• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Percobaan

Penelitian ini dilaksanakan di dalam rumah kaca yang terletak pada ketinggian 1100 m diatas permukaan laut. Tanaman gerbera yang digunakan merupakan bibit yang sudah berumur 2 bulan dengan jumlah daun sekitar 2-4 helai dan berukuran seragam (Gambar 2). Bibit yang ditanam, direndam terlebih dahulu dengan fungisida untuk mencegah busuk akar.

Media tanam yang dipergunakan terdiri dari campuran top soil dan pupuk organik dengan perbandingan volume sesuai dengan perlakuan. Pupuk organik yang digunakan terdiri dari 3 jenis yaitu pupuk kandang ayam, pupuk kandang kambing, dan pupuk hijau (humus bambu). Setiap jenis pupuk kandang memiliki karakteristik yang berbeda-beda, pupuk kandang kambing memiliki tekstur yang liat dan padat sehingga menjadi lebih berat (Gambar 3a), pupuk kandang ayam memiliki bobot yang lebih ringan karena bercampur dengan sekam (Gambar 3b), dan pupuk hijau yaitu humus bambu yang memiliki massa yang porous, tidak memadat, dan tidak lengket (Gambar 3c). Campuran top soil dan pupuk organik yang sudah merat dimasukkan ke dalam polybag berdiameter 30 cm. Setiap polybag ditanami dengan satu bibit gerbera.

Daya tumbuh tanaman gerbera pada media dengan perlakuan pupuk kandang ayam dan pupuk kandang kambing pada minggu ketiga dan keempat mencapai 60 % dan minggu keenam mencapai 0%. Penurunan daya tumbuh tersebut diduga karena pupuk kandang ayam dan kambing yang digunakan belum

(2)

matang sempurna sehingga membuat kondisi suhu dalam media meningkat dan tanaman tidak dapat bertahan dengan peningkatan suhu sehingga hampir semua tanaman pada perlakuan tersebut mati. Peningkatan suhu tersebut menunjukkan adanya aktivitas mikroorganisme yang masih mendekomposisi campuran media. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa pupuk belum dalam keadaan kondisi matang sempurna. Pupuk hijau yang berasal dari daun bambu mengalami peningkatan daya tumbuh mencapai 80% antara minggu ketiga dan keempat sejak awal tanam.

Percobaan ini diulang kembali setelah melihat kondisi daya tumbuh tanaman yang buruk pada hampir seluruh perlakuan. Penanaman bibit dilakukan setelah pematangan pupuk. Pematangan pupuk dilakukan selama 1 bulan. Daya tumbuh tanaman setelah pengulangan mencapai 80% pada minggu ketiga dan minggu keempat. Daya tumbuh tanaman pada media dengan perlakuan pupuk kandang kambing dengan perbandingan volume 1 : 3 (PK3) mencapai 50% pada minggu keempat dan mencapai 0% pada minggu keenam. Tanaman yang mati menunjukkan adanya indikasi pembusukan tanaman (Gambar 4). Hal ini diduga disebabkan oleh kepadatan campuran media pada perlakuan tersebut sangat tinggi sehingga menghambat aerasi dan drainase dalam polybag.

a b c

Gambar 3. Pupuk Organik yang Digunakan untuk Penelitian (a) Pukan Kambing; (b) Pukan Ayam; (c) Pupuk Hijau (Humus Bambu)

Gambar 4. Bibit Gerbera yang Mati pada Perlakuan Pukan Kambing dengan Perbandingan Volume 1:3 (PK3)

(3)

Komposisi media berpengaruh terhadap kondisi drainase atau aerasi tanah. Tanah yang berstruktur baik akan mempunyai kondisi drainase dan aerasi yang baik pula sehingga lebih memudahkan sistem perakaran tanaman untuk masuk ke dalam tanah dan mengabsorbsi hara dan air (Hanafiah, 2005). Struktur media yang buruk karena tekstur yang berat dan padat dapat menyebabkan fungsi akar terganggu. Keadaan demikian menciptakan kondisi aerasi di sekitar perakaran menjadi buruk, proses serapan hara terhambat dan drainase buruk. Pada waktu musim hujan tanah bertekstur berat tidak mampu menyerap air dengan cepat dan pada musim kemarau mudah retak dan berbongkah sehingga dapat berakibat banyak akar tanaman yang putus (Usman et al, 1996).

