1
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bantul merupakan salah satu Kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sebagian besar di wilayah ini masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani. Menurut Data Statistik Kabupaten Bantul ada sekitar 49% atau setengah dari masyarakat bantul menggantungkan hidupnya dari pertanian. Banyaknya masyarakat Bantul bermata pencaharaian sebagai petani karena di dukung dengan jumlah lahan yang luas. Terdapat 210.94 km2 (41,62%) daerah datar dan landai yang merupakan daerah pertanian subur (Data Statistik Kabupaten Bantul, 2012).
Dewasa ini telah terjadi sebuah trend baru dalam usaha tani, yaitu
meningkatnya pertanian organik1. Walaupun belum secara keseluruhan dalam
pertaniannya, namun pertanian organik ini mengalami penguatan di beberapa sektor tanaman pangan. Seperti halnya yang terjadi pada petani padi di Kabupaten Bantul. Di Bantul terdapat sebanyak 200 ha dari 15.420 ha lahan pertanian yang menghasilkan padi organik (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, 2012). Selain itu setidaknya sudah ada 17 kelompok tani yang mengembangkan
1
Menurut (Sutanto, 2002: 19) pertanian organik adalah kegiatan menanami tanah dengan tanaman (bercocok tanam) yang nantinya menghasilkan sesuatu yang dapat dipanen dengan campur tangan manusia lebih intensif untuk memanfaatkan lahan dan berusaha untuk meningkatkan hasil berdasarkan prinsip daur ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat. Ditambahkan lagi bahwa pertanian organik merupakan sabuah sarana dalam pengembangan hasil produksi dengan menggunakan atau memenfaatkan lingkungan sekitarnya sesuai dengan lingkungan tersebut. Konsep pertanian organik ini sendiri adalah untuk tetap menjaga keselarasan (harmoni) dengan sistem alami, dengan memanfaatkan dan mengembangkan semaksimal mungkin proses-proses alami dalam pengelolaan usaha tani (Kasumbogo, 1997) dalam (Mutiarawati, 2006: 2)
2 tanaman organik, khususnya padi. Hasil produksi beras organik sudah mencapai 500 ton (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, 2012).
Pertanian organik sendiri bagi petani di wilayah Bantul merupakan sebuah hal yang baru. Sebagian besar petani di Bantul saat ini masih banyak
menggunakan pertanian modern2. Karena pada dasarnya secara umum pertanian
modern lebih perkenalkan dahulu dari pada pertanian organik di masyarakat indonesia. Hal ini dimulai sejak tahun 1970an pemerintah Presiden Suharto telah menetapkan kebijakan bahwa untuk meningkatkan produksi padi secara cepat hanya dapat dicapai bila para petani padi dapat menerapkan teknologi pertanian
modern3. Sedangkan di Bantul sendiri pertanian organik baru dipernalkan secara
khusus oleh pemerintah daerah baru sejak tahun 1989 (Staf Ahli Bupati Bidang
Pembangunan)4.
Salah satu wilayah Kabupaten Bantul yang sebagian petaninya menggunakan sistem pertanian organik yaitu Desa Dowaluh. Desa Dowaluh merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Trirenggo Kabupaten Batul. Pertanian organik di daerah ini mengalami peningkatan. Banyak petani yang memulai menggunakan sistem pertanian organik ditengah-tengah pertanian modern.
2
Pertanian modern yang kemudian dikenal sebagai teknologi “revolusi hijau’’. Dalam penjelasan ini bisa dilihat dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Hijau, Diakses 09-01-2014.
3
Pada waktu itu dimasyarakatkan oleh Pemerintah dengan istilah Panca Usaha Tani (pengolahan tanah, pemupukan dengan pupuk buatan, perbaikan jaringan pengairan, penanaman benih unggul, serta pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida).
4
Tujuannya adalah untuk peningkatan produktivitas pertanian, peningkatan kualitas hasil pertanian serta ketersediaan pangan yang memadai sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.
