GAYA HIDUP POSMODERN TOKOH-TOKOH DALAM NOVEL MATA MATAHARI KARYA ANA MARYAM SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia Program Studi Sastra Indonesia

108 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh

Dianing Pramuranti NIM : 034114040

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

DALAM NOVEL

MATA MATAHARI

KARYA ANA MARYAM

SEBUAH TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA

Oleh

Dianing Pramuranti NIM: 034114040

Telah disetujui oleh

Pembimbing I (tanda tangan)

Dra. Fr. Tjandrasih Adji, M. Hum Tanggal ……….

Pembimbing II (tanda tangan)

(3)

Dipersiapkan dan ditulis oleh Dianing Pramuranti

NIM: 034114040

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada Tanggal 19 September 2007 Dan dinyatakan memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua : Drs. B. Rahmanto, M. Hum ………... Sekretaris : Drs. Hery Antono, M. Hum ………... Anggota : Drs. Yoseph Yapi Taum, M. Hum ………... Anggota : Dra. Fr. Tjandrasih Adji, M. Hum ………... Anggota : Drs. B. Rahmanto, M. Hum ………...

Yogyakarta, 29 September 2007 Dekan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma

(4)

Yang Maha Indah serta Yang Maha Esa

Yang selalu berkenan berkarya atas diriku

Yang tercinta kedua orangtuaku, Bapak K. Kiran Kumar dan

Ibu Mercy Kiran

yang telah memberi nafas cinta kasih, ketulusan,

perjuangan, dan pengorbanan untukku

Yang tersayang Kakakku, Rm. Bonnie Abbas, Pr dan

Adikku Merry Deni S

yang selalu penuh cinta, kesabaran serta pengorbanan

Yang terkasih, terindah, dan terkenang, Benny Wisuda Dwi

Kurniawan, S.E

yang sempat menafasi cinta dan masih menjadi cambuk

serta semangatku

Yang kunanti dalam harap dan tutur doa, Kekasih sejati Ayah dari

anakku kelak

yang sedang dibimbing Yang Maha untuk merajut jalan

bertemu denganku

(5)

***

Proses perjalanan untuk meraih sesuatu adalah hal yang

paling berharga

(aning)

***

I am mine

(Pearl Jam)

***

Ruang dalam jiwa makin terisi karena imajinasi. Anugerah

alam yang paling berharga bagi manusia. Tanpa imajinasi

tak akan ada pengetahuan dan kebudayaan. Tak akan ada

rasa percaya dan harapan. Tak ada tujuan dan masa depan.

Tak ada kegembiaraan dan kebahagiaan. Tak ada

kehidupan yang manusiawi. Tak ada kesenian dan agama.

Tanpa imajinasi, hanya ada kegelapan dan pertanyaan

tanpa jawaban

(6)

kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, Agustus 2007

(7)

Yogyakarta: Sastra Indonesia, Sastra, Universitas Sanata Dharma

Karya sastra sebagai salah satu bentuk cerminan masyarakat selalu menggambarkan hal-hal yang dialami oleh manusia, termasuk penggambaran kenikmatan akan sebuah gaya hidup. Gaya hidup dipahami sebagai adaptasi aktif individu terhadap kondisi sosial dalam rangka memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain. Gaya hidup bertalian erat dengan penjelasan sosiologis untuk menunjuk pada bentuk masyarakat posmodern yang telah terbawa pada efek dari modernisasi. Oleh karena itu peneliti melakukan kajian penelitian gaya hidup postmodern dengan sumber data novel Mata Matahari karya Ana Maryam.

Untuk mempermudah penelitian maka peneliti mendeskripsikan tokoh-tokoh dan penokohan dalam novel Mata Matahari secara struktural serta mendeskripsikan gaya hidup posmodern tokoh-tokoh dalam novel Mata Matahari karya Ana Maryam. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi sastra. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Dengan metode ini dicatat data yang berkaitan dengan tokoh dan penokohan yang akan lebih mempermudah penelitian dan penulisan laporan.

Kesimpulan hasil penelitian berupa pembagian tokoh dan penokohan menurut fungsi dalam perkembangan plot menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama yaitu Lola, Elang, Thery, dan Destano. Tokoh tambahan yaitu Benny dan Tommy.

(8)

Departement, Sanata Dharma University

Works of literature, as one of the society’s reflections, always describes all things which happen in human’s life, including the description of the pleasure of the life style. Life style is defined as the human’s active adaptation toward the social condition to fill in the needs of being united and socialized with other people. The life style has a very close relation with the sociological explanation for referring to a kind of a posmodern society which already got the effect of the modernity. Therefore, the observer does the research of the postmodern life style by using the data taken from a novel titled Mata Matahari written by Ana Maryam.

The observer described the characters and characterization in the novel Mata Matahari in a structural way and also described the postmodern life style of the character in the novel. This was done in order to make the research become easy. The approach used in this analysis is th approach of sociological literature. The method used is the analytical descriptive method. By using this method, the data relate with the characters and characterization noted made ease the research and the report writing.

The conclusion of the analysis is the division of the characters and characterization based on the function in the plot development into the major and minor characters. The major characters are Lola, Elang, Thery, and Destano. The minor characters are Benny and Tommy.

(9)

skripsi ini dapat penulis selesaikan berkat bimbingan, bantuan, dan dukungan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya yang disertai dengan rasa hormat kepada pihak-pihak yang penulis sebutkan sebagai berikut ini.

1. Ibu Dra. Fr. Tjandrasih Adji, M. Hum selaku pembimbing I yang sudah membimbing penulisan skripsi ini dan menjadi sosok the wise mother yang sangat sabar, bijaksana, dan penuh kasih sayang.

2. Bapak Drs. B. Rahmanto, M. Hum selaku pembimbing II yang telah membimbing dan menjadi motivasi penulis untuk lebih maju dalam dunia sastra

3. Bapak Drs. Hery Antono, M. Hum selaku pembimbing akademik angkatan 2003 yang setia dan selalu berbesar hati untuk mendampingi penulis dan teman-teman angkatan 2003

4. Dosen-dosen Program Studi Sastra Indonesia USD yang telah memberikan ilmu dan membantu penulis untuk memahami kesusastraan, lingustik, dan budaya.

5. Staf sekretariat Prodi Sastra Indonesia dan keluarga besar Sastra Indonesia USD atas kekeluargaan dan segala bantuan yang telah diberikan

6. Keluargaku Bapak Kiran, Ibu Mercy Kiran, Kakakku Rm. Bonnie, adikku Merry. Terima kasih untuk cinta, ketulusan, dukungan, harapan, dan doa yang telah diberikan

(10)

Thanks for being my good listener”.

9. Teman-teman Bengkel Sastra Indonesia USD. Terima kasih telah menjadi wadah selama beberapa waktu untuk berkarya dan berkembang.

10.Xtreame Nining Wulandari, Maya Elfrida Sianipar, Prabarani Palma Pramitha, S.H, Deny Ika Anggraini, S.E dan Fransiska Medietrik, S.Pd. Terima kasih untuk kebersamaan panjang ini. Semangat, harapan, dan cinta kalian menjadi cambuk untukku.

11.Ervan, Toro, Eko, dan Qnoy “Thanks for being my friends....” dan Mas Agung, yang selalu mengingatkan untuk segera wisuda (maksud mas, kapan aku ujian??).

12.Ulin, Dian, Wulan, Cisil, There, Lany, Richard, Taim, Ronald, dan keluarga baruku di Tegal Gantiwarno, Klaten. Terima kasih telah menjadi bagian hidup dan semangat untuk segera mengentaskan S1-ku semenjak ber-KKN di Tegal Gantiwarno

13.Benny Wisuda Dwi Kurniawan, S.E (kekasih hati dari malaikat mungil Lantang, Bening, dan NenBy B) Terima kasih untuk masa dimana mimpi-mimpi sempat terukir, untuk sisa cinta saat ini, dan untuk doa dalam setiap diammu. Terima kasih telah menjadi sosok yang cerdas serta rajin dan membuatku selalu ingin menjadi lebih pandai.

14.Bayu P. Putra, terima kasih sempat menemaniku menjelajah Yogyakarta dan Mas Latief, terima kasih untuk menghendakiku menjadi orang yang lebih cerdas dan penuh logika dalam menyikapi cakrawala kehidupan serta telah membukakan mata untuk melihat gaya hidup di Yogyakarta

(11)

menuliskan setiap aksara menjadi lebih tertata dan memutar ratusan Mp3 dengan bingar.

17.Michael Buble for Home dan Everything, Chantal Kreviazuk for Feels Like Home, Saigon Kick for I Love You, Julio Iglesias for When You Tell Me That You Love Me, Norah Jones for Don’t Know Why, Joy Enriquez for How Can I Not Love You, Pearl Jam for I Am Mine dan Can’t Help Falling in love,

Coklat for The Best of Album, and Tompi for Playfull Album.

