• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI. selain berfungsi untuk menyusun landasan atau kerangka teori. Kajian pustaka juga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI. selain berfungsi untuk menyusun landasan atau kerangka teori. Kajian pustaka juga"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

Kajian pustaka di dalam sebuah penelitian penting untuk dideskripsikan, selain berfungsi untuk menyusun landasan atau kerangka teori. Kajian pustaka juga berfungsi untuk mengetahui kedudukan penelitian disamping penelitian lain yang relevan (Chaer, 2007:26). Penelitian yang terdahulu akan digunakan sebagai bahan pembanding dan pertimbangan guna melengkapi penelitian mengenai alih kode pada teks lagu pop Bali bilingual. Penelitian mengenai interferensi dan penelitian mengenai lagu pop Bali cukup banyak serta dijadikan bahan perbandingan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Penelitian mengenai alih kode dilakukan oleh Dadiartha (1985) dengan penelitian yang berjudul “Alih Kode Pemakaian Bahasa Indonesia oleh Dosen-Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana”. Penelitian tersebut menggunakan teori sosiolinguistik dengan pendekatan fungsional. Teori tersebut menyoroti masalah kebahasaan yang saling berkaitan antara proses pemilihan bahasa daan kebiasaan atau kegiatan-kegiatan sosial dalam kehidupan sehari-hari, saat berlangsungnya komunikasi antar masyarakat penutur suatu bahasa. Penelitian Dadiartha menggambarkan bahwa para dosen di Fakultas Sastra Universitas Udayana lebih banyak beralih kode ke bahasa Bali daripada ke bahasa daerah lainnya. Hal tersebut dikarenakan dosen-dosen di Fakultas Sastra Universitas Udayana

(2)

10

sebagian besar berasal dari daerah Bali sehingga kurang menguasai bahasa daerah lain. Pada penelitian ini, dosen-dosen Fakultas Sastra Udayana digolongkan sebagai kelompok dwibahasawan. Hal itu dibuktikan dengan munculnya fenomena alih kode yang dilakukan oleh para dosen pada saat mengajar mahasiswa. Peralihan yang dimaksud, yaitu adanya pemakaian bahasa Bali dalam tutur bahasa Indonesia dan adanya pemakaian bahasa Inggris dalam tutur bahasa Indonesia. Konsep alih kode yang dipakai di dalam penelitian ini adalah konsep yang dikemukakan oleh Hymes. Alih kode didefiniskan sebagai peralihan pemakaian bahasa ke bahasa lain dan pemakaian bahasa itu terjadi peralihan beberapa variasi dari satu bahasa atau bahkan beberapa gaya dari satu ragam (Hymes, 1976:103).

Adapun perbedaan pada penelitian Dadiartha dengan penelitian ini terletak pada wilayah garapan, dan objek yang dibahas. Jika pada penelitian Dadiartha membahas peralihan bahasa yang dilakukan oleh para dosen-dosen Fakultas Sastra Udayana, sedangkan pada penelitian ini mengkaji mengenai peralihan bahasa pada teks-teks lagu pop Bali bilingual.

2) Penelitian kedua mengenai bentuk teks lagu pop Bali pernah dilakukan oleh Antari (2004) yang berjudul “Kajian Bentuk, Fungsi, dan Makna Teks Lagu Pop Bali”. dalam penelitiannya dijelaskan bahwa lagu pop Bali memiliki bentuk puisi berbahasa Bali yang dimusikalisasikan dengan paduan nada pentatonic dan diatonik, dengan paduan komposisi laras pelog dan selendro yang harmonis. Pemanfaatan bentuk-bentuk majas tradisional Bali seperti wewangsalan,

(3)

11

sesonggan, tetingkesan, peparikan, sesimbing, dan sesenggakan efektif dalam menajamkan kekhasan citra budaya Bali dan realitas sosial masyarakat Bali pada teks lau pop Bali. Disamping itu dipaparkan pula mengenai fungsi lagu pop Bali secara umum berfungsi sebagai sarana hiburan pada masyarakat Bali. Lagu pop Bali mengandung makna denotatif, konotatif, budaya dan makna spiritual.

