• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkatkan Cakupan Imunisasi di Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tingkatkan Cakupan Imunisasi di Indonesia"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Tingkatkan Cakupan Imunisasi

di Indonesia

UNAIR NEWS – Pada tanggal 8-15 Maret 2016, pemerintah melaksanakan program Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di seluruh wilayah di Indonesia. Imunisasi Polio Oral (OPV), atau yang dikenal dengan imunisasi polio tetes, diberikan kepada anak dengan usia 0-59 bulan.

Pemberian imunisasi polio oral kepada anak dilakukan tanpa melihat status imunisasi polio sebelumnya. Artinya, setiap anak harus mendapatkan imunisasi polio oral pada PIN 2016 meskipun sebelumnya pernah mendapatkan jenis imunisasi yang sama. PIN Polio ini dilakukan sebagai upaya memberantas polio di Indonesia dan merupakan bagian dari program global untuk mewujudkan dunia bebas polio. Walau demikian, Indonesia telah dinyatakan bebas polio yang diberikan oleh World Health Organization (WHO) pada tanggal 21 Maret 2014 lalu.

Berdasarkan data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan RI, cakupa Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) masih mencapai angka 86,8% pada April 2015. Sedangkan pada tahun 2019, Kemenkes menargetkan cakupa imunisasi perlu ditingkatkan hingga mencapai target 93%. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada kelompok masyarakat yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan.

(2)

Arief Hargono, drg., M.Kes, bersama dengan perwakilan UNICEF, Armunanto, sedang berdiskusi seputar imunisasi di FKM UNAIR. (Fotografer: Rekha Finazis)

“Kelompok inilah yang perlu terus diupayakan untuk dijangkau melalui peningkatan cakupan imunisasi. Jika jumlah kelompok ini masih banyak dapat menjadi potensi penularan penyakit terutama PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi). Oleh sebab itu, kualitas program imunisasi seperti manajemen vaksin, cakupan hingga pencatatan dan pelaporan imunisasi perlu terus ditingkatkan,” ujar Arief Hargono, drg., M.Kes., selaku pengajar pada Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.

Secara umum, program imunisasi secara umum memiliki beberapa permasalahan. Pertama, masih ada kelompok masyarakat yang menolak, dan belum terjangkau program imunisasi. Kelompok ini disebut sebagai high risk communities. Masyarakat yang tergolong dalam kelompok ini adalah mereka yang bekerja di

(3)

sektor informal, dan mereka yang hidup secara nomaden.

Kedua, rendahnya pengetahuan petugas kesehatan tentang kontraindikasi vaksin, ketersediaan vaksin dan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Kondisi inilah yang disebut missed

opportunity atau hilangnya kesempatan untuk mendapatkan

imunisasi.

Bagaimana untuk mengakselerasi tingkat cakupan imunisasi? UNAIR pernah bekerjasama dengan UNICEF untuk melakukan akselerasi program imunisasi di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2015. “Kegiatannya berupa pengembangan media promosi kesehatan untuk imunisasi, capacity building, monitoring dan evaluasi program, pengembangan policy brief program imunisasi hingga advokasi,” tutur Arief seraya berharap kerjasama itu bisa dilanjutkan sampai tahun 2020. (*)

Penulis: Rekha Finazis Editor: Defrina Sukma S

Mahasiswa

UNAIR

’Sulap’

Limbah Kulit Semangka Jadi

Masker Antioksidan

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga berhasil berinovasi “menyulap” limbah kulit semangka menjadi masker wajah antioksidan yang alami. Dalam produksi pertama dalam pengenalan pasar, sudah terjual 140 Pcs dengan harga yang sangat terjangkap, Rp 6.000/Pcs.

”Dua manfaat sekaligus kami hadirkan. Pertama mengatasi permasalahan limbah, dan kedua menjadikan limbah tersebut

(4)

menjadi produk bermanfaat dan punya nilai plus,” kata Amelya Mustika P, Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKMK) FF UNAIR.

Diakui, salah satu permasalahan yang sering dihadapi pelajar, mahasiswa, dan perempuan umumnya, adalah permasalahan kulit wajah. Mengapa? Karena para pelajar dan mahasiswa, dan perempuan aktif umumnya memiliki banyak aktivitas di luar rumah/kampus. Sehingga terpapar sinar ultraviolet dan polusi menyebabkan pembentukan radikal bebas meningkat dan memicu kerusakan pada kulit, mulai kulit wajah menjadi kusam, kasar, dan timbulnya noda hitam. Keadaan demikian menyebabkan kurangnya rasa percaya diri dan rasa kurang nyaman.

