LAPORAN PRAKTIKUM MODUL-I
ANALISIS DATA CUACA DAN IKLIM II
Disusun oleh :
Ulfa Widya Lestari
12811031
Michael Antonius
12812008
Fikri Rozi
12812031
Fandy Balbo
12812038
PRODI METEOROLOGI
FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Regresi Linier
Regresi pertama-tama dipergunakan sebagai konsep statistik pada tahun 1877 oleh Sir
Francis Galton . Istilah regresi pada mulanya bertujuan untuk membuat perkiraan nilai satu
variabel terhadap satu variabel yang lain. Selanjutnya berkembang menjadi alat untuk
membuat perkiraan nilai suatu variabel dengan menggunakan beberapa variabel lain yang
berhubungan dengan variabel tersebut.
a) Regresi Linier Sederhana
Regresi linier sederhana adalah regresi yang melibatkan hubungan antara satu variabel
tak bebas (Y) dihubungan dengan satu variabel bebas (X). Bentuk umum persamaan
regresi linier sederhana adalah:
= +
Dimana: y = variabel tak bebas a = intersep (titik potong kurva terhadap sumbu y) b =
kemiringan (slope) kurva linear x = variabel bebas
b) Regresi Linier Berganda
Regresi linier berganda adalah regresi yang melibatkan hubungan antara satu variabel tak
bebas (Y) dihubungan dengan dua atau lebih variabel bebas. Bentuk umum persamaan
regresi linier berganda adalah:
� = + + + + ⋯ + � �+ � = , , … . ,
Dimana Yi adalah variabel tak bebas ke-I, Xi adalah variabel bebas ke-I, dan ei adalah
error pada pengamatan ke-i
Secara manual, persamaan regresi berganda dengan tiga variabel bebas masih
1.2 Running Mean
Dalam statistik, Moving average adalah perhitungan untuk menganalisa titik data dengan
menciptakan serangkaian rata-rata dari himpunan bagian yang berbeda dari kumpulan data
lengkap. Hal ini juga disebut running mean yang merupakan jenis yang keterbatas saringan
respon impuls. Variasi termasuk: sederhana, dan kumulatif, atau tertimbang bentuk.
Mengingat serangkaian angka dan ukuran bagian tetap, elemen pertama dari Moving
average diperoleh dengan mengambil rata-rata dari subset tetap awal seri nomor. Maka
bagian tersebut dimodifikasi oleh "pergeseran ke depan" yaitu, tidak termasuk angka
pertama dari deret dan termasuk urutan berikutnya mengikuti bagian asli dalam deret. Hal ini
menciptakan subset baru. Proses ini diulang di seluruh seri data. Alur cerita yang
menghubungkan semua rata-rata adalah Moving Average. Sebuah Moving average adalah
serangkaian angka, yang masing-masing merupakan rata-rata dari bagian yang sesuai dari
satu set yang lebih besar dari titik datum. Sebuah rata-rata bergerak juga dapat menggunakan
bobot yang tidak sama untuk setiap nilai datum dalam subset untuk menekankan nilai-nilai
tertentu dalam subset.
Sebuah Moving average umumnya digunakan dengan data time series untuk kelancaran
keluar fluktuasi jangka pendek dan menyoroti tren jangka panjang atau siklus. Ambang batas
antara jangka pendek dan jangka panjang tergantung pada aplikasi, dan parameter moving
average akan ditetapkan sesuai. Misalnya, sering digunakan dalam analisis teknis data
keuangan, seperti harga saham, return atau volume perdagangan. Hal ini juga digunakan
dalam ekonomi untuk memeriksa produk domestik bruto, pekerjaan atau time series ekonomi
dapat dilihat sebagai contoh dari low-pass filter yang digunakan dalam pemrosesan sinyal.
