• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL STINDO PROFESIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL STINDO PROFESIONAL"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

308 PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG BIJI KARET (HAVEA BRASILIENSIS) FERMENTASI

DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMANS AYAM BROILER

Oleh:

Ir. Untung Pardosi, MP1

Fakultas Peternakan Universitas HKBP Nommensen, Medan email: [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung biji karet fermentasi dalam ransum terhadap performan ayam broiler umur 8-35 hari. Penelitian ini dilaksanakan di Simalingkar A, Kecamatan Medan Tuntungan. Penelitian ini menggunakan 100 ekor ayam broiler strain CP 707. Ransum yang digunakan adalah campuran dari beberapa bajan pakan yang disusun dengan menggunakan metode coba- coba pada program Microsoft Excel yang berpedoman pada kebutuhan nutrisi ayam broiler. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalag Rancanagan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan yaitu P0 = 0% P1 = 5% P2 = 10% P3 = 15% P4 = 20% dan masing –masing memiliki 4 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam broiler.

Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, pertambahan berat badan dan konversi ransum. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisis dengan (ANOVA).

Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian tepung biji karet fermentasi dalam ransum terhadap performa ayam broiler umur 8-35 hari berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan berat badan dan konversi ransum.

Keywords: Tepung Biji Karet Fermentasi, Ayam Broiler, Performan.

Abstract

This study aims to find out the effect of giving fermented rubber seed flour in rations on the performance of broiler chickens aged 8-35 days. This research was carried out in Simalingkar A, Medan Tuntungan District. The study used 100 broiler chickens strain CP 707. The ration used is a mixture of several feed steels arranged using a trial and error method in the Microsoft Excel program that is guided by the nutritional needs of broiler chickens. The method used in this study is complete random planning (RAL) which consists of 5 treatments, namely P0 = 0% P1 = 5% P2 = 10% P3 = 15% P4 = 20% and each has 4 repetitions, each repeat consists of 5 broiler chickens. The parameters measured are ration consumption, weight gain and ration conversion. The data obtained from the results of this study was analyzed with (ANOVA). The conclusions obtained from the results of this study show that the provision of fermented rubber seed flour in rations on the performance of broiler chickens aged 8-35 days has an unreal effect (P>0.05) on ration consumption, weight gain and ration conversion.

Kata kunci : Fermented Rubber Seed Flour, Broiler Chicken, Performan.

(2)

308 PENDAHULUAN

Usaha peternakan ayam broiler merupakan salah satu usaha yang potensial untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein bagi masyarakat. Ayam broiler tumbuh dengan cepat dan dapat dipanen dalam waktu yang singkat.

Ayam broiler merupakan ayam ras unggulan hasil persilangan ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging dalam waktu relatif singkat yaitu 35 hari sehingga mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak (Devi et al., 2012).

Dalam suatu usaha peternakan, selain manajemen dan bibit, pakan merupakan suatu faktor yang sangat penting, terutama untuk keperluan produksi dan reproduksi. Biaya produksi pakan yang diperlukan berkisar antara 60-70 % dari total biaya produksi. Oleh karena itu dianjurkan kepada kepada setiap peternak memperhatikan kualitas khususnya dalam pemberian bahan pakan yang lebih efisien ehingga dapat memberikan keuntungan yang maksimal.

Menurut ( Effrendi, 2012) salah satu persyaratan suatu bahan dapat digunakan sebagai bahan baku pakan adalah ketersediaannya yang melimpah, harganya relatif murah, mudah dicerna oleh ternak, mempunyai kandungan nutrisi yang baik dan tidak berkompetisi dengan kebutuhan manusia. Dan salah satu bahan yang berpotensi untuk digunakan adalah biji karet.

Biji karet atau havea brasilliensis di Indonesia saat ini masih merupakan produk sampingan yang dapat

dikategorikan belum termanfaatkan secara optimal, karena baru sebagian kecil yang digunakan sebagai bibit.Setiap pohon diperkirakan dapat menghasilkan 5.000 butir per tahun atau satu hektar lahan dapat menghasilkan 2.253 sampai 3 juta biji/tahun (Wizna et al., 2000).

Dilihat dari komposisi kimianya biji karet memiliki kandungan protein yang tinggi.

Berdasarkan analisis diketahui kadar protein biji karet sebesar 27%, lemak 32,3%, air 3,6%, abu 2,4%, asam nikotinat 2,5 mg, karoten dan tokoferol 250 mg. Biji karet mengandung asam amino yang cukup tinggi dan sangat baik.

Asam amino yang paling banyak terkandung dalam tepung biji karet adalah asam glutamik, asam aspartik dan leusina sedangkan metionin dan sistein merupakan kandungan asam amino yang terendah (Oyewusi et al., 2007).

