ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR- FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN

71 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

commit to user

i

ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI

KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN

SKRIPSI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan

guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian

di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret

Program Studi Agribisnis

Oleh :

Bagus Indra Dwi Saputra

H 0808011

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI

KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN

Oleh:

BAGUS INDRA DWI SAPUTRA

H0808011

telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

pada tanggal:

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Tim Penguji

Ketua

Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS NIP. 19570104 198003 2 001

Anggota I

Ir. Sugiharti Mulya H. MP NIP. 19650626 199003 2 001

Anggota II

Ir. Suprapto NIP.19500612 198003 2 001

Surakarta,

Mengetahui

Universitas Sebelas Maret Fakultas Pertanian

Dekan

(3)

commit to user

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat

dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Analisis

Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Jagung Di

Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan”.

Usaha dan upaya untuk melakukan yang terbaik atas setiap kerja

menjadikan akhir dari pelaksanaan penelitian terwujud dalam bentuk penulisan

skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

memperoleh derajat Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas

Maret Surakarta.

Penyusunan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih

kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan baik moril maupun

materiil kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini.

Ucapan terima kasih ini penulis tujukan terutama kepada :

1. Allah SWT atas segalanya yang telah diberikan kepada penulis.

2. Bapak Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS. selaku Dekan Fakultas

Pertanian UNS Surakarta.

3. Bapak Dr. Ir. Mohd. Harisudin, M.Si selaku Ketua Program Studi Agribisnis

Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Ibu Nuning Setyowati, SP, M.Sc selaku Ketua Komisi Sarjana Program Studi

Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

5. Ibu Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS. selaku selaku Dosen Pembimbing

Utama Skripsi yang dengan kasih selalu memberikan pengarahan, nasehat,

perhatian dan petunjuk kepada penulis.

6. Ibu Ir. Sugiharti Mulya Handayani, M.P. selaku selaku Pembimbing

Pendamping Skripsi sekaligus Dosen Pembimbing Akademik yang selalu

memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi kepada penulis.

7. Bapak/Ibu Dosen serta seluruh staff/karyawan Fakultas Pertanian Universitas

(4)

commit to user

iv

selama menempuh perkuliahan di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas

Maret Surakarta.

8. Bapak dan Ibu tercinta, Tri wahyu Lestari dan Andina Eka Pratiwi serta

segenap keluarga di rumah yang telah memberi segenap perhatian, doa,

pengorbanan, kasih sayang, dukungan materi dan spiritual kepada penulis.

9. Bappeda Kabupaten Grobogan, Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Serta

Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan yang talah memberikan ijin

penelitian serta menyediakan data-data yang diperlukan penulis.

10.Kantor Kecamatan Geyer, dan petani responden di Desa Jambangan dan Desa

Ngrandu atas bantuan kepada penulis selama penelitian.

11.Bapak Kepala Desa yang sudah memberikan tempat menginap selama

penelitian.

12.Sischa Yuli Hartanti yang senantiasa memberikan doa, dukungan, bantuan dan

motivasi untuk selalu berjuang kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi.

13.Sahabat-sahabat penulis Mas Nur, Mas Nanda, Abid, Ragil, Riana, Diyah

Pepe, Heri, Puput, Mesti dan Bundo yang telah memberi dukungan, semangat,

dan doanya selama ini.

14.Semua pihak yang telah membantu penulis dalam mengembangkan diri dan

membantu penulisan skripsi ini baik moril maupun materiil.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini

baik dari segi penyajian maupun pembahasannya. Oleh karena itu, penulis sangat

mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi yang jauh dari sempurna ini dapat

memberikan manfaat sekaligus menambah pengetahuan bagi penulis sendiri

khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin.

Surakarta, Desember 2012

(5)

commit to user

3. Produksi, Faktor Produksi dan Fungsi Produksi ... 9

4. Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-faktor Produksi ... 11

C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah ... 12

D. Hipotesis ... 15

III. METODE PENELITIAN ... 16

A. Metode Dasar Penelitian ... 16

B. Metode Penentuan Sampel ... 16

1. Metode Penentuan Lokasi Penelitian ... 16

2. Metode Pengambilan Sampel Responden ... 17

(6)

commit to user

vi

1. Analisis Pendapatan Usahatani ... 21

2. Analisis Hubungan Faktor-faktor Produksi terhadap Produksi ... 21

3. Analisis Asumsi Klasik ... 24

4. Analisis Tingkat Efisiensi Ekonomi ... 25

IV.KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN ... 27

A. Kondisi Geografis ... 27

1. Lokasi Daerah Penelitian ... 27

2. Topografi Daerah ... 28

3. Keadaan Iklim ... 28

B. Keadaan Penduduk ... 29

1. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur dan jenis Kelamin 29 2. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan ... 30

3. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian ... 32

C. KondisiPertanian ... 32

1. Tata Guna Lahan ... 32

2. Produksi Tanaman Pangan ... 34

V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 35

A. Hasil Penelitian ... 35

1. Identitas Petani Sampel ... 35

2. Budidaya Tanaman Jagung ... 36

3. Penggunaan Sarana Produksi dan Tenaga Kerja Usahatani Jagung ... 40

B. Analisis Regresi Fungsi Produksi Cobb-Douglas ... 42

1. Hubungan Faktor-faktor Produksi dengan Hasil Produksi Jagung ... 42

2. Pengaruh Faktor-faktor Produksi terhadap Produksi Jagung ... 43

C. Pengujian Asumsi Klasik... 46

D. Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-faktor Produksi pada Usahatani Jagung ... 47

E. Analisis Usahatani Jagung ... 48

VI. PEMBAHASAN ... 53

1. Penggunaan Faktor-faktor Produksi pada Usahatani Jagung ... 53

2. Biaya, Penerimaan, dan Pendapatan Usahatani Jagung ... 56

(7)

commit to user

vii

DAFTAR TABEL

No Tabel Judul Halaman

1. Luas panen dan Produksi Jagung di 19 Kecamatan

Penghasil Jagung Di Kabupaten Grobogan tahun 2010... 2

2. Jumlah Petani Sampel Kabupaten Grobogan dan

Kecamatan Geyer. ... 20

3. Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Tahun 2010. ... 33

4. Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer Menurut Tingkat Pendidikan Tahun

2010. ... 35

5. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian

Kabupaten Grobogan Tahun 2010. ... 36

6. Tata Guna Lahan di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan

Geyer Tahun 2010 ... 37

7. Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Grobogan 2010 ... 38

8. Identitas Petani Sampel Usahatani Jagung MT Agustus-November 2010 di Kecamatan Geyer, Kabupaten

Grobogan ... 39

9. Rata-rata Penggunaan Sarana Produksi Usahatani Jagung MT Agustus - November 2011 di Kecamatan Geyer,

Kabupaten Grobogan. ... 40

10. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung MT Agustus – November 2011 di Kecamatan

Geyer, Kabupaten Grobogan ... 41

11. Analisis Varians Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Jagung MT Agustus - November 2011 di

Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan... 43

12. Analisis Uji Keberartian Koefisien Regresi Penggunaan Faktor Produksi pada Usahatani Jagung MT Agustus - November 2011 di Kecamatan Geyer, Kabupaten

Grobogan. ... 44

13. Nilai Standard Koefisien Regresi ... 45

14. Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaaan Faktor-faktor Produk- pada Usahatani Jagung MT Agustus - November

(8)

commit to user

viii

15. Rata-rata Biaya Sarana Produksi pada Usahatani Usahatani Jagung MT Agustus – November 2011 di

Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan... 49

16. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung MT Agustus - November 2011 di Kecamatan Geyer,

Kabupaten Grobogan ... 50

17. Rata-rata Biaya Lain-lain pada Usahatani Jagung MT Agustus – November 2011 di Kecamatan Geyer,

Kabupaten Grobogan ... 50

18. Rata-rata Biaya Total pada Usahatani Jagung MT Agustus – November 2011 di Kecamatan Geyer,

Kabupaten Grobogan. ... 51

19. Rata-rata Penerimaan Total pada Usahatani Jagung MT Agustus – November 2011 di Kecamatan Geyer,

Kabupaten Grobogan ... 52

20. Rata-rata Penerimaan Total pada Usahatani Jagung MT Agustus – November 2011 di Kecamatan Geyer,

(9)

commit to user

ix

DAFTAR GAMBAR

No Judul Halaman

(10)

commit to user

x

ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI

KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN

Bagus Indra Dwi Saputra H 0808011

RINGKASAN

Bagus Indra Dwi Saputra. H0808011. Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Jagung Di Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan. Dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS. dan Ir. Sugiharti Mulya H. MP. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang bertujuan mengkaji kombinasi dan pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk Phonska terhadap hasil produksi jagung, mengkaji tingkat efisiensi ekonomi penggunaan faktor-faktor produksi dan mengkaji besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan dari usahatani jagung di Kabupaten Grobogan.