Ketika digunakan dengan data series non-waktu, yang bergerak filter rata-rata komponen
frekuensi yang lebih tinggi tanpa sambungan khusus untuk waktu, meskipun biasanya
beberapa jenis pemesanan tersirat. Dilihat menyederhanakan dapat dianggap sebagai
pemulusan data.
1.3Auto-Correlation dan Cross- Correlation
Autokorelasi mengacu kepada korelasi antara sebuah time series dengan nilai
sebelum maupun nilai setelahnya. Autocorrelation terkadang disebut dengan “lagged
correlation” atau “serial correlation”, yang mengacu pada korelasi antara anggota deret angka yang disusun berdasarkan waktu. Nilai autocorrelation yang positif dapat dianggap
sebagai sebuah bentuk kecenderungan suatu sistem untuk tetap pada bentuknya dari satu
observasi ke observasi selanjutnya. Contohnya, kemungkinan besok hujan itu lebih besar jika
hari ini hujan daripada jika hari ini tidak hujan. Autocorrelation juga dapat mengindentifikasi
kovarian dan korelasi yang signifikan diantara deret waktu. Autocorrelation dapat juga
digunakan untuk prediksi.sebuah deret waktu yang telah di autokorelasikan dapat diprediksi
karena masa depan bergantung pada masa sekarang dan masa lalu.
Fungsi autokorelasi dapat digunakan untuk dua tujuan ini:
1. Untuk mendeteksi data yang tidak acak.
2. Untuk mengindentifikasi sebuah model time series jika datanya tidak acak.
Memberikan persamaan, Y1, Y2, ..., YN pada waktu X1, X2, ..., XN, the lag k autocorrelation
function is defined as
� = ∑ − ∑= � − ̅ �+ − ̅
� = � − ̅
meskipun variabel waktunya X tidak digunakan dalam formula untuk auto korelasi, kita
dapat berasumsi bahwa observasinya berada dalam ruang yang sama. Autokorelasi
1.4MLR (Multi Linier Regresion)
Sebuah teknik statistik yang menggunakan beberapa variabel penjelas untuk memprediksi
hasil dari variabel respon. Tujuan dari regresi linier berganda (MLR) adalah model hubungan
antara variabel penjelas dan respon. Beberapa upaya regresi linier untuk memodelkan
hubungan antara dua atau lebih variabel penjelas dan variabel respon dengan memasang
persamaan linear data yang diamati. Setiap nilai variabel x independen dikaitkan dengan nilai
variabel dependen y. Garis regresi populasi p variabel penjelas x1, x2, ..., xp didefinisikan
sebagai
�� = � + � + � + ⋯ . +�� �
Baris ini menjelaskan bagaimana respon berarti µy berubah dengan variabel penjelas.
Nilai-nilai yang diamati untuk y bervariasi tentang kemampuan mereka µy dan diasumsikan
memiliki deviasi standar yang sama. Nilai-nilai pas β0, β1, ..., βp memperkirakan parameter β0, β1, ..., βp dari garis regresi populasi.
Karena nilai-nilai yang diamati untuk y bervariasi tentang kemampuan mereka y, model
regresi berganda termasuk istilah untuk variasi ini. Dalam kata-kata, model ini dinyatakan
sebagai DATA = FIT + SISA, di mana "FIT" istilah merupakan ekspresi � + � + � +
⋯ . +�� � The "SISA" istilah merupakan penyimpangan dari nilai-nilai yang diamati y dari
harta mereka y, yang terdistribusi normal dengan mean 0 dan varians. Notasi untuk model
penyimpangan adalah e
Secara formal, model untuk regresi linier berganda, mengingat pengamatan n, adalah
� = � + � � + � � + ⋯ … + �� ��+ �� = , , … . .
Dalam model kuadrat-terkecil, garis terbaik pas untuk data yang diamati dihitung dengan
meminimalkan jumlah kuadrat dari deviasi vertikal dari setiap titik data ke baris (jika titik
terletak pada garis dipasang persis, maka vertikal deviasi 0). Karena penyimpangan pertama
kuadrat, kemudian dijumlahkan, tidak ada pembatalan antara nilai-nilai positif dan negatif.