Biji karet mempunyai kandungan protein yang tinggi, namun didalamnya terdapat suatu racun yaitu hydrogen cyanide (HCN) atau asam sianida, dengan kadar sianida 330 mg dari setiap 100 g (Indrawati & Ratnawati, 2017). Semakin lama waktu pengukusan dan perebusan kandungan asam sianida (HCN) pada biji karet akan semakin menurun.

Menurut (Yatno et al., 2015). penurunan kandungan asam sianida (HCN) pada biji karet dilakukan dari hasil pengukusan dan perebusan, karena asam sianida (HCN) dengan adanya pemanasan akan mudah menguap. Kalsium hidroksida atau yang lebih dikenal dengan larutan kapur sirih tergolong basa kuat yang dapat menetralkan asam yaitu asam sianida (Indrawati & Ratnawati, 2017).

(3)

309 Faktor pembatas penggunaan biji karet

sebagai bahan ransum unggas, diantaranya kandungan lemak kasar yang tinggi, adanya senyawa beracun asam sianida (HCN) yang dapat menimbulkan keracunan akut bagi ternak yang mengkonsumsi tepung biji karet tersebut. Oleh karena itu, perlu adanya upaya perbaikan kandungan nutrisi, salah satu diantaranya yaitu dengan proses fermentasi.

Proses fermentasi yang dilakukan yaitu dengan menggunakan inokulum berupa ragi tempe. Haslina dan Pratiwi (1996) menyatakan bahwa, selama fermentasi protein dan lemak dihidrolisa menjadi asam-asam amino dan asam-asam lemak oleh enzim yang dihasilkan oleh kapang Rhizopus oligosporus sehingga zat gizi tersebjut mudah dicerna dan diserap oleh tubuh.

Menurut Anonimous (2021), kandungan nutrisi tepung biji karet yang difermentasi dengan ragi tempe yaitu, Protein Kasar 19,28%, Lemak Kasar 11,38%, Energi Metabolisme 5300,2 Kkal/kg, Serat Kasar 0,91%, Ca 0,01%, Phospor 0,0%.

Berdasarkan latar belakang tersebut, akan dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung biji karet yang difermentasi dengan ragi tempe dalam ransum terhadap performans ayam broiler.

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan dilahan percobaan Fakultas Peternakan Universitas HKBP Nommensen di Desa

Simalingkar A, Kecamatan Medan Tuntungan. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 bulan yaitu bulan Februari sampai maret 2022.

Bahan dan Peralatan Penelitian Bahan Penelitian

Ternak yang digunakan dalam penelitian adalah ayam broiler umur 1 hari Strain CP 707 sebanyak 100 ekor.Bahan ransum yang digunakan terdiri dari jagung, bungkil kedelai, bekatul, bungkil kelapa, premix, tepung biji karet fermentasi.

Selain itu, obat-obatan untuk vaksinasi berupa vaksin ND melalui tetes mata,obat pencegah stress berupa “Vita Chick”, dan air minum diberikan secara ad libitum.

Peralatan Penelitian

Kandang yang digunakan dalam penelitian adalah kandang sistem panggung yang beralaskan seratan kayu yang telah didesinfektan.Kandang tersebut dibagi menjadi 20 petak percobaan. Setiap petak terdiri diisi 5 ekor ayam dengan ukuran 1x1x1 meter dilengkapi dengan tempat pakan, tempat minum dan lampu pijar sebagai penghangat buatan selama penelitian berlangsung. Peralatan lain yang digunakan selama penelitian adalah ember, timbangan ukur 5 kg merek Hitachi dengan ketelitian 1 gram.

Pencampuran Bahan Pakan Penelitian Ransum yang diberikan pada ternak penelitian adalah campuran dari beberapa bahan pakan. Metode penyusunan ransum adalah metode coba-coba menggunakan program Microsoft Excel yang berpedoman pada kebutuhan nutrisi ayam broiler pada tabel 1.

(4)

310 Tabel 1. Kandungan Nutrisi Beberapa

Bahan Pakan

Bahan Pakan

Kandungan Nutrisi EM

(Kkal/kg) PK (%)

LK (%)

SK (%)

Ca (%)

P (%) Biji Karet

Fermentasi** 5302 19,28 111,38*** 0,91 0,01 -

Dedak* 1630 6.5 13 3 0,04 1,4

Jagung* 3430 8,7 3,9 2 0,02 0,3

Bungkil Kedelai*

2.425 38 0,9 6 0,32 0,67

Bungkil Kelapa*

1540 21 1,8 15 0,2 0,6

Tepung Ikan* 2.970 43,01 8 1,64 5,5 2,8

Premix* - - - - 0,06 -

Sumber : 1. Akbarillah et al. (2002) 2. Tilman et al. (2007)

3. Hasil Analisis Lab. Fapet Unja.

Metode Penelitian Rancangan Percobaan

Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan ransum dengan 4 ulangan. Tiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam broiler umur 1 hari (DOC) sampai 35 hari.Perlakuan yang dipakai adalah pemberian tepung biji karet fermentasi yang dicampur dalam ransum dan diberikan pada ternak sesuai kebutuhan.

