SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.) Program Studi Farmasi

105  Download (0)

Teks penuh

(1)

Istimewa Yogyakarta Bulan Mei – Juni 2007

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Diajukan oleh :

Yohanes Darmawan

998114095

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

(2)

Gambaran Penyalahgunaan Obat Triheksifenidil Pada

Anak-anak Jalanan Kawasan Jalan Malioboro di Daerah Istimewa

Yogyakarta Bulan Mei – Juni 2007

Yang diajukan oleh:

Yohanes Darmawan

NIM : 998114095

Telah disetujui oleh :

Pembimbing

Yosef Wijoyo, M. Si., Apt

(3)
(4)

Kupersembahkan karya kecil & sederhana ini kepada: Bapa di surga, juga Tuhan Yesus dan Bunda Maria Ibuku, Bapakku, kakakku, cintaku, dan Sahabat – sahabat yang selalu setia dalam proses hidupku

Terimakasih, sudah mengajari aku cinta,

karena Engkau datang ke dunia untuk mencintai manusia

Terimakasih, sudah mengajariku untuk rendah hati,

karena Engkau datang ke dunia untuk melayani

Terimakasih sudah mengajariku untuk memaafkan,

karena Engkau sendiri tidak pernah menghitung dosaku

Terimakasih sudah mengajariku untuk setia,

karena Engkau sendiri tidak pernah meninggalkanku

Jejak kaki memang hanya sepasang di atas pasir

karena saat itu aku berada dalam gendongan-Mu

Selalu sedih melihat air mataku

Selalu hadir menyapa

Walau aku meninggalkan dan memusuhi

Menyediakan bahu untuk bersandar,

ketika aku lelah menghadapi dunia ini

Terimakasih karena telah sudi menjadi sahabatku

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak

memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan

dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, Oktober 2007

Penulis,

Yohanes Darmawan

(6)

Yang bertandatangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Yohanes Darmawan

Nomor Mahasiswa : 998114095

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

Gambaran Penyalahgunaan Obat Triheksifenidil pad Anak-anak Jalanan Kawasan Jalan Malioboto adi Daerah Istimewa Yogyakarta Bulan Mei – Juni 2007

beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 15 Februari 2008

Yang menyatakan,

(7)

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran penyalahgunaan obat triheksifenidil pada komunitas anak-anak jalanan di wilayah Malioboro yang terpusat di depan Benteng Vredenburg. Metode penelitian ini menggunakan metode accidental sampling mengingat keterbatasan jumlah anak-anak jalanan yang dapat bekerja sama terbatas jumlahnya.

Pengisian kuisioner dilakukan oleh 50 responden dari 120 anak-anak jalanan yang masih aktif menyalahgunakan triheksifenidil dan setiap hari “eksis” atau berada di wilayah tersebut. Sebanyak 33 responden (66%) adalah laki-laki dan 17 responden (34%) perempuan dimana 46% dari 50 responden adalah remaja (13-18 tahun) dengan usia termuda 8 tahun. Triheksifenidil diperoleh dengan harga Rp 10.000,00 – Rp 15.000,00 per butir dari hasil mengamen (70 %). 70% dari responden mengkonsumsi triheksifenidil tersebut bersama dengan teman (biasanya bersama alkohol), hal tersebut dapat menandakan betapa kuatnya pengaruh sosial akan perilaku responden. Efek dari triheksifenidil yang responden harapkan adalah fly (40%), dan tenang (34%). Selain triheksifenidil, sebanyak 22 responden menyalahgunakan obat lain seperti haloperidol, dextroamfetamin, lexotan, dan sebagainya.

Triheksifenidil merupakan jenis obat keras yang dapat menimbulkan ketergantungan secara psikis tetapi triheksifenidil tidak masuk kedalam psikotropika tetapi merupakan obat keras yang sering disalahgunakan. Tanpa pengetahuan yang cukup, formal maupun informal, tindakan penyalahgunaan obat akan terus terjadi. Meski jumlah anak-anak jalanan di Yogyakarta yang menyalahgunakan obat-obatan masih relatif sedikit, namun komunitas ini perlu diperhatikan karena akan mempengaruhi lingkungan sekitarnya dan dapat memperbesar jumlah penyalahguna obat-obatan yang telah ada.

Kata kunci : triheksifenidil, anak-anak jalanan, penyalahgunaan obat.

(8)

ABSTRACT

The objective of this research is to find out the description of the drugs abused among on the street children community. in Malioboro, especially in front of Vredenburg Fort.

There are 50 respondents from 150 street children of Vredeburg Fort which still active using trihexyfenidyl. The method used in this research is accidental sampling since there are only a few street children who can cooperate. According the questionnaire given, the results are 33 respondents (66 %) are male and 17 respondents (34 %) are female in which 46 % from 50 respondents are teenagers (13-18 years old) with 8 years old children as the youngest respondent. From the questionnaire, it is known that 70 % of the respondent buy trihexyphenidyl Rp. 10.000 up to Rp. 15.000 / tablet. The result of lack of knowledge and information about trihexyphenidyl leads the user to consume it frequently without knowing its side effect. Around 70 % of the respondents consume trihexyphenidyl altogether with their friends when they drink alcohol which shows the strong influence of friends and environment in case of drugs abused. There are several trihexyphenidyl effects expected by the user: “fly” / feel free (40 %) and calm (34 %). Beside trihexyphenidyl, 22 respondents abused other type of drugs such as haloperidol , dextroamfetamin, lexotan, and etc.

Lack of knowledge, either formal or informal will raise the abused of psikotropic.

Although only a few of street children who abused drugs, however, the attention given to this community is needed. Since, it will affect not only the surround community but also increase the number of drugs abused.

Key words :trihexyphenidyl, street children community of Vredeburg Fort , drugs-abused.

(9)

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang setia

menuntun dan menemani sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang

berjudul “Gambaran Penyalahgunaan Obat Triheksifenidil Pada Anak-anak Jalanan

Kawasan Jalan Malioboro di Daerah Istimewa Yogyakarta Bulan Mei – Juni 2007”

disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Farmasi

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat

kekurangan karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan menulis. Oleh karena itu

penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Tersusunnya skripsi ini

tidak terlepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. Penulis mengucapkan banyak

terima kasih kepada:

1. Orang tuaku, perpanjangan tangan Tuhan, yang tak henti-hentinya berdoa dan selalu

memberikan semangat juga kasih sayang sehingga penulis mampu menyelesaikan

babak-babak dalam kehidupan penulis.

2. Ibu Rita Suhadi, M.Si., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta dan sebagai dosen penguji yang telah memberikan banyak

masukkan dalam penulisan skripsi ini.

3. Bapak Yosef Wijoyo, M. Si., Apt., selaku dosen pembimbing utama yang telah sabar

dan mau menyediakan waktu dan tenaga untuk berdiskusi serta memberi saran dan

masukan dalam penyusunan skripsi ini.

(10)

5. Bapak Ir. Aris Dwiatmaka, M.Sc., yang telah banyak membantu dalam metodologi

penelitian.

6. Esti, yang selalu mendukung tanpa ragu-ragu dan telah mengajarkan artinya cinta,

pengorbanan, dan kehidupan.

7. Teman-teman dan sahabat anak-anak jalanan di kawasan Jalan Malioboro bagian

Selatan yang mau meluangkan waktu untuk mengisi kuisioner yang penulis ajukan.

8. Semua kakakku, Theresia, Joko, Tri, dan Iin, yang tak putus-putusnya berdoa dan

mendukung penulis dalam perjuangan hidup.

9. Ibu Kartini, sebagai ibu yang sabar dan selalu percaya pada penulis.

10. Samsul, Budi, Cecep, Ega, Rolex, dan Gus Dur, yang mau berjuang untuk membantu

penulis dalam penyebaran kuisioner dan pengambilan data.

11. Sahabat dan teman seperjuangan, adik-adik angkatan Fakultas Farmasi, terima kasih

atas energi yang diberikan selama ini.

12. Heri, Gendut, Kobo, Nowo, Rio yang walaupun enggan tetap mau membantu penulis.

13. Anak-anak kost “Uh…Ah…”, Dwi, Eri, dan Danang yang selalu membukakan pintu

depan bila penulis datang larut malam.

14. Si-Mbok dan Pak’e yang selalu memberikan semangat.

15. Teman-teman “Kopi Joss” Tugu yang menjadi sahabat dan hampir setiap malam

berproses bersama penulis.