Dosis pemupukan yang diberikan dihitung berdasarkan data dosis pemupukan tanaman gerbera yang telah dilakukan di Cipanas yaitu 60 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl untuk setiap m2 media (Mattjik, 2010). Hasil konversi dari data tersebut didapat pemberian dosis Urea per tanaman sebanyak 6,7 gram, dosis KCl sebanyak 4,4 gram per tanaman, dan dosis SP-36 sebanyak 11,1 gram per tanaman. Pemupukan N, P dan K diberikan seluruhnya pada saat tanaman berumur 1 minggu setelah tanam (MST) dan setelah 1 MST diberikan setengah dari dosis awal dengan jangka waktu pemupukan 1 bulan sekali. Pemupukan N, P, dan K dilakukan dengan cara dibenamkan di sekeliling tanaman sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan.

b

d c

a

Gambar 5. Hama yang Menyerang Tanaman Gerbera (a) Kutu Daun; (b) White

(4)

Penyiraman dilakukan setiap tiga hari sekali dengan menggunakan gembor. Pengendalian gulma dilakukan secara manual. Hama yang menyerang tanaman selama pengamatan antara lain semut, kutu daun, white flyes, ulat grayak, laba-laba (Gambar 5). Penyakit yang menyerang adalah powdery mildew (Gambar 6).

Jumlah Daun Terbuka Sempurna

Daun yang diamati adalah daun yang kondisinya sudah terbuka sempurna. Kondisi daun yang sudah terbuka sempurna dapat dilihat pada Gambar 7d. Pengamatan jumlah daun terbuka sempurna dimulai saat 1 MST hingga 20 MST. Pengaruh pemberian perlakuan berdasarkan analisis data menunjukkan berbeda sangat nyata pada umur 1, 6, 8-20 MST, berbeda nyata pada umur 4 dan 7 MST, dan tidak berbeda nyata pada 2, 3, dan 5 MST.

Penambahan jumlah daun yang ditunjukkan pada Gambar 8 menunjukkan perlakuan P0, PH1, PH2, PH3, PK1, PA1, PA2, PA3 mulai meningkat mulai dari 7 MST hingga 20 MST. Penambahan jumlah daun tertinggi ditunjukkan oleh

a b c d

Gambar 6. Penyakit Powdery Mildew yang Menyerang Tanaman Gerbera

Gambar 7. Pertumbuhan Daun Gerbera hingga Terbuka Sempurna (a) 3 Hari Setelah Tanam (HST); (b) 6 HST; (c) 9 HST; (d) 12 HST

(5)

perlakuan PH1 dan PH3. Saat umur 7 MST penambahan jumlah daun di semua perlakuan menunjukkan penurunan. Perlakuan PK2 menunjukkan penambahan jumlah daun yang menurun dibandingkan perlakuan lain. Perlakuan PK3 menunjukkan penurunan drastis hingga kemudian semua tanaman mati sampai akhir percobaan.

Perlakuan PH1 dan PH3 menunjukkan jumlah daun terbanyak pada 20 MST dengan jumlah 10,78 helai daun. Jumlah daun yang paling sedikit ditunjukkan oleh perlakuan PK3 yaitu 0 helai daun karena tanaman PK3 mati. Penurunan penambahan jumlah daun pada perlakuan PK2 dan PK3 dipengaruhi oleh kondisi komposisi media pada perlakuan tersebut. Penambahan pupuk kandang kambing pada perbandingan volume 1:3 (PK3) mengakibatkan kondisi media menjadi lebih padat dan berat. Keadaan demikian menciptakan kondisi aerasi di sekitar perakaran menjadi buruk, proses serapan hara terhambat dan drainase buruk. Hal ini sesuai dengan pernyataan Usman et al (1996) yaitu tanah bertekstur berat tidak mampu menyerap air dengan cepat pada waktu musim hujan dan pada musim kemarau mudah retak dan berbongkah sehingga dapat berakibat banyak akar tanaman yang putus.

Gardner et al. (1991) menyatakan jumlah dan ukuran daun dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Penambahan jumlah daun tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan pupuk hijau dengan perbandingan volume 1:1 (PH1) dan pupuk hijau dengan perbandingan volume 1:3 (PH3). Hal tersebut didukung oleh pernyataan Hardjowigeno (2003) bahwa pupuk hijau mengandung unsur N yang cukup banyak sehingga dapat menunjang pertumbuhan daun. Pertumbuhan daun yang baik pada perlakuan ini juga dipengaruhi oleh karakter pupuk hijau yang digunakan yaitu humus bambu yang memiliki daya tukar ion yang tinggi sehingga bisa menyimpan unsur hara (Forum Kerjasama Agribisnis, 2011).

