• Tidak ada hasil yang ditemukan

Infleksi dan Derivasi Verba menjadi Nomi (2)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Infleksi dan Derivasi Verba menjadi Nomi (2)"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Infleksi dan Derivasi Verba menjadi Nomina dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia

Oleh Nurul Aini 16760251033

Linguistik Terapan (Kelas A) Abstract

This article discuss about study of words in the scope morphology they are derivational and inflectional in Indonesian and English. Derivational morphology is relevant with lexeme and word class change, it also provides the new lexeme while inflectional morphology deals with words formation and modification of word that based on the same lexeme. The result of this study are derivational morphology is relevant with lexeme. Derivational morphology changes verb to be nomina. In English derivational morphology can be added by suffix –er, -or, -ment, -ion and –ance while in Indonesian can be added by suffix –an, prefix pe- and –se. inflectional morphology is only grammatical need. In English inflectional morphology can be added by suffix –s/es and –‘s for nomina, suffix –ing, -ed, and –en for verba and suffix –er for adjectiva while in Indonesian inflectional can be added by prefix me-, di-, ter-.

Key words: Morphology, derivational, and inflectional

PENDAHULUAN Latar Belakang

Bahasa sebagai sistem bersifat sistematis dan sistemis. Bahasa bersifat sistematis berarti bahasa tersusun menurut suatu pola atau aturan tertentu. sedangkan bersifat sistemis berarti bahasa bukanlah merupakan sistem tunggal melainkan terdiri dari subsistem antara lain subsistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan subsistem semantik. (Abdul Chaer, 2007: 35). Masing-masing subsistem ini juga memiliki pola dalam pembentukannya karena jika dalam pembentukannya tanpa mengikuti kaidah maka subsistem ini tidak bisa berfungsi dan tidak memiliki makna.

Subsistem morfologi secara bersama-sama dengan subsistem sintaksis merupakan kajian linguistik yang terkait dengan tata bahasa atau gramatika. Kata merupakan satuan terbesar dalam subsistem morfologi sedangkan merupakan satuan terkecil dalam subsistem sintaksis. Kata merupakan satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal atau gabungan morfem, dapat diartikan juga satuan terkecil dalam sintaksis yang berasal dari leksem yang telah mengalami proses morfologis (Harimurti Kridalaksana, 2008:110).

(2)

dalam subsistem gramatika. Leksem merupakan satuan leksikal dasar yang abstrak yang mendasari pelbagai bentuk inflektif suatu kata (Harimurti Kridalaksana, 2008: 141).

Kata merupakan unsur segmental pembentuk kalimat. Tidak mungkin sebuah kalimat tanpa ada kata yang membentuknya. Kata dapat terdiri dari bentuk nomina, verbal, adjektifal, adverbial dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk kata tersebut dikenal sebagai kelas kata. Istilah kelas kata dapat disebut pula kategori kata atau jenis kata (Suhardi, 2013: 108). Dalam bahasa Inggris kelas kata disebut sebagai part of speech. Kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai subjek atau objek dari klausa disebut sebagai nomina. Nomina dalam bahasa Indonesia dapat ditandai dengan tidak dapat bergabung dengan kata tidak, misal rumah adalah nomina namun tidak rumah tidak mungkin dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan kemungkinannya bergabung dengan sufiks plural, contoh: book adalah nomina dan books adalah mungkin (Harimurti Kridalaksana, 2008: 163).

Nomina merupakan kelas kata yang pasti dijumpai dalam sebuah kalimat karena nomina menempati fungsi subjek atau objek. Sebuah kalimat selain disusun dengan kata yang berfungsi sebagai subjek juga harus terdapat verba di dalamnya, sejalan dengan hal ini Bergman & Senn (1987: 5) juga mengatakan “A sentence is a group of words that expresses a complete thought. In order to express a complete thought, a sentence must have two basic parts-a subject and a predicate”. Dalam bahasa Inggris verba mempunyai ciri morfologis seperti ciri kala, aspek, persona atau jumlah. Untuk dapat digunakan dalam sebuah kalimat setiap bentuk dasar harus dibentuk dahulu menjadi sebuah kata gramatikal, baik melalui proses afiksasi, reduplikasi, maupun proses komposisi (Abdul Chaer, 2007: 169). Proses tersebut disebut sebagi proses morfemis. Afiksasi merupakan salah satu proses morfemis yang dapat dilakukan di depan yang disebut prefiks, di tengah atau infiks, di belakang atau sufiks dan yang di depan dan di belakang disebut apitan, sirkumfiks, atau konfiks (Kushartanti, Yuwono &Lauder, 2009: 151)

Afiksasi merupakan proses yang mengubah leksem menjadi menjadi kata kompleks. Dalam proses ini, leksem (1) berubah bentuknya, (2) menjadi kategori tertentu, sehingga berstatus kata, (3) sedikit banyak berubah maknanya (Harimurti Kridalaksana, 2007: 28). Menurut Matthews via Diana Rozelin (2011: 588), kata dibagi atas tiga bagian: a) phonological word, b) lexeme, c) word formation. Lexeme terkait dengan derivasi, sedangkan word formation terkait dengan infleksi. Pembahasan derivasi dan infleksi dapat ditemukan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

(3)

books mengalami afiksasi dengan sufiks s sebagai penanda jamak. Contoh lain seperti pen (s), bag (s) yang juga menandakan jamak namun kita tidak bisa menggunakan scissor untuk tunggal ketika digunakan dalam kalimat maka menggunakan a pair of scissor, scissors tidak dapat diartikan gunting dalam bentuk jamak. Selanjutnya kata play (ed) untuk kala lampau dan he write (s) untuk kala sekarang, kata write (s) juga menyesuaikan bentuk dengan subjek yang ada sebelumnya. Berbeda dengan bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan infleksi seperti kata buku tidak mengalami proses afiksasi baik prefiks maupun sufiks. Demikian juga untuk menyatakan kala dalam bahasa Indonesia bentuk verba tidak mengalami perubahan apapun. Namun menurut Veerhar via Chaer (2007: 175) bentuk-bentuk seperti membaca, dibaca, terbaca adalah paradigma infleksional. Dengan kata lain, bentuk-bentuk tersebut merupakan kata yang sama, yang berarti juga mempunyai identitas leksikal yang sama.

Afiks derivatif merupakan pembentukan kata yang menghasilkan kelas kata baru. Afiksasi derivasi dapat ditemukan baik dalam Bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia, seperti kata teach berkelas kata verba mendapat sufiks er menjadi teacher mengubah kelas kata menjadi nomina yang bermakna orang yang sedangkan kata create dengan sufiks or menjadi creator yang berkelas kata nomina dan bermakna orang yang, kedua kata ini memiliki makna yang sama namun dengan sufiks yang berbeda, seperti juga pada kata visit (or). Contoh lain pada kata steal “mencuri” tapi bentuk nomina dari steal bukan stealer namun thief. Oleh karena itu untuk mengetahui lebih jauh proses afiksasi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia pada tulisan ini akan dibahas bentuk-bentuk derivasi dan infleksi yang terjadi dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Rumusan masalah

Dari latar belakang penulis memberikan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana bentuk derivasi dari verba ke nomina dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia?

(4)

LANDASAN TEORI Derivasi

Derivasi merupakan bagian dari word formation yang mempunyai fungsi sebagai pengubah kelas kata. Menurut Leech, Conrad & Biber (2002: 118) derivational affixes are incomplete units of language that form a new word when they are added to an existing word (the base). Prefixes are attached to the front of the base, while suffixes are attached to the end of the base. Selain itu, Verhaar (2012: 143) juga berpendapat bahwa derivasi adalah perubahan morfemis yang menghasilkan kata dengan identitas morfemis yang lain dan derivasi memiliki kaidah yang runtun urutannya.

Sedangkan menurut Nida dalam Ermanto (2008: 35) pembentukan derivasi adalah: a) bentuk derivasi (struktur kompleks) termasuk kelas distribusi yang sama seperti anggota kelas simpelnya (tunggal), b) cenderung menjadi formasi lapisan inti (lapisan dalam), c) secara statistik cenderung lebih beragam, d) morfem derivasi lebih terbatas distribusinya, dan e) memperlihatkan perubahan kelas kata.

Pendapat lain mengatakan bahwa proses morfologi derivasi dalah proses yang mengubah identitas makna leksikal (Nanik Herawati, 2013: 134). Sejalan dengan ini Hurford & Heasley via Nanik (2013: 134) menyatakan bahwa morfologi derivasi merupakan tiga proses yang terjadi secara simultan, yakni: a) Proses morfologi: afiksasi, reduplikasi, pemajemukan mengubah yang menghasilkan turunan, b) Proses derivasi: mengubah kategori kata misalkan dari verba ke nomina, dari adjektiva menjadi verba, dari nomina ke verba. c) Proses semantik: menghasilkan makna leksikal

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa derivasi merupakan perubahan morfemis yang berfungsi sebagai pengubah kelas kata dan memiliki kaidah yang runtun urutannya serta menghasilkan turunan, seperti makan yang berkelas kata verba mendapat prefiks an menjadi makanan berkelas kata nomina.

Infleksi

(5)

berkaitan dengan kaidah-kaidah sintaktik yang dapat diramalkan (predictable), otomatis (automatic), sistematik, bersifat tetap/konsisten, dan tidak mengubah identitas leksikal.

Selain itu, menurut Samsuri (1982: 198), menyatakan bahwa infleksi adalah konstruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya. Dalam kamus bahasa Indonesia sendiri infleksi berarti perubahan bentuk kata dalam bahasa fleksi yang menunjukkan berbagai hubungan gramatikal seperti deklinasi nomina, pronominal, adjektiva, dan konjugasi verba.

Zufriyati (2013) juga berpendapat bahwa Infleksi merupakan perubahan bentuk kata tanpa mengubah identitas leksikal sebuah kata, dengan atau tanpa mengubah kelas katanya. Secara khusus perubahan bentuk sebuah verba dengan tetap mempertahankan identitas verba itu sama saja artinya dengan mengubah bentuk kata tersebut, tetapi makna kata seperti yang terkandung dalam kata tersebut tidak berubah, seperti:

menulis → ditulis → kutulis → kau tulis → kami tulis melihat → dilihat → kulihat → kau lihat→ kami lihat membaca → dibaca → kubaca → kau baca → kami baca mencari → dicari → kucari → kau cari → kami cari memukul → dipukul→ kupukul→ kau pukul → kami pukul

Bentuk menulis, melihat, membaca, mencari, dan memukul beserta semua variasinya itu adalah infleksi karena identitas kata-kata tersebut sebagai kata kerja dengan pengertian yang ada pada tiap bentuk-bentuk kata di atas tidak berubah, kecuali bentuk terikat me- yang secara berurutan diganti dengan di-,ku-,kau-, dan kami yang mengubah pengertian pelakunya. Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembentukan kata secara infleksional merupakan pembentukan dengan didasarkan pada kebutuhan gramatikal sehingga tidak merubah kelas kata seperti dalam bahasa Inggris cat-cats, bag-bags, car-cars, dan lain sebagainya dan dalam bahasa Indonesia seperti tulis-menulis-ditulis-kutulis-kau tulis-kami tulis.

Bauer (1982: 12-13) berpendapat bahwa ada sejumlah cara untuk mengetahui apakah sebuah afiks bersifat infleksional, beberapa diantaranya sebagai berikut:

1. Afiks-afiks yang tidak mengubah kelas kata bentuk dasarnya biasanya termasuk afiks infleksional. Formalize adalah verba dan formalizes juga verba; berarti sufiks –s tidak mengubah kelas kata sehingga termasuk dalam infleksional

(6)

3. Afiks-afiks infleksional bersifat produktif. Terdapat suatu kaidah umum bahwa bila dapat menambahkan afiks infleksional pada salah satu anggota dari sebuah kelas kata maka akan dapat menambah afiks infleksional pada semua anggota kelas yang lain. Katamba (1994: 65-72) menyatakan bahwa productivity menyangkut perluasan leksikon yang tiada henti-hentinya. Pola pembentukan ini bersifat open ended, artinya tidak berhenti. Misalnya dalam bahasa Indonesia prefiks (pe) tinju, (pe) catur. (pe) tenis.

SUMBER DATA

Sumber data ada dua macam, yaitu data tertulis berupa berita online, cerita pendek maupun kamus. Penggunaan kamus dalam tulisan ini dikarenakan kosakata dijelaskan secara rinci dan lengkap dengan mencantumkan kelas kata dibanding dalam cerita pendek maupun berita online. Data tulis dalam bahasa Inggris dimbail dari salah satu berita The Jakarta Post yang diakses pada tanggal 30 Desember 2016 dengan judul “More teaching volunteers needed in Indonesian's rural, remote schools” dan “Gendering terrorism in Indonesia, sedangkan data tulis dalam bahasa Indonesia diambil dari karya Putu Oka Sukanta dalam Jurnal Perempuan No. 70 tahun 2011 berjudul “Mata”.

Data dalam hal ini berupa satuan lingual kata dengan data awal yang diperoleh saat memulai survei awal dan data lanjut yang muncul setelah terdapat fokus objek kajian pembahasan.

METODE DAN TEKNIK PENYEDIAAN DATA

Metode dan teknik pengumpulan data mengacu pada metode yang dikemukakan Sudaryanto (2015: 18), yakni metode agih di mana alat penentunya justru bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri. Teknik dasar berupa teknik bagi unsur langsung (BUL) dilanjutkan dengan teknik lanjutan yakni teknik ganti sama tataran. Penyediaan data dilakukan dengan menggunakan metode simak, metode simak dalam hal ini dilakukan pada saat membaca dan melakukan pengamatan terhdap penggunaan suatu bahasa kemudian teknik catat yakni pencatatan yang dilakukan pada kartu data.

(7)

dikaitkan dengan teori yang relevan dan berdiskusi dengan orang-orang yang memiliki pengetahuan kebahasaan yang memadai.

HASIL DAN PEMBAHASAN Derivasi

Untuk menganalisis data derivasi dengan cara menemukan ada tidaknya perubahan identitas dan kelas kata sebuah kata yang berafiksasi. Jika afiksasi mengubah kelas kata verba menjadi nomina maka ini adalah kata berderivasi, seperti teach (verba) - teacher (nomina).

Perubahan Verba menjadi Nomina

Dalam bahasa Inggris perubahan kelas kata dari verba ke nomina dikarenakan adanya penambahan sufiks -er, -or, -ment, -ion. Untuk memperjelas hasilnya terdapat dalam tabel sebagai berikut:

Sufik s

Lekse (verba) Proses Perubahan (Nomina) Arti

-er Teach +er Teacher Guru

-ion Educate +ion Education Pendidikan

Inform Information Informasi

Distribute Distribution Distibusi

Situate Situation Situasi

Populate Population Populasi

-ment Accomplish +ment +or

Accomplishment Pencapaian

Govern Government Pemerintah

Recruit Recruitment Pengerahan

-or Prevent Preventor Pencegah

Act Actor Pemain

Perpetrate Perpetrator Pelaku

-ance Ignore +ance Ignorance Ketidaktahuan

(8)

Lukis Lukisan mendapat tambahan sufiks –s sebagai penanda jamak atau bisa juga sebagai penanda orang ketiga tunggal. Berikut infleksi yang terjadi dalam bahasa Inggris:

Sufiks Bentuk Fungsi Proses Kata

-s/-es Nomina Jamak (Plural) +s Kilometer(s)

(9)

-s Verba Penanda orang

-ing Verba Progressive +ing Going

Working Making Improving

-ed Verba Past tense +ed Gained

Started Worked Allocated Dominated

-en Verba Past participle +en (was) given

-er Adjectiva Comparative degree

+er Stronger

Pembentukan infleksi nomina dengan afiksasi -s/-es dan -‘s, pada verba dengan sufiks – ing, -ed, en, sedangkan pada ajdectiva dengan sufiks –er.

Salah satu ciri infleksi adalah bersifat produktif. Sebuah afiks termasuk infleksional jika dapat diramalkan dan dapat digantikan dengan afiks yang lain. Terdapat makna keteraturan gramatikal dalam pembentukan infleksional. Dalam bahasa Indonesia pola pembentukan kata produktif terdapat pada verba murni dengan prefiks me(N) yang berpasangan dengan di-D. Prefiks ini berkaitan dengan ciri makna melakukan suatu perbuatan dengan sengaja seperti menulis-ditulis, memukul-dipukul.

Pola pembentukan afiks infleksional dalam karya Putu Oka Sukanta adalah sebagai berikut:

Leksem Prefiks me- Prefiks

di-Tuju Menuju

Bungkus Membungkus Dibungkus

Baca Membaca

Pancing Memancing

(10)

Dengar Mendengar

Mulai Memulai Dimulai

Pandang Memandang

Proses pembentukan infleksional juga dapat terbentuk dari kata atau leksem seperti: Leksem Prefiks me- Prefiks d, sufiks

i-Pagari Dipagari

Ikuti Mengikuti

Miliki Dimiliki

Sertai Disertai

Perubahan dari pagar menjadi pagari merupakan pembentukan derivasional sementara perubahan pagari menjadi dipagari merupakan pembentukan infleksional karena dapat diramalkan dan diganti menjadi memagari-kupagari-dipagari. Begitu pula dengan leksem seperti di bawah ini:

Leksem Prefiks me- Prefiks di-Perhatikan Memperhatikan

Temukan Menemukan Kenakan Mengenakan Hindarkan Menghindari

Leksem lain dengan pembentukan infleksional yang menyatakan “ketidaksengajaan” yaitu:

Leksem Prefiks ter- Prefiks

di-Ingat Teringat

(11)

Perbedaan leksem-leksem tersebut terdapat dalam makna seperti pada leksem pagari bermakna berkali-kali dengan hadirnya sufiks –i. makna sesuatu yang tidak disengaja dengan prefiks ter-, penambahan prefiks –di berfokus pada agen serta prefiks me- berfokus pada pelaku.

KESIMPULAN

Kajian tentang kata merupakan bidang kajian morfologi. Proses perubahan bentuk kata dapat terjadi melalui afiksasi, reduplikasi dan pemajemukan. Afiksasi dapat berupa penambahan prefiks, infiks, konfiks, sirkumfiks, maupun prefiks. Afiksasi bisa berupa derivasional dan infleksional. Derivasional merupakan proses perubahan kata atau leksem yang menghasilkan kata baru, mengubah kelas kata dan tidak dapat diramalkan. Sedangkan afiks infleksional merupakan proses morfemis tanpa adanya kata baru. Afiks infleksional hanya untuk kebutuhan sintaksis gramatikal suatu bahasa dan dapat diramalkan.

Setiap bahasa memiliki pola-pola pembentukan suatu kata. Berdasarkan hasil analisis di atas didapat suatu pola pembentukan kata berdasarkan afiks derivasional dan infleksional diantaranya: afiks derivasional dengan perubahan bentuk verba menjadi nomina dalam bahasa Inggris dapat berupa suffiks –er, -ment, -ion, -or, -ance. Afiksasi derivasional perubahan verba ke nomina dalam bahasa Indoensia dengan hasil analisis di atas ditemukan bahwa penambahan sufiks –an, prefiks se- merupakan proses afiksasi derivasi verba ke nomina.

(12)

Daftar Pustaka

Abdul Chaer. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta

Bauer, Laurie. (1982). Introducing linguistic morphology. Great Britain: Edinburgh University Press

Bergman, C. A., & Senn, J.A. (1987). Heath grammar and composition second course. Massachusetts: Heath

Biber, D., Conrad, S., & Leech, G., Student grammar of spoken and written English. Longman

Diana Rozelina. (2011). Derivasi dan infleksi dalam bahasa Inggris. Media akademika, Vol 26, 587-605.

Edi Purnanto. (2006). Kajian morfologi derivasional dan infleksional dalam bahasa Indonesia. Kajian linguistik dan sastra. Vol 18, 136-152

Ermanto. (2008). Derivasi dan infleksi verba bahasa Indonesia. Disertasi. Universitas Sebelas Maret

Harimurti Kridalaksana. (2008). Kamus linguistik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama ___________________. (2007). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama

Katamba, F. (1994). Modern linguistics: morphology. London: The Macmillan Press Ltd Kushartanti, Untung Yuwono & Lauder, M., RMT. Pesona bahasa: langkah awal memahami

linguistic. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Nanik Herawati. (2013). Derivasi verba denominal dan verba deadjectival dengan proses afiksasi dalam bahasa Jawa (kajian morfologi). Magistra, No. 86, 131-142

Samsuri. (1982). Analisis bahasa. Jakarta: Erlangga

Sudaryanto. (2015). Metode dan teknik analisis bahasa. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press

Suhardi. (2013). Sintaksis. Yogyakarta: UNY Press

Veerhar, J. W. M. (2012) Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

(13)

http://www.thejakartapost.com/academia/2016/12/30/gendering-terrorism-in-indonesia. Diakses pada tanggal 30 Desember 2016

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini tahapan dalam pengelolaan keuangan Desa di Desa Ketanen dari perencanaan sampai pelaporan mengunakan aplikasi siskeudes dengan Pemendagri Nomor 20 Tahun 2018 yang

aripada dapatan di atas, boleh disimpulkan baha7a semakin jauh jarak sesaran ladung  2 daripada titik tengah, maka makin besar ladung * kehilangan tenaga untuk menyesarkannya ke

Banyuwangi adalah sebesar 63,63%, dengan kriteria sedang.Hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, yaitu Novana et al (2014), menyatakan bahwa presentase

Dari interpretasi tersebut, maka dapat diungkapkan muatan pesan yang terkandung dalam karikatur Nunun Nurbaeti yang terdapat pada cover majalah Tempo edisi

Apabila pengisian identitas pengusul telah lengkap, maka pengusul diwajibkan mengunduh dan mencetak lembar pengesahan isian identitas untuk dilakukan pengesahan

Adanya suatu platform untuk implementasi, pengukuran, dan analisis SFN pada aplikasi DVB-T2 akan dapat membantu peneliti, engineer, dan pihak-pihak yang berperan

saat karyawati level manajerial pada Bank “X” yang memiliki peran sebagai wanita karir yang juga seorang ibu, merasa pekerjaannya sebagai karyawati

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa: 1) Tidak ada hubungan antara humor dengan hubungan interpersonal