Level pemberian tepung biji karet fermentasi sebagai berikut :

 P0 = Perlakuan tanpa tepung biji karet fermentasi.

 P1 = Ransum mengandung 5% tepung biji karet fermentasi

 P2 = Ransum mengandung 10%tepung biji karet fermentasi

 P3 = Ransum mengandung 15% tepung biji karet fermentasi

 P4 = Ransum mengandung 20% tepung biji karet fermentasi

Untuk lebih jelasnya susunan ransum dari masing-masing bahan penyusun

ransum perlakuan disajikan pada tabel 3 dan 4.

Tabel 3. Susunan Ransum Penelitian

Bahan Pakan Susunan Ransum Penelitian

P0 P1 P2 P3 P4

Tepung biji karet fermentasi

0 5 10 15 20

Jagung

66,5 57,5 47,5 40,2

5 32

Dedak 0,5 3 8,75 9 13,5

Bungkil Kedelai

16,7 5

15,2 5

14,2

5 12 12,5

Bungkil

Kelapa 1 4,75 6 10 10

Tepung Ikan

15 13,5 12,5 11,7

5 10

Premix 0,25 1 1 2 2

Jumlah (%) 100 100 100 100 100 EnergiMetab

olisme (Kkal/kg)

3012 ,05

3014 ,38

3037 ,17

3057 ,83

3108 ,53 Protein

Kasar (%)

21,1 9

21,0 8

21,1 5

21,1 4

21,1 8 Serat Kasar

(%) 4,19 4,62 5,1 5,37 5,59

Lemak Kasar

(%) 5,07 5,51 5,92 6,33 6,73 Ca (%) 1,18 1 0,92 0,87 0,74 P (%) 0.88 0,82 0,79 0,75 0,69

Tabel 4. Susunan Ransum Penelitian (Finisher 22-35 hari)

Bahan Pakan

Susunan Ransum Penelitian

P0 P1 P2 P3 P4

Tepung biji karet ferment asi

0 5 10 15 20

Jagung 69,25 61,25 54 50 39 Dedak

2 4 5,5 6 10,

25 Bungkil

Kedelai 12,5 11 11,25 10 9

(5)

311 Bungkil

Kelapa 3 7,25 7 7 12

Tepung

Ikan 13 11,25 10,25 10 7,7 5

Premix 0,25 0,25 2 2 2

Jumlah

(%) 100 100 100 100 100

Energi Metaboli sme (Kkal/kg)

3002, 44

3027, 87

3061, 99

316 9,9

315 2

Protein

Kasar (%) 19,14 19.11 19.14 19,1 3

19, 24 Serat

Kasar (%) 4,51 4,99 4,87 4,76 5,5 1 Lemak

Kasar (%) 5,1 5,63 5,89 6,18 6,7 8 Ca (%) 1,22 0,86 0,78 0,76 0.6 P (%) 0,81 0,74 0,69 0,67 0,6

Analisis Data

Menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan model matematika yang dikemukakan oleh Sastrosupadi (2013) yaitu :

Yij = µ + Ti + €ij

i = 1,2,3,4,5 (Perlakuan) j = 1,2,3,4 (Ulangan)

Bila terdapat perbedaan yang nyata pada ANOVA maka dilakukan uji lanjut.

Prosedur Pelaksanaan Penelitian Persiapan Ternak Ayam Broiler

Sebelum perlakuan dimulai, terlebih dahulu dilakukan masa penyusuaian terhadap pakan selama 1 minggu.

Setelah umur 7 hari perlakuan dimulai dengan dilakukan penimbangan dengan masing-masing ternak ayam diberikan nomor setelah dimasukan secara acak ke dalam tiap flock. Pakan yang digunakan untuk penelitian adalah ransum yang disusun dengan

penambahan tepung biji karet fermentasi. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari sehari yaitu pagi dan sore, sedangkan pemberian air minum dilakukan secara ad–libitum.

Sumber biji karet Fermentasi

Biji karet yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji karet yang diperoleh dari Desa Talunkenas, Kecamatan Delitua, Kabupaten Deliserdang. Untuk mendapatkan tepung biji karet fermentasi, maka biji karet tersebut difermentasi terlebih dahulu dengan menggunakan media inokulum berupa ragi tempe dan kemudian dilakukan proses penepungan.

Proses Fermentasi Biji Karet

(6)

312 Pencampuran Bahan Pakan dengan

Pemberian Biji Karet Fermentasi

Bahan pakan dari jagung, dedak halus, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, premix, dicampur dengan limbah biji karet fermentasi. Kemudian pemberian ransum sesuai kebutuhan level pemberian sebagai berikut : P0 = Kontrol, P1 = 5% tepung biji karet fermentasi, P2 = 10% tepung biji karet fermentasi, P3 = 15% tepung biji karet fermentasi, P4 = 20% tepung biji karet fermentasi.

