PENYELESAIAN PENGADILAN HAM AD HOC INDONESIA DALAM KASUS PELANGGARAN HAM TANJUNG PRIOK
Virdatul Anif/ 8111416316 [email protected]
Pendahuluan
Sebut saja, kasus Tanjung Priok misalnya. Berbagai masalah yang muncul dalam proses peradilan, dugaan suap untuk menuju islah, vonis bebas bagi sang terdakwa hingga mekanisme kompensasi dan restitusi bagi korban pelanggaran HAM di Tanjung Priok yang belum menemukan titik terang Untuk Kasus Pelanggaran HAM Tanjung Priok di pilih kasus Terdakwa Kapten Artileri Sutrisno Mascung, dkk.
Antara bulan Juli sampai Agustus 1984 kondisi politik di wilayah Kodim 0502 Jakarta Utara cukup Panas, Khususnya di bidang Sosial Budaya dan agama karena dipicu oleh Penceramah-Penceramah yang menggunakan sarana agama menghasut jemaahnya dengan ceramah yang cenderung menghujat kebijakan Pemerintah atau aparat seperti Kodim dan Kepolisian sehingga terbentuk opini yang melawan kebijakan pemerintahan Era Rezim Soeharto.
Kebijakan pemerintah yang ditentang oleh Kelompok Jamaah Pengajian disekitar kelurahan koja adalah Asas Tunggal Pancasila. Pada September 1984, Tentara Indonesia menembaki masyarakat sipil yang melakukan aksi demonstrasi di Tanjung Priok dan menewaskan puluhan orang. Lainnya dihilangkan secara paksa, disiksa, ditangkap dan ditahan secara sewenang-wenang, dan menjalani proses peradilan yang tidak adil. Pada tahun 2001, saat yang sama dengan pembentukan pengadilan untuk Timor, Presiden menerbitkan Keppres untuk pembentukan Pengadilan HAM ad hoc kasus Tanjung Priok. Namun hasilnya sama saja, dari 14 personel militer yang masih aktif maupun telah pensiun, 12 dinyatakan bersalah, namun kemudian semuanya bebas dalam tingkat banding.
Peristiwa Tanjung Priok terjadi pada tanggal 12 September 1984. Peristiwa tersebut diawali dengan penahanan terhadap empat orang pengurus mesjid di daerah Tanjung Priok, dan kemudian ceramah yang dilakukan oleh beberapa Mubaligh, di antaranya Amir Biki, yang dihadiri ribuan massa. Ceramah tersebut mengulas berbagai persoalan sosial politik yang terjadi di Indonesia, seperti masalah asas tunggal, dominasi China atas perekonomian Indonesia, pembatasan izin dakwah dan permintaan untuk membebaskan orang-orang yang ditangkap tersebut. 1
Dalam Kasus Pelanggaran HAM Kasus Tanjung Priok yang terjadi pada 12 September 1984 merupakan Peristiwa lokal, namun secara menyeluruh peristiwa tersebut merupakan pencerminan dari ketegangan politik yang timbul ditingkat nasional sehubungan dengan kebijakan Pemerintah Orde Baru untuk menjadikan Pancasila sebagai satu satunya “Asas Tunggal” dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang dipahami sebagian masyarakat sebagai ancaman terhadap agama yang mereka peluk. Pemerintahan orde baru Era Soeharto, Selaku yang membuat bkebijakan pemberlakuan berbagai kebijakan politik seperti pemberlakuan asas tunggal pancasila, pelarangan penggunaan Jilbab, dan pelaranggan penggunaan KB yang selalu ditentang oleh masyarakat, khususnya masyarakat islam di tanjung
1 ”Sakralisasi Ideologi Memakan Korban” (Sebuah Laporan Investigasi Tanjung Priok), Kontras,
priok, untuk mensosialisasikan dan melaakukan pendekatan persuasive kepada masyarakat setempat.
