• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Efek Tanaman Dalam Mereduksi Pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Efek Tanaman Dalam Mereduksi Pa"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

Mata Kuliah:

Tanaman dan Sistim Ruang Terbuka Hijau

Judul Tugas :

Analisis Efek Tanaman Dalam Mereduksi Partikel dan

logam berat Pb (Timbel) dan Mengurangi Kebisingan

Oleh

Cynthia E.V Wuisang - A352050011

Budiarjono - Ugit Mulgiati Dwi Aryanti

Dosen Pembimbing

Dr. Ir. Nizar Nazrullah, M.Sc

Program Studi Arsitektur Lanskap Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

(2)

I. PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG

Manusia hidup sangat tergantung sekali kepada alam dengan segala isinya,

Vegetasi atau tumbuh-tumbuhan adalah produsen pertama dalam ekosistem yang

sangat mem pengaruhi semua kehidupan, didalam ilmu ekologi dijelaskan bahwa

tanpa tumbuh-tumbuhan maka tidak ada satu makhlukpun yang dapat hidup

dialam semesta ini, termasuk manusia

Ekosistem merupakan tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan

kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk

keseimbangan, stabilitas dan produktivitas lingkungan hidup. Apabila hai ini

terlampaui maks akan terjadi pencemaran.

Meningkatnya jumlah penduduk khususnya dikota-kota diiringi dengan

kemajuan ilmu pengetahuan , teknologi, seni dan budaya (iptek) telah memacu

munculnya berbagai fenomena lingkungan global, meningkatnya jumlah

penduduk berhubungan dengan bertambahnya sarana tansportasi yang pesat

dengan pengunaan mesin-mesin baru yang lebih besar kekuatannya ,menimbulkan

bising telah menjadi hasil sampingan yang tak dapat diabaikan dari kehidupan dan

merupakan bahaya yang cukup serius bagi manusia. Juga diiringi timbulnya

masalah lingkungan fisik seperti pencemaran udara oleh debu dan gas-gas beracun

dari kendaraan seperti Pb, CO2 ,dll dan juga suhu yang semakin meningkat.

UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan adalah

masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen

lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun

sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tersebut tidak

dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya atau fungsinya.

Menurunnya kualitas udara dapat diakibatkan oleh pencemaran timbel

(Pb) yang berasal dari gas buangan kendaraan bermotor dengan bensin sebagai

bahan bakarnya. Bensin atau premium yang umum dipasarkan di Indonesia

(3)

perliter bensin. Fungsi timbel terdebut adalah sebagai antiknocking yang berfungsi untuk mempercepat pernbakaran (Pertamina UPPDN VI, 1998).

Berdasarkan sifat bahan pencemar yang dihasilkan kendaraan bermotor,

timbei relatif lebih berbahaya karena terakumulasi di dalam jaringan tubuh

manusia sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang serius. Ambang

batas kandungan timbel di dalam darah manusia adalah 25 jag/dl (Needleman,

1988; Parikh, 1990; Needleman, 1999). Timbel dalam darah akan diekstraksikan

dan disalurkan ke bagian tubuh lainnya; jika terakumulasi di paru-paru dapat

menyebabkan bronchitis kronis terutama pada perokok dan anak-anak (Krupa, 1997). Dalam upaya mengurangi timbulnya efek negatif timbel pada manusia,

pemerintah menetapkan dalam Lampiran Peraturan Pemerintah RI No. 41 tahun

1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara tanggal 26 Mei 1999 bahwa baku

mutu udara ambien nasional untuk timbel dengan waktu pengucuran selama 1 jam

adalah 1 ^g/Nm3 yang diukur dengan metode ekstraksi pengabuan menggimakan

AAS (Atomic Absorption SpektrophotometivSpektrofotometn Serapan atom.

Jalan kampus Darmaga IPB yang setiap harinya dilalui kendaraan bcrmotor yang

relatip cukup padat merupakan lokasi yang diduga memiliki tingkat pencemaran

timbel .

Tanaman efektif sebagai akumulator partikel pencernar udara (Keller, 1983).

Partikel timbel dari udara akan terjerap pada permukaan daun. Helaian daun yang

lebar dan berbulu lebih mudah menjerap partikel daripada permukaan daun yang

sempit dan tidak berbulu (Flanagan ei al.91980). Partikel timbel masuk ke dalam jaringan daun melalui mekanisme penyerapan pasif melewati ceiah stomata dan

selanjutnya terakumulasi.