Parameter yang Diamati

Konsumsi ransum dihitung dengan menimbang jumlah ransumyang diberikan dikurangi dengan jumlah ransum yang tersisa selama penelitian.

Pertambahan bobot badan diukur dengan penimbangan bobot dan akhir dikurangi dengan berat badan awal dibagi dengan lama penelitian.

Konversi ransum dihitung dengan membagi jumlah ransum yang dikonsumsi selama 35 hari penelitian dengan pertambahan berat badan selama pemeliharaan.

Metoda Statistika Rancangan Percobaan

Rancangan Percobaan Rancangan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Tiap ulangan (unit percobaan) menggunakan lima ekor ayam broiler. Lima perlakuan yang dicobakan adalah: ransum basal tanpa penggunaan ampas tahu sebagai kontrol (A); ransum dengan penggunaan 5%

ampas tahu terfermentasi (B); ransum dengan penggunaan 10% ampas tahu terfermentasi (C); dan ransum dengan penggunaan 15% ampas tahu

terfermentasi (D); ransum dengan penggunaan 20 % ampas tahu terfermentasi

Analisis Statistika Data yang diperoleh di analisis dengan sidik ragam dan apabila terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) di antara perlakuan,maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda dari Duncan (Stell dan Torrie, 1984).

Level pemberian ampas tahu fermentasi adalah sebagai berikut :

PO = Ransum basal tanpa penambahan ampas tahu fermentasi (kontrol)

P1 = Ransum + 5 % ampas tahu fermentasi

P2 = Ransum + 10 % ampas tahu fermentasi dalam ransum

P3 = Ransum + 15 % ampas tahu fermentasi dalam ransum

P4 = Ransum + 20 % ampas tahu fermentasi dalam ransum

Analisis Data

Dari data hasil penelitian dianalisis dengan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan metode matematis yang dikemukakan oleh Sastrosapudi (2013) sebagai berikut:

Yij = µ + €ij……….i i= 1,2,3,4,5 (Perlakuan)

j = 1,2,3,4 (Ulangan)

Yij = Nilai pengamatan pada perlakuan ke I dan ulangan ke j

µ = Nilai tengah umum

Ti = Pengaruh pemberian ampas tahu fermentasi ke – 1

€ij = Pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke – 1 dan ulangan ke – j.

Bila terdapat perbedaan yang nyata diantara perlakuan maka dilakukan uji lanjut. Apabila terdapat pengaruh yang

(7)

313 nyata (P<0,05), maka dilanjutkan dengan

uji lanjut.

Variabel yang diamati

Bobot potong adalah bobot ayam yang ditimbang sebelum dipotong setelah ayam dipuasakan selama 8 jam.Bobot potong bisa diketahui dengan cara penimbangan.

Bobot Karkas adalah bagian tubuh unggas setelah dipotong dan dibuang bulu, lemak abdomen, organ dalam, kaki, kepala, leher dan darah, kecuali paru- paru dan ginjal (Rizal, 2006).

Persentase karkas adalah perbandingan antara bobot karkas dengan bobot hidup dikalikan 100% (Siregar, 1994).

ANALISIS DAN HASIL Konsumsi Ransum

Konsumsi ransum adalah jumlah ransum yng diberikan dikurangi dengan jumlah ransum yang sisa pada pemberian pakan saat itu (Fadillah, 2004). Adapun hasil rataan konsumsi ransum pada penelitian ayam broiler yang diberi tepung biji karet fermentasi dapat dilihat pada Tabel.

Dari table dapat dilihat bahwa rataan konsumsi ransum selama penelitian adalah 70,45 gram/ekor/hari dengan kisaran 64,65 – 74,01 gram/ekor/hari . Rata-rata konsumdi tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (10%) adalah 71,54 gram/ekor/hari dan yang paling rendah adalah P4 (20%) adalah 67,48 gram/ekor/hari.

Hasil penelitian konsumsi ransum yang terbaik terdapat pada P2 (10%) yaitu 71,54 gram/ekor/hari yang dimana hasil ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Agustiningsih (2002) ,yang memperoleh hasil konsumsi

ransum yang terbaik pada B1 (10%) yaitu 58,18 gram/ekor/hari dan Hasil penelitian Fenita (2012) yang mendapat hasil terbaik pada R0 yaitu 60,05 gram/ekor/hari. Namun hasil penelitian ini lebih rendah jika dibandingkan standart konsumsi PT Charoen Pokphand yaitu 146,05-160,71 gram/ekor/hari.

Tabel Rataan Konsumsi Ransum Ayam Broiler selama 4 Minggu Penelitian (gram/ekor/hari)

perlakuan ulangan TOTAL RATAAN

1 2 3 4

P0 70,30 72,39 72,35 70,08 285,13 71,28tn P1 70,68 69,45 73,96 70,07 284,17 71,04tn P2 70,46 72,96 70,85 71,89 286,17 71,54tn P3 70,49 74,01 68,82 70,35 283,67 70,91tn P4 69,24 64,65 65,90 70,15 269,95 67,48tn

TOTAL 1409.12 352.28

RATAAN 70.4561

Keterangan: Superskrip pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata nyata (P>0.05)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian tepung biji karet fermentasi tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap konsumsi ransum ayam broiler.