Metode dasar penelitian adalah metode deskriptif analitik dan pelaksanaannya dengan teknik survei. Penelitian dilakukan di Kecamatan Geyer. Pemilihan sampel desa dilakukan dengan sengaja (purposive sampling), kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel desa yaitu karena sumberdaya hutan Desa Jambangan dan Desa akan habis, sehingga usahatani jagung sangat cocok sebagai sumberdaya baru di desa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan faktor-faktor produksi jagung dinyatakan dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas, sebagai berikut : Y = 202,768. X10,447. X20,027. X30,326. X40,243. X50,094. X60,051. Penggunaan faktor-faktor produksi jagung secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi jagung. Secara individual, faktor produksi luas lahan, benih, dan pupuk urea berpengaruh nyata terhadap produksi jagung sedangkan faktor produksi tenaga kerjs, pupuk phonska, dan pupuk sp-36 tidak berpengaruh nyata terhadap produksi jagung. Analisis usahatani jagung luas lahan sebesar 0,71 Ha, biaya usahatani jagung Rp 2.045.949,00/Ha/MT, penerimaan usahatani Rp 10.543.661.00/Ha/MT dan pendapatan usahatani sebesar Rp7.562.312,67/Ha/MT. Berdasarkan hasil penelitian terssebut, kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani jagung belum mencapai efisiensi ekonomi tertinggi.

(11)

commit to user

xi

AN ANALYSIS ON THE ECONOMIC EFFICIENCY OF PRODUCTION FACTORS USE IN CORN AGRIBUSINESS IN GEYER SUBDISTRICT OF

GROBOGAN REGENCY

Bagus Indra Dwi Saputra H 0808011

Summary

Bagus Indra Dwi Saputra. H0808011. An Analysis on Economic Efficiency of the Production Factors Use in Corn Agribusiness in Geyer Subdistrict of Grobogan Regency. Guided by Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS. And Ir. Sugiharti Mulya H. MP. Agriculture Faculty. Surakarta Sebelas Maret University. Surakarta.

This thesis was written based on the result of research aimed at studying the combination and the effect of the production factors use including land width, labor, seed, urea, SP-3 and Phonska fertilizers on the corn productivity, at studying the economic efficiency level of production factors use and at studying the cost, revenue, and income of corn agribusiness in Grobogan Regency.

The basic method used was an analytical descriptive method and implemented using survey technique. This study was taken place in Geyer Subdistrict. The sample villages were taken using purposive sampling technique; the criteria used for the sampling was that because the forest resource of Jambangan and Ngrandu villages would be exhausted, the corn cultivation was very appropriate to be the new resource in those villages. The result of research showed the use of corn production factors expressed in the Cobb-Douglas production function model, as follows: Y = 202,768. X10.447. X20.027.X30.326. X40.243. X50.094. X60.051. The use of corn production factors simultaneously affected significantly the corn productivity. Individually, the land width, seed and urea fertilizer factors affected significantly the corn productivity, but the labor, phonska fertilizer, and sp-36 fertilizer factors did not. The analysis on corn agribusiness indicated land width of 0.71 Ha, corn cultivation cost of IDR 2,045,949.00/Ha/MT, agribusiness revenue of IDR 10,543,661.00/Ha/MT and agribusiness income of IDR 7,562,312.67/Ha/MT. Considering the result of research, the combined use of production factors in corn agribusiness had not reached yet the highest economic efficiency.

(12)

commit to user

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti negara yang

mengandalkan sektor pertanian baik sebagai mata pencaharian maupun

sebagai penopang pembangunan. Sektor pertanian merupakan penopang

perekonomian di Indonesia karena pertanian memberikan proporsi yang

sangat besar memberikan sumbangan untuk kas pemerintah. Hal ini kemudian

menjadikan sektor pertanian sebagai pasar yang potensial bagi produk-produk

dalam negeri baik untuk barang produksi maupun untuk barang konsumsi,

terutama produk yang dihasilkan oleh sub sektor tanaman pangan

(Siswi Yulianik, 2006:1).

Kebutuhan jagung di Indonesia saat ini cukup besar, yaitu lebih dari 10

juta ton pipilan kering per tahun. Adapun konsumsi jagung terbesar untuk

pangan dan industri pakan ternak. Hal ini dikarenakan sebanyak 51% bahan

baku pakan ternak adalah jagung. Dari sisi pasar, potensi pemasaran jagung

terus mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari semakin

berkembangnya industri peternakan yang pada akhirnya akan meningkatkan

permintaan jagung sebagai campuran bahan pakan ternak. Selain itu juga

berkembang produk pangan dari jagung dalam bentuk tepung jagung di

kalangan masyarakat. Produk tersebut banyak dijadikan untuk pembuatan

produk pangan (Budiman H, 2011:10)

Kabupaten Grobogan merupakan salah satu daerah produsen jagung

terbesar nasional. Menurut Badan Pusat Statistik Grobogan, pada tahun 2010,

produksi jagung Kabupaten Grobogan telah mencapai 708.013 ton.

Berdasarkan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH)

Kabupaten Grobogan tahun 2010, kebutuhan jagung masyarakatnya sendiri

setiap tahunnya sebesar 23.425 ton. Hal Ini berarti tahun 2010 telah

mengalami surplus sebesar 684.588 ton. Produksi jagung di Kabupaten

Grobogan tiap tahun mengalami peningkatan signifikan. Ini dikarenakan para

(13)

terdiri 19 kecamatan yang mengusahakan jagung. Berdasarkan Tabel 1

menunjukkan ada 5 kecamatan terbesar yang sangat produktif dalam

mengusahakan jagung. Salah satu sentra penghasil jagung terbesar di

Kabupaten Grobogan adalah Kecamatan Geyer

Tabel 1. Luas panen dan Produksi Jagung di 19 Kecamatan Penghasil Jagung Di Kabupaten Grobogan tahun 2010.

No Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (ton)

1 Geyer 23.099 125.356

2 Wirosari 15.818 85.460

3 Toroh 15.080 81.171

4 Pulokulon 11.321 60.319

5 Kradenan 7.151 38.375

6 Karangrayung 7.071 37.938

7 Tanggungharjo 6.996 37.985

8 Gabus 6.749 36.268

9 Grobogan 6.085 32.914

10 Kedungjati 6.001 33.431

11 Tawangharjo 5.807 31.455

12 Ngaringan 5.003 26.677

13 Penawangan 3.156 16.973

14 Purwodadi 3.091 16.377

15 Brati 2.793 15.207

16 Klambu 2.145 11.697

17 Gubug 2.000 10.926

18 Tegowanu 1.617 8.812

19 Godong 120 672

Jumlah 131.103 708.013

Sumber : Grobogan Dalam Angka 2011

Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan memiliki relief daerah

pegunungan kapur dan perbukitan serta berada pada ketinggian sampai 100 -

500 m di atas permukaan air laut dengan kelerengan lebih dari 15° Dilihat dari

Peta Kabupaten Grobogan, Kecamatan Geyer terletak di bagian selatan Kota

Purwodadi dan merupakan perbatasan antara Kabupaten Grobogan dengan

Kabupaten Sragen. Dilihat dari aspek agroekosistem, sebagian besar daerah di

Kecamatan Geyer merupakan lahan kering dan cocok untuk pengembangan

tanaman jagung dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Hal ini dapat dilihat

dari jumlah luas panen yang mencapai 23.099 Ha dan produksi sebesar

(14)

Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan

faktor-faktor produksi pada usahatani jagung di Kecamatan Geyer Kabuapten

Grobogan dan usaha mengkombinasikannya untuk mencapai produksi yang

optimal sekaligus mengetahui efisiensi ekonomi penggunaan faktor-faktor

produksi tersebut.

