Diterbitkan oleh: Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Bintuni
TINJAUAN YURIDIS TENTANG RELEVANSI STATUS HUKUM KEDUDUKAN ANAK LUAR KAWIN MENURUT KEWAR1SAN HUKUM ISLAM DAN KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PERDATA
Christina Samangun, Siti Rofiko Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Bintuni E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Tinjauan Yuridis Tentang Relevansi Status Hukum Kedudukan Anak Luar Kawin Menurut Kewarisan Hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”
Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui hubungan anak luar kawin dengan orang tua dan keluarga menurut Islam dan hukum perdata serta bagaimana status hukum anak luar kawin dalam hukum kewarisan menurut hukum islam dan hukum perdata.
Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa kedudukan anak luar kawin dalam hukum islam tidak dapat dianggap sebagai anak sah oleh karenanya anak yang lahir diluar perkawinan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibu kandungnya.
Kata kunci: Kedudukan Anak Luar Kawin
I. PENDAHULUAN
Untuk terciptanya suatu kehidupan yang tentram dalam keluarga dan masyarakat yang berhubungan dengan harta warisan serta perwalian, mutlak diperlukan adanya keturunan yang jelas dan suci. Akan tetapi masalah keturunan yang jelas dan suci ini apabila diselidiki lebih jauh sering mengundang pertentangan-pertentangan yang disebabkan oleh karena kurangnya pengertian masyarakat dalam hal menentukan status seseorang sebagai waris terhadap warisan.
Dengan adanya pengaruh dunia modem sekarang yang sedikit banyak dapat melibatkan manusia secara umum, sehingga tidak menutup kemungkinan adanya kebebasan berkomunikasi dan bergaul dalam hidupnya dengan sendirinya dapat membawa akibat-akibat hukum yang dapat menyebabkan manusia bergelimang dengan dosa, yang pada akhirnya berakibat adanya anak luar kawin bila tidak dihadapi secara sunggub-sungguh.
Berdasarkan kenyataan hidup sehari-hari dalam suatu masyarakat khususnya hubungan pergaulan antara pria dan wanita kadang-kadang mereka terlanjut berbuat maksiat, misalnya melakukan hubungan sex diluar perkawinan yang akhimya mengakibatkan kehamilan dan dengan terpaksa harus menerima kehadiran seorang bayi. Bila dipandang dan norma-norma yang hidup di
masyarakat secara umum, jika seorang ibu tidak menikah melahirkan anak, maka dalam hubungan hukum anak yang lahir itu hanya mempunyai ibu tidak mempunyai ayah.
Hal semacam ini sangat dicela dalam lingkungan masyarakat Indonesia, oleh sebab itu selalu diusahakan keras agar hal tersebut jangan sampai terjadi.
Adapun usaha yang dilakukan yaitu, apabila seorang gadis atau janda hamil tanpa nikah, maka diusahakan agar ibu tersebut selekas mungkin dinikahkan agar pada waktu ia melahirkan ia sudah menikah. Biasanya seorang yang hamil tersebut diusahakan dinikahkan dengan pria yang menyebabkan ia hamil atau pria (yang biasanya dan pihak keluarga pria yang menghamili).
Namun yang menjadi masalah bagaimana kedudukan anak tersebut dalam hal pembagian warisan menurut hukum yang berlaku secara sah di Indonesia yaitu hukum Islam dan hukum perdata. Baik menurut hukum Islam maupun hukum perdata anak yang lahir diluar perkawinan statusnya berbeda dengan anak sah.
Akan tetapi nampaknya soal anak luar kawin di Indonesia tetap dipermasalahkan orang, walaupun secara konsepsional atau secara yuridis formal telah tersedia ketentuan-ketentuan hukum yang mengaturnya. Akan tetapi secara alamiah terkadang peristiwa-peristiwa dalam masyarakat, hukum tidak dapat mengaturnya dalam anti bahwa terjadi kesimpangsiuran karena adanya perbedaan aturan hukum.
Dalam hukum Islam anak zina yaitu anak yang lahir diluar perkawinan yang menurut ketentuan agama. Pengertian ini sangat tegas menyatakan bahwa yang menjadi ukuran adalah hukum agama. Dalam KUH Perdata yang mengatur mengenai hubungan hukum tentang warisan antara si ibu dan si anak luar kawin diatur dalam pasal 862 tentang pewarisan bila ada anak-anak di luar kawin dan pasal 873 tentang kepatutan mewaris bagi anak-anak luar kawin.
Sebagaimana halnya dalam hukum adat, hukum Islam pun menganggap seorang anak yang lahir diluar pernikahan hanya mempunyai ibu saja dan tidak mempunyai ayah, juga mengenai soal warisan. Dilihat dan segi hubungan hukum dengan ibu tidak ada perbedaan antara anak yang sah dengan anak yang lahir diluar perkawinan, demikian pula mengenai soal warisan.
Dalam hubungan ini yang menjadi dasar dan landasan untuk mengetahui perbedaan-perbedaan diantara yang dimaksud dengan anak sah dan anak yang termasuk anak tidak sah adalah perkawinan, karena agama telah menetapkan bahwa perkawinan adalah merupakan prosedur dan tata cara yang harus dilalui dalam hubungan halalnya pergaulan antara seorang lelaki dan seorang perempuan atau dengan kata lain untuk menghalalkan hubungan tersebut harus melalui tata cara dan prosedur yang berlaku serta diikat oleh suatu akad nikah yang sah menurut pandangan hukum Islam.
Jadi, atas dasar inilah maka dapat katakan bahwa seorang lelaki yang mengadakan hubungan dengan seorang perempuan tanpa melalui cara-cara yang benar dan tanpa suatu ikatan perkawinan sah, maka anak yang lahir sebagai akibat dari hubungan antara keduanya termasuk anak tidak sah. Sedangkan anak dikatakan sah apabila anak itu lahir dari hubungan kedua orang tuanya yang dibenarkan oleh hukum Islam.
Menurut mayoritas ulama, anak zina tidak bisa mewarisi ayahnya karena status hukumnya tidak ada hubungan nasab diantara mereka. Anak zina hanya bisa mewarisi harta peninggalan ibunya, begitu juga sebaliknya, ibunya dan saudara- saudara yang seibu, yang bisa mewarisi harta peninggalan.
Pasal 250 KUH Perdata pada intinya mengatakan bahwa tiap-tiap anak yang dilahirkan / sepanjang perkawinan memperoleh si suami sebagai ayahnya.
Menurut Satrio ( 2000 : 24 ) kalau kita konsekuen dengan prinsip pasal 250 tersebut, maka anak yang lahir satu hari sesudah perkawinan dilangsungkan adalah anak sah dan adalah anak dari suami si wanita yang melahirkan anak tersebut.
Anak yang dilahirkan dalam waktu yang sangat singkat setelah perkawinan berlangsung, tentunya sudah dibenihkan pada saat si istri belum berada dalam ikatan perkawinan dengan suaminya. Walaupun demikian biasanya dengan tidak mengabaikan adanya pengecualian, yaitu lelaki yang membenihkan anak tersebut adalah memang orang yang kemudian menjadi suami dan wanita yang melahirkan anak tersebut. Harus diakui dalam peristiwa-peristiwa, ada kemungkinan bahwa lelaki yang membenihkan anak yang bersangkutan adalah orang lain. Maka untuk demi kepastian hukum, UU harus memberikan suatu patokan. Dalam hal ini UU memberikan suatu acuan melalui pasal 251 - 254 KUH Perdata yang intinya sebagai berikut :
1. Jika anak itu dilahirkan sebelum 180 hari sejak perkawinan. Jadi seorang anak paling tidak harus berada dalam kandungan ibunya selama 180 hari.
Hal ini berarti bahwa jika hubungan antara suami istri dilakukan pada hari perkawinan, maka anak baru bisa lahir paling tidak pada hari ke 179 sesudah perkawinan. Jika ada anak lahir sebelum waktu itu bisa dipersangkakan bahwa anak tersebut dibenihkan sebelum perkawinan dilangsungkan (KUH Perdata pasal 251).
2. Istri melakukan perzinahan dan kelahiran anak itu disembunyikan terhadap suami (KUH Perdata pasal 253).
3. Anak itu dilahirkan lewat 300 hari sesudah ada putusan Pengadilan Negeri yang menyatakan perpisahan meja dan tempat tidur (KUH Perdata pasal 252 dan 254).
Dalam rangka memudahkan pencapaian maksud dan tujuan penelitian ini, maka perlu dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana hubungan hukum anak luar kawin dengan orang tua dan keluarga menurut Islam dan hukum Perdata ?
2. Bagaimanakah status hukum anak luar kawin dalam hukum kewarisan menurut hukum Islam dan hukum Perdata ?
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Anak Luar Kawin
1. Anak luar kawin menurut hukum Islam
Dalam hukum Islam anak luar kawin disebut anak zina, yaitu anak yang lahir diluar perkawinan yang sah menurut ketentuan agama, dengan tegas menyatakan bahwa yang menjadi ukuran adalah hukum agama (Ahmad Rafiq, 1998 : 132).