Penggunaan tepung biji karet fermentasi dalam ransum sampai level 20% sebagai bahan pakan menyusun ransum secara factual menyebabkan penurunan terhadap konsumsi ransum. Wahju (2004), menyatakan bahwa tinggi rendahnya konsumsi ransum ayam broiler dapat dipengaruhi oleh kandungan energy dalam ransum yang konsumsi. Penelitian ini menggunakan 19 – 21 % protein dengan kandungan energy metabolisme 3000 – 3100 kkal/kg yang berarti telah dapat memenuhi kebutuhan protein dan energi

(8)

314 metabolisme ayam broiler. Menurut

Anonimous (2008), bahwa kebutuhan protein dan energi metabolisme ayam broiler adalah 19 – 23 % protein kasar dan 2900 – 3200 kkal/kg energi metabolisme.

Dari uraian diatas dapat dilihat bahwa konsumsi ransum ayam broiler yang diberi pakan tepung biji karet fermentasi yang tertinggi berada pada tingkat pemberian P2 (10%) dan konsumsi menurun seiring dengan meningkatnya pemberian tepung biji karet fermentasi sampai pada tingkat 20%. Ayam mengkonsumsi ransum untuk memenuhi kebutuhan energy, apabila kebutuhan energy sudah tercukupi maka ayam akan berhenti mengkonsumsi ransum.

Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat scott et al., (1982) dan Wanju (1997) ayam mengkonsumsi ransum sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan energy.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung biji karet dalam ransum dapat meningkatkan konsumsi ransum sampai pada batas penggunaan 10% jika dibandingkan dengan ransum tanpa penambahan tepung biji karet.

Namun penggunaan tepung biji karet ini masih tidak menutup kemungkinan untuk diberikan karena tidak jauh berbeda dengan P0 (0%). Hal ini dikarenakan sesuai dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung biji karet tidak berbeda nyata antar perlakuan.

Pertambahan Bobot Badan

Pertambahan bobot badan merupakan kenaikan bobot badan yang dicapai oleh seekor ternak selama periode tertentu.

Pertumbuhan ayam biasanya dideteksi dengan adanya pertumbuhan bobot badan per hari, per minggu atau per satuan waktu yang lain (Islam et al., 2008).

Table Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian Ayam Broiler Selama 4 Minggu Penelitian (gram/ekor/hari)

Keterangan : superskrip pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0.05)

Dari table diatas dapat dilihat bahwa rata-rata pertambahan bobot badan ayam broiler yang diberi pakan yang mengandung tepung biji karet fermentasi adalah 37,46 gram/ekor/hari dengan kisaran 33,96 – 40,77 gram/ekor/hari. Rata-rata laju pertambahan bobot badan ayam broiler tertinggi dicapai pada perlakuan P2 (10%) yaitu 39,58 gram/ekor perhari, sedangkan yang paling rendah adalah P4 (20%) yaitu 36,27 gram/ekor/hari.

Hasil penelitian pertambahan bobot badan yang terbaik terdapat pada P2

ULAN GAN

TOT AL

RATA AN

1 2 3 4

P0 38,

32 37,02 38, 85

36, 82

151, 03

37,75

tn

P1 36,

13 36,17 38, 52

37, 72

148, 56

37,14

tn

P2 40,

77 38,21 39, 57

39, 79

158.

35

39,58

tn

P3 37,

50 37,60 36, 12 35

146, 22

36,55

tn

P4 40,

07 33,96 34, 52

36, 53

145, 10

36,27

tn

TOTA L

749, 28 RATA

AN 37,46

(9)

315 (10%) yaitu 38.82 gram/ekor/hari yang

dimana hasil ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Agustiningsih (2002), yang memperoleh hasil pertambahan bobot badan yang terbaik pada B1 (10%) yaitu 33,18 gram/ekor/hari dan hasil Fenita (2012) yang mendapat hasil terbaik pada R1 (0,75%) yaitu 37,54 gram/ekor/hari.

Namun hasil ini masih jauh lenih rendah jka dibandingkan dengan standart PT Charoen Pokphand (2007) yaitu 76,70- 83,10 gram/ekor/hari.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian tepung biji karet fermentasi berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler. Penggunaan tepung biji karet fermentasi dalam ransum sampai level 20% sebagai bahan pakan menyusun ransum secara factual menyebabkan penurunan terhadap pertambahan bobot badan.

Hal ini berhubungan dengan konsumsi ransum yang dimana semakin tinggi pemberian tepung biji karet fermentasi maka,konsumsi ransum semakin menurun. Kondisi ini didukung oleh Parakkasi (1999) yang menyatakan perbedaan tingkat pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh konsumsi ransum.

