• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Keadaan Alam 1. Letak Geografis

Letak geografis Kota Depok berada pada 6,190 – 6,280 LS dan 106,430 BT, yang merupakan daerah bentangan dengan dataran rendah perbukitan bergelombang lemah, dengan elevasi antara 50 – 140 m diatas permukaan laut dan kemiringan lerengnya kurang dari 15 persen. Pohon belimbing akan tumbuh baik ditempat dengan ketinggian 0 – 500 m diatas permukaan laut dengan curah tinggi dan mendapat cukup cahaya matahari.

Letak wilayah Kota Depok memiliki batas-batas :

a. Sebelah Utara : Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang dan Wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Pasar Rebo, Cilandak, Propinsi DKI Jakarta.

b. Sebelah Timur : Kecamatan Pondok Gede Kabupaten Bekasi dan Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor.

c. Sebelah Selatan : Kecamatan Cibinong dan Kecamatan Bojonggede Kabupaten Bogor.

d. Sebelah Barat : Kecamatan Parung dan Kecamatan Gunung Sindur Kabupaten Bogor.

2. Luas Wilayah dan Pembagian Wilayah Administrasi

Kota Depok beribukota di Kecamatan Pancoran Mas, dengan luas wilayah 200,29 Km2. Kota Depok terdiri dari enam kecamatan yaitu: Beji, Limo, Cimanggis, Sawangan, Sukmajaya dan Pancoran Mas. Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Cimanggis yaitu 53,54 Km2 (26,73%) sedangkan yang paling kecil adalah Kecamatan Bejo yaitu seluas 14,30 Km2 (7,14%) dari luas Kota Depok.

29

(2)

commit to user

Tabel 5. Luas Wilayah dan Presentase Menurut Kota Depok Tahun 2010 No. Kecamatan Luas (Km2) Presentase (%)

1 Sawangan 45,69 22,82

2 Pancoran Mas 29,83 14,89

3 Sukmajaya 34,13 17,04

4 Cimanggis 53,54 26,73

5 Beji 14,30 7,14

6 Limo 22,80 11,38

Jumlah 200,29 100,00

Sumber: BPS Kota Depok 2011

3. Keadaan Tanah dan Keadaan Topografi

Secara umum jenis tanah yang terdapat di Kota depok meurut RTRW Kota Depok terdiri dari:

a. Tanah alluvial, tanah endapan yang masih muda, terbentuk dari endapan lempung, debu, dan pasir, umumnya tersingkap di jalur-jalur sunga, tingkat kesuburan sedang-tinggi.

b. Tanah latosol coklat kemerahan, tanah yang belum begitu lanjut perkembangannya, terbentuk dari tufa vulkan andesitis – basaltis, tingkat kesuburannya rendah – cukup, mudah meresapkan air, tanah terhadap erosi, tekstur halus.

c. Asosiasi latosol merah dan laterit air tanah, tanah latosol yang perkembangannya dipengaruhi air tanah, tingkat kesuburan sedang, kandungan air tanah cukup banyak, sifat fisik tanah sedang – kurang baik.

Topografi wilayah Kota Depok di bagian utara merupakan dataran rendah dengan elevasi antara 40 – 80 m, meliputi kelurahan-kelurahan yang ada di bagian tengah dan utara, sedangkan di bagian selatan perbukitan bergelombang lemah dengan elevasi 80 – 140 m meliputi kelurahan-kelurahan yang berada dalam wilayah Kecamatan Sawangan, Pancoran Mas, Sukmajaya dan Cimanggis.