Perkiraan kuadrat-b0, b1, ... bp biasanya dihitung dengan software statistik.
Nilai-nilai sesuai dengan persamaan + � + ⋯ . + � �� dinotasikan dengan � dan sisa
�. perbedaan antara nilai-nilai yang diamati dan dipasang. Jumlah residual adalah sama
Nilai variasni bisa di estimasi dengan = ∑ ��2
�−�− yang biasa di kenal dengan
1.5Indeks Yang digunakan
1) SOI (Southern Osilation Index)
SOI adalah indeks yang didasarkan pada perbedaan tekanan udara Darwin dan
Tahiti. SOI berkaitan erat dengan fenomena El-Nino dan La Nina. Nilai SOI yang yang
konsisten negative, biasanya menunjukan kehadiran El Nino. El nino di defenisikan
sebagai pemanan yang bekepanjangan daerah timur tropis Samudera Pasifik, yang
mengarah ke pelemahan bahkan pembalikan dalam arah angina yang melintasi samudera
pasifik. Selanjutnya, hal ini akan cenderung mengurangi curah huja di wilayah Australia
Timur dan Utara, termasuk juga Indonesia.
Untuk Nilai SOI yang postitif, sering di indikasi kan dengan kehadiran La Nina.
Lanina terjadi ketika temperature permukaan laut bagian utara Australia dalam keadaan
hangat dari batas normal, dan arah angina yang melintasi samudera pasifik akan semakin
menguat. Kondisi ini berlawanan denga El nino, dan akibat yang ditimbulkan pun akan
berlawanan. Peluang terjadinya hujan melintasi daerah timur dan utara Australia lebih
tinggi dari keadaan normalnya.
Untuk menghitung SOI, dapat menggunakan formula :
�
= (
− ℎ � − − � −
−
� )
2) MEI (Multivariate Enso Index)
MEI adalah metode yang digunakan untuk mengkarakteristikan intensitas ENSO
(El Nino Southern Oscillation). Mengingat ENSO adalah fenomena yang muncul dari
interaksi yang kompleks dari berbagai system iklim, MEI d anggap sebagai indeks yang
paling komprehensif untuk pemantauan ENSO. Karena MEI menggabungkan analisis
beberapa komponen meteorology dan oseanografi.
MEI ditentukan sebagai komponen utama dari enam parameter yang berbeda
yaitu tekanan permukaan laut, komponen zonal dan meridional angina permukaan, suhu
International Comprehensive Ocean-Atmosphere Data Set (ICOADS). MEI dihitung 12
kali per tahun untuk setiap “sliding bi-monthly season”, yang di kelompokan Jan-Feb, Feb-Mar, Mar-Apr dan seterusnya. Nilai MEI yang postifi, di indikasikan terjadinya El
Nino, sementara Nilai negative menunjukan kondisi terjadinya La Nina.
3) DMI (Dipole Model Index)
DMI adalah indicator gradient temperature Timur dan Barat yang melintasi
Samudera Hindia tropis, atau yang sering di dengar adalah Indian Ocean Dipole atau
Zonal Mode. DMI dihitung dengan perbedaan antara indeks WTIO dan indeks SETIO.
Hujan ekstrim pada periode Sept-Okt-Nov di Timur Tropis Afrika yang dinyatakan
dengan periode DMI yang tinggi.
Dalam suatu kasus, rata-rata bulanan ditunjukan oleh peningkatan tanda-tanda,
tiga bulan berjalan berarti nilai indeks ditunjukan oleh daerah yang d arsir. Dalam dua
tahun terakhir rata-rata mingguan ditunjukan oleh tanda postif dan nilai rata-rata bulanan
ditunjukan oleh daerah yang di arsir.