16. Semua pihak yang telah banyak membantu dan tidak dapat penulis sebutkan satu

persatu, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

(11)

bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, Oktober 2007

Penulis

(12)

Hal

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

INTISARI ………. vi

ABSTRACT ……… vii

PRAKATA ……….. viii

DAFTAR ISI ……… xi

DAFTAR TABEL ……… xv

DAFTAR GAMBAR ……… xvi

DAFTAR LAMPIRAN ……… xvii

BAB I. PENGANTAR ……… 1

A. PERMASALAHAN ……… 4

B. TUJUAN PENELITIAN ………. 4

C. MANFAAT PENELITIAN ……….. 4

1. Manfaat Teoritis ………. 4

2. Manfaat Praktis ……… 5

D. KEASLIAN PENELITIAN ……… 5

(13)

1. Teori Aksi Max Weber ………. 6

2. Teori Adopsi Inovasi Rogers ……… 8

3. Teori Perilaku Lawrence Green ……….. 10

B. Anak-anak Jalanan ……….. 12

C. Saraf ……… 14

1. Jalannya rangsang pada sel saraf ……….. 15

2. Sistem saraf menurut fungsi ………. 16

D. Psikotropika ……… 18

1. Definisi psikotropika ……….. 18

2. Penggolongan psikotropika berdasarkan UU RI nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika ……… 19

3. Penggolongan psikotropika menurut kegunaan ……… 20

E. Antikolinergik ……… 25

1. Definisi ……….. 25

2. Farmakodinamik ……… 25

3. Farmakokinetik ……… 26

4. Efek terapi ……… 26

5. Efek samping ……… 27

F. Perilaku Penyalahgunaan Obat-obatan ……… 28

G. Penyalahgunaan Psikotropika ……… 31

1. Definisi penyalahgunaan psikotropika ………. 31

(14)

H. Keterangan Empiris ……… 32

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……… 33

A. Jenis dan Rancangan ……… 33

B. Batasan Operasional ……… 33

C. Subyek dan Tempat ………. 34

D. Teknik Sampling ………. 34

E. Instrumen Penelitian ……… 35

F. Tata Cara Penelitian ……… 35

1. Analisis situasi ……… 35

2. Wawancara ………. 35

3. Membuat kuisioner yang dibutuhkan ………. 36

4. Menentukan besar sampel ………. 36

G. Cara pengambilan sampel ………. 38

H. Pengumpulan dan analisis data ……… 38

I. Pengambilan kesimpulan ……… 39

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ………. 40

A. Gambaran Umum Pengambilan Data ……….. 40

1. Perhitungan jumlah sampel ……… 40

2. Pelaksanaan pengambilan data ……….. 41

(15)

2. Jumlah responden berdasar usia dan pendidikan terakhir

dari responden ……… 43

C. Gambaran Penyalagunaan Triheksifenidil pada Responden ……….. 46

1. Frekuensi penyalahgunaan triheksifenidil ……… 46

2. Frekuensi pengkonsumsian triheksifenidil dalam sehari ………… 47

3. jumlah maksimal Triheksifenidil yang dikonsumsi dalam sekali minum ……….. 48

4. Asal dan harga Triheksifenidil yang diperoleh responden ……… 50

5. Sumber dana anak-anak jalanan untuk membeli Triheksifenidil … 53 6. Alasan dan tujuan responden menyalahgunakan triheksifenidil … 55 7. Pengetahuan responden akan efek yang ditimbulkan dan sumber pengetahuan akan obat yang dikonsumsi ……….. 56

8. Pengaruh lingkungan dan teman sesama anak-anak jalanan pada penyalahgunaan triheksifenidil ……… 59

9. Over dosis Triheksifenidil pada responden ……… 60

10. Penyalahgunaan obat yang lain selain triheksifenidil ……… 61

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ………. 64

A. Kesimpulan ……….. 64

B. Saran ………. 66

DAFTAR PUSTAKA ……… 67

LAMPIRAN ……… 70

(16)

Hal

Tabel 1. Tabel Fungsi Saraf Otonom……… 17

Tabel 2. Penggolongan Obat Psikotropika ………... 22

Tabel 3. Obat Antikolinergik Sentral……… 28

Tabel 4. Jumlah responden di depan Benteng Vredenburg berdasarkan jenis

kelamin pada bulan Mei-Juni 2007 ……….. 43

Tabel 5. Frekuensi penyalahgunaan triheksifenidil pada responden di depan

Benteng Vredenburg pada bulan Mei-Juni 2007 ……….. 47 Tabel 6. Banyaknya triheksifenidil sekali minum pada responden di depan

Benteng Vredenburg pada bulan Mei-Juni 2007 ……….. 49

Tabel 7. Tabel harga tiap butir triheksifenidil pada bulan Mei-Juni 2007 di

depan Benteng Vredenburg ……….. 51

Tabel 8. Tabel sumber dana responden di depan Benteng Vredenburg untuk

membeli Triheksifenidil pada bulan Mei-Juni 2007 ……… 53 Tabel 9. Pengetahuan responden di depan Benteng Vredenburg akan efek

triheksifenidil bulan Mei-Juni 2007 ………... 57

Tabel 10.Pengetahuan responden di depan Benteng Vredenburg akan efek

samping yang ditimbulkan pada bulan Mei-Juni 2007 ……… 57

Tabel 11.Narasumber pengetahuan responden di depan Benteng Vredenburg akan triheksifenidil bulan Mei-Juni 2007 ………. 58

Tabel 12.Konsumsi obat lain selain triheksifenidil pada responden di depan

Benteng Vredenburg pada bulan Mei-Juni 2007 ……….. 62 Tabel 13.Nama-nama obat yang pernah digunakan oleh responden di depan

Benteng Vredenburg selain triheksifenidil bulan Mei-Juni 2007…… 63

(17)

Hal

Gambar 1. Teori Aksi Weber dan Teori Aksi Parsons ………. 7

Gambar 2. Proses adopsi inovasi Rogers ……….. 8

Gambar 3. Struktur kimia triheksifenidil ……….. 25

Gambar 4. Jumlah responden di depan Benteng Vredenburg bedasarkan usia

pada bulan Mei-Juni 2007 ……….. 45

Gambar 5. Tingkat pendidikan responden di depan Benteng Vredenburg pada

bulan Mei-Juni 2007 ……….. 45

Gambar 6. Frekuensi pengkonsumsian triheksifenidil pada responden di depan

Benteng Vredenburg dalam satu hari pada bulan Mei-Juni 2007… 48

Gambar 7. Sumber dana untuk mendapatkan triheksifenidil pada responden di depan Benteng Vredenburg pada bulan Mei-Juni 2007 …………. 50

Gambar 8. Alasan dan tujuan responden di depan Benteng Vredenburg dalam

penyalahgunaan triheksifenidil bulan Mei-Juni 2007 ………….... 56

Gambar 9. Pengaruh lingkungan pada responden di depan Benteng Vredenburg

akan perilaku penyalahgunaan triheksifenidil bulan Mei-Juni 2007 60

gambar 10. Banyaknya responden di depan Benteng Vredenburg yang pernah

over dosis triheksifenidil pada bulan Mei-Juni 2007 ………. 61

(18)

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian Badan Perencanaan Daerah (BAPEDA)

Yogyakarta ... 71

Lampiran 2. Surat Ijin Penelitian Dinas Perijinan Pemerintah Kota Yogyakarta ... 72

Lampiran 3. Kuisioner Penelitian ... 73

Lampiran 4. Pengolahan Data ... 75

Lampiran 5. Wawancara Dengan Anak-anak Jalanan ... 79

Lampiran 6. Riwayat Hidup Penulis ... 84

(19)

BAB I

PENGANTAR

Masalah penyalahgunaan obat keras, narkotika, psikotropika, dan zat

adiktif lainnya atau yang lebih dikenal sebagai Napza telah mencapai tingkat yang

mengkhawatirkan. Beberapa tahun silam Napza masih dikonsumsi oleh kalangan

tertentu saja, tetapi sekarang telah mulai dikonsumsi baik kalangan atas seperti

artis, pejabat, maupun orang-orang ditingkat ekonomi rendah.

Maraknya peredaran dan penyalahgunaan obat-obat keras, narkotika,

psikotropika, maupun zat adiktif lainnya telah menjadi masalah yang serius dan

menjadi masalah nasional yang perlu ditangani secara khusus oleh pemerintah,

baik di pemerintah pusat maupun di daerah terutama pada penyalahgunaan

obat-obat keras selain psikotropika yang dapat mempengaruhi sistem saraf sehingga

dapat mengubah perilaku dan menyebabkan ketergantungan. Obat-obat keras yang

menyebabkan ketergantungan tersebut harganya relatif lebih murah daripada

narkotika atau psikotropika, tetapi mempunyai efek yang mirip dengan

psikotropika (Anonim, 2007a).

Hal penyalahgunaan obat-obatan ini tidak lagi terbatas pada golongan

tertentu melainkan telah masuk kemasyarakat dari semua kalangan dengan

berbagai tingkat usia maupun tingkat sosial ekonomi. Masalah ini telah merambah

masuk ke daerah-daerah dan tak terkecuali Daerah Istimewa Yogyakarta yang

mendapat predikat kota pelajar dan kota pariwisata. Dari berbagai kalangan yang

ada di Yogyakarta, yang sangat potensial terlibat dalam penyalahgunaan

(20)

obatan adalah kalangan remaja dimana masa remaja yang identik dengan serba

ingin tahu, ingin mengekplorasi diri, ingin bebas, pencarian jati diri, keinginan

untuk mencoba hal-hal yang baru, dan sebagainya (Atmaja, 2007).

Tidak terkecuali anak-anak jalanan yang hidup di pinggir-pinggir kota

Yogyakarta, sebuah “sisi gelap” yang mungkin kita tidak sadari, anak-anak

jalanan yang hidup di jalanan kota Yogyakarta mempunyai usia rata-rata remaja.