3 Ada hal menarik dari apa yang sedang terjadi pada pertanian di daerah ini. Dimana ditengah-tengah pertanian modern masyarakat mulai banyak memilih pertanian organik sebagai alat atau sistem pertanian yang mereka ambil. Padahal bisa saja masyarakat tetap memilih pertanian modern sebagai sistem pertaniannya. Dengan begitu dasar pemikiran tulisan ini mencoba melihat apa yang terjadi dengan sistem pertanian organik ini, terkait dengan menguatnya pertanian organik dikalangan masyarakat. Yang nantinya akan secara mendalam dilihat di beberapa bagian di dalam tulisan ini.
B. Permasalahan
Terdapat dua sistem pertanian di Desa Dowaluh, yaitu pertanian unorganik dan organik. Mayoritas petani di Desa Dowaluh masih menggunakan pertanian unorganik. Menurut mereka pertanian unorganik mudah dalam pengerjaannya dan bahan baku produksi sepertihalnya pupuk, pestisida dan benih sudah ada, tinggal membeli tanpa harus membuat. Selain itu menurut mereka dengan menggunakan pertanian unorganik waktu panennya cepat, sehingga mereka akan cepat pula mendapat uang. Walaupun hanya sebagian kecil saja yang menjalankan pertanian organik, namun munculnya pertanian organik salah satu bentuk ketidak puasan terhadap pertanian unorganik. Sehingga sangat mungkin kalau pertanian organik ini berkembang, mengingat pertanian ini ramah lingkungan. Oleh karena itu perlu dipelajari atau dikaji tentang keberadaan pertanian organik di Desa Dowaluh. Adapun permasalahan yang perlu diangkat adalah sebagai berikut; 1. Mengapa petani meninggalkan pertanian unorganik dan beralih ke pertanian organik?, 2.
4 Bagaimana strategi petani dalam mengembangkan usaha tani melalui pertanian organik?.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian disini adalah :
1. Mengapa petani memilih pertanian organik sebagai usaha taninya?
2. Bagaimana strategi petani mengembangkan usaha tani pertanian organik agar lestari?
3. Bagaimana usaha tani pertanian organik untuk memenuhi kebutuhan keluarga petani?
D. Kerangka Pemikiran
Revolusi hijau adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan. Gerakan ini mendorong percepatan produksi pangan dengan
mengubah teknologi pertanian. Teknologi pertanian yang awalnya tradisional5
dirubah menjadi teknologi yang modern. Modernisasi teknologi pertanian ini ditunjukan dengan berubahnya beberapa unsur pertanian. Beberapa unsur pertanian ini diantaranya ; pupuk pabrik (kimia), pestisida sintestis dan benih dari hasil rekayasa genetik. Selain itu dalam pengerjaan pertanniannya juga mengalami
perubahan. Perubahan ini ditunjukkan dengan terjadinya mekanisasi pertanian6.
Pada dasarnya konsep pertanian ini adalah memanfaatkan lahan sempit untuk menghasilkan panen yang besar.
5
Pertanian tradisional disini merupakan pertanian yang masih mengandalkan kerja manual dan teknologi yang masih sederhana.
5 Gerakan revolusi hijau ini awalnya adalah sebuah program pertanian yang diprakarsai oleh Amerika Serikat. Tujuannya adalah mengatasi krisis pangan yang terjadi pasca perang dunia ke dua. Program ini dawali dengan membentuk sebuah lembaga penelitian di beberapa negara yang berpusat di Amerika Serikat. Lembaga ini sendiri di danai oleh USAID (U.S. Agency for International Development), yaitu Ford Foundation dan Rockefeller Foundation. Beberapa lembaga ini diantaranya di Meksiko (1950) dan Filipina (1960). Di Meksiko didirikan CIMMYT (The International Maize and Wheat Improvement Center), sedangkan di Filipina berdiri IRRI (International Rice Research Institute).
Di Indonesia sendiri revolusi hijau dikenal dengan kebijakan Repelita. Repelita ini mempunyai program diantaranya; Bimas (Bimbingan Massal), Inmas (intensifikasi Massal), Insus (Intensifikasi Khusus) dan Supra Insus. Repelita disini juga mempunyai tujuan yang sama, yaitu meningkatkan produksi pangan. Selain itu kebijakan ini sangat sentralistik, dimana pemerintah mengatur dari hulu sampai hilir, dari proses pra produksi (Penyediaan sarana dan prasarana) dan
pasca produksi (pemasaran)7. Hal ini membuat pupuk, pestisida dan benih yang
merupakan hasil rekayasa manusia (buatan) yang diatur pemerintah wajib digunakan petani.
