dr. Delfitri Munir, Sp.THT-KL (K))

Ketua Anggota

(Dra. Lina Tarigan, Apt. M.S)

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)

Tanggal Lulus : 14 Agustus 2012

(5)

Telah diuji

Pada Tanggal : 14 Agustus 2012

KETUA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. dr. Delfitri Munir, Sp.THT-KL (K) Anggota : 1. Dra. Lina Tarigan, Apt. M.S

2. Ir. Kalsum, M.Kes

3. Dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K

(6)

PERNYATAAN

PENGARUH KEBISINGAN TERHADAP KEJADIAN KETULIAN AKIBAT BISING (NOISE INDUCED HEARING LOSS)PADA PEKERJA BENGKEL

(WORKSHOP) BALAI YASA PULUBRAYAN SUMATERA UTARA PT. KERETA API INDONESIA

TESIS

Dengan ini menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Oktober 2012

Patar L.H. Lumbanraja

(7)

ABSTRAK

Kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan gangguan komunikasi, konsentrasi, kenikmatan kerja bahkan penyakit ketulian.

Pekerja di Unit Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT.

Kereta Api Indonesia mempunyai masa kerja 3-30 tahun, bekerja di tempat kerja dengan intensitas kebisingan diatas 85 dB(A). Sebagian pekerja mengeluh ada keluhan gangguan komunikasi dan pendengaran.

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh kebisingan terhadap ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia. Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan metode cross sectional. Populasi adalah 60 orang yang bekerja pada unit produksi. Sampel diambil berdasarkan pertimbangan (purposive sampling) dengan kriteria inklusi yakni sebanyak 42 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pengukuran kebisingan dan pemeriksaan audiometri.

Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik ganda (α = 0,05).

Hasil penelitian menunjukkan periode pemaparan perhari dan penggunaan APD memengaruhi kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia. Intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan dan masa kerja tidak berpengaruh terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Disarankan Pihak manajemen bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia mengatur jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari, memberi sanksi kepada pekerja yang tidak memakai APD, sebaiknya pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia untuk mempergunakan APD setiap bekerja dan pekerja di bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia untuk lebih taat mempergunakan APD sewaktu bekerja.

Kata Kunci : Kebisingan, Noise Induce Hearing Loss (NIHL)

(8)

ABSTRACT

Noise is unwanted sound that can cause impaired communication, concentration, enjoyment of work and settle deafness. Workers in the Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatera PT Kereta Api Indonesia. PT Kereta Api Indonesia have tenure 3-30 years, working in the workplace with the intensity of noise above 85 dB (A). Some workers complained there were complaints of communication and hearing disorders.

The purpose of this study to analyze the effect of noise on noise induced hearing loss in workers' Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra, PT Kereta Api Indonesia. This type of research is explanatory research with cross sectional method.

The population is 60 people working on the production unit. Samples were taken under consideration (purposive sampling) with the inclusion criteria as many as 42 people. The data was collected by interview, noise measurement and audiometric examination. Data analysis was performed with multiple logistic regression test (α = 0.05).

The results indicate the period of exposure per day and use of PPE affects the incidence of noise induced hearing loss in workers' Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra, PT. Kereta Api Indonesia. Intensity noise, frequency noise and years of service had no effect on the incidence of noise induced hearing loss in workers Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra, PT. Kereta Api Indonesia.

Advised on the management workshop set working hours not more than 8 hours /day, and impose sanctions on employees who did not use PPE. Workers workshop for abiding use PPE during work hours.

The suggested management workshop (workshop) Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra PT. Indonesia Railway working hours no more than 8 hours per day, to sanction workers who do not wear PPE, workers sebagaiknya workshop (workshop) Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra PT. Indonesian Railways to use PPE any work and workers in the workshop (workshop) Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra PT. Indonesian Railways for more obedient APD working time.

Key Words: Noise, Noise induced Hearing Loss (NIHL)

(9)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat karuniaNya penulis telah dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “Pengaruh Kebisingan terhadap Kejadian Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulu Brayan Sumatera Utara PT Kereta Api Indonesia.

Dalam menyusun tesis ini penulis mendapat bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada:

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc(CTM), Sp. A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

3. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Sumatera Utara sewaktu penulis diterima pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Dr. Ir. Evawany Aritonang, M.Si selaku sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

5. Prof. Dr. dr. Delfitri Munir, Sp THT- KL (K) selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Dra. Lina Tarigan, Apt. M.S selaku anggota Komisi Pembimbing yang telah banyak membantu dan meluangkan waktu dan pikiran dengan penuh kesabaran membimbing penulis dalam penyusunan tesis ini.

(10)

6. Ir. Kalsum, M.Kes selaku Ketua Komisi Pembanding dan dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K selaku anggota Komisi Pembanding yang telah memberikan kritikan dan saran demi kesempurnaan tesis ini.

7. Bapak Walikota Medan melalui Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan yang telah memberikan izin belajar kepada penulis pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat USU.

8. Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia, khususnya Bapak R. Rajagukguk selaku manajer administrasi.

9. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, khususnya Minat Studi Kesehatan Kerja.

10. Rekan-rekan kerja di RUMKIT TK II Putri Hijau khususnya Instalasi rawat inap.

11. Ayahanda Alm. Drs. L. Lumbanraja dan Ibunda Almh. L. Br. Pakpahan beserta seluruh keluarga Kakak, Abang, Adik beserta Keponakan.

12. Dan seluruh pihak yang tidak dapat saya ucapkan satu persatu kiranya Tuhan memberkati kita sekalian.

Penulis juga menyadari bahwa tesis ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini.

Medan, Oktober 2012 Penulis

Patar L.H. Lumbanraja 107032115/IKM

(11)

RIWAYAT HIDUP

Patar Luhut Hamonangan Lumbanraja dilahirkan di Medan pada tanggal 13 Oktober 1969, anak keenam dari tujuh bersaudara. Putra dari Ayahanda (Alm) Drs. L Lumbanraja dan Ibunda (Almh) L. br Pakpahan.

Memulai pendidikan di SDN 060833/78 Medan dan lulus tahun 1982 melanjutkan pendidikan di SMPN 6 Medan dan lulus tahun 1985 Kemudian melanjutkan pendidikan di SMAN 4 Medan lulus tahun 1988. Selanjutnya meneruskan pendidikan strata 1 Fakultas Kedokteran di Universitas Sumatera Utara Medan lulus tahun 1996. Pada tahun 2004 mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis I.Kes THT-KL lulus tahun 2008. Pada tahun 2010 sampai dengan sekarang penulis melanjutkan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat, Minat Studi Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

Penulis bekerja sebagai Dokter Tidak Tetap ( PTT) di Puskesmas Gomo Kecamatan Gomo Kabupaten Nias Prosinsi Sumatera Utara pada tahun 1997-2000, dan Pegawai Negeri Sipil Pemko Medan pada tahun 2001 sampai sekarang.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 6

1.3. Landasan Teori ... 7

1.4. Tujuan Penelitian ... 7

1.5. Manfaat Penelitian ... 7

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1. Kebisingan ... 8

2.1.1. Definisi ... 8

2.1.2. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan ... 8

2.1.3. Teori Bising ... 9

2.1.4. Nilai Ambang Bising ... 11

2.1.5. Jenis Kebisingan ... 11

2.1.6. Sumber Kebisingan ... 12

2.1.7. Pengaruh Bising terhadap Kesehatan Tenaga Kerja ... 13

2.1.8. Pengenalan Bahaya Bising ... 14

2.1.9. Program Perlindungan terhadap Bahaya Tuli Akibat Kerja ... 15

2.1.10. Mengindentifikasi Sumber Bising di Tempat Kerja ... 16

2.1.11. Upaya Mengurangi Intensitas Bising dengan Pengendalian Derajat Bising ... 18

2.2. Anatomi Telinga ... 26

2.3. Fisiologi Pendengaran ... 28

(13)