(6)

Keterangan :

1. P0 (top soil tanpa penambahan pupuk organik)

2. PH1 (top soil dengan pupuk hijau dengan perbandingan volume 1:1) 3. PH2 (top soil dengan pupuk hijau dengan perbandingan volume 1:2) 4. PH3 (top soil dengan pupuk hijau dengan perbandingan volume 1:3) 5. PK1 (top soil dengan pupuk kandang kambing dengan volume 1:1) 6. PK2 (top soil dengan pupuk kandang kambing dengan volume 1:2) 7. PK3 (top soil dengan pupuk kandang kambing dengan volume 1:3) 8. PA1 (top soil dengan pupuk kandang ayam dengan volume 1:1) 9. PA2 (top soil dengan pupuk kandang ayam dengan volume 1:2) 10. PA3 (top soil dengan pupuk kandang ayam dengan volume 1:3)

23

(7)

Jumlah Anakan

Jumlah anakan mulai diamati pada saat 1 MST setiap 3 hari sekali. Jumlah anakan yang muncul pada setiap tanaman berdasarkan analisis data tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Jumlah anakan yang memiliki nilai rataan tertinggi ditunjukkan oleh PK1 yaitu sebesar 0,94 sedangkan yang memiliki nilai rataan terendah ditunjukkan oleh perlakuan PK2 yaitu sebesar 0,71 (Gambar 9).

Perbanyakan tanaman gerbera dapat dilakukan dengan pemisahan anakan. Pengamatan di lapang selama penelitian memperlihatkan tanaman yang tumbuh dari anakan memiliki karakteristik yang sama persis dengan induknya. Oleh karena itu perbanyakan tanaman gerbera dianjurkan menggunakan pemisahan anakan. Tanaman yang diperbanyak dengan pemisahan anakan akan berbunga 4 bulan setelah tanam (Auman, 1980).

Panjang dan Lebar Daun

Daun yang digunakan untuk pengamatan panjang dan lebar daun adalah daun yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Pada kondisi ini daun berada pada produksi optimal. Daun yang digunakan adalah daun ketiga dari daun termuda. Pengamatan panjang dan lebar daun dilakukan pada akhir penelitian. Panjang daun diamati dengan mengukur dari pangkal tangkai hingga pucuk daun. Daun gerbera memiliki lebar yang tidak beraturan. Oleh karena itu, lebar daun diamati dengan mengukur bagian terlebar dari daun. Berdasarkan hasil análisis data, perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap panjang dan lebar daun.

(8)

Panjang daun terpanjang terdapat pada perlakuan PK1 yaitu sepanjang 25,887 cm dan panjang daun terpendek terdapat pada perlakuan PK2 yaitu sepanjang 14,33 cm. Lebar daun terlebar ditunjukkan oleh perlakuan PA2 dengan lebar 3,496 cm dan lebar daun tersempit ditunjukkan oleh perlakuan PK2 dengan lebar 2,543 cm (Gambar 10).

Pemupukan nitrogen (N) mempunyai pengaruh yang nyata terhadap peluasan daun, terutama pada lebar dan luas daun (Humphries dan Wheeler, 1963). Suatu defisiensi N juga menyebabkan pengurangan luas daun karena menuanya daun-daun yang lebih bawah (Gardner, 1991).

Waktu Muncul Kuncup Bunga Pertama

Pengamatan waktu muncul kuncup bunga pertama dimulai pada 1 MST. Pengamatan dilakukan setiap 2 hari sekali hingga kuncup bunga pertama di setiap tanaman muncul. Pada Gambar 11 ditunjukkan bentuk kuncup bunga pertama yang muncul pada tanaman gerbera. Berdasarkan análisis data diketahui bahwa pemberian perlakuan PK2 berbeda nyata terhadap waktu muncul kuncup bunga pertama. Waktu muncul kuncup bunga pertama dengan nilai rataan terkecil menunjukkan perlakuan yang paling cepat mengeluarkan bunga, sebaliknya waktu muncul kuncup bunga dengan nilai rataan terbesar menunjukkan perlakuan yang paling lama mengeluarkan bunga.

Perlakuan PK1 menunjukkan waktu muncul kuncup bunga yang tercepat yaitu 48,67 hari dari 1 MST dan perlakuan PK2 menunjukkan waktu muncul kuncup bunga yang terlama yaitu 144 hari dari 1 MST (Tabel 3). Tanaman

(9)

gerbera yang ditanam di pot, bunga pertama akan muncul setelah memiliki 10-14 daun pada tanaman utamanya. Waktu muncul kuncup bunga pertama gerbera di hari pendek akan muncul setelah 65 hari sejak tanam (Mattjik, 2010).