Pada saat itu program repelita ini bagi petani dirasa sangat menguntungkan. Karena petani dengan repelita bisa mendapatkan panen yang
7 Sepertihalnya munculnya BPSB (Badan Pengawasan dan Sertifikasi Benih) milik pemerintah pada tahun 1970-an. Hal ini yang mengharuskan petani menggunakan bibit yang sudah disertifikasi oleh BPSB. Selanjutnya hasil produksi dari benih ini yang dianggap layak dan legal dijual.
6
berlebih dan merasa nyaman dengan subsidi8 yang diberikan pemerintah. Jika
dilihat dari produksivitas panen tidak begitu mengurangi manfaat dari program repelita ini. Namun yang menjadi permasalahan adalah ketika subsidi ini dikurangi oleh pemerintah. Karena subsisdi ini awalnya menimbulkan ketergantungan bagi petani. Sepertihalnya yang terjadi pada pertanian unorganik di Desa Dowaluh. Mereka diharuskan membeli unsur pertanian tersebut, karena itu jalan satu-satunya untuk mendapatkannya. Kemudian ini menjadi pintu masuk kapitalisme pada pertanian unorganik. Perbedaan kemampuan secara ekonomi para petani akan menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial diantara mereka. Kehadiran Kapitalisme ini akan membahayakan kesejahteraan petani, karena akan memperbesar ketidaksamaan dan stratifikasi, serta semakin mendesak para petani ke dalam posisi yang terisolasi dan terpecah-pecah tanpa adanya asuransi dan perlindungan dari lembaga-lembaga tradisional mereka (Popkin, 1986: 5).
Selain itu kapitalisme ini akan memotong langsung “kulit” pembungkus adat-kebiasaan subsisten serta hak-hak sosial tradisional dan menggantikannya dengan kontrak-kontrak, pasar dan hukum-hukum yang seragam seperti halnya apa yang dikemukakan Scott dalam (Popkin, 1986: 6), sehingga pertanian unorganik ini nantinya akan merubah pertanian subsisten menjadi pertanian yang komersil. Dimana kebutuhan akan uang mendorong petani yang semula memproduksi hanya untuk memenuhi kebutuhan subsisten kemudian juga memproduksi untuk tujuan komersial. Dengan begitu petani dan pasar sudah saling terintegrasi. Ditambahkan lagi ketika pertanian unorganik ini masih terus
8
Beberapa unsur pertanian yang disubsidi oleh pemerintah diantaranya pupuk, pestisida dan benih.
7 berlangsung akan membuat petani lebih konsumtif dan menghilangkan kreatifitas bertani yang sebenarnya sudah dimiliki dalam unsur kebudayaan mereka sendiri.
Pertanian organik sebenarnya bisa dijadikan alternatif sistem pertanian di Indonesia. Pertanian organik sendiri merupakan sistem pertanian yang unsur pertaniannya bisa di produksi oleh petani (mandiri). Sehingga petani tidak harus mengeluarkan modal yang berlebih untuk membeli unsur pertanian seperti pada pertanian unorganik. Hal ini nantinya bisa menekan modal produksi petani, implikasinya petani akan mendapakan keuntungan yang lebih. Hal ini sangat memungkinkan bagi petani. Secara rasional dijelaskan oleh (Popkin, 1986: 15-18) bahwa petani tidak takut untuk mengambil resiko dan selalu melakukan berbagai tanggapan aktif atas munculnya berbagai peluan baru bagi upaya memaksimalkan keuntungan.
Pada dasarnya pertanian merupakan salah satu aktivitas manusia yang langsung berhubungan langsung dengan alam. Awalnya pertanian organik ini sendiri muncul dari gerakan lingkungan di negara barat. Faktor utama berkembangnya pertanian organik adalah keprihatinan beberapa pihak mengenai degradasi lingkungan yang ditimbulkan akibat penggunaan kimia pada pertanian. Dengan penerapan pertanian unorganik ini ternyata menyebabkan terjadinya krisis ekologi. Menurut perkataan (Shiva, 1997: 125) : “ pertanian reduksionis yang menggantikan masukan yang dapat diperbaharui dari ladang dengan masukan yang tidak dapat diperbaharui atau dari pabrik”. Pertanian organik sendiri merupakan pertanian yang berusaha memberikan “masukan” yang dapat
8 diperbaharui dari alam. Sehingga secara ekologi pertanian ini selain bisa memproduksi pangan, juga dapat melestarikan alam.
