• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOAGULASI LATEKS DENGAN EKSTRAK JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOAGULASI LATEKS DENGAN EKSTRAK JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIFOLIA)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KOAGULASI LATEKS DENGAN EKSTRAK JERUK NIPIS

(CITRUS AURANTIFOLIA)

Farida Ali, Didin Suwardin, Mili Purbaya, Eis Sri Hartati dan Syntia Rahutami

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

ABSTRAK

Penggumpalan lateks secara alamiah membutuhkan waktu yang cukup lama dan hasil penggumpalannya tidak sempurna sehingga kualitas mutu karet kurang baik. Untuk mempercepat penggumpalan lateks telah dicoba menambahkan berbagai bahan penggumpal/koagulan ke dalam lateks yang berfungsi sebagai media pertumbuhan bakteri. Fermentasi karbohidrat yang terdapat di dalam lateks oleh bakteri membentuk asam yang dapat mempersingkat waktu koagulasi menjadi sekitar 4 jam.

Lateks sebanyak 200 ml dicampur dengan ekstrak jeruk nipis dengan perlakuan variasi volume 0, 10, 20, 30, 40, 50 ml untuk mendapatkan volume optimum, variasi waktu kontak 15 menit, 1, 4, 8, 12 jam untuk mendapatkan waktu kontak optimum dan variasi temperatur 30, 60, 90 oC untuk mendapatkan temperatur optimum.

Karet basah yang maksimal diperoleh pada volume 30 ml, waktu kontak 720 menit atau 12 jam dan suhu 60 oC. Untuk kadar karet kering yang tinggi yaitu pada volume 30 ml, waktu kontak 720 menit dan suhu 60 oC. Plasticity Retention Index (PRI) yang tinggi pada volume 30 ml, waktu kontak 720 menit dan suhu 60 oC. Kadar Abu yang rendah pada volume 30 ml, waktu kontak 720 menit dan suhu 60 oC. Kadar Karet Kering yang maksimal, plastisitas yang tinggi dan kadar abu/kadar kotoran yang rendah mencerminkan bahwa karet hasil penggumpalan menggunakan ekstrak jeruk nipis tanpa kulit telah sesuai dengan Standard Indonesian Rubber (SIR). Dari penelitian ini diketahui bahwa karet hasil penggumpalan dengan menggunakan ekstrak jeruk nipis mempunyai kualitas yang baik.

I. PENDAHULUAN

Karet alam merupakan salah satu hasil perkebunan yang tersebar di Indonesia, khususnya Sumatera Selatan. Karet alam diperoleh dari lateks yang berasal dari pohon karet (Hevea brasiliensis). Karet alam menghasilkan lateks atau emulsi lateks yang merupakan suatu sistem emulsi, dengan partikel karet sebagai fasa terdispersi dan air sebagai fasa pendispersi serta emulgator protein. Karet dapat terkoagulasi secara alamiah biasanya terjadi karena pencemaran oleh mikroba yang terdapat pada pisau sadap, talang, mangkok sadap, udara sekeliling dan sebagainya.

Koagulasi lateks adalah suatu tahap yang sangat penting pada pengolahan karet alam, biasanya penggumpalan dilakukan dengan menggunakan asam, seperti asam sulfat dan asam format (dengan pH yang biasa digunakan berkisar 1-2), penggunaan senyawa kimia ini banyak menimbulkan dampak negatif terhadap alam. Oleh karena itu perlu

dicari alternatif lain dalam menggumpalkan lateks yang tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan.

(2)

waktu kontak, pH ekstrak jeruk nipis dan lain-lain.

Tujuan penelitian ini adalah mencari cara untuk mempercepat proses penggumpalan alamiah dengan menggunakan bahan alami yaitu buah segar yang mudah diperoleh, murah, dengan tetap memberikan sifat teknologi yang setaraf dengan penggumpalan asam semut.