18.Semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak kekurangan karena itu penulis bertanggung jawab atas setiap kesalahan yang ada dalam skripsi ini. Penulis mengharap adanya kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga skripsi ini dapat selesai. Besar harapan skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, Agustus 2007

(12)

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACK... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

1.5 Tinjauan Pustaka ... 6

1.6 Landasan Teori... 6

1.6.1 Tokoh dan Penokohan... 6

(13)

1.7 Metode Penelitian ... 14

1.7.1 Pendekatan ... 14

1.7.2 Metode ... 15

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data... 15

1.7.4 Sumber Data... 16

1.8 Sistematika Penyajian ... 17

BAB II ANALISIS STRUKTURAL TOKOH-TOKOH DAN PENOKOH- AN DALAM NOVEL MATA MATAHARI ... 18

2.1 Tokoh Utama... 19

2.1.1 Penokohan Tokoh Utama... 28

2.1.1.1 Lola ... 28

2.1.1.2 Elang ... 35

2.1.1.3 Thery ... 38

2.1.1.4 Destano... 43

2.2 Tokoh Tambahan ... 47

2.2.1 Penokohan Tokoh Tambahan... 50

2.2.1.1 Benny ... 50

(14)

3.1.1 Tokoh Lola ... 55

3.2 Pusat Perbelanjaan Mewah/ Mal... 56

3.2.1 Tokoh Lola ... 57

3.2.2 Tokoh Thery... 57

3.3 Kafe (Industri Kuliner)... 58

3.3.1 Tokoh Lola ... 59

3.3.2 Tokoh Elang ... 61

3.3.3 Tokoh Thery... 62

3.4 Teknologi Modern... 63

3.4.1 Tokoh Lola ... 64

3.4.2 Tokoh Elang ... 66

3.4.3 Tokoh Thery... 67

3.4.4 Tokoh Destano ... 68

3.5 Seks Bebas ... 70

3.5.1 Tokoh Lola ... 70

3.5.2 Tokoh Elang ... 73

3.5.3 Tokoh Thery... 75

3.5.4 Tokoh Destano ... 77

(15)

3.8 Hubungan Seks Sesama Jenis ... 82

BAB IV PENUTUP... 86

4.1 Kesimpulan ... 86

4.2 Saran... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 91

(16)

1.1 Latar Belakang Masalah

Sastra adalah suatu kegiatan kreatif sederetan karya seni (Taum, 1995:

14). Karya sastra merupakan salah satu media refleksi atas realitas kehidupan

manusia yang dapat mewakili serta mencerminkan persoalan dan keadaan

umum masyarakat. Karya sastra juga membongkar keanehan dan keterasingan

yang membungkus realitas ucapan dan tindakan manusia. Bahkan dalam karya

sastra dapat termuat suatu gagasan rumit yang ingin disampaikan.

Karya sastra sebagai salah satu bentuk cerminan masyarakat dapat

menggambarkan hal-hal yang dialami oleh manusia, termasuk penggambaran

kenikmatan akan sebuah gaya hidup. Menurut Takwin (2006: 36) gaya hidup

dipahami sebagai adaptasi aktif individu terhadap kondisi sosial dalam rangka

memenuhi kebutuhan untuk menyatu dan bersosialisasi dengan orang lain.

Belakangan gaya hidup atau lifestyle telah menjadi pusat perhatian yang

semakin berkembang. Gaya hidup bertalian erat dengan penjelasan sosiologis

untuk menunjuk pada bentuk masyarakat posmodern yang telah terbawa efek

dari pluralisme dan modernisasi.

Masyarakat posmodern selalu digambarkan sebagai masyarakat yang

(17)

postmodern menjadi ide yang menarik bagi Ana Maryam untuk dikembangkan,

hingga akhirnya terbitlah novel Mata Matahari. Ana Maryam menyuguhkan

tokoh-tokoh dengan kekhasan gaya hidupnya masing -masing. Tokoh-tokoh

cerita yang berbalut pola pikir serta gaya hidup posmodern, seperti tokoh Lola

yang sangat kuat gaya hidupnya. Lola berprofesi sebagai seorang fotografer

muda yang mapan, menganut seks bebas, dan mengalami disorientasi seksual

sebagai lesbian. Disorientasi seksual merupakan salah satu penyimpangan yang

mencirikan gaya hidup postmodern dengan pemikira n terbuka. Hidup yang

serba gadget atau praktis, hidup dengan teknologi informatika yang maju,

keberadaan internet, tinggal di apartemen, penggunaan kendaraan bermerek pun

digambarkan Ana Maryam untuk memperkuat karakter tokoh-tokohnya.

Pemaparan dan penyuguhan gaya hidup tokoh-tokoh dalam novel ini

memiliki ciri gaya hidup posmodern yang menganut paham budaya

konsumerisme. Konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang

menganggap barang-barang mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan,

gaya hidup tidak hemat (KBBI, 2005: 590). Konsumerisme melebur antara

kebutuhan (need) dan keinginan (want). Hal ini dapat diilustrasikan sebagai

berikut, kita tidak cukup hanya makan sesuai dengan kebutuhan pangan saja

melainkan terkadang juga memikirkan makan di McDonal dengan keinginan

untuk menaikkan gengsi. Kebutuhan menjelma keinginan. Segala bentuk represi

atas keinginan pun dibuka katupnya (Adian, 2006: 26). Diungkap oleh Ibrahim

(18)

beriringan dengan sejarah globalisasi ekonomi dan transformasi kapitalisme

konsumsi, yang ditandai dengan menjamurnya pusat perbelanjaan bergaya

semacam shopping mall, industri waktu luang, industri mode atau fashion,

industri kecantikan, industri nasihat, industri gosi p, kawasan huni mewah,

apartemen, kegandrungan terhadap merek asing, makanan serba instant, barang

elektronik yang unggul serta telepon selular. Bahkan ruang pun dicabut dari

waktu. Kita tinggal angkat telepon kemudian tekan beberapa nomo r,

menyebutkan pes anan dan tak lama kemudian maka pesanan kita sudah sampai

di depan rumah (Adian, 2006: 28)

Menjamurnya gaya hidup postmodern di berbagai kalangan masyarakat

telah menjadi pengaruh yang kuat bagi pengarang untuk menciptakan suatu

karya sastra yang memenuhi tiap karakter dengan ciri kehidupan posmodern.

Karya sastra semacam ini dapat diterima oleh masyarakat dan sempat

dibicarakan dalam beberapa wacana. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri

hingga karya sastra semacam ini menarik untuk dianalisis lebih dalam. Dalam

novel Mata Matahari gaya hidup modern tiap tokohnya mempunyai sikap dan

prinsip yang dipertahankan dalam keadaan kehidupan sosial dan budayanya.

Untuk menganalisis gaya hidup posmodern dalam novel Mata Matahari

diperlukan analisis terhadap unsur -unsur pembangun struktural. Unsur-unsur itu

adalah tokoh dan penokohan. Kedua unsur ini, tokoh dan penokohan, secara

(19)

Matahari karya Ana Maryam mengenai gaya hidup posmodern dari

tokoh-tokohnya.

Gaya hidup merupakan salah satu struktur pembangun sosial

masyarakat, sehingga hubungan gaya hidup dengan sosiologi sangat berkaitan

erat. Di era postmodern, ada pelbagai perkembangan utama di dalam dunia

sosial, yang mempengaruhi relasi di anta ra kelompok-kelompok gaya hidup,

dan bagaimana relasi ini diaktualisasikan melalui dunia objek, citra, dan tanda

-tanda (Piliang, 2006: 88). Gaya hidup merujuk pada kelompok-kelompok gaya

hidup, sedangkan kelompok-kelompok gaya hidup itu sendiri merupakan bagian

dari sosiologi. Menurut Ian Watt (via Saraswati, 2003: 11-12) sastra dapat

menampilkan keadaan masyarakat secermat -cermatnya dan menjadi cerminan

dari masyarakat.

Dengan adanya keterkaitan antara gaya hidup posmodern dengan

sosiologi, peneliti akan menganalisis gaya hidup yang dilakukan oleh setiap

tokoh dalam novel Mata Matahari. Penelitian ini menggunakan pendekatan

sosiologi sastra berdasarkan anggapan bahwa sastra sebagai cerminan

(20)

1.2 Rumusan Masalah

Masalah-masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1.2.1 Bagaimanakah tokoh dan penokohan tokoh-tokoh dalam novel

Mata Matahari karya Ana Maryam ?

1.2.2 Bagaimanakah bentuk gaya hidup posmodern tokoh-tokoh dalam

novel Mata Matahari karya Ana Maryam ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan guna :

1.3.1 Mendeskripsikan analisis tokoh -tokoh dan penokohan dalam novel

Mata Matahari karya Ana Maryam

1.3.2 Mendeskripsikan bentuk gaya hidup posmodern tokoh-tokoh

dalam novel Mata Matahari karya Ana Maryam

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pemahaman

pembaca karya sastra, bahwa karya sastra merupakan masyarakat

1.4.2 Hasil penelitian ini diharapkan dapat mena mbah kajian tentang

gaya hidup posmodern dalam pandangan dunia sastra

1.4.3 Hasil pendekatan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

(21)

1.5 Tinjauan Pustaka

Novel Mata Matahari adalah novel pertama dari Ana Maryam.