4) NAO (Northern Atlantic Oscilation)
NAO adlah fenomena iklim di samudera Atlantik Utara yang memuat fluktuasi
perbedaan tekanan atmosfer di permukaan laut anata Islandia rendah dan Azores tinggi.
Melalui fluktuasi kekuatan Islandia rendah dan Azores tinggi, ia dapat menggendalikan
kekuatan dan arah angina barat serta lintasan badai yang melintasi Atlantik utara. Ini
merupakan bagian dari osilasi Arktik dan bervariasi dari waktu ke wkatu tanpa perioda
tertentu. NAO ditemukan pada tahun 1920. Tidak sperti ENSO, NAO adalah model
atmosfer yang lebih besar. Hal ini adalah salah satu manifestasi yang sangat penting dari
fluktuasi iklim di Atlantik Utara dan sekitarnya.
Fase positif yang kuat dari NAO cenderung berhubungan dengan suhu diatas
normal di timur Amerika Serikat dan seluruh eropa utara, dan suhu dibawah normal di
Greendland dan seluruh eropa selatan dan timur tengah. Hal ini juga terkait dengan curah
hujan di atas normal di eropa utara dan Skandinavia, dan curah hujan di di bawah normal
di Eropa selatan dan tengah. Pola yang berlawanan suhu dan anomaly curah hujan
terutama yang di dominasi oleh satu fase ternetntu dari NAO. Pola suhu yang abnormal
juga sering terlihat semakin meluas ke Rusia tengah dan Siberia bagian utara dan tengah.
5) PDO (Pasific Decadal Oscilation)
PDO adalah pola variabilitas iklim Pasifik yang karakternya mirip dengan ENSO,
namun lebih bervariasi dalam skala waktu yang lama. PDO dapat tetap berada di fase
yang sama selama 20 – 30 tahun, sedangkan ENSO biasanya berlangsung 6 sampai 18 bulan. PDO, sama seperti ENSO, terdiri atas fase hangat dan dingin yang mengubah
tingkat atmosfer. Pergeseran fase PDO dapat memiliki implikasi yang signifikan bagi
iklim global yang mempengaruhi Pasifik dan Atlantik serta Aktivitas badai, kekeringan,
banjir, produktivitas ekosistem laut, dan pola suhu tanah global. Jika ENSO dan PDO
berada dalam fase yang sama, diyakini bahwa dampak El Nino dan La Nina dapat
diperbesar. Sebaliknya, jika ENSO dan PDO keluar dari fase, akan saling menimbangi
PDO Hangat
Wilayah luas suhu air rata-rata di atas lepas pantai Amerika utara drai alaske ke
khatulistiwa adalah fitur klasik dar fase hangat PDO. Air hangat membungkus dalam
bentuk tapal kuda disekitar inti air dingin. Dampak dari PDO tergantung apakah akan
sejalan dengan siklus ENSO. Jika siklus berada pada fase yang berlawanan, maka efek
akan melemah. Namun ketika PDO dan ENSO dalam satu fase yang hangat, maka ENSO
berada pada fase El-Nino.
PDO Dingin
Berlawanan dengan PDO hangat, daerah luas dibawah suhu air rata-rata di lepas pantai
Amerika utara dari Alaska ke khatulistiwa adalah sinyal fase dingin dari PDo. Luas suhu
permukaan laut yang lebih hangat dari pada rata-rata di Pasifik tengah dikelilingi oleh
BAB II
DATA DAN METODOLOGI
2.1.
DataHujanyang DigunakanData hujan yang digunakan adalah data satu titik di wilayah Denpasar, Bali dengan
Longitude 115.171894 dan Latitute -8.745190. Titik tersebut berada di wilayah Bandara
Ngurah Rai International Airport. Data hujan yang tersedia dari tahun 1901-2008. Akan
tetapi pada analisis kami memotong data curah hujan dan juga data clim indic dari tahun
1977-2008 dikarenakan data dibawah tahun 1977 masih belum baik (setelah dilakukan
2.2.
Flowchart dan Script Matlab Simple Regression Linier
Start
Data X Data Y
Alokasi Array X Alokasi Array Y
Cari Koefisien Regresi (a,b)
y=(a+bx)
Persamaan Regresi
Koefisien Determinasi
(R square)
Perhitungan RMSE (Error)
Plot Grafik, R square,
RMSE
clear all; close all; clc
%% data rainfall GPCC pontianak(1977:2008)
fid=fopen('denpasar.dat','rb'); rain=fread(fid,'float32'); fclose(fid);
%% data indeks MEI (1958:2008)
load clim_indic.mat
%%ambil nilai MEI di tahun yang sama dengan rainfall (1977:2008)
x=clim_indic(1).values(372:end-24);
%ambil data rainfall tahun (1977:2008)
y=rain(936:end-24);
%%calling myrunmean.m for smoothing interannual component
y=myrunmean(y,24,0,1);
sqrt((n*nansum(x2)-nansum(xsmoth)^2)*(n*nansum(y2)-nansum(ysmoth)^2));
%root mean square error
RMSE= sqrt(nanmean(yn-xn).^2);
%yreg=regression(xsmoth,ysmoth); %plot scater dan fittingnya
plot(xsmoth,ysmoth,'o','markerfacecolor','r'); grid on
hold on
plot (xn,yn);
title('Plot Curah Hujan terhadap Indeks Iklim','fontsize',16,'fontweight','bold') xlabel('MEI', 'fontsize',14,'fontweight','bold');
ylabel('RAIN (mm)','fontsize',14,'fontweight','bold'); legend({['scatter plot, R = ' num2str(R)],...
['regresi, y= ' num2str(b) 'x+ ' num2str(a) ',RMSE=' num2str(RMSE)]}...
Clear all; close all; clc;
%loading global climate indicies (MEI,DMI,NAO,PDO,SOI) loadclim_indic.mat
%calling myrunmean.m for separating interdecadal component
fori=1:5
%jumlah PDO, NAO, SOI per tahun
end
annidx(1,:)=NaN;annidx(end,:)=NaN; clearnyrisieid
%========================================================================== %training period (ys to ye-tt)
tt=10;
id1=find(ydat==ye-tt); %nilaitahun 1993 keberapa di curahhujan id2=find(yidx==ye-tt); %nilaitahun 1993 keberapa di tahun index id3=find(yidx==ys);
%calculating lags of each indicies trdum1=annrdat(1:id1);trdum1(1)=[]; trdum2=annidx(id3:id2,:);trdum2(1,:)=[]; figure;holdon
cc={'r''g''b''y''m'}; fori =1:5
[dum1,dum2]=xcorr(trdum1,trdum2(:,i),'coeff'); a=find(dum2<-10);
lags=dum2(a);cor=dum1(a);
plot(lags,cor,['o-' cc{i}],'markerfacecolor',cc{i},'linewidth',3) % axis([min(lags) -15 -1 1])
gridon
b=find(abs(cor)==max(abs(cor))); lidx(i)=abs(lags(min(b)));
cleardum1dum2ablagscor end
legend('NAO', 'PDO', 'SOI', 'MEI' , 'DMI'); set(gca,'fontsize',14,'fontweight','bold');
a=(id2-(lidx(i))-ntr+1);b=id2-(lidx(i)); tridx(:,i)=annidx(a:b,i);
clearab end
X=[tridx(:,1) tridx(:,2) tridx(:,3) tridx(:,4) tridx(:,5)]; Y=trdat;
% hitungpersamaandari model yang masuk (in) id=find(inmodel==1);
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Simple Linear Regression
Plot regresi di atas merupakan hasil dari plotting data
x=[1 4 6 7 8 11 13 20 25 26]; y=[2 3 4 6 7 8 10 11 13 14];
Kedua gambar di atas merupakan hasil plotting data curah hujan dengan indeks MEI
mengunakan fungsi regresi yang telah dibuat. Dapat dilihat bahwa pada plot tanpa regresi
linear pola sebaran datanya menumpuk sedangkan dengan menggunakan fungsi regresi
linear lebih terlihat ada pola sebaran data.