II. LANDASAN TEORI Koagulasi lateks

Koagulasi lateks adalah peristiwa perubahan fase sol menjadi gel dengan bantuan bahan penggumpal yang disebut dengan koagulan. Penggumpalan lateks dapat terjadi karena penurunan muatan listrik. Penurunan muatan listrik dapat terjadi karna penurunan pH lateks atau penamabahan asam H+ dan pengaruh enzim (Abedednego, 1981).

Dalam proses penggumpalan, partikel karet akan mengerut serta mengeluarkan air dan serum yang terkandung di dalamnya, dengan keluarnya serum maka penguraian zat anti oksidan akan berkurang. Hal ini disebabkan berkurangnya jasad renik. Dalam keadaan kering reaksi ikatan silang lebih cepat terjadi dan dalam keadaan basah terjadi persilangan lambat, ini menyebabakan ketahanan karet terhadap reaksi oksidasi berkurang (Walujono, 1975).

Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia)

Pada mulanya jeruk nipis mempunyai nama latin Citrus aurantium subspesies aurantifolia. Dalam perkembangan selanjutnya, jeruk nipis dikenal dengan nama Citrus aurantifolia swingle. Kerabat dekat jeruk nipis antara lain adalah jeruk lemon (Citrus lemon) yang sebelumnya dikenal dengan nama Citrus medica varietas lemon dan jeruk sukade (Citrus medica) yang sebelumnya disebut Citrus medica varietas proper. (Rukmana, H. Rahmat, 2003).

Jeruk nipis termasuk tipe buah buni dan bakal buah berbentuk bulat. Setelah menjadi buah berubah bentuk menjadi bundar seperti bola atau bulat lonjong. Diameter buahnya sekitar 3-6cm. Daging buah jeruk nipis bersegmen. Segmen buahnya berdaging hijau kekuning-kuningan dan mengandung

banyak sari buah yang beraroma harum. Sari buahnya banyak mengandung air, berasa sangat asam sekali, vitamin C, zat besi, kalium, gula dan asam sitrat. Sari buahnya yang sangat asam berisi asam sitrat berkadar 7-8 % dari berat daging buah. Ekstrak sari buahnya sekitar 41 % dari bobot buah yang sudah masak dan berbiji banyak. (Rukmana, H.Rahmat, 2007 dan B. Sarwono, 2001).

Jenis-jenis Jeruk Nipis

Jeruk nipis yang dibudidayakan di Indonesia dibedakan menjadi dua jenis, yaitu jeruk nipis biasa dan jeruk nipis non biji. Perbedaan kedua jenis jeruk nipis tersebut terletak pada bentuk daun, buah, bunga dan bagian-bagian tanaman yang lain. (Rukmana, H. Rahmat, 2003).

1). Jeruk Nipis Biasa

Jeruk nipis biasa disebut juga jeruk nipis berbiji atau jeruk nipis tradisional. Buah berbentuk bundar seperti bola atau bulat lonjong dan berukuran kecil. Daging buah berwarna kuning kehijauan, banyak mengandung air, sangat asam, beraroma sedap yang khas, memiliki kandungan asam sitrat tinggi dan berbiji banyak.

2). Jeruk nipis Tanpa Biji (Non-biji)

Buah jeruk nipis tanpa biji berbentuk bulat seperti jeruk nipis berbiji dan berukuran sebesar telur ayam atau sebanding dengan lemon tea. Buah masak berwarna kuning mulus dengan daging buah berwarna kuning atau kuning kehijau-hijauan. Kulit buah tipis dan berwarna kuning bersih. Buah banyak mengandung air, tidak berbiji dan beraroma harum.

Lateks

(3)

proses perombakan sukrosa untuk pembentukan karet.