Purwodarminto menyebutkan bahwa hak adalah sesuatu yang benar dan berhubungan dengan milik, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu karena ditentukan oleh undang-undang, kekuasaan yang benar atas sesuatu untuk menuntut sesuatu.2 Dengan demikian hak merupakan unsur normatif
yang melekat pada diri setiap umat manusia yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku, melindungi kebebasan, serta menjamin harkat dan martabat sesuai kodratnya.3
HAM merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia yang bersifat universal, sehingga harus dihormati dan dilindungi dalam suatu peraturan perundangan. Di samping HAM, diperlukan adanya Kewajiban Dasar Manusia (KDM) 4sebagai penyeimbang dalam menjalankan
roda kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Eksistensi HAM tidak terlepas dari pengakuan terhadap adanya Hukum Alam yang menjadi cikal bakal kelahirannya. Marcus G Singer menyebutkan bahwa Hukum Alam merupakan suatu konsep dari prinsip-prinsip umum moral dan sistem keadilan dan berlaku untuk seluruh umat manusia.5
Istilah HAM untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Eleanor Roosevelt selaku ketua Komisi HAM PBB, ketika merumuskan UDHR. 6 Menurut Jean Pictet, dalam UDHR tersebut mengandung prinsip-prinsip HAM yang berlaku secara umum yaitu :7Principle of inviolability Principle of non discrimination,
Principle of security, Principle of liberty, Principle of sosial well being.
Satjipto Rahardjo mengatakan bahwa HAM bukanlah suatu konsep yang seratus persen netral, dimana banyak sekali terjadi titik singgung dengan hal-hal yang universal. 8 Pasal 1 ayat (1) UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM,
menyebutkan bahwa HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap manusia demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat kemanusiaannya. Pengertian HAM dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM tersebut juga sama
9dengan pengertian HAM dalam UU No. 26 tahun 2000 tentang Pengadilan
HAM. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian HAM di Indonesia telah ditetapkan sebagai pengertian yang baku atau standar yang telah ditetapkan dalam suatu peraturan perundangan yang berlaku.
Pengertian pelanggaran HAM berat terdapat dalam penjelasan Pasal 104 ayat (1) UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM, yang pada dasarnya
2 Purwodarminto, Kamus Besar Bahasa Indoensia, Tanpa Penerbit, Jakarta, 1995, hlm. 98.
3 James W. Nickel, Hak Asasi Manusia : Refeksi Filosofs Atas Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996, hlm. 24.
4 Kewajiban Dasar Manusia (KDM) menurut Pasal 1 ayat (2) UU No. 39 tahun 1999 diartikan
sebagai seperangkat kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan, tidak memungkinkan terlaksana dan tegaknya HAM
5 Peter Davier, Hak Asasi Manusia, Sebuah Bunga Rampai, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta,
1994, hlm. 21.
6 Kartini Sekartadji, Perkembangan HAM dalam Perspektif Global, BP UNDIP, Semarang, 1999,
hlm. 1.
7 Jean Pictet, The Principle of International Humanitarian Law, 1966, hlm. 10.
8 Satjpto Rahardjo, Pembahasan Sosiologis Hak Asasi Manusia, Makalah dalam Seminar
Nasional HAM diselenggarakan Fakultas Hukum UNDIP, 1993, hlm. 5.
9 Lihat pada ketentuan Pasal 1 ayat (1) UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM dan ketentuan
menyatakan : “Pelanggaran HAM berat adalah pembunuhan massal (genocide), pembunuhan sewenang-wenang atau di luar putusan pengadilan (arbitrary/extra judial killing), penyiksaan, penghilangan orang secara paksa, perbudakan, deskriminasi yang dilakukan secara sistematis (systematic descrimination). Pelanggaran HAM Berat yang diatur dalam UU No. 26 Tahun 2000 adalah kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Dengan demikian UU No. 26 tahun 2000 memiliki kesamaan dengan Statuta ICTR 1994 yang hanya mengklasifkasikan genocide dan crimes against humanity sebagai pelanggaran HAM berat.
Aspek Pasal yang dilanggar dalam Peristiwa Pelanggaran HAM Tanjung Priok antara lain Pasal 6 ( Hak untuk Hidup ), Pasal 7 ( Hak bebas dari penyiksaan ), Pasal 8 ayat 1 dan 2 ( hak bebas dari perbudakan dan diperhamba), Pasal 18 ( hak kebebasan berpikir, memeluk keyakinan dari agama).