Perempuan lulusan Sosiologi FISIP Universitas Airlangga ini bergabung

dengan Demi Kamu Creative Works, setelah sebelumnya ia sering melakukan

proyek penulisan independent. Ana Maryam rupanya sepakat dengan Dewi

Lestari penulis Supernova, bahwa ketika seseorang penulis menciptakan sebuah

karakter, maka penulis hanyalah menjadi medium jalannya kehidupan sebuah

dunia lain yang berlangsung dalam karya novel tersebut (Maryam, 2003: v).

Sejauh pengamatan peneliti, novel ini belum pernah di ulas secara

khusus dalam seminar, penelitian, maupun dalam tulisan -tulisan diportal cyber.

Oleh karena itu, penulis akan melakukan penelitian dengan menganalisis gaya

hidup posmodern tiap tokoh dalam novel Mata Matahari karya Ana Maryam

dengan pendekatan sosiologi sastra. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui

lebih jauh dan mendalam mengenai gaya hidup masyarakat serta pemikiran

modern masyarakat di kota metropolitan di tengah modernisasi, penelitian

dilakukan terhadap tokoh-tokoh dalan novel ini.

1.6 Landasan Teori

1.6.1. Tokoh dan Penokohan

Semua unsur cerita rekaan termasuk tokohnya, bersifat rekaan

semata-mata. Tokoh itu di dalam dunia nyata tidak ada. Boleh jadi ada kemiripannya

(22)

yang sama dengan seseorang yang kita kenal di dalam hidup kita. Memang

supaya tokoh dapat diterima pembaca, ia hendaklah memiliki sifat -sifat yang

dikenal pembaca, yang tidak asing baginya, bahkan yang mungkin ada pada

diri pembaca itu (Sudjiman, 1988: 17)

Tokoh adalah individu yang memiliki kualitas moral dan

kecenderungan tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan tindakan

(Nurgiyantoro, 1998: 165). Penokohan adalah perluasan pengertian dari tokoh

dan perwatakan sebab ia sekaligus mencakup masalah s iapa tokoh cerita,

bagaimana perwatakannya, bagaimana penempatannya, dan pelukisannya

dalam sebuah cerita hingga dapat memberikan gambaran yang jelas kepada

pembaca. Penokohan menyaran pada teknik perwujudan dan pengembangan

tokoh dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 1998: 166).

Menurut Panuti Sudjiman (1988: 23) penokohan merupakan penyajian

watak tokoh dan penciptaan citra itu sendiri. Tokoh-tokoh merupakan rekaan

pengarang dan hanya pengarang yang mengenal mereka. Tokoh -tokoh pun

perlu digambarkan dengan ciri-ciri lahir dan sifat batinnya agar wataknya juga

dikenal pembaca. Watak itu sendiri merupakan kualitas tokoh, kualitas nalar,

dan jiwanya yang membedakannya dengan tokoh lain, sehingga terciptalan

penokohan.

Dalam penelitian ini akan dianalisis unsur tokoh dan penokohan

(23)

unsur tersebut diharap ditemukan hubungan yang erat antara gaya hidup

modern dengan keadaan sosiologis setiap tokoh.

1.6.1.1 Tokoh

Tokoh merupakan pelaku cerita. Seperti yang dikatakan Nurgiyantoro

(1998: 165), istilah tokoh menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, misalnya

sebagai jawaban terhadap pertanyaan: siapakah tokoh utama novel itu? atau

ada berapa orang jumlah pelaku novel itu? atau siapakah tokoh protagonis

dan antagonis dalam novel itu?

Menurut definisinya, tokoh adalah individu rekaan yang mengalami

peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman,

1988: 16). Individu itu sendiri memiliki kualitas moral dan kecenderungan

tertentu yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam

tindakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1998: 165). Tokoh merupakan

bagian atau unsur dari suatu keutuhan artistik- yaitu karya sastra- yang harus

selalu menunjang keutuhan artistik itu (Kenney da lam Sudjiman, 1988: 17).

Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia

haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar, sewajar

kehidupan manusia yang terdiri dari darah dan daging, yang mempunyai

pikiran dan perasaan (Nurgiyantoro, 1998: 167).

Tokoh-tokoh cerita dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis

(24)

tokoh utama dan tokoh tambahan, tokoh protagonis dan antagonis, dan

tokoh sederhana dan tokoh bulat.

Dalam penelitian ini digunakan sudut pandang dan tinjauan tokoh

secara protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis dapat ditentukan dengan

memperhatikan hubungan antar tokoh. Menurut Sudjiman (1988: 16)

protagonis berhubungan dengan tokoh -tokoh lain, sedang tokoh-tokoh itu

sendiri tidak semua berhubungan satu dengan yang lain. Protagonis juga

menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan -harapan

kita. Nurgiyantoro (1998: 179) menyatakan tokoh antagonis merupakan

penyebab terjadinya konflik. Tokoh yang merupakan penentang utama dari

protagonis disebut antagonis (Sudjiman 1988: 19).

1.6.1.2 Penokohan

Penokohan menunjuk pada penempatan tokoh -tokoh tertentu dengan

watak-watak tertentu dalam sebuah cerita. Menurut Jones (dalam

Nurgiyantoro, 1998: 165), penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas

tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Sudjiman (1988:

23) mengatakan, bahwa penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh

(25)

1.6.2 Sosiologi Sastra

Sosiologi berasal dari akar kata bahasa Yunani ‘sosio’ atau society

yang bermakna masyarakat dan ‘logi’ atau logos yang artinya ilmu. Jadi

sosiologi adalah ilmu mengenai asal -usul dan pertumbuhan (evolusi)

masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan

hubungan antarmanusia dalam masyarakat, yang bersifaf umum, rasional, dan

empiris (Ratna, 2003: 1). Masyarakat adalah suatu lembaga yang di dalamnya

melibatkan unsur manusia yang saling berinteraksi.

Dalam teori sosiologi sastra ada beberapa pendapat mengenai

hubungan antara sosiologi dan sastra, salah satunya Ian Watt yang

mengatakan bahwa sastra menampilkan keadaan masyarakat secermat

-cermatnya dan sastra sebagai cerminan masyarakat (Ian Watt dalam

Saraswati, 2003: 11-12). Dengan kata lain, sastra mungkin dapat

mencerminkan tingkah laku masyarakat dan sastra dapat menampilkan fakta

-fakta sosial yang terjadi dalam masyarakat

Pandangan ini beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung

dari pelbagai segi struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas,

dan lainnya. Tugas seorang ahli sosiologi sastralah yang seharusnya

menghubungkan pengalaman tokoh -tokoh dunia rekaan dan situasi-situasi

ciptaan pengarang itu dengan keadaan sosial sebenarnya yang terjadi

(26)

Dari beberapa teori dan konteks yang dikemukakan dalam sosiologi

sastra, peneliti memilih teori Ian Watt karena ada hubungan yang erat antara

sosiologi dengan sastra. Sastra sebagai cerminan tingkah laku masyarakat dan

sastra dapat menampilkan fakta-fakta yang ada. Dengan menggunakan teori

tersebut peneliti mengharap dapat menganalisis dan menemukan fakta -fakta

gaya hidup postmodern yang ditulis dalam novel Mata Matahari.

1.6.3 Gaya Hidup Posmodern

Gaya hidup atau lifestyle telah menjadi pusat perhatian yang semaki n

berkembang di masa sekarang. Gaya hidup bertalian erat dengan penjelasan

sosiologis untuk menunjuk pada bentuk masyarakat posmodern yang telah

terbawa pada efek dari modernisasi.

Modernisasi kemudian menyebabkan lahirnya pluralisme. Salah satu

makna pluralisme adalah bahwa segala sesuatu diperbolehkan, apapun sah

(anything goes). Tidak ada batas-batas yang pasti mengenai baik/buruk,

estetik/kitsch. Semuanya menjadi relatif. Pluralisme atau keragaman ekspresi

masyarakat ini mendapatkan tempatnya di dalam wacana e stetik posmodernis.

Posmodernisme adalah satu kecenderungan estetik dan visual, yang secara

elektik mengasimilasi setiap bentuk gaya, setiap idiom dan genre; toleran

terhadap keanekaragaman dan pluralisme; toleran terhadap nilai -nilai yang

bertentangan; serta kebal terhadap paradoks dan kontradiksi nilai-nilai

(27)

Wacana posmodern mengimbas ke dunia pemasaran. Dalam budaya

konsumsi postmodern, objek tidak lagi terikat pada logika utilitas, fungsi, dan

kebutuhan, namun manifest dalam tanda. Tanda-tanda ini diwujudkan dalam

bentuk komoditi berdasarkan logika perbedaan. Implikasinya, kebutuhan

bukan lagi terhadap objek, tetapi terhadap perbedaan. Orang ingin ditandai

secara berbeda, baik makna sosial, status, simbol, dan prestise (Audifax,

2006:91). Proses pencarian tanda ini terus bergerak seiring manusia yang

semakin merasa menemukan eksistensinya. Manusia ada ketika dia bergaya.

