e-journal PJKR Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (Vol 8, No 2, Tahun 2017)

10 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NHT TERHADAP HASIL BELAJAR TEKNIK DASAR PASSING BOLA VOLI

I Made Irvan Wibisana, I Wayan Rai, I Putu Adi Suputra Jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi

Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Pendidikan Ganesha,

Kampus Tengah Undiksha Singaraja, Jalan Udayana Singaraja-Bali Tlp. (0362) 32559 e-mail: wibisanairvan@gmail.com , wayan.rai68@yahoo.com

dr.adisuputra@gmail.com } @undiksha.ac.id ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) terhadap hasil belajar teknik dasar passing bola voli. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen sungguhan dengan menggunakan rancangan penelitian the randomized pretests-postest control group the same subject design. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Banjar Tahun Pelajaran 2016/2017 berjumlah 368 orang yang terdistribusi ke duabelas kelas jurusan kelas yaitu kelas VIII 1, VIII 2,VIII 3, VIII 4,VIII 5,VIII 6,VIII 7,VIII 8,VIII 9, VIII 10, VIII 11 dan VIII 12. Pengundian kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan dengan simple random sampling. Data hasil belajar dikumpulkan melalui tes pilihan essay, observasi dan unjuk kerja. Analisis data menggunakan Uji-t dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Pada kelompok eksperimen diperoleh nilai rata-rata 6.24 dengan standar deviasi 2.514. Sedangkan pada kelompok kontrol diperoleh nilai rata-rata 3.22 dengan standar deviasi 2.624. Angka signifikansi yang diperoleh melalui Uji t adalah <0.05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh positif terhadap hasil belajar teknik dasar passing bola voli siswa.

Kata-kata kunci: Kooperatif, NHT, hasil belajar, bola voli.

Abstract

This study aims to determine the effect of cooperative learning model type Numbered Head Together (NHT) on the learning outcomes of basic techniques of passing the volleyball. This study is a real experimental study using the randomized pretests-posttest control group design of the same subject design. The subjects of this research are the students of class grade twelve SMP Negeri 3 Banjar Lesson Year 2016/2017 amounted 368 people distributed to ten classes majoring classes which is VIII 1, VIII 2,VIII 3, VIII 4,VIII 5,VIII 6,VIII 7,VIII 8,VIII 9, VIII 10, VIII 11 and VIII 12. The drawing of experimental group and control group was done by simple random sampling. Learning result data is collected through objective test, observation and performance. Analyzing the data is using T-Test with the help of SPSS 16.0 for Windows. In the experimental group, it was obtained an average value 6.24 with standard deviation of 2.514. while in the control group obtained an average value of 3.22 with a standard deviation of 2.624. the significance figures obtained by T-Test are ,0.05. thus, it can be concluded that cooperative learning model type NHT have a positive effect on the learning outcomes of students’ basic techniques of passing a volleyball.

(2)

PENDAHULUAN

Proses pembelajaran merupakan suatu proses yang melibatkan interaksi antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa, dimana dari interaksi tersebut siswa diharapkan mendapatkan pemahaman tentang apa yang diperoleh dalam situasi belajar mengajar. Dalam proses pembelajaran yang dilaksanakan di bangku sekolah, banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya hasil belajar, yaitu faktor internal dan eksternal. Disamping faktor-faktor di atas penggunaan model yang tepat digunakan oleh guru juga sangat mempengaruhi nantinya dalam pencapaian hasil belajar yang diharapkan.Dengan penggunaan model pembelajaran yang tepat dan inovatif diharapkan dapat menciptakan lingkungan dan suasana yang kondusif. Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila ada perubahan-perubahan yang

nampak pada siswa, baik yang

menyangkut perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Oleh karena itu guru diharap mampu memilih model yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang di pelajari serta tujuan dari pembelajaran. Sehingga pada diri siswa tidak terjadi kejenuhan, rasa bosan pada diri siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Pelaksanaan dalam upaya

membelajarkan guru dituntut memiliki multi peran yaitu: sebagai pengajar, pendidik, demonstrator, pengelola kelas, mediator, fasilitator, dan evaluator sehingga mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif. Pembelajaran yang efektif dan relevan sesuai dengan tujuan pembelajaran terjadi bila para pembelajar secara aktif, kreatif dan inovatif terlibat dalam tugas-tugas yang bermakna dan terlibat dalam berinteraksi dengan isi pelajaran (Santyasa dan

