• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 185/PERPUS/UG/2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE SURAT KETERANGAN. Nomor: 185/PERPUS/UG/2020"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Perpustakaan Universitas Gunadarma BARCODE

BUKTI UNGGAH DOKUMEN PENELITIAN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GUNADARMA

Nomor Pengunggahan

SURAT KETERANGAN

Nomor: 185/PERPUS/UG/2020

Surat ini menerangkan bahwa:

Nama Penulis : Wawan Wurjantoro

Nomor Penulis : 980307

Email Penulis : [email protected]

Alamat Penulis : Perumahan Budi Indah, Jl Kerinci 44, Pesona 50

Telah menyerahkan hasil penelitian/ penulisan untuk disimpan dan dimanfaatkan di Perpustakaan Universitas Gunadarma, dengan rincian sebagai berikut :

Nomor Induk : TT//PENELITIAN/185/2020

Judul Penelitian : Pewatas Frasa Nominal pada Halaman Judul Nama Makanan Tanggal Penyerahan : 27 / 07 / 2020

Demikian surat ini dibuat untuk dipergunakan seperlunya dilingkungan Universitas Gunadarma dan Kopertis Wilayah III.

Dicetak pada: 20/08/2020 08:08:34 AM, IP:182.2.170.114 Halaman 1/1

(2)

Pewatas Frasa Nominal pada Halaman Judul Nama Makanan Wawan Wurjantoro

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan melihat seberapa penting pewatas pada frasa nominal dan pengaruh apa yang didapatkan bila ada salah satu unsur pewatas dihilangkan.

Selain itu, makna semantis apa yang di dapat bila ada perubahan susunan kata pada pewatas frasa-frasa itu. Hasil yang ditemukan adalah frasa nominal bahasa Indonesia memiliki induk frasa berkategori nomina dan mendapat perluasan kekanan sebagai pewatas. Urutan kata pada pewatas, ada yang dapat dipertukarkan dan ada yang tidak dapat dipertukarkan. Pertukaran pewatas mempengaruhi makna frasa. Selain itu, pelesapan salah satu unsur pewatas juga dimungkinkan dan mempengaruhi makna frasa nominal itu. Unsur pewatas ada yang berkategori nomina dan ada juga yang adjektiva

Kata kunci: Frasa nominal, pewatas, induk

1. Pendahuluan

Setiap bahasa mempunyai pola atau strukturnya masing-masing. Pola atau struktur bahasa bahasa itu mempunyai bentuk yang sangat khas, sehingga ada beberapa perbedan antara bahasa satu dengan bahasa lainnya. Perbedaan pola atau struktur berada pada tataran frasa, klausa atau kalimat. Dalam bahasa Indonesia, pola frasa nominal umumnya adalah DM, misalnya gadis cantik. Kata gadis sebagai induk frasa dan cantik sebagai pewatas. Sementara pola frasa nominal bahasa Inggris adalah MD, sebagai contoh a beautiful girl. Pola urut suatu frasa yang berbeda biasanya membedakan makna. Akan tetapi, pola urut klausa yang berbeda tidak selalu mengubah makna gramatikalnya. Perhatikan contoh berikut ini:

1.a Ani membeli beberapa buku tulis kemarin b. Beberapa buku tulis dibeli oleh Ani kemarin.

2. a Ayah menggali sumur batu itu dengan susah payah.

b. Batu sumur itu satu persatu diangkat oleh ayah.

Kalimat 1a. dan 1.b, secara semantis, tidak mempunyai perbedaan makna meskipun secara sintaktis, kalimat (1.a ) dan (1.b) berbeda. Kalimat Ani membeli beberapa buku tulis kemarin merupakan kalimat aktif. Subjek kalimat itu adalah ani. Verba membeli merupakan verba transitif yang memerlukan objek buku tulis.

(3)

Pola kalimat (1.b) adalah pola kalimat pasif. Subjek kalimat itu adalah beberapa buku , yang merupakan objek pada kalimat aktif (1a).