Adapun perbedaan pada penelitian Antari dengan penelitian ini terletak pada masalah serta objek yang dibahas. Penelitian Antari menggunakan objek yang sama dengan penelitian ini yaitu sama-sama menggunakan objek lagu pop Bali, namun pada penelitian ini menggunakan objek lagu-lagu pop Bali bilingual yang menggunakan dua bahasa, dan Antari menggunakan lagu-lagu pop Bali yang hanya menggunakan satu bahasa yaitu bahasa Bali. Perbedaannya juga terletak pada analisisnya, penelitian Antari menganalisis bentuk, fungsi dan makna teks lagu pop Bali, jika penelitian kali ini menganalisis mengenai alih kode atau peralihan bahasa yang terjadi pada teks lagu pop Bali bilingual.

3) Penelitian yang ditulis oleh Satwika (2009) yang berjudul “Alih Kode Dalam Pementasan Wayang Cenk Blonk”, penelitian ini menggunakan teori sosiolinguistik yang mengacu pada konsep-konsep yang terkait dengan alih kode. Pada tahap penyediaan data menggunakan metode simak yang dibantu teknik catat. Tahap analisis menggunakan metode padan intralingual dan metode padan ekstralingual dibantu dengan teknik hubung-banding menyamakan, teknik hubung-banding membedakan dan teknik hubung-banding menyamakan hal pokok. Penyajian hasil analisis menggunakan metode formal dan informal dibantu

(4)

12

dengan teknik deduktif dan induktif. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu ditemukan 4 macam alih kode yakni alih kode keluar, alih kode ke dalam, alih kode metaporik dan alih kode situasional. Wujud dan arah alih kode dalam pementasan wayang cenk blonk yaitu alih tingkat tutur dan alih bahasa. Sedangkan alih bahasanya ada 6 yaitu alih bahasa dari bahasa Bali ke bahasa Jawa Kuna, dari bahasa Jawa Kuna ke bahasa Bali, dari bahasa Bali ke bahasa Indonesia, dari bahasa Indonesia ke bahasa Bali, dari bahasa Bali ke bahasa Inggris, dan dari bahasa Inggris ke bahasa Bali. Peristiwa alih kode dalam pementasan wayang Cenk Blonk disebabkan oleh perubahan topik pembicaraan, untuk mencapai maksud-maksud tertentu.

Adapun perbedaan pada penelitian Satwika dengan penelitian kali ini terletak pada objek yang dibahas. Jika pada penelitian Satwika membahas peralihan bahasa yang terjadi pada pementasan wayang cenk blonk, sedangkan pada penelitian ini mengkaji mengenai peralihan bahasa pada teks-teks lagu pop Bali bilingual. Perbedaannya juga terletak pada cara menganalisis, penelitian Satwika mengkaji peralihan bahasa pada macam alih kode yaitu alih kode keluar dan alih kode kedalam, serta wujud dan arah alih kode yaitu tingkat tutur dan alih bahasa. Jika penelitian kali ini juga mengkaji macam alih kode yaitu alih kode kedalam dan keluar, wujud dan arah alih kode yaitu alih bahasa, serta penelitian ini lebih spesifik lagi menganalisis mengenai bentuk alih kode yaitu tataran klausa dan kalimat, sedangkan penelitian Satwika tidak menganalisis bentuk klausa dan kalimat.

(5)

13

4) Penelitian mengenai lagu pop Bali juga dilakukan oleh Manuaba (2011) dengan penelitian yang berjudul “Campur Kode Pemakaian Bahasa Bali Pada Teks Lagu Pop Bali”. Penelitian yang dilakukan oleh Ida Ayu Swarina Manuaba yang menggunakan objek berupa campur kode pemakaian bahasa bali pada teks lagu pop bali yang meliputi ciri campur kode pada teks lagu pop bali, identifikasi penempatan campur kode pada teks lagu pop bali, jenis campur kode menurut asal serapannya, campur kode berdasarkan wujudnya dan campur kode berdasarkan faktor penyebabnya. Teori yang digunakan adalah teori sosiolinguistik yang dikemukakan oleh Nababan, yang mengacu pada konsep yang terkait dengan campur kode. Pada tahap penyediaan data menggunakan metode simak dan metode cakap yang dibantu dengan teknik rekam dan teknik catat. Pada penelitian ini tahap analisis menggunakan metode padan dengan subjenis metode padan yang dipilih yaitu metode padan translasional. Pada tahap penyajian hasil analisis menggunakan metode formal dan informal dibantu dengan teknik deduktif dan induktif.

