Hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha pada mahasiswa fakultas ekonomi - USD Repository

Loading.... (view fulltext now)

Teks penuh

(1)

i Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Oleh : Rohna Mori

06 9114 091

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)
(3)
(4)

iv

Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari

ini adalah jahat.

(Efesus 5:6)

Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kehendakNya,

maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

(5)

v

Seandainya layak, karya tulis ini kupersembahkan untuk mereka

yang senantiasa ada di hati yang telah memberikan doa restu,

semangat serta bantuan dalam berbagai bentuk sehingga dengan

ketulusan dan kerendahan hati semua ini kupersembahkan kepada :

Tuhan

Yesus

Kristus

yang

tidak

pernah

berhenti

mencurahkan kasihNya kepadaku.

Bapak dan mamak tercinta, Ramli Tarigan, Amd dan

Paguita Simorangkir, Spd yang selalu mendoakan dan

menyayangiku.

Keluarga Besar H. Tarigan dan M. br. Karo-Karo

Keluarga Besar J. Simorangkir dan S.D br. Lumban

Tobing

Saudara-saudaraku : Raphita Monika, Milva Kassianna,

dan Haya HaraTikka terimaksih atas doa, dukungan dan

(6)
(7)

vii

Rohna Mori

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi. Hipotesis pada penelitian ini adalah terdapat hubungan positif antara efikasi diri dan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi. Penelitian ini melibatkan 112 mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yang yang terdiri dari 55 mahasiswa dari Program Studi Menejemen dan 57 mahasiswa dari Program Studi Akuntansi. Subjek terdiri dari mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan yang berusia antara 18-23 tahun. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan alat ukur berbentuk skala. Skala efikasi diri digunakan untuk mengukur tingkat efikasi diri mahasiswa Fakultas Ekonomi. Koefisien reliabilitas alpha pada masing-masing dimensi, yaitu dimensi besaran sebesar 0.949, dimensi luas bidang sebesar 0.934 dan dimensi kekuatan sebesar 0.942. Sedangkan, skala minat berwirausaha digunakan untuk mengukur minat berwirausaha mahasiswa Fakultas Ekonomi dengan koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,975. Dalam uji daya beda aitem, kriteria pemilihan aitem berdasarkan aitem total dengan batasan rix≥0,30. Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif antara beberapa dimensi

efikasi diri, yaitu besaran (magnitude) (r = 0.365, p = 0.000); luas bidang (generality) (r = 0.371, p = 0.000) dan kekuatan (atrenght) (r = 0.396, p = 0.000) dengan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi. Hasil ini menunjukkan bahwa p < 0,05 = signifikan. Hal ini berarti terdapat hubungan positif antara efikasi diri dan minat berwirausaha. Mean teoritis skala efikasi diri sebesar 150 dan mean empirisnya 169,46. Mean teoritis skala minat berwirausaha sebesar 150 dan mean empirisnya 167,14. Nilai p kedua skala adalah 0,00. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mean empiris pada kedua skala lebih besar daripada mean teoritisnya. Hal ini berarti subjek penelitian memiliki efikasi diri dan minat berwirausaha yang tinggi.

(8)

viii

Rohna Mori

ABSTRACT

The aim of this research was to know the correlation between self-efficacy and entrepreneur interest in students of Economic Faculty. The hypothesis of this research was found that positive correlation between self-efficacy and entrepreneur interest in students of Economic Faculty. This research took 112 students of Economic Faculty of Sanata Dharma University that consists of 55 students of Management Study Program and 57 students of Accounting Study Program. The subjects consist of male students and female students whose age from 18 up to 23 years old. The method of collecting data in this research was use scale instrument. Self-efficacy scale was used to measure the level of self-efficacy of student of Economic Faculty. Alpha reliability coefficient at several dimensions of self efficacy that is, magnitude = 0.949, generality = 0.934, and strenght = 0.942. Meanwhile the entrepreneur interest scale was used to measure the entrepreneur interest of students of Economic Faculty with the alpha reliability coefficient about 0,975. The criteria of choosing the item based on the total in the different item test as the limit rix≥ 0,30. Correlational analysis showed positive correlations between several dimensions of self efficacy that is, magnitude (r = 0.365, p = 0.000); generality (r = 0.371, p = 0.000); and strenght (r = 0.396, p = 0.000) with entrepreneur interest in students of Economic Faculty. This result shows that p < 0,05 = significant. It means that there is a positive correlation between self-efficacy and entrepreneur interest. Self efficacy theoritical scale mean was 150 and the empirical mean was 169,46. Entrepreneur interest mean teoritis scale was 150 and empirical mean was 167,14. Those results shows that empirical mean of both scale higher than theoritical mean. It means that the subjects have high self-efficacy and entrepreneur interest.

(9)

ix

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

NAMA : ROHNA MORI

NIM : 06 9114 091

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan

Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul

"Hubungan Antara Efikasi Diri dan Minat Berwirausaha pada Mahasiswa

Fakultas Ekonomi"

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan

kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan,

mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan

data, mempublikasikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet maupun

media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu minta ijin dari saya atau

memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai

penulis.

Demikan pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan untuk digunakan dengan

semestinya.

Yogyakarta, 26 Juli 2010

Penulis,

(10)

x

Segala puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan kasih karuniaNya yang senantiasa penulis rasakan selama penulis menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan antara Efikasi Diri dan Minat Berwirausaha pada Mahasiawa Fakultas Ekonomi”. Tujuan penulisan skripsi ini adalah salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Psikologi sesuai program studi yang saya tempuh di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam penyusunan skripsi ini penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak dalam hal doa, dukungan dan semangat motivasi, saran, kritik, materi serta pengarahan dan bimbingan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini, terutama kepada :

1. Ibu Dr. Christina Siwi Handayani, S.Psi., M.Si., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

2. Ibu Sylvia Carolina MYM., S.Psi., M.Si., selaku kepala Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

3. Bapak Y. Heri Widodo, M.Psi., selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, koreksi, pengetahuan dan saran dalam penulisan skripsi ini.

(11)

xi

di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

6. Para dosen penguji yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun bagi penulis.

7. Mbak Nanik, Mas Gandung, Mas Doni, Mas Muji, dan Pak Gie yang telah memberikan pelayanan yang baik kepada saya dan rekan-rekan mahasiswa selama ini

8. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta yang telah berkenan mengisi skala try out penelitian ini. Terima kasih atas waktu yang telah diluangkan untuk mengisi skalatry outuntuk penelitian ini.

9. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, terima kasih telah bersedia menjadi subjek penelitian saya. Tiada kata yang tepat yang dapat saya ungkapkan selain “ucapan terima kasih”.

10. Bapak R. Tarigan, Amd dan Ibu P. Simorangkir, Spd selaku orang tua penulis, terima kasih atas segala doa, cinta, dukungan, perhatian dan kasih sayang serta materi yang sudah kalian berikan demi kelancaran pendidikan penulis.

11. Kakak-kakakku tersayang: Kak Pita dan Kak Milva serta adiku siapudan Yaya, terima kasih atas doa, cinta, perhatian, dukungan, semangat serta kasih sayang yang tiada habis-habisnya kalian berikan.

(12)

xii

13. Sahabat-sahabatku di TeBeNk City : Rosa, Icha, Chyntia, Rika dan Beti. Aku akan menyusul kalian jadi sarjana, hehehehe……..

14. Teman-teman yang telah membantu peneliti dalam membagikan kuisioner try out di Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya dan kuisioner penelitian di Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta : Terra, Arnold, Siska, Haya, Johanes, dan Philipus. Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian membantu aku mondar-mandir membagikan kuisioner try out dan penelitian.

15. Teman-teman di Gereja Methodis Indonesia Persiapan Yogyakarta : Kak Yustin, Kak Apri, Kak Gie, Kak Moy, Bang Opiet, Bang Andre, Bang Febri, Bang Hendra, Bang Tumbur, Mas Agus, Yaya, Jho, Nia, Nando, Tasya, Ando, Kiki, Bona, Olan, Arnold, Hendrik, Bobby, David, Mindo, Tera, Eclund, dan Vea. Terima kasih buat doa, dukungan, keceriaan, dan kebersamaan kita selama ini, bersama kalian aku merasa memiliki saudara yang lengkap.

16. Teman-teman mitra Perpustakaan Paingan : Mbak Prima, Mbak Dwi, Mbak Dima, Mbak Putu, Mbak Putri, Yanti, Lingga, Nur, Nori, Titik, Gita, Marcel, dan Riana. Terima kasih atas kebersamaan, semangat dan kerja sama kita selama ini di perpustakaan tercinta.

