• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI KARYAWATI KEMENTERIAN AGAMA KAB (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERSEPSI KARYAWATI KEMENTERIAN AGAMA KAB (1)"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

PERSEPSI KARYAWATI KEMENTERIAN AGAMA

KABUPATEN KULON PROGO TERHADAP SISTEM

PEMBAGIAN HARTA WARIS 2 : 1 DALAM HUKUM

KEWARISAN ISLAM

KASIH ARI HIDAYATI

Alumni Ahwal Al-Syakhsiyyah FAI UCY Staf Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo

NURJIDIN Dosen FAI UCY

abstract

This study investigated the perceptions of Muslimah employee of the Ministry of Religious Affairs,Kulon Progo District, on the division of inheritance by the formula 2: 1 in the Islamic Law of Inheritance. In-depth interviews addressed to all population were used to get the data needed supported by observation and documentation. The data then processed using normative, sociological and psychological approaches. In conclusion, interestingly, majority of the population disagree and indeed consider the formula unfair and reject it. The study then suggests employee to get informed and to deeper their knowledge into the science of Islamic law of inheritance. The office also to be suggested to enhances the activity of dissemination and enforcement of Islamic law.

Keywords : perceptions, Muslimah employee, the Islamic Inheritance law

A. Pendahuluan

Pembagian harta warisan seringkali menimbulkan konflik antara sanak saudara dan keluarga yang kemudian berujung pada sengketa di pengadilan.1 Persengketaan waris bisa terjadi karena ada pihak yg berniat

kurang baik, atau ketidakmengertiannya dalam membagi harta warisan secara adil menurut hukum waris Islam. Soal ini sebenarnya tidah hanya masyarakat umum yang belum memahami, di kalangan para sarjana dan praktisi hukum pun masih bervariasi tingkat pengetahuannya.

Perbedaan bagian warisan antara laki-laki dan perempuan di dalam Hukum Waris Islam adalah 2:1 dimana bagian hak waris wanita lebih sedikit jika dibandingkan dengan laki-laki menjadi sorotan utama dalam kajian warisan secara Islam. Pembagian warisan ini berbeda dengan ketentuan dalam hukum perdata maupun hukum adat.

(2)

kewajiban yang sama antara laki-laki dan perempuan.2 Dalam nada yang

sama Zaitunah Subhan3, menyatakan bahwa perbandingan 2 : 1 dalam

hukum kewarisan Islam masih perlu disesuaikan dengan perkembangan jaman, upaya mewujudkan kemitrasejajaran laki-laki dan perempuan harus ditinjau dari berbagai aspek tidak hanya terjebak dalam penafsiran yang bersifat klasik.

Qashir menentang pendapat para aktifis gender yang menyetarakan pembagian waris Islam. Setelah membahas hukum waris dari sejarah turunya hukum waris, hak waris perempuan dalam Islam, sebab perbedaan bagian waris laki-laki dan perempuan, serta membandingkan dengan hukum waris di budaya Barat, maka disimpulkan bahwa perbandingan 2 : 1 dalam hukum kewarisan Islam adalah telah sempurna dan kesetaraan dalam budaya barat adalah semu dan tidak sesuai fitah manusia.

Salah satu pandangan yang memposisikan kewarisan dalam wajah yang aman adalah dari Abdul Jamil. Ia menegaskan bahwa perbandingan 2:1 dalam hukum waris lebih utama diterapkan namun ada kemungkinan berbanding 1 : 1 dengan kaidah maqashid al-tasyri.4

Respon masyarakat pun berbeda-beda terhadap perbandingan warisan. Maulana Hamzah5 telah meneliti dengan reponden dari aktivis

gender Indonesia. Kesimpulannya, sistem pembagian waris yang diatur dalam al- Qur’an diakui sudah sesuai dengan fitrah manusia. Namun yang harus dicermati dan lebih difokuskan adalah perhatian terhadap pengelolaan harta waris itu sendiri, jangan sampai menjadi sia-sia begitu saja. Dan terhadap perbedaan pendapat harus dijadikan sebagai sebuah rahmat bukan laknat, sehingga kita dapat terus berkarya dan melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bermanfaat. Penelitian lain dilakukan tidak terbatas pada minat dan profesi tertentu tetapi dibatasi berdasarkan domisili warga perempuan muslimah, yaitu Rt.04/05 Kelurahan Bojongkulur Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor. Penelitinya adalah Eli Nurmalia. Ia tidak bisa memastikan bahwa hukum waris Islam telah dipahami oleh para muslimah di RT tersebut. 6

Penelitian tentang persepsi wanita khususnya muslimah masih layak untuk ditindaklanjuti karena fenomena perempuan bekerja membantu suami mencari penghasilan tambahan telah umum di masyarakat Indonesia. Seorang isteri bahkan tidak jarang menjadi tulang punggung keluarga.7 Kondisi demikian tentu membuat persepsi yang

(3)

masyarakat bahwa pekerja Muslim dan muslimah di situ merupakan orang yang lebih mengerti tentang hukum Islam termasuk permasalahan komposisi pembagian harta waris.

B. Metode Penelitian

Karena jumlah muslimah yang bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo kurang dari dua puluh orang, maka wawancara mendalam secara keseluruhan menjadi instrumen utama selain observasi dan dokumentasi. Data data yang diperoleh kemudian kemudian diolah dengan menggunakan pendekatan normative, sosiologis dan psikologis.

Pendekatan normatif dalam studi Islam yang memandang masalah dari sudut legal-formal atau normatifnya.8 Legal-formal Islam

berhubungan dengan putusan halal dan haram, boleh atau tidak dan sejenisnya didasarkan kepada seluruh ajaran yang terkandung dalam nash.

Sosiologi menjadi salah satu alat penting dalam memahami ajaran agama.9 Sosiologi adalah ilmu yang menggambarkan tentang keadaan

masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan. Kajiannya difokuskan kepada keagamaan seseorang pada suatu masyarakat. Pendekatan ilmu sosial itu kemudian digunakan untuk memahami keberagamaan seseorang dalam suatu masyarakat.10

Pendekatan secara Psikologi Islam berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia dalam membentuk kualitas diri yang lebih sempurna secara sadar. Dengan cara itu diharapakan kebahagiaan hidup didunia dan di akherat terlimpah dalam kehidupannya. Psikologi Islam didasarkan atas sumber otentik yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. 11

C. Hasil

Setelah penyusun melakukan penelitian dengan teknik wawancara kepada semua responden, diperoleh data hasil wawancara sebagai berikut. 1. Pengetahuan tentang Hukum Waris dalam Islam

Sebagian responden tidak memahami secara rinci tentang hukum waris, tetapi hanya tahu bahwa dalam Islam terdapat hukum waris. Responden tidak mengetahui dasar-dasar dalam hukum Islam tentang kewarisan, serta tidak mengetahui bagian-bagian dalam harta waris maupun siapa saja yang termasuk ahli waris dalam Islam. Mereka hanya tahu bahwa dalam Islam mengatur tentang masalah waris.

(4)

Responden semuanya mengetahui aturan dalam hukum Islam tentang perbandingan 2:1 antara bagian harta waris laki-laki dan perempuan. Hal ini karena responden mayoritas adalah orang Jawa, dimana dalam masyarakat Jawa sudah dikenal hukum waris laki-laki dengan perempuan dengan perbandingan juga 2:1 yang dikenal dengan istilah “sepikul segendhongan

Pendapat responden terhadap hukum kewarisan dalam Islam dimana bagian anak laki-laki dengan bagian anak perempuan 2 : 1 adalah bervariasi adalah 6 responden (35,3%) setuju dan 11 responden (64,7%) tidak setuju.

Alasan yang setuju dengan hukum kewarisan dalam Islam dimana bagian anak laki-laki dengan bagian anak perempuan adalah 2 : 1 adalah karena :

a. Tanggung jawab laki-laki lebih besar dari perempuan b. Merupakan syariat Islam yang harus ditaati dan diimani c. Perempuan tidak wajib mencari nafkah dan ikut kepada suami

d. Perempuan akan mendapat harta dari laki-laki yang menjadi suaminya Sedangkan alasan yang tidak setuju dengan hukum kewarisan dalam Islam dimana bagian anak laki-laki dengan bagian anak perempuan adalah 2 : 1 adalah karena :

a. Laki-laki dan perempuan adalah sederajat yang kedudukannya adalah sama

b. Akan lebih adil bila sama rata 1 : 1

c. Tanggung jawab anak baik laki-laki maupun perempuan terhadap orang tua adalah sama

d. Kemampuan laki-laki dan perempuan adalah setara, terbukti banyak perempuan yang bekerja dan kemampuannya melebihi laki-laki.

3. Keterlibatan dalam Praktek Hukum Waris

Hanya dua responden yang pernah secara langsung terlibat dalam pembagian harta waris dan yang digunakan adalah keputusan orang tua dan belum sepenuhnya menerapkan hukum waris Islam. Satu responden pernah terlibat dalam hukum Islam tetapi dengan ahli waris 1 orang laki-laki, sehingga tidak mempunyai pengalaman dalam membagi harta waris kepada banyak ahli waris. Sedangkan sebagian besar responden (88,2%) belum pernah terlibat dalam pembagian harta waris. Hal ini disebabkan mayoritas responden usianya masih relatif muda dan kedua orang tua maupun mertua mereka masih hidup, sehingga belum mengalami ada keluarga yang meninggal dan membagi warisan.

(5)

Ada 4 responden (23,5%) yang secara tegas menyatakan bahwa hukum waris Islam masih relevan dengan perkembangan jaman, karena : a. Hukum Islam bersifat abadi sampai hari kiamat sudah sesuai dengan

perkembangan jaman.

b. Islam bersifat universal sehingga hukum Islam di tempat yang satu akan maslahat bila diterapkan di tempat yang lain di seluruh dunia. c. Hukum Islam berasal dari Allah Ta’ala sehingga harus yakin bila penuh

kemaslahatan sampai akhir jaman, karena Islam adalah agama yang sempurna.

Selebihnya (76,5%) responden menyatakan perlunya penerapan hukum waris harus dengan pertimbangan perkembangan jaman, kompleks tidaknya permasalahan serta untuk mencegah percekcokan dalam kelurga terutama sesama ahli waris.

5. Sikap pro dan kontra terhadap pembagian harta waris 2 : 1 dalam Hukum Kewarisan Islam

Hanya 3 responden (17,65%) yang secara tegas menjawab setuju dengan perbandingan 2 : 1 dan agar kembali ke hukum Islam. Selebihnya berpendapat agar dimusyawarahkan dengan keluarga, ada juga yang menyatakan perlu ada perubahan ketentuan bagian ahli waris dan bahkan ada yang secara tegas menolak perbandingan 2 : 1 dalam hukum kewarisan Islam.

Dari uraian di atas dapat dirangkum pendapat responden dalam tabel berikut.

Tabel I Rangkuman Pendapat Karyawati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo

(6)

waris hukum waris

Pembahasan persepsi Persepsi Karyawati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo dalam Hukum Kewarisan Islam dapat ditinjau dari tiga aspek pendekatan yaitu secara normatif, sosiologis dan psikologis.

1. Pemahaman tentang Hukum Waris a. Secara Normatif

Pemahaman tentang hukum waris dalam Islam di kalangan karyawati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo sangat minim, terbatas pada garis besarnya saja, yaitu perbandingan 2:1 tetapi secara rinci tidak mengetahui, apalagi dalil-dalil dalam Al Qur’an dan hadits. Namun sebagian dari mereka mengetahui bahwa hukum waris adalah sudah ditetapkan melaui Al Qur’an dan Hadits.

b. Secara Sosiologis

(7)

sehari-hari juga jarang berinteraksi dengan orang-orang yang ahli dalam hukum waris Islam.

Faktor lain dari pemahaman tersebut adalah secara tidak langsung terpengaruh oleh isu-isu dari pembenci Islam yang menyatakan Islam tidak adil, menzalimi perempuan dengan memberikan warisan separuh dari laki-laki, dengan mengangkat propaganda hak azasi dan isu gender.12

c. Secara Psikologis

Responden yang berlatar pendidikan agama justru berada di seksi yang sehari-hari bertugas dalam bidang yang jauh dari masalah waris sehingga tidak mendalami lagi ilmu tentang waris . Ilmu tentang waris Islam yang didapat di bangku sekolah atau kuliah seolah terlupakan. Umur mereka rata-rata masing muda, ibu bapak mereka masih hidup, sehingga belum mengalami langsung tentang pembagian harta waris.

Hal ini menjadi bukti bahwa benarlah sabda Rasulullah SAW bahwa di akhir jaman ada ilmu yang akan hilang terlebih dahulu dibandingkan ilmu yang lain, yaitu ilmu waris . Sesuai hadiś riwayat Ibnu Majah:13

ﻰَﺴْﻨُـﻳ ُﻪﱠﻧِإَو ِﻢْﻠِﻌﻟا ُﻒْﺼِﻧ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ﺎَﻫْﻮُﻤﱢﻠَﻋَو َﺾِﺋاَﺮَﻔﻟا اﻮُﻤﱠﻠَﻌَـﺗ َةَﺮْـﻳَﺮُﻫ ﺎَﺑَأ ﺎَﻳ :ِﷲا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ

ُلﱠوَأ َﻮُﻫَو

ﺎَﻣ ءﻲﺷ

ِﱵﱠﻣُأ ْﻦِﻣ ُعَﺰْـﻨُـﻳ

Juga hadis Nabi :

ُﺮْﻣا ﱢﱐِﺈَﻓ َسﺎﱠﻨﻟا ُﻩﻮُﻤﱢﻠَﻋَو َﺾِﺋاَﺮَﻔﻟا اﻮُﻤﱠﻠَﻌَـﺗَو َسﺎﱠﻨﻟا ُﻩﻮُﻤﱢﻠَﻋَو َنآْﺮُﻘﻟا اﻮُﻤﱠﻠَﻌَـﺗ ِﷲا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ

ٌضْﻮُـﺒْﻘَﻣ ٌؤ

ﺎَﻨْـﺛِﻻا َﻒِﻠَﺘَْﳜ ﱠﱴَﺣ َُﱳِﻔﻟا ُﺮَﻬْﻈَﺗَو ُﺾَﺒْﻘُـﻴَﺳ َﻢْﻠِﻌﻟا ﱠنِإَو

َﻪِﺑ ﻲِﻀْﻘَـﻳ ْﻦَﻣ ِناَﺪَِﳚ َﻻ ِﺔَﻀْﻳِﺮَﻔﻟا ِﰲ ِن

ا

Hadis tersebut juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan kepada umat Islam untuk mempelajari dan mengajarkan ilmu faraiḍ, agar tidak terjadi perselisihan-perselisihan dalam pembagian harta peninggalan, disebabkan ketiadaan ulama faraiḍ. Mempelajari ilmu faraiḍ penuh keutamaan, karena :14

1) Merupakan syariat yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur’an dan melalui Sunnah Nabi Muhammad SAW

2) Untuk mengetahui hubungan kekerabatan antara muslim satu dengan lainnya karena harta mayit tidak akan diwariskan kecuali kepada orang-orang yang bertalian darah dengannya.

3) Merupakan ilmu yang akan dihadapi oleh setiap muslim karena berkaitan dengan hak dan kewajiban terhadap orang yang meninggal 4) Dengan mempelajari ilmu faraiḍ, talaq dan haji akan tampak

(8)

Sebagian kecil responden telah memahami makna dalil-dalil yang ada seperti pada QS. al- Nisa/4 :11 dijelaskan bahwa bagian seorang anak laki-laki sama dengan dua bagian anak perempuan. Secara sepintas dapat dikatakan bahwa ayat tersebut bias gender karena yang diinginkan (adil) adalah 1:1. Namun, banyak ulama menyatakan bahwa justru 2:1 itulah yang sarat dengan nilai-nilai keadilan. Dengan alasan bahwa laki-laki mendapat dua bagian dari perempuan karena kewajibannya dari hal materi juga melebihi dari perempuan.

Al Qur’an Surat An Nisa’ ayat 7 juga telah menegaskan adanya hak laki-laki dan perempuan dalam harta waris dan sangat jelas adanya jaminan hak bagi perempuan yang dapat dilihat dari dua sisi :15

1) Penegasan bahwa perempuan mendapat warisan tidak seperti jaman jahiliyah yang menjadikan perempuan sebagai harta waris.

2) Penegasan bagian perempuan telah ditetapkan dan penuh kemaslahatan. Hal ini dalam ayat “ menurut bagian yang ditetapkan “. Islam telah menjunjung tinggi perempuan dengan hak yang jelas dalam harta waris.

(9)

Bila kenyataan tanggung jawab laki-laki melebihi tanggung jawab perempuan dapat diterima, maka tidak ada pula dasarnya untuk menolak kenyataan jumlah hak yang diterima oleh laki-laki melebihi jumlah hak yang diterima oleh perempuan dalam hal waris.

Perbedaan bagian harta waris antara laki-laki dan perempuan sudah sesuai dengan keadilan universal, sebab keadilan tidak identik dengan kesamaan mutlak, tetapi keadilan juga mencakup perbedaan alami yang mesti ada dan terjadi. Maka perbedaan bagian harta waris antara laki-laki dan perempuan adalah perbedaan alami (kodrati) 17

Ayat-ayat al- Qur’an tentang waris yang bersifat qath’i tidak dapat diabaikan walaupun dengan dalih kemaslahatan, karena di mana ada teks yang bersifat qath’i disana pula terdapat kemaslahatan.

b. Secara Sosiologis

Persepsi karyawati Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo lebih banyak yang menolak Sistem Pembagian Harta Waris 2 : 1 dalam Hukum Kewarisan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang hukum waris relatif masih lemah. Penolakan ini lebih menitik beratkan kepada masalah-masalah duniawi seperti tidak adil, tanggung jawab anak terhadap orang tua adalah sama, atau pun karena merasa setara dengan laki-laki karena responden adalah bersetatus PNS.

Penyebab lain menolak hukum waris Islam adalah:18

1) Sebagian besar kaum muslimin tidak mempelajari ilmu waris dan tidak tahu ilmunya

2) Ketakutan akan mendapat sedikit atau kecil bahkan tidak kebagian 3) Menganggap ilmu faraiḍ adalah ilmu yang sulit dipelajari dan

dilaksanakan

4) Menganggap hukum Islam tidak adil c. Secara Psikologis

Secara pengalaman pribadi tentang masalah waris masih sedikit sehingga belum merasakan hikmah perbandingan 2 : 1 dalam hukum kewarisan Islam. Sebagain besar responden adalah bekerja sebagai PNS sehingga merasa sejajar dengan kaum laki-laki, mampu bekerja dan berpenghasilan seperti laki-laki sehingga tidak rela dengan perbandingan waris 2 : 1.

(10)

Karyawati Kementerian agama sebagai muslimah seharusnya bersyukur dengan adanya bagian waris dalam Islam, mengingat pada jaman jahiliyah jangankan mendapat hak waris, tetapi justru menjadi salah satu harta waris. Islam juga menghargai martabat perempuan sesuai dengan fitrahnya sehingga tidak dibebani tanggung jawab seperti laki-laki sehingga berbeda dalam hak waris.

3. Solusi Dalam Menghadapi Sikap Pro Dan Kontra Terhadap Sistem Pembagian Waris 2 : 1

Sikap mendukung (pro) dan menolak (kontra) terhadap penetapan sistem waris ini memang bukan hal yang baru terjadi, melainkan perdebatan yang sudah terjadi sejak lama, maka dari itu pula banyak ulama yang menawarkan berbagai solusi dalam menghadapi permasalahan ini, diantaranya adalah:

a. Karena harta warisan sering disebut sebagai harta yang rawan, maka harus diselesaikan dengan mengedepankan sikap kekeluargaan dan menjunjung asas keadilan berimbang.

b. Dalam mengedepankan prinsip keadilan dan kekeluargaan itu tidak perlu menentang apa yang digariskan oleh al- Qur’an.

c. Sedangkan dalam memahami apa yang tertera dalam al- Qur’an itu kita harus terlebih dahulu mencari dan memahami asbabun nuzul ayat tersebut, walaupun tidak semua ayat ada asbabun nuzulnya. Agar kita dapat mengerti apa sebenarnya maslahat syariat Islam yang terkandung di dalamnya.

Kaum muslimah harus lapang dada menerima ketentuan hukum waris Islam, karena berhukum dengan hukum Allah Ta’ala dan RasulNya merupakan bukti keimanan. Berhukum dengan Hukum Al Qur’an dan Sunnah merupakan tingkat Islam, hilangnya rasa berat dalam menerima hukum itu adalah tingkat Iman dan pasrah dalam hukum itu adalah tingkat Ihsan. Bila ketiganya ada di setiap muslimah berarti sudah beriman.

Allah telah menetapkan sesuatu maka semua harus tunduk. Hamba-Nya tidak berhak menyelisihinya dan tidak boleh menentukan hukum lain apalagi menurut hawa nafsunya. Sebuah ketentuan yang

(11)

mempunyai hikmah yang mana Allah Ta’ala dengan sifat tersebut mempunyai konsekuensi bahwa perbuatan-Nya pasti mengandung hikmah yang dalam.

E. Penutup 1. Kesimpulan

Persepsi karyawati Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo terhadap ketentuan hukum waris Islam yaitu perbandingan 2 :1 dalam warisan laki-laki dan perempuan, sebagian besar tidak setuju dan menganggap tidak adil serta menolaknya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang hukum waris, belum mengetahui hikmah disyariatkannya ketentuan waris serta belum memahami betapa dalam waris Islam sudah mengangkat derajat perempuan dari masa jahiliyah ke masa Islam. Sebab lain adalah sebagai karyawati merasa sejajar dengan karyawan sehingga merasa mempunyai tanggung jawab dan hak yang sama dengan laki-laki.

Persepsi tersebut tidak tepat karena bertentangan dengan fitrah manusia dimana laki-laki adalah yang berkewajiban mencari nafkah dan tanggung jawanya lebih berat. Islam tidak membebankan tanggung jawab material keluarga kepada perempuan kecuali dalam keadaan yang khusus sekali. Namun Islam tidak menghalangi perempuan untuk bekerja, karena adanya hak yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam hal bekerja, demikian pula adanya hak yang sama dalam menikmati hasil usahanya sesuai dengan usaha masing-masing. Secara sosiologis persepsi responden dipengaruhi oleh sosial budaya dan perkembangan di dalam masyarakat umum yang banyak berpendapat perbandingan hukum waris 2 : 1 adalah tidak adil. Secara psikologis sebagian besar menolak perbandingan hukum waris 2 : 1 adalah karena mereka merasa sejajar dengan laki-laki, mampu bekerja berpenghasilan seperti laki-laki dan merasa mempunyai tanggung jawab yang sama dengan laki-laki dalam hal berbakti terhadap orang tua.

Solusi dari pendapat responden yang mempunyai persepsi tidak tepat tersebut adalah dengan mempelajari lebih dalam tentang hikmah hukum waris, sejarah hukum waris, dan meningkatkan pemahaman Firman Allah adalah qath’i dan penuh maslahat. Kaum muslimah harus lapang dada menerima ketentuan hukum waris Islam, karena berhukum dengan hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan bukti keimanan. Prinsip keadilan dan kekeluargaan tidak perlu menentang apa yang digariskan dalam Qur’an yang sudah disepakati ketentuannya menjadi landasan utama dalam menerapkan hukum waris Islam

(12)

a. Karyawati Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo agar lebih mendalami ilmu hukum waris Islam baik dalam pembagian, hikmah maupun maslahatnya.

b. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo agar memberikan pencerahan dengan mengadakan sosialisasi maupun penyuluhan tentang hukum waris Islam kepada umat Islam, khususnya kepada karyawan dan karyawati yang ada.

c. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kulon Progo selaku pemerintah harus terus aktif berperan dalam menegakkan hukum waris Islam serta mampu membantu memecahkan setiap permasalahan dalam hukum waris Islam

Catatan Akhir

1http://statushukum.com/hukum-waris.html, 8 Oktober 2013.

2 Nurun Najwah dkk. Dilema Perempuan dalam Lintas Agama dan Budaya. (Yogyakarta : PSW UIN Sunan Kalijaga, 2005), h. 102-116

3Zaitunah Subhan. Studi Bias gender dalam Qur’an (Yogyakarta : LKIS Yogyakarta, 1999), h. 180-182

4 Abdul Djamil, MA. Bias Jender dalam Pemahaman Islam (Yogyakarta : Gama Media, 2002), h. 179-188

5Maulana Hamzah. Persepsi Aktivis Gender Indonesia terhadap Sistem

Pembagian Harta Waris 2:1 dalam Hukum Kewarisan Islam”. Skripsi Konsentrasi peradilan agama program studi ahwal syakhsiyyah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (Jakarta 1431 H/2010 M)

6Eli Nurmalia.“Respons Perempuan terhadap Sistem Pembagiam Waris 2:1 dalam Hukum Kewarisan Islam” . (Studi di Rt.04/05 Kelurahan Bojongkulur Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor). Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, 2008.

7 http://www.scribd.com/doc/24578504/Hukum-Waris-Islam-Di-Indonesia, 13 Maret 2012

8 Khoiruddin Nasution., Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: Academia dan Tazzafa, 2009), h 197

9 Abuddin Nata, Metodelogi Studi Islam ( Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2002), h. 39

10 http://wardahcheche.blogspot.com.pendekatan-dalam-studi-islam.html : April 2014

11 http://www. Psikologi-islai-pengertian dan latarbelakang : 14 Juli 2014

12 Hafidz Al Musthofa, “Benarkah Islam Menzhalimi Wanita?” Majalah Al

Furqon Edisi 12158 tahun 14, h. 49 13 Sabiq. Fikih, h. 237-238

14 Abu Zakaria Riski,”Keutamaan Ilmu Waris.” Majalah Bisnis Muslim edisi

01/1433/2012, h. 25

15 Ahmad Sabiq, “Perbedaan Warisan Laki-laki dengan Wanita,” Majalah Al

Mawaddah Edisi Sya’ban Ramadhan 1432 H, h. 12 - 13

16 QS At Thaalaq : 6

17 W. Fredman. Teori Dan Filsafat Hukum, (Jakarta : Rajawali Press, 1990) h 65 18 Wina Tresna, “Sama Rata bukan Berarti Adil” Aulia Edisi 10 tahun X 1434 H 19 QS. Al Ahzab (33) : 36

Daftar Pustaka Kelompok Al Quran

(13)

Kelompok Hadits dan Sunnah

Ibnu Hajar Al-Asqalani. Bulughul Maram. Jakarta Timur: Ak Barmedia, 2007.

Muhammad Nasirudin Al Albani. Shahih Sunan Ibnu Majah. Jakarta Selatan: Pustaka Azzam, 2007.

Mutiara Hadits Bukhari dan Muslim (Al –Lu’lu’ wal Marjan). Salim Bahreisy. Surabaya : Bina Ilmu, 2005.

Kelompok Buku

Abdul Wahab, Abdurrahman Shaleh, Muhbib. Psikologi Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam, Jakarta: Kencana, 2004.

Abdurrahman. Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo, 2004.

Aldisar, Addys dan Fathurrahman. Hukum Waris. Jakarta Selatan : Senayan Abadi Publishing, 2004.

Arikunto, Suharsimi. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2000. Budi, Setia. Tinjauan Pustaka: Pengertian Persepsi, Artikel diakses pada

tanggal 13 April 2010

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002.

Fredman, W. Teori dan Filsafat hukum, Jakarta : Rajawali Press, 1990. Hamzah, Maulana. Persepsi Aktivis Gender Indonesia terhadap Sistem

Pembagian Harta Waris 2:1 dalam Hukum Kewarisan Islam”. Konsentrasi peradilan agama program studi ahwal syakhsiyyah

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010. Hasan, M. Ali. Hukum Warisan Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang,

1996

Khalafi, Abdul ‘Azhim bin Badawi. Al-Wajiz. Ensiklopedi Fiqih Islam. Jakarta: Pustaka As Sunnah, 2008.

Komite Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar Mesir. Hukum Waris,

Penerjemah Addys Aldizar dan Fathurrahman, Jakarta: Senayan Abadi Publishing, 2004

Laporan Penelitian: Studi Tentang Masalah Gender Dari Sudut Pandang Agama Islam, Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Bekerja Sama Dengan Pusat Studi Wanita IAIN ALAUDDIN Makassar, Makassar: 2001

Malibariy, Syaikh Zainudin bin Abdul Azis. Terjemah Fathul Mu’in.

Bandung : Husaini, 2003.

Moleong, Lexy. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Rcnoja Rosda Karya, 2000.

Musa, Kamil. Anak Perempuan dalam Pandangan Islam, Jakarta: CV. Firdaus, 1994.

(14)

Bojongkulur Kecamatan Gunung Putri Kabupaten Bogor). Fakultas Syariah dan Hukum, 2008.

Nurun Najwah dkk. Dilema Perempuan dalam Lintas Agama dan Budaya. Yogyakarta : PSW UIN Sunan Kalijaga, 2005.

PMA No 13 tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Kementerian Agama

Qashir, Fada Abdur Razak. Wanita Muslimah antara Syariat islam dan Budaya Barat Yogyakarta: Darussalam, 2004.

Rahayu, Iin Tri dan Ardani, Triastiadi Ardi. Observasi dan Wawancara? Malang: Bayumedia, 2004.

Sidiq, Ja’far. Formulasi Bagian Ahli Waris Laki-Laki dan Perempuan Kaitannya dengan Tanggung Jawab Ekonomi Keluarga. Jurusan Al Ahwal Asy Syakhsiyah Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2007.

Subhan, Zaitunah. 1999. Studi Bias gender dalam Qur’an .Yogyakarta : LKIS Yogyakarta

Summa, Muhammad Amin. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta: PT Raja Presindo, 1998.

Syabiq, Sayid. Fiqh Al-Sunnah, Beirut: Dar al-Fikr, 1986 Syarifuddin, Amir. Hukum Kewarisan Islam,

Thalib, Sajuti. Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2004.

Usman, Suparman dan Somawinata, Yusuf. Fiqh Mawaris:Hukum Kewarisan Islam, Jakarta:Gaya Media Pratama, 1997.

Walgito, Bimo. Psikologi Sosial; Suatu Pengantar, Edisi Revisi, Yogyakarta: Andi Offset, 2007.

Kelompok Majalah dan Web

Riski, Abu Zakaria. Keutamaan Ilmu Waris. Bisnis Muslim edisi 01/1433/2012

Sabiq, Ahmad. “Perbedaan Warisan Laki-laki dengan Wanita.” Al Mawaddah, Edisi Sya’ban Ramadhan 1432 H

Tresna, Wina. “Sama Rata bukan Berarti Adil. ” Aulia Edisi 10 tahun X 1434 H

https://firmanadiprasetyo.wordpress.com/2013/03/10/asas-asas-dalam-hukum-waris-islam : 3 oktober 2010

http://statushukum.com/hukum-waris.html : 8 oktober 2013

http://www.scribd.com/doc/24578504/Hukum-Waris-Islam-Di-Indonesia : 13 maret 2012

http://wardahcheche.blogspot.com.pendekatan-dalam-studi-islam.html : April 2014

Gambar

tabel berikut.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kebijakan kementerian agama dalam pelaksanaan peraturan akad

PEMBAGIAN HARTA WARISAN MENURUT HUKUM WARIS ISLAM KAITANNYA DENGAN PELAKSANAAN CATUR TERTIB BIDANG.. PERTANAHAN (STUDI KASUS DI PENGADILAN AGAMA

Perilaku para karyawan Kantor Kementerian Agama Kota Medan akan mampu membuat para calon jamaah haji mempercayai mereka... Persepsi Terhadap Kinerja ( Perceived

Pelaksanaan bimbingan agama dalam membentuk motivasi berprestasi pegawai Kementerian Agama Bogor ini sangatlahberpengaruh pentingkarena bimbingan agama ini memiliki

Dari sudut pandang Hukum Waris Islam, maka anak yang lahir dari perkawinan beda agama tidak mempunyai hak untuk mendapatkan harta waris apabila tidak seagama dengan

AKTUALISASI NILAI-NILAI KEADILAN DALAM PEMBAGIAN HARTA WARISAN SUKU USING BANYUWANGI DALAM PERSPEKTIF HUKUM WARIS ISLAM (Studi Kasus Masyarakat Suku Using di Desa Kemiren Kec.

Adapun beberapa permasalahan dalam penelitian ini diantaranya yaitu: Bagaimana pelaksanaan pembagian harta warisan (Sangkolan) terhadap ahli waris yang berbeda agama

Wawancara dengan Kepala kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas pada 27 Mei 2016... agama yang dianut oleh ASN, serta menolak suap, gratifikasi dan korupsi; b)