Sebuah sisi yang terkadang, atau bahkan sering lepas dari pengamatan kita

bahwa anak-anak jalanan yang rata-rata berusia remaja (12 – 22 tahun) adalah

masyarakat yang paling rentan akan maraknya praktek penyalahgunaan

obat-obatan, karena justru tanpa pengawasan yang terpadu akan membentuk sebuah

kebebasan yang tak terkendali (Permadi, 1997).

Anak-anak jalanan remaja yang sebagian besar waktunya terjun dan hidup

di jalanan, merupakan sebuah fenomena hidup kita sehari-hari yang hampir atau

bahkan tidak pernah kita pikirkan keberadaannya, kemungkinan terbesarnya

menjadi sangat rentan terhadap masalah penyalahgunaan obatan baik

obat-obat yang dijual bebas, obat-obat-obat-obat keras, maupun Napza yang mudah diperoleh

dari transaksi gelap (Atmadja, 2007).

Meningkatnya jumlah anak-anak yang hidup di jalan dapat dikatakan

seiring dengan meningkatnya pembangunan beberapa sektor di kota Yogyakarta.

Masalah meningkatnya jumlah anak-anak jalanan di kota Yogyakarta ini juga

sejalan dengan bertambah kompleksnya masalah dari kota Yogyakarta itu sendiri,

salah satu masalah yang timbul adalah masalah penyalahgunaan obat-obat keras

(21)

Apabila kita cermati, penyalahgunaan obat diluar tujuan medis tanpa

adanya pengawasan dokter terjadi berulang kali secara teratur dan dalam jumlah

berlebihan sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan, pendidikan,

maupun dalam kehidupan sosial. Penyalahgunaan obat amat sangat berbeda

dengan penggunaan obat dalam penggunaan medis, karena dalam penggunaan

medis terdapat petunjuk yang jelas mengapa obat tersebut digunakan untuk

mengobati penyakit (Joewana, 2000).

Penyalahgunaan obat-obatan, baik obat-obat keras maupun jenis

psikotropika pada anak-anak jalanan terutama pada anak-anak jalanan di kota

Yogyakarta yang terpusat di Benteng Vredenburg di jalan Malioboro mempunyai

tujuan yang bervariasi, antara lain dengan tujuan ingin mencoba, ingin diakui di

dalam kelompoknya, mencari kesenangan dan hiburan, untuk melepaskan diri dari

permasalahan yang berat, hingga pada akhirnya sampai pada taraf intensif atau

teratur dimana seseorang telah tergantung pada obat-obatan secara fisik dan

mental. Obat-obatan yang banyak dan sering dikonsumsi anak-anak jalanan di

depan Benteng Vredenburg kota Yogyakarta adalah obat triheksifenidil yaitu jenis

obat keras yang mempunyai efek pada sistem saraf otonom, karena obat jenis ini

relatif lebih murah daripada narkotika tetapi mempunyai efek yang hampir sama

dengan narkotika.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi penyalahgunaan

obat-obatan pada anak-anak jalanan di kota Yogyakarta, salah satunya adalah

upaya pencegahan. Upaya ini dilakukan untuk mengubah sikap perilaku dan cara

(22)

menyalahgunakan obat golongan psikotropika maupun obat lainnya serta

melakukan tindak pidana dari perdagangan dan pengedarannya secara gelap

(Anonim, 2007b).

A. Permasalahan

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan

masalah penelitian sebagai berikut :

Seperti apakah karakteristik dan gambaran dari tindakan penyalahgunaan

obat triheksifenidil pada anak-anak jalanan di kawasan Malioboro yang terpusat di

depan Benteng Vredenburg ?

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai penelitian awal untuk mengetahui

karakteristik dan gambaran dari penyalahgunaan obat keras jenis triheksifenidil

dikalangan anak-anak jalanan di kota Yogyakarta.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Manfaat teoritis yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai

langkah awal untuk mengetahui karakteristik dan gambaran dari penyalahgunaan

obat keras jenis triheksifenidil dikalangan anak-anak jalanan daerah Benteng

(23)

2. Manfaat praktis

Manfaat secara praktisnya adalah sebagai sebuah acuan akan penelitian

lebih lanjut berkenaan dengan tingkat edukasi atau pengetahuan akan manfaat dan

bahaya obat yang dikonsumsi dikalangan anak-anak jalanan, maupun penelitian

sosial yang berkaitan dengan anak-anak jalanan dan permasalahannya.

D. Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian telah dilakukan berkaitan dengan permasalahan

NAPZA, seperti “Profil Penyalahgunaan NAPZA di Jakarta, Bandung, dan

Surabaya”, dan penelitian tentang “Jumlah Pecandu Narkoba disebuah Universitas

Swasta di Jakarta”. Namun sejauh pengetahuan penulis, belum pernah dilakukan

penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran dari penyalahgunaan

triheksifenidil dikalangan anak-anak jalanan di depan Benteng Vrendenburg kota

(24)

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Perilaku Masyarakat

Perilaku masyarakat pengguna obat dapat juga disebut perilaku

konsumen. Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan

individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan

barang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada

persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Sarwono, 1989).

Beberapa faktor di dalam perilaku yang dapat mempengaruhi individu

untuk mengambil keputusan, menurut McLeish (1986), faktor internal dan faktor

eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam individu itu

sendiri yang terdiri dari motivasi, pengamatan, pembelajaran, kepribadian, dan

konsep diri, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar

individu itu sendiri, terdiri dari kebudayaan, adanya perbedaan tingkat sosial,

keluarga, pergaulan, maupun yang bersifat hasutan.

1. Teori Aksi Max Weber

Max Weber mengembangkan teori aksi, yang populer disebut sebagai

teori bertindak. Webber berpendapat bahwa individu melakukan suatu

tindakan berdasarkan pengalaman, persepsi, pemahaman, dan penafsiran atas

suatu obyek stimulus atau situasi tertentu (Sarwono, 1989). Teori ini terus

dikembangkan oleh Parsons bersama Talcott yang menyatakan bahwa aksi

(25)

merupakan respons mekanik terhadap suatu stimulus bukan perilaku,

sedangkan perilaku adalah suatu proses mental yang aktif dan kreatif. Menurut

Parsons, yang utama bukanlah tindakan individu, melainkan norma-norma dan

nilai-nilai sosial yang menuntun dan mengatur perilaku (Sarwono, 1989).

Gambar 1. Teori Aksi Weber dan Teori Aksi Parsons (Sarwono, 1989)

Kondisi obyektif disatukan dengan komitmen kolektif terhadap suatu

nilai akan mengembangkan suatu bentuk tindakan sosial tertentu. Parsons

melihat bahwa tindakan individu dan kelompok dipengaruhi oleh tiga sistem,

yaitu sistem sosial, sistem budaya, dan sistem kepibadian dari masing-masing

individu. Keterkaitan individu dengan sistem sosialnya melalui status dan

peranannya. Individu menduduki suatu tempat tertentu dalam setiap sistem

sosial dan akan bertindak sesuai dengan norma atau aturan yang berlaku yang

dibuat oleh sistem aturan tersebut, serta perilaku individu ditentukan pula oleh

(26)

2. Teori Adopsi Inovasi Rogers

Di dalam masyarakat modern, selain adopsi perilaku, terdapat pula

proses perubahan perilaku. Perubahan perilaku tersebut dapat disebabkan oleh

adanya sesuatu gagasan baru yang diperkenalkan kepada individu dan yang

diharapkan untuk diterima oleh individu tersebut. Teori ini dikenal sebagai

innovation decision process. Terdapat lima tahap dalam proses ini, yaitu

mengetahui atau menyadari tentang adanya ide baru (awareness), menaruh

perhatian terhadap ide tersebut (evaluation), mencoba memakainya (trial), dan

bila menyukainya maka setuju untuk menerima ide atau hal baru tersebut

(adoption).

Pengetahuan

Keputusan

pertimbangan

Diterima (adopsi)

Penguatan Tetap adopsi

Ditolak

Ditolak

Tetap ditolak

Adopsi

Gambar 2. Proses adopsi inovasi Rogers ( Sarwono, 1989)

Teori ini terus dikembangkan oleh Rogers dengan melakukan

pengamatan di lapangan. Penelitian di lapangan serta penelitian mengenai

(27)

adopsi tidaklah berhenti setelah suatu inovasi diterima atau ditolak. Kelak

dapat berubah sebagai akibat dari pengaruh llingkungannya. Oleh karena itu

Rogers mengubah teori itu dan membagi proses pembuatan keputusan menjadi

empat tahap, yaitu :

1. Tahap knowledge

Mula-mula individu menerima informasi dan pengetahuan yang

berkaitan dengan suatu ide baru, hal ini menimbulkan minat untuk

mengenal lebih jauh tentang obyek atau topik yang baru dikenal dan fase

ini dipengaruhi oleh petugas kesehatan.

2. Tahap persuasion

Untuk membujuk atau meningkatkan motivasi individu guna

bersedia menerima obyek atau topik yang diajukan tersebut, tergantung

daripada hasil persuasi petugas atau pendidik kesehatan.