Pada sisi yang lain, limbah juga merupakan permasalahan yang tiada habisnya.Mulai dari limbah organik maupun anorganik. Adanya limbah tentu sangat mengganggu masyarakat, maka diperlukan suatu upaya untuk mengolah limbah tersebut. Salah satunya mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempunyai nilai jual.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim PKM-K (Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga yang beranggotakan Amelya Mustika P (2015), Septiani (2015), Theresa Binayu P (2015), M. Dzul Azmi A.A (2015), dan Galuh Ratri (2014) mengombinasikan suatu produk yang selain dapat mengatasi permasalahan pada kulit wajah, juga membantu mengurangi limbah. Produk inovasi bernama

“Watermelon Beauty Face Mask” ini telah lolos bantuan dana

(5)

Kemasan ’Watermelon Beauty Face Mask’ yang dipasarkan. (Foto: Dok PKMK FF-UA)

“Watermelon Beauty Face Mask” merupakan masker wajah yang

berasal dari limbah kulit putih semangka, dimana kulit putih semangka itu memiliki kandungan antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas serta mencerahkan kulit wajah. Menurut sebuah jurnal, kulit putih semangka kaya akan vitamin, mineral, enzim, dan klorofil. Vitamin-vitamin yang terkandung di dalamnya adalag vitamin A, vitamin B2, vitamin B6, vitamin E, dan vitamin C. Kandungan vitamin E, vitamin C.

“Protein yang cukup banyak pada kulit putih buah semangka dapat digunakan untuk menghaluskan kulit, rambut, dan membuat rambut tampak berkilau. Sedangkan sitrulin, betakaroten dan

likopen yang terdapat pada kulit putih buah semangka dapat

dimanfaatkan sebagai antioksidan,” kata Amelya Mustika, ketua Tim PKMK mengutip sebuah jurnal yang ditulis Rochmatika dkk (2012).

“Sehingga kita tak perlu khawatir lagi untuk beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, Watermelon Beauty Face Mask juga

(6)

memiliki aroma yang menenangkan, sehingga sangat cocok untuk digunakan usai melakukan aktivitas sehari-hari,” tambah Amelya.

Menariknya lagi, “Watermelon Beauty Face Mask” ini begitu diperkenalkan ke masyarakat, hingga kini sudah terjual 140 Pcs pada produksi pertama. Tim menjual dengan harga Rp 6.000/Pcs dinilai sangat terjangkau bila dibandingkan dengan manfaat yang dimiliki masker buatan mahasiswa Farmasi UNAIR ini.

Guna memenuhi permintaan konsumen yang sudah mengenalnya,

Watermelon Beauty Face Mask juga hadir dengan tiga varian,

yang dibuat berdasarkan jenis kulit, yaitu untuk kulit kering, kulit normal, dan kulit berminyak.

Tim berharap dengan penggunaan Watermelon Beauty Face Mask ini dapat melembabkan kulit yang kering pada penggunanya, juga mengurangi sebum bagi kulit yang berminyak, dan menjaga kelembaban untuk kulit normal.

”Tunggu apa lagi, segera pesan Watermelon Beauty Face Mask dan dapatkan kulit wajah Anda yang lebih sehat,” kata Amelya berpromosi. (*)

Editor: Bambang Bes

Dari Medspin, Nadhya Jadi

Dokter,

Orin

Soroti

Disabilitas

U N A I R N E W S – G a r a - g a r a s e r i n g s e r i n g m e n g i k u t i perlombaan/olimpiade di bidang biologi, hingga suatu kesempatan mengikuti Medical Science and Application

(7)

Competition (Medspin) yang diadakan FK UNAIR, akhirnya Nadhya

Nur Fitri benar-benar menjadi seorang dokter. Tidak hanya sekedar itu, ia sekaligus menjadi wisudawan terbaik jenjang sarjana (S1) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada wisuda Maret 2016 lalu.

”Sulit menjelaskannya mengapa saya jadi dokter, sebab sejak kecil saya tak bercita-cita menjadi dokter,” kata Nadhya.

N a d h y a N u r F i t r i w i s u d a w a n t e r b a i k jenjang sarjana (S1) Fakultas Kedokteran (Foto: Istimewa)

Awalnya, ketika di SMP dan SMA sering ikut lomba dan olimpiade bidang biologi, sampai tahun 2011 berkesempatan mengikuti ajang bergengsi FK UNAIR, yaitu Medspin. Disinilah awal Nadhya membangun angan-angan kuatnya ingin menjadi dokter. Kisahnya, saat Medspin itu panitia membuat simulasi dengan meminta setiap peserta seakan menjadi dokter, termasuk wajib mencari tahu permasalahan kesehatan yang dialami oleh pasien peraga. “Kami melakukan anamnesis (pengumpulan informasi tentang riwayat pasien oleh dokter), pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan melakukan interpretasi temuan. Saya mulai

(8)

tertarik, ternyata dokter itu seperti detektif. Dokter harus mengasah kompetensi, care, dan compassionate. Kesempatan melayani dan membantu orang lain itulah yang menjadi drive (pemicu) terbesar saya untuk ingin menjadi dokter,” tegas arek Malang ini.

Semasa kuliah pun Nadhya meraih beberapa prestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya ketika bersama timnya dengan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKMM) ”Edukasi dan Kontrol Gizi Seimbang untuk Anak Autis di Komunitas Anak Autis di Surabaya” meraih Medali Perak pada PIMNAS XXVII di Universitas Diponegoro Semarang tahun 2014.