Analisis Aturan Hukum
Dasar aturan Hukum yang digunakAn sebagai dasar untuk memberikan legal opinion dalam permasalahan ini antara lain
1. Undang – Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
2. UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
3. UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM
4. UU No. 27 Tahun 2004 Tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ( KKR )
5. Kepres No. 53 Tahun 2001 di perbaharui dengan Kepres No. 96 Tahun 2001 tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad hoc atas kasus Pelanggaran HAM berat Tanjung Priok
6. Kitab Hukum Undang Undang Pidana ( KUHP )
A. UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yaitu seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap manusia demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat kemanusiaannya.
B. UU No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada dibawah peradilan umum,10 dan merupakan lex
specialis dari Kitab Undang Hukum Pidana. Pengadilan ini dikatakan khusus karena dari segi penamaan bentuk pengadilannya sudah secara spesifk menggunakan istilah Pengadilan HAM dan kewenangan pengadilan ini juga mengadili kejahatan-kejahatan tertentu. Kejahatan-kejahatan yang merupakan yurisdiksi pengadilan HAM ini adalah kejahatan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang keduanya merupakan pelanggaran HAM yang berat.
C. UU No. 27 Tahun 2004 Tentang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi ( KKR ), dengan terbentuknya UU KKR ini, penyelesaian penanganan kasus pelanggaran HAM berat masalalu tidak hanya diselesaikan lewat pengadilan HAM ad hoc saja, tetapi juga lewat KKR. Dengan landasan TAP MPR No. V/MPR/2000 dan UU No. 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM, Pasal 47 ayat (1) dan (2), tetapi belum semapt komisioner dan mandate dari UU ini dibentuk dan dilaksanakan, UU ini telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi melalui keputusan No. 006/PUU-IV/2006 setelah sejumlah LSM mengajukan peninjauan
kembali ( Judical Review ) terhadap UU KKR karena dinilai bertentangan dengan UUD 1945. Salah satu Pasal yang sangat Krusial adalah Pasal 29 ayat 2 UU No. 27 Tahun 2004 tentang KKR, menurut ketentuan tersebut, walaupun pelaku mengakui kesalahannya dan bersedia meminta maaf, tetapi dalam hal ini pihak korban atau keluarga korbanpun harus sama sama bersedia memaafkannya, baru kemudian KKR dapat memutuskna pemberian rekomendasi secara mandiri dan objektif.
D.Kepres No. 53 Tahun 2001 di perbaharui dengan Kepres No. 96 Tahun 2001 tentang pembentukan Pengadilan HAM Ad hoc atas kasus Pelanggaran HAM berat Tanjung Priok. Hasil dari Rekomendasi DPR RI memberikan rekomendasi kepada Presiden untuk mengeluarkan Keputusan Presiden (Kepres) tentang pembentukan pengadilan HAM ad hoc atas kasus pelanggaran HAM Timor Timur dan Tanjung Priok, kedua kasus ini dijadikan satu paket berdasarkan Kepres tersebut.
Uji Syarat
Terjadinya gejolak bentrok bersenjata tajam antara penduduk sipil dan para aparat kodim Jakarta utara menjadikan bukti nyata kurang sigapnya Pemerintahan orde Baru menerapkan dan mendeklarasikan Status Hukum keadaam darurat diwilayah koja, Tanjung Priok. Seharusnya menerapkan Doktrin Self Preservation versus Self Defence atau juga menggunakan Doktrin Immediacy , namun Pemerintah orde baru tidak menerapkannya.
Penggunaan Doktrin Self Preservation versus Self Defence , menurut Doktrin Self defence, Negara dengan sendirinya memiliki kekuasaan “Reserve” atau cadangan yang sewaktu waktu dibutuhkan dapat digunakan demi kepentingan umum seluruh rakyatnya sendiri. Dalam Perspektif “Self Preservation” tersebut, apabila suatu negara menghadapi ancaman yang membahayakan eksistensi atau kedaulatannya sebagai negara merdeka atau mebahayakan keselamatan warga negaranya, negara yang bersangkutan dianggap dapat bertindak apa saja dan dengan cara apa saja, terlepas dari persoalan legalitas cara yang ditempuh menurut hukum internasional. 11 Bicara
tentang Self Defence dapat digunakan untuk membela diri dan bila perlu melakukan serangan pamungkas ( Preemptive ) .12
Penggunaan Doktrin Immediacy ( Kemendesakan Waktu ), Menurut Jimly Asshidiqie didasarkan atas pengertian bahwa tidak boleh ada jarak antara waktu datangnya serangan bersenjata dengan berlakunya prinsip “Self defence ( Pertahanan )”.13 Dalam keadaan demikian, tentu tidak ada waktu dan
relevansinya sama sekali untuk melakukan pembahasan atau perdebatan mengenai kebijkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh presiden selaku kepala negara dan Pemerintahan. Terdapat dua prinsip dalam Doktri tersebut yaitu prinsip eksternal dan internal. Prinsip eksternal antara lain (i) adanya “Necessity of self defence” yang perlu dilakukan, (ii) adanya ancaman yang sifatnya mendadak dan mendesak, (iii) tidak tersedia waktu yang cukup untuk pembahasan dengan parlemen, dan (iv) tidak tersedia alternative alin yang lebih baik dan lebih efektif untuk mengatasi keadaan yang bersangkutan.