Lateks kebun adalah cairan getah yang didapat dari bidang sadap pohon karet. Cairan getah ini belum mengalami penggumpalan, baik itu dengan tambahan atau tanpa bahan pemantap (zat antikoagulan). Lateks yang baik harus memenuhi ketentuan sebagai berikut :

a. Disaring dengan saringan berukuran 40 mesh.

b. Tidak terdapat kotoran atau benda-benda lain seperti rum lateks.

c. Tidak bercampur dengan bubur lateks, air atau serum lateks.

d. Warna putih dan berbau karet segar. e. Lateks kebun mutu 1 mempunyai kadar

karet kering 28 % dan lateks kebun mutu 2 mempunyai kadar karet kering 20 %. (J. Sugito, 2007)

Umumnya kadar karet kering di dalam lateks hevea berkisar antara 25-40%. Secara umum komposisi lateks sebagimana terdapat pada Tabel 1 adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Komposisi Lateks Karet

Komposisi Persentase (%)

Hidrokarbon Air

Protein Lipid

Garam-garam mineral Ammonia

59.63 37.69 1.06 0.23 0.40 0.68 Sumber : Premamoy Ghosh, 2002

Karet Hevea Brasiliensis

Kedudukan tanaman karet dalam sistematika tumbuh-tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup) Kelas : Dicotyledonae (biji berkeping dua) Ordo : Euphorbiales

Sesuai dengan nama latin yang disandangnya tanaman karet (Hevea brasiliensis) berasal dari Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan karet alam dunia. Tanaman karet Hevea brasiliensis telah dikenal secara luas dan banyak dibudidayakan,

sehingga sekarang tanaman-tanaman karet yang menghasilkan getah mirip lateks kurang dimanfaatkan lagi getahnya. Sebagai penghasil lateks, tanaman karet Hevea brasiliensis dapat dikatakan merupakan satu-satunya tanaman yang dikebunkan besar-besaran.

Karet Hevea merupakan hidrokarbon suatu polimer dengan bobot molekul berkisar 400.000–1.000.000µ. Bahan penyusunnya adalah isoprena (2-methyl butadiena). Dalam lateks karet terdapat butiran-butiran karet sebagai butir halus. Lateks dari pohon karet hevea brasiliensis mengandung 35 % karet dan 2 % protein yang menjadi koloid pelindung bagi butir-butir karet. Lapisan protein dipecah oleh asam formiat atau asam-asam lainnya. Sehingga butir-butir karet dapat koagulasi menjadi karet mentah.

Standar Industri Karet/Mutu Spesifikasi Teknis Karet

Penilaian mutu secara spesifikasi teknis didasarkan pada hasil analisis dan beberapa syarat uji yang ditetapkan untuk Standar Indonesia Rubber (SIR) yaitu Kadar Karet Kering (KKK), Plasticity Retention Index (PRI), kadar abu, kadar kotoran (Solichin, 1994).

Penetapan syarat uji kadar abu dalam Standard Indonesian Rubber (SIR) dimaksudkan untuk menjamin agar karet tidak banyak mengandung bahan asing. Kadar abu dipengaruhi oleh faktor-faktor : kontaminasi bahan asing dan jenis bahan pembeku yang digunakan. Abu dalam karet mentah terdiri atas P, Mg, Na, Ca, Cu dan beberapa unsur lain dalam jumlah yang berbeda-beda. Abu dapat pula mengandung silika yang berhubungan dengan cara pengolahan. Abu dari karet memberi gambaran mengenai jumlah mineral dalam karet.

Makin tinggi kadar abu berarti makin banyak kandungan ion logamnya dan hal ini akan mempengaruhi nilai PRI. Makin tinggi kadar abu menyebabkan turunnya nilai Po, PRI karena adanya ion logam yang bersifat praoksidan menyebabkan oksidasi cepat terjadi.

