Korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository

138 

Teks penuh

(1)

i

KORELASI ABDOMINAL SKINFOLD THICKNESS TERHADAP RASIO

KADAR KOLESTEROL TOTAL/HDL PADA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD KABUPATEN TEMANGGUNG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh:

Gissela Haryuningtiyas NIM : 108114175

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

ii

(3)

iii

(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

Tuhan Yesus, sumber kekuatanku,

Bapak (alm) & Ibu, sumber motivasiku,

Mas Danu-ku, teman-teman dan sahabatku,

(5)

v

(6)

vi

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK

(7)

vii

PRAKATA

Puji dan syukur penulis persembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena segala kasih, bekat, penerangan Roh Kudus dan bimbingan-Nya yang begitu luar biasa diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi

yang berjudul “Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL pada Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten

Temanggung” untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana

Farmasi (S.Farm.) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Tidak terlupa penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan memberikan banyak nasihat serta semangat kepada :

1. Dr. Artiyono, M.Kes., selaku Direktur RSUD Kabupaten Temanggung yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di rumah sakit tersebut

2. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

3. dr. Fenty, M.Kes., Sp.PK., selaku dosen pembimbing yang telah banyak membantu dalam berbagi ilmu, pengetahuan, dan wawasan serta telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk berdiskusi dalam penyusunan skripsi ini

(8)

viii

5. Maria Wisnu Donowati, M.Si., Apt. selaku dosen penguji atas saran dan dukungan yang membangun dan berharga

6. Ketua Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian ini

7. Ibu Rubiyah, Mbak Evi, Ibu Tintin, dan petugas laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung yang sangat membantu kami dalam pengambilan data di rumah sakit

8. Segenap dosen Fakultas Farmasi USD yang telah memberikan ilmu dan bimbingan kepada penulis

9. Bapak Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M. Sc., selaku dosen statistik yang telah membimbing dengan sabar dalam membantu pengolahan data statistik penelitian

10. Ibu Veronica Sri Wahyuni yang begitu luar biasa memberikan motivasi, kasih dan kekuatan bagi penulis melalui doa-doa indahnya, alm.Bapak FX.Sugiharjo sumber motivasi dan panutan bagi penulis.

11. Mas Willigis Danu Patria atas kesabaran yang luar biasa menjadi penopang lelah dan keluh-kesah, sumber semangat dan inspirasi bagi penulis.

12. Sahabat sekaligus partner belajar terbaik selama kuliah Isabela Anjani, atas kebersamaan yang tak terlupakan, atas proses yang telah dilalui dan semangat yang diberikan kepada penulis

(9)

ix

suka duka dalam kebersamaan dan saling memberikan semangat tanpa lelah selama proses penyusunan skripsi

14. Keluarga Oom Sunarko dan Tante Ana yang berkenan memberikan penginapan kepada penulis dan teman-teman selama di Temanggung serta memberikan solusi dalam setiap permasalahan yang ada

15. Teman-teman FKK B 2010 dan semua teman Fakultas Farmasi angkatan 2010, atas kebersamaan dan proses pendewasaan yang telah dilalui.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan dapat menjadi salah satu sumbangan untuk ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, 7 Februari 2014

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

INTISARI ... xvii

ABSTRACT ... xviii

BAB I. PENGANTAR ... 1

A.Latar Belakang ... 1

1. Rumusan masalah ... 5

2. Keaslian penelitian... 5

3. Manfaat penelitian ... 9

B.Tujuan Penelitian ... 10

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA ... 11

A.Diabetes Melitus ... 11

(11)

xi

C.Obesitas Sentral, Resistensi Insulin dan Dislipidemia pada Diabetes Melitus

Tipe 2 ... 14

D.Kolesterol Total dan HDL ... 19

E. Antropometri ... 22

1. Skinfold Thickness ... 22

2. Abdominal Skinfold Thickness ... 24

F. Landasan Teori ... 26

G.Hipotesis ... 27

BAB III. METODE PENELITIAN ... 28

A.Jenis dan Rancangan Penelitian ... 28

B.Variabel Penelitian ... 28

1. Variabel bebas ... 28

2. Variabel tergantung ... 29

3. Variabel pengacau ... 29

C.Definisi Operasional ... 29

D.Responden Penelitian ... 30

E. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 33

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 33

G.Teknik Pengambilan Sampel ... 34

H.Instrumen Penelitian ... 35

I. Tata Cara Penelitian ... 35

1. Observasi awal ... 35

(12)

xii

3. Pembuatan informed consent dan leaflet ... 37

4. Pencarian calon responden ... 37

5. Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian ... 38

6. Pengambilan darah dan pengukuran antropometri ... 39

7. Pembagian hasil pemeriksaan ... 39

8. Pengolahan data ... 39

J. Analisis Data Penelitian ... 40

K.Kesulitan Penelitian ... 41

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42

A.Karakteristik Responden Penelitian ... 42

1. Usia ... 43

2. Abdominal Skinfold Thickness ... 43

3. Kolesterol Total ... 45

4. High Density Lipoprotein (HDL) ... 46

5. Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL ... 47

B.Perbandingan Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL terhadap Abdominal Skinfold Thickness ... 48

1. Perbandingan kadar kolesterol total pada AST<24,75 mm dan AST≥24,75 mm kelompok responden pria ... 50

2. Perbandingan kadar kolesterol total pada AST<26,14 mm dan AST≥26,14 mm kelompok responden wanita ... 51

(13)

xiii

4. Perbandingan kadar HDL pada AST<26,14 mm dan AST≥26,14 mm

kelompok responden wanita ... 54

5. Perbandingan rasio kadar kolesterol total/HDL pada AST<24,75 mm dan AST≥24,75 mm kelompok responden pria ... 55

6. Perbandingan rasio kadar kolesterol total/HDL pada AST<26,14 mm dan AST≥26,14 mm kelompok responden wanita ... 57

C.Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Kolesterol Total, HDL dan Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL ... 58

1. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Kolesterol Total .. 59

2. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar HDL ... 61

3. Korelasi Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL... 64

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

A.Kesimpulan ... 70

B.Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

LAMPIRAN ... 79

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel I. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus ... 11

Tabel II. Klasifikasi Diabetes Melitus ... 12

Tabel III. Klasifikasi Kolesterol Total ... 20

Tabel IV. Klasifikasi Kadar HDL ... 21

Tabel V. Klasifikasi Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL ... 22

Tabel VI. Uji Hipotesis Korelasi berdasarkan Kekuatan Korelasi, Nilai p dan Arah Korelasi ... 41

Tabel VII. Karakteristik Responden Penelitian ... 42

Tabel VIII. Perbandingan Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol Total/HDL terhadap Kelompok AST <24,75 mm dan AST ≥24,75 mm pada responden pria ... 49

Tabel IX. Perbandingan Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol Total/HDL terhadap Kelompok AST <26,1442 mm dan AST ≥26,1442 mm pada responden wanita ... 50

Tabel X. Korelasi AST terhadap Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol Total/HDL pada responden pria ... 58

(15)

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Lemak Viseral dan Lemak Subkutan ... 15

Gambar 2. Penghantaran Asam Lemak Bebas ... 16

Gambar 3. Skema Dislipidemia pada Resistensi Insulin ... 19

Gambar 4. Skinfold Caliper... 23

Gambar 5. Penandaan dan Pengukuran AST ... 25

Gambar 6. Skema Responden Penelitian ... 32

Gambar 7. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar Kolesterol Total pada Responden Pria ... 59

Gambar 8. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar Kolesterol Total pada Responden Wanita ... 60

Gambar 9. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar HDL pada Responden Pria ... 62

Gambar 10. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar HDL pada Responden Wanita ... 63

Gambar 11. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL pada Responden Pria ... 64

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian Komisi Etik Kedokteran dan Kesehatan ... 80

Lampiran 2. Surat Izin Penelitian RSUD Kabupaten Temanggung ... 81

Lampiran 3. Uji Reabilitas Instrumen Penelitian ... 82

Lampiran 4. Uji Normalitas Karakteristik Responden ... 82

Lampiran 5. Uji Hipotesis Komparatif... 95

Lampiran 6. Uji Korelasi... 108

Lampiran 7. Informed Consent ... 110

Lampiran 8. Contoh Hasil Pemeriksaan Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung ... 111

Lampiran 9. Pedoman Wawancara ... 112

Lampiran 10. Leaflet ... 113

Lampiran 11. Foto-Foto Pengukuran AST ... 115

(17)

xvii

INTISARI

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang disebabkan oleh resistensi insulin dan secara progresif akan terjadi penurunan sekresi insulin. Resistensi insulin dapat dipicu oleh obesitas sentral. Dislipidemia merupakan faktor utama terjadinya penyakit kardiovaskuler pada diabetes melitus tipe 2, salah satunya adalah peningkatan rasio kadar kolesterol total/HDL. Obesitas sentral dapat diukur dengan abdominal skinfold thickness (AST) yang berkaitan dengan rasio kadar kolesterol total/HDL. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur korelasi antara abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Responden penelitian adalah 90 penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung (38 pria, 52 wanita). Pemilihan responden dilakukan secara non-random dengan teknik purposive sampling. Pengukuran yang dilakukan meliputi abdominal skinfold thickness, kadar kolesterol total, kadar HDL, dan rasio kadar kolesterol total/HDL. Analisis data dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk, uji komparatif

Mann-Whitney dan uji t tidak berpasangan, serta uji korelasi Pearson dan

Spearman dengan taraf kepercayaan 95%.

Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat korelasi positif tidak bermakna (p=0,207) dengan kekuatan lemah (r=0,209) terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL untuk pria dan korelasi positif tidak bermakna (0,056) dengan kekuatan lemah (r=0,267) untuk wanita antara abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

(18)

xviii ABSTRACT

Type 2 diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemia caused by insulin resistance and will progressively decrease insulin secretion. Insulin resistance can be induced by central obesity. Dyslipidemia is a major factor of cardiovascular disease in type 2 diabetes mellitus, which is characterized by higher ratio of total cholesterol/ HDL-c. Central obesity can be measured with an abdominal skinfold thickness (AST) which is associated with total cholesterol/HDL-c ratio. This study aims to measure the correlation between abdominal skinfold thickness with total cholesterol/HDL-c ratio in people with type 2 diabetes mellitus in RSUD Kabupaten Temanggung.

This study is an analytic observational with cross-sectional study design. Those involved were 90 type 2 diabetes mellitus patients in RSUD Kabupaten Temanggung. Non-random and Purposive sampling technique was used to collect the sample of the study. Abdominal skinfold thickness, total cholesterol levels, HDL, and total cholesterol/HDL-c ratio levels were measured. Data was analyzed statistically with Kolmogorov-Smirnov and Shapiro-Wilk normality test, Mann-Whitney and t independent sample test, followed by Pearson and Spearman

correlation test with 95% confidence interval.

The conclusion of this study is an insignificant positive correlation with weak strength between abdominal skinfold thickness to total cholesterol/HDL ratio in men (r=0.209; p=0.207) and insignificant positive correlation with weak strength in men (r=0.267; p=0.059).

(19)

1

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia. Prevalensi penyakit diabetes melitus pada tahun 1995 di dunia sebanyak 4,0% dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 5,4%.

World Health Organization (WHO) memprediksikan jumlah penyandang diabetes di Indonesia meningkat dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030, yaitu sekitar 12 juta penyandang diabetes di daerah perkotaan dan 8,1 juta di daerah pedesaan. Indonesia sendiri pada tahun 2011 telah menempati urutan ke-10 dengan jumlah penyandang diabetes melitus terbanyak. Berdasarkan data, hampir 85% prevalensi diabetes melitus adalah diabetes melitus tipe 2 yang dikaitan dengan resistensi insulin (Mealey dan Rethman, 2003; Triplitt, Reasner dan Isley, 2008).

(20)

kolesterol, 60% mengalami penigkatan kadar trigliserida, 29% mengalami peningkatan kadar LDL dan 20% mengalami penurunan kadar HDL.

Diabetes melitus tipe 2 memberikan risiko yang kuat untuk terjadinya

cardiovascular disease (CVD). American Heart Association (2013) menyatakan bahwa CVD dan stroke adalah penyebab kematian nomor satu pada penyandang diabetes melitus tipe 2 sebagai akibat dari dislipidemia. Pada penelitian Aryal, Poudel, Satyal, Gyawali, Pokhera, Raut, et al. (2010), menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kadar kolesterol total yang bermakna dan penurunan kadar HDL yang bermakna pada penyandang diabetes melitus tipe 2 dibandingkan individu non-diabetes. Tohidi, Hatami, Hadaegh, Safarkhani, Harati, dan Azizi (2010), menyatakan bahwa prediktor yang baik untuk kejadian CVD pada penyandang diabetes melitus tipe 2 pria adalah kadar LDL, diikuti dengan kadar kolesterol non-HDL, rasio kadar kolesterol total/HDL, kadar kolesterol total dan kadar trigliserida. Prediktor yang paling baik untuk kejadian CVD pada penyandang diabetes melitus tipe 2 wanita hanya rasio kadar kolesterol total/HDL. Canadian Diabetes Association (2008) juga menyarankan pengukuran rasio kadar kolesterol total/HDL untuk memprediksi risiko CVD. Rasio kadar kolesterol total/HDL merupakan indikator yang lebih baik dibandingkan kolesterol total dan HDL saja.

(21)

Resistensi insulin yang dipicu oleh obesitas abdominal diduga terjadi karena peningkatan flux asam lemak bebas ke hati dan peningkatan sekresi mediator inflamasi. Akumulasi lemak di bagian abdominal merupakan penimbunan lemak tubuh yang berbahaya karena lipolisis di daerah ini sangat efisien dan lebih resisten terhadap efek insulin dibandingkan adiposit di daerah lain. Obesitas sentral tergabung dalam sindroma metabolik yang merupakan suatu kondisi dengan gejala lain seperti resistensi insulin, dislipidemia, hipertensi, kadar glukosa puasa tinggi dan berakibat pada CVD. Peningkatan flux asam lemak bebas yang diakibatkan oleh akumulasi lemak juga mempengaruhi sekresi kolesterol Very Low Density Lipoprotein (VLDL) dan menurunnya kadar HDL (International Diabetes Federation, 2006; Micic dan Cvijovic, 2008; Pusparini, 2007).

(22)

atas hampir 75% pelepasan asam lemak bebas perifer. Pengukuran metode

skinfold thickness memerlukan alat yaitu skinfold caliper, yang digunakan untuk mengukur ketebalan lipatan kulit atau menentukan jumlah jaringan adiposa subkutan. Pengukuran skinfold thickness pada daerah abdominal memiliki tingkat kesalahan yang paling kecil dibandingkan dengan pengukuran skinfold thickness

di bagian lain dalam pengukuran level obesitas (Cyrino, Okano, Glaner, Romanzini, Gobbo, Makoski, et al., 2003; Demura dan Sato, 2007; Havard Health Publications, 2010; Moyad, 2004).

Sardinha, Teixeira, Guedeas, Going, dan Lohman (2000) menyatakan bahwa, pada pria dewasa sehat di Portugal diperoleh hasil bahwa lemak subkutan abdominal berkorelasi bermakna dengan insulin, kolesterol dan rasio kadar kolesterol total/HDL. Lemak subkutan abdominal dapat digunakan untuk memprediksi kejadian CVD. Menurut penelitian Utami (2012), terdapat korelasi positif bermakna antara abdominal skinfold thickness dengan rasio kadar kolesterol total/HDL pada wanita berusia 30-50 tahun.

(23)

pernah dilakukan penelitian observasional dengan responden penyandang diabetes melitus tipe 2.

1. Rumusan masalah

Apakah terdapat korelasi antara abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung?

2. Keaslian penelitian

Beberapa penelitian yang telah dilakukan dan dipublikasikan terkait dengan penelitian ini antaralain:

a. Relation of Body Mass Index and Skinfold Thickness to Cardiovascular Disease Risk Factor in Children: The Bogalusa Heart Study

(Freedman, Katzmaryzak, Dietz, Srinivasan, dan Berenson, 2009). Penelitian

cross-sectional ini dilakukan pada sampel anak-anak (n=6866) dengan usia 5-17 tahun. Hasil yang diperoleh berkaitan dengan faktor penyakit kardiovaskuler dimana r=0,50 untuk BMI dan r=0,47 untuk jumlah skinfold thickness (p<0,001 untuk perbedaannya). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu BMI juga seakurat

skinfold thickness dalam memprediksi risiko penyakit kardiovaskuler pada anak-anak.

