Korelasi Body Mass Index terhadap kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung - USD Repository

93 

Teks penuh

(1)

KORELASI BODY MASS INDEX TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA PADA DIABETES MELITUS TIPE 2

DI RSUD KABUPATEN TEMANGGUNG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh : Ines Permata Putri

NIM: 108114145

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(2)

KORELASI BODY MASS INDEX TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA PADA DIABETES MELITUS TIPE 2

DI RSUD KABUPATEN TEMANGGUNG

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Farmasi

Oleh : Ines Permata Putri

NIM: 108114145

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(3)

(4)
(5)

HALAMAN PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini kepada Allah swt. Yang Maha Pengasih

Bapak, Almarhumah Ibu, Mama dan Kakakku tercinta

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis haturkan ke Allah swt. atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dalam proses penulisan skripsi ini, penulis memperoleh banyak dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan waktu dan tenaga hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :

1. Direktur RSUD Kabupaten Temanggung yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di RSUD Kabupaten Temanggung. 2. Ketua Komite Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas

Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.

3. Ipang Djunarko, M.Sc., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. dr. Fenty, M.Kes., Sp.PK. selaku dosen pembimbing utama yang telah mendampingi dan membimbing penulis sejak awal hingga akhir penyusunan skripsi.

(9)

6. Ir. Ig. Aris Dwiatmoko, M.Sc. selaku dosen statistik yang telah membimbing penulis dalam pengolahan data.

7. Seluruh petugas di Poli Dalam dan Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung yang telah membantu peneliti dalam pengambilan data.

8. Bapak Sunarko dan keluarga yang dengan segala kemurahan hatinya telah memberikan tempat untuk menginap selama berada di Temanggung.

9. Seluruh responden penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang telah bersedia untuk terlibat dalam penelitian.

10. Seluruh dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma yang telah membagikan ilmu kepada penulis.

11. Bapak, Alm. Ibu, Mama Lia dan Kak Tia yang menjadi sumber semangat bagi penulis setiap harinya.

12. Sahabat sekaligus teman seperjuanganku selama proses penelitian, Liliany Ludji, Gabriela Indria, Reza Pahlevi, Djanuar Davidson, Yeni Natalia, Gissela Haryuningtyas, Isabela Anjani, Fransisca Devi, Ni Putu Padmaningsih, Oswaldine Heraolia, Jonas, Paulina Ambar dan Rita Dela serta seluruh teman-teman di FKK B 2010 yang telah bersama-sama menempuh suka duka selama berkuliah di Fakultas Farmasi.

13. Untuk sahabat yang dibatasi jarak, Wanodya dan Nabella yang menjadi tempat bercanda dan menampung keluh kesah walaupun jarang bersua.

(10)

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam skripsi ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Kritik dan saran tersebut akan menjadi pembelajaran bagi penulis untuk menjadi lebih baik. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat menjadi sumbangan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan perhatian masyarakat terhadap kesehatan.

Yogyakarta, 27 Januari 2014

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

PRAKATA ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

INTISARI ... xvi

ABSTRACT ... xvii

BAB I. PENGANTAR ... 1

A. Latar Belakang ... 1

1. Perumusan Masalah ... 3

2. Keaslian Penelitian ... 4

3. Manfaat Penelitian ... 7

B. Tujuan Penelitian ... 7

BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA... 8

(12)

C. Dislipidemia ... 11

D. Trigliserida ... 14

E. Antropometri ... 17

F. Landasan Teori ... 18

G. Hipotesis ... 19

BAB III. METODE PENELITIAN... 20

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ... 20

B. Variabel Penelitian ... 20

1. Variabel Bebas ... 20

2. Variabel Tergantung... 20

3. Variabel Pengacau ... 21

C. Definisi Operasional... 21

D. Responden Penelitian ... 22

E. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 24

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 24

G. Teknik Pengambilan Sampel... 25

H. Instrumen Penelitian... 26

I. Tata Cara Penelitian ... 26

1. Observasi awal ... 26

2. Permohonan izin dan kerjasama ... 26

3. Pembuatan informed consent dan leaflet... 27

4. Pencarian responden... 28

(13)

6. Pengambilan darah dan pengukuran antropometri ... 30

7. Pembagian hasil pemeriksaan ... 30

8. Pengolahan data ... 30

J. Analisis Data Penelitian ... 30

K. Kesulitan Penelitian ... 31

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33

A. Karakteristik Responden ... 33

1. Usia ... 33

2. Body mass index ... 34

3. Kadar trigliserida ... 34

B. Perbandingan Rerata Kadar Trigliserida pada Responden Pria dengan BMI <23 kg/m2dan BMI ≥23 kg/m2 ... 34

C. Perbandingan Rerata Kadar Trigliserida pada Responden Wanita dengan BMI <23 kg/m2dan BMI ≥23 kg/m2 ... 35

D. Korelasi Body Mass Index terhadap Kadar Trigliserida Pada Responden Pria dan Wanita ... 36

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 43

A. Kesimpulan ... 43

B. Saran ... 43

DAFTAR PUSTAKA ... 44

LAMPIRAN ... 51

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 ... 9

Tabel II. Klasifikasi Trigliserida Serum... 17

Tabel III. Klasifikasi BMI pada Orang Dewasa Asia ... 18

Tabel IV. Interpretasi Hasil Uji Korelasi ... 31

Tabel V. Karakteristik Responden Pria dan Wanita ... 33

Tabel VI. Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Pria dengan BMI <23 kg/m2dan BMI ≥23 kg/m2 ... 35

Tabel VII. Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Wanita dengan <23 kg/m2dan BMI ≥23 kg/m2 ... 36

Tabel VIII. Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Pria ... 36

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Metabolisme pada Keadaan Hipertrigliseridemia pada

Resistensi Insulin ... 16 Gambar 2. Skema Responden Penelitian ... 23 Gambar 3. Diagram Sebaran Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida

pada Responden Pria... 37 Gambar 4. Diagram Sebaran Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Keterangan Izin Penelitian ... 52

Lampiran 2. Ethical Clearance ... 53

Lampiran 3. Informed Consent ... 54

Lampiran 4. Pedoman Wawancara ... 55

Lampiran 5. Leaflet ... 56

Lampiran 6. Hasil Pemeriksaan Laboratorium ... 58

Lampiran 7. Validasi Instrumen Penelitian ... 59

Lampiran 8. Analisis Statistik ... 60

(17)

INTISARI

Prevalensi diabetes melitus (DM) di Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta dengan DM tipe 2 menyumbang 90% dari seluruh kasus diabetes. DM tipe 2 merupakan tipe DM yang sering terjadi pada orang dewasa yang obesitas. Komplikasi yang sering terjadi pada penyandang DM tipe 2 adalah penyakit kardiovaskuler yang disebabkan karena peningkatan kadar trigliserida. Pengukuran antropometri body mass index (BMI) dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur korelasi antara BMI terhadap kadar trigliserida pada penyandang DM tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian potong lintang. Subyek penelitian adalah penyandang DM tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung berjumlah 95 responden yang terdiri dari 37 pria dan 58 wanita yang dipilih dengan purposive sampling. Data BMI diperoleh dengan membagi berat badan responden dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat dan data kadar trigliserida diperoleh dari Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung. Data BMI dan kadar trigliserida yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistik dengan uji normalitas

Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk, uji hipotesis komparatif Mann-Whitney

dan uji korelasi Spearman dengan tingkat kepercayaan 95%.

Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif yang tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah antara BMI terhadap kadar trigliserida pada pria (p = 0,655; r = 0,076) dan wanita (p = 0,774; r = 0,039) penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung

(18)

ABSTRACT

The prevalence of diabetes mellitus in Indonesia is estimated to be 21,3 million with type 2 diabetes accounts for 90% of all cases of diabetes. Type 2 diabetes often occurs in obese adults. Type 2 diabetes can lead to cardiovascular complication due to increased triglyceride levels. Anthropometric measurement of body mass index can be used to measure obesity. The aim of this study was to determine the correlation between body mass index and triglyceride in type 2 diabetes men and women at Regional General Hospital of Temanggung Regency.

This study used cross-sectional design as a part of analytical observational study. A total of 95 subjects with type 2 diabetes mellitus both men and women were included purposively. Body mass index was calculated by dividing subjects’ weight in kilograms by their height squared in meters and triglyceride levels data was obtained from Regional General Hospital of Temanggung Regency Laboratory. Data were analyzed statistically with Kolmogorov-Smirnov and Shapiro-Wilk normality test, Mann-Whitney comparative test and Spearman correlation test with 95% confidence interval.

