• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Sektor Ekonomi Unggulan Kota De

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Sektor Ekonomi Unggulan Kota De"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas besar Ekonomi WIlayah dengan baik dan tepat waktu. Tugas ini dibuat dalam rangka untuk menyelesaikan tugas kelompok dari mata kuliah Ekonomi Wilayah.

Dalam proses penulisan tugas ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada

 Bapak Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.Rer.Reg, dan Ibu Belinda

Ulfa Aulia ST, MSc. selaku dosen mata kuliah Ekonomi WIlayah yang telah memberikan penulis arahan/bimbingan dalam penulisan tugas ini.

 Kedua orang tua kami yang telah memberikan do’a dan

dukungan

 Penulis dari jurnal yang digunakan sebagai referensi.

 Pihak-pihak terkait lainnya yang membantu dalam

penyelesaian makalah ini.

Demikian makalah ini penulis buat, penulis berharap tugas ini dapat memberikan manfaat bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca mengenai upaya dan rekomendasi Ekonomi Wilayah – Kota Denpasar. Selain itu, penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna dijadikan koreksi agar kedepannya penulis dapat menyelesaikan tugas dengan lebih baik.

Surabaya, 28 Mei 2018

(3)
(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

DAFTAR ISI ... 2

BAB I PENDAHULUAN ... 4

1.1. LATAR BELAKANG...4

1.2. RUMUSAN MASALAH...4

1.3. TUJUAN DAN SASARAN PENELITIAN...4

1.4. RUANG LINGKUP WILAYAH...5

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN...5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1. PENGEMBANGAN WILAYAH...7

2.2. TINJAUAN KEBIJAKAN DAN ARAHAN MENURUT RTRW KOTA DENPASAR...8

2.2.1. ARAH PENGEMBANGAN WILAYAH...8

2.2.2. ISU STRATEGIS PEREKONOMIAN KOTA DENPASAR...8

2.3. KOMODITAS UNGGULAN...10

2.4. ANALISA KOMODITAS UNGGULAN...11

2.4.1. ANALISA LOCATION QUOTIENT...11

2.4.2. ANALISA SLQ (STATIC LOCATION QUOTIENT)...13

2.4.3. ANALISA SHIFT SHARE...14

BAB III GAMBARAN UMUM ... 17

3.1. ASPEK GEORAFIS DAN ADMINISTRATIF...18

3.2. KLIMATOLOGI...21

3.3. TOPOGRAFI...21

3.4. DEMOGRAFI...22

3.5. PENGGUNAAN LAHAN...22

3.6. EKONOMI REGIONAL...23

3.6.1. INDEK PEMBANGUNAN MANUSIA (IPM)...23

3.6.2. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)...24

3.6.3. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) PER KAPITA...28

3.6.4. LAJU PERTUMBUHAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)...29

3.6.5. LAJU INFLASI HARGA...30

(5)

4.1. ANALISA LOCATION QUOTIENT (LQ)...32

4.2. ANALISA SHIFTSHARE...33

4.2.1. KOMPONEN PERTUMBUHAN NASIONAL...34

4.2.2. KOMPONEN PERTUMBUHAN PROPORSIONAL...35

4.2.3. KOMPONEN PERTUMBUHAN PANGSA WILAYAH...36

4.2.4. PERTUMBUHAN EKONOMI...38

4.2.5. PENENTUAN KUADRAN TIAP SEKTOR EKONOMI...39

4.3. PERBANDINGAN HASIL ANALISA SLQ DENGAN ANALISA SHIFTSHARE...42

4.4. KONSEP PENANGANAN...44

BAB V KESIMPULAN ... 45

5.1. KESIMPULAN...45

(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Kota Denpasar merupakan salah satu kota yang mengalami perubahan struktur ekonomi, yang sebelumnya didominasi oleh Sektor Pertanian kini sudah beralih ke Sektor lndustri Pariwisata, Jasa dan Perdagangan. Restrukturisasi Ekonomi dalam arti peranan industri pariwisata dan industri yang dekat dengan itu semakin besar perannya dalam kehidupan perekonomian masyarakat, tenkait dengan penciptaan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Dalam arti apakah penciptaan pendapatan tersebut sudah dirasakan oleh masyarakat kecil, dalam konteks pemberdayaan ekonomi rakyat.

Perekonomian di Kota Denpasar dikembangkan dengan memperkuat perekonomian kerakyatan serta berorientasi dan berdaya saing global. Untuk itu dilakukan transformasi bertahap dari perekonomian berbasis keunggulan komparatif menjadi perekonomian yang berkeunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi dan pelayanan kokoh. Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan prinsip-prinsip dasar: mengelola secara berkelanjutan peningkatan produktivitas melalui penguasaan, penyebaran, penerapan, dan penciptaan (inovasi) iptek menuju ekonomi berbasis pengetahuan; mengelola secara berkelanjutan kelembagaan ekonomi yang melaksanakan praktik terbaik dan kepemerintahan yang baik, dan mengelola secara berkelanjutan SDA sesuai kompetensi dan keunggulan.

Maka dari itu diperlukan pembahassan lebih dalam mengenai pengelolaan sektor pariwisata dan pertanian dengan konsep Ibukota yang dapat menjawab permasalahan di Kota Denpasar.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang ada dalam latar belakang, yaitu Kota Denpasar mengalami perubahan struktur ekonomi, yang sebelumnya didominasi oleh Sektor Pertanian kini sudah beralih ke Sektor lndustri Pariwisata, Jasa dan Perdagangan., dapat ditarik rumusan masalah yaitu “Bagaimana arahan pengembangan komoditas unggulan dan penerapan konsep yang tepat di Kota Denpasar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pariwisata?”

1.3. Tujuan dan Sasaran Penelitian

(7)

a. Identifikasi komoditas unggulan sektor Sektor lndustri Pariwisata, Jasa dan Perdagangan di masing-masing wilayah di Kota Denpasar.

b. Evaluasi kondisi eksisting komoditas unggulan dengan arahan pengembangan Kota Denpasar.

c. Perumusan arahan pengembangan komoditas unggulan Kota Denpasar.

1.4. Ruang Lingkup Wilayah

Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 km2 atau 12.778 Ha , yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha. Dari luas tersebut diatas tata guna tanahnya meliputi Tanah sawah 2.717 Ha dan, tanah kering 10.051 Ha. Tanah kering kering terdiri dari tanah pekarangan 7.831 Ha, tanah tegalan 396 Ha, tanah tambak/kolam 10Ha, tanah sementara tidak diusahakan 81Ha,tanah hutan 613 Ha. Tanah perkebunan 35 Ha dan tanah lainnya:1.162Ha.

Kota Denpasar memiliki wilayah daratan seluas 12.778 Ha dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kecamatan Mengwi dan Abiansemal (Kabupaten Badung)

b. Sebelah Timur : Kecamatan Sukawati (Kabupaten Gianyar) dan Selat Badung

c. Sebelah Selatan : Kecamatan Kuta Selatan (Kabupaten Badung) dan Teluk Benoa

d. Sebelah Barat : Kecamatan Kuta Utara dan Kuta (Kabupaten Badung)

Secara administrasi terdiri dari 4 wilayah kecamatan yang terbagi menjadi 27 desa dan 16 kelurahan.

1.5. Sistematika Penulisan

Adapun sistematika yang digunakan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan

Pada bab pembuka ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, ruang lingkup wilayah, dan sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka

(8)

unggulan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan nilai tambah komoditas unggulan.

BAB III Gambaran Umum

Pada bab III ini, berisikan hasil pengumpulan data dan informasi di Kabupaten Bangkalan, antara lain PDRB, hasil sektor pertanian, maupun kondisi eksisting wilayah.

BAB IV Analisa

Pada bab IV ini, berisikan analisa komoditas unggulan atau sektor basis di Kabupaten Bangkalan. Selain itu, juga dilakukan analisis Shif-share guna mengetahui daya saing yang ada pada sektor pertanian di Kabupaten Bangkalan. Setelah didapatkan hasil analisis, akan dihubungkan dengan konsep yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan ekonomi yang ada pada sektor pertanian Kabupaten Bangkalan.

BAB V Kesimpulan

(9)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengembangan Wilayah

Pengembangan wilayah sangat diperlukan karena kondisi sosial ekonomi, budaya dan geografis yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Pada dasarnya pengembangan wilayah harus disesuaikan dengan kondisi, potensi dan permasalahan wilayah yang bersangkutan (Riyadi dalam Ambardi dan Socia, 2002). Guntara (2013) berpendapat pengembangan wilayah (regional development) adalah upaya untuk memacu perkembangan sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan wilayah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dalam Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur yang terkait kepadanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.