(24)

kolesterol total/HDL (r=0,43), dan Apolipoprotein B (r=-0,39). Lemak subkutan abdominaldapat digunakan untuk memprediksi kejadian cardiovascular disease.

c. Adolescent Skinfold Thickness is a Better Predictor of High Body Fatness in Adults than is Body Mass Index: the Amsterdam Growth and Health

Longitudinal Study (Nooyens, Koppes, Visscher, Twisk, Kemper, Schuit, et al., 2007). Penelitian ini melibatkan 168 pria dan 182 wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran skinfold thickness dapat memprediksi lemak tubuh lebih baik pada saat dewasa dibandingkan pengukuran BMI.

d. Korelasi BMI dan Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kolesterol Total/HDL pada Staf Wanita Universitas Sanata Dharma (Utami, 2012). Penelitian ini melibatkan 57 responden yang merupakan staf wanita Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang berusia 30-50 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara BMI dengan rasio kolesterol total/HDL adalah korelasi positif bermakna dengan kekuatan korelasi sedang (r=0,455; p=0,000) dan terdapat korelasi positif bermakna antara AST dengan rasio kolesterol total/HDL dengan kekuatan korelasi lemah (r=0,303; p=0,022).

e. Korelasi Body Fat Percentage Terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL Pada Mahasiswa Dan Mahasiswi Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (Kiswanto, 2013). Penelitian cross-sectional dan non-random yang melibatkan 125 mahasiswa dan mahasiswi aktif, dan dilakukan pengukuran terhadap abdominal skinfold thickness, triceps skinfold thickness, dan

(25)

percentage terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL dengan kekuatan korelasi sedang (r=0,47; p=0,000 pada responden pria dan r=0,455; p=0,000 pada responden wanita).

f. Lipid Measures for Prediction of Incident Cardiovascular Disease in Diabetic and Nondiabetic Adults: Results Of The 8.6 Years Follow-Up of a

Population Based Cohort Study (Tohidi, et al., 2010). Penelitian kohort prospektif ini melibatkan 1021 penyandang diabetes dan 5310 non-diabetes untuk diukur profil lipid sebagai prediktor CVD. Hasil yang didapat adalah untuk pria diabetik faktor risiko yang bermakna antara lain kolesterol total, LDL, non-HDL dan kolesterol total/HDL, sedangkan untuk wanita diabetik risiko yang bermakna hanyalah kolesterol total/HDL. Pada subjek pria non-diabetes prediktor yang dapat digunakan adalah semua pengukuran lipid kecuali trigliserida, sedangkan untuk wanita non-diabetes prediktor yang dapat digunakan adalah kolesterol total, LDL, non-HDL dan trigliserida.

(26)

h. Non High Density Lipoprotein Cholesterol in Type 2 Diabetes Mellitus (Abbasi, Hafeezullah, Shah, Abro, dan Sammo, 2007). Penelitian ini melibatkan 60 penyandang diabetes (24 pria, 36 wanita) di Pakistan dan dilakukan pengukuran terhadap tekanan darah, BMI, kadar glukosa darah puasa, kolesterol total, HDL, rasio kadar kolesterol total/HDL dan non-HDL. Hasil yang diperoleh adalah terjadi peningkatan bermakna kadar kolesterol total, kolesterol total/HDL, dan non-HDL pada penyandang diabetes dengan hipertensi (p<0,001)

i. Evaluation of non-HDL-c and total cholesterol: HDL-c Ratio as Cumulative Marker of Cardiovascular Risk in Diabetes Mellitus (Aryal, et al.,

2010). Penelitian cross-sectional ini melibatkan 76 penyandang diabetes melitus tipe 2 dan 60 subjek non-diabetes di Nepal, dan dilakukan pengukuran antropometri serta kadar non-HDL dan kolesterol total/HDL. Hasil yang didapat adalah BMI, tekanan darah dan lingkar pinggang antara subjek diabetik dan non-diabetik berbeda bermakna, selain itu terdapat peningkatan yang signifikan pada kadar kolesterol non-HDL dan rasio kadar kolesterol total/HDL pada subjek dengan diabetes melitus tipe 2 (p<0,001).

(27)

(p<0,001) pada kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, HDL dan VLDL pada penyandang diabetes melitus tipe 2.

k. Comparison of Lipid Profile in Type-2 Obese Diabetics and Obese Non-diabetic Individuals: A Hospital Based Study from Western Nepal (Yadav, Thanpari, Shrewastwa, dan Mittal, 2012). Penelitian ini melibatkan 150 penyandang diabetes melitus tipe 2 yang mengalami obesitas dan 25 kontrol yang juga mengalami obesitas, kemudian dilakukan pengukuran terhadap profil lipid. Hasil yang diperoleh adalah pada penyandang diabetes melitus tipe 2 dengan obesitas mengalami peningkatan yang bermakna (p<0,001) akan serum kolesterol total, trigliserida dan LDL, sedangkan kadar HDL memiliki perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05).

Berdasarkan penelusuran pustaka yang telah dilakukan, belum terdapat penelitian yang meneliti mengenai korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

3. Manfaat penelitian

a. Manfaat teoretis. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai korelasi abdominal skinfold thickness terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

(28)

dapat menjadi deteksi dini akan risiko cardiovascular disease pada penyandang diabetes melitus tipe 2.

B. Tujuan Penelitian

(29)

11

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang dikarakteristikkan dengan hiperglikemia. Penyakit ini berasosiasi dengan abnormalitas metabolisme lemak. Diabetes melitus disebabkan oleh resistensi insulin, kurangnya sekresi insulin, atau dapat keduanya. Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan adanya diabetes melitus perlu dipikirkan apabila terdapat gejala klasik diabetes melitus seperti poliuria, polidipsia, polifagia, serta keluhan lain seperti badan lemah, rasa gatal, kesemutan dan mata kabur (Triplitt, et al., 2008; PERKENI, 2011).

Suatu individu dikatakan mengidap diabetes melitus apabila termasuk dalam kriteria berikut:

Tabel I. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus (American Diabetes Association,

2013) Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus

1. HbA1C >6,5%; atau

2. Kadar glukosa darah puasa >126 mg/dL,

3. 2 jam tes toleransi glukosa oral (TTGO) dengan 75 gram glukosa anhidrat yang dilarutkan dalam air menghasilkan kadar glukosa darah ≥200 mg/dL .

4. Pasien dengan gejala klasik hiperglikemia atau krisis hiperglikemia dengan kadar gula sewaktu >200 mg/dL

(30)

Tabel II. Klasifikasi Diabetes Melitus (American Diabetes Association, 2013) No. Klasifikasi Diabetes Melitus Keterangan

1. Diabetes melitus tipe 1 Disebabkan oleh destruksi sel β

2. Diabetes melitus tipe 2 Disebabkan oleh resistensi insulin dan secara progresif dapat terjadi defisiensi insulin

3. Diabetes melitus tipe lain Disebabkan karena defek fungsi sel β, defek kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, diabetes karena obat/zat kimia, dan diabetes karena infeksi 4. Diabetes melitus gestasional Muncul pada saat kehamilan, umumnya

hanya bersifat sementara

B. Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes melitus tipe 2 merupakan yang paling umum terjadi dari klasifikasi diabetes yang lain, dan umumnya terjadi pada usia di atas 40 tahun. Penyakit ini sepuluh kali lebih sering terjadi dibandingkan diabetes melitus tipe 1 (McPhee dan Ganong, 2007). Diabetes melitus tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin, dan secara progresif akan terjadi penurunan kapasitas sekresi insulin. Perkembangan penyakit ini dibagi menjadi 3 fase menurut Spollett (2006), yaitu sebagai berikut:

1. Fase 1: perkembangan diabetes melitus tipe 2 dimulai dengan terjadinya resistensi insulin dan penurunan sensitivitas insulin, dilanjutkan dengan hipersekresi insulin sebagai kompensasi,

2. Fase 2: pada fase ini, terjadi kerusakan sel β pankreas, sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa puasa dan setelah makan,

(31)

Insulin menimbulkan efeknya melalui pengikatan dengan reseptor insulin yang terdapat di permukaan sel sasaran. Reseptor insulin terdapat pada hati, otot dan jaringan lemak (McPhee dan Ganong, 2007). Pada keadaan normal insulin akan mengaktivasi tirosin kinase dengan terikat dengan subunit  di reseptornya yang menimbulkan autofosforilasi subunit . Aktivasi reseptor tirosin kinase memulai rangkaian fosforilasi sel yang dapat meningkatkan atau mengurangi aktivitas enzim, meliputi substrat reseptor insulin, yang memerantarai pengaruh glukosa terhadap metabolisme glukosa, lemak, dan protein. Dengan demikian pengangkutan glukosa dapat dipindahkan ke membran sel untuk membantu pemasukan glukosa ke dalam sel (Guyton dan Hall, 2006). Insulin berperan penting dalam homeostasis energi. Insulin merangsang penyerapan glukosa baik di otot maupun jaringan lemak dengan menstimulasi translokasi glukosa ke transporter glukosa yaitu glucose transporter 4 (GLUT-4). Pada sel lemak, insulin menghambat lipolisis untuk mencegah pelepasan asam lemak (McPhee dan Ganong, 2007). Pada diabetes melitus tipe 2 glukosa sulit masuk ke dalam sel karena adanya resistensi insulin atau turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Resistensi insulin juga dapat menyebabkan terganggunya proses penyimpanan lemak maupun sintesis lemak (Triplitt, et al.,

2008).