(13)
(14)

xiv

HALAMAN JUDUL ...i

HALAMAN PERSETUJUAN ...ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

HALAMAN MOTTO ...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ...v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ...vi

ABSTRAK ...vii

ABSTRACT ...viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...ix

KATA PENGANTAR...x

DAFTAR ISI... xiv

DAFTAR TABEL ...xvii

DAFTAR GAMBAR...xviii

DAFTAR LAMPIRAN ...xix

BAB I. PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Permasalahan...11

C. Tujuan Penelitian ...11

D. Manfaat Penelitian ...11

BAB II. LANDASAN TEORI ...13

(15)

xv

3. Pengertian Wirausaha... 15

4. Pengertian Minat Berwirausaha ... 17

5. Dorongan Perilaku Berwirausaha ... 18

6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha ... 20

B. Efikasi Diri...22

1. Pengertian Efikasi Diri ... 22

2. Dimensi Efikasi Diri ... 23

3. Sumber Efikasi Diri... 25

4. Peranan Efikasi Diri ... 26

5. Efikasi Diri Pada Dewasa Awal ... 29

C. Mahasiswa Fakultas Ekonomi ...30

D. Hubungan Efikasi Diri dan Minat Berwirausaha... 31

E. Hipotesis ...37

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN... 38

A. Jenis Penelitian... 38

B. Indentifikasi Variabel Penelitian... 38

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian...38

D. Subjek Penelitian... 39

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data... 39

F. Pertanggungjawaban Mutu... 43

(16)

xvi

G. Metode dan Analisis Data...50

1. Uji Asumsi ... 50

2. Uji Hipotesis ... 51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...52

A. Pelaksanaan Penelitian ...52

B. Data Demografi Subjek Penelitian ...52

C. Uji Asumsi... 54

D. Hasil Penelitian... 55

1. Uji Hipotesis ... 55

2. Deskripsi Data Penelitian... 56

E. Pembahasan... 61

BAB V PENUTUP... 66

A. Kesimpulan ...64

B. Saran ...64

DAFTAR PUSTAKA... 68

(17)

xvii

Tabel 1 Skor Penilaian Skala ... 40

Tabel 2 Tabel Spesifikasi Aitem Skala Efikasi Diri Sebelum Uji Coba ... 42

Tabel 3 Tabel Spesifikasi Aitem-aitem Skala Minat Berwirausaha Sebelum Uji Coba ... 43

Tabel 4 Tabel Spesifikasi Skala Efikasi Diri Sesudah Uji coba ... 47

Tabel 5 Tabel Spesifikasi Skala Efikasi Diri untuk Penelitian ... 47

Tabel 6 Tabel Spesifikasi Skala Minat Berwirausaha Setelah Uji Coba ... 48

Tabel 7 Tabel Spesifikasi Skala Minat Berwirausaha untuk Penelitian... 49

Tabel 8 Data Jenis Kelamin Subjek Penelitian ... 53

Tabel 9 Data Program Studi Subjek Penelitian... 53

Tabel 10 Data Usia Subjek Penelitian... 54

Tabel 11 Deskripsi Statistik Data Penelitian... 56

Tabel 12 Norma Kategorisasi Skor ... 58

Tabel 13 Kategori Skor Dimensi Efikasi Diri Besaran (Magnitude) ... 59

Tabel 14 Kategori Skor Dimensi Efikasi Diri Luas Bidang (Generality)... 59

Tabel 15 Kategori Skor Dimensi Efikasi Diri Kekuatan (Strenght) ... 60

(18)

xviii

Gambar 1 Skema hubungan efikasi diri dan minat berwirausaha

(19)

xix

LAMPIRAN I Estimasi Reliabilitas dan Uji Daya Beda Aitem Skala Efikasi Diri dan Skala Minat Berwirausaha ... 73 LAMPIRAN II Uji Normalitas, Uji Linearitas, dan Uji Korelasi ... 95 LAMPIRAN III Skala Efikasi Diri dan Skala Minat Berwirausaha

(20)

1 A. Latar Belakang

Mahasiswa merupakan bagian dari golongan intelektual karena lahir dari tempat-tempat yang menjadi sumber pengetahuan dan te knologi (Perguruan Tinggi). Kemampuan belajar dan akses sumber ilmu pengetahuan yang luas menjadikan Perguruan Tinggi sebagai tempat menempa diri dan meningkatkanskill. Peluang untuk menguasai bidang ilmu terbuka lebar sebab selama di bangku perkuliahan mahasiswa mempunyai waktu yang cukup untuk belajar berbagai ilmu yang diperlukan.

Sebagai individu yang memiliki intelektual tinggi, mahasiswa merupakan calon pembaharu dan cendekiawan yang nantinya diharapkan akan menjadi penyangga keberlangsungan hidup masyarakatnya. Setelah lulus mahasiswa dituntut untuk terus meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat dengan mengaplikasikan ilmunya agar menghasilkan produk-produk yang bermanfaat bagi orang banyak (Takwin, 2008). Berbekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, mahasiswa diharapkan menjadi individu yang produktif, tidak hanya mampu berkarya dalam suatu intansi melainkan juga harus mampu membuka peluang kerja.

(21)

Kerja, 2009). Melihat hal ini, mahasiswa seharusnya lebih memfokuskan diri untuk mempersiapkan diri membuka usaha sendiri daripada sibuk mencari lowongan pekerjaan. Apalagi mengingat tiap tahun minimal ada dua gelombang wisuda di tiap Perguruan Tinggi. Sekarang ini, ada kecenderungan satu lapangan pekerjaan diperebutkan oleh banyak pelamar kerja dari berbagai latar belakang pendidikan sehingga masing-masing pelamar harus mampu bersaing satu dengan yang lainnya (Lowongan Kerja, 2009). Hal ini menyebabkan perusahaan semakin selektif menerima karyawan baru sehingga kesempatan untuk diterima pun semakin sedikit. Terbatasnya jumlah lapangan pekerjaan serta semakin meningkatkanya jumlah angkatan kerja menyebabkan persaingan semakin ketat. Dengan demikian, tidak ada jaminan seorang sarjana mudah memperoleh pekerjaan. Hal ini akan berdampak pada peningkatan jumlah pengangguran, khususnya lulusan Perguruan Tinggi.

(22)

Menurut Dekan Fakultas Ekonomi USU, John Tafbu Ritonga, banyaknya pengangguran dari lulusan Perguruan Tinggi itu diakui karena pendidikan di dalam negeri tidak mendorong mahasiswa menjadi wirausaha yang menciptakan pekerjaan untuk dirinya dan orang lain (Fakultas Ekonomi USU, 2008). Pendapat yang tidak jauh berbeda dikemukan oleh Irwati N dan Marhaini (2008) yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang mengakibatkan tingginya angka pengangguran di negara Indonesia adalah terlampau banyak tenaga kerja yang diarahkan ke sektor formal, sehingga ketika pekerjaan di sektor formal tidak tumbuh dan berkembang orang tidak berusaha untuk menciptakan pekerjaan sendiri di sektor swasta.

Menurut Sunarsip (Chief Economist The Indonesia Economic

Intelligence), pada tahun 2010 diasumsikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5

persen dalam RAPBN 2010. Dengan pertumbuhan 5 persen, tidak cukup untuk menyerap seluruh tenaga kerja, sehingga pengangguran dan kemiskinan masih akan tinggi. Oleh karena itu, diperkirakan tahun depan tingkat pengangguran dan kemiskinan masih tinggi yaitu penganguran sebesar 8-12 persen dan kemiskinan 12-14 persen (dalam Kristanti & Ahniar, 2009)

(23)

pengangguran terdidik. Jadi, ketika lapangan kerja tidak lagi mampu menampung jumlah pengangguran, maka salah satu jalan yang ditempuh adalah dengan memulai membuka usaha sendiri. Menjadi pengusaha merupakan alternatif yang tepat, paling tidak dengan berwirausaha berarti menyediakan lapangan kerja bagi diri sendiri sehingga tidak perlu bergantung kepada orang lain. Apabila usahanya semakin maju, mampu membuka lapangan kerja bagi orang lain (Kasmir, 2009).

Bila dikaitkan dengan permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini yaitu adanya krisis ekonomi global, wirausaha cukup berpengaruh terhadap pembangunan nasional. Wirausaha marupakan salah satu pendukung yang menentukan maju mundurnya perekonomian, karena bidang wirausaha mempunyai kebebasan untuk berkarya dan mandiri. Jumlah wirausaha di suatu negara memiliki implikasi langsung terhadap pertumbuhan negara. Bahkan di Indonesia, sektor usaha kecil dan menengah telah terbukti mampu menjadi pilar perekonomian negara, terlebih di tengah kerisis keuangan yang dampaknya masih perlu dibenahi (Wirausaha Mandiri, 2010).

(24)

terhadap kelangsungan pembangunan perekonomian Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari aspek pengembangan peluang kerja, penyerapan tenaga kerja, penyediaan akan barang dan jasa yang memadai dan perolehan retribusi atau pajak bagi pemerintah (Irwati, N & Marhaini, 2008).