I.2. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui

 Efek tanaman dalam mengurangi polusi udara khususnya partikel diudara .  Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tanaman dalam

(4)

 Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tanaman dalam mengurangi tingkat kebisingan yang direduksi oleh tajuk tanaman.

2. MANFAAT PENELITIAN

Hasil praktikum diharapkan dapat memberikan informasi tentang jenis tanaman

penghijauan yang layak ditanam di sepanjang jalan kampus IPB Darmaga atau

jalan raya lainnya ditinjau dari kemampuannya dalam menjerap partikel timbel di

udara.

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. TIMBEL

a. SUMBERTIMBEL

Logam berat secara alami telah terdapat di alam dan manusia dengan

semua aktivitasnya baik yang disadari ataupun tidak memberikan andil dalam

meningkatkan penyebaran

3 gram berat tersebut. Beberapa logam benii merupakan unsur pencemar

yang sangat berbahaya karena dapat merusak kesehatan manusia. Goldsmith dan

Hexter (1967) dan Sastrawijaya (1991) ini melaporkan bahwa bahan bakar bensin

sebagai penyebab utama lebih dari separuh polusi udara di daerah perkotaan.

Hasil penelitian Krisnayya dan Bedi (1986) menunjukkan 60 -70% dari total

bahan pencemar di udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor. Emisi

partikel timbel ke atmosfir berasal dari hasil peleburan timbel

Logam berat lainnya serta pembakaran bahan bakar fosil terutama bensin

(Krupa (1997). Lebih kurang 90% dari semua partikel timbel yang terkandung di

atmosfir berasai dari pembakaran bensin.

Timbel merupakan salah satu bahan aditif yang sering dimanfaatkan untuk

memperbaiki mutu bakar bensin. Bahan-bahan kimia yang ditambahkan tersebut

berfungsi sebagai anti letup, pencegah korosi, antioksidan, deaktivator logam, anti

(5)

b. TIMBEL DALAM BENSIN

Menurut Dr. Zainal Abidin (Sinar Harapan, 2002) setiap 100.000 mobil

pribadi menghasilkan 672 kg timbel/tahun. Timbel akan terdispersi di udara,

selanjutnya terdeposisi pada tumbuh-tumbuhan dan sebagian lagi jatuh di

permukaan tanah atau jalan. Dari hasil penelitian Rustiawan (1994) diketahui

bahwa 70 % timbel yang terdapat di udara akan jatuh pada radius 30 m dari batas

tepi jalan raya sedangkan sisanya disebarkan pada areal yang lebih luas tergantung

pada arah dan kecepatan angin di daerah tersebut. Hasil penelitian yang sama juga

dilaporkan oleh Nyangbobo dan Ichikuni (1986).

Lama menetap (residence time} partikel timbel di atmosfir tergantung kepada frekuensi dan besamya hujan (Gidamgs, 1973). Seianjurnya Nyangbobo

dan Ichikuni (1986) melaporkan bahwa lama menetap partikel timbel di udara

juga sangat dipengaruhi oieh laju pengendapanrtya yang berbanding terbalik

dengan kecepatan angin. Partikel timbel yaug tiikeluarkan dan kendaraan

bermotor mempunyai ukuran rata-rata 0.02 -0.05 um. Semakin kecil ukuran

partikel maka semakin lama waktu menetapnya di udara. Partikel polutan yang

beru!:uran 0.08 - 1 00 |j.m mempunyai lama menetap di atmosfir antara 4 - 40 hari

(Ferguson, 1991).

c. SIFAT FISIK DAN KIMIA TIMBEL

Timbel adalah logam berat yang lunak berwarna abu-abu kebiruan dengan

titik lebur 327°C, bersifat anti karat, tidak larut dalam air tetapi dapat larut dalam

asam nitrat dan asam sulfat. Timbel memiliki sifat yang unik yaitu dapat

terakumulasi pada jaringan organisme

d. PENGARUH TIMBEL PADA MAKANAN

Kandungan timbel maksimal dalam bahan makanan menurut FAO/WHO

dan Ditjen Pengawasan Obat dan Makanan adalah : 2 ppm, dan batas maksimal

serapan timbel oleh orang dewasa adalah 400 - 450 (ig/hari (WHO, 1984).