The results show non-significant positive correlation between BMI and triglyceride in men (p = 0.655; r = 0.076) and women (p = 0.774; r = 0.039) with type 2 diabetes mellitus at Regional General Hospital of Temanggung Regency. There were very weak correlations in this study.

(19)

BAB I

PENGANTAR

A.Latar Belakang

Prevalensi diabetes melitus (DM) di Indonesia pada tahun 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang (Wild, Roglic, Green, Sicree dan King, 2004). Diabetes melitus tipe 2 merupakan tipe DM yang sering terjadi pada orang dewasa yang obesitas (Crowley, 2001). American Diabetes Association (2012) menyatakan bahwa DM tipe 2 menyumbang 90% dari seluruh kasus diabetes. Insiden DM tipe 2 banyak terjadi pada usia lebih dari 40 tahun (Yuliasih, 2009).

Komplikasi diabetes yang utama adalah penyakit kardiovaskuler yang menjadi penyebab kematian pada orang dengan diabetes (National Diabetes Education Program, 2007). American Heart Association (2013 a) menyatakan bahwa penyakit jantung dan stroke adalah penyebab kematian dan kecacatan nomor satu pada orang dengan DM tipe 2. Sekitar 65% orang dengan DM meninggal karena berbagai bentuk penyakit jantung dan stroke (NDEP, 2007).

International Diabetes Federation (2007) menyatakan bahwa sindrom metabolik menjadi pemicu munculnya DM tipe 2. Sindrom metabolik merupakan abnormalitas metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak yang ditandai dengan dislipidemia, kenaikan tekanan darah, kenaikan kadar glukosa darah puasa dan obesitas (Knowles et al., 2011).

(20)

dislipidemia yang disebut dislipidemia diabetik (World Heart Federation, 2013). Dislipidemia diabetik merupakan dislipidemia yang bersifat aterogenik yang terjadi pada penyandang DM tipe 2 yang dicirikan dengan kenaikan trigliserida, partikel LDL yang kecil dan penurunan kolesterol HDL (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III, 2002). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Soewondo dkk. (2010) pada 1390 penyandang DM tipe 2 di pusat kesehatan sekunder dan tersier di Indonesia, 60% di antaranya mengalami dislipidemia.

Berat badan berlebih dan obesitas menjadi faktor risiko DM tipe 2 yang mengarah ke tingginya risiko penyakit kardiovaskuler (AHA, 2013 b). Penelitian oleh Shah, Devrajani, Devrajani dan Bibi (2010) di Pakistan yang membandingkan profil lipid antara kelompok obesitas dan non-obesitas menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara dislipidemia dengan obesitas dengan nilai rerata kolesterol HDL total, LDL total dan trigliserida pada kelompok obesitas berbeda signifikan (p <0,05) dengan non-obesitas. Trigliserida sebagai salah satu komponen lipid dapat menjadi penanda untuk faktor risiko lipid lain (tingginya LDL dan rendahnya HDL) dan faktor risiko non-lipid (kenaikan tekanan darah) (NCEP ATP III, 2002).

(21)

peningkatan risiko kesehatan akibat berat badan berlebih pada tingkat populasi. Pengukuran lemak tubuh yang sesungguhnya tidak praktis dan mahal untuk digunakan pada tingkat populasi dan pengukuran lemak tubuh lainnya sulit mengukur secara akurat dan konsisten pada populasi besar (misal skinfold thickness atau lingkar pinggang) (National Obesity Observatory, 2009).

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Temanggung menjadi model dalam penelitian ini. Prevalensi DM tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung pada tahun 2012 berada di peringkat ke-3 setelah diare dan hipertensi. Berdasarkan data rekam medik RSUD Kabupaten Temanggung, jumlah penyandang DM tipe 2 yang melakukan rawat jalan terus meningkat sejak 2010.Data penelitian di RSUD Kabupaten Temanggung melaporkan bahwa belum pernah dilakukan penelitian observasional dengan responden penyandang DM RSUD Kabupaten Temanggung.

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur korelasi BMI sebagai parameter obesitas terhadap kadar trigliserida pada DM tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung. Dengan adanya penelitian ini, peneliti mengharapkan adanya gambaran korelasi antara BMI dengan peningkatan kadar trigliserida dalam darah pada responden DM tipe 2 sehingga dapat memprediksi terjadinya dislipidemia yang merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler.

1. Perumusan Masalah

(22)

Apakah terdapat korelasi antara body mass index (BMI) terhadap kadar trigliserida pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung?

2. Keaslian Penelitian

Beberapa penelitian yang berkaitan dengan korelasi body mass index

(BMI) terhadap kadar trigliserida yang telah dipublikasi antara lain sebagai berikut:

a. Waist Circumference, Body Mass Index, and Other Measures of Adiposity in Predicting Cardiovascular Disesase Risk Factors among Peruvian

Adults (Knowles et al., 2011) tentang hubungan berbagai metode antropometri terhadap komponen sindrom metabolik. Penelitian melibatkan 1518 orang dewasa Peru dengan rerata usia 38,3 tahun untuk pria dan 39,9 tahun untuk wanita. Hasil penelitian menunjukkan kadar trigliserida memiliki korelasi positif yang kuat terhadap BMI pada pria (r = 0,462; p ≤0,001) dan wanita (r = 0,437; p

≤0,001).

(23)

terdapat korelasi BMI terhadap trigliserida yang tidak bermakna pada usia 41-50 tahun (r = 0,05).

c. Frequency of Dyslipidemia in Obese versus Non-obese in Relation to Body Mass Index (BMI), Waist Hip Ratio (WHR) and Waist Circumference (WC)

(Shah et al., 2010). Penelitian dilakukan di Liaquat University Hospital, Pakistan, yang membandingkan kelompok obesitas dan non-obesitas serta melibatkan 200 responden. Rancangan penelitian adalah cross sectional komparatif. Perbandingan profil lipid antara kedua kelompok menunjukkan nilai rerata kolesterol HDL total, kolesterol LDL total dan trigliserida pada kelompok obesitas berbeda signifikan (p <0,05).

d. Lipid and Glucose Profiles in Outpatients and Their Correlation with Anthropometric Indices (Santos et al., 2012). Penelitian melibatkan 550 pasien rawat jalan dengan usia di atas 19 tahun di timur laut Brazil. Hasil menunjukkan pada responden pria terdapat korelasi sangat lemah tidak bermakna antara BMI dan trigliserida (r = 0,10; p = 0,42) sementara pada responden wanita terdapat korelasi lemah yang bermakna (r = 0,21; p = 0,00).

(24)

f. Korelasi Body Mass Index terhadap Kadar Trigliserida pada Mahasiswa dan Mahasiswi di Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (Pangesti, 2013). Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan rancangan

cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 129 mahasiswa Sanata Dharma berusia 17-24 tahun. Hasil penelitian menunjukkan BMI memiliki korelasi positif yang bermakna terhadap kadar trigliserida dengan kekuatan korelasi lemah pada responden pria dan korelasi postiif dengan kekuatan korelasi sedang pada responden wanita.

g. Korelasi Body Mass Index dan Triceps Skinfold Thickness terhadap Trigliserida (Anastasia, 2011). Penelitian termasuk observasional analitik dengan rancangan cross sectional dan teknik non-random sampling. Subyek penelitian berjumlah 70 orang yang merupakan dosen dan karyawan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan rentang usia 30-50 tahun. Hasil penelitian menemukan adanya korelasi positif yang bermakna antara body mass index

terhadap kadar trigliserida dengan kekuatan korelasi lemah.

h. Korelasi Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold Thickness

(25)

i. Relevansi Beberapa Ukuran Antropometrik dan Komposisi Badan terhadap Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler pada Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta (Hastuti, Rahmawati, Suriyanto dan Nuryana, 2009). Subyek penelitian adalah penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta, umur 20-60 tahun, terdiri atas 130 perempuan dan 70 laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BMI memiliki korelasi signifikan terhadap kadar trigliserida pada laki-laki dan perempuan.

Berdasarkan penelusuran pustaka yang dilakukan peneliti, penelitian tentang korelasi BMI terhadap kadar trigliserida pada penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung belum pernah dilakukan.