3. Tahap decision

Pada tahap ini, dibuatlah keputusan untuk menerima atau justru

menolak ide tersebut. Namun sebaliknya, petugas kesehatan tidak cepat

merasa puas jika suatu ide diterima.

4. Tahap confirmation

Pada tahap ini individu telah memasuki sebuah proses penguatan

(confirmation), yaitu meminta dukungan dari lingkungan atas keputusan

yang telah diambil tersebut. Bila lingkungan memberikan respon positif /

(28)

dipertahankan. Sedangkan bila bila ada keberatan dan kritik dari

lingkungan, terutama dari kelompok acuannya, maka biasanya adopsi itu

tidak jadi dipertahankan dan individu akan kembali lagi pada perilaku

semula (Sarwono, 1989).

3. Teori Perilaku Lawrence Green

Lawrence mencoba untuk menganalisis perilaku manusia dari tingkat

kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua faktor

pokok, yakni faktor perilaku (behavior causes), dan faktor dari luar perilaku

(non behavior causes). Faktor perilaku itu sendiri terbentuk dari tiga faktor :

1. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam

pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai-nilai, dan sebagainya.

2. Faktor-faktor pendukung (enabling factor), yang terwujud dalam

lingkungan fisik, tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas dan atau

sarana-sarana kesehatan seperti Puskesmas, obat-obatan, alat-kontrasepsi, jamban,

dan sebagainya.

3. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor), yang terwujud dalam sikap

dan perilaku petugas kesehatan yang secara langsung merupakan

kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

(Sarwono, 1989)

Pada dasarnya pemilihan-pemilihan perilaku yang ingin dan atau telah

diadopsi oleh setiap individu pasti melewati tahap-tahap penilaian secara pribadi.

(29)

perilaku, yaitu :

a. Motivasi

Motivasi adalah dorongan yang bertindak untuk memuaskan suatu

kebutuhan, dorongan ini diwujudkan dalam bentuk tindakan atau perilaku.

Motivasi tersebut timbul karena adanya suatu kebutuhan atau keinginan yang

harus dipenuhi. Keinginan tersebut akan mendorong individu untuk

melakukan suatu tindakan agar tujuannya tercapai (Sarwono, 1989).

Motivasi juga dapat diartikan sebagai suatu dorongan kebutuhan dan

keinginan individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan.

Sumber yang mendorong terciptanya suatu kebutuhan tersebut dapat berasal

dari dalam individu sendiri atau dari lingkungan sekitarnya (McLeish, 1986).

b. Pengetahuan

Pengetahuan sebagai unsur-unsur yang mengisi akal dan alami jiwa

seseorang yang sadar, yang secara nyata terkandung di dalam otaknya.

Pengetahuan akan menimbulkan suatu gambaran, persepsi, konsep, dan fantasi

akan berbagai hal yang diterima dari lingkungan melalui panca inderanya

(McLeish, 1986).

c. Tindakan

Setelah individu mengetahui stimulus atau rangsangan dan

mengadakan penilaian atau pendapat terhadap obyek baru tersebut, proses

selanjutnya individu akan menyikapinya dengan sebuah tindakan.

Faktor-faktor dukungan dari pihak lain yang mendukung seperti teman, saudara,

(30)

individu tersebut (McLeish, 1986).

Secara garis besar kita dapat menyimpulkan bahwa setiap

perilaku-perilaku yang ada di kelompok masyarakat berawal dari sebuah pandangan dari

masyarakat itu sendiri. Pandangan yang dianggap benar oleh sebuah kelompok

masyarakat akan menjadi sebuah pembelajaran dimana pandangan-pandangan

yang dianggap benar tersebut akan melalui proses pertimbangan, pengkajian,

pengambilan keputusan, serta penguatan sehingga akan mengalami penolakan

ataupun menjadi sebuah perilaku yang dapat diterima dan diadopsi.

Perkembangan dari pengambilan keputusan untuk kemudian menjadi

perilaku ini terjadi pada setiap anggota masyarakat, tidak terkecuali pada

komunitas anak-anak jalanan, dimana setiap anggota dari komunitas anak-anak

jalanan mengalami proses-proses dalam mengadopsi sebuah perilaku yang berlaku

pada komunitas tersebut. Sebelum itu, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu

profil anak-anak jalanan secara umum baik dari definisi, hingga alasan mereka

mereka mengadopsi perilaku yang menyimpang dari pandangan masyarakat

secara umum.

B. Anak-anak Jalanan

Sampai saat ini ada berbagai definisi tentang anak-anak jalanan. Tetapi

anak-anak jalanan adalah istilah yang disepakati pada Konvensi Nasional untuk

mendefinisikan anak-anak atau remaja yang menggunakan sebagian besar atau

(31)

Alasan yang paling sering terdengar dari hampir semua anak-anak jalanan

ini mengapa mereka sampai harus bekerja dijalanan adalah karena motivasi

ekonomi dan adanya masalah keluarga.

Dengan bekal seadanya, mereka tetap mencoba untuk mengintip peluang

ekonomi yang muncul dari kehidupan jalanan. Variasi kerja sebagai mata

pencaharian dari anak-anak jalanan ini amatlah beragam, yaitu : pengamen,

tukang semir sepatu, penjual koran, pengemis, tukang parkir, dan sebagainya.

Anak-anak jalanan merupakan kelompok yang sangat berbeda dari

anak-anak normal yang hidup bersama keluarga di rumah dimana terdapat orang-orang

yang siap melindungi dari berbagai macam ancaman. Sebaliknya banyak

anak-anak jalanan yang harus hidup tanpa keluarga, rumah, pendidikan yang layak, dan

selalu berinteraksi dengan anak-anak jalanan yang lainnya serta menghadapi

ancaman seorang diri (Anonim, 2007b).

Akibatnya perilaku serta kematangan emosional dari anak-anak jalanan

seringkali terlihat jauh menyimpang dibandingkan anak-anak seusianya yang

hidup normal. Banyak penyimpangan yang dapat dijumpai pada anak-anak

jalanan, seperti penyalahgunaan obat-obatan baik obat-obatan yg dijual bebas

maupun Napza, seks bebas, perilaku yang menjurus agresif dan impulsif

merupakan bentuk-bentuk pola kehidupan yang kemudian menjadi erat

bersinggungan dengan hidup keseharian mereka (Permadi,1997).

Komunitas anak-anak jalanan relatif tertutup dari dunia luar, tetapi

pengaruh sesamanya (sesama anak-anak jalanan) dapat sangat kuat. Dengan

(32)

pengaruh teman-teman jalanan yang lainnya, sehingga adopsi perilaku

penyalahgunaan obat-obatan akan sangat cepat diadopsi di kalangan anak-anak

jalanan itu sendiri (Anonim, 2007b).

Meskipun dalam Kedokteran, beberapa golongan obat keras, narkotika dan

psikotropika masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau

digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan, terlebih lagi bila

disertai peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu

maupun masyarakat luas khususnya generasi muda (Anonim, 2007b).

C. Saraf

Sistem saraf manusia merupakan suatu jalinan jaringan saraf yang

kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan antara satu dengan yang lain.

Tugas dari sistem saraf adalah mengkoordinasi, mentafsirkan, dan mengontrol

interaksi antara individu dengan lingkungannya. Sistem tubuh yang penting ini

juga mengatur kebanyakan aktifitas sistem-sistem tubuh lainnya. Sistem saraf

berfungsi sebagai berikut : menerima rangsang, baik dari lingkungan maupun dari

dalam tubuh sendiri, mengubah rangsang dalam perangsangan saraf dan

memprosesnya, serta mengkoordinasi dan mengatur fungsi tubuh melalui

impuls-impuls yang dibebaskan dari pusat ke perifer.

Dari sudut pandang anatomi dan sekaligus berdasarkan fungsinya, saraf

dibedakan menjadi dua sistem, yaitu Sistem Saraf Pusat (SSP) yang meliputi otak

dan sumsum tulang belakang; dan sistem saraf perifer yang meliputi

(33)

Penggolongan lebih lanjut adalah pembagian atas Sistem saraf otonom

(vegetatif) yang bekerja tidak di bawah kemauan, dan sistem saraf somatik atau

sistem saraf yang bekerja di bawah kemauan (Mutschler, 1991).

Unsur penyusun neuron (sel saraf) adalah badan sel (soma, perikaryon)

dengan inti sel, badan golgi, badan Nissl; dan serabut saraf yang terdiri dari akson

(silinder aksis), neurit (cabang yang panjang), dan dendrit (cabang yang pendek).

(Mutschler, 1991).