Gaya hidup adalah cahaya yang memberi makna untuk eksistensi pada tataran

tertentu dalam kehidupan seseorang (Audifax, 2006:93).

Menurut Chaney (2004: 41) gaya hidup merupakan tindakan yang

membedakan antara satu orang dengan orang lain. Dalam interaksi sehari -hari

setiap orang dapat menerapkan suatu gagasan mengenai gaya hidup tanpa

perlu menjelaskan apa yang dimaksu d. Masyarakat benar-benar tertantang

serta sulit untuk menemukan deskripsi umum mengenai hal -hal yang merujuk

pada gaya hidup. Oleh karena itu, gaya hidup membantu memahami apa

kebiasaaan yang orang-orang lakukan, mengapa mereka melakukannya, dan

apakah yang mereka lakukan bermakna bagi dirinya maupun orang lain. Gaya

hidup tergantung pada bentuk-bentuk kultural, tempat geografis, tata karma,

cara menggunakan barang-barang, dan cara menghabiskan waktu. Hal-hal

(28)

Pendapat Chaney di atas ditimpali oleh Piliang (2006: 81) dengan

demikian, gaya hidup dikaitkan dengan perbedaan pola penggunaan barang,

ruang, dan waktu tertentu oleh kelompok masyarakat yang berbeda. Meskipun

banyak definisi tentang gay a, akan tetapi, ada beberapa sifat umum gaya, yang

juga berlaku pada gaya hidup yaitu (1) gaya hidup sebagai sebuah pola, yaitu

sesuatu yang dilakukan atau tampil secara berulang -ulang, (2) yang

mempunyai massa atau pengikut sehingga tidak ada gaya hidup y ang

personal, dan (3) mempunyai daur hidup atau life-cycle, artinya ada masa

kelahiran, tumbuh, puncak, surut, dan mati. Dengan kata lain, gaya hidup

dikaitkan dengan sesuatu yang secara relative bertahan lama (durable).

Ciri gaya hidup posmodern adalah menganut paham budaya

konsumerisme yaitu paham atau gaya hidup yang menganggap barang -barang

mewah sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan gaya hidup tid ak hemat

(KBBI, 2005). Diungkap oleh Ibrahim (dalam Chaney, 2004: 8) masyarakat

konsumen Indonesia m utakhir tampaknya tumbuh beriringan dengan sejarah

globalisasi ekonomi dan transformasi kapitalisme konsumsi, hal ini ditandai

dengan menjamurnya berbagai pusat perbelanjaan, berbagai macam industri

-semacam industri waktu luang, industri gossip, industri mode atau fashion,

industri kecantikan, dan industri nasihat -, kawasan huni mewah, apartemen,

kegandrungan terhadap merek asing, makanan instant, telepon selular.

Gaya hidup telah menjadi budaya dalam kehidupan masyarakat

(29)

mengkonsumsi gaya hidup untuk menunjukkan eksistensinya . Dari kebiasaan

itu maka terbentuklah budaya konsumerisme. Terbentuknya budaya ini dapat

dilihat dari berkembangnya bangunan -bangunan mewah dalam masyarakat

yang berupa real estate, ruko-ruko mewah, apartemen, shopping mall, office

tower, dan lain-lain. Selain itu penampilan merupakan hal terpenting dari

budaya ini. Penampilan adalah segalanya, sehingga industri mode dan fashion

berkembang pesat seiring melonjaknya daya beli konsumen. Selain fashion, di

zaman serba gadget ini teknologi informasi yang telah melesat dengan segala

kepraktisannya menimbulkan kebutuhan akan penggunaan ponsel dan

komputer beserta fasilitas internet. Maraknya kasus homoseksual, lesbian,

narkoba, free seks menjadi dampak dari pluralisme gaya hidup. Gaya hidup

merupakan makna simbolik dari bentuk -bentuk budaya yang melekat pada

masyarakat modern (Chaney, 2004: 91).

Beberapa konsep gaya hidup di atas, akan peneliti gunakan sebagai

dasar untuk menganalisi s novel Mata Matahari yang sarat dengan simbol dari

bentuk budaya yang ada pada masyarakat dan ini bertalian erat dengan

sosiologi sastra.

1.7 Metode Penelitian

1.7.1. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

(30)

cerminan langsung dari pelbagai segi struktur sosial masyarakat

(Swingewood dalam Saraswati, 2004: 4). Pendekatan yang

mempertimbangkan segi -segi kemasyarakatan ini disebut sosiologi sastra,

yaitu pendekatan yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelitian

sosiologis.

1.7.2. Metode

Metode yang digunakan untuk menganalisi data dalam penelitian ini

adalah metode deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik adalah metode

yang dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian

disusul dengan analisis. Dalam metode ini, peneliti membuat deskripsi dari

data yang ada dengan mencatat, menggarisbawahi, kemudian menganalisis

dan menginterpretasikan data yang akan diteliti (Ratna, 2004: 53)

Dengan metode ini akan dicatat data yang berkaitan dengan tokoh dan

penokohan. Dari analisis tokoh dan penokohan akan dianalisis gaya hidup

posmodern tokoh-tokoh dalam novel Mata Matahari dari sudut pandang

sosiologi sastra. Data yang didapat akan dianalisis, diinterpetasikan, dan

dilanjutkan dengan pendeskripsian dalam bentuk laporan penelitian.

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini sepenuhnya adalah studi pustaka yaitu penelitian ini

(31)

dimaksudakan agar peneliti memperoleh data yang lebih kongkret.

Pelaksanaannya yaitu dengan cara menelaah pustaka yang ada kaitannya

dengan objek penelitian yakni, gaya hidup tokoh dalam novel Mata Matahari.

Novel ini akan diteliti, diidentifi kasi, dan diklasifikasikan unsur -unsur

strukturnya yang mengacu ke objek penelitian yang kemudian dicatat dalam

kertas data.

1.7.4 Sumber Data

Data merupakan bahan penelitian yang diambil dari fakta. Bahan

penelitian itu disesuaikan dengan topik. Dalam p enelitian ini, data yang

diambil berupa data pustaka yang diperoleh dengan cara menghimpun data

dari berbagai literatur yang ada di perpustakaan. Pustaka yang dimaksud

adalah sumber tertulis yang memuat informasi mengenai topik penelitian.

Dalam penelitian ini data-data diperoleh dari berbagai buku. Karena penelitian

ini merupakan penelitian sastra, maka objeknya berupa karya sastra. Karya

sastra yang dimaksud adalah novel dengan identitas:

Judul : Mata Matahari

Pengarang : Ana Maryam

Penerbit : Bentang Budaya

(32)

Tebal : vii+180 hlm

Cetakan : Pertama, Juli 2003

1.8 Sistematika Penyajian

Pada bagian ini dipaparkan urutan hasil penelitian dalam bentuk jumlah

bab dan cakupan isinya. Bab I berisi pendahuluan dengan cakupannya, yaitu

latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika penelitian.

Bab II, mencakup analisis tokoh-tokoh serta analisis penokohan. Bab III berisi

analisis gaya hid up posmodern tokoh-tokoh. Bab IV berisi kesimpulan dan

(33)

BAB II

ANALISIS STRUKTURAL TOKOH-TOKOH DAN PENOKOHAN

DALAM NOVEL MATA MATAHARI

Analisis secara struktural dalam kajian sastra adalah salah satu cara untuk

memahami dan mengerti isi dari sebuah karya sastra. Analisis dilakukan dengan cara

memperhatikan dan mengkaji unsur-unsur pembangun struktur. Tokoh dan

penokohan merupakan unsur pembangun karya sastra. Kedua unsur inilah yang akan

dianalisis oleh penulis untuk mempermudah memahami karya sastra.

Dalam analisis ini penulis memang mengesampingkan beberapa unsur -unsur

pembangun cerita yang lain, dan hanya menekankan pada analisis struktural tokoh

dan penokohan saja. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk mengefektikan objek

penelitian yang berhubungan pada gaya hidup posmodern.

Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 1998: 165) tokoh adalah orang-orang

yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca akan

ditafsirkan secara moral. Penafsiran ini cenderung melihat pad a ekspresi, ucapan, dan

tindakan yang dilakukan oleh tokoh.

Dalam novel Mata Matahari terdapat beberapa tokoh yang membentuk

peristiwa dalam cerita. Tokoh-tokoh dapat dibedakan dalam beberapa jenis penamaan

berdasarkan dari sudut pandang dan tinjauannya. Dalam penelitian ini akan dikaji

tinjauan peran tokoh-tokohnya dengan melihat tokoh-tokoh utama dan tokoh

(34)

mencermati tokoh protagonis dan antagonisnya. Langkah selanjutnya iala h

mengidentifikasi penokohan dari masing -masing tokoh.