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoretis. Penelitian ini diharapkan memberikan informasi mengenai korelasi body mass index (BMI) terhadap kadar trigliserida pada diabetes melitus tipe 2.

b. Manfaat praktis. Data yang diperoleh diharapkan mampu memberikan gambaran kadar trigliserida sehingga para penyandang diabetes melitus tipe 2 dapat menjaga dan meningkatkan kondisi kesehatannya agar tidak terjadi komplikasi penyakit kardiovaskuler.

B.Tujuan Penelitian

(26)

BAB II

PENELAHAAN PUSTAKA

A.Diabetes Melitus Tipe 2

Diabetes melitus (DM) adalah penyakit metabolik yang disebabkan oleh ketidakmampuan sel-sel pankreas mensekresi insulin yang cukup atau insulin yang tidak digunakan dengan efisien dengan gejala berupa kurangnya daya kesanggupan (toleransi) karbohidrat, gangguan metabolisme lemak maupun protein yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Salah satu manifestasi utama DM adalah kenaikan kadar glukosa darah (American Diabetes Association, 2011; Crowley, 2001). Diabetes melitus tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin dan defisiensi insulin hingga gangguan sekresi insulin (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005).

Insiden DM tipe 2 telah meningkat sejak tahun 1940 dengan gangguan metabolik yang lebih kompleks. Kondisi ini sering terjadi pada orang tua yang kelebihan berat badan dan orang dewasa yang obesitas. Islet pankreas mensekresi insulin dengan normal namun jaringan tidak sensitif terhadap insulin dan tidak mampu merespon dengan baik (Crowley, 2001; Huether dan McCance, 2008). Tabel I menunjukkan kriteria diagnosis DM tipe 2 menurut American Diabetes Association (2013).

(27)

peningkatan glukosa darah puasa atau sebelumnya didiagnosis DM tipe 2 (International Diabetes Federation, 2007).

Tabel I. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 (American Diabetes Association, 2013)

A1C Glukosa Darah Puasa

(GDP)

Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) 75 g ≥6,5 % ≥126 mg/dL (7,0 mmol/L) ≥200 mg/dL (11,1 mmol/L)

Diabetes melitus tipe 2 berkaitan dengan penyakit kardiovaskuler. Orang dengan DM memiliki risiko dua hingga empat kali lipat untuk mengalami penyakit koroner daripada orang tanpa DM (Ali, Narayan dan Tandon, 2010). Penyakit kardiovaskuler adalah penyebab utama mortalitas pada orang dengan diabetes (Boras, Pavlic-Renar, Car dan Metelko, 2002).

B. Obesitas

Berat badan berlebih dan obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak yang abnormal atau berlebih. Seseorang dianggap obesitas bila BMI >30 kg/m2, dan berat badan berlebih dengan BMI >25 kg/m2 (World Health Organization, 2013). Prevalensi penyakit terkait obesitas, misalnya hipertensi dan penyakit arteri koroner mulai meningkat pada nilai BMI >25,0 kg/m2 dan terus meningkat pada nilai yang lebih tinggi (Kumar et al., 2010).

(28)

melibatkan gerakan atau kurang berolahraga (International Union of Food Science and Technology, 2007).

Pada individu yang obesitas, deposisi awal trigliserida terjadi pada jaringan adiposa subkutan dan ketika jumlahnya semakin meningkat, resistensi insulin juga meningkat dan membatasi akumulasi lipid subkutan yang lebih banyak. Trigliserida kemudian akan dialihkan ke lemak viseral. Hal ini menyebabkan resistensi insulin yang lebih lanjut akibat adanya sekresi adipositokin dari adiposit viseral (Yaturu, 2011). Penyimpanan lemak yang berlebih mengarah ke pelepasan asam lemak yang berlebih. Pelepasan asam lemak bebas berlebih ini menyebabkan disfungsi reseptor insulin (resistensi insulin) dengan cara mengaktifkan beberapa protein kinase yang kemudian meningkatkan fosforilasi serin pada substrat reseptor insulin sehingga mempengaruhi kerja insulin dan penyimpanan glukosa pada jaringan. Keadaan ini menyebabkan hiperglikemia dengan glukoneogenesis hepatik yang dikompensasi. Peningkatan produksi glukosa hepatik memperparah hiperglikemia akibat resistensi insulin. Asam lemak bebas juga menurunkan penggunaan glukosa otot yang distimulasi insulin, menyebabkan hiperglikemia lebih lanjut (Yaturu, 2011; Redinger, 2007; Qatanani dan Lazar, 2007).

(29)

Dengan adanya obesitas dan pembesaran adiposit yang progresif, aliran darah menuju adiposit berkurang dan mengakibatkan hipoksia. Hipoksia menjadi penyebab nekrosis dan infiltrasi makrofag ke jaringan adiposa yang menyebabkan produksi faktor proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6 (Emanuela et al., 2012). Jaringan adiposa berkontribusi hingga 35% IL-6 yang bersirkulasi dalam tubuh dan lemak viseral lebih banyak menghasilkan TNF-α dibandingkan lemak subkutan. TNF-α dan IL-6 menyebabkan resistensi insulin dengan menghambat fosforilasi tirosin kinase pada reseptor insulin sehingga terjadi penurunan pensinyalan insulin dan menyebabkan resistensi insulin serta penurunan transpor glukosa (Qatanani dan Lazar, 2007; Yaturu, 2011). TNF-α juga mampu meningkatkan lipolisis yang menyebabkan peningkatan asam lemak bebas dan perpindahannya ke hati dan memicu sintesis trigliserida dan very low density lipoprotein (VLDL) (Gutierrez, Puglisi dan Hasty, 2009).

C. Dislipidemia

(30)

2004). Dislipidemia menjadi salah satu faktor risiko untuk penyakit kardiovaskuler pada DM tipe 2 (Mooradian, 2009).

Lipoprotein adalah partikel yang mentranspor kolesterol dan trigliserida. Lipoprotein terdiri dari protein (apolipoprotein), fosfolipid, trigliserida dan kolesterol. Trigliserida dan kolesterol ester membentuk inti dari lipoprotein sementara fosfolipid, sejumlah kecil kolesterol bebas dan protein membentuk bagian permukaan. Apolipoprotein adalah protein pada permukaan lipoprotein yang berperan dalam pengaturan lipid plasma dan transpor lipoprotein (Ginsberg, Zhang dan Hernandez-Ono, 2005). Kilomikron merupakan lipoprotein yang mengandung trigliserida utama yang dihasilkan setelah makan. Very low density lipoprotein dihasilkan oleh hati dengan fungsi utama menyuplai asam lemak bebas ke jaringan dan normalnya merupakan pengangkut trigliserida. Low density lipoprotein adalah by-product metabolisme VLDL dan pada keadaan normal merupakan pengangkut utama kolesterol plasma. Kilomikron, VLDL, dan LDL membawa apoB sedangkan HDL membawa apoA (Brunzell et al., 2008).

(31)

kilomikron merupakan patofisiologi penting untuk terjadinya dislipidemia aterogenik pada diabetes. Pada DM tipe 2, peningkatan pengeluaran asam lemak bebas dari jaringan adiposa dapat meningkatkan perpindahan asam lemak ke hati yang selanjutnya meningkatkan aktivitas lipase di hati. Resistensi insulin menyebabkan peningkatan produksi apoB yaitu protein utama LDL dan sebagai akibatnya meningkatkan sintesis dan sekresi trigliserida VLDL. Dengan adanya protein transfer kolesterol ester, kolesterol ester pada LDL digantikan dengan trigliserida. Low density lipoprotein yang kaya akan trigliserida dihidrolisis oleh lipase hepatik yang akhirnya membentuk LDL yang kecil dan padat. Kadar LDL biasanya masih normal atau sedikit lebih tinggi, namun partikelnya yang abnormal (kecil dan padat) tidak mampu terikat pada reseptor LDL sehingga sulit dimetabolisme dengan waktu tinggal lima hari. Low density lipoprotein pada pasien diabetes dapat bersifat aterogenik yang meningkatkan risiko kardiovaskuler bahkan pada konsentrasi normal. Low density lipoprotein terglikosilasi dapat diambil oleh reseptor makrofag yang menyebabkan pembentukan sel busa (Miller

et al., 2011; Klop et al., 2013; Kolovou, Anagnostopoulou dan Cokkinos, 2005; Krauss, 2004).