Sebagaimana sistem hukum perdata, hukum Islam juga mengenal penggolongan keturunan ke dalam dua golongan, yaitu :
1. Anak sah, yaitu anak yang lahir dalam perkawinan yang sah menurut aturan agama Islam.
2. Anak tidak sah (anak zina atau anak luar kawin).
Menurut Imam Hanafi yang dikutip oleh Rafiq bahwa wanita yang melahirkan itu tetap dianggap berada di ranjang suaminya. Karena itu anak yang dilahirkan dapat dipertalikan nasabnya kepada ayah (pezinanya) sebagai anak sah (Ibid, 1998 : 125). Sedangkan Imam Malik dan Imam Syafe’i berpendapat bahwa bila seorang lelaki mengawini seorang wanita yang belum pernah dikumpuli atau sudah, dalam waktu kurang dari enam (6) bulan kemudian wanita tersebut melahirkan anak setelah enam (6) bulan dari akad pernikahan, bukan dari masa berkumpulnya maka anak yang dilahirkan itu tidak dapat dihubungkan nasabnya kepada lelaki yang menyebabkannya mengandung, yang menjadi batasan adalah akad nikahnya, bukan perbuatan zinahnya. Bisa saja secara biologis (misalnya melalui tes darah) adalah bapaknya, tetapi secara sah hukum tidak bisa dibenarkan dan statusnya tetap adalah anak zina karena tidak adanya ikatan perkawinan antara ibu dan bapak biologisnya.
Selanjutnya menurut kesepakatan ulama Sunny yang dikutip oleh Rafiq, menyebutkan bahwa apabila bayi lahir kurang dan batas waktu enam (6) bulan, tidak bisa dihubungkan kekerabatannya kepada bapaknya.
Statusnya digolongkan sebagai anak zina. Praktis bayi bisa dinasabkan kepada ibunya saja (Ibid, 1998 : 135). Berbeda dengan pendapat Ulama Syiah Imamiyah yang dikutip oleh Rafiq yang secara tegas menyatakan bahwa bayi yang lahir kurang dari enam (6) bulan dalam kandungan, tidak bisa dihubungkan kekerabatannya kepada ibunya apalagi kepada bapaknya.
Sedangkan menurut. R. Wirjono Prodjodikoro, hukum Islam menentukan tenggang yang sekurang-kurangnya harus ada antara waktu kawin si istri ditambah lahir si anak, dan lagi suatu tenggang selama- lamanya harus ada antara putusnya perkawinan dan lahirnya si anak.
Tenggang yang sekurang-kurangnya antara kawin si ibu dan lahir si anak adalah enam (6) bulan sedangkan tenggang yang selama-lamanya harus ada antara putus perkawinan dan anak lahir adalah tenggang Iddah, yaitu empat (4) bulan sepuluh (10) hari.
Hal yang belakang ini oleh beberapa orang penganut agama Islam diartikan, bahwa apabila seorang perempuan setelah putus perkawinannya,
tidak mendapat menstruasi selama lebih dari tenggang iddah tadi, dan kemudian melahirkan anak, maka anak ini masih dianggap anak sah dari perkawinan yang putus tadi. Dalam hal ini ditentukan tenggang waktu selama-lamanya empat (4) tahun.
R. Wirjono Prodjodikoro, menambahkan mengenai ini pernah dipersoalkan oleh Pengadilan Negeri Surabaya dalam putusan tanggal 4 April 1955 oleh Pengadilan Tinggi Surabaya dalam putusan tanggal 13 Oktober 1956 dalam majalah “Hukum” tahun 1959 No. 3 – 4 Halaman 176-185.
Menurut Pengadilan Negerii Surabaya, peraturan dalam hukum Islam tentang tenggang empat (4) tahun ini terlahir pada waktu suci, artinya bahwa pada waktu itu tidak ada seorang janda pun yang berarti berbuat serong, tetapi pada waktu sekarang berlainan keadannya, sehingga oleh karena itu keputusan diserahkan kepada keputusan Hakim. In casu Hakim, yaitu Pengadilan Negeri Surabaya menentukan bahwa yang bersangkutan, yang lahir dua (2) tahun setelah suami dan ibunya wafat dianggap anak dari orang lain, yang hidup berkumpul dengan janda itu.
Dalam tingkat banding pada Pengadilan Tinggi Surabaya berpendapat lain, yaitu bahwa In casu harus berpegang teguh pada peraturan hukum Islam, bahwa seorang anak yang dilahirkan oleh seorang janda yang ditinggal wafat suaminya adalah waktu empat (4) tahun dengan tidak dapat dibuktikan bahwa janda itu kawin lagi dengan sah, dianggap sebagai anak almarhum suaminya.
Dengan melihat kasus tersebut pendapat umum lebih setuju dengan pendapat Pengadilan Negeri Surabaya. Sedangkan putusan Pengadilan Tinggi Surabaya tidak dapat diterima karena menurut akal sehat hal yang demikian tidak masuk akal, bahwa seorang perempuan dapat hamil selama lebih dan dua (2) tahun.
Oleh karena adanya tenggang waktu tersebut, maka dalam hukum Islam akan lebih sering ada kemungkinan seorang anak lahir di luar perkawinan dan pada di hukum perdata atau hukum adat. Dalam hukum adat tidak mengenal batas waktu untuk menentukan seorang sebagai anak sah atau bukan.
2. Anak luar kawin menurut hukum perdata
Sebelum diuraikan lebih lanjut pengertian anak luar kawin menurut hukum perdata, maka terlebih dahulu ada baiknya mengetahui pengertian anak secara umum.
Yang dimaksud dengan anak atau keturunan adalah anak-anak yang dilahirkan atau keturunan yang menimbulkan hubungan darah yaitu hubungan antara orang yang satu dengan orang tua atau leluhurnya ke atas. Secara umum anak atau keturunan dapat dikelompokkan dalam 2 (dua) golongan, menurut Satrio, yaitu :
1. Anak sah, yaitu keturunan yang sah didasarkan atas adanya perkawinan yang sah.
2. Anak tidak sah (anak luar kawin) yaitu keturunan yang tidak didasarkan atas sesuatu perkawinan yang sah.
Pada umumnya yang dimaksud dengan anak luar kawin adalah anak- anak yang dilahirkan diluar perkawinan yang sah, akan tetapi kemudian pengertian anak luar kawin dipakai dalam dua arti, yakni :
1. Dalam arti luas yaitu semua anak luar kawin yang tidak disahkan (anak yang diperoleh dan perzinaan yaitu anak yang lahir dari hubungan seorang lelaki dan seorang wanita sedangkan salah satunya atau kedua- duanya berada dalam perkawinan dengan orang lain, atau yang diperoleh sumbang yaitu anak yang lahir danriperhubungan seorang lelaki dan seorang wanita sedangkan diantara mereka terdapat larangan kawin karena masih sangat dekat hubungan kekeluargaannya. (Pasal 30 KUH Perdata).
2. Dalam anti sempit yaitu anak luar kawin yang tidak diperoleh dari perizinan atau sumbang.
Tentang anak sah, Ali Affandi mengatakan: “Kedudukan sebagai anak sah itu harus terus menerus dan sama sekali tidak boleh terputus-putus.
Kedudukan itu harus dapat dibuktikan dengan fakta-fakta yang secara keseluruhan atau satu persatu menunjukkan pertalian keturunan dari orang yang harus ditetapkan kedudukannya dengan orang yang menurunkannya.
KUH Perdata sendiri tidak memberikan penjelasan secara konkrit mengenai pengertian anak luar kawin. Akan tetapi dalam Pasal 250 KUH Perdata menyebutkan bahwa anak yang dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan memperoleh suami sebagai ayahnya.
Dari rumusan Pasal 250 KUH Perdata diatas merupakan patokan untuk sah atau tidaknya seorang anak dalam perkawinan. Dengan demikian setiap anak yang tidak dilahirkan sepanjang perkawinan adalah anak tidak sah dan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya serta hanya berhak mewaris dari ibunya dan keluarga ibunya bukan kepada ayahnya.
Anak luar kawin tidaklah mutlak akan selamanya berada dalam status sebagai anak yang tidak sah. Dalam hukum perdata dikenal dua lembaga yang dapat digunakan untuk mengubah status anak yang tidak sah menjadi anak sah yaitu lembaga pengakuan dan lembaga pengesahan.
B. Akibat Hukum Anak Luar Kawin
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada sub bab sebelumnya, bahwa status anak luar kawin (anak zina) baik yang lahir di luar perkawinan maupun didalam perkawinan menurut hukum Islam, dan yang diakui atau tidaknya menurut hukum perdata memiliki akibat hukum.
1. Menurut hukum Islam
Adapun akibat hukum bagi anak zina menurut hukum Islam antara lain:
a. Tidak ada hubungan nasab kepada bapaknya. Anak yang berhak dihubungkan kepada bapaknya hanya anak sah. Adapun anak zina tidak dapat dihubungkan nasabnya kepada bapaknya, melainkan hanya kepada ibunya. Secara yuridis formal, bapaknya tidak wajib memberikan nafkah kepada anak zina. Namun secara biologis ia adalah anaknya juga. Ini berarti hubungan kekerabatan hanya berlangsung secara manusiawi bukan secara hukum.
b. Tidak ada saling mewaris. Sebagai akibat lebih lanjut tidak adanya hubungan antara anak dengan bapaknya, maka mereka tidak clapat saling mewarisi satu sama lain, karena nasab merupakan salah satu penyebab kewarisan. Demikian pula keluarga bapak tidak dapat mewarisi dan anaknya tersebut.
c. Bapak tidak dapat menjadi wali bagi anak zina. Jika anak tersebut kebetulan perempuan dan telah dewasa lalu akan melangsungkan pernikahan maka bapaknya tidak berhak menjadi wali untuk anaknya tersebut. Tetapi ia dinikahkan dengan wali hakim.