Penokohan merupakan penyajian watak tokoh yang meliputi kualitas nalar,

kualitas tokoh, serta penciptaan citra yang digambarkan dengan ciri-ciri lahir dan

sifat batin. Hal ini dilakukan untuk membeda kan satu tokoh dengan tokoh yang lain.

Dari pencitraan tokoh tersebut dapat diketahui bagaimana watak tokoh-tokoh dalam

novel Mata Matahari.

2.1 Tokoh Utama

Tokoh-tokoh utama dalam novel Mata Matahari adalah Lola, Elang, Therry,

dan Destano. Tokoh-tokoh utama dipilih karena tokoh tersebut mendukung jalannya

cerita sebagai kajian penelitian gaya hidup modern. Hal yang mendasari pemilihan

keempat tokoh utama ini adalah intensitas keterlibatannya dalam setiap kejadian

cerita dan bagaimana peran para tokoh dalam hubungan antar tokoh dalam cerita.

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannnya dalam novel. Ia

merupakan tokoh yang senantiasa hadir dalam tiap peristiwa baik secara langsung

atau tak langsung. Lola, Elang, Therry, dan Destano dalam novel ini diceritakan lebih

banyak dalam novel ini. Mereka sebagai tokoh utama memiliki hubungan dengan

tokoh-tokoh yang lain. Keempat tokoh ini hadir sebagai pelaku yang dikenai konflik

dan mempengaruhi perkembangan plot secara keseluruhan.

Melihat fungsi pen ampilan tokoh dalam novel, sama halnya dengan kita

(35)

menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan pembaca. Tokoh protagonis

sering dikenali sebagai tokoh yang memiliki persa maan permasalahan dengan

pembaca, tak hanya persamaan masalah tetapi juga persamaan dalam menyikapi

masalah. Hal-hal yang dialami tokoh protagonis mewakili pembaca, karena apa yang

dirasa, dipikir, dan dilakukan tokoh itu seolah-olah perwakilan dari diri pembaca.

Alasan itu pula yang menimbulkan rasa empati dari pembaca terhadap tokoh

protagonis.

Tokoh protagonis dalam novel Mata Matahari adalah Lola, Elang, dan

Therry. Tiga tokoh ini merupakan tokoh utama yang protagonis. Mereka mengalami

konflik dan tegangan yang terjadi karena tokoh lain dan karena hal-hal lain di luar

individualitas seseorang. Penyebab konflik yang tidak dilakukan oleh tokoh lain

dalam novel disebut sebagai kekuatan antagonistis, antagonistic force (Altenbernd &

Lewis, 166:59 dalam Nurgiyantoro, 1998: 179). Kekuatan seperti ini misalnya karena

bencana alam, kecelakaan, penyakit, lingkungan sosial dan alam, aturan -aturan sosial,

nilai-nilai moral, serta kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi. Namun ada juga

konflik dan tegangan yang dialami oleh tokoh protagonis yang berasal dari dalam diri

mereka sendiri. Misalnya saat seorang tokoh akan memutuskan suatu hal yang sulit

karena masing-masing akan menuntut kensekuensi yang tinggi sehingga terjadi

pertentangan dalam diri sendiri. Hal -hal semacam itu dialami ketiga tokoh protagonis

ini.

Tokoh Lola sebagai tokoh utama protagonis, mengalami berbagai konflik dan

(36)

telah mengalami berbagai tegangan dengan lingkun gan sosialnya. Hidup dengan

keadaan ekonomi yang cukup mencekik, hingga ibunya harus menjadi tukang pijat

para sopir di sebuah warung remang-remang. Lola, menghadapi norma-norma moral

dan aturan-aturan sosial yang berlawanan dengan prinsip dan cara hidupn ya. Ia

bahkan terlibat dengan pertentangan batinnya yang kuat saat ia menginginkan anak

tanpa pernikahan, hal yang jelas -jelas melawan tatanan sosial dan norma moral.

Konflik dan tegangan yang dialami Lola tidak hanya barasal dari kekuatan

antagonistis saja, tetapi juga disebabkan oleh tokoh-tokoh lain dalam novel.

(1) “Ia ingat, suatu hari ia sempat mencela ibunya yang suka pulang malam lantaran nongkrong di sebuah depot makan di dekat rumahnya. Sebuah siang sepulang sekolah saat mengerjakan ketrampilan bersama, ia sempat menerima ejekan yang terasa sangat menghina ibu dan dirinya. Teman sekolahnya sewaktu SD, mengolok ibunya bahwa ibunya adalah pelacur. Tentu ia tidak bisa terima. Karena ibunya hanyalah ibu -ibu rumah tangga biasa, tak pernah berdandan leb ih atau pulang kelewat larut. Setidaknya, itu setahunya. (Tapia pa yang manusia tahu?)” (Maryam, 2003:4) (2) “Ia juga ingat ibunya harus menjual anting milik Lola lantaran tak

ada lagi uang untuk membayar buku baru saat ia naik kelas. Saat itu ia mendapat rangking dua. Hatinya sakit, lantaran untuk membeli buku sejumlah dua belas ribu saja ibunya harus menjual antingnya. Ia menangis saat melepaskan antingnya untuk dijual. Bukan tak rela, tapi ia begitu nelongso. Begitu pedih atas apa yang harus dilakukannya . Atas kemiskinannya.”(Maryam, 2003:6) (3) “Apa yang belum kucapai? Apa yang hendak kucapai? Semua ada

(37)

Tokoh protagonis selanjutnya adalah Elang. Ia juga mengalami konflik karena

dua faktor, yaitu faktor kekuatan antagonistis dan faktor konflik dengan tokoh lain.

Kekuatan antagonistis yang menimbulkan tegangan dalam diri Elang adalah faktor

alam yang menyebabkan penyakit. Ia mengalami Retinitis pigmentosa, kebutaan di

usia kanak-kanak. Peristiwa ini menimbulkan konflik yang berkembang menjadi bagi

dirinya hingga ia dewasa.

(4) “Saat itu ia adalah remaja yang mesti siap menghadapi kebutaannya sejak ia berusia enam tahun. Semenjak dokter menyatakan dirinya mempunyai kelainan. Retinitis Pigmentosa.” (Maryam, 2003: 13)

(5) “Lama-kelamaan ia makin tak bisa melihat dengan jelas. Ketika kecil gejala awal masih belum sesering sekarang. Jika setelah diagnosis pertama pandangannya belum seburuk ini, maka sekarang ia menjadi semakin menghilang dari dunianya. Atau dunia makin mengilang dari dirinya. Toh apa bedanya. Tujuh bulan setelah ulang tahunnya yang keenam belas, ia pun tak bisa melihat apa-apa lagi. Dunianya menjadi gulita. Dan bertahun -tahun ia berusaha memindahkan apapun yang pernah dilihatnya, ke alam imajinasinya. Imajinasi yang membentuk sebuah dunia dalam benaknya. Sebuah dunia yang sangat pribadi, yang hanya bisa dinikmatinya sendiri. Karena ial ah pencipta dalam benaknya itu.” (Maryam, 2003: 13)

Tokoh Elang juga mengalami konflik dengan tokoh utama yang utama yaitu

Lola. Ia terlibat cinta dengan Lola yang sarat dengan berbagai peristiwa yang

mengubah keseluruhan perkembangan plot cerita yang sem ula ditebak-tebak oleh

pembaca.

(6) “Semenjak malam itu aku dan Elang semakin akrab. Aku sering meneleponnya. Itu kuakui. Dan ada yang baru, bahwa hampir setiap hari aku merindukannya. Aku akan bahagia meski hanya mendengar suaranya.” (Maryam, 2003: 123)

(38)

(8) “Aku ingin hubunganku denganmu seperti ketika aku SMA. Tak terlalu banyak seks, lebih banyak ke persoalan emosi, kognisi dan hati.” (Maryam, 2003: 129)

(9) “Kalau Elang? Aku adalah malaikat di ranjangnya. Malaikat yang mengajarkan seks kepada laki-laki buta yang masih perawan itu.” (Maryam, 2003: 142)

Tokoh Therry merupakan tokoh protagonis yang mengalami pendegrasian,

artinya ia semula dimunculkan sebagai protagonis yang selalu sejalan dengan tokoh

utama.

(10) “Tak apalah, aku melakoni apa yang kini ingin kulakoni. Toh aku ini hanya aktor. Seperti kata Lola. Sudah waktunya orang memilih hidup. Memilih bagaimana ia hendak menjalani hidup. Setelah waktunya aku menjadi bagaian dari keluarga sebagai bagian dari keputusan-keputusan individualku, sekarang saatnya aku memutuskan hidupku dalam perspektif kepentinganku sebagai perempuan. Kebutuhan basisku sebagai manusia.” (Maryam, 2003: 145)

Namun di tengah penceritaan ia menjadi salah satu penyebab munculnya

konflik utama pada diri Lola. Saat konflik mengalami penurunan, fungsi tokohnya

pun kembali menjadi sejalan dengan tokoh utamanya.

