• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN GAMBARAN FAAL PARU PEKERJA PAD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBEDAAN GAMBARAN FAAL PARU PEKERJA PAD"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN GAMBARAN FAAL PARU PEKERJA PADA BAGIAN PSA

INJECTION DAN BAGIAN MANAJEMEN DI PT. X

Desy Sustriyani Hasanah, Tjipto Suwandi

Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja F akultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

[email protected]

ABSTRACT

Increa sing the number of footwea r ma nufa ctures ca uses ma ny la bors ha d been recruited. There wa s a processed

of manufacture injection sole’s shoes that require chemical release agent based on isoalkanes. Workers at the

PSA Injection ha d risk of disturba nce pulmona ry function beca use exposure of isoalka nes. The objective of the study wa s to determine differences in pulmona ry function description in the PSA Injection a nd in the ma na gement a t PT. X. This resea rch used a cross sectiona l design. After the popula tion wa s choosen by inclusion criteria and ca lculated the minimum sa mple size number , the subject found 16 people and 13 people in the exposed group (PSA Injection) and the unexposed group (ma nagement). The independent va ria bles were occupation, a ges, working life, a nd nutritiona l status. The dependent va ria bles were %FEV1 a nd %FVC. The a na lysis done with biva riate Student t test, Chi-square, Fisher’s exact, Biserial correlation a nd Pea rson correla tion test. Difference test showed no different between the description of %FEV1 a nd %FVC in the exposed group (p-va lue = 0,226) and in the unexposed group (p-va lue = 0,691). The rela tionship test between a job and %FEV1 (p-va lue = 0,219) a nd %FVC (p-va lue = 0,886) showed no correla tion. There wa s a significant rela tionship between a ge, working life a nd nutritiona l sta tus with %FEV1 in the exposed group p-va lue = 0,001; p-va lue = 0,000; p-va lue = 0,001. The conclusion is there a re no difference in pulmona ry function of the exposed group and the unexposed group. Environmental testing needs to be done in th e workpla ce, specia l and periodic hea lth checks to monitor the health of workers.

Ke ywor ds: %FEV1, %F VC, pulmona ry function

ABSTRAK

Meningkatnya jumlah unit usaha industri sepatu di Jawa Timur menyebabkan semakin banyak tenaga kerja yang diserap. Terdapat proses injeksi sol pada pembuatan sepatu yang me mbutuhkan bahan kimia relea se a gent berbahan dasar isoalkana. Pe kerja pada bagian PSA In jection berisiko mengala mi gangguan faal paru karena paparan isoalkana. Penelitian ini dila kukan untuk mengetahui perbedaan gambaran faal paru pada bagian PSA Injection dan bagian manaje men di PT. X. Penelit ian ini menggunakan desain cross sectiona l. Terdapat dua populasi yaitu bagian PSA sebagai kelo mpo k terpapar dan bagian manaje men sebagai kelo mpok t idak terpapar. Setelah populasi tersebut diinklusi dan dihitung besar sampel minima l ma ka didapatkan jumlah sampel 16 orang dan 13 orang pada kelompok terpapar dan kelo mpok tida k terpapar. Variabel bebas penelitian adalah pekerjaan, usia, masa kerja, dan status gizi. Variabel terikat penelitian adalah %FEV1 dan %FVC. Analisis bivariat menggunakan uji Student t, Chi-squa re, Fisher’s exact, koralasi Biserial, dan korelasi Pea rson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kara kteristik responden secara keseluruhan sebagian besar berusia 20 -30 tahun (68,9%), masa ke rjanya 1-10 tahun (82,7%), status gizinya tergolong normal (58,6%), dan faa l parunya norma l (93,1%). Uji perbedaan menunjukkan tidak ada beda antara gambaran %FEV1 maupun %FVC pada kelo mpok terpapar (p-va lue = 0,226) dan pada kelompok tidak terpapar (p-va lue = 0,691). Uji hubungan antara pekerjaan dengan %FEV1 (p-va lue = 0,677) dan %FVC (P-va lue = 0,226) tida k menunjukkan adanya hubungan. Terdapat hubungan yang signifikan antara usia, masa kerja, dan status gizi dengan %FEV1 pada kelo mpok terpapar p-va lue = 0,001; p-p-va lue = 0,000; dan p-p-va lue = 0,001. Kesimpulannya adalah tidak terdapat perbedaan gambaran faal paru baik pada kelo mpok terpapar maupun pada kelompok tida k terpapar. Perlu dila kukan pengujian lingkungan di te mpat ke rja serta peme riksaan kesehatan berkala dan khusus untuk me mantau kesehatan pekerja.