Sedangkan untuk perwilayahan adalah membagi suatu wilayah yang luas, misalnya wilayah suatu Negara ke dalam beberapa wilayah yang lebih kecil. Perwilayahan mengelompokkan beberapa wilayah kecil dalam satu kesatuan. Suatu perwilayahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembentukan wilayah itu sendiri. Dasar dari perwilayahan dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, di Indonesia dikenal wilayah kekuasaan pemerintahan seperti promosi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Desa/Kelurahan dan Dusun/Lingkungan.

b. Berdasarkan kesamaan kondisi, yang paling umum adalah kesamaan kondisi fisik.

c. Berdasarkan ruang lingkup pengaruh ekonomi. Perlu ditetapkan terlebih dahulu beberapa pusat pertumbuhan yang kira-kira sama besarnya, kemudian ditetapkan batas-batas pengaruh dari setiap pusat pertumbuhan.

d. Berdasarkan wilayah perencaan/program. Dalam hal ini, ditetapkan batas-batas wilayah ataupun daerah-daerah yang terkena suatu program atau proyek dimana wilayah tersebut termasuk kedalam suatu perencanaan untuk tujuan khusus.

Sedangkan pengembangan wilayah sangat dipengaruhi oleh komponen-komponen tertentu seperti (Friedman and Allonso, 2008) :

(10)

sebagainya. Sumberdaya lokal harus dikembangkan untuk dapat meningkatkan daya saing wilayah tersebut.

b. Pasar. Merupakan tempat memasarkan produk yang dihasilkan suatu wilayah sehingga wilayah dapat berkembang.

c. Tenaga kerja. Tenaga kerja berperan dalam pengembangan wilayah sebagai pengolah sumber daya yang ada.

d. Investasi. Semua kegiatan dalam pengembangan wilayah tidak terlepas dari adanya investasi modal. Investasi akan masuk ke dalam suatu wilayah yang memiliki kondisi kondusif bagi penanaman modal.

e. Kemampuan pemerintah. Pemerintah merupakan elemen pengarah pengembangan wilayah. Pemerintah yang berkapasitas akan dapat mewujudkan pengembangan wilayah yang efisien karena sifatnya sebagai katalisator pembangunan.

f. Transportasi dan Komunikasi. Transportasi dan komunikasi berperan sebagai media pendukung yang menghubungkan wilayah satu dengan wilayah lainnya. Interaksi antara wilayah seperti aliran barang, jasa dan informasi akan sangat berpengaruh bagi tumbuh kembangnya suatu wilayah.

g. Teknologi. Kemampuan teknologi berpengaruh terhadap pemanfaatan sumber daya wilayah melalui peningkatan output produksi dan keefektifan kinerja sektor-sektor perekonomian wilayah.

Tujuan pengembangan wilayah mengandung 2 (dua) sisi yang saling berkaitan yaitu sisi sosial dan ekonomis. Dengan kata lain pengembangan wilayah adalah merupakan upaya memberikan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, misalnya menciptakan pusat-pusat produksi, memberikan kemudahan prasarana dan pelayanan logistik dan sebagainya (Triutomo, 2001).

2.2. Tinjauan Kebijakan dan Arahan menurut RTRW Kota Denpasar 2.2.1. Arah Pengembangan Wilayah

Kebijakan ini diarahkan pada upaya mewujudkan percepatan pembangunan struktur dan pola ruang wilayah, dengan agenda:

 Mewujudkan pemberdayaan lembaga adat budaya dan pemahaman agama  Mewujudkan penguatan sistem ekonomi kerakyatan dalam menunjang

pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan

 Mewujudkan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM)  Mewujudkan keamanan dan lingkungan kondusif

2.2.2. Isu Strategis Perekonomian Kota Denpasar

(11)

peranan industri pariwisata dan industri yang dekat dengan itu semakin besar perannya dalam kehidupan perekonomian masyarakat, tenkait dengan penciptaan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Dalam arti apakah penciptaan pendapatan tersebut sudah dirasakan oleh masyarakat kecil, dalam konteks pemberdayaan ekonomi rakyat.

Perekonomian di Kota Denpasar dikembangkan dengan memperkuat perekonomian kerakyatan serta berorientasi dan berdaya saing global. Untuk itu dilakukan transformasi bertahap dari perekonomian berbasis keunggulan komparatif menjadi perekonomian yang berkeunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi dan pelayanan kokoh. Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan prinsip-prinsip dasar: mengelola secara berkelanjutan peningkatan produktivitas melalui penguasaan, penyebaran, penerapan, dan penciptaan (inovasi) iptek menuju ekonomi berbasis pengetahuan; mengelola secara berkelanjutan kelembagaan ekonomi yang melaksanakan praktik terbaik dan kepemerintahan yang baik, dan mengelola secara berkelanjutan SDA sesuai kompetensi dan keunggulan.

Struktur perekonomian di Kota Denpasar diperkuat dengan mendudukkan sektor industri sebagai motor penggerak yang didukung oleh kegiatan pertanian dalarn arti luas, termasuk kelautan, yang menghasilkan produk-produk secara efisien, modern, dan berkelanjutan serta jasa-jasa pelayanan yang efektif, yang menerapkan praktik terbaik dari ketatakelolaan yang baik, agar terwujud ketahanan ekonomi yang tangguh. lnvestasi diarahkan untuk mendukung terwujudnya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi secara berkelanjutan dan berkualitas dengan mewujudkan iklim investasi yang menarik; mendorong penanaman modal asing bagi peningkatan daya saing perekonomian; serta meningkatkan kapasitas infrastruktur fisik dan pendukung yang memadai.

Peningkatan efisiensi, modemisasi, dan nilai tambah sektor primer terutama sektor pertanian dalam arti luas, kelautan, didorong agar mampu bersaing di pasar lokal, antar daerah dan internasional serta untuk: memperkuat basis produksi. Hal ini merupakan faktor strategis karena berkenaan dengan pembangunan perdesaan, pengentasan kemiskinan dan keterbelakangan, dan ketahanan pangan. Semua ini harus dilaksanakan secara terencana dan cermat untuk menjamin terwujudnya transformasi seluruh elemen perekonomian ke arah lebih maju dan lebih kokoh di era globalisasi.

(12)

ekspor daerah sekaligus mengarnankan kepentingan strategis daerah di dalam pengentasan kemiskinan, pengemhangan perdesaan, dan perlindungan aktivitas perekonomian Daerah dari persaingan dan praktik perdagangan yang tidak sehat; dan (b) pengembangan citra, standar produk barang dan jasa yang berkualitas. Kepariwisataan dikembangkan agar mampu mendorong kegiatan ekonomi dan meningkatkan citra, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta perluasan kesempatan kerja. Pengembangan kepariwisataan memanfaatkan secara arif dan berkelanjutan keragaman pesona keindahan alam dan potensi Daerah.

2.3. Komoditas Unggulan

Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan atau dikembangkan pada suatu daerah (Depkimpraswil, 2003). Menurut Saragih (2001), komoditas unggulan agribisnis diartikan sebagai komoditas basis agribisnis yang dihasilkan secara berlebihan dalam pengertian lebih untuk dipergunakan oleh masyarakat dalam suatu wilayah tertentu, sehingga kelebihan tersebut dapat dijual ke luar wilayah tersebut.

Keberadaan komoditas unggulan pada suatu daerah akan memudahkan upaya pengembangan agribisnis. Hanya saja, persepsi dan memposisikan kriteria serta instrumen terhadap komoditas unggulan belum sama. Akibatnya, pengembangan komoditas tersebut menjadi salah urus bahkan menjadi kontra produktif terhadap kemajuan komoditas unggulan dimaksud. Berikut adalah pengelompokan komoditas unggulan, sebagai rujukan untuk menempatkan posisi produk agro dari sisi teori keunggulan komoditas, antara lain :

a. Komoditas unggulan komparatif : komoditas yang diproduksi melalui dominasi dukungan sumber daya alam, di mana daerah lain tak mampu memproduksi produk sejenis. Atau pula, komoditas hasil olahan yang memiliki dukungan bahan baku yang tersedia pada lokasi usaha tersebut. b. Komoditas unggulan kompetitif : komoditas yang diproduksi dengan cara

yang efisien dan efektif. Komoditas tersebut telah memiliki nilai tambah dan daya saing usaha, baik dari aspek kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas dan harga.

c. Komoditas unggulan spesifik : komoditas yang dihasilkan dari hasil inovasi dan kompetensi pengusaha. Produk yang dihasilkan memiliki keunggulan karena karakter spesifiknya.

d. Komoditas unggulan strategis : komoditas yang unggul karena memiliki peran penting dalam kegiatan sosial dan ekonomi.

(13)

unggulan berdasarkan potensi pasarnya, mengingat ukuran keberhasilan komoditas unggulan dapat diukur dari perannya dalam memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha.