2.4. Pengertian Gangguan Pendengaran dan Ketulian ... 29

2.5. Ketulian Akibat Bising ... 34

2.6. Landasan Teori ... 38

2.7. Kerangka Konsep ... 40

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 41

3.1. Jenis Penelitian ... 41

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41

3.3. Populasi dan Sampel... 42

3.3.1. Populasi ... 42

3.3.2. Sampel ... 42

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 43

3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 43

3.5.1. Variabel ... 43

3.5.2. Definisi Operasional ... 43

3.6. Metode Pengukuran ... 46

3.6.1. Prosedur Penelitian ... 46

3.7. Metode Analisis Data ... 47

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 49

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 49

4.2. Karakteristik Responden ... 50

4.3. Analisis Univariat ... 51

4.3.1. Intensitas Kebisingan ... 51

4.3.2. Frekuensi Kebisingan ... 51

4.3.3. Periode Pemaparan Perhari ... 52

4.3.4. Masa Kerja ... 52

4.3.5. Penggunaan APD ... 53

4.3.6. Ketulian Akibat Bising (NIHL) ... 53

4.4. Analisis Bivariat ... 54

4.4.1. Hubungan Intensitas Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising ... 54

4.4.2. Hubungan Frekuensi Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising ... 55

4.4.3. Hubungan Periode Pemaparan Perhari dengan Ketulian Akibat Bising ... 56

4.4.4. Hubungan Masa Kerja dengan Ketulian Akibat Bising ... 57

(14)

4.4.5. Hubungan Penggunaan APD dengan Ketulian Akibat

Bising ... 58

4.5. Analisis Multivariat ... 58

BAB 5. PEMBAHASAN ... 61

5.1. Pengaruh Intensitas Kebisingan (Sound Pressure Level) terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 61

5.2. Pengaruh Kebisingan terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia... 64

5.3. Pengaruh Periode Pemarapan terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 66

5.4. Pengaruh Masa Kerja terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia... 67

5.5. Pengaruh Penggunaan APD terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 69

5.6. Keterbatasan Penelitian ... 71

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 73

6.1. Kesimpulan ... 73

6.2. Saran ... 74

DAFTAR PUSTAKA ... 75

LAMPIRAN ... 78

(15)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman 4.1 Distribusi Umur pada Pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa

Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 50 4.2 Distribusi Intensitas Kebisingan pada Bengkel (Workshop) Balai

Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 51 4.3 Distribusi Frekuensi Kebisingan pada Bengkel (Workshop) Balai

Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 51 4.4. Distribusi Periode Pemaparan Perhari pada Pekerja di Bengkel

(Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api

Indonesia ... 52 4.5. Distribusi Masa Kerja pada Pekerja di Bengkel (Workshop) Balai

Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 52 4.6. Distribusi Pengguaan APD pada Pekerja di Bengkel (Workshop)

Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 53 4.7. Distribusi Ketulian Akibat Bising pada Pekerja di Bengkel

(Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api

Indonesia ... 53 4.8. Hubungan Intesitas Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising

pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan

Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 54 4.9. Hubungan Frekuensi Kebisingan dengan Ketulian Akibat Bising

pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan

Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 55

(16)

4.10. Hubungan Periode Pemaparan Perhari dengan Ketulian Akibat Bising pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan

Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 56 4.11. Hubungan Masa Kerja dengan Ketulian Akibat Bising pada Pekerja

Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 57 4.12. Hubungan Penggunaan APD dengan Ketulian Akibat Bising pada

Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera

Utara PT. Kereta Api Indonesia ... 58 4.13. Hasil Uji Regresi Variabel Pengaruh Kebisingan terhadap Ketulian

Akibat Bising ... 59

(17)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman 4.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 40

(18)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 78

2. Master Data Penelitian ... 81

3. Hasil Analisis Penelitian ... 83

4. Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden ... 98

5. Informasi dan Persetujuan Menjadi Responden Penelitian ... 99

6. Data Hasil Pengukuran ... 100

7. Bagan Struktur Organisasi Unit Produksi UPT Balai Yasa Pulubryan .. 101 8. Denah Lokasi Balasi Yasa Pulubryan

9. Surat Izin Penelitian 10. Surat Penelitian Selesai

(19)

ABSTRAK

Kebisingan merupakan bunyi yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan gangguan komunikasi, konsentrasi, kenikmatan kerja bahkan penyakit ketulian.

Pekerja di Unit Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT.

Kereta Api Indonesia mempunyai masa kerja 3-30 tahun, bekerja di tempat kerja dengan intensitas kebisingan diatas 85 dB(A). Sebagian pekerja mengeluh ada keluhan gangguan komunikasi dan pendengaran.

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh kebisingan terhadap ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia. Jenis penelitian ini adalah explanatory research dengan metode cross sectional. Populasi adalah 60 orang yang bekerja pada unit produksi. Sampel diambil berdasarkan pertimbangan (purposive sampling) dengan kriteria inklusi yakni sebanyak 42 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pengukuran kebisingan dan pemeriksaan audiometri.

Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik ganda (α = 0,05).

Hasil penelitian menunjukkan periode pemaparan perhari dan penggunaan APD memengaruhi kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia. Intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan dan masa kerja tidak berpengaruh terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Disarankan Pihak manajemen bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia mengatur jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari, memberi sanksi kepada pekerja yang tidak memakai APD, sebaiknya pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia untuk mempergunakan APD setiap bekerja dan pekerja di bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia untuk lebih taat mempergunakan APD sewaktu bekerja.

Kata Kunci : Kebisingan, Noise Induce Hearing Loss (NIHL)

(20)

ABSTRACT

Noise is unwanted sound that can cause impaired communication, concentration, enjoyment of work and settle deafness. Workers in the Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatera PT Kereta Api Indonesia. PT Kereta Api Indonesia have tenure 3-30 years, working in the workplace with the intensity of noise above 85 dB (A). Some workers complained there were complaints of communication and hearing disorders.

The purpose of this study to analyze the effect of noise on noise induced hearing loss in workers' Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra, PT Kereta Api Indonesia. This type of research is explanatory research with cross sectional method.

The population is 60 people working on the production unit. Samples were taken under consideration (purposive sampling) with the inclusion criteria as many as 42 people. The data was collected by interview, noise measurement and audiometric examination. Data analysis was performed with multiple logistic regression test (α = 0.05).

The results indicate the period of exposure per day and use of PPE affects the incidence of noise induced hearing loss in workers' Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra, PT. Kereta Api Indonesia. Intensity noise, frequency noise and years of service had no effect on the incidence of noise induced hearing loss in workers Workshop Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra, PT. Kereta Api Indonesia.

Advised on the management workshop set working hours not more than 8 hours /day, and impose sanctions on employees who did not use PPE. Workers workshop for abiding use PPE during work hours.

The suggested management workshop (workshop) Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra PT. Indonesia Railway working hours no more than 8 hours per day, to sanction workers who do not wear PPE, workers sebagaiknya workshop (workshop) Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra PT. Indonesian Railways to use PPE any work and workers in the workshop (workshop) Balai Yasa Pulubrayan North Sumatra PT. Indonesian Railways for more obedient APD working time.

Key Words: Noise, Noise induced Hearing Loss (NIHL)

(21)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bising industri sudah lama merupakan masalah yang sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman serius bagi pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen, sedangkan bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan kerugian ekonomi karena ganti rugi (Rambe, 2003).

Kemajuan peradaban telah menggeser perkembangan industri kearah penggunaan mesin, alat transportasi berat, dan lain sebagainya. Akibatnya kebisingan makin dirasakan mengganggu dan dapat memberikan dampak pada kesehatan (Arifiani, 2004). Kebisingan telah meningkat secara paralel dengan perkembangan industri dan kemajuan teknologi pada saat ini. Banyak penduduk dunia terpapar kebisingan terputus – putus atau menetap berkelanjutan yang berbahaya lebih dari 85 dB(A) pada lingkungan kerja (Azizi, 2010).

