BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanggung Jawab Sosial atau CSR menurut World Business Council on

19 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

22 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Tanggung Jawab Sosial atau CSR menurut World Business Council on Sustainable Development adalah komitmen dari bisnis/perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Program CSR merupakan investasi bagi perusahaan demi pertumbuhan dan keberlanjutan (sustainability) perusahaan dan bukan lagi dilihat sebagai sarana biaya (cost centre) melainkan sebagai sarana meraih keuntungan (profit centre). Program CSR merupakan komitmen perusahaan untuk mendukung terciptanya pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Disisi lain masyarakat mempertanyakan apakah perusahaan yang berorientasi pada usaha memaksimalisasi keuntungan ekonomis memiliki komitmen moral untuk mendistribusi keuntungan-keuntungannya membangun masyarakat lokal, karena seiring waktu masyarakat tak sekedar menuntut perusahaan untuk menyediakan barang dan jasa yang diperlukan, melainkan juga menuntut untuk bertanggung jawab sosial.Adapun ciri program CSR yang baik (Urip, 2014:40):

1. Terpadu dan menjadi bagian dari program bisnis. 2. Menghasilkan manfaat yang berkelanjutan.

(2)

23 4. Hanya akan berkelanjutan apabila peningkatan kompetensi dan pemberdayaan masyarakat dilakukan secara terus-menerus, dengan didukung oleh prasarana yang dibutuhkan.

5. Perbaikan berkesinambungan melalui pengawasan, evaluasi, dan pelaporan. CSR dibagi menjadi beberapa jenis, berikut adalah jenis-jenis CSR dan manfaatnya bagi perusahaan dan masyarakat (Urip, 2014:58):

1. CSR terkait rantai nilai panjang Manfaat bagi masyarakat:

a. Menciptakan tenaga kerja dan kemakmuran

b. Pelaksanaan praktik terbaik dalam kegiatan operasi c. UKM yang sehat dan menguntungkan

d. Pengaruh tak langsung bagi terlaksananya tata kelola yang baik Manfaat bagi perusahaan:

a. Sumber pengadaan yang baik dan terpercaya b. Efesiensi penggunaan mesin sangat tinggi c. Keunggulan operasi dan daya saing 2. CSR terkait pengembangan pasar

Manfaat bagi masyarakat: a. Manfaat yang berkelanjutan b. Pelatihan dan perubahan perilaku c. Peningkatan gaya hidup

Manfaat bagi perusahaan: a. Manfaat yang berkelanjutan

(3)

24 b. Meningkatnya citra dan tingkat penggunaan oleh pelanggan

c. Kekuatan merek d. Daya saing

3. CSR untuk peningkatan gaya hidup dan untuk menjamin pasar serta lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan

Manfaat bagi masyarakat: a. Manfaat berkelanjutan

b. Peningkatan kompetensi dan pemberdayaan masyarakat

c. Perubahan perilaku terkait masalah lingkungan hidup dan pengelolahan limbah

d. Pendidikan dan kesehatan masyarakat, infrastruktur Manfaat bagi perusahaan:

a. Manfaat berkelanjutan jangka panjang b. Citra perusahaan dan persepsi masyarakat c. Peningkatan daya saing

d. Kegiatan amal perusahaan Manfaat bagi masyarakat:

a. Manfaat langsung yang bersifat khusus (ad-hoc) Manfaat bagi perusahaan:

b. Tidak ada manfaat yang berkelanjutan 2.1.2 Pengertian Bank Syariah

Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah, adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga.Bank Islam atau biasa

(4)

25 disebut dengan Bank Tanpa Bunga, adalah lembaga keuangan/ perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadis Nabi MUHAMMAD SAW. Atau dengan kata lain, Bank Islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang mengoperasikannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam. Antonio dan Perwataatmadja (1997) dalam Muhamad (2014:2) membedakan menjadi dua pengertian, yaitu Bank Islam dan Bank yang beroperasi dengan prinsip syariah Islam. Bank Islam adalah (1) bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam; (2) adalah bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Hadis; Sementara bank yang beroperasi sesuai prinsip syariah Islam adalah bank yang dalam beroperasinya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam. Dikatakan lebih lanjut, dalam tata cara bermuamalat itu dijauhi praktik-praktik yang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur riba untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan investasi dengan atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan.