(11) “Aku tertawa sambil teringat Thery. Apa yang dipikirkannya sekarang? Apa yang akan dilakukannya jika tahu laki-laki muda pujaan hatinya sedang di apartemenku dan mencoba mengajakku tidur? Kupikir sekali lagi Thery jatuh cinta pada orang yang salah. Ia juga bersahabat dengan orang yang salah pula. Atau bahkan mungkin, ia hidup di dunia yang salah juga. Atau zamannya yang salah?” (Maryam, 2003: 115)

(39)

Tokoh Therry mengalami konflik yang cukup kuat saat ia harus menghadapi

pengakuan dari Lola dan Destano yang membuatnya mesti membuat keputusan.

Therry terlibat konflik yang cukup kuat dengan tokoh utama Lola di pertengahan plot

akibat munculnya tokoh Destano.

(13) “Sepuluh menit kudengar suara. Pasti Lola terbangun. Tumben agak pagian. Kudengar suara pintu kamarnya dibuka. Langkah halus di karpet membuatku mengikuti arah suara itu dan siap dengan kalimat penyambutan. Dua detik setelahnya …, Tuhan Yesus! Destano! Ngapain dia di sini sambil bertelanjang seperti itu?!” (Maryam, 2003: 150)

(14) “Aku terlongo-longo. Begitu pun ia. Aku tahu mesti bilang apa. Rasanya semua berputar hebat di kepalaku. Seluruh adegan indah kami tiba -tiba saja bermuncukan berdesakan di memoriku dan hendak terbang menuju atap gedung ini. Jantungku pun rasanya tak berhenti memukul rongga dadaku. Rasanya nyaring sekali sampai aku bisa mendengarnya. Destano ? Lola?” (Maryam, 2003: 151)

(15) “Kalimat menggantung ini benar -benar seperti hendak menggantungku. Apa-apaan ini? Dua orang yang paling kusayang dan kupercaya mengkhianatiku!” (Maryam, 2003: 151) (16) “Tak usah minta maaf. Bukan kalian yang salah. Seharusnya gue tahu bahwa gue telah berteman dengan pelacur!” (Maryam,

(18) “Tiba-tiba dia menciumku. Dia mencium pipiku. Aku menangis. Aku menangis karena sangat sedih dan aku bingung apa yang mesti kulakukan. Aku tahu Lola sayang padaku. Aku tahu. Tapi mengapa dia melakukan itu? Mengapa jika sayang dia justru menyakitiku seperti ini? Apakah orang yang saling sayang itu cenderung saling menyakiti? Apakah orang yang saling sayang itu justru lebih kapabel untuk saling menyakiti?” (Maryam, 2003: 154)

(40)

dengan lidahnya. Aku bingung. Aku tak melihat apa -apa lagi. Semuanya begitu gelap. Tak kusadari sepenuhnya hingga kemudian aku tahu bahwa aku telah berciuman dengannya. Aku menciumnya dengan sepenuh hati, antara sayang dan benci. Antara ingin dan tak ingin. Aku menciuminya. Dia juga. Sampai tubuhnya yang telanjang itu memelukku erat dan mulai melepas bajuku. Aku menurut saja. Masih dalam perasaan benci dan sayang. Sayang dan benci. Aku membiarkannya. Aku menikmati ini. Antara benci dan sayang. Aku menikmatinya. Hingga aku sadar kemudian di kala kami sedang bercinta. Dia membuatku bercinta dengannya. Aku bingung. Aku kehilangan kontrol. Aku bingung. Aku kehilangan kesadaran. Aku disorientasi. Aku melayang. Aku hilang. Aku terbang. Dan aku jatuh saat aku orgasme. Tuhan Yesus, sahabatku ini telah membuatku orgasme.” (Maryam, 2003: 155)

Tokoh antagonis adalah tokoh yang menjadi lawan dari tokoh protagonis, ia

menjadi pihak yang bertentangan atau pihak yang jahat. Tokoh ini menjadi penyebab

munculnya konflik baik secara langsung ataupun tak langsung, bersifat fisik maupun

batin. Tokoh antagonis dalam novel ini adalah tokoh Destano.

Destano berfungsi sebagai tokoh antagonis karena ia mengalami berbagai

tegangan dan konflik sejak ia diceritakan. Konflik yang ia alami juga disebabkan oleh

tokoh lain Ia berkonflik dengan kedua tokoh utama yang utama yaitu Lola dan tokoh

tambahan utama yaitu Therry. Dengan Lola, ia memunculkan konflik cinta segitiga

sementara Destano adalah kekasih Therry, sahabat Lola. Tokoh ini menyebabkan

konflik antara Lola dan Therry secara fisik dan menyebabkan adany a konflik batin

dalam diri tokoh Therry.

(41)

(21) “Maka di antara keributan, aku tinggalkan saja mereka. Urusan perempuan harus diselesaikan sendiri oleh mereka. Aku tak perlu ikut campur. Kukira aku harus bersikap baik pada Thery. Toh bagaimanapun ia memberikan cintanya padaku (meski aku tak butuh). Lagi pula, Thery adalah tempat bermain yang sangat sederhana.” (Maryam, 2003: 160)

(22) “Maka jika target lompatanku adalah lima meter, maka hari ni aku melompat sepuluh meter. Beres sudah. Perempuan itu lebih mudah dari yang kupikirkan. Dia telah kalah. Dia telah menyerah, maka aku siap dengan senjataku yang paling biasa.

Paling sederhana. Rupanya perempuan menyukai

kesederhanaan.” (Maryam, 2003: 162)

Konflik dialami sejak ia memasuki masa remaja. Destano hidup dengan

tekanan lingkungan sosial dan alam yang ti dak cukup baik, ia adalah anak buangan

yang ditemukan oleh keluarga nelayan yang miskin. Beranjak dewasa dalam tekanan

kekuasaan dan kekuatan yang lebih tinggi menyebabkan Destano kabur dari keluarga

yang membesarkannya. Hidup dalam pelarian dari pengingka ran atas kenyataann

hidup akhirnya membuatnya mendekam dibalik tembok rumah sakit jiwa. Tokoh

Destano mengalami pendegradasian fungsi, ia berubah sesuai plot yang berkembang.

(23) “Gak eruh, Cak. Aku tadi habis berak. Pas aku mau cewok, aku lihat ada jarit di dekat tumpukan batu pinggir jalan. Aku juga dengar sayup-sayup suara tangis bayi. Tapi kupikir tangis anak orang. Aku tadi hanya tertarik sama jaritnya. Lumayan bias buat kemul. Soalnya tak lihat masih baru. Warnanya masih ngejreng. Tapi aku kuaget setengah mati. Ternyata ada jabang bayinya!” (Maryam, 2003: 47)

(24) “Tahun 1990 Rizky minggat. Hal terakhir yang diucapkannya ke bapaknya adalah bahwa tak seharusnya ia di situ. Tak mungkin ia dilahirkan semiskin itu di kampung nelayan di Kenjeran karena dirinya dan Iqbal tak cocok. Secara fisik dan kecerdasan, Iqbal terlalu bodoh untuk punya anak dirinya.” (Maryam, 2003: 58)

(42)

Destano. Namaku Destano Kusumanegara. Bapakku Radenmas dari Solo. Ibuku santri dari Ponorogo. Ayahku pemilik perusahaan pengolahan minyak di Balikpapan. Kami kaya. Tapi aku memilih minggat dari rumah. Karena ta k betah tinggal di rumah. Lebih baik hidup di jalanan, yang memberiku kebebasan lebih dari aku mencintai uang. Di rumah terlalu banyak peraturan. Aku tak tahan. Jadi aku minggat saja. Dan ini sebuah fakta. Bukan olah kata-kata.” (Maryam, 2003: 58-59)

(26) “Aku tahu, aku tak dilahirkan untuk kesia-siaan. Aku dilahirkan untuk menjadi yang termegah diantara kemegahan lainnya. Dan aku adalah anak yang terpilih. Aku bukan anak nelayan. Aku bukan produk kemiskinan. Aku anak yang terberkahi. Aku sang penakluk dunia.” (Maryam, 2003: 163)

(27) “Tubuh itu seperti dipaksa untuk ditekuk. Dengan posisi miring ia tidur sambil memegangi kepalanya seolah -olah sedang melindungi diri dari pukulan. Sekitar lebih dari satu jam posisi laki-laki itu tak berubah sama sekali. Hanya dengkur halusnya yang kadang-kadang lebih nyaring, dan kadang lebih halus. Mulutnya sedikit menganga menghadap tembok. Hanya selembar sarung dan celana dalam yang sudah molor karetnya yang membungkus tubuh berkulit putih itu. Destano nama laki -laki itu, telah dua minggu mendapat perawatan di Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.” (Maryam, 2003: 160-170)

(28) “Bagaimana bisa ia masuk rumah sakit jiwa? Menurut kabar yang kudengar, ia tertangkap basah dengan beberapa gram putaw di rumah kosnya. Maka ia ditangkap. Ia sama sekali tak melakukan perlawanan. Hingga kemudian ketika hendak diadili ia meracau. Ia berbicara seperti pada dirinya sendiri.” (Maryam, 2003: 170)

Jadi secara garis besar dapat disimpulkan bahwa tokoh-tokoh dalam Mata

Matahari ini saling mendukun g alur penceritaan. Meraka saling berhubungan dengan

beberapa tokoh dalam cerita. Dari analisis di atas berhasil diidentifikasi masing

-masing jabatan tokoh dalam cerita berdasar intensitas keterlibatan dan bagaimana

(43)

2.1.2 Penokohan Tokoh Utama

Penokohan merupakan penyajian watak tokoh yang meliputi kualitas nalar,

kualitas tokoh, serta penciptaan citra yang digambarkan dengan ciri-ciri lahir dan

sifat batin. Berikut ini akan dipaparkan penokohan tokoh-tokoh utama yaitu Lola,

Elang, Therry, dan Destano dalam novel Mata Matahari yang bergaya hidup

postmodern. Hal ini dilakukan untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang

lain. Dari pencitraan tokoh tersebut dapat diketahui bagaimana watak tokoh-tokoh

dalam novel Mata Matahari.