Kata kunci: % FEV1, %FVC, faa l paru

PENDAHULUAN

Salah satu industri di Indonesia yang tetap bertahan meskipun pernah mengalami krisis moneter tahun

(2)

kategori industri kecil, sedang, maupun besar mengalami peningkatan. Pada tahun 2009 jumlah unit usaha industri sepatu hanya sebesar 21.616 unit usaha, namun pada tahun 2012 telah mencapai 28.161 unit usaha. Peningkatan jumlah unit usaha mampu meningkatkan jumlah pekerja yang direkrutnya, karena industri sepatu merupakan industri yang padat karya. Jumlah tenaga kerja pada tahun 2009 masih sebesar 81.828 orang dan pada tahun 2012 sudah mencapai 107.306 orang (Prasetyo, 2013).

PT. X merupakan salah satu usaha di bidang pembuatan sepatu kulit mulai dari ukuran anak sampai orang dewasa. Salah satu proses yang dilakukan pada bagian produksi yaitu menginjeksi sol pada sepatu ke dalam cetakan (mould) atau yang dinamakan Injection. Pada bagian Injection terdapat pekerjaan yang disebut spraying release agent baik yang dilakukan oleh robot spray maupun yang dilakukan manual oleh operator PSA. Pekerja pada bagian PSA Injection bisa terpapar release agent yang berbahan dasar Isoalkana dua kali lipat karena letak robot spray yang sangat dekat dengan pekerja bagian PSA Injection. TLV (Threshold Limit Value) Isoalkana sebesar 200 ml/m3 atau 1000 mg/m3. Penggunaan release agent yang melebihi TLV dapat mengganggu pernafasan khususnya paru pekerja pada bagian PSA (Anonim, 2003).

Selama ini belum terdapat data hasil pemeriksaan khusus pada paru pekerja bagian PSA Injection. Untuk mengetahui kondisi faal paru pekerja di bagian PSA Injection akibat pekerjaannya yang sering terpapar release agent, maka diperlukan juga pekerja bagian lain yang tidak terpapar release agent. Selain itu, kondisi faal paru pekerja juga dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu karakteristik pekerja meliputi usia, masa kerja, dan status gizi turut mempengaruhi kondisi faal paru pekerja pada bagian PSA Injection di PT. X.

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan gambaran

faal paru pekerja pada bagian PSA Injection dan bagian Manajemen di PT. X.

METODE

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross sectional serta di analisis menggunakan uji statistik menggunakan software SPSS 16 dan Lisrel 5.84. Penelitian ini dilakukan di PT. X yang bertempat di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Waktu penelitian terhitung sejak pembuatan proposal sampai pembuatan laporan akhir yaitu bulan April-Agustus 2013, sedangkan waktu pengambilan data dilakukan pada bulan Juni-Juli 2013.

Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja bagian PSA Injection dan manajemen di PT. X yang memenuhi kriteria inklusi yaitu: berjenis kelamin laki-laki, berusia ≤40 tahun, tidak merokok, sehat jasmani termasuk tidak mempunyai riwayat penyakit paru (Tuberkulosis, asma, dan Bronchitis), dan bersedia menjadi responden. Terdapat 16 orang dari kelompok terpapar (bagian PSA Injection) dan 13 orang dari kelompok tidak terpapar (bagian manajemen). Penghitungan sampel menggunakan rumus Lameshow (Hidayat, 2010) berikut:

Keterangan:

n = perkiraan besar sampel N = perkiraan besar populasi

z = nilai standar normal untuk α = 0,05 (1,96)

p = perkiraan proporsi (50% = 0,5) q = 1 – p = (100% - 50% = 0,5)

d = tingkat kesalahan yang dipilih (0,1) Besar sampel minimal yang didapat adalah sebesar 14 orang dari kelompok terpapar dan 12 orang dari kelompok tidak terpapar. Hasil tersebut kemudian ditambah 10% untuk mengantisipasi kesalahan dalam pengambilan sampel, sehingga hasil yang didapat menjadi 16 orang dan 13 orang pada kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar.