Sementara frasa nominal sumur batu dan batu sumur pada kalimat (2.a) dan (2.b) berbeda. Frasa nominal sumur batu mempunyai makna sumur yang terbuat dari batu. Kata sumur merupakan induk atau inti frasa dan kata batu merupakan pewatas frasa nominal . Sementara frasa nominal batu sumur dalam kalimat (2.b), induk atau inti frasa itu adalah batu dan sumur merupakan pewatas atau modifier.

Secara semantis, makna frasa nominal batu sumur adalah batu yang berasal dari sumur.

Frasa nomina bukan hanya gabungan dua unsur kata saja tetapi dapat

merupakan gabungan lebih dari dua unsur kata. Frasa nominal yang terdiri dari dua kata lebih mudah dikenali unsur pembentuknya, yaitu unsur induk frasa dan

pewatas seperti contoh frasa (2a) dan (2b) di atas. Akan tetapi, frasa yang terdiri lebih dari dua kata dapat menimbulkan permasalahan. Salah satu persoalan yang muncul adalah ketaksaan, seperti yang dicontohkan pada kalimat berikut ini.

3.a Istri pedagang mangga muda itu selalu berjalan mondar mandir di depan rumah saya.

Dalam kalimat (3a) Istri pedagang mangga muda itu selalu berjalan mondar mandir di depan rumah saya di atas mengandung unsur frasa nominal Istri

pedagang mangga muda itu. Induk frasa nominal itu adalah istri dengan pewatas pedagang mangga muda itu. Makna ganda atau taksa terjadi karena pewatas frasa itu. Apabila kita kelompokan kata kata yang berfungsi sebagai pewatas itu ke dalam kelompok yang berbeda, ketaksaan frasa itu akan terlihat seperti yang dicontohkan di bawah ini.

3.b. Istri [ pedagang [mangga muda]]]..

c. Istri [[pedagang mangga] muda]…

Makna frasa (3b) adalah istri seorang pedagang yang mangganya masih muda. Sementara, makna frasa (3.c) adalah istri seorang pedagang mangga yang usianya masih muda. Apabila pewatas pedagang pada frasa nominal istri pedagang mangga muda dihilangkan, struktur frasa istri mangga muda tidak berterima. Selain struktur frasa tidak berterima, makna frasa istri mangga muda juga tidak berterima.

Jadi pewatas pedagang pada frasa itu tidak dapat dilesapkan. Kesimpulan yang diperoleh dari penjelasan dan contoh itu menunjukan pewatas pedanggang wajib

(4)

hadir. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bila unsur pewatas lainnya yang dilesapkan, misalnya kata mangga. Konstruksi frasa Istri pedagang muda ternyata masih tetap berterima secara semantis dan sintaktis meskipun akan mengubah makna frasa itu. Pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana bila pewatas muda hadir dibelakang induk frasa istri, sehingga membentuk frasa nominal istri muda pedagang mangga. Tentu makna frasa itu tidak taksa tetapi berbeda dengan frasa nominal 3b dan c.

Berdasar contoh dan penjelasan itu, peneliti tertarik untuk meneliti seberapa penting kehadiran pewatas pada sebuah frasa, khususnya pewatas frasa nominal.

Selain itu, apakah mungkin melesapkan salah satu unsur pemarkah atau mempertukarkan urutan katanya .

2. Kerangka Acauan Pola Urut Frasa Nominal

Frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih. Gabungan kata itu

membentuk pola dan struktur tertentu. Berikut merupakan pola frasa nominal dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

2.1, Pola urut Frasa nominal bahasa Inggris

Frasa nominal merupakan frasa yang intinya(headnya) berkelas kata nomina dan konstituen lainnya berupa dependent (Huddlesten, 1989 : 232). Dependent dapat mendahului atau mengikuti inti frasa. Konsituen yang mendahului inti frasa disebut pre –head dan yang mengikuti disebut post-head. Pre-head dependent terdiri atas determiners dan modifier. Frasa nominal The intelligent women terdiri atas determiner , modifier dan head . Sementara post-head dependent merupakan pola frasa nominal yang terbentuk apabila inti frasa berada diantara determiner dan complement; determiner dan modifier; dan inti berada didepan peripheral-

dependent. Perhatikanlah contoh berikut ini:

3. The destruction of Carthage 4. A girl with red hair

5. Max, Who knew Greek

Pada contoh 3. Frasa nominal terdiri dari determiner, head, dan complement.