2.1.2.1 Lola

Secara fisik Lola digambarkan sebagai sosok perempuan yang cantik

dengan penampilan yang tidak begitu feminim. Ia memiliki rambut yang

panjang, berkulit tidak terlalu putih namun bersih. Lola juga mengenakan

beberapa perhiasan ya ng digunakan di hidung, leher, dan pergelangan

tangannya. Ia memiliki gaya berdandan yang berbeda dengan kebanyakan

perempuan-perempuan lain. Hal ini dapat dibuktikan pada kutipan berikut

(29) “Seorang berambut panjang lurus, kulit tidak begitu putih, tapi cukup bersih, ada tindik di hidungnya, kalung bergaya gothic di lehernya, serta gelang di tangan kanan, plus jam di sebelah kiri. Ada tas ransel di belakangnya. Bukan jenis yang feminim, jenis perempuan pemberontak….” (Maryam, 2003: 107)

Lola juga menggambarkan sosok perempuan yang liar dan cenderung

pemberontak. Ia juga antinorma dan tidak suka diatur oleh tatanan norma.

Penggambaran karakter psikisnya dapat dilihat pada kutipan

(44)

(31) “Bukan jenis yang feminim, jenis perempuan pemberontak….” (Maryam, 2003: 107)

(32) “Sedangkan si Lola sangat antinorma, anti-aturan.” (Maryam, 2003: 108)

Lola yang bekerja sebagai fotografer di studio miliknya sendiri adalah

seorang yang memiliki idealism e dalam bekerja, ia juga seorang bos yang

teliti, disiplin, memiliki prioritas dalam hidupnya terutama dalam masalah

pekerjaan. Pada kutipan (33) dapat diketahui sifat teliti dalam penggunaan

uang untuk pemenuhan kebutuhan studio miliknya. Lola juga disi plin dalam

pekerjaaannya, ia menyukai bekerja dengan jadwal yang teratur oleh karena

itu pula ia sangat marah ketika salah seorang dari kliennya minta untuk

mengubah jadwal. Sifat diktaktor dalam bekerja juga dirasakan oleh anak

buahnya. Namun ternyata dengan kediktaktoran dari Lola maka semua anak

buahnya dapat bekerja dengan cekatan dan disiplin. Loyalitas Lola pada

pekerjaan dan kliennya sangat nampak pada kutipan (37) dimana Lola

membatalkan pertemuan pribadi dengan Benny karena ada pekerjaan dan

harus membeli perlengkapan untuk studio. Sifat-sifat itu dapat dilihat pada

kutipan-kutipan berikut ini

(33) “Ia mengingat account di tabungan bisnisnya, seberapa besar ia harus mengambil uang hari ini. Paling tidak harus sesuai dengan harga softbox yang hendak dibelinya” (Maryam, 2003: 9)

(34) “Lola berdiri sambil mengingat apa yang harus dilakukan hari ini. Studio memerlukan satu softbox lagi” (Maryam, 2003: 9)

(45)

seperti teh botol. Enak diminun, tapi membuat ginj al rusak.” (Maryam, 2003: 10)

(36) “Ia sudah terbiasa dengan ritme kerja Lola. Disiplin, tapi tak terlalu diktaktor. …Lola bisa menjadi bos yang tak sabaran, tapi sekaligus bisa menjadi temen yang super sabar.” (Maryam, 2003: 10-11)

(37) “Sorry Benn, hari ini aku nggak bisa ketemu kamu, si Ine minta difoto hari ini. Aku juga harus beli softbox. Soalnya iklannya mesti sempurna banget lighting-nya. Dan aku perlu softbox buat pemotretan Ine, ini klien lumayan besar. Aku nggak mau ngecewain mereka, juga semua klienku sih…”(Maryam, 2003: 11)

Selain memiliki idealisme dan prioritas dalam pekerjaannya ia

memiliki sebuah pandangan negatif mengenai perkawinan. Karena ha l itu juga

ia menginginkan seorang anak yang lahir dari rahimnya, namun ia tak ingin

menikah dan b ersuami. Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan-kutipan berikut

(38) “Apa yang belum kucapai? Apa yang hendak kucapai? Semua ada di tanganku. Aku tak begitu butuh banyak benda. Seks juga sudah. Sudah sudah. Kecuali satu, aku ingin punya anak. Tapi aku tak ingin bersuami. Sanggupkah dunia menerima kenyataan ini? Jikalau aku punya anak tak usah pakai suami? Seberapa besar kemarahan akan kutangkap dari keputusan ini? Adakah aku sendiri? Adakah aku disetujui? Perlukah aku dipahami? Inginkah aku merasa dipahami ? Dengan siapa ya?” (Maryam, 2003: 3)

Selain Lola memiliki keinginan untuk memiliki seorang anak tanpa

adanya ikatan pernikahan. Buatnya anak adalah kebahagian yang paling

utama tidak ada cinta yang lebih sempurna dari cinta seorang anak kepada

ibunya. Hal ini dapat dibuktikan pada kutipan (33) dan (33) yang saling

berhubungan ini

(46)

Qadarsih di Hard Rock Café Jakarta bersama Indra Q. ia melihat ibu itu mencium anaknya. Sang anak pun membalas ciuman itu dengan kelegaan seorang anak. Lola melihat cinta abadi. Lola melihat api yang tak pernah padam. Lola melihat cinta yang berharga. Itulah yang ingin diraihnya sekarang. Itulah yang menjadi impiannya. ” (Maryam, 2003: 3)

Impiannya untuk memiliki anak itu semakin membuat Lola gencar

mencari pasangan untuk menciptakan seorang anak yang akan membuat dan

menjaga api cinta yang abadi. Ia mulai mengingat -ingat semua lelaki dalam

memorinya. Lola benar-benar ingin seorang anak yang lahir dari rahimnya

yang tentu saja ia lahirkan tanpa adanya ikatan lembaga pernikahan. Pilihan

ini menguatkan citraan tentang Lola yang memang antinorma dan menentang

arus budaya timur yang berlaku.

(40) “Lola kini mulai sibuk mencari dalam simpanan memorinya, dengan siapa ia akan menciptakan sebentuk individu, yang kelak akan diberinya nama.” (Maryam, 2003: 4)

(41) “Karena banyak hal yang kulakukan yang menentang arus normatif banyak orang.” (Maryam, 2003: 125)

(42) “Sejujurnya aku tidak mempercayai lembaga perkawinan. Bagiku itu lembaga paling munafik yang pernah tercipta. Karena banyak sekali orang-orang, istri atau suami sama saja, selingkuh meski mereka sudah punya banyak anak. Lantas apa gunanya pernikahan? Aku tak sanggup, jika anak-anakku di suatu saat menyaksikan aku atau suamiku berselingkuh. Tidak, aku tidak mau mengambil resiko.” (Maryam, 2003: 127)

Dari kutipan (42) dapat diketahui bahwa Lola menganggap sebuah

pernikahan seperti tempat perselingkuhan yan g hipokrit dan bentuk dari

sebuah persundalan yang dilembagai. Namun dari kutipan di atas dapat

(47)

(43) “Kamu takut. Dan rasanya begitu banyak ketakutan dalam hidupmu. Ada apa Lola? Apa yang pernah terjadi dalam hidupmu?” (Maryam, 2003: 127)

(44) “Seandainya ibu dan bapak dulu bahagia, apakah aku akan sebingung ini? Tidak. Aku tidak ingin menyalahkan masa lalu mereka. Ini adalah hidupku sendiri. Tidak ada kaitannya dengan mereka. Aku tidak peduli dengan teori psikologi apa pun yang mengaitkan latar belakang orangtua seseorang menjadi pemicu persoalan psikologis seseorang. ” (Maryam, 2003: 180)

Ia trauma dengan perpisahan kedua orangtuanya. Lola yang menentang arus

memilih untuk menganut pola hidup bebas menjadikan seks bebas sebagai

salah satu gaya hidup yang ia pilih dan ia menikmatinya.