(3)

karakteristik individu meliputi usia, masa kerja, dan status gizi merupakan variabel bebas. Pengumpulan data primer menggunakan kuesioner untuk mengetahui karakteristik individu dan alat spirometer merk Spirolab III ver. 2.7 yang digunakan untuk memeriksa faal paru responden. Data sekunder digunakan untuk mengetahui gambaran umum PT. X.

Teknik analisis data secara univariat dengan menyajikan tabel distribusi frekuensi dan analisis secara bivariat dengan menggunakan uji student t, uji chi-square, Fisher’s Exact test, dan korelasi Pearson menggunakan SPSS 16, serta uji korelasi biserial menggunakan Lisrel 5.84.

HASIL

Gambaran Umum PT. X

PT. X merupakan salah satu perusahaan pembuat alas kaki termasuk sepatu dan sandal yang bertempat di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Terdapat lebih dari 6000 orang karyawan yang dipekerjakan untuk memproduksi alas kaki yang berkualitas. Proses produksi sepatu pada PT. X mulanya adalah menyiapkan material yang dibutuhkan untuk membuat sepatu seperti kulit, benang, lem, dan lainnya. Material tersebut sudah tersimpan dalam war ehouse yang pekerjanya terdapat sekitar 125 orang. Tahap selanjutnya yaitu memproduksi kap atau bagian atas sepatu (upper). Terdapat sekitar 4674 orang karyawan yang turut membuat upper di PT. X dan didominasi oleh jenis kelamin perempuan. Kemudian upper tersebut bisa langsung diekspor maupun didistribusikan ke bagian fullshoe yaitu proses dimana upper atau sepatu yang setengah jadi tersebut di lanjutkan menjadi sepatu jadi melalui proses injection yaitu proses pelekatan sol dengan upper. Pada proses injection terdapat sekitar 487 orang pekerja yang tersebar dalam 18 bagian proses injection. Hanya terdapat 41 orang karyawan yang bertugas sebagai operator PSA di injection yang semuanya berjenis kelamin laki- laki. Proses selanjutnya adalah finishing dimana sepatu tersebut

diperindah serta diberi aksesoris. Terdapat sekitar 600 orang dan mayoritas berjenis kelamin perempuan yang bekerja di bagian finishing. Sepatu yang sudah jadi kemudian di packing untuk didistribusikan ke bagian PDC (P roduction Distribution Centre). Terdapat sekitar 78 orang yang bekerja di bagian PDC. Disamping itu terdapat bagian manajemen, engineer ing, dan lainnya yang tersebar dalam departemen yang turut membantu (support) kegiatan produksi di PT. X. Distribusi Frekuensi Responden

Distribusi frekuensi responden meliputi usia, masa kerja, status gizi, dan hasil faal paru terlihat dalam Tabel 1 berikut:

(4)

kelompok masa kerja 1-10 tahun (93,8% dan 69,2%). Uji beda menggunakan

Fisher’s Exact menunjukkan tidak adanya perbedaan masa kerja diantara kedua kelompok (p-value = 0,144). Pada variabel status gizi di kelompok terpapar dan pada kelompok tidak terpapar didominasi oleh kelompok status gizi normal (62,5% dan 53,8%). Uji beda menggunakan Chi-square menunjukkan tidak adanya perbedaan status gizi diantara kedua kelompok (p-value = 0,927). Sedangkan pada variabel faal paru di kelompok terpapar dan pada kelompok tidak terpapar didominasi oleh faal paru normal (93,8% dan 92,3%). Pada kedua kelompok tidak terdapat responden yang mengalami gangguan restriksi.

Analisis Perbedaan

Hasil analisis perbedaan gambaran %FEV1 dan %FVC pada kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar terlihat pada tabel 2 berikut:

Tabel 2 Perbedaan Gambaran %FEV1 dan %FVC pada Kelompok Terpapar dan Kelompok Tidak Terpapar

%FEV1 %FVC

Hasil analisis perbedaan dengan menggunakan uji student t menunjukkan tidak ada beda gambaran faal paru pada kedua kelompok dengan p-value sebesar 0,226 dan 0,691. Rata-rata nilai %FEV1 pada kelompok terpapar adalah 85,144 sedangkan pada kelompok tidak terpapar adalah 83,754. Rata-rata nilai %FVC pada kelompok terpapar adalah 135,531 dan 126,538 pada kelompok tidak terpapar.