(32)

melitus tipe 2, terjadi peningkatan konsentrasi asam lemak bebas. Asam lemak bebas yang secara kronis meningkat akan menstimulasi glukoneogenesis atau produksi gula darah baru dari lemak dan protein, menginduksi resistensi insulin di hati dan otot, dan mengganggu produksi insulin. Gangguan asam lemak ini biasanya disebut lipotoksisitas (Renaldi, 2012).

Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah satu faktor risiko dari

cardiovascular disease, yang disebut sindroma metabolik. Menurut International Diabetes Federation (2006), sindroma metabolik adalah serangkaian faktor risiko

cardiovascular disease, yang terdiri atas: diabetes melitus tipe 2, peningkatan kadar glukosa darah puasa, obesitas abdominal, peningkatan kadar kolesterol dan peningkatan tekanan darah.

C. Obesitas Sentral, Resistensi Insulin dan Dislipidemia pada Diabetes

Melitus Tipe 2

(33)

berkorelasi erat dengan peningkatan mortalitas dan risiko akibat obesitas seperti diabetes melitus, hipertensi, sindroma metabolik, dan penyakit jantung koroner (Adam, 2006; Eyben, Mouritsen, Holm, Montvilas, Dimcevski, Suciu, et al.,

2003; WHO, 2011).

Gambar 1. Lemak Viseral dan Lemak Subkutan (Harvard Health Publications, 2010)

(34)

infiltrasi jaringan lemak akan sel inflamasi, sitokin dan adipokin. Asam lemak bebas akan dihantarkan ke otot maupun hati melewati pembuluh splanchnic dan vena porta (Gambar 2) (Cardin, Cherrington, Edgerton, dan Jensen, 2003).

(35)

penting adalah TNF-α, yang berperan menginduksi resistensi insulin melalui inhibisi ekspresi glucose transporter 4 (GLUT-4) dan meningkatkan pelepasan asam lemak bebas (Pusparini, 2007). TNF-α juga dapat menghambat fosforilasi tirosin kinase pada reseptor insulin sehingga mengganggu insulin signaling dan menyebabkan gangguan pada transpor glukosa (Yaturu, 2011). Resistensi insulin adalah suatu keadaan penurunan kemampuan jaringan yang sensitif terhadap insulin untuk memberikan respons yang normal terhadap insulin pada tingkat seluler.

(36)

eksogen berasal dari makanan dalam bentuk kilomikron, sedangkan sumber endogen berasal dari hepar dalam bentuk VLDL. Peningkatan flux asam lemak bebas ke dalam hati akan menyebabkan akumulasi trigliserida, yang menyebabkan peningkatan sintesis VLDL, yang menghambat lipolisis kilomikron yang berasal dari usus. Pada individu dengan obesitas akan mengalami gangguan lipolisis karena berkurangnya tingkat ekspresi mRNA dari lipoprotein lipase pada jaringan adiposa, serta berkurangnya aktivitas lipoprotein lipase pada otot rangka (Carr dan Brunzell, 2004; Klop, Elte, dan Cabezas, 2013).

Hipertrigliserida akan menurunkan kadar HDL dan meningkatkan kadar

small-dense LDL melalui beberapa proses (Gambar 3): VLDL yang mengangkut trigliserida bertukar dengan LDL dan HDL yang mengangkut cholesteryl ester

(37)

Gambar 3. Skema Dislipidemia pada Resistensi Insulin (Mooradian, 2009) Dislipidemia adalah salah satu faktor risiko utama untuk cardiovascular disease pada diabetes melitus tipe 2. Dislipidemia dikarakteristikkan dengan peningkatan fraksi lipid yaitu kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL. Adanya small-dense LDL yang dihasilkan dari proses di atas berkaitan dengan peningkatan risiko infark miokard dan penyakit jantung koroner. Dalam suatu penelitian dikatakan bahwa meningkatnya kadar small-dense LDL dan menurunnya kada kolesterol HDL memiliki kontribusi besar pada perkembangan penyakit aterosklerosis pada penyandang diabetes melitus tipe 2. Cardiovascular disease merupakan bentuk komplikasi makrovaskuler pada diabetes melitus tipe 2. Komplikasi makrovaskuler berhubungan dengan peredaran darah besar pada jantung, otak, dan kaki (Mooradian, 2009).

D. Kolesterol Total dan HDL

(38)

didapat dari asupan makanan dan diabsorpsi dari saluran pencernaan. Kolesterol endogen beredar dalam lipoprotein plasma yang dibentuk oleh hati. Struktur dasar kolesterol adalah inti sterol yang dibentuk dari asetil-KoA. Fungsi utama dari kolesterol adalah sebagai komponen penyusun membran sel, serta prekusor steroid di dalam tubuh, sperti kortikosteroid, hormon, asam empedu dan vitamin D (Guyton dan Hall, 2006).

Kolesterol total terdiri atas very low density lipoprotein (VLDL), low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL). Peningkatan kadar kolesterol total dapat menyebabkan terbentuknya plak pada arteri sehingga meningkatkan risiko aterosklerosis (Birtcher dan Ballantyne, 2004). Penanda dari aterosklerosis adalah terjadinya kerusakan endotel vaskuler. Hal tersebut akan menurunkan pelepasan nitric oxide, kemudian setelah terjadi kerusakan tersebut monosit dan lipid (terutama berdensitas rendah) akan beredar dan menumpuk pada tempat yang mengalami kerusakan (Guyton dan Hall, 2006). Berdasarkan

American Heart Association (2012), kolesterol total diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel III. Klasifikasi Kolesterol Total (American Heart Association, 2012) Kadar kolesterol total Kategori

<200 mg/dL Diinginkan

200-239 mg/dL Batas atas

>240 mg/dL Tinggi

(39)

darah. Penurunan kadar HDL, yaitu <40 mg/dL untuk pria dan <50 mg/dL untuk wanita dapat meningkatkan risiko terjadinya cardiovascular disease. Para ahli juga menyatakan bahwa HDL akan membawa kolesterol menjauhi arteri dan kembali ke hepar, sehingga HDL akan menghilangkan plak pada arteri (American Heart Association, 2012). Menurut American Heart Association (2012), HDL diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel IV. Klasifikasi Kadar HDL (American Heart Association, 2012)

HDL Kategori

<40 mg/dL (pria)

Rendah <50 mg/dL (wanita)

≥60 mg/dL Tinggi

(40)

signifikan terhadap heart disease. Menurut Marquette General Health System

(2010), rasio kadar kolesterol total/HDL diklasifikasikan sebagai berikut: Tabel V. Klasifikasi Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL (Marquette General

Health System, 2010)

Kategori Pria Wanita

Paling rendah <3,8 <2,9

Rendah 3,9-4,7 3,0-3,6

Rata-rata 4,8-5,9 3,7-4,6

Sedang 6,0-6,9 4,6-5,6

Tinggi ≥7,0 ≥5,7

E. Antropometri

Antropometri adalah studi pengukuran tubuh manusia yang meliputi dimensi tulang, otot, dan jaringan adiposa (lemak). Ruang lingkup antropometrik mencakup bermacam-macam pengukuran tubuh manusia yaitu berat badan,

stature (tinggi badan pada saat berdiri), recumbent length (tinggi badan pada saat berbaring), skinfold thickness, lingkar (kepala, pinggang), lebar (bahu, pergelangan tangan). Antropometri merupakan kunci atas penilaian status nutrisi pada anak-anak maupun dewasa. Antropometri merupakan metode sederhana yang mudah dan murah untuk mengevaluasi status kesehatan dan asupan makanan, risiko penyakit dan perubahan komposisi tubuh manusia (National Health and Nutrition Examination Survey, 2007).