(45) “Aku belum pernah mengukurnya, atau menanyakannya pada diriku sendiri. Karena bagiku yang terjadi sekarang adalah aku melakukannya, dan aku menik matinya” (Maryam, 2003: 118)

Ia bersikap terbuka kepada siapa saja yang ingin tidur dengannya

asalkan Lola menyukai lelaki itu. Memang kepada siapa saja namun ia tidak

tidur dengan sembarang lelaki, ia hanya tidur dengan lelaki yang sedikitnya

memenuhi kr iteria-kriteria tertentu. Paling tidak lelaki itu cukup cerdas, ia

tidak menyukai lelaki bodoh. Hal ini ia lakukan sembari ia mencoba

menemukan siapa calon ay ah biologis bagi anaknya kelak dan ia juga tidak

mau berbuat ceroboh dengan melakukan hubungan sek s tanpa alat pengaman.

Lola berpikir begitu karena ia tidak ingin salah memilih benih untuk anaknya

kelak dan ia juga memikirkan faktor kesehatan.

(46) “Aku kangen. Bobok yuk,” ujar suara bernama Benny itu.” (Maryam, 2003: 8)

(48)

(48) “Karena bagiku, tak selalu ada Elang, bisa menjadi Benny, Alexander, atau bahkan Bill Clinton sekalipun. Tapi mereka akan selalu bergeser, tapi bagiku tetap ada aku.”(Maryam, 2003: 124) (49) “Lola mengeringkan badannya, membubuhkan lotion ke seluruh

tubuhnya. Hari ini ia ingin wangi. Hari ini ingin bercinta sepuas hati. Bercinta? Bercinta tanpa cinta apa namanya? Seks? Barangkali. Seks saja, tanpa cinta.” (Maryam, 2003: 61)

(50) “Suara shower berhenti. Tommy memanggil dari dalam kamar mandi. “Lola sini dong!” Lola menurut (atau se-ide). Ia masuk kamar mandi dan melihat Tommy dalam ketelanjangan yang mutlak. Jasmani dan rohani. Ia merengkuh badan Tommy yang mengulurkan tangan balas merengkuhanya. Mereka berciuman. Lama, sampai mulut mereka naik suhunya, dari 37 meningkat ke 37,5 derajat celcius. Si Joni, julukan Lola untuk penis Tommy yang nakal, mulai membanting diri di dinding perut L ola yang menempel di tubuh Tommy. Lola tersenyum, sambil mempererat pagutannya.” (Maryam, 2003: 61)

(51) “Hotel Ibis sore itu lengang. Aku hampir-hampir bisa mendengar setiap napas yang keluar dari hidungku sendiri. Alex, atau Alexander Soroinsong, salah satu dari kekasihku, tergeletak di sebelahku.” (Maryam, 2003: 66)

(52) “Bukankah aku tak membutuhkan rasa? Aku hanya butuh penis, juga sperma dari laki-laki yang berkualitas untuk menjadi donor bagi anakku.” (Maryam, 2003: 118)

Sebagai penganut seks bebas, ia adalah seorang penikmat dan pecinta

seks, baginya hubungan seks adalah anugerah dan orgasme adalah

kenikmatan. Hal ini dapat dilihat pada kutipan-kutipan langsung dan tak

langsung berikut ini

(49)

menyukai kekuasaan. Ia menyukai orgasme.” (Maryam, 2003: 62)

(56) “….ia mencari Tuhan. Dan saat merasakan kehadiran Illahi-nya, ia memanjat doa. Mengucap terima kasih telah diberi keindahan pada jiwanya. Keindahan atas persetubuhan, keindahan yang sulit tergantikan.” (Maryam, 2003: 62-63)

(57) “Tapi izinkanlah aku untuk menikmati tubuhmu malam ini, kan kusenandungkan syair terindah dari mul ut berbisa ini. Pun kutambahkan air surga di mulutmu yang dahaga. Maka berterimakasihlah pada Pencipta Semesta. Yang memberi perih dan menghadiahkan berahi…”(Maryam, 2003: 116)

Selain itu Lola juga cerdas dan berwawasan luas. Ia gemar membaca,

karenanya ia menguasai berbagai macam obrolan. Hal ini dapat dilihat pada

kutipan

(58) “Destano ingin bertemu, katanya ingin curhat. Aku sendiri tak tahu apa yang hendak dicurhatkan. Tapi belakangan ini pembicaraan menjadi makin spesifik. Ke arah yang sangat personal, meski kadang kami tetap mebicarakan ilmu pengetahuan kontemporer yang sampa tingkat penggabungan antara fiksi dan realita. Atau membicarakan mengapa Virginia Wolf menjadi lesbian, atau kenapa ada orang seperti Marquise de Sade, yang bisa menulis dengan d arahnya sendiri sebagai tinta”(Maryam, 2003: 113)

Penokohan tokoh Lola disampaikan dengan sangat jelas dalam novel

ini oleh Ana Maryam. Penampilan fisiknya yang menarik cukup

memudahkannya untuk mendapatkan perhatian dari beberapa lelaki.

Penampilan fisik nya tersebut ditunjang dengan pembawaannya yang

menyenangkan. Ia memiliki kecerdasan dan pergaulan yang luas hingga

wawasannya terbuka. Pola pikirnya yang menentang arus tidak membuatnya

(50)

2.1.2.2 Elang

Erlangga Prabu nama panjangnya, namun ia biasa dipanggil Elang. Ia

adalah salah satu dari sekian kekasih Lola. Ia adalah laki-laki dewasa yang

menarik bagi Lola. Destano memiliki penampilan fisik berambut agak

gondrong, berbadan seksi, tegap, gagah, dengan badan berisi. Ia memiliki

wajah yang ganteng dengan senyum yang memikat. Secara fisik Elang nyaris

sempurna, namun ia buta. Ia mengalami kebutaan pada masa kanak-kanak

sejak ia dinyatakan menderita Retinitis Pigmentosa.

(59) “Ia tertarik lantaran ternyata laki-laki muda itu buta. Buta dan tampan. Ia langsung teringat Tio Pakusodewo. Ada kemiripan, kecuali badan laki-laki itu lebih tegap. Jika Tio berukuran M, maka laki-laki ini berukuran L.” (Maryam, 2003: 64)

(60) “Karena pada intinya aku tak bisa menghentikan perasaan peduliku pada Elang, laki-laki buta yang seksi itu. Yang hadir dengan rambut separuh gondrong….” (Maryam, 2003: 141) (61) “Alamaaak! Senyumnya itu indah sekali!” (Maryam, 2003: 73)

Kebutaan yang menimpa Elang pada saat usia 16 tahun lebih 7 bulan

itu tidak membuatnya patah semangat untuk terus hidup. Ia terus berusaha

untuk dapat bertahan dengan kebutaannya. Memang awalnya ia mengalami

kegundahan karena hilangnya fungsi indra penglihatan. Namun seiring proses

yang ia lalui akhirnya ia mampu melewati masa-masa berat itu. Elang

kemudian makin memaknai kebutaannya dengan belajar membaca tulisan

braille.

(51)

(63) “Ia terus bereksplorasi. Mencari apa yang datang dari yang hilang. Mencari apa yang bisa didapat dari yang dilepas. Ia mencari pengganti, pada sebuah kehilangan besar. Ia belajar tabah, ia berguru pada kegelapan. Ia cukup tabah, pada akhirnya, menerima kegelapan itu.” (Maryam, 2003: 37)

(64) “Eksplorasi pada dunia itu membuatnya mengalir menjadi elemen penting bagi para tunanetra. Meski dengan berdarah -darah, akhirnya mampu juga ia membaca huruf braille. Rasa keputusaannya disertai dengan keterpaksaan tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh, ia pun kemudian bisa membaca dengan lancar. Meski dengan tangisan tak bersuara. Dengan teriakan yang teredam oleh keadaan” (Maryam, 2003: 37)

Elang memiliki sikap santun dan sopan terhadap orang -orang di

sekelilingnya. Sikap sopan itu memang terlahir dari asuhan keluarganya sejak

ia kecil.

(65) “Gila ni orang sopan banget! Pasti dia berasal dari keluarga yang penuh dengan tata krama.” (Maryam, 2003: 76)

Elang juga cerdas dengan keterbatasan fungsi organ matanya yang

buta. Ia bekerja di sebuah yayasan yang mengembangkan ilmu pengetahuan

bagi orang buta. Disamping itu ia juga seorang penulis cerita anak -anak.

(66) “Selepas pendidikan membaca dan ia mulai lancar serta berhasil menyesuaikan diri dengan keadaanny a yang tanpa pengelihatan, ia kemudian bekerja pada yayasan Tunanetra Mandiri, sebuah yayasan yang mengembangkan ilmu pengetahuan bagi orang buta. Ia mendapat bagian untuk memindahkan ilmu pengetahuan dalam materi standar untuk anak-anak, ke dalam kurikulum orang buta. Yaitu menyesuaikan kurukulum, sedikit menambahi atau mengurangi.” (Maryam, 2003: 38)

(67) “Kala senggang ia juga menulis cerita anak -anak dalam huruf braille.” (Maryam, 2003: 38)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...