Dari analisis kemiringan lereng wilayah Depok dapat dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu :

(3)

commit to user

a. Wilayah dengan kemiringan lereng antara 2 – 8 persen (lereng datar) tersebar di bagian utara melintang dari barat ke timur, meliputi:

1. Kecamatan Limo : Kelurahan Pangkalan Jati, Gandul, Cinere, Meruyung, Grogol.

2. Kecamatan Beji : Kelurahan Tanah Baru, Beji, Beji Timur, Kukusan, Pondok Cina, Kemiri Muka.

3. Kecamatan Cimanggis : Kelurahan Pasir Gunung Selatan, Tugu, Mekarsari.

Wilayah ini potensial untuk pengembangan perkotaan dan pertanian.

b. Wilayah dengan kemiringan lereng antara 8 – 15 persen (lereng landai) tersebar hampir di seluruh kota terutama di bagian tengah membentang dari barat ke timur, sesuai untuk pengembangan perkotaan dan pertanian.

c. Wilayah dengan kemiringan lereng lebih besar dari 15 persen (lereng curam) terdapat di sepanjang Sungai Ciliwung, Cikeas dan bagian selatan Sungai Angke. Pada wilayah ini lereng cukup terjal sehingga cenderung perlu dikonservasi.

Pada umumnya hampir semua jenis tanah yang digunakan untuk pertanian cocok untuk tanaman belimbing, yaitu yang tanahnya subur, gembur, banyak mengandung bahan organik aerasi dan drainasenya baik.

Kesesuaian tanaman belimbing untuk ditanam dalam berbagai jenis tanah menjadikan buah belimbing prospek untuk dibudidayakan secara luas di berbagai wilayah di Kota Depok.

4. Keadaan Iklim

Kondisi suatu wilayah merupakan salah satu potensi alam yang menentukan jenis tanaman yang dapat dibudidayakan di wilayah tersebut.

Wilayah Kota Depok termasuk beriklim tropis dengan perbedaan curah hujan cukup kecil yang dipengaruhi oleh angin muson. Musim kemarau jatuh pada periode April – September dan musim penghujan jatuh pada periode Oktober – Maret. Suhu optimum untuk pertumbuhan pohon belimbing pada siang hari sekitar 230 C dan suhu maksimum 280 C, tetapi

(4)

commit to user

pohon belimbing dapat menyesuaikan dengan daerah sekitarnya dengan suhu antara 19-320 C (Soedarya, 2009:34). Temperatur Kota Depok rata- rata 24,3 – 33 0 C, kelembaban udara rata-rata 82 persen, penguapan udara rata-rata 3,9 mm/th, kecepatan angin rata-rata 3,3 knot dan penyinaran matahari rata-rata 49,8 persen.

Curah hujan merupakan salah satu komponen iklim yang mempengaruhi pola tanam dan jenis tanaman di suatu wilayah. Data pemeriksaan curah hujan tahun 2003 di Stasiun Depok Pancoran Mas banyaknya curah hujan 872 mm/th dan banyaknya hari hujan 94 hari.

Curah hujan rata-rata sekitar 2.4 mm. Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson, wilayah Kota Depok termasuk tipe A dengan tidak ada bulan kering (<60 mm) dan rata-rata bulan basah (>100 mm) 11 bulan.

5. Tata Guna Lahan

Luas Kota Depok seluruhnya adalah 20.029 Ha dengan penggunaan atau pemanfaatannya antara lain untuk lahan sawah seluas 972,5 Ha, lahan bukan sawah seluas 19.056,80 Ha yang terdiri dari lahan kering seluas 18.620,35 Ha dan lahan lainnya (kolam/tebat/empang) seluas 436,45 Ha. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.

(5)

commit to user

Tabel 6. Luas Lahan di Kota Depok dan Pemanfaatannya Tahun 2010

No

Penggunaan Lahan (hektar)

Dalam Satu Tahun

Sementara Tidak Diusahakan

Jumlah Ditanam Padi

Tidak Ditanami

>Dua Kali

Satu Kali 1 Lahan Sawah

1.1 Irigasi Teknis 231.5 - - - 231.5

1.2 Irigasi ½ Teknis 95.0 190.5 - - 285.5

1.3 Irigasi Sederhana 4.6 - - 263.4 268.0

1.4

Irigasi Desa/Non

PU - 11.5 - 135 146.5

1.5 Tadah Hujan - - - 41 41

1.7 Pasang Surut - - -

1.8 Lebak - - -

1.9

Polder & Swh

Lainnya - - -

J u m l a h (1) 331.1 202 - 439.4 972.5

2

Lahan Bukan Sawah 2.1 Lahan Kering

2.1.1. Pekarangan 10.305.00

2.1.2. Tegal/kebun 4.113.15

2.1.3. Ladang/Gulma 1.227.80

2.1.4.