Kemudian Februari 2015 bersama timnya meraih Runner Up di ajang Siriraj International Medical Microbiology, Parasitology

and Immunology Competition (SIMPIC) yang diselenggarakan

Fakultas Kedokteran Siriraj Hospital, Mahidol University, Bangkok, Thailand. Di kompetisi itu Nadhya juga memperoleh medali perak pada kategori kompetisi individu.

Wisudawan peraih IPK 3,73 ini dalam skripsinya meneliti hubungan antara penggunaan antibiotic dengan infeksi oleh sebuah galur bakteri yang resisten terhadap antibiotik, yakni bakteri penghasil Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL). ESBL adalah enzim yang dihasilkan oleh bakteri Gram-Negatif tertentu dan dapat mengaktifkan antibiotik golongan

beta-lactam yang sering digunakan.

”Dewasa ini antibiotik digunakan dengan amat tidak rasional, tentu saja ini sangat membahayakan,” kata Nadhya, yang setelah lulus nanti belum yakin apa akan menjadi klinisi, peneliti, atau bekerja di Non-Government Organization (NGO). Baginya semua itu menarik, karena itu ia masih akan menimbang-nimbang, sedang bidang yang ingin ditekuni adalah mikrobiologi atau penyakit tropik & infeksi. (*)

(9)

Orin Annahriyah Syukria wisudawan terbaik S1, Fakultas Kesehatan M a s y a r a k a t ( F o t o : Istimewa)

SEDANGKAN Orin Annahriyah Syukria, meskipun tidak lulus tepat waktu tetapi ia bisa menyandang predikat wisudawan terbaik S1, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Ia berhasil lulus setelah menempuh studi selama sembilan semester dengan IPK 3,52. Dalam penelitian skripsinya, Orin menggambarkan mengenai kondisi akses kesehatan anak penyandang disabilitas, khususnya di Puskesmas-puskesmas di Surabaya.

“Tema skripsi saya tentang akses kesehatan anak penyandang disabilitas, karena ini merupakan permasalahan global dan agenda kerja WHO (World Health Organization). Namun perhatian terhadap masalah aksesibilitas anak penyandang disabilitas ini masih kurang,” kata Orin.

Semasa kuliah di prodi Kesehatan Masyarakat, Orin dan kawan-kawannya aktif mengajukan proposal program kreativitas mahasiswa (PKM) tahun 2014. Ia juga pernah menjadi ketua tim PKMM dengan judul “Pelatihan Pembuatan Nasoy (Nata de Soya) dari Whey (limbah tahu) di Desa Meduretno, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, sebagai Salah Satu Upaya Penyelamatan

(10)

Lingkungan.” Kemudian sejak tahun 2011 sudah aktif mengikuti ajang PKM, kemudian juga PKM-P (Penelitian). Dengan aktif mengikuti PKM ia mengaku banyak mendapat manfaat dan pengalaman.

Ditanya kiat-kiatnya untuk menjadi wisudawan terbaik, Orin hanya mengatur waktunya secara baik. Ia berusaha menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya lebih awal dan bergabung dengan komunitas yang tepat. Selain itu selalu berkonsultasi dengan orang tua sebelum mengikuti kegiatan di luar perkuliahan, tujuannya agar orang tua memahami kegiatannya dan mendorong kita mempertanggungjawabkan pilihan yang telah diambil itu, kata gadis asal Kediri ini. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha & Binti Q. Masruroh. Editor: Bambang Bes

Tak Menunggu Lama, Pil KB

Untuk Pria Akan Dihilirisasi

UNAIR NEWS – Setelah menunggu kurang lebih lima tahun untuk hilirisasi, produk pil keluarga berencana (KB) untuk pria dari ekstrak tumbuhan Gandarusa (Justicia gendarussa) menemukan jawabannya. Temuan dari tim peneliti Universitas Airlangga itu akan dihilirisasi oleh PT. Harsen Laboratories. Kesepakatan itu tertuang dalam nota kesepahaman yang ditandatangani kedua belah pihak pada Rabu, (8/3), di Kantor Manajemen, UNAIR.

“Satu dari ratusan produk milik peneliti UNAIR siap hilirisasi dan dikomersialkan. Mimpi pil KB untuk pria agar dikomersilkan segera terwujud,” ujar Rektor UNAIR Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak.

(11)

Penandatanganan nota kesepahaman ini dilakukan oleh Rektor UNAIR dan Direktur Utama PT. Harsen Laboratories Haryoseno. Penandatanganan itu disaksikan langsung oleh Direktur Pengembangan Teknologi Industri Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Dr. Eng, Hotmatua Daulay, M.Eng. Hotmatua menyambut baik kerjasama antara PT Harsen Laboratories dan UNAIR tersebut.

“Kami dari Kemenristekdikti sejatinya senang dengan adanya kegiatan semacam ini. Selamat kepada UNAIR atas hilirisasi ini,” terang Hotmatua.