Sukandi, 2007:30).Seorang guru

seharusnya memiliki kompetensi

profesional guru atau kemampuan yang

berhubungan dengan tugas-tugas

keguruan. Kompetensi yang dimiliki oleh seorang guru dan profesi dosen

merupakan bidang khusus yang

dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealism, (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, (3) memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang sesuai dengan bidang tugas, (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (5) memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8) memiliki jaminan perlindungan hukum

dalam melaksanakan tugas

keprofesionalan dan (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan

guru. Ditambah lagi dengan

pengembangan filsafat konstruktivisme dalam pendidikan selama dekade ini, yang memunculkan pemikiran kritis ntuk melakukan penetrasi atau merenovasi pembajaran menuju kearah pembelajaran yang berkualitas, humanis, organis, dan konstruktif (Suprijono, 2009:4).

Permasalahan yang masih sering terjadi dan ditemui dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan adalah proses pembelajaran masih bersifat konvensional/tradisional. Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajaran yang masih dilakukan secara klasikal atau kelompok besar, dimana proses pembelajaran ini dilakukan tanpa memperhatikan karakteristik siswa. Peranan guru juga masih dominan dalam proses pembelajaran yaitu guru memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur dan

menentukan proses pembelajaran

sehingga menyebabkan siswa kurang

dapat mengembangkan kemampuan

berpikirnya. Masalah lain yang ditemui yaitu kurangnya penerapan pembelajaran

(3)

yang lebih banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran.

Berdasarkan data nilai ulangan harian materi bola besar (bola voli) khususnya teknik dasar passing atas dan passing bawah pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Banjar tahun pelajaran 2016/2017 ditemukan bahwa pada kelas VIII8 yang terdiri dari 32 orang,terdapat7 orang memperoleh nilai di bawah 60, terdapat10 orang memperoleh nilai 60-69 (tidak tuntas), dan 10 orang memperoleh nilai 70-78 (tidak tuntas), terdapat 5 orang memperoleh nilai 79-81 (tuntas). Sedangkan pada kelas VIII 10yang terdiri dari 31 orang terdapat6orang memperoleh nilai 55-60, 10 orang memperoleh nilai 60-69 (tidak tuntas), dan 10 orang memperoleh nilai 70-78 (tidak tuntas) terdapat 5 orang memperoleh nilai 79-81 (tuntas). KKM di SMP Negeri 3 Banjar adalah 79. Dapat di simpulkan untuk kelas VIII 8 hanya 5 orang yang mendapat nilai di atas KKM, dan Kelas VIII 10 hanya 5 orang yang mendapat nilai di atas KKM.

Rendahnya hasil belajar siswa

tersebut dikarenakan proses

pembelajaran yang masih bersifat tradisional. Pembelajaran masih bersifat teacher center sehingga siswa lebih banyak mendengarkan penjelasan materi dari guru daripada mencoba melakukan gerakan.Melihat kenyataan tersebut maka peran guru penjasorkes sebagai pendidik perlu mendapat perhatian khusus dalam memilih model pembelajaran yang tepat, karena dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat akan dapat memacu semangat para siswa di dalam mengikuti pelajaran dan mendorong siswa

untuk mengembangkan antara

pengetahuan yang dimiliki dengan pengetahuan yang didapat dari sekolah sehingga para siswa akan bersikap aktif dalam mengikuti proses pelajaran khususnya pelajaran penjasorkes pada materi teknik dasar passing (passing atas dan passing bawah) bola voli. Dalam meningkatkan kualitas pembelajaran teknik dasar passing bola voli, guru

penjasorkes diharapkan mampu

menguasai dan menerapkan berbagai macam model pembelajaran atau teknik penyampaian materi yang tepat dan

menarik yang nantinya dapat mendorong minat belajar, sehingga siswa tidak merasa jenuh dan merasa cepat bosan dalam mengikuti proses pembelajaran.