Penggembalaan/

Padang Rumput 10

2.1.5.

Smtr Tdk

Diusahakan 28

2.1.6. Hutan Rakyat 7

2.1.7. Hutan Negara 6

2.1.8. Perkebunan -

2.1.9. Lain-lain 2.923.4

2.2. Lahan Lainnya 2.2.1.

Rawa2 tdk

ditanami 194.15

2.2.2. Tambak -

2.2.3.

Kolam/Tebat/

Empang 242.3

Jumlah (2) 19.056.80

Jumlah (1 + 2) 20.029.3

Sumber: Dinas Pertanian Kota Depok, 2011

Tabel 6 menunjukan pemanfaatan lahan Kota Depok dibagi dua, yaitu lahan sawah dan lahan bukan sawah, dimana lahan buka sawah lebih luas dibandingkan lahan sawah. Lahan kering merupakan lahan bukan sawah yang mempunyai luas 19.056.80 Ha. pemanfaatan lahan kering ini digunakan sebagian besar untuk pekarangan seluas 10.305.00 Ha, pekarangan ini lah yang dimanfaatkan petani untuk dijadikan areal produksi belimbing dewa.

(6)

commit to user B. Keadaan Penduduk

1. Jumlah Penduduk

Penduduk merupakan salah satu faktor yang menentukan perkembangan suatu wilayah dan dapat menjadi potensi bagi satu wilayah.

Pertumbuhan penduduk dapat mengancam ketersediaan lahan pertanian produktif karena adanya konversi lahan pertanian ke nonpertanian untuk keperluan pemukiman. Kota Depok mempunyai jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun akan tetapi meningkatnya jumlah penduduk belum tentu pertumbuhannya tinggi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Jumlah Penduduk Kota Depok Tahun 2007-2011

Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah (jiwa)

2007 761.382 708.620 1.470.002

2008 780.092 723.585 1.503.667

2009 798.802 738.178 1.536.980

2010 879.325 857.240 1.736.565

2011 918.835 894.777 1.813.612

Sumber: BPS Kota Depok 2011

Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui tingkat perubahan jumlah penduduk Kota Depok dari tahun 2007 sampai tahun 2011. Jumlah penduduk dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2009 ke 2010 yaitu dari 1.536.980 jiwa menjadi 1.736.565 jiwa. Jumlah penduduk tersebut dapat digunakan untuk menentukan seks ratio penduduk Kota Depok. Seks ratio dihitung dengan cara:

Seks ratio dari tahun 2007-2011 berturut-turut adalah 107, 107, 108, 102 dan 102. Angka tersebut menggambarkan perbandingan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan tidak jauh berbeda.

2. Keadaan Penduduk Menurut Umur

Kedaan penduduk menurut umur bagi suatu daerah dapat digunakan untuk mengetahui besarnya penduduk yang produktif dan

x 100

(7)

commit to user

angka beban tanggungan (Dependency ratio/DR). Keadaan penduduk Kota Depok menurut umur dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kota Depok (dalam jiwa) tahun 2011

No. Kelompok Umur

Laki-laki (jiwa)

Perempuan (jiwa)

Jumlah (jiwa)

Persentase (%)