Sekalipun kondisi pada saat itu dalam keadaan bahaya secara de facto, harusnya pemerintah sebelum atau selama peristiwa terjadi, dengan mengambil sikap tegas mendeskripsikan status hukum “Keadaan darurat Sipil”
11 Dr. Binsar Gultom, Op cit, hlm. 17.
12 Todung Mulya Lubis, Jalan Panjang Hak Asasi Manusia, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2005, hlm. 251.
dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPU). Dengan diterapkannya status hukum keadaan darurat dengan tingkatan keadaan darurat sipil diwilayah tanjung priok , setidaknya pemerintah orde baru tidak akan dituduh bersikap dictator menyelesaikan suatu masalah. Namun, karena Pemerintah orde baru menutupi status hukum keadaan darurat di tanjung priok, akan tetapi kemudian pada akhirnya keadaan darurat ditanjung Priok terkesan menjadi State of Emergency de facto yang pengawasannya sulit dipantau masyarakat dan dunia internasional. Akibatnya Pemerintah orde baru dituding melakukan pelanggaran HAM . Hal ini dapat dibuktikan karena dalam praktik telah terjadi penangkapan dan penahanan rakyat sipil tanpa surat resmi dan telah terjadi penyiksaan selama mereka dalam tahanan jeruji besi, serta penguburan massal para korban ditengah malam tanpa penerangan tanpa sepengetahuan sanak keluarga mereka. Hal itu juga membuktikan bahwa selain aparat Kodim tidak professional dalam melaksanakan tugasnya, juga telah terjadi penyalahgunaan wewenang bertindak. Hal ini jelas sangat mengusik nilai nilai HAM sebagaiman diatur dalam Pasal 28 I UUD 1945 mengenai non derogable Rights ( hak yang tidak dapat dikurangi).
Kategori Pelanggaran HAM yang terjadi pada kasus Tanjung Priok 14 yaitu
Pembunuhan secara kilat ( Summary Killing ), Penangkapan dan penahanan sewenang wenang ( Unlawful arrest and detention ), penyiksaan ( Torture) , Penghilangan orang secara paksa ( Enforce or Involuntary dis appearance ) serta pelaku dan penanggung jawab. Dalam pertanggungjawaban, mengacu pada Prinsip atau Doktrin Pertanggungjawaban Komando ( Command Responsibilty ) terdapat 2 aspek tindakan yang diabaikan oleha parat militer sebagai pelaku dan penanggung jawab peristiwa pelanggaran Ham tanjung priok, yaitu 15 (a) Aspek secara langsung melakukan tindakan yang tidak
memenuhi prosedur baku sebagaimana peristiwa yang terjadi dilapangan. Akibatnya telah terjadi penghilangan barang bukti, penyiksaan, tindakan terror dan intimidasi terhadap para korban. (b) tidak mengambil tindakan tindakanm yang dapat mencegah terjadinya peristiwa tersebut sesuai dengan kewennagan yang dimiliki berdasarkan jenjang komando. Aspek ini menyangkut kelalaian aparat yang tidak dapat mengendalikan pasukannya.