(4)

Menurut Sivalabalasunderam dan Nadaradjah (1966) nilai PRI diukur dari plastisitas karet yang masih tertinggal apabila karet tersebut dipanaskan selama 30 menit pada temperatur 140 oC. Nilai PRI adalah persentase plastisitas karet setelah dipanaskan berbanding plastisitas karet sebelum dipanaskan makan semakin kecil pula nilai PRI.

Menurut Kosasih dan Husnan (1982), bahan olah karet rakyat yang dihasilkan petani merupakan bahan asal koagulum lateks untuk diolah lebih lanjut menjadi karet koanvensional atau karet spesifikaasi teknis.

Bahan olah karet adalah gumpalan lateks yang diperoleh dari pohon karet yang diusahakan oleh petani. Slab adalah bahan baku terpenting dan yang paling mudah diolah, karena cara pengolahan paling sedikit menghendaki upaya (Suwardin, 1994).

Mutu bahan olah karet rakyat sangat menentukan daya saing karet alam Indonesia di pasaran Internasional. Dengan mutu bahan olah karet yang baik, akan terjamin kesinambungan permintaan pasar dalam jangka waktu panjang. Oleh karena itu untuk memperoleh bahan olah karet yang bermutu tinggi, beberapa persyaratan teknis mesti diikuti yaitu tidak ditambahkan bahan-bahan olah non karet, dibekukan dengan asam semut pada dosis yang tepat, segera digiling dalam keadaan segar dan disimpan di tempat yang teduh dan tidak direndam (Suwardin, 1991).

III. BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN

1. Jenis Koagulan dan Fungsinya

Bahan alami yang digunakan dalam percobaan ini adalah buah segar yaitu ekstrak jeruk nipis tanpa kulit dan ekstrak jeruk nipis dengan kulit. Bahan tersebut mengandung asam sitrat yang cukup tinggi. Asam sitrat berfungsi sebagai media bagi pertumbuhan mikroba dan selanjutnya kandungan non-rubber akan terurai menghasilkan asam organik ini dan asam-asam lain yang terbentuk selama proses penguraian lateks akan mempercepat proses penggumpalan lateks.

2. Penyediaan Bahan Koagulan

Bahan yang digunakan sebagai koagulan terlebih dahulu dicuci dengan air hingga bersih, jeruk nipis tanpa kulit/dengan kulit dihaluskan dengan cara di blender sampai hancur, kemudian diambil ekstraknya dengan cara disaring menggunakan kertas saring hingga terpisah antara bagian air jeruk nipis ditampung pada suatu wadah kemudian ekstrak jeruk nipis tanpa kulit/dengan kulit diukur pHnya. Pemisahan bahan baku lateks karet dari kotoran-kotoran kasar, dimana awalnya lateks karet ditampung dalam suatu wadah.

3. Tahapan Percobaan

Dalam percobaan ini dilakukan beberapa tahap percobaan sebagai berikut : 1. Percobaan laboratorium untuk memilih

bahan pembantu koagulan yang menghasilkan waktu penggumpalan yang sesingkat mungkin, koagulum yang kokoh dan mempunyai serum yang bersih dan serendah mungkin hasil penggumpalan secara alamiah.

2. Percobaan lapangan, dimana bahan pengganti koagulan yang terpilih, dicoba di lapangan dengan 200 ml lateks. Percobaan lapangan dilakukan di Laboratorium Teknologi Balai Penelitian Sembawa pada tanaman klon GT 1. 3. Percobaan untuk melihat pengaruh

penambahan koagulan ekstrak jeruk nipis ke dalam bahan penggumpal terpilih untuk mencegah menurunnya nilai Kadar Karet Kering (KKK), Plasticity Retention Index (PRI) dan naiknya kadar abu, kadar kotoran. Percobaan ini juga dilaksanakan di Laboratorium Teknologi, di lokasi yang sama.

4. Pengujian Sifat Teknologi a. Uji Kadar Karet Kering (KKK)

o Berat slab basah ditimbang dan dicatat beratnya (gram).

o Karet basah digiling.