2. Menurut hukum perdata
Akibat hukum dari pengakuan terhadap anak luar kawin menurut hukum perdata adalah lahirnya hubungan dengan yang mengakuinya.
Dengan pengakuan tersebut maka lahirlah hubungan antara mengakui dengan yang diakui (Pasal 280 KUH Perdata) selanjutnya mendapatkan status sebagai anak luar kawin yang diakui.
Adapun hubungan hukum antara anak yang bersangkutan dengan ayah dan ibu yang mengakuinya, membawa akibat lebih lanjut dalam hukum seperti :
a. Keharusan meminta izin kawin (Pasal 39 dan 47 KUH Perdata).
b. Adanya kewajiban timbal balik antara orang tua dan anak yang mengakuinya (Pasal 328 KUH Perdata).
c. Adanya hubungan perwalian dengan bapak/ibu yang mengakuinya yang terjadi demi hukum (Pasal 353 KUH Perdata).
d. Adanya hak waris dari anak yang diakui dengan orang tua yang mengakuinya (Pasal 909 KUH Perdata).
e. Adanya hal mewaris dari ayah dan ibu yang mengakui diatas harta warisan dari anak yang mengakuinya (Pasal 870 KUH Perdata).
Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 280 KUH Perdata menyebutkan bahwa : Dengan pengakuan terhadap anak luar kawin maka lahirlah hubungan perdata antara anak itu dengan bapak atau ibunya, hubungan hukum itu terbatas sekali, yaitu hanya antara yang mengakui dan anak yang diakui saja.
Antara anak luar kawin dengan keluarga ayah atau ibu yang mengakuinya, tidak ada hubungan apa-apa. Dalam pasal 872 KUH Perdata
menyebutkan bahwa : Undang-Undang tidak memberikan hak apapun terhadap anak luar kawin atas barang-barang dan keluarga sedarah kedua orang tuanya, kecuali dalam hal tercantum dalam pasal 873 KUH Perdata.
Pengecualian atas prinsip seperti itu adalah adanya akibat hukum dan pengakuan yang sangat terbatas terhadap keluarganya ayah/ibu yang mengakui, yaitu seperti yang diatur dalam anak kalimat terakhir Pasal 872 KUH Perdata, yang menunjukkan kepada Pasal 873 KUH Perdata yang mengatakan bahwa :
“Bila salah seorang dari keluarga sedarah tersebut meninggal dunia tanpa meninggalkan keluarga sedarah dalam derajat yang diperkenankan mendapat warisan dan tanpa meninggalkan suami atau istri. maka anak luar kawin yang diakui berhak menuntut seluruh warisan untuk diri sendiri dengan mengesampingkan negara.
Bila anak luar kawin itu meninggal juga tanpa meninggalkan keturunannya, suami atau istri yang hidup terlama, orang tua, saudara laki-laki atau perempuan diluar kawin atau keturunan mereka ini, maka harta peninggalan anak di luar kawin itu menjadi hak keluarga sedarah terdekat dari bapak atau ibu yang telah memberikan pengakuan kepadanya dengan mengesampingkan negara, bila keduanya telah mengakuinya maka separuh dan harta peninggalan itu menjadi hak keluarga sedarah bapaknya, dan yang separuh lagi menjadi hak keluarga sedarah ibunya. Pembagian dalam kedua garis dilakukan menurut peraturan mengenai pewarisan biasa.”
Pasal 873 KUH Perdata diatas berbicara tentang warisan dan keluarga sedarah dari ayah atau ibu yang telah mengakui si anak luar kawin.
Kata keluarga sedarah dalam derajat yang diperkenankan mendapat warisan menunjukkan kepada kita bahwa pasal tersebut baru berlaku jika anggota sedarah yang sah dari si pewaris sudah tidak ada semua. Dalam kata keluarga sedarah harus diperhatikan batasan sederajat yang masih memungkinkan bagi seorang anggota keluarga si mati untuk mendapatkan warisan berdasarkan penggantian tempat mewaris dari pewaris.
Dalam hal ini kita perlu ingat pada pasal 861 KUH Perdata yang berbunyi : Keluarga sedarah yang hubungannya dengan yang meninggal dunia itu lebih jauh dari derajat ke-enam dalam garis kesamping, tidak mendapat warisan.
Sebaliknya pasal 873 KUH Perdata diatas tersebut mengatur tentang warisan dari anak luar kawin yang tidak meninggalkan keluarga sedarah yang dapat mewanisi warisannya. Dalam hal demikian maka keluarga sedarah dari ayah atau ibu anak luar kawin yang mengakuinya berhak untuk mewarisi warisan itu dengan memberikan hak bagian yang sama pada keluarga dalam garis bapak atau ibu si anak yang telah sama-sama mengakuinya.
Kalimat dengan mengenyampingkan negara tertuju pada ketentuan pada pasal 832 KUH Perdata mengatakan bahwa dalam hal bilamana keluarga saudara si mati atau yang hidup terlama diantara suami istri tidak
ada, maka segala harta peninggalan si mati menjadi milik negara, yang wajib melunasi hutang-hutang orang yang mati tersebut, sejauh harta peninggalan mencukupi untuk itu. Jadi dalam pasal 873 KUH Perdata ditegaskan bahwa kedudukan negara sebagai penerima warisan ada dibelakang dari anak luar kawin atau keluarga saudara ayah atau ibu yang mengakui.
Akibat hukum dari anak yang disahkan kedudukannya sama dengan anak sah. Namun demikian ada pengecualiannya sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 278 KUH Perdata yaitu yang disahkan oleh presiden yang orang tuanya terhalang untuk saling menikahi. Menurut Pasal 278 yang didasarkan pada Pasal 275 KUH Perdata tidak boleh merugikan anak sah dan keluarga saudara dari pewaris. Akibat hukumnya dari pengesahan tersebut dibatasi dalam arti tidak sepenuhnya sama dengan anak sah.
Pembatasan tersebut hanya pada masalah pewarisan dimana yang disahkan kedudukannya sebagai ahli waris dan semua itu dimaksudkan untuk melindungi anak-anak sah yang telah lahir, dari kemungkinan dirugikan karena kehadiran anak yang disahkan. Namun jika pengesahan itu dengan cara kedua orang tuannya menikah dan tidak terhalang untuk saling menikahi ia mempunyai kedudukan yang sama dengan anak yang sejuk kelahirannya adalah berstatus sebagai anak sah.
Menurut Pasal 227 dan 278 KUH Perdata akibat pengesahan ini ada beberapa macam dalam arti ditentukan oleh bentuk pengesahannya, yaitu : 1. Jika pengesahan itu dilakukan karena perkawinan orang tua maka
keadaan anak yang disahkan itu sama dengan anak-anak yang lahir dalam perkawinan (pasal 227 KUH Perdata)
2. Jika pengesahan itu dengan surat pengesahan, maka akan akibat hukum yang terbatas, yaitu :
a. Pengesahan itu baru mulai berlaku pada saat pengesahan itu diberikan.
b. Pengesahan itu dalam hal pewarisan tidak boleh merugikan anak- anak yang sah, sejak pengesahan itu dilakukan.
c. Pengesahan itu tidak berlaku dalam pewarisan terhadap para wangsa (keluarga sedarah) uang lain kecuali jika mereka memberi ijin untuk pengesahan itu (Pasal 278 KUH Perdata).
Satrio menerangkan kalau kita perhatikan pembahasan yang disebutkan dalam Pasal 278 KUH Perdata, maka kita melihat bahwa pembatasan itu terletak pada masalah pewarisan, dimana anak yang disahkan itu berkedudukan sebagai ahli waris dan kesemuanya itu dimaksudkan untuk melindungi anak-anak sah yang telah lahir, dari kemungkinan kerugian karena kehadiran anak yang disahkan dalam kualitasnya sebagai anak sah terhadap warisan orang yang mengesahkan maupun keluarga sedarahnya.
Pada Pasal 279 KUH Perdata yang dikatakan bahwa yang dapat disahkan itu bukan hanya anak-anak yang masih hidup, tetapi anak-anak yang sudah meninggalpun dapat disahkan dengan catatan dia
mempunyai keturunan sehingga dengan pengesahan itu keturunannya dapat memperoleh keuntungan, misalnya dalam hal pewarisan.