Analisis Hubungan

Hasil analisis hubungan antara karakteristik individu dengan %FEV1 dan %FVC pada kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar pada tabel 3. Tabel 3 Hubungan antara Karakteristik

Individu dengan %FEV1 dan %FVC pada Kelompok Terpapar dan Kelompok Tidak Terpapar Var .

Inde pe nd

en

% FEV1 % FVC

p-value Correlation p-value Correlation Peke

(5)

PEMBAHASAN

Distribusi Frekuensi Responden

Usia pada kedua kelompok yang mayoritas berkebalikan ditunjukkan dengan adanya perbedaan saat diuji menggunakan Fisher’s exact test. Hal ini dikarenakan kelompok terpapar merupakan bagian produksi dan pada akhir-akhir ini sering dilakukan rekruitmen pekerja untuk bagian produksi dengan kriteria pendidikan minimal adalah SMA sehingga pekerja pada kelompok terpapar didominasi oleh usia muda.

Masa kerja pada kedua kelompok didominasi oleh masa kerja 1-10 tahun ditunjukkan oleh uji perbedaan menggunakan uji Fisher’s Exact yang hasilnya menunjukkan tidak adanya perbedaan distribusi masa kerja antara kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar. Pemeriksaan kesehatan berkala semestinya dilakukan pada semua tenaga kerja minimal satu tahun sekali

(PERMENAKERTRANS No.

2/Men/1980). Distribusi frekuensi status gizi yang hampir seimbang pada kedua kelompok ditunjukkan oleh hasil uji perbedaan distribusi menggunakan uji chi-square yaitu tidak terdapat perbedaan antara status gizi dengan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar.

Pada kelompok terpapar satu orang yang mengalami obstruksi tersebut berusia 40 tahun, masa kerjanya 18 tahun, tinggi badannya 164 cm, berat badan 59 kg, dan berstatus gizi normal. Sedangkan pada kelompok tidak terpapar satu orang responden yang mengalami obstruksi tersebut berusia 30 tahun, masa kerjanya delapan tahun, tinggi badannya 166 cm, berat badannya 72 kg, dan berstatus gizi overweight. Seseorang dianggap mengalami gangguan obstruksi bila nilai FEV1 kurang dari 75% dan dianggap mengalami gangguan restriksi bila nilai FVC kurang dari 80% (Alsagaff dan Mukty, 2009).

Analisis Perbedaan

Tidak adanya perbedaan %FEV1 maupun %FVC pada kedua kelompok

dikarenakan pada tiap-tiap pekerjaan atau kelompok terdapat satu orang responden yang mempunyai faal paru tidak normal. Hal ini bisa terjadi karena pihak perusahaan sudah memberi alat pelindung diri pernafasan pada kelompok terpapar yaitu pada bagian PSA Injection, sehingga kemungkinan kadar release agent Isoalkana yang masuk ke dalam saluran pernafasan pada pekerja di bagian PSA Injection dapat berkurang. Selain itu, perusahaan juga telah melakukan pengendalian berupa pemasangan loca l exhaust di area kerja kelompok terpapar sehingga kadar release agent isoalkana yang terinhalasi dapat berkurang. Rotasi pekerjaan pun telah dilakukan sebagai bentuk wujud pengendalian administrasi agar pekerja tidak terlalu lama terpapar bahan kimia yang sama dalam waktu yang lama. Kemungkinan lain adalah di area kerja kelompok terpapar, yaitu pada bagian PSA, kadar isoalkana yang terhirup kurang mempengaruhi faal parunya atau kadar isoalkana yang terhirup belum melebihi TLV yaitu 200 ml/m3. Tidak bisa dipungkiri bahwa daya tahan tubuh seseorang juga dapat mempengaruhi gangguan faal paru pada orang tersebut. Sehingga hasil faal paru setiap orang bisa berbeda meskipun dengan karakteristik individu yang relatif sama.

Analisis Hubungan

Tidak terdapatnya hubungan antara pekerjaan PSA Injection (kelompok terpapar) dan pekerjaan manajemen (kelompok tidak terpapar) dengan nilai %FEV1 maupun %FVC menunjukkan baik pada pekerjaan sebagai operator PSA Injection maupun sebagai manajemen tidak ada hubungannya dengan hasil faal paru yang meliputi nilai %FEV1 maupun %FVC.