Sebenarnya ide dasar dari pertanian organik adalah upaya untuk mewujudkan apa yang disebut sebagai pertanian yang berkelanjutan (sustainable), yaitu suatu bentuk pertanian yang bersifat lestari. Seperti dalam (Gips dalam Rijntjes, et al., 1993 dalam Sutanto, 2005: 82) yang menyebutkan bahwa idealnya dalam sebuah pertanian berkelanjutan terdapat “ecologically sound, economically viable, socially just, humane and adaptable”. Krisis ekologi menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan pertanian, sedangkan kebutuhan akan pangan oleh manusia akan terus berlangsung bahkan cenderung meningkat. Karena itu, untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan pangan bagi manusia, dibutuhkan pembangunan pertanian yang bisa berlangsung lestari.
Pertanian organik sendiri pada dasarnya merupakan sebuah bentuk pertanian yang mandiri. Hal ini bisa dilihat dari pengadaan sarana produksinya. Dimana usaha tani ini mendorong para petani untuk menghasilkan sendiri sarana produksi pertanian. Para petani dalam usaha tani organik ini untuk menghasilkan sarana produksinya berangkat dari sistem pengetahuan lokal mereka, yaitu dengan pemanfaatan lingkungan alam untuk pemenuhan sarana produksi pertanian. Salah satunya bisa dilihat dari penggunaan bibit lokal dan pemanfaatan kotoran ternak sebagai bahan pemupukan tanaman. Penjelasan pengetahuan lokal ini sendiri mengacu pada seluruh sistem pengetahuan, termasuk konsep, kepercayaan dan persepsi, himpunan pengetahuan beserta proses perolehan, penambahan, penyimpanan dan penyebarannya (Chambers, 1987: 108).
9 Kemandirian akan sarana produksi pada pertanian organik ini merupakan salah satu wujud dari pembangunan yang dilakukan dari belakang. Dimana banyak hal yang bisa dilakukan petani untuk membangun pertaniannya berdasarnya kemampuan dari petani itu sendiri. Sedangkan bagi pemerintah pengetahuan lokal ini bisa dijadikan sebagai sumebr informasi untuk pembangunan para petani. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan sumber informasi dari petani untuk mengembangkan diri mereka sendiri. Seperti halnya Hugh Brammer dalam (Chambers, 1987: 120) menjelaskan bahwa “ sumber-sumber bakat dan informasi setempat yang dapat dimanfaatkan pemerintah untuk memperkuat dan meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan mereka sendiri”.
E. Metode Penelitian 1. Lokasi penelitian
Daerah yang menjadi lokasi penelitian disini adalah Desa Dowaluh, Kelurahan Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Pemilihan lokasi ini berdasarkan pada keadaan pertanian yang relevan dengan latar belakang penelitian
ini. Artinya pertanian organik di desa ini sedang mengalami penguatan9 di
tengah-tengah pertanian modern.
9
Hasil wawan cara dengan Pak Yaiz, salah satu warga dowaluh yang menggunakan pertanian organik. Wawancara ini dilakukan pada 16-01-2014.
10
2. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode penelitian etnografi. Penelitian etnografi sendiri merupakan metode penelitian kualitatif. Dalam etnografi biasanya melakukan pendekatan secara holistik dan mendiskripsikannya secara mendalam atau menditeil untuk memperoleh native’s point of view. Serta metode pengumpulan data yang digunakan biasanya wawancara mendalam (depth interview) dan obserpasi partisipasi dimana metode pengumpulan data ini sangat sesuai dengan tujuan awal yaitu mendeskripsiakan secara mendalam (Marzali, 2005: 42).