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
Hukum waris adalah hukum yang mengatur tentang kedudukan harta kekayaan seseornag setelah ia meninggal dunia, dan cara-cara berpindahnya harta kekayaan itu kepada orang lain. Ada dua macam cara untuk mengatur berpindahnya harta kekayaan seseorang yang telah meninggal (pewarisan), yaitu: Pewarisan menurut undang-undang ialah pembagian warisan kepada ahli waris (orang-orang yang mempunyai hubungan darah terdekat dengan pewaris). Pada pewarisan menurut undang-undang ada pengisian tempat (plaatsvervulling), artinya jika ahli waris yang berhak menerima warisan itu telah meninggal sebelum pembagian warisan, hak warisnya dapat digantikan oleh anaknya. Apabila pewaris meninggal tanpa meninggalkan keturunan, suami, isteri dan saudara-saudara, harta warisan itu dipecah menjadi dua. Setengah bagian untuk keluarga bapak dengan garis lurus ke atas dan yang setengah bagian lainnya diberikan kepada keluarga ibu menurut garis lurus ke atas pula (terjadi kloving); Pewarisan berdasarkan wasiat, yaitu pembagian warisan kepada orang-.orang yang berhak menerima warisan menurut kehendak terakhir si pewaris (wasiat pewaris). Wasiat itu harus dinyatakan dalam bentuk akta notaris (warisan testamenter). Pemberi warisan disebut erflater, sedangkan penerima warisan atas dasar wasiat disebut legataris.
Penerima warisan yang karena penetapan undang-undang ada hubungan darah dengan pewaris dinamakan erfgenaam. Garis kekeluargaan untuk menetapkan ahli waris dapat dibedakan menjadi: Garis vertikal ialah garis kekeluargaan langsung satu sama lain, misalnya: kakek, bapak, anak-anak. cucu, dihitung menurun; kalau sebaliknya dihitung menunjak; Garis horisontal ialah garis kekeluargaan tak langsung satu sama lain, misalnya bapak, paman, keponakan, saudara, dan seterusnya.
Dalam hukum waris dikenal juga bagian harta kekayaan tertentu yang ditetapkan menurut undang-undang yang disebut legitime portie, yaitu bagian mutlak yang menjadi hak ahli waris menurut garis vertikal yang tidak dapat diganggu gugat. Bagian tertentu ini oleh si pewaris tidak boleh diberikan kepada orang lain baik sewaktu ia masih hidup maupun setelah ia meninggal. Penerima legitime portie disebut legitimaris; mereka itu adalah anak, cucu, dan orangtua.
Berdasarkan penetapan garis kekeluargaan ahli waris dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu :
Golongan I : meliputi suami/istri yang hidup terlama dan keturunan dari pewanis dalam garis lurus ke bawah.
Golongan II : meliputi orang tua, saudara-saudara sekandung dan keturunan dari pewaris.
Golongan III : adalah leluhur pewaris baik dari pihak suami/istri.
Golongan IV : adalah keluarga sedarah sampai derajat keenam.
Hak waris dari golongan-golongan ini tergantung dari ada atau tidak adanya golongan sebelumnya. Artinya, Golongan I menutup hak waris Golongan II, Golongan II menutup hak waris Golongan III, dan seterusnya. Apabila Golongan I sampai dengan IV tidak ada, harta warisan menjadi milik negara.
Wasiat ada beberapa macam, yaitu: Wasiat olografis ialah surat wasit yang ditulis sendiri oleh pewaris kemudian disimpan di kantor notaris sampai pembuatannya meninggal; Wasiat rahasia ialah surat wasiat yang dibuat sendiri oleh pewaris atau oleh orang lain dan disegel, kemudian disimpan di kantor notaris sampai pembuatnya meninggal dunia; Wasiat umum ialah surat wasiat yang dibuat dihadapan seorang notaris dan dihadiri oleh dua orang saksi. Sifat wasiat umum ini autentik dan sah. Wasiat ini setelah selesai dibuat disimpan di kantor notaris sampai pembuatnya meninggal; Codisil ialah suatu akta di bawah tangan yang isinya kurang penting dan merupakan pesan seseorang setelah meninggal dunia.
Jika warisan sudah terbuka, ahli waris dapat memilih dua alternatif/pilihan, yaitu menerima atau menolak warisan. Dalam hukum waris terdapat ketentuan bahwa para ahli waris, di samping berhak menerima bagian warisan dari pewaris, berkewajiban pula membayar utang-utang pewaris yang belum terbayar. Sehingga karena adanya ketentuan demikian, seorang ahli waris dapat menyatakan menerima warisan tetapi dengan ketentuan bahwa ia tidak diwajibkan membayar utang pewaris, meskipun jumlah utang tersebut melebihi bagian warisan yang diterimanya. Seorang ahli waris juga dapat menyatakan menolak sama sekali warisan.
Kemungkinan lain adalah bahwa seorang ahli waris menyatakan antara menerima dan menolak warisan (benificiaire aan vaarding). Jika ahli waris menghendaki demikian, ahli waris itu harus menyatakan di pengadilan negeri kepada panitera pengadilan negeri tersebut Penerimaan dengan cara ini dimaksudkan oleh ahli waris agar ia tidak diwajibkan melunasi utang pewaris yang melebihi jumlah warisan yang diterimanya. Maksud lain adalah agar tidak terjadi percampuran antar harta peninggalan dan harta ahli waris. Harta peninggalan diperuntukkan bagi keperluan melunasi utang-utang pewaris atau keperluan lain bagi pewaris. Keadaan apakah ahli waris menolak atau menerima warisan kadang- kaclang dapat merugikan pihak ketiga yang berpiutang pada pewaris. Oleh sebab itu UU menetapkan batas waktu seorang ahli waris untuk menyatakan menerima atau menolak warisan, yaitu paling lama empat bulan setelah warisan terbuka.
Ahli waris benificiaire mempunyai kewajiban-kewajiban tertentu antara lain:
Melakukan pencatatan adanya harta peninggalan dalam waktu 4 bulan setelah ia menyatakan kehendaknya kepada panitera pengadilan negeri bahwa ia menerima warisan secara benificiaire; Mengurus harta peninggalan warisan dengan baik;
Selekas mungkin membereskan urusan warisan; Mendahulukan kepada penagih yang memegang hak hipotek; Memberikan pertanggungjawaban kepada semua penagih utang dan orang-orang yang menerima pembagian secara legaat;
Memanggil orang-orang berpiutang yang tidak dikenal melalui surat kabar resmi.
Berkaitan dengan pewarisan anak luar kawin maka tidak terlepas dan pembahasan hasil penelitian tentang perzinahan. Menurut kamus umum bahasa Indonesia (W.J. Poerwodarminto) perzinahan berarti berbuat zina, sedangkan zina berarti perbuatan bersetubuh yang tidak sah seperti bersundal, bermukah,
bergendak dan sebagainya. Menurut S.R Sianturi dalam rangkaian kuliah Hukum Pidana I dijelaskan bahwa “Perzinahan itu mutlak harus terjadi persetubuhan, sedangkan persetubuhan adalah bersatunya tubuh seorang laki-laki dengan seorang perempuan, dimana pihak laki - laki mengeluarkan sperma dalam kewajaran.” Yang dimaksud dengan persetubuhan menurut Arrest Hooge (R. Soesilo 1996 : 209) ialah: “Perpaduan antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuan yang biasanya dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggota laki - laki harus masuk ke dalam anggota perempuan, sehingga mengeluarkan air mani.” Untuk mengetahui lebih jauh tentang perzinahan sebaiknya dilihat beberapa tinjauan mengenai perzinahan itu, dalam hal ini ditinjau melalui Hukum Adat dan Hukum Agama.
Oleh Human Hadikusuma (1984 : 98) mengatakan bahwa “Persetubuhan antara pria dan wanita diluar ikatan perkawinan yang syah adalah perbuatan zina atau yang disebut juga “Sumbang.” Hukum Adat tidak sebagaimana Hukum Pidana membedakan antara orang yang sudah kawin atau yang belum kawin sebagaimana dinyatakan dalam KUHP Pidana pasal 284. Jadi baik kawin atau belum kawin jika tidak ada ikatan perkawinan yang syah maka dilarang terjadinya persetubuhan antara pria dan wanita, jika sampai terjadi hams dihukum. Berat ringannya hukuman tergantung pada hukum adat yang berlaku di lingkungan masyarakat adat masing-masing. Dengan demikian jelaslah bahwa perbuatan zina yang dilakukan merupakan suatu larangan disertai sanksi bagi sipelaku, yang mana sangsi tersebut diberikan oleh penguasa adat setiap masyarakat Hukum Adat sesuai dengan aturan Hukum adat masing - masing.
Berdasarkan data yang diperoleh melalui penelitian pada Lembaga Masyarakat Adat (LMA) di Kabupaten Teluk Bintuni. Dalam hal ini dijelaskan oleh ketua Lembaga Masyarakat Adat bahwa yang dikatakan perbuatan zina adalah
“Hubungan seks yang dilakukan oleh laki - laki dan perempuan tanpa Ikatan pernikahan, baik itu dilakukan oleh laki - laki yang sudah menikah kepada perempuan yang belum menikah atau kepada suami orang terhadap isteri orang, dan sebaliknya isteri orang kepada laki - laki yang belum kawin (masih bujang) maupun kepada laki-laki dan perempuan yang kedua - duanya belum kawin (tanpa ikatan pemikahan).”