Haryoseno selaku Dirut mengaku bangga ketika pihaknya ditunjuk untuk memproduksi pil dari ekstrak gandarusa ini. Pasalnya, pil KB untuk pria baru pertama kali ada di dunia. Menurutnya, ini adalah terobosan penting untuk diketahui dunia.

“Kita ketahui bersama pertumbuhan penduduk di dunia semakin tinggi. Ini sungguh terobosan penting untuk diketahui dunia. Karena pria juga punya andil untuk program Keluarga Berencana (KB). Kami berharap proyek ini secepatnya bisa kita kerjakan,” tegas Haryoseno.

Ia juga berharap, dengan adanya pil KB untuk pria ini, kesejahteraan masyarakat yang diprogram melalui KB yang dicita-citakan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) akan sukses terwujud.

Segera Dikomersilkan

Paling lama dalam satu setengah tahun ke depan, produk akan siap dipasarkan. Hal awal yang akan dilakukan adalah mendapatkan ijin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Nanti akan dipasarkan langsung ke Indonesia dan seluruh dunia. Ini pertama kali di dunia, belum ada sebelumnya. Sangat membanggakan bagi UNAIR, khususnya Indonesia,” kata Haryoseno.

(12)

Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib, Ph.D, mengatakan, penelitian ini akan mengubah paradigma sebelumnya tentang KB yang hanya dilakukan oleh perempuan.

“Jadi ini paradigma baru. Kalau dulu yang dapat intervensi KB adalah para wanita, sekarang ini para pria juga bisa terlibat. Bagaimana penelitian ini akan mengubah paradigma itu, sehingga para pria yang melakukan KB,” ujar Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Bisnis itu.

Pil KB untuk pria temuan Guru Besar bidang Farmakognosi dan Fitokimia Fakultas Farmasi Prof. Dr. Bambang Prajogo, M.S., ini tidak memiliki efek samping. Justru, melalui uji klinik yang telah dilakukan, pria akan mendapatkan manfaat lain setelah mengkonsumsi obat ini. Seperti kebugaran dan meningkatkan stamina.

Selain dihadiri pimpinan UNAIR dan PT Harsen Laboratories, tim dari BKKBN juga turut datang menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman. Rencananya, BKKBN akan membeli pil KB untuk pria dan dimanfaatkan untuk mensukseskan program KB di Indonesia. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Defrina Sukma S

Mahasiswa Baru FK Bangun

Kekompakan dengan Pengabdian

UNAIR NEWS – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga memiliki cara yang berbeda untuk mempererat dan membangun kekompakan mahasiswa baru.

(13)

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pengabdian kepada masyarakat menjadi kegiatan unggulan BEM FK UNAIR untuk mendidik mahasiswa baru menjadi insan yang lebih peduli terhadap kesehatan di masyarakat.

Kali ini, kegiatan yang bertajuk Aksi Sosial untuk Negeri (AKSON) FK UNAIR 2017, menjadi agenda akbar yang sepenuhnya ditangani oleh mahasiswa baru FK UNAIR angkatan tahun 2017. Setidaknya, ada 300 mahasiswa baru FK UNAIR terlibat dalam acara yang dilangsungkan pada hari Minggu (8/10).

Pada kesempatan yang bakal menjadi sejarah bagi mahasiswa baru FK UNAIR 2017 tersebut, Iqbal Mubarok selaku ketua panitia menuturkan, kegiatan yang berada dalam naungan Departemen Pengmas BEM FK UNAIR tersebut menjadi salah satu wadah untuk mewujudkan masyarakat yang sehat.

“Karena seperti kata pepatah bahwa dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat,” terangnya.

Mahasiswa baru yang akrab disapa Iqbal tersebut juga mengatakan, acara pengmas yang berlangsung di Taman Bungkul tersebut dibuka dengan senam otak. Senam itu sendiri, menurut Iqbal merupakan cara yang tepat untuk menghindari manusia dari penyakit pikun. Selain itu, dengan mengenakan kaos berwarna ungu, tim AKSON FK UNAIR 2017 juga melakukan tes kesehatan seperti tes gula darah, tekanan darah, kolesterol, asam urat, dan masih banyak tes kesehatan lainnya.

“Untuk yang melakukan tes memang ada senior kami yang sudah punya pengalaman,” terangnya.

Di akhir Iqbal mengatakan, keberhasilan dan kelancaran acara bukan menjadi prioritas utama. Pasalnya, hal yang jauh lebih penting bagi ia dan rekan-rekan satu angkatan adalah adanya kekompakan dan kebersamaan. Segala persiapan aksi sosial mulai dana dan keperluan pengmas sepenuhnya ditangani Iqbal dan rekan-rekan.