Selain itu Spradley (1997) dalam tulisannya mengatakan, bahwa dalam melakukan penelitian etnografi, peneliti dapat melakukan berbagai metode secara bersamaan. Selain observasi partisipasi, peneliti dapat melakukan wawancara. Dalam artiannya Wawancara etnografis merupakan jenis peristiwa percakapan (speech event) yang khusus (Spradley, 1997: 71). Tiga unsur yang penting dalam wawancara etnografis adalah tujuan yang eksplisit, penjelasan, dan pertanyaannya yang bersifat etnografis.
Wawancara sendiri dalam sebuah etnografi terbagi menjadi dua, wawan cara terstruktur dan tidak terstruktur. Seperti pada (Koentjaraningrat, 1977: 129) menyumbangkan dua metode wawancara dalam melakukan penelitian etnografi yaitu wawancara lepas yang tidak terstruktur dan wawancara terstruktur. Wawancara tidak terstruktur didapatkan melalui obrolan sehari-hari saat berjumpa dengan para pemuda, orang tua pemuda, dan beberapa masyarakat. Wawancara
11 terstruktur adalah wawancara dengan menggunakan pertanyaan yang sebelumnya telah disusun oleh peneliti.
3. Pemilihan Informan
Informan menjadi sebuah bagian yang penting bagi sebuah penelitian. Informan merupakan sumber informasi; secara harafiah, mereka menjadi guru bagi etnografer (Spradley, 1997: 35). Pada dasarnya tema umum penelitian ini akan melihat tentang penguatan pertanian organik dan bagaimana pertanian organik ini bagi kehidupan petani yang menggunakannya. Dengan begitu pemilhan informan akan disesuaikan dengan tema umum dari penelitian ini.
Dalam penelitian ini, informan akan dipilih dengan beberapa kategori. Diantaranya; petani yang menggunakan pertanian organik,petani yang menggunakan pertanian organik dengan skala pendapatan menengah ke-atas dan ke-bawah, petani organik yang baru saja menggunakan pertanian organik, dan petani yang sudah lama menggunakan pertanian organik. Masyarakat dengan kategori yang relevan tidak semuanya akan menjadi informan. Pemilihan informan dalam masyarakat ini merupakan individu kunci dan beberapa individu yang dianggap perlu. Spradley (1997) menyebut tehnik ini sebagai snowballing, di mana informasi didapatkan dari informan terpilih atau informan kunci.
Selanjutnya penentuan informan ini selain beberapa kategori di atas, ada beberapa kategori khusus yang haru dipenui. Spradley menyebutkan ada lima syarat yang disarankan untuk memilih informan yang baik, yaitu: (1) enkulturasi penuh, (2) keterlibatan langsung, (3) suasana budaya yang tidak dikenal, (4) waktu yang cukup, (5) non-analitis.
12
F. Analisis Data
Perolehan data dari observasi dan wawancara di daerah penelitian akan dikelompokkan jadi satu sebagai data primer. Data primer ini natinya akan dianalisa dengan beberapa metode yang relevan. Analisis data ini menggunakan metode deskriptif. Metode ini mencoba mendeskripsikan dan menginterpretasikan apa yang ada, baik kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang telah berlangsung dan berkembang. Dengan kata lain metode deskriptif adalah memberikan gambaran yang jelas dan akurat tentang material atau fenomena yang diselidiki.
Selanjutnya data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian yang sudah dibukukan, jurnal dan buku akan menjadi penunjang data primer. Penempatan data sekunder dalam penelitian ini menjadi sarana untuk menganalisa data dengan metode komparatif. Metode ini dalam analisanya dengan membandingkan dua atau lebih pendapat yang ada dengan melihat argumentasinya. Misalnya membandingkan pemikiran seorang ahli dengan ahli lainnya dalam suatu bidang yang diteliti. Metode komparasi juga dapat berarti membandingkan kesamaan dan perbedaan terhadap kasus, peristiwa, ataupun terhadap ide-ide yang berkaitan dengan suatu konsep yang dijadikan penelitian. Dengan begitu analisa dari data primer yang di dukung oleh data sekunder diharapkan akan memperoleh kesimpulan yang baik dari penelitian ini. Selain itu pendekatan yang akan saya gunakan adalah pendekatan ekonomi moral, ekologi dan rasionalitas.