B. Perumusan Masalah

Usahatani jagung di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan memiliki

potensi yang besar untuk meningkatkan pendapatan petani. Luas panen jagung

di Kecamatan Geyer paling tinggi dari kecamatan lainnya. Besarnya luas

panen tersebut belum diimbangi dengan pengetahuan petani sebagai manajer

dalam menggunakan faktor-faktor produksi yang tepat. Petani sebagai

pengelola (manajer) merupakan keterampilan bercocok tanam yang mencakup

pengambilan keputusan atau penetapan pilihan dari alternatif-alternatif yang

ada. Petani belum memahami prinsip-prinsip mengenai hubungan antara

input-output, sehingga petani sering menggunakan input yang pemakaiannya

tidak sesuai dengan rekomendasi dan berakibat produksi yang dihasilkan

belum optimal.

Upaya peningkatan produksi sangat berkaitan dengan penggunaan

faktor-faktor produksi pada usahatani tersebut. Keterbatasan pengetahuan

yang dimiliki petani sering mengakibatkan penggunaan faktor-faktor produksi

yang kurang tepat. Oleh karena itu, dalam melakukan usahatani, seorang

petani harus senantiasa memperhatikan penggunaan faktor produksi yang

berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk Phonska

agar mencapai produksi optimal sehingga diperoleh keuntungan maksimal dan

mencapai efisiensi ekonomi tertinggi.

Permasalahan yang dapat dirumuskan dalam penelitian yang akan

dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana Petani mengkombinasikan faktor produksi yang berupa luas

lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, pupuk Phonska, dan

(15)

2. Apakah petani di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan dalam

mengkombinasikan penggunaan faktor-faktor produksi yang berupa luas

lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk Phonska pada

usahatani jagung telah mencapai efisiensi ekonomi tertinggi?

3. Berapa besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan dari usahatani jagung

di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi luas lahan,

tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk Phonska terhadap

produksi jagung di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan.

2. Mengetahui besarnya tingkat efisiensi ekonomi penggunaan faktor-faktor

produksi yang berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36,

dan pupuk Phonska pada usahatani jagung di Kecamatan Geyer,

Kabupaten Grobogan.

3. Mengetahui besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani jagung

di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan.

D. Kegunaan Penelitian

Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan

wawasan berkaitan dengan usahatani jagung. Di samping itu, penelitian ini

dimaksudkan sebagai bahan penyusunan skripsi yang merupakan salah

satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Bagi pemerintah daerah setempat, penelitian ini diharapkan dapat menjadi

bahan pertimbangan guna menentukan kebijakan di sektor pertanian,

khususnya masalah yang terkait penggunaan faktor-faktor produksi pada

usahatani jagung.

3. Bagi pihak lain, penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai tambahan

(16)

commit to user

II. LANDASAN TEORI

A. Penelitian Terdahulu

Pengkajian atas hasil-hasil penelitian terdahulu akan sangat membantu

dalam menelaah masalah yang dibahas dengan berbagai pendekatan spesifik,

Selain itu juga memberikan pemahaman mengenai posisi peneliti dengan

penelitian yang dilakukan peneliti sebelumnya, terutama dalam hal pemilihan

variabel input, komoditas dan model penelitian sebelumnya.. Berikut ini

beberapa hasil penelitian terdahulu yang sudah dilakukan.

Berdasarkan hasil penelitian Puspitasari (2002) yang berjudul Analisis

Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-faktor Produksi pada Usahatni Jagung

Pioneer di Kabupaten Grobogan selama musim tanam Juli sampai September

2001 menunjukkan bahwa luas lahan garapan jagung pioneer sebesar 0,498

Ha. Rata-rata penggunaan faktor-faktor produksi untuk setiap adalah tenaga

kerja 572,179 HKP, pupuk kandang 401,512 kg, pupuk urea 279,373 kg dan

pupuk SP-36 151,648 kg. Rata-rata biaya produksi Rp.2.078.699 per Ha,

penerimaan Rp.4.461.836 per Ha, pendapatan Rp.2.383.137 per Ha. Dari

perhitungan diperoleh persamaan Y = 0,852 X10,769.X20,209.X30,02273.X4-0,337.

X50,349. Dari hasil analisis regresi linier berganda diketahui bahwa luas lahan,

tenaga kerja, pupuk urea, pupuk SP-36, dan pupuk kandang secara

bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi jagung pioneer. Luas lahan dan

pupuk kandang mempunyai hubungan positif terhadap produksi jagung

pioneer dan kedua faktor produksi tersebut berpengaruh nyata. Oleh karena

itu, setiap penambahan luas lahan dan pupuk kandang akan mengakibatkan

penambahan hasil produksi jagung pioneer. Faktor produksi pupuk SP-36

mempunyai hubungannya negatif berpengaruh nyata terhadap produksi jagung

pioneer. Hal ini berarti bahwa setiap penambahan pupuk SP-36 akan

menurunkan hasil produksi jagung pioneer. Indeks efisiensi ekonomi nilainya

tidak sama dengan satu yang berarti bahwa kombinasi penggunaan

faktor-faktor produksi dalam usahatani jagung pioneer belum mencapai tingkat

efisiensi ekonomi tertinggi.

Budi Suprihono (2003) dengan penelitian yang berjudul Analisis

(17)

menunjukkan bahwa usaha tani lahan sawah di Kabupaten Demak relatif

menguntungkan seperti yang ditunjukan oleh nilai R/C Ratio lebih besar dari

1 (satu ), Efisiensi teknis (ET) pada lahan sawah tadah hujan lebih efisien

dibanding dengan lahan jenis pengairan teknis. Efisiensi harga pada lahan

pengairan teknis lebih efisien bila dibanding lahan tadah hujan.

Penelitian oleh Warsana (2007) yang berjudul Analisis Efisiensi dan

Keuntungan Usahatani Jagung menunjukan bahwa benih dan pestisida yang

belum optimal sedangkan pengalokasian input variabel tenaga kerja dan

pupuk telah mencapai optimal. Dari hasil analisis efisiensi ekonomi relatif

antara kedua kelompok berdasarkan skala luas lahan garapan yaitu skala luas

lahan dibawah 1,0 ha (petani kecil) dan skala usaha luas lahan lebih dari diatas

1,0 ha dapat dibuktikan terdapat perbedaan tingkat efisiensi dimana petani

kecil lebih efisien dibandingkan petani besar.

Penelitian Sawa Suryana (2007) dengan judul Analisis Faktor-faktor

yang Mempengaruhi Produksi Jagung di Kabupaten Blora menunjukkan

bahwa, secara keseluruhan model produksi jagung yang diestimasikan

memberikan hasil yang positip karena semua variabel independen yang

diamati terlihat bahwa variabel Luas lahan (X1), Varietas Bibit (X2), Jarak

dan jumlah tanaman (X3), Biaya tenaga kerja (X4) dan variabel Biaya

pembelian pupuk berpengaruh terhadap hasil Produksi Jagung Hibrida (Y).

Berdasarkan analisis nampak bahwa F hitung sebesar = 32,197 adalah

signifikan, karena p > .05. Dengan demikian, Ho1 yang menyatakan bahwa

:” Tidak ada pengaruh luas lahan, varietas bibit, jarak dan jumlah tanaman,

biaya tenaga kerja, dan biaya pembelian pupuk terhadap hasil produksi jagung

hibrida. Berdasar hasil analisis statistik pada tabel 5.5. dari analisis regresi

ditunjukan bahwa untuk standar koefisien beta untuk variabel jarak dan

jumlah tanaman (X3) menunjuk angka paling besar. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa variabel jarak dan jumlah tanamam (X3) memberikan

pengaruh dominan terhadap hasil produksi jagung hibrida, dan berikutnya

adalah variabel biaya tenaga kerja (X4) dan variabel varietas bibit (X2).

Penelitian oleh Sari (2011) yang berjudul Analisis Efisisensi Ekonomi

Penggunaan Faktor-faktor Produksi Pada Usahatani Jagung Di Kecamatan

(18)

produksi yang berupa benih sebesar 8,532, untuk faktor produksi pupuk

Phonska sebesar 4,688, untuk faktor produksi pupuk urea sebesar 2,719 dan

untuk faktor produksi pupuk kandang sebesar 1,055. Keempat nilai efisiensi

tersebut tidak sama dan keempatnya bernilai lebih dari satu sehingga

kombinasi penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani jagung belum

mencapai efisiensi ekonomi tertinggi.