(32)

2001). Trigliserida pada HDL ini dihidrolisis dan komponen proteinnya yaitu apoA (protein utama pada HDL) akan dilepas karena afinitas HDL terhadap apoA yang menurun (Klop et al., 2013; Kolovou et.al, 2005). Pada DM tipe 2, pertukaran trigliserida dari VLDL untuk kolesterol ester pada HDL dipercepat dengan adanya hipertrigliseridemia. Pengukuran klinis untuk HDL adalah kolesterol HDL, bukan HDL dengan trigliserida, dengan demikian subtitusi trigliserida terhadap kolesterol ester dalam inti partikel ini menyebabkan penurunan kadar hasil pengukuran kolesterol HDL (Goldberg, 2001).

D. Trigliserida

Trigliserida merupakan bentuk utama lemak yang ada di dalam tubuh yang berada dalam bentuk lipoprotein kaya trigliserida (trigliserida VLDL dan kilomikron) diperoleh dari asupan makanan (eksogen) dan hasil metabolisme di hati (endogen). Kadar trigliserida yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis (American Heart Association, 2013 b; Leaf, 2008).

(33)

sisa kilomikron ini dibuang oleh hati dengan terikat pada reseptor LDL, protein terkait reseptor LDL, trigliserida lipase hepatik, dan proteoglikan permukaan (Miller et al., 2011).

Trigliserida endogen atau trigliserida VLDL dibentuk di dalam retikulum endoplasma hepatosit. Trigliserida VLDL berasal dari gabungan gliserol dengan tiga asam lemak bebas yang telah diambil dari plasma atau yang baru disintesis di dalam hati. Kolesterol VLDL dapat disintesis di dalam hati dari asetat atau diperoleh dari lipoprotein. Ketika berada di plasma, trigliserida VLDL dihidrolisis oleh lipoprotein lipase menghasilkan VLDL yang lebih kecil dan padat dan lipoprotein densitas sedang yang mirip dengan sisa kilomikron, namun tidak semuanya dibuang oleh hati. Lipoprotein densitas sedang dapat mengalami katabolisme lebih lanjut menjadi LDL (Ginsberg et al., 2005).

(34)

Gambar 1. Metabolisme pada Keadaan Hipertrigliseridemia pada Resistensi Insulin

(Miller et al., 2011)

Pada DM tipe 2, penyebab hipertrigliseridemia meliputi peningkatan produksi VLDL hepatik dan gangguan pembuangan kilomikron dan sisa kilomikron. Dua faktor yang dapat meningkatkan produksi VLDL di hati adalah kembalinya asam lemak bebas yang lebih banyak karena peningkatan produksi lipase sensitif hormon pada jaringan adiposa dan aksi insulin secara langsung pada sintesis apoB. Kedua proses ini mencegah degradasi apoB yang baru disintesis dan menyebabkan peningkatan produksi lipoprotein (Goldberg, 2001; Miller et al., 2011).

(35)

untuk penyakit jantung koroner. Peningkatan trigliserida juga dapat menjadi penanda bagi lipoprotein aterogenik lainnya, faktor risiko lipid lain (LDL dan rendahnya HDL) dan faktor risiko non-lipid (kenaikan tekanan darah) (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III, 2002). Klasifikasi kadar trigliserida serum adalah sebagai berikut:

Tabel II. Klasifikasi Trigliserida Serum (NCEP ATP III, 2002)

Kategori Trigliserida Kadar Trigliserida

Normal <150 mg/dL

Batas atas 150-199 mg/dL

Tinggi 200-499 mg/dL

Sangat tinggi ≥500 mg/dL

E.Antropometri

Antropometri adalah studi pengukuran tubuh manusia yang mencakup dimensi tulang, otot dan jaringan adiposa. Ruang lingkup antropometri meliputi berbagai pengukuran tubuh manusia. Berat badan, tinggi badan, panjang tubuh saat berbaring, skinfold thickness, lingkar tubuh (kepala, pinggang, lengan) panjang lengan dan lebar (bahu, pergelangan tangan) merupakan contoh pengukuran antropometri (National Health and Nutrition Examination Survey, 2009). Perubahan dimensi tubuh dapat mencerminkan status kesehatan seseorang dan populasi. Antropometri menjadi pengukuran yang banyak digunakan, murah dan non-invasif untuk mengukur status gizi umum seseorang atau kelompok populasi (Cogill, 2003).

(36)

badannya sehingga mampu membandingkan orang-orang dengan tinggi badan berbeda. BMI merupakan pengukuran yang paling banyak digunakan untuk memperkirakan apakah seseorang mengalami berat badan berlebih atau obesitas, selain itu BMI merupakan pengukuran yang cukup untuk memantau peningkatan risiko kesehatan karena berat badan berlebih pada level populasi dan telah memiliki standar untuk kelompok populasi tertentu (National Obesity Observatory, 2009).

Pada orang Asia, persentase lemak tubuhnya lebih besar daripada orang kulit putih dengan BMI, usia dan jenis kelamin yang sama sehingga klasifikasi BMI internasional tidak cocok digunakan pada populasi Asia (WHO, 2004). Untuk populasi Asia Pasifik, WHO (2004) mengklasifikasikan BMI sebagai berikut:

Tabel III. Klasifikasi BMI pada Orang Dewasa Asia (WHO, 2004)

Klasifikasi BMI (kg/m2)

Berat badan kurang <18,5

(37)

dan meningkatkan jumlah asam lemak bebas ke hati sehingga mempengaruhi profil lipid lain seperti LDL dan HDL. Pada orang obesitas terdapat banyak jaringan adiposa yang menjadi tempat penyimpanan trigliserida. Dengan demikian, orang yang obesitas memiliki memiliki risiko dislipidemia yang dapat mengarah ke penyakit kardiovaskuler.

Obesitas dapat diukur dengan metode antropometri. Salah satu metode antropometri adalah body mass index (BMI) yang telah banyak digunakan. Pengukuran obesitas keseluruhan dengan BMI dapat memperkirakan kadar trigliserida dalam darah yang menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskuler.

G.Hipotesis

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan rancangan cross-sectional. Metode observasional merupakan penelitian yang dilakukan dengan pengamatan tanpa melakukan perlakuan (Sastroasmoro dan Ismael, 2010). Penelitian analitik adalah penelitian dimana peneliti mencari hubungan antara varibael yang ada. Penelitian cross-sectional

adalah penelitian dimana pengukuran variabel dalam faktor risiko dan variabel dalam faktor efek diobservasi pada waktu yang sama. Analisis korelasi dilakukan antara faktor risiko dan faktor efek, antar faktor risiko maupun antar faktor efek (Notoatmodjo, 2002). Penelitian ini menganalisis korelasi antara body mass index

(BMI) sebagai faktor risiko terhadap kadar trigliserida yang merupakan faktor efek pada diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung. Data penelitian yang diperoleh diolah secara statistik untuk menganalisis korelasi antara faktor risiko dengan faktor efek.

B. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

Body mass index (kg/m2)

2. Variabel tergantung

(39)

3. Variabel pengacau

a. Variabel pengacau terkendali: usia dan kondisi puasa sebelum pengambilan data.

b. Variabel tak terkendali: aktivitas, gaya hidup, pola makan, kondisi patologis dan obat-obatan yang dikonsumsi.

C.Definisi Operasional

1. Responden adalah penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada penelitian.

2. Karakteristik penelitian meliputi demografi (usia), pengukuran antropometri (BMI), dan hasil pemeriksaan yang didapat dari Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung (kadar trigliserida).

3. Pengukuran body mass index adalah pengukuran berat badan dalam kilogram (kg) dibagi dengan tinggi badan kuadrat dalam meter (m2). Pengukuran body mass index dilakukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan. Tinggi badan diukur menggunakan meteran pengukur tinggi badan pada responden yang berdiri tegak dengan pandangan lurus, bahu rileks, tangan di sisi tubuh, kaki lurus, telapak kaki pada posisi datar dan tidak memakai alas kaki. Berat badan diukur dalam kilogram menggunakan timbangan berat badan pada responden tanpa memakai alas kaki.

(40)

5. Standar yang digunakan dalam penelitian ini meliputi :

a. Body mass index : Nilai normal BMI adalah 18,5-22,9 kg/m2 (WHO, 2000). b. Kadar trigliserida : Standar kadar trigliserida menggunakan standar NCEP ATP III tahun 2002 dengan nilai normal <150 mg/dL.