2.1.3 Karakteristik Bank Syariah

Pada prinsipnya, bank syariah tidak benar-benar berbeda dengan bank konvensional. Bahkan, ada beberapa persamaan yang terutama dilihat dari manajemen perbankan. Akan tetapi, terdapat sedikit perbedaan yang merupakan substansi dari hakikat kesyariahan dari lembaga keuangan perbankan.Tabel 2.1 memberikan perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional.

(5)

26 Tabel 2.1

Perbedaan bank syariah dengan bank konvensional

No Bank Syariah Bank Konvensional

1. Harus memenuhi prinsip syariah, yaitu kegiatan usaha yang bebas dari:

a. Riba

Penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fadhl) atau

transaksi yang mensyaratkan nasabah penerima fasilitas mengembalikan dana melebihi pokok pinjamannya karena berjalannya waktu (nasi’ah). b. Maisir

Transaksi yang bersifat untung-untungan

(bergantung pada keadaan yang tidak pasti).

c. Gharar

Transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki,

tidak diketahui keberadannya, dan tidak

dapat diserahkan saat transaksi.

d. Haram

Transaksi yang objeknya di larang dalam syariah. e. Zalim

Transaksi yang menimbulkan ketidakadilan

bagi pihak lainnya.

(Sumber: UU No. 21 Tahun 2008)

Tidak harus memenuhi prinsip syariah.

(6)

27 Lanjutan Tabel 2.1

Perbedaan bank syariah dengan bank konvensional

No Bank Syariah Bank Konvensional

2. Sumber pendapatan nonriba: a. Pendapatan jual beli

(margin)

b. Pendapatan bagi hasil (bagi hasil)

c. Pendapatan sewa (ijarah)

Sumber pendapatan riba: Pendapatan bunga bank.

3. Hanya untuk jenis usaha yang halal dan bermanfaat saja

Jenis usaha dapat halal dan haram, dapat bermanfaat dan tidak bermanfaat (mudharat)

4. Dasar ketentuan usaha:

a. Fatwa Dewan Syariah (DSN)

b. Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

c. Opini Dewan Pengawas Syariah (DPS)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

5. Hubungan yang terbentuk dengan nasabah adalah hubungan kemitraan

Hubungan yang terbentuk dengan nasabah adalah kreditur-debitur

Sumber: Muhamad (2014:97)

2.1.4Kinerja Sosial Bank Syariah

Secara umum, dengan melihat sejarah dan idealism awal pendirian bank syariah dapat disimpulkan bahwa bank syariah memiliki dua fungsi penting yaitu fungsi bisnis dan juga fungsi sosial.Kegiatan bank syariah antara lain, sebagai (Muhamad, 2014:10):

1. Manajer investasi yang mengelola investasi atas dana nasabah dengan menggunakan akad mudharabah atau sebagai agen investasi;

2. Investor yang menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya dengan menggunakan alat investasi yang sesuai

(7)

28 dengan prinsip syariah dan membagi hasil yang diperoleh sesuai nisbah yang disepakati antara bank dan pemilik dana;

3. Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran seperti bank non-syariah sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; dan

