• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KINERJA PORTOFOLIO SAHAM LQ-45

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS KINERJA PORTOFOLIO SAHAM LQ-45"

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

i

ANALISIS KINERJA PORTOFOLIO SAHAM LQ-45

Oleh :

Bayu Indra Purwanto NIM : 208081000013

JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA JAKARTA

1436 H/2015 M

(2)

ii ii

(3)

iii

(4)
(5)
(6)

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

1. Nama : Bayu Indra Purwanto.

2. Tempat dan Tanggal Lahir : Depok, 16 Desember 1990.

3. Alamat : Jl. Musi 2 No. 192, RT.01/RW.13, Kec. Abadijaya, Kel. Sukmajaya, Depok II Timur, 160417.

4. Telepon : 0856-1188-923.

5. E-mail : [email protected].

II. PENDIDIKAN

1. SDN Mekarjaya 27 Depok lulus tahun 2002 2. SMPN 3 Depok, lulus tahun 2005

3. SMAN 2 Depok, lulus tahun 2008

4. S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

III. LATAR BELAKANG KELUARGA 1. Ibu : Erlina Abdullah, BA 2. Ayah : Achmad Ismail

(7)

vii

ANALYSIS OF LQ-45 STOCK PORTFOLIO PERFORMANCE

Bayu Indra Purwanto

ABSTRACT

Investment is a process to managed funds at a certain period, which investor has hopes to earned return from funds that has invested. The decisions about investment has correlation with 2 things, return and risk. Investation at capital market especially with stocks is one of the several way that can be done to achieve return. Risk at investment are the combination between systematic risk or market risk and unsystematic risk, which unsystematic risk can be decreased with created stock portfolio. Used firms that listed on the IDX during period January 2009 to December 2011 as population, optimal portfolio created within single index model that will be measured to those portfolio. The performance of stock portfolio can be measured by those indexes namely the Sharpe performance measure, the Treynor performance measure, the Jensen performance measure, and M² performance measure. From calculation of data, obtained rate of return optimal portfolio were using single index model has the highest averate return is equal to 1,347% at may 2009 and has the lowest average return is equal to -0,7044 at September 2011. The result of statsticshows thet there is no different between Sharpe, Treynor, Jensen, M² performance measure ratio as the result of Kruskal Wallis Test has number probability’s equal to 0,9999 ≥ 0,05..

Key Words : Sharpe Ratio, Treynor Ratio, Jensen Ratio, M² Ratio, Stock Portfolio Performance

(8)

viii

ANALISIS KINERJA PORTOFOLIO SAHAM LQ-45

Bayu Indra Purwanto

ABSTRAK

Investasi adalah proses pengelolaan dana pada periode tertentu, dimana investor memiliki harapan untuk memperoleh keuntungan atas dana yang diinvestasikan. Keputusan investasi berkaitan dengan 2 hal yaitu tingkat pengembalian dan risiko. Berinvestasi pada pasar modal khususnya dalam bentuk saham adalah salah satu cara yang bisa dilakukan seorang investor untuk memperoleh keuntungan. Risiko dalam berinvestasi saham terdiri dari 2 bagian yaitu risiko sistematis atau risiko pasar dan risiko tidak sistematis, dimana risiko tidak sistematis bisa dikurangi dengan membentuk portofolio saham (melakukan diversifikasi). Menggunakan populasi perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks saham LQ-45 periode Januari 2009 - Desember 2011, portofolio optimal bulanan dibentuk dengan menggunakan konsep model indeks tunggal, yang selanjutnya akan dilakukan pengukuran kinerja atas portofolio tersebut. Dari keempat rasio yang digunakan apakah terdapat perbedaan hasil (berdasarkan ranking) yang signifikan antar satu rasio dengan rasio lainnya. Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa return portofolio optimal yang dibentuk dengan menggunakan konsep model indeks tunggal memiliki nilai return rata-rata tertinggi sebesar 1,347% pada bulan mei 2009 serta nilai return rata-rata terendah sebesar -0,7044 pada bulan sepetember 2011. Hasil uji statisk menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara indeks rasio Sharpe, Treynor, Jensen, M² berdasarkan hasil uji Kruskal Wallis dengan nilai probabilitas 0,999 ≥ 0,05.

Kata kunci : Rasio Sharpe, Rasio Treynor, Rasio Jensen, rasio M², Kinerja Portofolio Saham

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam atas segala nikmat serta karunia-NYA yang diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah atas Nabi Muhammad SAW. Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna menperoleh gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Penulis menyadari bahwa penulisan penelitian ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan baik yang bersifat moril maupun material dari banyak pihak. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada :

1. Dr. Arief Mufraini selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Prof. Ahmad Rodoni selaku pembimbing pertama atas bimbingan selama penulisan skripsi.

3. Dr. Indo Yama Nasaruddin selaku pembimbing kedua atas bimbingan selama penulisan skripsi.

4. Almh. Mama yang senantiasa mendukung, membantu dan mencurahkan perhatian demi kemajuan penulis, semoga Beliau tenang di alam sana, aamiin.

5. Adik ku Faathir, yang sabar dan suka mengingatkan atas kesalahan serta kekurangan dari waktu ke waktu, teman ku dari kecil sampai tua nanti.

6. Kakak ku Uci, Mas Wid, Bona, Mas Dedi, Ece, Mba In, Ka Ca yang senantiasa membantu dan sayang kepada penulis selaku adik mereka.

7. Keponakan-keponakan ku yang senantiasa menghiasi hari-hari dengan senyum canda tawa.

8. Teman hidupku di masa depan.

(10)

x

9. Bapak/Ibu Dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah mengajar serta mambagikan ilmu kepada penulis dari awal hingga akhir perkuliahan.

10. Rekan-rekan mahasiwa/i di FEB yang telah membantu dan mendukung penulis selama ada di bangku perkuliahan.

11. Segenap staf administrasi baik di tingkat Fakultas maupun Universitas yang telah membantu kelancaran penyelesaian kuliah penulis.

12. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidaklah sempurna, dikarenakan keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik, saran maupun masukan yang bersifat konstruktif dari berbagai pihak. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan semua pihak khususnya dalam bidang manajemen keuangan.

Wassalamualaikum Wr, Wb

Jakarta, Juli 2015 Penulis

Bayu Indra Purwanto

(11)

xi

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... ii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... iii

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iv

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... vi

ABSTRACT ... vii

ABSTRAK ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

BAB.I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Perumusan Masalah ... 12

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 12

BAB .II. TINJAUAN PUSTAKA ... 15

A. Sejarah Bursa Efek Indonesia ... 15

B. Pasar Modal ... 17

C. Investasi ... 18

D. Return dan Risk ... 21

E. Portofolio dan Diversifikasi ... 22

F. Portofolio Efisien dan Portofolio Optimal ... 25

G. Konsep Model Indeks Tunggal... 26

H. Penilaian Kinerja Portofolio ... 27

I. Penelitian Sebelumnya ... 31

J. Kerangka Pemikiran... 34

K. Hipotesis Penelitian ... 37

(12)

xii

BAB. III. METODOLOGI PENELITIAN ... 39

A. Ruang Lingkup Penelitian ... 39

B. Metode Penentuan Sampel... 39

C. Metode Pengumpulan Data ... 40

D. Metode Analisis Data ... 41

1. Pengukuran Kinerja Portofolio saham dengan Indeks Sharpe, Treynor, Jensen dan Modigliani-Square ... 41

2. Perbandingan Kinerja Portofolio Saham Menggunakan Uji Statistik ... 43

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 46

BAB. IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 50

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ... 50

B. Analisis Data ... 53

C. Pembentukan Portofolio Optimal Berdasarkan Model Indeks Tunggal……… 55

D. Pengukuran Kinerja Portofolio ... 60

E. Perbandingan Kinerja Portofolio Saham... 62

BAB. V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 68

A. Kesimpulan ... 68

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

LAMPIRAN ... 74

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan 2009-2011 ... 3

Tabel 2.1 Sejarah Bursa Efek di Indonesia ... 15

Tabel 2.2 Risiko Total, Risiko Tidak Sistematis dan Risiko Sistematis ... 24

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu ... 31

Tabel 2.4 Kerangka Pemikiran... 36

Tabel 4.1 Indeks LQ-45 yang Masuk ke Dalam Susunan Portofolio ... 52

Tabel 4.2 Saham Pembentuk Portofolio Optimal Pada Setiap Periode ... 56

Tabel 4.3 Risiko dan Tingkat Keuntungan Portofolio ... 58

Tabel 4.4 Rasio Kinerja Portofolio ... 60

Tabel 4.5 Nilai Z-Score Indeks Sharpe, Treynor, Jensen, M2 ... 63

Tabel 4.6 Hasil Uji Kruskall Wallis ... 65

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tingkat Suku Bunga Bebas Risiko ... 74