1. Jalannya rangsang pada sel saraf

Impuls saraf dari SSP hanya dapat diteruskan ke ganglion dan sel efektor

melalui pelepasan suatu zat kimia yang khas yang disebut transmitor

neurohormonal ( = transmitor). Pada keadaan potensial istirahat pada akson,

membran sel dalam keadaan potensial negatif, hal ini diakibatkan oleh kadar ion

K di dalam sel saraf 40 kali lebih besar daripada kadarnya diluar sel, sedangkan

ion Na dan Cl jauh lebih banyak di luar sel. Dalam keadaan ini ion Na tidak dapat

memasuki sel. Bila ada depolarisasi akibat rangsangan dari luar yang mencapai

ambang rangsang, maka permebilitas terhadap ion Na sangat meningkat sehingga

Na masuk ke dalam sel dan menyebabkan potensial negatif tadi menjadi netral

dan atau bahkan menjadi positif ( = polarisasi terbalik). Kejadian ini diikuti oleh

repolarisasi, yaitu kembalinya potensial istirahat dengan terhentinya pemasukan

ion Na dan keluarnya ion K. Perubahan potensial tersebut disebut potensial aksi

(impuls) saraf (Darmansjah, Setiawati, dan Gan, 1995).

Suatu transmisi neurohormonal tidak selalu menyebabkan depolarisasi,

(34)

akibat meningkatnya permeabilitas dari ion K (Darmansjah dkk, 1995).

2. Sistem saraf menurut fungsi

a. Sistem saraf sadar

Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (kranial), yaitu

saraf-saraf yang keluar dari otak dan sumsum tulang belakang. Fungsi dari

sistem saraf sadar ini adalah untuk mengatur gerakan-gerakan yang

dipengaruhi kemauan (yang diatur oleh sistem piramidal), dan mengatur

berlangusngnya gerakan-gerakan terlatih (yang diatur oleh sistem

ekstrapiramidal) seperti berjalan, naik sepeda, mimik dan sebagainya

(McLeish, 1986).

b. Sistem saraf otonom

Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari

otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang

bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing

jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion.

Saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut saraf praganglion, dan

yang berada pada ujung ganglion disebut saraf postganglion.

Sistem saraf otonom dibagi menjadi sistem saraf simpatik dan

sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan

parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai

ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada

(35)

sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang

karena ganglion menempel pada organ yang dibantu (Anonim, 2007c).

Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan

(antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan "nervus

vagus" bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak

lain dan saraf sumsum sambung (Darmansjah dkk, 1995).

Tabel 1. Tabel Fungsi Saraf Otonom

Organ Kerja setelah perangsangan

Simpatikus Parasimpatikus

Otot bronkus Relaksasi Kontraksi Kelenjar air ludah Sekret kental Banyak sekret encer Peristaltik saluran cerna Diperlemah Diperkuat Kandungan empedu Relaksasi Kontraksi

(Mutschler, 1991)

Susunan saraf otonom berfungsi sebagai pengatur (regulator),

penyelaras, dan koordinator aktifitas viseral vital (Noback, 1982). Sistem saraf

otonom berguna untuk memelihara keseimbangan dalam organisme (sistem

keseimbangan dalam) dimana sistem ini mengatur fungsi-fungsi organ yang tidak

dibawah kemauan dan kesadaran, seperti :

1. Sirkulasi dengan cara menaikkan atau menurunkan aktivitas jantung dan

khususnya melalui penyempitan atau pelebaran pembuluh-pembuluh darah.

2. Pernafasan dengan cara menaikkan atau menurunkan frekuensi pernafasan

dan penyempitan atau penyempitan otot bronkus.

(36)

4. Tonus semua otot polos lainnya seperti kandung empedu, ureter, kandung

kemih, dan

5. Sekresi kelenjar keringat, kelenjar air ludah, kelenjar lambung, kelenjar

usus, dan kelenjar-kelenjar lain (Mutschler, 1991).

Sistem vegetatif eferen pada simpatikus dan parasimpatikus

masing-masing terdiri dari 2 neuron. Dari neuron yang satu rangsang dari sistem saraf

pusat dihantarkan ke suatu ganglion vegetatif, di sini terjadi perangsangan pada

neuron kedua yang menuju organ yang dituju. Berdasarkan hubungan dengan

ganglion, neuron pertama disebut neuron preganglion dan neuron kedua disebut

neuron postganglion (Noback, 1982).

Saraf otonom juga berhubungan dengan saraf somatik; sebaliknya,

kejadian somatik dapat mempengaruhi fungsi organ otonom. Sebagai contoh

denyut jantung bertambah cepat saat kita berolah raga, mengecilnya pupil dan

menyipitkan mata saat mata menerima kelebihan cahaya, dan sebagainya

(Mutschler, 1991).

D. Psikotropika

1. Definisi psikotropika

Psikotropika di dalam Undang-undang RI nomor 5 tahun 1997 tentang

Psikotropika didefinisikan sebagai zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis

bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada

(37)

mental dan perilaku (Anonim, 1997).

Santoso dan Wiria (1995) juga mendefinisikan psikotropika sebagai obat

yang bekerja pada atau mempengaruhi fungsi psikis dan berpengaruh pada

kelakuan seseorang.

2. Penggolongan psikotropika berdasarkan UU RI nomor 5 tahun 1997

tentang psikotropika

Berdasarkan potensi sindroma ketergantungan yang ditimbulkan, maka psikotropika dibagi dalam empat golongan :

a. Psikotropika golongan I, adalah psikotropika yang hanya dapat

digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi obat, serta mempunyai potensi amat kuat untuk menyebabkan sindroma ketergantungan.

b. Psikotropika golongan II, adalah psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat menyebabkan sindroma ketergantungan.

c. Psikotropika golongan III, adalah psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.

d. Psikotropika golongan IV, adalah psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan (Anonim, 1997).

Selain psikotropika golongan IV masih terdapat obat-obat lain yang

digolongkan sebagai obat keras. Jenis obat ini tidak menimbulkan ketergantungan

secara fisik tetapi menimbulkan ketergantungan secara psikologis dimana obat

keras masuk dalam “Daftar G” (Gevaarlick). Oleh karena, pengaturan,

pembinaan, dan pengawasannya tunduk kepada peraturan perundang-undangan

(38)

3. Penggolongan psikotropika menurut kegunaan.

Berdasarkan penggunaannya dibidang kedokteran, psikotropika dibagi

dalam empat golongan, seperti yang ditunjukkan pada table 2, yaitu :

a. Antipsikosis / neuroleptik

Yaitu obat atau bahan yang bermanfaat pada terapi psikosis akut maupun

kronik dan mempunyai ciri terpenting berupa kegunaannya untuk

mengatasi agresivitas, hiperaktivitas, dan labilitas emosi pada pasien

psikosis. Obat golongan ini tidak menyebabkan koma maupun anesthesia

pada penggunaan dosis besar, dapat menyebabkan gejala ekstrapiramidal

yang reversibel/ireversibel, dan tidak ada kecenderungan untuk

menimbulkan ketergantungan fisik dan psikis.

b. Antiansietas

Yaitu obat atau bahan yang berguna dalam pengobatan simtomatik

penyakit psikoneurosis dan sebagai obat tambahan pada terapi penyakit

somatik yang didasari ansietas (perasaan cemas) dan ketegangan mental.

Penggunaannya pada dosis tinggi jangka lama dapat menimbulkan

ketergantungan psikis dan apabila dibandingkan dengan sedatif yang

sudah lebih lama dikenal, antiansietas tidak begitu banyak menimbulkan

rasa kantuk.

c. Antidepresi

Yaitu obat untuk mengatasi depresi mental. Obat ini terbukti dapat

menghilangkan atau mengurangi depresi yang timbul pada beberapa jenis

(39)

normal.

d. Antipsikotogenik

Yaitu obat yang dapat menimbulkan kelainan tingkah laku, disertai

halusinasi, ilusi, gangguan cara berpikir, dan perubahan dalam perasaan.

Obat baru digolongkan sebagai psikotogenik apabila mampu menimbulkan

keadaan psikosis tanpa delirium dan disorientasi (Santoso dkk., 1995).

Pemerintah dan masyarakat telah berjuang untuk memberantas pengedaran

dan penyalahgunaan obat-obatan di Indonesia, baik psikotropika, narkotika,

maupun obat keras lainnya. Dibuktikan dari beberapa undang-undang yang

berhasil dibentuk oleh pemerintah, antara lain Undang-undang Nomor 5 Tahun

1997 tentang Psikotropika, dan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang

Narkotika.

Disamping itu MPR-RI juga telah mengeluarkan Ketetapan MPR-RI No:

VI/MPR/2002, yang merekomendasikan kepada presiden sebagai berikut :

1. melakukan tindakan tegas sesuai dengan hukum yang berlaku terhadap

produsen, pengedar, dan pemakai serta melakukan langkah koordinasi

yang efektif, antisipatif, dan edukatif dengan pihak terkait dan

masyarakat.

2. mengupayakan untuk meningkatkan anggaran guna melakukan

rehabilitasi terhadap korban penyalahgunaan narkotika, psikotropika,

dan zat adiktif lainnya.