Selain itu, memberikan kontribusi dalam pengembangan struktur ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Adapun pengelompokan komoditas tersebut, dapat disusun sebagai berikut:

a. Komoditas unggulan pasar ekspor: komoditas yang telah mampu memenuhi persyaratan perdagangan di pasar ekspor. Ini menyangkut aspek keamanan, kesehatan, standard, dan jumlah yang memadai, sehingga komoditas tersebut diminati negara pengimpor.

b. Komoditas unggulan pasar tradisional: komoditas yang mampu memenuhi keinginan selera konsumen lokal, baik dari aspek cita rasa, bentuk, ukuran, kualitas harga, dan budaya lokal.

c. Komoditas unggulan pasar modern: komoditas yang telah memiliki dayasaing tinggi dari aspek harga, kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, serta biasa dibutuhkan oleh berbagai kalangan konsumen secara internasional. d. Komoditas unggulan pasar industri: komoditas yang merupakan bahan baku

utama industri manufaktur agro.

e. Komoditas unggulan pasar antar pulau: komoditas yang dibutuhkan oleh pasar antar pulau karena komoditas tersebut tak mampu diproduksi di pulau tersebut.

f. Komoditas unggulan pasar khusus: komoditas yang memang dipesan oleh pasar tertentu lengkap dengan spesifikasinya. (Yuhana, 2008).

Hal terpenting bagi ukuran komoditas adalah memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif sehingga mampu bersaing di pasar dengan komoditas pesaingnya. Oleh karena itu, sangat perlu diketahui apakah komoditas dari hutan tanaman yang ada saat ini memiliki salah satu atau keduanya dari kriteria keunggulan tersebut. Analisis keunggulan kompetitif didasarkan pada sistem harga-harga pada pasar yang berlaku (dihadapi). Hal ini berarti sistem pasar baik pasar input, faktor domestik maupun pasar komoditas telah dipengaruhi oleh intervensi kebijakan pemerintah (Rukmantara, 2006).

2.4. Analisa Komoditas Unggulan 2.4.1. Analisa Location Quotient

(14)

terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional. Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis, sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan yang menjadi pemacu pertumbuhan. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan.

Berdasarkan pemahaman terhadap teori ekonomi basis, teknik LQ relevan digunakan sebagai metode dalam menentukan komoditas unggulan khususnya dari sisi penawaran (produksi atau populasi). Untuk komoditas yang berbasis lahan seperti tanaman pangan, holtikultura, dan perkebunan, perhitungannya didasarkan pada lahan pertanian (area tanam atau area panen), dan produksi atau produktivitas. Sedangkan untuk komoditas pertanian yang tidak berbasis lahan seperti usaha ternak, dasar perhitungannya digunakan jumlah populasi (ekor). Setiap metode analisis memiliki kelebihan dan keterbatasan, demikianhalnya dengan metode LQ (Hendayana, 2003) :

a. Kelebihan metode LQ dalam mengidentifikasi komoditas unggulan, antara lain penerapannya sederhana dan tidak memerlukan program pengolahan data yang rumit. Penyelesaian analisis cukup dengan spreed sheet dari Excel atau program lotus serta alat perhitungan lainnya.

b. Keterbatasannya adalah karena demikian sederhananya pendekatan LQ ini, maka yang dituntut adalah akurasi data. Sebaik apapun hasil olahan LQ, tidak akan banyak memanfaatkannya jika data yang digunakan tidak valid. Oleh karena itu sebelum memutuskan menggunakan alat analisis LQ maka validitas data sangat diperlukan. Disamping itu untuk menghindari bias musiman dan tahunan diperlukan bila rata-rata kurang dari 5 tahun. Sementara dilapangan, mengumpulkan data yang panjang sering mengalami hambatan.

Formula untuk Location Quotient (SLQ) adalah sebagai berikut :

Keterangan :

 Vik = Nilai output (PDRB) sektor i daerah studi k (kabupaten/kota misalnya)

dalam pembentukan PDRB riil daerah studi k

 Vk = PDRB total semua sektor di daerah studi k

 Vip = Nilai output (PDRB) sektor i daerah referensi p (propinsimisalnya)

dalam pembentukan PDRB daerah p.

(15)

Asumsi utama dalam analisis LQ adalah bahwa semua penduduk di setiap daerah mempunyai pola permintaan yang sama dengan pola permintaan pada tingkat daerah referensi (pola pengeluaran secara geografis adalah sama), produktivitas tenaga kerja adalah sama dan setiap industri menghasilkan barang yang sama (homogen) pada setiap sektor (Arsyad, 1999) Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan di atas, maka ada tiga kemungkinan nilai LQ yang dapat ditemukan yaitu (Bendavid- Val, 1991) :

1. Nilai LQ di sektor i= 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah sama dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah refrensi p .

2. Nilai LQ di sektor i > 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perkonomian daerah refrensi p. Dengan demikian, sektor i merupakan sektor unggulan daerah studi k sekaligus merupakan basis ekonomi untuk dikembangkan labih lanjut oleh daerah studi k.

3. Nilai LQ di sektor i<1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah lebih kecil dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah refrensi p. Dengan demikian, sektor i bukan merupakan sektor unggulan daerah studi k dan bukan merupakan basis ekonomi serta tidak prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut oleh daerah studi.

2.4.2. Analisa SLQ (Static Location Quotient)

Formula untuk SLQ adalah:

Keterangan :

 Vik = nilai PDRB sektor i daerah studi (kabupaten)

 Vk = nilai PDRB total daerah studi (kabupaten)

 Vip = nilai PDRB sektor i daerah referensi (propinsi)  Vp = nilai PDRB total daerah referensi (propinsi)

Kemungkinan nilai SLQ yang diperoleh adalah:

1) SLQ > 1 : ini berarti daerah studi (kabupaten) memiliki spesialisasi disektori dibandingkan sektor yang sama di tingkat daerah referensi (propinsi).

(16)

3) SLQ = 1 : ini berarti bahwa sektor i terspesialisasi baik di daerah studi (kabupaten) maupun daerah referensi (propinsi).

2.4.3. Analisa Shift Share

Analisa shift-share adalah suatu teknik yang digunakan untuk menganalisa data statistik regional, baik berupa pendapatan per kapita, output, tenaga kerja maupun data lainnya. Dalam analisis ini, akan diperlihatkan bagaimana keadaan pertumbuhan di daerah dengan dibandingkan pada pertumbuhan nasional. Tujuan dari analisis shift-share adalah untuk melihat dan menentukan kinerja atau produktivitas kerja perekonomian daerah dengan membandingkan dengan wilayah yang lebih luas (wilayah referensi). Menurut Robinson T (2004:79) analisis shift-share dapat digunakan untuk membandingkan perbedaan laju pertumbuhan berbagai sektor (industri) di daerah kabupaten dengan daerah propinsi atau daerah propinsi dengan wilayah nasional. Analisis Shift Share merupakan metode lanjutan dari analisis LQ dimana LQ hanya melihat potensi ekonomi basis namun tidak menjelaskan kinerja secara time series. Sedangkan analisis Shift Share menjelaskan perubahan perekonomian dengan membagi menjadi national share, industry share dan regional share.

1. Komponen Analisa Shift Share

Dalam analisis shift share diasumsikan bahwa perubahan produksi/kesempatan kerja dipengaruhi oleh 3 komponen pertumbuhan wilayah yakni Pertumbuhan Nasional (PN), Pertumbuhan Proporsional (PP), dan Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW).

2. Pertumbuhan Nasional (PN)

Pertumbuhan Nasional (KPN) merupakan komponen share dan sering disebut dengan national share. PN adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh perubahan produksi, kebijakan ekonomi nasional dan kebijakan lain yang mampu mempengaruhi sektor perekonomian dalam suatu wilayah. Sehingga dalam komponen ini

(17)

dapat dilihat bagaimana pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional terhadap daerah. Contoh kebijakan yang dimaksud adalah kebijakan kurs, pengendalian inflasi, dan masalah penggangguran serta kebijakan dalam perpajakan.

3. Pertumbuhan Proporsional (PP)

Pertumbuhan Proporsional (PP) merupakan komponen proportional shift yaitu penyimpangan (deviation) dari national share dalam pertumbuhan wilayah. PP adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh komposisi sektor dalam permintaan produk akhir, serta perbedaan dalam struktur dan keragaman pasar. Sehingga penerapan PP ini dapat mengukur perubahan relatif (naik/turun) suatu sektor daerah terhadap sektor yang sama di tingkat nasional atau dalam hal ini disebut juga pengaruh bauran industri (industri mix).

 Apabila PP bernilai positif (PP>0) pada wilayah/daerah yang

berspesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh cepat.

 Apabila bernilai negatif (PP<0) pada wilayah/daerah yang

berspesialisasi dalam sektor yang secara nasional tumbuh lambat.

4. Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW)

Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW) merupakan komponen lokasional atau regional atau sisa lebihan. PPW adalah perubahan produksi atau kesempatan kerja suatu wilayah yang disebabkan oleh keunggulan komparatif wilayah tersebut, adanya dukungan kelembagaan, prasarana sosial ekonomi, serta kebijakan lokal di wilayah tersebut.