Dari kelima hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa penggunaan

faktor-faktor produksi pada usahatani jagung, belum mencapai tingkat

efisiensi ekonomi tertinggi. Kelima penelitian tersebut yang menjadi dasar

dalam penentuan hipotesis dalam penelitian saya.

B. Tinjauan Pustaka

1. Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Tanaman jagung (Zea mays L.) dalam tata nama atau sistematika

(taksonomi) tumbuh-tumbuhan dimasukkan dalam klasifikasi sebagai

berikut:

Regnum : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisio : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Sub Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup)

Classis : Monocotyledone (berkeping satu)

Ordo : Graminae (rumput-rumputan)

Familia : Graminaceae

Genus : Zea

Spesies : Zea mays L.

(Warisno, 1998:18).

Kegunaan jagung dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bahan

pangan, pakan ternak, dan bahan baku industri. Di Indonesia banyak

makanan yang terbuat dari jagung, seperti nasi jagung, bubur jagung, dan

jagung campur beras. Jagung sebagai bahan baku industri pengolahan

dapat berupa industri giling kering (tepung dan bahan makanan pagi),

(19)

industri destilasi, dan fermentasi (etil alkohol, asam cuka, aseton, asam

laktat, asam sitrat, dan gliserol) (Purnomo dan Purnamawati, 2007:37).

Tanaman jagung merupakan bahan baku industri pakan dan pangan

serta sebagai makanan pokok di beberapa daerah di Indonesia. Dalam

bentuk biji utuh, jagung dapat diolah misalnya menjadi tepung jagung,

beras jagung, dan makanan ringan (pop corn dan jagung marning). Jagung

dapat pula diproses menjadi minyak goreng, margarin, dan formula

makanan. Pati jagung dapat digunakan sebagai bahan baku industri

farmasi dan makanan seperti es krim, kue, dan minuman.Karena cukup

beragamnya kegunaan dan hasil olahan produksi tanaman jagung tersebut

diatas, dan termasuk sebagai komoditi tanaman pangan yang penting,

maka perlu ditingkatkan produksinya secara kuantitas, kualitas dan ramah

lingkungan serta berkelanjutan (Anonim, 2012:1).

2. Usahatani

Usahatani adalah himpunan dari sumber-sumber alam yang terdapat

di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian, seperti sinar

matahari, tubuh tanah, dan air, perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan

terhadap tanah tersebut, dan bangunan-bangunan yang telah didirikan di

atasnya. Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam atau memelihara

ternak. Usahatani yang produktif adalah usahatani yang produktivitasnya

tinggi. Produktivitas merupakan penggabungan antara efisiensi usaha

(fisik) dengan kapasitas tanah. Efisiensi fisik ini mengukur banyaknya

hasil produksi yang dapat diperoleh dari satu kesatuan input (Mubyarto,

1989:66-68).

Ilmu usahatani pada dasarnya memperhatikan cara-cara petani

memperoleh dan memadukan sumber daya (lahan, tenaga kerja, modal,

waktu dan pengelolaan) yang terbatas untuk mencapai tujuannya, maka

disiplin induknya adalah ilmu ekonomi. Beberapa elemen dalam teori

ekonomi yang mungkin sangat penting dan relevan terhadap usahatani

(20)

kenaikan hasil yang berkurang (diminishing return), subtitusi, analisis

biaya, dan biaya yang diluangkan (opportunity cost) (Dillon, 1986:9-10).

Menurut Hadisapoetra (1973:7), biaya usahatani dibagi menjadi tiga

kategori, yaitu:

a. Biaya alat-alat luar yaitu semua pengorbanan yang diberikan dalam

usahatani untuk memperoleh pendapatan kotor, kecuali bunga seluruh

aktiva yang dipergunakan dan biaya untuk kegiatan pengusaha

(keuntungan pengusaha) dan upah tenaga keluarga sendiri.

b. Biaya mengusahakan yaitu biaya alat-alat luar ditambah dengan upah

tenaga keluarga sendiri, yang diperhitungkan berdasarkan upah yang

dibayarkan kepada tenaga luar.

c. Biaya menghasilkan yaitu biaya mengusahakan ditambah dengan

bunga dari aktiva yang dipergunakan dalam usahatani.

Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil

yang diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan, revenue)

dengan biaya (pengorbanan, cost) yang harus dikeluarkannya. Hasil yang

diperoleh petani pada saat panen disebut produksi dan biaya yang dikeluarkan

disebut biaya produksi, sedangkan total penerimaan diperoleh dari produksi

fisik dikalikan dengan harga produksi (Mubyarto, 1989:68).

3. Produksi, Faktor Produksi dan Fungsi Produksi

Menurut Kartasapoetra (1988 :17), produksi merupakan suatu proses

pendayagunaan sumber-sumber yang telah tersedia, dengan mana

diharapkan terwujudnya hasil yang lebih dari segala pengorbanan yang

telah diberikan. Ditinjau dari pengertian ekonomi merupakan suatu proses

pendayagunaan segala sumber yang tersedia untuk mewujudkan hasil yang

terjamin kualitas dan kuantitasnya terkelola dengan baik, sehingga

merupakan komoditi yang dapat diperdagangkan

Faktor produksi adalah semua masukan atau korbanan yang

diberikan pada tanaman agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan

(21)

input, production factor dan korbanan produksi. Faktor produksi memang

sangat menentukan besar kecilnya produksi yang diperoleh. Faktor

produksi lahan, modal untuk membeli bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga

kerja dan aspek manajemen adalah faktor produksi yang terpenting.

Hubungan antara faktor produksi (input) dan produksi (output) biasanya

disebut dengan fungsi produksi atau factor relationship (Soekartawi,

2003:45-46).

Faktor produksi terdiri dari empat komponen, yaitu tanah, modal,

tenaga kerja, dan skill atau manajemen (pengelolaan). Masing-masing

faktor mempunyai fungsi yang berbeda dan saling terkait satu sama lain.

Kalau salah satu faktor tidak tersedia maka proses produksi tidak akan

berjalan, terutama tiga faktor terdahulu, seperti tanah, modal, dan tenaga

kerja (Daniel, 2002:50).

Mubyarto (1989:68) menyatakan bahwa fungsi produksi adalah

fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (output)

dengan faktor-faktor produksi (input). Dalam bentuk matematika

sederhana fungsi produksi ini dituliskan sebagai berikut:

Y = f (X1, X2, …, …, Xn)

Keterangan:

Y = Hasil produksi fisik

X1, X2,…Xn = Faktor-faktor produksi

Fungsi produksi adalah hubungan fisik antara variabel yang

dijelaskan (Y) dan variabel yang menjelaskan (X). Variabel yang

dijelaskan biasanya berupa output dan variabel yang menjelaskan biasanya

berupa input. Dengan fungsi produksi dapat diketahui hubungan antara

faktor produksi (input) dan produksi (output) serta dapat diketahui

hubungan antara variabel yang dijelaskan (dependent variable) dan

variabel yang menjelaskan (independent variabel) (Soekartawi, 2003: 17).

Fungsi produksi Cobb-Douglas adalah suatu fungsi berpangkat yang

terdiri dari dua variabel atau lebih, dimana variabel yang satu disebut

(22)

variabel yang menjelaskan X (variabel bebas). Penyelesaian hubungan

antara Y dan X biasanya adalah dengan cara regresi dimana variasi Y akan

dipengaruhi oleh variasi X (Soekartawi, 1994:159).

Persamaan fungsi Cobb-Douglas dapat dengan mudah diselesaikan

dengan cara regresi linier berganda. Karena penyelesaian fungsi

Cobb-Douglas selalu dilogaritmakan dan diubah bentuk fungsinya menjadi

bentuk yang linier, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sebelum

menggunakan fungsi Cobb-Douglas yaitu:

1. Tidak ada nilai pengamatan yang bernilai nol sebab logaritma dari

bilangan nol adalah suatu bilangan yang besarnya tidak diketahui.

2. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi bahwa tidak ada perbedaan

teknologi pada setiap pengamatan (non neutral difference in the

respective technology). Hal ini berarti, kalau fungsi Cobb-douglas

yang dipakai sebagai model dalam suatu pengamatan dan bila

diperlukan analisis yang merupakan lebih dari satu model (katakanlah

dua model), maka perbedaan tersebut terletak pada intercept dan bukan

pada kemiringan garis (slope) model tersebut

3. Tiap variabel X adalah perfect competition artinya bahwa setiap

variabel X tidak dipengaruhi oleh variabel lainnya.

Perbedaan lokasi (pada fungsi produksi) seperti iklim adalah sudah

tercakup pada faktor kesalahan.

4. Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-faktor Produksi

Efisiensi ekonomi adalah efisiensi fisik yang dinilai dengan uang.

Efisiensi fisik sendiri adalah banyaknya hasil produksi fisik yang dapat

diperoleh dari satu kesatuan faktor produksi (input). Pada setiap panen

petani akan menghitung berapa hasil bruto produksinya yaitu luas lahan

dikalikan hasil per satuan luas dan semua dinilai dengan uang. Tetapi

hasil itu masih harus dikurangi dengan biaya-biaya yang harus

dikeluarkan. Setelah semua biaya-biaya tersebut dikurangi, barulah petani

(23)

mencerminkan rasio yang baik dari nilai hasil dan biaya. Makin tinggi

rasio ini berarti usahatani makin efisien (Mubyarto, 1989:70).

Menurut Soekartawi (1994:41-42), efisiensi ekonomi tertinggi akan

terjadi jika petani mampu membuat suatu upaya sehingga Nilai Produk

Marjinal (NPMx) untuk suatu faktor produksi sama dengan harga faktor

produksi (Px), atau dapat dituliskan:

NPMx = Px ; atau 1

Px NPMx

=

C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah

Usahatani adalah kesatuan organiasasi antara alam, tenaga kerja, modal

dan pengelolaan yang ditujukan untuk memperoleh produksi di lapangan

pertanian. Setiap kegiatan usahatani akan membutuhkan biaya dan

menghasilkan sejumlah penerimaan. Biaya merupakan seluruh korbanan

ekonomik yang dikeluarkan untuk usahatani. Biaya usahatani yang

diperhitungkan dalam penelitian ini adalah biaya mengusahakan. Biaya

mengusahakan terdiri dari biaya alat-alat luar ditambah biaya tenaga kerja

keluarga sendiri yang diperhitungkan berdasarkan upah yang dibayarkan

kepada tenaga kerja luar. Biaya alat-alat luar terdiri dari biaya untuk upah

tenaga kerja luar, benih, pupuk, pajak, pengangkutan, dan biaya penyusutan

alat.

Untuk mengetahui hubungan antara faktor produksi dengan hasil

produksi jagung digunakan model regresi dengan modifikasi dari model

fungsi produksi Cobb-Douglas yang dapat dituliskan secara matematis

sebagai berikut:

Y = a. X1b1. X2b2. X3b3. X4b4 X5b5. X6b6

Keterangan :

Y : Hasil produksi jagung (Kg)

a : Konstanta

b1-b6 : Koefisien regresi

X1 : Luas lahan (Ha)

(24)

X3 : Benih (Kg)

X4 : Pupuk urea (Kg)

X5 : Pupuk Phonska (Kg)

X6 : SP-36 (Kg)

Pada usahatani jagung, penerimaan usahatani merupakan nilai produksi

total dari usahatani jagung. Penerimaan diukur dengan mengalikan produksi

(Y) dengan harga produksi (Py) dan dinyatakan dalam rupiah. Setelah

diketahui besarnya penerimaan dan biaya dalam usahatani maka dapat

dihitung pendapatan usahatani. Untuk mengetahui pendapatan bersih dari

usahatani digunakan rumus:

Pd = TR – TC

= Py x Y – BM

Keterangan :

Pd : Pendapatan usahatanijagung (Rp/Ha/MT)

TR : Penerimaan total usahatani jagung (Rp/Ha/MT)

TC : Biaya total usahatanijagung (Rp/Ha/MT)

Py : Harga jagung per kg (Rp)

Y : Produksi jagung (kg)

BM : Biaya mengusahakan usahatani (Rp/kg/MT)

Hubungan antara hasil produksi jagung dengan faktor produksi

diketahui dengan melakukan analisis regresi linier berganda. Oleh karena itu,

persamaan tersebut harus diubah menjadi persamaan linier dengan cara

melogaritmakannya menjadi:

Log Y = log a + b1log X1 + b2log X2 + b3log X3 + b4log X4 + b5log X5 +

b6log X6

Dalam analisis regresi linier berganda, uji F digunakan untuk

mengetahui pengaruh faktor produksi secara bersama-sama terhadap produksi

jagung. Untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor produksi terhadap

hasil produksi jagung digunakan uji keberartian koefisien regresi dengan

(25)

Selain itu, analisis regresi linier berganda juga mencakup analisis

koefisien regresi parsial (bi’) untuk mengetahui faktor produksi yang paling

berpengaruh diantara faktor-faktor produksi yang lain dalam usahatani

jagung. Analisis koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui

seberapa jauh faktor produksi yang digunakan dalam usahatani jagung dapat

menjelaskan hasil produksi jagung.

Efisiensi suatu usahatani dapat menunjukkan perbandingan antara nilai

hasil produksi usahatani dengan nilai faktor produksi yang digunakan.

Efisiensi ekonomi tertinggi pada usahatani jagung akan tercapai jika petani

jagung dapat mengkombinasikan faktor-faktor produksi yang digunakan

secara optimal yaitu apabila nilai produk marjinal untuk suatu faktor produksi

(NPMx) sama dengan harga faktor produksi (Px) tersebut, atau dapat

dituliskan:

NPMxi = Pxi, atau

Px NPMx

= 1

Dengan ketentuan:

Px NPMx

> 1, berarti penggunaan faktor produksi xi belum mencapai efisiensi

ekonomi tertinggi.

Px NPMx

(26)

Skema kerangka teori pendekatan masalah dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka Teori Pendekatan Masalah

D. Hipotesis

1. Faktor produksi yang berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea,

SP-36, dan pupuk Phonska yang digunakan dalam usahatani jagung

berpengaruh nyata terhadap produksi jagung di Kecamatan Geyer,

Kabupaten Grobogan.

2. Kombinasi penggunaan faktor produksi yang berupa berupa luas lahan,

tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk Phonska pada usahatani

jagung di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan belum mencapai

tingkat efisiensi ekonomi.

Usahatani Jagung

Biaya Usahatani

Penerimaan Usahatani Produksi Usahatani

Pendapatan Usahatani Faktor-faktor Produksi X1 : luas lahan (Ha) X2 : tenaga kerja (HKP) X3 : benih (Kg)

X4 : pupuk urea (Kg) X5 : pupukPhonska (Kg) X6 : pupuk SP-36 (Kg)

Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor

Produksi

Analisis Faktor-faktor Produksi

(27)

commit to user

III.METODE PENELITIAN

A. Metode Dasar Penelitian

Metode dasar penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah

metode deskriptif analitik. Metode deskriptif analitik mempunyai ciri

memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa

sekarang, pada masalah-masalah yang aktual. Data yang dikumpulkan

mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisis (Surakhmad, 1994:140).

Teknik pelaksanaan penelitian ini menggunakan teknik survai, yaitu

pengumpulan data dari sejumlah unit atau individu dalam waktu (atau jangka

waktu) yang bersamaan dengan menggunakan beberapa daftar pertanyaan

berbentuk kuesioner (Surakhmad, 1994:141-142).

B. Metode Penentuan Sampel

1. Metode Penentuan Sampel Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Grobogan yang merupakan

salah satu daerah penghasil jagung di Jawa Tengah.. Dari Kabupaten

Grobogan dipilih satu kecamatan. Pengambilan kecamatan sebagai lokasi

penelitian dilakukan dengan cara purposive sampling atau sengaja,

menurut Singarimbun dan Efendi, (1995:169) yaitu pengambilan daerah

sampel yang dilakukan secara sengaja dengan mempertimbangkan alasan

tertentu sesuai dengan tujuan penelitian.

Sampel kecamatan diambil dengan kriteria dimana kecamatan

tersebut sebagai daerah pengembangan jagung. Dari Tabel 1 dapat

diketahui bahwa Kecamatan Geyer mempunyai luas panen dan produksi

usahatani jagung 5 terbesar.