Untuk mengatasi hal itu maka di perlukan suatu model pembelajaran yang dapat memperagakan proses gerak dengan benar dan baik yang sesusi dengan tuntutan kurikulum. Maka dari itu peneliti mencoba melakukan suatu penelitian untuk mendapatkan perbaikan dari proses pembelajaran khususnya pada pendidikan jasmani yaitu dengan diperlukan cara penyajian materi pelajaran permainan bola voli ini atau metode

penyampaian materi yang mampu

mengembangkan cara belajar siswa aktif, berpikir analisis dan mampu memecahkan masalah yang di hadapi, diantaranya dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Diharapkan melalui metode ini siswa dituntut untuk belajar secara aktif dengan menemukan sendiri teknik lanjutan passing dalam pembelajaran bola voli yang benar, maka hasil yang di peroleh akan bertahan lebih lama dalam pikiran siswa. Guru sebagai pembimbing membantu memecahkan masalah dalam

kegiatan pembelajaran sehingga

pembelajaran yang didominasi oleh guru akan berkurang sebaliknya kegiatan pembelajaran akan lebih didominasikan oleh siswa dengan demikian model pembelajaran koperatif tipe NHT dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran permainan bola voli pada siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Banjar.

Pengaruh penerapan model

pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap hasil belajar telah dibuktikan melalui penelitian yang relevan dengan penelitian ini: (1) Sabrina (2014) menemukan bahwa pembelajaran dengan

menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar passingbawah bola voli pada siswa kelas X TPM 1 SMK PGRI 2 Kota Pasuruan dengan nilai thitung 15,8666>ttabel2,032 dengan taraf signifikan 0,05. (2) Santiana (2014) menemukan model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh terhadap

(4)

hasil belajar matematika siswa kelas V Sekolah Dasar di Desa Alasangker dengan nilai thitung 3,88> 2,011 ttabel.. (3)

Yetti (2014) menemukan bahwa

pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar chest pass bola basketpada siswa kelas X SMKN 10 Surabaya dengan nilai thitung 18,58 >ttabel 1,69. Dan (4) Edi (2016) menemukan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar teknik dasar passing sepak bola (menggunakan kaki bagian dalam dan kaki bagian luar) pada siswa kelas XI Jasa Boga SMK Pariwisata Triatma Jaya Singaraja tahun pelajaran 2015/2016 dengan nilai (p<0,01).

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka peneliti tertarik untuk melaksanakan penelitian dengan judul “Pengaruh Penerapan Model

Pembelajaran Kooperatif Tipe

NHTTerhadap Hasil Belajar Teknik Dasar Passing Bola Voli pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Banjar Tahun Pelajaran 2016/2017”.

Permendiknas No. 22 Tahun 2006 menyatakan bahwa,

Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (Penjasorkes) merupakan bagian dari integral dari pendidikan secara

keseluruhan, bertujuan untuk

mengembangkan aspek kebugaran

jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Berdasarkan penjelasan tersebut diperoleh pengertian bahwa penjasorkes merupakan: (1) usaha/kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan, (2) media yang digunakan adalah aktivitas fisik berupa gerak tubuh, dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan,(3) bertujuan mengembangkan potensi individu secara

utuh dan menyeluruh mencangkup aspek fisik, mental, emosional, spiritual, moral dan sosial.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:3), ”dengan berakhirnya suatu proses belajar, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar”. ”Hasil belajar tersebut dapat dibedakan menjadi

dampak pengajaran dan dampak

pengiring. Dampak pengajaran adalah hasil yang dapat diukur dengan segera atau secara langsung, sedangkan dampak pengiring adalah hasil belajar siswa yang tampak secara tidak langsung atau merupakan transfer hasil belajar” (Dimyati dan Mudjiono,2006:295).

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:26), “siswa yang belajar berarti menggunakan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor untuk berinteraksi terhadap lingkungannya dalam melakukan kegiatan belajar”. Berdasarkan uraian di atas di dalam instruksional, Bloom, dkk (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006:26) “mengkatagorikan jenis perilaku dan kemampuan internal akibat belajar, antara lain: (a) ranah kognitif, (b) ranah afektif, dan (c) ranah psikomotor”. Adapun penjelasan dari ketiga ranah di atas sebagai berikut.