(40)

Tabel 2. Penggilongan obat psikotropika

a. Obat antipsikosis

i. Derivat fenotiazin

1. Senyawa dimetilaminopropil

Klorpromazin, Promazin, Triflupromazin

2. Senyawa piperidil

Mepazin, Tioridazin

3. Senyawa piperazin

Asetofenazin, Proklorperazin, Karfenazin, Trifluoperzin, Tiopropazat,

Flufenazin, Perfenazin

ii. Non fenotiazin

Klorprotiksen

iii. Butirofenon

Haloperidol

b. Obat antiansietas

i. Benzodiazepin : Diazepam, Klordiazepoksida, Klorazepat

ii. Golongan lain

c. Obat antidepresi

i. Penghambat monoaminoksidase (MAO)

Isokarboksazid, Nialamid, Fenelzin

ii. Senyawa dibenzazepin

Imipramin, Desmetilimipramin, Amitriptilin, Desmetilamitriptilin

iii. Senyawa lain

Amoksapin, Maprotilin, Trazadon, Fluoksetin, Bupropion, nomifensin,

Mianserin

d. Obat antipsikotogenik

Meskalin, LSD-25

(Santoso dkk., 1995)

(41)

Menurut Instruksi Presiden RI nomor 3 tahun 2002, dampak

penyalahgunaan narkoba dapat dikelompokan menjadi tiga kategori, yaitu :

1. Depresan

Merupakan obat penenang (sedatif) yang bekerja untuk menekan

sistem saraf pusat dan saraf otonom. Zat –zat ini memberikan rasa rileks yang

bersifat artifisial dan mengurangi ketegangan/kegelisahan serta tekanan

mental. Namun obat jenis ini cenderung mengakibatkan ketergantungan secara

psikologis. Upaya untuk mengatasi ketergantungan terhadap obat-obatan jenis

ini sangat berat. Contoh obat depresan misalnya obat tidur (barbiturat)

2. Stimulan

Merupakan zat yang meningkatkan aktivitas, memperkuat, dan

meningkatkan aktivitas dari sistem saraf pusat dan saraf otonom. Stimulan

bekerja mengurangi kantuk karena kelelahan, mengurangi nafsu makan

(Atmadja, 2007).

Stimulan dapat mendorong simptom yang bersifat memabukkan

seperti meningkatnya denyut jantung, membesarnya pupil, meningkatnya

tekanan darah, serta mual-mual dan muntah, menyebabkan tremor/gemetar.

Dampak penggunaan jangka panjangnya berupa mual-mual, tidak bisa tidur

(insomnia), kehilangan berat badan dan depresi. Selain itu obat-obat jenis ini

dapat menyebabkan tindak kekerasan dan perilaku agresif hingga dapat

menyebabkan sakit jiwa (delusional psychosis).

Obat-obatan atau zat yang termasuk dalam kategori ini antara lain

(42)

phenmetrazin dan methilpenidat (Satriyo, 2003).

3. Halusinogen

Halusinogen adalah sejenis obat yang memiliki kemampuan untuk

memproduksi spektrum pengubah rangsangan indera yang jelas, perasaan dan

pikiran. Akibat yang disebabkan oleh halusinogen bisa berbeda pada

pemakainya, mulai dari perasaan gembira hingga sampai perasaan ngeri yang

luar biasa (Atmadja, 2007).

Halusinogen secara kimiawi sangat beragam dan dapat mengakibatkan

perubahan mental yang hebat seperti euphoria, gelisah, penyimpangan

(distorsi) sensorik, halusinasi yang benar-benar “nyata” (merusak persepsi),

mengganggu denyut jantung dan tekanan darah, berkhayal, ketakutan,

paranoia (kekecewaan), dan depresi.Yang termasuk dalam zat atau obat jenis

ini adalah, ekstasi, dan mescalin (Satriyo, 2003).

Pengkonsumsian napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif

lainnya) pada dasarnya akan dapat dirasakan dengan segera. Penyalahgunaan

napza dalam jangka waktu tertentu akan berpengaruh pada fungsi dari sistem

saraf, dengan terus meningkatnya kebutuhan untuk mengkonsumsi napza akan

menyebabkan ketergantungan secara fisik dan psikologis yang dapat berakibat

pada over dosis akut dan bahkan kematian yang disebabkan pada depresi

(43)

E. Antikolinergik

Gambar 3. Struktur kimia triheksifenidil (Mutschler, 1991) Gambar 3. Struktur kimia triheksifenidil (Mutschler, 1991)

1. Definisi 1. Definisi

Antikolinergik merupakan obat alternatif levodopa dalam pengobatan

parkinsonisme. Prototipe kelompok ini adalah triheksifenidil. Termasuk dalam

kelompok ini adalah : bipiriden, prosiklidin, penztropin, dan antihistamin dengan

efek antikolinergik difenhidramin dan etopropazin.

Antikolinergik merupakan obat alternatif levodopa dalam pengobatan

parkinsonisme. Prototipe kelompok ini adalah triheksifenidil. Termasuk dalam

kelompok ini adalah : bipiriden, prosiklidin, penztropin, dan antihistamin dengan

efek antikolinergik difenhidramin dan etopropazin.

Mekanisme kerja : Mekanisme kerja :

Dasar kerja obat ini ialah mengurangi aktivitas kolinergik yang berlebihan

pada ganglia basal.

Dasar kerja obat ini ialah mengurangi aktivitas kolinergik yang berlebihan

pada ganglia basal.

Efek antikolinergik perifer pada obat ini relatif lemah daripada atropin,

dimana atropin maupun alkaloid beladon lainnya (yang merupakan obat pertama

sebagai antiparkinson) mempunyai efek perifer yang terlalu mengganggu (Gan,

1995).

Efek antikolinergik perifer pada obat ini relatif lemah daripada atropin,

dimana atropin maupun alkaloid beladon lainnya (yang merupakan obat pertama

sebagai antiparkinson) mempunyai efek perifer yang terlalu mengganggu (Gan,

1995).

2. Farmakodinamik 2. Farmakodinamik

(44)

triheksifenidil memperlihatkan potensi antispasmodik (bersifat menghambat

gerakan peristaltik lambung dan usus) setengah daripada atropin, efek midriatik

sepertiganya, dan efek terhadap kelenjar ludah dan vagus sepersepuluhnya.

Seperti atropin, triheksifenidil dalam dosis besar menyebabkan perangsangan otak

(Gan, 1995).

3. Farmakokinetik

Tidak banyak data farmakokinetik yang diketahui tentang triheksifenidil,

itu dikarenakan pada saat obat ini ditemukan, farmakokinetika belum

berkembang. Sekarang obat ini kurang diperhatikan setelah ada levodopa dan

bromokriptin (Gan, 1995).

Kadar puncak triheksifenidil tercapai setelah 1 – 2 jam. Masa penuh

eliminasi terminal antara 10 – 12 jam. Jadi pemberian 2 kali sehari sudah

mencukupi, tidak 3 kali sehari sebagaimana yang dilakukan sekarang ini (Gan,

1995).

4. Efek terapi

Pemberian triheksifenidil khususnya bermanfaat terhadap parkinsonisme

akibat obat. Misalnya oleh neuroleptik, temasuk juga antiemetik turunan

fenotiazin, yang menimbulkan gangguan ekstrapiramidal akibat blokade reseptor

dopamin di otak. Penambahan antikolinergik golongan ini secara rutin pada

pemberian neuroleptik tidak dibenarkan, kemungkinan timbulnya akinesia tardif.

Triheksifenidil juga memperbaiki gejala beser ludah (sialorrhoea) dan

(45)

sindrom atetokoriatik, totikolis spastik, dan spasme fasialis (Gan, 1995).

5. Efek samping

a. Efek samping sentral.

Dapat berupa gangguan neurologik, yaitu ataksia (kehilangan kontrol

gerak), disartia, hipertermia (kenaikan suhu tubuh), gangguan mental

seperti pikiran kacau, amnesia, delusi, halusinasi, somnolen, dan koma

(Gan, 1995).

b. Efek samping perifer.

Dapat berupa mulut kering, gangguan miksi, meteorisme sering terjadi

tetapi tidak membahayakan. Muka merah setelah pemberian dapat terjadi

setelah pemberian obat ini, reaksi tersebut bukan reaksi alergi melainkan

efek samping sehubungan dengan vasodilatasi pembuluh darah wajah

(Gan, 1995).

Triheksifenidil juga dapat menyebabkan kebutaan akibat komplikasi

glaukoma sudut tertutup, terutama terjadi bila dosis harian 15-30 mg sehari. Pada

pasien glaukoma sudut terbuka yang mendapat miotik, antikolinergik cukup aman

digunakan (Gan, 1995).

Dilihat dari potensi triheksifenidil untuk menyebabkan ketergantungan

secara psikis, maka triheksifenidil dapat dimasukkan ke dalam golongan “daftar

G”. Disamping itu juga bahwa triheksifenidil masuk ke dalam golongan

antikolinergik, dimana triheksifenidil adalah obat yang berguna untuk terapi

(46)

ketergantungan (Anonim, 1997).

Tabel 3. Obat Antikolilnergik sentral

Obat Dosis oral Sediaan

Triheksifenidil 2 mg, 2-3 kali sehari, rentang dosis 10-20 mg/hari tergantung respons dan

Bipiriden tablet 2 mg

Tablet 5 mg

Benztropin mesilat 0,5-1 mg/hari diberikan malam hari.

