• Tidak ada hasil yang ditemukan

Amiria laia Makalah perkembangan perilak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Amiria laia Makalah perkembangan perilak"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah perkembangan perilaku dan kepribadian

1. perkembangan perilaku dan kepribadian seseorang BAB I PENDAHULUAN a. Latar belakang Setiap organisme, baik manusia maupun hewan, pasti mengalami peristiwa perkembangan selama hidupnya. Perkembangan ini meliputi seluruh bagian dengan keadaan yang dimiliki oleh organisasi tersebut, baik yang bersifat konkret maupun yang bersifat abstrak. Jadi, arti peristiwa perkembangan itu khususnya perkembangan manusia tidak hanya tertuju pada aspek psikologis saja, tetapi juga aspek biologis. Karena setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, inteligensi maupun sosial, satu sama lain saling mempengaruhi. Terdapat hubungan atau korelasi yang positif diantara aspek tersebut. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakit-sakitan), maka dia akan mengalami kemandegan dalam perkembangan aspek lainnya, seperti kecerdasannya kurang berkembang dan mengalami kelabilan emosional. b. Masalah Bagaimana perkembangan perilaku dan kepribadian seseorang? c. Tujuan - Mengetahui tentang proses, tahapan, dan karakteristik perkembangan aspek fisik dan perilaku motorik - Mengetahui proses, tahapan, dan karakteristik perkembangan aspek bahasa dan perilaku kognitif - Mengetahui perkembangan aspek sosial - Mengetahui aspek moral dan kepribadian

(2)

otot, peredaran darah dan pernafasan, persyaratan, sekresi kelenjcar dan pencernaan. Aspek fisiologi yang sangat penting bagi kehidupan manusia adalah otak (brain). Otak dapat dikatakan sebagai pusat atau sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Otak ini terdiri atas 100 miliar sel syaraf (neuron), dan setiap sel syaraf tersebut, rata-rata memiliki sekitar 3000 koneksi (hubungan) dengan sel-sel syaraf yang lainnya. Neuron ini terdiri dari inti sel (nucleus) dan sel body yang berfungsi sebagai penyalur aktivitas dari sel syaraf yang satu ke sel yang lainnya.

3. b. Perkembangan perilaku psikomotorik Loree (1970 : 75) menyatakan bahwa ada dua macam perilaku psikomotorik utama yang bersifat universal harus di kuasai oleh setiap individu pada masa bayi atau awal masa kanakkanaknya ialah berjalan (walking) dan

memegang benda (prehension). Kedua jenis keterampilan psikomotorik ini merupakan basis bagi perkembangan keterampilan yang lebih kompleks seperti yang kita kenal dengan sebutan bermain (playing) dan bekerja (working). Dua prinsip perkembangan utama yang tampak dalam semua bentuk perilaku psikomotorik ialah (1) bahwa perkembangan itu berlangsung dan yang sederhana kepada yang kompleks, dan (2) dan yang kasar dan global (gross bodily movements) kepada yang halus dan spesifik tetapi terkoordinasikan (finely coordinated movements). (1) Berjalan dan Memegang Benda Keterampilan berjalan diawali dengan gerakan-gerakan psikomotor dasar (locomotion) yang harus dikuasainya selama tahun pertama dari kehidupannya. Perkembangan psikomotorik dasar itu berlangsung secara sekuensial, sebagai berikut: (1) keterampilan bergulir (roil over) dan telentang menjadi telungkup (5 : 8 bulan), (2) gerak duduk (sit up) yang bebas (8,3 bulan), (3) berdiri bebas (9,0 bulan) berjalan dengan bebas (13,8 bulan) (Lorre, 1970: 75). (2) Bermain dan Bekerja Mulai usia 4-5 tahun bermain konstruksi yang fantastik itu dapat beralih kepada berbagai bentuk gerakan bermain yang ritmis dan dinamis, tetapi belum terikat dengan aturan-aturan tertentu yang ketat. (3) Proses Perkembangan Motorik Di samping faktor-faktor hereditas, faktor-faktor lingkungan alamiah, sosial, kultural, nutrisi dan gizi serta kesempatan dan latihan merupakan hal-hal yang sangat berpengaruh terhadap proses dan produk perkembangan fisik? dan perilaku psikomotorik. 2. Perkembangan Bahasa dan Perilaku Kognitis a. Perkembangan Bahasa Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Dalam pengertian ini tercakup semua cara untuk berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambang atau simbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan

menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan, dan mimik muka. Dalam berbahasa, anak dituntut untuk menuntaskan atau

(3)

4. 1. Pemahaman, yaitu kemampuan memahami makna ucapan orang lain. Bayi memahami bahasa orang lain, bukan memahami kata-kata yang diucapkannya, tetapi dengan memahami kegiatan /gerakan atau gesturenya (bahasa tubuhnya). 2. Pengembangan

Perbendaharaan kata-kata anak berkembang dimulai secara lambat pada usia dua tahun pertama, kemudian mengalami tempo yang cepat pada usia pra-sekolah dan terus meningkat setelah anak masuk sekolah. 3. Penyusunan Kata-kata menjadt kalimat, kemampuan menyusun kata-kata menjadi kalimat pada umumnya berkembang sebelum usia dua tahun. Bentuk kalimat pertama adalah kalimat tunggal (kalimat satu kata) dengan disertai: “gesture” untuk melengkapi cara benpikirnya. 4. Ucapan. Kemampuan kata-kata merupakan hasil belajar melalui imitasi (peniruan) terhadap suara-suara yang didengar anak dan orang lain (terutama orangtuanya). Pada usia bayi, antara 11-18 bulan, pada umumnya mereka belum dapat berbicara atau mengucapkan kata-kata secara jelas, sehingga sering tidak dimengerti maksudnya. Kejelasan ucapan itu baru tercapai pada usia sekitar tiga tahun. Hasil studi tentang suara dan kombinasi suara menunjukkan bahwa anak mengalami kemudahan dan kesulitan dalam huruf-huruf tertentu. Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu sebagai berikut. 1. Eqocentric Speech 2. Socialized Speech, yang terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya. Perkembangan ini dibagi ke dalam lima bentuk: (a) adapted information, di sini terjadi saling tukar gagasan atau adanya tujuan bersama yang dicari, (b) critism, yang menyangkut penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain, (c) command (perintah), request (permintaan) dan threat (ancaman), (d) questions (pertanyaan), dan (e) answers (jawaban). Berbicara monolog (egocentric speech) berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak yang pada umumnya di lakukan oleh anak berusia 2-3 tahun; sementara yang “sociaized speech” mengembangkan kemampuan penyesuaian sosial (social adjustment). b. Perkembangan Bahasa dan Perilaku Kognitif Istilah “cognitive” berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian

(4)

berdasarkan basil laporan berbagai studi pengukuran dengan menggunakan tes inteligensi sebagai alat ukurnya, yang dilakukan secara longitudinal terhadap sekelompok subjek dan sampai ke tingkatan usia tertentu (3-5 tahun sampai usia 30-35 tahun, misalnya) secara test-retest yang alat ukurnya disusun secara sekuensial (Standford Revision Binet Test). Dengan menggunakan hasil pengukuran tes yang rnencakup General Information and Verbal Analogies, Jones and Conrad (Loree, 1970:78) telah mengembangkan sebuah kurva

perkembangan inteligensi, yang dapat ditafsirkan antara lain sebagai berikut. (a) Laju perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai ,masa remaja awal, setelah itu kepesatan nya berangsur menurun. (b) Puncak perkembangan pada umumnya dicapai di penghujung masa remaja akhir (sekitar usia dua puluhan); perubahan-perubahan yang amat tipis sampai usia 50 tahun, setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai usia 60 tahun, untuk selanjutnya berangsur menurun (deklinasi). (c) Terdapat variasi dalam saatnya dan laju kecepatan deklinasi menurut jenis-jenis kecakapan khusus tertentu. (2) Perkembangan Perilaku Kognitif secara Kualitatif Piaget membagi proses perkembangan fungsi dan peri itu ke dalam empat tahapan utama yang secara kualitatif setiap tahapan menunjukkan karakteristik yang berbeda-beda. (a) Sensorimotor period (0,0 – 2,0). Periode ini ditandai penggunaan sensorimotorik (dalam pengamatan penginderaan) yang intensif terhadap dunia sekitar. Prestasi intelektual yang dicapai dalam periode ini ialah perkembangan bahasa, hubungan tentang obyek kontrol skema, kerangka berpikir, pembentukan pengertian, pengenalan hubungan sebab-akibat. Perilaku kognitif tampak antara lain: (1) menyadari dirinya berbeda dan benda-befl sekitarnya; (2) sensitive terhadap rangsangan suara dan cahaya;

(5)

(11,0 or 12,0 – 14,0 or 15,0) Periode ini ditandai dengan kernampuan untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal yang tidak terikat lagi oleh objek-objek yang bersifat konkrit. Pen laku kognitif yang tampak pada kita antara lain: (1) kemampuan berpikir hipotetis-deduktif (hypothetico-deductive thinking); (2) kemampuan mengembangkan suatu kemungkinan berdasarkan dua atau lebih kemungkinan yang ada (a combinational analysis); (3) kemampuan mengembangkan suatu proporsi atau dasar proporsi-proporsi yang diketahui (proportional thinking); (4) kemampuan menarik generalisasi dan inferensasi dan berbagai kategori objek yang beragam. Tokoh lain yang melakukan studi terhadap masalah ini secara mendalam ialah Jerome Bruner (1966) ia membagi proses perkembangan perilaku kognitif ke dalam tiga periode ialah:

(6)

8. terhadap anak usia 5-16 tahun bahwa ada tiga pola kecenderungan sosial pada anak, ialah (1) withdrawal-expansive, (2) reactivity-placidity dan passivity-dominance. Kalau seseorang telah memperhatikan orientasinya pada salah satu pola tersebut, maka cenderung diikutinya sampai dewasa. b. Perkembangan Moralitas 1. Perkembangan Moral Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat peraturan/nilainilai atau tatacara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Nilai-nilai moral itu, seperti (a) seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan (b) larangan mencuri, berzina,

membunuh, meminum minuman keras dan berjudi. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tingi kelompok sosialnya. 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan Anak memperoleh nilai-nilai moral dan lingkungannya dan orangtuanya. Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orangtua sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. 3. Proses Perkembangan Moral Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, sebagai berikut. 1. Pendidikan langsung, yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa lainnya. Di samping itu, yang paling penting dalam pendidikan moral mi, adalah keteladanan dan orangtua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral 2. Identifikasi, yaitu dengan cara

mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orangtua, guru, kiai, artis atau orang dewasa lainnya). 3. Proses coba-coba (trial & error), yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus .di kembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya. c. Perkembangan Penghayatan Keagamaan Sejalan perkembangan kesadaran moralitas, perkembangan penghayatan keagarnaan, yang

(7)

melainkan beberapa sifatnya, misalnya objek dan caranya, itensitasnya, dan sebagainya. b. Perkembangan Emosional dan Perilaku Afektif Emosi itu dapat didefinisikan sebagai suatu suasana yang kompleks ( a complex feeling state) dan getaran jiwa (a strid up state) yang menyertai atau muncul sebelum /sesudah terjadinya perilaku. Aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya, selalu melibatkan tiga variabel, yaitu rangsangan yang menimbulkan emosi (the stimulus variable), perubahan-perubahan fisiologis, yang terjadi bila mengalami emosi (the organismic variable), dan pola sambutan ekspresi atau terjadinya pengalaman emosional itu (the response variable). Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai berikut: 1. Lebih bersifat subjektif daripada peristiwa psikologis lainnya, seperti pengamatan dan berpikir. 2. Bersifat fluktuatif (tidak tetap) 3. Banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera. Emosi dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yaitu emosi sensoris dan emosi kejiwaan (psikis). a. Emosi sensoris, yaitu emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dan luar terhadap tubuh, seperti: rasa dingin, manis, sakit, lelah, kenyang, dan lapar. b. Emosi psikis, di antaranya adalah: 1) Perasaan Intelektual, yaitu yang mempunyai sangkut paut dengan ruang lingkup kebenaran. 2) Perasaan Sosial, yaitu perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, baik

10. bersifat perorangan maupun kelompok. 3) Perasaan Susila, yaitu perasaan yang berhubungan dengan nilai-nilai balk dan buruk atau etika moral. 4) Perasaan Keindahan (estetis), yaitu perasaan yang berkaitan erat dengan keindahan dan sesuatu, baik bersifat kebendaan maupun kerohanian. 5) Perasaan Ketuhanan. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal Tuhannya. Perkembangan Kepribadian? c. Perkembangan Kepribadian 1. Pengertian Kepribadian Kepribadian dapat juga diartikan sebagai “kualitas perilaku individu yang tamj alamrnelakukan penyesuaian dirinya terhadap ling kungan secara unik” Keunikan penyesuaian tersebut sangat berkaitan dengan aspek-aspek kepribadian itu sendiri, yaitu meliputi hal-hal berikut. 1) Karakter, yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika pen laku, konsisten atau teguh tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. 2) Temperamen, yaitu disposisi reaktif seseorang, atau cepat/lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan 3) Sikap terhadap objek (orang, benda, peristiwa, norma dan sebagainya) yang bersifat positif, negatif atau ambivalen (ragu-ragu). 4) Stabilitas emosi, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dan lingkungan. Seperti: mudah tidaknya tersinggung marah, sedih atau putus asa. 5) ResponsibilitaS (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima risiko dan tindakan atau

(8)

Perkembangan sosial, moral. agama dan kepribadian masa akhir kanak kanak

(9)

laki-laki lebih sering terlibat dalam perilaku sosial buruk pada anak perempuan. e. Kegiatan geng yang populer meliputi permainan dan

olahraga, pergi ke bioskop, dan berkumpul untuk bicara atau makan bersama. f. Geng mempunyai pusat tempat pertemuan, biasanya yang jauh dari pengawasan orang-orang dewasa. 1 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja (Bandung : PT RemajaRosdakarya, 2011) hlm. I80

3. g. Sebagian besar kelompok mempunyai tanda keanggotaan, misalnya anggota kelompok memakai pakaian yang sama. h. Pemimpin geng mewakili ideal kelompok dan hampir dalam segala hal lebih unggul daripada anggota-anggota yang lain.2. Efek dari keanggotaan kelompok a. Menjadi anggota geng seringkali menimbulkan pertengkaran dengan orangtua dan penolakan terhadap standar orangtua. b. Permusuhan antara anak laki-laki dan anak perempuan semakin meluas. c. Kecenderungan anak yang lebih tua untuk mengambangkan prasangka terhadap anak yang berbeda. d. Dalam banyak hal merupakan akibat yang paling merusak, ialah cara anak memperlakukan anak-anak yang bukan anggota geng, mereka seringkali bersifat kejam kepada anak-anak-anak-anak yang tidak dianggap sebagai anggota geng.3. Teman pada Masa akhir kanak-kanak Seperti halnya dengan masa awal kanak-kanak, teman pada masa akhir kanak-kanak terdiri dari rekan, teman bermain, atau teman baik.4. Perilaku Teman Perlakuan yang kurang baik tidak hanya ditunjukkan kepada anak yang bukan anggota

kelompok. Pola sama juga terdapat dalam persahabatan anak-anak, sehingga persahabatan mereka jarang yang tetap.5. Status sosiometri Sebelum akhir masa kanak-kanak berakhir sebagian besar anak- anak tidak hanya menyadari status sosiometri mereka, yaitu status yang mereka senangi pada kelompok sosial, tetapi juga status sosiometri dari teman-teman sebayanya mereka.6. Pemimpin pada masa akhir kanak-kanak

4. Anak yang dipilih teman-temannya untuk berperan sebagai pemimpin pada masa akhir kanak-kanak, mendekati ideal kelompok, tetapi juga memiliki ciri-ciri yang dikagumi.2 Implementasi perkembangan sosial anak terhadap penyelenggaraan pemebalajaran di SD, adalah guru harus berperan sebagai : Konservator (pemelihara) tehadap nilai-nilai yang merupakan sumber norma yang akan dilakukan oleh peserta didik, Transmitor (penerus) ilmu pengetahuan terhadap peserta didik. Transformator (penerjemah), pendidik harus memberikan contoh yang baik terhadap peserta didik dalam berinteraksi dengan peserta dirdik. Organisator (penyelenggara), pendidik harus

(10)

pandangan anak mengenai metode pelatihan anak yang digunakan dirumah, semuanya berperan dalam menentukan kepribadian anak. Faktor- faktor yang mempengaruhi kepribadian atau konsep diri : 1. Perkembangan konsep diri ideal Anak-anak membentuk konsep diri yang ideal, anak menjadi sosok tokoh ide. Pada mulanya, konsep diri yang ideal mengikuti pola yang digariskan oleh orang tua, guru, dan orang-orang sekitar dalam 2 Yuridika Tahja, Psikologi Perkembangan ( Jakarta : Pernada Media Group, 2011) hlm. 208-210 3

http://dianzansori.wordpress.com 4 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja...,hlm. 126

5. lingkungannya. Kemudian dengan meluasnya cakrawala juga menikuti pola atau tokoh-tokoh yang dibaca atau didengar. 2. Mencari identitas Pencarian identitas dimulai pada bagian akhir masa kanak-kanak dan mencapai tahap kritis dalam masa remaja.5 Dalam proses pembelajaran Tugas-tugas perkembangan menuntut anak usia SD mampu menjadi pribadi-pribadi yang mandiri. Kemandirian ini

ditunjukkan pada kemampuan membuat perencanaan dan melaksanakan kegiatan belajar/sekolahnya tanpa harus selalu diarahkan oleh guru maupun orang tua. Sehubungan tugas pencapaian kemandirian ini, maka guru dalam melaksanakan proses pembelajarannya mengacu pada kemandirian. Baik kemandirian dalam tugas individual maupun kemandirian dalam tugas-tugas kelompok.6C. Perkembangan Moral Anak mulai menganal konsep moral (mengenal benar salah atau baik- buruk) pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin anak tidak mengerti konsep moral ini, tetapi lambat laun anak akan memahaminya. Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini (prasekolah) merupakan hal yang seharusnya, karena informasi yang diterima anak menganai benar-salah dan baik-buruk akan menjadi pedoman pada tingkah lakunya di kemudian hari. Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti peraturan atau tuntunan-tuntunan dari orangtua atau lingkungan sosialny. Pada akhir usia ini, anak sudah memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Disamping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk.7 Sikap dan prilaku moral Masa Akhir Kanak-kanak a. Perkembangan kode moral 5 Yuridika Tahja, Psikologi Perkembanga..., hlm. 213-214 6 http://pulungdwiwardani.wordpress.com 7 Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja...,hlm. 182

6. Pada akhir masa kanak-kanak seperti halnya awal masa remaja, kode moral sangat dipengaruhi oleh standar moral dari kelompok dimana anak mengidentifikasikan diri.b. Peran disiplin dalam pengambangan moral Kalau disiplin dibutuhkan dalam perkembangan, haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak.c. Perkembangan suara hati Istilah suara hati berarti suatu reaksi khawatir yang terkondisi terhadap situasi dan tindakan tertentu yang telah dilakukan dengan jalan menghubungkan perbuatan tertentu dengan

(11)

pertumbuhan yang pesat yang mengiringi bagian awal dari masa puber. Banyak anak prapuber yang sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk menjadi nakal.8 Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, mempunyai perananpenting dalam rangka pengembangan kata hati, moral dan nilai-nilai melaluiproses pembelajaran. Bimbingan merupakan salah satu tehnik untukmembantu siswa utamanya yang mengalami hambatan atau permasalahanyang berkaitan dengan pengembangan ini. Implementaasi perkembangan terhadap

penyelenggraaan pendidikanmasa kanak-kanak akhir atau anak SD guru mengarahkan anak didikanyauntuk melakukan kebaikan dan selalu menanamkan kejujuran karena padatahap perkembangan ini anak SD sudah mengetahui peraturan dan tuntutandari orang tua atau lingkungan sosial, disamping itu anak telah dapatmengasosiasikan perbuatannya dengan lingkungan di sekiranya. Misalnyaperbuatan nakal, jujur, adil serta sikap hormat baik terhadap orang tua, gurudan lingkuangan sekitamya.98 Yuridika Tahja, Psikologi Perkembanga..., hlm. 211-2129 http://pulungdwiwardani.wordpress.com

7. D. Perkembangan Agama Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah SWT, adalah dia dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya. Dalam kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama), karena memiliki fitrah ini kemudian manusia dijuluki sebagai “Homo Devinans”, dan “Homo Religious”, yaitu makhluk yang bertaruh atau beragama.10 Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaanya di tandai dengan ciri-ciri sebagai berikut : 1. Sikap keagamaan bersifa reseptif disertai dengan pengertian. 2. Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah logika yang berpedoman pada indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungannya. 3. Penghayatan secara rohaniyah semakin

(12)

8. BAB II PenutupA. Kesimpulan Akhir masa kanak-kanak berlangsung dari enam tahun sampai anak mencapai kematangan seksual, yaitu sekitar 13 tahun bagi anak perempuan dan 14 tahun bagi anak laki-laki oleh orangtua disebut masa menyulitkan. Oloeh para pendidik disebut usia “sekolah dasar” dan oleh ahli psikologi disebut “usia kelompok” atau “usia kreatif”. Masa ini disebut “usia kelompok” karena anak berminat akan kegiatan dengan teman-teman dan ingin menjadi bagian dari kelompok yang mengharapkan anak untuk menyesuaikan diri dengan pola perilaku. Pada masa ini sebgaian anak mengembangkan kode moral yang dipengaruhi oleh standar moral kelompoknya dan hati nurani yang membimbingnya sebagai pengganti pengawasan dari luar yang pada waktu anak masih kecil, sekalipun demikian pelanggaran rumah di sekolah dan di lingkungan.B. Saran Masa kanak- kanak merupakan periode yang dinamis secara psikologis bagi perkembanganny. Anak–anak mempunyai kemampuan untuk meniru perilaku orang dewasa dan agama beserta lembaga- lembaganya seyogyanya menyediakan model- model cara hidup dan perilaku yang anak dapat menirunya. Tetapi tanggung jawab lembaga tidak terbatas disitu, Pengalaman anak lebih penting dan bertahan lama terjadi pada tingkat yang mendalam dan personal. Seharsnya lembaga tersebut menyediakan model dalam menyampaikan bahan informasi sesuai dengan tingkat dan daya tangkap anak.

9. Daftar PustakaAnonim. (2010). “Perkembangan anak terhadap penyelanggaraan pendidikan”. Diakses dari website http://dianzansori.wordpress.comAnonim. (2012). “Perkembangan Peserta Didik”. Diakses dari website

http://pulungdwiwardani.wordpress.comHartati, Netty. Dkk. (2004). Islam dan Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo PersadaMakmun, Abin Syamsudin. (1997). Psikologi Kependidikan, dalam Syamsu Yusuf. (2001). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja RosdakaryaTahja, Yuridika. (2011). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Pernada Media GroupWahid, Abdul. (2008). Isu –Isu Kontemporer Pendidikan Islam. Semarang: Need’s PressYusuf, Syamsu. (2011). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

(13)

1. PENDIDIKAN AGAMA DALAM PENGEMBANGAN MORAL ANAK _Wahab Sultan _13110160 1

2. METODE PENANAMAN NILAI MORAL UNTUK ANAK USIA DINI  Usia dini merupakan masa keemasan (golden age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Masa ini sekaligus merupakan masa yang kritis dalam perkembangan anak. Jika pada masa ini anak kurang mendapat perhatian dalam hal pendidikan, perawatan, pengasuhan dan layanan kesehatan serta kebutuhan gizinya dikhawatirkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. 2

3.  Adapun pengertian moral menurut K. Prent (Soenarjati, 1989: 25) berasal dari bahasa latin mores, dari suku kata mos yang artinya adat istiadat, kelakuan, watak, tabiat, akhlak. Dalam perkembangannya moral diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik, yang susila. Dari pengertian tersebut dinyatakan bahwa moral adalah berkenaan dengan kesusilaan. 3

4.  Dalam pelaksanaan penanaman nilai moral pada anak usia dini banyak metode yang dapat digunakan oleh guru atau pendidik. Metode dalam penanaman nilai moral kepada anak usia dini sangatlah bervariasi, diantaranya bercerita, bernyanyi, bermain, bersajak dan karya wisata. Masing-masing metode mempunyai kelemahan dan kelebihan. Penggunaan salah satu metode penanaman nilai moral yang dipilih tentunya disesuaikan dengan kondisi sekolah atau kemampuan seorang guru dalam menerapkannya. 4

5.  Jurnal Mukhamad Murdiono  Universitas Negeri Yogyakarta 5

6. PENDIDIKAN AGAMA DALAM PERSPEKTIF PENGEMBANGAN NILAI MORAL ANAK  Dari segi etimologi, moral berasal dari kata mores (latin) yang berarti dapat kebiasaan atau cara hidup, sedangkan nilai dari kata value yang berarti harga. Nilai inilah yang dikatakan

Newcomb (1985) sebagai suatu keyakinan yang mendorong seseorang untuk bertindak atas dasar pilihannya. Moral Thought adalah bagaimana remaja berpikir tentang standar benar dan salah. Piaget mengatakan bahwa anak berpikir dengan dua cara yang berkaitan dengan moral, tergantung pada kematangan perkembangannya. 6

(14)

setiap mata pelajaran seharusnya ada pesan nilai dan moral tersebut untuk kemudian dihayati dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. 7

8.  Islam selalu mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan menuntut ilmu pengetahuan, agar dengan demikian mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, dapat menyelami hakekat alam. Islam mewajibkan kepada umatnya untuk

melaksanakan pendidikan. Karena menurut ajaran Islam, pendidikan adalah juga merupakan kebutuhan hidup manusia yang mutlak harus dipenuhi untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. 8

9.  Namun pendidikan agama yang diajarkan di sekolah hendaknya tidak hanya berupa pemberian pengetahuan agama. Akan tetapi lebih luas daripada itu yaitu menggugah perasaan/emosi anak, sehingga nilai-nilai agama akan lebih tertanam dan dihayati oleh anak didik.  Suliswiyadi  Mahasiswa Pascasarjana Program Doktoral  Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 9

10. KURIKULUM PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER  Pada saat ini yang diperlukan sekarang adalah kurikulum pendidikan yang berkarakter; dalam arti kurikulum itu sendiri memiliki karakter, dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter peserta

didik.Perbaikan kurikulum merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri (inherent), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat dan kebutuhan peserta didik. 10

11.  Pendidikan karakter bukan merupakan hal yang baru sekarang.penanamannilai-nilai sebagai sebuah karakteristik seseorang sudah berlangsung sejak dahulu kala.  Penanaman nilai-nilai tersebut dimasukkan (embeded) ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dengan maksud agar dapat tercapai sebuah karakter yang selama ini semakin memudar. Setiap mata palajaran mempunyai nilai- nilai tersendiri yang akan ditanamkan dalam diri anak didik. Hal ini disebabkan oleh adanya keutamaan fokus dari tiap mapel yang tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. 11

(15)

keutamaan fokus dari tiap mapel yang tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.  Dikutip dari jurnal “Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI 12

Referensi

Dokumen terkait

Simbol/ Logo pada barang adalah tanda pengenal barang berupa penggabungan gambar, angka, dan huruf/ logo dengan maksud agar mudah diketahui keberadaan BMN tersebut. Semua barang

Pada kurun waktu pemeliharaan 110 hari, gonad ikan mas jantan tetraploid terlihat mengalami perkembangan dengan ukuran yang relatif sama seperti pada ikan mas diploid atau normal

Museum geologi merupakan tempat dari hasil peninggalan-peninggalan pada zaman dulu yang baik sebagai tempat ilmu pengetahuan terutama dalam bidang pendidikan yang dilakukan

Enterprise Architectural (EA) adalah cetak biru organisasi yang mencakup proses bisnis, data, aplikasi, dan infrastruktur IT yang didesain secara terpadu untuk memudahkan

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survey dengan pendekatan “Cross Sectional Study” untuk mangetahui hubungan siaran televisi dan status gizi

Jurnal Penerimaan Tunai Tarikh Butir Folio Tunai (Debit) Bank Diskaun

Offshore Fabrication Power Plant Fabrication R&D Center Ship Repair Design Center ShipBuilding RESEARCH INSTITUTION TRANSPORTATION INDUSTRIES NATIONAL INDUSTRIES

Tujuan penelitian ini adalah Menemukan fitur-fitur farmakofor senyawa-senyawa agonis yang bertanggung jawab atas aktivitas dan selektivitas agonis reseptor σ2 dan