Rasyaf (1992) menyatakan bahwa salah satu factor yang mempengaruhi pertambahan bobot badan antara lain makanan, temperature, lingkungan, dan pemeliharaan, serta laju digesta. Jika ayam mengkonsumsi ransum dalam jumlah yang banyak namun pertambahan berat badan tidak tinggi maka penyerapan makanan dalam

saluran pencernaan ayam tersebut berlangsung tidak sempurna (Sartika, 2017).

Konversi Ransum

Konversi pakan adalah suatu perbandingan antara konsumsi ransum dengan pertambahan bobot badan dalam satu waktu tertentu. Faktor yang mempengaruhi konversi ransum yaitu genetik, temperatur, ventilasi, sanitasi, kualitas pakan, jenis ransum, penggunaan zat additive, kualitas air, penyakit dan manajemen pemeliharaan (Adil et al., 2010). Adapun hasil rataan konversi ransum ayam broiler selama penelitian dapat dilihat pada table 11 berikut ini.

Table 10. Rataan Konversi Ransum Ayam Broiler Selama 4 Minggu

Penelitian.

perlakuan ulangan total rataan

1 2 3 4

P0 2,08 2,13 2,11 2,17 8,51 2,12tn P1 2,37 2,36 2,27 2,12 9,13 2,28tn P2 2 2,28 2,09 2,10 8,48 2,12tn P3 2,06 2,28 2,27 2,09 8,72 2,18tn P4 1,84 2,25 2,37 2,38 8,86 2,21tn

TOTAL 43,72

RATAAN 2,18

Keterangan : superskrip pada kolom yang sama menunjukkan berbeda tidak nyata (P>0.05)

Dari table diatas dapat dilihat bahwa rata-rata konversi ransum ayam broiler selama penelitian adalah 2,18 dengan kisaran 1,84 – 2,38. Konversi ransum yang paling baik diperoleh pada perlakuan P2 (10%) yaitu 2,12.

(10)

316 Hasil penelitian konversi ransum yang

terbaik terdapat pada P2 (10%) yaitu 2,12 yang dimana hasil ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Agustiningsih (2002), yang memperoleh konversi ransum yang terbaik pada B3 (30%) yaitu 1,71 dan hasil penelitian Fenita (2012) yang memperoleh hasil terbaik pada R1 (0,75%) yaitu 1,41.

Namun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hasil konversi ransum masih jauh di bawah standart PT Charoen Pokphand (2007) yaitu 1,30-1,34.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian tepung biji karet berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap konversi ransum ayam broiler.Angka konversi ransum yang semakin kecil berarti ayam mengkonsumsi ransum dengan efisien dan sebaliknya jika konversi ransum semakin besar maka penggunaan ransum tidak efisien. Lacy dan Vest (2000), menyatakan bahwa ngka konversi ransum digunakan untuk mengukur pertambahan bobot badan (PBB) yang diperoleh selama kurun waktu tertentu. Amrullah (2003) menyatakan bahwa angka konversi ransum yang baik berkisar antara 1,75- 2,00. Hasil penelitian ini lebih tinggi disbanding yang diungkapkan oleh Amrullah (2003) Tinggi rendahnya konversi ransum akan dipengaruhi oleh kandungan serat kasar yang berhubungan dengan kemampuan ternak.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konversi ransum berkaitan erat dengan konsumsi ransum dan pertambahan bobot badan. Nilai efisiensi yang rendah menunjukkan

bahwa bahan pakan kurang efisien untuk diubah menjadi daging.

KESIMPULAN Kesimpulan

Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Pemberian tepung biji karet fermentasi berpengaruh tidak nyata terhadap konsumsi ransum ayam broiler umur 8- 35 hari.

Pemberian tepung biji karet fermentasi berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan bobot badan ransum ayam broiler umur 8-35 hari.

Pemberian tepung biji karet fermentasi berpengaruh tidak nyata terhadap konversi ransum ayam broiler umur 8-35 hari.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disarankan bahwa perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai fermentasi biji karet diatas 20%.

DAFTAR PUSTAKA

Agustiningsih, D. 2002. Pengaruh Penggunaan Bungkil Biji Karet FermentasiDengan Inokulum Tempe Dan Oncom Dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Pedaging. Tesis Diterbitkan. Universitas Diponegoro.

Semarang.

Anggita, S., sjofjan&Djunaidi H. I. 2016.

Pengaruh Beberapa Jenis pakan komersial Terhadap Kinerja Produksi Kuantitatif dan Kualitatif Ayam Pedaging.

Tesis diterbitkan. Universitas Brawijaya.

Malang.

(11)

317 Anggorodi, R. 1985. Ilmu makanan

ternak unggas. Penerbit Universitas Indonesia (UI Press), Jakarta

Anggorodi, R. 1990. Ilmu Makanan Ternak Umum. Gramedia, Jakarta.