(6)

tua usia seseorang maka semakin rendah hasil faal parunya, hal ini sesuai dengan konsep elastisitas paru (WHO, 1995). Semakin meningkatnya usia seseorang maka semakin rentan terhadap penyakit, termasuk gangguan saluran pernafasan. Hasil penelitian Setiawan (2010) juga menerangkan bahwa usia berpengaruh terhadap nilai %FEV1.

Terdapat hubungan yang sangat erat antara masa kerja dengan %FEV1 pada kelompok terpapar ditunjukkan oleh nilai korelasi Pearson sebesar -0,830 dan menunjukkan bahwa semakin tinggi atau lama masa kerja seseorang maka semakin rendah nilai %FEV1. Hasil penelitian Setiawan (2010) pada pekerja pengasapan ikan menyebutkan bahwa masa kerja berpengaruh terhadap hasil faal paru khususnya %FEV1. Menurut Suma’mur (2009), semakin lama seseorang bekerja maka semakin sering orang tersebut terpapar bahaya yang ditimbulkan oleh lingkungan kerja tersebut. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Budiono (2007) yang menjelaskan bahwa adanya hubungan antara masa kerja dengan gangguan fungsi paru, dengan p-value = 0,0005. Penelitian Budiono tersebut menyebutkan bahwa pekerja yang telah bekerja lebih dari 10 tahun mempunyai risiko hampir 15 kali lebih besar untuk mengalami gangguan faal paru daripada pekerja yang masa kerjanya kurang dari 10 tahun. Rentang waktu yang lama mengindikasikan bahwa gangguan faal paru ini termasuk efek kronis dari paparan bahan kimia

Terdapat hubungan yang sangat tidak erat antara status gizi dengan %FEV1 ditunjukkan oleh nilai korelasi biserial 0,186. Hal ini sejalan dengan penelitian Budiono (2007) yang menyatakan bahwa ada hubungan dengan status gizi dengan gangguan faal paru, dengan p-value = 0,0001. Menurut Alsagaff dan Mukty (2009), terjadinya obesitas dapat menjadi masalah pada bronkitis kronis, otot pernafasan harus bekerja lebih keras sehingga diafragma terdorong ke atas dan

menekan paru bagian bawah. Hal ini mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan ventilasi perfusi karena paru bagian bawah tetap mendapatkan aliran darah. Menyeimbangkan antara jumlah asupan gizi dengan aktivitas atau pekerjaan dapat digunakan untuk IMT seseorang, karena terjadinya ketidaknormalan pada IMT atau status gizi dapat memperburuk faal paru.

Tidak adanya hubungan pada %FVC pada kelompok terpapar karena tidak terdapat ketidaknormalan pada kelompok terpapar sehingga bisa dikatakan bahwa semakin muda maupun semakin tua usia, semakin lama maupun masih sebentar masa kerjanya, serta normal maupun tidak normal status gizinya seseorang tidak ada hubungannya dengan semakin tinggi atau semakin rendahnya hasil %FVC.

Pada kelompok tidak terpapar tidak terdapat hubungan antara usia, masa kerja, dan status gizi dengan nilai %FEV1 maupun pada nilai %FVC. Keadaan demikian kemungkinan dikarenakan kelompok tidak terpapar masih relatif normal faal parunya sehingga laju penurunan faal paru tidak secepat pada kelompok terpapar.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

1. Gambaran karakteristik responde n meliputi usia, masa kerja, dan status gizi:

a. Usia responden didominasi oleh usia 20-30 tahun dengan rata-rata usia adalah 28 tahun. Terdapat perbedaan usia antar kelompok. b. Masa kerja responden didominasi

oleh masa kerja antara 1-10 tahun dengan rata-rata masa kerja 5 tahun. Tidak ada beda masa kerja antar kelompok.

c. Status gizi responden didominasi oleh status gizi normal. Tidak ada beda status gizi antar kelompok. 2. Gambaran faal paru responde n

(7)

tiap-tiap kelompok yang mengalami gangguan faal paru berupa ganggua n obstruksi.

3. Analisis perbedaan gambaran faal par u pada kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar menunjukkan tidak adanya perbedaan antar kelompok baik pada ketegori %FEV1 (p-value = 0,226) maupun pada kategori %FVC (p-value = 0,691).