(5)

o Ditimbang berat karetnya (blanket) dan dicatat beratnya (berat karet kering).

o Ditentukan kadar karet kering dengan persamaan sebagai berikut :

o Kadar Karet Kering (KKK) =

%

100

×

asah

BeratSlabB

Kering

BeratKaret

o Setelah penentuan Kadar Karet Kering (KKK) atau karet dikeringkan di dalam oven, karet diblending dengan tujuan agar karet homogen dan bisa digunakan untuk proses analisa hasil karet yaitu uji plastisitas, uji kadar abu, uji kadar kotoran.

b. Uji Plastisitas

o Karet yang telah diblending kemudian diambil sedikit dengan merata dengan menggunakan Wallace Punch.

o Sebagian sampel diuji pada plastimeter dan data yang diperoleh adalah nilai Po (Tanpa Pengusangan), dicatat dan dilakukan tiga kali percobaan.

o Sedangkan sebagian lagi dimasukkan ke dalam oven pada suhu 140 oC selama 30 menit kemudian langsung diuji pada plastimeter dan data yang diperoleh adalah nilai Pa (Dengan Pengusangan), dicatat dan dilakukan tiga kali percobaan.

o Data yang didapat dari percobaan di atas yaitu nilai Po dan nilai Pa maka penentuan Plasticity Retention Index (PRI) dengan persamaan sebagai berikut :

PRI =

×

100

%

Pa

Po

Plastisitas adalah ukuran dari besarnya sifat keliatan karet mentah sebelum dan sesudah pengusangan pada suhu 140 oC selama 30 menit. Dengan mengetahui nilai plastisitas dapat diperkirakan mudah tidaknya karet menjadi lengket jika lama disimpan atau dipanaskan atau menunjukkan ketahanan karet terhadap degradasi oksidasi. Nilai plastisitas yang tinggi menunjukkan ketahanan yang tinggi terhadap degradasi oleh oksidasi. Catatan : Semakin besar plastisitasnya,

maka semakin baik kualitas karet. Berdasarkan Standard Indonesian Rubber (SIR), persen plastisitas minimum 30-60 %.

c. Uji Kadar Abu

o Sampel diambil sebanyak kurang lebih lima gram dan ditimbang dengan neraca analitis, dimana jangan kurang dari lima gram dan dicatat.

o Sampel dipotong kecil-kecil untuk memudahkan karet mencair.

o Krus porselen kosong ditimbang dan dicatat.

o Dimasukkan ke dalam krus porselen dimana terlebih dahulu krus porselen kosong dimasukkan ke dalam oven untuk memperoleh berat krus yang konstan.

o Sampel karet kemudian dipanaskan pada hot plate sampai menjadi arang baru.

o Dimasukkan ke dalam Muffle Furnace pada suhu 550 oC selama kurang lebih 4 jam.

o Setelah karet menjadi abu maka sampel ditimbang, data yang diperoleh adalah berat krus porselen ditambah abu.

o Data yang didapat dari percobaan di atas yaitu berat sampel, berat krus kosong dan berat krus kosong + abu maka penentuan kadar abu dengan menggunakan persamaan.

Catatan : Semakin kecil kadar abu, maka semakin baik kualitas karet. Berdasarkan Standard Indonesian Rubber (SIR), kadar abu maksimum yaitu 0,5-1 %.

d. Uji Kadar Kotoran

o Sampel diambil sebanyak kurang lebih sepuluh gram dan ditimbang dengan neraca analitis, dimana jangan kurang dari sepuluh gram dan dicatat.

o Sampel dipotong kecil-kecil untuk memudahkan karet mencair.

o Saringan kosong dicuci bersih, dilap, dimasukkan ke dalam oven selama 30 menit sebelum digunakan untuk memperoleh berat saringan yang konstan, ditimbang dan dicatat.