Perbedaan penelitian Manuaba dengan penelitian Alih Kode Pada Teks Lagu Pop Bali Bilingual ini adalah pada tataran analisisnya. Manuaba menggunakan konsep campur kode sedangkan penelitian ini menggunakan konsep alih kode. Penelitian kali ini juga mengkaji mengenai struktur pembentukan teks lagu pop Bali bilingual beserta fungsinya, namun penelitian Manuaba tidak mengkaji mengenai fungsi-fungsi pada lagu pop Bali.

(6)

14

Adapun keempat penelitian di atas memiliki objek kajian yang hampir sama dengan penelitian yang berjudul “Alih Kode Pada Teks Lagu Pop Bali Bilingual” ini yang membahas mengenai fenomena penggantian peralihan pemakaian bahasa, serta sama-sama menggunakan teori sosiolinguistik. Perbedaan yang mendasar antara penelitian-penelitian pertama hingga penelitian yang kedua yang dilakukan ini terletak pada konsep yang dipergunakan, wilayah garapan, dan masalah yang dibahas. Penelitian yang dilakukan oleh Manuaba memiliki kesamaan dengan penelitian alih kode pada teks lagu pop Bali bilingual yang sama-sama menggunakan objek teks lagu pop Bali. Namun penelitian Manuaba lebih khusus menitikberatkan pada analisis campur kode saja yang menganalisis pada tataran kata dan frasa. Hal yang membedakannya adalah pada tataran analisisnya yaitu alih kode yang menganalisis pada tataran klausa dan kalimat.

Meskipun demikian, keempat penelitian di atas sudah cukup baik karena memiliki perbedaan-perbedaan dan juga persamaan-persamaan dalam analisisnya. Maka dari itu, dalam penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya belum ada secara eksplisit membahas tentang peralihan bahasa pada teks lagu pop Bali bilingual. Namun hasil penelitian tersebut sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai acuan berkenaan dengan dinamika lagu Bali pada era selanjutnya.

2.2 Konsep

Menurut Efendi (1995:34) konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu, sehingga dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama. Dalam kenyataannya, konsep dapat mempunyai tingkat generalisasi yang

(7)

15

berbeda. Semakin dekat suatu konsep kepada realita semakin mudah konsep tersebut diukur dan diartikan. Adapun konsep mempunyai fungsi untuk menyederhanakan arti kata atau pemikiran tentang ide-ide, hal-hal dan kata benda-benda maupun gejala sosial yang digunakan, agar orang lain yang membacanya dapat segera memahami maksudnya sesuai dengan keinginan penulis yang memakai konsep tersebut (Mardalis, 1995:46). Jadi konsep dapat berupa pemikiran yang berkaitan dengan permasalahan yang diambil. Konsep dapat juga berupa uraian dari pengertian-pengertian mengenai alih kode dan penyebab terjadinya alih kode. Hal ini dikarenakan dalam penelitian ini yang terjadi pokok permasalahan adalah alih kode itu sendiri. Adanya konsep-konsep yang terarah akan memudahkan dalam memahami sebab-akibat yang muncul dari adanya alih kode pada teks lagu pop Bali bilingual, sebagai berikut.