D. Responden Penelitian

Responden dalam penelitian ini adalah penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi yaitu penyandang DM tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung, pria dan wanita dengan usia lebih dari 40 tahun, bersedia berpuasa 8-10 jam sebelum pengambilan darah dan menandatangani informed consent. Kriteria eksklusi yaitu penyandang DM tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung dengan penyakit penyerta seperti stroke, gangren, gagal ginjal, penyakit jantung dan tidak hadir pada saat pengambilan data. Jumlah responden penelitian yang ditetapkan sebesar 95 orang yang terdiri dari 37 pria dan 58 wanita. Jumlah minimum sampel yang digunakan untuk penelitian korelasi yaitu sebesar 30 subyek (Spiegel dan Stephens, 2007).

(41)
(42)

E.Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung yang berlokasi di Jl. Dr. Sutomo No. 67, Temanggung, Jawa Tengah. Penelitian ini berlangsung pada bulan Juni-September 2013.

F. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian payung Fakultas Farmasi Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta yang berjudul ―Korelasi Pengukuran Antropometri

terhadap Profil Lipid, Kadar Glukosa Darah Puasa, dan Tekanan Darah pada Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung‖ dan telah memperoleh izin dari Komisi Etik Kedokteran. Penelitian payung bertujuan untuk mengkaji korelasi antara pengukuran antropometri terhadap profil lipid, kadar glukosa darah puasa dan tekanan darah. Penelitian ini dilakukan berkelompok dengan jumlah anggota sebanyak 14 orang dengan kajian yang berbeda, namun penulis utama mengkaji korelasi body mass index (BMI) terhadap kadar trigliserida dalam darah. Kajian yang diteliti dalam penelitian payung ini adalah : a. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) terhadap Kadar Trigliserida b. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL

c. Korelasi Pengukuran Body Mass Index (BMI) terhadap Rasio Kadar LDL/HDL

(43)

e. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Trigliserida

f. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL

g. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Rasio Kadar LDL/HDL

h. Korelasi Pengukuran Abdominal Skinfold Thickness terhadap Tekanan Darah i. Korelasi Pengukuran Body Mass Index dan Abdominal Skinfold Thickness

terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa

j. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Kadar Trigliserida

k. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Rasio Kadar Kolesterol Total/HDL

l. Korelasi Pengukuran Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Rasio LDL/HDL

m. Korelasi Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadap Tekanan Darah

n. Korelasi Lingkar Pinggang dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul terhadapKadar Glukosa Darah Puasa

G.Teknik Pengambilan Sampel

(44)

non-random karena setiap anggota populasi tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel. Pengambilan sambpel dengan purposive sampling artinya responden dipilih berdasarkan pertimbangan subyektif peneliti bahwa responden dapat memberikan informasi yang sesuai terkait dengan tujuan penelitian (Sastroasmoro dan Ismael, 2010). Jumlah minimum sampel pada penelitian korelasi yaitu 30 orang (Yahaya, Hashim, Boon dan Hamdan, 2006).

H.Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah alat pengukur tinggi badan Butterfly®, timbangan berat badan Camry®, leaflet dan informed consent. Pemeriksaan kadar trigliserida dilakukan oleh laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung menggunakan Sysmex Chemix-180 (Jepang) seri 5830-0605.

I. Tata Cara Penelitian

1. Observasi awal

Observasi awal yang dilakukan dengan informasi tentang penyandang DM tipe 2 yang rutin kontrol di RSUD Kabupaten Temanggung yang digunakan sebagai tempat untuk wawancara, pengisian informed consent dan pengukuran antropometri responden saat pengambilan data.

2. Permohonan izin dan kerjasama

(45)

Universitas Gadjah Mada Yogyakarta untuk memperoleh ethical clearance. Permohonan izin dilakukan untuk memenuhi etika penelitian menggunakan sampel darah manusia dan hasil penelitian dapat dipublikasikan. Permohonan kerjasama diajukan kepada Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung selaku laboratorium yang mengambil dan memeriksa darah responden. Kemudian melakukan penawaran kerjasama kepada calon responden yang bersedia mengikuti penelitian dengan mengisi informed consent.

3. Pembuatan informed consent dan leaflet

a. Informed consent. Informed consent digunakan sebagai bukti tertulis tentang pernyataan kesediaan responden dalam mengikuti penelitian. Informed consent yang dibuat harus memenuhi standar yang ditetapkan oleh Komisi Etik Penelitian Kedokteran dan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Responden yang menyatakan diri bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian diminta untuk mengisi nama, alamat, usia dan menandatanganinya setelah mendapat kejelasan penuh dari peneliti terkait penelitian yang dilakukan.

b. Leaflet. Leaflet berupa selembaran kertas berukuran A4 yang berisi informasi mengenai penjelasan tentang penelitian. Leaflet yang digunakan

berjudul ―Type 2 Diabetes‖ berisi tentang penjelasan singkat tentang

(46)

4. Pencarian calon responden

Pencarian responden penelitian dilakukan setelah mendapat izin dari Litbang RSUD Kabupaten Temanggung. Pencarian responden dilakukan langsung dengan tatap muka pada penyandang DM tipe 2 yang sedang melakukan pemeriksaan kontrol glukosa darah di RSUD Kabupaten Temanggung. Apabila responden dalam keadaan tidak berpuasa, peneliti memohon agar responden datang kembali ke RSUD Kabupaten Temanggung dalam kondisi berpuasa selama 8-10 jam sebelum pengambilan darah dan meminta nomor telepon responden yang dapat dihubungi untuk memberikan konfirmasi ulang mengenai waktu dan tempat pelaksanaan pengukuran antropometri. Peneliti juga membuat surat undangan yang ditujukan kepada penyandang DM tipe 2 di puskemas dan dinas kesehatan lain di daerah Temanggung untuk datang ke RSUD Kabupaten Temanggung. Peneliti lalu menjelaskan tentang penelitian yang dilakukan kepada calon responden. Informasi yang dijelaskan meliputi pengukuran antropometri dan manfaatnya serta pentingnya dalam mengetahui korelasi terhadap profil lipid, kadar glukosa darah puasa dan tekanan darah untuk deteksi dini terjadinya komplikasi seperti dislipidemia. Media sosialisasi yang digunakan dalam bentuk

leaflet berjudul ―Type 2 Diabetes‖ yang mencakup informasi mengenai

antropometri dan perannya dalam mengetahui keberadaan lemak di tubuh serta pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui profil kesehatan. Informasi dalam

(47)

penelitian diminta untuk mengisi dan menandatangani informed consent. Calon responden yang diperoleh sebanyak 106 responden.

5. Validitas instrumen penelitian

Suatu instrumen perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk mendapatkan data yang akurat. Instrumen dikatakan valid bila mampu mengukur apa yang seharusnya diukur sedangkan dikatakan reliabel jika penilaian atas apa yang diukur bersifat konsisten. Apabila hasil penilaian tersebut konsisten maka instrumen yang digunakan dapat dipercaya. Presisi merupakan parameter yang harus dipenuhi dalam validitas dan reliabilitas (Ronny, 2003). Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan derajat instrumen dapat dipercaya yaitu bila hasil pengukuran tetap konsisten jika dilakukan sebanyak dua kali atau lebih (Notoatmodjo, 2002). Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011), alat kesehatan dikatakan baik bila CV (coefficient of variation) 5%. Reliabilitas instrumen diketahui dengan mengukur tinggi badan menggunakan meteran dan berat badan individu menggunakan timbangan sebanyak 5 kali berturut-turut.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini telah divalidasi. Meteran

(48)

6. Pengambilan darah dan pengukuran antropometri

Pengambilan darah responden yang telah menandatangani informed consent, berpuasa 8-10 jam sebelum pengambilan darah serta tidak sakit pada hari yang bersangkutan, dilakukan oleh Laboratorium RSUD Kabupaten Temanggung. Pengukuran antropometri dilakukan oleh peneliti meliputi tinggi badan dan berat badan untuk menentukan body mass index. Pada pengukuran berat badan, responden diminta untuk melepas alas kaki dan berdiri di atas timbangan dengan badan tegak lurus. Pada pengukuran tinggi badan, responden juga diminta melepas alas kaki dan berdiri menempel pada tembok dengan badan tegak lurus sehingga garis meteran menyentuh ujung kepala responden.

7. Pembagian hasil pemeriksaan

Peneliti memberikan hasil pemeriksaan secara langsung kepada responden dan menjelaskan hasil pemeriksaan agar responden memahami hasil laboratorium dan pengukuran antropometri tersebut.