Permainan bola voli termasuk jenis permainan yang mudah, meriah, murah, menarik dan masal yang kini semakin digemari oleh seluruh lapisan masyarakat. Permainan ini mudah untuk dipelajari baik cara bermainnya, teknik

dasarnya, maupun peraturannya.

Permainan bola voli menjadi salah satu permainan yang digemari karena permainannya relative ringan , teknik tekniknya cukup sederhana tetapi dengan koordinasi gerak yang benar, aturan permainannya tidak sangat rumit, dan tentu saja karena permainan tersebut enak ditonton. Di samping itu biaya

peralatannya tidak terlalu

mahal.Permainan bola voli sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan telah tersirat dalam mata pelajaran pendidikan jasmani yang wajib diikuti oleh semua siswa.Pengertian dari olahraga permainan bola voli adalah

(5)

“permainan yang dimainkan oleh dua regu yang masing-masing regu terdiri dari 6 orang. Bola dimainkan di udara dengan melewati net” (Sudarman, 2000:6). Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulka permainan bola voli adalah permainan yang dimainkan oleh dua regu yang masing masing terdiri dari 6 orang dengan bola dimainkan diudara melewati net yang diarahkan kedaerah lapangan lawan atau memaksa lawan membuat kesalahan dalam menangani bola.

Permainan bola voli merupakan suatu permainan yang kompleks yang tidak mudah dilakukan oleh setiap orang. Sebab, dalam permainan bola voli dibutuhkan koordinasi gerak yang benar benar bisa diandalkan untuk melakukan

semua gerakan yang ada dalam

permainan bola voli.

Teknik adalah cara melakukan atau melaksanakan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu secara efesien dan efektif. Dalam permainan bola voli ada beberapa bentuk teknik dasar yang harus dikuasai. Teknik-teknik dalam permainan bola voli terdiri atas servis,passing (passingatas dan

passingbawah), block dan

smash(Nuril,2007:20)

Model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang

secara kopseptual hampir sama

pengertiannya dengan strategi

pembelajaran. Model pembelajaran memiliki lima unsur dasar yaitu:

a. Syntax, yaitu langkah-langkah oprasional pembelajaran,

b. Social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran,

c. Principles of reaction, menggambarkan

bagaimana seharusnya guru

memandang, memperlakukan dan

merespon pembelajaran,

d. Support system, segala sarana, bahan, alat atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran,

e. Intructional, belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar.

Joyce dan Weil 1980” (dalam Santyasa dan Sukadi, 2007:8).

Trianto (2007:5) menyatakan bahwa, Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan

untuk menentukan

perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain.

Dari beberapa definisi di atas

dapat disimpulkan bahwa model

pembelajaran adalah perencanaan yang

dapat digunakan untuk pedoman

pembelajaran sehingga proses

pembelajaran dapat berjalan dengan kondusif dan memperoleh hasil yang maksimal.

NHT atau penomoran berfikir bersama merupakan jenis pembelajaran yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternative terhadap kelas tradisional.NHT pertama kali dikembangkan oleh Spenser Kagen pada tahun 1993 untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut (Trianto, 2007).

Pendekatan struktural tipe NHT, yang dikembangkan oleh Spencer Kagan terancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa sebagai alternatif terhadap struktural kelas tradisional. Menurut Nurhadi dkk (2004:67), “sebagai pengganti dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktural empat langkah berikut ini: “(a) penomoran, (b) pengajuan pertanyaan, (c) berpikir bersam, (d) pemberian jawaban”. a. Langkah 1: Penomoran

Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang

beranggotakan 3-5 orang dan

memberikan mereka nomor sehingga setiap siswa dalam tim tersebut memiliki nomor berbeda.

b. Langkah 2: Pengajuan Pertanyaan Guru mengajukan suatu pertanyaan

(6)

kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.

c. Langkah 3: Berpikir bersama

Para siswa berpikir bersama di

masing-masing kelompoknya untuk

menggambarkan dan meyakinkan

bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.

d. Langkah 4: Pemberian jawaban

Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.