3.2 Regresi Linear Antara Data Curah Hujan Denpasar Satu Titik Dan Indeks MEI.
Plot gambar di atas merupakan hasil dari fitting antara curah hujan Denpasar di satu titik
dengan indeks MEI tanpa smoothing dan setelah dilakukan smoothing 2 tahun untuk
menghilangkan variabilitas iklim dibawah 2 tahun. Jika ditinjau dari nilai RMSE, nilai
RMSE setelah smoothing bernilai 18.5599 dan sebelum di smoothing 129.2067. Nilai
diperhatikan sebaran datanya dikedua gambar tersebut terlihat bahwa sebaran data lebih
banyak di nilai positif sehingga dapat disimpulkan bahwa titik kajian lebih dipengaruhi oleh
indeks MEI positif. Indeks MEI positif mengindikasikan bahwa daerah kajian lebih
dipengaruhi oleh El Nino.
3.3 Plot Curah Hujan Pertiga Bulan (DJF-MAM-JJA-SON) dengan Indeks MEI
Dari hasil plot pada bulan Desember-Januari-Februari, tanpa dan dengan smoothing 2 tahun
terlihat bahwa pada bulan-bulan ini dipengaruhi oleh indeks MEI positif yang berarti El Nino.
Nilai RMSE dan korelasi juga lebih baik dibandingkan plot tanpa smoothing. Terlihat pula
garis regresi (warna biru) menurun. Bila diperhatikan pada plot smoothing terlihat pola dua
puncak yang berarti hujannya dipengaruhi juga oleh monsunal saat bulan-bulan ini.
Pada plot di bulan Maret-April-Mei juga dominan di daerah positif, sehingga dipengaruhi
oleh El Nino. Sebaran data lebih mendekati garis regresi.
Pada plot di bulan Juni-Juli-Agustus juga dominan di daerah positif, sehingga dipengaruhi
oleh El Nino. Sebaran data juga mendekat haris regresi.
September-Oktober-November
Pada plot di bulan September-Oktober-November juga dominan di daerah positif, sehingga
3.4
Penambahan Indeks MEI dan DMI pada MultivarPada contoh praktikum sebelumnya kita hanya menggunakan indeks NAO, PDO, dan SOI.
Dengan penambahan indeks MEI dan DMI serta pemilihan training time (tt) 5,7, dan 10.
Berikut hasil plotting-nya.
Indeks iklim SOI berkorelasi kuat dan positif sedangkan indeks iklim MEI juga
berkorelasi kuat namun negatif untuk daerah kajian. Pada tahun 1999-2000 merupakan
kejadian La Nina kuat dan juga pada tahun 1997-1998 merupakan kejadian El Nino
kuat, sesuai dengan plot pada grafik “Regress Method’. Jika dilihat pada daerah testing time-nya terlihat bahwa grafik data observasi dan estimasi (model) trendnya sesuai. Bila
diperhatikan lebih lanjut terlihat pula terdapat pola pada grafik estimasi.
Dapat disimpulkan bahwa, Indeks SOI dan MEI berpengaruh kuat.
Indeks iklim SOI berkorelasi kuat dan positif sedangkan indeks iklim MEI juga
berkorelasi kuat namun negatif untuk daerah kajian.. Jika dilihat pada daerah testing
time-nya terlihat bahwa grafik data observasi dan estimasi (model) trendnya pada
awalnya masih sesuai namun terlihat menurun saat bagian akhir. Bila diperhatikan lebih
lanjut terlihat pula terdapat pola pada grafik estimasi.
Dapat disimpulkan bahwa, Indeks SOI dan MEI berpengaruh kuat.
Indeks iklim SOI berkorelasi kuat dan positif sedangkan indeks iklim MEI juga
berkorelasi kuat namun negatif untuk daerah kajian. Jika dilihat pada daerah testing time
-nya terlihat bahwa grafik data observasi dan estimasi (model) trend-nya sudah tidak
sesuai.
Dapat disimpulkan bahwa, Indeks SOI dan MEI berpengaruh kuat.
3.5
Pemakaian Metode StepwisePada metode ini juga digunakan training time 5, 7, dan 10.
Berikut hasil di matlab
Dari hasil di atas, ternyata indeks SOI dan MEI berkorelasi kuat. Serta plotting grafik
lebih smooth dibandingkan dengan metode sebelumnya dengan training time yang
sama.Hasil keluaran model matlab menunjukan bahwa koefisien model regresi yang
paling cocok adalah milik NAO.
Dari hasil di atas, ternyata indeks SOI dan MEI berkorelasi kuat. Serta plotting grafik
lebih smooth dibandingkan dengan metode sebelumnya dengan training time yang
sama.Hasil keluaran model matlab menunjukan bahwa koefisien model regresi yang
paling cocok adalah milik NAO
Dari hasil di atas, ternyata indeks SOI dan MEI berkorelasi kuat. Serta plotting grafik
lebih smooth dibandingkan dengan metode sebelumnya dengan training time yang
sama.Hasil keluaran model matlab menunjukan bahwa koefisien model regresi yang
DAFTAR PUSTAKA
http://blog.iseesystems.com/modeling-tips/running-mean-and-stddev/ , diakses pada tanggal 12
Maret 2015 Pukul 21:35 WIB
http://en.wikipedia.org/wiki/Moving_average , diakses pada tanggal 12 Maret 2015 Pukul 21:35
WIB
http://trading.narotama.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/Moving-Average-Indikator.pdfhttp://belajarforex.com/indikator-teknikal/moving-average.html , diakses pada
tanggal 12 Maret 2015 Pukul 21:35 WIB
http://www.foreximf.com/belajar-forex/dasar/moving-average/ , diakses pada tanggal 12 Maret
2015 Pukul 21:35 WIB
http://trading.narotama.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/Moving-Average-Indikator.pdf ,
diakses pada tanggal 12 Maret 2015 Pukul 21:35 WIB
http://belajarforex.com/indikator-teknikal/moving-average.html , diakses pada tanggal 12 Maret 2015 Pukul 21:35 WIB
http://www.foreximf.com/belajar-forex/dasar/moving-average/ , diakses pada tanggal 12 Maret 2015 Pukul 21:59 WIB
http://www.stat.yale.edu/Courses/1997-98/101/linmult.htm , diakses pada tanggal 12 Maret 2015 Pukul 21:56 WIB
http://www.public.iastate.edu/~maitra/stat501/lectures/MultivariateRegression.pdf , diakses pada tanggal 12 Maret 2015 Pukul 21:56 WIB
http://www.esrl.noaa.gov/psd/enso/mei/ , diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 20:55 WIB
http://www.nc-climate.ncsu.edu/climate/patterns/PDO.html , diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 20:55 WIB
http://www.ncdc.noaa.gov/teleconnections/pdo/ , diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 21:05 WIB
http://research.jisao.washington.edu/pdo/ , diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 21:05 WIB
http://www.ncdc.noaa.gov/teleconnections/nao/ , diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 21:00 WIB
http://stateoftheocean.osmc.noaa.gov/sur/ind/dmi.php, diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 22:35 WIB
http://www.jamstec.go.jp/frcgc/research/d1/iod/HTML/Dipole%20Mode%20Index.html, diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 22:35 WIB
http://www.weatherzone.com.au/help/article.jsp?id=54 , diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 22:35 WIB
http://www.ncdc.noaa.gov/teleconnections/enso/indicators/soi/ , diakses pada tanggal 13 Maret 2015 Pukul 22:40 WIB