Lampiran 2 Pembagian Dividen Tahun 2009 ... 75

Lampiran 3 Pembagian Dividen Tahun 2010 ... 78

Lampiran 4 Pembagian Dividen Tahun 2011 ... 81

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasar modal merupakan bagian dari pasar financial yang memiliki peranan penting dalam suatu negara, yaitu menjalankan fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal disebut menjalankan fungsi ekonomi karena pasar modal mempertemukan atau memfasilitasi dua pihak yang berkepentingan, yaitu pihak yang kelebihan dana dan pihak yang kekurangan dana. Sehingga pihak yang kelebihan dana dapat menginvestasikan dana yang dimiliki tersebut dengan harapan memperoleh imbal hasil, dan pihak yang kekurangan dana dapat menggunakan dana tersebut tanpa harus menunggu tersedianya dana dari hasil aktivitas operasi.

Sedangkan pasar modal dikatakan menjalankan fungsi keuangan karena dengan adanya pasar modal, memberikan kemungkinan dan juga kesempatan kepada pihak yang memiliki dana lebih untuk memperoleh imbal hasil (return) sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.

Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa yang akan datang (Sulistiani, 2006 : 1). Investasi juga dapat diartikan sebagai pengorbanan pada saat ini untuk memperoleh uang pada masa yang akan datang (Sharpe, 2005 : 1). Dalam sebuah investasi, investor tentunya memperhatikan return dari investasi yang dipilih. Namun menghitung return

(16)

2 saja tidaklah cukup, karena risiko dari investasi juga perlu diperhatikan (Santosa dan Apricia, 2012 : 66).

Secara garis besar investasi dapat diklasifikasikan menjadi dua bentuk yaitu pertama investasi pada aktiva rill (real asset) seperti mendirikan gedung, pabrik, membeli tanah dan sebagainya. Kedua, investasi pada aktiva non-rill (financial asset) seperti membeli saham, obligasi, sertifikat deposito, portofolio saham, dan lain sebagainya.

Peristiwa krisis ekonomi yang sempat melanda negara-negara di dunia pada tahun 2008 yang berawal dari Amerika Serikat dan kemudian meluas sehingga sedikit banyak juga mempengaruhi perekonomian serta pasar modal di Indonesia. Krisis ekonomi yang ditandai ketika The Fed yang merupakan Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga pada saat sektor properti mengalami booming mengakibatkan banyak nasabah yang mengalai gagal bayar (default) sehingga sekuritas yang memiliki keterkaitan mengalami anjlok, sedangkan bagi perkonomian Indonesia terjadi sentiment negatif yang terproyeksikan dari turunnya IHSG hingga ke level 1.200, sehingga kondisi yang demikian layak untuk dicermati oleh para investor dengan tujuan untuk mengantisipasi terjadinya kejadian serupa di masa yang akan datang, hal ini berdasarkan asumsi bahwa history repeat it self.

Pada tahun 2009 yang merupakan kondisi pasca resesi ekonomi bisa dikatakan sebagai masa dimana pasar modal khususnya pasar saham mengalami peningkatan ke arah yang positif (bullish), hal ini bisa dilihat

(17)

3 berdasarkan tabel atau bagan berikut yang mencerminkan pergerakan harga indeks saham gabungan pada periode 2009-2011.

Tabel 1.1

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan 2009-2011

Dari tabel tersebut bisa diasumsikan bahwa pasar mengalami pergerakan ke arah yang positif dengan meningkatnya kepercayaan investor atas kinerja saham yang ditandai dengan peningkatan harga indeks harga saham gabungan ke level di atas 3.800 pada tahun 2011.

Tentunya selain faktor perubahan harga saham, investor pun harus tetap memperhatikan faktor lain yang bisa mempengaruhi tingkat pengembalian yang diperoleh antara lain inflasi karena inflasi yang tinggi bisa membuat real return yang diterima oleh investor mengalami pengurangan.

Dari penjelasan tersebut, bisa diasumsikan bahwa seorang investor atau pihak yang memiliki kelebihan dana (lenders) yang menyimpan uangnya di bank dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dan peningkatan nilai dari

(18)

4 jumlah uang yang diinvestasikan, bisa saja hanya memperoleh return yang rendah atau mungkin tidak sama sekali bahkan mungkin mengalami penurunan nilai dari uang yang ia investasikan jika dibandingkan dengan tingkat inflasi yang tidak jauh berbeda dari tingkat bunga yang didapatkan.

Oleh karena itu, investor harus menginvestasikan atau mengalokasikan uangnya dalam bentuk aset-aset yang memberikan tingkat keuntungan diatas tingkat inflasi. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk berinvestasi adalah melalui investasi pada asset non rill seperti saham yang dapat memberikan tingkat keuntungan (return) di atas tingkat inflasi.

Meskipun saham sebagai salah satu alternatif investasi aset-aset keuangan yang dapat memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar dan relatif jauh lebih tinggi di atas tingkat inflasi pada suatu periode waktu, terdapat hal-hal yang harus menjadi fokus konsentrasi investor yaitu tentang risiko fluktuasi (perubahan) harga saham yang tidak hanya dapat memberikan keuntungan dan peningkatan nilai kekayaan investor melalui peningkatan harga saham di pasar, namun juga bisa membuat investor mengalami kerugian jika saham yang dimiliki mengalami penurunan nilai di pasar.

Teori keuangan menyatakan bahwa antara risiko (risk) dan tingkat pengembalian (return) memiliki hubungan yang linier, yaitu semakin tinggi risiko yang dimiliki maka akan semakin tinggi juga tingkat pengembalian yang dimiliki dan berlaku sebaliknya. Namun, teori keuangan modern juga menyatakan bahwa solusi yang dapat dilakukan investor untuk mengurangi

(19)

5 risiko investasi saham adalah dengan melakukan proses diversifikasi investasi saham dengan membentuk portofolio.

Secara terminologi portofolio memiliki beberapa definisi antara lain yaitu portofolio adalah sebagai sekumpulan aset yang dimiliki untuk tujuan ekonomis tertentu (Eko, 2008 : 178). Portofolio juga dapat didefinisikan sebagai sekumpulan investasi (Husnan, 2005 : 49), yaitu gabungan dari berbagai investasi sesuai dengan risiko yang investor bersedia tanggung dan dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Selain itu, portofolio juga dapat didefinisikan sebagai sekumpulan instrument investasi yang dibentuk untuk memenuhi sasaran investasi (Rodoni dan Ali, 2010 : 73).

Portofolio saham dimaksudkan untuk menghilangkan risiko yang tidak sistematis agar diperoleh return yang maksimal dalam tingkat risiko tertentu (Wardjianto, 2005 : 25). Portofolio dikatakan efisien apabila memiliki tingkat risiko yang sama namun mampu memberikan tingkat keuntungan yang lebih tinggi atau mampu menghasilkan tingkat keuntungan yang sama tetapi dengan risiko yang lebih rendah. Portofolio yang efisien terletak pada efficient frontier.