(6)

o Sampel yang telah dicampur dengan terpentin dan kempep lalu digoyang-goyang hingga homogen.

o Dimasukkan ke dalam alat pemanas inframerah selama empat jam lebih, dimana berupa pemanas dengan media lampu 900 watt, suhunya 140 oC, dimana blanketnya sampai hancur menjadi cairan dan bentuk gelnya cair tercampur dengan terpentin dan kempep (warnanya kuning kecoklat-coklatan).

o Dimana jika blanketnya masih berbentuk gel maka sulit pada saat penyaringan. Lalu disiapkan saringan, corong, erlenmeyer dan disusun menjadi media saring.

o Setelah sampel mencair disaring sambil disemprot dengan terpentin agar kadar kotoran yang tertinggal di erlenmeyer dapat terbawa.

o Setelah tersaring dioven kembali dengan suhu 110 oC selama 30 menit.

o Didinginkan

o Ditimbang dan dicatat.

o Data yang didapat dari percobaan di atas yaitu berat sampel, berat saringan kosong dan berat saringan kosong + kotoran maka penentuan Kadar Kotoran dengan persamaan.

Catatan : Semakin kecil kadar kotoran, maka semakin baik kualitas karet. Berdasarkan Standard Indonesian Rubber (SIR).

e. Uji Berat Karet yang Dihasilkan dari Beberapa Variabel

Setelah dilakukan percobaan dengan beberapa variabel di atas, selanjutnya dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan kondisi optimum dari masing-masing parameter yang telah diperiksa guna mendapatkan berat karet yang terbaik.

f. Uji Total Asam dengan Cara Titrasi

o Diambil 1 ml ekstrak jeruk nipis dan ditambah 100 ml air aquadest dan diaduk sampai homogen. Lalu dari larutan terakhir atau setelah dilakukan pengenceran diambil 1 ml dan diencerkan lagi menjadi 100 ml.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Uji Pengaruh Penambahan Variasi Volume Ekstrak Jeruk Nipis

Pengaruh Volume Terhadap Kadar Karet Kering

0

Gambar 1. Grafik Pengaruh Volume

Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap Kadar Karet Kering (K3)

Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap Plasticity

Retention Index (PRI)

Pengaruh Volume Terhadap Kadar Abu

(7)

Pada umumnya bahwa semakin tinggi volume koagulan ekstrak jeruk nipis semakin singkat kecepatan penggumpalan lateks, semakin tinggi pula nilai kadar karet kering, Plasticity Retention Index (PRI) dan nilai kadar abu karetnya rendah. Pada Gambar diatas terlihat bahwa bahan pembantu koagulan yang berasal dari bahan alami yaitu buah segar ekstrak jeruk nipis menunjukkan nilai optimal yang lebih tinggi daripada penggumpalan alamiah yang memberikan optimal yang lebih rendah.

Dari penilaian mutu di atas secara spesifikasi teknik didasarkan pada hasil analisis dan beberapa syarat uji yang ditetapkan untuk Standar Indonesian Rubber (SIR) antara lain Kadar Karet Kering (KKK), Plasticity Retention Index (PRI), kadar abu dan kadar kotoran (Solichin, 1991), maka didapatkan volume optimum yaitu pada 30 ml ekstrak jeruk nipis.

2. Uji Pengaruh Penambahan Variasi Waktu Kontak

Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Kadar Karet Kering

20 30 40 50 60 70

0 100 200 300 400 500 600 700 800

Waktu Kontak (menit)

K

K

K

(

%

)

0 ml 10 ml 20 ml 30 ml 40 ml 50 ml

Gambar 4. Grafik Pengaruh Waktu Kontak Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap Kadar Karet Kering

Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Plasticity Retention Index

50 60 70 80 90 100

0 100 200 300 400 500 600 700 800

Waktu Kontak (menit)

P

R

I

(%

)

0 ml 10 ml 20 ml 30 ml 40 ml 50 ml

Gambar 5. Grafik Pengaruh Waktu Kontak Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap Plasticity Retention