1. Skinfold Thickness

(41)

skinfold thickness merupakan teknik pengukuran yang sederhana dan murah.

Skinfold thickness diukur dengan menggunakan skinfold caliper dalam satuan milimeter (Gambar 4). Skinfold caliper mengukur susunan lapisan ganda pada jaringan adiposa subkutan. Pengukuran skinfold thickness dapat dilakukan pada bagian tubuh trisep, subskapular, supraspinalis, abdominal, punggung, paha, betis, dada, dagu dan pipi (Demura dan Sato, 2007). Nooyens, et al. (2007) menyatakan bahwa skinfold thickness dapat memprediksi lemak tubuh lebih baik daripada BMI pada individu dewasa. Sekitar 90% lemak tubuh terdistribusi pada bagian subkutan, sedangkan sisanya terdistribusi pada bagian viseral (Harvard Health Publications, 2010). Perubahan pada bagian subkutan dapat menggambarkan perubahan lemak tubuh total. Cyrino, et al. (2003) menyatakan bahwa terdapat asosiasi antara lemak subkutan dengan densitas tubuh.

Gambar 4. Skinfold Caliper (Assist, 2011)

Menurut NHANES (2007) pengukuran skinfold thickness dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

(42)

2. Mengambil lipatan kulit pada bagian yang ditandai menggunakan jempol dan telunjuk. Pengambilan lipatan kulit tergantung pada ketebalan jaringan adiposa di bawah kulit. Agar kulit terpisah dengan otot yang terletak di bawahnya, lipatan kulit ditarik dengan hati-hati,

3. Skinfold caliper dijepitkan 1 cm di bawah jari yang memegang lipatan kulit, 4. Membaca hasil pengukuran yang telah ditunggu selama 3 detik, lalu hasil

dicatat, dan dilakukan pengulangan mengukur sebanyak 3 kali.

Pengukuran skinfold thickness dipengaruhi oleh jenis kelamin dan juga level obesitas, oleh karena itu pengukur skinfold thickness hendaknya telah terlatih (Demura dan Sato, 2007).

2. Abdominal Skinfold Thickness

(43)

kecil dibandingkan pengukuran skinfold di bagian lain (Demura dan Sato, 2007). Fox, Massaro, Hoffmann, Pou, Horvat, Liu, et al. (2007) menyatakan bahwa lemak subkutan abdominal dan viseral berasosiasi dengan berbagai risiko metabolik. Dwimartutie, Setiati, dan Oemardi (2010) menyatakan bahwa lemak subkutan abdominal berkorelasi bermakna terhadap resistensi insulin (r=0,61 dan p<0,0001). Tangvarasittichai, Poonsub dan Tangvarasittichai (2010) menyatakan bahwa resistensi insulin berasosiasi kuat dengan kadar kolesterol total, dan rasio kolesterol total/HDL.

Gambar 5. Penandaan dan Pengukuran AST (Norton, et al., 2001)

Pengukuran abdominal skinfold thickness dilakukan dengan cara mengukur lipatan subkutan yang terdapat 5 cm arah kanan pusar (midpoint of the navel), lipatan subkutan diambil secara vertikal (Gambar 5). Lokasi penjepitan

(44)

F. Landasan Teori

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang disebabkan oleh resistensi insulin dan secara progresif akan terjadi penurunan sekresi insulin. Penyandang diabetes melitus tipe 2 biasanya mengalami dislipidemia, yang ditandai oleh meningkatnya kadar kolesterol total, trigliserida dan kolesterol LDL, serta menurunnya kadar kolesterol HDL. Dislipidemia merupakan faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskuler (Triplitt, et al., 2008; Mooradian, 2009). Indonesia menempati 10 besar negara dengan kasus diabetes melitus tipe 2 terbanyak. Diabetes melitus tipe 2 menempati urutan ketiga penyakit yang sering terjadi di RSUD Kabupaten Temanggung.

Obesitas abdominal dapat memicu resistensi insulin pada diabetes melitus tipe 2. Obesitas abdominal atau sentral merupakan contoh penimbunan adiposa yang berbahaya karena lipolisis di daerah ini sangat efisien dan lebih resisten terhadap efek insulin dibandingkan adiposit di daerah lain. Jaringan adiposa melepaskan adipokin yaitu TNF-α yang dapat memicu resistensi insulin dan meningkatkan pelepasan asam lemak bebas ke hati yang dapat menginduksi abnormalitas metabolisme lipid sehingga terjadi dislipidemia (Pusparini, 2007; Klop, et al., 2013).

Obesitas sentral dapat diukur dengan metode antropometri yaitu

(45)

pada lemak subkutan menggambarkan perubahan lemak tubuh total (Harvard Health Publications, 2010)

Obesitas sentral dan diabetes melitus tipe 2 merupakan serangkaian sindroma metabolik yang berkaitan dengan meningkatnya risiko cardiovascular disease. Tingginya serum kolesterol dan penurunan kadar kolesterol HDL merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler. Rasio kadar kolesterol total/ HDL yang merupakan prediktor yang lebih baik daripada kadar kolesterol total ataupun HDL saja.

G. Hipotesis

(46)

28

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik, dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah potong lintang/cross-sectional.

Penelitian observasional analitik adalah penelitian yang bertujuan untuk menggali bagaimana dan mengapa suatu fenomena dapat terjadi dengan mencari hubungan antar variabel yang ada (Notoatmodjo, 2010; Sastroasmoro, 2008). Rancangan penelitian cross-sectional mempelajari suatu korelasi antara faktor risiko dan faktor efek. Faktor risiko merupakan fenomena yang mengakibatkan terjadinya efek, sedangkan faktor efek merupakan akibat dari adanya faktor risiko (Notoatmojo, 2010).

Analisis korelasi yang dilakukan bertujuan untuk mengukur korelasi antara abdominal skinfold thickness sebagai faktor risiko terhadap rasio kadar kolesterol total/HDL dalam darah pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung sebagai faktor efek. Data penelitian yang diperoleh kemudian diolah secara statistik untuk menganalisis korelasi antara faktor risiko dengan faktor efek.

B. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

(47)

2. Variabel tergantung

Rasio kadar kolesterol total/HDL.

3. Variabel pengacau

a. Variabel pengacau terkendali: usia dan kondisi puasa sebelum pengambilan data.

b.

Variabel tak terkendali: aktivitas, pola makan, kondisi patologis, dan obat-obat yang dikonsumsi.

C. Definisi Operasional

1. Responden adalah penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian.

2. Karakteristik penelitian meliputi demografi (usia), pengukuran antropometri (AST) dan hasil pemeriksaan Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung yang meliputi kadar kolesterol total, HDL dan rasio kadar kolesterol total/HDL .

3. Pengukuran abdominal skinfold thickness adalah pengukuran tebal lemak di bawah kulit pada bagian abdominal dengan menggunakan alat berupa skinfold caliper.

4. Pengukuran abdominal skinfold thickness dilakukan secara modern method

(48)

dibaca dalam satuan milimeter (Norton et al., 2001). Skinfold caliper dikalibrasi terlebih dahulu sebelum penelitian.

5. Rasio kadar kolesterol total/HDL adalah perbandingan antara kadar kolesterol total (mg/dL) terhadap kadar HDL (mg/dL) dari hasil pemeriksaan Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung dengan kondisi responden berpuasa sebelum pengambilan darah, yang dihitung dengan Microsoft Excel 2010 dengan nilai desimal dua angka di belakang koma.

6. Standar yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

a. Abdominal Skinfold Thickness. Nilai normal untuk abdominal skinfold thickness pada responden pria menggunakan nilai median AST, sedangkan pada responden wanita menggunakan nilai mean AST dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti.

b. Rasio kadar kolesterol total/ HDL. Nilai normal untuk rasio kadar kolesterol total/HDL pada pria dan wanita menggunakan standar pada Marquette General Health System pada tahun 2010.

D. Responden Penelitian

Responden penelitian adalah penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi meliputi penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung pada pria dan wanita yang berusia lebih dari 40 tahun, bersedia berpuasa selama 8-10 jam sebelum pengambilan data dan menandatangani

(49)

RSUD Kabupaten Temanggung yang tidak berpuasa selama 8-10 jam, memiliki penyakit penyerta seperti gagal ginjal, ulkus gangren, stroke dan penyakit jantung koroner, tidak hadir saat pengambilan data, serta pasien dengan hasil pemeriksaan laboratorium yang tidak lengkap (missing data). Jumlah minimum sampel untuk penelitian korelasi sebesar 30 subyek (Spiegel dan Stephens, 2007).