 Apabila PPW bernilai positif (PPW>0) pada sektor yang

mempunyai keunggulan komparatif (kompartif advantage) di wilayah/daerah tersebut juga sebagai keuntungan lokasional.

 Apabila PPW bernilai negatif (PPW<0) pada sektor yang tidak

mempunyai keunggulan komparatif/ tidak dapat bersaing.

5. Model Analisa Shift Share

Keterangan

(18)

 PN : Pertumbuhan Nasional  PP : Pertumbuhan Proporsional  PPW : Pertumbuhan Pangsa Wilayah

 Yt : Indikator ekonomi wilayah Nasional (akhir tahun

analisis)

 Yo : Indikator ekonomi wilayah Nasional (awal tahun analisis)  Yit : Indikator ekonomi wilayah Nasional sektor i (akhir tahun

analisis)

 Yio : Indikator ekonomi wilayah Nasional sektor i (awal tahun

analisis)

 yit : Indikator ekonomi wilayah lokal sektor i (akhir tahun analisis)

 yio : Indikator ekonomi wilayah lokal sektor i (awal tahun analisis)

(19)

BAB III GAMBARAN UMUM

Perubahan adalah fenomena alamiah di jagat raya, karena itu tidak ditemukan adanya masyarakat dan kebudayaan yang statis. Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain pembangunan, inovasi, dan kreatifitas. Semua ini berjalan berhimpitan dengan ruang dan waktu (space and time). Pembangunan merupakan perubahan sistemik yang didasarkan dan dikendalikan oleh kebutuhan manusia yang harus mempertimbangkan aspek masa lalu (atitha), masa datang (anagatha), dan masa kini (warthamana). Spektrum pembangunan merupakan amanat hakiki seluruh masyarakat yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik secara berkesinambungan (sustainable).

Pelaksanaan pembangunan Kota Denpasar dalam periode 2005-2010 telah merealisasikan berbagai program pembangunan, baik fisik maupun nonfisik. Pelaksanaan pembangunan tersebut telah mendorong pembangunan industri kreatif sehingga Kota Denpasar mengarah menjadi Kota Kreatif. Secara konkret pelaksanaan pembangunan, baik dalam level mikro maupun makro bertumbuh secara kreatif. Baik pada level mikro (banjar termasuk sekaa-sekaa yang ada di dalamnya) maupun pada level makro (SKPD) telah melaksanakan berbagai kegiatan yang mendorong lahirnya inovasi dan kreatifitas.

Dengan landasan di atas Kota Denpasar telah melakukan pendalaman terhadap eksistensi sebuah kebudayaan bahwa sesungguhnya dasar-dasar kebudayaan harus dipahahami dengan baik. Dalam pandangan ini kebudayaan dijadikan sentral ide kemudian, karena stimulus dan motivasi berproses melalui reinterpretasi, reintegrasi dan adaptasi akan memberikan sebuah pemahaman baru tentang suatu hal. Melalui proses inilah antisipasi pengaruh perubahan oleh arus modernisasi dan globalisasi akan memperkuat tradisi yang sudah bekembang di masyarakat.

Dengan demikian paradigma Kota Denpasar Kreatif hendaklah bercirikan dan mengandung muatan berikut.

1. Membangun identitas lokal.

2. Meningkatkan kontribusi ekonomi yang signifikan. 3. Menciptakan iklim bisnis yang positif.

4. Berbasis pada sumber daya yang terbarukan.

5. Mendorong inovasi dan kreatifitas yang menjadi unggulan kompetitif. 6. Memberikan implikasi yang positif pada masyarakat.

(20)

dinamika dan dialektika kehidupan masyarakat secara berangsur-angsur secara kreatif menuju perubahan dalam keseimbangan. Dengan demikian ketiga pilar pembangunan, yaitu Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat menjadi penyangga utama untuk mewujudkan Denpasar Kreatif.

3.1. Aspek Georafis dan Administratif Luas dan Batas Administratif

Luas seluruh Kota Denpasar 127,78 km2 atau 12.778 Ha , yang merupakan tambahan dari reklamasi pantai serangan seluas 380 Ha. Dari luas tersebut diatas tata guna tanahnya meliputi Tanah sawah 2.717 Ha dan, tanah kering 10.051 Ha. Tanah kering kering terdiri dari tanah pekarangan 7.831 Ha, tanah tegalan 396 Ha, tanah tambak/kolam 10Ha, tanah sementara tidak diusahakan 81Ha,tanah hutan 613 Ha. Tanah perkebunan 35 Ha dan tanah lainnya:1.162Ha.

Kota Denpasar memiliki wilayah daratan seluas 12.778 Ha dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Kecamatan Mengwi dan Abiansemal (Kabupaten Badung)

b. Sebelah Timur: : Kecamatan Sukawati (Kabupaten Gianyar) dan Selat Badung

c. Sebelah Selatan : Kecamatan Kuta Selatan (Kabupaten Badung) dan Teluk Benoa

d. Sebelah Barat : Kecamatan Kuta Utara dan Kuta (Kabupaten Badung)

Secara administrasi terdiri dari 4 wilayah kecamatan yang terbagi menjadi 27 desa dan 16 kelurahan. Adapun Peta Kota Denpasar secara keseluruhan dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 2.1

(21)

Tabel 2.1

(22)
(23)

3.2. Klimatologi

Kota Denpasar beriklim tropis dengan dua musim (hujan dan kemarau). Berdasarkan klasifikasi iklim menurut Schmidt dan Fergusson (1959), Kota Denpasar termasuk iklim tipe A, sedangkan menurut Peta Agroklimat Bali skala 1 : 250.000 (Oldeman, Irsal, dan Muladi, 1980) daerah ini termasuk ke dalam Zone Agroklimat D3. Jumlah curah hujan tahun 2013 1819 mm, dengan bulan basah ( curah hujan > 100 mm/bulan) selama 7 bulan (Januari – April, Oktober – Desember), dan sisanya bulan kering.

Temperatur rata-rata pada tahun 2013 berkisar antara 25,4ºC – 28,7ºC, dengan ratarata 27,0ºC. Temperatur rata-rata terendah (Agustus 25,4ºC) dan tertinggi Februari (28,7ºC). Lama penyinaran matahari pada tahun 2013 berkisar antara 27% pada bulan Januari sampai 97% pada bulan Mei, dengan rata-rata 74,0 %.

3.3. Topografi

Wilayah Kota Denpasar 59,1 % berada pada ketinggian antara 0 – 25 m dpl, dan sisanya sampai 75 m dpl. Topografi Kota Denpasar sebagian besar (82,2%) berupa dataran dengan kemiringan lereng secara umum berkisar 0 – 2 % ke arah selatan, sebagian lagi kemiringan lerengnya antara 2 – 8 %. Kemiringan lereng di beberapa tempat terutama di tebing sungai dapat mencapai 2 – 15 %.

 Kondisi Geologi

Dataran Pulau Bali secara umum terbentuk pada zaman geologi kuarter, kwarter bawah, tersier, pliosen dan meosin. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Bali skala 1 : 25.000 (Direktorat Geologi, 1971) wilayah Kota Denpasar terdiri dari beberapa batuan. Susunan formasi batuannya adalah sebagai berikut:

 Batuan volkanik kuater menutupi sekitar 70 % wilayah Kota Denpasar, yaitu

batuan gunung api hasil dari gunung api Buyan – Bratan dan gunung api Batur. Diantara kelompok batuan ini, batuan volkanik Buyan – Bratan merupakan yang tertua dengan materi penyusunnya terdiri dari tufa dan lahar. Batuan lainnya adalah lava, breksi, kerikil, pasir dan debu volkanik. Ketebalannya bervariasi yaitu bagian utara agak tebal

 Endapan aluvial yang terdiri dari material lepas seperti pasir dan kerikil

(24)

 Jenis tanah Kota Denpasar berdasarkan Peta Tanah skala 1 : 250.000 (Yunus

Dai, 1971), jenis tanahnya terdiri dari Latosol Coklat Kekuningan yang penyebarannya menempati hampir seluruh wilayah Kota Denpasar, kecuali daerah dekat pantai merupakan tanah Aluvial. Menurut hasil penelitian Tim Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1994) berdasarkan taksonomi tanah ditemukan 15 seri tanah di wilayah Kota Denpasar.

3.4. Demografi

Data dari Badan Pusat Statistik Kota Denpasar jumlah penduduk Kota Denpasar mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tercatat di tahun 2013 saja jumlah penduduk Kota Denpasar adalah sebanyak 846.200 jiwa. Pertambahan penduduk di kota besar seperti Denpasar tidak hanya karena pertumbuhan alami penduduk namun juga dipengaruhi faktor pesatnya perkembangan perekonomian Kota Denpasar yang menjadi magnet terhadap arus migrasi masyarakat ke Kota Denpasar yang berdampak juga pada semakin tingginya tingkat kepadatan penduduk di Kota Denpasar. Terkait dengan jumlah penduduk dan perkembangan perekonomian tersebut sebanyak 38,98% (tiga puluh delapan koma sembilan puluh delapan persen) tenaga kerja di Denpasar bekerja pada sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi dan di Kota Denpasar tercatat 20 rumah sakit yang tersebar di 4 wilayah kecamatan.