Index (PRI)

Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Kadar Abu

0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2

0 100 200 300 400 500 600 700 800

Waktu Kontak (menit)

K

a

d

a

r

A

b

u

(

%

)

0 ml 10 ml 20 ml 30 ml 40 ml 50 ml

Gambar 6. Grafik Pengaruh Waktu Kontak Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap Kadar Abu

(8)

Dari penilaian mutu di atas secara spesifikasi teknik didasarkan pada hasil analisis dan beberapa syarat uji yang ditetapkan untuk Standar Indonesian Rubber (SIR) antara lain Kadar Karet Kering (KKK), Plasticity Retention Index (PRI), kadar abu dan kadar kotoran (Solichin, 1991), maka didapatkan waktu kontak optimum yaitu pada 720 menit dengan volume ekstrak jeruk nipis 30 ml.

3. Uji Pengaruh Penambahan Variasi Temperatur

Pengaruh Suhu Terhadap Kadar Karet Kering

30

Gambar 7. Grafik Pengaruh Temperatur Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap Kadar Karet Kering

Gambar 8. Grafik Pengaruh Temperatur Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap

Plasticity Retention Index

Pengaruh Suhu Terhadap Kadar Abu

0

Gambar 9. Grafik Pengaruh Temperatur Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap Kadar Abu

Dari Gambar di atas dapat diketahui, untuk kadar karet kering, Palsticity Retention Index (PRI), kadar abu hasil pengujian pengaruh temperatur menunjukkan nilai yang relaatif sama. Bahan pembantu koagulan dari ekstrak jeruk nipis pada suhu 60

oC kelihatannya cukup baik di dalam

mempercepat proses koagulasi dan koagulumnya kokoh setelah didiamkan selama 1 malam, terutama pada nilai plastisitas yang tinggi dan nilai kadar abunya yang rendah.

Dari penilaian mutu di atas secara spesifikasi teknik didasarkan pada hasil analisis dan beberapa syarat uji yang ditetapkan untuk Standar Indonesian Rubber (SIR) antara lain Kadar Karet Kering (KKK), Plasticity Retention Index (PRI), kadar abu dan kadar kotoran (Solichin, 1991), maka didapatkan temperatur optimum yaitu pada volume ekstrak jeruk nipis 30 ml dengan suhu 60 oC.

V. KESIMPULAN

Dari hasil analisis dan perhitungan yang diperoleh dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Penambahan ekstrak jeruk nipis tanpa kulit dapat mempersingkat waktu koagulasi.

(9)

3. Pada penentuan waktu kontak optimum ekstrak jeruk nipis didapat penggumpalan lateks yang baik dengan waktu kontak 12 jam, 30 ml.

4. Pada penentuan temperatur optimum ekstrak jeruk nipis didapat penggumpalan lateks yang baik dengan temperatur 60 oC, 30 ml.

5. Kadar Karet Kering yang maksimal, plastisitas yang tinggi dan kadar abu/kadar kotoran yang rendah mencerminkan bahwa karet hasil penggumpalan menggunakan ekstrak jeruk nipis tanpa kulit telah sesuai dengan Standard Indonesian Rubber (SIR).

VI. DAFTAR PUSTAKA

Abedednego, J.G, ”Pengetahuan Lateks”, Direktorat Standarisasi, Normalisasi dan Pengendalian Mutu, Departemen Perdagangan dan Koperasi, Sembawa, 1981.

Broto, A.H, ”Kinetika Reaksi Pembekuan Lateks dengan Menggunakan Asam”, Skripsi Mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya (tidak dipublikasikan), Inderalaya, 2000. B. Sarwono, “Khasiat dan Manfaat Jeruk

Nipis”, Jakarta : AgroMedia Pustaka, 2001.