Masuknya timbel ke dalam tubuh manusia dapat mdalui sistem penialasan.

pencernaan ataupun diserap langsung melalui permukaan kulit. Pengaruh negatif

(6)

Interaksi timbel dengan protein yang tersusun dari asam amino dengan

gugus sulfidril (-SH) akan menimbulkan efek keracunan yang hebat (Waidboit,

1978; Laidler, 1991). Setelah partikel timbel masuk ke dalam tubuh, rnaka

partikel tersebut diabsorbsi ke dalam aliran darah, dibawa keseluruh bagian tubuh,

dan selanjutnya akan diakumulasikan secara permanen di dalam tulang.

Kandungan timbel yang cukup besar dijumpai dalam darah dan jaringan lunak.

Timbel yang masuk ke daiam tubuh akan dibuang melalui urine, rambut,

keringat, kuku dan faeces. Dari hasil penelitian Saeni (1995) diketahui bahwa

Kandungan timbel dalam rambut manusia lebih tinggi daripada kandungan

timbel dalam air minum dan sayuran yang dikonsumsinya. Hal ini adalah akibat

dari efek akumulasi. Petugas pompa bensin, petugas pintu tol, polisi lalu linias,

supir taksi dan pegawai bengkel memiliki kandungan timbel darah yang Iebih

tinggi daripada darah pekerja yang tidak langsung berhubungan dengan bahan

bakar bensin. Tingginya timbel di dalam darah dapat mempengaruhi aktivitas

enzim Krupa (1997) melaporkan bahwa timbel dapat menghambat aktivitas enzim

dalam biosintesis haemoglobin (Kb). Terganggunya aktivitas enzim delta

ALAD dalam memproduksi haemoglobin dapat menimbulkan penyakit anemia.

e. TIMBEL DI DALAM TUMBUHAN

Timbel bukan unsur yang esensial bagi tumbuhan, konsentrasi timbel rata-rata

di daiam tanah adalah ± 16 pprn. Knshnax'ya dan Bedi (1986) menyebutkan

bah.wa tingkat akumulasi timbel pada vegerasi dan di tanah akan m.eningkat

seiring dengan meningkatnya kepadatan arus lalu lintas, dan menurun dengan

semakin jauhnya jarak dari tepi jalan raya.

Kozlowski dan Mudd (1975) melaporkan bahwa polutan dapat menyebabkan

kerusakan tersembunyi yaitu kerusakan fisiologis yang terjadi lebih awal daripada

kerusakan fisik. Kerusakan fisiologis tersebut berupa penurunan kemampuan

tumbuhan dalam menyerap air, pertumbuhan sel yang lambat, atau pembukaan

stomata yang tidak sempurna. Selain itu total luas daun tumbuhan yang terkena

pencemaran udara akan berkurang karena terhambatnya laju pembentukan dan

perluasan daun serta meningkatnya jumlah daun yang gugur (Kozlowski etal.,

(7)

Partikel timbel dapat terakumulasi pada organ tumbuhan melalui dua cara yaitu

penyerapan oleh akar dan melalui daun. Penyerapan melalui akar dapat terjadi

apabila timbel terdapat dalam bentuk senyawa terlarut, tetapi kandungan timbe]

yang tinggi di tanah tidak selalu berpengaruh terhadap tingginya kandungan

timbel di dalam jaringan tumbuhan (Giddings, 1973). Diameter rata-rata partikel

timbel yang lebih kecil (0.02 jj,m) dari ukuran eel ah stomata (2-4 menyebabkan

partikel tersebut mudah masuk melewati stomata (Elsenreich et al ., 1986 ; Baker dan Alien 1978). Penyerapan melalui daun dapat terjadi karena partikel timbel di

udara jatuh dan mengendap pada permukaan daun, Selanjutnya masuk ke dalam

jaringan daun melalui celah stomata dengan mekanisme transpor pasif. Fakior lain

yang juga berperan dalam mempengaruhi tmggi rendahnya pengendapan partikel

timbel di daun adalah ciri morfologi daun Daun yang berbulu dan lebar akan lebih

mudah menaugkap partikel dan pada daun yang tidak berbulu dan scmpit

(F'lanagan et al., 1980). Selanjutnya Menurut Kozlowsky et al. (1991), kandungan timbel yang lebih besar dari 10 jig/kg bobot kering daun akan mengakibatkan

terganggunya pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.