Selanjutnya pengambilan sampel responden petani didapat melalui

sampel desa. Sampel desa dipilih dengan cara purposive sampling atau

sengaja. Lokasi penelitian ini dipilih karena daerah ini terletak di

pinggiran hutan yang sumberdayanya akan habis, sehingga masyarakat

melakukan usahatani jagung untuk mengganti sumberdaya di daerah

tersebut. Disamping itu, daerah tersebut terdapat banyak petani jagung.

(28)

Berdasarkan kriteria tersebut sehingga terpilih Desa Jambangan, dan Desa

Ngrandu sebagai lokasi penelitian.

2. Metode Pengambilan Sampel Responden

Menurut Singarimbun dan Effendi (1995:171), data yang dianalisis

harus menggunakan jumlah sampel yang cukup besar sehingga dapat

mengikuti distribusi normal. Sampel yang besar dan mengikuti distribusi

normal adalah sampel yang jumlahnya lebih besar atau sama dengan 30.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, jumlah sampel pada penelitian ini

adalah 30 orang. Pengambilan sampel petani jagung menggunakan metode

proportional random sampling, yaitu pengambilan petani sampel

berdasarkan perbandingan besar kecilnya dari sub-sub populasi petani dan

diambil secara random (Soekartawi, 1995:23). Penentuan jumlah petani

sampel dari masing-masing desa dilakukan dengan menggunakan rumus :

Ni = 30

N Nk

X

Keterangan:

Ni : Jumlah petani sampel dari desa i

Nk : Jumlah populasi petani dari desa i yang memenuhi syarat

N : Jumlah petani dari seluruh desa sampel

Tabel 2. Jumlah Petani Sampel Kecamatan Geyer

Sumber: Data Primer

C. Jenis dan Sumber data

1. Data Primer

Dalam penelitian ini data yang digunakan merupakan data yang

diperoleh langsung dari petani yang mengusahakan jagung maupun pihak

lain yang berhubungan dengan usahatani jagung, mengenai hasil produksi

jagung, faktor produksi yang digunakan (luas lahan, tenaga kerja, benih,

No Desa Populasi Sampel

1 Jambangan 394 20

2 Ngrandu 212 10

(29)

upuk urea, pupuk phonska,dan pupuk Sp-36), biaya, penerimaan, serta

proses produksi yang dilakukan. Data ini diperoleh melalui wawancara.

2. Data Sekunder

Dalam penelitian ini, data sekunder diambil dari kesesuaian antara

populasi data yang ada dengan populasi yang menjadi perhatian peneliti

yang diperoleh melalui pencatatan terhadap laporan maupun dokumen dari

instansi-instansi yang berkaitan dengan penelitian, yaitu Kantor

Kecamatan Geyer, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura

Kabupaten Grobogan, Bappeda Kabupaten Grobogan, dan Badan Pusat

Statistik Kabupaten Grobogan.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Observasi merupakan teknik pengumpulan data dimana penyelidik

mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap

gejala-gejala subyek yang diteliti (Surakhmad, 1994:165). Penggunaan observasi

langsung ini digunakan peneliti untuk mengumpulkan data mengenai

perilaku dan kejadian di lapangan secara detail.

2. Wawancara

Wawancara (interview) atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog

yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh

informasi dari yang diwawancarai (Wirartha, 2006:227). Teknik

wawancara ini dilakukan dengan bantuan kuesioner (daftar pertanyaan).

Dengan mewawancarai langsung responden, akan membantu responden

dalam mengisi kuesioner dan peneliti mengetahui benar keadaan

responden sehingga data yang dibutuhkan benar-benar valid.

3. Pencatatan

Teknik ini dilakukan untuk mengumpulkan data primer dan data

sekunder. Data primer berupa pencatatan yang berasal dari hasil

wawancara dan data sekunder yaitu dengan melakukan pencatatan

terhadap data yang ada pada instansi-instansi yang berhubungan dengan

penelitian. Pencatatan data primer dilakukan karena pada saat wawancara,

(30)

data sekunder dilakukan bila data yang diperoleh dan dibutuhkan tidak

disajikan dalam format elektronik.

E. Asumsi-Asumsi

1. Petani dalam menjalankan usahataninya bertindak rasional yaitu petani

berusaha memperoleh keuntungan maksimal.

2. Keadaan tanah, iklim, ketinggian tempat dan topografi di daerah penelitian

dianggap berpengaruh normal terhadap proses produksi pada usahatani

jagung.

3. Pasar faktor-faktor produksi yang berupa berupa luas lahan, tenaga kerja,

benih, pupuk urea, pupuk phonska, dan SP-36 serta produksi dalam

usahatani jagung merupakan pasar persaingan sempurna.

F. Pembatasan Masalah

Data yang dikaji adalah data produksi dan penggunaan faktor-faktor

produksi pada usahatani jagung di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan

yang diusahakan dalam satu kali musim tanam yaitu pada Musim Tanam

Agustus sampai November 2011. Petani sampel diambil dari petani pemilik

penggarap yang menanam jagung dengan varietas P-21 secara monokultur.

G. Definisi Operasional Dan Konsep Pengukuran Variabel

1. Usahatani jagung adalah usaha budidaya jagung P-21 di lahan sawah

secara monokultur di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan selama satu

musim tanam.

2. Petani sampel adalah petani pemilik penggarap yang menanam jagung

secara monokultur.

3. Produksi jagung (Y) adalah jumlah hasil panen jagung yang dihasilkan

dari usahatani jagung pada satu musim tanam dan pada satuan luas lahan

tertentu yang dinyatakan dalam satuan kilogram (Kg).

4. Penerimaan usahatani adalah nilai produksi total usahatani jagung. Diukur

dengan mengkalikan produk fisik jagung per luas lahan jagung dengan

harga produk per Kg, dan dinyatakan dalam satuan rupiah per hektar per

(31)

5. Biaya usahatani jagung adalah biaya mengusahakan dalam kegiatan

usahatani jagung, meliputi biaya alat-alat luar ditambah upah tenaga kerja

keluarga sendiri yang diperhitungkan berdasarkan upah yang dibayarkan

kepada tenaga kerja luar. Dihitung dalam satuan rupiah per hektar per

musim tanam (Rp/Ha/MT).

6. Pendapatan usahatani adalah pendapatan dari jagung yang diperhitungkan

dari selisih antara penerimaan usahatani jagung dengan biaya usahatani

jagung selama satu musim tanam, diukur dalam satuan rupiah per hektar

per musim tanam (Rp/Ha/MT).

7. Faktor produksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah masukan yang

digunakan pada usahatani jagung untuk satu kali musim tanam, yang

berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, pupuk phonska, dan

SP-36. Harga faktor produksi diperhitungkan sesuai dengan harga yang

berlaku di wilayah penelitian.

8. Luas lahan (X1) adalah luas lahan sawah garapan petani yang digunakan

untuk usahatani jagung selama satu musim tanam, dan dinyatakan dengan

satuan hektar (Ha).

9. Tenaga kerja (X2) adalah seluruh tenaga kerja yang digunakan dalam

usahatani jagung, selama satu musim tanam baik tenaga kerja keluarga,

maupun tenaga kerja luar dan dinyatakan dalam satuan Hari Kerja Pria

(HKP). Nilai tenaga kerja berdasarkan upah dan dinyatakan dalam rupiah

per Hari Kerja Pria (Rp/HKP).

10.Benih (X3) adalah banyaknya benih (P-21) yang digunakan dalam

usahatani jagung selama satu musim tanam dan dinyatakan dengan satuan

kilogram (Kg). Harga benih dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp).

11.Pupuk urea (X4) adalah jumlah pupuk urea yang digunakan dalam

usahatani jagung selama satu musim tanam dan dinyatakan dengan satuan

kilogram (Kg). Harga pupuk urea dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp).

12.Pupuk Phonska (X5) adalah jumlah pupuk phonska yang digunakan dalam

usahatani jagung selama satu musim tanam dan dinyatakan dengan satuan

(32)

SP-36 (X6) adalah jumlah SP-36 yang digunakan dalam usahatani

jagung selama satu musim tanam dan dinyatakan dengan satuan kilogram

(Kg). Harga pupuk tersebut dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp).

H. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Analisis Pendapatan Usahatani

Analisis besarnya biaya, penerimaan dan pendapatan usahatani jagung

digunakan rumus:

Pd = TR – TC

= Py x Y – BM

Keterangan :

Pd : Pendapatan usahatani jagung (Rp/Ha/MT)

TR : Penerimaan total usahatani jagung (Rp/Ha/MT)

TC : Biaya total usahatani jagung (Rp/Ha/MT)

Py : Harga jagung per kg (Rp)

Y : Produksi jagung (kg)

BM : Biaya mengusahakan usahatani (Rp/kg/MT)

2. Analisis Hubungan Faktor-Faktor Produksi terhadap Hasil Produksi

Pengkajian hubungan penggunaan faktor-faktor produksi yang

berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk

Phonska terhadap hasil produksi usahatani jagung dengan model

modifikasi fungsi produksi Cobb Douglas dengan rumus:

Y = a. X1b1 .X2b2 .X3b3.X4b4 .X5b5 X6b6

Keterangan :

Y : Hasil produksi jagung (Kg)

X1 : Luas lahan (Ha)

X2 : Tenaga kerja (HKP)

X3 : Benih (Kg)

X4 : Pupuk urea (Kg)

X5 : Pupuk Phonska (Kg)

(33)

a : Konstanta

b1 – b6 : Koefisien regresi

Hubungan antara faktor produksi yang berupa luas lahan, tenaga

kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk Phonska yang digunakan pada

usahatani jagung dengan hasil produksi jagung dapat diketahui dengan

melakukan regresi linier berganda. Oleh karena itu, model modifikasi

fungsi produksi Cobb Douglas harus diubah ke dalam bentuk linier dengan

cara melogaritmakan menjadi:

Log Y = log a + b1 log X1 + b2 log X2 + b3 log X3 + b4 log X4+ b5 log

X5 +b6 log X6

Pada penelitian ini uji yang akan digunakan adalah sebagai berikut:

a. Uji Serentak (Uji F)

Uji F digunakan untuk menguji apakah faktor-faktor produksi

yang berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan

pupuk Phonska secara bersama-sama berpengaruh terhadap hasil

produksi jagung digunakan uji F dengan rumus sebagai berikut :

)

= Jumlah kuadrat total

k = Jumlah variabel

N = Jumlah sampel

Dengan hipotesis:

Ho : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0

Hi : paling sedikit ada satu bi

(34)

1) Jika Fhitung > Ftabel : Ho ditolak dan Hi diterima, yang berarti

faktor-faktor produksi yang berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk

urea, SP-36, dan pupuk Phonska secara bersama-sama

berpengaruh nyata terhadap hasil produksi jagung.

2) Jika Fhitung < Ftabel : Ho diterima dan Hi ditolak, yang berarti faktor

produksi yang berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea,

SP-36, dan pupuk Phonska secara bersama-sama tidak

berpengaruh nyata terhadap hasil produksi jagung.

b. Uji Keberartian Koefisien Regresi (Uji t)

Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing

faktor produksi terhadap hasil produksi jagung digunakan uji

keberartian koefisien regresi dengan uji t, dengan rumus sebagai

berikut :

) (bi Se

bi thitung =

Dimana :

bi = koefisien regresi ke-i

Se = standard error koefisien regresi ke-i

Dengan hipotesis :

Ho : bi = 0

Hi : bi ¹0

Pada tingkat signifikasi a 5%,

1) Jika t hitung > t tabel : maka Ho ditolak, Hi diterima, yang berarti

faktor produksi ke-i berpengaruh nyata terhadap hasil produksi

jagung.

2) Jika t hitung < t tabel : maka Ho diterima ,Hi ditolak, yang berarti

faktor produksi ke-i tidak berpengaruh nyata terhadap hasil

produksi jagung.

(35)

c. Uji Standard koefisien Regresi (bi’)

Uji standard koefisien regresi parsial (bi’) digunakan untuk

mengetahui faktor produksi mana yang paling berpengaruh diantara

faktor produksi yang lain digunakan dengan rumus :

Si Sy bi bi' =

Keterangan :

bi’ : standard koefisien regresi parsial

bi : koefisien regresi untuk faktor produksi ke-i

Si : standard deviasi faktor produksi ke-i

Sy : standard deviasi hasil produksi

Nilai standard koefisien regresi parsial yang paling besar merupakan

variabel yang paling berpengaruh terhadap produksi jagung.

(Arief, 1993 : 11)

d. Uji Adjusted R2

Uji adjusted (R2) digunakan untuk mengetahui mengetahui

besarnya proporsi atau sumbangan faktor-faktor produksi yang berupa

luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, pupuk Phonska, dan SP-36

terhadap variasi hasil produksi. Nilai R2 merupakan niai R2 yang telah

disesuaikan dengan derajat kebebasan dari masing-masing jumlah

kuadrat. Rumus adalah sebagai berikut :

= 1 – (1 –R2)

k n

n

--1

: R2 yang disesuaikan n : jumlah sampel

R2 : R2 yang belum disesuaikan k : jumlah variabel

(Supranto, 2005:272)

3. Analisis Asumsi Klasik

Analisis asumsi klasik digunakan untuk mengetahui ada tidaknya

(36)

a. Uji Multikolinearitas

Untuk mengetahui ada atau tidaknya multikolinearitas dapat

dilihat dari matriks Pearson Correlation (PC). Jika PC < 0,8 maka

antar variabel bebas tidak terjadi multikolinearitas

(Soekartawi, 1995 :94).

b. Uji Autokorelasi

Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota observasi yang

disusun menurut waktu atau tempat.Pengujian ada atau tidaknya

autokorelasi dilakukan dengan menggunakan uji Durbin Watson

dengan kriteria jika nilai DW berkisar antara 1,55-2,46 yang artinya

tidak terjadi autokorelasi.

c. Uji Heteroskedastis

Uji Heteroskedatisitas dilakukan dengan melihat pola

titik-titik pada grafik scatterplot. Kriteria yang menjadi dasar

pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1) Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik ada yang

membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang,

melebar, kemudian menyempit) maka terjadi

heteroskedastisitas.

2) Jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar

diatas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak

terjadi heteroskedastisitas (Priyatno, 2009:164)

4. Analisis Tingkat Efisiensi Ekonomi

Analisis untuk mengkaji penggunaan faktor-faktor produksi jagung

yang berupa luas lahan, tenaga kerja, benih, pupuk urea, SP-36, dan pupuk

Phonska mencapai tingkat efisiensi ekonomi tertinggi menggunakan

(37)

Dimana nilai NPMxi merupakan hasil kali dari Produk Fisik

Marginal (PFM) dengan Harga hasil produksi (Py)

Pxi : Harga faktor produksi Xi

Kriteria yang digunakan sebagai berikut:

Px NPMx

= 1, berarti penggunaan faktor produksi xi telah mencapai

efisiensi ekonomi tertinggi.

Px NPMx

> 1, berarti penggunaan faktor produksi xi tidak efisien.

Px NPMx

(38)

commit to user

IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

A. Kondisi Geografis

1. Lokasi Daerah Penelitian

Kabupaten Grobogan mempunyai luas 1.975,86 Km dan merupakan

kabupaten terluas nomor 2 di Jawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap.

Jarak dari utara ke selatan +37 Km dan jarak dari barat ke timur +83 Km,

terletak diantara dua Pegunungan Kendeng yang membujur dari arah barat

ke timur, berada di bagian timur dan berbatasan dengan :

Sebelah Barat : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Demak

Sebelah Utara : Kabupaten Kudus, Kabupaten Demak, Kabupaten Pati

dan Kabupaten Blora

Sebelah Timur : Kabupaten Blora

Sebelah Selatan : Kabupaten Ngawi (Jawa Timur), Kabupaten Sragen,

Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang.

Ditinjau secara letak geografis, wilayah Kabupaten Grobogan

terletak diantara 110o 15'BT - 111o 25'BT dan 7o LS - 7o 30'LS. Secara

administratif Kabupaten Grobogan terdiri dari 19 (sembilan belas)

Kecamatan dan 280 Desa/Kelurahan dengan Ibukota berada di Purwodadi.

Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan memiliki relief daerah

pegunungan kapur dan perbukitan serta berada pada ketinggian sampai

100 - 500 m di atas permukaan air laut dengan kelerengan lebih dari 15°

Dilihat dari Peta Kabupaten Grobogan, Kecamatan Geyer teletak di bagian

selatan Kota Purwodadi dan merupakan perbatasan antara Kabupaten

Grobogan dengan Kabupaten Sragen. Secara administratif Kecamatan

Geyer terdiri dari 13 Desa, 505 RT, dan 101 RW dengan ibukota berada di

Desa Geyer.

(39)

2. Topografi Daerah

Kabupaten Grobogan yang memiliki relief daerah pegunungan

kapur dan perbukitan serta dataran di bagian tengahnya, secara topografi

terbagi kedalam 3 kelompok yaitu :

Daerah dataran rendah berada pada ketinggian sampai 50 meter di

atas permukaan air laut dengan kelerengan 0o - 8o meliputi 6 kecamatan

yaitu Kecamatan Gubug, Tegowanu, Godong, Purwodadi, Grobogan

sebelah selatan dan Wirosari sebelah selatan.

Daerah perbukitan berada pada ketinggian antara 50 - 100 meter di

atas permukaan air laut dengan kelerengan 8o - 15o meliputi 4 kecamatan

yaitu Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan sebelah utara dan Wirosari

sebelah utara.

Daerah dataran tinggi berada pada ketinggian 100 - 500 meter di

atas permukaan air laut dengan kelerengan lebih dari 15o, meliputi wilayah

kecamatan yang berada di sebelah selatan dari wilayah Kabupaten

Grobogan.

Berdasarkan letak geografis dan reliefnya, Kabupaten Grobogan

merupakan Kabupaten yang tiang penyangga perekonomiannya berada

pada sektor pertanian dan merupakan daerah yang cenderung cukup sulit

mendapatkan air bersih.

3. Keadaan Iklim

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Direktorat Program

Kehutanan tentang iklim di Kabupaten Grobogan yang terletak di antara

Daerah Pantai Utara bagian timur dan daerah Bengawan Solo Hulu

mempunyai tipe iklim D yang bersifat 1 s/d 6 bulan kering dan 1 s/d 6

bulan basah dengan suhu minimum 26oC.

Ketinggian tempat di Kecamatan Geyer termasuk rezim suhu

panas dibawah 750 meter dari permukaan air laut yang cocok untuk

(40)

B. Keadaan Penduduk

1. Komposisi Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin

Penggolongan penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat

memberikan gambaran tentang Angka Beban Tanggungan (ABT) dan sex

ratio (SR). Angka Beban Tanggungan (ABT) dapat diketahui dengan

membandingkan jumlah penduduk non produktif dengan penduduk

produktif. Penduduk usia belum produktif adalah penduduk yang berusia

0-14 tahun, sedangkan penduduk usia produktif adalah penduduk dengan

usia 15-64 tahun, dan penduduk tidak produktif adalah penduduk yang

memiliki usia lebih dari atau sama dengan 65 tahun. Sex ratio (SR) dapat

diketahui dengan membandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan

jumlah penduduk perempuan.

Penggolongan penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin di

Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer Menurut Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2010

No.

Kelom-pok Umur (Thn)

Kabupaten Grobogan Kecamatan Geyer

Laki-

Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2011

Berdasarkan data pada Tabel 3, jumlah penduduk usia produktif

yaitu usia 15-64 tahun di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer

adalah sebanyak 942.973 orang dan 39.899 orang atau 8,40 % dari jumlah

Kabupaten. Jumlah penduduk produtif yang relatif besar ini menunjukkan

adanya sumber daya manusia yang relatif besar untuk penyediaan

kebutuhan tenaga kerja di sektor pertanian. Jumlah penduduk usia

produktif yang cukup besar diharapkan mampu menunjang keberhasilan

(41)

dimungkinkan adanya keinginan untuk meningkatkan ketrampilan dan

menambah pengetahuan dalam mengelola usahataninya serta penyerapan

teknologi baru untuk memajukan usahataninya, khususnya dalam hal

usahatani jagung.

Untuk mengetahui besarnya angka beban tanggungan (ABT) dapat

dilakukan dengan perhitungan menggunakan rumus sebagai berikut :

ABT = x 100%

Berdasarkan perhitungan ABT Kabupaten Grobogan didapatkan

nilai ABT sebesar 50,93 persen, artinya dalam setiap 100 orang penduduk

usia produktif di wilayah tersebut harus menanggung 51 orang penduduk

usia non produktif. Untuk Kecamatan Geyer besarnya nilai ABT adalah

65,23 persen sehingga 100 orang penduduk usia produktif harus

menanggung 65 orang usia non produktif.

Untuk mengetahui besarnya sex ratio (SR) maka dapat dilakukan

perhitungan dengan menggunakan rumus :

SR = x100

Berdasarkan perhitungan di atas dapat diperoleh nilai sex ratio

(SR) diKabupaten Grobogan sebesar 99, artinya jika di kabupaten tersebut

terdapat 100 orang penduduk perempuan maka terdapat 99 penduduk

laki-laki. Sex ratio (SR) untuk Kecamatan Geyer adalah 96 sehingga jika ada

100 orang penduduk perempuan, maka terdapat 96 orang penduduk

laki-laki. Dalam hal ini jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada

jumlah penduduk laki-laki. Penduduk perempuan dapat berperan aktif

dalam dalam kegiatan usahatani. Sehingga akan dapat mengurangi

penggunaan tenaga kerja luar keluarga.

2. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan

Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan di Kabupaten

Figur

Gambar 1. Kerangka Teori Pendekatan Masalah
Gambar 1 Kerangka Teori Pendekatan Masalah . View in document p.26
Tabel 2.  Jumlah Petani Sampel Kecamatan Geyer
Tabel 2 Jumlah Petani Sampel Kecamatan Geyer . View in document p.28
Tabel 3. Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer
Tabel 3 Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer . View in document p.40
Tabel 4. Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2010
Tabel 4 Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Geyer Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2010 . View in document p.42
Tabel 5.  Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kabupaten Grobogan Tahun 2010
Tabel 5 Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kabupaten Grobogan Tahun 2010 . View in document p.43
Tabel 6 menunjukkan bahwa penggunaan lahan terluas di
Tabel 6 menunjukkan bahwa penggunaan lahan terluas di . View in document p.44
Tabel 7. Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Grobogan 2010
Tabel 7 Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Grobogan 2010 . View in document p.45
Tabel 8. Identitas Petani Sampel Usahatani Jagung MT Agustus-
Tabel 8 Identitas Petani Sampel Usahatani Jagung MT Agustus . View in document p.46
Tabel 9.  Rata-rata Penggunaan Sarana Produksi Usahatani Jagung MT
Tabel 9 Rata rata Penggunaan Sarana Produksi Usahatani Jagung MT . View in document p.51
Tabel 10.   Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung
Tabel 10 Rata rata Penggunaan Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung . View in document p.52
Tabel 11. Analisis Varians Penggunaan Faktor Produksi pada
Tabel 11 Analisis Varians Penggunaan Faktor Produksi pada . View in document p.54
Tabel 12. Analisis Uji Keberartian Koefisien Regresi Penggunaan
Tabel 12 Analisis Uji Keberartian Koefisien Regresi Penggunaan . View in document p.55
Tabel 13. Nilai Standard Koefisien Regresi
Tabel 13 Nilai Standard Koefisien Regresi . View in document p.56
Tabel 15. Rata-rata Biaya Sarana Produksi pada Usahatani
Tabel 15 Rata rata Biaya Sarana Produksi pada Usahatani . View in document p.59
Tabel 16.  Rata-rata Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung
Tabel 16 Rata rata Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung . View in document p.60
Tabel 17.   Rata-rata Biaya Lain-lain pada Usahatani Jagung MT
Tabel 17 Rata rata Biaya Lain lain pada Usahatani Jagung MT . View in document p.61
Tabel 19.  Rata-rata Penerimaan Total pada Usahatani Jagung MT
Tabel 19 Rata rata Penerimaan Total pada Usahatani Jagung MT . View in document p.62
Tabel 20.  Rata-rata Penerimaan Total pada Usahatani Jagung MT Agustus – November 2011 di Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan
Tabel 20 Rata rata Penerimaan Total pada Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan . View in document p.63

Referensi

Memperbarui...