1. 0-4 92.414 85.829 178.243 9,83

2. 5-14 165.379 156.968 322.347 17,78

3. 15-24 154.936 159.544 314.480 17.34

4. 25-64 481.091 465.529 946.620 52,19

5. >64 25.016 38.790 51.923 2,86

Jumlah 918.836 906.660 1.813.613 100

Sumber: BPS Kota Depok 2011

Penduduk Kota depok yang terbanyak pada kelompok umur 25-64 tahun yaitu sebanyak 52,19%, sebanyak 17,34% penduduk berada pada kelompok umur 15-24 tahun, sebanyak 17,78% penduduk berumur 5-14 tahun, sebanyak 2,86% penduduk berumur lebih dari 60 tahun dan penduduk berumur 0-4 tahun sebanyak 9,83%.

Berdasarkan Tabel 10 maka penduduk Kota Depok dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan yaitu :

a. Usia Belum Produktif (0-14) : 500.590 jiwa b. Usia Produktif (15-64) : 1.261.100 jiwa c. Usia Tidak lagi Produktif (>64) : 51.923 jiwa

Banyaknya penduduk usia produktif akan berpengaruh pada ketersediaan tenaga kerja dalam sektor perekonomian, baik pertanian, industri, maupun jasa. Usia non produktif diperoleh dengan menjumlahkan usia belum produktif dan tidak lagi produktif. Besarnya DR yaitu 43,8%

yang berarti bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung 44 penduduk non produktif.

3. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja/sedang mencari pekerjaan. Sedangkan bukan angkatn kerja adalah penduduk yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja seperti pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, pensiunan dan alasan kesehatan. Penduduk Kota depok memiliki

(8)

commit to user

jenis pekerjaan yang bermacam-macam. Pada Tabel 9 dapat diketahui jumlah penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaannya.

Tabel 9. Banyaknya Penduduk 15 Tahun Keatas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Depok 2011

No. Jenis Lapangan Usaha

Laki- laki

Perempuan Jumlah %

1. Pertanian, Kehutanan, Perburuan, dan Periklanan

10.976 543 11.519 1,61

2. Industri Pengolahan 66.792 51.259 118.051 16,51 3. Perdagangan Besar,

\Eceran, Rumah makan dan Hotel

108.292 83.014 191.306 26,76 4. Jasa

Kemasyarakatan 122.402 108.355 230.757 32,28 5. Pertambangan dan

penggalian, Listrik, Gas dan air,

Konstruksi,

Pegawai, Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi,

keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa perusahaan

133.875 29.383 163.258 22,84

Jumlah / Total 442.337 272.554 714.891 100 Sumber: BPS Kota Depok 2011

Berdasarkan Tabel 9 jenis lapangan pekerjaan yang paling banyak di jalankan oleh penduduk Kota Depok berturut-turut yaitu: jasa kemasyarakatan sebesar 230.757 jiwa (32,28%), di urutan kedua yakni bidang perdagangan besar, eceran, rumah makan dan hotel dengan jumlah sebesar 191.306 jiwa (26,76%). Terbesar ketiga adalah pegawai, usaha persewaan, konstrusi. Penduduk Kota Depok dengan jumlah sebesar 163.258 jiwa (22,84%), diurutan keempat yakni bidang industri pengolahan yakni sebesar 118.051 jiwa (16,51%). Jenis lapangan pekerjaan yang paling kecil adalah pertanian yakni sebesar 11.519 jiwa

(9)

commit to user

(1,61%). Jenis lapangan usaha pertanian merupakan pekerjaan paling kecil karena areal usahatani yang tidak cukup luas untuk dikembangkan akibat banyaknya alih fungsi lahan dan dari hasil wawancara pada saat penelitian, petani yang masih mengembangkan usahatani khususnya belimbing dewa di Kota Depok biasanya petani yang sudah turun temurun menjalankan usahataninya dari keluarganya terdahulu.

C. Keadaan Pertanian

Sektor pertanian merupakan sektor penyumbang PDRB terendah di Kota depok. Hal ini juga dapat dilihat dari sedikitnya penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Kota Depok merupakan penghasil tanaman pangan dan buah-buahan. Pada Tabel 10 disajikan data luas panen dan produksi tanaman bahan makanan.