Dua mekanisme yang dimiliki oleh tumbuhan dalam mengurangi toksisitas

logam berat antara lain dengan cara : mencegah masuknya logain berat melalui

modiiikasi kutikula (avoidance] atau meningkatkan pertahanan terhadap logam berat yang masuk dengan membentuk enzim-enzim spesiflk yang dapat mengikat

partikel logam (tolerant) (Levitt, 1958). Krupa (1997) juga melaporkan hal yang sama tentang reaksi tumbuhan terhadap polutan yaitu dengan mengeluarkan

polutan melalui stomata, mengkomplekkan bagian polutan dengan merubahnya

menjadi partikel tidak berbahaya, mendegradasi partikel polutan menjadi senyawa

tidak berbahaya, atau membentuk enzim-enzim yang dapat mengikat partikel

polutan.

2. BISING

a. PENGARUH BISING

Semua bunyi yang mengalihkan perhatian, mengganggu, atau berbahaya

bagi kegiatan sehari-hari (kerja,istirahat,hiburan, atau belajar) dianggap sebagai

(8)

manusia dianggap bising, jadi pemicara taumusik akan dianggap sebagai bising

bila tidak dinginkan, bunyi tidak hanya tergantung pada kekerasan bunyi tetapi

juga pada frekwensi, kesinambungan, waktu terjadinya, isiinformasi dan aspek

subyektip seperti asal bunyi, keadaan pikiran dan temperamen penerima.

Bising yang cukup keras, diatas sekitar 70 dB, dapat menyebabkan

kegelisahan (nervousnes), kurang enak badan, kejenuhan mendengar, sakit

lambung dan masalah peredaran darah.

Bising yang cukup keras, diatas 85 dB, dapat menyebabkan kemunduran

yang serius pada kondisikesehatan seseorang pada umumnya , dan bila

berlangsung lama, kehilangan pendengaran sementara atau permanen dapat terjadi

juga sakit jantung dan tekanan darah tinggi.

b. PENGUKURAN BISING

Bising dapat diukur dalam desible dengan bantuan meter tingkat bunyi (sound

level meter), untuk mengukur bunyi atau bising secara fisik dan juga untuk

menghubungkan pengukuran dengan subyektif manusia.

(9)

c. SUMBER BISING

Sumber bising dapat diklasifikasikan dalam kelompok (1) Bising Interior

berasal dari manusia, alat rumah tangga, mesin-mesin , (2) Bising luar (outdoor)

berasal dari lalu lintas, transportasi dan kegiatan-kegiatan diluar gedung.

Jika bising berasal dalam satu ruang dan penerima ada diruang lain, mereka

masing-masing disebut ruang sumber dan ruangpenerima.

III. METODOLOGI

1.LOKASI

Studi ini dilakukan pada 2 lokasi. Pengamatan kemampuan vegetasi mengurangi

polusi udara dilakukan di jalur hijau Jl. Raya Pajajaran dengan segmen dari jalur

hijau di depan GWW sampai depan gedung GWW .Sedangkan pengamatan

kemampuan vegetasi mengurangi kebisingan dilakukan di Jl Pajajaran didepan

Arboretum Kampus IPB Darmaga. Studi dilakukan pada bulan Nopember 2005

2. BAHAN DAN ALAT

Bahan yang dibutuhkan ialah:

1. Untuk Polusi partikel Pb yaitu :

a. 6 spesies pohon dengan 3 jenis spesies sama lain pohon yang terdapat pada

lokasi sampling.

b. Sampling diambil daun dewasa dengan ketinggian 2 – 3 m diatas permukaan

tanah, sebanyak 20-30 lembar

c. kertas pembungkus daun, kuas kecil , aquades, gunting untuk mengambil

daun

d. Gelas beaker pencuci daun, oven, timbangan

e. Bahan-bahan kimia, yaitu HCl pekat konsentrasi 37% sebanyak 10 ml, HCl

0.1 M dan asam perklorat 72% sebanyak 5 ml yang digunakan dalam

menganalisis kandungan Pb dalam partikel debu,penyaring kertas tipis

dengan berat 0.07 gram untuk digunakan pada alat SKC Calidaptor Air

Sampling

2. Sedangkan alat yang dibutuhkan dalam pengamatan ini ialah:

(10)

b. gelas piala untuk ekstraksi partikel dari permukaan daun

c. timbangan Sartorius dengan ketelitian 0.0001 gram.SKC Calidaptor Air

Sampling untuk mengetahui konsentrasi partikel polutan di lokasi

pengamatan.

d. Kertas saring pada SKC Calidaptor Air Sampling dengan berat 0.32 gram

e. Atom Absorbsi Spektrometer (AAS) untuk mengukur kandungan Pb

dalam partikel debu.

f. soundmeter untuk mengukur kebisingan

3. METODE

Metode yang digunakan untuk kedua pengamatan polusi udara dan

kebisingan adalah metode survey yang kemudian dianalisis secara deskriptif.