4. Pengembangan fungsi sosial berupa pengelola dana zakat, infaq, shadaqah serta pinjaman kebajikan (qardhul hasan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dari penjelasan diatas sangat jelas bahwa kegiatan pertama dan ketiga berkaitan dengan fungsi bisnis, sedangkan kegiatan keempat adalah fungsi sosial dari bank syariah. Dalam UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, fungsi sosial dari bank syariah ini juga dipertegas. Pada pasal 4 dinyatakan, bahwa selain berkewajiban menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat, Bank Syariah dan UUS dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infaq, sedekah, hibah, atau dana sosial lainnya dan menyalurkan kepada organisasi pengelola zakat. Selain itu Bank Syariah dan UUS juga dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf. Selain penghimpunan dan penyaluran zakat dan wakaf, bank syariah juga memiliki produk pembiayaan qardh (dana kebajikan). Produk ini juga dapat dikategorikan sebagai wujud tanggung jawab sosial bank syariah yang tidak dapat diperoleh dari bank konvensional. Dengan demikian jelas sekali bahwa fungsi sosial dari bank syariah

(8)

29 sangat strategis dalam merealisasikan upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui instrumen ekonomi Islam yang lain.

Evaluasi kinerja dalam penelitian Setiawan (2009) dalam Firmansyah (2013:131) adalah satu metode untuk mengukur pencapaian perusahaan berbasis pada target-target yang disusun diawal. Hal ini menjadi bagian penting control pengukur yang dapat membantu perusahaan memperbaiki kinerjanya dimasa depan. Dalam Islam, keberadaan evaluasi kinerja sangat dianjurkan. Konsep mushabahah merupakan representasi yang mendasar dari evaluasi kinerja, yang bias diterapkan untuk individu atau perusahaan. Hal ini kemudian menjadi landasan filosofi penting mengapa perlu dilakukan evaluasi kinerja bagi bank syariah, termasuk kinerja sosialnya.

Menurut Setiawan (2009) dalam Firmansyah (2013:131), jika penelitian-penelitian yang berkaitan dengan kinerja bank syariah di Indonesia lebih banyak berfokus pada kinerja keuangan atau bisnis. Maka, beberapa pakar perbankan syariah internasional telah mencoba melihat kinerja bank syariah lebih komprehensif.Hal ini didasari oleh sebuah kesadaran bahwa perbankan syariah berbeda dengan perbankan konvensional.Perbankan syariah sebagai bagian dari sistem ekonomi Islam didirikan juga untuk mencapai sosial-ekonomi Islam seperti mewujudkan keadilan distribusi dan seterusnya.

Setiawan (2009) dalam Firmansyah (2013:132) misalnya, selain menggunakan beberapa rasio keuangan yang umum digunakan seperti rasio profitability, liquidity, risk and solvency juga mengevaluasi komitmen perbankan syariah terhadap pembangunan ekonomi dan masyarakat muslim (commitment to

(9)

30 domestic and Muslim community). Untuk mengevaluasi komitmen perbankan syariah terhadap pembangunan ekonomi digunakan analisis:

1. Long Term Loan Ratio (LTA)

2. Government Bond Investment Ratio (GBD) 3. Mudharabah-Musyarakah Ratio (MM/L)

Dalam penelitian Setiawan (2009), upaya lebih serius untuk merumuskan sekaligus menggunakan kinerja yang khas bagi perbankan syariah dilakukan Hameed, et.al (2004). Dalam metode pengukuran kinerja bagi bank syariah tersebut rasio keuangan yang digunakan antara lain:

1. Profit Sharing Ratio (Mudharabah+Musyarakah/Total Financing) 2. Zakat Performance Ratio (Zakat/Net Asset)

3. Equitable Distribution Ratio

4. Directors-Employees Welfare Ratio (Average directors’

remuneration/Average employees’ welfare) 5. Islamic Investment vs Non-Islamic Ratio 6. Inslamic Income vs Non-Islamic Income Ratio.

Rumusan indeks kinerja bank syariah diaplikasikan mereka untuk mengevaluasi kinerja Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) dan Bahrain Islamic Bank (BIB) secara deskriptif.Dalam Islamicity Performance Index sebagian besarnya dapat disebut sebagai kinerja sosial sebagaimana alat evaluasi komitmen perbankan syariah terhadap pembangunan ekonomi yang digunakan oleh Samad dan Hasan diatas.