Portofolio optimal merupakan sesuatu yang unik atas investasi pada aset berisiko. Investor yang realistis akan melakukan investasi tidak hanya pada satu jenis investasi, akan tetapi melakukan diversifikasi pada berbagai investasi dengan pengharapan akan meminimalkan risiko dan memaksimalkan return.

(20)

6 Analisis mengenai proses dalam pembentukan portofolio yang optimal menekankan kepada deskripsi secara sistematis tentang dasar teori, model yang digunakan, dan hasil penelitian empiris. Untuk membentuk sebuah maupun beberapa portofolio memerlukan saham-saham pilihan yang akan dikombinasikan ke dalam portofolio tersebut. Sedangkan mengenai jumlah saham yang akan dipergunakan dalam portofolio bisa sangat bervariasi, tergantung pada preferensi masing-masing investor serta metode atau pendekatan yang digunakan.

Diversifikasi dapat digambarkan melalui pepatah asing yang mengatakan bahwa “wise investors do not pull all their eggs into just one basket”. Hal ini karena kalau keranjang tersebut jatuh maka semua telur yang ada dalam keranjang tersebut akan pecah. Dan jika dianalogikan dalam kegiatan investasi maka pepatah tersebut dapat ditafsirkan sebagai “investor yang bijak janganlah menaruh semua dana yang dimilikinya dalam satu aset saja, karena kalau aset tersebut gagal (memiliki kinerja yang buruk) dapat menyebabkan seluruh dana yang telah diinvestasikan lenyap”.

Pembuatan kerangka keputusan investasi sangat menentukan keberhasilan seorang investor dalam mengoptimalkan tingkat imbal hasil investasi dan meminimalkan risiko yang dihadapi.

Dalam melakukan investasi portofolio perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

(21)

7 1. Menetapkan kebijakan investasi.

Dalam tahapan ini, investor harus menentukan tujuan dari investasi serta berapa banyak jumlah dana yang akan diinvestasikan. Setelah itu, barulah menentukan jangka waktu yang dibutuhkan, serta tingkat risiko yang dapat diterima oleh investor. Kedua hal tersebut memiliki pengaruh yang besar dalam penentuan langkah-langkah investasi portofolio selanjutnya, karena investor yang memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap risiko dengan harapan akan memperoleh tingkat pengembalian yang lebih tinggi dengan jangka waktu yang cenderung relatif lebih lama akan memiliki pilihan yang berbeda dengan investor yang tingkat toleransi terhadap risikonya rendah dan cenderung berinvestasi dalam jangka waktu pendek.

2. Melakukan analisis sekuritas.

Pada tahapan ini, analisis dilakukan terhadap saham individual ataupun sekelompok saham. Analisis dapat dilakukan dengan berbagai cara yang secara garis besarnya dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental. Dimana analisis teknikal menggunakan data pergerakan harga di masa yang lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan datang.

Sedangkan analisis fundamental menggunakan data-data laporan keuangan perusahaan, mengolah data tersebut ke dalam suatu rasio dan menganalisisnya untuk bisa memperkirakan kondisi perusahaan emiten dan pergerakan harga sekuritasnya di masa yang akan datang.

(22)

8 3. Membentuk portofolio.

Tahapan ini meliputi proses identifikasi sekuritas-sekuritas mana saja yang akan dipilih oleh investor serta berapa besar proporsi dana yang akan diinvestasikan pada masing-masing sekuritas tersebut. Dan strategi yang umumnya digunakan oleh investor pada tahapan ini adalah dengan melakukan diversifikasi (pemilihan banyak sekuritas) dengan tujuan meminimalisir atau menghilangkan risiko tidak sistematis yang ada.

4. Merevisi portofolio.

Tahap ini dilakukan jika investor merasa perlu melakukan perubahan terhadap portofolio yang dimiliki atas dasar beberapa alasan seperti portofolio yang dimiliki saat ini tidak lagi optimal ataupun karena portofolio tersebut sudah tidak sesuai dengan preferensi dan kebijakan investasi yang dimiliki investor.

5. Menilai kinerja portofolio.

Pada tahap ini investor melakukan penilaian terhadap kinerja (performance) portofolio, baik dalam aspek tingkat pengembalian (return) yang diterima maupun aspek tingkat risiko yang dihadapi. Tidak selalu suatu portofolio yang memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar memiliki kinerja yang lebih baik dibanding portofolio lainnya. Hal tersebut dikarenakan faktor risiko perlu dijadikan pertimbangan, sehingga penting adanya suatu standar pengukuran kinerja portofolio.

(23)

9 Tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik suatu portofolio dipengaruhi oleh dua sumber, yaitu kemungkinan adanya perubahan harga sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut, dan pembayaran dividen (atau juga bunga kalau dalam portofolio tersebut terdapat obligasi).

Dan dalam hal keuntungan atau return, ahli manajemen keuangan William F. Sharpe mengemukakan seorang investor dalam berinvestasi berharap mendapatkan excess return atau keuntungan lebih. Menurut pemikirannya keuntungan lebih yang didapat hendaknya minimal di atas suku bunga bebas risiko.

Didasarkan pada pemikiran tersebut maka pengukuran kinerja portofolio penting untuk dilakukan karena penilaian kinerja portofolio ini termasuk sebagai kelanjutan kegiatan investasi serta sebagai umpan balik maupun mekanisme kontrol yang membuat proses manajemen investasi lebih efektif (Sharpe, Alexander, Bailey, 1995, 474).

Terdapat beberapa metode pengukuran kinerja portofolio yang masih sering digunakan hingga saat ini antara lain Indeks Sharpe yaitu indeks yang mendasarkan hubungan antara excess return terhadap deviasi standar dengan asumsi yang digunakan adalah Reward to Variability Ratio (RVAR), Indeks Treynor yaitu indeks yang mendasarkan hubungan antara excess return terhadap beta dengan asumsi yang digunakan adalah Reward to Volatility Ratio (RVOR), Indeks Jensen yaitu indeks yang menunjukkan perbedaan antara tingkat return aktual yang diperoleh portofolio terhadap return yang diharapkan.

(24)

10 Selain 3 metode di atas, terdapat juga metode lain yang dapat digunakan untuk menganalisis kinerja portofolio yaitu Indeks M2 (Modigliani- Square) yang menyamakan ketidakstabilan portofolio teratur dengan pasar dengan membuat portofolio hipotesis (Sulistiani, 2006 : 22).

Proses pengukuran kinerja portofolio saham dapat dipermudah dengan menggunakan suatu proksi tertentu seperti berdasarkan indeks sektoral (agriculture, mining, basic industry, miscellaneous industry, consumer goods, manufacturing, property, infrastructure, finance, trade) ataupun menggunakan indeks konstituen seperti Indeks LQ-45 ataupun indeks composite (IHSG).

Dalam perhitungannya IHSG memakai pembobotan atas kapitalisasi seluruh saham atau dengan kata lain, saham-saham dengan nilai kapitalisasi yang kecil akan memiliki pengaruh yang kecil terhadap IHSG sedangkan saham-saham dengan nilai kapitalisasi yang besar akan sangat berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Sehingga penggunaan IHSG sebagai suatu proksi dirasakan kurang relevan atau memiliki kelemahan karena tidak semua saham akan dapat direfleksikan (terlihat pergerakannya) melalui proksi tersebut.

Sedangkan saham-saham yang termasuk ke dalam Indeks LQ-45 memiliki karakteristik yang hampir sama satu sama lain dalam banyak aspek meliputi nilai kapitalisasi pasar yang tinggi, kondisi keuangan perusahaan serta prospek pertumbuhan yang baik, frekuensi serta jumlah hari perdagangan transaksi pasar regular yang tinggi, dan secara berkala diseleksi dengan objektif oleh BEI. Sehingga penggunaan Indeks LQ-45 dalam

(25)

11 penelitian untuk menganalisa dan mengukur kinerja portofolio ini sudah relevan berdasarkan kesamaan karakteristik yang terdapat pada saham-saham LQ-45.