Inti frasa nominal itu adalah destruction. Inti destruction berada diantara determiner

‘the’ dan complement ‘of Carthage’. Pada contoh 4, inti frasa adalah girl, yang diapit oleh determiner ‘a’ dan modifier ‘ with red hair’. Sementara contoh 5 menunjukan induk frasa ada di depan peripheral-dependent. Induk frasa nominal 5 adalah max. Oleh karena frasa nominal terdiri dari Inti frasa dan konsitituen pewatasnya (determiner, modifier, complement dan peripheral), Makna sebuah frasa

(5)

ditentukan oleh intinya. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Tallerman (1998) yang mengatakan

The head is most important word in the phrase, first because it bears the crucial semantic information: it determines the meaning of the entire phrase. So the phrase very bright sunflowers is ‘about’ sunflowers, over-flowed quite quickly is about something overflowing, and so on.

Induk frasa sangat penting dalam menentukan jenis frasa, misalnya apakah sebuah frasa itu merupakan frasa nominal,adjektiva, verba, adverbia atau frasa prepositional.

Oleh karena itu, kehadiran induk sebuah frasa wajib ada dan tidak bisa dihilangkan.

Sementara kehadiran modifier tidak wajib dan bisa dihilangkan. Pada frasa nominal very bright sunflowers, induk frasa adalah sunflowers dan very bright adalah modifier. Apabila dilihat secara terpisah (very bright tidak bergabung dengan nomina sunflowers) , frasa very bright merupakan frasa adjectiva. Adjektiva bright sebagai induk frasa dan very sebagai modifier. Kesimpulan yang diperoleh adalah bright dan sunflowers merupakan induk sebuah frasa dan tidak dapat dihilangkan.

Dalam bahasa Inggris bentuk frasa bright sunflowers; very bright ; dan very bright sunflowers berterima secara gramatika. Sementara frasa *very sunflowers dalam bahasa Inggris tidak berterima secara gramatikal. (Tallerman: 1998). Pentingnya peran induk sebuah frasa juga dikemukakan oleh Lynn M. Berk. Berk (1999) memberi pembuktian bahwa induk frasa tidak bisa dihilangkan dan hanya modifier yang bisa dilesapkan seperti yang diperlihatkan pada contoh frasa nominal kalimat berikut ini.

6. All the beautiful trees are destroyed 7. *All the beautiful are destroyed 8. All tress are destroyed

Induk frasa nominal kalimat (6) All the beautiful trees are destroyed

adalah trees. Apabila induk dihilangkan seperti pada contoh (7), secara grammatikal bahasa Inggris tidak berterima. Sementara penghilangan determiner yang diperlihatkan pada contoh 8, menunjukan gramatika bahasa Inggris berterima.

2.2, Pola urut Frasa nominal bahasa Indonesia

Rusyana dan Samsuri sebagaimana dikutip oleh Kridalaksana (1985: 119) mengelompokan frasa nominal ke dalam frasa endosentris. Frasa endosentris merupakan frasa berinduk satu. Frasa endosentris ini adalah frasa modikatif yang terjadi dari nomina sebagai induk dan unsur lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan induknya. Unsur lain yang mempunyai hubungan subordinatif dengan induk frasa itu ialah adjektiva, verba, numeralia, demonstrative, pronominal,

(6)

artikula, frasa preposisi, frase dengan yang , konstruksi yang…nya, atau frasa lain.