Dalam Praktiknya pelanggaran HAM berat Tanjung Priok ditangani oleh Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta Pusat Berdasarkan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia ( HAM ), untuk kasus pelanggaran HAM berat Tanjung Priok, atas nama terdakwa mantan Danru III Yon Arhanudse-06 Kapten Art. Sutrisno Mascung, menurut pertimbangan putusan Majelis Hakim Agung Kasasi atas nama terdakwa Sutrisno Mascung, mengatakan : “Tuntutan jaksa Penuntut Ad Hoc pada Kejaksaan Agung RI TIDAK DAPAT DITERIMA”. dengan alasan penembakan yang dilakukan para terdakwa bersifat sendiri sendiri tanpa komando yang dilakukan secara spontan, bukan tindakan tang direncanakan sebelumnya. Terdakwa tetap dianggap bertanggung jawab secara pribadi ( Individual Responsibility ) bukan Superior Responsibility. Dengan Demikian, perbuatan para terdakwa bukan merupakan kejahatan pelanggaran HAM, namun merupakan kejahatan biasa ( Common Crime ) sehingga mengenai adanya kompensasi menjadi tidak jelas, apakah kewenangan untuk mengadili ( Praejudicieel geschile ) masuk Common Crime
14 A.M. Fatwa, Pengadilan HAM Ad hoc Tanjung Priok, Pengungkapan Kebenaran untuk
Rekonsiliasi Nasional, Dharmapena Publishing, Jakarta, 2005, hlm. 262.
atau pelanggaran HAM berat ( Extra ordinary Crime ) menjadi dubius ( dipertanyakan).16
Pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta tingkat yang mengadili kasus pelanggaran HAM berat Tanjung Priok adalah berdasarkan Kepres No. 53 Tahu 2001 yang diperbaharui dengan Kepres No. 96 Tahun 2001 tentang pembentukan pengadilan HAM ad hoc atas kasus pelanggaran HAM berat Tanjung Priok, maka keluarlah “Putusan Sela”. Jika Hakim Kasasi MA berpendapat bahwa kasus pelanggaran HAM tersebut merupakan “Pidan biasa” seharusnya hakim kasasi dalam pertimbangannya harus membatalkan terlebih dahulu “Putusan Sela” pengadilan HAM ad hoc atas terdakwa Sutrisno Mascung, dkk yang mengatakan bahwa kasus pelanggaran HAM berat Tanjung Priok bukan merupakan kompetensi kewenangan mengadili pengadilan HAM ad hoc sekaligus membatalkan Kepres No. 53 yang telah diperbaharui dengan Kepres No. 96 tahun 2001 tersebut lewat uji materi ( Judical Review ), namun masih dipertimbangkan oleh MA. Jika menurut pertimbangan majelis kasasi MA memang terdakwa terbukti melakukan tindak pidana secara individual bukan komando, mestinya sesuai rasa keadilan et equo et bono.
Adapun pasal-pasal yang digunakan untuk menjerat para terdakwa adalah ketentuan-ketentuan mengenai pertanggungjawaban komando (Pasal 42 ayat (1)) dan pertanggungjawaban individual (Pasal 37 UU No. 26 Tahun 2000), berkaitan dengan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan para terdakwa, yaitu berupa pembunuhan, percobaan pembunuhan, perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fsik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasioanal, penyiksaan, dan penganiayaan dan penghilangan orang secara paksa ( Enforce or involuntary dis appearance ).
penggunaan pasal-pasal KUHP. Pasal-pasal dalam KUHP yang digunakan adalah pasal-pasal yang terdapat dalam Ketentuan Umum (Buku I). Dalam surat dakwaan terhadap terdakwa Sutrisno Mascung, dkk, pasal KUHP yang digunakan dalam dakwaan kesatu dan kedua adalah Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Dalam surat dakwaan terhadap Sriyanto, pasal-pasal KUHP yang digunakan adalah Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 53 ayat (1) KUHP. Putusan Pengadilan dalam kasus Tanjung Priok menghasilkan dua jenis putusan yang satu sama lain saling bertentangan. Pertama, putusan yang menyatakan bahwa dalam peristiwa Tanjung Priok telah terjadi kejahatan terhadap kemanusiaan berupa pembunuhan, percobaan pembunuhan dan penyiksaan sebagaimana yang didakwaan Jaksa Penuntut Umum16. Kedua, putusan pengadilan yang menyatakan bahwa dalam peristiwa Tanjung Priok tidak terjadi kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam putusan pertama, Majelis Hakim menyatakan bahwa unsur-unsur kejahatan terhadap kemanusiaan telah terbukti secara sah dan meyakinkan. Menurut Majelis Hakim, unsur-unsur yang terbukti dalam kejahatan terhadap kemanusiaan dalam peristiwa Tanjung Priok adalah : adanya serangan, ditujukan terhadap penduduk sipil, serangan yang meluas atau sistematik. Sedangkan dalam putusan model kedua, unsur-unsur tersebut tidak terpenuhi. Mengenai unsur meluas atau sistematik ini, Majelis Hakim menyatakan bahwa fakta yang diungkapkan Jaksa Penuntut Umum yang didasarkan pada bukti-bukti yang ditemukan di persidangan, bukan merupakan bukti adanya serangan sistematik atau meluas sifatnya yang merupakan unsur dari kejahatan .
16 Lihat Putusan Kasasi Mahkamah Agung atas nama terdakwa Kapt. Art. Sutrisno Mascung,
Dalam hal ini Terdakwa Sutrisno Mascung dkk mendapatkan tuntuyan jaksa 10 tahun penjara ( 9 Juli 2004 ), Vonis Pengadilan Negeri 3 Tahun ( 20 Agustus 2004) dengan mengabulkan kompensasi terhadap korban Rp. 1.015.500.000, Vonis Putusan Bebas pada 31 Mei 2005, dengan vonis kasasi tidak dapat diterima. 17 Untuk kasus ini dapat dikategorikan kedalam syarat
alternative karena dalam kasus tersebut melanggar berbagai peraturan hukum yang ada dalam UU.
Kesimpulan
Dalam Praktik di Indonesia, ketika pengadilan kasus kasus pelanggaran HAM berat Kasus Tanjung Priok, sebenarnya proses persidangannya telah berjalan sesuai hukum yang berlaku di Indonesia. Artinya Dasar hukumkm mengadili kasus tersebut adalah UU No. 26 tahun 2000 dan UU No. 39 Tahun 1999. Kasus Tanjung Priok tahun 1984 pada saat itu terjadi dalam keadaan darurat secara defacto adalah sangat bertentangan dengan prinsip hukum ketetanagaraan baik nasional dan internasional. Sehingga tindakan Pemerintah ORBA ketika itu dapat dikualifkasi sebagai peraturan yang emlanggar hukum.
Putusan pelanggaran HAM berat , denagn dibebaskannya terdakwa kasus pelanggaran HAM oleh pengadilan HAM Indonesia memunculkan kekecewaan masyarakat Indonesia maupun internaisonal. Disini pemerintah Indonesia terkesan “tidak mampu” mempertahankan integritasnya untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM yang terjadi selama ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ashiddiqie, Jimly. Hukum Tata Negara Darurat. Raja Grafndo Persada. Jakarta. Davier, Peter.1994.Hak Asasi Manusia, Sebuah Bunga Rampai.Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Fatwa, A.M. 2005. Pengadilan HAM Ad hoc Tanjung Priok, Pengungkapan Kebenaran untuk Rekonsiliasi Nasional. Dharmapena Publishing. Jakarta.
Gultom, Binsar. 2010.Pelanggaran HAM dalam Hukum keadaan darurat di Indonesia : mengapa pengadilan HAM ad hoc Indonesia kurang efektif?. Gramedia. Jakarta
Mulya, Todung Lubis. 2005. Jalan Panjang Hak Asasi Manusia. PT Gramedia. Jakarta.
Nickel, James W. 1996. Hak Asasi Manusia : Refeksi Filosofs Atas Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Sekartadji, Kartini .1999.Perkembangan HAM dalam Perspektif Global. BP UNDIP. Semarang.
Pictet, Jean.1996. The Principle of International Humanitarian Law.
Rahardjo, Satjipto.1993.Pembahasan Sosiologis Hak Asasi Manusia, Makalah dalam Seminar Nasional HAM diselenggarakan Fakultas Hukum UNDIP
PERUNDANG UNDANGAN UUD RI TAHUN 1945 UU No. 26 Tahun 2000 UU No. 39 Tahun 1999 UU No. 27 Tahun 2004 KUHP
17 Putusan Pengadilan HAM Ad hoc Jakarta Pusat, Putusan Pengadilan Tinggi HAM DKI Jakarta