Unsur P (Fosfor) memiliki fungsi untuk memacu pembentukan bunga (Hardjowigeno, 2003). Pada Tabel 2 disebutkan bahwa pupuk kandang kambing memiliki kandungan P2O5 terbesar kedua setelah pupuk kandang ayam yaitu sebesar 0,4%. Perlakuan pupuk kandang ayam dengan perbandingan volume 1:3 memiliki waktu muncul kuncup tercepat kedua setelah perlakuan pupuk kandang kambing dengan perbandingan volume 1:1.

Tabel 3. Waktu Muncul Kuncup Bunga Pertama (Hari)

Perlakuan P0 PH1 PH2 PH3 PK1 PK2 PA1 PA2 PA3 Rata -rata Waktu Muncul Kuncup Bunga Pertama (Hari) 71 b 61.11 b 64.17 b 81.39 b 48.67 b 144 a* 74.75 b 66 b 50 b 73.45 Keterangan :

(*) Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Jumlah Bunga per Tanaman

Pengamatan jumlah bunga dilakukan saat bakal bunga pertama mulai muncul yaitu sekitar 7 MST dan diamati hingga 20 MST. Data yang diperoleh adalah jumlah bakal bunga yang muncul hingga 20 MST. Berdasarkan hasil análisis data diketahui bahwa seluruh perlakuan tidak memberikan pengaruh yang

(10)

nyata terhadap jumlah bunga. Nilai rataan jumlah bunga tertinggi terdapat pada perlakuan PA2 yaitu sebesar 4 sedangkan nilai rataan jumlah bunga terendah terdapat pada perlakuan PK2 yaitu sebesar 0,5 (Gambar 12).

Gardner et al. (1991) mengungkapkan bahwa proses pembungaan sangat dikendalikan oleh lingkungan terutama fotoperiode, temperatur dan faktor genetik terutama fitohormon yang ada dalam tumbuhan, hasil fotosintesa dan pasokan hara. Erwin (1990) menyatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan bunga lebih dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan suhu. Jumlah cahaya yang diterima tanaman akan mempengaruhi pembungaan (Mattjik, 2010). Bunga akan bertambah banyak dengan adanya tambahan sinar (Tjusita, 1983). Suhu lebih besar dari 24˚ C memungkinkan tidak berbunga. Suhu siang dan malam yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bunga adalah 25˚ C (siang hari) dan 14˚ C (malam hari) (Erwin, 1990). Pengamatan di lapang menunjukkan bahwa suhu pada siang hari mencapai hampir 30˚ C. Hal ini menunjukkan pertumbuhan bunga dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama cahaya dan suhu.

Diameter Bunga

Diameter bunga gerbera varietas Red Ruby dipengaruhi nyata oleh perlakuan penambahan pupuk organik. Pengamatan dilakukan pada saat panen dan diukur menggunakan jangka sorong. Diameter bunga berpengaruh nyata pada perlakuan PA2 yaitu sebesar 9,24. Nilai rataan terendah ditunjukkan oleh perlakuan PK2 yaitu sebesar 6,80 (Tabel 4).

(11)

Tabel 4. Diameter Bunga yang Dipanen Selama 20 MST (Cm)

Perlakuan P0 PH1 PH2 PH3 PK1 PK2 PA1 PA2 PA3 Rata-rata Diameter Bunga (Cm) 8.07 b 8.84 ab 8.41 ab 8.65 ab 8.67 ab 6.80 c 8.88 ab 9.24 a* 9.00 ab 8.51 Keterangan :

(*) Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata menurut uji DMRT pada taraf 5%

Mahkota bunga merupakan nilai jual dari bunga potong. Daya tarik dari mahkota bunga adalah bentuk susunan bunga dan warnanya yang menarik, juga beberapa jenis bunga memiliki bau yang harum (Tjitrosoepomo, 2007). Unsur utama yang menunjang pembentukan bunga, perkembangan bunga dan pematangan bunga hingga siap dipanen adalah unsur P (Fosfor) (Hardjowigeno, 2003). Kandungan unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang ayam lebih banyak dibandingkan pupuk organik yang lain terutama kandungan unsur P (Tabel 2). Data tersebut menunjukkan bahwa kadar P2O5 dalam pupuk kandang ayam mencapai 1,3%, hampir 1% lebih tinggi dari pupuk kandang lainnya. Hal ini mendukung perlakuan pupuk kandang ayam dengan perbandingan volume 1:2 menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap diameter bunga (Tabel 4).

Holstead (1985) mengungkapkan diameter bunga dapat tumbuh berkisar antara 5-13 cm. Penjualan bunga potong gerbera di Indonesia juga mempertimbangkan diameter bunga yang dihasilkan. Diameter bunga minimal harus memiliki diameter bunga selebar 10 cm – 11 cm untuk kriteria gerbera jenis standard. Walaupun perlakuan pupuk kandang ayam dengan perbandingan volume 1:2 berpengaruh sangat nyata terhadap diameter bunga sebesar 9,24 cm, ukuran ini belum dapat memenuhi kriteria diameter bunga yang dibutuhkan.