Pengambilan data dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung selama 6 minggu, yaitu tanggal 18 Agustus 2013 sampai dengan tanggal 28 September 2013. Jumlah responden pada minggu pertama sebanyak 16 responden, yaitu 8 responden pria dan 8 responden wanita, namun 4 data dieksklusi karena ketidakhadiran responden sehingga diperoleh 12 responden. Jumlah responden pada minggu kedua adalah 10 responden, yaitu 8 responden pria dan 2 responden wanita. Jumlah responden pada minggu ketiga adalah 16 responden, yaitu 8 responden pria dan 8 responden wanita, namun 1 data responden dieksklusi karena ketidaklengkapan data sehingga diperoleh 15 responden. Jumlah responden pada minggu keempat adalah 14 responden, yaitu 5 responden pria dan 9 responden wanita, namun 6 data responden dieksklusi karena 4 responden tidak hadir dan 2 data responden tidak lengkap, sehingga diperoleh 8 responden. Jumlah responden pada minggu kelima adalah 15 responden, yaitu 6 responden pria dan 9 responden wanita. Jumlah responden pada minggu keenam adalah 35 responden, yaitu 10 responden pria dan 25 responden wanita, namun 5 data dieksklusi karena ketidakhadiran responden sehingga diperoleh 30 responden.

(50)

kolesterol total dan HDL (missing data). Jumlah responden pada penelitian ini adalah 90 responden, terdiri atas 38 pria dan 52 wanita.

Gambar 6. Skema Responden Penelitian

90 tidak hadir, 2 missing data

(51)

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung yang berlokasi di Jl. Dr. Sutomo No.67, Temanggung, Jawa Tengah 56212. Penelitian ini berlangsung pada tanggal 18 Agustus – 28 September 2013.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian payung Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan judul “Korelasi Pengukuran Antropometri terhadap Profil Lipid, Kadar Glukosa Darah Puasa dan Tekanan Darah pada

Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung”. Penelitian ini dilakukan berkelompok sebanyak 14 orang dengan kajian yang berbeda-beda. Kajian pada penelitian ini adalah:

1. Korelasi Pengukuran Body Mass Index terhadap Kadar Trigliserida.

2. Korelasi Pengukuran Body Mass Index terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL.

3. Korelasi Pengukuran Body Mass Index terhadap Rasio Kadar LDL/HDL. 4. Korelasi Pengukuran Body Mass Index terhadap Tekanan Darah.

5. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Trigliserida.

6. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL.

(52)

8. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Tekanan Darah. 9. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Panggul

terhadap Kadar Trigliserida.

10. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Panggul terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL.

11. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Panggul terhadap Rasio Kadar LDL/HDL.

12. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Panggul terhadap Tekanan Darah.

13. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang-Panggul terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa.

14. Korelasi Pengukuran Body Mass Index dan Abdominal Skinfold Thickness

terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa.

G. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel (sampling) dilakukan secara non-random

dengan jenis purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan secara non-random, karena setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi responden penelitian. Pada pengambilan sampel dengan jenis

(53)

H. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah skinfold caliper

dengan merek pi zhi hou du fiyang berfungsi sebagai alat ukur AST. Pengukuran kadar kolesterol total dan HDL dalam darah responden dilakukan oleh Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung dan alat yang digunakan untuk mengukur adalah Sysmex Chemix-180 seri 5830-0605 dan Sysmex Xs-800i. Perhitungan rasio kadar kolesterol total/HDL dilakukan dengan menggunakan

Microsoft Excel2010 dengan nilai desimal dua angka di belakang koma.

I. Tata Cara Penelitian

1. Observasi awal

(54)

akan melakukan penelitian di rumah sakit tersebut, serta persyaratan dan prosedur pemrosesan dalam jangka waktu relatif singkat.

Observasi awal dilakukan dengan pencarian informasi mengenai jumlah penyandang diabetes melitus tipe 2 yang melakukan pemeriksaan di rawat jalan pada poliklinik penyakit dalam RSUD Kabupaten Temanggung. Observasi juga dilakukan untuk menentukan tempat yang dapat digunakan untuk wawancara dengan responden serta pengukuran antropometri.

2. Permohonan ijin dan kerjasama

(55)

3. Pembuatan informed consent dan leaflet

Informed consent yang dibuat harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Informed consent digunakan sebagai bukti tertulis yang menyatakan kesediaan responden untuk ikut serta dalam penelitian. Responden diminta untuk mengisi nama, jenis kelamin, usia/tanggal lahir, alamat, dan nomor telepon/handphone, kemudian membaca pernyataan informed consent dan menandatanganinya.

Leaflet berupa selembaran kertas berukuran A4 yang berisi informasi mengenai penjelasan tentang penelitian. Isi leaflet tersebut meliputi penjelasan mengenai diabetes melitus tipe 2 beserta komplikasinya, pengukuran antropometri (Body Mass Index, AST, lingkar pinggang, dan lingkar panggul) serta pemeriksaan laboratorium yang meliputi profil lipid, kadar glukosa darah puasa, dan tekanan darah.

4. Pencarian calon responden

(56)

calon responden belum berpuasa, peneliti mengajukan permohonan dan memberikan undangan kepada calon responden untuk datang kembali ke RSUD Kabupaten Temanggung dalam kondisi sudah berpuasa selama 8-10 jam. Peneliti juga meminta nomor telepon calon responden yang dapat digunakan untuk mengingatkan calon responden dan konfirmasi mengenai waktu dan tempat pelaksanaan penelitian. Peneliti juga memberikan undangan untuk ikut serta dalam penelitian kepada penyandang diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Parakan dan Kecamatan Bulu di Kabupaten Temanggung. Peneliti membagikan 15 lembar undangan pada masing-masing puskesmas.

5. Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011), instrumen yang memiliki validitas dan reliabilitas yang baik dapat dinyatakan dengan nilai CV (coefficient of variation) 5%. Instrumen yang divalidasi dalam penelitian ini

adalah skinfold caliper. Validitas dan reliabilitas yang dilakukan dengan mengukur abdominal skinfold thickness individu sebanyak 5 kali berturut-turut dengan instrumen yang sama. Kalibrasi alat dilakukan terlebih dahulu sebelum uji validasi.

Skinfold caliper dengan merek pi zhi hou du fimemiliki nilai CV 2% pada pria dan 1,36% pada wanita untuk mengukur abdominal skinfold thickness

(57)

6. Pengambilan darah dan pengukuran antropometri

Pengambilan darah untuk pengukuran kadar kolesterol total dan HDL responden yang telah menandatangi informed consent dan bersedia berpuasa selama 8-10 jam sebelum pengambilan darah serta tidak sakit pada hari yang bersangkutan, dilakukan oleh Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung. Pengukuran antropometri abdominal skinfold thickness dilakukan oleh peneliti. Pengukuran abdominal skinfold thickness dilakukan secara modern method yaitu responden berdiri tegak dan santai dengan lengan sejajar dengan tubuh, lipatan

skinfold diambil dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk secara vertikal pada jarak 5 cm ke kanan dari tengah pusar (midpoint of the navel) dan sekitar 1 cm di bawah jari yang memegang skinfold, setelah itu rahang skinfold caliper

dijepitkan pada lipatan kulit yang diambil dan hasil pengukuran dapat dibaca dalam satuan milimeter (Norton, et al., 2001).

7. Pembagian hasil pemeriksaan

Peneliti mengambilkan hasil pemeriksaan laboratorium responden di laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung. Hasil tersebut kemudian diserahkan kepada responden. Peneliti juga memberikan penjelasan secara langsung kepada responden mengenai hasil laboratorium dan pengukuran antropometri tersebut.

8. Pengolahan data

(58)

J. Analisis Data Penelitian

Data yang diperoleh kemudian diolah secara statistik dengan taraf kepercayaan 95%. Langkah pertama adalah uji normalitas data dengan uji

Kolmogorov-Smirnov (jika jumlah sampel >50) atau uji Shapiro-Wilk (jika jumlah

sampel ≤50) untuk melihat distribusi normal suatu data. Suatu data dikatakan

terdistribusi normal apabila nilai p≥0,05 (Dahlan, 2011). Uji normalitas dilakukan

pada data usia, abdominal skinfold thickness, kadar kolesterol total, HDL, dan rasio kadar kolesterol total/HDL. Pada responden wanita digunakan uji

Kolmogorov-Smirnov karena jumlah sampel yang digunakan adalah 52 sampel, sedangkan pada responden pria digunakan uji Shapiro-Wilk karena sampel yang digunakan adalah 38 sampel.