Rentang dosis 4-6 mg/hari Oral:dewasa 25mg 3Xsehari

F. Perilaku Penyalahgunan Obat-obatan

Bila dipandang dari sisi sosial, terdapat faktor-faktor yang tidak dapat

diabaikan begitu saja. Terutama dalam kehidupan remaja, faktor lingkungan

dimana seorang remaja itu tumbuh akan sangat berpengaruh dalam perilaku

penyalahgunaan obat. Adapun berbagai macam faktor secara sosial dapat

dipandang sebagai faktor penyebab dalam perilaku penyalahgunaan obat.

(47)

Kebanyakan dimulai pada saat remaja, sebab pada remaja sedang

mengalami perubahan biologi, psikologi maupun sosial yang pesat.

Ciri - ciri remaja yang mempunyai resiko lebih besar menggunakan napza:

a. cenderung memberontak.

b. memiliki gangguan jiwa lain, misalnya : depresi, cemas.

c. perilaku yang menyimpang dari aturan atau norma yang ada.

d. kurang percaya diri.

e. mudah kecewa, agresif dan destruktif.

f. murung, pemalu, pendiam.

g. merasa bosan dan jenuh.

h. keinginan untuk bersenang – senang yang berlebihan.

i. keinginan untuk mencoba.

j. identitas diri kabur.

k. kemampuan komunikasi yang rendah.

l. putus sekolah.

m. kurang menghayati iman dan kepercayaan.

2. Faktor Lingkungan :

Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik

sekitar rumah, sekolah, teman sebaya, maupun masyarakat.

Lingkungan keluarga :

a. komunikasi orang tua dan anak kurang baik

(48)

c. orang tua yang bercerai, dan atau menikah lagi.

d. orang tua terlampau sibuk, kurang memperhatikan anak.

e. orang tua yang otoriter.

f. kurangnya orang yang menjadi tauladan dalam hidupnya.

g. kurangnya kehidupan beragama.

Lingkungan sekolah :

a. sekolah yang kurang disiplin.

b. sekolah dekat dengan tempat hiburan.

c. sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk

mengembangkan diri secara kreatif dan positif.

d. adanya murid pengguna napza.

Lingkungan teman sebaya :

a. berteman dengan penyalahguna.

b. tekanan atau ancaman dari teman.

Lingkungan masyrakat / sosial :

a. lemahnya penegak hukum.

b. situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung.

(Anonim, 2007b)

Faktor-faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang

kelak menjadi penyalahguna obat-obatan. Akan tetapi makin banyak faktor-faktor

diatas, semakin besar kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna obat.

(49)

G. Penyalahgunaan Psikotropika

1. Definisi penyalahgunaan psikotropika

Undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1997 tentang

psikotropika menyebutkan, penyalahgunaan psikotropika yang dalam

pengertian lain disebut penggunaan secara merugikan adalah penggunaan

psikotropika tanpa pengawasan dokter (Anonim, 1997).

2. Faktor-faktor penyebab penyalahgunaan psikotropika

Tidak semua zat atau obat dapat menimbulkan adiksi dan dependensi

pada pemakainya. Beberapa zat tertentu dapat menyebabkan adiksi dan

dependensi. Ciri-ciri dari adiksi dan dependensi adalah sebagai berikut.

a. keinginan yang tak tertahankan terhadap zat yang dimaksud dan kalau

perlu dengan jalan apapun untuk memperolehnya.

b. kecenderungan untuk menambah dosis sesuai dengan toleransi tubuh.

c. ketergantungan psikis apabila pemakaian zat dihentikan akan

menimbulkan kecemasan, kegelisahan, depresi, dan gejala psikis yang

lainnya.

d. ketergantungan fisik apabila pemakaian zat ini dihentikan akan

menimbulkan gejala putus obat (Hawari, 1995).

3. Dampak dari penyalahgunaan psikotropika

Bahaya dan resiko dari penyalahgunaan psikotropika ini dapat

dibedakan menjadi resiko dari segi hukum dan resiko dari segi kesehatan.

(50)

tertentu dapat menyebabkan kerusakan otak secara permanen, over dosis,

bahkan dapat menyebabkan kematian (Atmadja, 2007).

Selain itu penyalahgunaan psikotorpika juga mendapatkan sangsi dari

segi hukum. Seperti yang diketahui dari Undang-undang Republik Indonesia

nomor 5 tahun 1997 tentang psikotropika, maka semua orang yang terlibat

dalam penyalahgunaan psikotropika dapat dikenai sanksi berupa hukuman

penjara maupun denda. Mereka yang dapat dijerat hukum melalui

Undang-undang tersebut mencakup produsen, penyalur, dan pemakai dengan tingkatan

hukuman dan atau denda yang bervariasi (Satriyo, 2003)

H. Keterangan Empiris

Penelitian ini bersifat penelitian deskriptif non analitik untuk mengetahui

gambaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi Anak-anak jalanan di Jalan

(51)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif dengan tujuan utamanya

adalah melakukan penggambaran terhadap fenomena kesehatan masyarakat, baik

yang berupa faktor resiko maupun efek. Penelitian ini hanya mendeskripsikan atau

menggambarkan fenomena penyalahgunaan obat jenis triheksifenidil yang amat

sering terjadi dikalangan anak-anak jalanan tanpa mecoba untuk menganalisis

bagaimana dan mengapa fenomena tersebut dapat terjadi (Pratiknya, 2001).

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan langkah-langkah awal bagi

penelitian selanjutnya tentang penyalahgunaan obat-obat keras terutama obat

triheksifenidil yang paling banyak dikonsumsi oleh anak-anak jalanan di kota

Yogyakarta khususnya di kawasan Malioboro (depan Benteng Vredenburg).

B. Batasan Operasional

1. Penyalahgunaan obat triheksifenidil yang lebih dikenal dengan sebutan

“triplex” yang beredar di kalangan anak-anak jalanan yang dipengaruhi

banyak faktor, antara lain adalah keinginan diri sendiri (coba-coba),

hingga faktor pengaruh lingkungan (pengaruh dari teman anak-anak

jalanan yang lainnya).

2. Tingkat pengetahuan akan obat triheksifenidil yang dikonsumsi.

Pengetahuan tersebut meliputi efek terapi, efek samping, dan faktor resiko

(52)

dalam pengkonsumsian obat-obatan tersebut.

3. Anak-anak jalanan di Jalan Malioboro Yogyakarta yang masih aktif

mengkonsumsi triheksifenidil, yang pada saat waktu pengambilan data

terdapat dilokasi (di depan Benteng Vredenburg).

C. Subyek dan Tempat

Populasi adalah keseluruhan sumber data penelitian yang terdiri dari

manusia, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala,

peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu di dalam suatu

penelitian (Nawawi, 1983).

Di dalam penelitian in populasi penelitian yang dimaksud adalah wilayah

di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarata. Responden adalah

kelompok-kelompok anak-anak jalanan di kawasan Malioboro yang terkonsentrasi di depan

Benteng Vredenburg yang pada waktu penelitian bersedia menjawab

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti lewat kuisioner. Kriteria inklusinya adalah

anak-anak jalanan yang masih aktif menyalahgunakan triheksifeidil dan selalu ada

di wilayah Jalan Malioboro yang terpusat di depan Benteng Vredenburg dan pada

saat pengambilan data sedang berada di sekitar wilayah tersebut.

D.Teknik Sampling

Teknik sampling yang dipergunakan pada penelitian ini adalah accidental

sampling yaitu data yang diambil dari responden secara kebetulan atau responden

(53)

anak-anak jalanan yang bersedia untuk bekerja sama terbatas jumlahnya, maka

sampling unit diterima asalkan bersedia bekerja sama.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah

panduan wawancara dan lembar kuesioner. Panduan wawancara dibuat

berdasarkan permasalahan yang dihadapi dan dimaksudkan untuk memperjelas

hasil survei kuisioner.

F. Tata Cara Penelitian

1. Analisis situasi

Tahap ini dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai

keseharian subyek sebelum dilakukan penelitian. Pengumpulan informasi

dilakukan dengan pendekatan pribadi selama kurang lebih 8 bulan, pengumpulan

informasi ini juga dibantu oleh anak jalanan yang bersangkutan karena lebih

mengetahui medan di lokasi tersebut dan lebih mempermudah dalam sosialisasi

dengan subyek penelitian.

2. Wawancara

Wawancara dilakukan dengan tujuan untuk menggali lebih dalam

keterangan yang dibutuhkan untuk membuat pertanyaan kuisioner sehingga dapat

berkaitan dengan permasalahan, melalui pembicaraan informal dan pembicaraan

(54)

3. Membuat kuisioner yang dibutuhkan

Dalam penelitian ini dipergunakan teknik komunikasi tidak langsung

dengan angket atau kuisioner sebagai alat pengumpulan datanya. Angket atau

kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang harus dijawab secara tertulis

pula oleh responden.

Uji coba atau validasi kuisioner dilakukan untuk mengetahui apakah

responden telah mengerti maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini berupa beberapa pertanyaan semi

terbuka dan pertanyaan tertutup.