3.5. Penggunaan Lahan

Analisis Kesesuaian Lahan Berdasarkan satuan Land Unit dan kriteria penentuan kesesuaian lahan sebagai berikut :

1. Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Pangan Lahan Basah

Lahan potensial untuk tanaman pangan lahan basah (padi sawah) di wilayah Kota Denpasar mempunyai tingkat kesesuaian S1 (sangat sesuai ) Kelas S1 ini didukung oleh kondisi fisik seperti keadaan topografi yang datar dengan kemiringan 0-2% dan sifat-sifat tanah baik fisik maupun kimia cocok untuk tanaman padi sawah.

2. Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman Pangan Lahan Kering (Tanaman Semusim) Tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman lahan kering (tanaman semusim) di wilayah Kota Denpasar masuk dalam kategori S1, S2. Lahan dengan kemiringan 0-2 % dan tekstur tanah sedang yang mencakup sebagian besar wilayah kota mempunyai tingkat kesesuaian S2 untuk tanaman musiman dengan faktor pembatas seperti draenase tekstur tanah (r) temperatur udara (t) dan atau kelembaban udara (w). Oleh karena itu tingkat kesesuiannya tergolong S2r, S2tr dan S2wr .

(25)

Tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman tahunan di wilayah kota termasuk dalam kelas kesesuaian S1,S2, S3 dan N. Lahan dengan kesesuaian S1 terdapat pada bagian timur Kecamatan Denpasar Timur dengan lahan kemiringan 2-8 % dan pada bagian kecil Kecamatan Denpasar Selatan yaitu sekitar Sanur dan Pulau Serangan. Untuk tingkat kesesuaian S2 meliputi di sebagian besar wilayah kota terutama pada kawasan yang mempunyai kemiringan lahan 0-2 % dan tekstur tanah yang agak kasar.

Berdasarkan analisa kesesuaian lahan untuk masing-masing tanaman tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa :

• Lahan sesuai untuk tanaman pangan lahan basah sangat dominan atau 80,9 % dari luas wilayah.

• Lahan sesuai untuk tanaman pangan lahan kering dijumpai pada bagian timur wilayah Kota Denpasar atau ± 7,0 % dari luas wilayah perencanaan.

• Lahan sesuai untuk tanaman tahunan dijumpai pada bagian timur wilayah Kota Denpasar khususnya di sekitar Penatih, Sanur dan Kelurahan Serangan, atau 8,5 % dari luas wilayah perencanaan.

• Lahan yang perlu perlindungan dari peruntukan yang bersifat produktif adalah kawasan pohon bakau di bagian selatan Kota Denpasar, seluas ± 450 ha, atau 3,6 % dari luas wilayah

Berpedoman pada potensi kesesuaian lahan ini kondisi objektif di lapangan, dengan demikian, lokasi pemanfaatan lahan Kota Denpasar, secara global, dapat dikelompokkan menjadi : kawasan budidaya dan kawasan non budidaya. Untuk kawasan budidaya tersebut dapat dikelompokkan secara rinci menjadi budidaya non pertanian dan budidaya dominan pertanian, masing-masing mempunyai luas areal 8.985 ha dan 3.837 ha. Sedangkan kawasan yang dikategorikan sebagai lahan non budidaya terdiri dari kawasan hutan bakau, sempadan sungai dan sempadan perbatasan wilayah dengan jumlah luas ± 675 ha.

3.6. Ekonomi Regional

3.6.1. Indek Pembangunan Manusia (IPM)

(26)

Manusia adalah tujuan utama dari pembangunan, berhasil atau tidaknya suatu proses pembangunan dapat dilihat dari bagaimana hasil pembangunan mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan manusia . Salah satu indikator untuk melihat kesejahteraan penduduk di suatu wilayah pada waktu tertentu adalah Indek Pembangunan Manusia (IPM). Selama lima tahun terakhir, IPM Kota Denpasar terus menunjukkan adanya peningkatan. Pada tahun 2013 IPM Kota Denpasar sebesar 79,41. Indek tersebut adalah yang tertinggi di Propinsi Bali. Hal ini berarti kecepatan Kota Denpasar untuk mencapai IPM ideal (IPM 100), merupakan yang paling cepat diantara daerah lain di Propinsi Bali.

Secara khusus Indek Pembangunan Manusia (IPM) mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Pembangunan manusia merupakan perluasan kebebasan dan kapabilitas orang untuk memiliki pilihan-pilihan hidup yang bernilai. Pembangunan manusia lebih dari sekedar pertumbuhan ekonomi, lebih dari sekedar peningkatan pendapatan dan lebih dari sekedar proses produksi komoditas serta akumulasi modal.

3.6.2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh sektor usaha di suatu daerah. Secara agregatif PDRB menggambarkan kemampuan suatu daerah untuk menghasikan pendapatan dari seluruh sektor usaha. Produk Domestik Regional Bruto merupakan salah satu indikator yang dapat dipakai untuk mengetahui keberhasilan perkembangan ekonomi di suatu daerah. Sehingga akan dapat diketahui laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan suatu daerah.

PDRB menggambarkan perekonomian suatu daerah yang disajikan secara berkala dari tahun ke tahun menurut lapangan usaha. PDRB dibedakan menjadi 2 jenis yaitu PDRB atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dan dihitung menurut harga tahun berjalan, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan yang dihitung menurut tahun dasar.

(27)

Sektor yang menjadi penggerak utama ekonomi Kota Denpasar masih bertumpu pada industri pariwisata yang menyebabkan kontribusi ekonomi Kota Denpasar masih didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran (sektor tersier) disusul sektor jasa-jasa dan sektor pengangkutan dan komunikasi (sektor sekunder). Pada tahun 2012, kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 40,02% terus mengalami peningkatan dan pada tahun 2013 kontribusi sektor ini diperkirakan mencapai 40,03% dan tahun 2014 mencapai 40,41. Kondisi yang berlawanan terjadi di sektor pertanian, dimana kontribusi ini selama kurun waktu 2012 hingga 2013 terus menunjukkan penurunan. Pada tahun 2012, kontribusi sektor pertanian sebesar 6,16% namun pada tahun 2013 kontribusi sektor pertanian diperkirakan menurun menjadi 6,09% dan tahun 2014 menurun menjadi 5,99%.

Tabel 2.2

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012 s.d 2014 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2014

(28)

PDRB 6.535,1

7 100

6.962,6

1 100

7.434,1

7 100

Sumber data: Badan Pusat Statistik Kota Denpasar

Gambar 2.2

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012 s.d 2015 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2014

Kota Denpasar

Tabel 2.3

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012 s.d 2014 Atas Dasar Harga Berlaku

Kota Denpasar N

O Sektor (Rp) 2012 % (Rp) 2013 % (Rp) 2014 %

1 Pertanian 1.022,9 6,5 1.131,1 6,6 1.270,9 6,61

0 2000 4000 6000 8000

2012 2013 2014

RU

PI

AH

TAHUN

Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik,Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, sewa, & Js. Perusahaan

(29)

9 8 9 1 8

Sumber data: Badan Pusat Statistik Kota Denpasar

Tabel 2.4

Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012 s.d 2014 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk)

(30)

4 Listrik,Gas&Air bersih 4,23 3,76 4,14 3,66 4,16 3,11

5 Konstruksi 4,28 3,14 4,46 3,16 3,76 3,19

6 Perdagangan, Hotel, &

Restoran 33,58 38,13 32,79 38,20 39,49 40,41

7 Pengangkutan &

Komunikasi 13,21 12,76 13,20 12,89 11,00 12,43

8 Keuangan, sewa, & Js.

Perusahaan 15,00 12,76 15,20 12,69 13,87 12,74 9 Jasa-jasa 10,77 10,50 10,90 10,56 9,23 9,88

PDRB 100 100 100 100 100 100

Sumber data: Badan Pusat Statistik Kota Denpasar

3.6.3. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita

PDRB perkapita merupakan suatu indikator yang dihitung dengan cara membagi data PDRB terhadap jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang seberapa besar nilai tambah yang diciptakan / diterima tiaptiap penduduk, sehingga secara tidak langsung akan menggambarkan tingkat kesejahteraan penduduk di daerah/wilayah bersangkutan. Semakin besar nilai PDRB perkapita, maka dapat dikatakan suatu daerah/wilayah makin sejahtera/makmur. Kendati begitu, meski diingat bahwa PDRB perkapita merupakan angka agregat (rata-rata), sehingga masih sangat kasar jika dijadikan cermin tingkat kesejahteraan penduduk. Angka ini mengasumsikan semua penduduk memiliki akses yang sama terhadap pendapatan, sehingga kurang tepat dalam mencerminkan kesejahteraan.