Anonimous. 2008. Standar Nasional Indonesia (SNI) Pakan Ayam Pedaging (Broiler). Direktorat Pakan Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian. Jakarta

Anonimous. 2015. Standar Nasional Indonesia (SNI) Pakan Ayam Pedaging (Broiler). Direktorat Pakan Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian. Jakarta

Anonimous. 2021. Laporan analisis Biji Karet Fermentasi Menggunakan Ragi Tempe. PT. Sucofindo (PERSERO).Medan Anwar, Chairil. 2001. Manejemen dan Teknologi Budidaya Karet. Pusat Penelitian Karet. Medan.

Ardana, I. B. K. 2009. Ternak Broiler;

Manajemen Produksi dan Penyekit.

Cetakan ke-1. Swasta Nulus. Denpasar.

Ardianto, E., Achmanu. dan Sjofjan.

2012. Pengaruh Penambahan Probiotik dalam Air Minum Terhadap Penampilan Produksi Ayam Pedaging. Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya.

Malang.

Cahyono, B. (2012). Cara sukses berkebun karet (1st ed.). Jakarta:

Pustaka Mina

Damanik.(2010). Budidaya dan pasca panen karet. Pusat Penelitian dan

Pengembangan Perkebunan. Bogor:

Bogor Press.

Devi, G. M., P., Utama, I. H., & Ardana, I.

B. K. (2012).Kadar kreatinin serum ayam pedaging betina yang diinjeksi dengan kombinasi tylosin dan gentamisin.

Indonesia Medicus Veterinus, 1(1), 102–

113.

Djulardi, F., & et al. (2014).Aplikasi pengolahan pangan. Yogyakarta:

Deepublish.

Eka, H. D. (2010). Potential use of Malaysian rubber (Hevea brasiliensis) seed as food, feed and biofuel.

International Food Research Journal, 17(3), 527–534

.

Effrendi, 2012.Nilai Nutrisi Biji Karet (Hevea brasiliensis) Sebagai Pakan Ternak.

Fadillah, R., A. Polana., S. Alam., & E.

Purwanto.2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia Pustaka, Jakarta

Fenita, Y. 2012. Pengaruh Pemberian Tepung Buah Mengkudu (Morinda citrifolis L) Dalam Ransum Terhadap Performans Ayam Broiler. Universitas Bengkulu. Bengkulu

Haslina dan E. Pratiwi. 1996. Manfaat tempe bagi gizi dan Kesehatan Manusia.

Sainteks. 3. (4) : 45-51

Hakim, A., & Mukhtadi, E.

(2017).Pembuatan minyak biji karet dari biji karet dengan menggunakan metode screw pressing: analisis produk penghitungan rendemen, penentuan kadar air minyak, analisa densitas,

(12)

318 analisa viskositas, analisa angka asam

dan analisa angka penyabunan. Metana, 13(1), 13–22.

Hidayat, Nur, Masdiana dan Sri Suhartini.

2006. Mikrobiologi Industri. Yogyakarta:

Penerbit Andi.

Indrawati, R., & Ratnawati, G. J.

(2017).Aplikasi Bahan Tambahan Pangan ( Btp ) Alami Dalam Proses Pembuatan Produk Olahan Daging Di Tingkat Keluarga. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa. Jurnal Laboratorium Khatulistiwa, 1(1), 58– 66

Kartasudjana, R. 2002. Manajemen Ternak Unggas.Fakultas Peternakan .Universitas Padjajaran, Bandung.

Kartasudjana R. dan E. Suprijatna. 2006.

Manajemen Ternak Unggas. PT Penebar Swadaya. Jakarta.

Laci, M and L. R. Vest . 2000. Improving Feed Conversion In Broiler, A guide for growers,http://www.Ces.Uga.Edu/pubcd /c:793-w.html. Di akses [25 januari 2021]

Mulyati. 2003. Pengaruh Penggunaan Bungkul Biji Karet Yang Difermentasi Dengan Ragi Tempe Dan Oncom Dalam Ransum Terhadap Kualitas Daging ayam Broiler. Tesis Diterbitkan. Universitas Diponegoro. Semarang.

Murtidjo, B. A. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius, Yogyakarta

Ningsih, S. W., Restusari, L., & Vitari, A.

A. (2015).( Hevea brasiliensis ) Sebagai bahan pangan alternatif. Jurnal Kesehatan, 6(1), 96–101.

North, M. O. 1984. Commercial Chicken Production Manual.3rd Ed. The Avi Publishing Company, Inc. Wesport, Connecticut.

North and Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual, New York.

Oyewusi, P.A., Akintayo, E.T. dan Olaofe, O., 2007. The proximate and amino acid composition of defatted rubber seed meal. J. Food. Agric Environ. 5 (3&4), 115-118.