Jutaan pekerja di dunia terpapar dengan suara bising ditempat kerja. Paparan terhadap suara bising merupakan penyebab paling penting terhadap kehilangan pendengaran setelah proses penuaan. Noise Induced Hearing Loss merupakan tuli sensorineural yang disebabkan paparan yang lama terhadap suara bising. Lebih dari 70% paparan terhadap suara bising timbul pada industri manufaktor, oleh sebab itu

(22)

pekerja dilindungi dari masalah ini untuk mencegah timbulnya NIHL (Saleha dan Hassim, 2006).

Diseluruh dunia kejadian gangguan pendengaran akibat bising di tempat kerja sebesar 16% dengan variasi berkisar 7-21%. Franklin (2002), melakukan penelitian pada petani dewasa muda di Australia yang terpajan bising traktor dengan intensitas 90 dB(A), didapatkan noise induced hearing loss atau NIHL sebesar 23% pada telinga kanan dan 28% pada telinga kiri. Joshi dkk (2003) mengatakan bising lingkungan perkotaan mendapatkan NIHL sebesar 13,5%. Siddiqui (2008) mengatakan karyawan Bandar Udara Internasional Karachi dengan intensitas lebih dari 85 dB(A) didapatkanNIHL derajat ringan 16,9%, NIHL derajat sedang 33,9%

dan NIHL derajat berat 15,3%. Survei dari SAHI atau society to aid the hearing impaired pada polisi lalu lintas di India mendapatkan 76% menderita NIHL setelah bekerja selama lima tahun (Susilawati dkk, 2010).

Pada negara berkembang, lebih dari sepertiga kasus gangguan pendengaran disebabkan gangguan pendengaran oleh pemaparan terhadap suara bising (Gerostergiou dkk, 2008).Di Indonesia penelitian tentang gangguan pendengaran akibat bising telah banyak dilakukan sejak lama. Sundari (1997) di pabrik peleburan besi baja prevelensi NIHL 31,55% pada tingkat paparan kebisingan 85-105 dB(A). Di perusahaan plywood di Tangerang, prevalensi NIHL 31,81% dengan paparan kebisingan 86,1 - 108,2 dB(A). Penelitian Zuldidzaan (1995) pada awak pesawat helicopter TNI AU dan AD mendapatkan paparan bising antara 86 -111 dB(A) dengan prevelensi NIHL 27, 16% (Roestam, 2004).

(23)

Husdiani (2008) dalam penelitiannya di Manufacturing Workshop PT. X di Medan menyimpulkan daerah tersebut memiliki tingkat intensitas kebisingan 75%

melebihi NAB, pekerja mendapatkan dosis bising berlebih adalah 85%, hasil test audiometri mendapatkan bahwa 40% pekerja mengalami NIHL. Umeda (2011) pada penelitiannya di PT Atmindo Medan menemukan ada 7 lokasi pada bagian proses yang memiliki nilai ambang batas kebisingan di atas 85dB(A), berkisar di antara 86- 90 dB(A).Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa intensitas bising, frekuensi bising, masa kerja, alat pelindung diri dan umur memengaruhi penurunan daya dengar telinga kanan dan kiri pekerja secara signifikan.

Gambaran diatas meperlihatkan bahwa paparan di atas 85dB(A) dapat menimbulkan NIHL atau ketulian. Selain itu juga dapat menimbulkan keluhan non pendengaran seperti susah tidur, mudah emosi, dan gangguan konsentrasi yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja (Roestam, 2004).

Dari rekapitulasi pengujian lingkungan kerja dan pemeriksaan kesehatan bulan Desember 2009 yang dilakukan Balai K3 Medan pada 35 perusahaan di Sumatera Utara didapatkan 113 lokasi tidak memenuhi syarat kebisingan dari 265 lokasi yang diperiksa serta terdapat 333 orang dari 743 orang hasil pemeriksaan audiometri tidak memenuhi syarat.Survei kebisingan yang dilakukan Balai K3 Medan menyatakan tingkat kebisingan di usaha bengkel sektor informal di Sumatera Utara berkisar 98 – 105 dB(A).

Ketulian akibat kerja dapat didefinisikan sebagai gangguan pendengaran pada satu atau kedua telinga, sebagian atau seluruhnya yang timbul pada masa kerja atau

(24)

sebagai akibat pekerjaan seseorang, termasuk juga trauma akustik maupun ketulian akibat pemaparan bising. Istilah ketulian akibat pemaparan bising digunakan untuk menjelaskan akumulasi kurang pendengaran bilateral yang permanen, selalu tipe sensorineural, yang biasanya timbul setelah bertahun–tahun terpapar pada tingkat kebisingan yang berbahaya. Ketulian akibat pemaparan bising biasanya bilateral dan sama derajat maupun sifatnya (Fox, 1996).

Perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya selalu menginginkan keberhasilan baik berupa produksinya maupun layanannya. Untuk menunjang keberhasilan tersebut maka diperlukan tempat kerja yang sehat dan selamat sehingga tidak terjadi kecelakaan ataupun penyakit akibat kerja (Djati, 2006). Penyakit akibat kerja dapat terjadi pada masyarakat lingkungan kerja yang terbatas, penyakit ini timbul akibat langsung atau tidak langsung dengan bahan penyebab. Untuk itu kita harus mengetahui risiko–risiko yang dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan mengatasinya sehingga tercapai kondisi perusahaan tanpa kecelakaan atau zero accident dan terbebas dari penyakit akibat kerja (Wijayadi, 2006).

Sistem Kesehatan Nasional (2009) menjelaskan bahwa perlindungan tenaga kerja bertujuan untuk meningkatkan produktifitas kerja melalui peningkatan derajat kesehatan tenaga kerja dengan implementasi perlindungan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Bab XII mengenai Kesehatan Kerja Pasal 164 menyatakan upaya kesehatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan meliputi pekerja di sektor formal dan nonformal.

(25)

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisik dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, menyatakan nilai ambang batas (NAB) adalah standard faktor bahaya di tempat kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu (time weighted average) yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. Sebagaimana telah dinyatakan sebelumnya yang dimaksud dengan kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat proses produksi dan atau alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran. NAB kebisingan adalah 85 dB(A), mengingat bahwa 85 dB(A) adalah intensitas yang sepadan dengan frekuensi 500- 2000Hz yaitu daerah pendengaran untuk pembicaraan maka sangat bijak untuk menetapkan 85 dB(A) sebagai NAB kebisingan(Suma’mur, 2009).

Bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan adalah satuan organisasi di lingkungan PT Kereta Api Indonesia yang berada di bawah Divisi Regional I Sumatera Utara di Medan dan berkedudukan di Jl. Bengkel Pulubrayan. Unit pelayan teknis Bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan terdiri dari: sub bagian administrasi, sub bagian logistik, unit perencanaan, unit produksi dan unit quality control.

Unit produksi memiliki 60 pekerja yang terpapar bising. Untuk melaksanakan tugas pokok, unit produksi mempunyai fungsi pelaksanaan program pemeliharaan dan perbaikan lokomotif dan KRD, pelaksanaan program pemeliharaandan perbaikan

(26)

kereta, pelaksanaan program pemeliharaan dan perbaikan gerbong dan pelaksanaan pekerjaan logam panas (pengecoran dan pengelasan) dan logam dingin (pembubutan, perakitan, revisi dan rekondisi suku cadang).