8. Pengolahan data

Pengolahan data dilakukan dengan kategorisasi data sejenis, yaitu menyusun data dan menggolongkannya dalam kategori-kategori kemudian dilakukan interpretasi menggunakan statistik dengan komputerisasi.

J. Analisis data penelitian

(49)

responden wanita (n >50) dan uji normalitas Shapiro-Wilk pada responden pria (n

≤50).

Uji hipotesis komparatif dilakukan antara rerata kadar trigliserida pada kelompok BMI <23kg/m2dan BMI ≥23 kg/m2. Data responden pria dan wanita memiliki distribusi tidak normal sehingga digunakan uji Mann-Whitney. Jika p <0,05 artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara dua kelompok data (Dahlan, 2009).

Uji korelasi dilakukan menggunakan analisis Spearman pada responden pria dan wanita. Taraf kepercayaan yang dipakai adalah 95% dan data memiliki korelasi yang bermakna bila nilai p <0,05. Interpretasi hasil uji korelasi dapat dilihat pada Tabel IV.

Tabel IV. Interpretasi Hasil Uji Korelasi (Dahlan, 2009)

No. Parameter Nilai Interpretasi

1. Kekuatan

2. Nilai p p <0,05 Terdapat korelasi yang bermakna antara

dua variabel yang diuji.

p >0,05 Tidak terdapat korelasi yang bermakna

antara dua variabel yang diuji.

3. Arah

korelasi

+ (positif) Searah, semakin besar nilai satu variabel

semakin besar pula nilai variabel lainnya.

- (negatif) Berlawanan arah, semakin besar nilai satu

variabel, semakin kecil nilai variabel lainnya.

K. Kesulitan Penelitian

(50)
(51)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Karakteristik Responden

Penelitian korelasi body mass index (BMI) terhadap kadar trigliserida

merupakan bagian dari penelitian payung yang berjudul ―Korelasi Pengukuran

Antropometri terhadap Profil Lipid, Kadar Glukosa Darah Puasa dan Tekanan

Darah pada Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung‖.

Penelitian ini melibatkan 95 penyandang diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi di RSUD Kabupaten Temanggung. Dari 95 responden terdapat 37 responden pria dan 58 responden wanita. Karakteristik responden yang dianalisis secara statistik deskriptif meliputi usia, BMI dan kadar trigliserida. Distribusi data responden pria diuji dengan uji normalitas Shapiro-Wilk untuk jumlah data (n) <50 dan distribusi data responden wanita diuji dengan uji normalitas Kolmogorov-Smirnov untuk n >50. Data hasil analisis karakteristik responden dapat dilihat pada Tabel V :

Tabel V. Karakteristik Responden Pria dan Wanita

(52)

minimum 44 tahun dan maksimum 77 tahun. Hasil uji normalitas data usia responden pria dan wanita menunjukkan distribusi kedua data normal dengan nilai signifikansi (p) responden pria adalah 0,556 dan responden wanita p = 0,200.

2. Body Mass Index

Analisis deskriptif data BMI responden pria menunjukkan rerata BMI yaitu 24,29 kg/m2 dengan BMI minimum 19,80 kg/m2 dan maksimum 29,65 kg/m2. Sementara untuk responden wanita, rerata BMI adalah 25,44 kg/m2 dengan BMI minimum 18,15 kg/m2 dan BMI maksimum 32,54 kg/m2. Uji normalitas dataBMI responden pria dan wanita menunjukkan distribusi data normal dengan p = 0,110 untuk pria dan p = 0,200 untuk wanita.

3. Kadar Trigliserida

Distribusi data kadar trigliserida responden pria dan wanita menunjukkan distribusi tidak normal dengan p untuk kedua data adalah 0,000. Hasil analisis statistik data menunjukkan nilai median kadar trigliserida responden pria sebesar 124mg/dL dengan nilai minimum 82 mg/dL dan maksimum 284 mg/dL, sementara untuk median kadar trigliserida responden perempuan adalah 121,5 mg/dL dengan nilai minimum 72 mg/dL dan maksimum 273 mg/dL.

B.Perbandingan Rerata Kadar Trigliserida pada Responden Pria

dengan BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2

(53)

trigliserida pada BMI <23 kg/m2 adalah 121,43 mg/dL ± 26,54 sementara pada BMI ≥ 23 kg/m2 yaitu 131,70 mg/dL ± 40,82. Distribusi data kedua kelompok diuji menggunakan uji Shapiro-Wilk karena masing-masing kelompok memiliki n

≤50. Hasil uji distribusi menunjukkan kedua data memiliki distribusi tidak normal

dengan p = 0,362 pada kelompok BMI <23 kg/m2 dan p = 0,000 pada kelompok BMI ≥23 kg/m2. Rerata kedua kelompok data kemudian dibandingkan menggunakan uji komparatif Mann-Whitney karena masing-masing kelompok

memiliki n ≤50.

Tabel VI. Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Pria dengan BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2

Klasifikasi BMI BMI <23 kg/m2

(n=9)

Keterangan: *terdapat perbedaan yang tidak bermakna

Dari hasil uji komparatif diketahui bahwa ada perbedaan yang tidak bermakna antara kelompok BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2 (p >0,05) pada responden pria (Tabel VI). Adanya perbedaan yang tidak bermakna dapat disebabkan karena jumlah responden dengan BMI <23 kg/m2dan ≥23 kg/m2 yang tidak proporsional.

C.Perbandingan Rerata Kadar Trigliserida pada Responden

Wanita dengan BMI <23 kg/m2 dan BMI ≥23 kg/m2

(54)

masing-masing kelompok ≤50. Hasil analisis menunjukkan distribusi kedua kelompok data tidak normal. Data kelompok BMI <23 kg/m2 memiliki p = 0,004 dan data kelompok BMI ≥23 kg/m2 dengan p = 0,001. Karena distribusi data tidak normal, dilakukan uji Mann-Whitney untuk membandingkan kadar trigliserida antara kedua kelompok BMI dan diperoleh hasil adanya perbedaan yang tidak bermakna (Tabel VII).

Tabel VII. Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Wanita dengan BMI < 23 kg/m2 dan BMI ≥ 23 kg/m2

Klasifikasi BMI BMI <23 kg/m2

(n=9)

Keterangan: *terdapat perbedaan yang tidak bermakna

Hasil ini didukung oleh penelitian Gupta et al. (2010) di India Utara yang menemukan adanya perbedaan yang tidak bermakna (p >0,05) pada kadar serum trigliserida terhadap kelompok BMI <23 kg/m2 dan ≥23 kg/m2 pada subyek wanita dengan sindrom metabolik. Adanya perbedaan yang tidak bermakna dapat disebabkan karena jumlah responden dengan BMI <23 kg/m2dan ≥23 kg/m2 yang tidak proporsional.

D. Korelasi Body Mass Index terhadap Kadar Trigliserida

pada Responden Pria dan Wanita

(55)

uji korelasi menunjukkan adanya korelasi positif yang tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah (p = 0,655; r = 0,076) (Tabel VIII).

Tabel VIII. Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Pria

Variabel Korelasi Spearman

r

p

BMI terhadap kadar trigliserida 0,076 0,655

Gambar 3. Diagram Sebaran Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Pria

Diagram sebaran korelasi BMI terhadap kadar trigliserida (Gambar 3) responden pria menunjukkan sebaran titik yang jauh dari garis yang artinya korelasi antara BMI dan kadar trigliserida sangat lemah. Arah korelasi positif menandakan bahwa peningkatan BMI diiringi dengan peningkatan kadar trigliserida.

(56)

51-60 tahun (r = 0,01) dan korelasi lemah tidak bermakna pada usia 61 tahun ke atas (r = 0,23) yang mengalami diabetes melitus. Usia responden pria yang dijadikan subyek dalam penelitian ini rata-rata berusia 61 tahun sehingga memungkinkan terjadinya korelasi yang sangat lemah dan tidak bermakna antara BMI dan kadar trigliserida. Namun pada penelitian tersebut melibatkan seluruh pasien diabetes melitus baik tipe 1 maupun tipe 2 yang berbeda dengan subyek penelitian yang dipilih peneliti. Penelitian oleh Al-khazrajy, Raheem dan Hanoon (2010) di Baghdad pada pria dengan sindrom metabolik menemukan bahwa terdapat korelasi sangat lemah dan tidak bermakna antara BMI dan trigliserida (r = 0,146; p = 0,104) dengan rerata usia subyek yang diteliti adalah 45,73 (± 7,83) tahun.