Model pembelajaran kooperatif tipe NHT merupakan suatu pendekatan yang dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993) dengan melibatkan para siswa dalam mereview bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek atau memeriksa pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Teori pembelajaran kooperatif menekankan bahwa siswa belajar paling baik ketika mereka dapat saling mendorong dan membimbing satu sama lain, memiliki tanggung jawab perseorangan, masing-masing siswa memberikan partisipasinya

secara maksimal dan terdapat

kesepakatan aktif dan interakif.

Struktur yang dikembangkan oleh Kagan ini menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecildan lebih dicirikan oleh penghargaan kooperatif daripada penghargaan individual. Struktural dari Kagen dirancang untuk mencapai standar tertinggi pembelajaran kooperatif. Salah satu kunci manfaat pendekatan struktural adalah pendekatan ini dirancang untuk mengembangkan indikator-indikator kunci pembelajaran kooperatif yang meliputi saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, dan partisipasi yang merata.Dalam pendekatan struktural, tujuan kognitif yang hendak dicapai adalah berupa informasi akademik sederhana, sedangkan tujuan sosialnya adalah keterampilan kelompok dan keterampilan sosial. Struktual tim beranggotakan 3-5 orang tiap kelompok.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan dilakukan di SMP Negeri 3 Banjar, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng pada tahun pelajaran 2016/2017 dimulai dari observasi yang dilakukan pada tanggal 14 Oktober 2016, untuk pengambilan data akan dilakukan pada bulan April-Mei

Rancangan pada penelitian ini adalah rancangan the posstest only control group design

Teknik pengambilan sampel juga menggunakan uji normalitas, homogenitas dan independen sampel t test, yaitu untuk menentukan kesetaraan kelas yang di ambil sebagai sampel penelitian. Dari uji Normalitas yang digunakan menggunakan nilai kelas VIII 8 dan VIII 10 melalui SPSS16.0 for windows, mendapatkan hasil yang normal, yaitu dengan rentang angka 0.200 menerapkan teknik Uji Kolmogorov-Smirnov.Uji homogenitas menggunakan nilai kelas VIII 8 dan VIII 10 mendapatkan hasil yang homogen, yaitu dengan rentang angka 0,241 dengan menerapkan teknik Levene’s Test of Equality of Error Variance, dan Uji Sampel t test menggunakan nilai kelas VIII 8 dan VIII 10 mendapatkan hasil yaitu 0,915berarti tidak ada perbedaan antara nilai kelas VIII 8 dan VIII 10.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil tes proses kognitif, afektif dan psikomotor. Metode tes merupakan cara memperoleh data yang berbentuk suatu tugas yang dikerjakan oleh seseorang atau sekelompok orang yang di tes (testee), dan dari tes tersebut dapat menghasilkan suatu skor interval (Agung, 2014:92). Dalam penelitian ini validitas yang digunakan adalah face validity atau validitas rupa, dimana Jenis validitas ini berbeda dengan jenis-jenis validitas lainnya. Validitas rupa tidak menunjukkan apakah alat pengukur mengukur apa yang ingin diukur, namun hanya menunjukkan bahwa dari segi rupanya suatu alat ukur tampaknya mengukur apa yang ingin diukur.Validitas ini sangat penting dalam pengukuran kemampuan individu, seperti pengukuran kecerdasan, bakat, dan keterampilan.

(7)

Sebelum dilakukan pengujian untuk mendapatkan simpulan, data yang diperoleh perlu diuji normalitas dan homogenitasnya. Uji normalitas digunakan untuk menentukan data dalam kelompok sampel berdistribusi normal atau tidak.Apabila data berdistribusi normal, maka uji hipotesis dapat dilakukan. Pengujian normalitas sebaran data dengan menerapkan teknik Kolmogorov-Smirnovdengan taraf signifikansi 0,05. Uji Kolmogorov-Smirnov dapat digunakan untuk sampel besar maupun sampel kecil dan berupa data interval. Hipotesis statistika yang digunakan adalah sebagai berikut.