Pada tataran klausa, kalimat atau konstruksi predikatif biasanya bertugas sebagai subjek, objek, atau komplemen (Kridalaksana dkk, 1985:120) Berikut ini adalah pola frasa nominal bahasa Indonesia yang dikemukakan oleh Kridalaksana

1. FN → N+ {N1…Nn}

Contoh : anak perempuan

Meja kayu

2. FN→ N1 (+..Nn) + dari, dengan, demi, untuk, tentang + N2 Contoh : lemari kayu dari Jepara

Patung Buda dari Emas

3. FN → N1+ se-N2 Contoh : kawan separtai Teman seperjuangan

4. FN → N + yang + V/FV + Dem Contoh: orang yang saya lihat itu

5. FN → N + yang + V/FV+ -nya + Dem Contoh: Harta yang dimilikinya

Kaum sini yang kena pengaruhnya 6. FN → N1 + yang + N2+-nya + Dem

Contoh: Pegawai yang rumahnya di luar kota itu 7. FN → N + A

Contoh : rumah mungil Wajah cantik

8. FN → N+ A1+A2

Contoh : gadis cantik jelita Anak muda belia

9. FN → N+A1+yang+A2

Contoh: anak kecil yang mungil Warna kuning yang serasi

10. FN → N+yang+A1+A2

Contoh : anak yang kecil mungil Gadis yang cantik jelita 11. FN → N+meN+ dasar

Contoh: Hak memilih

(7)

Hak membangun

12. FN → N+ber+dasar Contoh: Lemari berukir

Baju bergaris

13. FN → N+yang+V/FA/A/FA + yang…

Contoh : penerbit yang banyak mengeluarkan buku-buku yang dipergunakan di sekolah

14. FN →{Num/FNum}+ N Contoh : banyak orang

Dua atau tiga orang

15. FN → Num+{Peng/N takaran}+ N N+ Num+{Peng/Ntakaran}

Contoh : dua pucuk senjata Lima ekor gajah

16. FN → N + ber + {N/Num/Ntakaran (red)/}

Contoh: kejadian beratus-ratus tahun lalu Beras berkarung-karung banyaknya

17. FN → N+Pr

Contoh : Mahasiswa mereka buku kami

18. FN → N+Dem Contoh: masalah ini Pemilihan itu

19. FN → Adv+Adv+Num+N

Contoh: bukan hanya beberapa mahasiswa 20. FN → Art+{N/A/ter-V}

Contoh: si miskin Kaum buruh

21. FN → Art + ter- +N deverbal

Contoh : si terdakwa si tertuduh 22. FN → (A1+A2)Nominal

Contoh : cerdik pandai 23. FN apositif → N (N1+N2)

(8)

Contoh : Ita, anak kakak Rusdi, mahasiswa UI

24. FN apositif →N1 yang N2

Contoh : Christine Hakim yang bintang film 25. FN apositif →N1 yang bukan N2

Contoh : Nobon yang bukan pemain bola

Dari pola frasa nominal itu terlihat konstruksi nomina sebagai induk atau head sebuah frasa umumnya mendahului atau berada di depan pewatasnya.

Sementara Alwi, et al (2003:244-248) mengemukakan hal yang sama mengenai frasa nominal. Nomina berfungsi sebagai inti atau poros frasa. Nomina sebagai bagian utama memiliki pewatas yang dapat berada di muka dan di belakangnya. Apabila pewatas berada di depan nomina, pewatas ini biasanya terdiri dari numeralia dan penggolong seperti contoh dua buah buku. Pada frasa nominal dua buah buku, buku merupakan inti frasa dan dua buah merupakan numeralia dan penggolong. Sementara pewatas nomina yang berada di belakang inti frasa dapat berupa nomina, adjektiva, verba dan kelas kata lainnya. Adapun inti yang diperluas ke kanan mempunyai bentuk dan mengikuti kaidah sebagai berikut.

1. suatu inti dapat diikuti oleh satu nomina lain atau lebih. Rangkain dapat ditutup dengan salah satu pronominal dan oleh itu atau ini, misalnya buku sejarah kebudayaan Indonesia saya ini. Induk frasa ini adalah buku dengan perluasan nomina sejarah kebudayaan Indonesia dan pronomina saya itu.