Parakkasi.(1990). Teknologi Pangan Teori Praktis dan Aplikasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Poedjiadi, Anna dan Titin Supriyanti.

2006. Dasar-dasar Biokimia. UI Press.

Jakarta.

Pratikno, H. 2010. Pengaruh ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val) terhadap bobot badan ayam broiler (Gallus sp).Tesis. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang

Rasyaf, M. 1991. Pengelolaan Produksi Telur.Edisi ke- 2 Kanisius. Yogyakarta Rasyaf, M. 2004. Memasarkan Hasil Peternakan. Penebar Swadaya. Jakarta

Rose, S. P. 2001. Principles of Poultry Science. CAB International.

Santoso, U, 1987. Limbah Bahan Ransum Unggas rasional.Bhratara karya Angkasa.

Jakarta

Sartika. 2017. Pengaruh Pemberian Probiotik Terhadap Performa Ayam Broiler. Universitas Islam Negri Alauddin.Makassar.

(13)

319 Siregar, A.P. dan M. Sabrani. 1980.

Teknik Modern Beternak ayam.

PT.Yasaguna.Jakarta

Siregar, A. P., M. Sabrani dan S.

Pramu.1981.Teknik Beternak Ayam Modern. Jakarta: CV Yasaguna

Sinurat, A.P. 1991. Penyusunan ransum ayam buras. Wartazoa 2(1−2): 1−4 Supardi dan Sukamto. 1999.

Mikrobiologi, Pengolahan dan Keamanan Pangan. Jakarta: Alumni.

Suprihatin. 2010. Teknologi Fermentasi.

Surabaya: UNESA Pres.Suprijatna. E.

Umiyati. A dan Ruhyat. K. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Cetakan 1.PT Penebar Swadaya. Jakarta

.

Tilman, A.D., H. Hartadi, S.

Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University press: Yogyakarta

Tobing, V. 2002.Beternak Ayam Broiler Bebas Antibiotika. Penebar Swadaya, Jakarta.

Wahju, J. 1992. Ilmu Nutrisi Unggas.

Cetakan ke-3. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Widodo, D. 1990. Dasar-Dasar Teknologi Fermentasi.PAU Pangan dan Gizi UGM.Yogyakarta.

Wizna, Mirnawati, N. Jamarun, dan Y.Zuryani.2000. Pemanfaatan Produk Fermentasi Biji Karet dengan Rhizopus oligosporus dalam Ransum Ayam Broiler.

Prosiding Seminar Nasioal Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan

Pengembangan Pertanian. Bogor. Hal 296-299.

Yamin, M. 2008. Pemanfaatan Ampas Kelapa Dan Ampas kelapa Fermentasi Dalam Ransum Terhadap Efisiensi Ransum Dan Income Over Feed Cost Ayam Pedaging. Jurnal Agroland 15 (2) : 135 – 139. Juni 2008

Yunilas. 2005. Performans Ayam Broileryang Diberi Berbagai Tingkat Protein Hewani dalam Ransum.Jurnal Agribisnis Peternakan 1(1)

Y. Yatno, Rasmi Murni, N. Nelwida, Evi Novita Yani. 2015. Kandungan Asam Sianida, Bahan Kering Dan Bahan Organik Tepung Biji Karet Hasil Pengukusan.jurnal ilmiah ilmu-ilmu peternakan. Universitas jambi

Zulfanita, Eny R., Utami D. P. 2011.

Pembatasan Ransum Berpengaruh Terhadap Pertambahan Bobot badan Aya Broiler Pada Periode Pertumbuhan. Tesis tidak diterbitkan. Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purworejo.

Gambar

Tabel 4. Susunan Ransum Penelitian  (Finisher 22-35 hari)
Tabel  Rataan  Konsumsi  Ransum  Ayam  Broiler  selama  4  Minggu  Penelitian  (gram/ekor/hari)
Table  Rataan  Pertambahan  Bobot  Badan  Harian  Ayam  Broiler  Selama  4  Minggu Penelitian (gram/ekor/hari)

Referensi

Dokumen terkait

Untuk survei pendahuluan kelelahan dilakukan dengan menggunakan Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) disebabkan banyak pekerja yang memiliki keluhan

[r]

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Ahli Madya pada Program Studi Diploma

Anak dari keluarga miskin yang bekerja dilihat sebagai sesuatu yang wajar, dan kebanyakan orang tua tidak melihat apa yang salah dari mengizinkan anak mereka

Konsentrasi pupuk organik cair tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun, kecuali pada parameter hasil yaitu panjang buah, diameter buah,

Di satu pihak, para filosof tersebut telah secara rasional diyakinkan bahwa ide-ide filsafat Yunani cukup masuk akal; di pihak lain, sebagai muslim, mereka harus menemukan

Pasal 29 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir

Dari hasil analisis yang dilakukan pada persamaan ketersediaan domestik biji kakao Indonesia, variabel volume ekspor, produksi, pajak ekspor, impor, harga ekspor,