Hal ini sering terjadi yang mana masuknya laporan ke pihak Lembaga Adat Bindara yang dicatat dalam buku Agenda bahwa yang merupakan masalah perzinahan yaitu antara lain :
1. Menghamili Anak orang (Dalam status pacaran) 2. Bawa lan anak orang (Telah melakukan persetubuhan)
3. Kedapatan melakukan zina (Tertangkap tangan) di rumah atau kamar orang 4. Melakukan zma dengan istri orang (Terjadi hubungan seks, namun tidak terjadi
kehamilan)
5. Selingkuh dengan suami orang (Menjadi wanita simpanan) Terhadap pemberian sangsi tergantung permasalahannya :
1. Jika perbuatan dilakukan, dan salah satu pihak telah terikat pernikahan atau kedua belah pihak telah terikat pernikahan dan melakukan persetubuhan dengan bukan pasangan resminya, maka telah terjadi perzinahan yang kedua belah pihak sama - sama dikenai sanksi.
2. Jika perzinahan dilakukan oleh pasangan muda - mudi yang masih dalam tahap pacaran dan terjadi kehamilan maka yang kena sangsi adalah pihak laki - laki.
3. Jika perzinahan dilakukan pula oleh muda - mudi yang tertangkap tangan melakukan perzinahan di rumah atau kamar orang maka keduanya akan dikenakan sanksi.
4. Berat ringannya pemberian sangsi ditentukan oleh hakim adat / tua - tua adat sesuai dengan hasil urusan permasalah adat itu. Dengan demikian jelaslah bahwa hukum adat sangat menentang perbuatan zina dan menganggap perbuatan zina adalah perbuatan yang melanggar hukum atau hukum adat.
Agama banyak memainkan peranan penting tidak hanya hubungan akhlak dan pikiran orang, tetapi juga dalam menentukan tingkah laku dalam masyarakat, ialah hubungan penyelenggaraan dan perlindungan kepentingan - kepentingan orang lain dan usaha mengembangkan kepentingan bersama dalam masyarakat. Dalam ajaran agama diketahui bahwa bukan hanya mengatur penghidupan mukmin dalam agamanya, melainkan juga mengatur tentang hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam sekitarnya.
Jika ditinjau dan hukum Islam, salah satu tujuan diciptakannya hukum dalam agama Islam (Dahlan Idhamy 1987:24) ialah “Menjaga dan memelihara kehormatan dan keturunan manusia.” Manusia sebagai makhluk tertinggi dialam, pertumbuhan dan pembiakannya tidak sama dengan hewan. Pada hewan hubungan jantan dan betina tidak diatur dalam suatu aturan atau norma. Manusia mempunyai fitrah yang jauh lebth tinggi dati hewan. Oleh karena itu agama Islam melarang adanya pria dan wanita baik dalam mengecap cinta ataupun membuat keturunan dengan jalan perzinahan. Dahlan Idhamy (1987 : 25) menyebutkan : “Jalan zina membawa malapetaka buat masyarakat baik dari segi moral dan penyakit yang ditimbulkan serta akibat - akibat yang fatal pada keturunan”. Hal ini ditegaskan dalam surat Al Israa 32 yang terjemahannya: “Dan janganlah kamu mendekati zinah, sesungguhnya zinah itu adalah sesuatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Ditinjau dari beratnya hukuman, maka perzinahan termasuk jarimah (tindak pidana) khudud, yaitu jarimah yang diancamkan hukuman hadd, yaitu hukuman yang telah ditentukan macam jumlahnya dan menjadi hak Tuhan.
Sedangkan yang dimaksud Hak Allah (Abdulfani Karim 1975 : 62) adalah :
“Menyangkut hal - hal yang manfaatnya untuk semua umat manusia tidak untuk pribadi - pribadi seseorang dan dihubungkan dengan masalah itu kepada Allah meskipun beliau suci dari semua kepentingan itu dan juga peringatan bahwa hal itu penting artinya bagi masyarakat”.
Jadi sampai kapanpun perzinahan tetap merupakan suatu perbuatan yang dikutuk Tuhan. Oleh karena itu sanksi yang berat ditetapkan Allah bagi mereka yang melakukan zinah yaitu yang tercantum dalam surat An Nuur 2 yang terjemahannya: “Perempuan yang bersinah dan laki - laki yang berzinah, maka deralah tiap-tiap seseorang dan keduanya seratus kali dera dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu dan beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang - orang yang beriman.”
Timbul pertanyaan apakah anak luar kawin hasil perzinahan itu ? Al quran tidak memberikan batasan secara definitif mengenai hal ini namun empat imam besar memberikan pengertian perzinahan (A. Fachni 1986 26) yaitu :
1. Menurut Imam Maliki, tarif zinah ialah watik (Jima) dengan sengaja seorang muukallaf pada farji manusia yang tak diragui lagi, bahwa ia bukan hak miliknya yang telah disepakati oleh ulama - ularna Maliki.
2. Menurut Imam Hanafi, ta’rif zinah ialah watik (Jima) seorang laki - laki pada Fasrji perempuan yang bukan haknya atau miliknya atau yang diragukan haknya atau miliknya.
3. Imam hambali menta’rifkan zinah ialah melakukan perbuatan cabul dalam farji (kelamin wanita) atau dubur.
4. Ulama Syafia mentafsirkan zinah, ialah memasukkan zakar kedalam farji perempuan yang diharamkan, yang diingini menurut tabiat yang sehat dan perempuan yang dirinya haram (dicampur) dan yang sunyi dan syubbat”.
Dan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa persinahan menurut umat Islam dilarang oleh Allah dan hukum Islam karena perbuatan itu dapat merugikan perseorangan maupun masyarakat.
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan maka perzinahan menurut pandangan agama sama halnya dengan padangan secara hukum adat yang mana perzinahan yaitu persetubuhan yang dilakukan tanpa ikatan pemikahan bagi laki - laki maupun perempuan yang salah satunya atau kedua - duanya telah terikat perkawinan maupun kepada laki - laki dan perempuan yang tidak ada ikatan pernikahan (masih lajang). Tetapi pandangan agama lebih mendetail dijelaskan bahwa perbuatan pelacuran, percabulan, seks bebas merupakan pula perbuatan zinah, yang mana semua perbuatan tersebut dapat berakibat terjadinya anak luar kawin.
B. Pembahasan
Anak yang lahir diluar perkawinan yang sah menurut ketentuan agama disebut anak zina. Anak zina status hukumnya hanya memiliki hubungan hukum dengan ibunya, ia tidak dinasabkan kepada bapaknya. Untuk menentukan status anak menurut hukum Islam terlebih dahulu ditelusuri asal usul anak tersebut. Patokan untuk menentukan anak sah atau tidak sah adalah jarak antara waktu perkawinan dengan anak yang dilahirkan sebagai status anak dapat diketahui, dengan demikian batasannya adalah akad nikah. Bukan perbuatan zinanya, bisa saja secara biologis (misalnya melalui tes darah) adalah bapaknya, tetapi secara hukum tidak bisa dibenarkan dan statusnya tetap anak zina. Menurut Jumhur Ulama tenggang waktu tersebut adalah 6 (enam) bulan dihitung dari akad nikah. Bila dalam waktu kurang 6 (enam) bulan, kemudian wanita tersebut melahirkan, maka anak yang dilahirkan tidak bisa dihubungkan nasabnya kepada laki-laki yang menyebabkan mengandung, pendapat yang demikian dapat dirasakan mempunyai beberapa kelemahan yang sangat mendasar yaitu :
1. Menyalahi ketentuan umum Firman Allah SWT :
“Panggillah mereka (semua anak angkat) kepada bapak mereka itulah yang lebih adil disisi Allah”.(Q.S. Al-Ahzab; 5)
2. Dirasakan kurang memenuhi keadilan, bila ada seorang anak lahir karena perbuatan ibu dengan bapaknya, namun hanya dipertalikan kepada ibunya saja meskipun perbuatan itu tanpa didasari selembar surat nikah. Sedangkan menurut pertimbangan umum bahwa seorang ibu lebih lemah kemampuan dan keadaannya daripada seorang bapak.
3. Bila kita perhatikan banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat bahwa kaum ibu yang tidak bersuami membuang anak (bayi) yang lahir karena perzinaan.
Atas dasar ini tidak adil bila menetapkan hukum bahwa anak yang lahir karena perzinaan hanya menjadi tanggungan ibunya saja. Sebaliknya yang lebih adil ialah anak yang lahir karena perzinaan itu harus (dengan kepastian hukum) menjadi tanggung jawab bapaknya.
4. Batas minimal 6 bulan, sebagai penetapan pengesahan anak yang lahir sejak masa berkumpulnya pasangan suami istri, belum juga dapat menjamin kebenaran.
Menurut kompilasi hukum Islam di Indonesia asal usul anak dapat dibuktikan dengan akta kelahiran atau alat bukti sebagi penguat status anak apabila akta kelahiran dan alat bukti sebagai penguat status anak apabila akta kelahiran dan alat bukti lain tidak ada, maka Pengadilan Agama yang menetapkan asal usul anak. Hal ini sebagaimana tercantum pada Pasal 103 Kompilasi Hukum Indonesia sebagai berikut :
1. Asal usul anak hanya dapat dibuktikan dengan akta kelahiran atau alat bukti lainnya.
2. Bila akta kelahiran atau alat bukti lainnya tersebut dalam ayat (1) tak ada, maka Pengadilan Agama dapat mengeluarkan penetapan tentang asal usul seorang anak setelah mengadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang sah.
3. Atas dasar ketetapan Pengadilan Agama tersebut (2) maka instansi pencatat kelahiran yang ada dalam daerah hukum Pengadilan Agama tersebut mengeluarkan akta kelahiran bagi anak yang bersangkutan.