Pada survei pendahuluan di Bengkel (workshop) Balaiyasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia di temui potensial bahaya kebisingan yang tinggi di unit produksi dibanding unit/sub bagian lain. Pekerja di unit produksi merupakan pegawai pemerintah yang mempunyai masa kerja 3–30 tahun, dalam melaksanakan pekerjaannya, pekerja kurang patuh memakai alat pelindung diri padahal pihak manajemen menyediakan alat pelindung diri.Unit produksi memiliki nilai ambang batas kebisingan yang mempunyai potensi bahaya (hazard). Dari observasi pekerja di unit produksis Bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan, peneliti juga mendapat informasi keluhan subjektif berupa gangguan pendengaran seperti telinga berdengung dan saat berkomunikasi menggunakan suara yang keras.

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik melakukan penelitian mengenai pengaruh kebisingan terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. KeretaApi Indonesia.

1.2. Permasalahan

Bagaimana pengaruh kebisingan terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

(27)

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah menganalisa pengaruh kebisingan terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

1.4. Hipotesis

Ada pengaruh kebisingan terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja Bengkel (Workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

1.5. Manfaat Penelitian

1.5.1. Memberikan informasi kepada pihak manajemen perusahaan dan seluruh pekerja adanya pengaruh kebisingan terhadap ketulian akibat bising sehingga diupayakan memberikan perlindungan terhadap pekerja dari bahaya kebisingan.

1.5.2. Memberikan informasi kepada pemerintah untuk menentukan strategi pengendalian dan pengawasan kebisingan di perusahaan.

1.5.3. Menambah bahan informasi yang dapat dijadikan referensi bagi penelitian tentang kebisingan selanjutnya.

1.5.4. Menambah wawasan penulis dalam aplikasi keilmuan.

(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kebisingan 2.1.1. Definisi

Secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan, secara audiologi bising adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekuensi, secara fisika bising didefinisikan sebagai suara yang disebabkan oleh gelombang akustik dengan intensitas dan frekuensi yang acak (random). Dibidang industri, bising adalah suara yang tidak diinginkan dan merupakan energi yang terbuang (Fox,1997). Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, kebisingan adalah semua suara yang tidak di kehendaki yang bersumber dari alat proses produksi dan/atau alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

2.1.2. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan

Dalam menentukan efek kebisingan terhadap kesehatan maka dibedakan beberapa zona dimana kebisingan akan memberikan efek pada kesehatan manusia sesuai dengan lokasi kebisingan, menyebutkan ada 4 zona, yaitu:

a) Zona A, adalah zona bagi tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan atau sosial dan sejenisnya.

(29)

b) Zona B, adalah zona bagi tempat perumahan, tempat pendidikan, rekreasi dan sejenisnya.

c) Zona C, adalah zona bagi perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dan sejenisnya.

d) Zona D, adalah zona bagi industri, pabrik, setasiun kereta api, terminal bis dan sejenisnya.

Untuk ke 4 zona tersebut harus memenuhi persyaratan sebagai berikut (Mukono, 2011):

Tabel 2.1. Zona Kebisingan

No. ZONA

Tingkat Kebisingan dB(A) Maksimum yang

dianjurkan

Maksimum yang diperbolehkan 1

2 3 4

Zona A Zona B Zona C Zona D

35 45 50 60

45 55 60 70

2.1.3. Teori Bising

Tiga aspek gelombang bising yang perlu diperhatikan untuk terjadinya gangguan pendengaran, yaitu frekuensi, intensitas, dan waktu.

Frekuensi bunyi menentukan pola nada, dinyatakan dalam berapa getaran/detik atau siklus/detik, atau gelombang/detik, yang satuannya disebut hertz (Hz). Artinya bunyi dengan 1 siklus/detik mempunyai frekuensi 1 Hz. Rentang frekuensi bunyi yang dapat didengar untuk telinga dewasa muda yang sehat berkisar dari 20-20.000 Hz. Meskipun demikian, porsi rentang frekuensi bunyi yang umum

(30)

diterima manusia hanya berkisar 500-3000 Hz. Gangguan pendengaran yang terjadi pada area rentang frekuensi ini menjadi sangat penting, karena akan menjadi hambatan aktivitas sehari–hari seseorang, terutama untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Pada kegiatan sehari–hari di industri, kebanyakan bising yang terbentuk berasal dari campuran berbagai spektrum frekuensi yang dihasilkan dari bermacam- macam sumber suara seperti mesin, kendaraan bermotor, cerobong asap, teriakan suara manusia dan lain – lain. Untuk jenis bising ini diklasifikasikan sebagai bising nada lebar (wide band noise). Untuk bising yang berasal dari frekuensi yang hampir senada disebut bising nada sempit (narrow band noise) seperti yang berasal dari gergaji sirkular, alat pemotong elektrik, atau peralatan yang berputar lainnya.

Spektrum frekuensi merupakan salah satu faktor yang menentukan derajat gangguan suatu bising. Frekuensi bising yang tinggi dan bising nada sempit lebih mengganggu pendengaran dibandingkan dengan frekuensi bising yang rendah dan bising nada lebar.

Intensitas bunyi atau amplitudo atau derajat kekerasan bunyi atau sound pressure level (SPL) adalah besarnya daya atau tinggi gelombang suara, yang merupakan ukuran derajat intensitas suatu bunyi. Pada frekuensi 1.000 Hz, intensitas bunyi terlemah yang masih dapat didengar manusia adalah 0,00002 N/m2 sedang intensitas bunyi terkeras sebesar 20 N/m2. Rentang intensitas bunyi yang dapat didengar manusia sangat lebar, yaitu 0,00002 – 20 N/m2, biasanya besarnya intensitas bunyi dipadatkan dalam satuan desibel (dB) (Harrianto, 2010).

(31)

2.1.4. Nilai Ambang Bising

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.

13/MEN/X/2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.

Tabel 2.2. Nilai Ambang Batas Kebisingan

Waktu Pemajanan per hari Intensitas Kebisingan dalam dB(A)

8 Jam 85

4 88

2 91

1 94

20 Menit 97

15 100

7,5 103

3,75 106

1,88 109

0,94 112

28,12 Detik 115

14,06 118

7,03 121

3,52 124

1,76 127

0,88 130

0,44 133

0,22 136

0,11 139

2.1.5. Jenis Kebisingan

Jenis kebisingan yang sering ditemukan adalah:

a. Kebisingan menetap berkelanjutan tanpa putus – putus dengan spektrum frekuensi yang lebar (steady state, wide band noise) misalnya bising mesin, kipas angin, dapur pijar, dan lain-lain.

(32)

b. Kebisingan menetap berkelanjutan dengan spektrum frekuensi tipis (steady state, narrow band noise), misalnya bising gergaji sirkuler, katup gas.

c. Kebisingan terputus–putus (intermittent noise), misalnya bising lalu lintas, suara kapal terbang di bandara.

d. Kebisingan impulsif (impact or impulsive noise), seperti bising pukulan palu, tembakan bedil atau meriam, dan ledakan.

e. Kebisingan impulsif berulang, misalnya bising mesin tempa di perusahaan atau tempaan tiang pancang bangunan (Suma’mur, 2009).

2.1.6. Sumber Kebisingan

Menurut Dirjen PPM dan PL, DEPKES & KESSOS RI Tahun 2000, sumber kebisingan dibedakan menjadi :

2.1.6.1. Bising Industri

Industri besar termasuk didalamnya pabrik, bengkel dan sejenisnya. Bising industri dapat dirasakan oleh karyawan maupun masyarakat disekitar industri(Subaris dan tearyono, 2008).

Sumber kebisingan di lingkungan industri :

a) Peralatan pemakai energi pada industri (furnace dan heater).

b) Sistem kontrol benda cair (pompa air dan generator).

c) Proses industri (mesin dan segala sistemnya).

d) Menara pendingin (cooling tower).

e) Cerobong pembakaran(flare stack.) f) Suara mesin.