𝐻0:data hasil belajar passing bola voli (passing atas dan passing bawah) siswa berasal dari populasi yang berdistribusi normal

𝐻1:data hasil belajar passing bola voli (passing atas dan passing bawah) siswa berasal dari

populasi yang tidak

berdistribusi normal

Apabila diperoleh p>0,05 maka 𝐻0 yang menyatakan data berasal dari subjek yang berdistribusi normal dapat diterima. Uji homogenitas dilakukan untuk memperlihatkan bahwa data pemahaman hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dan model pembelajaran konvensional memiliki varian yang sama atau tidak. Uji homogenitas varian antara kelompok belajar juga digunakan untuk memastikan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis memang benar akibat adanya

perbedaan dalam kelompok. Uji

homogenitas varian antar kelompok menggunakan Levene’s Test of Equality of Error Variance.

Kriteria pengujian yang digunakan adalah apabila angka signifikansi yang diperoleh lebih besar dari 0,05 maka data memiliki varian yang sama (homogen). Sedangkan jika angka signifikasi yang diperoleh lebih kecil dari 0,05 maka varian sampel tidak sama (tidak homogen). Jika dari hasil uji normalitas dan homogenitas

varians, diketahui bahwa data

berdistribusi normal dan variansnya

homogen maka untuk menguji

hipotesisnya digunakan Independent Sample T-test dengan taraf signifikansi 5%, kriteria pengujian passing bola basket H0 jika >0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data tentang hasil belajar teknik dasar passing bola voli diperoleh melalui tes untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data yang dianalisis adalah skor post-test dikurangi pre-test. hasil belajar teknik dasar passing atas dan passing bawah kelompok eksperimen dengan jumlah 31 orang dan kelompok kontrol dengan jumlah 32 orang diperoleh rata-rata nilai prestest kelompok eksperimen 73.09 sedangkan kelompok kontrol 73.15. Rata-rata nilai posttest pada kelompok eksperimen adalah 80.37 sedangkan kelompok kontrol 78.98.

Kemudian untuk membandingkan

peningkatan kedua kelompok tersebut dengan cara nilai posttest dikurangi dengan nilai pretest dan hasilnya didapatkan peningkatan masing-masing

kelompok adalah pada kelompok

eksperimen mengalami peningkatan nilai sebesar 7.28 (7,28%) sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan nilai sebesar 5.83 (5,83%). Sehingga dapat disimpulkan peningkatan yang lebih signifikan terdapat pada kelompok eksperimen dengan kenaikan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebelum uji hipotesis dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pengujian prasyarat terhadap sebaran data yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians. Berikut ini diuraikan mengenai hasil pengujian normalitas sebaran data dan homogenitas varian terhadap hasil belajar teknik dasar passing bola voli.

Pengujian normalitas sebaran data dilakukan untuk meyakinkan bahwa subjek penelitian berdistribusi normal. Untuk mengetahui normalitas sebaran data digunakan rumus Kolmogorov-Smirnov pada signifikansi 0,05. Jika p> 0,05 data berdistribusi normal, sebaliknya jika p< 0,05 data tidak berdistribusi normal. terlihat bahwa untuk semua

(8)

kelompok signifikansi pada uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05. Dengan demikan maka semua sebaran data berdistribusi normal (p=2.00).

Uji homogenitas varian dilakukan dengan pengelompokan berdasarkan model pembelajaran, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan model pembelajaran konvensional. Uji homogenitas varians antar kelompok dilakukan dengan bantuan SPSS 23.00 for Windows dengan menggunakan Levene’s Test Of Equality Error Variance. hasil uji Levene’s menunjukkan bahwa untuk hasil belajar teknik dasar passing bola voli siswa harga F= 3.946 dengan taraf signifikansi 0,052. Bila ditetapkan taraf signifikansi 0,05 maka harga F tidak signifikan karena lebih besar dari taraf signifikansi yang ditetapkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa variansi pada setiap kelompok adalah sama (homogen).