Meskipun kontribusi kewirausahaan cukup besar dalam pembangunan nasional tetapi minat wirausaha masyarakat masih rendah (Sunarno, 2009). Demikian halnya dengan minat berwirausaha di kalangan mahasiswa juga dinilai masih rendah. Menurut Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Misbahul Anwar, M.Si, minimnya minat wirausaha dikalangan lulusan baru adalah karena belum munculnya jiwa wirausaha dalam diri para lulusan (Minat Berwirausaha, 2010). Ketertarikan untuk membuka lapangan kerja baru atau yang biasa disebut dengan berwirausaha masih didominasi oleh mereka yang berlatar belakang pendidikan SMA (Rendahnya Minat Wirausaha, 2009).

(25)

saja tertarik untuk berwirausaha. Selebihnya tertarik menjadi karyawan sambil berwirausaha. Hasil wawancara dengan para mahasiswa juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda (Kasmir, 2009).

Fakta lainnya berasal dari mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis yang kurang tertarik menggeluti bidang wirausaha. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Indarti & Rostiani, 2008) ditemukan bahwa mahasiswa Indonesia dengan latar belakang pendidikan ekonomi dan bisnis justru tidak terlalu berminat untuk berwirausaha. Penelitian lainnya dilakukan oleh Basuki, A (1998) menemukan bahwa secara umum para mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya memandang positif terhadap profesi wirausaha. Meskipun demikian, jumlah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya yang berminat menjadi wirausaha masih sedikit dan mata kuliah Menejemen Usaha Kecil belum mampu memotivasi para mahasiswa untuk menjadi wirausahawan.

(26)

lipat yang setara dengan 4,4 juta orang untuk mencapai batas ideal (Pengangguran Intelektual, 2009).

Melihat masih sedikitnya jumlah wirausaha di Indonesia serta rendahnya minat berwirausaha dikalangan mahasiswa mengindikasikan masih rendahnya minat masyarakat untuk berwirausaha, khususnya mahasiswa dengan latar belakang pendidikan ekonomi. Hal ini tidak dapat disalahkan karena tidak semua orang memiliki minat berwirausaha. Utami (2007) mendefinisika minat berwirausaha sebagai kecenderungan atau ketertarikan individu melalui ide-ide yang dimiliki untuk melakukan usaha dengan karakteristik kepribadiannya berani mengambil resiko, siap mental, dapat menerima tantangan, percaya diri, mempunyai kekuatan usaha, kreatif dan inovatif serta mempunyai ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan. Seperti yang diketahui, menjalankan usaha sendiri adalah hal yang tidak mudah (Kasmir, 2009). Meskipun menjadi wirausaha dapat memberikan peluang untuk berkembang yang cukup besar, namun di sisi lain risikonya juga tidak kecil karena banyak masalah yang harus dipecahkan. Menurut Kasmir, sebelum menentukan jenis usaha yang akan dibuat, masalah yang lebih awal adalah apakah seseorang berani untuk memilih jalan menjadi wirausaha

(27)

memperhatikan faktor atau variabel yang sekiranya berpengaruh terhadap minat kewirausahaan. Menurut Haryana K (dalam Ratmiarini, 2005), ada dua faktor yang mempengaruhi minat seseorang untuk terjun ke dunia wirausaha, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri (internal) dan yang berasal dari luar diri (eksternal). Faktor dari dalam meliputi bakat, kepribadian dan kemampuan. Sedangkan faktor dari luar meliputi sarana atau fasilitas, keluarga dan latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan dan latar belakang sosial masyarakat.

Dalam penelitian ini, peneliti mengkhususkan pada variabel kepribadian, salah satunya adalah efikasi diri (keyakinan diri). Variabel ini dipilih karena menurut Furhmann (dalam Widodo dan Rusmawati, 2004) faktor psikis atau kepribadian mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi kerja yang diraih oleh individu, termasuk efikasi diri (keyakinan diri). Efikasi diri menurut Bandura (1986) adalah suatu keyakinan individu bahwa dirinya mampu untuk melaksanakan atau melakukan sesuatu dalam situasi tertentu untuk mencapai suatu hasil tertentu.

(28)

Ketidakyakinan mahasiswa akan kemampuan diri mereka ini terkadang membuat mereka mengambil jalan pintas dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi selama berkuliah.

Membuat tugas dan menghadapi ujian merupakan masalah umum yang dihadapi oleh para mahasiswa. Menurut Putrawan (2003) keadaan seperti inilah yang kadang membuat mahasiswa menjadi frustrasi dan merasa dirinya tertekan. Namun demikian, sering dijumpai adanya mahasiswa yang enggan mengatasi masalahnya ini dengan belajar atau dengan strategi-strategi tertentu agar dia dapat menyelesaikan tugas dengan baik, tetapi justru mencari jalan pintas dengan menghalalkan segala cara, yaitu mencontek. Berdasarkan hasil penelitian Putrawan, mahasiswa yang cenderung mencontek dalam mengerjakan tugas dan menghadapi ujian memiliki efikasi diri yang rendah.

(29)

menunjukkan bahwa efikasi diri mempunyai hubungan yang erat dengan unjuk kerja. Hal ini membuktikan bahwa efikasi diri bisa digunakan sebagai alat ukur yang cukup akurat untuk memprediksi performansi seseorang, termasuk dalam pemilihan karir.

Penelitian yang dilakukan Lent, dkk (1987) yang membuktikan bahwa efikasi diri mahasiswa berhubungan dengan pengambilan keputusan karir (dalam Partino, 1999). Hal ini membuktikan bahwa efikasi diri berpengaruh terhadap pemilihan karir. Individu yang memilih karir tertentu untuk ditekuni berarti ia merasa yakin dengan kemampuannya bahwa ia akan berhasil menjalankan karirnya (Megarani, 2009). Demikian juga dengan mahasiswa yang memilih karir untuk berwirausaha. Mereka merasa yakin bahwa dengan kemampuan yang dimiliki, mereka akan berhasil dalam menjalankan usahanya.

(30)

B. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan uraian sebelumnya, dirumuskan sebuah masalah, yaitu : apakah ada hubungan antara efikasi diri dengan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi berbagai pihak, baik secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat dari penelitian ini adalah

1) Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan menambah keragaman wacana yang bermanfaat dalam bidang psikologi, khususnya mengenai hubungan antara efikasi diri dan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi. 2) Manfaat Praktis

a. Bagi Universitas

(31)

mempersiapkan dan membekali peserta didik dalam rangka membentuk jiwa-jiwa wirausaha bagi segenap mahasiswa.

b. Bagi Mahasiswa

(32)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Minat Berwirausaha 1. Pengertian Minat

Menurut Anoraga, P dan Suyati, S (1995) minat adalah sikap yang membuat orang senang terhadap objek, situasi atau ide-ide tertentu. Definisi tersebut secara lebih rinci dikemukan oleh Winkel dan Hastuti (2006) yang menyatakan bahwa minat adalah suatu kecenderungan yang agak menetap pada seseorang untuk merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan bidang itu. Pendapat yang tidak jauh berbeda dikemukankan Syah, M (2008) yang mengartikan bahwa minat sebagai kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

Sedikit berbeda, VandenBos, G. R. (2007) menyatakan minat sebagai suatu sikap yang ditandai adanya kebutuhan untuk memberi perhatian yang selektif terhadap sesuatu yang penting bagi individu, seperti suatu aktivitas, tujuan, atau bidang penelitian.

Pendapat lainnya menyatakan bahwa minat merupakan kesadaran seseorang bahwa suatu objek, seseorang, suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkutpaut dengan dirinya (Whiterington, 1978)

(33)

Berdasarkan pendapat beberapa tokoh tentang definisi minat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa minat adalah suatu perasaan tertarik terhadap suatu bidang tertentu yang sifatnya agak menetap yang ditujukan dengan memberikan perhatian terhadap suatu objek yang dipersepsi menyenangkan, penting dan mengandung sangkutpaut dengan dirinya.

2. Aspek-Aspek Minat

Menurut Hurlock (1978) komponen atau aspek-aspek minat terbagi dua, yaitu kognitif dan afektif.

a. Aspek Kognitif, didasarkan atas konsep yang dikembangkan individu mengenai bidang yang berkaitan dengan objek minat. Bila individu menganggap bidang minat yang ia senangi sebagai hal yang positif, memberikan keuntungan dan kepuasan baginya, maka ia akan tertarik untuk menekuni bidang minat tersebut. Konsep yang membangun aspek kognitif ini didasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang pernah dipelajari baik di rumah, sekolah dan masyarakat serta dari berbagai jenis media massa.

(34)

berkaitan dengan minat tersebut, dan dari sikap yang dinyatakan atau tersirat dalam berbagai bentuk media massa terhadap kegiatan itu.