Pada responden wanita, uji korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui korelasi BMI terhadap kadar trigliserida karena data kadar trigliserida tidak terdistribusi normal walaupun data BMI terdistribusi normal.

Tabel IX. Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Wanita

Variabel Korelasi Spearman

r

p

BMI terhadap kadar trigliserida 0,039 0,774

(57)

Melalui uji korelasi diketahui bahwa tidak ada korelasi yang bermakna antara BMI dengan kadar trigliserida dengan korelasi sangat lemah (p = 0,774; r=0,039) (Tabel IX). Diagram sebaran menunjukkan titik-titik yang tersebar jauh dari garis yang menandakan BMI berkorelasi sangat lemah dengan kadar trigliserida (Gambar 4). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Shandu et al. (2008) di Gurdaspur, India, yang menemukan korelasi sangat lemah dan tidak bermakna (r = 0,05; p >0,05) pada subyek wanita diabetes melitus yang berusia bermakna antara BMI dengan kadar trigliserida.

(58)

Kadar trigliserida yang semakin meningkat seiring dengan durasi DM tipe 2 dapat disebabkan oleh produksi insulin pada penyandang DM tipe 2 tersebut. Durasi DM tipe 2 dapat mempengaruhi sekresi insulin. Penelitian prospektif Zangeneh et al. (2006) terhadap 89 responden (51 pria dan 38 wanita) penyandang DM tipe 2 menunjukkan bahwa kadar C-peptida (by-product ketika insulin diproduksi yang kadarnya setara dengan insulin) pada saat puasa mengalami penurunan yang signifikan (p <0,01) seiring meningkatnya durasi DM tipe 2. Insulin merupakan salah satu hormon yang menghambat hormon sensitif lipase untuk menghidrolisis trigliserida pada jaringan adiposa (Kraemer dan Shen, 2002). Dengan demikian, penurunan kadar insulin dapat mengakibatkan peningkatan lipolisis yang menyebabkan peningkatan kadar asam lemak bebas. Asam lemak bebas, selain diambil kembali oleh sel-sel lemak menjadi trigliserida atau digunakan oleh sel otot menjadi energi, dapat pula terikat pada albumin dan bersirkulasi kembali ke hati. Asam lemak yang terikat pada albumin ini merupakan sumber untuk pembentukan trigliserida VLDL yang kemudian disekresikan oleh hati (Ginsberg et al., 2005). Pelepasan trigliserida VLDL oleh hati menyebabkan kenaikan kadar trigliserida dalam darah yang merupakan dampak tidak langsung dari durasi DM tipe 2.

(59)

peneliti berusia 40 tahun ke atas sehingga memungkinkan adanya kadar trigliserida yang tergantung pada usia tanpa memperhatikan nilai BMI. Hasil penelitian Shabana dan Sasisekhar (2013) terhadap 130 pria dan 140 wanita, menunjukkan bahwa pada pria dengan DM tipe 2, kadar trigliserida mencapai puncak pada kelompok usia 46-50 tahun dan berbeda signifikan dibandingkan kelompok usia lain sedangkan pada wanita kadar trigliserida pada kelompok usia 46-50 tahun dan 51-55 tahun lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain. Elnasri dan Ahmed (2008) menemukan adanya hubungan yang signifikan antara trigliserida dengan bertambahnya usia pada penyandang diabetes tipe 2. Kadar trigliserida semakin meningkat secara signifikan pada kelompok responden usia 31-40 tahun, 41-50 tahun, 51-60 tahun dan 71-80 tahun yang meliputi 250 responden (95 pria dan 155 wanita) di Sudan.

(60)
(61)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Body mass index (BMI) memiliki korelasi positif yang tidak bermakna dengan kekuatan korelasi sangat lemah terhadap kadar trigliserida pada pria dan wanita penyandang diabetes melitus tipe 2 di RSUD Kabupaten Temanggung.

B.Saran

1. Dilakukan penelitian lanjutan di rumah sakit lain sebagai model penelitian pada populasi diabetes melitus tipe 2 dengan jumlah responden kelompok BMI <23

kg/m2dan ≥23 kg/m2 yang proporsional.

2. Perlu ditambahkan kelompok kontrol non-diabetes untuk mengetahui perbedaan kadar trigliserida antara kelompok tersebut dengan kelompok diabetes melitus tipe 2.

3. Menetapkan rentang usia dan durasi diabetes responden yang dapat mempengaruhi kadar trigliserida responden.

(62)

DAFTAR PUSTAKA

Al-khazrajy, L.A., Raheem, Y.A., dan Hanoon, Y.K., 2010, Sex Differences in the Impact of Body Mass Index (BMI) and Waist/Hip (W/H) Ratio on Patients with Metabolic Risk Factors in Baghdad, Global Journal of Health Science, Vol. 2, No.2, 154-162.

Ali, M.K., Narayan, K.M., dan Tandon, N., 2010, Diabetes & coronary heart disease: Current perspectives, Indian J Med Res, 584.

American Diabetes Association, 2011, Standards of Medical Care in Diabetes,

Diabetes Care, vol. 34, 1.

American Diabetes Association, 2012, Diagnosis and Classification of Diabetes Mellitus, Diabetes Care, vol. 35, 64, 65.

American Diabetes Association, 2013, Standards of Medical Care in Diabetes,

Diabetes Care, vol. 36, S13.

American Heart Association, 2013 a, Cardiovascular Disease and Diabetes, http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/Diabetes/WhyDiabetesM atters/Cardiovascular-Disease-Diabetes_UCM_313865_Article.jsp, diakses tanggal 8 Maret 2013.

American Heart Association, 2013 b, Cholesterol Abnormalities & Diabetes, http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/Diabetes/WhyDiabetesM atters/Cholesterol-Abnormalities-Diabetes_UCM_313868_Article.jsp, diakses tanggal 8 Maret 2013.

Anastasia, F., 2011, Korelasi Body Mass Index (BMI) terhadap Triceps Skinfold Thickness (TSFT) terhadap Trigliserida, Skripsi, 48, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Boras, J., Pavlic-Renar, I., Car, N., dan Metelko., Z., 2002, Diabetes and Coronary Heart Disease, Diabetologia Croatica, 31-4, 199.

Brunzell, J.D., Davidson, M.D., Furberg, C.D.,Goldberg, R.B., Howard, B.V., Stein, J.H. et al., 2008, Lipoprotein Management in Pateints With Cardiometabolic Risk, Diabetes Care, Vol. 31, No. 4, 811-822.

Canadian Diabetes Association, 2006, Dyslipidemia in Adults With Diabetes,

(63)

Citkowitz, E., 2013, Hypertriglyceridemia Medication, http://emedicine. medscape.com/article/126568-medication, diakses tanggal 15 Januari 2014.

Cogill, B., 2003, Anthropometric Indicators Measurement Guide, Food and Nutrition Technical Assistance, Washington D.C., pp. 10.

Crowley, L.V., 2001, An Introduction to Human Disease: Pathology and Pathophysiology Correlations, Fifth Edition, John and Bartlett Publishers, Sudbury, 585, 586.

Dahlan, M.S., 2009, Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan, Salemba Medika, Jakarta, pp. 46, 53-53, 102, 157, 163-166.

Darmawan, H., Irfanuddin, 2007, Effect of age and sex on the association between lipid profile and obesity among telecomunication workers in Palembang,

Med J Indones, Vol. 16, 251-256.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005, Pharmaceutical Care untuk Penyakit Diabetes Mellitus, http://ph-care-dm.pdf, diakses tanggal 29 April 2013.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011, Uji Fungsi Alat Klinis dan Hematologi, http://www.depkes.go.id/downloads/yandu/uji_fungsi _alat_kimia_klinis_hematologi.pdf, diakses tanggal 6 November 2013. Elnasri, H.A., dan Ahmed, A.M., 2008, Patterns of lipid changes among type 2

diabetes patients in Sudan, Eastern Mediterranean Health Journal, Vol. 14, No.2, 315-324.

Emanuela, F., Grazia, M., Marco, D.R., Paola, L.M., Girogio, F., dan Marco, B., 2012, Inflammation as a Link between Obesity and Metabolic Syndrome,

Journal of Nutrition and Metabolism, 2.