Untuk pengamatan reduksi polutan partikel dan logam berat oleh tanaman

dilakukan sampling daun dengan 3 kali ulangan. Sedangkan untuk pengamatan

reduksi kebisingan oleh tanaman dilakukan berdasarkan jarak dari sumber

kebisingan. Lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut.

3.1. Metode Pengamatan Reduksi Polutan Partikel dan Logam Berat

Pohon yang dipilih untuk sampling adalah :

1. Pohon Puspa ( Schima wallichi),

2. Sapu tangan (Davidia involucrata)) dan 3. Akasia (Acasia longifolia Willd)

4. .

Cara sampling daun:

1. Daun dari ketiga jenis tanaman ini diambil pada 3 pohon per jenis yang

berbeda lokasi sebanyak 10 gram. Daun yang dipilih adalah daun yang berada

pada ketinggian ± 3 m dan menghadap jalan serta daun dewasa/tua.

2. daun diambil dengan pruner dan sedapat mungkin tangan tidak banyak

menyentuh daun

3. daun yang diambil dimasukkan ke dalam kertas

Setelah daun diperoleh kemudian partikel polutan yang terdapat di daun di

(11)

1. gelas beaker ditimbang terlebih dahulu dengan timbangan Sartorius (berat

beaker A)

2. gelas beaker diisi aquades sebanyak 100 ml.

3. daun dimasukkan ke dalam beaker kemudian digosok dengan kuas kecil

sampai semua partikel yang menempel pada daun bersih

4. aquades kemudian diuapkan dalam oven 1000 C selama 24 jam hingga

aquades habis menguapbeaker yang telah habis aquadesnya ditimbang

kembali dengan sartorius (bobot beaker A’)

5. untuk menghitung bobot partikel digunakan rumus:

bobot pertikel = bobot beaker A’ – bobot beaker A = ...gr

Setelah partikel terekstraksi dan dihitung bobotnya, selanjutnya partikel

dalam beaker dianalisis untuk mengetahui kandungan logam berat yang terdapat

di dalamnya. Logam berat yang dianalisis pada pengamatan ini adalah Timbal

(Pb). Analisis dilakukan di Laboratorium Center for Development of Safe

Industry (CDSAF) Fateta IPB dengan menggunakan AAS. Cara pengolahan

sampel sebelum diaalisis dengan AAS adalah:

1. partikel yang berada dalam beaker diencerkan dengan menambahkan HCl

pekat 10 ml konsentrasi 37%

2. dipanaskan selama ± 10 menit atau hingga larutan tersisa 3 ml.

3. kemudian ditambahkan asam perklorat 5 ml 72% dan dipanaskan kembali

hingga hampir kering

4. diencerkan kembali dengan HCl 0.1 M hingga 50 ml

5. dianalisis dengan alat AAS yang secara otomatis akan membaca kandungan

Pb pada sampel

Konsentrasi Timbal (Pb) yang diperoleh berdasarkan hasil AAS adalah

mg/l, yang kemudian diubah ke dalam bentuk gr/cm2 atau μg/cm2. Selanjutnya

dapat dihitung:

Total Partikel yang Dijerap Daun = (A’-A)/(Luas Permukaan Daun)

Jumlah Pb yang Dijerap daun = (μg Pb/Luas Permukaan Daun)

Untuk mengetahui konsentrasi partikel polutan di udara digunakan alat

(12)

1. menimbang kertas saring/filter (berat B).

2. mengkalibrasi tekanan udara di sekitar dan di dalam alat hingga mencapai

tekanan tertentu yaitu 25 mHg

3. kemudian selang dibuka agar udara dapat masuk ke dalam alat. Udara yang

masuk akan membawa partikel polutan bersamanya. Partikel polutan tersebut

akan terjerap pada kertas saring yang terdapat di dalam alat tersebut. Kertas

saring ini kemudian ditimbang kembali (berat B’).