Panjang Tangkai Bunga

Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan berbagai jenis pupuk organik berpengaruh sangat nyata terhadap panjang tangkai bunga. Panjang tangkai bunga berpengaruh sangat nyata pada perlakuan PA1 dengan nilai rataan

(12)

sebesar 46,65. Nilai rataan terendah ditunjukkan oleh perlakuan PK2 dengan nilai rataan sebesar 28,50 (Tabel 5).

Panjang tangkai bunga berpengaruh sangat nyata pada perlakuan pupuk kandang ayam dengan volume 1:1. Komposisi media pada perlakuan tersebut memiliki daya serap dan daya simpan air yang cukup baik sehingga kebutuhan tanaman terhadap air untuk memenuhi kebutuhan perpanjangan tangkai bunga dapat terpenuhi.

Tabel 5. Panjang Tangkai Bunga yang Dipanen Selama 20 MST (Cm)

Perlakuan P0 PH1 PH2 PH3 PK1 PK2 PA1 PA2 PA3 Rata-rata Panjang Tangkai Bunga (Cm) 30.0 b 35.2 b 34.6 b 33.6 b 46.5 a 28.5 b 46.7 a** 45.8 a 45.9 a 38.5 Keterangan :

(**) Angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata menurut uji DMRT pada taraf 1%

Menurut Gardner et al (1991), perpanjangan sel membutuhkan air yang banyak. Bagian dari tanaman gerbera yang paling banyak mengandung air (sukulen) adalah tangkai bunga. Hal tersebut menyebabkan air yang diserap oleh tanaman gerbera paling banyak diserap oleh tangkai bunga dibandingkan bagian tanaman yang lainnya. Panjang tangkai bunga dan diameter bunga menjadi tolak ukur untuk tanaman pot gerbera. Hal ini sangat dipengaruhi oleh perbedaan suhu siang dan malam. Perbedaan yang besar akan menambah panjang tangkai bunga (Mattjik, 2010). Beberapa naungan menghasilkan tangkai yang lebih panjang dan lebih sesuai keinginan konsumen (Auman, 1980). Faktor yang mempengaruhi panjang tangkai bunga adalah air, suhu dan naungan.

Kriteria penjualan bunga potong gerbera di Indonesia minimal harus memiliki panjang tangkai bunga sepanjang 60 cm – 75 cm. Hal ini tidak dipenuhi oleh perlakuan pupuk kandang ayam dengan volume 1:1 yang berpengaruh sangat nyata yang memiliki ukuran panjang tangkai paling tinggi diantara perlakuan lain yaitu sebesar 46,65 cm.

(13)

Diameter Tangkai Bunga

Perlakuan penambahan pupuk organik tidak berpengaruh nyata terhadap diameter tangkai bunga. Nilai rataan tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan PA2 dengan nilai rataan sebesar 0,583 sedangkan nilai rataan terendah ditunjukkan oleh perlakuan PK2 yaitu sebesar 0,400 (Gambar 13).

Tangkai berfungsi sebagai penopang bunga, tempat penyimpanan bahan makanan, air dan mineral (Ashari, 1995). Bagian dari tanaman gerbera dilihat dari kenampakannya secara fisik yang sukulen, bagian yang paling banyak mengandung air adalah tangkai bunga. Berdasarkan pengamatan setelah panen, tangkai bunga yang mempunyai diameter kecil dan memiliki diameter bunga yang cukup besar akan mudah terkulai sehingga mudah patah. Hal ini dikarenakan bagian tangkai bunga gerbera bersifat sukulen dan diameter tangkai tidak mampu menyangga secara seimbang.

Masa Segar Bunga

Vase life atau masa segar bunga adalah lamanya waktu (hari) bunga layak

pajang di peragaan, dihitung dari awal panen hingga kurang lebih 50% bunga mengalami kelayuan. Masa segar bunga menunjukkan kemampuan bunga mempertahankan tingkat kesegarannya hingga pada batas titik layu. Titik layu yang dimaksudkan disini adalah kondisi bunga sudah tidak layak untuk dikonsumsi sebagai bunga potong. Masa segar bunga diamati mulai bunga selesai dipanen hingga bunga layu dan tidak layak digunakan sebagai bunga potong

(14)

Bunga yang siap dipanen mempunyai syarat yaitu saat petal bagian luar telah mekar penuh atau pada saat dua baris benang sarinya telah matang tetapi sebelum bunga utuh belum matang dan polen belum tersebar (Gambar 14a). Kondisi bunga yang telah habis masa segarnya ditunjukkan dengan ciri-ciri benang sarinya telah matang seluruhnya dan polen sudah tersebar (Gambar 14b).