2. Suatu inti dapat diikuti adjektiva, pronominal, atau frasa pemilikan, misalnya:

a. baju b. baju merah c. baju merah saya d. baju merah kakak saya

Apabila terjadi pembalikan urutan pemarkah, secara sintaktis pola frasa nominal menjadi klausa. Perhatikan pada contoh ( c)

a. Baju merah saya (FN) → Baju saya merah (klausa) b. Baju merah kakak saya → Baju kakak saya merah 3. Suatu inti dapat diperluas dengan aposisi, misalnya

Indonesia, Negara kami yang sangat makmur Pancasila, pandangan hidup bangsa Indonesia

4. Inti frasa diperluas dengan pewatas belakang dan didahului dengan yang.

Perhatikan contoh berikut

(9)

Penduduk yang bermukim di daerah pedalaman Pemimpin yang hanya memikirkan dirinya sendiri

5. Inti frasa yang diperluas dengan frasa preposisi. Frasa preposisional ini merupakan pewatas nomina dan bagian dari nomina, contoh:

Petani di Sumatra Perjalanan ke Bali

Menurut saya, pola frasa nominal dengan pemarkah frasa preposisional petani di Sumatra, memungkinkan terjadinya pelesapan preposisi di tanpa mengubah makna menjadi Petani Sumatra. Makna Frasa Nominal petani Sumatra adalah petani yang berada di Sumatra atau petani yang berasal dari Sumatra. Akan tetapi, preposisi ke dalam Perjalanan ke bali tidak memngkinkan terjadi pelesepan. Apabila dilesapkan, makna dan pola frasa itu tidak berterima secara gramatika dalam bahasa Indonesia.

3. Makna Frasa Nominal

Makna frasa nominal dapat dilihat berdasarkan pola atau konstruksi frasa itu.

Pola urut frasa yang berbeda tentu akan membedakan makna sebuah frasa seperti yang ditunjukan pada contoh 2.a dan 2.b (lihat pendahuluan). Akan tetapi pada konstruksi atau pola urut yang sama, frasa nominal memungkinkan mempunyai makna taksa atau ganda. Perhatikan contoh berikut ini

9. He is an Indonesian History teacher

Frasa an Indonesian History teacher dalam kalimat 9 merupakan frasa nominal dengan induk frasa teacher. Frasa nominal an Indonesian History Teacher mempunyai makna ganda. Makna ganda itu dapat ditujukan dengan diagram pohon atau kurung siku dibawah ini.

10. He is [[an Indonesian [History teacher]]

11. He is [[an Indonesian History] teacher]]

Makna frasa an Indonesian History teacher no.10 adalah ‘ history teacher who is an Indonesian ‘orang Indonesia yang menjadi guru sejarah’. Sementara makna frasa nominal an Indonesian History teacher no 11 adalah ‘ teacher of an Indonesian History’ ‘guru sejarah Indonesia. Pada frasa no.10, nomina history lebih dekat atau bergabung dengan nomina teacher terlebih dahulu sebelum bergabung dengan konstituen an Indonesian. Sementara frasa no 11 , nomina an Indonesian bergabung atau lebih dekat dengan nomina History. Dari diagram di atas, kita dapat

(10)

menentukan induk frasa nominal itu. Induk frasa nominal no. 10 dan 11 adalah tetap sama, yaitu teacher.

Berdasarkan aturan pola urut frasa atau konstituen mana dalam sebuah frasa yang lebih dekat ke inti atau head, frasa nominal bisa di ketahui maknanya malalui makna gramatikal ( Feist: 2008)

Sementara ahli bahasa Indonesia lainnya, Kridalaksana (1985:124-126) mengemukakan frasa nominal memiliki delapan belas makna. Makna frasa nominal itu adalah konstruksi SV(O), VS, VO, OV, posesif, lokatif, partitif, asal, alat, maksud, perbandingan, profesi, kuantitatif, kolektif, waktu, pembatas dan superordinat-hiponim. Konstruksi superordinat-hiponim terbagi atas sebelas makna, yaitu nama waktu, geografis, jabatan, gelar, flora-fauna, merk dagang, warna, kelompok masyarakat, judul buku, bidang ilmui, dan isntansi.