4. Analisis hubungan antara pekerjaa n dengan hasil faal paru (%FEV1 dan %FVC) menunjukkan tidak adanya hubungan antara pekerjaan sebaga i PSA Injection (kelompok terpapar) maupun sebagai manajeme n (kelompok tidak terpapar) denga n hasil %FEV1 (p-value = 0,219) maupun dengan hasil %FVC (p-value = 0,886).

5. Analisis hubungan antara karakteristik individu dengan hasil faal par u (%FEV1 dan %FVC) meliput i hubungan antara usia dengan %FEV1 dan %FVC, masa kerja denga n %FEV1 dan %FVC, dan status gizi dengan %FEV1 dan %FVC:

a. Analisis hubungan antara usia dengan %FEV1 terdapat hubungan pada kelompok terpapar (p-value = 0,001) dengan korelasi -0,755, sedangkan pada kelompok tidak terpapar serta pada hubungan antara usia dengan %FVC tidak terdapat hubungan.

b. Analisis hubungan antara masa kerja dengan %FEV1 terdapat hubungan pada kelmpok terpapar (p-value = 0,000) dengan korelasi -0,830, sedangkan pada kelompok tidak terpapar serta pada hubungan antara masa kerja dengan %FVC tidak terdapat hubungan.

c. Analisis hubungan antara status gizi dengan %FEV1 terdapat hubungan pada kelompok terpapar (p-value = 0,001) dengan korelasi 0,186, pada kelompok tidak terpapar serta pada hubungan antara status gizi dengan %FVC tidak terdapat hubungan.

Saran

1. Bagi PT. X:

a. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala serta melakukan pemeriksaan kesehatan khusus untuk memantau kondisi kesehatan para pekerja.

b. Melakukan pengujian lingkungan, khususnya kadar Isoalkana pada bagian PSA Injection untuk memantau kondisi lingkungan sehingga tidak merugikan pekerja maupun orang lain yang berada di tempat tersebut.

c. Menyesuikan alat pelindung pernafasan untuk setiap jenis paparan yang terdapat pada tempat kerja.

d. Melakukan pemeriksaan rutin pada local exhaust, khususnya pada area kerja PSA Injection.

e. Melakukan pengendalian secara administratif yaitu melakukan rotasi pekerjaan maksimal 5 tahun pada seorang pekerja.

2. Bagi pekerja pada bagian PSA Injection:

a. Menggunakan masker yang sesuai setiap berada pada tempat kerja maupun pada tempat yang sekiranya terdapat bahaya bahan kimia dan debu.

b. Menjaga pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan seimbang, cukup istirahat, serta cukup olahraga, khususnya olahraga senam dan renang untuk meningkatkan kapasitas paru. c. Bersedia dirotasi ke bagian atau ke

pekerjaan yang lain (yang tidak terpapar relea se agent).

3. Bagi pekerja pada bagian manajemen: a. Menjaga pola hidup sehat dengan

mengkonsumsi makanan seimbang, cukup istirahat, serta cukup olahraga, khususnya olahraga senam dan renang untuk meningkatkan kapasitas paru. b. Menggunakan masker yang sesuai

(8)

sekiranya terdapat bahaya bahan kimia dan debu.

4. Bagi peneliti lain:

Perlu dilakukan penelitian pengujia n berapa kadar bahan kimia isoalkana yang terhirup agar bisa diketahui apakah hasil faal paru pekerja dipengaruhi oleh kadar isoalkana yang terhirup.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim (2003). Material Safety Data Sheet Gorapur RT 17-2B.

Alsagaff, Hood dan Abdul Mukty. 2009. Dasar dasa r Ilmu P enyakit P aru. Surabaya. Airlangga University Press.

Budiono, Irwan. 2007. Faktor Risiko Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Pengecatan Mobil (Studi pada Bengkel Pengecatan Mobil di Kota Semarang). Tesis. Semarang: Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/17854/1/IR

WAN_BUDIONO.pdf (Sitasi 5 Juni 2013).

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2010. Metode P enelitian Kesehatan P aradigma Kuantitatif. Surabaya. Health Books Publishing.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. Per-02/MEN/1980 tentang P emer iksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam P enyelenggaraan Keselamatan Kerja.

Setiawan, Adi. 2010. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kapasitas Fungsi Paru Pengrajin Pengasapan Ikan di Kenjeran. Skripsi. Surabaya: Universitas Airlangga.

Suma’mur. 2009. Higiene P erusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes). Jakarta: Sagung Seto.

Referensi

Dokumen terkait