(33)

g) Alat/mesin bertekanan tinggi.

h) Pengelolaan material (crane dan fork-lift).

i) Kendaraan bermotor.

j) Pengaturan arsitek bangunan yang tidak memenuhi syarat (Mukono,2011).

2.1.6.2 Bising Rumah Tangga

Umumya disebabkan oleh alat rumah tangga dan tidak terlalu tinggi tingkat kebisingannya.

2.1.6.3. Bising Spesifik

Bising yang disebabkan oleh kegiatan khusus misalnya pemasangan tiang pancang tol atau bangunan (Subaris dan Haryono, 2008).

2.1.7. Pengaruh Bising terhadap Kesehatan Tenaga Kerja

Bising menyebabkan berbagai gangguan pada tenaga kerja, seperti gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi dan ketulian.

2.1.7.1. Gangguan Fisiologis

Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apabila terputus–

putus atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (±10mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris.

2.1.7.2. Gangguan Psikologis

Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis, stres, kelelahan dan lain–lain.

(34)

2.1.7.3. Gangguan Komunikasi

Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini bisa menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya, gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan.

2.1.7.4. Gangguan Keseimbangan

Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalandi ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mual.

2.1.7.5. Efek pada Pendengaran

Efek pada pendengaran adalah gangguan paling serius karena dapat menyebabkan ketulian. Ketulian bersifat progresif. Pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising, namun bila terus menerus bekerja di tempat bising, daya dengar akan hilang secara menetap dan tidak akan pulih kembali (Roestam,2004).

2.1.8. Pengenalan Bahaya Bising

Dengan diketahuinya tentang jenis dan sifat bising serta pengaruhnya terhadap kesehatan tenaga kerja, maka hal tersebut sangat bermanfaat untuk mengenal bahaya bising di tempat kerja yang timbul akibat penerapan teknologi proses prosuksi, agar tenaga kerja dapat dilindungi dari bahaya bising. Sesungguhnya bahwa bahaya bising

(35)

yang timbul di tempat kerja dapat dikenali dengan cara sederhana ialah dengan menggunakan reaksi fisiologi atau keluhan subjektif dari tenaga kerja.

Kenyataan bahwa reaksi fisiologi atau keluhan subjektif dari tenaga kerja merupakan suatu alat yang baik untuk mengenal adanya bahaya bising di tempat kerja. Tanda atau gejala yang terlihat antara lain :

a) Bahaya bising ada, apabila tenaga kerja mengalami kesulitan berkomunikasi di tempat kerja pada jarak 1-1½ m, dengan suara setengah berteriak.

b) Bahaya bising ada, apabila tenaga kerja mengeluh karena timbul tinitus dalam telinganya pada setiap akhir kerja.

c) Bahaya bising ada, apabila tenaga kerja mengalami tuli sementara (temporary threshold shift) yang berkepanjangan.

d) Bahaya bising ada apabila tenaga kerja merasa ada gangguan pendengaran.

e) Tenaga kerja sulit berkomunikasi

Apabila terjadi tanda atau gejala seperti itu, maka jelas sangat diperlukan suatu evaluasi terhadap tingkat intensitas kebisingan di tempat kerja (Soeripto, 2008).

2.1.9. Program Perlindungan terhadap Bahaya Tuli Akibat Kerja

Tempat kerja yang memiliki pajanan bising ≥85dB (A) selama 8 jam kerja sehari, diwajibkan melaksanakan program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat kerja bagi para pekerjanya. Terdapat empat langkah program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat kerja (occupational conservation), yaitu :

a) Identifikasi sumber bising ditempat kerja

(36)

b) Upaya mengurangi intensitas bising

c) Melindungi penerima bising dengan alat pelindung diri, bila pajanan bising tidak dapat dihindarkan

d) Melaksanakan tes pendengaran awal kerja (baseline hearing test) dan dilanjutkan tes pendengaran periodik, untuk mengevaluasi efektivitas hearing conservation program.

2.1.10. Mengidentifikasi Sumber Bising di Tempat Kerja

Survei bising adalah pengukuran derajat kebisingan pada suatu lokasi tempat kerja. Tata cara pelaksanaan survei bising adalah sebagai berikut :

2.1.10.1. Survei Awal Sumber Bising

Survei awal sumber bising tidak dimaksudkan untuk mengetahui derajat dan lamanya pajanan bising secara mendalam, tetapi hanya untuk menentukan terjadinya pajanan bising yang membahayakan di suatu lokasi tempat kerja. Dengan demikian, survei awal sumber bising perlu dilaksanakan pada lokasi kerja yang diindikasikan terpajan bising yang membahayakan, misalnya dilokasi kerja yang pekerjanya mendapat kesukaran berkomunikasi dengan suara yang normal, atau bila terdapat beberapa pekerja yang menderita kurang pendengaran atau terjadinya tinnitus beberapa jam setelah pajanan bising.

2.1.10.2. Survei Bising Definitif

Dari hasil survei awal sumber bising dapat ditentukan lokasi tempat kerja yang memerlukan perhatian khusus. Selanjutnya perlu dilaksanakan survei bising definitif dengan tujuan :

(37)

a. Memperoleh informasi pasti mengenai besarnya derajat bising di masing–masing lokasi tempat kerja yang dapat membahayakan pekerja, sehingga diyakini para pekerjanya membutuhkan alat pelindung diri terhadap pajanan bising.

b. Mengidentifikasi mesin atau peralatan yang menghasilkan derajat kebisingan tinggi sehingga diyakini para pekerjanya membutuhkan pengukuran derajat kebisingan dengan instrumen noise dosimeter.

c. Mengidentifikasi para pekerja yang terpajan derajat kebisingan tinggi, sehingga membutuhkan tes pendengaran.

d. Merencanakan pedoman pengendalian teknik dan/atau pengendalian administratif.

e. Memastikan bahwa peraturan pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja yang ditetapkan pemerintah telah dilaksanakan dengan baik.

Pelaksaaan survei bising harus menggunakan sound pressure level meter yang memenuhi standar ANSI SI.4-1971/R.1971 yang diatur pada skala A, respons lambat, di sekeliling mesin atau peralatan yang diperkirakan menghasilkan derajat kebisingan tinggi, survei ini dilaksanakan memalui 3 tahap proses berikut :

Langkah 1 (Pengukuran Daerah/Lokasi Kebisingan)

Derajat bising pada titik pusat daerah kebisingan diukur secara reguler untuk mementukan derajat bising maksimal dan minimal. Makin banyak titik pengukuran dilaksanakan, hasil pengukuran akan makin akurat. Jika tingkat bising maksimal kurang dari 80 dB(A), diasumsikan bahwa para pekerja di tempat ini bekerja dalam kondisi lingkungan kerja dengan derajat bising yang aman. Namun bila tingkat bising maksimal 80 – 92 dB(A) maka memerlukan informasi yang lebih lanjut.

(38)

Langkah 2 (Pengukuran di Tempat Kerja)

Untuk mengevaluasi para pekerja yang bekerja di daerah kebisingan dengan derajat bising maksimal 80-92 dB(A), dibutuhkan pengukuran masing-masing pekerja di tempat/meja kerjanya. Jika derajat bising maksimal tidak pernah kurang dari 90 dB(A), dapat di indikasikan bahwa pekerja di tempat ini bekerja dalam kondisi lingkungan kerja dengan derajat bising yang membahayakan. Namun,bila derajat bising maksimal tidak pernah lebih dari 85 dB(A), kondisi lingkungan masih dapat dianggap aman.

Langkah 3 (Lama Pajanan)

Bila di tempat kerja dengan tingkat bising maksimal bervariasi di sekitar angka 85dB(A), dibutuhkan analisis lebih lanjut. Biasanya noise dosimeter digunakan untuk mengukur jumlah pajanan bising pekerja tersebut sepanjang hari kerja.