Tabel 10. Luas dan Produksi Tanaman Bahan Makanan di Kota Depok Tahun 2010

No. Keterangan

Luas Panen

(Ha)

Jumlah Tanaman Menghasilkan

(Pohon)

Produksi (Ton)

1. Padi 857 5.443,42

2. Ubi Kayu 305 4.133,24

3. Ubi Jalar 105 808,11

4. Jagung 239 778,39

5. Kacang Tanah 192 250,09

6. Belimbing 29.375 546,60

7. Pisang 16.582 179,95

8. Pepaya 13.833 179,58

9. Jambu Biji 12.782 184,85

Sumber: BPS Kota Depok 2011

Berdasarkan Tabel 10 dapat diketahui bahwa luas panen dan produksi yang tertinggi untuk tanaman pangan adalah tanaman padi dengan jumlah produksi 5.443,42 ton dan luas panen 857 Ha. Pada tanaman buah-buahan jumlah tanaman menghasilkan dan produksi tertinggi adalah tanaman belimbing dengan jumlah tanaman menghasilkan 29.375 dan produksi sebanyak 546,60 ton.

(10)

commit to user D. Keadaan Prasarana

Perhubungan darat merupakan prasarana pengangkutan yang penting untuk memperlancar kegiatan perekonomian. Dengan makin meningkatnya usaha pembangunan maka akan menuntut peningkatan pembangunan jalan untuk memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar lalu lintas barang dari satu daerah ke daerah lain.

Tabel 11. Panjang Jalan Menurut Status Pemerintah yang Berwenang dan Kondisi di Kota Depok (Km) 2011

No. Uraian Jumlah Persentase

1. Status Jalan

a. Jalan Negara 30,77 5,98

b. Jalan Propinsi 11,50 2,23

c. Jalan Kota 472,57 91,79

Jumlah 100,00

2 Kondisi

a. Mantap (Baik-Sedang) 425,75 82,70

b. Tidak Mantap (Rusak Ringan – Rusak Berat)

89,09 17,30

Jumlah 514,84 100,00

Sumber: BPS Kota Depok 2011

Panjang jalan di Kota Depok tahun 2011 adalah 514,84 km, jika dirinci menurut status pemerintah yang berwenang maka panjang jalan negara 30,77 km, jalan propinsi 11,50 km, jalan kota 472,57 km. Secara keseluruhan kondisi jalan di Kota Depok yaitu baik yaitu dengan angka 425,75 atau 82,70

% keadaan jalan mantap yaitu antara baik sampai sedang. Keadaan jalan tidak mantap atau rusak ringan sampai rusak berat berjumlah 89,09 atau 17,30 % saja secara keseluruhan. Kondisi jalan sangat mempengaruhi terhadap kualitas belimbing dewa, didalam pengangkutannya jika keadaan jalan baik maka akan menimalisir kerusakan pada buah akibat goncangan mobil pada saat pengiriman buah.

E. Keadaan Perekonomian

Keadaan perkonomian dapat dilihat salah satunya dari indikator pertumbuhan sektor perekonomian, yaitu dari Produk Domestik Bruto Regional (PDRB) atas harga konstan 2000 tahun 2009 dan 2010 di Kota

(11)

commit to user

Depok untuk setiap lapangan usahanya. Hal tersebut dapat ditunjukkan pada Tabel 12.