4. Metode Penelitian

Soepomo Poedjosoedarmo mengatakan bahwa Penelitian konstektual dilakukan dengan tujuan mengetahui bentuk tuturan atau bentuk bahasa dalam pemakainnya sebagai alat komunikasai. Penulis menggunakan data untuk diamati bentuk strukturnya kemudian mengacu pada teori yang sudah dikemukakan para Ahli untuk melihat pola yang terbentuk dan mengetehaui apakah ada penyimpangan atau bentuk lain dari FN. Kemudian memerikan makna FN itu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan bersifat ekxplanatif. Penelitian ini memberikan penjelasan sesuatu yang terjadi (Mantra, 2004: 41)

5. Batasan Masalah

Pengamatan frasa nominal ini hanya berfokus pada frasa Nominal yang terdiri atas tiga kelompok kata atau lebih yang diambil dari nama nama jenis makanan dan masakan di majalah Femina tahun 2013 dan 2019. Data yang ditampilkan pada pembahasan adalah hanya beberapa contoh data saja tetapi dapat mewakili sejumlah frasa nomina yang dianalisis.

6. Pembahasan

Berikut ini adalah temuan penulis mengenai pola frasa nominal bahasa Indonesia yang diambil dari majalah femina edisi tahun 2019 dan 2013 . Dalam menganalisis, peneliti juga mengamati tampilan visual atau gambar makanan untuk melihat apakah ada kesesuaian antara jenis makanan yang disajikan dengan makna nama makanan itu.

(11)

Data 1 : Kue Gulung Cokelat Ceri.

Frasa nomina data 1. kue gulung cokelat ceri mengandung unsur induk frasa Kue dengan pewatas gulung cokelat ceri . Kategori gulung, dan cokelat, adalah adjectiva bentuk dan warna. Sementara ceri adalah nomina (nama buah).

Klasifikasi adjectiva berdasar bentuk dan warna dikemukakan oleh Alwi et al ( 2017:

199). Selain adjectiva, kata cokelat dapat berkategori nomina dan bermakna 1.

Pohon yang termasuk jenis tanaman daerah panas, tingginya antara 5-6m; 2.bubuk dari cokelat (KBBI).

Apabila kita amati, makna frasa nomina kue gulung cokelat ceri berdasarkan satuan pembentuknya dapat bermakna (1) kue berbentuk lingkaran atau gulungan yang ditaburi bubuk cokelat dan buah ceri, (2) kue berbentuk lingkaran yang berwarna cokelat ditaburi buah ceri. Unsur pewatas gulung, cokelat, dan ceri masing masing memungkinkan untuk dilesapkan membentuk frasa nomina dengan makna yang berbeda beda (kue cokelat ceri, kue gulung ceri, kue gulung,kue ceri dll).

Apabila susunan unsur pewatas saling di pertukarkan, stuktur frasa nomina yang terbentuk adalah kue cokelat gulung ceri, kue ceri cokelat gulung, dan kue cokelat ceri gulung. Semua pola frasa di atas tampak benar. Akan tetapi, apakah pola-pola frasa nomina itu juga berterima secara semantis? Peneliti akan menguji pola urut pewatas dengan mengelompokan satuan unsur kata itu masuk dalam golongan atau kelompok yang mana, sehingga akan terlihat jelas polanya. Analisis yang digunakan diistilahkan dengan analisis konstituen. Analisis konstituen mengeksplisitkan hubungan antar satuan satuan, dan mengelompokan satuan satuan dalam satuan yang lebih besar sehingga jelas konstruksi dan gatra yang ada (Kridalaksana, 2002: 41).

Hubungan antar kata yang masuk dalam konstituen yang sama digambarkan dengan kurung siku seperti contoh berikut ini:

1.a kue [cokelat gulung] ceri]].

b. kue [[ceri [cokelat gulung].

c. kue [cokelat ceri] gulung]].