3. Pengertian Wirausaha

Menurut Poerwadarminta (1989) wirausaha adalah orang yang memiliki kepandaian atau berbakat untuk mengenali produk baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. Batasan yang lebih sederhana diungkapkan Drucker. P. F bahwa wirausahawan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain (dalam Kasmir, 2009). Argene. R (2005) memberikan batasan yang sedikit berbeda bahwa wirausaha adalah usaha-usaha yang mempunyai keunggulan tertentu untuk memodifikasi produk lama menjadi produk baru, dengan menciptakan lapangan pekerjaan, yang memanfaatkan pemberdayaan manusia dan kekayaan lainnya.

(35)

mengidentifikasi peluang dan menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya. Secara sederhana Kasmir (2009) mengemukakan arti wirausahawan adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan. Berjiwa berani mengambil risiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Meredith et al menyatakan batasan yang hampir sama bahwa wirausaha adalah orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses (dalam Mujiarto & Wahid. A, 2006).

Dalam konteks bisnis, menurut Sri Edi Swasono wirausaha adalah pelopor dalam bisnis inovator, penangung risiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam prestasi di bidang usaha (dalam Suryana, 2006). Sedikit berbeda dengan konteks bisnis, dalam konteks menejemen Usman, M (1997) mendefinisikan wirausaha sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan sumber daya seperti finansial (money), bahan mentah (matrials), dan tenaga kerja

(labors), untuk menghasilkan suatu produk baru, bisnis baru, proses

(36)

Batasan lain menyatakan bahwa wirausaha adalah mereka yang melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide-ide dan meramu sumber daya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup (Mujiarto & Wahid. A, 2006). Bygrave mendefinisikan wirausaha secara lebih sederhana yaitu orang yang memperoleh peluang dan menciptakan organisasi untuk mengejar peluang tersebut (dalam suryana, 2006).

Dari beberapa batasan definisi tentang wirausaha di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa wirausaha adalah orang yang menciptakan usaha baru secara kreatif dan inovatif dengan mengoptimalkan potensi dirinya, sumber daya di sekitarnya serta berani mengambil risiko demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan ekonomi yang kemudian dikembangkan secara mandiri dan bebas terkait dalam usaha merencanakan, mengelola, mengoperasikan dan mengontrol sehingga menghasilkan sebuah keputusan yang tepat mengikuti perkembangan yang ada pada usaha yang dijalani sekalipun dalam kondisi yang tidak pasti.

4. Pengertian Minat Berwirausaha

(37)

berwirausaha melekat pada dirinya sehingga individu lebih banyak memusatkan perhatian dan dengan senang hati melakukan aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan pekerjaan wirausaha karena pekerjaan wirausaha memberi manfaat dan berharga bagi dirinya.

5. Dorongan Perilaku Berwirausaha

Teori yang paling sering dipakai dalam memperkirakan suatu dorongan perilaku adalah teorireasoned action(Ajzen and Fishbein, 1980; Fishbein and Ajzen, 1975 dalam Segal, dkk, 2005 ) dan teori planned

behavior (Ajzen, 1988, 1991 Segal, dkk, 2005). Teori planned behavior

(TPB) adalah kelanjutan dari teori reasoned action (TRA) yang memasukkan pengukuran dalam control belief dan perceived behavioral

control. Teori planned behavior dikembangkan untuk melihat proses

dimana individu memutuskan, terikat pada tindakan tertentu. Ajzen (dalam Segal, dkk, 2005) menyatakan bahwa dorongan adalah anteseden dari perilaku, dimana terkandung tiga variabel, yaitu:

a. Attitude toward the behavior, merujuk pada derajat sejauh mana

(38)

b. Subjective norm, merujuk pada tekanan sosial yang diterima

(perceived social norm) untuk melakukan perilaku yang dimaksud.

Perceived social norms adalah pengukuran dukungan sosial terhadap

perilaku dari orang lain yang penting seperti keluarga, teman, role

modelatau mentor.

c. Perceived behavioral control (misalnya evaluasi diri atas kompetensi

seseorang terkait dengan tugas atau perilaku). Perceived feasibility

adalah pengukuran behavioral control, sama dengan konsep efikasi diri (Self-effication) dari Bandura (Segal, dkk, 2005)

Segal, Borgia dan Schoenfeld (2005) menyatakan bahwa hampir sama dengan model Ajzen di atas, model kejadian kewirausahaan dari Shapero (dalam Segal, dkk, 2005) pun memiliki dua faktor utama, yaitu

perceived credibility (perceived feasibility) dan perceived desirability.

Shapero dan Sokol sebagaimana (dalam Segal, dkk, 2005) mengkonsepkan

perceived desirability sebagai ketertarikan personal untuk memulai bisnis.

Adapun perceived feasibility dikonsepkan sebagai pengukuran yang bersifat persepsi atas kapabilitas seseorang terkait menciptakan usaha baru. Sebagai tambahan, Shapero juga menambahkan variabel ketiga,propensity

to act yang konsepnya sangat dekat dengan lokus kendali (locus of

control). Shapero dan Sokol; Krueger (dalam Segal, dkk, 2005)

berpendapat bahwa perceived desirability, perceived feasibility, and

propensity to act berhubungan dengan dorongan untuk berwirausaha.

(39)

self-efficacy), pengganti dari feasibility, sebagai prediktor yang penting. Chen et al. dalam Segal, dkk, 2005), menemukan bahwa entrepreneurial

self-efficacyadalah pengukuran yang andal untuk membedakan wirausaha dan

bukan wirausaha. Dari sudut pandang karir, dorongan berkarir menjadi wirausaha dapat diprediksi berdasarkan persepsi atas tingkat kemenarikan karir (career attractiveness), tingkat kelayakan (feasibility) dan keyakinan atas efikasi diri (self-efficay beliefs) untuk memulai usaha (Farzier and Niehm, 2008).

6. Faktor-Faktor yang Mepengaruhi Minat Berwirausaha

Menurut Haryana, K, minat seseorang untuk terjun ke dunia wirausaha dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor yang berasal dari dalam dirinya (internal) maupun faktor yang berasal dari luar dirinya (eksternal) (dalam Ratmiarini, 2005).

a. Faktor-faktor dari dalam, meliputi :

1) Bakat, yaitu kecakapan khusus dalam bidang tertentu yang diperoleh karena keturunan.

(40)

3) Faktor kemampuan, yaitu suatu kecakapan seseorang dalam bidang tertentu yang dapat diperoleh dari hasil belajar, melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal.

b. Faktor-faktor dari luar, meliputi:

1) Adanya sarana atau fasilitas, yaitu tersedianya modal material yang berupa fasilitas sarana dan biaya untuk menimbulkan usaha, dengan sendirinya akan mempengaruhi minat seseorang untuk berwirausaha.

2) Faktor keluarga dan latar belakang keluarga, yaitu ada dorongan orang tua dan saudara-saudara, merupakan pengaruh bagi bidang kerja seseorang.

3) Latar belakang pendidikan seseorang, yaitu orang-orang yang mengambil jurusan dalam bidang usaha, menejemen, penjualan, tata boga dan sebagainya. Mereka akan terpengaruh dan memiliki minat untuk berwirausaha, berdasarkan bekal ilmu dan pengetahuan yang diperoleh mereka selama mereka menempuh pendidikan.

(41)

Batasan yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Herawati, Mahmud, (dalam Widodo dan Rusmawati, 2004) yang menyatakan ada dua faktor penting yang mempengaruhi minat berwirausaha, yaitu faktor eksternal yang berasal dari luar diri individu seperti lingkungan keluarga, sistem pendidikan dan lingkungan masyarakat dan faktor internal yang berasal dari dalam diri individu seperti faktor fisik dan faktor psikis atau kepribadian, karena menurut Fuhrmann (dalam Rusmawati & Widodo, 2004) faktor psikis mempunyai pengaruh signifikan terhadap prestasi kerja yang diraih individu, termasuk efikasi diri.

B. Efikasi Diri

1. Pengertian Efikasi Diri

Efikasi diri adalah suatu keyakinan individu bahwa dirinya mampu untuk melaksanakan atau melakukan sesuatu dalam situasi tertentu untuk mencapai suatu hasil tertentu (Bandura, 1986). Dalam bukunya yang lain, Bandura (1997) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan terhadap diri sendiri dalam melakukan suatu tindakan guna menghadapi situasi sehingga dapat memperoleh hasil seperti yang diharapkan (dalam Widodo & Rusmawati, 2004).

(42)

Greenberg menjelaskan efikasi diri sebagai suatu keyakinan seseorang mengenai kemampuannya untuk melakukan tugas tertentu yang spesifik (Nawangsari, 2001).

Sementara itu, Baron dan Byrne (1997) menyatakan bahwa efikasi diri adalah evaluasi individu tentang kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan dan dalam menghadapi hambatan yang ada.

Dari pendapat para tokoh tentang definisi efikasi diri, peneliti menarik kesimpulan bahwa efikasi diri adalah suatu keyakinan individu tentang sejauh mana ia bisa memperkirakan kemampuan yang dimiliki untuk mengorganisasikan perilaku yang relevan dengan pelaksanaan tugas dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.