Tabel 12. PDRB menurut lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan tahun 2000 di Kota Depok Tahun 2010-2011 (Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha Tahun

2009 % 2010 %

1. Pertanian 173.873,42 2,84 186.945,98 2,86

2. Pertambangan dan

Penggalian

- -

3. Industri Pengolahan 2.499.038,17 40,77 2.607.666,08 39,99

4. Listrik, Gas dan Air Minum 183.438,60 2,99 194.125,39 3,15

5. Bangunan / Konstruksi 380.592,374 6,21 415.935,90 6,35

6. Perdagangan, Hotel dan restoran

1.873.833,66 30,57 2.030.889,31 31,13

7. Pengangkutan dan

Komunikasi

316.105,87 5,16 337.803,37 5,12

8. Bank dan lembaga

Keuangan Lainnya

236.210,37 3,85 251.443,22 3,85

9. Jasa-jasa 466.557,16 7,61 494.516,96 7,55

Produk Domestik Regional Bruto

6.129.649,62 100 6.519.326,21 100

Sumber: BPS Kota Depok 2011

Berdasarkan Tabel 12 dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 dan 2010 sektor industri pengolahan menepati urutan pertama apabila dilihat dari besarnya nilai sumbangan terhadap PDRB di Kota Depok, yaitu sebesar 40,77

% pada tahun 2009 atau mengalami penurunan pada tahun 2010 sebesar 39,99

%. Sedangkan sektor pertanian meskipun juga mengalami peningkatan nilai dari tahun 2009 sebesar 2,84 % menjadi 2,86 % pada tahun 2010. Namun posisi sektor pertanian masih berada pada urutan terakhir dibawah sektor- sektor lain. Hal ini karena peningkatan nilai sektor pertanian tergolong masih kecil jika dibandingkan oleh sektor lain. Keadaan tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat akan pemukiman penduduk dan berbagai macam pembangunan. Sehingga sumbangan nilai PDRB dari sektor pertanian bearada pada tingkat terakhir. Walaupun nilai PDRB dalam sektor pertanian berada pada tingkat terendah tetapi usahatani buah belimbing sangat diunggulkan, bisa dilihat pada Tabel 1 produksi buah-buahan belimbing paling banyak dibandingkan buah lainnya yang di produksi juga di Kota Depok seperti pepaya, pisang, jambu biji dan rambutan.

Gambar

Tabel 5. Luas Wilayah dan Presentase Menurut Kota Depok Tahun 2010  No.  Kecamatan  Luas (Km 2 )  Presentase (%)
Tabel  6. Luas Lahan di Kota Depok dan Pemanfaatannya Tahun 2010
Tabel 7. Jumlah Penduduk Kota Depok Tahun 2007-2011
Tabel 8. Jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Kota Depok  (dalam jiwa) tahun 2011
+5

Referensi

Dokumen terkait

Termokopel merupakan sambungan (junction) dua jenis logam atau campuran yang salah satu sambungan logam tadi diberi perlakuan suhu yang berbeda dengan sambungan lainnya. Sambungan

Pelaksanaan Administrasi Keuangan dan Umum merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan Pabrik Gula Tasikmadu Karanganyar untuk mengolah data dan mengkoordinasi di

Kata budaya (culture) sebagai konsep berakar dari kajian atau disiplin ilmu antropologi, dan merupakan suatu identitas dari tiap-tiap bangsa.Budaya merupakan pola yang

Sejak adanya penggunaan mesin/motor bagi komunitas Pattorani maka eksploitasi sumber daya perikanan dan biola laut lainnya dilakukan secara optimal serta

Ali bin Abi Thalib adalah Abu Al Hasan Ali bin Abi Thalib bin Abdul Manaf Al Muththalib, ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf, termasuk

Kemudian anuitas yang menggunakan model tingkat bunga tetap pada persamaan (5) lebih besar dibandingkan dengan nilai tunai anuitas menggunakan hukum Makeham

Oleh karena TB hanya menawarkan soliton stabil, maka untuk menerangkan evolusi soliton, digunakan metode aproksimasi dari kink (solitonlike) dengan memanfaatkan teorema Noether

dan Anggota Badan Pengawas Pemilu, Panitia Pengawas Pemilu Provinsi atau Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten/Kota dapat dicalonkan oleh Partai Politik atau gabungan Partai