Total Partikel yang Dijerap = (B’-B) = ...gr

2.3.2. Metoda Pengamatan Reduksi Kebisingan oleh Tanaman

Untuk mengukur kebisingan digunakan Soundmeter (dB) yang diarahkan

ke sumber kebisingan. Untuk mengetahui reduksi/pengurangan kebisingan pada

berbagai penutupan vegetasi dipilih 3 area dengan penutupan vegetasi berbeda,

dari terbuka (vegetasi sedikit) hingga bervegetasi lebat/rapat dengan jarak

pengukuran yang berbeda-beda pula .(gbr 2)

Gambar 2. Pengukuran di lokasi

J

alan Paja

jar

an

A

0--- 10---20---30 --- 40 (m) 79.17 65.40 65.00 62.17 61.27

G

W

(13)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Serapan Polutan Partikel

Dari hasil pencucian partikel pada daun sampel maka diperoleh hasil

serapan partikel berdasarkan daun tiap jenis pohon (Tabel 1).

Tabel 1.

Hasil Jerapan Partikel pada Daun Sampel di Tiap Jenis Pohon

Tanaman memiliki kemampuan yang berbeda dalam menjerap partikel. Pohon

Akasia(II) mampu menjerap 14432.99 μg partikel per gram berat daun. Nilai ini

paling tinggi bila dibandingkan dengan kemampuan menjerap pada daun jenis

pohon lainnya, yaitu Pohon Saputangan dan Pohon Puspa. Pohon Saputangan

mampu menjerap 7801.15μg/g. Kemampuan menjerap partikel paling kecil

ditemui Pohon Puspa yang hanya mampu menjerap partikel sebesar 4102.00 μg/g.

Perbedaan ini dipengaruhi oleh kemampuan daun dalam menjerap polutan

partikel. Kemampuan ini sangat dipengaruhi jumlah stomata, letak stomata, dan

kerapatan stomata (Agustini, Nurisyah, Sulistyaningsih, 1999). Semakin banyak

jumlah stomata maka semakin besar/tinggi partikel yang dapat diserap oleh daun.

Adanya lapisan yang tebal (lilin) di permukaan daun juga mempengaruhi

kemampuan jerapan partikel oleh daun. Pohon mahoni memiliki permukaan daun Nama Pohon

Berat Daun (10g) Serapan Partikel (g) Total Serapan (μg/g)

(14)

yang lebih mengkilat dibandingkan permukaan daun pohon lain, yang

menandakan adanya lapisan lilin di permukaan daun,

sehingga jerapan polutan partikel yang diperoleh paling kecil.

4.2Serapan Polutan Logam Berat

Logam berat yang dianalisis pada pengamatan ini adalah Timbal (Pb).

Konsentrasi Timbal setelah dianalisis di laboratorium berbeda-beda tergantung

jenis tanaman dan kemempuannya dalam menjerap Timbal (Tabel 2).

Tabel 2.

Hasil Jerapan Timbal (Pb) pada Daun Sampel di Tiap Jenis Pohon

Nama Pohon Serapan Timbal (Pb)

(mg/l)

Dari ketiga vegetasi yang ada, Pohon Saputangan merupakan vegetasi

yang mampu menjerap timbal terbesar dibandingkan dengan Pohon Puspa dan

Pohon Akasia. Kemampuan menjerap partikel paling rendah terdapat pada daun

Pohon Puspa dan Pohon Akasia.

4.3Serapan Polutan Partikel dan Timbal (Pb) Berdasarkan Jenis Pohon

Berdasarkan asumsi luas permukaan tajuk, maka dapat diperoleh

kemampuan serapan partikel dan serapan Timbal pada tiap jenis pohon (Tabel 3).

Tabel 3.

Kemampuan Pohon dalam Menjerap Polutan Partikel dan Timbal (Pb)

(15)

Hasil jerapan partikel secara keseluruhan dan hasil jerapan timbal

berbeda cukup jauh. Pohon Saputangan(I) mampu menjerap partikel sebesar

0.0408mg/g sedangkan menjerap timbal sebesar 0.05mg/g daun. Pada pohon

Puspa(I) dan Akasia(I) mampu menjerap partikel kurang dari < 0.001.

Tingginya jerapan pada daun dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain

jenis vegetasi, bentuk daun, permukaan daun, umur daun dan letak vegetasi. Tiap

spesies vegetasi memiliki kemampuan yang berbeda dalam menjerap polutan

partikel. Tanaman damar lebih baik dari tanaman tanjung sedangkan tanaman

tanjung lebih baik dari pada tanaman mahoni dalam menjerap polutan partikel.

Bentuk daun ini mempengaruhi kemampuan jerapan. Semakin kecil daun, maka

semakin besar jumlah stomata sehingga semakin besar pula partikel yang mampu

dijerap oleh daun tersebut. Permukaan daun yang berbulu mampu menjerap

polutan partikel lebih banyak dibandingkan dengan permukaan daun yang licin.