2.2.1 Teks Lagu Pop Bali Bilingual

Teks/Lirik lagu adalah ekspresi tentang sesuatu hal yang dilihat atau didengar seseorang atau yang dialaminya. Dengan melakukan permainan kata serta bahasa untuk menciptakan daya tarik dan kekhasan terhadap lirik lagu yang dilakukan oleh seorang pencipta lagu. Seperti permainan vokal gaya bahasa dan penyimpangan makna kata merupakan permainan bahasa dalam menciptakan lirik lagu. Selain itu juga notasi musik dan melodi yang disesuaikan dengan lirik digunakan untuk memperkuat lirik, sehingga pendengar semakin terbawa dengan apa yang dipikirkan pengarangnya (Wikipedia).

(8)

16

Pop musik (sebuah istilah yang awalnya berasal dari sebuah singkatan dari „populer‟) biasanya dipahami secara komersial rekaman musik, sering berorientasi menuju pasar remaja, lagu-lagu cinta sederhana dengan inovasi teknologi untuk menghasilkan variasi baru yang ada tema. Musik pop telah menyerap pengaruh dari bentuk-bentuk lain kebanyakan musik populer. Istilah „lagu pop‟ pertama kali tercatat sebagai yang digunakan pada tahun 1962 dalam arti sepotong musik „memiliki daya tarik populer‟ (Wikipedia).

Lagu pop Bali adalah lagu berirama pop yang berbahasa Bali yang dipakai oleh masyarakat umum sehari-hari. Menurut Antari (2004:19) dalam tesisnya menyatakan lagu pop Bali berbentuk hampir menyerupai puisi modern karena bahasanya sederhana sehingga mudah dimengerti, rimanya bebas, isinya sesuai dengan perkembangan kehidupan sosial masyarakat modern. Aransmen musik yang khas ini ditunjang oleh alat-alat musik tradisional Bali dan musik modern.

Istilah bilingualisme (Inggris:bilingualism) dalam bahasa indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilah secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Sosiolinguitik secara umum, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa atau lebih seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962:12, Fishman 1975:73).

Maka dari pemaparan diatas, disimpulkan bahwa teks lagu pop Bali bilingual adalah jenis lagu yang syair-syairnya menggunakan dua bahasa atau lebih dengan komposisi bahasa Bali dengan bahasa Indonesia maupun bahasa asing dan

(9)

17

menggunakan iringan musik modern yang tergolong jenis musik populer yang memiliki satu kesatuan makna.

2.2.2 Alih Kode

Alih Kode didefinisikan sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi (Appel, 1976:99). Hymes (1976:103) menyatakan alih kode sebagai pergantian atau peralihan dua bahasa atau lebih, beberapa variasi dari satu bahasa atau bahkan beberapa gaya dari satu ragam. Pendapat tersebut senada dengan Kridalaksana. Menurut Kridalaksana (1982:7) alih kode didefinisikan sebagai pengguanaan variasi bahasa lain atau bahasa lain untuk menyesuaikan diri dengan peran atau situasi lain atau karena adanya partisipasi lain.

Nababan dalam bukunya yang berjudul Sosiolinguistik (1991:31) memberikan penjelasan bahwa alih kode adalah penggantian bahasa atau ragam bahasa yang tergantung pada keadaan atau keperluan berbahasa itu, dan mencakup juga kejadian dimana kita beralih dari satu ragam fungsiolek (umpamanya ragam santai) ke ragam yang lain (umpamanya ragam formal), atau dari suatu dialek ke dialek yang lain.

Alih kode pada hakikatnya salah satu aspek tentang saling ketergantungan di dalam masyarakat multilingual. Artinya di dalam masyarakat multilingual hampir tidak mungkin seorang penutur menggunakan satu bahasa secara mutlak murni tanpa memanfaatkan bahasa lain. Dengan demikian, di dalam alih kode penggunaan dua bahasa atau lebih itu ditandai oleh (1) tiap-tiap bahasa masih mendukung fungsi-fungsi tersendiri sesuai dengan konteks dan (2) tiap-tiap bahasa berfungsi-fungsi sesuai dengan situasi yang relevan dengan perubahan konteks.