Tabel 2.5

PDRB per kapita Kota Denpasar Tahun 2010 – 2014

Tahun Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan Perkapita (Rp/juta) Pertumbuhan (%) Perkapita (Rp/juta) Pertumbuhan (%)

2010 12.497.412,51 16,20 5.710.412,32 6,57

2011 13.856.496,18 10,87 6.097.167,27 6,77

2012 15.557.924,87 12,28 6.535.171,36 7,18

2013 20.233.421,86 10,05 8.228.091,89 6,54

2014 22.261.023,62 12,28 8.608.360,35 6,77

(31)

3.6.4. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Untuk mengukur tingkat kemajuan pembangunan ekonomi disuatu daerah, salah satu indikator penting yang dapat digunakan adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan laju pertumbuhan nilai tambah yang dihasilkan oleh sektor-sektor ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar digambarkan oleh perkembangan PDRB, meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan adalah faktor penting dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar.

Tabel 2.6

Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun 2012 s.d Tahun

2014

3 Industri Pengolahan 5,72 1,3 3

5,78 1,50 6,01 2,97

4 Listrik,Gas&Air bersih -1,90 -2,66

(32)

3.6.5. Laju Inflasi Harga

Indeks Harga Konsumen (IHK) merupakan salah satu indikator ekonomi yang sering digunakan untuk mengukur tingkat perubahan harga (inflasi/deflasi) di tingkat konsumen,khususnya didaerah perkotaan. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga.

Dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah tidak hanya melihat dari besaran PDRB yang dicapai baik berdasarkan harga berlaku maupun harga konstan, namun harus dilihat juga dari peran harga yang merupakan sisi lain yang harus tetap dijaga karena tinggi rendahnya harga sangat mempengaruhi kemampuan daya beli masyarakat serta kualitas pertumbuhan ekonomi yang dicapai.

Indikator ekonomi yang tidak kalah penting dalam menjaga stabilitas moneter adalah inflasi. Tingkat haraga dalam difinisi inflasi secara konseptual adalah tingkat harga ratarata tertimbang dari barang-barang dan jasa-jasa dalam perekonomian. Dalam prakteknya, tingkat harga tersebut diukur dengan indeks harga, baik indeks harga konsumen (IHK) maupun indeks harga produsen (IHP). Laju inflasi dihitung berdasarkan indeks harga konsumen (IHK). IHK itu sendiri merupakan indeks yang diperoleh dengan menghimpun perubahan harga berbagai jenis barang dan jasa yang tercakup dalam paket komuditas yang menggambarkan pola konsumsi masyarakat disuatu wilayah dengan menggunakan diagram timbangan nilai konsumsi pada tahun dasar yang dipantau.

Tabel 2.7

Nilai inflasi rata-rata Tahun 2011 s/d 2014 Kota Denpasar

Tabel 2.7

Nilai inflasi rata-rata Tahun 2011 s/d 2014 Kota Denpasar

Uraian 2011 2012 2013 2014

Inflasi 3,75 4,71 6,85 4,23

Sumber data: Badan Pusat Statistik Kota Denpasar

Gambar 2.3

(33)

Tingkat inflasi yang terjadi pada tahun 2013 di Kota Denpasar relatif cukup tinggi dan berada di atas kisaran ideal tingkat inflasi yaitu 5% sampai 7%. Kenaikan ini sebagian besar disumbang oleh komuditas bahan makanan dan pangan. Dilihat dari inflasi tahun 2011 Denpasar mempunyai inflasi sebesar 3,75% jauh lebih rendah dari tahun 2010 yaitu 8,10% dan juga sedikit lebih rendah dari angka inflasi nasional yang mencapai 3,79%. Capaian inflasi Kota Denpasar ini merupakan yang terendah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

0 2 4 6 8

(34)

BAB IV ANALISA & KONSEP

4.1. Analisa Location Quotient (LQ)

Salah satu langkah untuk menentukan sektor perekonomian unggulan pada Kota Denpasar adalah dengan melakukan analisa Location Quotient (LQ). Pada penelitian ini, dilakukan analisa SLQ (Static Location Quotient) dengan menggunakan data PDRB Tahun 2015 Kota Denpasar dan data PDRB Provinsi Bali sebagai wilayah acuannya. Berikut merupakan rumus SLQ yang digunakan dalam analisa ini:

SLQ=Vik/Vk Vip/Vp

Penentuan hasil perhitungan SLQ memiliki kriteria umum sebagai berikut:

 Jika LQ > 1, disebut sektor basis, yaitu sektor yang tingkat spesialisinya lebih

tinggi daripada tingkat wilayah acuan

 Jika LQ < 1, disebut sektor non-basis, yaitu sektor yang tingkat speasilisinya

lebih rendah daripada tingkat wilayah acuan

 Jika LQ = 1, artinya tingkat spesialisi sektor pada daerah sama dengan

tingkat wilayah acuan.

Berdasarkan rumus di atas, didapatkan hasil perhitungan SLQ sesuai pada Tabel 4.1. di bawah ini.

Tabel 4.1. Hasil Perhitungan SLQ PDRB 17 Sektor PDRB Kota

Denpasar 2015 PDRB Prov Bali2015 (juta SLQ Keterangan Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 1976247,47 18637347,47 0,48 Sektor non basis

Pertambangan dan

Penggalian 19006,16 1440563,56 0,06 Sektor non basis

Industri Pengolahan 2015853,98 8808507,59 1,04 Sektor basis Pengadaan Listrik dan Gas 133991,43 278205,17 2,19 Sektor basis Pengadaan Air, Pengelolaan

Sampah, Limbah dan Daur

Ulang 90379,85 286480,12 1,43 Sektor basis

(35)

PDRB 17 Sektor PDRB Kota

Denpasar 2015 PDRB Prov Bali2015 (juta SLQ Keterangan Perdagangan Besar dan

Eceran; Reparasi Mobil dan

Sepeda Motor 2756326,1 11525812,5 1,086 Sektor basis

Transportasi dan

Pergudangan 908224,39 9425814,23 0,44 Sektor non basis

Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 6564846,46 25309402,23 1,18 Sektor basis

Informasi dan Komunikasi 1507982,08 8613463,42 0,79 Sektor non basis Jasa Keuangan dan

Asuransi 1819415,31 5508292,09 1,5 Sektor basis

Real Estat 1414793,65 6195435,31 1,03 Sektor basis

Jasa Perusahaan 547390,86 1405525,83 1,77 Sektor basis

Administrasi

Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 1616264,44 7927616,83 0,93 Sektor non basis

Jasa Pendidikan 3238726,09 6852508,45 2,14 Sektor basis

Jasa Kesehatan dan

Kegiatan Sosial 680789,04 2899103,71 1,06 Sektor basis

Jasa lainnya 433279,34 1997848,71 0,98 Sektor non basis

Produk Domestik Regional digunakan data PDRB ADHK Kota Denpasar dan Provinsi Bali pada tahun 2010 dan 2015 sebagai dasar perhitungan analisa shiftshare. Berikut merupakan tabel data PDRB yang digunakan dalam analisa:

Tabel 4.2. PDRB Kota Denpasar dan Provinsi Bali Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 dan 2015

PDRB 17 Sektor

PDRB per sektor Denpasar

(juta rupiah) PDRB per sektor Bali (juta rupiah)

2010 2015 2010 2015

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1730634,66 1976247,4 7

16092721,

(36)

PDRB 17 Sektor

PDRB per sektor Denpasar

(juta rupiah) PDRB per sektor Bali (juta rupiah)

2010 2015 2010 2015

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 72982,61 90379,85 239294,3 286480,12

Konstruksi 1846618,63 2718743,36 8321002,4 12014635,01

Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 1927836,31 2756326,1 8152933,4 11525812,5 Transportasi dan Pergudangan 662972,99 908224,39 6935672,5 9425814,23 Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 4770028,97 6564846,46 17922994,7 25309402,23

Informasi dan Komunikasi 1043746,28 1507982,08 5879643,5 8613463,42 Jasa Keuangan dan Asuransi 1201298,63 1819415,31 3682864,8 5508292,09

Real Estat 1002074,58 1414793,65 4550508,5 6195435,31

Jasa Perusahaan 412822,22 547390,86 1060817,9 1405525,83

Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 1081146,04 1616264,44 5206208,8 7927616,83 Jasa Pendidikan 2145401,15 3238726,09 4480913,1 6852508,45 Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 423197,88 680789,04 1860018,5 2899103,71

Jasa lainnya 314935,6 433279,34 1474804,6 1997848,71

Produk Domestik Regional Bruto 20309166,28 28442260 93749349,7 129126562,2

Sumber: BPS Kota Denpasar dan Provinsi Bali 2018, diolah

4.2.1. Komponen Pertumbuhan Nasional

Penghitungan Komponen Pertumbuhan Nasional (KPN) diperlukan dalam analisa ini untuk menunjukkan pertumbuhan ekonomi nasional terhadap daerah. Berikut merupakan penghitungan KPN dalam analisa ini:

KPN=

(

Yt

Yo

)

−1x100

Berdasarkan Tabel 4.2 di sub bab sebelumnya, diketahui bahwa nilai Yt =129126562,2 dan nilai Yo = 93749349,7. Sehingga dapat dihitung KPN sebesar:

KPN=

(

129126562,2

93749349,7

)

−1x100 = 37,70 %

(37)

PDRB 17 Sektor

PDRB per sektor Bali (juta

rupiah) KPN

2010 2015

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 16092721,6 18637347,47 37,70% Pertambangan dan Penggalian 1133915 1440563,56 37,70 %

Industri Pengolahan 6562938,8 8808507,59 37,70%

Pengadaan Listrik dan Gas 192097,3 278205,17 37,70% Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 239294,3 286480,12 37,70%

Konstruksi 8321002,4 12014635,01 37,70%

Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 8152933,4 11525812,5 37,70% Transportasi dan Pergudangan 6935672,5 9425814,23 37,70% Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 17922994,7 25309402,23 37,70%

Informasi dan Komunikasi 5879643,5 8613463,42 37,70% Jasa Keuangan dan Asuransi 3682864,8 5508292,09 37,70%

Real Estat 4550508,5 6195435,31 37,70%

Jasa Perusahaan 1060817,9 1405525,83 37,70%

Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 5206208,8 7927616,83 37,70%

Jasa Pendidikan 4480913,1 6852508,45 37,70%

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1860018,5 2899103,71 37,70 %

Jasa lainnya 1474804,6 1997848,71 37,70%

Produk Domestik Regional Bruto 93749349,7 129126562,2

Sumber: Hasil Analisa 2018

4.2.2. Komponen Pertumbuhan Proporsional

(38)

Tabel 4.4 Komponen Pertumbuhan Proporsional

Pertambangan dan Penggalian 1133915 1440563,56 -10,7 Industri Pengolahan 6562938,8 8808507,59 -3,52 Pengadaan Listrik dan Gas 192097,3 278205,17 7,09 Pengadaan Air, Pengelolaan

Transportasi dan Pergudangan 6935672,5 9425814,23 -1,83 Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 17922994,7 25309402,23 3,48

Informasi dan Komunikasi 5879643,5 8613463,42 8,76 Jasa Keuangan dan Asuransi 3682864,8 5508292,09 11,83

Real Estat 4550508,5 6195435,31 -1,59

Berikut merupakan perhitungan Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah (KPPW) pada Kota Denpasar untuk mengetahui tingkat komparatif suatu sektor atau lapangan usaha dibanding Provinsi Bali. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5. Komponen Pertumbuhan Pangsa Wilayah

PDRB 17 Sektor

PDRB per sektor Denpasar

(juta) PDRB per sektor Bali (juta) KPPW

2010 2015 2010 2015

(39)

PDRB 17 Sektor

PDRB per sektor Denpasar

(juta) PDRB per sektor Bali (juta) KPPW

2010 2015 2010 2015

dan Perikanan 7

Pertambangan dan

Penggalian 14614,66 19006,16 1133915 1440563,56 3

Industri Pengolahan 1565930,64 2015853,98 6562938,8 8808507,59 -5,48 Pengadaan Listrik dan

Gas 92924,43 133991,43 192097,3 278205,17 -0,63

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang 72982,61 90379,85 239294,3 286480,12 4,19

Konstruksi 1846618,63 2718743,3

6 8321002,4 12014635,01 2,84 Perdagangan Besar dan

Eceran; Reparasi Mobil

dan Sepeda Motor 1927836,31 2756326,1 8152933,4 11525812,5 1,6 Transportasi dan

Pergudangan 662972,99 908224,39 6935672,5 9425814,23 1,09

Penyediaan Akomodasi

dan Makan Minum 4770028,97 6564846,46 17922994,7 25309402,23 -3,58 Informasi dan

Komunikasi 1043746,28 1507982,08 5879643,5 8613463,42 -2,02 Jasa Keuangan dan

Asuransi 1201298,63 1819415,31 3682864,8 5508292,09 1,89

Real Estat 1002074,58 1414793,65 4550508,5 6195435,31 5,04 Jasa Perusahaan 412822,22 547390,86 1060817,9 1405525,83 0,1 Administrasi Jasa Pendidikan 2145401,15 3238726,09 4480913,1 6852508,45 -1,96 Jasa Kesehatan dan

Kegiatan Sosial 423197,88 680789,04 1860018,5 2899103,71 5

Jasa lainnya 314935,6 433279,34 1474804,6 1997848,71 2,11

Produk Domestik

(40)

4.2.4. Pertumbuhan Ekonomi

Setelah melakukan perhitungan terhadap KPN, KPP, dan KPPW seperti di atas, kemudian dapat ditentukan bagaimana pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor atau lapangan usaha pada wilayah penelitian dengan rumus sebagai berikut:

PE=KPN+KPP+KPW

Berdasarkan rumus di atas, didapatkan hasil perhitungan pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor seperti pada Tabel 4.6. berikut:

Tabel 4.6. Pertumbuhan Ekonomi Masing-masing Sektor

PDRB 17 Sektor KPN KPP KPPW PE

Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 37,70 % -21,9 % -1,62 % 14,18 %

Pertambangan dan Penggalian 37,70 % -10,7 % 3 % 30,00 % Industri Pengolahan 37,70 % -3,52 % -5,48 % 28,70 % Pengadaan Listrik dan Gas 37,70 % 7,09 % -0,63 % 44,16 % Pengadaan Air, Pengelolaan

Transportasi dan Pergudangan 37,70 % -1,83 % 1,09 % 36,96 % Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 37,70 % 3,48 % -3,58 % 37,60 %

Informasi dan Komunikasi 37,70 % 8,76 % -2,02 % 44,44 % Jasa Keuangan dan Asuransi 37,70 % 11,83 % 1,89 % 51,42 %

Real Estat 37,70 % -1,59 % 5,04 % 41,15 %

(41)

Setelah dilakukan berbagai perhitungan di atas yang menghasilkan prosentase pertumbuhan ekonomi masing-masing sektor, kemudian ditentukan letak suatu sektor ekonomi dalam kuadran berdasarkan hasil analisa shiftshare diatas. Berikut merupakan kriteria peletakan letak sektor dalam kuadran pertumbuhan ekonomi secara nasional dan daya saing keunggulan komparatif pada suatu daerah:

Tabel 4.6 Kriteria Tiap Sektor

Kriteria KPPW (+) (KPPW (-)

KPP (+)

Sektor tersebut secara nasional tumbuh cepat dan memiliki daya saing

keunggulan komparatif

Sektor tersebut secara nasional tumbuh cepat tetapi tidak memiliki daya

saing keunggulan komparatif

KPP (-)

Sektor tersebut secara nasional tumbuh lambat tetapi memiliki daya saing

keunggulan komparatif

Sektor tersebut secara nasional tumbuh lambat

dan tidak memiliki daya saing keunggulan

komparatif

(42)

Tabel 4.7 Deskripsi Masing-masing Sektor Ekonomi Berdasarkan Letaknya pada Kuadran

PDRB 17 Sektor KPP KPPW Letak Kuadran Deskripsi

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan -21,9 -1,62 Kuadran 4 Sektor ini secara nasional tumbuh lambat dan tidak memilikidaya saing keunggulan komparatif Pertambangan dan Penggalian -10,7 3 Kuadran 3 Sektor ini secara nasional tumbuh lambat tetapi memiliki dayasaing keunggulan komparatif

Industri Pengolahan -3,52 -5,48 Kuadran 4 Sektor ini secara nasional tumbuh lambat dan tidak memilikidaya saing keunggulan komparatif Pengadaan Listrik dan Gas 7,09 -0,63 Kuadran 2 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat tetapi tidak memilikidaya saing keunggulan komparatif Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang -18,02 4,19 Kuadran 3 Sektor ini secara nasional tumbuh lambat tetapi memiliki dayasaing keunggulan komparatif Konstruksi 6,65 2,84 Kuadran 1 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat dan memiliki dayasaing keunggulan komparatif Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 3,63 1,6 Kuadran 1 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat dan memiliki dayasaing keunggulan komparatif Transportasi dan Pergudangan -1,83 1,09 Kuadran 3 Sektor ini secara nasional tumbuh lambat tetapi memiliki dayasaing keunggulan komparatif Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 3,48 -3,58 Kuadran 2

Sektor ini secara nasional tumbuh cepat tetapi tidak memiliki daya saing keunggulan komparatif

Informasi dan Komunikasi 8,76 -2,02 Kuadran 2 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat tetapi tidak memilikidaya saing keunggulan komparatif Jasa Keuangan dan Asuransi 11,83 1,89 Kuadran 1 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat dan memiliki dayasaing keunggulan komparatif