Daun yang tua umumnya ditemui hasil jerapan partikel lebih banyak bila

dibandingkan dengan daun yang usianya masih muda. Hal ini dikarenakan daun

yang lebih tua berada lebih lama di lokasi tersebut bila dibandingkan dengan daun

yang lebih muda, sehingga partikel yang terjerap pun lebih banyak. Selain itu,

letak daun terhadap jalan juga mempengaruhi.daun yang letaknya menghadap

pada jalan mampu menjerap partikel lebih banyak bila dibandingkan dengan daun

yang menghadap ke dalam. Letak vegetasi yang dekat dengan jalan akan lebih

banyak menjerap polutan partikel bila dibandingkan dengan vegetasi yang

menjauhi jalan atau berada pada lapisan berikutnya.

Beberapa proses dapat menjadi penyebab berkurangnya polutan partikel

yang telah terjerap oleh daun sebelum daun tersebut di ekstraksi. Proses alam

seperti hujan mampu mencuci permukaan daun yang menjerap partikel.

Permukaan yang licin akan semakin mudah tercuci oleh air hujan dibandingkan

dengan permukaan daun yang berbulu atau kasar. Pada proses pengambilan daun,

daun akan jatuh dan polutan partikel dapat berkurang. Selain itu, proses

penyimpanan daun sebelum daun tersebut diekstraksi dapat mengurangi polutan

yang sudah terjerap oleh daun.

Selain dilakukan pengamatan polutan partikel yang dijerap oleh daun,

(16)

Sampling. Alat ini dengan sistem pompa akan menyedot masuk polutan partikel

ke dalamnya. Kertas saring yang dipasang di dalamnya dapat diukur dan

ditimbang sehingga diketahui berat polutan partikel yang terjerap. Namun dengan

alat ini polutan partikel yang terjerap sangat kecil sehingga hasil yang diperoleh

tidaklah signifikan.

4.4. Reduksi Kebisingan oleh Vegetasi

Vegetasi sangat berpengaruh dalam mengurangi kebisingan. Berdasarkan

berbagai luas penutupan vegetasi dapat diketahui pengurangan kebisingan yang

ditimbulkan jalan (Tabel 4).

Tabel 4.

Kebisingan yang Ditangkap pada Area dengan Berbagai Luasan Penutupan

Vegetasi

Jarak Sumber Suara

(m)

Kebisingan yang Ditangkap (dB)

Ruang Terbuka (GWW) Ruang dengan Vegetasi (Arboretum)

Bila dibandingkan dengan ruang terbuka, maka ruang dengan vegetasi mampu

mengurangi polusi suara hingga 6.4 dB. Selain vegetasi, jarak dari sumber suara

juga dapat mengurangi polusi suara cukup besar.

Jarak dari sumber suara lebih berpengaruh nyata dalam mengurangi polusi

suara bila dibadingkan dengan vegetasi. Namun tidak pula dapat dipungkiri bahwa

vegetasi juga memberikan pengaruh dalam mengurangi polusi suara. Vegetasi

dengan disain penanaman yang lebih rapat dan memadukan antara pohon dan

semak akan lebih efektif mengurangi polusi suara bila dibandingkan dengan

disain penanaman vegetasi yang hanya pohon saja walaupun dengan jumlah yang

(17)

dengan membuat dinding atau tembok namun memiliki fungsi yang lebih banyak.

Selain dapat mengurangi polusi suara, disain penanaman seperti ini juga mampu

menjerap polutan udara dengan lebih baik dan memiliki nilai estetik yang tinggi.

Sebagai jalur hijau kota akan menjadi sangat baik bila dapat memadukan disain

(18)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Jalur hijau jalan dapat mengurangi polutan partikel di sekitar jalan.

Tanaman yang paling besar kemampuannya dalam menjerap partikel polutan

adalah damar diikuti tanjung dan mahoni. Tanaman yang paling tinggi hasil

jerapan Timbal (Pb) adalah damar. Nilai yang diperoleh lebih tinggi bila

dibandingkan hasil jerapan Timbal tanjung dan mahoni. Konsentrasi polutan

partikel menggunakan SKC Calidaptor Air Sampling tidak diperoleh karena

jumlahnya yang sangat kecil. Hal ini disebabkan waktu pengamatan yang hanya

sebentar sehingga hasil jerapan polutan sangat kecil. Faktor-faktor yang

mempengaruhi penjerapan polutan oleh vegetasi jalur hijau ialah jenis vegetasi,

bentuk daun, permukaan daun, umur daun dan letak vegetasi.