Contoh 1.a.b, dan c di atas menggambarkan bahwa konstituen kue sebagai induk frasa. Kemudian induk kue mendapat perluasan berupa pewatas berupa gabungan kata yang berbeda urutannya. Kurung siku pada frasa di atas menggabarkan satuan kata yang bergabung membentuk satu konstituen. Berdasar satuan urutan pewatas yang terbentuk, peneliti berpendapat bahwa frasa nominal kue cokelat gulung ceri

(12)

berterima secara sintaktis dan semantis. Makna frasa kue cokelat gulung ceri adalah kue dengan gulungan coklat dan taburan ceri. Selain itu, pola frasa nominal 1b di atas juga berterima secara sintaktis dan semantis. Akan tetapi, pola frasa 1.c tidak berterima.

Data.2 Batang keju kornet

Pada data (2), Nomina batang adalah induk frasa nomina batang keju kornet. Pewatas frasa nomina itu adalah keju dan kornet yang berkategori nomina.Makna batang pada frasa nomina di atas adalah benda yang bentuknya panjang-panjang atau panjang bulat (KBBI). Sementara keju dan kornet bermakna bahan makanan yang dibuat dari air susu melalui proses peragian dan daging sapi kaleng yang diawetkan. Makna frasa nomina di atas adalah mengacu pada sebuah makanan berbentuk batang dari keju dan kornet

Apabila pewatas keju dilesapkan sehingga terbentuk pola frasa nomina batang kornet, frasa ini tidak berterima secara semantis. Nomina batang sebagai induk frasa tidak dapat bersanding dengan nomina kornet karena nomina kornet merupakan nomina yang tidak mempunyai ciri bentuk dan fisik yang khas seperti silinder atau balok yang padat dan keras. Bandingkan dengan kata batang yang dapat berkolokasi dengan hidung dan korek membentuk kata batang hidung dan batang korek.

Data.3. cookies kacang kapulaga

Data 3 adalah frasa nominal yang terdiri dari induk frasa cookies dengan pewatas kacang kapulaga. Nama cookies berasal dari bahasa Inggris dan bermakna kue manis bulat kecil yang tipis. Sementara pewatas frasa itu adalah nomina kacang dan kapulaga. Makna kacang adalah menurut Kamus Besar Bahasa Indoneia (KBBI) adalah tanaman yang di tanam di sawah atau lading, berbuah polong. Sementara Ka pulaga adalah tumbuhan tropis, rimpang dan akarnya mengandung minyak siri.

Secara semantis dan sintaktis frasa cookies kacang kapulaga berterima. Cam pur kode (penggunaan istilah bahasa asing dan local) pada nama kue ini dikarenakan bentuk kue itu kecil, bulat, dan tipis dan rasanya manis. Jadi makna cookies kacang kapulaga bermakna kue manis bulat kecil yang tipis terbuat dari bahan baku kacang dengan campuran kapulaga.

(13)

Secara sintaktis urutan kata kacang dan kapulaga sebagai pewatas dapat dipertukarkan tetapi secara semantis makna itu tidak berterima. Ketidak berterimaan makna pewatas dengan urutan kata kapulaga kacang dalam frasa cookies kapulaga kacang adalah kacang merupakan jenis tanaman yang berbuah polong berbentuk bulat kecil yang dapat dihaluskan untuk menjadi adonan kue. Sementara kapulaga jenis adalah tanaman tropis yang rimpang dan akarnya mengandung minyak siri.

Tanaman ini bukan jenis tanaman yang dapat dikonsumsi langsung tetapi hanya tanaman yang difungsikan sebagai penyedap sehingga bukan menjadi bahan dasar pembuatan kue.

Data4. Ikan asin pedas.

Data 4. adalah frasa nominal yang terdiri dari induk frasa ikan dan pewatas asin dan pedas. Kata asin dan pedas adalah kata yang berkategori adjectiva pemeri sifat.

Adjektiva ini adalah adjektiva yang memerikan kualitas dan intensitas baik fisik maupun mental(Alwi et al :196).