(43)

PDRB 17 Sektor KPP KPPW Letak Kuadran Deskripsi Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 14,54 -2,78 Kuadran 2 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat tetapi tidak memilikidaya saing keunggulan komparatif Jasa Pendidikan 15,2 -1,96 Kuadran 2 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat tetapi tidak memilikidaya saing keunggulan komparatif Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 18,13 5 Kuadran 1 Sektor ini secara nasional tumbuh cepat dan memiliki dayasaing keunggulan komparatif

Jasa lainnya -2,27 2,11 Kuadran 3 Sektor ini secara nasional tumbuh lambat tetapi memiliki dayasaing keunggulan komparatif

(44)

4.3. Perbandingan Hasil Analisa SLQ dengan Analisa Shiftshare

Setelah melakukan kedua analisa dalam menentukan sektor-sektor perekonomian unggulan di Kota Denpasar, maka kemudian dilakukan komparasi antara hasil kedua analisa di atas. Sebelum dilakukan komparasi, dilakukan penghitungan Pergeseran Bersih dengan rumus sebagai berikut:

Pergeseran Bersih=KPP+KPPW

Dengan kriteria sebagai berikut:

 Jika PB > 0, sektor tersebut dikatakan progresif  Jika PB < 0, sektor tersebut dikatakan mundur

Berikut adalah tabel hasil perhitungan pergeseran bersih

Tabel 4.8. Pergeseran Bersih

PDRB 17 Sektor KPP KPPW PB

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan -21,9 -1,62 -23,52

Pertambangan dan Penggalian -10,7 3 -7,7

Industri Pengolahan -3,52 -5,48 -9

Pengadaan Listrik dan Gas 7,09 -0,63 6,46

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang -18,02 4,19 -13,83

Konstruksi 6,65 2,84 9,49

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 3,63 1,6 5,23

Transportasi dan Pergudangan -1,83 1,09 -0,74

Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 3,48 -3,58 -0,1

Informasi dan Komunikasi 8,76 -2,02 6,74

Jasa Keuangan dan Asuransi 11,83 1,89 13,72

Real Estat -1,59 5,04 3,45

Jasa Perusahaan -5,24 0,1 -5,14

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan

dan Jaminan Sosial Wajib 14,54 -2,78 11,76

Jasa Pendidikan 15,2 -1,96 13,24

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 18,13 5 23,13

Jasa lainnya -2,27 2,11 -0,16

Sumber: Hasil Analisis 2018

(45)

Tabel 4.9. Perbandingan LQ dan PB

PDRB 17 Sektor SLQ PB Keterangan

Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 0,48 -23,52 Sektor Terbelakang Pertambangan dan Penggalian 0,06 -7,7 Sektor Terbelakang Industri Pengolahan 1,04 -9 Sektor Potensial Pengadaan Listrik dan Gas 2,19 6,46 Sektor Unggulan Pengadaan Air, Pengelolaan

Transportasi dan Pergudangan 0,44 -0,74 Sektor Terbelakang Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 1,18 -0,1 Sektor Potensial

Informasi dan Komunikasi 0,79 6,74 Sektor Berkembang Jasa Keuangan dan Asuransi 1,5 13,72 Sektor Unggulan

Real Estat 1,03 3,45 Sektor Unggulan

Jasa Perusahaan 1,77 -5,14 Sektor Potensial Administrasi Pemerintahan,

Pertahanan dan Jaminan Sosial

Wajib 0,93 11,76 Sektor Berkembang

Jasa Pendidikan 2,14 13,24 Sektor Unggulan Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 1,06 23,13 Sektor Unggulan

Jasa lainnya 0,98 -0,16 Sektor Potensial

Sumber: Hasil Analisa 2018

Penentuan masing-masing sektor menjadi 4 jenis sektor di atas didasari oleh penentuan tipologi klasen yang memiliki 4 kuadran dan kriteria sebagai berikut.

Tabel 4.10. Kriteria Penentuan Tipologi Klasen

(46)

dengan pertumbuhan cepat dengan pertumbuhan lambat

4.4. Konsep Penanganan

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan di atas, yang menjadi sektor basis di Kota Denpasar adalah sektor industri pengolahan, pengadaan listrik dan gas, pengadaan air; pengelolaan sampah; limbah dan daur ulang, konstruksi, perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, penyediaan akomodasi dan makan minum, jasa keuangan dan asuransi, real estate, jasa perusahaan, jasa pendidikan, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Sektor-sektor perekonomian di atas menjadi sektor basis karena nilai SLQ tiap sektor tersebut > 1.

Sedangkan pada hasil analisa shiftshare, 11 sektor perekonomian ini berada pada kuadran shiftshare yang berbeda-beda. Sektor yang berada pada kuadran 1 adalah sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, jasa keuangan dan asuransi, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Sedangkan sisa sektor lainnya berada pada kuadran 2 atau 3 pada hasil analisa shiftshare.

Mengingat adanya perbedaan ini, kemudian dilakukan perbandingan antara hasil SLQ dan PB (Shiftshare) menggunakan tipologi klasen yang kemudian menghasilkan bahwa ke 4 sektor basis yang masuk dalam kuadran 1 shiftshare di atas menjadi sektor unggulan dari Kota Denpasar.

Berdasarkan fakta yang didapatkan dari hasil analisa di atas dapat dirumuskan konsep penanganan dalam pengembangan sektor perekonomian unggulan sebagai penunjang sektor pariwisata sebagai tujuan pengembangan pada Kota Denpasar sebagai berikut:

1. Meningkatkan sektor konstruksi utamanya dalam mempercepat pembangunan khususnya pada kawasan pariwisata di Kota Denpasar, misal dalam pembangunan konstruksi hotel, bangunan komersial, dan fasilitas umum.

(47)

3. Memperkuat regulasi mengenai sektor keuangan dan asuransi serta melakukan peningkatan layanan dalam sektor keuangan dan asuransi.

(48)

BAB V KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada makalah ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:

1. Berdasarkan analisis SLQ diketahui terdapat 15 sektor basis di Kota Denpasar yaitu

sektor basis di Kota Denpasar adalah sektor industri pengolahan, pengadaan listrik dan gas, pengadaan air; pengelolaan sampah; limbah dan daur ulang, konstruksi, perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, penyediaan akomodasi dan makan minum, jasa keuangan dan asuransi, real estate, jasa perusahaan, jasa pendidikan, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Sedangkan melalui analisa shiftshare, 11 sektor perekonomian ini berada pada kuadran shiftshare yang berbeda-beda. Sektor yang berada pada kuadran 1 adalah sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, jasa keuangan dan asuransi, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

2. Berdasarkan komparasi dari analisis SLQ dan Shift Share didapatkan bahwa sektr basis di Kota Denpasar adalah sektor konstruksi, perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, jasa keuangan dan asuransi, serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial.

3. Arahan Pengembangan Pariwisata Kota Denpasar dapat dikembangkan melalui : memperkuat reguasi sektor konstruksi dan menambah jumlah tenaga kerja, mengembangkan UMKM di bidang perdagangan dan reparasi mobil, memperkuat regulasi sektor keuangan, dan mengoptimalkan fungsi fasilitas kesehatan dan pelayanan.

5.2. Rekomendasi

Berdasarkan pembahasan pada makalah ini dapat diberikan rekomendasi terhadap wilayah studi, yaitu antara lain:

1. Dilakukan pengembangan berdasarkan potensi komoditas unggulan di setiap sektor basis

Gambar

Tabel 2.1
Tabel  2.2
Tabel  2.3 Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2012 s.d 2014
Tabel  2.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

Imunohistokimia adalah suatu pemeriksaan imunologi dengan menggunakan antibodi sebagai probe yang sifatnya spesifik bertujuan untuk mendeteksi suatu antigen yang

Bagi mereka yang telah mendapat izin penggembalaan ternak dalam hutan, pengambilan rumput dan makanan ternak lainnya serta serasah dari dalam hutan dimaksud

Seharusnya dalam hal ini andil pemerintah dalam memerangi peredaran narkotika tidak sebatas dengan mengeluarkan aturan seperti Undang-undang terkait saja, melainkan harus

universitas) dimana kita mengabdi semakin dikenal di masyarakat sebab individu yang sering menulis itu sering dijadikan sumber berita oleh media massa dengan cara dimintai

[r]

maka dari hasil penghitungan tersebut jelaslah bahwa hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Terdapat pengaruh yang efektif dari penerapan permainan bola

Dengan mendasarkan pada konteks sosial, sistem pemerintahan dan filsafat, maka dapat diidentifikasi kriteria demokrasi yang berlaku di Yunani Kuno sebagai

Metode yang akan digunakan oleh peneliti metode Numbered Head Together (NHT) yang merupakan model pembelajaran yang bersifat berkelompok dengan Discovery Learning