Perkembangan dan pergerakan harga saham Indeks LQ-45 sangat signifikan, dari data yang diperoleh diketahui pada bulan januari 2009 jumlah volume transaksi sebesar Rp 15.0 Triliun dan perdagangan ditutup pada angka Rp 262,564 sedangkan pada bulan desember 2011 volume transaksinya telah mencapai Rp 34.76 Triliun dan perdagangan ditutup pada angka Rp 673,506.

Hal ini menjadikan Indeks LQ-45 menjadi media yang sangat menarik bagi investor untuk menginvestasikan dananya.

Meskipun, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa portofolio yang memberikan tingkat keuntungan yang lebih besar, tidak selalu memiliki kinerja yang lebih baik dibanding portofolio lainnya. Hal ini dikarenakan pentingnya mempertimbangkan faktor risiko sehingga perlu adanya suatu standar pengukuran kinerja portofolio. Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dalam penelitian ini penulis tertarik untuk mengambil judul “Analisis Kinerja Portofolio Saham LQ-45”.

Investasi saham memerlukan analisis tentang situasi serta kondisi perekonomian yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi naik atau turunnya dari sebuah nilai investasi. Seringkali seorang investor sebelum akhirnya memutuskan akan berinvestasi akan menggunakan waktu yang cukup banyak untuk menganalisa dengan menggunakan instrumen-instrumen penilaian investasi yang ada.

(26)

12 Penulis melalui penelitian ini bermaksud untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil penilaian (dalam bentuk ranking) yang dihasilkan antara satu instrumen penilaian dibandingkan dengan instrumen penilaian lainnya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham- saham LQ-45 yang diukur dengan Indeks Sharpe ?

2. Bagaimana kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham- saham LQ-45 yang diukur dengan Indeks Treynor ?

3. Bagaimana kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham- saham LQ-45 yang diukur dengan Indeks Jensen ?

4. Bagaimana kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham- saham LQ-45 yang diukur dengan Indeks M² ?

5. Apakah terdapat perbedaaan hasil yang didapat dalam perbandingan rangking kinerja dari model-model yang digunakan ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Apabila problematika penelitian sudah diidentifikai dan dibatasi, maka langkah berikutnya adalah merumuskan tujuan penelitiannya. Apabila problematika penelitian menunjukkan pertanyaan mengenai apa yang tidak diketahui oleh peneliti untuk dicari jawabannya melalui kegiatan penelitiannya, maka tujuan penelitian menyebutkan tentang apa yang ingin diperoleh peneliti.

(27)

13 Oleh karena itu antara problematika dengan tujuan penelitian terdapat hubungan rumusan yang erat (Arikunto, 2000 : 19).

Penelitian dalam skripsi ini bertujuan untuk :

1. Menganalisa kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham- saham LQ-45 yang diukur dengan menggunakan Indeks Sharpe.

2. Menganalisa kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham- saham LQ-45 yang diukur dengan menggunakan Indeks Treynor.

3. Menganalisa kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham- saham LQ-45 yang diukur dengan menggunakan Indeks Jensen.

4. Menganalisa kinerja portofolio saham yang dibentuk dari saham-saham LQ-45 yang diukur dengan menggunakan Indeks M².

5. Menguji serta menganalisa hasil yang didapat dalam perbandingan rangking kinerja dari model-model yang ada.

Manfaat penelitian dalam skripsi ini adalah sebagai berikut : 1. Bagi Penulis.

Untuk menerapkan ilmu manajemen keuangan yang didapat khususnya mengenai portofolio yang telah diperoleh selama berada di bangku kuliah.

2. Bagi Investor dan Calon Investor.

Menjadi informasi dan referensi tambahan yang berguna sebagai pertimbangan dalam melakukan investasi di pasar modal, khususnya dalam pembentukan portofolio saham optimal serta penilaian kinerjanya.

(28)

14 3. Bagi Dunia Akademik.

Diharapkan dapat memberikan kontribusi tambahan dalam bentuk wawasan dan pandangan mengenai pengukuran kinerja portofolio saham optimal dengan metode Sharpe, Treynor, Jensen, dan Modigliani-Square.

(29)

15 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Bursa Efek Indonesia

Secara historis, pasar modal telah hadir pada zaman penjajahan Belanda yang pertama kali didirikan pada tahun 1912 oleh 13 perusahaan efek (sekuritas) Belanda, dengan berlokasi di Batavia (Jakarta). Seiring dengan berjalannya waktu, pada tahun 1925 pemerintah Belanda mendirikan 2 bursa efek lain yang berlokasi di kota Semarang dan kota Surabaya.

Sedangkan pada saat zaman orde lama, pemerintah Indonesia membentuk suatu badan yang disebut PPUE yang bertugas untuk melakukan berbagai kajian (menyangkut faktor ekonimi makro dan mikro) tentang kemungkinan didirikannya bursa efek pasca kemerdekaan dan pada tahun 1952, secara resmi PPUE membuka Bursa Efek di Jakarta. Namun karena inflasi dan resesi ekonomi yang berlangsung di Indonesia, pada tahun 1958 kegiatan bursa efek dihentikan. Secara ringkas, perkembangan dan peristiwa yang terjadi pada bursa efek di Indonesia dapat dilihat pada table 2.1.

Tabel 2.1.

Sejarah Bursa Efek di Indonesia

Desember 1912 Bursa efek pertama di Indonesia dibentuk di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda

1914-1918 Bursa efek di Batavia ditutup selama Perang Dunia ke-1

1925-1942 Bursa efek di Jakarta dibuka kembali bersama dengan bursa efek di Semarang dan Surabaya

(30)

16 Awal Tahun 1939 Karena isu politik (Perang Dunia ke-2), bursa efek di Semarang dan

Surabaya ditutup

1942-1952 Bursa efek di Jakarta ditutup kembali selama Perang Dunia ke-2 1956 Program nasionalisasi perusahaan Belanda, bursa efek semakin tidak

aktif

1956-1977 Perdagangan di bursa efek vakum

10 Agustus 1977 Bursa efek diresmikan kembali oleh Presiden Soeharto. BEJ dijalankan di bawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal).

Tanggal 10 Agustus diperingati sebagai HUT pasar modal.

Pengaktifan kembali pasar modal ini juga ditandai dengan go public PT. Semen Cibinong sebagai emiten pertama

1977-1987 Perdagangan di bursa efek sangat lesu. Jumlah emiten hingga tahun 1987 baru mencapai 24. Masyarakat lebih memilih instrumen perbankan dibandingkan instrumen pasar modal

1987 Hadirnya Paket Desember 1987 (PAKDES 87) yang memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk melakukan penawaran umum atau Initial Public Offering (IPO) dan investor asing menanamkan modal di Indonesia

1988-1990 Paket deregulasi di bidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan.

Pintu BEJ terbuka untuk asing. Aktivitas bursa terlihat meningkat 2 Juni 1988 Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh

Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer

Desember 1988 Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal

16 Juni 1989 Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT. Bursa Efek Surabaya 13 Juli 1992 Swastanisasi BEJ dan BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas

Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ

22 Mei 1995 Sistem otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem komputer JATS (Jakarta Automated Trading Systems)

10 November 1995 Pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai januari 1996

1995 Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya 2000 Sistem perdagangan tanpa warkat (scripless trading) mulai

diaplikasikan di pasar modal Indonesia

2002 BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading)

2007 Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta

(31)

17 (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) 2 Maret 2009 Peluncuran perdana sistem perdagangan baru PT. Bursa Efek

Indonesia : JATS-NextG

B.

Pasar Modal

Pasar modal dalam arti sempit adalah suatu tempat dalam pengertian fisik yang terorganisasi dengan efek-efek yang diperdagangkan yang disebut bursa efek. Sedangkan definisi pasar modal menurut kamus pasar uang dan modal adalah pasar konkrit atau abstrak yang mempertemukan pihak yang menawarkan dan memerlukan dana jangka panjang (Rodoni, 2006 : 158).