2. Dimensi Efikasi Diri

Menurut Bandura (1977), ada beberapa dimensi dari efikasi diri, yaitu sebagai berikut :

a. Besaran (Magnitude)

(43)

cukup mampu untuk dilakukannya atau menghindari situasi atau perilaku yang berada di luar batas kemampuannya.

b. Luas Bidang (Generality)

Dimensi ini berkaitan dengan rentang atau luas bidang tugas yang individu rasa dapat menyelesaikannya. Dimensi ini mengemukakan bahwa efikasi seseorang itu tidak hanya terbatas pada situasi yang spesifik saja, tetapi berhubungan dengan luas bidang tingkah laku. Beberapa individu merasa mampu menangani atau menyelesaikan tugas-tugas atau aktivitas-aktivitas dalam bidang yang luas, sementara beberapa individu mungkin merasa hanya mampu menangani atau menyelesaikan pada area atau bidang spesifik atau tertentu saja.

c. Kekuatan (Strenght)

(44)

3. Sumber Efikasi Diri

Menurut Bandura (1986) efikasi diri dibangun atas empat sumber, yaitu :

a. Pencapaian hasil yang nyata (Enactive Attainment), merupakan informasi yang paling dominan dan berpengaruh karena berdasarkan pengalaman langsung individu dalam menuntaskan suatu tugas. Pengalaman bisa berwujud keberhasilan ataupun kegagalan. Pengalaman keberhasilan akan meningkatkan penilaian terhadap efikasi diri.

(45)

c. Persuasi verbal (Verbal Persuation), berupa penyampaian informasi secara verbal oleh orang yang berpengaruh. Persuasi ini biasanya digunakan untuk meyakinkan individu bahwa dirinya cukup mampu melaksanakan tugasnya hingga kemudian mendorong individu melakukan tugasnya sebaik mungkin. Individu diarahkan dengan saran, nasehat dan bimbingan sehingga mengarahkan usahanya lebih keras lagi untuk mencapai kesuksesan dan mendapatkan apa yang diinginkan. Cara ini banyak digunakan untuk mempengaruhi perilaku individu karena mudah dan praktis. Namun pengaruh dari efikasi diri yang ditumbuhkan melalui persuasi verbal ini paling lemah dan tidak bertahan lama, karena tidak memberikan suatu pengalaman yang bisa langsung dialami atau dialami oleh individu.

d. Kondisi fisiologis (Physiological State), merupakan sumber informasi penilaian efikasi diri berdasarkan kepekaan reaksi-reaksi internal dalam tubuh individu. Gejolak emosi dan keadaan fisiologis yang dialami oleh individu memberikan suatu isyarat akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sehingga situasi-situasi yang menekan akan cenderung untuk dihindari.

4. Peranan Efikasi Diri

Menurut Bandura (1986) efikasi diri berfungsi dan mempengaruhi individu dalam hal :

(46)

Dalam kehidupan sehari-hari, individu harus memilih perilaku yang dimunculkan. Mereka harus mempertimbangkan berapa lama bertahan melakukan perilaku yang telah diambil tersebut. Dalam memutuskannya, penilaian terhadap efikasi diri memegang peranan penting. Individu cenderung menghindari tugas-tugas dan situasi yang mereka perkirakan melebihi kemampuan yang ada dalam dirinya, sebaliknya mereka berusaha dengan baik apabila mereka yakin memiliki kemampuan yang memadai untuk menghadapi situasi tersebut. Individu yang memiliki efikasi diri tinggi senantiasa mantap dan teguh dalam mencoba perilaku yang telah dipilih dan strategi yang mereka butuhkan. Sedangkan individu yang efikasi dirinya rendah seringkali ragu-ragu dan merasa tidak mampu. Perasaan ini seringkali menimbulkan kesulitan dan kegagalan karena mereka sudah terlebih dahulu merasa tidak mampu untuk menghadapi situasi tersebut.

b. Usaha dan Ketekunan (Effort Expenditure and Persistence)

(47)

strategi yang dibutuhkan. Mereka selalu melihat kesulitan sebagai sebuah tantangan.

Sementara individu dengan efikasi diri rendah, akan terganggu dengan perasaan ragu-ragu terhadap kemampuannya ketika mengahadapi kesulitan, sehingga mengurangi usahanya dalam mencapai tujuan dan lebih mudah menyerah. Bahkan, mungkin akan menghentikan usahanya tersebut apalagi kalau pada tahap awal usaha mereka sudah mengalami kegagalan. Dari ini terlihat bahwa persepsi efikasi diri merupakan faktor yang sangat menentukan usaha seseorang, meskipun individu yang bersangkutan memiliki kemampuan yang terbatas.

c. Pola Pikir dan Reaksi Emosional (Thought Patterns and Emotional Reactions)

(48)

penilaian efikasi diri yang positif lebih mampu mengontrol emosi yang timbul ketika menghadapi situasi yang penuh tuntutan.

Ketiga faktor di atas merupakan sesuatu yang saling terkait satu sama lain pada rangkaian perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Apapun aktivitas yang dilakukan selalu melibatkan pilihan perilaku, usaha dan ketekunan serta pola pikir dan reaksi emosi serta dari individu yang bersangkutan. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa efikasi diri memiliki peranan yang cukup besar bagi individu dalam mencapai suatu tujuan dengan menggunakan kemampuannya.

5. Efikasi Diri Pada Dewasa Awal

(49)

menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang sulit sekalipun. Hal ini karena efikasi diri mampu meramalkan bagaimana seseorang mengatasi dengan baik ancaman dan seberapa banyak munculnya ketakutan yang mereka alami (Pajares & Miller dalam Nawangsari, 2001). Selain itu, efikasi diri juga mampu memobilisasi motivasi, tetap termotivasi dalam menghadapi tantangan, memiliki tujuan yang jelas, dan membangkitkan kepercayaan diri saat menghadapi situasi yang menantang (Farida & Riani, 2006).

C. Mahasiswa Fakultas Ekonomi

(50)

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dibekali dengan pemahaman dan pengertian tentang teori, konsep, proses, teknik dan mekanisme pengelolaan sumber daya ekonomi yang mencakup segi-segi perencanaan, pelaksanaan dan pengawasaan dalam dunia bisnis atau usaha (Fakultas Ekonomika dan Bisnis”. 2007). Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, maka mahasiswa Fakultas Ekonomi juga dibekali dengan penguasaan teknologi informasi dan komputer, baik secara teori dan konsep maupun aplikasi.

Berbekal ilmu, keterampilan dan keahlian yang mereka peroleh, mahasiswa yang mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi diharapkan memiliki kemampuan dalam bidang ilmu ekonomi, ilmu menejemen, dan ilmu akuntansi. Bekal ilmu tersebut diperlukan untuk pembangunan bangsa melalui program sarjana dengan memanfaatkan teknologi dan menerapkan prinsip tata kelola organisasi yang baik, mampu melaksanakan pengabdian masyarakat dengan menjaga dan mengembangkan jejaring industri, pemerintah dan regulator, dan industri lain yang relevan, serta basis penelitian ekonomi dan manajemen (“Fakultas Ekonomika dan Bisnis”. 2007).

D. Hubungan antara Efikasi Diri dan Minat Berwirausaha

(51)

setiap individu yang memasuki tahap dewasa awal karena mereka harus memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri. Hal ini senada dengan pendapat Santrock yang menyatakan terdapat dua kriteria individu yang beralih dari masa remaja akhir menuju dewasa awal, yaitu kemandirian secara ekonomi dan kemandirian dalam membuat keputusan.

Menurut Santrock (2002) individu yang mandiri secara ekonomi adalah individu yang telah menyelesaikan sekolah menengah atas, pindah dari rumah dan mendapatkan karir. Sementara itu, kemandirian membuat keputusan adalah kemampuan individu membuat keputusan dalam pemilihan karir. Karir yang dimiliki individu akan membuat individu mandiri secara ekonomi karena dari hasil kerjanya ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

(52)

diri tinggi berarti memiliki keyakinan akan kemampuan untuk mengatasi kesulitan atau masalah yang muncul, memiliki kecakapan dalam berbagai tugas dan memiliki keuletan dalan usaha atau bisa bertahan dalam usaha. Sebaliknya individu yang memiliki efikasi diri rendah cenderung ragu-ragu dan merasa tidak mampu mengatasi kesulitan atau masalah yang muncul, berusaha mencari bantuan dari orang lain dan mudah menyerah bila menghadapi kesulitan (Bandura, 1977).

Efikasi diri yang tinggi membuat individu mempunyai persepsi positif terhadap dirinya sendiri. Dengan persepsi diri positif individu merasa mampu untuk mengerjakan sesuatu tugas termasuk menjalankan usaha mandiri yang membutuhkan pengelolaan yang ulet, merasa mampu menggerakkan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, dan berani dalam mengambil keputusan maupun risiko yang ada. Sementara itu, individu dengan efikasi diri rendah mempunyai persepsi negatif terhadap dirinya sendiri. Persepsi diri yang negatif membuat individu merasa tidak mampu mengerjakan suatu tugas termasuk menjalankan usaha mandiri yang membutuhkan pengelolaan yang ulet, merasa tidak mampu mengelola sumber daya yang dimiliki untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dan tidak berani mengambil keputusan maupun menanggung segala risiko yang ada (Widodo & Rusmawati, 2004).