Langkah selanjutnya adalah uji komparatif. Data yang terdistribusi normal kemudian dilakukan uji komparatif menggunakan uji t tidak berpasangan dan data yang terdistribusi tidak normal dilakukan uji komparatif Mann-Whitney. Apabila nilai p<0,05 maka terdapat perbedaan bermakna antara setiap kategori yang dianalisis. Uji hipotesis komparatif dilakukan terhadap kadar kolesterol total, HDL, dan rasio kadar kolesterol total/HDL pada kelompok AST<24,75 mm dan

AST≥24,75 mm pada responden pria, serta kelompok AST<26,14 mm dan

AST≥26,14 mm pada responden wanita. Pada responden pria, uji normalitas

(59)

Tahap selanjutnya adalah uji korelasi mengunakan uji korelasi Pearson

jika data terdistribusi normal, dan uji korelasi Spearman jika data terdistribusi tidak normal dengan taraf kepercayaan 95%. Uji hipotesis korelasi dilakukan dengan melihat nilai signifikansi p<0,05 dan nilai r (Dahlan, 2011). Hasil uji korelasi dinyatakan dalam kekuatan dan arah korelasi, serta nilai signifikansi yang masing-masing diklasifikasikan seperti pada Tabel VI.

Tabel VI. Uji Hipotesis Korelasi berdasarkan Kekuatan Korelasi, Nilai p dan Arah Korelasi (Dahlan, 2011)

No. Parameter Nilai Interpretasi 1. Kekuatan

2. Nilai p p<0,05 Terdapat korelasi yang bermakna antara dua variabel yang diuji.

p>0,05 Tidak terdapat korelasi yang bermakna antara dua variabel yang diuji.

3. Arah korelasi + (positif) Searah, semakin besar nilai satu

(60)

42

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden Penelitian

Penelitian ini melibatkan pasien rawat jalan diabetes melitus tipe 2 di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Profil karakteristik 90 responden yang dianalisis secara statistik meliputi usia, AST, kadar kolesterol total, kadar HDL, dan rasio kadar kolesterol total/HDL yang dapat dilihat pada Tabel VII. Karakteristik data responden dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk untuk responden pria, karena jumlah sampel kurang dari 50, sedangkan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov

untuk responden wanita, karena jumlah sampel lebih dari 50. Suatu data dikatakan terdistribusi normal jika memiliki nilai signifikansi p>0,05 (Dahlan, 2011).

Tabel VII. Karakteristik Responden Penelitian

Karakteristik Pria (n= 38) p Wanita (n= 52) p

Usia (tahun) 61±9,87* 0,360 60±7,99* 0,200

AST(mm) 24.75 (12-37)** 0,032 26,14±5,83* 0,200

Kolesterol Total

(mg/dL) 185,18±33,16* 0,932 188,50(121-342)** 0,003

HDL (mg/dL) 35,62±7,79* 0,483 43,44±18,20* 0,077

Rasio Kolesterol

Total/HDL 5,41±1,35* 0,696 4,52(2,39-18,21)** 0,005

Keterangan : * = rata-rata ± SD ** = median (minimum-maksimum)

(61)

1. Usia

Usia responden pria berada dalam rentang 41-78 tahun dengan usia rata-rata 61 tahun dengan nilai SD±9,87. Berdasarkan uji normalitas data usia responden pria, diperoleh nilai p=0,36 yang menunjukkan bahwa data usia responden pria terdistribusi normal. Usia responden wanita berada dalam rentang 44-77 tahun, dengan usia rata-rata 60 tahun dengan nilai SD±7,99. Berdasarkan uji normalitas data usia responden wanita, diperoleh nilai p=0,20 yang menunjukkan bahwa data usia responden wanita terdistribusi normal. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh rentang usia yang lebar pada responden pria maupun wanita.

Diabetes UK (2010) dan Australian Government, Department of Health and Ageing (2010) menyatakan bahwa penyakit diabetes melitus tipe 2 biasanya muncul pada individu yang berusia lebih dari 40 tahun. Pada penelitian Blebil, Hassan, Djuaili dan Aziz (2012), pada suatu rumah sakit di Malaysia, 246 pasien

diabetes melitus tipe 2 yang berusia ≥40 tahun telah didiagnosis mengalami

dislipidemia. Kejadian dislipidemia merupakan faktor risiko terjadinya komplikasi

cardiovascular disease pada penyandang diabetes melitus tipe 2. 2. Abdominal Skinfold Thickness

(62)

Nilai rata-rata AST pada responden wanita sebesar 26,14 mm dengan nilai SD±5,83. Nilai AST minimum yang diperoleh pada penelitian yaitu 11 mm dan nilai AST maksimum yang diperoleh adalah 38 mm. Berdasarkan uji normalitas data AST pada responden wanita, diperoleh nilai p=0,2, yang menunjukkan bahwa data AST pada responden wanita terdistribusi normal.

Penimbunan lemak berlebih di bagian abdomen atau yang disebut juga obesitas sentral atau obesitas abdominal dapat diukur menggunakan pengukuran AST. Hacihamdioglu, Okutan, Yozgat, Yildrim, Kocaoglu, Lenk, et al. (2011) menyatakan bahwa obesitas abdominal merupakan prediktor penting terhadap kejadian cardiovascular disease dan sindroma metabolik. Dwimartutie, et al.

(2010) menyatakan bahwa lemak subkutan abdominal juga berasosiasi dengan resistensi insulin pada geriatri. Pada penelitian Fox, et al. (2007), dalam

Framingham Heart Study diperoleh hasil bahwa lemak abdominal subkutan dan viseral berasosiasi dengan berbagai risiko gangguan metabolik. Sam, et al. (2008), menyatakan bahwa lemak subkutan lebih besar menyimpan lemak dibandingkan lemak viseral, dan lemak subkutan berkontribusi atas hampir 75% pelepasan asam lemak bebas perifer.

Pada hasil penelitian diperoleh bahwa nilai ASTpada responden wanita lebih besar daripada responden pria. Menurut Harvard Health Publications

(63)

lebih besar terjadi pada wanita dibandingkan pria pada individu Asia India. Pada penelitian tersebut juga dikatakan bahwa lemak subkutan lebih besar pada wanita dibandingkan pria.

3. Kolesterol Total

Kadar kolesterol total rata-rata pada responden pria pada penelitian ini sebesar 185,18 mg/dL dengan SD ±33,16. Kadar kolesterol total minimum yaitu 103 mg/dL, sedangkan kadar kolesterol total maksimum yaitu 252 mg/dL. Berdasarkan American Heart Association (2012), kadar kolesterol total rata-rata pada penelitian ini termasuk dalam kategori diinginkan. Berdasarkan uji normalitas, data kolesterol total pada responden pria diperoleh nilai p=0,932, yang menunjukkan bahwa data kolesterol total pada responden pria terdistribusi normal.

Nilai rata-rata untuk kadar kolesterol total pada responden wanita adalah 195 mg/dL. Kadar kolesterol total minimum yang diperoleh pada penelitian ini yaitu 121 mg/dL, sedangkan kadar kolesterol total maksimum yaitu 342 mg/dL. Berdasarkan American Heart Association (2012), nilai rata-rata kadar kolesterol total pada penelitian ini termasuk dalam kategori diinginkan. Berdasarkan uji normalitas, data kolesterol total pada responden wanita memiliki nilai p=0,003, yang menunjukkan data kadar kolesterol total pada responden wanita terdistribusi tidak normal.

(64)

mengendalikan faktor tersebut. Kolesterol total merupakan penjumlahan atas HDL, LDL dan VLDL. Kadar kolesterol total dikatakan normal apabila <200 mg/dL (National, Heart, Lung, and Blood Institute, 2002). Tingginya kadar kolesterol total atau yang disebut juga hiperkolesterolemia dapat menyebabkan terbentuknya material lemak (plak) yang menempel pada arteri koroner. Kolesterol total mengandung komponen aterogenik yang berasosiasi kuat dengan munculnya penyakit jantung koroner pada diabetes melitus tipe 2 (Ahmed, 2005).