(10)

18

Beberapa konsep alih kode yang dikemukakan oleh para ahli bahasa tersebut cukup bervariasi, namun pada dasarnya sama. Hymes dan Kridalaksana sama-sama menyatakan alih kode sebagai pergantian beberapa variasi atau bahasa lain. Appel lebih menekankan situasi sebagai penyebab terjadinya alih kode.

Jendra (1988:111), membedakan alih kode dengan campur kode dilihat pada tingkat tataran bahasa dan fungsi bahasa. Jika dalam alih kode fungsi bahasa yang menyusup tetap utuh karena batas ruang lingkupnya yang terendah klausa dan tertinggi adalah wacana, pada fenomena campur kode fungsi-fungsi bahasa yang menyusup hilang datau menyatu dengan unsur bahasa yang disisipi dan ruang lingkupnya terendah adalah kata dan tertinggi adalah klausa. Peristiwa campur kode terjadi karena adanya kontak bahasa yang timbul akibat adanya hubungan timbal balik antar bahasa. Alih kode memiliki persamaan dengan peristiwa campur kode. Thelander (1976) memberikan pengertian tentang campur kode yaitu pencampuran atau kombinasi antara variasi-variasi yang berbeda.

Uraian di atas akan memberi petunjuk bahwa alih kode memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan campur kode. Jendra dalam bukunya dasar-dasar sosiolinguistik (1991:121-122) memaparkan ciri-ciri alih kode. Berikut ini akan dipaparkan ciri-ciri tersebut:

1) Alih kode itu terjadi akibat adanya kontak bahasa dan saling ketergantungan bahasa (language dependency)

2) Alih kode itu akan terjadi jika masyarakatnya atau peserta pembicaranya adalah orang-orang yang bilingual atau multilingual dan atau diglosik. Hal ini disebabkan syarat yang dituntut oleh pengertian alih kode itu sendiri yaitu pembicaraan yang beralih dari satu kode ke kode yang lain. Kode itu adalah salah

(11)

19

satu varian di dalam tataran bahasa. Dengan demikian perlihan kode di sini dimaksudkan bisa beralih bahasa, varian, gaya, ragam atau dialek.

3) Di dalam alih kode pemakaian bahasa atau kode itu masih mendukung fungsinya sendiri-sendiri sesuai dengan isi (konteks) yang dipendamnya.

4) Fungsi tiap-tiap bahasa atau kode disesuaikan dengan situasi yang terkait dengan perubahan isi pembicaraan.

5) Alih kode itu terjadi disebabkan tuntutan yang berlatar belakang tertentu, baik yang ada pada diri penutur orang pertama, orang kedua dan situasi yang mewadahi terjadinya pembicaraan itu. Bagian ciri ini akan dibicarakan tersendiri sebagai latar belakang terjadinya alih kode.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, adapun persamaan antara alih kode dengan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazim terjadi dalam masyarakat billingual dan menggunakan dua bahasa atau lebih, sedangkan perbedaannya yaitu, pada pada alih kode, ada kondisi yang menuntut penutur untuk beralih kode, sedangkan campur kode tidak ada kondisi yang menuntut terjadinya peristiwa campur kode.

Penelitian ini lebih cenderung menggunakan konsep alih kode yang dikemukakan oleh Nababan dan Jendra. Pemilihan konsep itu berdasar pada suatu realitas bahwa peralihan bahasa yang dilakukan oleh seseorang pada dasarnya karena beberapa hal yang akan dipaparkan pada analisis data.

2.3 Landasan Teori

Secara etimologi teori berarti kontemplasi terhadap cosmos dan realitas. Pada tataran yang lebih luas, dalam hubungannya dengan bidang keilmuan teori berarti perangkat pengertian, konsep proposisi yang menpunyai korelasi dan telah teruji kebenarannya (Ratna, 2009:1). Teori berfungsi sebagai suatu sarana untuk memecahkan permasalahan dalam melakukan penelitian. Sebagai bentuk kegiatan

(12)

20

ilmiah, teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan penelitian. Teori yang digunakan haruslah sesuai dengan objek analisis dalam suatu penelitian.