Gautara, dkk, “Dasar PengolahanKaret”, Departemen Teknologi Hasil Pertanian, IPB Bogor, 1976.

Ghosh, Premamoy, ”Polimer Science and Technology”, Kalkuta : Calcutta University, 2002.

J. Sugito, “Karet : Budidaya dan Pengolahan, Strategi Pemasaran”, Jakarta : Penebar Swadaya, 2007.

Kosasih dan Husnan, ”Laporan Penelitian Peningkatan Kadar Karet Kering Lateks”, Departemen Perindustrian, Palembang, 1982.

Rismunandar, “Mengenal Tanaman Buah-buahan”, Bandung : Sinar Baru, 1986. Rukmana, H.Rahmat, “Asam”, Yogyakarta :

Kanisius, 2005.

Rukmana, H.Rahmat, “Jeruk Nipis : Prospek Agribisnis, Budi Daya dan

Pascapanen”, Yogyakarta : Kanisius, 2003.

Rukmana, H.Rukmana, “Jeruk Nipis”, Yogyakarta : Kanisius, 1996.

Soedjono, ”Pengolahan Karet Secara Konfensional”, Balai Perkebunan Bogor, Bogor, 1975.

Soewarti dan Soeseno, “Pedoman Pengujian Sifat Fisika Karet Mentah”, Menara Perkebunan, Bogor, 1978.

Solichin, Muhammad, ”Fisiologi Pasca Panen Lateks”, Balai Penelitian Sembawa, Palembang, 1994.

Suwardin, Didin dkk, “Kestabilan Emulsi Lateks Interaksi antara Asam dan Jeruk”, 2007.

Suwardin, Didin, ”Laporan Penelitian Koagulasi Lateks”, Balai Penelitian Sembawa, 1994.

Suwardin, Didin, ”Laporan Penelitian Koagulasi Lateks”, Balai Penelitian Sembawa, 1991.

Suwardin, Didin dkk, “Rangkuman Koagulasi Lateks dengan Ekstrak Belimbing Wuluh”, Palembang : Balai Penelitian Sembawa, 2007.

(10)
(11)

Gambar

Tabel 1. Komposisi Lateks Karet
Gambar 3.  Grafik Pengaruh Volume Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap
Gambar 5.  Grafik Kontak Ekstrak Jeruk Nipis
Gambar 9.  Grafik Pengaruh Temperatur  Ekstrak Jeruk Nipis Terhadap

Referensi

Dokumen terkait

Allah SWT atas berkat, rakhmat, dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “ ANALISIS PENGARUH KESADARAN WAJIB PAJAK, PELAYNAN FISKUS

Adapun tujuan dari pembuatan kuisioner ini adalah untuk menentukan tingkat kepentingan (bobot) dari kriteria dan alternatif yang telah ditentukan oleh perusahaan terhadap

Garis Batas Landas Kontinen Indonesia dan India adalah garis lurus yang ditarik dari titik pertemuan menuju arah barat daya yang berada di Laut Andaman. Hal itu berdasarkan

Pemangkasan merupakan salah satu tahapan dalam pemeliharaan tanaman durian yang dilakukan dengan cara membuang cabang atau ranting pohon yang tidak

Tujuan proses pembelajaran di sekolah adalah bahwa semua siswa dapat memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Beberapa upaya meningkatkan hasil belajar siswa adalah

Sistem pengelolaan pendidikan, penelitian, pelayanan/pengabdian kepada masyarakat, dan kerjasama harus terintegrasi dengan penjaminan mutu program studi untuk

Abstrak: Masalah umum dalam penelitian ini adalah Apakah dengan menggunakan metode inquiry pada pembelajaran sifat-sifat cahaya dapat menigkatkan hasil belajar siswa

Pada fungsi-fungsi bangunan tertentu, masing- masing modul fungsi ini harus dipenuhi satu persatu, namun pada beberapa fungsi yang lain ukuran ruang pada modul