Jika terjadi kasus seorang wanita hamil di luar nikah, maka usaha yang ditempuh adalah dengan mengawinkan wanita tersebut dengan laki-laki lain yang menghamilinya berdasarkan pengakuan dari laki-laki yang mengamilinya.
Ini sesuai dengan Pasal 53 Kompilasi Hukum Islam.
1. Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
2. Perkawinan dengan wanita hamil yang tersebut pada ayat (1), dapat dilangsungkan tanpa menungu lebih dulu kelahiran anaknya.
3. Dengan dilangsungkan perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.
Dengan adanya Pasal 53 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam, status anak zina bisa dinasabkan kepada bapaknya dan keluarga bapaknya, karena pada kalimat : tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir, konsekuensinya adalah walaupun wanita yang dinikahi hamil diluar nikah (berarti anak yang dikandung adalah menjadi anak zina) namun anak yang dikandung belum lahir saat akad nikah, status anak menjadi anak sah. Ini berarti bisa dinasabkan kepada bapaknya dan keluarga bapaknya yang sendirinya ia berhak mendapat nafkah, dan warisan serta perwalian bila anak tersebut wanita.
Apabila wanita yang dihamili ia nikahi setelah anak itu lahir, statusnya adalah anak zina, jadi yang menentukan status anak sebagai anak zina atau anak sah yaitu saat akad nikah dilangsungkan anak tersebut sudah lahir atau belum. Namun kenyataannya dalam masyarakat anak yang lahir sebelum orang tuanya nikah atau setelah anak lahir kemudian orang tuanya menikah dapat dikatakan sebagai anak sah dan dapat mewarisi dari orang tuanya.
Hal ini sesuai dengan Pasal Kompilasi Hukum Islam : Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya.
Dengan adanya perkawinan antara wanita yang hamil dengan laki-laki yang menghamilinya dapat meletakkan hubungan hukum antara anak dengan orang tua (bapaknya) sebagai anak sah. Tetapi mengenai perkawinan antara wanita yang hamil dengan laki-laki yang bukan menghamilinya sebagai penutup malu dapat meletakkan hubungan hukum antara anak dengan yang mengawininya sebagai anak sah. Anggapan masyarakat ini merupakan suatu kekeliruan yang tidak dibenarkan oleh hukum Islam, karena bersumber dari hukum adat.
Keturunan yang dilahirkan atau dibuahkan dalam perkawinan adalah sah, jika seorang anak dibenihkan dalam perkawinan tetapi lahirnya setelah perkawinan orang tuanya bubar, maka anak itu adalah anak sah. Begitu pula jika anak itu dibenihkan diluar perkawinan tetapi lahir di dalam perkawinan maka anak itu adalah anak sah juga. Dengan demikian maka seorang anak yang lahir dengan tidak memenuhi ketentuan diatas adalah anak tidak sah.
Dalam kedudukan perdata, kedudukan anak luar kawin sebagai anak tidak sah statusnya bisa berubah menjadi anak sah dengan cara pengakuan dan pengesahan, yang berakibat lahirnya suatu pertalian kekeluargaan dengan segala akibatnya antara anak dengan orang tua yang mengakuinya. Pengakuan im dilakukan oleh ibu atau bapaknya. Akibat hukum yang terbatas yaitu hanya antara yang mengakui dengan yang diakuinya saja tidak dengan keluarga anak luar kawin yang diakui maupun keluarga pihak-pihak yang mengakuinya.
Seorang ayah atau ibu melalui tindakan pengakuan bisa menciptakan hubungan hukum dengan anak luar kawinnya, sehingga seorang anak yang tadinya bukan anak siapa-siapa sekarang menjadi anak seorang laki-laki atau ibu sekalipun statusnya tetap saja anak luar kawin. Tanpa pengakuan maka tidak ada hubungan apa-apa antara mereka, termasuk kewajiban pemeliharaan. Jadi disini akibat dati pengakuan adalah selain memberikan suatu kedudukan hukum tetapi sekaligus ia juga menimbulkan kewalian pemeliharaan. Pengakuan anak luar kawin dibedakan dalam dua kelompok yaitu: Pengakuan secara sukarela dalam doktrin dirumuskan sebagai suatu pemyataan yang mengandung pengakuan, bahwa yang bersangkutan
adalah ayah atau ibu dari anak luar kawin yang diakui olehnya. Pada umumnya pengakuan yang diberikan kepada anak yang sudah dilahirkan, namun demikian dengan berdasarkan pada pasal 2 KUH Perdata tidak tertutup kemungkinan untuk mengakui anak yang belum dilahirkan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa akibat hukum dari pengakuan muncul hubungan hukum yang terbatas yaitu hanya antara yang mengakui dan yang diakui saja, tidak dengan keluarga anak luar kawin yang diakui maupun pihak yang mengakuinya. Hal itu kita simpulkan dan pasal 280 KUH Perdata yaitu Dengan pengakuan yang dilakukan terhadap seorang anak luar kawin, timbullah hubungan perdata antara bapak atau ibunya.
Pasal 281 KUH Perdata memberikan pengaturan mengenai bagaimana pengakuan secara sukarela itu diberikan dengan mengatakan bahwa Pengakuan terhadap anak luar kawin dapat dilakukan dengan suatu akta otentik, bila belum diadakan dalam akta kelahiran atau pada waktu pelaksanaan perkawinan. Menurut Satrio, ada 3 (tiga) cara pengakuan anak luar kawin secara sukarela yaitu : Pengakuan ini baru sah jika diberikan dihadapan seorang notaris atau Pegawai Catatan Sipil (bisa dengan surat lahir atau akta perkawinan) yang memang diberiikan kewenangan khusus untuk membuat akta-akta tersebut.
Hal ini berarti bahwa laki-laki dan perempuan yang mengadakan hubungan di luar nikah dan menghasilkan anak luar kawin, kemudian memutuskan untuk menikah secara sah dan sekaligus mengakui anak luar kawin yang sudah dilahirkan, sebagaimana yang diatur dalam pasal 272 KUH Perdata. Yang dimaksud dengan akta Otentik adalah akta notaris. Pengakuan dalam akta otentik perlu ditindaklanjuti dengan melaporkanya kepada kantor Pencatatan Sipil, dimana kelahiran anak itu dulu telah didaftarkan dan minta agar pengakuan itu dicatat dalam minit akta kelahiran yang bersangkutan. Adapun yang dimaksud dengan minit disini adalah akta asli yang ada di dalam bundel akta kantor Pencatatan Sipil yang ditanda tangani oleh yang melaporkan, kepada saksi dan pejabat kantor Pencatatan Sipil.
Pengakuan secara terpaksa terjadi jika hakim dalam suatu perkara gugatan, kedudukan anak atas dasar persangkaan bahwa seorang laki-laki tertentu adalah ayahnya dan anak tertentu yang menetapkan bahwa laki-laki itu adalah ayah dari anak yang bersangkutan. Hal ini perlu kita kaitkan dalam pasal 287 ayat 2 KUH Perdata yang menyatakan bahwa : Namun dalam hal kejahatan tersebut dalam pasal 285 -— pasal 288, 294, dan 332 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, bila saat dilakukannya kejahatan itu bertepatan dengan saat kehamilan perempuan yang terhadapnya dilakukan kejahatan itu, maka atas gugatan pihak yang berkepentingan orang yang bersalah boleh dinyatakan sebagai bapak anak itu.
Jadi hakim menetapkan bahwa laki-laki tertentu adalah ayah dan seorang tertentu. Ketetapan ini membawa akibat pengakuan dari lelaki yang bersangkutan terhadap anak tertentu. Karena didasarkan atas khadiran, maka pengakuan seperti itu merupakan pengakuan yang dipaksakan atau terpaksa. Menurut Satrio, di dalam doktrin terdapat perbedaan mengenai sifat dari pengakuan anak luar kawin, yaitu bersifat dekiaratif saja ataukah ia bersifat konstitutif.
Pengakuan hanya merupakan saran bukti saja, berangkat dan anggapan bahwa yang mengakui anak bersangkutan adalah memang ayah atau ibu biologisnya, karena ia hanya merupakan bukti keturunan, maka sifatnya hanya deklaratif saja.
Kalau pengakuan diterima sebagai alat bukti saja, maka hubungan kekeluargaan itu
sebenarnya sudah ada sehingga adanya hubungan itu tidak tergantung dari adanya pengakuan tetapi dari kenyataan bahwa ia adalah keturunan dari orang yang mengakuinya.
Sebagai dasar dikemukakan bahwa pasal 287 dan 288 KUH Perdata yang memungkinkan adanya pengakuan secara terpaksa dengan akibat yang sama dengan pengakuan yang dilakukan secara sukarela. Yang bisa dipaksakan untuk mengakui anak luar kawin sudah tentu hanya ayah atau ibu yang sebenarnya saja, yaitu mereka yang memang ayah atau ibu biologisnya. Demikian pula adanya kesempatan untuk mempermasalahkan (menyangsikan kebenaran) suatu pengakuan (pasal 288 dan 299 KUH Perdata) memberikan dukungan kepada pendapat ini sebab yang dipermasalahkan dalam suatu pengakuan tentunya adalah bahwa yang mengakuinya adalah bukan ayah atau ibu biologisnya.