(14)

“Tujuan utama kegiatan ini memang bukan keberhasilan program, tapi kerja sama satu angkatan. Selain itu, kekompakan dan saling kenal antara satu sama lain menjadi hal utama,” pungkasnya. (*)

Penulis : Nuri Hermawan Editor : Binti Q. Masruroh

Gedung Baru UNAIR Banyuwangi

Siap Menampung Mahasiswa Baru

UNAIR NEWS – Dalam rangka menyambut kedatangan mahasiswa baru tahun akademik 2017-2018, PSDKU (Pusat Studi Diluar Kampus Utama) Universitas Airlangga di Banyuwangi, menyiapkan sebuah gedung baru. Diharapkan gedung yang sekarang masih terus diselesaikan ini segera bisa untuk menampung kehadiran mahasiswa baru UNAIR Banyuwangi.

Menurut H. Bogi Ananda, Kabag Pengembangan Sumber Daya PSDKU (dulu PDD) UNAIR Bayuwangi, pembangunan gedung baru ini dimulai sejak semester ganjil 2016 kemarin. Dibangun terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama terdapat empat ruangan yang semuanya direncanakan difungsikan sebagai laboratorium dan dilengkapi dengan ruang lobi.

”Mudah-mudahan semester ini lantai pertama sudah bisa mulai digunakan,” kata Bogi Ananda.

Ditambahkan, lantai dua direncanakan sudah siap untuk digunakan pada bulan September 2017. Lantai dua dan tiga direncanakan akan dibagi menjadi beberapa ruangan yang akan difungsikan sebagai laboratorium komputer, ruang kelas, dan

(15)

ruang baca. Masing-masing ruang berkapasitas sekitar 60 orang mahasiswa.

Rancangan gedung baru PDD UNAIR di Banyuwangi dalam gambar perencanaan. (Repro: Siti Mufaidah).

Ditemui secara terpisah, Sekretaris Koordinator PDD UNAIR Banyuwangi, A.A. Gde Satia Utama, SE., M.Si., Ak., menambahkan bahwa pihak universitas membangun gedung baru ini untuk menambah fasilitas bagi mahasiswa, karena pada dasarnya Universitas Airlangga memperlakukan mahasiswa di Banyuwangi ini sama seperti mahasiswa di kampus utama. Tetapi pelaksanaannya memang bertahap.

”Harapan kita, mahasiswa yang belajar di kampus PDD UNAIR ini bisa lebih nyaman. Selain itu, dari segi akademik dengan penyediaan laboratorium dan ruang baca yang lebih luas, diharapkan mahasiswa bisa lebih leluasa mengeksplorasi kemampuan akademiknya melalui research dan practice dengan lebih intensif,” kata Gde Satia Utama.

Margaretta Wahyu Diana P, salah seorang mahasiswa PDD UNAIR Banyuwangi yang ditemui UNAIR.news memberikan tanggapan. Baginya, pembangunan gedung baru ini akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa, karena dengan adanya tambahan gedung ini

(16)

mahasiswa akan lebih sering melakukan kegiatan praktikum di lantai 1 yang memang diperuntukkan laboratorium bersama.

”Saat ini dibangun dengan tidak main-main, langsung tiga ruang lab, dan lokasinya pun dekat dengan kampus, jadi ya lebih

nyaman. Alat-alat yang disediakan di laboratorium juga masih

baru, jadi akan lebih menarik dan bersemangat untuk mencobanya,” kata Margaretta. (*)

Penulis: Siti Mufaidah Editor : Bambang Bes

Novita, Putri Tukul Arwana

Ingin

Belajar

tentang

Masyarakat di UNAIR

UNAIR NEWS – Berbekal nama besar sang ayah yang menjadi tokoh publik, mestinya bisa membuat Novita Eka Afriana memiliki kesempatan yang besar untuk melenggang ke industri hiburan. Namun tidak bagi putri sulung Tukul Riyanto atau yang lebih dikenal dengan nama Tukul Arwana ini.

Vita, sapaan karib Novita Eka Afriana, berhasil diterima melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), di Universitas Airlangga. Vita mengambil program studi S-1 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Gadis yang baru merayakan ulang tahun ke-17 ini mengaku, tidak ada campur tangan ayah dalam proses pendaftarannya di UNAIR. Ia berhasil diterima melalui jalur SNMPTN dengan nilai rata-rata rapor yang ia raih selama belajar di bangku SMA.

(17)

support, sih. Walau sebenarnya mereka mau aku di Jakarta,”

ujar Vita berkisah tentang dukungan keluarga terhadap studinya.

Nampaknya, keinginan Vita untuk melanjutkan studi dan memperluas jejaring pertemanan begitu besar. Ia akhirnya memilih UNAIR sebagai tempat untuk melanjutkan studi.

“Aku bilang ke keluarga kalau ini kesempatan yang bagus untuk aku punya pengalaman dan mencari pertemanan yang luas bukan hanya di Jakarta,” tambah lulusan SMAN 6 Jakarta.

Dalam memilih jalan hidup, Tukul nampaknya membebaskan keinginan putri sulungnya itu. Ia memberikan fasilitas yang dibutuhkan putrinya dalam hal belajar serta pengembangan diri. “Ayah dukung aku untuk selalu belajar. Jadi aku ikut les bimbel (bimbingan belajar) di luar, dan dia dukung banget aku ambil Sosiologi. Katanya, dengan studi di Sosiologi, aku bisa belajar tentang masyarakat dan kebudayaan secara luas,” papar gadis yang memiliki hobi travelling (berwisata) dan boxing (tinju) ini.