Untuk menganalisis peristiwa alih kode maka teori yang dipakai yaitu teori sosiolinguistik. Istilah sosiolinguistik terdiri dari dua unsur yaitu sosio dan linguistik. Kegunaan teori linguistik adalah untuk mengkaji struktur klausa dan kalimat: untuk menentukan unsur-unsur yang membentuk atau membangun struktur tersebut. Dan unsur sosio seakar dengan sosial, yaitu yang berhubungan dengan masyarakat, dan fungsi-fungsi kemasyarakatan. Jadi, sosiolinguistik ialah studi atau pembahasan dari bahasa sehubungan dengan penutur bahasa itu sebagai anggota masyarakat. Boleh juga dikatakan bahwa sosiolinguistik mempelajari dan membahas aspek-aspek kemasyarakatan bahasa, khususnya perbedaan-perbedaan (variasi) yang terdapat dalam bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan (Nababan, 1991:2)

Hymes salah seorang tokoh sosiolingusitik menyebutkan adanya unsur-unsur dalam setiap terjadinya hubungan berbahasa. Unsur-unsur tersebut disingkat dakam bentuk akronim, yaitu SPEAKING. Adapun unsur tersebut adalah Setting and Scene (tempat dan waktu), participants (peserta pembicaraan), ends (hasil pembicaraan), act sequence (amanat), key (cara), instrumentalitis (sarana), norms (norma), genres (jenis). Yang dimaksud dengan setting dan scene adalah waktu dan tempat tutur itu berlangsung, participants adalah peserta dalam pembicaraan, act seqweneces adalah bentuk tuturan dan isi ujaran. Key adalah nada, cara dan semangat yakni suatu pesan yang dapat ditunjukkan dengan gerak tubuh dan isyarat. Instrumentalitis adalah jalur

(13)

21

bahasa yang digunakan seperti bahasa, dialek, agam, atau register. Norms adalah norma atau aturan dalam berinteraksi yang juga mengacu pada norma penafsiran terhadap ujaran dari lawan bicara, dan yang terakhir yaitu genres yaitu bentuk penyampaian seperti puisi, narasi, pepatah, dan sebagainya (dalam Jendra, 1991:61).

Selain itu, penelitian ini juga mengunakan teori fungsi-fungsi bahasa. Chaer (2004:15-17) mengutip beberapa pendapat mengenai fungsi bahasa, antara lain sebagai berikut :

1) Fungsi personal atau pribadi (Haliday 1973, Finnocchiaro 1974, Jakobson 1960, menyebutkan sebagai fungsi emotif yaitu si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkan, bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya.

2) Fungsi direktif (Finnocchiaro 1974, Halliday 1973 menyebutnya fungsi instrumental, dan Jakobson 1960, menyebutnya fungsi retorikal) yaitu digunakan untuk mengatur tingkah laku pendengar. Dalamfungsi ini tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang diinginkan pembicara.

3) Fungsi fatik (Jakobson 1960, Finnocchiaro 1974 menyebutnya interpersonal, dan Halliday 1973 menyebutnya interactional) yaitu fungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan bersahabat, atau solidaritas sosial.

4) Fungsi referensial (Finnocchiaro 1974, Halliday 1973 menyebutkannya representational, Jakobson 1960 menyebutnya fungsi informative). Fungsi bahasa

(14)

22

dalam hal ini yaitu sebagai alat membicarakan abjek atau peristiwa yang ada di sekekliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya.

5) Fungsi metalingual atau metalinguistik (Jakobson 1960, Finnocchiaro 1974) yaitu jika bahasa digunakan untuk membicarakan bahasa-bahasa itu sendiri, atau membicarakan atau menjelaskan bahasa.

6) Fungsi Imaginatif (Halliday 1973, Finnocchiaro 1974, Jakobson 1960 untuk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan, baik yang sebenarnya, maupun yang cuma imajinasi (khayalan, rekaan) saja.