(10)

31 2.1.5 Rasio Kinerja Sosial Bank Syariah

Untuk menilai kinerja sosial bank syariah, penulis menggunakan pendekatan yang pernah dilakukan oleh Setiawan (2009) dalam Firmansyah (2013:132).Adapun komponen dalam kinerja sosial bank syariah ini mencakup Kontribusi Kepada Masyarakat (KKM).Selanjutnya dari nilai rasio yang dihasilkan dari perhitungan kemudian ditentukan peringkatnya, dari peringkat 1 (tertinggi) dengan 5 (terendah) yang kriterianya sebagian besar merupakan assessment Setiawan (2009) dan beberapa telah ada dalam ketentuan BI (2007). 2.1.6 Penilaian Kinerja Sosial Bank Syariah

Penilaian kinerja sosial bank syariah dimaksudkan untuk menilai kontribusi langsung perbankan syariah kepada masyarakat, diantaranya untuk nasabah yang sedang membutuhkan dan masyarakat miskin.Penilaian ini penting mengingat perbankan syariah juga diharuskan untuk menjalankan peran sosialnya terutama berkaitan dengan distribusi zakat, memberikan pembiayaan kebajikan (qard) dan bahkan juga pendidikan publik. Sedangkan pada pengukuran kesehatan BI (2007) untuk bank syariah juga memasukkan rasio pelaksanaan fungsi sosial (RFS) yang digunakan untuk mengukur besarnya pelaksanaan fungsi sosial bank syariah (Firmansyah, 2013:132). Dalam penelitian ini kinerja sosial bank syariah dinilai dari aspek Rasio Pembiayaan Qardh (QR), Rasio Kinerja Zakat (ZR), dan Rasio Pelaksanaan Fungsi Sosial (RPFS).

2.1.6.1 Rasio Pembiayaan Qardh (QR)

Dalam aktivitasnya bank syariah juga berkewajiban untuk menjalankan fungsi sosial dengan diantaranya memberikan pembiayaan kebajikan

(11)

32 (qard).Dengan demikian maka perlu dinilai sejauh mana peran ini telah dijalankan.Rasio pembiayaan qardh atau qardh ratio (QR) digunakan untuk mengukur besarnya kontribusi pembiayaan qardh bank syariah tersebut. Rasio ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

QR = Pembiayaan Qardh Total Pembiayaan

Semakin tinggi komponen ini mengindikasikan kepedulian bank syariah yang tinggi kepada pihak yang mengalami kesulitan. Kriteria penilaian peringkat untuk QR adalah: Peringkat 1 = QR > 5%; Peringkat 2 = 3% < QR ≤ 5%;

Peringkat 3 = 2% < QR ≤ 3%; Peringkat 4 = 1% < QR ≤ 2%; dan Peringkat 5 =

QR ≤ 1%.

2.1.6.2 Rasio Kinerja Zakat (ZR)

Rasio kinerja zakat atau zakat ratio (ZR) digunakan untuk mengukur besarnya kontribusi zakat perusahaan yang dikeluarkan oleh bank syariah. Menurut Hameed, et. al. (2004) rasio ini penting karena zakat sendiri merupakan perintah dalam ajaran Islam.Menurutnya, untuk melihat kinerja bank syariah harus berbasis pada pembayaran zakat yang dilakukan oleh bank syariah untuk menggantikan indikator kinerja konvensional earning per share (EPS).Lembaga keuangan syariah diwajibkan untuk membayar zakat dengan berbasis pada asset bersih. Rasio ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

ZR =Penyaluran Zakat Perusahaan

(12)

33 Secara konsesus umum bank syariah di Indonesia menghitung zakat berbasis pada laba sebelum pajak. Kriteria penilaian peringkat untuk ZR adalah: Peringkat 1 = ZR > 2,5%; Peringkat 2 = 2% < ZR ≤ 2,5%; Peringkat 3 = 1,5% < ZR ≤ 2%; Peringkat 4 = 1% < ZR ≤ 1,5%; dan Peringkat 5 = ZR ≤ 1%.