Untuk pertanyaan tertutup, dalam setiap item disediakan sejumlah

alternatif jawaban yang dapat dipilih oleh responden salah satu diantaranya yang

dianggap paling tepat. Sedangkan untuk pertanyaan semi terbuka, disamping

alternatif jawaban yang tersebutkan, tersedia pula tempat untuk memberikan

jawaban secara bebas dan terbatas. Hal ini dimaksudkan apabila menurut

responden diantara alternatif jawaban yang tersedia tidak ada jawaban yang

dianggapnya tepat.

4. Menentukan besar sampel

Ada beberapa ukuran minimum yang dapat diterima berdasarkan tipe

penelitian. Menurut Hadari Nawawi, perhitungan jumlah sampel yang dibutuhkan

(55)

2

q = proporsi jumlah kelompok II (perempuan)

α ∗ 2 1

z = derajat koefisien konfidensi (95%) dimana bernilai 1,96

b = persentase perkiraan kesalahan dalam penentuan sampel (0,1) (Nawawi, 1983)

Diketahui bahwa jumlah anak-anak jalanan di depan Benteng Vredenburg

adalah berjumlah 220 orang, tetapi dalam penelitian ini yang menjadi

respondennya adalah anak-anak jalanan yang kriterianya adalah masih aktif

menyalahgunakan triheksifenidil. Diketahui dari pendekatan awal diperoleh

sebanyak 120 responden dengan jumlah anak-anak perempuan sebanyak 17 orang,

dan jumlah laki-laki sebanyak 103 orang.

(56)

α

maka jumlah sampel yang diambil adalah 47 orang (dibulatkan ke atas).

G. Cara pengambilan sampel

Karena penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel secara accidental

sampling. Pengambilan sampel dengan metode ini dilakukan dengan mendatangi

responden satu persatu dengan dibantu anak jalanan dan saat mengisi kuisioner

dilakukan pengawasan dan dicatat agar tidak mengisi lebih dari satu kuisioner.

Melihat terbatasnya jumlah anak-anak jalanan yang bersedia untuk bekerjasama,

maka sampling unit diterima asalkan mau bekerjasama (untuk mengisi kuisioner).

H. Pengumpulan dan analisis data

1. Pengumpulan data

Data yang diperoleh akan diolah secara tabulasi data dan pengolahan data secara

hand sorting (pemilihan dengan tangan).

2. Analisis data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif untuk

(57)

dan atau pengalaman tentang obat triheksifenidil yang dikonsumsi oleh individu

yang terkait.

I. Pengambilan kesimpulan

Kesimpulan diambil berdasarkan hasil dari kuisioner, berapa besar

pengaruh lingkungan dan berapa jauhnya pengetahuan responden akan obat

triheksifenidil yang sering dikonsumsi dikalangan anak-anak jalanan sehingga

dapat dilakukan penggambaran tentang penyalahgunaan triheksifenidil pada

(58)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Anak-anak jalanan dipilih sebagai responden karena sebagian besar

masyarakat mengenal anak-anak jalanan adalah kumpulan anak-anak dan atau

remaja yang hidup bebas di jalanan tanpa memperdulikan aturan-aturan yang

berlaku di masyarakat pada umumnya. Kebebasan yang tak terkontrol tersebut

menimbulkan keprihatinan akan semakin banyaknya anak-anak jalanan yang

melakukan penyalahgunaan obat-obatan dan semakin hari semakin meningkat.

Obat yang paling sering disalahgunakan oleh anak-anak jalanan di Kota

Yogyakarta adalah triheksifenidil. Triheksifenidil masuk ke dalam obat-obat

keras dimana penyalahgunaan triheksifenidil dilaporkan bersama dengan laporan

psikotropika.

A. Gambaran Umum Pengambilan Data

1. Perhitungan jumlah sampel

Jumlah keseluruhan anak-anak jalanan yang selalu berada di daerah

Benteng Vredenburg adalah 220 orang, tetapi yang menjadi respondennya

dalam penelitian ini adalah anak-anak jalanan dengan kriteria anak-anak

jalanan yang masih aktif mengkonsumsi triheksifenidil hingga penelitian

dilakukan. Responden yang diperoleh hanya 120 orang, dimana terdiri dari 17

orang perempuan dan 103 orang laki laki, kisaran jumlah data tersebut

(59)

diperoleh dari perhitungan dan keterangan dari anak jalanan yang masih eksis

dilokasi. Berdasarkan rumus perhitungan jumlah sampel minimal dari Hadari

Nawawi, maka dengan menggunakan derajat kofidensi 95% dan kemungkinan

membuat kesalahan dalam menentukan ukuran sampel / responden sebesar

10% diperoleh jumlah sampel minimal yang dipakai sebesar 47 responden.

Dari perhitungan jumlah responden yang telah dilakukan pada BAB

III, responden minimal yang harus diperoleh adalah sebanyak 47 responden

(dibulatkan ke atas).

Pada penelitian ini, respondennya adalah manusia sehingga semua

hasil perhitungan sampel dapat dibulatkan ke atas. Berdasarkan perhitungan

yang tertera pada BAB III, dimana jumlah responden minimal adalah 47

orang, jumlah kuisioner yang disebar sebanyak 100 eksemplar dan responden

yang mengembalikan lembar kuisioner sebanyak 50 eksemplar, jadi jumlah

kuisioner telah mencukupi jumlah minimal kuisioner yang hrus diperoleh.

2. Pelaksanaan pengambilan data

Pengambilan data meliputi penyebaran dan pengambilan angket atau

kuisioner. Angket yang disebarkan oleh penulis dengan dibantu oleh beberapa

orang teman anak-anak jalanan juga (yang telah lama eksis di wilayah depan

Benteng Vredenburg) kepada responden, yaitu anak-anak jalanan yang setiap

hari eksis di wilayah tersebut. Kuisioner yang disebarkan adalah sebanyak 100

buah kuisioner, dan yang dikembalikan sebanyak 52 buah tetapi yang dapat

Figur

Gambar 1. Teori Aksi Weber dan Teori Aksi Parsons (Sarwono, 1989)

Gambar 1.

Teori Aksi Weber dan Teori Aksi Parsons (Sarwono, 1989) p.25
Gambar 2. Proses adopsi inovasi Rogers ( Sarwono, 1989)

Gambar 2.

Proses adopsi inovasi Rogers ( Sarwono, 1989) p.26
Tabel 1. Tabel Fungsi Saraf Otonom

Tabel 1.

Tabel Fungsi Saraf Otonom p.35
Tabel 2. Penggilongan obat psikotropika

Tabel 2.

Penggilongan obat psikotropika p.40
Gambar 3. Struktur kimia triheksifenidil (Mutschler, 1991)Gambar 3. Struktur kimia triheksifenidil (Mutschler, 1991)

Gambar 3.

Struktur kimia triheksifenidil (Mutschler, 1991)Gambar 3. Struktur kimia triheksifenidil (Mutschler, 1991) p.43
Triheksifenidil  2 mg, 2-3 kali sehari, rentang dosis 10-20 mg/hari Triheksifenidil tablet 2mg, 5 mg

Triheksifenidil 2

mg, 2-3 kali sehari, rentang dosis 10-20 mg/hari Triheksifenidil tablet 2mg, 5 mg p.46
tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah responden berjenis kelamin laki-laki

tabel 4

dapat diketahui bahwa jumlah responden berjenis kelamin laki-laki p.60
Tabel 4. Jumlah responden di depan Benteng Vredenburg

Tabel 4.

Jumlah responden di depan Benteng Vredenburg p.61
Gambar 5. Tingkat Pendidikan Responden 12%

Gambar 5.

Tingkat Pendidikan Responden 12% p.63
Tabel 5. Frekuensi penyalahgunaan triheksifenidil pada responden

Tabel 5.

Frekuensi penyalahgunaan triheksifenidil pada responden p.65
Gambar 6. Frekuensi pengkonsumsian triheksifenidil pada responden di

Gambar 6.

Frekuensi pengkonsumsian triheksifenidil pada responden di p.66
Tabel 6. Banyaknya triheksifenidil sekali minum pada

Tabel 6.

Banyaknya triheksifenidil sekali minum pada p.67
Gambar 7.  Sumber

Gambar 7.

Sumber p.68
tabel berikut ini.

tabel berikut

ini. p.69
tabel 8 berikut.

tabel 8

berikut. p.71
Gambar 8. Alasan dan tujuan responden di depan Benteng

Gambar 8.

Alasan dan tujuan responden di depan Benteng p.74
Tabel 10.

Tabel 10.

p.75
Tabel 11. Narasumber pengetahuan responden di depan Benteng Vredenburg akan triheksifenidil bulan Mei-Juni 2007

Tabel 11.

Narasumber pengetahuan responden di depan Benteng Vredenburg akan triheksifenidil bulan Mei-Juni 2007 p.76
Gambar 9.  Pengaruh lingkungan pada responden di depan Benteng

Gambar 9.

Pengaruh lingkungan pada responden di depan Benteng p.78
Gambar 10. Banyaknya responden di depan Benteng Vredenburg yang

Gambar 10.

Banyaknya responden di depan Benteng Vredenburg yang p.79
Tabel 13.  Nama-nama obat yang pernah digunakan oleh responden di depan

Tabel 13.

Nama-nama obat yang pernah digunakan oleh responden di depan p.81

Referensi

Memperbarui...