Hipotesis penelitian yang telah dikemukakan dalam kajian pustaka menyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar teknik dasar passing bola voli

pada siswa yang dibelajarkan

menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe NHT dengan siswa yang

dibelajarkan menggunakan model

pembelajaran konvensional. Pengujian hipotesis menggunakan uji t dengan bantuan SPSS 23.00 for Windows. Data yang dianalisis adalah skor post-test dikurangi pre-test. diperoleh nilai t = 4.941 dan nilai signifikansinya = 0.000. Hasil ini dijadikan dasar dalam mengambil keputusan. Adapun keputusan yang diambil adalah tolak Ho dan terima Ha. Hasil ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar teknik dasar passing bola voli antara siswa yang

dibelajarkan menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran konvensional. Oleh Karena nilai signifikan 0,000 maka p< 0,05 jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh terhadap hasil belajar passing bola voli siswa.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat perbedaan hasil

belajar teknik dasar passing bola voli siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional, ini berarti model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh terhadap hasil belajar teknik dasar passing bola voli siswa.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh sangat signifikan (p<0,01) terhadap peningkatan hasil belajar teknik dasar passing (passing atas dan passing bawah) bola voli pada siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Banjar tahun pelajaran 2016/2017.

DAFTAR PUSTAKA

Budhiarta, I Made Danu. 2008. Teori Praktek Permainan Bola Voli Dan Bola Voli Pantai. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha. Candiasa, I Made. 2010. Pengujian

Instrumen Penelitian Disertai Aplikasi ITEMAN dan BIGSTEPS. Singaraja : Universitas Pendidikan Ganesha.

---, 2010. Statistik Univariat dan Bivariat Disertai Aplikasi SPSS. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Departemen Pendidikan Nasional, 2006. Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pedidikan Jasmani. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Dimiyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Edi Yasmika, I Komang.2016. “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran

(9)

Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Teknik Dasar Passing Sepak Bola pada Siswa Kelas XI Jasa Boga Smk Pariwisata Triatma Jaya Singaraja Tahun Pelajaran 2015/2016”. Tersedia pada http://ejournal. undiksha.ac.id/index.php/jurnal- pendidikan-jasmani/article/view/9967. Diakses pada 5 November 2016.

Hanafiah, N. dan Suhana, C. 2009. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung; Refika Aditama.

Husdarta, 2009. Manajemen Pendidikan Jasmani. Bandung: Alfabeta. Ibrahim dkk. 2000. Pembelajaran

Kooperatif. Surabaya: University Press.

Khan, S. A. 2011. The effect of cooperative learning on academic achievement of low achievers in english. Language In India. 11, 232-243, 1930-2940. Tersedia pada

http://www.languageinindia.com.

Diakses pada 5 November 2016. Kanca, I Nyoman. 2010. Metodologi

Penelitian Pengajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Singaraja : Universitas Pendidikan Ganesha. Nurhadi dkk, 2004. Pembelajaran

Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

Nuril, Ahmadi 2007. Panduan Olahraga Bola Voli.Solo:Pustaka Utama. Pramulia, Yetti Marisa. 2014. “Pengaruh

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together

(NHT) Terhadap Hasil Belajar Chest Pass Bola Basket (Studi Pada Siswa Kelas X SMKN 10 Surabaya)”. Tersedia pada

http://ejournal.unesa.ac.id/index.ph p/jurnal-pendidikan-jasmani/article/

view/9967 Vol 2, No 2 (diakses

pada 5 November 2016).

Santiana, Ni Luh Putu Murtita. 2014. ”Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas V

Sekolah Dasar di Desa

Alasangker”. Tersedia pada

http://download.portalgaruda.org./a rticle.php?article=304207&val= 1342&tipeVol 2, No 2 (diakses pada 5 November 2016).

Santyasa, I W. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Buku Ajar (tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikian Fisika, Fakultas MIPA, IKIP Negeri Singaraja.

Santyasa, I Wayan dan Sukadi. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Sari, Pratama Sabrina.2014. “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Terhadap Hasil Belajar Passing Bawah Bola Voli (Studi Pada Siswa Kelas X TPM 1 SMK PGRI 2 Kota Pasuruan)” Tersedia

pada Tersedia pada

http://ejournal.unesa.ac.id/index.

php/jurnal-pendidikan-jasmani/article/view/9967Vol 2, No

2 (diakses pada 5 November 2016).

(10)

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sunarto. 2009. Pengertian Prestasi belajar. Makalah. Tersedia pada

http://www.sunartombs.wordpress. com diakses pada 5 November 2016.

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar. Suryosubroto, B. 2002. Proses Belajar

Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktif.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :