• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Manajemen Keuangan id. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Manajemen Keuangan id. docx"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MANAJEMEN KEUANGAN

BAB 8 RISIKO DAN TINGKAT PENGEMBALIAN

BAB 9 SAHAM DAN VALUASINYA

Oleh:

Rezeki Ekawaty Rahman A.P -

Masyithah Nurun Barqah

Achmad Dahlan

-PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER MANAJEMEN

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

(2)

BAB 8

RISIKO DAN TINGKAT PENGEMBALIAN

1. Risk (Risiko)

Secara umum, risiko adalah tingkat ketidakpastian akan terjadinya sesuatu atau tidak terwujudnya sesuatu tujuan, pada suatu kurun atau periode waktu tertentu (time period). Atau resiko bisa dikatakan sebagai penyimpanan arus kas yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang semakin besar rentang penyimpanan yang mungkin terjadi,maka akan semakin besar resikonya.jika dipikirkan hal ini merupakan sebuah konsep yang cenderung bersifat intuitif.

Risiko bisa juga diartikan sebagai kemungkinan return aktual yang berbeda dengan return yang diharapkan. Investor yang mempunyai sikap enggan terhadap risiko disebut dengan risk averse investor. Investor ini tidak mau mengambil risiko suatu investasi jika investasi tersebut tidak memberikan harapan return yang layak sebagai kompensasi terhadap risiko yang ditanggung investor tersebut. Sikap investor terhadap risiko akan tergantung pada preferensi investor terhadap risiko. Investor yang lebih berani akan memilih risiko investasi yang lebih tinggi, yang diikuti dengan harapan tingkat return yang tinggi pula. Demikian pula sebaliknya, investor yang tidak mau menanggung risiko yang tinggi tentunya tidak akan bisa mengharapkan tingkat return yang tinggi pula.

Dalam bidang finansial, risiko sering dihubungkan dengan volatilitas atau penyimpangan /deviasi dari hasil investasi yang akan diterima dengan keuntungan yang diharapkan. Volatilitas merupakan besarnya harga fluktuasi dari sebuah aset. Semakin besar volatilitas aset, maka semakin besar kemungkinan mengalami keuntungan atau kerugian. Van Horne dan Wachowics, Jr (1992) mendefinisikan risiko sebagai variabilitas (keragaman) return terhadap return yang diharapkan.

Suad Husnan (2005:161) menyebutkan bahwa risiko dibagi menjadi dua, yaitu:

(3)

Risiko sistematis merupakan risiko yang mempengaruhi semua perusahaan. Risiko ini terjadi karena kejadian-kejadian diluar kegiatan perusahaan seperti inflasi, resesi, dan lain sebagainya.

2) Risiko Tidak Sistematis

Risiko tidak sistematis atau risiko khusus merupakan risiko yang mempengaruhi satu (kelompok kecil) perusahaan, karena risiko ini merupakan risiko yang penyebabnya ada di dalam perusahaan itu sendiri atau di dalam suatu kelompok industri tertentu. Risiko ini disebut juga sebagai risiko unit/ risiko residual/ risiko khusus perusahaan. Yang termasuk dalam risiko ini misalnya adanya kerusakan peralatan, pemogokan kerja, tuntutan hukum maupun bencana alam.

Resiko untuk tujuan kita,merupakan prospek hasil yang tidak diinginkan dan dapat diukur dengan deviasi standar, deviasi standar akar dari data – data penyimpanan pangkat dua dari setiap kemungkinan pengembalian terhadap pengembalian yang diharapkan.

Mengelola Risiko

Dalam aktivitas yang namanya risiko adalah pasti terjadi dan sulit untuk dihindari sehingga bagi sebuah lembaga bisnis seperti perbankan sangat penting untuk memikirkan bagaimana mengelola risiko tersebut.

Dalam mengelola risiko pada dasarnya ada 4 cara yaitu :

a. Memperkecil risiko, dengan cara tidak memperbesar setiap keputusan yang mengandung risiko tinggi tapi membatasinya bahkan meminimalisirnya agar risiko tersebut tidak menambah menjadi besar dan diluar kontrol manajemen perusahaan.

b. Mengalihkan risiko, dengan cara mengalihkan risiko yang kita terima tersebut ketempat lain seperti mengasurasikan bisnis guna menghindari terjadinya risiko yang sifatnya tidak tentu waktunya.

(4)

d. Pendanaan risiko, dengan cara menyediakan dana cadangan (reserve) guna mengantispasi timbulnya risiko dikemudian hari, seperti perubahan terhadap nilai tukar dolar dipasaran maka kebijakan sebuah bank adalah harus memiliki dana cadangan dalam bentuk dolar.

2. Return (Tingkat Pengembalian)

Dalam manajemen investasi, tingkat keuntungan disebut dengan

return. Return dari suatu aset adalah tingkat pengembalian atau hasil yang diperoleh akibat melakukan investasi. Return merupakan salah satu faktor yang memotivasi investor untuk berinvestasi karena dapat menggambarkan secara nyata perubahan harga. Return yang diharapkan investor dari investasi yang dilakukannya merupakan kompensasi atas biaya kesempatan (opportunity cost) dengan risiko penurunan daya beli akibat adanya inflasi. Dalam konteks manajemen investasi, perlu dibedakan antara return yang diharapkan (expected return) dengan

return yang terjadi (realized return).

Return yang diharapkan merupakan tingkat return yang diantisipasi investor di masa datang. Sedangkan return yang terjadi merupakan tingkat return yang telah diperoleh di masa lalu. Antara tingkat return

yang diharapkan dan return yang terjadi atau return aktual merupakan risiko yang harus dipertimbangkan dalam proses investasi.

Tingkat pengembalian (return) biasanya di bedakan menjadi dua yaitu; Return realisasi (realized return) dan return ekspektasi (expected return). Return ekspektasi adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa yang akan datang. Return realisasi merupakan return yang telah terjadi, dihitung berdasarkan data historis.

Hasil pengembalian adalah pendapatan yang diterima dari investasi ditambah perubahan harga pasar biasanya dinyatakan sebagai prosentase dan harga pasar investasi mula-mula.

(5)

Tingkat pengembalian yang diinginkan investor dapat diartikan sebagai tingkat pengembalian minimum yang diperlukan untuk menarik investor agar membeli atau memegang surat-surat berharga tertentu. Definisi ini mempertimbangkan biaya kesempatan investor dalam melakukan investasi yang artinya jika suatu investasi dilakukan maka investor harus melepaskan pengembalian yang diperoleh dari investasi alternative terbaik berikutnya. Pengembalian yang dilepas tersebut dinamakan biaya kesempatan dana dan sebagai konsekuensinya merupakan tingkat pengembalian yang diinginkan investor. Dengan kata lain, kita berinvestasi dengan harapan untuk mendapatkan tingkat pengembalian yang memadai bagi investor. Investasi akan dilakukan hanya jika harga pembelian cukup rendah bila dibandingkan dengan arus kas masa depan yang diinginkan sehingga dapat menyediakan tingkat pengembalian yang lebih besar atau sama dengan tingkat pengembalian yang kita inginkan. Untuk membantu memahami sifat alami tingkat pengembalian yang diinginkan investor, kita dapat memisahkan tingkat pengembalian ke dalam komponen dasarnya: tingkat pengembalian bebas risiko ditambah premi risiko yang dinyatakan dalam persamaan:

K = Krf +Krp Dimana:

K = tingkat pengembalian yang diinginkan investor Krf = tingkat pengembalian bebas risiko

Krp = premi risiko

(6)

pengembalian yang kita harapkan untuk dapat diterima karena risiko yang ditanggung. Semakin tinggi tingkatan risiko, maka kita akan menuntut tambahan pengembalian yang diinginkan. Walaupun kita akan atau tidak akan bisa menerima pengembalian tambahan ini, kita harus mempunyai alasan untuk mengharapkan penambahan tersebut.

Contoh:

Untuk menunjukkan konsep tingkat pengembalian yang diinginkan itu, mari kita mengambil contoh perusahaan Polaroid yang obligasinya jatuh tempo pada tahun 2006. Berdasarkan harga pasar dari obligasi ini pada 19 September 2000 kita dapat menentukan investor itu mengharapkan pengembalian sebesar 11%. Surat utang jangka pendek pemerintah 90 hari saat itu, bernilai 6% yang berarti bahwa pemegang obligasi Polaroid menuntut premi risiko sebesar 5%. Dinyatakan dalam suatu persamaan:

Tingkat pengembalian yang diharapkan (K)

= tingkat bebas risiko (Krf) + premi risiko (Krp)

= 6% + 5% = 11%

B. Hubungan Antara Risiko & Tingkat Pengembalian

Di dalam pasar uang di mana saham dan obligasi di jual, para pemakai uang, seperti perusahaan yang melakukan investasi harus bersaing satu sama lain dalam mencari modal. Untuk memperoleh pembiayaan atas proyek yang akan bermanfaat bagi pemegang saham perusahaan, perusahaan harus menawarkan kepada investor, tingkat pengembalian yang mampu bersaing dengan alternatif investasi lain yang tersedia bagi investor tersebut. Tingkat pengembalian dari alternatif investasi terbaik berikutnya ini dikenal sbg biaya kesempatan dana (opportunity cost of fund).

(7)

yang menurun dan beberapa beroperasi dalam pasar yang kecil yang dengan cepat muncul dan kemudian dengan cepat lenyap. Selain itu perusahaan kecil mengandalkan pembiayaan melalui utang dibandingkan perusahaan yang besar. Perbedaan ini menciptakan variabilitas yang lebih pada jumlah laba dan arus kas, yang diartikan sebagai risiko yang lebih besar.

Dengan memikirkan forgoing (kehilangan peluang yang lebih baik), kita harus mengharapkan adanya tingkat pengembalian yang berbeda untuk pemilik dari berbagai surat-surat berharga tersebut. Jika pasar menghargai investor atas risiko yang ditanggungnya, maka tingkat pengembalian harus meningkat mengikuti peningkatan risiko.

Menurut Paul L. Krugman dan Maurice Obstfeld, bahwa pada kenyataanya, seorang investor yang netral terhadap risiko cenderung mengambil posisi agresif maksimum. Ia akan membeli sebanyak mungkin aset yang menjanjikan hasil tinggi dan menjual sebanyak mungkin aset yang hasilnya lebih rendah. Perilaku inilah yang menciptakan kondisi paritas suku bunga. Adapun karakteristik tersebut secara umum dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :

1. Takut pada risiko (Risk Avoider)

Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati terhadap keputusan yang diambilnya bahkan ia cenderung begitu tinggi melakukan tindakan yang sifatnya mengindari risiko yang akan timbul jika keputusan diaplikasikan. Karakter pebisnis yang melakukan tindakan seperti ini disebut dengan safety player.

2. Hati-hati pada risiko (Risk Indifference)

Karakteristik ini di mana sang decision maker sangat hati-hati atau begitu menghitung terhadap segala dampak yang akan terjadi jika keputusan diaplikasikan. Bagi kalangan bisnis, mereka menyebut orang dengan karakter seperti ini secara ekstrem disebut sebagai tipe peragu.

3. Suka pada risiko (Risk Seeker)

(8)

dimiliki oleh pebisnis besar dan juga pemimpin besar. Karakter ini yang paling mendominasi jika dilihat dari kedekatannya pada risiko.

C. Tingkat Pengembalian Yang Diharapkan Atas Investasi

Secara Berdiri Sendiri atau Portofolio

1. Risiko arus kas aktiva dapat dipertimbangkan atas dasar berdiri sendiri (stand-alone basis) oleh setiap aktiva itu sendiri atau dalam konteks portofolio di mana investasi digabungkan dengan aktiva lain dan risikonya dikurangi melalui diversifikasi.

2. Kebanyakan investor yang rasional memiliki portofolio aktiva, dan mereka lebih memperhatikan risiko portofolionya daripada risiko aktiva individual.

3. Pengembalian yang diharapkan atas investasi adalah nilai rata-rata dari distribusi probabilitas pengembalian.

4. Semakin besar probabilitas bahwa pengembalian aktual akan jauh di bawah pengembalian yang diharapkan, semakin besar risiko yang berdiri sendiri (stand-alone) yang berkaitan dengan aktiva.

5. Tingkat pengembalian yang diharapkan atas saham umumnya sama dengan pengembalian yang diperlukan

6. Namun, sesuatu dapat terjadi yang menyebabkan tingkat pengembalian yang diperlukan berubah:

a. Suku bunga bebas risiko dapat berubah karena perubahan inflasi yang diantisipasi.

b. Beta saham dapat berubah.

c. Penolakan investor terhadap risiko dapat berubah.

7. Dengan semakin berkembangnya dunia usaha dan investasi, maka didirikanlah oleh Pemerintah Pasar Modal Indonesia, dalam hal ini khususnya Bursa Efek Jakarta.

(9)

mengembangkan perusahaannya, maupun investor untuk memperoleh tingkat pengembalian yang lebih besar dari investasi yang ditanamkan sebelumnya (capital gain). Tingkat pengembalian yang diharapkan berkaitan erat dengan risiko yang ditanggungnya, bila tingkat pengembalian yang diperoleh besar, maka risikonya juga besar, dan sebaliknya bila tingkat pengembalian yang diperoleh kecil, maka risikonya juga kecil, tetapi semuanya tergantung dari investor itu sendiri dalam menghadapi risiko.

3. Beta Saham

Beta (β) merupakan pengukur risiko sistematis dari suatu saham atau portofolio relatif terhadap risiko pasar. Beta juga berfungsi sebagai pengukur volatilitas return saham, atau portofolio terhadap return pasar. Volatilitas merupakan fluktuasi return suatu saham atau portofolio dalam suatu periode tertentu, jika secara statistik fluktuasi tersebut mengikuti fluktuasi dari return-return pasar, maka dikatakan beta dari sekuritas tersebut bernilai satu (Jogiyanto, 2007).

Fluktuasi tersebut menunjukkan risiko sistematis dari saham tersebut, semakin besar return suatu saham berfluktuasi terhadap return pasar, maka risiko sistematisnya akan lebih besar, demikian pula sebaliknya, semakin kecil fluktuasi return suatu saham terhadap return pasar, semakin kecil pula beta saham tersebut. Karena fluktuasi juga sebagai pengukur risiko, maka beta bernilai 1 menunjukkan bahwa risiko sistematik suatu sekuritas atau portofolio sama dengan risiko pasar.

Beta saham individual cenderung memiliki koefisien determinasi (yaitu kuadrat dari koefisien korelasi yang lebih rendah dari beta portofolio), koefisien determinasi menunjukkan

proporsi perubahan nilai Rit yang bisa dijelaskan Rmt. Beta portofolio umumnya lebih akurat

dari beta sekuritas individual karena ada kemungkinan nilai beta selalu berubah dari waktu ke waktu kemudian penaksiran beta selalu mengandung unsur kesalahan acak (random error). Risiko yang relevan untuk dipertimbangkan dalam investasi yang berbentuk portofolio adalah risiko sistematis, dimana besar kecilnya risiko tersebut ditunjukkan oleh besar kecilnya satuan beta. Besar kecilnya beta menunjukkan besar kecilnya kepekaan perubahan tingkat

keuntungan saham Rit terhadap perubahan tingkat keuntungan pasar Rmt.

(10)

1. Apabila β = 1, berarti tingkat keuntungan saham i berubah secara proporsional dengan tingkat keuntungan pasar. Ini menandakan bahwa risiko sistematis saham i sama dengan risiko sistematis pasar.

2. Apabila β > 1, berarti tingkat keuntungan saham i meningkat lebih besar dibandingkan dengan tingkat keuntungan keseluruhan saham di pasar. Ini menandakan bahwa risiko sistematis saham i lebih besar dibandingkan dengan risiko sistematis pasar, saham jenis ini sering juga disebut sebagai saham agresif.

3. Apabila β < 1, berarti tingkat keuntungan saham i meningkat lebih kecil dibandingkan dengan tingkat keuntungan keseluruhan saham di pasar. Ini menandakan bahwa risiko sistematis saham i lebih kecil dibandingkan dengan risiko sistematis pasar, saham jenis ini sering juga disebut sebagai saham defensif.

Mengetahui beta suatu sekuritas merupakan hal penting untuk menganalisa sekuritas tersebut. Beta suatu sekuritas menunjukkan risiko sistematisnya yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. Mengetahui beta masing-masing sekuritas juga berguna untuk pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut ke dalam portofolio yang akan dibentuk.

Pengukuran beta suatu saham dapat dilakukan dengan menggunakan Single Index Model (Husnan, 2001). Model ini berasumsi bahwa return saham berkorelasi dengan perubahan return pasar, dan untuk mengukur korelasi tersebut bisa dilakukan dengan

menghubungkan return saham individual (Rit) dengan return indeks pasar (Rmt). Tingkat

return saham ini dihitung dengan rumus berikut:

Rit = (Pt -Pti-1) / Pt-1

Dimana:

Rit = Return saham pada akhir bulan ke t

Pt = Clossing price pada akhir bulan ke t

Pt-1 = Clossing price pada akhir bulan sebelumnya (t-1)

(11)

Mengestimasi Beta

Market Model bisa diestimasi dengan merengres sekuritas yang akan dinilai dengan return pasar. Regresi tersebut akan menghasilkan nilai:

1. α ( ukuran sekuritas i yang tidak terkait dengan returnᵢ pasar)

2. β ( peningkatan return yang diharapkan pada sekuritas i,untuk setiap kenaikkan returnᵢ

pasar sebesar 1%)

Faktor-faktor yang mempengaruhi keakuratan Beta

1. Estimasi beta tersebut menggunakan data historis. Hal ini secara implicit berarti bahwa kita menganggap apa yang terjadi pada beta masa lalu akan sama pada beta di masa depan.

2. Garis karakteristik dapat dibentuk oleh berbagai observasi dan periode waktu yang berbeda, dan tidak ada satupun periode dan waktunya yang dianggap tepat. Dengan demikian estimasi beta pada satu sekuritas dapat berbeda karena observasi dan waktunya yang digunakan berbeda.

(12)

BAB 9

SAHAM DAN VALUASINYA

Saham adalah satuan nilain atau pembukuan dalam berbagai instrument financial yang mengacu pada bagian kepemilikan sebuah perusahaan. Dengan menerbitkan saham, kemungkinan perusahaan-perusahaan yangmembutuhkan pendanaan jangka panjang untuk menjual kepentingan dalam bisnis saham (efek ekuitas) dengan imbalan uang tunai. Saham di bagi menjadi dua jenis yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock). Berikut ini merupakan penjelasan dari saham biasa dan saham preferen.

1. Saham Biasa

A. Hak Hukum dan Istimewa Pemegang Saham Biasa

Pemegang saham biasa adalah pemilik dari sebuah perusahaan, dan oleh karena itu mereka memiliki beberapa hak dan keistimewaan tertentu.

a. Kendali Perusahaan

(13)

orang lain, umumnya kekuasaan untuk memberikan suara dari saham biasa.

Perebutan Mandat (proxy fight) merupakan usaha yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok untuk mendapatkan kendali atas sebuah perusahaan melalui pemberian wewenang dari para pemegang sahamnya kepada orang atau kelompok tersebut dalam menggunakan hak suaranya untuk mengganti menajemen yang ada. Pengambilalihan merupakan suatu tindakan di mana seseorang atau kelompok berhasil mengganti manajemen dan mengambil alih kendali perusahaan tersebut.

Para manajer yang tidak memiliki kendali mayoritas (lebih dari 50 persen kepemilikan atas saham perusahaan mereka) akan sangat berkepentingan dengan perebutan mandate dan pengambilalihan, dan kebanyakan di antara mereka mencoba mendapatkan persetujuan dari para pemegang saham untuk melakukan perubahan anggaran dasar perusahaan yang akan membuat pengambilalihan menjadi lebih sulit.

b. Hak Prioritas

Hak prioritas adalah suatu ketentuan di dalam anggaran dasar atau anggaran rumah tangga perusahaan yang memberikan hak kepada pemegang saham untuk membeli secara pro rata penerbitan sahan (atau sekuritas yang dapat dikonversi—convertible securities) baru. Hak prioritas ini memiliki dua maksud. Pertama, hak ini memungkinkan pemegang saham yang ada saat ini tetap memilki kendali. Jika mtidak ada pengamanan seperti ini, manajemen dari sebuah perusahaan dapt menerbitkan tambahan saham dalam jumlah besar dan membeli sendiri saham-saham tersebut. Dengan demikian, manajemen dapat mengambil alih kendali atas perusahaan dan membuat frustasi para pemegang sahamnya. Kedua, untuk melindungi para pemegang saham dari dilusi nilai.

Jenis Saham Biasa

(14)

1.Saham Terklasifikasi yaitu saham biasa yamg diberikan penamaan khusus, seperti Kelas A, Kelas B, dan seterusnya, untuk memenuhi berbagai kebutuhan khusus perusahaan.

2.Saham Pendiri yaitu saham yang dimiliki oleh pendiri perusahaan yang memiliki hak suara tunggal tetapi tidak menerima dividen selama beberapa tahun yang telah ditentukan.

Pasar Untuk Saham Biasa

Perusahaan Tertutup merupakan sebuah perusahaan yang dimiliki oleh bebrapa individu yang umumnya berkaitan dengan manajemen perusahaan. Perusahaan Terbuka merupakan sebuah perusahaan yang dimiliki oleh beberapa orang yang jumlahnya relative besaar dan tidak terkait secara aktif dengan manajemennya.

• Jenis Transaksi Bursa Saham

Transaksi-transaksi bursa saham dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis:

a. Pasar Sekunder. Pasar di mana saham-saham “bekas” diperdagangkan setelah diterbitkan oleh perusahan.

b. Pasar Primer. Pasar di mana perusahaan menerbitkan sekuritas baru untuk mendapatkan modal korporat.

c. Pasar Penawaran Perdana (Initial public offering—IPO). Pasar bagi saham-saham perusahaan yang sedang dalam proses untuk go public yaitu tindakan menjual saham kepada masyarakat luas yang dilakukan oleh perusahaan tertutup atau pemegang saham utamanya.

• Valuasi Saham Biasa

Saham biasa mencerminkan suatu kepentingan kepemilikan di dalam sebuah perusahaan, tetapi bagi seorang investor, saham biasa hanualah sekedar kertas yang dicirikan oleh dua sifat:

(15)

membayarkan dividend an bukannya mempertahankan dan menginvestasikan kembali seluruh keuntungan yang diperoleh. b. Saham dapat dijual di suatu tanggal dimasa mendatang,

harapannya tentu dengan harga yang lebih tinggi daripada harga belinya.

• Definisi Dari Istilah-Istilah Yang Digunakan Dalam Berbagai Model Valuasi Saham

Saham biasa memberikan aliran arus kas masa depan yang diharapkan, dan nilai sebuah saham akan dihitung dengan cara yang sama seperti menghitung nilai-nilai dari aktiva keuangan lainnya, yaitu nilai sekarang dari aliran arus kas yang diharapkan di masa mendatang. Arus kas yang diharapkan terdiri atas dua unsur:

a. Dividen yang diharapkan akan diterima setiap tahun dan

b. Harga yang diharapkan akan diterima oleh para investor ketika mereka menjual saham tersebut. Istilah-istilah berikut secara umum digunakan dalam model untuk menunjukkan nilai dari saham.

Dt = dividen yang diharapkan akan diterima oleh pemegang saham pada akhir Tahun t.

P0 = harga pasar. Harga jual saham di dalam pasar.

Pt = harga saham yang diharapkan pada setiap akhie tahun t. P0 = nilai intrinsik. Nilai dari suatu aktiva yang, menurut pikiran

seorang investor,

didukung oleh fakta; P0 dapat berbeda dari harga pasar saham saat ini.

g = tingkat pertumbuhan (growth rate) yang diharapkan darim dividen per saham.

ks = tingkat pengembalian yang diminta (required rate of return).

Tingkat pengembalian minimal dari saham biasa yang dianggap layak diterima oleh

(16)

ks = tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return).

Tingkat pengembalian sebuah saham yang diharapkan akan diterima oleh seorang

pemegang saham di masa depan.

ks = tingkat pengembalian aktual yang diterima (actual realized rate of return).

Tingkat pengembalian dari saham biasa yang benar-benar diterima oleh pemegang

saham di beberapa periode yang lalu. ks dapat lebih besar atau lebih kecil daripada

ks dan/atau ks.

D1/P0 = imbal hasil dividen (dividend yield). Dividen yang diharapkan dibagi dengan harga

saham saat ini dari selembar saham.

P1-P0/P0 = imbal hasil keuntungan modal (capital gains yield). Keuntungan modal selama satu

tahun tertentu yang dibagi dengan harga awalnya.

• Dividen Yang Diharapkan Sebagai Dasar Nilai Saham

Harga saham juga akan ditentukan sebagai nilai sekarang dari suatu aliran arus kas, dan persamaan dasar dari valuasi saham akan mirip dengan persamaan valuasi obligasi.

Nilai saham = P0 = PV dari ekspektasi dividen di masa mendatang ∑Dt / (1+ks)^t

Saham Dengan Pertumbuhan Konstan

Dalam banyak kasus, aliran dividen diharapkan akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan yang konstan. Maka persamaannya:

P0 = D1 / ks-g

(17)

tiap-tiap perusahaan, tetapi pertumbuhan dividen di kebanyakan perusahaan yang sudah mapan umumnya diharapkan akan terus berlanjut di masa depan pada tingkat yang kurang lebih sama dengan nilai nominal produk domestik bruto (Gross Domestic Product –GDP riil plus inflasi).

Pertumbuhan pada dividen terjadi utamanya sebagai akibat dari pertumbuhan laba per lembar saham (earning per share—EPS). Pertumbuhan laba itu sendiri, merupakan hasil dari sejumlah factor, termasuk (1) inflasi, (2) jumlah laba yang ditahan dan diinvestasikan kembali oleh perusahaan, dasn (30 tingkat pengembalian yang dihasilkan perusahaan dari ekuitasnya (ROE).

Tingkat Pengembalian Yang Diharapkan untuk Saham Dengan Pertumbuhan Konstan

Untuk mengetahui tingkat pengembalian yang diharapkan untuk saham dengan pertumbuhan konstan dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

ks = D1/P0 + g

Untuk saham dengan pertumbuhan konstan, syarat-syarat yang berlaku sebagai berikut:

1. Dividen diharapkan akan tumbuh selamanya dengan tingkat yang konstan, g.

2. Harga saham diharapkan akan tumbuh dengan tingkat yang sama. 3. Imbal hasil dividen yang diharapkan adalah konstan

4. Imbal hasil keuntungan modal yang diharapkan adalah juga konstan, dan nilainya sama dengan g.

5. Total tingkat pengembalian yang diharapkan adalah sama dengan imbal hasil dividen yang diharapkan plus tingkat pertumbuhan yang diharapkan: k = imbal hasil dividen + g.

(18)

Disepanjang awal kehidupannya, pertumbuhan yang dialami perusahaan akan jauh lebih cepat daripada pertumbuhan perekonomian secara keseluruhan; kemudian sama dengan pertumbuhan ekonomi; dan akhirnya pertumbuhannya melambat jika dibandingkan dengan perekonomian. Hal ini disebut sebagai Pertumbuhan Supernormal (Nonkonstan).

Untuk mengitung nilai sekarang dari saham dengan pertumbuhan supernormal, dapat dilakukan dengan tiga langkah sebagai berikut:

1. Menghitung nilai PV dividen-dividen yang terjadi selama periode pertumbuhan nonkonstan.

2. Menghitung harga dari saham pada akhir periode pertumbuhan nonkonstan, di mana tituk tersebut saham ini menjadi saham dengan pertumbuhan konstan, dan mendiskontokan harga ini kembali ke saat ini.

3. Menambahkan kedua komponen di atas untuk menemukan nilai instrinsik dari saham.

Menilai Keseluruhan Perusahaan

Model Total Perusahaan (Nilai Perusahaan) yaitu suatu model valuasi yang digunakan sebagai alternatif dari model pertumbuhan dividen untuk menentukan nilai sebuah perusahaan, khususnya perusahaan yang tidak membayarkan dividennya atau dimiliki secara tertutup. Model ini mendiskontokan arus kas bebas perusahaan dengan WACC untuk menentukan nilainya.

Nilai pasar dari setiap perusahaan dapat dinyatakan sebagai berikut: Nilai pasar dari perusahaan = FCF1/(1+WACC)^1 + FCF2/

(1+WACC)^2 + … FCFn/(1+WACC)^n

Untuk mencari Free Cash Flow dapat melalu persamaan:

(19)

Untuk menghitung nilai sebuah perusahaan, langkah-langkah yang dapat digunakan sebagai berikut:

1. Asumsikan perusahaan akan mengalami pertumbuhan nonkonstan selama N tahun, di mana setelahnya perusahaan akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan konstan yang sama.

2. Hitung arus kas bebas yang diharapkan (FCF) untuk masing-masing tahun N dengan pertumbuhan nonkonstan, dan menghitung PV arus kas tersebut.

3. Kenali bahwa setelah tahun N pertumbuhan akan konstan.

4. Menjumlah seluruh PV, baik dari arus kas bebas tahunan selama periode nonkonstan plus seluruh PV dari nilai akhir, untuk menemukan nilai perusahaan.

Ekuilibrium Bursa Saham

Ekuilibrium (Equilibrium) yaitu kondisi di mana pengembalian yang diharapkan dari suatu sekuritas akan sama dengan pengembalian yang diminta, k=k. demikian pula, P=P0, dan harga berada dalam keadaan stabil. Dalam keadaan ekuilibrium terdapat dua kondisi saling berhubungan yang harus terjadi:

1. Ekspektasi tingkat pengembalian sebuah saham seperti yang dilihat oleh para investor marginal harus sama dengan tingkat pengembalian yang diminta: ks=ki.

2. Harga pasar actual saham harus dengan nilai intrinsiknya seperti yang diestimasikan oleh investor marginal: P0=P0

• Hipotesis Pasar Yang Efisien

(20)

• Tingkatan Efisiensi Pasar

1. Efisiensi dalam Bentuk Lemah. Bentuk lemah dari EHM menyatakan bahwa seluruh informasi yang terdapat di dalam pergerakan-pergerakan harga di masa lalu telah sepenuhnya tercermin di dalam harga pasar saat ini.

2. Efisiensi dalam Bentuk Semikuat. Bentuk semikuat dari EHM menyatakan bahwa harga pasar yang berlaku saat ini mencerminkan seluruh informasi yang tersedia bagi publik. 3. Efisiensi dalam Bentuk Kuat. Bentuk kuat dari EHM menyatakan

bahwa harga-harga pasar yang berlaku saat ini mencerminkan seluruh informasi ynag berhubungan, baik itu tersedia bagi public atau dimilki secara pribadi.

B. Saham Preferen

Saham preferen adalah suatu jenis hibrida (hydrid)—dalam beberapa hal tertentu mirip dengan obligasi dan mirip dengan sham biasa dalam beberapa hal yang lain. Sifat hibrida dari saham preferen tampak jelas terlihat ketika kita mencoba untuk mengaklasifikasikannya sehubungan dengan obligasi dan saham biasa.

Seperti onligasi, saham preferen memilki nilai pari dan terdapat dividen dalam jumlah tetap yang harus dibayarkan sebelum dividen dapat dibayarkan kepada saham biasa. Akan tetapi, jika divoden saham preferen tidak diberikan, para direktur dapat menghilangkan (atau “membiarkan”) pembayaran tersebut tanpa harus memasukkan perusahaan ke dalam kebangkrutan. Jadi, meskipun saham preferen memilki pembayaran tetap seperti obligasi, kegagalan dalam melakukan pembayaran tersebut tidak akan mengarah pada kebangkrutan.

Saham preferen memberikan hak kepada pemiliknya untuk mendapatkan dividen secara rutin dan dalam jumlah tetap. Jika pembayaran tersebut terjadii untuk selama-lamanya, maka masalahnya adalah anuitas abadi yang nilainya, Vp, akan dihitung dengan cara sebagai berikut:

(21)

Dimana:

Vp = nilai dari saham preferen Dp = dividen preferen

kp = tingkat pengembalian yang diminta

Dalam keadaan ekuilibrium pengembalian yan g diharapkan, kp, akan sama dengan pengembalian yang diminta, kp. Jadi jika kita mengetahui harga saat ini dari sebuah saham preferen dan dividennya, kita akan dapat menghitung tungkat pengembalian yang diharapkan dengan cara sebagai berikut:

kp = Dp / Vp

Referensi

Dokumen terkait

Telah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di dusun Losari Sukoharjo, Ngaglik Sleman, Yogyakarta dengan judul peningkatan nilai ekonomi dan pembuatan pelet ikan

Sementara kepadatan tanah yang kurang baik ditemukan di Kecamatan Suko- harjo, Kecamatan Grogol bagian selatan dan Kecamatan Bendosari bagian barat dengan kedalaman tanah sangat

kelas yang baik, diharapka para mahasiswa dalam PPL II ini juga dapat.. mengembangan model-model pembelajaran yang menarik bagi

Tujuan Tugas Akhir ini adalah untuk membuat sistem informasi penjualan sepatu pada toko In Her Shoes dengan menggunakan PHP dan MySQL, yang merupakan media dalam memberikan

7 Apa yang dilakukan oleh para pengikut Yesus berikutnya adalah suatu bentuk rasa hormat terhadap Yesus yang mereka anggap sedang menggenapkan nubuat para nabi, yaitu datang

Berbeda dengan remaja yang memiliki kontrol diri tinggi, yaitu remaja yang mampu mengontrol diri, dan tidak mudah terprovokasi, ketika remaja memiliki kontrol diri tinggi

Dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 Tentang Penyelenggara Pemilihan Umum pada Pasal 73 ayat (4) huruf c yang menyatakan bahwa “Bawaslu Berwenang menyelesaikan

Mencari informasi mengenai obyek, atraksi wisata, penginapan, kuliner dan transportasi di Pulau Lombok untuk memperluas pengetahuan penulis mengenai apa saja yang akan