Analisis data menunjukkan bahwa pemberian perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap kondisi masa segar bunga. Masa segar bunga dengan rataan terkecil menunjukkan masa segar bunga terpendek, sebaliknya masa segar bunga dengan rataan terbesar menunjukkan masa segar bunga terpanjang.

Untuk mempertahankan kesegaran bunga pada umumnya merendam tangkai bunga menggunakan air atau aquades. Percobaan ini menggunakan aquades untuk perlakuan pengamatan kesegaran bunga. Perlakuan PH3 menunjukkan masa segar bunga yang terpanjang yaitu 14,827 hari setelah panen. Perlakuan PA2 menunjukkan masa segar bunga yang terpendek yaitu 9,730 hari setelah panen (Gambar 15). Hal ini sesuai dengan pernyataan Mattjik (2010) bahwa bunga yang telah dipanen dapat bertahan di jambangan sekitar 2-3 minggu.

a b

Gambar 14. Kondisi Bunga Pasca Panen (a) Sesaat Setelah Panen (b) 2 Minggu Setelah Panen (Habis Masa Segar)

(15)

Bunga masih melakukan proses respirasi untuk menghasilkan energi yang akan digunakan untuk proses metabolisme bunga. Beberapa faktor yang dapat menurunkan kualitas bunga segar yaitu :

1. Kemampuan batang untuk mengabsorpsi air oleh karena adanya hambatan dari bakteri, jamur atau mikroorganisme yang lain.

2. Kandungan karbohidratnya rendah sehingga kurang memadai untuk mendukung respirasi.

3. Mengalami terlalu banyak kehilangan air karena suhu lingkungan yang tinggi.

4. Gas etilen yang dihasilkan oleh jaringan yang rusak. 5. Terkena penyakit atau serangga.

Kelayuan merupakan tahap normal yang selalu terjadi pada siklus kehidupan tanaman (Winarno, 2002). Menurut Havely dan Mayak (1979) kelayuan terjadi karena perubahan potensial air pada jaringan, sehingga tegangan turgor menurun yang menyebabkan perubahan elastisitas jaringan membuat jaringan menjadi terkulai dan mengkerut. Keadaan ini harus diimbangi dengan penyerapan larutan yang cukup untuk mempertahankan kesegaran. Selama keragaan larutan yang digunakan adalah akuades. Kebutuhan air selama keragaan diperoleh dari akuades tersebut, sedangkan kebutuhan akan karbohidrat untuk respirasi dan metabolisme hanya diperoleh dari cadangan yang terdapat pada batang.

Terdapat dua faktor yang menentukan ketahanan simpan bunga potong yaitu faktor internal (faktor genetik) dan faktor eksternal selama penyimpanan seperti suhu, kelembaban, cahaya, sirkulasi udara tempat penyimpanan. Suhu rendah sangat baik karena akan menekan kehilangan air, menghambat infeksi bakteri dan cendawan serta memperlambat proses penuaan. Prince dan Tayama (1988) mengungkapkan bahwa pada suhu rendah, enzim-enzim yang berperan dalam proses respirasi dapat diperlambat sehingga kualitas bunga terjaga dan memperpanjang ketahanan masa simpan bunga mawar. Semakin tinggi suhu cenderung akan mempercepat proses respirasi sehingga proses pematangan bunga juga semakin cepat dan akibatnya bunga menjadi lebih cepat layu.

(16)

Manu (2007) mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang dapat menurunkan kualitas bunga segar antara lain ketidakmampuan batang menyerap air karena terjadi embolisme (penyumbatan pembuluh batang oleh udara atau mikroorganisme) yang disebabkan mikroorganisme atau reaksi fisiologisnya sendiri. Faktor terakhir adalah serangan penyakit dan hama. Salah satunya yaitu

misellium cendawan yang berwarna putih. Misselium ini menyumbat jaringan

pembuluh xylem pada bagian batang sehingga penyerapan air terhambat (Anjum

et al, 2001). Jenis cendawan yang menyerang adalah cendawan upas (Upasia salmonicolor).