Mikrofon noise dosimeter sedekat mungkin dengan telinga pekerja tersebut, yaitu dengan cara :

a) Meletakkan mikrofon di bahunya, kira–kira 15cm di sebelah lateral telinganya, pada pekerja yang banyak bergerak dalam bekerja

b) Meletakkan mikrofon di bahunya, sedekat mungkin dari telinganya (kira-kira 0,5 cm) pada pekerja yang menetap di tempat kerja.

2.1.11. Upaya Mengurangi Intensitas Bising dengan Pengendalian Derajat Bising

2.1.11.1. Pengendalian Administratif

Pengendalian administratif dalam upaya mengurangi intensitas bising :

(39)

a. Dibutuhkan tindakan yang dapat menjamin bahwa setiap individu di lingkungan kerja memiliki tanggung jawab untuk berkoordinasi dalam menjaga keberhasilan program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat kerja, dengan cara melaporkan kemajuan dan masalah yang timbul pada pelaksanaan program ini kepada atasannya.

b. Diperlukan keputusan administratif yang dapat mendukung program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat kerja, misalnya pembelian mesin yang spesifikasinya sesuai dengan standar yang disyaratkan dan tidak melampaui nilai ambang batas pajanan pada operator.

c. Untuk mengurangi lama pajanan pada pekerja yang bekerja di tempat dengan beresiko tinggi terpajan bising perlu dilaksanakan penjadwalan mengenai lamanya operasi mesin, atau dilaksanakan rotasi pekerja secara reguler.

2.1.11.2. Pengendalian Teknik

Mekanisme pengendalian bising dapat dilaksanakan melalui 3 arah, yaitu sumber bising, transmisi bising, dan penerima bising. Pengendalian ini dilakukan dengan cara :

a) Mengurangi intensitas sumber bising :

a. Memilih mesin dengan teknologi yang lebih maju guna mendapatkan mesin dengan suara yang lebih halus.

b. Memodifikasi teknologi sumber bising, dengan cara mengubah jenis pendorong mesin, memasang peralatan yang menghambat distribusi suara, dan menggunakan pelemah getaran lempeng sumber suara.

(40)

c. Pemeliharaan mesin yaitu memperbaiki, mengganti atau melumasi komponen mesin yang longgar, roda gigi atau packing yang rusak, sudah tua atau hilang untuk mengurangi sumber bising penyerta dan menggunakan peralatan pemotong yang tajam dan bentuknya sesuai dengan kebutuhan.

d. Subsitusi seperti mesin yang kecil dan berkecepatan tinggi diganti dengan mesin yang lebih besar tapi kecepatannya lebih rendah, mesin dengan ketukan tunggal yang keras diganti dengan ketukan bertahap tetapi lebih lemah, alat potong memanjang diganti dengan alat potong rotasi, putaran roda gigi diganti dengan putaran ban dan proses tempa diganti dengan proses pemadatan, proses pemadatan mekanik diganti dengan pemadatan hidrolik.

e. Mengurangi intensitas bunyi dari komponen peralatan yang bergetar melalui mengurangi daya atau kecepatan mesin, isolasi, menambah kekakuan, massa, dan ukuran komponen peralatan yang bergetar untuk mengurangi frekuensi resonansi, mengurangi bunyi yang dihasilkan akibat aliran gas dengan menggunakan saringan gas, mengurangi tekanan dan turbulensi gas, mengganti kipas pendorong yang kecil dan berkecepatan tinggi dengan yang lebih besar dan berkecepatan lebih rendah.

b) Menghambat transmisi bising

a. Mengurangi transmisi suara melalui benda padat dengan menggunakan bantalan yang fleksibel atau yang mempunyai daya pegas.

b. Mengurangi tranmisi bising melalui udara dengan menggunakan bahan peredam suara pada dinding dan atap ruangan, mengisolasi (mengurung) sumber bising,

(41)

peralatan yang dapat mengatur distribusi suara (buffle), misalnya traktor yang dilengkapi peredam bising (fully insuled tractor).

c. Mengisolasi operator pada ruangan yang kedap suara.

c) Alat pelindung diri

Bila pajanan bising tidak dapat dihindari, penerima bising harus menggunakan alat pelindung diri. Alat pelindung diri cukup efektif untuk mengurangi intensitas bising yang diterima oleh telinga, yaitu sekitar 10-32 dB(A). Alat pelindung diri dibedakan atas beberapa jenis, berikut ini :

a. Penutup kepala (enclosure protector), penutup seluruh kepala, seperti helm yang dipakai astronot, dapat mengurangi intensitas bising secara maksimal dari 35dB(A) pada frekuensi 350 Hz sampai 50 dB(A) pada frekuensi tinggi. Alat pelidung diri ini juga dapat mengurangi transmisi aliran bising. Penutup kepala ini jarang digunakan di sektor industri, karena harganya mahal. Cocok digunakan oleh tentara untuk melindungi bising dengan intensitas dan frekuensi yang sangat tinggi, seperti bom dan peluru kendali. Pemakaiannya yang dikombinasikan dengan alat pelindung diri yang lain (sumbat telinga atau penutup telinga) dapat mengurangi kembali intensitas bising hingga 10 dB(A).

b. Sumbat telinga (aural insert protector), sumbat telinga atau earplug dibedakan atas sumbat telinga sekali pakai yang terbuat dari bahan yang lunak, sehingga ukuran dapat berubah untuk menyesuaikan bentuk liang telinga. Agar tidak menyebabkan timbulnya infeksi, bahannya harus berongga untuk tidak menyerap udara dan uap air. Selain itu, semua jenis ini juga harus dibuat dari bahan yang

(42)

tidak menimbulkan reaksi alergi dan sumbat telinga yang dipakai berulang yang terbuat dari bahan karet silikon lunak agar dapatdisterilisasi dengan alkohol atau dengan pemanasan. Karena ukurannya tetap, maka harus tersedia dalam berbagai ukuran, sumbat telinga ketat terbuat dari bahan yang seperti karet, difiksasi dengan pita penutup yang dilekatkan dengan ketat untuk menambah daya pengurangan intensitas bising.

c. Penutup telinga (circum aural protector)

Biasanya disebut earmuff, yang terdiri dari 2 buah mangkok yang dihubungkan dengan tangkai penghubung untuk menempel dengan ketat pada telinga pemakai. Bantalan mangkok penutup harus diganti secara teratur setiap 3–6 bulan sekali untuk menjamin penutupan telinga tetap ketat dan nyaman.

Pemilihan masing–masing jenis alat pelindung diri tergantung dari karakteristik bising yang dihasilkan, dengan mempertimbangkan faktor–faktor kemudahan, cara pemakaian, dan efektivitas pengurangan intensitas bising. Lebih praktis untuk pajanan bising yang mengalir terus menerus.

Sedangkan penutup telinga lebih efektif untuk pajanan bising dengan frekunsi tinggi, dan lebih praktis digunakan pada aliran bising yang terputus–putus, karena lebih muda dibuka. Bila pajanan bisinglebih dari 110 dB(A), perlu digunakan kombinasi alat pelindung diri terhadap bising, biasanya sumbat telinga dan penutup telinga untuk menjamin proteksi yang lebih memadai.

(43)

2.1.11.3. Tes Pendengaran 1. Tes pendengaran awal

Tes audiometri awal dilaksanakanpada semua pekerja dalam 6 bulan pertama pajanan bising. Gambaran audiogram pekerja harus sudah diperoleh paling sedikit 14 jam sebelum terpajan bising terus menerus.

2. Tes pendengaran periodik

Pada pekerja yang bekerja di lingkungan dengan bising ≥85 dB(A), harus dilaksnakan tes audiometri berkala setiap tahun sekali.