Selain itu pasar modal juga dapat didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjual belikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas (saham), instrumen derivatif, maupun lainnya (Darmadji dan Fakhruddin, 2006 : 1). Pasar modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.

Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak yang kelebihan dana (lenders) dan pihak yang memerlukan dana (issuer). Dengan adanya pasar modal, maka lenders dapat menginvestasikan dana yang dimiliki dengan harapan memperoleh return, sedangkan issuer dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan.

(32)

18 Sedangkan pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbal hasil bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.

Beberapa manfaat yang diberikan pasar modal :

1. Menyediakan sumber dana atau pembiayaan bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana secara optimal.

2. Memberikan wahana investasi bagi investor sekaligus memungkinkan upaya diversifikasi.

3. Menyediakan indikator utama (leading indicator) bagi tren ekonomi negara.

4. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dengan prospek yang baik.

5. Alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan risiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan diversifikasi investasi.

C. Investasi

Investasi dapat diartikan sebagai kegiatan menanamkan modal baik langsung maupun tidak langsung, dengan harapan pada waktunya nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut (Sulistyorini, 2009 : 12).

Definisi lain dari investasi menurut Sharpe adalah mengorbankan aset yang dimiliki sekarang untuk mendapatkan aset pada masa mendatang dengan jumlah yang lebih besar. Sedang Jones mendefinisikan investasi sebagai

(33)

19 komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang.

Definisi investasi juga dikemukakan oleh Reilly dan Brown, yang mengatakan bahwa investasi adalah komitmen mengikatkan aset saat ini untuk beberapa periode ke masa depan untuk mendapatkan penghasilan yang mampu mengkompensasi pengorbanan investor berupa keterikatan aset pada waktu tertentu, tingkat inflasi, dan ketidak menentuan penghasilan pada masa mendatang (www.asiafxonline.com). Dan investasi juga dapat diartikan sebagai komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa yang datang (Tendellin, 2001 : 3).

Berkaitan dengan investasi dalam bentuk portofolio aset-aset keuangan terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengambil atau membuat suatu keputusan investasi, yaitu :

1. Menentukan kebijakan investasi.

Dalam tahap ini, pemodal perlu menentukan apa tujuan investasinya, dan berapa banyak investasi yang akan dilakukan. Karena keuntungan dan risiko bersifat linier, maka tujuan investasi harus dinyatakan baik dalam keuntungan maupun risiko.

2. Analisis sekuritas.

Pada tahap ini, dilakukan analisis individual dan atau sekelompok sekuritas. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat sekuritas yang bersifat mispriced atau tidak. Teknik analisis yang dapat

(34)

20 digunakan untuk mendeteksinya adalah dengan analisis teknikal dan atau analisis fundamental.

3. Pembentukan portofolio

Dalam tahap ini, menyangkut identifikasi sekuritas-sekuritas mana yang akan dipilih, dan berapa proporsi dana yang akan diinvestasikan pada masing-masing sekuritas. Strategi penentuan alokasi aset adalah salah satu bentuk aplikasi dari teori portofolio modern yang paling sering dan digunakan khalayak luas.

Secara umumnya dalam dunia manajemen investasi bisa dikatakan bahwa strategi investor dalam membuat keputusan alokasi aset adalah hal yang sangat menentukan bagaimana ke depannya kinerja portofolio tersebut. (Brown, 2010 : 291).

Hampir semua penasihat keuangan dalam memberikan saran untuk pembentukan portofolio yang optimal menggunakan analisis kelas aset.

Dan cara untuk memperoleh perkiraan atas tingkat pengembalian dan volatilitas adalah berasal dari kinerja historis. Kemudian dari perkiraan tersebut digunakan sebagai masukan dalam optimasi rata-rata varian yang hasilnya merupakan efficient frontier (Fabozzi., 2002 : 9). Cara yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko yang ditanggung dari volatilitas harga saham adalah diversifikasi.

(35)

21 4. Melakukan revisi portofolio.

Dapat dikatakan bahwa tahap ini merupakan pengulangan terhadap tiga tahap sebelumnya, dengan tujuan untuk mengetahui apakah perlu dilakukan perubahan terhadap portofolio yang dimiliki jika memang portofolio yang dimiliki tidak sesuai dengan preferensi risiko pemodal ataupun sudah tidak lagi memiliki kinerja yang optimal.

5. Evaluasi kinerja portofolio.

Dalam tahap ini pemodal melakukan penilaian terhadap kinerja portofolio, baik dalam aspek tingkat pengembalian yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung sehingga diperlukan standar dan instrumen pengukurannya. Dan teknik penilaian yang umumnya digunakan sampai saat ini antara lain adalah dengan menggunakan Indeks Sharpe, Indeks Treynor, dan Alpha Jensen. Sedangkan teknik yang relatif baru dan mulai digunakan saat ini adalah Modigliani-Square.

D. Return dan Risk

Ketika strategi investasi yang rasional diperbandingkan antara satu dengan yang lain, risiko dan return berkecenderungan untuk berubah bersamaan. Tingkat pengembalian (return) merupakan imbalan atas keberanian investor menanggung risiko dari investasi yang dilakukan. Return investasi terdiri dari 2 komponen utama, yaitu yield dan capital gain. Yield merupakan komponen dari return yang merefleksikan aliran kas atau pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi. Sedangkan capital gain yaitu kenaikan harga suatu surat berharga (saham atau obligasi)

(36)

22 yang memberikan tambahan keuntungan atau tambahan kekayaan bagi investor. Penjumlahan dari yield dan capital gain adalah return total suatu investasi (Sulistyorini, 2009 : 13).

Terdapat beberapa definisi atau makna mengenai risiko (risk), yang pertama risiko didefinisikan sebagai kondisi yang tidak pasti (uncertainty) di masa yang akan datang. Definisi yang kedua memaknai risiko sebagai perubahan dari variabilitas return yang diharapkan atau sesuatu nilai yang tidak sesuai dengan harapan.

Return portofolio merupakan rata-rata tertimbang dari return yang diharapkan dari masing-masing saham yang membentuk portofolio tersebut.

Sedangkan risiko portofolio menggambarkan gabungan penyimpangan antara sekuritas-sekuritas yang membentuk portofolio tersebut, yang dipengaruhi oleh proporsi, varian, dan kovarian dari sekuritas-sekuritas tersebut.

E. Portofolio dan Diversifikasi

Secara terminologi portofolio memiliki beberapa definisi antara lain yaitu portofolio adalah sebagai sekumpulan aset yang dimiliki untuk tujuan ekonomis tertentu (Eko, 2008). Husnan (2005) mendefinisikan portofolio sebagai sekumpulan investasi, yaitu gabungan dari berbagai investasi sesuai dengan risiko yang investor bersedia tanggung dan dan tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Selain itu, portofolio juga dapat didefinisikan sebagai sekumpulan instrumen investasi yang dibentuk untuk memenuhi sasaran investasi (Rodoni dan Ali, 2010 : 73).

(37)

23 Sedangkan diversifikasi dapat dimaknai sebagai proses atau upaya pendistribusian daripada aktiva-aktiva yang dimiliki. Tujuan dari dilakukannya diversifikasi dalam hal ini melalui pembentukan portofolio adalah untuk mereduksi atau mengurangi risiko. Ada dua macam risiko yang berhubungan dengan diversifikasi yaitu :

1. Risiko yang dapat didiversifikasi (Diversible Risk)

Disebut juga risiko unik (unique risk), risiko khusus perusahaan (firm- specific risk), atau risiko tidak sistematis (nonsystematic risk). Yaitu bagian dari sekuitas yang dapat dihilangkan dengan membentuk portofolio karena risiko ini hanya ada dalam suatu perusahaan / industri tertentu.

Fluktuasi risiko ini besarnya berbeda-beda antara satu saham dengan saham lain karena adanya perbedaan sensitivitas terhadap perubahan dalam hal-hal seperti faktor struktur aset, dan tingkat likuiditas.