Vegetasi mampu mengurangi polusi suara namun jarak dari sumber suara

lebih berpengaruh besar dalam megurangi kebisingan. Perpaduan antar jarak

dengan vegetasi mampu dengan lebih baik dalam mengurangi kebisingan.

Vegetasi dengan disain penanaman yang memadukan antara pohon dan semak

lebih efektif mengurangi kebisingan bila dibandingkan dengan ruang yang hanya

ditanami dengan pohon saja atau semak saja.

5.2.Saran

Pada jalur hijau jalan disarankan digunakan tanaman yang mampu

menjerap polutan partikel lebih baik sehingga dapat mengurangi polusi udara.

Disain penanaman dengan memadukan antara pohon dengan semak dapat

mengurangi polusi suara dan polusi udara sekaligus. Selain itu, jarak antara jalan

utama dengan lokasi lain yang membutuhkan ketenangan seperti sekolah dan

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Agustini, M., S. Nurisyah, Y. C. Sulistyaningsih. 1999. Identifikasi Ciri Arsitektur dan Kearpatan Stomata 25 Jenis Pohon Suku Leguminosae untuk Elemen Lanskap Tepi Jalan. Buletin Taman dan Lanskap Indonesia Vol. 2 No. 1 Tahun 1999. Studio Arsitektur Pertamanan. Fakultas Pertanian-Institut

Pertanian Bogor. Bogor. Halaman 2-6.

Carpenter, P. L. , T. D. Walker, F. O. Lanphear. 1975. Plants in The Landscape. W. H. Freeman and Co. San Fransisco. 481 hal.

Pirone, P. P. 1972. Tree Maintenance. Oxford University Press. New York. 574 hal.

Simonds, J. O. 1983. Landscape Architecture. McGraw Hill Book Co. New York. 331 hal.

Leslie L Dolle, 1972. Environmental Acoustics. McGraw Hill, Inc. New York. 149 hal

(20)

:

Gambar Perletakan tanaman terhadap sumber bising ( (Kendaraan di jalan )

(21)

JENIS TANAMAN JALUR HIJAU pada Jl.kampus Darmaga IPB YANG DIJADIKAN SAMPEL TANAMAN POLUTAN

1. POHON SAPU TANGAN /Handkerchief trees ( Davidia involucrata)

Famili : Fabaceace

Tanaman jalur hijau jalan dengan lebar tajuk kurang lebih 7 meter, tinggi pohon

mencapai 15 m dengan tajuk yang rapat .

2. AKASIA (Acasia longifolia Willd)

Famili ; Fabaceae

(22)

3. POHON PUSPA ( Schima walichii ) Famili : Theaceace

(23)
(24)

LAMPIRAN :

TANAMAN POLUTAN YANG ADA PADA AREA

(25)
(26)

Gambar

Tabel 1.
Tabel 2.
Tabel 4.
Gambar  Perletakan tanaman terhadap sumber bising  ( (Kendaraan di jalan )

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah organisasi yang baik memiliki empat karakteristik yakni appropiate (proses pengambilan keputusan sesuai dengan kondisi lingkungan), adequate (kecukupan

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut dalam rangka mengetahui tingkat efektifitas penerapan e-SPT terhadap pelaporan SPT

Gambar IV.6 Flowmap Diagram Sistem Yang Sedang Diusulkan Pada Gambar IV.6 menjelaskan bahwa setelah pengguna membuka permianan, sistem akan menampilkan daftar pilihan

Bangunan yang digunakan sebagai kajian teknis dan kajian ekonomis penerapan BAPV yaitu bangunan Gedung Politeknik Aceh dengan posisi penempatan modul surya yaitu pada posisi

Penyidik menurut KUHAP berwenang melakukan penyidikan tindak pidana yang terjadi, dimana pasal 1 ayat (1),(2) tidak mengenal istilah pidana umum atau pidana

Sebagai warga, masyarakat Desa Tajau Pecah begitu sadar bahwa mereka hidup dalam satu lingkungan yang saling membutuhkan, sehingga interaksi-interaksi yang

Perumusan SKKNI ini disusun dengan melibatkan stakeholder yang berkaitan dengan substansi standar dan dilaksanakan oleh Panitia Perumusan Standar Kompetensi Kerja