(53)

menghambat tujuan dan lebih mampu mengontrol emosi yang timbul ketika menghadapi situasi yang penuh tuntutan. Sementara itu, individu dengan efikasi diri rendah sering kali ragu-ragu dan merasa tidak mampu, mengurangi usahanya dalam mencapai tujuan dan lebih mudah menyerah, memandang kegagalan sebagai kurangnya kemampuan dan bakat yang mereka miliki serta kurang mampu mengontrol emosi yang timbul ketika menghadapi situasi yang penuh tuntutan.

Pendapat lain dikemukakan oleh Pajares dan Miller (dalam Nawangsari, 2001) bahwa keyakinan efficacy meramalkan bagaimana seseorang mengatasi dengan baik ancaman dan seberapa banyak munculnya ketakutan yang mereka alami. Farida dan Riani (2006) juga mengungkapkan hal yang sama, dimana self efficacy yang tinggi mampu memobilisasi motivasi, tetap termotivasi dalam menghadapi tantangan, memiliki tujuan yang jelas, dan membangkitkan kepercayaan diri saat menghadapi situasi yang menantang.

Bila dikaitkan dengan minat berwirausaha, efikasi diri berperan dalam memperkirakan dorongan perilaku berwirausaha. Individu yang terdorong untuk berperilaku melibatkan tiga variabel, yaitu attitude toward the behavior,

subjective norm, perceived behavioral control(Ajzen dalam Segal, Borgia and

Schoenfeld, 2005). Dari ketiga variabel tersebut, veriabel perceived

behavioral control ini memiliki kesamaan dengan konsep efikasi diri, yaitu

(54)

perceived feasibilityadalah pengukuran behavioral controlyang sama dengan konsep efikasi diri dari Bandura.

Pendapat yang tidak jauh berbeda diungkapkan oleh Shapero dan Sokol (dalam Segal, Borgia dan Schoenfeld, 2005) yang menyatakan bahwa model kejadian kewirausahaan memiliki dua faktor utama, yaitu perceived

credibility (perceived feasibility) dan perceived desirability. Shapero dan

Sokol (dalam Segal, Borgia dan Schoenfeld, 2005) mengkonsepkan perceived

desirability sebagai ketertarikan personal untuk memulai bisnis. Adapun

perceived feasibility dikonsepkan sebagai pengukuran yang bersifat persepsi

atas kapabilitas seseorang terkait menciptakan usaha baru. Model dari Azjen and Shapero juga mempertimbangkan efikasi diri (self-efficacy), pengganti

dari feasibility, sebagai prediktor yang penting. Chen et al (dalam Segal,

Borgia dan Schoenfeld 2005), menemukan bahwa entrepreneurial

self-efficacy adalah pengukuran yang andal untuk membedakan wirausaha dan

bukan wirausaha.

Dari penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan bhawa individu yang tertarik untuk berwirausaha melibatkan efikasi diri sebagai variabel pendorong, yaitu suatu keyakinan individu bahwa dirinya mampu untuk melaksanakan atau melakukan sesuatu dalam situasi tertentu untuk mencapai suatu hasil tertentu (Bandura, 1986).

(55)

Skema hubungan efikasi diri dan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi

Efikasi Diri Tinggi

 Yakin mampu mengatasi kesulitan atau masalah yang muncul

 Memiliki kecakapan dalam berbagai tugas.

 Memiliki keuletan dalam usaha atau bisa bertahan dalam usaha.

Efikasi Diri Rendah

 Ragu-ragu dan merasa tidak mampu mengatasi kesulitan atau masalah yang muncul.

 Berusaha mencari bantuan dari orang lain.

 Mudah menyerah bila menghadapi kesulitan

Persepsi Diri Positif

 Merasa mampu menjalankan pekerjaan secara mandiri

 Mampu menggerakkan sumber daya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik

 Berani mengambil keputusan maupun mengambil risiko Persepsi Diri Negatif

 Merasa tidak mampu menjalankan pekerjan secara mandiri.

 Tidak yakin mampu mengelola sumber daya yang ada

 Tidak berani mengambil keputusan maupun menanggung risiko.

Tugas Perkembangan Mahasiswa Bekerja setelah menyelesai pendidikan

Minat Berwirausaha Tinggi

(56)

E. Hipotesis Penelitian

(57)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif (terukur) dengan teknik korelasional. Sesuai dengan sifatnya yang korelasional, penelitian ini bermaksud untuk mencari ada tidaknya hubungan antara efikasi diri dengan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

Penelitian ini memiliki dua variabel yang diidentifikasikan sebagai berikut :

a. Variabel Prediktor : Efikasi Diri

b. Variabel Kriterium : Minat Berwirausaha

C. Definisi Operasional Variabel Penelitian

a. Efikasi diri adalah nilai yang diperoleh subjek penelitian dari variabel efikasi diri berdasarkan dimensi-dimensi efikasi diri, yaitu, besaran (magnitude), luas bidang (generality), dan kekuatan (strenght). Semakin tinggi skor total yang diperoleh subjek pada skala efikasi diri menunjukkan tingginya efikasi diri subjek penelitian. Sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh subjek penelitian menunjukkan rendahnya efikasi diri mereka.

(58)

b. Minat Berwirausaha adalah nilai yang diperoleh subjek penelitian dari variabel minat berwirausaha yang didasarkan pada aspek-aspek minat yang dikaitkan dengan bidang dan aktivitas-aktivitas kewirausahaan, yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Skor tinggi yang diperoleh mahasiswa dari aitem-aitem skala ini menunjukkan tingginya minat mahasiswa untuk berwirausaha. Sebaliknya, skor rendah yang diperoleh mahasiswa menunjukkan rendahnya minat mahasiswa berwirausaha.

D. Subjek Penelitian

Subjek yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi. Pengambilan subjek penelitian dilakukan dengan metodepurpose sampling, di mana sampel dipilih berdasarkan ciri-ciri yang telah ditentukan, yaitu :

a. Terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi b. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan c. Masa kuliah

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data

(59)

akan menghasilkan atau memberikan respon jawaban tertulis terhadap sejumlah pernyataan yang telah disusun sebelumnya.

Aitem-aitem dalam skala penelitian ini terdiri dari pernyataan-pernyataan favorabel dan unfavorabel. Pernyataan favorabel adalah pernyataan yang isinya mendukung, memihak atau menunjukkan ciri adanya atribut yang diukur, sedangkan pernyataan unfavorabel adalah pernyataan yang isinya tidak mendukung, memihak atau menunjukkan ciri adanya atribut yang diukur.

Skala yang digunakan untuk mengukur objek penelitian adalah metode rating dijumlahkan (method of summated ratings) atau yang lebih dikenal dengan Skala Likert. Setiap jawaban subjek diskor sesuai dengan nilai kategori jawaban, kemudian masing-masing jawaban skor dijumlahkan sehingga merupakan skor total subjek dalam skala ini. Pilihan jawaban pada masing-masing aitem terdiri dari empat kategori, yaitu “Sangat Setuju” (SS), “Setuju” (S), “Tidak Setuju” (TS), “Sangat Tidak Setuju” (STS).

Alternatif jawaban beserta nilai atau skor dalam pernyataan favorabel dan unfavorabel dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1 Skor Penilaian Skala

Nilai /Skor Alternatif Jawaban

Favorabel Unfavorabel

Sangat Setuju (SS) 4 1

Setuju (S) 3 2

Tidak Setuju (TS) 2 3

(60)

Skala yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua buah skala, yaitu :

1. Skala Efikasi Diri

Skala efikasi diri yang digunakan dalam penelitian ini disusun oleh penulis sendiri berdasarkan pada dimensi efikasi diri dari Bandura (1977) yang dikaitkan dengan aktivitas perkulihan karena subjek penelitian masih berada di bangku kuliah. Dimensi-dimensi yang dimaksud adalah :

a. Besaran (Magnitude) b. Luas Bidang (Generality) c. Kekuatan (Strenght)

Skala ini bertujuan untuk mengukur tingkat efikasi diri mahasiswa dalam menyelesaikan tugas maupun dalam menghadapi situasi-situasi yang sulit. Semakin tinggi skor total subjek pada masing-masing dimensi efikasi diri dalam skala ini, semakin tinggi pula tingkat efikasi diri mahasiswa dalam menghadapi atau menyelesaikan suatu tugas maupun menghadapi kesulitan yang muncul. Demikian sebaliknya, semakin rendah skor total subjek pada masing-masing dimensi efikasi diri, semakin rendah pula tingkat efikasi diri subjek dalam menyelesaikan tugas maupun menghadapi kesulitan yang muncul.