2. Risiko yang tidak terdiversifikasi (Nondiversible Risk)

Disebut juga risiko pasar (market risk), atau risiko sistematis (systematic risk) yaitu bagian dari sekuritas yang tidak dapat dihilangkan dengan upaya pembentukan portofolio karena fluktuasi risiko ini dipengaruhi oleh faktor-faktor makro yang dapat mempengaruhi pasar secara keseluruhan seperti perubahan tingkat bunga, perubahan kurs valuta asing, dan perubahan kebijakan pemerintah.

(38)

24 Menurut Sharpe, kondisi dimana suatu portofolio menjadi semakin terdiversifikasi, risiko unik akan menjadi semakin kecil dan demikian juga dengan risiko totalnya (Sharpe, et.al, 2005 : 172). Namun, peningkatan diversifikasi tidak akan secara proporsional menurunkan jumlah risiko non pasar.

Pendapat tersebut tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan oleh Bodie bahwa risiko sistematik merupakan risiko pasar yang bersifat umum dan berlaku bagi semua saham dalam pasar modal. Risiko ini tidak dapat dihindari oleh investor melalui diversifikasi sekalipun, yang diukur dengan beta (Bodie, 2006 : 366). Penjumlahan dari kedua jenis risiko yang telah disebutkan sebelumnya disebut sebagai risiko total yang dapat interpretasikan pada bagan di bawah.

Tabel 2.2

Risiko Total, Risiko Tidak Sistematis, dan Risiko Sistematis

Sumber : Sharpe, et. al., 2005.

σp

Risiko Total

βpσi Risiko

Unik Risiko Pasar

N

(39)

25 Dengan melihat kurva di atas, dapat dijelaskan bahwa semakin banyak jumlah saham dalam portofolio, maka semakin kecil risiko tidak sistematis karena risiko tersebut dapat dihilangkan dengan menggunakan diversifikasi.

Oleh karena itu, penggunaan bagian risiko yang hilang karena diversifikasi menjadi tidak relevan dalam pengukuran risiko, hanya risiko yang tidak bisa hilanglah yang relevan yaitu beta (β) atau risiko sistematis (Husnan, 2005:56).

F. Portofolio Efisien dan Portofolio Optimal

Ketika membentuk portofolio, seorang investor akan menghadapi kendala berupa bagaimana porporsi dan kombinasi portofolio yang memungkinkan untuk menghasilkan return yang tinggi dengan tingkat risiko yang minim dan investor yang rasional akan memilih portofolio yang efisien.

Portofolio yang efisien adalah portofolio yang menawarkan return yang maksimum untuk tingkat risiko tertentu, atau risiko minimum untuk tingkat return tertentu. Portofolio akan dapat dikatakan efisien jika portofolio tersebut terletak pada efficient set atau efficient frontier.

Setiap portofolio yang terletak pada efficient frontier merupakan portofolio yang efisien, sehingga sulit untuk mengatakan mana portofolio yang terbaik. Namun permasalahannya adalah, bagaimanapun pemodal harus memilih salah satu dari berbagai portofolio tersebut.

Dan portofolio optimal adalah sesuatu yang unik atas investasi pada aset berisiko. Pemilihan portofolio yang optimal oleh seorang investor dapat dilakukan antara lain dengan menggunakan pertimbangan preferensi investor

(40)

26 yang bersangkutan terhadap risiko dan return (risk averse, risk neutral, risk seeker) yang dimiliki masing-masing investor dengan menggunakan bantuan bantuan kurva indiferen.

G. Konsep Model Indeks Tunggal

Berdasarkan pengamatan akan diketahu bahwa pada saat pasar membaik maka harga-harga saham individual juga akan meningkat. Demikian pula sebaliknya pada saat pasar memburuk maka harga saham-saham akan turun harganya. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat keuntungan suatu saham nampaknya berkorelasi dengan perubahan pasar.

Kalau perubahan pasar bisa dinyatakan sebagai tingkat keuntungan indeks pasar, maka tingkat keuntungan suatu saham bisa dinyatakan sebagai : Ri = αi + βi.Rm

Dimana :

Ri = tingkat keuntungan yang diharapkan

αi = tingkat keuntungan saham i yang tidak dipengaruhi oleh pasar

βi = parameter yang mengukur perubahan yang diharapkan pada Ri kalau terjadi perubahan pada Rm

Rm = tingkat keuntungan indeks pasar Dengan asumsi yang digunakan : E (ei) = 0

E (eiej) = 0, atau dengan kata lain sekuritas hanya dipengaruhi oleh pasar σi² = βi²σm² + σei²

σij = βiβjσm²

(41)

27 Dimana nilai beta serta nilai alpha dapat dicari dengan menggunakan persamaan regresi linier sederhana yang dihitung dengan menggunakan Ri sebagai variabel terikat dan Rm sebagai variabel independen.

H. Penilaian Kinerja Portofolio

Dalam melakukan penilaian dari kinerja portofolio kita perlu menggunakan variabel-variabel yang relevan, yaitu tingkat keuntungan dan risiko. Perkembangan dari konsep pengukuran kinerja portofolio dimulai sejak tahun 1960-an, yang dipelopori oleh William F. Sharpe, Treynor, dan Michael Jensen. Ketiga ukuran ini dikenal dengan istilah composite (risk-adjusted) measure of portfolio performance, karena mengkombinasikan antara risk dan return dalam suatu perhitungan. Selain itu, terdapat juga indeks Modigliani- Square. Penjelasan mengenai keempat ukuran kinerja tersebut adalah sebagai berikut :

1. Ukuran Kinerja Sharpe.

Adalah salah satu metode yang digunakan untuk membandingkan kinerja portofolio dengan menggunakan konsep dari garis pasar modal atau capital market line (CML) atau yang lebih dikenal dengan istilah Reward to Variability Ratio-RVAR.

Pengukuran dengan metode sharpe didasarkan atas apa yang disebut dengan premium atas risiko atau risk premium. Risk premium adalah perbedaan atau selisih antara rata-rata return portofolio dengan risk free asset. Pengukuran ini membagi risk premium dengan standar deviasi dari portofolio selama periode pengukuran. Dengan membagi risk premium

(42)

28 dengan standar deviasi, Sharpe mengukur risk premium yang dihasilkan per unit risiko yang diambil (Minerva, 2006 : 20).

Rasio atau hasil perhitungan tersebut tidak lain adalah kemiringan garis yang menghubungkan portofolio yang berisiko dengan Rf. Karena semakin besar kemiringan garis tersebut berarti semakin menarik portofolio yang membentuk garis lurus tersebut, maka semakin besar rasio excess return terhadap deviasi standar, semakin menarik portofolio tersebut.

Dimana :

SP = Indeks kinerja Sharpe.

RP = Return portofolio atau tingkat pengembalian pasar.

RF = Return atas aset bebas risiko atau tingkat bunga bebas risiko.

σP = Total risiko yaitu hasil jumlah dari risiko sistematik dan risiko unsistematik.

2. Ukuran Kinerja Treynor.

Ukuran lain yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja portofolio adalah Indeks Treynor, yang mengasumsikan bahwa portofolio sangat diversifikasi atau dikenal dengan istilah Reward to Volatilility Ratio (RVOR).

Pengukuran dengan metode Treynor juga didasarkan atas risk premium, sama halnya dengan ukuran kinerja Sharpe. Yang membedakannya adalah pada indeks Treynor menggunakan Beta (β)

(43)

29 sebagai pembagi yang melambangkan risiko pasar atau risiko sistematik, yang sehingga memberikan gambaran hubungan antara return portofolio dengan return dari pasar.

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan return, bukan saja lebih tinggi dari return bebas risiko, tetapi lebih tinggi dari risiko yang ditanggung (Santosa dan Apricia, 2012 : 68).

Dimana :

TP = Indeks kinerja Treynor.

RP = Return portofolio atau tingkat pengembalian pasar.