2.1.6.3 Rasio Pelaksanaan Fungsi Sosial (RPFS)

Rasio Pelaksanaan Fungsi Sosial (RPFS) digunakan untuk mengukur besarnya pelaksanaan fungsi sosial bank syariah. Rasio ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

RPFS = Pembiayaan Qardh +Pembayaran Zakat Modal Inti

Menurut BI (2007) semakin tinggi komponen ini mengindikasikan pelaksanaan fungsi sosial bank syariah semakin tinggi. Kriteria penilaian peringkat untuk RPFS adalah: Peringkat 1 = RPFS > 20%; Peringkat 2 = 15% < RPFS ≤ 20%; Peringkat 3 = 10% < RPFS ≤ 15%; Peringkat 4 = 5% < RPFS ≤ 10%; dan Peringkat 5 = RPFS ≤ 5%.

2.1.7 Kinerja Keuangan Bank Syariah

Penggunaan rasio-rasio keuangan sebagai variabel adalah salah satu metode untuk mengukur kinerja sebuah perusahaan terutama yang bergerak dalam sector keuangan, baik sudah go public maupun yang belum demikian pula halnya pada bank syariah. Dalam laporan keuangan bank syariah disajikan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum mencakup pula pedoman akuntansi dan pelaporan terkait yang ditetapkan oleh otoritas perbankan. Rasio-rasio keuangan yang digunakan pada bank syariah umumnya sama dengan yang digunakan pada bank konvensional. Banyak peneliti menggunakan rasio keuangan

(13)

34 yang dikategorikan dalam beberapa kategori seperti rasio likuiditas, profitabilitas, solvabilitas, efisiensi usaha, dan rasio komitmen kepada masyarakat untuk meneliti kondisi keuangan perusahaan.

2.1.8 Rasio Keuangan Bank Syariah

Hingga saat ini analisis rasio keuangan bank syariah masih menggunakan aturan yang berlaku di bank konvensional. Rasio-rasio yang digunakan bank syariah sama dengan bank konvensional pada umumnya (Muhamad, 2014:252) sebagai berikut:

1. Rasio likuiditas adalah ukuran kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang berupa hutang-hutang jangka pendek.

2. Rasio profitbilitas/ rasio rentabilitas, adalah rasio yang menunjukkan tingkat efektivitas yang dicapai melalui usaha operasional bank yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba atau keuntungan. 3. Rasio solvabilitas atau rasio leverage, yaitu mengukur perbandingan dana

yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut.

Pada penelitian ini, rasio yang digunakan adalah rasio profitabilitas, yaitu return on assets (ROA). Return on Assets (ROA) merupakan rasio penunjang dalam menghitung profitabilitas bagi bank syariah. Rasio ini digunakan untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam menghasilkan laba. Rasio ini dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

ROA = Laba Sebelum Pajak Total Asset

(14)

35 Semakin kecil rasio ini mengindikasikan kurangnya kemampuan manajemen bank dalam hal mengelola aktiva untuk meningkatkan pendapatan dan atau menekan biaya. Kriteria penilaian peringkat ROA ini menurut BI (2007) adalah: Peringkat 1= ROA > 1,5%; Peringkat 2 = 1,25% < ROA ≤ 1,5%; Peringkat 3 = 0,5% < ROA ≤ 1,25%; Peringkat 4 = 0% < ROA ≤ 0,5%; dan Peringkat 5 = ROA ≤ 0%.

2.2 Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian penulis disajikan pada Tabel 2.2 sebagai berikut:

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1. Abdus Samad dan M. Khabir Hassan (2000) The Performance of Malaysian Islamic Bank During 1984-1997: An Exploratory Study Long Term Loan Ratio (LTA), Government Bond Investment Ratio (GBD), Mudharabah -Musyarakah Ratio (MM/L).