Meskipun mengantongi nama Tukul yang populer di industri hiburan, Vita mengaku saat ini belum memiliki keinginan untuk mengikuti jejak sang ayah. Ia tertarik untuk tekun belajar melalui program studi Sosiologi.

“Aku nggak begitu tertarik sih untuk terjun ke dunia entertainment. Aku pengin beda sama ayah. Mungkin suatu saat nanti mungkin saja,” ujar perempuan kelahiran 21 Agustus 1999. Saat ini, sambil menunggu jalannya perkuliahan, Vita masih menghabiskan waktu di Jakarta. Ia juga tertarik untuk memperdalam kemampuan Bahasa Inggris dengan mengikuti kursus. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh Editor: Defrina Sukma S

(18)

Rumah Sakit Gigi dan Mulut

UNAIR

Peroleh

Izin

Operasional Tetap

UNAIR NEWS – Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Airlangga (UNAIR) resmi memperoleh izin operasional dari Kementerian Kesehatan RI. Izin yang didapat itu berlaku mulai 1 Desember 2016. Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur RSGM UNAIR Prof. R.M. Coen Pramono Danudiningrat, drg., SU., Sp.BM (K).

Izin operasional itu diperoleh setelah pihaknya mengajukan kelengkapan syarat berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan no. 56 tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit. Berdasarkan peraturan itu, RSGM UNAIR tergolong rumah sakit tipe khusus yang memberikan pelayanan utama pada satu bidang. “Kita sudah punya izin. Kita sekarang sedang berupaya untuk mempersiapkan akreditasi KARS 2012. Setelah bisa dicapai, maka kita akan melakukan akreditasi RSGM Pendidikan,” imbuh Prof. Coen.

Dalam pengajuan kelengkapan berkas, pihaknya mengacu pada lampiran dalam Permenkes tersebut. Di dalam lampiran itu, sebuah rumah khusus penyakit gigi dan mulut tipe B harus menyediakan pelayanan medik spesialis gigi dan mulut, pelayanan penunjang non klinik, pelayanan rawat inap, tenaga kesehatan dan petugas lainnya, peralatan, observasi, kamar tindakan, ruang bedah, sampai recovery room.

Prof. Coen mengakui, proses dalam mendapatkan izin operasional tak semudah membalikkan telapak tangan. Pihaknya harus mempersiapkan berkas hingga menambah peralatan yang berkaitan

(19)

dengan operasionalisasi sebuah rumah sakit.

Hal ini dikarenakan RSGM UNAIR dulunya merupakan Balai Pengobatan Gigi sehingga fasilitas yang dimiliki terbatas. Pada saat RSGM menjadi balai pengobatan gigi, klinik tersebut hanya bisa melakukan operasi kecil seperti cabut gigi.

Direktur Rumah Sakit Gigi d a n M u l u t U n i v e r s i t a s Airlangga. (Foto: Defrina Sukma S)

“Kami sebelumnya tidak menyangka izin operasional ini rumit. Kerumitan ini terjadi karena kita berasal dari balai pengobatan gigi. Kita harus berubah menjadi suatu rumah sakit. Ini yang menjadikan hal baru dan kita harus melengkapi semua dokumen-dokumen yang berkaitan dengan operasionalisasi suatu rumah sakit,” tuturnya.

Kini, RSGM UNAIR sudah memberikan pelayanan di tujuh bidang spesialis. Ada bidang spesialis konservasi gigi, bedah mulut dan maksilofasial, penyakit mulut, periodonsia, radiologi kedokteran gigi, prostodonsia, orthodonsia, dan kedokteran gigi anak.

Di RSGM UNAIR juga didukung beragam instalasi medis. Yakni instalasi rawat inap dewasa, rawat jalan, radiologi, dan rawat inap anak.

(20)

Pada awal tahun 2017, Direktur RSGM UNAIR akan mempersiapkan akreditasi KARS. Setelah akreditasi KARS didapat, pihaknya kembali mempersiapkan diri untuk menuju akreditasi RSGM Pendidikan. Rencana lainnya, RSGM UNAIR akan bersiap menuju operasionalisasi 24 jam, dan bekerja sama dengan pihak jaminan kesehatan, seperti Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Ia juga ingin RSGM UNAIR bisa menjadi pusat rujukan kesehatan gigi di Indonesia wilayah Timur.