Rf = Return atas aset bebas risiko atau tingkat bunga bebas risiko.

βP = Risiko pasar dari portofolio atau risiko sistematik portofolio.

3. Ukuran Kinerja Jensen.

Ukuran yang sering disebut dengan Jensen Alpha (α) (differential return measure) merupakan ukuran yang mengestimasikan tingkat pengembalian konstan selama periode investasi dengan memperoleh tingkat Jensen ALPHA pengembalian di atas (di bawah) dari buy-hold strategy dengan risiko sistematik yang sama

Sama halnya dengan ukuran kinerja Treynor, ukuran kinerja Jensen atau yang lebih dikenal dengan alpha Jensen juga menggunakan faktor beta dalam mengukur kinerja portofolio yang didasarkan atas pengembangan Capital Asset Pricing Model (CAPM). Dan portofolio

(44)

30 dengan nilai α tertinggi merupakan portofolio terbaik dari portofolio yang ada.

Dimana :

αp =Indeks Kinerja Jensen atau alpha Jensen.

RP = Return portofolio.

ΒP = Risiko sistematik dari portofolio.

Rf = Return atas aset bebas risiko atau tingkat bunga bebas risiko.

RM = Return pasar.

4. Ukuran kinerja Modigliani-Square (M2).

Risk adjusted measure of portofolio performance yang dikemukakan oleh Franco Modogliani dan Leah Modigliani, yaitu rasio yang diukur dengan risk free rate ditambah hasil kali RVAR (RP-Rf/

σ

p) dengan standar deviasi pasar (benchmark) yaitu

σ

M.

Metode M2 dapat dibandingkan secara langsung dengan rata-rata pengembalian return pasar (RM) dengan tujuan untuk mengetahui apakah portofolio berkinerja baik atau buruk (Nugroho, 2013 : 33).

Dimana :

M² = Indeks kinerja M².

RP = Return portofolio atau tingkat pengembalian pasar.

(45)

31 Rf = Return atas aset bebas risiko atau tingkat bunga bebas risiko.

σM = Standar deviasi return pasar.

σP = Risiko total dari portofolio atau penjumlahan dari risiko pasar dan risiko unik portofolio.

I. Penelitian Sebelumnya

Penelitian terdahulu merupakan sumber yang dijadikan acuan dalam melakukan penelitian. Penelitian terdahulu yang digunakan berasal dari skripsi dan jurnal dengan melihat hasil penelitiannya dan akan dibandingkan dengan penelitian selanjutnya dengan menganalisa berdasarkan keadaan dan waktu yang berbeda, adapun ringkasan penelitian terdahulu akan dijabarkan melalui tabel di bawah ini :

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu No Judul Penelitian Peneliti dan

Tahun Penelitian

Uji Statistik Hasil Penelitian

1 Risk Adjusted Performance – How to Measure It and Why

Modigliani dan Modigliani (1997)

Modigliani- Square

Hasil penelitian menunjukkan bahwa reksa dana dapat memiliki nilai kinerja di atas benchmark apabila dikelola dengan baik.

2 Examining Sharpe, Sortino, and Sterling Ratios In Portfolio

Management, Evidence From Tehran Stock Exchange

Kolbadi dan Ahmadinia (2011)

LSD pre-test dan Kruskal Wallis Test

Hasil akhir dari tes Kruskal Wallis dan Square-Statistic menunjukkan bahwa pengukuran kinerja portofolio dengan menggunakan metode Sharpe,

(46)

32 Sortino dan Sterling terbukti memiliki hasil yang serupa (tidak berbeda) 3 Risk-Adjusted

Performance Of Mutual Funds : Some Tests

Jagric, Podobnik dan Jagric (2007)

t-test Hasil penelitian menunujukkan bahwa ranking yang diperoleh kinerja Sharpe maupun kinerja Treynor adalah serupa jika portofolio reksa dana telah terdiversifikasi dengan baik.

4 Evaluasi Kinerja Reksa Dana Saham Di

Indonesia Dengan Metode EROV, Sortino, dan Sharpe

Meytasari, Lina (2013)

Anova with Tukey Test dan Kruskal Wallis Test

Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa evaluasi kinerja reksa dana saham dengan metode EROV, Sortino, dan Sharpe secara simultan didapatkan bahwa ketiga metode tersebut tidak terdapat perbedaan.

5 Analisa Kinerja Portofolio Saham Dengan Metode Sharpe, Treynor dan Jensen (Saham LQ-45 Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2003 Sampai 2007)

Sulistyorini, Agustin (2009)

Kruskal Wallis Test

Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh hasil bahwa tidak terdapat perbedaan hasil pengukuran kinerja portofolio saham dengan

menggunakan metode Sharpe, Treynor, Jensen 6 Analisa Komparasi

Pengukuran Kinerja Reksa Dana

Menggunakan Metode Sharpe,

Nugroho, Rahardi Aditya (2013)

Kruskal Wallis Test

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran kinerja menggunakan metode Sharpe, Treynor, dan M2

(47)

33

Treynor dan M2 menunjukkan hasil

yang sama (tidak terdapat perbedaan) 7 Analisis

Pembentukan Portofolio Optimal Saham

Menggunakan Single Indeks Model Di Bursa Efek Jakarta

Sukarno, Mokhamad (2007)

Mann Whitney Test

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat

perbedaan yang signifikan pada risiko antara saham yang masuk

kandidat dengan saham yang tidak masuk kandidat portofolio.

Penggunaan model indeks tunggal sebagai dasar pemilihan saham portofolio optimal sangat tepat digunakan, walau menggunakan basis periode waktu yang berbeda.

8 Analisa Perbandingan Lima Model Indeks Kinerja Portofolio

Sulistiani, Novi (2006)

Uji Koefisien Korelasi Spearman

Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks sharpe

mempunyai nilai yang paling tinggi untuk ketiga bentuk portofolio yang dibentuk dari saham- saham LQ-45

dibandingkan indeks Treynor, Jensen, T2, M2.

Terdapat perbedaan antara Indeks

Sharpe, Treynor, dan Jensen dengan metode T2 dan M2.

(48)

34 9 Evaluasi Kinerja

Portofolio Saham Di Bursa Efek Jakarta : Studi Empiris Saham- Saham LQ-45

Suryawan, Yusman (2003)

Kruskal Wallis Test

Dari hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan dalam mengukur kinerja portofolio saham dengan menggunakan metode Sharpe, Treynor, maupun Jensen.

Terdapat perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian terdahulu, yaitu penggunaan 4 indeks dalam pengukuran kinerja portofolio yang dibentuk (Sharpe, Treynor, Jensen, M2), saham emiten diseleksi terlebih dahulu dengan pendekatan single index model sebelum dimasukkan ke dalam portofolio optimal yang dibentuk dengan data yang dipergunakan adalah data harga penutupan saham pada t-1 atau dengan kata lain menggunakan data pada periode sebelumnya (t-1) untuk membentuk portofolio pada periode t (sedangkan untuk evaluasi kinerja portofolio pada periode t barulah menggunakan data dari periode t atau periode yang sama).

J. Kerangka Pemikiran

Investasi di pasar modal merupakan salah satu pilihan yang menarik bagi investor untuk mengalokasikan dananya, khususnya saham-saham yang termasuk ke dalam indeks LQ-45 bisa menjadi pilihan utama berdasarkan asumsi bahwa indeks ini memiliki kriteria tertentu dan diseleksi secara ketat serta berkala oleh BEI.

(49)

35 Kegiatan investasi berkaitan erat dengan risiko maupun imbal hasil yang keduanya dipengaruhi oleh banyak faktor seperti perubahan harga, kondisi ekonomi, kebijakan pemerintah, proyeksi laba perusahaan, kebijakan pembagian dividen, serta hal lainnya

Risiko dalam berinvetasi saham diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Banyak sekali bahan pustaka maupun pendapat ahli yang menyebutkan bahwa risiko tidak sistematis dapat diturunkan dengan melakukan diversifikasi atau dengan kata lain membentuk portofolio. Namun, seorang investor yang bijak haruslah memahami bahwa penentuan komposisi saham merupakan fase penting yang akan menentukan bagaimana nilai portofolio di masa depan, yang tentunya hal tersebut tidak terlepas dari proses evaluasi kinerja portofolio dari waktu ke waktu.