2.1.11.4. Pelatihan

Pada pekerja yang bekerja di lingkungan dengan bising ≥85 dB(A), perlu dilaksanakan pelatihan tentang masalah yang timbul akibat bising, tujuan tes audiometri, keuntungan dan kerugian, serta tata cara pengguanan alat pelindung diri yang benar (Harrianto, 2010).

2.1.11.5. Strategi untuk Mencegah Tuli Akibat Bising a. Strategi perlindungan individu

Konservasi pendengaran dimulai masing–masing individu sebagai hal yang mendasar. NIHL sangat berbahaya, permanen dan tidak dapat diperbaiki, menyebabkan interferensi komunikasi yang secara substansial dan mempengaruhi kualitas hidup. Bunyi berdengung dalam telinga setelah paparan bunyi adalah indikator dari bunyi yang membahayakan. Paparan bunyi yang membahayakan dapat menimbulkan kerusakan serius tanpa rasa sakit, dan alat bantu pendengaran tidak membantu dalam menormalkan pendengaran. Individu harus berhati-hati dalam

(44)

situasi bunyi yang keras dan menghindarkannya bila mungkin atau menggunakan tutup telinga. Sangat penting untuk menyadari bahwa tingkat kebisingan dan lamanya (paparan) memiliki kontribusi dalam menimbulkan resiko. Bunyi tertentu, seperti ledakan dapat menyebabkan kerusakan permanen yang cepat.

b. Strategi Non Okupasional

Ketulian akibat bising berasal dari bukan lingkungan pekerjaan cukup sering terjadi, tapi umumnya sedikit yang menyadarinya. Program pendidikan dengan sasaran anak–anak, orang tua, grup hobby dan jabatan profesional seperti guru, dokter, audiologist, insinyur, arsitek dan ahi hukum. Konsumen membutuhkan panduan dan label peringatan produk untuk membantu mereka dalam memilih peralatan yang lebih melindungi dan dalam mengimplementasikan strategi untuk mengurangi paparan. Masyarakat harus diberitahukan tentang efektivitas dari alat perlindungan pendengaran (sumbat telinga, tutup telinga dan canal caps). Produsen alat tersebut harus memberikan petunjuk yang menyeluruh tentang cara penggunaan protektor.

c. Strategi okupasional

Program konservasi pendengaran untuk lingkungan pekerjaan harus meliputi komponen berikut: survei bunyi untuk menilai tingkat gangguan paparan bunyi, teknik dan pengelolaan bunyi untuk mengurangi intensitas, pendidikan untuk orang – orang beresiko tentang mengapa dan bagaimana mencegah ketulian, alat – alat perlindungan pendengaran (tutup telinga, sumbat telinga dan canal caps). Untuk mengurangi bunyi yang sampai ke telinga, dan evaluasi audiometri untuk mendeteksi

(45)

perubahan pendengaran. Peraturan pemerintah yang diterapkan pada industri–industri yang menimbulkan kebisingan harus direvisi agar meliputi semua industri dan semua karyawan, diawasi secara ketat dan sanksi yang berat bagi yang melanggarnya.

Program konservasi pendengaran yang dilakukan sering tidak efektif karena organisasi yang buruk dan pelatihan staf yang tidak adekuat. Pimpinan perusahaan harus dapat mengontrol kebisingan yang ada, menggunakan peralatan yang lebih senyap dan mengarahkan kepada pengurangan kebisingan pada perencanaan peralatan baru.

Paparan bunyi harus diukur secara akurat dan tingkat gangguan yang ditimbulkan pada pekerja. Alat perlindungan pendengaran yang digunakan harus nyaman, praktis untuk pekerjaan, memberikan proteksi yang adekuat. Pekerja perlu memonitor efektivitas program dengan menggunakan teknik yang sesuai untuk menganalisa data audiometri. Dengan mendeteksi daerah yang bermasalah, manager dapat memprioritaskan alokasi sumber dana dan memodifikasi kebijakan perusahaan untuk meningkatkan efektivitas, mengurangi biaya kompensasi pekerja, mengurangi absen, memperkecil kecelakaan dan meningkatkan produktivitas.

d. Strategi umum

Baik NIHL akibat pekerjaan maupun bukan akibat pekerjaan dapat dikurangi dengan mengimplementasikan tindakan pencegahan. Pemberian label terhadap produk yang menimbulkan kebisingan sesuai dengan peraturan. Pemberian penghargaan terhadap pabrik yang mendesain peralatan industri yang rendah bising

(46)

dan produk yang dihasilkan sesuai dengan peraturan tentang tingkat emisi maksimal dari hasil produksi, seperti peralatan pertukangan (Gunawanta, 2002).

2.2. Anatomi Telinga

Telinga secara anatomi terbagi atas tiga bagian yaitu telinga luar yang terdiri dari daun telinga, liang telinga dan sisi luar membran timpani. Kemudian telinga tengah berbentuk ruang dengan enam dinding yang berisikan rangkaian tulang-tulang pendengaran dan assesorisnya serta bagian telinga dalam yang terdiri dari organ keseimbangan atau vestibuler dan organ pendengaran atau koklea yang berlanjut ke susunan saraf pusat melalui serabut saraf penghantar informasi yang diterima oleh organ secara keseluruhan setelah melalui proses yang diperlukan.

Daun telinga dibentuk oleh tulang rawan dan otot, kemudian berlanjut ke arah liang telinga yang terdiri dari lapisan tulang rawan berbentuk corong yang menutupi hampir sepertiga lateral, berisi kelenjar serumen dan folikel rambut, sedangkan dua pertiga liang telinga lainnya dibentuk oleh tulang yang ditutupi oleh kulit yang melekat erat dengan membran timpani.

Organ konduksi atau penghantar energi gelombang bunyi yang terletak di dalam ruang telinga tengah terdiri atas membran timpani. Rangkaian tulang pendengaran, ligamentum dan otot penunjang, tingkap oval dan tingkap bundar.

Adapun fungsi telinga tengah adalah meneruskan energi akustik yang berasal dari telinga luar masuk ke dalam sistem telinga dalam atau koklea yang berisi cairan limfe. Dalam perjalanannya, energi gelombang bunyi mengalami proses penguatan

(47)

atau amplifikasi sebelum memasuki ruang telinga dalam. Organ telinga dalam atau koklea yang biasa disebut dengan rumah siput membentuk tabung ulir yang dilindungi oleh tulang dengan panjang sekitar 35 mm dan terbagi atas skala vestibuli, skala media dan skala timpani.

Di dalam ruang telinga dalam terdapat beberapa komponen penting terutama organ corti yang terdiri dari sel rambut dalam, sel rambut luar, sel-sel penunjang Deiters, Hensen’s, Claudius’s, membran tektoria dan lamina retikularis. Sel rambut dalam dan sel rambut luar berperan dalam mengubah hantaran bunyi yang berbentuk energi mekanik/akustik atau getar gelombang bunyi yang diteruskan dari telinga tengah yang disampaikan melalui aktifitas kaki tulang stapes dalam bentuk gerakan seperti piston pada permukaan tingkap lonjong menjadi energi listrik.

Setelah energi mekanik gelombang bunyi mengalami proses sampai dengan berubah menjadi energi listrik maka energi tersebut akan diteruskan oleh sistem organ tepi tersebut menuju ke sistem yang lebih dalam melalui serabut saraf menuju pusat pendengaran di otak.

Pendarahan pada sistem organ ini diperoleh dari percabangan arteri vertebralis setelah masuk ke tengkorak melalui foramen magnum, arteri vertebralis kanan dan kiri bertemu di pertengahan klivus membentuk sepasang arteri basilaris. Salah satu cabang arteri basilaris adalah arteri serebralis anterior dan inferior yang kemudian bercabang lagi menjadi arteri auditiva interna yang memperdarahi organ kokleo–

vestibuler. Sedangkan pensarafannya didukung oleh saraf auditorius yang mendapat

(48)

informasi dari sel rambut pada koklea akan berlanjut ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (Bramantyo dkk, 2008).