Ginsberg, H.N., Zhang, Y., dan Hernandez-Ono, A., 2005, Regulation of Plasma Triglycerides in Insulin Resistance and Diabetes, Archives of Medical Research, 232-240.

Goldberg, I.J., 2001, Diabetic Dyslipidemia: Causes and Consenquences, The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, Vol. 86, No.3, 964-971.

(64)

Gutierrez, D.A., Puglisi, M.J., dan Hasty, A.H., 2009, Impact of Increased Adipose Tissue Mass on Inflammation, Insulin Resistance, and Dyslipidemia, Curr Diab Rep, 9(1), 26-32.

Hastuti, J., Rahmawati, N.T., Suriyanto, R.A., dan Nuryana, T., 2009, Relevansi Beberapa Ukuran Antropometrik dan Komposisi Badanterhadap Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler pada Penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta, Laporan Penelitian, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Himabindu, Y., Sriharibabu, M., Alekhya, K., Saisumanth, K., Lakshmanrao, N., dan Komali, K., 2013, Correlation between antrhopometry and lipid profile in type 2 diabetics, Indian J Endocr Metab, Vol. 17, 727-729. Huether, S.E., dan McCarce, K.L., 2008, Understanding Pathophysiology, Fourth

Edition, Mosby, St. Louis, pp. 463, 465.

International Diabetes Federation, 2006, The IDF Consensus Worldwide Definition of The Metabolic Syndrome, IDF, Brussels, 1

International Diabetes Federation, 2007, Metabolic Syndrome, The IDFConsensus Worldwide Definition of The Metabolic Syndrome, Brussels,pp. 10. International Union of Food Science and Technology, 2007, IUFoST Scientific

Information Bulletin-Obesity, The International Union of Food Science and Technology (IUFoST), Canada, 1-5.

Klop, B., Elte, J.W.F., dan Cabezas, M.C., 2013, Dyslipidemia in Obesity: Mechanisms and Potential Targets, Nutrients, 1218-1240.

Knowles, K.M., Paiva, L.L., Sanchez, S.E., Revilla, L., Lopez, T., Yasuda, M.B.,

et al., 2011, Waist Circumference, Body Mass Index, and Other Measures of Adiposity in Predicting Cardiovascular Disease Risk Factors Among Peruvian Adults, International Journal of Hypertension, vol. 2011, 4.

Kolovou, G.D., Anagnostopoulou, K.K., dan Cokkinos, D.V., 2005, Patophysiology of dyslipidemia in the metabolic syndrome, Postgrad Med J, 358-366.

(65)

Krauss, R.M., 2004, Lipids and Lipoproteins in Patients With Type 2 Diabetes,

Diabetes Care, 1496-1504.

Kumar, V., Abbas, A.K., dan Fausto, N., 2009, Robbins & Cotran: Dasar Patofisiologi Penyakit, Edisi 7, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 1228.

Leaf, D.A., 2008, Hypertriglyceridemia: A Guide to Assessment and Treatment,

Hospital Physician, 17-23.

Mahajan, V., Shende, S., Narkhede, H., Chakole, S., dan Lokhande, M., 2013, Effect of duration on lipid profile in type 2 diabetes mellitus, Current Research in Medicine and Medical Sciences, 3(1): 6-8.

Maron, D.J., Fazio, S., dan Linton, M.F., 2000, Current Perspectives on Statins,

Circulation, 207.

Mellati, A.A., Mousavinasab, S.N., Sokhanvar, S., Kazemi, S.A.N., Esmailli, M.H., dan Dinmohamadi, H., 2009, Correlation of Anthropometric Indices with Common Cardiovascular Risk Factors in AnUrban Adult Population of Iran: Data from Zanjan Healthy Heart Study, Asia Pac J Clin Nutr, 18(2), 217-222.

Miller, M., Stone, N.J., Ballantyne, C., Bittner, V., Criqui, M.H., Ginsberg, H.N.

et al., 2011, Triglycerides and Cardiovascular Disease: A Scientific Statement From the American Heart Association, Circulation, 6-8, 25. Misra, A., Luthra, K., dan Vikram, N.K., 2004, Dyslipidemia in Asian Indians:

Determinants and Significance, JAPI, vol. 52, 137.

Mooradian, A.D., 2009, Dyslipidemia in Type 2 Diabetes Mellitus, Nature Clinical Practice Endocrinology and Metabolism, 5(3), 150-151.

National Diabetes Education Program, 2007, The Link Between Diabetes and Cardiovascular Disease, U.S. Department of Health and Human Services, National Diabetes Education, USA, pp. 1.

National Cholesterol Education Program: Adult Treatment Panel III, 2002,

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III), National Institutes of Health, pp. II-5, II-6, II-7, II-27, VII-10.

(66)

National Obesity Observatory, 2009, Body Mass Index as A Measure of Obesity, Association of Public Health Observatories, USA, pp. 2, 3, 5.

Notoatmodjo, S., 2002, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta, pp. 89, 145-148.

Notoatmodjo, S., 2010, Jenis dan Rancangan Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta, pp. 37-38.

Nyamdorj, R., 2010, Anthropometric measures of obesity—their association with type 2 diabetes and hypertension, Tesis, 14, 16, 24, Helsinki University, Helsinki.

Pangesti, B.W., 2013, Korelasi Body Mass Index terhadap Kadar Trigliserida pada Mahasiswa dan Mahasiswi Kampus III Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Skripsi, 41, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Parmar, D., Vidja, K., dan Ghugare, B., 2013, Impact of Duration of Diabetes and Age: On Lipid Profile and Glycaemic Control in Type 2 Diabetic Patients, Int J Res Med, 2 (1): 69-72.

Parvez, A., Ihsanullah, Rafiq, A., Ahmad, N., dan Khan, E.K., 2010, Relationship of Glycaemia and Triglycerides with BMI in Diabetic Patients, J Ayub Med Coll Abbottabad, 22 (2), 165.

Poerwowidjojo, F.S., 2011, Korelasi Body Mass Index (BMI) dan Abdominal Skinfold Thickness terhadap Kadar Trigliserida pada Staf Wanita Universitas Sanata Dharma, Skripsi, 54, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Qatanani, M., dan Lazar, M.A., 2007, Mechanisms of obesity-associated insulin resistance: many choices on the menu, Genes, 1443.

Redinger, R.N., 2007, The Pathophysiology of Obesity and Its Clinical Manifestations, Gastroenterology & Hepatology, Vol. 3, Issue 11, 856-863.

Ronny, 2003, Metode Penelitian untuk Penulisan Skripsi dan Tesis, 1th Ed., PPM, Jakarta, pp. 152.

Figur

Tabel II. Klasifikasi Trigliserida Serum......................................................
Tabel II Klasifikasi Trigliserida Serum . View in document p.14
Gambar 3. Diagram Sebaran Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida
Gambar 3 Diagram Sebaran Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida . View in document p.15
Tabel I menunjukkan kriteria diagnosis DM tipe 2 menurut American Diabetes
Tabel I menunjukkan kriteria diagnosis DM tipe 2 menurut American Diabetes . View in document p.26
Tabel I. Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 (American
Tabel I Kriteria Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 American . View in document p.27
Tabel II. Klasifikasi Trigliserida Serum (NCEP ATP III, 2002)
Tabel II Klasifikasi Trigliserida Serum NCEP ATP III 2002 . View in document p.35
Tabel III. Klasifikasi BMI pada Orang Dewasa Asia (WHO, 2004)
Tabel III Klasifikasi BMI pada Orang Dewasa Asia WHO 2004 . View in document p.36
Gambar 2. Skema Responden Penelitian
Gambar 2 Skema Responden Penelitian . View in document p.41
Tabel IV. Interpretasi Hasil Uji Korelasi (Dahlan, 2009)
Tabel IV Interpretasi Hasil Uji Korelasi Dahlan 2009 . View in document p.49
Tabel V. Karakteristik Responden Pria dan Wanita
Tabel V Karakteristik Responden Pria dan Wanita . View in document p.51
Tabel VI. Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Pria
Tabel VI Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Pria . View in document p.53
Tabel VII. Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Wanita dengan
Tabel VII Uji Hipotesis Komparatif Kadar Trigliserida Responden Wanita dengan . View in document p.54
Tabel VIII. Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Pria
Tabel VIII Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Pria . View in document p.55
Tabel IX. Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Wanita
Tabel IX Korelasi BMI terhadap Kadar Trigliserida pada Responden Wanita . View in document p.56

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (93 Halaman)