4. High Density Lipoprotein (HDL)

Kadar HDL rata-rata pada responden pria pada penelitian ini sebesar 35,62 mg/dL dengan nilai SD ±7,79. Kadar HDL minimum yang diperoleh pada penelitian yaitu 17,70 mg/dL, sedangkan kadar HDL maksimum yaitu 48,80 mg/dL. Berdasarkan American Heart Association (2012), kadar HDL rata-rata pada responden pria termasuk dalam kategori rendah. Berdasarkan uji normalitas, pada data kadar HDL untuk responden pria diperoleh nilai p=0,48, yang menunjukkan bahwa data kadar HDL pada responden pria terdistribusi normal.

(65)

Penurunan kadar kolesterol HDL merupakan faktor risiko terjadinya

cardiovascular disease. Menurut Ali, Wonnerth, Huber, dan Wojita (2012), setiap kenaikan 10 mg/L kadar kolesterol HDL akan menurunkan risiko cardiovascular disease sebesar 2% sampai 3%. Kolesterol HDL berfungsi meningkatkan transpor balik kolesterol dari perifer ke liver. Berdasarkan hasil penelitian, baik pada responden pria maupun wanita diperoleh kadar rata-rata kolesterol HDL termasuk dalam kategori rendah. Hal ini dapat diasumsikan bahwa pada penelitian ini penyandang diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko terjadinya penurunan kadar HDL. Pada penelitian Aryal, et al. (2010), telah disebutkan bahwa pada penyandang diabetes melitus tipe 2 terdapat penurunan kadar HDL secara signifikan (p=0,000) bila dibandingkan individu non-diabetes di Nepal. Penelitian Reddy, Jayarama, dan Mahesh (2013) juga diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan bermakna pada kadar HDL antara kelompok penyandang diabetes melitus tipe 2 dan kelompok non-diabetes (p<0,006) di India.

5. Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL

(66)

menunjukkan bahwa data rasio kadar kolesterol total/HDL pada responden pria terdistribusi normal.

Nilai rasio kadar kolesterol total/HDL rerata pada responden wanita pada penelitian adalah 5,25. Rasio kadar kolesterol total/HDL terkecil yang diperoleh pada penelitian yaitu 2,39, sedangkan rasio kadar kolesterol total/HDL terbesar yaitu 18,21. Menurut Marquette General Health System (2010), nilai rasio kadar kolesterol total/HDL rerata tersebut termasuk dalam kategori sedang. Berdasarkan uji normalitas, pada data rasio kadar kolesterol total/HDL untuk responden wanita diperoleh nilai p=0,005, yang menunjukkan bahwa data rasio kadar kolesterol total/HDL pada responden wanita terdistribusi tidak normal.

Rasio kadar kolesterol total/HDL berkorelasi kuat terhadap risiko

cardiovascular disease. Rasio kadar kolesterol total/HDL dapat dijadikan sebagai metode yang sederhana, murah dan dapat memprediksi kejadian cardiovascular disease pada penyandang diabetes melitus tipe 2 (Aryal, et al., 2010). Menurut

Chest, Heart, and Stroke Scotland (2012), rasio kadar kolesterol total/HDL dapat memberikan hasil yang lebih akurat sebagai indikator risiko cardiovascular disease dibandingkan kadar kolesterol total ataupun HDL saja.

B. Perbandingan Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kadar Kolesterol

Total/HDL terhadap Abdominal Skinfold Thickness

(67)

pria maupun responden wanita (Tabel VIII dan Tabel IX). Kelompok AST dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan nilai median untuk responden pria, dan berdasarkan nilai mean untuk responden wanita. Nilai median dan mean digunakan sebagai dasar karena AST tidak memiliki nilai normal yang ditetapkan, hal ini karena pengukuran AST yang subyektif pada tiap orang. Nilai median digunakan pada responden pria karena hasil uji normalitas AST pada responden pria terdistribusi tidak normal. Nilai mean digunakan pada responden wanita karena hasil uji normalitas AST pada responden wanita terdistribusi normal (Dahlan, 2011).

Pada responden pria, kelompok AST dibagi menjadi dua yaitu kelompok

dengan nilai AST<24,75 mm dan kelompok dengan nilai AST≥24,75 mm. Pada

responden wanita juga dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok dengan nilai

AST<26,14 mm dan kelompok dengan nilai AST≥26,14 mm. Perbandingan

antara kadar kolesterol total, HDL, dan rasio kadar kolesterol/HDL terhadap AST dilakukan menggunakan uji t tidak berpasangan jika data terdistribusi normal, atau uji Mann-Whitney jika data terdistribusi tidak normal (Dahlan, 2011).

Tabel VIII. Perbandingan Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol Total/HDL terhadap Kelompok AST<24,75 mm dan AST≥24,75 mm pada

responden pria

total 175,05 mg/dL±32,10 195,32 mg/dL±31,84 0,059

HDL 35,76 mg/dL±8,41 35,48 mg/dL±7,35 0,914

Rasio Kolesterol total/HDL

5,10±1,28 5,73±1,37 0,153

Figur

Tabel I. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus (American Diabetes Association,
Tabel I Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus American Diabetes Association . View in document p.29
Tabel II. Klasifikasi Diabetes Melitus (American Diabetes Association, 2013)
Tabel II Klasifikasi Diabetes Melitus American Diabetes Association 2013 . View in document p.30
Gambar 1. Lemak Viseral dan Lemak Subkutan ( Harvard Health Publications,
Gambar 1 Lemak Viseral dan Lemak Subkutan Harvard Health Publications . View in document p.33
Gambar 3. Skema Dislipidemia pada Resistensi Insulin (Mooradian, 2009)
Gambar 3 Skema Dislipidemia pada Resistensi Insulin Mooradian 2009 . View in document p.37
Tabel III. Klasifikasi Kolesterol Total (American Heart Association, 2012)
Tabel III Klasifikasi Kolesterol Total American Heart Association 2012 . View in document p.38
Tabel IV. Klasifikasi Kadar HDL (American Heart Association, 2012)
Tabel IV Klasifikasi Kadar HDL American Heart Association 2012 . View in document p.39
Tabel V. Klasifikasi Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL (Marquette General
Tabel V Klasifikasi Rasio Kadar Kolesterol Total HDL Marquette General . View in document p.40
Gambar 4. Skinfold Caliper (Assist, 2011)
Gambar 4 Skinfold Caliper Assist 2011 . View in document p.41
Gambar 5. Penandaan dan Pengukuran AST (Norton,  et al., 2001)
Gambar 5 Penandaan dan Pengukuran AST Norton et al 2001 . View in document p.43
Gambar 6. Skema Responden Penelitian
Gambar 6 Skema Responden Penelitian . View in document p.50
Tabel VI. Uji Hipotesis Korelasi berdasarkan Kekuatan Korelasi, Nilai p dan Arah
Tabel VI Uji Hipotesis Korelasi berdasarkan Kekuatan Korelasi Nilai p dan Arah . View in document p.59
Tabel VII. Karakteristik Responden Penelitian
Tabel VII Karakteristik Responden Penelitian . View in document p.60
Tabel VIII. Perbandingan Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol
Tabel VIII Perbandingan Kolesterol Total HDL dan Rasio Kolesterol . View in document p.67
Tabel IX. Perbandingan Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol Total/HDL
Tabel IX Perbandingan Kolesterol Total HDL dan Rasio Kolesterol Total HDL . View in document p.68
Tabel X. Korelasi AST terhadap Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol Total/HDL pada responden pria
Tabel X Korelasi AST terhadap Kolesterol Total HDL dan Rasio Kolesterol Total HDL pada responden pria . View in document p.76
Tabel XI. Korelasi AST terhadap Kolesterol Total, HDL, dan Rasio Kolesterol
Tabel XI Korelasi AST terhadap Kolesterol Total HDL dan Rasio Kolesterol . View in document p.77
Gambar 7. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar Kolesterol Total pada  Responden Pria
Gambar 7 Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar Kolesterol Total pada Responden Pria . View in document p.77
Gambar  8. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar Kolesterol Total pada  Responden Wanita
Gambar 8 Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Kadar Kolesterol Total pada Responden Wanita . View in document p.78
Gambar 11. Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL pada Responden Pria
Gambar 11 Diagram Sebar Korelasi AST terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total HDL pada Responden Pria . View in document p.82
Gambar 15. Pengambilan Lipatan Kulit pada Abdominal
Gambar 15 Pengambilan Lipatan Kulit pada Abdominal . View in document p.133

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (138 Halaman)