2.3. Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea.

Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke telinga tengah melalui rangkain tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong.

Energi getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibuli bergerak.

Getaran diteruskan melalui membrana Reissner yang mendorong endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.

Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neutrotransmiter kedalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis (Soetirto dkk, 2010).

(49)

2.4. Pengertian Gangguan Pendengaran dan Ketulian

Menurut WHO pengertian gangguan pendengaran dan ketulian dibedakan berdasarkan ketentuan sebagai berikut:

1) Gangguan Pendengaran : berkurangnya kemampuan mendengar baik sebagian atau seluruhnya, pada salah satu atau kedua telinga, baik derajat ringan atau lebih berat dengan ambang pendengaran rata-rata lebih dari 26 dB(A) pada frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz (Modul, 2008).

2) Ketulian : hilangnya kemampuan mendengar pada salah satu atau kedua sisi telinga, merupakan gangguan pendengaran sangat berat dengan ambang pendengaran rata–rata lebih dari 81 dB(A) pada frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000Hz.

Gangguan pendengaran atau tuli adalah penurunan fungsi pendengaran. Ada tiga jenis gangguan pendengaran yang dapat dikenali dengan uji pendengaran : tuli konduksi, tuli sensorineural dan gabungan keduanya atau tuli campuran. Penyebab gangguan pendengaran berdasarkan jenis ketulian atau lokasi adalah

a. Tuli konduksi adalah akibat kelainan telinga luar dan atau tengah dengan telinga dalam normal seperti liang telinga, membran timpani, kavum timpani, radang, trauma telinga dan oklusio tuba.

b. Tuli sensorineural timbul sekunder dari kelainan koklearis saraf kedelapan (Nervus akustikus) atau saluran auditori sentral dengan telinga luar dan tengah normal seperti presbikusis, kelainan kongenital, waktu ibu hamil menderita morbili, parotitis, kelainan darah atau pembuluh darah : anemia, leukemia,

(50)

hipertensi, avitaminosis B1, intoksikasi obat: Steptomisin, Kina, Garamisin, infeksi.

c. Tuli campuran atau kombinasi meliputi gangguan pendengaran pada kedua mekanisme konduksi dan sensorineural seperti otitis media kronika stadium lanjut, dimana telah terjadi komplikasi ke labirin, otosklerosis stadium lanjut, dimana telah terjadi penjalaran pembentukan tulang pada labirin, trauma kapitis, dimana telah terjadi ruptur membran timpani dan putusnya rantai osikel, hematotimpani atau fraktur os temporal yang merusak koklea, trauma akustik, dimana disamping merusak membran timpani dan rantai osikel juga bunyi yang sangat keras dapat merusak organ Corti (Hetaharia danMulyani, 2011).

2.4.2. Cara Pemeriksaan Pendengaran 2.4.2.1. Audiometri Nada Murni

Pemeriksaan dilakukan menggunakan audiometer dan hasil pencatatannya disebut audiogram. Dapat dilakukan pada anak berusia lebih dari 4 tahun yang koperatif. Sumber suara digunakan nada murni (pure tone) yaitu bunyi yang hanya terdiri dari 1 frekuensi. Pemeriksaan dilakukan pada ruang kedap suara, dengan menilai hantaran suara melalui udara (air conduction) melaui headphone pada frekuensi 125, 250, 5000, 1000, 2000, 4000, dan 8000Hz. Hantaran suara melalui tulang (bone conduction) diperiksa dengan memasang bone vibrator pada prosesus mastoid yang dilakukan pada frekuensi 500, 1000, 2000, 4000 Hz. Intensitas yang biasa digunakan antara 10-100dB(A) (masing–masing dengan kelipatan 10), secara bergantian pada kedua telinga. Suara dengan intensitas terendah yang dapat didengar

(51)

dicatat pada audiogram untuk memperoleh informasi tentang jenis dan derajat ketulian.

Notasi pada audiogram dipakai grafik AC (air conduction), yaitu dibuat dengan garis lurus penuh (Intensitas yang diperiksa antara 125-8000 Hz) dan grafik BC (bone conduction) yaitu dibuat dengan garis terputus–putus (intensitas yang diperiksa : 250-4000 Hz).

Untuk telinga kiri dipakai warna biru, sedangkan untuk telinga kanan, warna merah. Dari hasil pemeriksaan audiogram disebut ada gap apabila antara AC dan BC terdapat perbedaan lebih atau sama dengan 10 dB(A), minimal pada 2 frekuensi yang berdekatan. Pada pemeriksaan audiometri, kadang–kadang perlu diberi masking.

Suara masking, diberikan berupa suara seperti angin (bising), pada head phone telinga yang tidak diperiksa supaya telinga yang tidak diperiksa tidak dapat mendengar bunyi yang diberikan pada telinga yang diperiksa.

Pemeriksaan dengan masking dilakukan apabila telinga yang diperiksa mempunyai pendengaran yang mencolok bedanya dari telinga yang satu lagi. Oleh karena AC pada 45 dB(A) atau lebih dapat diteruskan melalui tengkorak ke telinga kontralateral, maka pada telinga kontralateral (yang tidak diperiksa) diberi bising supaya tidak dapat mendengar bunyi yang diberikan pada telinga yang diperiksa. Dari audiogram dapat dilihat apakah pendengaran normal (N) atau tuli. Jenis ketulian, tuli konduktif, tuli sensorineural atau tuli campur. Derajat ketulian dihitung dengan menggunakan indeks Fletcher yaitu :

Ambang Dengar (AD) =

(52)

Menurut kepustakaan terbaru frekuensi 4000Hz berperan penting untuk pendengaran, sehingga perlu turut diperhitungkan, sehingga derajat ketulian dihitung dengan menambahkan ambang dengar 4000Hz dengan ketiga ambang dengar di atas, kemudian dibagi 4.

Ambang Dengar (AD) =

Dapat dihitung ambang dengar hantaran udara (AC) atau hantaran tulang (BC). Pendengaran normal: AC dan BC sama atau kurang dari 25 dB(A), AC dan BC berhimpit, tidak ada gap. Tuli sensorineural : AC dan BC lebih dari 25 dB(A), AC dan BC berhimpit tidak ada gap. Tuli konduktif: BC normal atau kurang dari 25dB(A) AC, lebih dari 25dB(A), antara AC dan BC terdapat gap. Tuli campur : BC lebih dari 25 dB(A), AC lebih besar dari BC terdapat gap.

Dari hasil pemeriksaan audiogram disebut ada gap apabila antara AC dan BC terdapat perbedaan lebih atau sama dengan 10dB(A), minimal pada 2 frekuensi yang berdekatan.Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung hanya ambang dengar hantaran udaranya (AC) saja.

Derajat ketulian (ISO 1964) : 0 – 25 dB : normal

>25 – 40 dB : tuli ringan

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh ideologi Syiah terhadap pola kepemimpinan Basyar al-Assad penting untuk dikaji karena Basyar al-Assad yang berasal dari rezim Syiah Nushairiyah menjadi

Diharapkan dengan penelitian ini dapat dihasilkan produk proses pembubutan yang memiliki kekasaran permukaan cukup rendah..

Hasil asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny “K” selama kehamilan trimester III dengan keluhan kram kaki sudah teratasi, pada persalinan dengan persalinan

Dari hasil analisis dan data hasil penelitian yang telah dikaji serta pembahasan yang telah dipaparkan pada halaman sebelumnya, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa minat

Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah

[r]

Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah membangun jaringan VoIP di kampus dengan menghubungkan VoIP server pada jaringan wireless LAN, menggunakan softphone

Puji dan syukur penulis atas kahadirat Allah SWT, karen atas limpahan Rahmat, rejeki dan ridho-Nya sehingga penulis dpat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul ‘‘Sistem Pengendalian