Orang Toraya Toraja Bertemu Dengan Injil

17 

Teks penuh

(1)

Orang Toraya (Toraja) Bertemu Dengan Injil Kristus

1. Letak geografis Tana Toraja

Kabupaten Tana Toraja yang beribukota di Makale secara geografis terletak di bagian Utara Provinsi Sulawesi Selatan yaitu antara 2°-3° Lintang Selatan dan 119°-120° Bujur Timur, dengan luas wilayah tercatat 2.054,30 km² persegi.

Dengan batas-batas, yaitu :

 Sebelah Utara adalah Kabupaten Toraja Utara dan Provinsi Sulawesi Barat

 Sebelah Selatan adalah Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Pinrang

 Sebelah Timur adalah Kabupaten Luwu

 Sebelah Barat adalah Provinsi Sulawesi Barat

Secara administratif, Kabupaten Tana Toraja meliputi 19 Kecamatan, 112 Lembang dan 47 Kelurahan (Panggarra, 2015: 2). Pembagian wilayah menurut kecamatan, jumlah lembang dan kelurahan serta luas kecamatan adalah sebagai berikut :

(2)

Kabupaten Maros. Tana Toraja adalah ikon budaya dan parawisata di Provinsi, Sulawesi Selatan merupakan salah satu daya tarik industri parawisata Indonesia, hal ini merupakan potensi bagi pengembangan berbagai kegiatan produksi dan ekonomi di Kabupaten Tana Toraja.

2. Budaya yang dianut oleh masyarakat Tana Toraja

Suku Toraja memiliki budaya yang menjadikannya unik di tengah-tengah kemajemukan suku-suku bangsa di Indonesia. Salah satu budaya yang sangat terkenal dari Tana Toraja yaitu Rambu Solo’ atau upacara pemakaman. Upacara itu biasanya dilaksanakan dengan memperhatikan strata sosial orang yang meninggal (Panggarra, 2015: 2-3). Mereka yang termasuk kelompok orang yang berada atau kalangan bangsawan (tana’ bulaan) biasanya melangsungkan upacara itu dengan mewah. Sebaliknya, jika yang meninggal adalah masyarakat strata sosial rendah maka upacara pemakamannya akan biasa-biasa saja bahkan hanya sedikit orang yang hadir dalam pemakaman tersebut. Dapat dilihat bahwa strata sosial dalam adat Toraja sangat berperan penting, di Toraja dikenal empat macam tingkat atau strata sosial: (1) tana’ bulaan atau golongan bangsawan, (2) tana’ bassi atau golongan bangsawan menengah , (3) tana’ karurung atau rakyat biasa, (4) tana’ kua-kua biasa disebut juga aluk tondo

adalah masyarakat budak atau golongan hamba. Upacara Rambu Solo’ merupakan sebuah upacara yang sarat dengan nilai-nilai adat-istiadat (aluk) yang mengikat masyarakat Toraja. Bahkan, kepercayaan lama bahwa (aluk) atau adat diciptakan di langit (Panggarra, 2015: 8). Oleh karena itu (aluk) adalah ilahi dan seluruh manusia harus menghormati bahkan harus tunduk pada (aluk). Ada dua upacara pemakaman yang biasa-biasa saja (tidak istimewah) yang dilakukan oleh orang Toraja :

1. Upacara Disilli’ adalah upacara pemakaman yang paling rendah di dalam

aluk Todolo, yang diperuntuhkan bagi strata yang paling rendah atau anak-anak yang belum mempunyai gigi

2. Upacara Dipasilamun Tonima yaitu upacara pemakaman yang dilakukan bagi anak-anak yang meninggal pada waktu lahir. Anak itu akan dikuburkan dengan plasentanya.

(3)

beberapa jenis kerbau yang menjadi idaman di mata orang Toraja, tetapi akan di bahas hanya 2 jenis kerbau termahal dan termurah bagi kisaran harga di Toraja.

1. Tedong Sambao’

Picture by: Google

Bagi orang Toraja, Tedong Sambao’ adalah jenis kerbau yang paling termurah dan biasanya jenis kerbau ini hanya mampu dibeli oleh kasta terendah pada masyarakat Toraja. Kerbau ini memiliki harga sekitar belasan juta Rupiah.

(4)

Picture by: Google

Ini adalah merupakan kerbau idaman bagi orang Toraja, kerbau ini sangat berharga di mata orang Toraja dan juga kerbau ini menggambarkan strata sosial suatu masyarakat Toraja. Jika dilihat dari segi biologis, ini adalah kerbau albino yang memiliki warna kulit yang tidak sempurna dan juga kerbau ini memiliki bola mata berwarna putih yang menandakan bahwa kerbau ini rabun. Namun jangan salah, walaupun kerbau ini cacat secara biologis, namun kerbau ini memiliki harga yang sangat mahal, harga kebau ini bisa menembus 1 Milyar Rupiah.

Telah disinggung di atas bahwa setiap ada upacara pemakaman, harus diadakan pemotongan tedong atau kerbau. Pemotongan ini disebut oleh orang Toraja yaitu Merok.

Merok adalah upacara mempersembahkan seekor kerbau, kata merok berasal dari kata rok

(5)

penebangan pohon nangka sampai dengan upacara personifikasi, manglasak dan disabu

(Manampa, 1983: 173). Patung tidak boleh dibuat oleh sembarang orang dan pembuatannya wajib bekerja dengan mayat (membuat boneka itu harus dekat dengan mayat). Boneka itu harus dibuat sama persis dengan orang yang meninggal. Yang paling penting ialah boneka hanya boleh dibuat oleh bangsawan atau mereka yang tergolong tana’ bulaan. Boneka itu adalah personifikasi atau paling sedikit representasi (Kobong, 2008: 53-55) Orang yang meninggal dan dengan demikian harus disembah menurut statusnya. Melalui boneka itu interaksi dianggap tetap berlangsung. Boneka itu menampakan persekutuan yang langgeng antara orang yang hidup dengan yang mati.

Ma’ nene adalah sebuah upacara atau ritual untuk mengganti pakaian keluarga yang sudah meninggal. Mayat itu akan diawetkan dengan ramuan-ramuan khusus, lalu dipakaikan pakaian yang baru, hal ini dilakukan sebagai perwujudan dari rasa cinta dari keluarga yang masih hidup terhadap mayat yang sudah meninggal itu. Ritual ini dilangsungkan setiap tahun khususnya pada bulan Agustus (Panggarra, 2015: 11-12) Saat ma’ nene berlangsung, peti-peti mayat para leluhur, tokoh dan orang tua dikeluarkan dari makam caranya yaitu dengan diadakan sedikit ritual kecil atau khusus sehingga mayat yang ada dipeti itu bisa berdiri bahkan berjalan ke tempat khusus yang sudah disediakan lalu keluarga akan mengganti busana yang melekat pada tubuh mayat itu. Bagi pemahaman orang Toraja, kematian bukanlah akhir dari segalanya melainkan awal untuk membuka kehidupan yang baru. Kehidupan yang baru itu disebut puya yang berarti tempat yang indah. Ketika mayat sudah selesai digantikan baju, maka mayat itu akan berjalan sendiri ke petinya lalu berbaring.

(6)

Pa’tondokan adalah pondok, tempat tinggal, kampung atau desa. Sejarah sebuah

tondok mengacu ke pangala tondok. Seseorang yang telah mengklaim wilayah tertentu sebagai miliknya, atau daerah kekuasaannya akan mendirikan tondok itu. Di masa lampau, masa kelabu di Toraja, masih banyak wilayah yang kosong dan tak berpenghuni, yang dapat diklaim sebagai milik tokoh-tokoh penguasa. Tentu saja, wilayah itu hanya dapat dikuasai dan dipertahankan dengan tangan yang kuat. Maka pangala tondok

haruslah seseorang yang kuat. Sebelum orang Toraja menjalin hubungan dengan tetangga mereka, yaitu orang Bugis di Selatan, orang Toraja terasing dipegunungan dan mereka hidup dengan aman dan tentram. Mereka belum merupakan kelompok etnis dalam arti sesungguhnya. Kampung-kampung (penanian atau bua’) hidup berdampingan dalam suasana damai, di bawah pemimpin masing-masing yaitu pangala tondok atau

topadatindo. Itulah keadaan yang berlaku sebelum dan sesudah perang melawan Bone, dalam parohan kedua abad ke-17. Baru dikemudian hari, setelah pedagang kopi antara Toraja dan daerah-daerah pesisir, Luwu’ di Timur dan Pare-Pare (Bugis) di Selatan, mulai berkembang, para pedagang kopi itu yang saling bersaing membawa senjata api masuk untuk mengamankan kepentingan mereka (Kobong, 2008: 68-69). Pedangan kopi, senjata api, kekuasaan, judi, dan perbudakan merupakan unsur-unsur baru di dalam dunia Toraja sesudah kedatangan pedagang-pedagang Bugis dan Arab. Unsur-unsur baru ini membawa nilai-nilai yang merusak persekutuan orang Toraja yang hidup dalam kedamaian. Orang-orang Toraja menjadi objek dalam perbudakan, menjadi korban demi keuntungan ekonomi. Jenis perbudakan ini, jauh berbeda dari konsepsi tradisional prang Toraja tentang budak, yang tidak bersifat sosial ekonomi, tetapi mempunyai dasar ontologis dan sosio-religius. Melalui perdagangan kopi dan senjata api, beberapa pemimpin Toraja menjadi sangat berkuasa. Dalam kerja sama dengan mitra dagang mereka, mereka memperbesar kekuatan mereka melalui perdagangan budak (Kobong, 2008: 158-159). Melalui perang-perang lokal dan serangan-serangan bersenjata terhadap kampung-kampung, mereka memperoleh budak-budak yang menjadi komoditi perdagangan dengan dunia luar. Itulah situasi umum dari peralihan abad ke-19 ke abad ke-20. Oleh sebab itu, wajarlah bila rakyat jelata Toraja menyambut baik “pasifikasi” Belanda pada waktu itu. Itulah kemungkinan besar orang Toraja menjadi mayoritas Kristen karena mereka sangat senang dan setuju ketika Belanda membuat pasifikasi, sehingga ketika Belanda memberitakan Injil kepada orang Toraja maka orang Toraja langsung menerima Injil itu.

(7)

4.1 Pengutusan guru atau Pekabar Injil pertama di Toraja

Pada tahun 1905, Belanda tiba di Tana Toraja dan berhasil menaklukan secara tuntas pada tahun 1906. Kekristenan mulai diperkenalkan di Toraja, tidak lama setelah pemerintah kolonial menumpas perlawanan rakyat Toraja yang dipimpin oleh Pong Tiku. Pada tahun 1908 pemerintah kolonial Belanda membuka

Landschapschool (sekolah swapraja) di Makale dan Rantepao yang dipimpin oleh guru-guru Kristen. Sekalipun sekolah pemerintah ini berstatus “netral” , namun guru-guru di Landschap mengajarkan agama Kristen kepada murid-murid

Landschap (Kobong, 2008: 125). Maksud pemerintah membuka sekolah adalah untuk mendapat tenaga administrasi kolonial, juga sebagai upaya untuk mengkristenkan penduduk di daerah-daerah pegunungan Sulawesi.

Mulai tahun 1912, kegiatan guru-guru Kristen untuk memberitakan Injil Yesus Kristus di sekolah didukung oleh pendeta Gereja Protestan (Indische Kerk) di Makassar, yaitu R.W.F kijtenbelt, yang didampingi oleh pendeta bantu yaitu Jonathan Kelling. Atas pimpinan Roh Kudus, S.Sipasulta seorang guru asal Ambon sebagai kepala sekolah Landschap di Makale dan 23 orang murid dari sekolah itu menerima Yesus Kristus sebagai Juru selamatnya yang dibaptis pada 16 Maret 1913 yang dilakukan oleh pendeta bantu Jonathan Kelling. Pada tahun 1915 pelayanan Indische Kerk di Makale diambil alih oleh Gereformeerde Zendingsbond (GZB). GZB adalah lembaga PI Belanda yang didirikan pada tanggal 6 Februari 1901 di Ultrecht oleh orang-orang Gereformeerde yang masih

tetap tinggal dalam Hervormde Kerk (De Gereformeerde Bond inde Hevormde

Kerk) yang merupakan gereja negara waktu itu. GZB merupakan badan Pekabar Injil yang resmi mendapat izin dari pemerintah untuk melakukan Penginjilan di Toraja, Luwu, Enrekang. Sang pionir yang pertama kali diutus oleh GZB untuk mengabarkan Injil ke Toraja adalah A.A. Van de loosdrecht di Rantepao. A.A. Van de loosdrecht tiba di Rantepao tanggal 10 November 1913 Ketika ia Sesudah sampai di Rantepao (Pasolon, 2013: 12), ia hanya beberapa hari saja di sana lalu ia berangkat lagi untuk selama beberapa bulan belajar pada Adriani dan Kruyt di Poso, tetapi sejak 8 Mei 1914 ia menetap di Rantepao. Setahun sesudahnya, berlangsunglah pelayanan baptisan pertama kali atas empat anak Toraja tamatan Sekolah Dasar negeri yang dilakukan oleh A.A. Van de loosdrecht (23-5-1915, tetapi pendeta bantu Kelling telah membaptis 23 pemuda di Makale pada tanggal 6-3-1913). Dua tahun kemudian (1917) ada lagi 11 orang Toraja dibaptis.

(8)

Pada saat itu, tidak ada orang kampung yang meminta guru melainkan A.A. Van de loosdrecht sendirilah yang meminta tambahan guru karena sudah banyak sekali sekolah yang didirikannya. Pada tanggal 10 November 1913 setibanya A.A. Van de loosdrecht di Rantepao, A.A. Van de loosdrecht membuka sekolah zending di Toraja, sekolah yang didirikan oleh A.A. Van de loosdrecht adalah sekolah di Balusu, dengan jumlah murid tujuh puluh delapan anak. Sekolah zending yang kedua berhasil lagi dibuat yang dibangun di Nanggala dengan jumlah murid delapan puluh anak. Tiga bulan kemudian didirikan lagi sekolah zending yang ketika di Sa’dan dengan jumlah murid tujuh puluh tujuh anak. Semakin banyaknya sekolah zending yang dibuat oleh A.A. Van de loosdrecht, untuk itu dia meminta kepada perhimpunan Pekabaran Injil Gereformeerd agar mengirimkan lebih banyak lagi zendeling dan juga guru-guru ke tana Torja karena sekolah yang dibuatnya semakin banyak dan sedikit kewalahan jika hanya dia sendiri yang mengelolahnya (Loodrecht, 2005: 56-61). Ketika A.A. Van de loosdrecht mendapatkan dua orang guru yaitu Runtuwene dan Abraham mereka pergi ke Poso, di sana A.A. Van de loosdrecht mempelajari bahasa Toraja agar mudah untuk berkomunikasi dengan murid-murid, di Poso terciptalah buku yang dipakai sebagai bahan bacaan para murid. Judul buku tersebut adalah “Late Soera’ Dinii Melada’ Mbasa Soera” sebuah buku yang diciptakan olah A.A. Van de loosdrecht dan N. Adriani dibantu dengan kedua guru tersebut, buku ini menjadi buku pertama yang ditulis dalam bahasa Toraja. Setelah itu, menyusul buku yang kedua yaitu “Boenga’ Lalan, Soera’ Pembasan” buku ini murni disusun oleh A.A. Van de loosdrecht, ketika itu ia sudah mahir berbahasa Toraja.

4.3 Metode yang digunakan oleh Zendeling

(9)

Kristen dalam kehidupan guru-guru itu sendiri dengan harapan agar murid-murid dapat menirunya. Ketika mereka merasa bahwa ajaran Kristen yang diberikan kepada murid-murid sudah cukup matang, dan juga kegiatan mengajar agama Kristen kepada murid-murid didukung oleh Pdt. GP di Makassar yang didampingi oleh Pendeta bantu Pdt. Jonathan Kelling maka mereka mulai bertanya kepada murid-murid siapa yang ingin menjadi atau masuk agama Kristen? Pada saat itu ada 23 orang murid yang ingin menjadi Kristen. Guru-guru itu dengan cepat memanggil Pdt. Jonathan Kelling untuk segera membaptiskan mereka. Terjadilah pembaptisan pertama di Tana Toraja. Walaupun metode yang dipakai guru-guru cukup efektif dalam membaptiskan banyak murid, namun sayangnya dari 23 orang murid itu ada seorang murid yang memilih keluar dari agama Kristen tanpa alasan yang jelas (Kobong, 2008: 125-128) Di sini dapat dilihat bahwa kekurangan dari metode yang dipakai oleh guru-guru, mereka terlalu tergesah-gesah untuk membaptiskan orang pribumi sedangkan orang pribumi saat itu belum terlalu dalam untuk meresapi iman Kristen.

 Metode yang digunakan oleh A.A. Van de loosdrecht yaitu :

(10)

menerjemahkan ceritera-ceritera sekolah minggu dalam bahasa Toraja agar lebih mudah untuk dipamahami oleh anak-anak setempat contoh ceritera yang sudah diterjemahkan yaitu ceritera Nabi Nuh, Nabi Yunus, Daud mengalahkan Goliat. Penginjilan A.A. Van de loosdrecht membuahkan hasil walaupun sangat lama, dapat dibayangkan bahwa loosdrecht tiba di Tana Toraja tanggal 10 November 1913 dan untuk pertama kalinya ia membaptis empat orang anak Toraja tanggal 23 Mei 1915 yang telah mengikuti katekisasi cukup lama. Loosdrecht membuang waktu satu tahun lebih namun hanya dapat membaptiskan 4 orang pribumi yaitu Welem Bokko’, Kadang, Taroe, dan Pabolo. Menurut loosdrecht metode yang dipakainya yaitu berbeda dengan guru-guru sekolah Landschapschool, menurutnya “fatal akibatnya jika tergesah-gesah untuk membaptiskan orang pribumi karena besar kemungkinan mereka akan keluar dari Kristen dan kembali pada kepercayaan mereka yang lama untuk itu harus diadakan pengajaran yang panjang tentang agama Kristen agar iman mereka benar-benar kokoh sehingga sulit untuk dipengaruhi oleh lingkungan sekitar”. Jadi, dapat dirangkum metode pendekatan yang dilakukan oleh A.A. Van de loosdrecht yaitu:

1. Mempelajari bahasa setempat

2. Menjalin hubungan baik dengan orang-orang pribumi dan juga kepala suku 3. membuat pelayanan medis bagi orang pribumi

4. Mendirikan sekolah bagi anak-anak pribumi 5. Menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Toraja

6. Menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Toraja untuk dipelajari oleh murid-murid dan juga masyarakat.

7. mengadakan pengajaran tentang Kristen dalam waktu yang relatif panjang.

4.4 pembaptisan pertama kali

Baptisan pertama di Toraja berlangsung ketika wilayah Toraja merupakan wilayah pelayanan Indische Kerk. Pada tahun 1908 pemerintah kolonial Belanda membuka Landschapschool (sekolah swapraja) di Makale dan Rantepao yang dipimpin oleh guru-guru Kristen. Ketika itu, guru-guru Kristen mengajar agama Kristen kepada murid-murid dan 23 orang murid mau menerima Yesus Kristus dalam arti mereka mau menjadi Kristen (Pasolon, 2013: 17-19) sehingga dibaptiskanlah 23 orang murid itu oleh pendeta bantu Jonathan Kelling. Nama-nama dari 23 orang murid itu adalah :

(11)

2. Kanasa (Sangalla’) 3. O. Karre (Palesan)

4. P. Karre Mangontan (Sangalla’) 5. P. Karoma (Gandangbatu) 6. J. Kau (Simbuang)

7. J. Lambe’ Andidolo (anggota keluarga Puang Ma’kale) 8. E. Lebu (Gandangbatu)

9. J. Lilla’ (Pa’buaran) 10. Fil. Onggo (Pa’buaran) 11. M. Palalo (Ranteballa) 12. Parebong (Simbuang)

13. A. Ranteallo (anak Puang Ma’kale, Puang Tarongkon) 14. H. Saba’ (Madandan)

Menurut catatan dari murid yang bernama O. Karre setahun sebelum mereka dibaptis, Pdt. Kelling dan beberapa guru agama Kristen mengajar kepada mereka tentang agama Kristen dan mengajukan pertanyaan kepada mereka yaitu “siapa yang ingin masuk” dari sejumlah murid yang ada, hanya 23 murid yang ingin masuk Kristen dan mereka menerima pelajaran katekisasi dari guru Ndun, asal Timor dan guru S. Sipasulta asal Maluku. O. Karre berumur kira-kira 15 tahun ketika dibaptis. Menurut catatannya, seorang yang bernama A. Ranteallo yang sudah dibaptis memilih keluar dari agama Kristen, alasan mengapa dia memilih keluar dari agama Kristen tidak diberi keterangan dalam catatan O. Karre.

4.5 Peran Kepala Suku

Seorang yang menjadi kepala atau pemimpin adat atau pemuka masyarakat yang biasanya dikenal dengan sebutan kepala suku adalah seorang yang harus berasal dari golongan Tana’ Bulaan atau golongan bangsawan kaya. Kepala suku juga biasa dikenal dengan sebutan Puang. Seorang kepala suku memiliki peran yang sangat penting dalam masyarakat Toraja, dialah sang pengendali masyarakat Toraja. Puang

(12)

Tana Toraja maka Puang menjadi kunci utama untuk masuknya Injil. Misionaris pertama di Toraja yaitu loosdrecht ketika pertama kali menginjakan kaki di Toraja maka ia langsung mengambil inisiatif untuk mendekati kepala suku kerena dia tahu bahwa kepala suku merupakan kunci untuk menyebarkan Injil Kristus. Pada saat itu loosdrecht mendekati kepala suku Toraja yang bernama Pong Maramba’. Ia menjelaskan bahwa maksud kedatangannya ke Tana Toraja dan juga bertemu dengan

Pong Maramba’ yaitu ingin membuat sekolah di Toraja. Saat mengetahui bahwa loosdrecht ingin membuat sekolah di Rantepao, maka Pong Maramba’ seketika itu juga menyetujui usulah dari loosdrecht. Karena Pong Maramba’ ingin agar masyarakatnya bisa menulis, membaca dan juga menghitung.

Seiring berjalannya waktu, loosdrecht berhasil membuat sekolah-sekolah di Rantepao dan juga di sekolah-sekolah itu ia mengajarkan tentang agama Kristen dan ajarannya. Murid-murid yang ada disekolah itu sangat tertarik dengan ajaran Kristen karena konsep tritunggal Kristen sama dengan sistem kepercayaan tradisional orang Toraja. Hal itu diketahui oleh kepala suku Toraja, ia melihat bahwa masyarakatnya tertarik dengan agama Kristen, ia menyelidiki dan ia mendapatkan ternyata ajaran Kristen tentang tritunggal sama dengan kepercayaan tradisional Toraja. Itulah sebabnya ia memberi izin kepada loosdrecht untuk membaptis orang Toraja. Namun sayangnya, kepala suku Toraja tidak ikut dibaptis kendatipun ia juga tertarik dengan agama Kristen. Alasannya yaitu, seorang kepala suku berdarah Tana Bulaan’ tidak dapat mengikuti apa yang dilakukan oleh masyarakatnya khususnya masyarakat golongan tana’ karurung atau rakyat biasa, tana’ kua-kua biasa disebut juga aluk tondo adalah masyarakat budak atau golongan hamba. Itu adalah peraturan yang tidak boleh dilanggar. Contohnya yaitu, seorang kepala suku memerintahkan kepada masyarakat golongan tana’ karurung dan tana’ kua-kua untuk membersihkan lingkungan, maka kepala suku tidak boleh ikut serta bersama mereka membersihkan lingkungan tetapi kepala suku hanya boleh memantau (Kobong, 2008: 128-148). Itulah peraturan adat yang berlaku di Tana Toraja pada saat itu.

4.6 Pemahaman orang Toraja tentang Injil

(13)

Pemahaman orang Toraja, pencipta langit dan bumi adalah tiga dewa (Gaun Tikembong, Pong Banggairante dan Pong Tulakpadang). Ketiga dewa ini mengadakan “kombong kalua” (musyawarah besar), itulah model musywarah secara demokratis yang asli. Sesudah itu mereka menciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang. Pong Tulakpadang turun ke bagian bawah bumi dan menjadi penguasa di sana. Pong Banggairante mengambil bumi ini sebagai tempat kediamannya sebagai penguasa dunia tengah. Gaun Tikembong naik ke pusat cakrawala, dia menjadi penguasa dunia atas. Dari ceritera ini terlihat kosmos dibagi tiga. Dunia atas adalah daerah kekuasaan para dewa dan dibagi menjadi 12 bagian. Puang Matua (Allah) tinggal di pusat atau puncak tertinggi. Dialah yang menciptakan manusia pertama dan nenek moyangnya tanaman-tanaman, bintang dan benda-benda mati. Ciptaan itu diciptakan di langit lalu ciptaan itu diturunkan ke dunia tengan (bumi).

Dunia tengah yang merupakan tempat tinggal manusia, manusia diciptakan oleh Puang Matua di langit dan ditutunkan ke bumi beserta dengan hewan-hewan dan tanaman-tanaman yang penting bagi kehidupan dibumi. Manusia yang diturunkan dari langit ke bumi bertugas untuk menjaga hasil ciptaan Puang Matua yaitu alam,

hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan dan semuanya akan diawasi oleh Pong Tulakpadang

yang diberi mandat oleh Puang Matuna untuk melihat apakah manusia benar menjaga ciptaannya atau tidak. Pong Tulakpadang naik ke kediaman Puang Matuna untuk meminta petunjuknya tentang cara mengawasi manusia. Untuk itulah Puang Matuna

memberi tata tertib, peraturan-peraturan dan larangan-larangan untuk semua bidang kehidupan dan semua kenyataan. Itulah ceritera asal usul bumi dan ciptaannya menurut orang Toraja, ketika zendeling mengajarkan bahwa Allah yang menciptakan manusia dan seisi bumi ini, lalu Allah di bagi menjadi tiga (Bapa, Anak dan Roh Kudus) namun dalam kesatuan. Lalu Allah memberi mandat kepada manusia agar menjaga ciptaannya, tetapi Allah mengirim Roh Kudus untuk mengawasi serta menasehati manusia. Konsep ini sama persis dengan pemahaman asal usul bumi dan langit beserta dewa-dewanya (Kobong, 2008: 8-15). Untuk itulah ketika orang Toraja mengetahui trinitas Kristen maka mereka langsung percaya karena konsep trinitas sama persis dengan kepercayaan tradisional mereka.

(14)

Telah disinggung di atas bahwa Injil sangat cepat disebarkan di Toraja karena ada kesamaan. Orang Toraja mempercayai tiga dewa (Gaun Tikembong, Pong Banggairante dan Pong Tulakpadang) ketiga dewa ini disebut dengan Puang Matua

(Allah/tertinggi) sama persis dengan ajaran Kristen tentang tritunggal (Bapa, Anak dan Roh Kudus) yang mempunyai satu hakekat yaitu Allah. Orang Toraja tidak bisa memisahkan ketiga dewa ini satu sama lain, mereka juga tidak bisa melihat antara ketiga dewa itu mana dewa yang paling kuat dan yang lemah karena menurut orang Toraja ketiga dewa itu adalah sama, satu hakekat, esa, tidak bisa terpisahkan. Ketiga dewa itu hanya bisa terpisah jika melaksanakan tugas masing-masing namun tetap saling berhubungan karena dasarnya adalah ketiga dewa itu adalah satu. Ini sama persis dengan konsep ketritunggalan Allah (Bapa, Anak, Roh Kudus). Di mana tidak ada yang tinggi dan rendah, ketiga itu adalah satu, tidak bisa dipisahkan karena ketiga itu esa. Dalam Kristen langit dan bumi diciptakan oleh Allah, dalam pemahaman orang Toraja juga lagit dan bumi diciptakan oleh Puang Matuna (Gaun Tikembong, Pong Banggairante dan Pong Tulakpadang). Dalam pemahaman tradisional orang Toraja, ketiga dewa ini memiliki tugas masing-masing, Gaun Tikembong adalah dewa yang bertugas untuk mengatasi dunia atas (langit) dialah dewa yang mengatur siang dan malam, panas dan hujan, badai, petir, guntur, gempa bumi, gunung berapi dll.

Pong Banggairante mengatasi dunia tengah yang bertugas untuk menolong manusia jika manusia mengalami kesusahan, masalah, gagal panen, kerusakan akibat gempa bumi dll. Dan Pong Tulakpadang mengatasi dunia bawah yang bertugas untuk memperingati manusia jika melanggar aturan-aturan yang dibuat oleh Puang Matuna. Biasanya orang Toraja dilarang untuk merusak alam, mereka sama sekali tidak boleh menebang pohon sembarang, karena jika terjadi longsor karena penebangan maka mereka percaya bahwa Pong Tulakpadang naik ke langit dan menceriterakan semua kelakuan mereka sehingga Puang Matuana memberikan longsor sebagai hukuman karena melanggar aturan. Itulah konsep pemahaman orang Toraja tentang 3 dewa yang esa dan tidak bisa terpisahkan. Untuk itulah ketika mereka mendengar dari zendeling tentang konsep tritunggal Kristen maka mereka sangat tertarik, bahkan faktor itulah yang mendorong hingga saat ini di Tana Toraja didominasi oleh agama Kristen (Kobong, 2008: 26-28).

(15)

Misinoaris pertama yang datang di tana Toraja yaitu A.A. Van de loosdrecht yang telah berjasa bagi orang Toraja karena Injil yang dibawakannya itu. Metode yang dipakainya juga sangat cocok dengan kehidupan orang Toraja pada saat itu, karena sebelum masuknya loosdrecht, pemerintah Hindia-Belanda telah membuka sekolah bagi orang-orang pribumi, sehingga loosdrecht juga membuka sekolah-sekolah karena ia tahu bahwa orang Toraja sangat menyukai sekolah-sekolah yang didirikan. Metode penerjemahan cerita-cerita Alkitab juga menurut saya sangat menarik, karena loosdrecht telah berpikir bahwa anak-anak pasti senang dengan sebuah cerita, apa lagi cerita dari Alkitab yang sama sekali belum pernah didengar oleh anak-anak pribumi. Untuk itulah, banyak anak-anak pribumi yang senang dengan loosdrecht bahkan rumah dari misionaris itu penuh dengan anak-anak ketika waktu sekolah telah berakhir. Saya juga kagum dengan metode yang dipakai oleh guru-guru sekolah

(16)

tentang 3 dewa mereka. A.A. Van de loosdrecht dan istrinya langsung berdoa sambil meneteskan air mata, karena Tuhan telah membuka jalan bagi mereka untuk memberitakan Injil.

DAFTAR PUSTAKA

1. Theodorus Kobong. 2008. Injil dan Tongkonan. Jakarta: BPK Gunung Mulia 2. Robi Panggarra. 2015. Upacara Rambu Solo’ di Tanah Toraja. Jakarta: Erlangga

3. Th. Van den End & J. Weitjens,SJ. 2008. Ragi carita 2 : Sejarah Gerja di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia

4. J.R.Pasolon. 2013. Sejarah Gereja Toraja (1913-2013). Rantepao: Institut Gereja Toraja 5. Anthonia A. Van de Loodrecht. 2005. Dari Benih Terkecil, Tumbuh Menjadi Pohon. Jakarta:

BPS Gereja Toraja

(17)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...