Terdapat berbagai metode yang dapat dipergunakan sebagai alat untuk pengukuran kinerja seperti indeks Sharpe, indeks Treynor, indeks Jensen, maupun indeks Modigliani-Square (M2). Lalu pertanyaannya apakah metode- metode pengukuran kinerja tersebut memberikan hasil yang sama atau berbeda ?

Berdasarkan pemikiran (pertanyaan), konsep dasar serta telaah pustaka yang sudah dikemukakan, maka kerangka pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian ini dapat dijelaskan melalui tabel 2.4.

(50)

36 Tabel 2.4

Kerangka Pemikiran

Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, dapat dijelaskan bahwa penelitian ini akan menganalisis kinerja portofolio saham optimal yang dibentuk dari saham-saham yang termasuk ke dalam LQ 45 melalui pendeketan single index model dengan metode yang dipergunakan untuk mengukur kinerja portofolio tersebut adalah dengan Indeks Sharpe, Indeks Tryenor, Indeks Jensen, dan M2. Meskipun keempat indeks tersebut juga sama-sama mempertimbangkan risiko dan return dalam pengukurannya, namun diperlukan

Saham LQ 45

Return dan Risk portofolio

Portofolio Optimal

Indeks Sharpe Indeks Treynor Indeks Jensen

Transformasi Z- Score

One Way Analysis of Variance by Rank (Uji Kruskal Wallis)

Ada perbedaan atau tidak ada perbedaan kinerja portofolio 99 saham berdasarkan indeks Sharpe, Treynor, Jensen, dan M2

Indeks M2

Transformasi Z- Score Transformasi Z-

Score

Transformasi Z- Score

(51)

37 standarisasi ukuran kinerja berupa transformasi Z-score sebelum dapat dilakukan pengujian apakah terdapat perbedaan kinerja portofolio saham antara ketiga model tersebut.

Setelah itu, langkah selanjutnya adalah dengan penentuan rangking pada masing-masing periode kinerja. Setelah itu, barulah diuji apakah kinerja portofolio pada tiap-tiap periode akan memiliki rangking yang serupa jika diukur dengan empat metode yang berbeda.

Setiap sampel diukur dengan semua kondisi atau periode, maka untuk desain seperti ini disebut dengan One way analysis of variance by rank dengan metode yang digunakan adalah uji Kruskal-Wallis.

K. Hipotesis Penelitian

Hipotesis bisa didefinisikan sebagai hubungan yang diperkirakan secara logis diantara dua atau lebih variabel yang diungkapkan dalam bentuk pernyataan yang dapat diuji. Hubungan tersebut diperkirakan berdasarkan jaringan asosiasi yang ditetapkan dalam kerangka teoritis yang dirumuskan untuk studi penelitian. Dengan menguji hipotesis dan menegaskan perkiraan hubungan, diharapkan bahwa solusi dapat ditemukan untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Sekaran, 2006 : 135). Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

(52)

38 H0 = Tidak terdapat perbedaan kinerja portofolio saham optimal LQ-45 yang dievaluasi dengan menggunakan rasio Sharpe, Treynor, Jensen, dan M2.

H1 = Terdapat perbedaan kinerja portofolio saham optimal LQ-45 yang dievaluasi dengan menggunakan rasio Sharpe, Treynor, Jensen, dan M2.

(53)

39 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian analisis kuantitatif karena dalam penelitian ini penulis akan menganalisa kinerja portofolio saham perusahaan- perusahaan yang dijadikan sampel dalam penelitian dan menganalisa apakah terdapat perbedaan atau tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil perhitungan kinerja portofolio saham LQ 45 dengan metode Sharpe, Treynor, Jensen, M2 setelah melalui transformasi z-score.

Selain itu, penelitian ini juga memberikan gambaran dan evaluasi atas kinerja portofolio saham-saham yang bernilai positif atau sebaliknya bernilai negatif. Data yang dipergunakan berasal dari harga penutupan (closing price) saham-saham bulanan yang masuk ke dalam LQ 45 dari Bursa Efek Indonesia (BEI) Januari 2009 sampai desember 2011, tingkat suku bunga bebas risiko yang diaproksikan dari SBI Bank Indonesia periode bulanan dari januari 2009 sampai desember 2011, dan data harga penutupan (closing price) indeks harga saham gabungan.

B. Metode Penentuan Sampel

Populasi mengacu pada keseluruhan kelompok orang, kejadian atau hal minat yang ingin peneliti investigasi. Sedangkan sampel adalah sub kelompok atau sebagian dari populasi. Sampel terdiri dari sejumlah anggota yang dipilih

(54)

40 dari populasi (Sekaran, 2006 : 121-123). Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode Januari 2009 sampai Desember 2011.

Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, dengan menggunakaan beberapa kriteria sebagai pertimbangan. Kriteria yang digunakan antara lain :

1. Terdapat data-data yang dibutuhkan dalam penelitian yang diperoleh dari Indonesia stock exchange monthly Statistics.

2. Hanya memilih saham-saham yang masuk dalam LQ 45 selama 3 tahun periode pengamatan berturut-turut antara tahun 2009-2011.

C. Metode Pengumpulan Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, time series, dan cross section dalam bentuk :

1. Riset kepustakaan yaitu berasal dari literatur-literatur dan jurnal-jurnal yang berkaitan dengan masalah skripsi ini.

2. Harga saham harian yang masuk LQ-45 dari Bursa Efek Indonesia mulai januari 2009 sampai desember 2011.

3. Tingkat suku bunga bebas risiko yang berasal dari data laporan dari SBI bulanan Bank Indonesia periode januari 2009 – desember 2011.

4. Harga pasar yang diperoleh dari indeks harga saham gabungan (IHSG) periode januari 2009 – desember 2011.

Dalam penelitian ini penulis mempergunakan software SPSS untuk mempermudah pengolahan data disamping menggunakan software Microsoft

Gambar

Tabel 2.3  Penelitian Terdahulu  No  Judul Penelitian  Peneliti dan

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini mencoba menguji kinerja portofolio yang dikembangkan menggunakan model atau metode Sharpe measure, Treynor Performance measure, dan Jensen

Nilai ketiga indeks pengukur kinerja portofolio berupa indeks Sharpe, Treynor, dan Jensen secara konsisten menunjukan hasil bahwa portofolio yang dibentuk menggunakan model

Jensen, maka dapat dirumuskan, apakah ada perbedaan antara penilaian kinerja portofolio dengan menggunakan metode Sharpe, Treynor dan Jensen,

Hasil penelitian maka hipotesis yang berbunyi adanya perbedaan atau tidak antara return yang diharapkan dan yang dihasilkan dari Jensen, Sharpe dan Treynor dengan

4.1.5 Hasil Pengukuran Kinerja Saham Syariah dengan Menggunakan Indeks Sharpe, Indeks Treynor, Indeks Jensen, Appraisal Ratio dan Snail Trail Tahun 2013 ....

Berdasarkan hasil evaluasi kinerja terhadap portofolio (3 dan 4 saham) diperoleh hasil berdasarkan kriteria Treynor-Index, selama periode penelitian kinerja portofolio belum maksimal

Hasil dari penelitian ini, penilaian kinerja berdasarkan Indeks Sharpe, Indeks Treynor dan Indeks Jensen dengan menggunakan uji t test independent berdasarkan Indeks Sharpe dan Indeks

88 4.2.1 Perkembangan Kinerja Reksa dana Pendapatan Tetap Konvensional dan Syariah Dengan Menggunakan Indeks Sharpe, Indeks Jensen dan Indeks Treynor .... 88 4.2.2 Perbedaan Kinerja