“RSGM sebagai rumah sakit khusus gigi dan mulut tentunya diharapkan akan menjadi pusat rujukan di Indonesia Timur bagi dokter gigi dan dokter gigi spesialis yang menangani kasus kesehatan gigi dan mulut. Karena di sini kan tempatnya pakar,” harap Guru Besar bidang Ilmu Bedah Mulut dan Maksilofasial tersebut.(*)

Penulis: Defrina Sukma S Editor : Dilan Salsabila

Mahasiswa UNAIR Tawarkan

“Serbuk Ajaib” untuk Cuci

Darah Pasien Gagal Ginjal

UNAIR NEWS – Ginjal merupakan organ terpenting dalam tubuh manusia. Tetapi penderita gangguan ginjal, akhir-akhir ini terus meningkat, akibat pola hidup yang kurang sehat. Padahal, penanganan kasus gagal ginjal dengan melakukan cuci darah

(hemodialisis) membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk

itulah mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga berinovasi dalam penelitiannya dan menemukan solusi yang berpotensi meningkatkan hemodialisis dengan kinerja lebih optimal.

(21)

”Penanganan kasus gagal ginjal di Indonesia saat ini, menurut Menkes, terkendala oleh biaya yang mahal dan keterbatasan alat cuci darah, sedangkan penderitanya sekitar 3000 orang dan banyak yang berakhir dengan kematian. Karena itulah kami berusaha membantu mencari solusinya,” ujar Januardi Wardana, ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Eksakta, FST UNAIR tentang isonasinya.

Selain Januardi, Tim juga beranggotakan Bella Prelina, Ahya Isyatir Rodliyah, dan Zakiyatus Syukriyah. Atas prestasi ini mereka menuangkan penelitian ini dalam program PKM. Bahkan setelah dinilai oleh Dikti, proposal bertajuk “Potensi Cation

Exchanger Zeolit A Sebagai Hemoadsorben Penderita Gagal Ginjal” ini lolos penilaian dan memperoleh dana dari

Kemenristekdikti untuk program PKM tahun 2017.

Dibenarkan oleh mereka, bahwa organ ginjal bertugas untuk menyaring sisa-sisa metabolisme untuk dibuang keluar tubuh manusia. Apabila ginjal tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka akan mengalami gagal ginjal. Penyebab utama gagal ginjal ini antara lain pola hidup yang tidak sehat, serta akibat tingginya kadar uremik toksin dalam darah.

(22)

DIANTARA Tim PKM-PE ini melakukan penelitian serius, baik di UNAIR dan di AMTEC Malaysia. (Foto: Dok PKM-PE FST)

Ada berbagai macam jenis uremik toksin, salah satunya adalah kreatinin yang merupakan asam organik yang memiliki gugus nitrogen dan diproduksi dalam tubuh manusia, terutama pada hati, ginjal, dan pankreas. Secara fisiologis, konsentrasi normal kreatinin dalam darah 1,2 hingga 5 mg/dL. Apabila melebihi batas, maka dapat dikategorikan sebagai penyakit gagal ginjal.

“Sementara itu proses hemodialisis selama ini biasanya terjadi dalam waktu relaif lama. Jadi pasien mengalami rasa sakit dan tidak nyaman. Untuk itu diperlukan suatu bahan tambahan yang mampu meningkakan kualitas hemodialisis. Melalui PKM-PE inilah kami meneliti kemampuan zeolit dan zeolit yang ter-imprinted kreatinin untuk adsropsi kreatinin,” tambah Januardi.

Penelitian PKM-PE ini dilakukan di Universitas Airlangga dan AMTEC, Malaysia. Penelitiannya diawali dengan membuat zeolit terlebih dahulu. Bahan dasar yang digunakan adalah natrium aluminat, silikon dioksida, dan air. Pembuatan zeolit ini menggunakan metode hidrotermal pada suhu 100C.

“Sedangkan Imprinted zeolit merupakan zeolit yang telah tercetak porinya dengan pori kreatinin. Untuk membuatnya kami tambahkan larutan kreatinin ke dalam suspensi zeolit dan dilakukan ekstrak dengan air panas hingga pH-nya netral, sehingga harapan kami pori-pori zeolit yang terbentuk memliki kesamaan dengan pori-pori kreatinin dan proses adsorpsi semakin cepat berlangsung,” tambah Bella Prelina, anggota tim. Zeolit yang dipilih digunakan karena mudah dalam sintesisnya dan memiliki potensi besar dalam penyerapan limbah metabolik penderita gagal ginjal. Zeolit memiliki sifat fisika dan kimia yang unik, yakni meliputi dehidrasi, adsorben dan penyaring molekul, katalisator dan penukar ion. Sifat zeolit sebagai adsorben dan penyaring molekul, juga dimungkinkan sebagai

(23)

material berpendukung hemoadsorben yang memiliki tingkat akurasi tinggi, sehingga menjadikannya adsorben yang selektif dan mempunyai efektivitas adsorpsi yang tinggi.

“Pada penelitian ini kami membuat zeolit dan zeolit yang telah terimprinted porinya. Kami meneliti kemampuan adsorpsinya dalam variasi waktu adsorpsi,” tambah Zakiyatus Syukriyah. Juga ditambahkan oleh Januardi, bahwa dalam rentang waktu 15 menit, zeolit mampu mengadsorpsi kreatinin sekitar 40%. Sedangkan zeolit yang terimprinted sekitar 60%. Diantara keduanya, zeolit yang porinya telah terimprinted memiliki kemampuan lebih besar dibandingkan zeolit biasa.