Jika pengakuan itu merupakan suatu tindakan hukum, yang mana orang menerima kedudukan sebagai ayah atau ibu dan anak yang diakuinya maka dengan pengakuan itu baru tercipta hubungan kekeluargaan antara yang mengakui dan diakui, oleh karena itu dikatakan bersifat konstitutif.
Pasal 280 KUH Perdata yang memang mengatakan bahwa dengan tindakan pengakuan, timbullah hubungan hukum antara yang mengakui dan diakui. Dalam pasal 286 KUFI Perdata yang membolehkan orang mempermasalahkan pengakuan yang telah diberikan oleh seorang ayah atau ibu terhadap seorang anak, kalau orang boleh melawan pengakuan maka hal itu berarti orang menyelidiki siapa ayah dan ibu biologis seorang anak. Dan kalau terbukti bahwa seorang anak di luar kawin, ternyata bukan anak bukan ayah atau ibu biologis dari anak tersebut, maka selanjutnya tidak tertutup kemungkinan bahwa laki-laki lain mengakuinya sebagai anaknya, dan malahan jika laki-laki itu kemudian menikah dengan ibu dari si anak di luar kawin dan mengesahkan anak tersebut.
Permasalahan anak luar kawin menjadi krusial untuk dipaparkan karena anak sebagai bagian dari generasi muda merupakan penerus cita - cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan mampu memimpin serta memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945 (UUD 1945), diperlukan pembinaan secara terus menerus demi kelangsungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, dan sosial serta perlindungan dan segala kemungkinan yang akan membahayakan anak dan bangsa dimasa depan.
Dalam berbagai hal upaya pembinaan dan perlindungan tersebut, diharapkan pada permasalahan dan tantangan dalam masyarakat kadang-kadang dijumpai penyimpangan perilaku dikalangan anak, bahkan lebih dari itu terdapat anak yang melakukan perbuatan melanggar hukum tanpa mengenal status sosial dan ekonomi.
Disamping itu, terdapat pula anak, yang karena satu dan lain hal tidak mempunyai kesempatan memperoleh perhatian baik secara fisik, mental, maupun hubungan sosial kemasyarakatan.
Keadaan diri yang tidak memadai, baik sengaja maupun tidak sengaja dimana sering juga anak melakukan tindakan atau perilaku yang dapat merugikan dirinya dan atau masyarakat seperti tindak pidana pencurian dan pembunuhan serta tindak pidana lain yang berpotensi menghancurkan masa depan anak. Penyimpangan
tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan oleh anak disebabkan oleh berbagai faktor. Antara lain adanya dampak negatif dari perkembangan pembangunan yang cepat, anus globalisasi dibidang komumkasi dan informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang tua, telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak.
Selain itu, anak yang kurang atau tidak memperoleh kasih sayang, asuhan, bimbingan dan pembinaan dalam pengembangan sikap, perilaku, penyesuaian diri, serta pengawasan dari orang tua, wali atau orang tua asuh akan mudah terseret dalam arus pergaulan masyarakat dan lingkungannya yang kurang sehat dan merugikan perkembangan pribadinya.
Dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai perbuatan dan tingkah laku anak yang mengarah pada tindak pidana atau kenakalan anak, perlu dipertimbangkan kedudukan anak dengan segala ciri dan sifatnya yang khas, walaupun telah dapat menentukan sendiri langkah perbuatannya berdasarkan pikiran, perasaan, dan kehendaknya, tetapi keadaan sekitarnya dapat mempengaruhi perilakunya. Oleh karena itu, dalam menghadapi masalah anak nakal, orang tua dan masyarakat sekelilingnya seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap pembinaan, pendidikan, dan pengembangan perilaku anak tersebut. Hal ini juga wajib menjadi perhatian dari aparat penegak hukum seperti Hakim dalam menjatuhkan putusan atas tindak pidana yang dilakukan oleh anak dengan memperhatikan berbagai aspek perlindungan hukum.
Hubungan antara orang tua dengan anaknya merupakan suatu hubungan yang hakiki, baik hubungan psikologis maupun mental spiritualnya. Mengingat ciri dan sifat anak yang khas tersebut, maka dalam menanggulangi tindakan terhadap anak diusahakan tidak dipisahkan dan orang tuanya. Apabila karena hubungan antara dan anak kurang baik, atau karena sifat perbuatannya sangat merugikan masyarakat sehingga perlu, memisahkan anak dan orang tuanya, hendaklah tetap dipertimbangkan bahwa pemisahan tersebut semata-mata demi pertumbuhan dan perkembangan anak secara sehat dan wajar.
Disamping pertimbangan tersebut diatas, demi pertumbuhan dan perkembangan mental anak luar kawin, perlu ditentukan perbedaan perlakuan didalam pembinaan terhadap anak luar kawin. Dalam hubungan ini pengaturan pengecualian dari ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (UU No. 23 Tahun 2002), yang memberlakukan bentuk perlindungan terhadap anak.
Perlindungan anak yang diatur dalam UU No. 23 Tahun 2002 dimaksudkan untuk lebih melindungi dan mengayomi anak tersebut agar dapat menyongsong masa depannya yang masih panjang selain itu, perlindungan tersebut dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada anak agar melalui pembinaan akan diperoleh jati dirinya untuk menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab dan berguna.
Sehubungan dengan deskriptif perlindungan anak khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni yang akhir-akhir ini ditampilkan kepermukaan temuan dilapangan atas dugaan indikasi terlantarnya anak-anak usia sekolah yang tidak dapat mengikuti wajib belajar dengan alasan ekonomi atau tidak mempunyai cukup biaya dalam menyelesaikan wajib belajar atau terjadinya praktik kekerasan terhadap anak
karena orang tua menganggap anaknya nakal dan peristiwa-peristiwa lain yang mengarah pada belum diimplementasikan bagaimana bentuk perlindungan hukum bagi anak sebagaimana telah diatur dalam KUH Perdata dan UU No.23 Tbn.2002.
Anak luar kawin terkontaminasi dengan perubahan-perubahan sosial yang sangat cepat, yang perkembangannya tidak sama dalam kebudayaan mengakibatkan ketidakmampuan banyak anak luar kawin untuk menyesuaikan diri, sehingga mengakibatkan timbulnya disharmoni, konflik-konflik eksternal dan internal, juga di organisasi dalam masyarakat dan dalam diri setiap pribadi anak dibawah umur.
Peristiwa-peristiwa diatas memudahkan anak luar kawin menggunakan pola-pola response/reaksi yang inkonvensional atau menyimpang dan pola-pola umum yang berlaku.
Anak luar kawin tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan usianya dan cenderung mempunyai Emotional Question yang tidak stabil; karena faktor pendidikan dimana anak luar kawin tidak mendapat kesempatan pendidikan dasar karena berbagai macam faktor, karenanya tidak mempunyai pendidikan atau intelegensi; karena adanya cacat mentalnya, sehingga berperilaku diluar akal sehatnya; berasal dan keluarga broken home, karena sakit hati, ditinggal oleh orang tuanya sedangkan untuk berkomunikasi sudah tidak ada lagi orang tua yang dapat membagi kasih sayang padanya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan responden dan nara sumber di Kabupaten Teluk Bintuni, diperoleh keterangan bahwa faktor yang paling dominan atau utama yang menyebabkan anak luar kawin tidak mendapatkan hak waris adalah faktor broken home, faktor tekanan ekonomi, faktor pendidikan, faktor cacat mental, dan faktor lingkungan yang negatif.
Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak- hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Perserikatan bangsa-bangsa tentang Hak-Hak Anak. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak luar kawin berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.
Meskipun undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia telah mencantumkan hak anak, pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara untuk memberikan perlindungan pada anak masih memerlukan suatu undang-undang mengenai perlindungan anak sebagai landasan yuridis bagi pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab tersebut.
Dengan demikian pembentukan undang-undang ini didasarkan pada pertimbangan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional, khususnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Orang tua, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara hak asasi tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum. Demikian pula dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak luar kawin, negara dan pemerintah bertanggung jawab menyediakan fasilitas dan
aksebilitas bagi anak, terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal dan terarah.
Undang-undang ini menegaskan bahwa pertanggungjawaban orang ma, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus demi terlindunginya hak-hak anak. Rangkaian kegiatan tersebut harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak luar kawin, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial.
Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.
Upaya perlindungan anak luar kawin perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak luar kawin yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, undang-undang ini meletakkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas sebagai benikut: Non diskriminasi; Kepentingan yang terbaik bagi anak; Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak luar kawin.
Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan anak, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media massa, atau lembaga pendidikan.
Suatu bangsa dalam pembangunan dan mengurus rumah tangganya harus mampu membentuk dan membina suatu tata penghidupan serta kepribadiannya.
Usaha ini merupakan suatu usaha yang terus-menerus, dan dari generasi ke generasi.
Untuk menjamin usaha tersebut, perlu setiap generasi dibekali oleh generasi yang terdahulu dengan kehendak, kesesiaan, dan kemampuan serta ketrampilan untuk melaksanakan tugas itu. Hal ini hanya akan dapat tercapai bila generasi muda selaku generasi penerus mampu memiliki dan menghayati falsafah hidup bangsa.