Bobot Kering Daun

Pengamatan bobot kering daun dilakukan pada akhir penelitian. Daun dipetik hingga pangkal kemudian dibersihkan terlebih dahulu. Daun yang sudah bersih ditimbang terlebih dahulu untuk memperoleh bobot basah. Bobot kering diperoleh dengan pengovenan daun pada suhu 70˚C selama 24 jam. Hasil analisis data menunjukkan perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kering daun. Nilai rataan bobot kering tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan PH3 yaitu sebesar 3,22 gram sedangkan nilai rataan bobot kering terendah ditunjukkan oleh perlakuan PK2 yaitu sebesar 1,52 gram (Gambar 16).

Berat kering dapat menunjukkan pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman dapat didefinisikan pembelahan dan pembesaran sel (Gardner, 1991). Menurut Gardner (1991), daun merupakan sumber karbohidrat utama melalui

(17)

proses fotosíntesis. Selain itu, fungsi daun bagi tanaman adalah tempat pengambilan zat makanan (resorbsi), pengolahan zat makanan (asimilasi), penguapan air (transpirasi), dan respirasi (Tjitrosoepomo, 2007). Oleh karena itu, daun memiliki fungsi utama dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman gerbera. Semakin tinggi bobot kering daun menunjukkan semakin banyak sumber karbohidrat yang tersedia dan proses metabolisme lain berjalan dengan baik sehingga pertumbuhan tanaman juga semakin baik dan meningkat.

Analisis Hara N, P, dan K

Pengujian komposisi media untuk melihat kandungan unsur hara N, P2O5, dan K2O sebelum dan sesudah percobaan terlihat pada Tabel 6. Perlakuan P0 merupakan perlakuan yang kekurangan ketiga unsur hara tersebut. Pada perlakuan pupuk kandang kambing baik memiliki kandungan unsur N dan P2O5 yang tinggi dibanding perlakuan lainnya. Semakin tinggi perbandingan volume yang digunakan semakin tinggi kandungan unsur N dan P2O5 di dalamnya. Perlakuan pupuk kandang ayam merupakan perlakuan yang mengandung unsur K2O tertinggi dibanding perlakuan lainnya dan semakin tinggi perbandingan volume yang digunakan semakin tinggi kandungan unsur K2O di dalam komposisi media tersebut.

Tabel 6. Hasil Analisis Contoh Tanah Sebelum dan Sesudah Perlakuan

Perlakuan Kadar N (%) Kadar P2O5 (ppm) Kadar K2O (ppm)

Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

P0 0.36 0.43 30 137.8 187 182.7 PH1 0.4 0.46 46 358.4 198 148.7 PH2 0.51 0.47 117 596.6 199 176 PH3 0.5 0.39 131 701.2 223 185.3 PK1 0.48 0.38 444 901 903 2364.7 PK2 0.57 0.37 744 773 1689 5741 PK3 0.72 - 1053 - 2734 - PA1 0.42 0.53 332 1215.7 6634 1154 PA2 0.48 0.71 350 1978.7 7926 1204.3 PA3 0.33 0.73 596 2322.5 9823 1321

(18)

Kadar N dan P2O5 pada semua perlakuan setelah percobaan meningkat (Tabel 6). Kadar K2O pada perlakuan tanpa pupuk kandang, pupuk hijau dan pupuk kandang ayam mengalami penurunan sedangkan pada perlakuan pupuk kandang kambing kadar K2O mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Hasil analisis menunjukkan kandungan N dan P2O5 tertinggi terdapat pada perlakuan pupuk kandang ayam dengan perbandingan volume 1:3 (PA3) sedangkan kadar K2O tertinggi terdapat pada perlakuan pupuk kandang kambing dengan perbandingan volume 1:2 (PK2).

Hasil análisis contoh tanah sebelum dan sesudah perlakuan yang digunakan pada percobaan ini memiliki kandungan unsur hara N yang sedang hingga tinggi berdasarkan kriteria penilaian hasil análisis tanah sedangkan kandungan unsur hara P2O5, dan K2O berada pada klasifikasi sangat tinggi (Tabel 7).

Tabel 7. Kriteria Penilaian Hasil Analisis Tanah Parameter

tanah

Nilai Sangat

rendah

Rendah Sedang Tinggi Sangat

tinggi N (%) <0,1 0,1 – 0,2 0,21 – 0,5 0,51 – 0,75 >0,75 P2O5 Bray (ppm P) <4 5 – 7 8 – 10 11 – 15 >15 K2O HCl 25% (mg/100g) <10 10 - 20 21 - 40 41 - 60 >60

Sumber : Balai Penelitian Tanah, 2004

Perlakuan pupuk hijau memiliki kandungan N yang cukup tinggi dibandingkan perlakuan lainnya (Tabel 6). Hal ini disebabkan karena pupuk hijau yang digunakan berasal dari daun bambu yang telah melewati proses pelapukan oleh jasad mikro. Daun merupakan bagian utama tanaman dalam fase vegetatif. Pertumbuhan vegetatif tanaman yang baik ditunjang dengan adanya kandungan unsur N yang cukup (Hardjowigeno, 2003). Hal ini juga dibuktikan dengan penambahan jumlah daun pada perlakuan PH1 dan PH3 merupakan perlakuan yang menghasilkan jumlah daun terbanyak dari seluruh perlakuan (Gambar 8).