ROA dan ROE BIMB pada akhir periode lebih baik (diuji dengan t-test). Tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan antara ROA dan ROE BIMB dan kelompok bank konvensional. Selain itu likuiditas kelompok bank konvensional, dilihat dari DER, LDR, dan CR. BIMB juga memiliki risiko yang lebih rendah dan solvensi yang lebih baik bila dilihat dari DER, DTAR, EM, dan LDR disbanding kelompok bank konvensional. kontribusi terhadap pembangunan tidak lebih baik dibandingkan dengan kelompok bank konvensional. Meski F-value tidak signifikan (ditunjukkan oleh GBD, LTA, dan MM/L)

(15)

36 Lanjutan Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu N o Nama Peneliti Judul Peneliti an Variabel Penelitian Hasil Penelitian 2. Shahul Hamee d Bin Moham ed Ibrahim , Ade Wirman , et. al. (2004) Alternat if Disclosu re and Perform ance Measure for Islamic Banks Profit Sharing Ratio (Mudharabah + Musyarakah/Total Financing), Zakat Performance Ratio (Zakat/Net Assets), Equitable Distribution Ratio, Directors-Employees Welfare Ratio, Islamic Investment vs Non-Islamic Ratio, Islamic Income vs Non-Islamic Income Ratio

BIB secara umum memiliki kinerja sosial lebih baik dari BIMB. Dalam Islamicity Performance Index sebagian besarnya dapat disebut sebagai kinerja sosial sebagaimana alat evaluasi komitmen perbankan syariah terhadap pembangunan ekonomi yang digunakan oleh Samad dan Hasan.

3. Azis Budi Setiawa n (2009) Kesehat an Finansia l dan Kinerja Sosial Bank Umum Syariah di Indonesi a Mudharabah+Mu syarakah Ratio, Qardh Ratio, Intensitas fungsi agency bank syariah (AR), Rasio Kontribusi Kesejahteraan Sohibul Maal (KSM), Rasio Alokasi Kesejahteraan Mudharib (KM), Rasio Kontribusi Kesejahteraan Investor (KI) dan variabel lainnya

Secara keseluruhan dalam periode tahun 2003-2007, kesehatan finansial BMI lebih baik dari BSM. Secara rata-rata dari periode tersebut tingkat kesehatan finansial BMI mendapat nilai kredit setelah pembobotan kumulatif sebesar 77,25. Nilai tersebut lebih tinggi 6,15 dari nilai kesehatan finansial BSM yang hanya sebesar 71,10. Tingkat kinerja sosial BSM dalam periode tahun 2003-2007 lebih baik dari BMI. Secara rata-rata dalam periode tersebut tingkat kinerja sosial BSM mendapat nilai kredit setelah pembobotan kumulatif sebesar 64,07. Nilai tersebut lebih tinggi 8,17 dari nilai kinerja sosial BMI yang hanya sebesar 55,89.

(16)

37 Lanjutan 2.2 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 4. Sinta Yuliani (2012) Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Kinerja Sosial Bank Umum Syariah di Indonesia Tahun 2006-2010 Size, Return On Assets (ROA), Leverage, Mudharabah Musyarakah Ratio (MMR), dan Qardh Ratio (QR)

Secara bersama-sama ketiga variabel independen berpengaruh terhadap MMR dan QR. Sedangkan secara parsial model 1 hanya dua variabel independen yang signifikan berpengaruh positif terhadap MMR sementara ROA berpengaruh negatif terhadap MMR. Model 2 hanya dua variabel independen yang signifikan berpengaruh positif terhadap QR sementara ROA berpengaruh negatif terhadap QR.Hubungan negatif antara ROA terhadap MMR dan QR menunjukkan bahwa bank syariah di Indonesia belum memprioritaskan kinerja sosialnya. 5. Akhmad Fauzi (2014) Pengaruh Zakat Perbankan Dan Corporate Social Responsibility Terhadap Kinerja Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2009-2013 Zakat Perbankan,CS R, dan kinerja perbankan

Hasil pengujian secara parsial dengan analisis regresi multinominal logistic (uji chi square) menunjukkan bahwa variabel CSR tidak berpengaruh terhadap kinerja perbankan dan variabel zakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja perbankan.