Pewatas asin dan pedas dalam frasa nomina ikan asin pedas dapat saling dipertukarkan dan akan menimbulkan makna yang berbeda. Secara sintaktispun frasa nomina Ikan asin pedas dan ikan pedas asin berterima secara sintaktis. Makna Ikan asin pedas adalah jenis ikan yang yang sudah diproses melalui pengeringan dan penggaraman di bumbui dengan cabai atau merica agar terasa pedas. Sementara makna ikan pedas asin adalah bukan jenis ikan yang diproses melalui pengeringan dan penggaraman tetapi ikan apa saja yang diolah dengan bumbu garam agar asin dan lada atau cabai agar ada sensasi pedas. Secara sintaktis kedua makna frasa itu dapat digambarkan dengan kurung siku di bawah ini untuk melihat satuan konstituen pembentuk makna kedua frasa itu.

4. a. [ikan asin] pedas b. ikan [pedas asin]

7. Kesimpulan

Dari beberapa contoh yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa pola frasa nomina bahasa Indonesia menempatkan inti frasa di depan penjelas atau pewatas (sebelah kiri pewatas). Nomina induk frasa ini umumnya mendapat perluasan berupa pewatas kearah kanan. Urutan kata yang berfungsi sebagai pewatas ada yang dapat

(14)

dipertukarkan dan ada yang tidak dapat dipertukarkan.Selain dipertukarkan, salah satu unsur pewatas dapat dilesapkan. Urutan pewatas yang berbeda dan pelesapan salah satu kata dalam pewatas mempengaruhi makna frasa frasa itu. Selain itu, makna frasa juga dipengaruhi oleh pengelompokan antar satuan pembentuk frasa dalam satu konsituen yang sama.

Sumber Rujukan

Alwi, Hasan. et al..2003.Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka. (edisi ketiga).

Deterding, David H and GloriaR. Poedjosudarmo. 2001.The Grammar of English:

Morphology and Syntax for English Teachers in Southeast Asia. Jurong:

Prentice Hall Pearson Education Asia Pte Ltd.

Feist, Murray James. 2008.The Order of Premodifiers in English Nominal Phrases.

New Zeland: The University of Auckland.(Thesis)

Huddleston, Rodney. 1984/1989. Introduction to The Grammar of English.

Cambridge. Cambridge University Press.

Kridalaksana, dkk. 1985.Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia:

Sintaksis.Jakarta: Pusat Pembinaan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kridalaksana, Harimurti. 2002. Struktur, kategori, dan Fungsi dalam Teori Sintaksis.

Jakarta: Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi kelima). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Mantra, Ida Bagoes. 2004.Filsafat Penelitian dan Metode Penelitian Sosial.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Tallerman, Magie.1998. Understanding Syntax. London: Arnold Publishers.

(15)
(16)

Referensi

Dokumen terkait

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan : SD YPK KPUDORI Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Kristen & Budi Pekerti Kelas /Semester : II

Masalah yang dialami oleh Koperasi Susu Sintari ini tidak berdampak negatif pada semua petani/peternak lainnya, disebabkan karena mereka masih ingin meningkatkan

Privatisasi melalui pasar modal belum tentu dapat memacu pertumbuhan perekonomian.Hal ini terjadi bisa dilihat dari komposisi investor yang membeli saham BUMN di

Hipotesis 2 total asset turn over tidak berpengaruh terhadap return on assets Total asset turn over merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang

Peranan OCHA sangat penting, dibandingkan organisasi lainnya dikarenakan OCHA merupakan aktor utama yang bertanggung jawab atas berjalannya program penanggulangan

Fungsi iklan adalah brosur benar-benar sangatlah penting sebagai alat iklan atau alat promosi, yang menarik dan juga memungkinkan kamu untuk mempromosikan satu atau

Penampang melintang sebuah kapal dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai kaitan antara tipe kapal, sistem kerangka yang digunakan yang sekaligus memberikan

Apabila perkembangan negosiasi perdagangan sektor jasa dalam forum World Trade Organization (WTO) yang masih berlangsung sampai saat ini diamati secara cermat, maka dapat