(61)

Tabel 2

Tabel Spesifikasi Aitem-aitem Skala Efikasi Diri Sebelum Uji Coba Nomor aitem 101, 102, 113, 114,

7, 8, 19, 20, 31, 32, 43, 44, 55, 56, 67, 68, 79, 80, 91, 92, 103, 104, 115, 116,

40

Total 60 60 120

2. Skala Minat Berwirausaha

Skala minat berwirausaha yang digunakan dalam penelitian ini disusun oleh penulis sendiri berdasarkan aspek-aspek minat menurut Hurlock (1978), yaitu

a. Aspek kognitif b. Aspek afektif

(62)

masing-masing dimensi efikasi diri subjek, semakin rendah pula minat subjek untuk berwirausaha.

Berdasarkan aspek-aspek tersebut, selanjutnya peneliti menyusun 80 butir pernyataan yang terdiri dari butir 40 butir pernyataan favorabel dan 40 butir pernyataan unfavorabel. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3

Tabel Spesifikasi Aitem-Aitem Skala Minat Berwirausaha Sebelum Uji Coba Nomor aitem

(63)

dikehendaki dengan tepat. Suatu alat ukur yang valid tidak sekedar mampu mengungkap data dengan tepat, akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Cermat berarti bahwa pengukuran itu mampu memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya antara subjek yang satu dengan yang lain (Azwar, 2007). Pada penelitian ini, pengukuran validitas skala dilakukan dengan menggunakan validitas isi (content validity).

Validitas isi adalah validitas yang dipandang dari segi isi skala, yaitu sejauh mana aitem-aitem tes mewakili komponen-komponen dalam keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur (aspek representatif) dan sejauh mana aitem-aitem tes mencerminkan ciri perilaku yang hendak diukur (aspek relevansi). Validitas ini diukur melalui estimasi dari pengujian terhadap isi skala dengan analisis rasional atau lewat

professional judgment yang bersifat subjektif (Azwar, 2007). Jenis

validitas yang digunakan dalam validitas isi, yaitu :

(64)

responden dan akibatnya lebih lanjut adalah berkurangnya kesungguhan responden dalam menghadapi tes (Azwar, 2007).

b. Validitas Logik, yaitu tipe validitas yang menunjuk pada sejauh mana isi tes merupakan wakil dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur sebagaimana telah ditetapkan dalam kawasan ukurnya (Azwar, 2007). Agar memperoleh validitas logik yang tinggi maka dalam penelitian ini peneliti menyusun blueprint yang memuat cakupan aspek yang hendak diungkap. Selain itu, agar tidak terjadi bias subjektivitas dalam analisis rasional, maka analisis rasional juga dilakukan oleh penilai lainnya, yaitu Dosen Pembimbing.

2. Uji Daya Beda Aitem

(65)

konsistensi antara aitem dengan skala secara keseluruhan yang berarti semakin tinggi daya bedanya.

Peneliti melakukan uji coba Skala Efikasi Diri dan Skala Minat Berwirausaha pada tanggal 14 - 16 April 2010 dengan melibatkan terhadap 56 mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta. Setelah data diperoleh, peneliti melakukan analisis aitem dengan menggunakan program SPSS for windows versi 16.00. Berikut akan dijelaskan hasil uji coba skala efikasi diri dan skala minat berwirausaha. a. Efikasi Diri

(66)

Tabel 4

Tabel Spesifikasi Skala Efikasi Diri Sesudah Uji coba Nomor aitem

Total 60 60 120

Keterangan * = aitem yang gugur

# = aitem yang tidak digunakan

Tabel 5

(67)

b. Skala Minat Berwirausaha

Hasil pengujian Skala Minat Berwirausaha menunjukkan bahwa dari 80 aitem skala efikasi diri yang diujikan, terdapat 76 aitem yang baik dan 4 aitem yang tidak baik. Jumlah aitem tersebut masih belum proporsional untuk masing-masing aspek jika dijadikan skala penelitian. Agar sebaran aitemnya proporsional, peneliti memilih aitem-aitem yang memiliki indeks daya diskriminasi yang tertinggi (Azwar, 2009). Besaran koefisien korelasi bergerak pada kisaran -0,102 sampai 0,829. Pada tabel berikut ini disajikan data aitem yang gugur, aitem yang tidak digunakan dan aitem yang dipakai untuk penelitian.

Tabel 6

Tabel Spesifikasi Skala Minat Berwirausaha Setelah Uji Coba Nomor aitem

(68)

Tabel 7

Tabel Spesifikasi Skala Minat Berwirausaha untuk Penelitian Nomor Aitem

Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah.

(69)

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan SPSS for Windows

seri 16,00 Skala Efikasi Diri memiliki koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,978. Hasil koefisien alpha Skala Efikasi Diri menunjukkan bahwa skala tersebut reliabel. Sementara itu, Skala Minat berwirausaha memiliki koefisien alpha sebesar 0,975 yang menunjukkan bahwa skala tersebut reliabel.

G. Metode dan Analisis Data 1. Uji Asumsi

Uji asumsi merupakan salah satu syarat dalam penggunaan teknik korelasi untuk memperoleh kesimpulan yang benar berdasarkan data yang ada. Adapun uji asumsi yang dilakukan adalah sebagi berikut :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya sebaran data skala efikasi diri dan skala minat berwirausaha. Uji normalitas data dilakukan dengan pengujianOne Sample Kolmogorof–

Smirnov Test. Pengujian ini dilakukan dengan bantuan program SPSS

(70)

b. Uji Linearitas

Uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara skor variabel efikasi diri dan variabel minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi merupakan garis lurus atau tidak. Uji linearitas data dilakukan dengan Test for Linearity dengan bantuan programSPSSversi 16.00for windows. Data dinyatakan linear apabila dua variabel mempunyai signifikansi kurang dari 0,05 atau p<0,005 (Priyatno, 2008).

2. Uji Hipotesis

(71)

BAB IV

PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dengan tujuan mencari hubungan efikasi diri dan minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi ini dilaksanakan pada tanggal 10-15 Mei 2010 di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pengambilan data penelitian ini dilakukan dengan cara peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mencari subjek yang sesuai dengan kriteria subjek penelitian yang telah ditentukan sebelumnya. Pengumpulan data penelitian dilaksanakan dengan cara meminta subjek memberikan jawaban pada kuisioner yang berisi dua skala, yaitu Skala Efikasi Diri dan Skala Minat Berwirausaha.

Dari 130 eksemplar skala efikasi diri dan 130 eksemplar skala minat berwirausaha yang disebarkan kepada subjek penelitian maka skala dapat kembali secara utuh. Akan tetapi, dari 130 eksemplar kuisioner penelitian terdapat 18 eksemplar kuisioner yang gugur karena ada aitem yang tidak terjawab dengan lengkap oleh subjek penelitian sehingga hanya 112 subjek saja yang diambil datanya untuk diolah.

B. Data Demografi Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang terdiri dari 112 subjek, yaitu 52 subjek

(72)

laki atau sebesar 46,43% dan 60 subjek perempuan atau sebesar 53,57%. Subjek penelitian ini terdiri dari mahasiswa Program Studi Menejemen sebanyak 55 orang atau sebesar 49,11% dan mahasiswa dari Program Studi Akuntansi sebanyak 57 orang atau sebesar 50,89%. Usia subjek dalam penelitian berkisar dari 18 tahun hingga 23 tahun. Subjek yang berusia 18 tahun sebanyak 12 orang atau 10,71%, sedangkan sebanyak 17 orang atau 15,18% berusia 19 tahun. Selanjutnya, sebesar 26,79% atau sekitar 30 subjek berusia 20 tahun dan sebanyak 33 subjek atau 29,46% berusia 21 tahun. Sementara itu, subjek yang berusia 22 tahun berjumlah 15 orang atau 13,39% sedangkan 4,46% atau sekitar 5 orang berusia 23 tahun.

Berikut ini merupakan tabel data demografi subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin, program studi, dan usia.

Tabel 8

Data Jenis Kelamin Subjek Penelitian Jenis Kelamin Jumlah Presentase

Laki-laki 52 46,43 %

Perempuan 60 53,57 %

Jumlah 112 100 %

Tabel 9

Data Program Studi Subjek Penelitian

Prodi Jumlah Presentase

Menejemen 55 49,11%

Akuntansi 57 50,89 %

(73)

Tabel 10

Data Usia Subjek Penelitian

Usia Jumlah Presentase

18 tahun 12 10,71 %

19 tahun 17 15,18 %

20 tahun 30 26,79%

21 tahun 33 29,46%

22 tahun 15 13,39%

23 tahun 5 4,46%

Jumlah 112 100 %

C. Uji Asumsi a. Uji Normalitas

Uji normalitas data dilakukan dengan pengujian One Sample

Kolmogorof Smirnov Testdengan bantuan program SPSSfor windowsseri

16,00 dan hasilnya adalah sebagai berikut :

1) Nilai probabilitas (p) variabel efikasi diri pada dimensi besaran

(magnitude) sebesar 0,318. Sementara itu, efikasi diri pada demensi

luas bidang (generality) sebesar 0,127. Sedangkan efikasi diri pada dimensi kekuatan (strenght) sebesar 0,362. Nilai-nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dikatakan bahwa sebaran data pada variabel efikasi diri adalah normal.