”Karena zeolit yang ter-imprinted lebih selektif. Sekaligus membukikan bahwa zeolit memiliki kemampuan sebagai adsorben

uremik toksin, sehingga memiliki potensi untuk hemodialisis

kreatinin,” kata Januardi. (*) Editor: Bambang Bes

Perpustakaan Luncurkan P3MB

untuk Mahasiswa Baru

UNAIR NEWS – Sivitas akademika bisa menjajal berbagai fasilitas menarik yang ditawarkan oleh Perpustakaan Universitas Airlangga. Termasuk bagi mahasiswa baru. Bagaimana tidak, perpustakaan menjadi salah satu sumber vital bagi sivitas akademika untuk memperoleh literatur-literatur ilmiah. Guna mengenalkan fasilitas, Perpustakaan UNAIR nantinya akan berpartisipasi dalam kegiatan display unit kegiatan mahasiswa. Dalam acara itu, mahasiswa baru akan mendapatkan materi

(24)

Program Pengenalan Perpustakaan pada Mahasiswa Baru (P3MB), seperti Library 101 dan Online Research Management (ORM).

Menurut Siti Muzaroh selaku staf humas Perpustakaan UNAIR, program Library 101 merupakan kegiatan orientasi dan literasi bagi mahasiswa baru.

“Saat mengikuti kegiatan Library 101, mahasiswa baru akan memahami tata cara, peraturan-peraturan, koleksi, cara menelusuri koleksi, dan masih banyak lainnya. Acara akan diselenggarakan di Perpustakaan UNAIR kampus B. Melalui program ini, mahasiswa baru akan diberikan informasi mengenai layanan dan fasilitas yang tersedia di Perpustakaan Universitas Kampus A, B dan C,” tutur Siti.

Menurut Siti, tahun ajaran kali ini, Library 101 akan dilaksanakan pada bulan Agustus dan diharapkan seluruh mahasiswa baru dapat mengikuti program ini.

Selain Library 101, ada program baru bernama online research

management (ORM) yang diselenggarakan oleh Perpustakaan UNAIR.

Program ORM diperuntukkan khusus bagi mahasiswa baru jenjang Pascasarjana.

Peserta yang mengikuti program ORM ini dapat mengetahui sumber-sumber informasi elektronik yang dilanggan dan dimiliki oleh perpustakaan. Diharapkan, dengan adanya program ORM, sivitas akademika dapat memanfaatkan layanan informasi berupa jurnal elektronik dan buku elektronik secara maksimal.

Selain itu, program Library 101 atau ORM wajib diikuti mahasiswa baik dari program D-3, S-1 dan Pascasarjana yang ingin meminjam buku di Perpustakaan UNAIR. Program-program ini dapat diikuti di perpustakaan kampus A, B maupun C.

Untuk itu, perpustakaan melalui tim teknologi informasi serta pelatihan dan pengembangan juga melayani pendaftaran akun proxy agar akses pada sumber elektronik ini dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.

(25)

Untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, mahasiswa baru harus mendaftar melalui laman Perpustakaan UNAIR. Dalam aplikasi pendaftaran, panitia telah menentukan jadwal pelaksanaan P3MB agar peserta dapat memilih hari. Bagi pendaftar yang telah mengikuti kegiatan pengenalan perpustakaan akan mendapatkan sertifikat.

“Program ini dilaksanakan agar perpustakaan lebih dekat, dikenali serta dimanfaatkan oleh sivitas akademika sehingga proses pembelajaran di kampus dapat berjalan maksimal,” pungkas staf humas Perpustakaan UNAIR.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam penelitian ini peneliti mengumpulkan data kuantitatif dan data kualitatif secara bersamaan untuk menjawab rumusan masalah apakah stratifikasi social

Ορισμένοι από τους αναγνώστες ίσως αναρωτηθούν: "Γιατί αφού οι περισσότεροι άνθρωποι έχουν ακού­ σει, έχουν διαβάσει και σε τελευταία ανάλυση

Hal tersebut dilakukan dengan infus cairan poliionik, misalnya cairan Ringer laktat dengan kecepatan sekitar dua atau tiga kali kecepatan normal pemasukan cairan

Rasio finansial atau Rasio Keuangan merupakan alat analisis keuangan  perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang

Athens membahagikan masyarakatnya kepada tiga kumpulan yang terdiri daripada kumpulan pertama ialah warganegara, yang kedua penduduk bukan warganegara dan yang ketiga

Tetapi pada wanita yang memiliki faktor risiko tinggi untuk terkena kanker payudara (misal. adanya riwayat kanker payudara dalam keluarga), maka dapat dilakukan mamografi

(3) Pemeriksaan Post Mortem sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini, harus dilaksanakan oleh Petugas yang berwenang di ruangan dalam Rumah Pemotongan Hewan/Unggas yang terang

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu “Terdapat perbedaan biomassa perifiton pada substrat keramik antara hulu, tengah, dan hilir Sungai Salo”..