Untuk menganalisis bentuk teks lagu pop Bali bilingual maka diterapkan teori puisi, karena teks lagu pop Bali bilingual memiliki bentuk yang hampir sama atau hampir menyerupai bentuk puisi. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Jan van Luxemburg (1989) yaitu mendefinisikan mengenai teks-teks puisi tidak hanya mencakup jenis-jenis sastra melainkan juga ungkapan yang bersifat pepatah, pesan iklan, semboyan-semboyan politik, syair-syair lagu pop dan doa-doa (dalam Antari, 2004). Seperti yang dikemukakan dalam buku Pengkajian Puisi karya Rachmat Djoko Pradopo, puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting dan digubah dalam wujud yang berkesan. Sama halnya dengan puisi, teks lagu pop Bali bilingual juga dibuat berdasarkan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia, tidak terikat oleh konvensi-konvensi seperti puisi tradisional, memiliki rima yang bebas. Adapun hal yang membedakannya itu ialah kualitas puitisnya, jika pada teks lagu pop Bali bilingual menggunakan iringan musik (tangga nada), tidak ada pemendekat atau pemadatan kata seperti puisi, jarang ada kata-kata abstrak atau

(15)

23

makna denotatif, dan tidak adanya suatu keharusan menggunakan kata-kata puitis seperti bait-bait puisi. Metode pembentukan puisi terdiri dari unsur-unsur berupa diksi atau pemilihan kata, imajinasi, kata nyata, majas, ritme dan irama (Tarigan, 1985:28).

Berdasarkan uraian beberapa teori yang telah dikemukakan, maka yang akan dijadikan pegangan untuk menganalisis bentuk dan peristiwa alih kode pemakaian lagu pop Bali bilingual, yaitu teori sosiolinguistik yang dikemukakan oleh Nababan yang membahas bahasa sehubungan dengan penutur itu sebagai anggota masyarakat. Selain itu, adanya peralihan bahasa pada teks lagu pop Bali bilingual didasari oleh adanya beberapa unsur yang menentukan yaitu participants (peserta pembicaraan), ends (hasil pembicaraan), act sequence (amanat), key (cara), genres (jenis). Peralihan dari bahasa Bali ke bahasa lain dalam teks lagu pop Bali bilingual tentunya didasari oleh beberapa fungsi. Adapun fungsi bahasa yang digunakan sebagai landasan teori untuk menganalisis peristiwa alih kode dalam teks lagu pop Bali bilingual adalah fungsi personal atau fungsi emotif, fungsi referensial, fungsi metalinguistik, dan fungsi imajinatif. Untuk menganalisis bentuk teks lagu pop Bali bilingual, maka akan digunakan teori puisi dari Djoko Pradopo yang mencakup metode pembentukan puisi yang terdiri dari diksi, imajinasi, kata nyata, majas, ritme, dan rima, serta fungsi-fungsi dari teks lagu pop Bali bilingual.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian Putra merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk mengungkapkan bahwa melalui penerapan media foto dapat meningkatkan kemampuan membaca kata berakasara

Persamaan dengan penelitian Sri Astuti adalah sama sama fokus ke persepsi, hanya yang diteliti wisatawan mancanegara terhadap produk pariwisata Bali,

Priyatna (2013: 70) menjelaskan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara

Menurut Drezner (2002), konsumen tidak bereaksi terhadap realitas melainkan terhadap apa yang mereka anggap sebagai realitas, sehingga citra merek dilihat sebagai

Kualitas pelaporan keuangan adalah informasi yang lengkap dan transparan, dirancang tidak menyesatkan kepada pengguna (Jonas dan Blanchett, 2000). Laporan keuangan

Kelebihan dari penelitian kali ini adalah lebih menekankan adanya nilai budaya gimudan jenis-jenis gimu yang ada dalam kehidupan masyarakat Jepang, khususnya dalam

  Sebagai suatu ekspresi grafis, sebuah identitas perusahaan dapat diciptakan dan mempengaruhi nasib dari perusahaan tersebut Sebuah corporate identity yang efektif

Juga menurut Stair dan Reynolds (2006 : 6) mengemukakan bahwa: “Sistem informasi akuntansi sebagai alat yang digunakan manajemen dalam suatu budaya organisasi untuk memberikan