(74)

b. Uji Linearitas

Uji Linearitas dilakukan dengan SPSS for windowsseri 16,00. Dari hasil uji yang dilakukan menunjukkan efikasi diri pada dimensi besaran

(magnitude) dengan minat berwirausaha memiliki taraf signifikansi

sebesar 0,002. Sementara itu, efikasi diri pada dimensi luas bidang dengan minat berwirausaha dan efikasi diri pada dimensi kekuatan (strenght) dengan minat berwirausaha sebesar 0,000. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel yaitu efikasi diri dan minat berwirausaha adalah linear karena taraf signifikansi untuk linearitas lebih kecil daripada 0,05 (p<0,05) p = 0,00.

D. Hasil Penelitian 1. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment pada taraf signifikansi 5% (0,05) dengan bantuan program SPSS versi 16.00 for windows. Uji hipotesis satu ekor (one tailed) dilakukan pada penelitian ini karena hipotesis dalam penelitian ini sudah mengarah, yaitu berarah positif.

(75)

antara variabel efikasi diri pada dimensi luas bidang (generality) dan minat berwirausaha adalah 0.371 (r2) dengan p = 0.000 (p<0.05). Sedangkan antara antara bebrapa efikasi diri pada dimensi kekuatan (strenght) dan minat berwirausaha adalah 0.396 (r3) dengan p = 0.000 (p<0.05). Hal ini menunjukan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara beberapa dimensi efikasi diri dan minat berwirausaha. Jadi, semakin tinggi efikasi diri mahasiswa Fakultas Ekonomi maka semakin tinggi pula minat berwirausaha mereka. Sebaliknya, semakin rendah efikasi diri mahasiswa Fakultas Ekonomi maka semakin rendah pula minat mereka untuk berwirausaha.

Dari penelitian ini, diketahui bahwa r1 = 0.365 dan koefisien determinan (r2) sebesar 13.3%, r

2 = 0,371 dan koefisien determinan (r2) sebesar 13.8%, sedangkan r3 = 0,396 koefisien determinan (r2) sebesar 15.7% Hal ini berarti dimensi efikasi diri memiliki sumbangan efektif rata-rata sebesar 14,26 % terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa Fakultas Ekonomi, sedangkan 85,74% lainnya dipengaruhi oleh variabel lainnya.

2. Deskripsi Data Penelitian

(76)

Fakultas Ekonomi. Pada tabel berikut ini dapat dilihat deskripsi data penelitian.

Tabel 11

Deskrisi Statistik Data Penelitian

Minimum Maximum Mean

Variabel

N

Teoritis Empiris Teoritis Empiris Teoritis Empiris SD p Efikasi Diri

60 138 240 208 150 167,14 14.832 0,00

Mean teoritis Skala Efikasi Diri pada dimensi besaran (magnitude), luas bidang (generality) dan kekuatan (strenght) sebesar 50. Sedangkan mean empiris pada dimensi besaran (magnitude) sebesar 56.38, luas bidang (generality) sebesar 54.80 dan kekuatan (strenght) sebesar 55.96. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar daripada mean teoritisnya sehingga dapat diartikan bahwa efikasi diri pada subjek penelitian tergolong tinggi. Sementara itu, mean teoritis pada Skala Minat Berwirausaha sebesar 150 dan mean empirisnya sebesar 167,14. Hasil tersebut menunjukkan bahwa mean empiris lebih besar daripada mean teoritisnya sehingga dapat diartikan bahwa minat berwirausaha pada subjek penelitian tergolong tinggi.

(77)

merupakan rata-rata skor pada alat ukur penelitian, sedangkan mean empiris merupakan rata-rata skor data hasil penelitian.

Selanjutnya, efikasi diri dan minat berwirausaha dikategorikan berdasarkan standar deviasi () dan mean teoritik () dengan menggunakan kategori jenjang. Penggunaan kategori jenjang bertujuan menempatkan subjek ke dalam kelompok terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasarkan atribut yang diukur. Kontinum jenjang yang digunakan terdiri dari lima kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah (Azwar, 2009). Norma kategorisasi skor dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 12

Norma Kategorisasi Skor

Skor Kategori

+ 1,5< X Sangat Tinggi +0,5< X≤+ 1,5 Tinggi - 0,5< X≤+ 0,5 Sedang - 1,5< X≤- 0,5 Rendah

X≤-1,5 Sangat Rendah

(78)

mempunyai standar deviasi () sebesar 180 : 6 = 30 dengan mean teoritik () 150. Setelah dimasukkan ke dalam norma diperoleh kategorisasi skor sebagai berikut :

Tabel 13

Kategori Skor Dimensi Efikasi Diri Besaran (Magnitude) Skor Kategori Jumlah Subjek Presentase

65X Sangat Tinggi 5 4.46 %

55X≤65 Tinggi 62 55.36 %

45X≤55 Sedang 45 40.18 %

35X≤45 Rendah - 0 %

X≤35 Sangat Rendah - 0 %

Dari kategori dimensi efikasi diri besaran (magnitude) dapat dilihat ada 5 atau 4,46% subjek yang berada dalam kategori sangat tinggi, 62 subjek masuk dalam kategori tinggi atau 55.36 %, dan 45 subjek berada dalam kategori sedang atau 40.18%.

Tabel 14

Kategori Skor Dimensi Efikasi Diri Luas Bidang (Generality) Skor Kategori Jumlah Subjek Presentase

65X Sangat Tinggi 2 1.78 %

55X≤65 Tinggi 52 46.43 %

45X≤55 Sedang 52 46.43 %

35X≤45 Rendah 6 5.36 %

X≤35 Sangat Rendah - 0 %

(79)

berada dalam kategori sedang atau 46.43 %. Sementara itu, 6 subjek atau 5.36% masuk dalam kategori rendah.

Tabel 15

Kategori Skor Dimensi Efikasi Diri Kekuatan (Strenght) Skor Kategori Jumlah Subjek Presentase

65X Sangat Tinggi 9 8.03 %

55X≤65 Tinggi 48 42.86 %

45X≤55 Sedang 55 49.11 %

35X≤45 Rendah - 0 %

X≤35 Sangat Rendah - 0 %

Pada kategori dimensi efikasi diri kekuatan (strenght) di atas, dapat dilihat ada 9 atau 8.03 % subjek yang berada dalam kategori sangat tinggi, 48 subjek masuk dalam kategori tinggi atau 42.86 %, dan 55 subjek berada dalam kategori sedang atau 49.11 %.

Tabel 16

Kategori Skor Minat Berwirausaha

Skor Kategori Jumlah Subjek Presentase

195X Sangat Tinggi 7 6,25 %

165X≤195 Tinggi 68 60,71 %

135X≤165 Sedang 37 33,04 %

105X≤135 Rendah - 0 %

X≤105 Sangat Rendah - 0 %

Figur

Tabel 1Skor Penilaian Skala

Tabel 1Skor

Penilaian Skala p.59
Tabel Spesifikasi Aitem-aitem Skala Efikasi Diri Sebelum Uji Coba

Tabel Spesifikasi

Aitem-aitem Skala Efikasi Diri Sebelum Uji Coba p.61
Tabel Spesifikasi Aitem-Aitem Skala Minat Berwirausaha Sebelum Uji Coba

Tabel Spesifikasi

Aitem-Aitem Skala Minat Berwirausaha Sebelum Uji Coba p.62
Tabel Spesifikasi Skala Efikasi Diri Sesudah Uji coba

Tabel Spesifikasi

Skala Efikasi Diri Sesudah Uji coba p.66
Tabel Spesifikasi Skala Efikasi Diri untuk Penelitian

Tabel Spesifikasi

Skala Efikasi Diri untuk Penelitian p.66
Tabel Spesifikasi Skala Minat Berwirausaha Setelah Uji Coba

Tabel Spesifikasi

Skala Minat Berwirausaha Setelah Uji Coba p.67
Tabel Spesifikasi Skala Minat Berwirausaha untuk Penelitian

Tabel Spesifikasi

Skala Minat Berwirausaha untuk Penelitian p.68
Tabel 8

Tabel 8

p.72
Tabel 10

Tabel 10

p.73
Tabel 11Deskrisi Statistik Data Penelitian

Tabel 11Deskrisi

Statistik Data Penelitian p.76
Tabel 12Norma Kategorisasi Skor

Tabel 12Norma

Kategorisasi Skor p.77
Tabel 13

Tabel 13

p.78
Tabel 16

Tabel 16

p.79

Referensi

Memperbarui...