(17)

38 Lanjutan Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 6 Insyiroh (2010) Pengaruh Pembiayaan Qard, Pelaksanaan Fungsi Sosial, dan Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Insani Terhadap Kinerja Perbankan pada Bank Umum Syariah Pembiayaan Qard, Pelaksanaan Fungsi Sosial, Kapasitas Sumber Daya Insani, dan Return On Assets (ROA).

Penelitian menunjukkan bahwa secara parsial rasio pembiayaan qard, rasio pelaksanaan fungsi sosial, dan peningkatan kapasitas SDI berpengaruh positif dan signifikan terhadap ROA.

2.3 Kerangka Konseptual

Penelitian ini dilakukan untuk memberi gambaran tentang praktek tanggung jawab sosial yang dilaksanakan oleh bank syariah di Indonesia dan mengetahui pengaruhnya terhadap kinerja keuangan perusahaan.Untuk melaksanakan CSR berarti perusahaan akan mengeluarkan sejumlah biaya. Biaya pada akhirnya akan menjadi beban yang mengurangi pendapatan sehingga tingkat profit perusahaan akan turun. Akan tetapi dengan melaksanakan CSR, citra perusahaan akan semakin baik sehingga loyalitas konsumen makin tinggi. Seiring meningkatnya loyalitas konsumen dalam waktu yang lama, maka penjualan perusahaan akan semakin membaik, dan pada akhirnya dengan pelaksanaan CSR, diharapkan tingkat profitabilitas perusahaan juga meningkat (Satyo, 2005:8).Hal ini

(18)

39 menunjukkan bahwa CSR atau tanggung jawab sosial perusahaan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan perusahaan pada tahun berikutnya.

Untuk menilai kinerja sosial pada bank syariah dapat diwakili oleh rasio pembiayaan qardh (QR), rasio kinerja zakat (ZR), dan rasio pelaksanaan fungsi sosial (RPFS) (Firmansyah, 2013:132).Rasio Pembiayaan Qardh (QR) menunjukkan besarnya penyaluran pembiayaan qardh dari total pembiayaan yang dilakukan oleh bank syariah.

Rasio kinerja zakat atau zakat ratio (ZR) digunakan untuk mengukur seberapa besar kontribusi zakat perusahaan yang dikeluarkan oleh bank syariah dari laba sebelum pajak bank syariah. Rasio Pelaksanaan Fungsi Sosial (RPFS) digunakan untuk mengukur seberapa besarbank syariah menyalurkan pembiayaan qardh dan pembayaran zakat dari modal yang dimiliki oleh bank syariah

Kinerja keuangan bank syariah diwakili oleh Return on Assets (ROA).Return on Asset merupakan rasio penunjang dalam menghitung profitabilitas bagi bank syariah. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dari total asset yang dimiliki bank syariah.

Berdasarkan hal-hal diatas dapat ditentukan model kerangka konseptual seperti dibawah ini:

(19)

40 Tanggung Jawab Sosial

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.4 Hipotesis

Berdasarkan tinjauan teoritis dan penelitian terdahulu yang telah diuraikan maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: terdapat pengaruh yang signifikan Pembiayaan Qardh (QR), Kinerja Zakat (ZR), dan Pelaksanaan Fungsi Sosial (RPFS) terhadap kinerja keuangan perusahaan (ROA) pada perbankan syariah di Indonesia. Pembiayaan Qardh Kinerja Zakat Kinerja Keuangan (ROA) Pelaksanaan Fungsi Sosial

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :