Teks penuh

(1)

Balasan untuk Orang-Orang yang Melakukan Kebaikan (Golongan Kanan)

Ahmad Goniawan

ahmadgoniawan_IAI15@mahasiswa@unj.ac.id

A. Pendahuluan

Tafsir berasal dari kata “al-fusru” yang artinya menjelaskan atau menyingkap sesuatu. Al-Hafidz As-Suyuti menjelaskan bahwa perlunya belajar tafsir adalah untuk memahami kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, serta mengetahui makna-maknanya, menyimpulkan hikmahnya dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.1

Berangkat dari pengertian tersebut, maka tidak ada jalan bagi kita untuk dapat mengamalkan Al-Qur’an kecuali dengan berusaha memahaminya. Di sinilah pentingnya kita belajar Tafsir Al-Qur’an. Untuk itu, Insya Allah marilah dengan memohon pertolongan dan petunjuk Allah, kita berusaha mengetahui, mendalami, menghayati, dan kemudian mengamalkan Al-Qur’an.

Setelah kita membaca Al-Qur’an, kita tingkatkan dengan membaca terjemahnya, kemudian mengkaji tafsirnya. Membaca terjemah untuk mengetahui artinya dalam bahasa kita. Adapun mengkaji tafsirnya adalah untuk mengetahui, mamahami, dan menghayati kandungan isinya, maksudnya, dan hikmah dari ayat-ayat Al-Qur’an. Hal ini sangat penting mengingat Al-Qur’an adalah pedoman hidup kita. karenanya kita pun wajib mengetahui isinya, menghayatinya, serta yang paling penting adalah mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam memaknai Al-Qur'an tersebut ada 17 Ilmu yang harus dikuasai agar bisa memahaminya dengan benar tidak serampangan, adalah sebagai berikut:2 1. Ilmu Mawathin al-Nuzul.

1 Ali Farkhan Sani menulis Pentingnya kajian tafsir qur’an

http://www.mirajnews.com/2017/03/pentingnya-kajian-tafsir-al-quran.html (diakses pada 12 Januari 2018 Pukul. 10:28)

2 Tim Sarkub menulis 17 Ilmu Yang Harus Dikuasai Dalam Memahami Al-Qur’an

(2)

Yaitu ilmu yang menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awal dan akhirnya. Kitab yang membahas ilmu ini banyak. (Diantaranya ialah al-Itqan, tulisan al-Suyuthi)

2. Ilmu Tawarikh al-Nuzul.

Yaitu ilmu yang menerangkan dan menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya, satu demi satu, dari awal turun hingga akhirnya, dan tertib turun surat dengan sempurna.

3. Ilmu Asbab al-Nuzul.

Yaitu ilmu yang menerangkan sebab-sebab turun ayat. (Diantara kitab yang menjelaskan hal ini ialah Lubab al-Nazul karangan al-Suyuthi)

4. Ilmu Qira'at.

Yaitu ilmu yang menerangkan rupa-rupa Qira'at (bacaan al-Qur'an yang diterima dari Rasulullah SAW). (Seindah-indah kitab untuk mempelajari ilmu ini ialah kitab al-Nasyr Fi Qira'at al-Asyr, tulisan Ibnu Jazary)

5. Ilmu Tajwid.

Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur'an, tempat mulai dan pemberhentiannya, dan lain-lain yang berhubungan dengan itu.

6. Ilmu Gharib al-Qur'an.

Ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang halus, tinggi, dan pelik.

7. Ilmu I'rabil Qur'an.

Ilmu yang menerangkan baris al-Qur'an dan kedudukan lafal dalam ta'bir (susunan kalimat). Di antara kitab yang memenuhi kebutuhan dalam membahas ilmu ini ialah Imla al-Rahman, karangan Abdul Baqa al-Ukbary

8. Ilmu Wujuh wa al-Nazhair.

Yaitu ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur'an yang banyak arti; menerangkan makna yang dimaksud pada satu-satu tempat. (Ilmu ini dapat mempelajari dalam kitab Mu'tarak alAqran, karangan al-Suyuthi)

(3)

Ilmu yang menyatakan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih. (Salah satu kitab mengenai illmu ini ialah al-Manzhumah al-Sakhawiyah, susunan Imam al-Sakhawy)

10. Ilmu Al-Nasikh wa Al-Mansukh.

Yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufassir. (Untuk mempelajari ilmu ini dapat dibaca kitab al-Nasikh wa al-Mansukh, susunan Abu Ja'far al-Nahhas dan al-Itqan karangan al-Suyuthi) 11. Ilmu Bada'i Al-Qur'an.

Ilmu yang membahas keindahan-keindahan Al-Qur'an. Ilmu ini menerangkan kesusasteraan Al-Qur'an, kepelikan-kepelikan dan ketinggian-keti-nggian balaghah-nya. (Untuk ini dapat juga dibaca kitab Itqan karangan al-Suyuthi)

12. Ilmu I'dazAal-Qur'an.

Yaitu ilmu yang menerangkan kekuatan susunan tutur al- Qur'an, sehingga ia dipandang sebagai mukjizat, dapat melemahkan segala ahli bahasa Arab. (Kitab yang memenuhi keperluan ini ialah I’jaz al-Qur'an, karangan al-Baqillany)

13. Ilmu Tanasub Ayat al-Qur'an.

Ilmu yang menerangkan persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. (Kitab yang memaparkan ilmu ini ialah, Nazhmu al-Durar karangan Ibrahim al-Riqa'iy)

14. Ilmu Aqsam al-Qur'an.

Yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di dalam al-Qur'an.

15. Ilmu Amtsal al-Qur'an.

Ilmu yang menerangkan segala perumpamaan yang ada dalam al-Qur'an. (Kitab yang dapat dipelajari untuk ilmu ini antara lain Amtsal al-Qur'an karangan al-Mawardi)

16. Ilmu Jidal Al-Qur'an.

Ilmu untuk mengetahui rupa-rupa debat yang dihadapkan Al- Qur'an kepada kaum musyrikin dan lain-lain. Ayat-ayat yang mengandung masalah ini. (Dikumpulkan oleh Najamuddin al- Thusy)

(4)

Yaitu ilmu yang mempelajari segala bentuk aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca al-Qur'an. Segala kesusilaan, kesopanan dan ketentuan yang harus dijaga ketika membaca al-Qur'an. Surat Al Waqiah mempunyai keutamaan yang sangat luar biasa yang harus kita kaji.

B. Pembahasan

a. Profil surat Al Waqiah ( Termasuk surat apa, nama suratnya apa saja, urutan dalam mushaf, urutkan koronologis nuzul (al makiyah atau madaniyah), berapa jumlah ayatya

27. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu

ن

ن يمنيي ب

للٱ

ب ح

يح

لص

أي امي ننيمنيي ب

للٱ

ب ح

يح

لص

أيوي

٢٧

28. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri

وض

٢٩

دد

ب نمم ط

حدلل

ي وي

29. dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)

(5)

Kata ( دوضخم ) Makhduh artinya yakni dipotong durinya. Menurut Al Biqa’I, ini mengisyaratkan bahwa di surge benar-benar tidak ada sesuatu yang tidak berguna atau yang dapat mengganggu. “ duri yang dapat mengganggu ducabut oleh Allah SWT demi kenyamanan penghuninya”. Penulis tambahkan bahwa itu pula sebabnya persaingan atau kecemburuan pun dicabut oleh Allah dari hati penghuninya karena disana ia tidak diperlukan lagi sebagaimana halnya didunia ini.3

Kata ( حلط ) Thalh ada yang memahaminya dalam arti pohon pisang atau pohon kurma. Banyak juga yang melukiskan sebagai pohon yang batangnya sangat kuat, dahan-dahannya panjang dan tinggi, memiliki duri yang banyak, dedunnya sangat hijau, memiliki duri tetapi tidak mengganggu dan memiliki aroma yang harum penulis tidak mengetahui pohon apa yang dimaksud . perlu diingat bahwa yang sama hanyalah nama iatau bentuknya, tetapi rasanya berbeda.

Kata ( شرف ) furusy adalah bentuk jamak dari kata ( شارف ) firaasy , yakni sesuatu yang dihamparkan dana biasanya yang digunakan dalam arti Kasur. Banyak ulama yang memahami arti furusy pada ayat ini dalam arti harfiahnya, yakni Kasur-kasur pembaringan. Ini menurut sementara ulama, untuk menggambarkan bahwa Kasur-kasur tersebut tidak diletakan dilantai. Ada juga yang memahami kata tersebut dalam arti pasangan-pasangan hidup. Karena mereka antara lain menjadi teman pasangannya ditempat tidur dan dengan demikian yang diamksud dengan marfuah adalah ditinggikannya kedudukan, kecantikan, dan budi pekerti mereka dibandingkan dengan pasangan hidup duniawi. [endapat ini didukung oleh lanjutan yang menyatakan bahwa mereka telah diciptakan Allah dalam bentuk ciptaan yang sebaik-baiknya.

Selanjutnya Allah SWT berfirman, “dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)” Thalh ini adalah sebuah pohon besar yang terdapat didaerah Hijaz. Bentuk tunggalnya adalah Thalh. Adapun arti mandhudh adalah bersusun-susun buahnya. Kemudian Allah SWT berfirman, “Dan naungan yang terbentang luas.” Imam bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a yang mendapatkan

(6)

berita dari Nabi “didalam surga itu terdapat sebuah pohon, bila seorang pengendara melakukan perjalanan dibawah naungannya selama serratus tahun, pastilah tidak akan sampai.” Bacalah bila kalian mau, “dan naungan yang terbentang luas.” (HR Imam Muslim).4

Adh-Dhahak, as-Sidi dan Abu Hazrah menafsirkan firman Allah, “Dan naungan yang luas terbentang” dengan yang tidak pernah ditemukan batas akhirnya, tidak bermatahari dan tidak panas seperti sebelum terbitnya matahari. Selanjutnya Allah SWT berfirman, “dan air yang tercutah” Imam tsauri mengatakan, yang dimaksud dengan maksub ialah air yang mengalir tidak pada salurannya. Telah di[aparkan perbincangan mengenai masalah ini ketika menafsirkan firman Allah, “Didalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan aromanya….” (Muhammad: 15)5

D. Penutup

Surat Al Waqiah adalah surat yang menjelaskan tentang hari kiamat, penjabaran mengenai tipologi manusia dan balasan untuk orang-orang yang berbuat kebaikan dan keurukan. Dalam hal ini penulis hanya terfokus kepada pembahasan mengenai balasan untuk golongan kanan yang terdapat dalam surat Al Waqiah ayat 27 – 30. Fokusnya adalah bahwa Allah SWT telah menggambarkan balasan untuk orang-orang yang termasuk kedalam golongan kanan, yaitu orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan dan menolong agama Allah. Berbagai kenikmatankenikmatan tersebut untuk memotivasi manusa untuk senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

E. Daftar Pustaka Sumber Buku

Ar Rifa’I, Muhammad Nasib. Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press, 2000

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al Mishbah: pesan, kesan dan keserasian al-Qur’an.

Ciputat: Lentera Hati. 2009

4 Muhammad Nasib Ar Rifa’I, Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani Press, 2000.hal. 566

(7)

Sumber Internet

Ali Farkhan Sani menulis Pentingnya kajian tafsir qur’an

http://www.mirajnews.com/2017/03/pentingnya-kajian-tafsir-al-quran.html (diakses pada 12 Januari 2018 Pukul. 10:28)

Tim Sarkub menulis 17 Ilmu Yang Harus Dikuasai Dalam Memahami Al-Qur’an

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (7 Halaman)