Perlakuan pupuk kandang ayam memiliki kandungan P lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya dilihat dari hasil análisis pada Tabel 6.

(19)

Hal ini sesuai dengan pernyataan Lingga (1991) pada Tabel 2. Unsur P mempunyai fungsi utama yaitu pembentukan bunga, mempercepat pematangan, memperkuat batang, memperbaiki kualitas tanaman (Hardjowigeno, 2003). Hal ini terbukti sesuai dengan hasil penelitian yang menunjukkan jumlah bunga paling banyak dihasilkan oleh perlakuan PA2 (Gambar 12). Kualitas bunga seperti diameter bunga yang paling besar ditunjukkan oleh perlakuan PA2 (Tabel 4), tangkai bunga terpanjang ditunjukkan oleh perlakuan PA1 (Tabel 5), dan diameter tangkai bunga terbesar ditunjukkan oleh perlakuan PA2 (Gambar 14).

Perlakuan pupuk kandang kambing mempunyai tekstur media yang sangat liat. Semakin tinggi dosis pupuk kandang kambing yang ditambahkan semakin liat dan berat tekstur medianya. Tanah yang kandungan tanah liatnya tinggi cenderung untuk mengandung K yang relatif tinggi (Gardner, 1991). Unsur K ditemukan dalam jumlah banyak di dalam tanah tetapi hanya sebagian kecil yang digunakan oleh tanaman yaitu yang larut dalam air atau yang dapat dipertukarkan (Hardjowigeno, 2003). Hal ini yang memengaruhi jumlah unsur K dalam media percobaan baik sebelum maupun sesudah percobaan dalam jumlah yang sangat tinggi (Tabel 6). Tanaman yang cukup K hanya kehilangan sedikit air karena K meningkatkan potensial osmotik (Humble dan Hsiao, 1969). Hal ini mengakibatkan drainase media yang memiliki kandungan K tinggi menjadi buruk sehingga tanaman dapat mati karena kelebihan pasokan air.

Gambar

Gambar 2. Bibit Tanaman Gerbera yang Berumur 2 Bulan dan Siap Tanam
Gambar  5.  Hama  yang  Menyerang  Tanaman  Gerbera  (a)  Kutu  Daun;  (b)  White  Flyes; (c) Ulat Grayak; (d) Laba-laba
Gambar  7.  Pertumbuhan  Daun  Gerbera  hingga  Terbuka  Sempurna  (a)  3  Hari  Setelah Tanam (HST); (b) 6 HST; (c) 9 HST; (d) 12 HST
Gambar 8. Penambahan Jumlah Daun Terbuka Sempurna Selama 20 MST
+3

Referensi

Dokumen terkait

Dosis pupuk organik yang digunakan dalam satu polibag ukuran 10 kg adalah 1 kg pupuk kandang sapi, 1 kg pupuk kandang ayam, dan 1 kg pupuk kandang kambing, sedangkan pupuk

Perlakuan kompos, pupuk kandang sapi, dan pupuk kandang ayam memberikan pengaruh secara nyata lebih tinggi dan berbeda dengan perlakuan tanpa pupuk terhadap bobot

Penurunan indeks penyakit akar gada dan peningkatan produksi kubis pada perlakuan tanah pembibitan dengan pupuk kandang ayam (Tabel 2) juga berkaitan dengan

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pupuk kandang ayam (K) berbeda tidak nyata pada panjang tanaman umur 2, 4 dan 6 minggu setelah tanam, umur saat

Mengacu pada Tabel 5 perlakuan pemberian pupuk kandang terdapat beda nyata, dengan Indeks Panen tertinggi yaitu pada pemberian pupuk kandang ayam yang tidak

Perlakuan pupuk kandang ayam+KCl (K4) tidak memberikan hasil berat segar yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan pupuk kandang ayam (K1), sedangkan perlakuan

1) Pengaruh pupuk anorganik, pupuk kandang sapi, pupuk kandang ayam, dan pupuk kombinasi tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, dan jumlah daun namun berpengaruh

Berdasarkan hasil analisis ragam pada Tabel 1, perlakuan dosis pupuk kandang ayam menunjukkan pengaruh nyata terhadap variabel laju pertumbuhan tanaman pada umur