Untuk itu perlu diusahakan agar generasi muda memiliki pola perilaku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Guna mencapai maksud tersebut diperlukan usaha-usaha pembinaan, pemeliharaan, dan peningkatan kesejahteraan anak
Bagi bangsa Indonesia Pancasila merupakan pandangan hidup dan dasar tata masyarakat. Karena itu, usaha-usaha untuk memelihara, membina, dan meningkatkan kesejahteraan anak haruslah didasarkan falsafah Pancasila dengan maksud untuk menjamin kelangsungan hidup dan kepribadian bangsa.
Oleh karena anak luar kawin baik secara rohani, jasmani, maupun sosial belum memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri, maka menjadi kewajiban bagi generasi yang terdahulu untuk menjamin, memelihara, dan mengamankan kepentingan anak itu. Pemeliharaan, jaminan, dan pengamanan kepentingan ini selayaknya dilakukan oleh pihak-pihak yang mengasuhnya dibawah pengawasan dan bimbingan Negara, dan bilamana perlu oleh negara sendiri karena kewajiban inilah, maka yang bertanggung jawab atas asuhan anak wajib pula melindunginya dari gangguan-gangguan yang datang dan luar maupun dan anak itu sendiri.
Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun.
termasuk anak yang masih dalam kandungan. Bentuk perlindungan anak merupakan segala bentuk kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak- haknya agar dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga searah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga. Orang tua adalah ayah dan / atau ibu kandung atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan / atau ibu angkat. Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai orang tua terhadap anak. Anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental spritual maupun sosial. Anak yang menyandang cacat adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar. Anak yang memiliki keunggulan adalah anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, atau memiliki potensi dan/atau bakat istimewa. Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dan lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan. Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan pemeliharaan, perawatan, pendidikan, kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang secara wajar.
Kuasa asuh adalah kekuasaan orang tua untuk mengasuh, mendidik, memelihara, membina, melindungi, dan menumbuhkembangkan anak sesuai dengan agama yang dianutnya dan kemampuan bakat, serta minatnya.
Hak anak adalah bagian dan hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara.
Masyarakat adalah perseorangan, keluarga, kelompok dan organisasi sosial dan/atau organisasi kemasyarakatan. Pendamping adalah pekerja sosial yang mempunyai kompetensi profesional dalam bidangnya.
Bentuk yuridis formal tentang perlindungan anak luar kawin berdasarkan KUH Perdata secara khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dan kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual.
Anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat dan anak di Kabupaten Teluk Bintuni.
Perlindungan anak luar kawin bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak- hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dan
kekerasan dan diskriminsi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.
Setiap anak luar kawin berhak untuk dapat hidup, tumbuh berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Setiap anak berhak atas suatu nama sebagai identitas diri dan status kewarganegaraan. Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua. Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri.
Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak luar kawin, atau anak luar kawin dalam keadaan terlantar maka anak luar kawin tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap anak luar kawin berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spritual dan sosial. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
Upaya penangulangan permasalahan hukum anak di Kabupaten Teluk Bintuni, selain hak anak khusus bagi anak luar kawin yang menyandang cacat juga berhak memperoleh pendidikan luar biasa, sedangkan bagi anak yang memiliki keunggulan juga berhak mendapatkan pendidikan khusus. Setiap anak berhak menyatakan dan di dengar pendapatnya, menerima, mencari, dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan. Setiap anak luar kawin berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebayanya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri. Setiap anak yang menyandang cacat berhak memperoleh rehabilitasi, bantuan sosial, dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial. Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dan perlakuan; diskriminasi; eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; penelantaran; kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; ketidak adilan;
dan perlakuan salah lainnya.
Implementasi dalam upaya penangulangan permasalahan hukum anak di Kabupaten Teluk Bintuni melalui orang tua, wali atau pengasuh anak melakukan segala bentuk perlakuan dikenakan pemberatan hukuman. Implementasi penangulangan permasalahan hukum anak luar kawin untuk diasuh oleh orang tua angkat, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak luar kawin dan merupakan pertimbangan terakhir. Setiap anak luar kawin berhak untuk memperoleh perlindungan dari : penyalahgunaan dalam kegiatan politik; pelibatan dalam sengketa bersenjata; pelibatan dalam kerusuhan sosial; pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan pelibatan dalam peperangan.
Setiap anak luar kawin berhak memperoleh perlindungan dan sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Setiap anak luar kawin berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum.
Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan debagai upaya terakhir.
Perlindungan anak luar kawin menyangkut tentang pertanggungjawaban orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara yang merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus demi terlindunginya hak-hak anak luar kawin. Rangkaian kegiatan tersebut harus berkelanjutan dan terarah guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak, baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Tindakan ini dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.
Upaya perlindungan anak luar kawin perlu dilaksanakan sedini mungkin, yakni sejak dari janin dalam kandungan sampai anak berumur 18 (delapan belas) tahun. Bertitik tolak dan konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, maka kewajiban memberikan perlindungan kepada anak luar kawin wajib berdasarkan asas-asas non diskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak, hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan serta penghargaan terhadap pendapat anak.
Dalam melakukan pembinaan, pengembangan dan perlindungan anak, perlu peran masyarakat, baik melalui lembaga perlindungan anak luar kawin, lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi sosial, dunia usaha, media massa, atau lembaga pendidikan.
Umumnya anak luar kawin berusaha menampilkan diri secara blakblakan (lugas) dan tertarik terhadap hal-hal yang sering terjadi dengan perubahan dilingkungannya. Hal tersebut merupakan suatu bentuk kerawanan dalam pembinaan dan pengembangan perilakunya karena dimasa perkembangan ini banyak pengaruh dari luar yang kadang-kadang menjadikan anak kurang control (selektif) dalam mencerna nilai-nilai yang selama ini dikodifikasikan dalam peraturan perundang-undangan.
Meskipun hukum Islam dan KUH Perdata telah ada tetap tidak lengkap dan tidak selalu jelas bahkan tidak mungkin lengkap selengkap-lengkapnya atau sejelas- jelasnya. Anak adalah orang yang dalam perkara anak luar kawin telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mencapaii umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Anak nakal dapat digolongkan sebagai anak yang melakukan tindak pidana: atau anak yang melakukan perbuatan yang dinyatakan terlarang bagi anak. baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan dan setiap perilaku.
Permasalahan hukum anak luar kawin di Kabupaten Teluk Bintuni mewajibkan Negara, Pernerintah termasuk Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni, masyarakat, keluarga dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak luar kawin. Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab menghormati dan menjamin hak asasi setiap anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum anak, urutan kelahiran anak, dan kondisi fisik dan/atau
mental. Negara dan pemerintah berkewajiban dan bertanggung jawab memberikan dukungan sarana dam prasarana dalam penyelenggaraan perlindungan anak luar kawin. Negara dan pemerintah menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secara hukum bertanggung jawab terhadap anak. Negara dan pemerintah mengawasi penyelenggaraan perlindungan anak luar kawin. Negara dan pemerintah menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak luar kawin.
Melalui kewajiban dan tanggung jawab masyarakat terhadap perlindungan anak luar kawin dilaksanakan melalui kegiatan peran masyarakat dalam penyelenggaraan perlindungan anak luar kawin. Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak;
menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya; dan mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak luar kawin.
Dalam kondisi orang tua tidak ada, tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sejak kelahirannya dan dituangkan dalam akta kelahiran. Pembuatan akta kelahiran didasarkan pada surat keterangan dan orang yang menyaksikan dan/atau membantu proses kelahiran. Dalam hal anak yang proses kelahirannya tidak diketahui, dan orang tuanya tidak diketahui keberadaannya, pembuatan akta kelahiran untuk anak luar kawin tersebut didasarkan pada keterangan orang yang menemukannya. Pembuatan akta kelahiran menjadi tanggung jawab pemerintah yang dalam pelaksanaannya diselenggarakan serendah-rendahnya pada tingkat kelurahan/desa. Pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diberikan paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal diajukannya permohonan. Pembuatan akta kelahiran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dengan peraturan perundang-undangan.
Apabilah salah satu orang tua, saudara kandung, atau keluarga sampai dengan derajat ketiga, tidak dapat melaksanakan fungsinya, maka pencabutan kuasa asuh orang tua dapat juga diajukan oleh pejabat yang berwenang atau lembaga lain yang mempunyai kewenangan untuk itu. Penetapan pengadilan dapat menunjuk orang perseorangan atau lembaga pemerintah/masyarakat untuk menjadi wali bagi yang bersangkutan. Perseorangan yang melaksanakan pengasuhan anak harus seagama dengan agama yang dianut anak yang akan diasuhnya.
Untuk kepentingan anak luar kawin, wali wajib mengelola harta milik anak yang bersangkutan. Wali yang ditunjuk berdasarkan penetapan pengadilan dapat mewakili anak luar kawin untuk melakukan perbuatan hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan untuk kepentingan yang terbaik bagi anak luar kawin.
Pengasuhan anak ditujukan kepada anak luar kawin yang orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anaknya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial. Pengasuhan anak luar kawin dilakukan oleh lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu. Lembaga berlandaskan agama, anak luar kawin yang diasuh harus yang seagama, maka pelaksanaan dianut anak yang